<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060</atom:id><lastBuildDate>Fri, 30 Aug 2024 17:27:22 +0000</lastBuildDate><category>pastoralia</category><category>tata liturgi</category><category>liturgiologi</category><category>liturgi zaman modern</category><category>leksionari</category><category>liturgi LIMA</category><category>perjamuan kudus</category><category>tahun liturgi</category><category>contextualization</category><category>nyanyian</category><category>tokoh</category><category>tradisi</category><title>LITURGIKA</title><description>Blog ini dapat dikutip untuk keperluan: kuliah, penulisan karya ilmiah, atau pembinaan jemaat,dengan mencantumkan nama penulisnya. Kemudian beritahukan judulnya kepada saya bahwa Anda telah mengutipnya.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-7067526845584868802</guid><pubDate>Wed, 25 Dec 2013 03:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-25T10:51:01.850+07:00</atom:updated><title>Buku tentang perjamuan2 masa awal kekristenan</title><description>Membaca tentang perjamuan2 sekitar kekristenan awal dalam Dennis E Smith dan Hal Taussig (editor), Meals in the Early Christian World: Social Formation, Experimentation, and Conflict at the Table, melengkapi pemahaman akan perjamuan gereja awal. Paparan dalam buku tersebut menyoroti berbagai kemungkinan masyarakat dalam budaya masyarakat (Yunani, Roma, Yahudi, monastik, dsb.) dari berbagai sisi, termasuk keterlibatan perempuan dalam perjamuan, sangat membantu pembaca.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2013/12/buku-tentang-perjamuan2-masa-awal.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-1524136808779322621</guid><pubDate>Fri, 28 Oct 2011 10:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-28T17:33:50.200+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tata liturgi</category><title>BEBERAPA HAL KECIL DI DALAM LITURGI GKI</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab beberapa pertanyaan jemaat perihal liturgi GKI, atau liturgi-liturgi GKI, maka saya coba menjawabnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;1. Liturgi yang dipergunakan dan diberlakukan di GKI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Liturgi GKI diambil dari Liturgi Lima dengan beberapa modifikasi di sana-sini. Liturgi Lima, sejak tahun 1983, adalah liturgi yang digunakan oleh gereja-gereja ekumenis dan se-azas dengan GKI saat ini.&lt;br /&gt;Mengapa corak liturgi GKI kekatolikan? Benar, warna kekatolikan menonjol dalam liturgi GKI (dan Gereja-gereja Protestan di Indonesia). Bukan baru sekarang, hal tersebut telah berlangsung sejak lama, yakni sejak Jemaat-jemaat GKI berdiri. Liturgi GKI berada pada jenis tradisional, Roma Katolik pada liturgis. Oleh karena itu dalam liturgi GKI ada banyak yang mirip dengan katolik, antara lain: menggunakan buku nyanyian (buku ibadah), pastor bertoga, sistem homili dalam menafsirkan Alkitab, menerapkan hari-hari raya, tata perangkat ibadah semisal mimbar, altar, dan bangku umat, dll. Semuanya dapat disejajarkan dengan liturgi katolik. Belum lagi istilah-istilah Latin yang digunakan, dan sejak dahulunya GKI menyediakan kursi Pendeta di belakang mimbar yang merupakan gambaran kursi Uskup di Gereja Katolik Roma.&lt;br /&gt;Sebenarnya kemiripan tersebut bukan meniru, melainkan karakter liturgi GKI sendiri, yakni liturgi ekumenis. Kata oikos, berarti rumah atau keluarga, telah menjelaskan liturgi GKI mirip dengan semua liturgi ekumenis di dunia ini, antara lain Presbyrian, Reformed, Lutheran, Anglican, termasuk Katolik Roma. Namun tidak mirip dengan liturgi-liturgi non-ekumenis, semisal Pastekostal, Karismatik, dan Orthodoks. Liturgi GKI mirip dengan liturgi-liturgi ”se-rumah”.&lt;br /&gt;Pemakaian liturgi ekumenis ini memperjelas posisi teologi dan kiprah GKI sebagai gereja ekumenis. Bukan hanya melalui keanggotaan GKI di lembaga-lembaga ekumenis, tetapi juga di dalam liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;2. Mengapa Liturgi Pernikahan tanpa PI Rasuli?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Liturgi hari Minggu adalah poros liturgi GKI – dan liturgi Gereja-gereja Kristen seumumnya. Semua bermula dari ibadah hari Minggu, sebagai hari pertama dalam pekan, hari kebangkitan Kristus.&lt;br /&gt;Liturgi Pernikahan tidak berdiri sendiri tanpa hari Minggu. Setelah perkawinan masuk sebagai perkawinan gerejawi, semula – demikianlah pentingnya memahami sejarah – liturgi perkawinan, jelas tempelan dalam ibadah hari Minggu. Orang-orang yang menikah memohon pernikahannya diberkati di gereja pada ibadah hari Minggu. ”Sisa” tempelan tersebut masih terlihat hingga kini, yakni perpindahan tempat berdiri mempelai – yang kemudian ”dirohanikan” oleh sebagian orang Kristen, dan (penamaan keliru) ”persembahan sulung”, padahal yang dimaksud adalah persembahan syukur.&lt;br /&gt;PI Rasuli yang merupakan pengulangan janji baptis memang tidak perlu dimasukkan ke dalam setiap liturgi, karena sudah dilakukan di hari Minggu. Bukan hanya PI Rasuli, tetapi juga pengaduan dosa dan berita anugerah, doa-doa syafaat yang tidak lengkap, perjamuan, dsb. tidak ada di dalam liturgi pernikahan.&lt;br /&gt;Jadi, unsur-unsur lengkap liturgi sebagaimana di hari Minggu memang tidak lagi diperlukan dengan pemahaman bahwa liturgi pernikahan adalah bagian dari liturgi hari Minggu. Hal yang sama terjadi di semua liturgi ”tempelan” hari Minggu, semisal Penahbisan, Pembukaan PMK, PMSW, dan PMS, dan liturgi-liturgi istimewa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;3. Mengapa Liturgi Kematian dilayankan sederhana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan ibadah kematian tampak, antara lain dengan tiadanya persembahan. Beberapa alasan utama sudah dijelaskan di liturgi perkawinan, bahwa liturgi ini ”berasal” atau berangkat dari ibadah hari Minggu.&lt;br /&gt;Selain itu, perayaan liturgi juga perlu memerhatikan kesederhanaan dan kepraktisan tanpa mengurangi kekhidmatan dan keagungan. Jika, misalnya, persembahan tidak dilayankan dalam Kematian, maka salah satu alasannya adalah kepraktisan tersebut. Hal yang mirip juga terjadi di dalam Liturgi Perkawinan. Uang duka dapat diberikan dengan manajemen gereja yang baik, tanpa membuat kolekte di Kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;4. Dan bagaimana dengan nyanyian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian dalam liturgi GKI terdiri dari 2 jenis, yaitu: proprium dan ordinarium. Perbedaan menonjol adalah pada syair. Syair (bukan lagu!) proprium tidak tetap, sementara syair ordinarium tetap. Nyanyian bersyair tetap, misalnya: Amin, Haleluya, Kyrie-Gloria, Sanctus-benedictus, Bapa Kami, dsb. Nyanyian tersebut bukan hanya bersyair tetap, tetapi juga bertempat tetap di dalam tata liturgi.&lt;br /&gt;Ordinarium adalah laksana tiang-tiang pancang sebuah bangunan. Tetap, bentuknya tidak berubah, namun menyanggah seluruh liturgi sehingga menjadi kokoh. Sementara nyanyian propirum, semisal: introitus, pengakuan dosa, persembahan, pengutusan, laksana dinding dan aksesoris bangunan. Proprium menghias liturgi sehingga elok.&lt;br /&gt;Jemaat GKI kadang-kadang menghias proprium, misalnya dengan nyanyian bergilir ganti (alternatim) atau bersahutan (antifonal, responsoris), namun hampir tidak pernah menghias bagian ordinarium, bahkan terkesan mengabaikannya. Padahal ordinarium penting juga. Ordinarium lemah, maka seluruh bangunan liturgi juga lemah.  °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) makalah pernah dibawakan di GKI Sidoarjo, 19 Oktober 2011</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2011/10/beberapa-hal-kecil-di-dalam-liturgi-gki.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-7868808995477386869</guid><pubDate>Mon, 22 Aug 2011 02:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-22T09:02:40.013+07:00</atom:updated><title>Buku baru</title><description>Buku (biasa, bukan E-book):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Berdoa dan Bekerja Bersama Santo Benediktus dari Nursia&quot; karangan Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya dijual via internet. Bagi peminat, silakan klik: http://nulisbuku.com/books/view/berdoa-dan-bekerja-bersama-santo-benediktus-dari-nursia&lt;br /&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2011/08/buku-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-3674657643020937825</guid><pubDate>Sat, 14 May 2011 10:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-14T17:45:14.526+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">leksionari</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tahun liturgi</category><title>MENYUSUN KHOTBAH DENGAN DASAR TIGA BACAAN</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Persoalan ”besar” sejak liturgi GKI menggunakan pembacaan Alkitab menurut sistem tiga pembacaan. Hingga kini sistem tiga bacaan tersebut diambil dari Revised Common Lectionary (RCL) , sehingga orang GKI cenderung menyebutnya khotbah leksionari.  Persoalan muncul bukan hanya karena adanya tiga bacaan yang menjadi dasar penyusunan khotbah – sebelumnya dan hingga 2006 GKI menggunakan satu bacaan (kadang2 ditambah dengan beberapa kutipan ayat-ayat lain dari Alkitab) untuk khotbah – tetapi juga metode penyusunan daftar bacaan yang tidak mengikuti kalender gereja.&lt;br /&gt;Memperhatikan kebiasaan beberapa Pengkhotbah di GKI selama ini, khotbah masih secara kental diwarnai dengan uraian dogmatis, biblis, atau langsung pada paranesis (nasihat, saran praktis, peringatan). Lantas, di manakah uraian homiletis (pengajaran, pewartaan) yang sangat menaati hermeneutik yang ilmunya telah diperoleh semua Pendeta GKI dari mata kuliah Homiletika waktu mahasiswa dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Mana lebih dulu: tahun liturgi atau bacaan Alkitab?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja awal di zaman para Rasul melakukan dua ibadah, yaitu sinaksis (synanxis) dan ekaristi (eucharistia). Sinaksis dilakukan di Sinagoge pada hari Sabat, yakni Sabtu sekitar pukul 15 (menjelang matahari terbenam). Dalam sinaksis dilakukan pembacaan Taurat, Mazmur-mazmur, pembacaan Kitab Nabi, dan pengajaran (bnd Luk 4:16-22 ”Yesus membaca Kitab Nabi dan mengajar”).&lt;br /&gt;Ekaristi dilakukan setelah sinaksis di Sinagoge selesai, yakni pada Sabtu senja hingga malam (bnd Kis 20:7-11); sudah masuk hari Minggu menurut perhitungan Yahudi waktu itu. Atau, bagi beberapa kelompok berbudaya Romawi kemudian, ibadah Kristen dilakukan pagi-pagi sekali menjelang matahari terbit (stato die ante lucem) di hari pertama.  Hanya orang Kristen, baik Yahudi maupun non-Yahudi, yang melakukan ekaristi, yakni pertemuan di rumah-rumah, untuk memperingati (anamnesis) peristiwa Kristus. Yang terutama dilakukan dalam pertemuan itu adalah perjamuan kudus atau perjamuan agape sampai kenyang,  dan kadang-kadang pengajaran Rasul juga. Pengajaran para Rasul kadang-kadang digantikan dengan pembacaan surat dari salah seorang Rasul.&lt;br /&gt;Kebiasaan ”dua” ibadah dengan ibadah Yahudi ini terus dilakukan hingga sebelum tahun 65-70. Lambat laun, kebiasaan ini memudar. Menjelang akhir abad pertama dan awal abad ke-2, gereja awal semakin meninggalkan ibadah di Sinagoge dan menjalankan ibadahnya sendiri. Hal ini dikemukakan dalam Surat Barnabas, XV, 8-9, pada masa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Merayakan Sabat kini tidak lagi dapat kuterima, tetapi apa yang telah kubuat, menempatkan waktu beristirahat dan mengawali hari kedelapan, adalah permulaan dari dunia (maksudnya adalah awal pekan) yang lain. Maka kita pun merayakan hari kedelapan itu dengan sukacita, hari Yesus juga bangkit dari kematian, menampakan diri dari naik ke sorga.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira setelah saat itu, peribadahan yang dilakukan oleh gereja awal, dan khas Kristen tanpa percampuran historis dengan kebiasaan Yahudi, adalah ibadah hari Minggu (Why 1:10 ”hari Tuhan”). Hari-hari raya Kristen, semisal Paska Kristen dan Pentakosta Kristen – berbeda dengan Paska dan Pentakosta Yahudi – baru lahir sekitar abad ke-2, setelah Perjanjian Baru selesai ditulis.&lt;br /&gt;Dalam ibadah hari Minggu, pembacaan-pembacaan Alkitab adalah Taurat atau Kitab Para Nabi, atau kemudian menjadi Perjanjian Lama, dan Surat Rasul.  Kitab-kitab Injil belum lazim dibacakan, kecuali di beberapa tempat, namun Perjanjian Lama mendapat tempat yang tetap. Pembacaan-pembacaan tersebut ”disambung dalam hubungan erat” dengan pengajaran,  sehingga memahami lebih dahulu pesan perikop yang dibaca sebelum pengajaran adalah hal yang mutlak dilakukan oleh para pengkhotbah, biasanya Uskup, sejak zaman itu. Di tempat lain dan masa kemudian, pembacaan Alkitab meliputi Taurat, Nabi-nabi, Surat-surat, Injil, dan surat-surat kiriman Uskup juga dimasukkan ke dalam ibadah sebelum perjamuan.  Hingga abad ke-3, pembacaan Alkitab lebih daripada satu perikop merupakan hal yang lazim dilakukan. &lt;br /&gt;Abad ke-2 hingga ke-5 adalah masa kreativitas hari-hari raya liturgi. Hal ini tidak berarti tidak ada yang muncul di luar masa tersebut (mis. Minggu Kristus Raja pada abad ke-20), namun beberapa hari raya inti muncul di zaman itu. Alkitab memberikan informasi tentang peristiwa-peritiswa khusus perihal pekerjaan dan karya Kristus. Jadi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum selesai penulisan Perjanjian Baru (30 – 65):&lt;br /&gt;Ibadah hari Minggu MENJADI INFORMASI di dalam penulisan Alkitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai penulisan Perjanjian Baru (65 – sekarang):&lt;br /&gt;Isi Alkitab MENJADI INFORMASI bagi munculnya hari-hari raya liturgi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribadahan hari raya selalu berkaitan dengan informasi dan sekaligus pemilihan perikop Alkitab untuk dibacakan. Misal, ibadah Minggu Palem, tepat sepekan sebelum Paska. Ibadah ini telah dilakukan di Yerusalem sejak abad ke-4 dan diadopsi oleh Roma pada abad ke-5. Pembacaan kitab Injil tentang Yesus masuk Yerusalem dan nyanyian Hosana dilakukan dalam ibadah tersebut.  Hal ini, pembacaan perikop Yesus masuk Yerusalem pada Minggu Palem, (hampir) tidak terjadi jika tidak menggunakan RCL atau penataan pembacaan menurut kalender gerejawi.&lt;br /&gt;RCL (setelah tahun 1992) menamakan hari Minggu terakhir dalam masa Prapaska ini dengan Minggu Palem dan Sengsara. Liturginya agak panjang sedikit, dan kisah sengsara Yesus menurut Injil Sinoptik dibacakan pada hari itu. Namun sengsara dan kematian, peristiwa salib itu, belum mencapai puncaknya pada hari itu yang merupakan awal Pekan Kudus.&lt;br /&gt;Melanjutkan prosesi Paska, lereng ”gunung” masa raya Paska adalah Jumat Agung – sebagai satu contoh saja. Ibadah sengsara dan kematian Kristus ini disebut Jumat Agung (Good Friday, atau bisa juga berarti: God’s Friday) – mengapa tidak disebut Jumat Duka, Jumat Kelam, atau Jumat Sengsara, seperti halnya Minggu Sengsara 5 hari yang lalu? Apanya yang agung dari kematian Anak Tunggal? Penamaan Jumat Agung ini tidak serta merta terjadi begitu saja jika tanpa dilakukannya pembacaan kisah sengsara menurut Injil Yohanes 18 – 19 pada hari tersebut.  Di antara kitab-kitab Injil, Yohanes memiliki keunikan di dalam mempersaksikan peristiwa salib. Bandingkan dengan Paulus (1Kor 1:18-25) bahwa pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan dan batu sandungan bagi yang akan binasa, tetapi kekuatan Allah bagi yang percaya. Peran utama Allah sebagai Pelaku Utama peristiwa salib menonjol, bukan hanya di Golgota, tetapi juga sejak di taman Getsemani, selama penyaliban, hingga wafat Kristus – tidak ada peran manusia dalam peristiwa tersebut. &lt;br /&gt;Ada empat tindakan Allah di dalam kisah yang ditulis secara elok oleh Penginjil Yohanes tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;1) di Getsemani, Yesus berkata: “Akulah yang engkau cari”. Ia tidak ditangkap oleh prajurit berkat peran Yudas (Mat, Mrk) atau ciuman Yudas (Luk).&lt;br /&gt;2) Pilatus berkata: ”Engkau adalah raja?” demikian pula ketiga Injil lain.&lt;br /&gt;3) selama penyaliban, Yesus berkata: ”Ibu, inilah anakmu!”, dan ”Inilah ibumu!”; ”Aku haus,” seperti yang tertulis dalam Kitab Suci; dan ”Sudah selesai,” yang lebih pada arti kehendak Allah telah terjadi.  Ini tidak ada di ketiga Injil lain.&lt;br /&gt;4) kematian-Nya bukan karena dipatahkan kaki-kakinya sebagaimana kedua penjahat itu, tetapi sebagai suatu kesaksian, Yesus mati bukan karena kehendak manusia. Tentang kedua penjahat dan pematahan kaki tidak ada di ketiga Injil lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan ibadah-ibadah Natal. Natal baru menjadi hari raya gereja lama setelah Perjanjian Baru selesai ditulis, yakni abad ke-4. Ada tiga ibadah – biasanya gereja memilih dua di antaranya  – yang dilakukan karena informasi para Penginjil. Bermula, 24 Desember, malam menyambut hari besar, adalah para Malaikat menjenguk para gembala, dan para gembala menjenguk Bayi Yesus (Luk 2:8-16). Kemudian, 25 Desember pagi, para gembala menyebarkan berita dan meninggalkan palungan (Luk 2:17-20). Delapan hari kemudian, 1 Januari, gereja memperingati Yesus diberi nama dan disunat (Luk 2:21-24). Masih dalam rangkaian kelahiran Yesus, Minggu terdekat dengan 6 Januari, gereja memperingati para Majus menjenguk Anak itu (Mat 2:12). Demikian secara umum, rangkaian masa-masa raya terinspirasi oleh para penulis Alkitab untuk memperingati (anamnesis) peristiwa-peristiwa Kristus pada waktu yang tepat.&lt;br /&gt;Selain itu, praktek peribadahan gereja awal menjadi isi dari kerangka penulisan Alkitab. Nyanyian-nyanyian, seperti nyanyian Musa dan Miryam (Kel 15), nyanyian Debora (Hak 5), nyanyian Hana (1Sam 2), doa Yunus (Yun 2), Magnificat, nun Dimittis, dan Benedictus di dalam Lukas, termasuk Mazmur-mazmur merupakan arsip hidup bagi gereja dewasa ini.  Banyak bagian, baik Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama (atau Perjanjian Pertama), telah dipergunakan dalam ibadah Yahudi dan gereja zaman Patristik. Bahkan sebagian besar Kitab Keluaran ditulis sebagai suatu liturgi Paska Yahudi. &lt;br /&gt;Dengan demikian rangkaian dan kreativitas Paska dan Natal ini mengikuti informasi Alkitab sebagaimana tertulis dan dikanonkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Berkhotbah: mengajar dan mewartakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyusun khotbah, apa pun namanya, pada dasarnya adalah mirip menulis karangan. Ada pembuka, uraian isi, dan penutup. Hanya, khotbah adalah sebuah pengajaran atau pewartaan Firman Tuhan kepada gereja (dan dunia). Isi homili adalah tafsiran Alkitab dan paranesis. Pemilihan bagian Alkitab yang dibaca sebagai dasar khotbah sendiri telah diberlakukan di GKI sejak lama; dimulai dari GKI Jateng (sejak ...?), kemudian menjadi kebiasaan Sinode Am GKI (sejak 1995?). Pada waktu itu, perikop yang digunakan adalah satu perikop. Satu perikop itu dipahami secara hermeneutis (Dewa Hermes adalah pembawa pesan) dan ditafsirkan secara homiletis.&lt;br /&gt;Hermeneutik (penafsiran) adalah ”teori dan praktek pemahaman serta penafsiran teks, baik teks Kitab Suci maupun teks-teks lain. Dengan tetap berusaha untuk (a) menentukan makna asli teks dalam konteks historisnya, dan (b) mengungkapkan maknanya untuk sekarang, hermeneutik mengakui bahwa suatu teks dapat memuat dan menyampaikan makna yang lebih jauh daripada maksud penulis yang asli. Di samping menggunakan berbagai disiplin ilmu seperti filologi (ilmu tentang bahasa), sejarah, kritik sastra, dan sosiologi, para penafsir juga perlu merefleksikan secara filosofis keadaan manusia dan peranannya dalam menciptakan dan membaca teks. Meskipun ada jarak antara budi seseorang dengan kebudayaan, kemanusiaan kita yang sama dapat menjembatani jarak itu sehingga teks dapat dimengerti dan ditafsirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi penafsiran metode hermeneutik di dalam homili adalah upaya pengkhotbah menarik pesan atau pesan-pesan Alkitab sebagai pengajaran dan pewartaan. Dengan demikian, penafiran untuk homili tidak terlalu terikat pada teori sumber-sumber, orisinalitas penulis atau kitab, dan sebagainya; yakni metode-metode tafsir yang biasa digunakan dalam studi Biblika. Oleh karena dimulai dengan memahami perikop, maka cara ini adalah eksegetis.&lt;br /&gt;Contoh Yohanes 21:1-19 (Agustinus Ganto, Langkah-Nya ... Langkah-ku: Kumpulah Ulasan Injil, Penerbit Kanisius 2005, 1-6), hlm 2 ”catatan eksegese”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, pengkhotbah (dalam perannya sebagai pengajar dan pewarta) tidak berusaha menyusun gagasan-gagasan pikirannya sendiri, melainkan ”bermain” di dalam perikop untuk menyusun khotbah. Dengan demikian, pengkhotbah tidak disesatkan dengan cara penafisiran eisegese. Perikop didalami dengan menyoroti sebagian atau seluruh isinya, dengan berpusat pada tema yang lahir dari bacaan atau bacaan-bacaan Alkitab  (= berikan contoh dan cara [Ul 19:1-2,9-21; Mzm 119:33-40; 1Kor 3:10-11,16-23; Mat 5:38-48]).&lt;br /&gt;Tema (atau judul) adalah pengarah, pedoman, atau pusaran yang akan digunakan oleh pengkhotbah untuk memberitakan pengajaran. Sebagai titik tolak pengajaran, perumusan tema adalah soal vital.  Pengkhotbah perlu mencari informasi tambahan guna menunjang naskah perikop dan memperkaya pengajaran dan pewartaan. Cerita penunjang dapat ditambahkan, namun sedikit saja dan tetap memperhatikan pesan perikop. Inilah yang disebut dengan khotbah tafsiran  – biasa juga disebut dengan homili, pengajaran, atau pewartaan.&lt;br /&gt;Menyusun khotbah berdasarkan tiga bacaan, pada dasarnya sama dengan satu bacaan. Jika bermasalah dengan penyusunan khotbah satu bacaan, bermasalah pula dengan menyusun khotbah lebih daripada satu bacaan. Masalah yang muncul biasanya adalah soal kesibukan yang luar biasa, sehingga tidak ada cukup waktu untuk secara serius menyusun khotbah.  Yang penting adalah, pengkhotbah menggunakan tafsiran hermeneutis dan homiletis, bukan biblis, dogmatis, atau eisegese (biasa dan baik digunakan untuk perumusan hal-hal etis atau praksis liturgis ).&lt;br /&gt;Contoh bacaan Minggu Biasa tahun A. Kejadian 6:9-22, 7:24, 8:14-19 (atau Ulangan 11:18-21, 26-28); Mazmur 46 (atau 31:1-5, 19-24); Roma 1:16-17, 3:21-28 (29-31); Matius 7:21-29. Pertama, tangkap persamaan pesan atau kesan.&lt;br /&gt;Versi 1: Dua rumah dengan dasar berbeda (batu dan pasir) ini berlatarbelakang Bait Allah dan kota Yerusalem. Gambaran Matius ini sejajar dengan Mazmur tentang Allah adalah tempat perlindungan (bnd KJ 250 ”Allahku, Benteng Yang Teguh”). Rumah yang hanyut kebanjiran ini digambarkan di dalam kisah bahtera Nuh – Allah menghancurkan segala sesuatu. &lt;br /&gt;Versi 2: Soal orang yang mendengarkan Firman Tuhan. Sangat jelas dikemukakan tentang mereka yang mendapat berkat atau kutuk. Mazmur 31 dapat dikenakan pada dua versi ini. Kekokohan iman dianalogikan dengan dasar rumah yang kuat atau ketaatan di dalam mendengarkan Firman.&lt;br /&gt;Intinya, secara homiletis, Perjanjian Lama (atau Perjanjian Pertama) merupakan kesatuan dengan Perjanjian Baru. Hal ini harus dilihat dalam sudut pandang praktek liturgis dan pemahaman gereja awal ketika tetap menempatkan Perjanjian Lama sebagai pembacaan. Perjanjian Lama bukan sekadar mukadimah baru Perjanjian Baru, atau Perjanjian Baru sekadar kamus Perjanjian Lama. Melainkan, Perjanjian Baru sebagai penafsiran (interpretasi) yang terus menerus atas Perjanjian Lama dengan suatu penekanan yang baru. Tafsiran-tafsiran (yakni Perjanjian Baru itu) memainkan peran besar dalam liturgi.  Selain itu, bukan hanya Yesus yang mengatakan: ”Aku datang ... untuk menggenapi (=memulihkan kembali ke maksud semula) seluruh hukum Taurat,” (Mat 5:17) tetapi perkataan itu juga mencerminkan ketaatan gereja awal: Jemaat Penginjil Matius, kepada Taurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Uraian historis-liturgis di atas ini tidak hendak mengatakan bahwa liturgi GKI, terutama yang fokus pada pembacaan leksionari dan pengajaran, adalah ”barang jiplakan” dari masa-masa lalu yang tua, kuno, dan tidak lagi relevan. Uraian historis tersebut ingin membuktikan bahwa liturgi tidak terlepas dari unsur-unsur kuno di dalamnya, namun dalam kemasan relevan untuk masa kini. Oleh karena itu peran pengkhotbah untuk menggali pesan Alkitab secara hermeneutik sangat diperlukan.  ●&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Bahan seminar Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jabar&lt;br /&gt;untuk para Pendeta di Klasis Bandung dan Cirebon, di Suriasumantri 11 April 2011.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2011/05/menyusun-khotbah-dengan-dasar-tiga.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-5743292776286718003</guid><pubDate>Thu, 20 Jan 2011 11:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-20T18:53:38.114+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nyanyian</category><title>LUTHER DAN NYANYIAN ANAK</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tak banyak mengetahui bahwa Reformator gereja: Martin Luther (1483-1546), adalah pencinta musik gereja dan pencinta anak-anak sekaligus. Kedua kombinasi ini mencitrakan Luther sebagai seorang Pendeta dan teolog yang memperhatikan dua hal penting dalam kehidupan berjemaat, dan ia memadukannya menjadi sebuah harmoni  bagi pembangunan jemaat. Dengan harmoni tersebut, jemaat bertumbuh menjadi lebih cerdas secara kualitas dan terasah hati nuraninya – kecerdasan dan hati nurani adalah dua aspek penting bagi setiap orang Kristen.&lt;br /&gt;“Seandainya saya mempunyai anak-anak dan saya sanggup,” begitu katanya sebelum menikah dengan Katharina von Bora pada tahun 1525, “saya berusaha supaya mereka tidak hanya diberi pelajaran bahasa dan sejarah, tetapi juga seni suara dan musik selaku bagian dari seluruh matematika.”&lt;br /&gt;Salah satu hasil perpaduan serasi tersebut adalah terciptanya nyanyian anak bertema Natal pada tahun 1534, yakni: Vom Himmel hoch da komm ich her (KJ 98 “Jauh dari Sorga Datangku”). Nyanyian jemaat berbahasa asli Jerman ini terdiri dari 15 bait – cukup banyak ya – dan sederhana, baik syair maupun lagunya. Setiap baitnya hanya terdiri dari empat kalimat musik dan setiap kalimat musik hanya terdiri dari masing-masing delapan metrik. Dengan demikian pola nyanyian ini adalah 8.8.8.8. Lagu dari nyanyian ini berasal dari pedagang keliling yang kemudian diubah syairnya oleh Luther. Nyanyian sederhana dan pendek ini berkualitas tinggi dan indah – yang indah itu seringkali tecermin dalam kesederhanaan.&lt;br /&gt;Bait-bait yang berjumlah 15 itu dinyanyikan oleh Luther dengan cara menarik, yakni alternatim atau bergilir ganti. Anak-anak Luther, semuanya berjumlah enam, bernyanyi bergantian, sehingga gambaran seluruh nyanyian ini bagaikan drama keluarga. Si sulung menyanyikan bait 1 sampai 5, semua anak menyanyikan bait 6, lalu si bungsu khusus menyanyikan bait 7. “Dalam palungan lihatlah betapa manis tidur-Nya. Siapa itu yang lembut? Itulah Yesus, Kawanku!” begitu bunyi bait 7. Kemudian setiap anak kembali menyanyikan masing-masing bait 8 sampai 14, dan bait ke-15 dinyanyikan oleh seluruh keluarga Luther. Tentu, Natal keluarga itu menjadi indah, hangat, dan romantis.&lt;br /&gt;Lagu ionis – yakni tonika “do” – dari nyanyian malaikat ini pun intersan. Lagunya dimulai dari nada tinggi, kemudian berakhir dengan nada 1 oktaf di bawahnya. Frasering ke-2 dan ke-3 di tengah lagu berfrasering empat ini laksana malaikat dari atas yang melayang-layang lebih dahulu sebelum mendarat di bumi. Ditambah dengan penutup syair dalam bait pertama: “’ku ingin menyanyikannya!” laksana ajakan kepada semua orang untuk turut merasakan dan memberitakan kabar gembira tentang kedatangan Sang Anak tersebut.&lt;br /&gt;Hingga kini, Gereja Reformasi merupakan gereja yang memperhatikan nyanyian jemaat dan pendidikan kepada anak. Kecintaan kepada musik dan anak merupakan modal kehidupan dan pertumbuhan budaya manusia.  ˚&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka acuan&lt;br /&gt;H.A. Pandopo, Luther: Si Bulbul dari Wittenberg, BPK GM dan Yamuger 1983.&lt;br /&gt;Yamuger, Mazmur dan Nyanyian Jemaat, 1999.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2011/01/luther-dan-nyanyian.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-11753800746014277</guid><pubDate>Sat, 30 Oct 2010 05:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-30T12:23:51.367+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>H.A. VAN DOP DI INDONESIA</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang baru ramai “menyambut” van Dop begitu ia diproklamasi dan dikonfirmasi meninggalkan Indonesia; itu pada tahun 2004 lalu. Hampir setiap saat selama beberapa bulan dibuat acara perpisahan dengan van Dop, seorang misionaris Belanda yang bertugas di Indonesia sejak akhir dasawarsa 1960-an. Setiap kelompok paduan suara, teolog, dan gerejawan seakan berlomba mengadakan acara farewell dengan van Dop. Semakin dekat dengan hari perpisahannya, semakin banyaklah acara perpisahan yang digelar, baik berupa konser-konser, hymn singing, makan-makan, dsb. Pokoknya ada saja, dan sepertinya semua acara tersebut dihubungkan dengan perpisahan dengan maestro nyanyian jemaat yang sudah berkiprah di Indonesia selama lebih daripada 40 tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8h6kPgZCeBmOlJL6vhDQyknakMWkOgZuQRvACFDMnpkB47wpf3T5Y2vNgpI5CRXmwO-EnWYnDXxhgASoSjvazIqzSfCWIqykYTmEZWL7Q2uJ8HtISNl7XWoAhAN8pmKKFtmrtIMiIR1Iw/s1600/Dop+1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8h6kPgZCeBmOlJL6vhDQyknakMWkOgZuQRvACFDMnpkB47wpf3T5Y2vNgpI5CRXmwO-EnWYnDXxhgASoSjvazIqzSfCWIqykYTmEZWL7Q2uJ8HtISNl7XWoAhAN8pmKKFtmrtIMiIR1Iw/s200/Dop+1.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5533703763528861410&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya kali ini merupakan yang kesekian kali; mungkin ke-3. Namun kedatangannya kali ini diistimewakan karena akan disambut dan diembel-embeli dengan perayaan ulang tahunnya ke-75. Dua lembaga: Yamuger dan STT Jakarta, tempat di mana van Dop menelurkan karya-karyanya bagi nyanyian jemaat dan musik gereja di Indonesia, “bertanggungjawab” dalam membayar “hutang”. Sebuah buku kenangan dari teman-teman dan dua CD dari paduan suara disiapkan untuk diberikan sebagai hadiah. Sebuah karya yang besar dan serius, namun dikerjakan dengan rileks oleh teman-teman di Yamuger dan STT Jakarta sejak April 2009 dan April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai persiapan dan kerepotan namun sukacita melakukannya, buku selesai dan dua CD selesai menjelang hari-hari “H” perayaan ulang tahun pada 29 September dan awal 1 Oktober. Melegakan dan memuaskan di tahap persiapan ini. Baik acara bedah buku dan penyerahan buku Seberkas Bunga Puspa Warna di STT Jakarta dan hymns singing dengan penyarahan CD Lihatlah Sekelilingmu dan CD Dirangkul oleh Kuasa Kasih di Aula Yustinus Unika Atmajaya berlangsung baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun acara van Dop di Indonesia baru mulai setelah acara-acara tersebut selesai. Sepanjang bulan Oktober di Indonesia ada begitu banyak kerjaan informal tetapi serius yang harus dilakukannya. Kebetulan ia juga seorang yang suka bekerja. Ia kembali sibuk, mungkin lebih sibuk daripada ketika ia berada di Indonesia selama 40 tahun. Ia melakukan pekerjaan musik, reuni-reuni, perkunjungan ke teman-temannya, melihat gereja-gereja, dan beberapa pekerjaan rumah dengan STT Jakarta. Semuanya itu dilakukan baik di Jakarta maupun di luar kota hingga Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi aktivitas van Dop yang kami kenal adalah musik gereja, liturgi, dan pendidikan. Ia berteologi melalui nyanyian jemaat dan liturgi. Ia bukan hanya menerjemahkan dan menyusun nyanyian-nyanyian jemaat dari berbagai budaya di dunia, ia juga menjadi bakat-bakat baru. Tidak sedikit muridnya yang kemudian dibina dan disiapkan untuk kemudian menjadi pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgx9g771PHpyRuV0DzggYGXSu3M4YGUM4UJn2VkG5by5T5cUHJpVnPCp7FZQcmnQZF8T_K4IYhZfhqAs0wzrjV50JZUI60mtB80mFju5P_1r89p_Y2hRHUbV4TOvxdzUvBxTVvZkKgMmeXr/s1600/tim.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 116px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgx9g771PHpyRuV0DzggYGXSu3M4YGUM4UJn2VkG5by5T5cUHJpVnPCp7FZQcmnQZF8T_K4IYhZfhqAs0wzrjV50JZUI60mtB80mFju5P_1r89p_Y2hRHUbV4TOvxdzUvBxTVvZkKgMmeXr/s200/tim.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5533704927858697442&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dr Kadarmanto mengadakan percakapan dengan van Dop dan rekan2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya kali ini pun tidak lepas dari usaha melirik kanan-kiri mencari bibit calon penerus pemusik gereja. STT Jakarta, melalui Dr Kadarmanto, beberapa kali mengadakan pembicaraan strategi dengan van Dop untuk mencari pengganti Christina Mandang († 2010, yang meninggal sesaat sebelum van Dop tiba di Indonesia) dan juga mencari bibit-bibit yang kelas disiapkan untuk dapat berkembang lebih jauh dan dalam. Strategi ini memang strategi jangka panjang, tidak cukup 1-2 tahun, maka perlu disiapkan dan direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXkTWvWvV_H8bUrBFoygz_gdzR-4Ggh0LYnZBC7iNIwXMjK_YJiWWN9f4EoKucBemIT59NVykp-hnE32Nfzh3SGs9_kQlP9_w7zvQRvGbjGgj9kvX7z9bzyVBtuuU_pJuOC82NOZCz_3mz/s1600/Dengan+Raja.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 126px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXkTWvWvV_H8bUrBFoygz_gdzR-4Ggh0LYnZBC7iNIwXMjK_YJiWWN9f4EoKucBemIT59NVykp-hnE32Nfzh3SGs9_kQlP9_w7zvQRvGbjGgj9kvX7z9bzyVBtuuU_pJuOC82NOZCz_3mz/s200/Dengan+Raja.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5533703761924268530&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Van Dop, Christina Mandang, Raja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncullah gagasan agar van Dop kembali datang ke Indonesia untuk mengajarkan beberapa topik kuliah pada semester mendatang. Selain mencari bibit baru, juga ada beberapa topik yang masih memerlukan penanganannya secara langsung. Diharapkan kedatangannya tahun depan bukan hanya 1 bulan, tetapi lebih lama lagi.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kegiatan van Dop sangat padat selama di Indonesia; mungkin lebih padat daripada ia masih bekerja di Indonesia. Bukan hanya pekerjaan ekstra, tetapi ia juga pulang ke Belanda dengan sejumlah pekerjaan rumah untuk gereja dan umat di Indonesia. Dr Robert Borrong pernah berkata di depan siswa-siswa baru Kursus Musik Gereja, kurang-lebih, bahwa siapa yang pernah menjadi keluarga besar STT Jakarta, tidak akan bisa keluar dari kampus ini sebagai keluarga selamanya.  ■</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2010/10/ha-van-dop-di-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8h6kPgZCeBmOlJL6vhDQyknakMWkOgZuQRvACFDMnpkB47wpf3T5Y2vNgpI5CRXmwO-EnWYnDXxhgASoSjvazIqzSfCWIqykYTmEZWL7Q2uJ8HtISNl7XWoAhAN8pmKKFtmrtIMiIR1Iw/s72-c/Dop+1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-4088639019282559033</guid><pubDate>Tue, 31 Aug 2010 05:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-31T12:21:56.738+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>PLUS-MINUS LITURGI GKI DALAM PEMBANGUNAN JEMAAT</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jemaat-jemaat GKI belum pernah mengamati dengan seksama, serius, objektif-ilmiah, praktek perayaan liturgi GKI secara menyeluruh sejak tahun 2006. Baik penyelenggara ibadah, yakni Majelis Jemaat (Penatua dan Pendeta), maupun umat biasanya hanya berkeluh kesah mengangkat yang buruk-buruk perihal liturgi tersebut. Yang terjadi adalah penghakiman sepihak dan seringkali tidak terdengar, yang kebenarannya belum dapat dijelaskan secara logis, di dalam tubuh GKI sendiri.&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini saya coba memaparkan tentang sisi-sisi positif perihal liturgi kita dan juga menyampaikan sisi-sisi yang masih merupakan kekurangan. Sisi positif kiranya memperkuat jatidiri GKI, sedangkan sisi kekurangan kiranya dapat menjadi koreksi kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Liturgi ekumenis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara gamblang, liturgi GKI mendekati pola liturgi yang digunakan oleh Gereja-gereja ekumenis. Baik isi maupun urutannya, terlihat sekali sepola dengan liturgi di Gereja-gereja beraliran Reformed, Lutheran, Anglican, Metodis, dan Roma Katolik. Walaupun sudak sejak lama instritusi GKI berada di sayap ekumenis dan menjadi anggota Dewan-dewan gereja se-aliran, namun dalam hal kesepolaan liturgi, GKI masih terkesan lebih banyak “jalan sendiri”. Kini, kesepolaan dengan liturgi ekumenis telah makin mendekati.&lt;br /&gt;Saat ini masih perlu dinilai “masih mendekati” pola liturgi ekumenis karena belum seluruhnya ekumenis. Misalnya, masih terjadi “tarik-ulur” di Jemaat-jemaat GKI merayakan perjamuan kudus pada hari Paska atau Jumat Agung; penerimaan ibadah Rabu Abu dan Kamis Putih sebagai liturgi ekumenis alih-alih bersikap anti-katolik; penempatan kolekte sebelum atau setelah perjamuan; bahkan penggunaan leksionari. Contoh-contoh tersebut cukup membuktikan keragu-raguan, bahkan resistensi, penerapan pembaruan liturgi di GKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Leksionari ekumenis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Revisi sistem pembacaan untuk pemberitaan firman adalah salah satu yang mencuat dalam liturgi GKI. Maka penggalian Alkitab secara homiletis (bukan secara biblis sebagaimana untuk Pemahaman Alkitab dan dogmatis sebagaimana untuk katekisasi) seharusnya menjadi salah satu ciri khas dan titik berat dalam penyampaian khotbah. Pada satu pihak ini merupakan lompatan kemajuan, sebab baru GKI yang menerapkan hal ini di antara (sangat sedikit!) Gereja-gereja Protestan di Indonesia hingga saat ini. Namun pada pihak lain, konsekuensinya, para Pengkhotbah GKI tertantang untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam menyampaikan khotbah secara leksionaris ini. Mengingat mahasiswa di seminari belum diperlengkapi dengan metode tersebut, maka upaya mandiri dari para Pelayan Firman sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;Lompatan kemajuan ini memang mengalami hambatan dan ada pula tentangan dari beberapa pihak di dalam GKI sendiri. Namun PMS GKI di Denpasar 2005 telah melakukan perhitungan berani demi pembangunan jemaat. Ikutan dari leksionari ekumenis ini penerapan yang lebih baik pula dalam tahun liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Memperbarui kalender gerejawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan leksionari bukan hanya menunjukkan kebersamaan GKI dengan liturgi ekumenis, tetapi juga menunjukkan sikap teologis GKI terhadap kalender gerejawi. Perjumpaan gereja dengan peristiwa Kristus dimediasi oleh perayaan liturgi melalui kalender gereja. Kalender gereja atau tahun liturgi dengan rangkaian hari-hari raya dan pembacaan Alkitab adalah wahana terjadinya perjumpaan dengan peristiwa Kristus tersebut. Leksionari (pembacaan Alkitab menyeluruh [PL-Surat-Injil] yang disusun berdasarkan tahun liturgi) membuat perjumpaan tersebut lebih muncul dalam liturgi.&lt;br /&gt;Dengan menerapkan pembacaan leksionaris dengan seluruh bagian Alkitab: PL-Surat-Injil dan Mazmur, yang disusun berdasarkan kalender gerejawi, peristiwa Kristus diperingati (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;anamnesis&lt;/span&gt;) secara utuh dan rangkai – tidak sempalan dan terpisah-pisah – serta beriringan (sunhodos) dengan gereja-gereja ekumenis. Dalam waktu bersama, Kristus yang satu diperingati oleh gereja.&lt;br /&gt;Dengan demikian, leksionari ekumenis bukan hanya soal mengembalikan peran Alkitab (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;back to the Bible&lt;/span&gt;) sebagaimana moto gerakan Reformasi (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;sola scriptura&lt;/span&gt;), tetapi juga soal membersamakan perayaan liturgi. Sekiranya belum terwujud keesaan Gereja-gereja, setidaknya ada kebersamaan di dalam dan melalui perayan liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Hal-hal kecil yang masih menjadi kendala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salam damai. Penempatan salam damai sekarang ini masih simpang siur. Yakni sebelum doa pembacaan Alkitab dalam ibadah biasa, dan sebelum komuni dalam ibadah dengan perjamuan kudus. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan penempatan dan pelaksanaan salam damai, padahal seharusnya tidak demikian. Penempatan sebuah unsur dalam liturgi adalah tetap, baik dalam ibadah lengkap maupun dalam ibadah tidak lengkap.&lt;br /&gt;Doa Bapa Kami. Sebagaimana salam damai, demikian pula Doa Bapa Kami. Doa ini tidak serta merta datang sendiri ke dalam liturgi pada abad ke-7 tanpa perjamuan kudus. Kalimat “berilah kami makanan” yang disambung dengan “ampunilah kami” dalam Doa Bapa Kami yang dipanjatkan setelah doa syukur agung diwujudkan dalam bentuk salam damai dan komuni memperlihatkan rangkaian utuh doa tersebut. Jika perjamuan kudus tidak dirayakan pada hari tersebut sementara Doa Bapa Kami dan salam damai hendak tetap ditampilkan dalam liturgi, sebaiknya Doa Bapa Kami menjadi bagian penutup doa persembahan.&lt;br /&gt;Mazmur. Pembacaan leksionari memfasilitasi kembalinya Mazmur dalam ibadah. Namun sejauh ini, pembacaan Mazmur yang semula hanya bersifat sementara itu, hingga saat ini (setelah lebih daripada 3 tahun) belum terlihat upaya penyenggara ibadah memfasilitasi umat untuk menyanyikan Mazmur dalam ibadah. Fasilitas tersebut bukan hanya dana membeli buku, tetapi juga membina umat untuk kembali dapat menyanyikan Mazmur; mengingat jumlah pemusik di GKI, seharusnya ini tidak lagi menjadi kendala.&lt;br /&gt;Aturan sinodal. Fenomena menarik sekaligus memprihatinkan dalam 3-4 tahun terakhir ini, penyelenggara ibadah membelenggu diri dengan berbagai aturan untuk merayakan ibadah. Baik peraturan tertulis maupun tak tertulis seolah-olah semakin menjadi rel jalannya ibadah, sehingga kreatifitas dan kekhasan masing-masing lokal semakin dipasung (atau terhambat) oleh pola pikir penyelenggara sendiri. Liturgi seharusnya melampaui aturan gerejawi, karena liturgi merupakan sebuah perayaan (selebrasi) untuk mengenangkan (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;anamnesis&lt;/span&gt;) peristiwa Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Uraian ini ingin menyampaikan bahwa GKI sedang berada dalam barisan pembaruan liturgi (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;liturgical renewal&lt;/span&gt; dalam &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;liturgical movement&lt;/span&gt; awal abad ke-20) yang di dunia ekumenis telah berlangsung sejak (setidaknya) setengah abad lebih dahulu. Memang agak terlambat, namun masih dapat mengejar.&lt;br /&gt;Dengan pemaparan plus-minus ini membuktikan bahwa hingga kini liturgi GKI belum menjadi sempurna; masih menyisakan banyak “pekerjaan rumah”. Ini menjadi tugas setiap penyelenggara ibadah untuk terus menyuarakan catatan-catatan kristis dan ilmiah – bukan sekadar like-dislike – perihal praktek liturgi di GKI.  ■</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2010/08/plus-minus-liturgi-gki-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-9137546703723149667</guid><pubDate>Mon, 19 Jul 2010 01:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-19T08:46:46.939+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgiologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>INISIASI</title><description>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;DALAM GEREJA-GEREJA PROTESTAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inisiasi – hal yang sangat biasa di dalam terminologi liturgi sejak tahun 1940-an  – sebenarnya tidak akrab digunakan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Namun pemahaman bahwa baptisan dan sidi (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;confirmatio&lt;/span&gt;) sebagai ritus masuknya seseorang ke dalam Gereja  sudah dikenal lama. Baptisan termasuk salah satu sakramen – sakramen lain adalah perjamuan kudus (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;eucharistia&lt;/span&gt;) – sedangkan sidi bukan termasuk sakramen dalam tradisi Protestan. Perjamuan kudus sendiri tidak dipahami sebagai ritus inisiasi dalam Gereja-gereja Protestan, tetapi sebagai salah satu dari dua sakramen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Baptisan anak, sidi, dan perjamuan kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembaptisan sebagai inisiasi tetap dipahami oleh Gereja-gereja Protestan. Melalui pembaptisan, keanggotaan seseorang ke dalam Gereja dinyatakan sah. Oleh karena pendirian Gereja-gereja Protestan arus utama (mainstream) sudah semakin jarang terjadi, maka baptisan dan sidi dipahami sebagai masuknya seseorang sebagai anggota Gereja tersebut. Namun dalam pengertian lebih luas, inisiasi tersebut menyebabkan seseorang menjadi anggota tubuh Kristus yang esa. Ada dua jenis keanggotaan seseorang berdasarkan baptisan, yaitu anggota baptis anak dan anggota baptis dewasa atau biasa disebut anggota jemaat. Beberapa Gereja menyebut juga anggota sidi bagi seseorang yang terdaftar sebagai anggota jemaat berdasarkan peneguhan sidi.&lt;br /&gt;Secara formal, baptisan anak dapat diberlakukan sejak bayi hingga usia 15 tahun. Dalam praktek, seseorang yang belum dibaptis anak pada usia 13 tahun akan dianjurkan menunggu hingga usia 16 tahun untuk dibaptis dewasa – kecuali dalam keadaan darurat. Keadaan darurat, misalnya karena sakit parah, pada remaja seusia tersebut sangat sedikit jumlahnya dalam Gereja. Dalam praktek, baptisan anak dikenakan pada seseorang sejak ia dilahirkan hingga 12 tahun.&lt;br /&gt;Sebagian besar Gereja Protestan di Indonesia, semisal: GPIB, HKBP, GKI, GKP, GKPI, GMIT, GKJ, mempraktekkan baptisan anak atau baptisan bayi, walaupun beberapa Bapa Gereja yang diikuti oleh Gereja Protestan menolaknya. Baptisan anak dilakukan dengan cara penyiraman air ke kepala anak atau bayi. Hanya sebagian kecil Gereja yang menolak batisan anak – jika Gereja-gereja semisal: Gereja-gereja tersebut antara lain: Pantekosta, Baptis, Mononit, dimasukkan sebagai yang berasal dari Protestanisme. Gereja-gereja yang menolak baptisan anak memberlakukan ritus penerimaan anak.&lt;br /&gt;Alasan Gereja yang menerima baptisan anak adalah: perjanjian dan anugerah keselamatan Allah itu dikenakan juga kepada bayi dan anak orang percaya. Alasan Gereja yang menolak baptisan anak adalah: anak (apalagi bayi) belum dapat mengucapkan janji dan mengerti iman Kristen. Kedua pendapat, baik menerima maupun menolak, adalah sama-sama sah. Jadi muara dari pertentangan tersebut adalah tradisi gerejawi dari mana gereja tersebut berasal dan tradisi teologis siapa yang gereja tersebut ikuti.&lt;br /&gt;Janji dalam baptisan anak diucapkan oleh orangtua calon baptis. Di beberapa Gereja Protestan di Indonesia di bagian Indonesia timur, janji baptis juga diucapkan oleh sponsor. Sponsor ini kemudian menjadi orangtua rohani atau orangtua nasrani bagi si anak yang dibaptis; dikenal dengan &quot;mama ani&quot; dan &quot;papa ani&quot;.  Hubungan anak tersebut dengan orangtua nasrani adalah laksana orangtua angkat atau orangtua kedua dan hubungan tersebut berlangsung seumur hidup.&lt;br /&gt;Dalam baptisan anak, gereja menuliskan dalam formula baptisan akan tugas orangtua untuk mengajarkan dan membimbing si anak secara kristiani agar kelak ia dapat menyatakan imannya sendiri. Misal: “Hendaklah Saudara mendidik anak Saudara hingga mereka mengerti makna perjanjian Allah itu serta firman-Nya, dan pada waktunya mengaku iman percayanya sendiri sepenuh hati.”  Maksudnya, setelah si anak berusia 16 tahun, ia dapat mengaku iman sebagaimana kini orangtuanya melakukan pengakuan baptisan untuk si anak. “Saat ini, setelah mereka dewasa, mereka sendiri dengan pertolongan Roh Kudus, akan menyatakan pengakuan percaya mereka di hadapan Tuhan dan Jemaat-Nya.”  Pengucapan sendiri iman seseorang di dalam ibadah disertai dengan peneguhan sidi (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;confirmatio&lt;/span&gt;). Pendeta melakukan penumpangan tangan ke atas kepala calon sidi disertai formula: “Allah, sumber segala kasih karunia, melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan engkau.” &lt;br /&gt;Dengan sidi  - sejajar dengan sakramen krisma dalam Gereja Katolik – dan setelah melewati tahap kateksasi akan iman Kristen dan dogma gereja, seseorang boleh mengambil bagian dalam perjamuan kudus (ekaristi), terpilih sebagai atau memilih seseorang untuk dicalonkan menjadi Penatua (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Presbyteros&lt;/span&gt;) atau Diaken, dan menikah.  Jadi berdasarkan pembatasan usia minimal 16 tahun dan beberapa kepatutan seseorang, sidi dalam tradisi Protestan dipahami sebagai keanggotaan penuh seseorang ke dalam gereja dan sekaligus ritus akil balig. Dengan kata lain, sidi adalah pemantap, pengutuh, dan penyempurna (KBBI, sidi = sempurna, purnama sidi = bulan purnama penuh) baptisan seseorang.  Sekalipun formula dan ritus sidi tidak selengkap formula dan ritus baptisan, namun tanpa sidi seseorang belum dapat berperan penuh dalam Jemaat.&lt;br /&gt;Ritus sederhana yang memiliki makna dalam ini, sidi adalah inisiasi sesungguhnya setelah seseorang melewati inisiasi pertama, yakni baptisan anak. Hal ini juga dikuatkan dengan praktek Gereja Lama di mana baptisan dapat dilayankan oleh Imam atau bahkan awam, namun sidi tetap harus dilayankan oleh Uskup. &lt;br /&gt;Berbeda dengan baptisan dewasa, seseorang yang telah dibaptis anak belum dapat mengikuti perjamuan kudus, menikah, dan terpilih menjadi atau memiliki suara dalam memilih Penatua dan Diaken. Akan hal belum boleh ikut Perjamuan Kudus, rupanya Gereja-gereja Protestan tetap berpegang pada urutan wajar inisiasi, yaitu baptisan, sidi, dan perjamuan kudus, sebagai proses yang tidak dapat dilangkahi, walaupun tidak mutlak harus begitu.  Ritus inisiasi tersebut harus diselesaikan dahulu sebelum melangkah ke ritus berikut, yakni perjamuan kudus.&lt;br /&gt;Urutan inisiasi yang tak terlangkahi ini melampaui penulisan dalam Tata Laksana di beberapa Gereja Protestan, yakni dengan alasan anak belum dapat mengerti akan makna perjamuan kudus. Buktinya, orang idiot atau berpendidikan rendah yang tidak akan mampu mengerti akan makna perjamuan kudus tetap diperkenankan dan tidak dihalangi untuk menerima komuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Baptis dewasa dan perjamuan kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari jumlah yang menerima baptis dewasa, atau disebut baptis, semakin sedikit. Jumlah yang signifikan banyak untuk pembaptisan biasanya terjadi di Gereja-gereja yang menekankan pertambahan jumlah pengikut, semisal kelompok Seeker. Sementara bagi Gereja-gereja Protestan arus utama, yang merupakan gereja tradisional, baptisan anak atau baptisan bayilah yang banyak terjadi ketimbang baptis dewasa. Hal ini terjadi oleh karena: 1) pertambahan orang Kristen baru yang tidak lagi signifikan, 2) baptisan sekali seumur hidup, dan 3) mengakui dan menerima baptisan gereja lain. Bagi gereja-gereja yang mengabaikan poin kedua dan ketiga di atas, baptisan dewasa mencapai jumlah yang puluhan dan ratusan orang setiap bulan.&lt;br /&gt;Baptisan dewasa, yakni baptisan bagi orang Kristen baru, dianggap bernilai sejajar dengan baptisan anak plus sidi. Formula yang digunakannya pun adalah formula baptisan tanpa pertanyaan kepada orangtua atau wali baptis.&lt;br /&gt;Bagi calon baptis dewasa, baik baptisan dewasa maupun sidi, diwajibkan mengikuti katekisasi. Pokok-pokok iman Kristen, tradisi gereja, dan liturgi adalah materi-materi bagi calon baptis selama katekisasi 6-12 bulan. Dalam prakteknya, katekisasi menjadi prasyarat untuk otomatis pembaptisan atau sidi; katekisan pasti “lulus” – hal ini berbeda dengan praktek Reformator sendiri  – dan dapat dibaptis atau disidi setelah selesai katekisasi. Dalam kaitan sebagai ritus akil balig, katekisasi untuk sidi juga dilengkapi dengan pengajaran tentang pernikahan dan menjadi dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu soal dalam masalah baptisan di gereja-gereja dewasa ini adalah penyimpangan makna baptisan sebagai alat propaganda, yakni inisiasi sempit. Sikap beberapa denominasi yang tidak menerima cara baptisan denominasi lain sehubungan dengan kepindahan anggota gereja telah menyebabkan seseorang dibaptis dapat lebih daripada satu kali; padahal hal tersebut sangat ditabukan oleh dogma gereja. Perpindahan anggota gereja juga tidak lagi disertai perasaan lega dan rela, baik yang melepaskan maupun umat yang pindah. &lt;br /&gt;Menilik semakin lazimnya umat berpindah gereja, baik alasan menikah, pindah rumah, pilihan sendiri, atau bahkan sakit hati dengan gereja asal, maka sudah saatnya para pimpinan gereja menyadari akan semangat keesaan tubuh Kristus melalui satu baptisan (Efesus 4:3-6). Adakan dialog! Hal ini demi menciptakan iklim ekumenis, agar dunia percaya.  °</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2010/07/inisiasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-3302768503504673346</guid><pubDate>Tue, 01 Jun 2010 09:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-01T16:20:03.119+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgi zaman modern</category><title>PERAN MULTIMEDIA DALAM IBADAH</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak multimedia (LCD) yang dikenal oleh dan digunakan dalam ibadah-ibadah karismatis awal tahun 2000, beberapa Jemaat GKI mulai menggunakannya pula. Tiadanya catatan kritis terhadap hal tersebut,  ditambah dengan murahnya LCD di pasaran (sekalipun tetap mahal bagi Jemaat tidak mampu), dan faktor ikut-ikutan supaya tidak disebut tak-modern dan tidak internasional, menyebabkan banyak pendukungnya  dan pengikutnya, sehingga penggunaannya meluas dengan cepat di ibadah Jemaat-jemaat GKI.&lt;br /&gt;Masalahnya, selain ruang ibadah GKI tidak pernah disiapkan untuk LCD, gaya beribadah GKI pun tidak memerlukan LCD. Beberapa catatan kritis akan coba diuraikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;1. Penyalahgunaan multimedia dan dampaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal menjadi catatan penggunaan multimedia secara salah, yaitu: pencerdasan umat, keterbatasan cakupan layar LCD, dan hak cipta pengarang nyanyian jemaat.&lt;br /&gt;a. Multimedia atau sarana penunjang ibadah apa pun dimanfaatkan untuk memperlancar proses pembelajaran umat melalui ibadah. Tayangan LCD seringkali mencakup bukan hanya teks nyanyian (kadang-kadang tanpa notasi, tetapi yang jelas tanpa informasi penulis dan tahun pembuatan), tetapi juga informasi berdiri-duduk (kadang-kadang lengkap dengan icon atau gambar), nama-nama unsur liturgi, ayat-ayat Alkitab, unsur-unsur dalam urutan liturgi, dan bahkan teks lengkap Pengakuan Iman Rasuli. Tayangan maha lengkap terlihat serba siap, namun sebenarnya menghambat.&lt;br /&gt;Misal, kolekte sudah selesai dan nyanyian persembahan masih dinyanyikan, namun umat yang di-install secara robotis belum berdiri, karena instruksi berdiri belum ditayangkan di layar LCD yang hanya memuat satu tayangan gambar. Hambatan-hambatan ini belum terhitung dengan listrik yang tiba-tiba mati, kesalahan teknis baik menyangkut SDM maupun elektronis, dsb. Dengan demikian, mencapai umat yang cerdas dalam beribadah adalah muara liturgi.&lt;br /&gt;b. Di samping dampak plus-minus dari penggunaan multimedia, hal proses pendewasaan dan pencerdasan umat melalui dan di dalam ibadah juga perlu mendapat perhatian. Dampak minus bukan hanya pada keengganan membawa Alkitab dan dampak plus bukan melulu soal suasana baru. Hanya perlu dipertanyakan apakah memang penggunaan multimedia dalam ibadah merupakan kebutuhan dasar pembangunan jemaat.&lt;br /&gt;Layar LCD yang terbatas (biasanya hanya 1 bait) tersebut membatasi penglihatan umat sekaligus satu partitur nyanyian secara utuh. Di awal bernyanyi, setiap penyanyi perlu melihat partitur secara utuh. Hal tersebut berguna untuk mengantisipasi dan mempersiapkan cara dan variasi menyanyikannya. Keterbatasan penayangan jumlah bait tersebut menyebabkan umat selalu tergantung menunggu instruksi, jika (misalnya) hendak membuat alternatim menyanyi.&lt;br /&gt;c. Penggunaan yang salah menyebabkan luka bagi orang lain, terutama pencipta, penggubah, penerjemah nyanyian jemaat. Oleh karena semua nyanyian ditayangkan oleh LCD, Jemaat tidak memerlukan lagi buku-buku nyanyian. Padahal hak cipta (royalty) pemusik nyanyian jemaat diperoleh dengan cara penjualang buku nyanyian. Dengan penggunaan LCD secara salah, hak cipta mereka dicuri oleh GKI – bukan soal duit, melainkan keadilan dan masa depan nyanyian jemaat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;2. Penggunaan secara tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Multimedia akan terasa manfaatnya di ruang ibadah yang luas dan panjang (kapasitas minimal 800 orang?), di mana umat di bagian jauh belakang tidak dapat melihat pemandangan liturgis di depan. Dalam situasi dan kondisi semacam itulah ruang liturgi membutuhkan LCD untuk menayangkan pandangan (view) – bukan teks liturgis atau teks nyanyian! – di fokus liturgis. Bukan hanya menayangkan pengkhotbah, tetapi juga aksi Pendeta ketika memimpin perjamuan kudus dengan mempertunjukkan roti-anggur dan pemecehan, perlu bantuan LCD agar umat yang jauh di belakang dapat tetap merasakan keterlibatannya di dalam liturgi.&lt;br /&gt;Tentu, di ruang ibadah kecil, berkapasitas satu ruang hingga 600 orang (apalagi jika hanya 300 orang), pemakaian LCD justru malah mengganggu pemandangan tersebut. Selain itu, keterbatasan pewarnaan LCD dan ruang tangkap dibanding keaslian pandangan mata manusia membuat liturgi tidak sekhidmat aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana GKI mengenal multimedia? Tentu dari hadirnya alat tersebut dan digunakan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Namun penggunaan multimedia atau teknologi modern untuk keperluan ibadah berasal dari liturgi-liturgi Pantekostal. Mengherankan bahwa umat Pantekostal tetap membawa Alkitab  untuk beribadah, karena penyelenggara ibadah Pantekosta tahu bagaimana menggunakan LCD secara tepat guna, yaitu tidak menayangkan teks Alkitab, instruksi duduk-berdiri, Pengakuan Iman Rasuli, kecuali teks nyanyian.&lt;br /&gt;Sementara teks nyanyian GKI sangat berbeda dengan teks nyanyian Pantekostal. Teks hymne dengan sejumlah bait ditambah moto “bernyanyi ... juga dengan akal budi” , memang tidak memadai menggunakan LCD.&lt;br /&gt;Merayakan liturgi dewasa ini tidak lagi menekankan instruksi baik verbal maupun tertulis, maka sebaiknya pun multi media tidak justru menekankannya dengan terlalu detail menayangkan instruksi. Dengan demikian LCD bukan alat utama peribadahan.  °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) makalah ini adalah untuk Bina Aktivis GKI Serpong, Sabtu 8 Mei 2010</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2010/06/peran-multimedia-dalam-ibadah.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-4357870187248478082</guid><pubDate>Wed, 03 Feb 2010 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-04T17:31:59.293+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tahun liturgi</category><title>MASA RAYA PASKA DAN PERAYAAN-PERAYAANNYA</title><description>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paska telah dekat. Gereja-gereja agak sibuk mempersiapkan diri. Masyarakat di Rio de Jeneiro, seperti tahun-tahun lalu, ada karnaval. Di Prancis ada &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;le Mardi Gras&lt;/span&gt; dan di Italia ada &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;il Martedi Grasso&lt;/span&gt;. Semua nama tersebut (berarti Selasa daging) adalah pesta rakyat menyambut musim semi dan Paska; tanda Paska tinggal kurang beberapa hari lagi. Namun mempersiapkan Paska tidak sesibuk mempersiapkan Natal. Berbeda dengan Natal 24-25 Desember yang hanya dirayakan oleh sebagian umat Kristen di seluruh dunia, Paska dirayakan oleh semua umat Kristen di seluruh dunia. Bahkan umat non-Kristen pun merayakan Paska lebih dahulu daripada orang Kristen. Umat Yahudi telah merayakan Paska sejak sebelum Masehi. Dari Paska Yahudi, gereja mewarisi perayaan Paska tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;KALENDER MASA RAYA PASKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Natal 24-25 Desember yang dirayakan oleh sebagian umat Kristen di seluruh dunia pada tanggal yang sama, Paska dirayakan oleh semua umat Kristen di seluruh dunia dengan tanggal yang berbeda.&lt;br /&gt;Masa Raya Paska dimulai pada Rabu Abu. Tahun 2010 ini Rabu Abu jatuh pada 17 Februari. Walaupun beberapa Gereja sudah memulai Prapaska pada tanggal 14 Februari, umumnya 14 Februari ini masih disebut Minggu Transfigurasi (Yesus dimuliakan bersama Musa dan Elia). Hari Selasa sebelum Rabu Abu – bagi beberapa kebudayaan - adalah karnaval (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;carni &lt;/span&gt;= daging; &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;vale &lt;/span&gt;= selamat tinggal; &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;carnivale &lt;/span&gt;= pesta perpisahan makan daging, sebab orang berpuasa makan daging selama Prapaska).&lt;br /&gt;Hari Rabu itu (kemudian menjadi Rabu Abu) adalah 40 hari sebelum Paska; hari-hari Minggu tidak dihitung. Angka 40 menjadi simbolik bagi Gereja sebagai masa persiapan dan ujian. Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya. Gereja juga berpuasa pada waktu itu. Oleh karena itu, memulai masa Prapaska pada Rabu Abu atau memulai Minggu Prapaska setelah Rabu Abu adalah lebih tepat ketimbang sebelumnya. Konsekuensinya, jumlah Minggu Prapaska menjadi (hanya) 6 hari Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang istimewa dalam &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Rabu Abu&lt;/span&gt; adalah memoleskan abu di dahi. Abunya berasal dari daun-daun kering yang telah dibakar. Abu ini kemudian distempelkan di dahi umat  atau memoleskannya sendiri pada sebelum liturgi persembahan atau sambil berjalan keluar ketika ibadah selesai.&lt;br /&gt;Setelah itu, gereja memasuki &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Minggu-minggu Prapaska&lt;/span&gt; I hingga Minggu Prapaska V.  Ini berhubungan dengan musim semi (=lenten) di Eropa. Yang istimewa adalah hiasan bunga-bunga tanda dimulainya musim semi, warna hijau, ungu, dan sedikit merah, boleh menghiasai ruang liturgi, dari jumlah yang sedikit dan biasa-biasa, kemudian meningkat setiap hari Minggu Prapaska hingga Paska.&lt;br /&gt;Khusus Minggu Prapaska VI, disebut pula &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Minggu Palem dan Sengsara&lt;/span&gt;. Hari itu  istimewa, dirayakan dengan prosesi daun palem di awal ibadah dan pembacaan kisah sengsara menurut Injil Sinoptik.&lt;br /&gt;Minggu Palem dan Sengsara adalah pembuka &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pekan Suci&lt;/span&gt;, yakni pekan terakhir Prapaska, di mana di dalamnya dilakukan berbagai peringatan dan prosesi sengsara, kematian, dan kebangkitan Kristus. Dalam pekan suci ada &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kamis Putih&lt;/span&gt;, di mana dilakukan ritus istimewa: saling mencuci kaki (dan perjamuan kudus). Hari ini gereja diingatkan kembali akan perintah yang baru (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;mandatum novum&lt;/span&gt;) dari Yesus supaya saling mengasihi dan tuan menjadi hamba yang mencuci kaki (Yoh 13).&lt;br /&gt;Menjelang puncak dalam masa raya Paska adalah &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Jumat Agung&lt;/span&gt;, yakni ketika “mempelai pria diambil dari antara mereka, pada waktu itu mereka berpuasa” (bnd Mat 9:14-15; Mrk 2:18-20;Luk 5:33-35). Adalah lebih elok jika pada waktu “berpuasa” ini gereja tidak merayakan perjamuan kudus. Yang istimewa: pembacaan kisah sengsara menurut Yohanes 18-19 dan prosesi salib.&lt;br /&gt;Sebagaimana Injil Lukas mempersaksikan, liturgi hari &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Minggu Paska&lt;/span&gt; pagi sedikit berbeda dengan malam. Pada pagi hari, Yesus baru bangkit. Namun kebaktian petang diisi dengan tema Yesus menampakkan diri dalam perjalanan ke Emaus. Yang istimewa: ritus cahaya (ibadah fajar), baptisan (jika ada), dan perjamuan kudus. Setelah berpuasa, kini gereja merayakan kemenangan iman dengan perayaan perjamuan.&lt;br /&gt;Hari Minggu-minggu berikut disebut &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Minggu-minggu Paska&lt;/span&gt; II - VII, bukan Minggu-minggu setelah Paska. Pemahamannya: Paska baru dimulai pada hari Minggu Paska ini dan berlangsung selama 50 hari hingga &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pentakosta&lt;/span&gt;. Suasana kebangkitan dapat digunakan dalam liturgi, misalnya umat berdiri pada setiap kali berdoa.&lt;br /&gt;Di tengah Minggu-minggu Paska, ada hari raya &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Yesus Naik ke Sorga&lt;/span&gt;. Tidak ada ritus istimewa pada hari ini, namun tetap dimungkinkan untuk merayakan perjamuan. Setelah hari itu adalah &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;pekan doa novena&lt;/span&gt; (nove = sembilan; nocta = malam; novena = sembilan malam). Kitab Kisah Para Rasul (1:14) mempersaksikan bahwa para Rasul berdoa bersama setelah Yesus naik ke Sorga. Selama sembilan malam pula, gereja berdoa hingga Pentakosta. Ibadah doa di sini lebih bercorak ibadah harian. Tahun 2010 ini, novena jatuh pada tanggal 14 – 22 Mei.&lt;br /&gt;Jika Paska adalah puncak masa raya, maka hari raya Pentakosta (50 hari setelah Paska) adalah mahkota masa raya Paska. Sangat dimungkinkan apabila ada diistimewakan dengan peneguhan sidi dan perjamuan kudus. Ruang gereja pun dapat dihiasi dengan hasil panen, hasil bumi, untuk mengiringi persembahan syukur tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengikuti dan memahami tahun liturgi, kita dapat menghayati perziarahan batin dalam kisah Kristus dua ribu tahun lalu. Pengajaran, pesan, berita, dan pengharapan terangkai dalam prosesi tersebut. Bahwasanya karya penyelamatan Allah dialami secara unik pada setiap hari raya.  ˚&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Makalah disampaikan dalam Bina Liturgi di Klasis Jakarta Barat yang dilangsungkan di GKI Kedoya pada Sabtu, 30 Januari 2010 pukul 09.00 - 11.20.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2010/02/masa-raya-paska-dan-perayaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-2080176304192642681</guid><pubDate>Mon, 07 Dec 2009 11:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-07T18:51:27.629+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tradisi</category><title>DAILY OFFICE</title><description>By: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daily office, namely several times prayer per-day, is a common activity in several cultural and religion. Not only in Islam, that we have known so far and we call &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;sholat&lt;/span&gt;, but also in Buddhism and Hinduism has been practicing daily prayer for centuries ago. Actually, daily prayer has been known in Christianity, and has been informed by some writers of the Holy Scripture as well.&lt;br /&gt;Both Old Testament and New Testament inform their readers about those activities. Daniel prayed three times a day at upper room of his place with his face toward Jerusalem. Psalters told us about a morning prayer, a mid-day prayer, en evening prayer, a mid-night prayer, and even whole night long prayer, etc. The Act told us that Peter has come to the Temple to daily prayer at third hour, sixth hour, and ninth hour. At least, there are three until five times prayer a day that be held by people.&lt;br /&gt;In the beginning of Christianity and in the Patristic era, some Church Fathers gave a teaching of daily prayer or divine office. Hippolytus of Rome at the third century, for example, announced that seven times is a Christian daily office. According to the Psalm 119:164 (RSV) “Seven times a day I praise thee for thy righteous ordinances.” He taught his disciples and assembly to pray at sunrise, third hour, sixth hour, ninth hour, before sunset, before sleep or mid-night, and finally at cock crow. According to the Gospel of Mark, Hippolytus taught the Christians: people pray at sunrise to praise the Lord and for preparing to work on that day. Prayer at third hour (around nine am) or &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;tertia&lt;/span&gt;, because remembrance of the Lord who was punished by Pilate. Prayer at sixth hour (around twelve)or &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;sexta &lt;/span&gt;is remembrance that the Lord was hung on the cross. Prayer at ninth hour (around three pm) or &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;nona &lt;/span&gt;is remembrance the dead of the Lord. Prayer at sunset is remembrance to the body of the Lord was peacefully buried. Prayer before sleep, because the Christians are the children of light, so they have to watch during night. Finally is prayer at the cock crows is remembrance to the Peter that denied his Teacher. Those prayers are totally seven times a day.&lt;br /&gt;Not only in the past, but also in modern era now, daily office is a routine activity in common monasteries. Some monasteries such as Trappist and Benedictine throughout the world are fully practicing divine office. Besides manual work such cooking and gardening, and intellectual task such as reading and writing, monks ordinarily pray several times a day in chapel.  ˚</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2009/12/daily-office.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-3432505657976995377</guid><pubDate>Fri, 23 Oct 2009 15:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-23T22:29:16.953+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>KEBAKTIAN DI HARI BUKAN-MINGGU</title><description>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kebaktian Minggu yang diselenggarakan pada Sabtu setelah pukul 18.00 (matahari terbenam) dapat dipahami dengan cara &quot;menyambut perayaan besar&quot;. Hari Minggu dipahami dan dihayati sebagai hari kebangkitan Kristus. oleh karenanya, hari Minggu dinilai sebagai perayaan besar dalam tradisi gereja.&lt;br /&gt;Dalam sejarah, hari raya pertama yang dirayakan oleh umat Kristen adalah Minggu (atau hari pertama). Setiap pekan di hari pertama, umat berkumpul untuk mengenangkan kebangkitan Kristus, yang dilaksanakan dengan memecahkan roti, (dan sesekali) mendengarkan pengajaran rasul.&lt;br /&gt;Sebagian besar orang Kristen awal adalah orang Yahudi. Mereka menyerap banyak sekali kebiasaan ibadah Yahudi, termasuk Sabat. Orang Yahudi merayakan Sabat secara komunal (berjemaah) pada menjelang penutupan Sabat, yakni Sabtu menjelang sore (sekitar pukul 15.00 atau 16.00). Orang2 Kristen ini ikut Sabat dahulu. Seselesainya merayakan Sabat Yahudi, orang2 Yahudi pulang ke rumah, sementara orang2 Kristen meneruskan pertemuan mereka di rumah salah seorang dari mereka atau (kemudian) di tempat2 besar yang telah ditentukan. Artinya, pertemuan Kristen tsb. berlangsung pada Sabtu malam, atau sudah termasuk hari Ehad, hari Kristus bangkit. Surat2 di PB menginformasikan hal tsb, semisal para hamba yang terlambat tiba di tempat pertemuan karena harus bekerja dahulu, atau kasus Eutikus yang tertidur ketika mendengarkan khotbah rasul yang bikin ngantuk, dsb. &lt;br /&gt;Imbas ibadah malam ini juga terasa hingga kini dengan penyebutan perjamuan malam (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;avondmaal&lt;/span&gt;) alih2 perjamuan kudus atau ekaristi. Hal tersebut diletarbelangi memang perjamuan Kristus diadakan pada Sabtu malam.&lt;br /&gt;Walaupun kebiasaan jemaat awal merayakan hari Ehad pada Sabtu malam itu berdasarkan alasan praktis, yakni seselesainya dari perayaaan komunal Sabat Yahudi, atau di luar waktu bekerja karena sebagian besar orang Kristen awal adalah hamba atau pekerja, masyarakat terbiasa juga menyambut sebuah perayaan pada malam sebelumnya. Terutama kebiasaan Kristen, para rahib padang pasir di Mesir berdisiplin doa se-malam2an dengan memandang ke arah timur, sepanjang Sabtu malam hingga Minggu fajar. Beberapa rahib bahkan melakukannya dengan berdiri dan dengan tangan teracung, melambangkan keikutsertaannya di dalam kebangkitan Kristus. Gereja Roma hingga kini merayakan Natal mulai 24 Desember, Paska pada Sabtu setelah petang, dan (dahulu) Pentakosta juga pada Sabtu malam. Gereja Ortodoks juga merayakan Epifania pada 5 Desember (malam). Lantas, beberapa hari raya besar juga dilaksanakan sejak satu malam sebelumnya. Semisal, All Saints&#39; Day (Peringatan Semua Orang Kudus) 1 November dirayakan satu malam sebelumnya. Beginilah kemudian kita memahami bagaimana Martin Luther berkesempatan mengajukan dalil2 protesnya di pintu Gereja Wittenberg pada 1517 itu.&lt;br /&gt;Masyarakat umum pun terbiasa menyambut dan merayakan peristiwa peringatan besar pada satu malam sebelumnya. Maka kita mengenal Malam Takbiran, 31 Desember, dan 16 Agustus-an, dsb.&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada Jemaat di kota-kota besar yang merayakan hari Minggu pada Sabtu setelah petang, kita dapat memahaminya dengan kacamata tsb.; yang bukan karena ikut2an Yahudi atau Katolik, namun karena kelazimannya. Yang kemudian perlu dijernihkan - menurut hemat saya - adalah perihal alasan2nya. Kalau demi alasan bahwa Minggu adalah waktu orang jalan2 ke Puncak atau ke Kaliurang, sehingga Minggu sepi lantas memilih Sabtu, alasan ini tentu menyedihkan. Namun, dalam rangka mencari alternatif waktu lain di luar Minggu karena kehadiran umat mem-bludak sekalipun telah dibuat 4-5 kali ibadah, kemudian dibuatlah ibadah Sabtu malam sebagai alternatif, maka alasan ini lebih berterima.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2009/10/kebaktian-di-hari-bukan-minggu.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-4894654847797511710</guid><pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-23T15:37:46.735+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perjamuan kudus</category><title>PERJAMUAN KUDUS</title><description>DALAM PRAKTEK GEREJA-GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA DEWASA INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dalam tradisi gereja, perjamuan kudus merupakan perayaan tetap; ia menjadi salah satu ritus gereja. Tradisi ini sudah berlangsung sejak awal sejarah gereja 2000 tahun yang lalu. Usia perjamuan kudus kira-kira sama dengan usia gereja ekumenis, yakni sejak terbentuknya jemaat mula-mula di zaman para Rasul di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:41-47 dan 4:32-35 mempersaksikan bahwa jemaat awal selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Setiap kali berkumpul, mereka merayakan perjamuan kudus. Setiap hari berkumpul, setiap hari itu pula mereka merayakan perjamuan kudus (Kis 2:46) yang dilakukan bersama dengan pengajaran dan doa. Tradisi ini tetap diberlakukan oleh penerus jemaat awal di segala tempat hingga saat ini.&lt;br /&gt;Penerusan tradisi ini dilakukan oleh gereja dengan mempertahankan banyak unsur di dalamnya. Materi-materi perjamuan seperti roti dan anggur berikut cawan, piring, dan altar; tempat perjamuan dalam urutan tata liturgi, yakni setelah pengajaran; frekuensi merayakannya, yakni setiap kali berkumpul atau setiap hari Minggu; maupun formula perjamuan sebagai persembahan dan pengucapan syukur akan karya Allah. Namun dalam sejarah 2000 tahun ini, terjadi beberapa penyimpangan praktek dan pemahaman, sehingga perjamuan kudus menjadi seperti praktek di Gereja-gereja Protestan di Indonesia dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIMPANGAN HISTORIS DALAM HAL MATERI DAN FREKUESI&lt;br /&gt;Sekali atau dua kali di dalam sejarah memang pernah terjadi keganjilan atau penyimpangan. Semisal keganjilan menyangkut roti dan anggur. Sejarah pernah mencatat, pada pertengahan Abad-abad Pertengahan umat tidak menerima anggur, tetapi hanya roti. Namun hal ini telah dikoreksi oleh Martin Luther pada abad ke-16. Atau di beberapa tempat di pelosok di tanah air, di mana roti dan anggur sulit didapat atau mahal, maka digunakanlah materi lain, semisal singkong atau ketan, dan air teh biasa. Keganjilan terakhir ini adalah keganjilan yang disebabkan oleh keadaan yang tidak mendukung – tentu dapat dimengerti.&lt;br /&gt;Keganjilan lain adalah mengenai frekuensi penyelenggaraan perjamuan – dari setiap hari Minggu menjadi 2-4 kali setahun. Namun hal tersebut lebih disebabkan oleh kekurangan imam untuk memimpin perjamuan kudus. Hal kurangnya imam atau Pendeta ini kerap terjadi ketika pertambahan umat dalam waktu singkat mendadak tinggi sementara jumlah imam atau Pendeta yang ada tidak mencukupi. Akibatnya, imam hanya mampu berkunjung ke suatu wilayah dan merayakan perjamuan kudus 1-2 kali setahun.&lt;br /&gt;Hal kekurangan imam yang menyebabkan berkurangnya frekuensi merayakan perjamuan ini pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah gereja. Yaitu: pada awal Abad-abad Pertengahan ketika Gereja Roma berekspansi keluar wilayah Romawi, awal kedua kekristenan di Indonesia pada akhir abad ke-19, setelah berakhirnya Perang Dunia II, kebangunan rohani di Jawa oleh John Sung dan Dzao Tse Kwang sekitar 1940-an, dan peristiwa kelam Indonesia sekitar akhir dasawarsa 1960-an. Pelayanan pembaptisan masih dimungkinkan dilakukan oleh Penatua (Toantosu dan Tjipsu) sebagaimana pernah diberlakukan oleh GKI Jawa Barat pada 1950-an, namun perjamuan kudus hanya oleh Pendeta (Boksu). Dewasa ini, situasi kekurangan Pendeta atau imam tidak lagi dialami oleh Jemaat-jemaat di kota-kota besar, sekalipun masih dialami di pelosok-pelosok tanah air. Namun ironisnya, frekuensi merayakan perjamuan kudus hanya 2-4 kali setahu masih saja tetap diberlakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAYANAN FIRMAN DAN PERJAMUAN&lt;br /&gt;Polemik yang tidak pernah didiskusikan adalah tentang formula liturgi atau kekeliruan memahami makna teologis persembahan. Hal ini menyangkut juga soal urutan perjamuan kudus, yakni sebelum atau setelah kolekte (pengumpulan persembahan). Beberapa pihak di GKI sendiri hanya melontarkan polemik ini, namun tanpa berkehendak baik – kecuali demi wacana semata – untuk mendikusikannya secara terbuka di forum ilmiah semacam seminar atau jurnal teologi.&lt;br /&gt;Hal urutan perjamuan ini menyangkut pemahaman tentang perjamuan kudus sebagai pengucapan syukur (Yunani: eucharistia). Dua unsur utama dalam ibadah, terutama ibadah hari Minggu, adalah Pelayanan Firman dan perjamuan kudus. Perjamuan kudus sendiri lebih dipahami sebagai pengenangan peristiwa Kristus, yakni mengenangkan kematian dan kebangkitan-Nya. Tidak ada alasan lain umat berkumpul pada hari pertama setiap pekan jika tidak untuk mengenangkan (anamnesis) Kristus. Perjamuan dihayati sebagai sarana yang membuat alasan umat berkumpul tersebut menjadi mungkin. Penampilan roti dan anggur dalam liturgi secara kasat mata menyimbolkan persembahan tubuh dan darah Kristus, sebagaimana diformulakan dalam liturgi dan diucapkan oleh imam.&lt;br /&gt;Urutan dalam liturgi adalah Pelayanan Firman lebih dahulu, yakni pembacaan Alkitab dan pengajaran, kemudian pelayanan meja atau perjamuan. Urutan ini menginformasikan kebiasaan gereja awal dalam menyelenggarakan pertemuan setelah mereka beribadah Sabat bersama orang Yahudi di Sinagoge atau di Bait Allah. Ibadah Sabat umat Yahudi di Sinagoge disebut sinaksis (synaxis), yang diselenggarakan pada menjelang penutupan Sabat, yakni Sabtu sore. Orang Kristen awal juga merayakan Sabat, sebagaimana tradisi Yahudi, bersama orang Yahudi di Sinagoge atau Bait Allah.&lt;br /&gt;Ibadah Sabat berakhir sekitar terbenamnya matahari, yang dalam tradisi Yahudi sebetulnya sudah masuk hari Ehad (hari pertama) atau hari Minggu. Selesai beribadah Sabat, orang Kristen melanjutkan pertemuan di rumah salah seorang dari mereka – itu adalah hari Minggu. Tujuan pertemuan atau perkumpulan Kristen tersebut adalah untuk mengenangkan Kristus (bnd 1Kor 11:17-34). Di dalam pertemuan lanjutan itulah – kadang-kadang ada pula pembacaan dan pengajaran dari rasul, dan biasanya berlangsung hingga larut (bnd Kis 20:7-12) – diadakan perjamuan.&lt;br /&gt;Hal ini menjadi informasi awal tentang ibadah hari Minggu dengan perjamuan. Oleh karena perjamuan diadakan pada malam hari, maka istilah perjamuan malam juga agak lazim digunakan hingga abad ke-20. J.L. Ch. Abineno menggunakan istilah perjamuan malam yang merupakan terjemahan dari Gereja Belanda (avondmaal). Namun banyak gereja lebih menggunakan istilah perjamuan kudus, perjamuan Tuhan, perjamuan suci, atau ekaristi.&lt;br /&gt;Praktek gereja awal hingga zaman Patristik adalah sebagai berikut. Setelah Pelayanan Firman, perjamuan dimulai dengan mengumpulkan roti dan anggur. Umat menyerahkan dan meletakkan roti dan anggur tersebut di altar (altare = meja perjamuan). Kemudian imam menaikkan doa syukur, memecahkan roti dan mengadakan komuni bersama umat. Unsur kedua inilah, berdasarkan Justinus abad ke-2, kemudian bermakna juga sebagai ucapan syukur atas pemberian Tuhan atau kurban Kristus. Gereja zaman Patristik juga lazim membagikan pemberian umat ini kepada janda-janda miskin, yatim piatu, dan orang-orang miskin. Di sini terlihat aspek diakonia dari perjamuan, selain aspek koinonia, yakni roti untuk orang-orang miskin. Roti dan anggur yang dikumpulkan umat itu, dimakan bersama, kemudian dibagikan kepada orang-orang miskin.&lt;br /&gt;Pertanyaan: di manakah atau kapankah dilakukan pengumpulan persembahan atau kolekte sebagaimana kebiasaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMAHAMAN PERJAMUAN SEBAGAI PERSEMBAHAN&lt;br /&gt;Naskah-naskah Patristik dan gereja kuno menginformasikan akan pengumpulan roti dan anggur campur air setelah Pelayanan Firman. Pengumpulan roti dan anggur oleh umat tersebut diserahkan kepada imam di altar, dan diakon mempersiapkan altar untuk perayaan perjamuan. Bagian ini, dalam terminologi liturgi disebut persiapan, namun oleh Gereja-gereja yang tidak merayakan perjamuan kudus setiap hari Minggu disebut persembahan. Sebagai persiapan perjamuan kudus, tempat kolekte atau pengumpulan persembahan itu sewajarnya memang pada sebelum komuni.&lt;br /&gt;Sebagai persembahan, yakni pengumpulan uang atau kolekte sebagaimana baru dimulai sejak abad ke-11 dalam sejarah gereja, bagian ini masih rancu. Para reformator gereja abad ke-15 dan ke-16, termasuk Johannes Calvin, tidak menempatkan bagian kolekte yang justru sangat “mutlak” ada dalam kebiasaan liturgi Gereja-gereja Protestan ini secara tetap. Kadang-kadang, kolekte dilakukan setelah komuni, kadang-kadang sebelum komuni, kadang-kadang bahkan di luar perayaan ibadah. Namanya pun tidak seragam di masing-masing gereja. Ada yang menyebutnya persembahan, ada yang kolekte, persembahan syukur, kadang-kadang bahkan persembahan sulung (dalam arti persembahan mempelai, bukan Kristus), kurban persembahan, dsb. Ketidaktetapan ini didasari oleh tidak berdasarnya teologi tentang kolekte di dalam liturgi secara mantap.&lt;br /&gt;Ketidakberdasarnya secara mantap teologi tentang kolekte ini masih sangat terlihat hingga detik ini, terutama di Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Buktinya, sebelum kolekte, semua Jemaat mendasarkan kolektenya pada saat itu dengan ayat atau perikop Alkitab yang beragam dan tidak ada pegangannya. Pemimpin kolekte membacakan ayat atau perikop yang saling berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain – ini terjadi di satu Jemaat yang sama! Ada yang mendasarkannya pada “siapa mengumpulkan banyak akan mendapat banyak”, ada pada “panen hari raya orang Yahudi”, pada “persembahan yang sejati ala-Paulus”, “persembahan yang benar ala-pemazmur”, atau “ucapan syukur karena karunia”, dsb. Keberagaman ayat atau nas ini cukup membuktikan bahwa pegangan teologis terhadap kolekte tidak jelas, namun dipahami bahwa kolekte sendiri adalah hal yang cukup vital dalam kehidupan bergereja. Sehingga, sekalipun kolekte acapkali dianggap unsur liturgi yang mutlak harus ada, pegangan teologis atasnya masih rancu.&lt;br /&gt;Kerancuan ini disadari oleh Calvin, sehingga ia tidak menetapkan kapan kolekte dilakukan dalam urutan liturgi. Namun kerancuan tidak terlalu disadari oleh penyelenggara ibadah dewasa ini, sehingga ia dianggap puncak persembahan – padahal masih berupa persiapan perjamuan.&lt;br /&gt;Hal ini tidak akan terjadi demikian jika kolekte dipahami sebagai persiapan perjamuan kudus dan perjamuan (setidak-tidaknya) seringkali diadakan di Jemaat. Johannes Calvin menginginkan agar perjamuan dirayakan sesering mungkin di Jemaat-jemaat, setidaknya seminggu sekali. Perjamuan adalah unsur yang juga utama dalam liturgi, selain Pelayanan Firman. Dikatakannya bahwa ibadah tanpa perjamuan adalah ibadah yang belum lengkap (ante-communio = sebelum komuni). Dengan demikian menjadi jelas ditampilkan dalam liturgi, kaitan kolekte umat dengan perjamuan, kaitan perjamuan dengan pelayanan gereja, dan kaitan pelayanan gereja dengan karya gereja di dunia sebagaimana telah diuraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAKTEK PERJAMUAN DI JEMAAT-JEMAAT GEREJA KRISTEN INDONESIA&lt;br /&gt;Sebagaimana praktek perjamuan kudus di sebagian besar Jemaat Gereja-gereja Protestan di Indonesia, perjamuan di GKI juga demikian. Jemaat-jemaat merayakannya hanya empat kali setahun. Hal ini mengacu pada Tata Laksana GKI pasal 26:1 bahwa “Perjamuan kudus harus dirayakan di Jemaat sekurang-kurangnya empat kali dalam setahun.” Namun tidak semua Jemaat GKI menyelenggarakan perjamuan kudus tepat dengan jumlah empat kali setahun, tidak sedikit yang lebih.&lt;br /&gt;Sejak delapan tahunan yang lalu, dan jumlahnya semakin hari semakin bertambah Jemaat-jemaat yang merayakan perjamuan kudus lebih daripada empat kali. Ada Jemaat yang menyelenggarakannya lima kali, enam, tujuh, delapan, atau sepuluh kali setahun. Jemaat-jemaat GKI Sinode Wilayah Jawa Barat Klasis Priangan sudah sejak puluhan tahun lalu merayakan perjamuan kudus juga setiap awal bulan. Jadi, perayaan perjamuan lebih daripada empat kali sebenarnya cukup lazim di GKI sejak lama.&lt;br /&gt;Tahun 2008 yang lalu, Jemaat Surya Utama merayakan lima kali perjamuan, yakni dalam rangka ulang tahun akhir Oktober. Itu bukan karena perayaan HUT 25 tahun, melainkan karena ungkapan syukur (eucharistia = pengucapan syukur) akan penyertaan Tuhan. Tahun 2009 ini, kita juga masih hanya merayakan perjamuan kudus kelima itu pada hari Minggu terdekat dengan HUT Jemaat. Semoga suatu saat nanti, perjamuan kudus dapat dirayakan lebih sering, terutama pada setiap hari raya, di Jemaat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Ada dua hal yang membuka cakrawala praktika teologis kita tentang frekuensi  perayaan perjamuan kudus, yaitu ajaran Calvin dan Tata Laksana kita sendiri. Calvin mengecam praktek empat kali setahun perayaan perjamuan di Jenewa – pada Natal, Paska, Pentakosta, dan awal September – namun ia membuat dirinya tidak berdaya karena desakan Dewan Kota Jenewa waktu itu. Ia berkompromi dengan frekeunsi empat kali tersebut, namun untuk sementara waktu. Hingga Calvin mangkat dan hingga kini, kebanyakan Gereja-gereja Protestan di Indonesia lupa meneruskan perjuangan Calvin tersebut dengan tetap hanya empat kali setahun.&lt;br /&gt;Jumlah empat kali adalah frekuensi yang kurang bagi kita sendiri, dan dikecam oleh Calvin. J.L. Ch. Abineno, mengutip Calvin, menuliskan: “penyelewengan dari kebiasaan Gereja Purba untuk hanya empat kali saja merayakan Perjamuan Malam dalam setahun, adalah penemuan dari si Iblis, yang harus kita perbaiki.” Dalam ungkapan lebih santun, saya mengatakan bahwa makna perjamuan kudus akan terasa lebih mendalam apabila kita merayakannya lebih sering, sesering kita berkumpul.&lt;br /&gt;Perkembangan ilmu teologi sekarang telah membantu para penyelenggara ibadah untuk lebih memahami kekeliruan historis tersebut secara ilmiah, namun pembaruan pola pikir penyelenggara adalah unsur terpenting di dalam membuat perubahan demi pembaruan liturgi. °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) materi ini dimuat dalam cover warta jemaat di GKI Surya Utama pada 6, 13, 20, 27 September 2009.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2009/09/perjamuan-kudus.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-8425934628943587881</guid><pubDate>Mon, 23 Feb 2009 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-23T10:35:49.949+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">leksionari</category><title>LEKSIONARI</title><description>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;A. LATAR BELAKANG PENGGUNAAN LEKSIONARI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. 1) Dari tradisi ekumenis Yahudi dan Kristen&lt;br /&gt;Leksionari atau daftar pembacaan Alkitab telah lazim digunakan dalam ibadah Yahudi di sinagoge. Yang dibacakan pertama adalah Taurat sebagai bacaan termulia karena diyakini sebagai warisan Musa, lalu Mazmur-mazmur, dan satu atau beberapa kitab para Nabi. Kadang-kadang dibacakan pula kitab-kitab lain. Beberapa Gereja wilayah, terutama orang Kristen Yahudi, mengadopsi tradisi Yahudi ini dengan membuat kesejajaran kronologi kitab menurut pemahaman Gereja. Hal mengadopsi tata cara Yahudi telah diduga oleh beberapa kalangan. Mereka melihat bahwa Injil-injil disusun sedemikian rupa dalam beberapa bagian sehingga habis dibacakan sepanjang tahun liturgi mingguan (hari Sabat, misalnya) dan beberapa masa raya. Tak berlebihan apabila dikatakan bahwa Injil disusun dalam bayang-bayang tradisi Yahudi. Semisal kasus dalam Markus. Markus terbagi dalam empat puluh delapan bagian, yakni untuk empat Sabat per bulan. Atau Markus dalam &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Codex Vaticanus&lt;/span&gt; membaginya dalam enam puluh dua bagian, yaitu empat Sabat dalam sebulan dan empat belas bacaan untuk masa raya Paska. &lt;br /&gt;Selain adopsi, Gereja melakukan adaptasi pula. Pembacaan pertama adalah Perjanjian Lama, karena ini berasal langsung dari cara sinagoge.  Pembacaan kedua adalah Surat-surat Rasuli atau Kisah Para Rasul, sebagaimana lazim dibacakan sejak zaman gereja awal, namun belum secara teratur dibacakan. Naskah-naskah para Rasul dan tulisan para Nabi dibacakan selama waktu mengizinkan.  Pembacaan ketiga adalah Injil, yang secara berangsur-angsur mulai dibacakan sejak abad ke-2. Semula, pembacaan Injil hanya dilakukan pada Paska dan Pentakosta, kemudian semakin sering digunakan.  Mazmur dibacakan atau didaraskan di antara pembacaan Perjanjian Lama dan Injil,  sehingga disebut juga Mazmur Antar Pembacaan yang fungsinya sebagai penunjang Injil.  Pembacaan Injil menempatkan urutan kedua terpenting setelah pola tiga-tahun siklus pembacaan Alkitab. &lt;br /&gt;Sekalipun dibacakan terakhir dan secara kronologis terakhir masuk dalam liturgi, namun kemudian Injil merupakan bacaan termulia bagi Gereja. Pembacaan-pembacaan sebelumnya disusun sedemikian rupa hingga menopang, memperkuat, memperlengkapi, bahkan tergantung pada Injil yang dibacakan.  Pola pembacaan tiga kelompok kitab ini telah menjadi tetap sejak sebelum Konsili Nicea (325) dan dikenal luas secara oikumenis. Memang penggunaannya tidak selalu seragam, namun hingga abad ke-4 itu, tiga pembacaan: Perjanjian Lama, Surat Rasuli, dan Injil, adalah susunan yang lazim dibacakan. Ada kalanya, naskah Pastristik, surat kaum Martir, atau kitab-kitab akanonik dibacakan pula, namun hanya terjadi di beberapa tempat dan jarang.  Hal membacakan kitab-kitab akanonik berlangsung hingga abad ke-7, bahkan sekali-sekali masih ada hingga zaman kini pada peritiswa tertentu.&lt;br /&gt;Pada abad ke-5, Gereja Konstantinopel mulai mengurangi jumlah pembacaan dari tiga menjadi dua, dengan tidak membacakan Perjanjian Lama. Lambat laun, sejak abad ke-6 Gereja Roma mengikuti cara ini, namun tidak segera dilaksanakan di seluruh wilayah keuskupan dan di sepanjang tahun liturgi. Bahkan hingga abad ke-7, Roma tidak pernah secara penuh “menghapus” pembacaan Perjanjian Lama. Dalam upaya menyamakan pola liturgi dengan Konstantinopel, justru kadang-kadang Surat Rasuli – bukan Perjanjian Lama – yang terhapus dalam perayaan liturgi.  Hal ini pun mengindikasikan bahwa Injil – tak dapat disangkal – diperlengkapi dan didukung bukan hanya oleh kitab-kitab Perjanjian Baru, tetapi juga oleh Perjanjian Lama. Leksionari di zaman modern tidak pernah lalai mencantumkan Perjanjian Lama sebagai pembacaan pertama pendukung Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;A. 2) Revisi leksionari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak konsili Vatikan II (1962-1965), Roma Katolik menyadari perlunya dilakukan sebuah revisi besar-besaran terhadap leksionari. Berdasarkan Sacrosanctum Concilium 51 (SC, ditetapkan tahun 1963): “harta Kitab Suci harus dibuka lebih luas, sekian hingga dalam kurun tertentu peredaran tahun, bagian yang paling penting dari Kitab Suci dibacakan kepada umat.” Yang dimaksud dengan “bagian penting” adalah “dimasukkannya bacaan Kitab Suci yang lebih banyak, lebih beraneka ragam, dan lebih cocok” dalam liturgi (SC 35:1). Sehingga, tata pembacaan Injil, Perjanjian Lama, dan Surat Rasuli mulai teratur menjadi bacaan dalam peristiwa liturgi tertentu sejak Oktober 1964.  Tata pembacaan dengan pedoman umum ini terus menerus diperbarui beberapa kali (pedoman khusus: 1965, isu-isu tambahan: 1966, tahap-tahap penyelesaian: 1967-1969) hingga munculnya &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Ordo Lectionum Missae&lt;/span&gt;  (OLM) pada tanggal 25 Mei 1969. Pembaruan-pembaruan dan evaluasi dilakukan terutama dalam penerapan sistem per-dua, per-tiga, atau per-empat tahun liturgi. OLM digunakan secara resmi pada Minggu Adven I, 30 November 1969. Namun eksperimen OLM sebagai bacaan per-tiga tahun ini (A-B-C) telah dilakukan sejak Prapaska Pertama 1969 (21 Februari). Penggunaannya hanya untuk lingkungan Gereja Roma. &lt;br /&gt;Di tempat lain, tidak puas dengan hasil pertama dari Roma Katolik dan karena dorongan dari Gerakan Oikumenis, kemudian Gereja-gereja Barat (tanpa Roma Katolik) membentuk komisi revisi leksionari &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;full-timers &lt;/span&gt;dan ekumenis. Sejumlah konsultan yang terdiri dari kalangan Protestan (Lutheran telah memiliki leksionari lebih dahulu), Yahudi, dan Katolik berbahasa Inggris, dibentuk untuk menyusun daftar bacaan Alkitab. Hal kerja sama ini telah ditampakkan oleh Gereja berbahasa Inggris yang telah menggunakan OLM sebagai dasar ibadah Minggu. Publikasi pertama komisi: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;The Lectionary&lt;/span&gt;, kemudian digunakan sebagai acuan daftar pembacaan Alkitab oleh Gereja-gereja Anglican, Lutheran, dan Presbyterian. &lt;br /&gt;Namun hasil yang lebih nyata terjadi dengan terbitnya &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Common Lectionary&lt;/span&gt; (CL) pada tahun 1982. CL – beracuan pada OLM – telah memberikan tempat bagi kisah-kisah panjang dari Perjanjian Lama setelah hari raya Pentakosta. CL digunakan oleh lebih banyak lagi denominasi sebagai acuan buku daftar pembacaan dengan penyesuaian menurut konteks dan sejarah denominasi yang bersangkutan.  Misalnya: Anglican menyesuaikan CL dengan &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Book of Common Prayer, Roma Katolik dengan OLM, Lutheran dengan Lutheran Book of Worship, Prebyterian dengan Worshipbook&lt;/span&gt;, dan sebagainya serta dengan suplemen-suplemennya. Bahkan Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI) masih memakai CL sebagai dasar penyusunan Buku Almanak Kristen Indonesia (BAKI). Melakukan penyesuaian bukan kerja ringan, sebab membutuhkan pengetahuan mendalam tentang tahun liturgi – yang mau tak mau diambil dari tradisi katolik – sebagai acuan dasar bagi leksionari, dan kecintaan terhadap Alkitab. Biasanya penyesuaian itu pun dilakukan oleh sebuah tim kerja.&lt;br /&gt;Pada tahun 1992, CL direvisi dengan terbitnya publikasi: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Revised Common Lectionary&lt;/span&gt; (RCL). Revisi inilah yang kemudian digunakan sebagai daftar pembacaan Alkitab terbaru oleh Gereja-gereja Protestan. Dengan terbitnya dan diterima RCL, maka kalender liturgi Gereja Protestan pun menerima hari-hari raya yang sebelumnya lebih dikenal sebagai “milik” Roma Katolik. Hari-hari raya tersebut, semisal: Yesus Diberi Nama (1 Januari), Epifania (6 Januari), Rabu Abu, Pekan Suci, Kamis Putih, dsb.  &lt;br /&gt;RCL juga lebih banyak lagi memberikan tempat bagi Perjanjian Lama dengan perikop yang lebih panjang. Pembacaan Alkitab pada hari raya Paska menjadi jauh lebih panjang (menjadi enam belas perikop) ketimbang CL (sembilan perikop).&lt;br /&gt;Hal membersamakan perayaan liturgi antara Roma Katolik dan Protestan tidak perlu menjadi kekuatiran akan hilangnya kekatolikan atau keprotestanan Gereja. Sejalan dengan semangat Gerakan Liturgis dan Gerakan Oikumenis dewasa ini, masing-masing denominasi besar sedang saling mendekatkan diri. Sejak tahun 1940-an, ibadah Roma Katolik mulai mengadakan dibarui dan terlihat mendekati pola ibadah Protestan. Setelah Konsili Vatikan II dan sebelum tahun 1970-an, giliran ibadah Protestan yang justru dibarui untuk mendekati Roma Katolik.  Pembersamaan tersebut terjadi karena dorongan semangat yang terjadi secara oikumenis dan karena maraknya studi liturgi oikumenis di kedua denominasi. Sebelumnya, antara tahun 1520 dan 1570, telah terjadi disvergence antara Roma Katolik dan Protestan, namun kini convergence.  Selain hari Minggu dan hari raya, RCL juga menyusunkan daftar pembacaan harian.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1984 PGI setiap tahun menyusun dan menerbitkan BAKI yang di dalamnya terdapat agenda kerja harian. BAKI disusun berdasarkan RCL dengan tetap memperhatikan keempat pembacaan hari Minggu dan hari raya. Kedua Almanak tersebut dicetak, diperbanyak, diterbitkan setiap tahun, dan dijual bebas, namun tetap saja nilai kepopulerannya tidak besar. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) setiap tahun menyusun dan menerbitkan Penanggalan Liturgi. Terbitan ini, selain beracuan pada RCL, juga memodifikasi dengan kebutuhan Komunitas Katolik di Indonesia, semisal peringatan sanctorale Sisterciensis (OCSO), Karmelit (O.Carm), Verbum Dei (SVD), dan sebagainya. Jadi ada penanggalan umum (Calendarium Generale) yang berlaku untuk semua keuskupan di Indonesia, ada pula penanggalan khusus (Calendarium Particulare) keuskupan tertentu atau tarekat tertentu. &lt;br /&gt;Jika kita perhatikan, kedua buku tersebut: BAKI dan Penanggalan Liturgi, memiliki kemiripan. Secara kasat mata pemerhati liturgi akan berkesimpulan bahwa kedua buku tersebut memakai acuan yang sama, yakni common lectionary. Di luar kedua (atau keempat, termasuk Gereja Anglican) buku itu, ada beberapa Gereja yang menyusun rancangan khotbah berikut perikop pembacaan, namun masih jauh dari pola umum yang disebut leksionari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;B. LEKSIONARI DALAM LITURGI MINGGU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur liturgi disusun berdasarkan leksionari tersebut. Nyanyian-nyanyian, doa-doa, aklamasi, formula, dan bahkan unsur-unsur ordinarium disusun setelah penyusun dan penyiap liturgi memegang leksionari hari yang bersangkutan. Tanpa leksionari, maka liturgi secara hakiki adalah mentah. Ibarat sebuah bangunan, leksionari adalah gambar arsitekturnya.&lt;br /&gt;Pola tiga-tahun siklus leksionari dibuat dalam poros ketiga Injil Sinoptik. Tahun A berporos pada Injil Matius, sehingga disebut pula tahun Matius. Dasar pemilihan perikop Injil sangat terikat pada kalender Gereja (l&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;ectio selecta&lt;/span&gt;). Pembacaan Perjanjian Lama, Mazmur, dan Surat Rasul disusun dengan mengikuti atau menyesuaikan tema Matius yang dibacakan pada hari yang bersangkutan. Demikian pula dengan tahun B atau tahun Markus, dan tahun C atau tahun Lukas. Pola tiga-tahun ini sekaligus menggambarkan adanya tradisi kisah pelayanan Yesus selama tiga tahun menurut para penulis kitab Injil. Oleh karena isi liturgi adalah Alkitab, maka leksionari merupakan suatu upaya memenuhi kewajiban tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 1) “Kanon” di dalam KANON dan Pembinaan Warga Gereja&lt;br /&gt;Ungkapan ini sebenarnya suatu masalah edukatif yang disebabkan oleh tidak digunakannya leksionari dalam liturgi. Allah berkarya di dalam sejarah, disebut sejarah keselamatan. Sejarah keselamatan Allah itu terus menerus diturunalihkan, dikisahulangkan, dan dihadirkan dari satu generasi ke generasi berikut. Dengan cara demikian, leksionari merupakan wahana simbolis yang menghadirkan sejarah keselamatan yang Allah lakukan di masa lalu pada masa kini, sehingga kita merupakan bagian dari sejarah Alkitab.  Oleh karenanya, pembacaan Alkitab dan bermazmur di dalam liturgi merupakan simbol, memori atau kenang-kenangan, anamnesis, sehingga dengan cara itu kita membawa sejarah keselamatan Allah ke dalam zaman kita, atau sebaliknya. &lt;br /&gt;Selain sejarah keselamatan, fungsi leksionari sebagai metode pembinaan warga Gereja melalui ibadah adalah hal terpenting. Seluruh upaya menyusun dan merevisi sistem pembacaan Alkitab dan cara pembacaannya di dalam peribadahan ditempatkan dalam kaitan dengan fungsi leksionari. Secara sederhana fungsinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) sarana menghadirkan di masa kini tentang perbuatan-perbuatan yang Allah lakukan di masa lalu&lt;br /&gt;2) terus menerus memperkenalkan isi Alkitab kepada umat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua fungsi tersebut memuat kandungan edukatif. Fungsi pertama, menanamkan nilai-nilai historis dan tradisi, bahwasanya yang terjadi di masa kini merupakan embusan kejadian di masa lalu. Tertanam dalam sanubari umat bahwa yang dilakukannya kini akan berdampak pada masa depan pula. Fungsi kedua, leksionari yang mengandung unsur pengulangan setiap tiga tahun liturgi,  merupakan kurikulum yang menghantar umat untuk semakin mendalami firman Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 2) Tahun liturgi&lt;br /&gt;Tahun liturgi berlangsung sejak Adven I (antara 27 November dan 3 Desember) hingga hari Minggu Kristus Raja (antara 20 dan 26 November) tahun berikutnya. Atau secara detail, tahun liturgi berlangsung hingga hari Sabtu sebelum Adven I. Tahun 2000 adalah tahun B atau tahun Markus, yakni berlangsung antara November 1999 (Adven I) dan 26 November 2000 (Minggu Kristus Raja). Setelah tahun B adalah tahun C atau tahun Lukas berlangsung antara 3 Desember 2000 (Adven I) dan November 2001 (Minggu Kristus Raja); disejajarkan dengan sebutan tahun 2001.  Setelah tahun C, maka tahun 2002 adalah tahun A, berlangsung antara Adven I tahun 2001 dan Minggu Kristus Raja tahun 2002. Begitu seterusnya berulang-ulang dari tiga tahun ke tiga tahun berikut.&lt;br /&gt;Dengan urutan demikian, Gereja melalui leksionari telah “menciptakan” permulaan tahun sendiri, yakni tahun Gereja. Permulaan tahun merupakan fenomena umum dalam sejarah manusia dan seringkali berubah-ubah. Kalender Julian memulai tahun dari 1 Januari hingga 31 Desember. Namun di Inggris, Gereja pernah memulai kalender pada hari raya Kabar Sukacita 25 Maret atau pada perayaan Natal 25 Desember, berlaku pada sebelum tahun 1066. Kemudian berubah pada 1 Januari, berlaku sejak tahun 1087 hingga 1155. Kemudian berganti lagi pada 25 Maret, berlaku sejak tahun 1155 hingga 1752. Di Perancis, sebelum tahun 1564, tahun baru pernah ditetapkan secara bervariasi pada tanggal-tanggal 25 Desember, malam Paska, atau 25 Maret. Di Jerman, tahun baru 1 Januari baru ditetapkan pada tahun 1544. Di Roma dan sebagian Italia, sebelum reformasi kalender oleh Gregorius XIII tahun 1582, tahun baru adalah 25 Desember.  Walaupun kemudian 1 Januari ditetapkan secara resmi sebagai tahun baru, namun tahun liturgi dalam leksionari tetap memberlakukannya pada Adven I.&lt;br /&gt;Pengulangan dalam leksionari seharusnya tidak membosankan, melainkan malah memperdalam penghayatan pendengar akan selalu hadirnya perbuatan-perbuatan Allah di masa kini sebagaimana masa lalu. Pengulangan dalam liturgi dilihat sebagai axis mundi (poros bumi) atau bor yang berkonsentrasi dan berputar pada satu poros, dan putarannya menyebabkan lobang semakin dalam. Pembacaan Alkitab pun tidak lagi sekadar satu-dua ayat yang tak jelas hubungannya satu sama lain, namun suatu kisah yang beralur dari Minggu ke Minggu, dan dari tahun ke tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pembaca Alkitab (lector) memiliki tugas berat dan serius, tetapi mulia. Jika sang pembaca mampu menghayati tugasnya yang mulia dengan membacakan perikop-perikop dengan indah, maka jemaat akan merasa terlibat di dalam kisah yang dibacakannya. Leksionari juga mendasari khotbah dan seluruh perayaan liturgi hari itu. Dasar pemilihan nas-nas pembacaan Alkitab untuk khotbah tidak lagi seturut kemauan si pengkhotbah, melainkan ditopang oleh susunan pembacaan yang beralur. Gereja pun terhindar dari kebiasaan membatasi kitab-kitab tertentu saja yang dibacakan, sehingga terjadi “kanon di dalam kanon”, sementara kitab-kitab lain tak pernah dibacakan untuk umat. Leksionari juga menjadi dasar bagi penyusunan nyanyian jemaat, sehingga nyanyian yang dipilih benar-benar berdasarkan bacaan-bacaan hari itu. Hal ini lebih membantu apabila sebuah buku nyanyian memuat juga daftar acuan alkitabiah atau daftar ayat Alkitab terhadap nomor-nomor nyanyian dalam buku tersebut.  &lt;br /&gt;Ujung-ujungnya, yang diuntungkan dari penggunaan leksionari dalam ibadah adalah jemaat sendiri, sebab berkesempatan mengetahui isi Alkitab secara terencana, terpola, sinambung, menyeluruh, dan berulang-ulang untuk semakin menghayatinya. Dengan demikian, perayaan liturgi yang berisi pembacaan firman Allah merupakan bahan katekisasi yang paling asasi dan efektif. Alasan kedua, mengingat bahwa kebaktian Minggu adalah sarana pertemuan yang dihadiri oleh paling banyak umat dibanding kegiatan-kegiatan lain. Alkitab bukan sekadar diteliti atau diajarkan, tetapi juga dibacakan isinya, baik Perjanjian Lama, Surat-surat Rasuli, maupun Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 3) Tahun Matius (A)&lt;br /&gt;Tema yang ditonjolkan dari Matius adalah kebersamaan Tuhan atas Gereja-Nya setiap saat. Injil ini ditutup dengan kalimat yang memberi kesan tersebut: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Penyertaan Yesus dilihat melalui karya, yakni karya Allah dan karya Gereja.  Tahun Matius menjadi rujukan tahun Gereja yang melakukan karya Ilahi secara aktif melalui karya Yesus Kristus.&lt;br /&gt;Matius disusun dengan pola tahun liturgi Yahudi sebagai tata pembacaan setiap hari Sabat. Pengaruh Yahudi jelas setelah menilik sistem midrash dalam Matius. Matius terbagi dalam enam puluh sembilan bagian, yaitu untuk lima puluh Sabat dan sembilan belas ibadah khusus, semisal: Dedikasi Bait Suci, Malam Paska, dsb.  Susunan Injil Markus terlihat dalam pembagian antara narasi dan percakapan, terutama selama Minggu biasa. Secara umum susunannya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adven : Mat 1:18-25&lt;br /&gt;2. Minggu setelah Natal : Mat 2:13-23&lt;br /&gt;3. (kecuali) 1 Januari : Mat 25:31- 46&lt;br /&gt;4. Epifania : Mat 2:1-12&lt;br /&gt;5. Narasi : Mat 3 – 4&lt;br /&gt;6. Percakapan : Mat 5 – 7&lt;br /&gt;7. Narasi : Mat 8 – 9:34&lt;br /&gt;8. Percakapan : Mat 9:35 – 11:1&lt;br /&gt;9. Narasi : Mat 11:2 – 12&lt;br /&gt;10. Percakapan : Mat 13&lt;br /&gt;11. Narasi : Mat 14 – 18&lt;br /&gt;12. Percakapan : Mat 19 – 23&lt;br /&gt;13. Narasi : Mat 24 – 25&lt;br /&gt;14. Percakapan : Mat 28:16-20&lt;br /&gt;15. Minggu Palem : Mat 26:24 – 27:66 atau 27:11-54&lt;br /&gt;16. Sabtu Sunyi : Mat 27:57-66&lt;br /&gt;17. Paska : Mat 28:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf tebal adalah Minggu-minggu biasa. Dalam Matius terdapat sekitar 90% materi Markus yang diadaptasinya.  Dalam tiga puluh empat Minggu biasa tahun A, tiga belas Minggu adalah pembacaan similar dengan tahun B dan C, sebelas Minggu adalah pembacaan sumber Quelle dengan tahun C, dan sepuluh pembacaan khas Matius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 4) Tahun Markus (B)&lt;br /&gt;Dari antara ketiga Injil, Injil Markus menduduki posisi penting dan “menguntungkan”. Usianya yang tertua di antara kitab-kitab Injil lain, dan terpendek, memiliki kesan sebagai Injil yang ringkas dan langsung pada tujuan, sehingga ia dipandang istimewa. Interesan bahwa Markus memulai “kisah” Yesus dari baptisan-Nya, bukan kelahiran-Nya atau bahkan pra-kelahiran-Nya sebagaimana kedua Injil lain. Dengan demikian bagi Markus, Yesus adalah tujuan langsung kesaksiannya (Mrk 1:1 “Injil tentang Yesus Kristus”). &lt;br /&gt;Sebagai Injil tertua, Markus adalah pembentuk dasar bagi kedua Injil sinoptik yang lain. Matius dan Lukas menggunakan Markus untuk menyusun Injilnya masing-masing. Dengan demikian, di dalam Injil sinoptik terdapat “hampir” satu sumber dengan tiga tradisi. Materi yang betul sama di antara ketiga Injil sekitar 25%, dan yang betul unik di setiap Injil sekitar 25%.  Sumber Markus yang digunakan oleh ketiga Injil untuk leksionari masing-masing, berjumlah dua puluh tiga Minggu. Jumlah ini terbanyak dibandingkan dengan tahun A: 13 Minggu, dan tahun C: 7 Minggu, menggunakan sumber bersama tiga Injil sinoptik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 5) Tahun Lukas (C)&lt;br /&gt;Teologi yang ditonjolkan dalam Lukas adalah keselamatan universal, bagi semua orang.  Teologi disampaikan dalam tata pembacaan yang “teratur” sebagai buku, sebagaimana dituliskannya di awal kitab (1:3 “aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur [καθεξής] kepadamu.”). Kata “teratur” di sini dipahami lebih sebagai keteraturan pembacaan liturgis, ketimbang kronologi kehidupan Yesus.  Keteraturan tersebut terlihat dalam susunan kitab Lukas yang sesuai dengan tahun liturgi. Susunan tersebut adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adven dan Natal: Luk 1 – 2&lt;br /&gt;2. Adven III: Luk 3:7-18&lt;br /&gt;3. Pelayan di Galilea: Luk 3 – 9:50&lt;br /&gt;4. Pelayanan dalam perjalanan ke Yerusalem: Luk 9:51 – 19:27&lt;br /&gt;5. Pelayanan di Yerusalem: Luk 19:28 – 21&lt;br /&gt;6. Minggu Palem: Luk 23:1-49&lt;br /&gt;7. Paska: Luk 24:1-49&lt;br /&gt;8. Minggu Paska VII: Luk 24:44-53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf tebal (3-5) menandakan Minggu biasa. Dalam Lukas terdapat sekitar 60% materi Markus yang diadaptasinya. Selama tiga puluh empat Minggu biasa, tujuh Minggu di antaranya merupakan bacaan similar dengan bacaan Matius (A) dan Markus (B), sembilan Minggu merupakan bacaan sumber Q (Quelle) dengan tahun A, dan sembilan belas adalah bacaan khas Lukas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. 6) “Tahun Yohanes”&lt;br /&gt;Akan halnya Injil Yohanes, ia tidak dibacakan dalam tahun tertentu seperti halnya Injil-injil sinoptik, kecuali mungkin ketika eksperimen OLM. Dalam bayang-bayang leksionari Yahudi, Yohanes mengikuti siklus pembacaan per tiga tahun. Itulah sebabnya, Yohanes memuat lebih banyak perayaan Yahudi ketimbang Injil-injil lain. Dalam tiga tahun liturgi, terdapat sekitar lima belas sedarim (pembacaan dari kumpulan Torah) dan lima belas haphtaroth (pembacaan dari kumpulan Nebiim), sehingga total terdapat tiga puluh bagian dari Yohanes yang paralel dengan Perjanjian Lama. &lt;br /&gt;Injil Yohanes memiliki waktu-waktu khusus di dalam tahun liturgi A-B-C. Yaitu: beberapa Minggu setelah Epifania, sebagian Minggu-minggu Prapaska, Jumat Agung, Minggu-minggu XXVI – XXXII pada tahun B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;C. LEKSIONARI DALAM LITURGI HARIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leksionari untuk hari Minggu ditekankan dalam bentuk pengulangan pada ibadah harian. Dalam ibadah harian, digunakan leksionari dengan pola tersendiri. Jika pada liturgi hari Minggu, pembacaan Alkitab disusun untuk tiga tahun liturgi (A-B-C), maka pada liturgi harian, pembacaan Alkitab disusun untuk dua tahun liturgi (seri I atau tahun ganjil, yaitu 2001, 2003, 2005, dan seri II atau tahun genap, yaitu: 2002, 2004, 2006. RCL menyusun empat pembacaan Alkitab dalam liturgi harian, sebagaimana liturgi Minggu. Keempat pembacaan itu adalah 1) Mazmur-mazmur, sebagai pembacaan pertama; 2) Perjanjian Lama, ditempat kedua; 3) Surat Rasuli atau Epistel; dan 4) Injil sebagai yang utama dan sama setiap tahun, tapi dibacakan pada tempat terakhir. Kitab-kitab di luar Injil disusun untuk dua tahun berdasarkan panjang pendeknya suatu kitab.&lt;br /&gt;Leksionari untuk liturgi harian adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan        Tahun ganjil (I)         Tahun genap (II)&lt;br /&gt; Kitab  Injil  Kitab  Injil&lt;br /&gt;1 Ibrani  Markus  1Samuel  Markus &lt;br /&gt;2 Ibrani  Markus  1Samuel  Markus&lt;br /&gt;3 Ibrani  Markus  2Samuel  Markus&lt;br /&gt;4 Ibrani  Markus   2Sam;1Raja 1-16 Markus&lt;br /&gt;5 Kejadian 1-11 Markus  1 Raja 1-16 Markus&lt;br /&gt;6 Kejadian 1-11 Markus  Yakobus  Markus&lt;br /&gt;7 Sirakh  Markus  Yakobus  Markus&lt;br /&gt;8 Sirakh  Markus  1Petrus;Yudas Markus&lt;br /&gt;9 Tobit  Markus  2Pet;2Timotius Markus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 2Korintus Matius  1Raja17-22 Matius&lt;br /&gt;11 2Korintus Matius  1Rj17-22;2Raja Matius&lt;br /&gt;12 Kejadian 12-50 Matius  2Raja;Ratapan Matius&lt;br /&gt;13 Kejadian 12-50 Matius  Amos  Matius&lt;br /&gt;14 Kejadian 12-50 Matius  Hosea;Yesaya Matius&lt;br /&gt;15 Keluaran Matius  Yesaya;Mikha Matius&lt;br /&gt;16 Keluaran Matius  Mikha;Yeremia Matius&lt;br /&gt;17 Kel;Imamat Matius  Yeremia  Matius&lt;br /&gt;18 Bilangan;Ulangan  Matius  Yer;Nahum; Matius&lt;br /&gt;Habakuk&lt;br /&gt;19 Ulangan;Yosua Matius  Yehezkiel Matius&lt;br /&gt;20 Hakim;Rut Matius  Yehezkiel Matius&lt;br /&gt;21 1Tesalonika Matius  2Tes;1Korintus Matius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 1Tes;Kolose Lukas  1Korintus Lukas&lt;br /&gt;23 Kolose;1Timotius Lukas  1Korintus Lukas&lt;br /&gt;24 1Timotius Lukas  1Korintus Lukas&lt;br /&gt;25 Ezra;Hagai; Lukas  Amsal;  Lukas&lt;br /&gt;Zakharia    Pengkhotbah&lt;br /&gt;26 Zak;Nehemia; Lukas  Ayub  Lukas&lt;br /&gt; Barukh&lt;br /&gt;27 Yunus;Maleakhi Lukas  Galatia  Lukas&lt;br /&gt; Yoel&lt;br /&gt;28 Roma  Lukas  Galatia;Efesus Lukas&lt;br /&gt;29 Roma  Lukas  Efesus  Lukas&lt;br /&gt;30 Roma  Lukas  Efesus  Lukas&lt;br /&gt;31 Roma  Lukas  Efesus;Filipi Lukas&lt;br /&gt;32 Keb.Salomo Lukas  Titus;Filemon; Lukas&lt;br /&gt;     2-3 Yohanes&lt;br /&gt;33 1-2Makabe Lukas  Wahyu  Lukas&lt;br /&gt;34 Daniel  Lukas  Wahyu  Lukas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Injil Markus diposisikan sebagai pembacaan di awal tahun merupakan pengaturan kesesuaian, dengan alasan:&lt;br /&gt;1) Injil tertua dan terpendek dari antara kitab Injil.&lt;br /&gt;2) Melatarbelakangi kedua Injil lain, agar yang telah tertulis dalam Markus tidak lagi diulangi dalam Matius dan Lukas. Namun hal ini akan sulit sekali diterapkan, mengingat keunikan setiap Inji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gereja-gereja Protestan, daftar pembacaan ini dapat digunakan dalam persekutuan doa, doa pagi, atau doa petang.  </description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2009/02/leksionari.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-4535938571528836200</guid><pubDate>Tue, 30 Dec 2008 13:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-02T19:43:08.496+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>O K B MENJADI: BARU MELEK TEKNOLOGI</title><description>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu &quot;J&quot; mendengar bualan saya bahwa beberapa negara penghasil minyak di Timur Tengah menjadi mentereng dan kinclong dewasa ini, terutama dalam hal pembangunan propertinya, &quot;J&quot;, yang pulang-pergi ke negera-negara Timur Tengah seperti Ibu Rumah Tangga belanja ke pasar pagi, memberi reaksi: &quot;Ah, OKB aja tuh.&quot;&lt;br /&gt;Maksudnya, negara-negara kinclong tersebut dapat disejajarkan dengan Orang Kaya Baru, yakni orang yang mendadak kaya lantas langsung memamerkan kekayaannya secara jor-joran supaya orang-orang lain sekitarnya tidak lagi menyapa dia &quot;si miskin&quot;. Tentu, saya tidak menilai bahwa miskin adalah sebuah kehinaan atau kaya merupakan cela. Saya juga tidak menertawakan orang miskin yang mendadak menjadi kaya karena usahanya yang sedang maju pesat. Semua sah-sah saja. Namun terminologi OKB jelas menunjuk pada tingkah laku norak yang menunjukkan diri sebagai orang baru mengenal duit, sekalipun tidak kenal nilai. Nilai seni, nilai estetika, nilai fungsi, nilai edukasi, nilai komunikasi, nilai humaniora, justru diabaikan karena pamer duitlah yang menjadi nilai bagi OKB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Gereja baru melek teknologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;OKB ini juga merambah ke gereja dalam menyelenggarakan liturgi. Istilah saya, Gereja Baru Melek Teknologi. Tingkah laku Gereja-gereja ini sama saja dengan tingkah laku OKB tadi, yakni jangan sampai dicap ketinggalan teknologi.&lt;br /&gt;Supaya tidak dikata ketinggalan zaman, beberapa Gereja merasa harus menggunakan media elektronik canggih dalam peribadahan. Hal ini dilakukan tanpa memperhatikan nilai-nilai manfaat, edukasi, keindahan, dan bahkan kepantasan. Gereja kecil di daerah sepi-sunyi menggunakan &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;sound system&lt;/span&gt; yang bervolume besar, padahal bertahun-tahun khotbah dapat dengan nyaman didengarkan dan diikuti uraiannya oleh siapa pun di ruang ibadah tersebut tanpa pembesar suara. Alasannya, &quot;Masakan di mimbar tidak ada &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;microphone&lt;/span&gt;?&quot; Maka kini harus ada teknisi yang mengatur stabilitas &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;sound system&lt;/span&gt; selama ibadah berlangsung - supaya &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;ga nguing-nguing&lt;/span&gt; seperti sesekali terjadi.&lt;br /&gt;Gereja di daerah tidak terlalu panas dan memiliki kebun akhirnya menutup jendela-jendela besarnya karena kini ruang ibadah dipasang penyejuk ruang (AC = Air Conditioner). Alasannya: tidak suka berkeringat, seperti beberapa Pendeta yang tidak suka mengenakan toga panjangnya karena kepanasan. Padahal gereja-gereja ini nomor satu berwacana tentang kontekstualisasi - namun tanpa rasa cinta akan konteks Indonesia yang memang berhawa tropis. Ada juga gereja yang memang tidak ingin pasang AC, tetapi agak didesak oleh para dermawannya supaya memasang AC. Alasannya, supaya para dermawan itu tidak pergi beribadah ke gereja lain, dan gerejanya tidak dikatakan tidak mampu membeli AC. &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini semakin banyak Gereja yang menggunakan LCD, tentu dengan layarnya. Ini menjamur bukan lagi sebagai kebutuhan - misalnya ruang ibadah yang terlalu besar sehingga perlu LCD untuk menayangkan gambar para petugas ibadah - tetapi menjadi &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;trend&lt;/span&gt;. Ada ruang ibadah berkasitas 100 orang saja, sebenarnya cukup komunikatif dengan bertatap langsung dalam pertemuan ibadah, namun &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;koq &lt;/span&gt;perlu-perlunya menggunakan LCD supaya keren. Gunanya untuk menayangkan setiap nyanyian, urutan tata liturgi, Pengakuan Iman, bahkan perintah duduk atau berdiri. Rasanya aneh bagi Gereja-gereja ini jika pemimpin liturgi berbicara atau mengucapkan formula liturgi dan umat tidak menatap ke arah lain untuk membaca tulisan yang ditayangkan di layar LCD yang digantung sedikit di bawah langit-langit atau di dinding sudut ruang, atau ... pokoknya tidak menatap pemimpin liturgi. Tatap langsung umat dengan Pemimpin Liturgi dihindari, karena umat lebih melihat layar LCD sekalipun di waktu khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bagaimana peran media elektronik dalam ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fungsi media elektronik adalah sama seperti alat apa pun bagi manusia. Selama alat-alat tersebut digunakan secara seperlunya dan proporsional, ia sangat bermanfaat. Misal, mobil adalah alat modern yang hanya dimiliki oleh orang kaya. Namun jika orang kaya itu mengendarai mobil dari dapur ke kamar mandinya, maka ia disebut OKB - tidak pantas-pantasnya menggunakan sarana itu. Contoh lain, pesawat terbang adalah sarana transportasi tercepat. Tetapi untuk menempuh jarak Salemba - Gondangdia, pesawat terbang menjadi sarana transportasi terlambat dan menyusahkan.&lt;br /&gt;Jika alat-alat teknologi modern yang digunakan sebagai sarana ibadah di gereja-gereja memang mencerdaskan umat beribadah, maka ia pantas digunakan. Namun jika tidak, maka mubazirlah atau bahkan berbahaya.&lt;br /&gt;Jadi, sarana itu semua bermanfaat hanya jika digunakan secara tepat dan proporsional, bukan asal keren dan kuatir dibilang tidak modern. Analoginya begini. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa tidak perlu memakai jam karena manusia zaman &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;beheule &lt;/span&gt;pun dapat mengukur waktu dengan melihat bayangan, maka orang tersebut kuno. Ia tidak modern. Namun kalau sebuah keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga, lantas mereka saling berbicara dengan sarana telepon seluler, maka mereka adalah orang-orang yang &quot;kedodoran&quot; menggunakan teknologi. Kalau saya mah lebih memilih dibilang tidak modern daripada Gereja baru melek teknologi atau ... OKB itulah.&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi dengan banyak Gereja yang memaksa diri menggunakan LCD untuk keperluan ibadah, padahal tidak perlu. Penggunaan LCD secara tidak bijak untuk menggantikan buku nyanyian, dan menayangkan semua urutan dan unsur liturgi, merupakan tindakan pembodohan umat. Akibatnya, ruang ibadah menjadi terlihat lebih sesak karena ada layar gantung, tata cahaya menjadi kontras, komunikasi langsung menjadi terkendala dengan &quot;daya tarik&quot; cahaya LCD, dan potensi kecerdasan menjadi terkendala oleh karena tuntunan melekat-terbatas. &lt;br /&gt;Daftar ini masih harus ditambah satu lagi yang penting, yakni kesangattergantungan pada satu enerji listrik. Begitu listrik padam &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;byar-pet&lt;/span&gt;, matilah seluruh perayaan ibadah. Ruangan menjadi panas tanpa AC dan gelap tanpa lampu, tayangan nyanyian dan isi ibadah hilang, dan umat menjadi gagap untuk menerus ibadah di ruang panas-gelap tersebut karena sudah tidak terbiasa beribadah tanpa tuntunan melekat dalam hal urutan ibadah, isi doa-doa, isi pengakuan iman, perintah duduk-berdiri, dan formula-formula liturgis.&lt;br /&gt;Tantangan Gereja dewasa ini adalah melakukan pemikiran kritis terhadap penggunaan teknologi modern pada umumnya dan LCD pada khususnya.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/12/o-k-b-menjadi-g-b-m-b.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-5180018381032050634</guid><pubDate>Tue, 14 Oct 2008 11:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-17T18:10:35.805+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgi zaman modern</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tata liturgi</category><title>DOA BAPA KAMI</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgusP9IUUzQZKNaNiL2YO_9UfevS-t2z_YtpezlqYz5AwEEj7ez1VOvQ8VZDnb52wFqjx7MEuwI497LmU-eGKrU69vstRpljpu-lLNTZj7Zi9tVlMNq4D72qncp981yb4uoctNs4Yq92yAD/s1600-h/Picture+025.bmp&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgusP9IUUzQZKNaNiL2YO_9UfevS-t2z_YtpezlqYz5AwEEj7ez1VOvQ8VZDnb52wFqjx7MEuwI497LmU-eGKrU69vstRpljpu-lLNTZj7Zi9tVlMNq4D72qncp981yb4uoctNs4Yq92yAD/s200/Picture+025.bmp&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5258078340022866530&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;DI MANAKAH TEMPAT YANG COCOK DI DALAM TATA PERAYAAN LITURGI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjatkan Doa Bapa Kami dalam liturgi telah lama diterapkan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia, sekalipun tanpa perayaan perjamuan kudus. Hal ini menjadi lazim, karena sejak awal masuknya agama Kristen di Indonesia, perjamuan sangat jarang sekali dilaksanakan. Mungkin setahun sekali, atau paling banyak setahun empat kali. Selain karena alasan kurangnya tenaga Pendeta sekitar abad ke-19 di Indonesia, juga karena kebiasaan Jemaat-jemaat Reformed di Negeri Belanda yang memang hanya 4 kali setahun merayakan perjamuan. Jumlah ini sebenarnya sesuai keputusan Pemerintah Kota Jenewa semasa Johannes Calvin hidup pada abad ke-16. Sementara Doa Bapa Kami menjadi salah satu bahan hafalan umat dan terutama katekisan di lingkungan Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Oleh karena itu, sekalipun ikut serta dalam perjamuan tetap menjadi hal yang menakutkan, namun tetap menghafal Doa Bapa Kami mutlak dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bagaimanakah Doa Bapa Kami menjadi doa liturgi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak abad ke-6 di Roma, Doa Bapa Kami menjadi salah satu unsur yang ditambahkan ke dalam perayaan perjamuan atau ekaristi. Sebelumnya, Doa Bapa Kami tidak lazim digunakan dalam liturgi. Gereja Roma kemudian memandang perlu memasukkan Doa Bapa Kami guna memperkaya dan memperkuat makna perjamuan yang berpuncak pada komuni. Makna perjamuan sejak Gereja zaman Patristik adalah 1Korintus 11, yakni nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus yang tidak bisa makan secukupnya apabila mereka berkumpul untuk ibadah. Surat 1Korintus 11 tersebut diucapkan atau dibacakan oleh Imam, karena ketika mereka tidak dapat menahan diri memakan makanan orangn lain yang belum datang, mereka mencemarkan nama Tuhan karena berkumpul dengan tidak mengakui tubuh Kristus. Maka Doa Bapa Kami dinyanyikan atau diucapkan oleh umat untuk menutup doa ekaristi dan sebelum komuni.&lt;br /&gt;Kalimat &quot;berilah kami makanan kami yang secukupnya&quot; dipandang sebagai inti dari Doa Bapa Kami yang memperkuat komuni akan menerima makanan yang secukupnya. Apalagi kalimat yang mengikutinya setelah itu: &quot;ampunilah kami karena kami pun mengampuni&quot;, dinilai sangat pas. Bahwasanya soal makanan yang tidak secukupnya diterima manusia itu berpangkal dari tiadanya saling mengampuni di antara manusia. Akibatnya, seseorang menerima makanan sedikit sekali sehingga kelaparan, sedangkan seseorang lain menerima makanan banyak sekali sehingga muntah kekenyangan. Keduanya, baik yang menerima sedikit sekali maupun yang menerima banyak sekali makanan, sama-sama memakan makanan yang tidak secukupnya.&lt;br /&gt;Dalam perayaan perjamuan, setelah Doa Bapa Kami diucapkan dan salam damai dilakukan di antara umat, Imam memecahkan roti (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;fractio&lt;/span&gt;) sambil umat menyanyikan Anakdomba Allah (&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;agnus Dei&lt;/span&gt;). Tampilan ini mengingatkan bahwa makna pemecahan roti adalah agar semua orang mendapat makanan yang secukupnya. (Gugurlah tampilan teologi liturgi kuno yang mengatakan bahwa tubuh Kristus terpecah-pecah!). Tepatlah jika dikemukakan bahwa perjamuan kudus adalah soal keadilan pembagian makanan secukupnya. (Gugurlah teologi liturgi kuno yang menekankan perjamuan melulu soal pengampunan dosa secara vertikal dan individual!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bagaimana memanjatkan Doa Bapa Kami jika tanpa perjamuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Biasanya Gereja-gereja Protestan di Indonesia memanjatkan Doa Bapa Kami sebagai penutup doa-doa syafaat. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kemungkinan besar - oleh karena formula perjamuan tidak begitu dikenal oleh para Pendeta misionaris masa itu - Doa Bapa Kami ditempatkan sejajar dengan doa panjang dalam liturgi. Memang, dalam formula perjamuan, Doa Bapa Kami diucapkan sebagai penutup doa ekaristi yang panjang itu. Oleh karena tidak ada perjamuan, otomatis tidak ada doa ekaristi, dan kebiasaan para Pendeta waktu itu (juga masih di zaman kini?) doa panjang dalam liturgi adalah doa-doa syafaat. Maka doa-doa syafaat disejajarkan dengan doa ekaristi, padahal karakter kedua doa tersebut berbeda.&lt;br /&gt;Doa ekaristi atau doa perjamuan adalah doa yang berada di dalam ordo persembahan, karena perjamuan adalah persembahan. Perjamuan adalah persembahan telah menjadi prasis jemaat mula-mula di zaman Perjanjian Baru. Namun terminologi ini tidak dikenal oleh sementara kalangan Protestan di Indonesia. Yang dikenal adalah, persembahan berbeda atau bahkan terpisah dengan perjamuan. Padahal menurut terminologi liturgi, persembahan (atau kolekte) yang dikenal oleh sementara kalangan Protestan di Indonesia adalah persiapan persembahan. Persembahannya sendiri adalah perayaan perjamuan.&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, tempat yang pas untuk Doa Bapa Kami jika tanpa perayaan perjamuan adalah pada akhir doa persembahan (terminologi Protestan di Indonesia). Bukan pada akhir doa-doa syafaat, karena doa-doa syafaat dipanjatkan sebelum persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja-gereja Protestan di Indonesia merayakan perjamuan setiap hari Minggu, rasanya masih sebuah perjalanan yang sangat jauh. Oleh karena itu, di sini saya tidak ingin menyentuh hal tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah penempatan Doa Bapa Kami sebagai penutup doa persembahan. Dengan demikian, urutan liturgi tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Doa-doa syafaat &lt;br /&gt;(2) kolekte &lt;br /&gt;(3) doa persembahan + Doa Bapa Kami &lt;br /&gt;(4) Pengutusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, ini adalah sebuah langkah pertama pembaruan liturgi, yakni menempatkan unsur-unsur liturgi secara logis-liturgis dalam tata perayaan.</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/10/doa-bapa-kami.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgusP9IUUzQZKNaNiL2YO_9UfevS-t2z_YtpezlqYz5AwEEj7ez1VOvQ8VZDnb52wFqjx7MEuwI497LmU-eGKrU69vstRpljpu-lLNTZj7Zi9tVlMNq4D72qncp981yb4uoctNs4Yq92yAD/s72-c/Picture+025.bmp" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-2815777806514403873</guid><pubDate>Thu, 29 May 2008 13:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-29T20:32:07.485+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>KEBAKTIAN MINGGU</title><description>MENGOPTIMALKAN IBADAH SEBAGAI&lt;br /&gt;SEBUAH SARANA PEMBINAAN UMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya mengganti judul yang diberikan oleh BPMK Jakarta I, yakni: Kebaktian Minggu Sebagai Sarana Utama Pembinaan Umat. Bukan berarti judul tersebut salah sama sekali atau tidak mengandung kebenaran, namun rasanya berlebihan jika kebaktian hari Minggu dianggap sarana utama pembinaan. Oleh karena itu, saya menggantinya dengan cukup menempatkan kebaktian hari Minggu sebagai sebuah sarana pembinaan. Artinya, benar bahwa di dalam kebaktian hari Minggu terkandung nilai, prinsip, dimensi, dan metode yang menjadi sarana pembinaan umat, hanya bukan satu-satunya.&lt;br /&gt;Nilai-nilai, prinsip, dimensi, dan metode pembinaan atau pendidikan telah ada dalam kebaktian hari Minggu sepanjang hampir 2000 tahun sejarah gereja. Yang dimaksud adalah bahwa liturgi membangun jemaat, mencerdaskan umat, mengubah perilaku, memperluas cakrawala berpikir. Keberhasilan pendidikan bagi nara didik adalah membentuk sikap inklusif, tidak takut dengan hal-hal baru dan perubahan, dan menjadi agen pembaruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prinsip pendidikan dari sejarah gereja&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai pewaris tradisi Yahudi, jemaat Kristen awal menjadikan liturgi sebagai wadah beribadah, wadah pendidikan, dan wadah persekutuan. Ketiganya tercampur baur laksana air dan tinta, sehingga selama ibadah seluruh umat bersekutu dan dididik. Dimensi pendidikan atau pembinaan itu diberlakukan melalui doa-doa yang diucapkan, Mazmur-mazmur yang dinyanyikan, dan pembacaan Alkitab yang diperdengarkan. Pada masa kemudian, dimensi pembinaan juga diberlakukan melalui perayaan-perayaan sakramen yang ditampilkan, gambar dan lukisan yang dipajang di dinding dan langit-langit gereja, bau-bauan yang mengharumi ruang ibadah. Pokoknya, ibadah sengaja dirancang sedemikian rupa sehingga membuat pengalaman edukatif sungguh-sungguh meresap. Jemaat dididik dengan menggunakan semua indera untuk merayakan kehadiran Kristus.&lt;br /&gt;Pada Abad-abad Pertengahan, pendidikan umat melalui peribadahan melibatkan lebih banyak unsur. Pembinaan umat yang berlangsung di dalam liturgi disampaikan melalui baptisan, perjamuan kudus, seni lukis dan pahat, manuskrip berhiasan, dan arsitektur gereja. Banyaknya jumlah unsur yang digunakan tersebut tidak menjamin berlakunya dimensi edukatif  dalam ibadah, apabila semuanya tidak diberperankan sebagai simbol.&lt;br /&gt;Sekalipun unsur-unsur tersebut tidak pasti berdampak langsung terhadap pembinaan calon baptis, namun tetap bermanfaat bagi umat keseluruhan. Misalnya dalam pembaptisan bayi. Pastor menyampaikan beberapa pertanyaan dan penjelasan, memperlihatkan lilin, membaui dengan dupa, mengecapkan dengan garam dan memolesi minyak suci kepada bayi yang tentu saja sama sekali tidak dipahami oleh si bayi, namun oleh para sponsor.&lt;br /&gt;Dalam perjamuan kudus, umat berkesempatan melihat warna-warni jubah imam, mengendus asap dupa, mendengar dan menyanyikan nyanyian jemaat, dan mengecap serta merasai roti dan anggur. Umat juga mengalami berdiri, berjalan, duduk, berlutut. Semua itu menciptakan kesan akan mengalami Kristus.&lt;br /&gt;Seni ukir dan seni lukis serta manuskripsi berhiasan menampilkan kisah-kisah Alkitab secara indah dan ekspresif, sehingga umat dapat mengetahui dan mengenal isi Alkitab. Isi Alkitab ditampilkan dalam kesenian indah hasil karya para seniman besar. Tampilan materi-materi, dengan keindahannya tersebut, merupakan alat peraga pembinaan. Hasilnya, jemaat masa lalu di dalam keserbaterbatasan sarana pendidikan (ketiadaan buku liturgi dan nyanyian jemaat) dan pendidikan (buta aksara) dibanding zaman kini, lebih cenderung mengenal isi Alkitab dan berbudaya.&lt;br /&gt;Arsitektur gereja, baik ekterior maupun interior, dibangun dengan makna-makna simbolis yang indah dan mengesankan. Sekalipun ada alasan-alasan lain, namun keagungan dan kemegahannya mengesankan siapa pun yang beribadah akan Allah yang penuh keagungan. Keheningan ditampilkan dengan menata letak tempat umat, alos, naos, bima, altar, dan mimbar dalam ukuran proporsional sehingga tetap ada jarak dan jeda antara satu perabot dengan perabot lain.&lt;br /&gt;Yang ingin disampaikan adalah bahwa tidak segala sesuatu dalam iman Kristen mampu dijabarkan melulu ke dalam ungkapan-ungkapan rasional dan verbal. Pengalaman, pengendusan, dan jamahan dalam ibadah turut mengajarkan umat mengalami dan mendalami misteri ilahi.&lt;br /&gt;Reformator dengan busana akademisnya menambah penguatan dimensi edukasi dalam ibadah dengan menekankan pengajaran. Yang dimaksud pengajaran oleh Reformator adalah pembacaan Alkitab dan pengajaran. Namun konflik dengan Gereja Roma waktu menyebabkan liturgi menjadi semakin menjauh satu sama lain. Akibatnya, simbolisasi yang merupakan alat peraga dan peragaan pembinaan umat dalam liturgi tereduksi menjadi hanya verbalisme, baik melalui khotbah maupun instruksi-instruksi liturgis. Itulah sebab di Indonesia, sejak nenek moyang kita menjadi Protestan dan beribadah, yang kita ketahui bahwa ibadah merupakan ibadah khotbah, bukan ibadah perayaan. Khotbah melulu yang menjadi sarana pembinaan umat, dan seringkali menjadi indoktrinasi.&lt;br /&gt;Untung, perkembangan ilmu liturgi dan kemajuan zaman mendorong Gereja-gereja kembali meningkatkan perayaan liturgi dengan menggunakan berbagai unsur pembinaan, walaupun masih jauh dari sempurna dan di sana-sini justru menimbulkan masalah-masalah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemanfaatan sarana pendidikan di masa kini dan kendalanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, pendidikan atau pembinaan umat melibatkan transformasi nilai, ketrampilan, dan pengetahuan. Hasilnya adalah perubahan dan pembaruan umat dan lembaga gereja. Tentu, dalam transformasi nilai, ketrampilan, dan pengetahuan penyelenggara menggunakan alat komunikasi. Hal ini juga berlakukan dalam mentransformasi pembinaan dalam liturgi.&lt;br /&gt;Beberapa alat komunikasi pembinaan yang ada di dalam liturgi adalah sebagai berikut: penyampaian kata-kata, penataan ruang, pemakaian buku dan lembaran, dan penampilan papan. Selain itu, beberapa alat komunikasi pembinaan yang belum ada di liturgi GKI antara lain: penampilan lukisan, peragaan tubuh, dan pencahayaan.&lt;br /&gt;Para petugas ibadah menyampaikan formula liturgi dengan kata-kata. Kata-kata menjadi kuat ketika disampaikan secara tepat waktu, volume, dan jarak, serta jumlah kata yang diucapkan. Misal instruksi: “Marilah kita ....” Tepat waktu dengan memperhatikan jeda: tidak terlalu cepat atau terlalu lambat masuk, baik setelah saat hening, nyanyian, dan doa. Demikian pula dengan mengucapkan doa atau informasi pembacaan Alkitab secara jelas dan tidak terburu.&lt;br /&gt;Makna kata-kata menjadi berarti ketika diucapkan dengan ketepatan volume. Terlalu keras mengucapkan: “Marilah berdoa” akan membuyarkan suasana doa, terlalu lembut menginformasi: “Pembacaan kitab ...” akan menghambat sampainya informasi.&lt;br /&gt;Jarak bicara mempertunjukkan kualitas interaksi dan nilai hubungan. Jarak mimbar yang terlalu jauh dari umat menghambat jalur komunikasi. Jarak mimbar yang terlalu dekat mengikis suasana takzim.&lt;br /&gt;Kepada setiap pemimpin liturgi yang bertugas menyampaikan kata-kata hendaknya menggunakan jumlah kata secara pas. Jika diperlukan 10 kata, tidak perlu mengucapkan 50 kata (cerewet) atau 2 kata (malas bicara). Pemimpin liturgi harus dapat membedakan antara doa dan khotbah atau pengumuman. Sebaliknya, tidak mereduksi “dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus,” dengan “dalam nama Tritunggal” atau “dalam nama-Mu,” karena membuyarkan keagungan liturgi.&lt;br /&gt;Komunikasi dengan kata-kata akan tercapai baik apabila disampaikan secara proporsional dan efektif.&lt;br /&gt;GKI belum memiliki panduan untuk menata ruang ibadah. Penyelenggara ibadah biasanya melihat, meniru, atau menjiplak penempatan mimbar, altar, kursi para petugas di Jemaat-jemaat GKI, tanpa evaluasi atau koreksi. Penataan ruang yang proporsional menciptakan kesan mandala (= lingkaran menuju konsentrasi sentrum), memberi keheningan, membangun rasa hormat dan kagum, menyegarkan, cukup tempat berprosesi, dan ketajaman suara.&lt;br /&gt;Tentangan terhadap pemakaian buku dan lembaran adalah lingkungan hidup, namun bukan berarti kita meniadakannya sama sekali. Penghematan pemakaian kertas, saya sangat mendukung. Namun kata-kata, LCD dan komputer tidak dapat menggantikan sepenuhnya peran buku dan lembaran. Sikap tubuh laksana berdoa dalam bernyanyi tidak terpenuhi melalui tayangan LCD. Sebaliknya, ketergantungan penuh pada buku dan lembaran liturgi – juga pada LCD – akan menyebabkan perayaan liturgi menjadi tidak hidup, karena umat terpaku menatap lembaran ketimbang interaksi. Pencatatan instruksi yang sangat detail hanya akan menciptakan keserempakan yang otomatis, namun tidak mencerdaskan seseorang dalam kehendak berkreativitas.&lt;br /&gt;Alternatif dalam kapasitas terbatas untuk lembaran liturgi adalah penampilan papan. Urutan liturgi yang meliputi daftar nyanyian dan leksionari dapat dicantumkan di papan tersebut. Penempatan papan yang terlihat dari semua sudut dan pemuatan semua informasi daftar secara berurutan (bukan berdasarkan kelompok nyanyian dan kelompok bacaan) merupakan pengganti lembar liturgi yang hemat.&lt;br /&gt;Tantangan Jemaat-jemaat Gereja-gereja Protestan di Indonesia ke depan adalah penampilan lukisan, peragaan tubuh, dan pencahayaan. Pemakaian hal-hal tersebut yang proporsional akan menjadi sarana pembinaan yang efektif bagi umat dan gereja. Pemakaiannya bukan hanya demi kekaguman, tetapi juga penghayatan akan kedalaman misteri Ilahi dalam ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyadaran dan wacana pemakaian sarana komunikasi untuk pembinaan dalam ibadah bukan tanpa kendala. Pada zaman modern ini, Gereja-gereja Protestan di Indonesia masih menerapkan metode edukasi abad ke-19 yang melulu menitikberatkan rasionalisme. Tampilan ibadah kita menggunakan alat canggih dan serba elektronik, namun tidak berarti lebih maju di dalam kualitas. Yang saya maksud adalah alat-alat peraga, peragaan, dan materi yang digunakan dalam ibadah tereduksi ke dalam bentuk verbalisme.&lt;br /&gt;Di luar gereja, fasilitas pendidikan mengalami kemajuan besar. Sepanjang sejarahnya,  Gereja bersifat akomodatif terhadap unsur-unsur luar. Tak jarang, fasilitas pendidikan tersebut dibawa masuk ke dalam ibadah, semisal: papan tulis, buku-buku, LCD, dsb. Fasilitas tersebut menjadi tepat guna hanya jika digunakan secara proporsional.&lt;br /&gt;Papan tulis sebagai menyampai informasi nomor-nomor nyanyian jemaat dan daftar perikop yang dibaca, lembar warta jemaat dengan fungsi menginformasikan aktivitas kehidupan gereja, akan menjadi amburadul jika tetap ditumpangtindihkan dengan verbalisme informasi lisan. Belum lagi penyampaian informasi pembacaan Alkitab yang diucapkan beberapa kali untuk hal yang sama. Perayaan ibadah bukan menjadi semakin elok, namun laksana orang kekenyangan makan, umat pun kekenyangan informasi. Penyelenggara ibadah seringkali meragukan kemampuan penyampaian informasi dan intelektualitas umat masa modern ini.&lt;br /&gt;Buku nyanyian jemaat dan Alkitab sebagai penerus pengajaran. Isi Alkitab adalah firman Tuhan. Petugas pembaca menyampaikan isi Alkitab sehingga isinya bukan hanya catatan mati, tetapi menjadi kisah yang hidup. Syair nyanyian jemaat menyampaikan pengajaran yang membersaksikan isi Alkitab. Pemanfaatan buku nyanyian dan Alkitab secara optimal merupakan salah satu cara meraup sebanyak dan selengkap mungkin dan mentransformasikan pengajaran tersebut di dalam ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagaimana ujung tombak berhasilnya pendidikan adalah guru, demikian pula ujung tombak pembinaan dalam ibadah adalah penyelenggara dan para petugas liturgi. Pada mereka, baik yang berperan di depan umat maupun yang di belakang layar, perlu kesadaran bahwa perayaan ibadah merupakan:&lt;br /&gt;1.      Wahana pertemuan umat terbanyak dan beragam dalam semua aktivitas Jemaat. Ini “kesempatan emas” sekaligus tantangan untuk mengajar dengan efektif.&lt;br /&gt;2.      Kesempatan otomatis berlangsungnya transformasi pembinaan umat dan lembaga gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti keberhasilan suatu proses pendidikan adalah kecerdasan dan perubahan perilaku nara didik. Nara didik ibadah adalah umat dan lembaga gereja. Peribadahan kita membuat jemaat cerdas atau tidak, ukurlah sampai “tingkat” berapakah kecerdasan jemaat kita dalam beribadah?&lt;br /&gt;-             Berapakah jumlah nyanyian dari satu buku nyanyian yang sudah dinyanyikan?&lt;br /&gt;-             Bagaimana sikap umat terhadap nyanyian-nyanyian baru? Bandingkan sikap sekarang dengan sikap 10 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;-             Seberapakah tingkat ketergantungan jemaat dalam melakukan peragaan ibadah: duduk dan berdiri? Selalu menunggu instruksi atau mandiri? Pasif atau aktif?&lt;br /&gt;-             Dalam 10 tahun ini, apakah ada pengurangan jumlah keterlambatan jemaat yang tiba dan memasuki ruang ibadah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tantang yang dihadapi oleh penyelenggara ibadah jika hendak mengoptimalkan ibadah sebagai sarana pembinaan umat dan lembaga gereja.  ®&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;*) Ini adalah makalah untuk Pembinaan Pejabat Gereja GKI Klasis Jakarta I, di Wisma Shalom, Cimahi, 27 Mei 2008.&lt;/span&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/05/kebaktian-minggu.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-1893987975322486445</guid><pubDate>Tue, 22 Apr 2008 12:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-28T10:11:45.218+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tata liturgi</category><title></title><description>&lt;div&gt;LITURGI GEREJA KITA&lt;br /&gt;Upaya Memperbaiki Kekeliruan Pemahaman dan Praktek Liturgi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat liturgi jemaat&lt;br /&gt;Salah satu acuan teologis dari salah satu Gereja Baptis di Jakarta (Anggaran Dasar Gereja Baptis Getsemani Bab X pasal 16) menuliskan bahwa ada dua upacara agung, yaitu: upacara pembaptisan dan upacara perjamuan Tuhan (tanpa menyebut ibadah hari Minggu dalam bab tersebut). Lantas di manakah ibadah hari Minggu? Bukankah baptisan dan perjamuan kudus tidak dapat terlaksana di luar ibadah jemaat atau kebaktian hari Minggu? Anggaran Dasar Gereja tersebut memang terasa aneh, sebab ibadah hari Minggu tidak dimasukkan ke dalam salah satu ritual agung sebagaimana halnya persepsi banyak orang selama ini. Lalu, apakah pandangan liturgi hari Minggu bagi Gereja Baptis tersebut? Rupanya, liturgi hari Minggu dimasukkan dan telah disebutkan sebelumnya ke dalam kategori pertemuan (Bab IX pasal 14). Liturgi hari Minggu disebut sebagai salah satu pertemuan oleh Gereja Baptis, di samping kebaktian doa, persekutuan-persekutuan lainnya, dsb. Salahkah teologi Gereja Baptis tersebut?&lt;br /&gt;Tidak! Teologi tersebut justru mengingatkan kebanyakan Gereja dan pelaksana liturgi dewasa ini menyadari bahwa liturgi atau kebaktian pada intinya adalah pertemuan. Liturgi bukan ritual semata, upacara, atau “benda suci” yang diturunkan dari sorga, sehingga tidak bisa berubah titik komanya sama sekali sepanjang segala abad dan tempat. Liturgi juga bukan upacara yang dilaksanakan menurut aturan kaku “entah siapa” dengan urutan A-B-C-... sebagaimana tertulis di selembar kertas ibadah. Liturgi pada hakikatnya adalah pertemuan.&lt;br /&gt;Liturgi adalah pertemuan umat untuk merayakan peristiwa Kristus. Dengan pemahaman tersebut, umat diingatkan bahwa interaksi dan tegur sapa dapat terjadi di dalam liturgi; bukan melulu di luar liturgi. Dengan demikian komunikasi yang manusiawi, namun tetap khidmat, menjadi inti dari pertemuan ibadah hari Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liturgi menurut arti etimologi&lt;br /&gt;Liturgi berasal dari kata-kata asing yang kemudian diindonesiakan. Kata-kata asing tersebut berasal dari Yunani (leitourgia, synaxis, eucharistia), Latin (officium, servus, missa), Ibrani (avodah), Sansekerta (bhakti), Inggris (worthyship), Jerman atau Belanda (Gottesdienst, dienst). Semua kata tersebut mempunyai arti yang sama untuk menunjuk pada perayaan ibadah. Jadi tak perlu merancukan penggunaannya dalam penulisan biasa. Hingga kini masih sering dijumpai kesalahan pemahaman yang terungkap dalam penulisan di judul kertas atau buku liturgi khusus atau di mana pun, misalnya: Liturgi Ibadah Minggu, Liturgi Kebaktian Natal, dsb. Hal tersebut sewajarnyalah dihentikan, dan cukuplah menulis Liturgi Paska, Kebaktian Minggu, Ibadah Natal pada Buku-buku atau lembar liturgi kita.&lt;br /&gt;Setelah pemahaman etimologi, kini pemahaman tentang liturgi itu sendiri. Seringkali jemaat dan Majelis Jemaat memahami bahwa liturgi adalah tata ibadah atau bahkan kertas ibadah. Ada pengertian umum bahwa Gereja “A” tidak memakai liturgi untuk ibadahnya, sedangkan Gereja “B” memakainya. Pengertian tersebut perlu diluruskan. Liturgi bukan hanya tata ibadah, melainkan perayaan ibadah seluruhnya adalah liturgi. Oleh karena itu, melaksanakan liturgi adalah menyiapkan seluruh pernak-pernik yang terlibat di dalam perayaan liturgi itu, semisal: tata waktu, tata musik, tata bacaan, tata ruang, tata ornamentasi, tata furnitur, tata busana, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi di dalam pertemuan liturgi&lt;br /&gt;Interaksi dalam liturgi sudah terjadi sejak pertemuan tersebut dilaksanakan, namun seringkali tidak disadari sehingga pertemuan liturgi menjadi sangat tidak hangat. Evaluasikan bagaimana kertas-kertas liturgi yang biasa disebut “liturgi khusus” dan seragam; dibuat oleh sinode, klasis, atau PGI. Gagasannya baik, tetapi prakteknya justru menghambat komunikasi karena terlalu detail. Jemaat terpaku untuk melulu membaca kertas liturgi itu selama kebaktian berlangsung. Lagipula, kebiasaan-kebiasaan praktis di jemaat seringkali terhambat karena harus seragam secara detail menurut kertas liturgi tersebut.&lt;br /&gt; Beberapa unsur liturgi yang langsung menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Salam, sebagaimana assalamalaikum (damai bagimu) dalam Islam, merupakan sapaan: “Salam sejahtera, Tuhan besertamu” (vobiscum Dominum, Lord be with you) yang diucapkan oleh seseorang yang hendak berbicara kepada seseorang (orang-orang) lain dalam suatu pertemuan. Jadi salam tersebut adalah salam antar manusia. Sehingga menjadi tidak komunikatif kalau pengucapannya dibuat begitu rupa sehingga nampaknya salam itu adalah salam dari Tuhan kepada jemaat. Oleh karenanya, tata gerak angkat tangan dalam salam adalah bukan penahbisan; siapa pun yang mengucapkan salam, ia memberikan tanda tersebut. Juga tidak wajar apabila salam tersebut dibalas dengan (nyanyian) ”Amin”. Sebab tidak ada orang yang membalas sapaan salam dari temannya dengan amin atau “ya”, melainkan dengan salam pula (alaikum salam, et cum spiritu tuo, and also with you, dan besertamu juga). Atau, juga akan menjadi kaku jika pengucapan salam hanya dibatasi di depan atau hanya diucapkan oleh Pelayan Firman (apalagi hanya Pendeta), sebab – belajar dari Islam – siapa pun yang hendak bicara (tidak harus di awal pertemuan!) di depan umum, baik Pendeta maupun bukan, mengucapkan salam lebih dahulu.&lt;br /&gt;Tata ruang pertemuan liturgi seringkali justru menjadi penghambat interaksi umat. Arsitektur Gereja konvensional sebagaimana kita kenal dari sejarah gereja, yaitu: basilika, romanesque, gothic, dsb., adalah berbentuk memanjang. Orang-orang duduk dengan menatap punggung orang lain di depannya, dan sambil melongok-longok melihat para petugas liturgi yang berada jauh di depan (sekitar 20 – 70 meter) sehingga terlihat kecil-kecil. Gaya arsitektur satu arah (mungkin bahkan hanya ½ arah) itulah yang selama berabad-abad dipahami oleh para perancang dan pembangun ruang gereja. pola dasar bahwa ruang gereja harus berbentuk memanjang tersebut seolah-olah turun dari langit, sehingga tidak boleh berubah di zaman modern ini sekalipun. Padahal gaya arsitektur tersebut sudah sangat tidak komunikatif, lagipula sudah ada yang baru. Arsitektur modern lebih mengarah kepada round table meeting, persekutuan umat berkumpul di sekitar meja perjamuan (altar). Altar tidak lagi berada di ujung ruang liturgi, dan mimbar tidak lagi dibuat segede dan setinggi mungkin sehingga sangat tidak proporsional. Pandangan bahwa mimbar di Gereja-gereja Protestan harus besar dan tinggi sebagai tanda pengutumaaan pelayanan Firman Tuhan, adalah tidak objektif. Sebab mimbar (berfungsi sebagai tempat meletakkan buku) tidak ada hubungannya dengan pemberitaan Firman.&lt;br /&gt;Instruksi verbal. Anehnya di dalam liturgi Gereja-gereja kita, hal-hal yang semestinya tidak dikomunikasikan secara verbal justru harus menjadi instruksi verbal. Akibatnya, pertemuan liturgi seringkali berisi perintah-perintah atau “tertib acara” untuk melakukan tata gerak berdiri, duduk, bernyanyi, yakni hal-hal yang bercorak simbol. Komunikasi jadi terhambat karena umat melulu “tunggu perintah”, namun tidak ada gairah dalam menghayati dan merayakan peristiwa Kristus. Tertib dan seragam memang, tetapi tidak hidup.&lt;br /&gt;Simbol. Di atas semua unsur dalam perayaan liturgi, simbol adalah alat komunikasi inti. Simbol dalam liturgi laksana darah dalam tubuh; tanpa simbol, maka liturgi menjadi mati. Ketika merayakan ibadah, kita berada di dunia simbol. Artinya, kita sendiri hadir ketika peristiwa Kristus dan para leluhur Israel beberapa ribu tahun lalu. Mana ada sarana lain yang mampu membuat kita sendiri hadir pada peristiwa ribuan tahun lalu di Palestina, kecuali dengan “jembatan” simbol?&lt;br /&gt;Sarana-sarana simbol (jembatan dua subjek, tempat, dan masa) dapat berupa apa saja, antara lain:&lt;br /&gt;1.      Benda, misal: roti dan anggur mengingatkan kita pada tubuh dan darah Kristus yang diserahkan, Alkitab menyimbolkan firman, dan nyanyian yang mengisahkan Alkitab dalam liturgi.&lt;br /&gt;2.      Tanah atau tempat, misal: tanah suci dalam rangka tapak tilas peristiwa 2000 tahun lalu; makam martir atau santo.&lt;br /&gt;3.      Gerakan, misal: prosesi sebagai simbol perarakan umat Israel menuju negeri perjanjian, perziarahan gereja.&lt;br /&gt;4.      Tindakan atau sikap, misal: membaca Alkitab dalam rangka menghadirkan kembali peristiwa tersebut, menyanyikan nyanyian jemaat, sikap berdoa.&lt;br /&gt;5.      Waktu, misal: hari Minggu, Paska fajar, Natal malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Gereja-gereja Protestan di Indonesia, simbol dalam liturgi kurang mendapat tempat secara proporsional. Bahkan simbol seringkali dianggap pengganggu liturgi; orang biasa berkeluh: “Ah itu khan cuma simbol.” Padahal, simbol adalah inti liturgi. Pengaruh historis yang seringkali menyesatkan kita telah memberikan pemahaman keliru bahwa orang Protestan bersikap anti simbol, sebab simbol adalah milik orang Katolik. Memang dahulu kala di zaman Reformasi, Calvin dan kaum Calvinis serta penganut Calvinisme dibayang-bayangi oleh sikap anti-Katolik. Namun kaum Calvinis kemudian mengikuti sikap Calvin ini secara membabi buta, ekstrem, dan keliru dengan membuang semua simbol sebab dianggap berbau Katolik. Kebetulan, Gereja Roma Katolik – sekalipun bukan satu-satunya denominasi Kristen – banyak menggunakan simbol dalam liturgi. Namun kaum Calvinis secara ekstrem membuang semua hal tersebut, sehingga simbol-simbol yang lazim (padahal bukan dogma!) digunakan di Gereja Roma Katolik juga ikut ditolak. Itulah akibatnya, Gereja-gereja Protestan miskin simbol. Penggunaan dan menambah sedikit saja simbol dapat dicurigai kekatolik-katolikan. Padahal, jelas kita memang salah membaca Calvin dan sikap tersebut merugikan kita sendiri. semisal: nyanyian jemaat dinyanyikan dengan tidak utuh, duduk-berdiri melulu dilakukan dengan instruksi verbal, terlalu banyak instruksi verbal, kebaktian dan Firman Tuhan hanya dipahami “terbatas” pada khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Jadi bagaimana agar liturgi Gereja kita menjadi hidup, tidak kaku? Apakah upayanya agar jemaat kita (atau Gereja) tidak merasa terancam dengan munculnya fenomena Gereja-gereja dengan pola pemasaran modern (good marketing) di kota-kota besar dewasa ini? Jawabnya – menurut hemat saya – adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1)             Libatkan anggota jemaat dalam penyusunan liturgi. Sudah bukan zamannya lagi liturgi dipegang hanya oleh Pendeta atau pejabat Gereja. Gerakan liturgi justru mendayakan anggota jemaat sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;2)             Memperbaiki liturgi kita secara mendasar. Bukan meniru, atau mengganti gaya kita berliturgi, tetapi memperbaiki kerusakannya. Hentikan cara coba-coba (berkedok eksperimen), tetapi memperbaiki secara sistematis dan ilmiah.&lt;br /&gt;3)             Kembalikan pertemuan liturgi dengan memberperankan simbol-simbol secara proporsional. Kita tidak dapat lagi bersikap anti simbol sebab simbol adalah salah satu kebutuhan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) makalah seminar Liturgi oleh Yayasan Komunikasi Massa (YAKOMA) di Jakarta 14 Maret/19 Juni 2003&lt;/div&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/04/liturgi-gereja-kita-upaya-memperbaiki.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-7622557148067033939</guid><pubDate>Tue, 22 Apr 2008 12:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-22T19:24:24.878+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tata liturgi</category><title>LITURGI GEREJA KITA</title><description>&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;Upaya Memperbaiki Kekeliruan Pemahaman dan Praktek Liturgi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakikat liturgi jemaat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu acuan teologis dari salah satu Gereja Baptis di Jakarta (Anggaran Dasar Gereja Baptis Getsemani Bab X pasal 16) menuliskan bahwa ada dua upacara agung, yaitu: upacara pembaptisan dan upacara perjamuan Tuhan (tanpa menyebut ibadah hari Minggu dalam bab tersebut). Lantas di manakah ibadah hari Minggu? Bukankah baptisan dan perjamuan kudus tidak dapat terlaksana di luar ibadah jemaat atau kebaktian hari Minggu? Anggaran Dasar Gereja tersebut memang terasa aneh, sebab ibadah hari Minggu tidak dimasukkan ke dalam salah satu ritual agung sebagaimana halnya persepsi banyak orang selama ini. Lalu, apakah pandangan liturgi hari Minggu bagi Gereja Baptis tersebut? Rupanya, liturgi hari Minggu dimasukkan dan telah disebutkan sebelumnya ke dalam kategori pertemuan (Bab IX pasal 14). &lt;span style=&quot;color:#009900;&quot;&gt;Liturgi hari Minggu disebut sebagai salah satu pertemuan&lt;/span&gt; oleh Gereja Baptis, di samping kebaktian doa, persekutuan-persekutuan lainnya, dsb. Salahkah teologi Gereja Baptis tersebut?&lt;br /&gt;Tidak! Teologi tersebut justru mengingatkan kebanyakan Gereja dan pelaksana liturgi dewasa ini menyadari bahwa liturgi atau kebaktian pada intinya adalah pertemuan. Liturgi bukan ritual semata, upacara, atau “benda suci” yang diturunkan dari sorga, sehingga tidak bisa berubah titik komanya sama sekali sepanjang segala abad dan tempat. Liturgi juga bukan upacara yang dilaksanakan menurut aturan kaku “entah siapa” dengan urutan A-B-C-... sebagaimana tertulis di selembar kertas ibadah. &lt;span style=&quot;color:#009900;&quot;&gt;Liturgi pada hakikatnya adalah pertemuan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Liturgi adalah pertemuan umat untuk merayakan peristiwa Kristus. Dengan pemahaman tersebut, umat diingatkan bahwa interaksi dan tegur sapa dapat terjadi di dalam liturgi; bukan melulu di luar liturgi. Dengan demikian komunikasi yang manusiawi, namun tetap khidmat, menjadi inti dari pertemuan ibadah hari Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi di dalam pertemuan liturgi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Interaksi dalam liturgi sudah terjadi sejak pertemuan tersebut dilaksanakan, namun seringkali tidak disadari sehingga pertemuan liturgi menjadi sangat tidak hangat. Evaluasikan bagaimana kertas-kertas liturgi yang biasa disebut “liturgi khusus” dan seragam; dibuat oleh sinode, klasis, atau PGI. Gagasannya baik, tetapi prakteknya justru menghambat komunikasi karena terlalu detail. Jemaat terpaku untuk melulu membaca kertas liturgi itu selama kebaktian berlangsung. Lagipula, kebiasaan-kebiasaan praktis di jemaat seringkali terhambat karena harus seragam secara detail menurut kertas liturgi tersebut.&lt;br /&gt; Beberapa unsur liturgi yang langsung menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Salam, sebagaimana &lt;em&gt;assalamalaikum&lt;/em&gt; (damai bagimu) dalam Islam, merupakan sapaan: “Salam sejahtera, Tuhan besertamu” (&lt;em&gt;vobiscum Dominum&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Lord be with you&lt;/em&gt;) yang diucapkan oleh seseorang yang hendak berbicara kepada seseorang (orang-orang) lain dalam suatu pertemuan. Jadi salam tersebut adalah salam antar manusia. Sehingga menjadi tidak komunikatif kalau pengucapannya dibuat begitu rupa sehingga nampaknya salam itu adalah salam dari Tuhan kepada jemaat. Oleh karenanya, tata gerak angkat tangan dalam salam adalah bukan penahbisan; siapa pun yang mengucapkan salam, ia memberikan tanda tersebut. Juga tidak wajar apabila salam tersebut dibalas dengan (nyanyian) ”Amin”. Sebab tidak ada orang yang membalas sapaan salam dari temannya dengan amin atau “ya”, melainkan dengan salam pula (&lt;em&gt;alaikum salam, et cum spiritu tuo, and also with you&lt;/em&gt;, dan besertamu juga). Atau, juga akan menjadi kaku jika pengucapan salam hanya dibatasi di depan atau hanya diucapkan oleh Pelayan Firman (apalagi hanya Pendeta), sebab – belajar dari Islam – siapa pun yang hendak bicara (tidak harus di awal pertemuan!) di depan umum, baik Pendeta maupun bukan, mengucapkan salam lebih dahulu.&lt;br /&gt;Tata ruang pertemuan liturgi seringkali justru menjadi penghambat interaksi umat. Arsitektur Gereja konvensional sebagaimana kita kenal dari sejarah gereja, yaitu: &lt;em&gt;basilika, romanesque, gothic&lt;/em&gt;, dsb., adalah berbentuk memanjang. Orang-orang duduk dengan menatap punggung orang lain di depannya, dan sambil melongok-longok melihat para petugas liturgi yang berada jauh di depan (sekitar 20 – 70 meter) sehingga terlihat kecil-kecil. Gaya arsitektur satu arah (mungkin bahkan hanya ½ arah) itulah yang selama berabad-abad dipahami oleh para perancang dan pembangun ruang gereja. pola dasar bahwa ruang gereja harus berbentuk memanjang tersebut seolah-olah turun dari langit, sehingga tidak boleh berubah di zaman modern ini sekalipun. Padahal gaya arsitektur tersebut sudah sangat tidak komunikatif, lagipula sudah ada yang baru. Arsitektur modern lebih mengarah kepada &lt;em&gt;round table meeting&lt;/em&gt;, persekutuan umat berkumpul di sekitar meja perjamuan (altar). Altar tidak lagi berada di ujung ruang liturgi, dan mimbar tidak lagi dibuat segede dan setinggi mungkin sehingga sangat tidak proporsional. Pandangan bahwa mimbar di Gereja-gereja Protestan harus besar dan tinggi sebagai tanda pengutumaaan pelayanan Firman Tuhan, adalah tidak objektif. Sebab mimbar (berfungsi sebagai tempat meletakkan buku) tidak ada hubungannya dengan pemberitaan Firman.&lt;br /&gt;Instruksi verbal. Anehnya di dalam liturgi Gereja-gereja kita, hal-hal yang semestinya tidak dikomunikasikan secara verbal justru harus menjadi instruksi verbal. Akibatnya, pertemuan liturgi seringkali berisi perintah-perintah atau “tertib acara” untuk melakukan tata gerak berdiri, duduk, bernyanyi, yakni hal-hal yang bercorak simbol. Komunikasi jadi terhambat karena umat melulu “tunggu perintah”, namun tidak ada gairah dalam menghayati dan merayakan peristiwa Kristus. Tertib dan seragam memang, tetapi tidak hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Simbol adalah sarana komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua unsur dalam perayaan liturgi, simbol adalah alat komunikasi inti. Simbol dalam liturgi laksana darah dalam tubuh; tanpa simbol, maka liturgi menjadi mati. Ketika merayakan ibadah, kita berada di dunia simbol. Artinya, kita sendiri hadir ketika peristiwa Kristus dan para leluhur Israel beberapa ribu tahun lalu. Mana ada sarana lain yang mampu membuat kita sendiri hadir pada peristiwa ribuan tahun lalu di Palestina, kecuali dengan “jembatan” simbol?&lt;br /&gt;Sarana-sarana simbol (jembatan dua subjek, tempat, dan masa) dapat berupa apa saja, antara lain:&lt;br /&gt;1.      Benda, misal: roti dan anggur mengingatkan kita pada tubuh dan darah Kristus yang diserahkan, Alkitab menyimbolkan firman, dan nyanyian yang mengisahkan Alkitab dalam liturgi.&lt;br /&gt;2.      Tanah atau tempat, misal: tanah suci dalam rangka tapak tilas peristiwa 2000 tahun lalu; makam martir atau santo.&lt;br /&gt;3.      Gerakan, misal: prosesi sebagai simbol perarakan umat Israel menuju negeri perjanjian, perziarahan gereja.&lt;br /&gt;4.      Tindakan atau sikap, misal: membaca Alkitab dalam rangka menghadirkan kembali peristiwa tersebut, menyanyikan nyanyian jemaat, sikap berdoa.&lt;br /&gt;5.      Waktu, misal: hari Minggu, Paska fajar, Natal malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Gereja-gereja Protestan di Indonesia, simbol dalam liturgi kurang mendapat tempat secara proporsional. Bahkan simbol seringkali dianggap pengganggu liturgi; orang biasa berkeluh: “Ah itu khan cuma simbol.” Padahal, simbol adalah inti liturgi. Pengaruh historis yang seringkali menyesatkan kita telah memberikan pemahaman keliru bahwa orang Protestan bersikap anti simbol, sebab simbol adalah milik orang Katolik. Memang dahulu kala di zaman Reformasi, Calvin dan kaum Calvinis serta penganut Calvinisme dibayang-bayangi oleh sikap anti-Katolik. Namun kaum Calvinis kemudian mengikuti sikap Calvin ini secara membabi buta, ekstrem, dan keliru dengan membuang semua simbol sebab dianggap berbau Katolik. Kebetulan, Gereja Roma Katolik – sekalipun bukan satu-satunya denominasi Kristen – banyak menggunakan simbol dalam liturgi. Namun kaum Calvinis secara ekstrem membuang semua hal tersebut, sehingga simbol-simbol yang lazim (padahal bukan dogma!) digunakan di Gereja Roma Katolik juga ikut ditolak. Itulah akibatnya, Gereja-gereja Protestan miskin simbol. Penggunaan dan menambah sedikit saja simbol dapat dicurigai kekatolik-katolikan. Padahal, jelas kita memang salah membaca Calvin dan sikap tersebut merugikan kita sendiri. semisal: nyanyian jemaat dinyanyikan dengan tidak utuh, duduk-berdiri melulu dilakukan dengan instruksi verbal, terlalu banyak instruksi verbal, kebaktian dan Firman Tuhan hanya dipahami “terbatas” pada khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jadi bagaimana agar liturgi Gereja kita menjadi hidup, tidak kaku? Apakah upayanya agar jemaat kita (atau Gereja) tidak merasa terancam dengan munculnya fenomena Gereja-gereja dengan pola pemasaran modern (&lt;em&gt;good marketing&lt;/em&gt;) di kota-kota besar dewasa ini? Jawabnya – menurut hemat saya – adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1)             Libatkan anggota jemaat dalam penyusunan liturgi. Sudah bukan zamannya lagi liturgi dipegang hanya oleh Pendeta atau pejabat Gereja. Gerakan liturgi justru mendayakan anggota jemaat sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;2)             Memperbaiki liturgi kita secara mendasar. Bukan meniru, atau mengganti gaya kita berliturgi, tetapi memperbaiki kerusakannya. Hentikan cara coba-coba (berkedok eksperimen), tetapi memperbaiki secara sistematis dan ilmiah.&lt;br /&gt;3)             Kembalikan pertemuan liturgi dengan memberperankan simbol-simbol secara proporsional. Kita tidak dapat lagi bersikap anti simbol sebab simbol adalah salah satu kebutuhan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;*) makalah seminar Liturgi oleh Yayasan Komunikasi Massa (YAKOMA) di Jakarta 14 Maret dan 19 Juni 2003&lt;/span&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/04/liturgi-gereja-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-5322665979994073374</guid><pubDate>Fri, 04 Apr 2008 12:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-04T19:40:17.261+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgiologi</category><title>LITURGI, TEOLOGI PERAYAAN</title><description>&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;REFLEKSI ATAS DITETAPKANNYA LITURGI EKUMENIS&lt;br /&gt;DI GEREJA KRISTEN INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;I. &lt;strong&gt;Pendahuluan: &lt;em&gt;Anamensis&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;mimesis&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;koinonia&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman Kristen, liturgi atau ibadah adalah perayaan. Ibadah dilakukan bukan dalam pola pikir ritus atau penyembahan sebagaimana ada dalam agama lain (semisal agama Yahudi), melainkan perayaan. Kita beribadah karena merayakan karya Allah melalui peristiwa Kristus. Dalam perayaan itu terkandung unsur-unsur pengenangan (&lt;em&gt;anamnesis&lt;/em&gt;), peniruan (&lt;em&gt;mimesis&lt;/em&gt;), dan pertemuan (&lt;em&gt;koinonia&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Pengenangan (&lt;em&gt;anamnesis&lt;/em&gt;) adalah hal terpenting yang mencirikan ibadah Gereja. Tidak satu pun ibadah-ibadah gereja yang bukan mengenang peristiwa Kristus. Ibadah hari Minggu – sebelum Paska dirayakan tersendiri oleh gereja – mengenang Kristus bangkit; Natal mengenang Kristus lahir; Jumat Agung mengenang Kristus wafat. Dengan demikian, prakarsa terlaksananya ibadah adalah Allah sendiri, bukan manusia. Anamnesis ini mengkondisikan adanya perjumpaan antara Allah dan umat-Nya.&lt;br /&gt;Pengenangan akan Kristus bukan hanya terkait waktu, tetapi juga kata-kata atau kalimat. Perihal kata-kata yang menyampaikan pengenangan akan Kristus sejauh ini hanya ada di dalam Kitab Suci. Oleh karenanya, Alkitab berperan sangat penting dalam perayaan liturgi. Kata-kata pengenangan tersebut bukan hanya tertuang dalam pembacaan-pembacaan Alkitab, tetapi juga nyanyian, doa-doa, dan instruksi liturgis. Sedikitnya pemakaian kata-kata dari Alkitab mengindikasikan sedikitnya sebuah perayaan liturgi memiliki unsur anamnesis. Sebaliknya, banyaknya pemakaian kata-kata pribadi pengkhotbah dalam liturgi mengindikasinya sedikitnya perayaan liturgi tersebut mengandung unsur anamnesis.&lt;br /&gt;Peniruan (&lt;em&gt;mimesis&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;mimeomai&lt;/em&gt;: meniru, meneladani) adalah hal yang menandakan bahwa ibadah kita bukan ciptaan manusia semata. Ibadah berada pada jalur tradisi. Ia bukan bukan hanya mengikuti tradisi, tetapi juga menciptakan atau melahirkan tradisi. Ibadah gereja terbentuk melalui perjalanan sejarah dan dinamika zaman yang diawali dari peristiwa Kristus. Perjamuan kudus yang dirayakan oleh gereja adalah tiruan atau meneladan perjamuan malam yang Yesus lakukan bersama para murid. Yang ditiru bukan sekadar bentuknya – dalam hal ini tata cara bahkan tidak terlalu dipentingkan – melainkan pesan dan makna pembentukkannya.&lt;br /&gt;Sama dengan anamnesis, peniruan itu terwujud melalui tata gerak, kata-kata, dan doa-doa. Terutama tata gerak dan kata-kata, unsur-unsur tersebut – ironisnya sangat sedikit dalam kebiasaan praktek liturgi kita – menampakkan&lt;br /&gt;Pertemuan (&lt;em&gt;koinonia&lt;/em&gt;) adalah hal yang paling jarang ditekankan oleh gereja-gereja yang menekankan ritual dewasa kini, padahal ia merupakan unsur penting pada zaman gereja awal. Selain ritual, ibadah adalah pertemuan. Adanya salam, salam damai, dan komuni dalam liturgi merupakan bukti-bukti bahwa ibadah kita adalah sebuah pertemuan antara umat dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Gereja Kristen Indonesia dan perayaan liturgi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai Gereja yang ekumenis, GKI berjati diri dengan liturginya. Liturgi tidak jadi begitu saja namun muncul melalui proses historis yang cukup panjang. Selain itu, di dalam prsoes mensejarahkannya, liturgi GKI juga mengalami pasang surut pertentangan di dalam pembaruan demi pembaruan.&lt;br /&gt;Dalam 15-20 tahun belakangan ini semangat gerakan liturgis mulai mempengaruhi anggota jemaat Gereja Kristen Indonesia. Dampaknya adalah munculnya dorongan bagi pengambil keputusan dan pimpinan GKI untuk membarui liturgi. Pada mulanya, dorongan-dorongan atau desakan dari warga jemaat tersebut berupa saran dan usul, mulai dari obrolan ringan sehabis kebaktian, namun kemudian mulai terdengar keluhan-keluhan karena jemaat membandingkan liturgi GKI dengan liturgi kelompok lain. Orang-orang GKI memang “suka jajan”, baik ke sayap kanan maupun ke sayap kiri, sehingga merasakan sendiri perbedaan dan keberbagaian perayaan ibadah dalam tradisi Kristen. Berkatnya, GKI mulai menyadari adanya krisis identitas liturgi. Oleh karena itu, timbul dorongan untuk meneguhkan identitas dengan mengatasnamakan mencari liturgi GKI yang kontekstual.&lt;br /&gt;Hal krisis identitas liturgi GKI sebenarnya merupakan fenomena wajar. Beberapa kalangan mulai mengantisipasi akan adanya krisis identitas liturgi GKI sejak 25 tahunan lalu. Selain disebabkan oleh pertumbuhan Gereja-gereja “modern” dari Kharismatik dan pemunculan baru sejenis dengan gaya liturginya yang mengakrabi tekhnologi-elektronik, serta model seeker (pencari jiwa-jiwa baru) di mal-mal dan televisi, liturgi GKI sendiri merupakan “barang lama”. Liturgi GKI (sejak GKI Jabar, GKI Jateng, dan GKI Jatim) yang masih digunakan hingga kini kebanyakan adalah hasil terjemahan tahun 1960-an dari liturgi Gereja Reformasi Belanda. Terjemahan-terjemahan tersebut mengambil buku-buku liturgi Belanda sekitar 10-15 tahun sebelumnya. Sebagai ilustrasi: Buku Liturgi GKI Jabar yang diterbitkan oleh Tjioe Tjin Tjwan tahun 1967 mengambil dari &lt;em&gt;Diensboek voor de Nederlandse Hervormd Kerk&lt;/em&gt; tahun 1953.&lt;br /&gt;Sementara itu, selama hampir setengah abad ini, selain muncul berbagai model liturgi dari sayap kanan, juga telah terjadi beberapa kali revisi liturgi lama dari sayap kiri. Sekadar pembanding adalah Gereja Roma Katolik. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik di Indonesia membuat Umat Allah Bernyanyi (1971), Gema Hidup (1972), Madah Bakti (1980) yang kemudian direvisi menjadi Puji Syukur (1992). Minimal Gereja Roma Katolik melakukan empat kali revisi. Hal tersebut masih ditopang pula dengan munculnya beberapa Gereja Ortodoks di Indonesia dan revisi liturgi Anglican. Peningkatan gelombang pembaruan liturgi di Gereja-gereja ekumenis – masih kurang terjadi di GKI – melesat pesat dan semakin cepat setelah tahun 1970-an. Sementara GKI masih memusingkan diri dengan tempat yang tepat untuk doa syafaat, Gereja-gereja tersebut telah menerbitkan buku tentang tata busana liturgi dan menarikan liturgi.&lt;br /&gt;Dari sayap kanan, munculnya kelompok pantekostal dan seeker yang anti kemapanan liturgis dan organisasi bergereja, lahirnya pembaruan dalam tubuh Gereja-gereja Pantekosta dan Betel dengan gaya beribadah populer, memang menjadi ”serangan” tersendiri bagi GKI. Sekalipun kelompok-kelompok tersebut tidak menyerang GKI, GKI yang bergereja dengan gaya kemapanannya ini agak terusik juga dengan kehadiran mereka. Sementara GKI masih harus menyidangkan perubahan votum-salam (satu kesatuan) menjadi votum dan salam (terpisah) selama belasan tahun sejak tahun 1991, seeker dengan bebasnya mereduksi isi Mazmur-mazmur menjadi hanya puji-puja saja.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3rTgeiIlajSjVAcIXtFWqwr8XgBZprm1sKzvZ3h__ieM6FAXpUTjJZQ6DXd_hzfCsW1RcXLILm4_W5_SFny4dNJMdn3vpdHiEWt5aB00PJgSRTJIAaKS-dWe4CXzH1foP7Juwsjdn0Zrs/s1600-h/100_3409.jpg&quot;&gt;&lt;img id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5185368621191044690&quot; style=&quot;CURSOR: hand&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3rTgeiIlajSjVAcIXtFWqwr8XgBZprm1sKzvZ3h__ieM6FAXpUTjJZQ6DXd_hzfCsW1RcXLILm4_W5_SFny4dNJMdn3vpdHiEWt5aB00PJgSRTJIAaKS-dWe4CXzH1foP7Juwsjdn0Zrs/s200/100_3409.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;Prosesi dan bubuh abu dalam ibadah Rabu Abu di GKI (2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;strong&gt;III. Konteks Liturgi Gereja Kristen Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum “mencipta” liturgi GKI yang kontekstual, memahami konteks liturgi GKI adalah mutlak. Liturgi GKI, sebagaimana liturgi umumnya, tidak serta merta turun dari langit atau melakukan lompatan waktu. Liturgi GKI yang ada sekarang merupakan guliran sejarah yang panjang, baik sejarah GKI sendiri maupun sejarah tradisi dari mana GKI berasal. Oleh karena itu liturgi GKI tidak unik atau lain sama sekali jika dilihat dalam kerangka tradisi yang bergulir. Sikap terlalu mempertahankan keunikan atau keberbedaannya dengan tradisi-tradisi lain, alih-alih mempertahankan status quo berteologi dari abad ke-16, tidak lagi relevan berada di dalam semangat rindu membarui liturgi yang diucapkan di sana-sini.&lt;br /&gt;Konteks liturgi GKI berada dalam “rumah” alur liturgi Reformasi. Dari kesadaran alur ini, kita melakukan dua hal sekaligus, yaitu: 1) berjalan ke depan, dan 2) menoleh ke belakang untuk mengerti: ”&lt;em&gt;Koq&lt;/em&gt; orang GKI beribadahnya seperti ini, ya.” Berjalan ke depan dan menoleh ke belakang adalah metode yang harus dilakukan secara seimbang dalam mencari liturgi yang kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III.1. Menoleh ke belakang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Alur liturgi Reformasi berinduk pada liturgi Barat. Induk Liturgi Barat pada abad ke-16 adalah identik dengan Misa Roma. Suka tidak suka, warna kekatolik-katolikan lebih diresapi oleh orang-orang GKI dalam berliturgi ketimbang warna ketimur-timuran. Misalnya: hari Natal lebih diliturgikan dan dirayakan dengan meriah ketimbang Epifania; tata ruang memanjang lebih menjadi stereotipe ruang liturgi ketimbang bentuk setengah lingkar; ruang liturgi yang kosong lebih meresap ketimbang ruang penuh ikon.&lt;br /&gt;Adanya warisan sejarah ini tak elok dipungkiri. Alasannya, liturgi (termasuk liturgi GKI) tidak diciptakan, namun tercipta. Walaupun masih saja ada pihak-pihak yang mempertahankan dan mempertunjukkan sikap “anti kekatolik-katolikan”, namun membenarkan sikap tersebut berarti menghilangkan prosesi, votum, Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli, ritus baptisan air, perjamuan kudus, Mazmur-mazmur, nyanyian-nyanyian berjenis hymne, Natal, dan bahkan khotbah, dari liturgi GKI. Masakan kita ingin melakukan hal tersebut? Dengan kata lain, “darah” ritus Roma telah tercampur di dalam “darah” liturgi GKI.&lt;br /&gt;Setelah zaman Reformasi, akar-akar liturgi GKI berjalan ke depan seturut sejarah. Di antara banyaknya warna ritus abad ke-17 hingga ke-19, lahirlah tradisi berliturgi nenek moyang GKI dari induk liturgi-liturgi Calvinis atau liturgi Reformasi (&lt;em&gt;Reformed&lt;/em&gt;) dan bercampur di sana-sini dengan gaya liturgi Zwinglian. Menilik namanya, tentu liturgi tersebut memang berinduk dari liturgi Calvin abad ke-16. Namun apakah liturgi Calvinis dimaksud?&lt;br /&gt;Liturgi Calvinis merupakan perkembangan (atau kemunduran?) dari liturgi Calvin. Liturgi Calvin merupakan “anak tidak langsung” dari Misa Roma, yakni liturgi yang digunakan oleh Gereja Roma Katolik Abad-abad Pertengahan. Calvin (1509-1564) berkarya dan melayani di dua kota, yaitu: Jenewa (Swis) dan Strassburg (Perancis). Di dua kota itu, Calvin berkarya menerbitkan buku-buku liturgi pada tahun 1542 – kedua bukunya juga tidak seragam satu sama lain – dan menyusun 150 Mazmur Jenewa. Singkat kata, tradisi Calvinisme yang memang telah beraneka model dan banyak bagiannya yang mirip katolik itu kemudian berkembang ke Belanda, di mana gaya pietisme abad ke-17 dan kemudian rasionalisme abad ke-19 telah eksis di sana.&lt;br /&gt;Liturgi GKI pada tahun 1953 tersebut diambil (dengan terjemahan) dari salah satu tata cara kebaktian Gereja &lt;em&gt;Reformed&lt;/em&gt; Belanda awal abad ke-20. Tradisi &lt;em&gt;Reformed&lt;/em&gt; Belanda itulah yang kemudian menjadi gaya berliturgi di GKI pada masa awal sekali, yakni sebelum tahun 1950. Beribadah dengan tidak ramai, teratur tapi khidmat, hening tapi akrab, menyanyikan bait-bait hymne bersamaan dengan nyanyian personal-devosional, menggunakan satu alat musik pengiring, berkhotbah dengan menafsirkan secara setia satu perikop, memang merupakan gaya umum beribadah orang GKI sejak awal.&lt;br /&gt;Awal dekade 1960-an, mulai ada usaha lepas sedikit demi sedikit dari pengaruh liturgi Belanda. Itu pun didorong oleh munculnya liturgi Gereja-gereja seazas dalam semangat membuat liturginya sendiri, semisal: GPIB, GKJ, dan GKP. Mengapa tidak melirik liturgi Pantekostal yang waktu itu sedang marak? Dapat ditebak, orang GKI lebih sreg bergaya ibadah seperti Gereja-gereja ekumenis yang serumpun “Belanda” itu. Rumpun tersebut, ujung-ujung historisnya adalah katolik.&lt;br /&gt;Berdasarkan pemahaman historis tersebut, saya ingin katakan bahwa Gereja Kristen Indonesia bukan Gereja yang langsung turun dari sorga. Istilah sederhananya, GKI bukan Gereja “lompatan” dari Heidelberg abad ke-16/17 dengan meniadakan guliran tradisi sebelum dan sesudahnya. GKI lahir dan terbentuk dalam proses sejarah, demikian pula liturginya. Dari banyak “benang” tradisi dan warna liturgisnya, terjalinlah “pola” liturgi GKI. Liturgi terjemahan tahun 1960-an inilah yang hingga kini masih menjadi liturgi GKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III.2. Berjalan ke depan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berjalan ke depan yang dimaksud adalah perjalanan GKI setelah tahun 1970-an. Keinginan untuk menyatukan ketiga Sinode GKI Jabar, GKI Jateng, dan GKI Jatim, mulai menampakan benih-benihnya. Benih yang sangat awal yang dikerjakan dan dihasilkan oleh GKI kala itu adalah urusan liturgi, antara lain: pengakuan iman Rasuli, liturgi hari Minggu, dan buku nyanyian. Walaupun hasil-hasil tersebut masih diperbaiki hingga tahun 1990-an, namun langkah awal tersebut menunjukkan akan sikap teologis GKI. Penyatuan atau gerakan keesaan Gereja tak akan terwujud sempurna tanpa penyatuan liturgi.&lt;br /&gt;Di samping itu, semangat pembaruan liturgi mulai memasuki Indonesia. Bukan hanya Gereja Roma Katolik, tetapi juga Gereja-gereja Protestan di Indonesia mulai menggeliatkan teologi dan praktek liturginya. Tak salah jika dalam guliran sejarah tersebut GKI mulai menjadi gereja yang berada dalam sayap ekumenis. Pietisme dan personal-devosionalnya tetap ada, Reformed-nya juga ada, namun kepakkan sayap keras dari semangat ekumenis pun turut mendorong laju penyatuan GKI.&lt;br /&gt;Dengan demikian sebenarnya juga tepat pilihan mengambil liturgi ekumenis – bukan liturgi Pantekostal, bukan Ortodoks, dan bukan pula Katolik. Namun sayang dalam urusan liturgi, GKI berhenti pada awal dekade 1970-an itu. Beberapa tata cara dan formulanya – semisal liturgi sakramen-sakramen – bahkan sudah usang sejak seabad lalu. Memperdebatkan di mana dibacakan warta lisan dalam liturgi, mencari-cari alasan teologis tentang sisa bait nyanyian persembahan yang dinyanyikan setelah doa persembahan, membenarkan sikap tidak merayakan perjamuan kudus pada Paska, perjamuan kudus harus dilayankan tidak lebih daripada empat kali setahun, merupakan sedikit contoh peninggalan masa lalu yang tidak lagi eksis di dunia liturgi ekumenis dewasa ini.&lt;br /&gt;Liturgi ekumenis merupakan liturgi GKI yang kontekstual. Namun memahami liturgi ekumenis bukan tanpa kendala internal, yakni kemampuan untuk memahaminya. Liturgi ekumenis laksana komputer bagi seseorang yang sejak lahi dan telah puluhan tahun menggunakan mesin tik untuk menulis. Juru ketik itu harus belajar banyak untuk memanfaatkan komputer tersebut. Sejak lahirnya hingga tahun 1990-an, liturgi belum dipahami oleh sementara orang GKI sebagai barang dengan seperangkat ilmu untuk memahaminya. Masih banyak orang yang menganggap liturgi sekadar “barang” main-main dan coba-coba, atau memberi jawaban asal menyejukkan umat atas pertanyaan ilmiah. Padahal dewasa ini liturgi tidak lagi mamadai jika dijalankan berdasarkan selera pribadi, coba-coba, luapan sesaat, dan hal-hal semacam itu. Oleh karenanya, perpindahan unsur A dari satu tempat ke tempat lain, tidak serta merta dipandang kontekstualisasi. Tiru meniru ritus dari tempat lain tidak dapat dibenarkan sebelum memperoleh pemahaman teologis di baliknya lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. Penutup: Liturgi GKI Yang Kontekstual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang pernah bertanya kepada saya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penerapan liturgi kontekstual. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan umum yang lazim ditanyakan oleh banyak orang dengan latar belakang pemahaman bahwa kontekstualisasi liturgi merupakan fine atau “puncak acara” sebagaimana halnya orang menggelar hajatan. Padahal jawabnya tidak sesederhana pertanyaannya.&lt;br /&gt;Ibadah kontekstual bukan merupakan hasil jadi suatu “puncak acara” dari kontekstualisasi ibadah. Kontekstualisasi liturgi adalah proses yang terus berjalan sejak gereja mula-mula beribadah, baik secara otomatis (alamiah) maupun sengaja dilakukan penyesuaian.&lt;br /&gt;Persidangan Majelis Sinode GKI di Denpasar awal November 2005 lalu akhirnya menetapkan digunakannnya liturgi ekumenis. Ini merupakan momen historis bagi gerak penyatuan GKI, sekaligus sebiah jawaban akan sikap Jemaat-jemaat terhadap penyatuan. Saya tidak terkesima ketika orang mulai merasa bosan dengan liturgi GKI karena ketinggalan zaman, sebab itu adalah peluang terjadinya kontekstualisasi jika direspons. Saya tidak terkejut jika ada yang menginginkan perubahan dan pembaruan liturgi, sebab begitulah seharusnya upaya mencari liturgi yang kontekstual. Maka sewajarnyalah apabila pihak-pihak itu tidak menolak ketika sebuah liturgi ekumenis ditawarkan. Itulah konsekuensi dari keberadaan GKI saat ini: berada dalam jalur gerakan ekumenis. Kita eling bahwa alur dan guliran kiprah penyatuan GKI akan menyebabkan liturgi GKI tidak lagi “barang asing” di belantara liturgi Gereja-gereja ekumenis.&lt;br /&gt;Sebagai gereja yang bercirikan liturgi ekumenis, GKI berdampingan dengan formula-formula dan tata cara perayaan yang berlaku ekumenis pula. Alur kiprah GKI dan alur liturgi GKI seyogianya seiring dan sejalan. Liturgi GKI (ketiga Sinode Wilayah) tidak seharusnya berhenti pada awal 1970-an, sebab liturgi ekumenis – sebagaimana gerak penyatuan GKI – justru mulai menggeliat sejak 1970-an itu. °&lt;/div&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/04/liturgi-teologi-perayaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3rTgeiIlajSjVAcIXtFWqwr8XgBZprm1sKzvZ3h__ieM6FAXpUTjJZQ6DXd_hzfCsW1RcXLILm4_W5_SFny4dNJMdn3vpdHiEWt5aB00PJgSRTJIAaKS-dWe4CXzH1foP7Juwsjdn0Zrs/s72-c/100_3409.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-8672264908769267920</guid><pubDate>Fri, 21 Mar 2008 03:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-21T11:00:50.956+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contextualization</category><title>A HOLISTIC LITURGY</title><description>&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;THE NEED AND NECESSITY TO DO JUSTICE TO DIFFERENT BACKGROUNDS AND NEEDS OF THE WORSHIPPERS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;By: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Preface&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;We, the mainstream Churches in Indonesia, face a big struggle today. We have rivals in models of worship. Since 10 or 15 years ago, some new models of worship born around us, either in big cities or small towns. Those churches, where people find new models of worship, have been growing like mushroom in the rainy season. The point is our people go to those churches that give many answers of their daily problems. On the other hand, some churchmen said that they prefer to go to those new models of worship because we don’t have or provide those models in ours.&lt;br /&gt;Sound nice. That’s why it makes mainstream Churches in Indonesia feel uncomfortable. We feel that we have a mistake in our way of worship. We think about it. We talk about it every where and every time. We spend a lot of time to renew our way of worship. We are almost sure that there is something wrong in our worship. We almost sure that we have to throw away our way of celebrate the Sunday Worship and change our way of worship like theirs. We hope our people come to our Church back, or at least we are able to keep our faithful people.&lt;br /&gt;I want to give some brief explanations that there is nothing wrong in our worship. That is the point that I want to say. I don’t say there is no problem with our worship. There are still many people enjoy our style of worship. I just want to say people need a solemnity, beauty, tidiness, and inspiration of celebration.&lt;br /&gt;My brief explanations begin with a terminology of a holistic liturgy. Then I present my reflection about using old and new material in worship. I finish with an explanation of a holistic liturgy in context.&lt;br /&gt;The aim of holistic liturgy is to find out about contextualization of worship. At the end of my presentation, I will give a suggestion to show how worship is called contextual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. What is the holistic liturgy?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Church uses many worldly materials to celebrate the liturgy. The early Church took Jewish and Greek materials such as time and place. Those materials were changed to Christian terminology such as some old names were changed to new names. The first day in Hebrew: Ehad, was chosen as a day of worship, was called the Lord’s day. The Lord ’s Day or Κυριακή ήμέρα means the day of resurrection of Christ. Through His resurrection, through His glorification, Christ became the Lord. He is the κύριος or head of the Church.&lt;br /&gt;The holistic liturgy is not only a celebration using whole kind of materials, but also address the liturgy to every aspect of humankind and give attention to many aspects of celebration. There are two thinks which we use as tools to celebrate liturgy. First, the worship uses both universal and local sources, such as tradition, culture, language, issue, message, sermon topic, etc. Second, the worship uses both modern and traditional materials, such as music and song, ornament, architecture, etc. Hopefully, the worship brings a worshipper to see actual problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I.1. Sources: universal and local&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Some churchmen said that Churches in Asia are western. Some Churches in Asia enjoy with this condition. Many people even say that this western culture is a true Christian. That’s why many Churches don’t change their style of worship. Many Churches give only a little portion for local elements instead of western elements. We feel at home with this custom of worship.&lt;br /&gt;Most Asian Christian Churches still celebrate liturgy as like as 100 % western, except languages and places. Ironically, western that was copied by Churches in Asia is the western from one or two or even more centuries ago. Besides celebrating Christmas as like as western style, we use snow made of cotton in two seasons land and sing Silent Night in a busy city. We also add other western cultures in our Churches. For instance, some Churches in Asia celebrate Thanks Giving Day or Valentine’s Day which are American culture.&lt;br /&gt;On the other hand, we reject almost all local sources. Although some Asian Churches has changed this conservative way of thinking, most of our sources are still western. For instance, it is not easy to find Church building in which we see an ethnic architecture in large country like Indonesia. Many Christian even proud they could imitate baroque style or roman style.&lt;br /&gt;So far, I am not saying that we have to refuse all western customs in our celebration of liturgy. We are naïve if we do that. I aware that western is not only our heritage, but our blood also. Blood, because western theology has given us a life: contain of our theology or flesh of Christian spirituality.&lt;br /&gt;In other way, I am saying that we can’t throw The Apostle’s Creed or The Nicene’s Creed which come from Roman. We still use The Lord’s Prayer before Communion which came from the Middle Ages. We love to sing Kyrie eleison from Orthodox tradition. We sing hymns which are Greek original as well as wear Geneva gown although in different color. Of course we impossibly change the Sunday, which early Church chose, to other weekdays.&lt;br /&gt;The point is celebrating liturgy in Asia means walk on path between western and local, or between universal and contextual. We can’t receive only one part and reject the others. We beat a path to find out true contextual expression among mixture sources around. We even couldn’t distinguish anymore which one universal or which one local.&lt;br /&gt;This condition has been happened over the centuries. At the beginning, Church adopted synaxis, prayer, and homily from Jewish way of synagogue worship. Synaxis became Daily Office or Sunday Worship with no Eucharist. Structure of Jewish prayer transferred to Christian structure which we usually use today. The way of Rabbi to explain the Holy Book had become the model of homily of Christian Ministers today. Church also adapted the time of worship, lectionary, and family gathering. Not at seventh day (&lt;em&gt;Sabbath&lt;/em&gt;), but at first day (Ehad, the Lord’s Day) is the day for worship. Not the Law-Psalms-Prophet, but Old Testament-Psalms-Epistle-and Gospel (after 2&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;nd&lt;/span&gt; century) is the sequence of Christian lectionary. Not the main family, but whole people as brothers and sisters gather to celebrate the Eucharist. Jewish worship inherited worship materials for the early Christian worship.&lt;br /&gt;Besides, during Patristic era, Church was also influenced by Romans and Greek sources. Church adopted and adapted the feasts, vestments, rites, gestures, and languages. The feasts are the symbol to the Christ events, such as nativity, transfiguration, temptation, Easter, Pentecost, etc. Some of those feasts come from Jews: Ester and Pentecost were adapted to Christian Theology. Some others come from Romans, such as nativity, vestments and introit from Emperor. Greek had inherited &lt;em&gt;Kyrie eleison&lt;/em&gt; and liturgical texts to the Church. Many sources have based Christian worship.&lt;br /&gt;After Reformation era, England, German, Dutch, and Geneva had influenced Asian Churches. Besides hymns: Holy, holy, holy; O Worship the King; &lt;em&gt;Stille Nacht Heilige Nacht&lt;/em&gt;; etc., names and vestments are also familiar for Christians in Asia. Example, Protestant Churches in Indonesia are familiar with &lt;em&gt;votum&lt;/em&gt;. The votum, which is from the Latin word, is written and said at the beginning of liturgy. Ironically, nobody knows what the meaning of &lt;em&gt;votum&lt;/em&gt; is. At least, almost every Protestants I met face difficulty to explain what it is. Actually, &lt;em&gt;votum&lt;/em&gt;, which isn’t common word in liturgy itself, means “in the name …” (see Col 3:17; cf. &lt;em&gt;bismillah&lt;/em&gt; in Moslem terminology).&lt;br /&gt;Another example is &lt;em&gt;Syafaat&lt;/em&gt;. The &lt;em&gt;syafaat&lt;/em&gt; is the intercessions prayer. There is no doubt that syafaat or intercessions prayer is placed between Service of Word at pulpit and Service of Table at altar. Some Churches don’t set this prayer in the right place, but before Benediction or before Sermon. The reason is Churches don’t understand what the syafaat means. See the RC in Indonesia that has translated to &lt;em&gt;Doa Umat&lt;/em&gt; (Prayer of the People).&lt;br /&gt;In this Modern era, American cultural is influencing Asian Churches. Especially in worship styles and hymns. Worship style such as Pentecostal, Praise and Worship, and Seeker become an alternative for Church members. American hymns that are melancholic in tone and piety in words such as hymns of Doane, Fanny Crosby, Lowry, and so on. Of course then, many pastors are urged to speak in fervent sermon as like as Pentecostal preachers.&lt;br /&gt;Fortunately, there is post-modern way of thinking in this time. The post-modern appreciates either global or local sources. Today tribal music and arts have a role in liturgy more than ten years ago. Not only Asian hymns and instruments, but also Church choirs begin to sing several indigenous melodies.&lt;br /&gt;We, Protestant in Asia of today, have an important task. At &lt;em&gt;first&lt;/em&gt;, we should clearly understand the terminologies of the universal sources which are used in liturgy. The &lt;em&gt;second&lt;/em&gt;, we try to smoothly combine both universal and local sources. And &lt;em&gt;finally&lt;/em&gt;, we implement both sources to know-how in practice of worship. Hopefully, we could get the nascent Asian liturgy to be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I.2. Materials: modern and&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;traditional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Christian worship of today uses materials, such as music, ornament, room, etc. Some materials are already traditional, yet some of them are modern. At least, there is an open-minded to get traditional or local materials into Church liturgy.&lt;br /&gt;Over the centuries the Churches are able to choose and make any kind of materials: either modern or traditional. Modern materials or western materials are hymns with western compositions, western scale (diatonic), tower and bell on the top of Church building, ornament of vestment, etc. Traditional materials or local material are pentatonic scale (five tones), folk instruments such as gamelan, gondang, etc., ethnic ornaments of vestment or architecture.&lt;br /&gt;Outside of Churches, there are many traditional materials. Those are provided by local land. Those are made by people. Icons that are used by Orthodox Churches come from local people handmade. People arrange hymns, create ornaments, and make up room for worship. Could Church accept those local materials into liturgy?&lt;br /&gt;That is an inculturation. Since 1973, inculturation is now a familiar word in liturgical circle. Inculturation means learning process by which a person is inserted into his or her cultural. Moreover, inculturation is a method that can bring about a mutual interaction between liturgy and various forms of popular or local land. Although Protestant in Indonesia doesn’t use inculturation method instead of contextualization, inculturation always be found in praxis of Protestant worship. On the other side, RC in Indonesia prefers to use inculturation method, yet in the many steps forward than others in contextualization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. A holistic liturgy in context&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Liturgy is not the only respondent on contextualization of theology, but also a theology in the way of celebration. Church uses many tools to celebrate the holistic liturgy and to make our liturgy glorious, beautiful, and solemn. Besides, Church needs many aspects to think, such as symbolic, artistic, educational, cultural, solemn, etc. Those tools and aspects enrich the liturgy so that fill the needs of worshippers that come from different backgrounds.&lt;br /&gt;Symbolic aspect is the most important in celebration of worship. Worship is celebration of Christ event. That’s why celebration has to use symbols. Without symbols in celebration of worship, there are verbalism, instructions, and death only. Shapes of symbolic aspect such as time, place, gesture, word, as like as a blood for human life.&lt;br /&gt;There are two contexts we have had as a Christian Church: common ecumenical context and local context.&lt;br /&gt;The very common ecumenical context is the Bible and liturgical year. At the beginning (around the year of 30 AD) Apostles and some people gathered to remembrance of Christ’s resurrection every first day of the week. That gathering was the worship of Church. That antique Church read the Old Testament, sang the psalms, and read the Epistle as well as created Sunday as day of worship. In the other word, early Church used the Bible and the Sunday to remembrance of Christ.&lt;br /&gt;From the Bible that is read in worship, the Church knew and announced Christ to the world surround. From the Bible then the Church celebrated Christ events. From Christ events the Church built the liturgical years. The liturgical year is contented with anamnesis (memorial, commemoration, remembrance) of Christ events.&lt;br /&gt;The liturgical year is started from the resurrection of the Lord. In the 2nd century, the Church celebrated the resurrection of the Lord not only on Sunday, but also on Easter. Sunday is called as minor Easter celebration. After that time, Easter became the center and the beginning of the liturgical year.&lt;br /&gt;The local context is a context of place and time where the Church alive. The context contains of cultures, symbols, behavior, way of life, etc. Therefore, Protestant Churches had had a trouble of this.&lt;br /&gt;After Reformation in 17&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;th&lt;/span&gt; century, Protestant Churches tended refuse symbolic aspect in celebration of liturgy. Role of pictures or sculptures of the Saints, relics, gestures, etc. in worship were changed to rationalism and verbalism. They were refused from liturgy because anti-Catholicism that were understood by most Protestant theologians in 17&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;th&lt;/span&gt; to 19&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;th &lt;/span&gt;century. They were seen as idolatry, and Church must not accept those objects such as images into worship.&lt;br /&gt;Fortunately, that way of thinking of 17&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;th&lt;/span&gt; century doesn’t exist anymore in this time. Time has been changing. Step by step, Churches open their mind. In the last 50 years, Churches begin to use any material and way for worship which used to be called as idolatry. Although images such as pictures and sculptures are not placed at one single position in Church, at least they are used at some occasional moments such as in seminary’s chapels or in special services. Some Protestant pastors practice gestures in Sunday Worship such as in walking during procession, in reading passages of the Bible, in saying prayers, and in distributing bread and wine in the Eucharist. Some Protestant theologians and pastors have been thinking that the celebration of liturgy is not a mere outside-theology. It had never been thought by Protestants 50 years ago.&lt;br /&gt;Having two points of view: be ecumenical and local, Church celebrate liturgies. Both ecumenical and local are the context of liturgy. Church walks on footbridge and brings burdens of ecumenical context in right hand and local context in left hand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Conclusion&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;I will give some suggestion below that what we have to reform our liturgy. &lt;em&gt;First&lt;/em&gt;, believe that there is nothing wrong in our liturgy. &lt;em&gt;Second&lt;/em&gt;, we need to repair our way of worship. Third, we suppose to use both ecumenical and contextual materials.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;First&lt;/em&gt;, according to the tradition of liturgy that we get as heritages from our Fathers/Mothers of the Church, God has installed everybody of us celebrate worship in these ways. That is not a mistake at all.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Second&lt;/em&gt;, we still need to repair our way of worship. For instance, there is common practice that Churches in Indonesia don’t fully sing hymns. Churches in Indonesia usually sing only some stanzas; it means a part of whole hymn. Churches in Indonesia have to renew this bad habit.&lt;br /&gt;Third, Ecumenical Churches provide some materials such as Revised Common Lectionary (RCL) and hymns. There is no problem anymore with hymns, because most Churches in Indonesia use &lt;em&gt;Kidung Jemaat&lt;/em&gt; as a common Hymns Book. Kidung Jemaat contains both universal and local hymns. Therefore, Churches in Indonesia are not yet familiar with the RCL. Churches in Indonesia usually create own “lectionary” that are not better then the RCL or themes for their Sunday worship.&lt;br /&gt;Bringing worshippers see actual problems around is how to make our worship relevant in our life today. Is our worship still warm for people? Is our sacraments could bring people to see their symbolic meaning? Are symbols used in worship give new inspiration? Or, do people feel death during worship because we still use old materials and sources in worship? Or, do people feel like strangers in their own land? Hopefully, we are able to open our mind to new phenomenon on liturgy. °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;*) This is an article that I presented for United Evangelical Mission Seminar: Intergenerational Consultation on Music and Liturgy “Living churches are churches alive in worship with music, words and body languages&lt;br /&gt;reflecting and addressing the real and contextual needs of the believers: participative and holistic worship.”&lt;br /&gt;April 6&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;th&lt;/span&gt;, 2006, Cipayung – Jawa Barat.&lt;/span&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/03/holistic-liturgy.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-6288453351321274120</guid><pubDate>Mon, 10 Mar 2008 17:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-11T00:45:01.419+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgi LIMA</category><title>EXAMPLE OF AN ECUMENICAL</title><description>&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;BAPTISM LITURGY (1983)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illustration of the Lima Document on Baptism, Eucharist and Ministry&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1485553314218597060#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br /&gt;The baptismal liturgy takes place &lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;between the Liturgy of the Word and the Eucharist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;The welcome&lt;br /&gt;N. (names of the parents, or of the adult seeking baptism) as a Christian community we welcome you with great joy to celebrate the baptism that you request [for N., child&#39;s name], a baptism of water and the spirit, in which the covenant with God, Creator and Father, is renewed in forgiveness, in which Christ makes us pass through his death and resurrection to be born into new life, in which the Holy Spirit is given us, to bring us into the body of the Church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The thanksgiving (offered near the water of baptism)&lt;br /&gt;The Lord be with you.&lt;br /&gt;‑ And also with you.&lt;br /&gt;Lift up your hearts.&lt;br /&gt;- We lift them up to the Lord.&lt;br /&gt;Let us give thanks to the Lord our God.&lt;br /&gt;- It is right to give him thanks and praise.&lt;br /&gt;It is truly right and fitting to give you glory, to offer you our thanksgiving loving Father, all‑powerfull Creator: who give us water, water which gives life, cleanses and satisfies our thirst.&lt;br /&gt;‑ Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;By your invisible power, 0 Lord, you perform wonders in your sacraments, and in the history of salvation you have used water, which you have created, to make known to us the grace of baptism.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;At the beginning of the world your Spirit hovered over the waters, prepared your work of creation, and planted the seed of life.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;By the waters of the Flood You declared the death of sin and the birth of a new life.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You brought the children of Abraham through the waters of the Red Sea, and people, freed from slavery, journeyed towards the Promised Land.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You beloved Son was baptized by John in the waters of Jordan, was anointed by the Spirit and appointed prophet, priest and king.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lifted up from the earth on the cross, your Son was immersed in the baptism of suffering; he has cast fire upon the earth to set hearts aflame and draw all people to himself.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The risen Christ said to his disciples: “All authority in heaven and on earth has been given to me, the. Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you; and lo, I am with you always, to the close of the age.”&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And now, o Lord, look in love upon your Church, and by your Holy Spirit let the spring of baptism well up among us: may your servant, made in your image, God our Father, be cleansed of all that disfigures that likeness; may he/she be buried with Christ into death and be raised with him to life; may he/she receive the Holy Spirit so as to witness to the Gospel in the Church for the word.&lt;br /&gt;- Blessed be you, 0 Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The exhortation&lt;br /&gt;(for the baptism of a child)&lt;br /&gt;Dear parents and sponsors, the child which you present for baptism is now to be baptized: in his love, God will give him/her a new life; he/she will be born again of water and the Spirit. Be careful to help him/her grow in faith, that this life of new birth may not grow weak through sin or indifference, but that it may grow stronger in him/her day by day. As a sign that you are prepared for this responsibility, I invite you to recall your own baptism and to declare your faith in Jesus Christ, the faith of the universal Church into which every Christian is baptized.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;O R&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;(for the baptism of an adult)&lt;br /&gt;N., you are now to be baptized: in his love, God will give you a new life; you will be born again of water and the Spirit. Be careful to grow in faith, that this life of new birth in you may not grow weak through sin or indifference, but that it may grow stronger in you day by day. As a sign that you are ready to commit yourself in faith to the service of Christ and his Church, I invite you to fight against the power of evil, and to declare your faith in Jesus Christ, the faith of the universal Church into which every Christian is baptized.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The renunciation&lt;br /&gt;(may be used at the baptism of an adult) So as to live in the liberty of the sons and daughters of God, to be a faithful follower of Jesus Christ and to produce the fruits of the Holy Spirit, do you renounce being ruled by the desires of this world, the snare of pride, the love of money, and the power of violence?&lt;br /&gt;- I renounce them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The declaration of faith&lt;br /&gt;Do you believe in God, the Father almighty, creator of heaven and earth?&lt;br /&gt;‑ I do so believe.&lt;br /&gt;Do you believe in Jesus Christ, his only Son, our Lord; who was conceived by the power of the Holy Spirit, and born of the Virgin Mary; who suffered under Pontius Pilate, was crucified, died, and was buried, and descended to the dead; who rose again on the third day, ascended into heaven, and is seated at the right hand of the Father, and will come again to judge the living and the dead?&lt;br /&gt;- I do so believe.&lt;br /&gt;Do you believe in the Holy Spirit, the holy catholic Church, the communion of saints, the forgiveness of sins, the resurrection of the body, and t everlasting?&lt;br /&gt;‑ I do so believe.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;O R&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;The Apostles&#39; Creed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the baptism of a child, the parents and sponsors are asked: Do you wish N. to be baptized in the faith of the Church which we have just declared&lt;br /&gt;‑ We do.&lt;br /&gt;At the baptism of an adult, the candidate is asked: Do you wish to be baptized in the faith of the Church which we have just declared?&lt;br /&gt;‑ I, do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The baptism&lt;br /&gt;N., I baptize you in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The laying on of hands or chrismation&lt;br /&gt;Receive the seal of the gift of the Spirit: may it make you a faithful witness to Christ to the glory of God the Father. (silence)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion&lt;br /&gt;For you, there is a new act of creation. You have put on Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(The person baptized may receive a white garment.) You will be guided by the Spirit of light. (He/she may receive a candle lit from the pascal candle.) You are now part of the body of the Church. You are a member of the royal priesthood, the holy fellowship. (He/she may be given the sign of the cross in oil on the forehead.) You belong to the people chosen to proclaim the praise of him who has called you out of darkness into his marvellous light. Alleluia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Max Thurian and Geoffrey Wainwright, &lt;em&gt;Baptism and Eucharist Ecumenical Convergence in Celebration&lt;/em&gt;, WCC 1983, 94-96.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1485553314218597060#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Composed by Fr Max Thurian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/03/example-of-ecumenical.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-4679842794116107068</guid><pubDate>Mon, 10 Mar 2008 17:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-11T00:39:43.900+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">liturgi LIMA</category><title>THE EUCHARIST</title><description>&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;Liturgy of Lima&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;P = Presiding Minister&lt;br /&gt;C = Congregation&lt;br /&gt;O =Another Celebrant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;strong&gt;Liturgy of entrance&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;1 ENTRANCE PSALM (with antiphon and Gloria Patri; or hymn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 GREETING&lt;br /&gt;P: The grace of our Lord Jesus Christ, the love of God, and the communion of the Holy Spirit be with you all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;And also with you.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;3 CONFESSION&lt;br /&gt;C : Most merciful God, we confess that we are in bondage to sin and cannot free ourselves. We have sinned against you in thought, word and deed, by what we have done and by what we have left undone. We have not loved you with our whole heart, we have not loved our neighbours as ourselves. For the sake of your Son, Jesus Christ, have mercy on us. Forgive us, renew us, and lead us, so that we may delight in your will and walk in your ways, to the glory of your holy name. Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 ABSOLUTION&lt;br /&gt;P: Almighty God gave Jesus Christ to die for us and for the sake of Christ forgives us all our sins. As a called and ordained minister of the Church and by the authority of Jesus Christ, I therefore declare to you the entire forgiveness of all your sins, in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;5 KYRIE LITANY&lt;br /&gt;O: That we may be enabled to maintain the unity of the Spirit in the bond of peace and together confess that there is only one Body and one Spirit, only one Lord, one faith, one baptism, let us, pray to the Lord. (Eph. 4:3‑5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: That we may soon attain to visible communion in the Body of Chris breaking the bread and blessing the cup around the same table, let us pray to the Lord. (2Cor. 10: 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: That reconciled to God through Christ may be enabled to recognize each others ministries and be&lt;br /&gt;united in the ministry of reconciliation, let us pray to the Lord. (2Cor 5:18-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;6 GLORIA&lt;br /&gt;Glory to God in the Highest,&lt;br /&gt;- And peace to God&#39;s people on earth.&lt;br /&gt;Lord God, heavenly King, almighty God and Father,&lt;br /&gt;‑ We worship you, we give you thanks.&lt;br /&gt;We praise you for your glory,&lt;br /&gt;‑ Lord Jesus Christ, only Son of the Father,&lt;br /&gt;Lord God, Lamb of God,&lt;br /&gt;‑ You take away the sin of the world, have mercy on us;&lt;br /&gt;You take away the sin of the world: receive our prayer;&lt;br /&gt;‑ You are seated at the right hand of the Father: have mercy on us.&lt;br /&gt;For you alone are the Holy One,&lt;br /&gt;- You alone are the Lord,&lt;br /&gt;You alone are the Most High: Jesus Christ, with the Holy Spirit,&lt;br /&gt;- In the glory of God the Father,&lt;br /&gt;Amen,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Liturgy of the Word&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;7 COLLECT&lt;br /&gt;P: Let us pray: Lord God, gracious and merciful, you anointed your beloved Son with the Holy Spirit at his baptism in the Jordan, and you consecrated him prophet, priest and king: pour out your Spirit on us again that we may be faithful to our baptismal calling, ardently desire the communion of Christ&#39;s body and blood, and serve the poor of your people and all who need our love, through Jesus Christ, your Son, our Lord, who lives and reigns with you, in the unity of the Holy Spirit, ever one God, world without end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;8 FIRST LESSON (Old Testament, Acts or Revelation)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 PSALM OF MEDITATION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 EPISTLE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 ALLELUIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 GOSPEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 HOMILY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 SILENCE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 NICENE‑CONSTANTINOPOLITAN CREED&lt;br /&gt;We believe in one God, the Father, the Almighty, maker of heaven and earth, of all that is, seen and unseen..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We believe in one Lord, Jesus Christ the only Son of God, eternally begotten of&quot;the Father, Light from ‑Light~ true God from true ~God, begotten, *not made, of one Being with the Father; through him all things‑ were made. For us and for our salvation he came down from heaven; by the power of the Holy Spirit hi became, incarnate from the Virgin Mary and was made man. For our sake he was crucified under Pontius Pilate; he suffered death and was buried; on the third day he rose again in accordance with the Scriptures; he ascended into heaven. He is seated at the right hand of the Father, he will come again in glory to j judge the living and the dead, and his kingdom will have no end. We believe in the Holy Spirit, the Lord, toe giver of life, who proceeds from the Father; with the Father and the Son he is worshiped and glorified; he has spoken through the Prophets. We believe in one holy catholic and apostolic Church. We acknowledge one baptism for the forgiveness of sins. We look for the resurrection of the dead, and the life of the world to come. Amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 INTERCESSION&lt;br /&gt;O: In faith let us pray to God our Father, his Son Jesus Christ and the Holy Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: For the Church of God throughout all the world, let us invoke the Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: For the leaders of the nations, that they may establish and defend justice and peace, let us pray for the wisdom of God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: For those who suffer oppression or violence, let us invoke the power of the Deliverer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: That the churches may discover again their visible unity in one baptism which incorporates them in Christ, let us pray for the love of Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: That the churches may attain communion in the eucharist around one table, let us pray for the strength of Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: That the churches may recognize each others ministries in the service of their one Lord, let let us pray for the peace of Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;(Spontaneous prayers of the congregation)&lt;br /&gt;O: Into your hands, 0 Lord, we commend all for whom we pray, trusting in your mercy; through your Son, Jesus Christ, our Lord.&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Liturgy of the Eucharist&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;17 PREPARATION&lt;br /&gt;O: Blessed are you, Lord God of the universe, you are the giver of this bread, fruit of the earth and of human labour; let it become the bread of Life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Blessed be God, now and forever!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: Blessed are you, Lord God of the universe, you are the giver of this wine, fruit of the vine and of human labour, let it become the wine of the eternal Kingdom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Blessed be God, now and forever!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;O: As the grain once scattered in the fields and the grapes once dispersed on the hillside are now reunited on this table in bread and wine, so, Lord, may your whole Church soon be gathered together from the corners of the earth into your Kingdom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Maranatha! Come Lord Jesus!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;18 DIALOGUE&lt;br /&gt;P: The Lord be with you.&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;And also with you.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;P: Lift up your hearts.&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;We lift them to the Lord.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;P: Let us give thanks to the Lord our God.&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;It is right to give him thanks and praise.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;19 PREFACE&lt;br /&gt;P: Truly it is right and good to glorify you, at all times and in all places, to offer you our thanksgiving 0 Lord, Holy Father, Almighty and Everlasting God. Through your living Word you created all things, and pronounced them good. You made human beings in your own image, to share your life and reflect your glory. When the time had fully come, you gave Christ to us as the Way, the Truth and the Life. He accepted baptism and consecration as your Servant to announce the good news to the poor. At the last supper Christ bequeathed to us the eucharist, that we should celebrate the memorial of the cross and resurrection, and receive his presence as food. To all the redeemed Christ gave the royal priesthood and in loving his brothers and sisters, chooses those who share in the ministry, that they may feed the Church with your Word and enable it to live by your Sacraments. Wherefore, Lord, with the angels and all the saints, we proclaim and sing your glory:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 SANCTUS&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Holy, Holy, Holy....&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;21 EPICLESIS I&lt;br /&gt;P: 0 God, Lord of the universe, you are holy and your glory is beyond measure. Upon your eucharist send the light-giving Spirit, who spoke by Moses and the Prophets, who overshadowed the Virgin Mary with grace, who descended upon Jesus in the river Jordan and upon the Apostles on the day of Pentecost. May the outpouring of this Spirit of Fire transfigure this thanksgiving meal that this bread and wine may become for us the body and blood of Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. &lt;em&gt;Veni Creator Spiritus!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;22 INSTITUTION&lt;br /&gt;P. May this Creator Spirit accomplish the words of your beloved Son, who, in the night in which he was betrayed, took bread, and when he had given thanks to you, broke it an gave it to his disciples, saying: Take, eat: this is my body, which is given for you. Do this for the remembrance of me. After supper he took the cup and when he had given thanks, he gave it to them and said: Drink this, all of you: this is my blood of the new covenant, which is shed for you and for many of the forgiveness of sins. Do this for the remembrance of me. Great is the mystery of faith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. &lt;em&gt;Your death, Lord Jesus, we proclaim! Your resurrection we celebrate! Your coming in glory we await!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;23 ANAMNESIS&lt;br /&gt;P: Wherefore, Lord, we celebrate today the memorial of our redemption: we recall the birth and life of your Son among us, his baptism by John, his last meal with the apostles, his death and descent to the abode of the dead; we proclaim Christ&#39;s resurrection and ascension in glory, where as our Great High Priest he ever intercedes for all people; and we look for his coming at the last. United in Christ&#39;s priesthood, we present to you this memorial: Remember the sacrifice of your Son and grant to people everywhere the benefits of Christ&#39;s redemptive work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Maranatha, the Lord comes!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;24 EPICLESIS II&lt;br /&gt;P: Behold, Lord, this eucharist which you yourself gave to the Church and graciously receive it, as you accept the 0ffering of your Son whereby we are reinstated in your Covenant. As we partake of Christ&#39;s body and blood, fill us with the Holy Spirit that we may be one single body and one single spirit in Christ, a living sacrifice to the praise of your glory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Veni Creator Spiritus!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;25 COMMEMORATIONS &#39;&lt;br /&gt;0: Remember, Lord, your one, holy, catholic and apostolic Church, redeemed by the blood of Christ. Reveal its unity, guard its faith, and preserve it in peace. Remember, Lord, all the servants of your Church, bishops, presbyters, deacons, and all to whom you have given special gifts of ministry. (Remember especially ….)&lt;br /&gt;Remember also all our sisters and brothers who have died in the peace of Christ, and those whose faith is known to you alone: guide them to the joyful feast prepared for all peoples in your presence, with the blessed Virgin Mary, with the patriarchs and prophets, the apostles and martyrs ... and all the saints for whom your friendship was life. With all these we sing your praise and await the happiness of your Kingdom where with the whole creation, finally delivered from sin and death, we shall be enabled to glorify you through Christ our Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Maranatha, the Lord comes!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;26 CONCLUSION&lt;br /&gt;P: Through Christ, with Christ, in Christ, all honour and glory is yours, Almighty God and Father, in the unity of the Holy Spirit, now and forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;27 THE LORD&#39;S PRAYER&lt;br /&gt;0: United by one baptism in the same Holy Spirit and the same Body of Christ, we pray as, God&#39;s sons and daughters:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Our Father, ....&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;28 THE PEACE&lt;br /&gt;0: Lord Jesus Christ, you told your apostles: Peace I leave with you, my&lt;br /&gt;peace I give to you. Look not on our sins but on the faith of your Church. In&lt;br /&gt;order that your will be done, grant us always this peace and guide us towards&lt;br /&gt;the perfect unity of your Kingdom for ever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;P: The peace of the Lord be with you always.&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;And also with you.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;O: Let us give one another a sign of reconciliation and peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 THE BREAKING OF THE BREAD&lt;br /&gt;P: The bread which we break is the communion of the Body of Christ, the cup of blessing for which we give thanks is the communion in the Blood of Christ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 LAMB OF GOD&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Lamb of God, you take away the sins of the world, have mercy on us.&lt;br /&gt;Lamb of God, you take away the sins of the world, have mercy on us.&lt;br /&gt;Lamb of God, you take away the sins of the world, grant us peace.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;31 COMMUNION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32 THANKSGIVING PRAYER&lt;br /&gt;In peace let us pray to the Lord: 0 Lord our God, we give you thanks for uniting us by baptism in the Body of Christ and for filling us with joy in the eucharist. Lead us towards the full visible unity of your Church and help us to treasure all the signs of reconciliation you have granted us. Now that we have tasted of the banquet you have prepared for us in the world to come, may we all one day share together the inheritance of the saints in the life of your heavenly city, through Jesus Christ, your Son, our Lord, who lives and reigns with you in the unity of the Holy Spirit, ever one God, world without end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;33 FINAL HYMN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34 WORD OF MISSION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35 BLESSING&lt;br /&gt;P: The Lord bless you and keep you. The Lord make his face to shine on you and be gracious to you. The Lord look upon you with favour and give youI peace. Almighty God, Father, Son, and Holy Spirit, bless you now and forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C: &lt;em&gt;Amen.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Max Thurian and Geoffrey Wainwright (editors), &lt;em&gt;Baptism and Eucharist Ecumenical Convergence in Celebration&lt;/em&gt;, WCC 1983, 249-255.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/03/eucharist.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-196104947087871367</guid><pubDate>Mon, 10 Mar 2008 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-10T23:22:10.509+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perjamuan kudus</category><title>PERJAMUAN KUDUS DI GEREJA KRISTEN INDONESIA</title><description>DAN MAKNANYA DALAM SEJARAH LITURGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. MAKNA PERJAMUAN KUDUS MENURUT SEJARAH&lt;br /&gt;Perjamuan kudus merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan bergereja yang dirayakan. Ia memiliki sejarah panjang hingga mencapai pemahaman dan prakteknya dewasa ini. Berdasarkan sejarah liturgi, perjamuan kudus atau ekaristi (&lt;em&gt;eucharistia&lt;/em&gt; = pengucapan syukur) dipahami sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, tanda kebersamaan.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt; Ini merupakan inti dari perjamuan kudus yang ditampakkan melalui praktek ibadah gereja abad-abad pertama. Ibadah perjamuan tidak dilakukan secara individu, melainkan bersama dan dalam komunitas. Penampakkannya diawali dengan pengucapan syukur yang berupa persembahan in natura berupa: roti, anggur, dan air. Sejak semula hingga kini, persembahan dan perjamuan merupakan satu kesatuan. Umat sendiri memberikan persembahan dengan mengantarnya ke altar untuk kemudian dibagikan di antara mereka dalam makan bersama yang disebut komuni (&lt;em&gt;communio&lt;/em&gt; = kebersamaan).&lt;br /&gt;Para Diakon mengatur pembagian makanan tersebut secara adil melalui pemecahan roti dan penuangan anggur (&lt;em&gt;fractio&lt;/em&gt;). Pemecahan roti dilakukan agar ada pemerataan di antara umat sebagai kesatuan tubuh Kristus. Perjamuan itu mereka lakukan dalam rangka mengenangkan atau anamnesis peristiwa Kristus, terutama yang digambarkan pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn2&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot;&gt;[2]&lt;/a&gt; Pengenangan dimaksudkan agar peristiwa Kristus tersebut senantiasa hadir di tengah mereka. Itulah sebabnya, selama pemecahan roti dan penuangan air anggur, umat menyanyikan Anakdomba Allah (&lt;em&gt;Agnus Dei&lt;/em&gt;). Ini menandakan bahwa ada hubungan antara pemecahan roti dan persembahan diri Sang Anakdomba yang Kudus itu.&lt;br /&gt;Dalam praktek masa kini yang berdasarkan pengertian tersebut, umat mempersembahkan roti dan anggur dan membawanya bersama kantong kolekte ke meja perjamuan. Persembahan-persembahan itu diterima oleh Pendeta atau Penatua dan diletakkan di meja perjamuan atau altar (&lt;em&gt;altare&lt;/em&gt;=meja). Setelah pengucapan beberapa formula liturgis dan menyanyikan &lt;em&gt;Sanctus&lt;/em&gt; (kudus, kudus, kudus) untuk menandakan kekudusan dari perjamuan ini, kemudian roti dan anggur dibagikan secara merata di antara umat. Puncak perayaan perjamuan adalah makan bersama yang disebut komuni. Komuni adalah simbol kebersamaan, sehingga ada saling perhatian dan pengertian di antara umat (bnd 1Kor 11).&lt;br /&gt;Walaupun perjamuan kudus bukan sekadar perjamuan biasa, tetapi perjamuan kudus pun tidak bersifat magis atau takhyul. Perjamuan kudus tak dianggap sebagai momok yang menakutkan. Semua orang beriman dapat mengambil bagian, tetapi tidak sembarangan orang mengikutinya. Berdasarkan ukuran moral, sebuah naskah Gereja abad pertama: Didakhe 14, menuliskan bahwa persembahan mereka harus murni atau sejati. Sebelum berpartisipasi dalam perjamuan, hendaknya umat mengaku dosa dan berdamai dengan saudara-saudaranya.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn3&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot;&gt;[3]&lt;/a&gt; Keadaan ini masih berlaku hingga sekitar abad ke-2.&lt;br /&gt;Pada abad ke-6 hingga kini unsur Doa Bapa Kami dimasukkan dalam liturgi perjamuan sebelum komuni. Maksudnya agar kalimat: “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni,” semakin ditonjolkan sebagai perdamaian dalam perjamuan. Di beberapa Gereja, setelah Doa Bapa Kami, umat saling bersalaman dan mengucapkan “damai Kristus besertamu” sebagai wujud simbolis dari perdamaian dalam komuni. Di antara berbagai uraian teologi, rupanya segi kesatuan atau kebersamaan cukup menonjol dalam perjamuan kudus.Kedua, perjamuan bersifat pengakuan iman. Pada pertengahan abad ke-2, perjamuan kudus juga dihubungkan dengan baptisan,&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn4&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot;&gt;[4]&lt;/a&gt; sebagai tanda pengakuan dosa dan pengakuan iman. Hanya mereka yang telah dibaptis yang diperbolehkan ambil bagian dalam ekaristi. Ada pergeseran bahwa kebersamaan mereka lebih bersifat eksklusif, yakni di dalam persekutuan lembaga gereja. Hanya mereka yang telah dibaptislah yang dapat berpartisipasi dalam perjamuan kudus. Mereka yang belum mengaku “Yesus adalah Tuhan” (&lt;em&gt;Kurios Iesou&lt;/em&gt;) atau yang murtad termasuk para bidaah, tidak diperkenankan ambil bagian dalam ekaristi. Sikap moral saja dinilai tidak cukup sebelum ada sikap kebersamaan di dalam ajaran baku dari gereja yang esa waktu itu. Sikap ini dilakukan di dalam pengakuan iman dengan baptisan. Sejak itu, hal ini diberlakukan hingga kini.&lt;br /&gt;Prasyarat: hanya yang telah dibaptislah yang boleh ikut perjamuan kudus, menandakan bahwa perjamuan tidak dapat sembarangan diterimakan kepada siapa saja atau dirayakan oleh siapa saja. Namun, perjamuan kudus bukan berarti hanya bagi mereka yang baik, tetapi juga kepada yang lemah. Ekaristi tetap merupakan ritus yang sakral sebab menandakan kehadiran Allah di dalamnya. Hal kesakralan ekaristi dikemukakan oleh kedua Reformator: Martin Luther (1483-1546) dan Johannes Calvin (1509-1564).&lt;br /&gt;Luther berpendapat bahwa perjamuan merupakan perayaan umat. Roti dan anggur adalah untuk umat yang diberikan oleh Kristus. Puncak ekaristi: komuni, adalah tanda penyelamatan yang sempurna oleh Allah dan peluang yang sempurna bagi orang percaya untuk menanggapinya dengan iman. Ketika Yesus berkata: Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26:28), itu merupakan tanda akan pengampunan yang telah terjadi melalui peristiwa Kristus.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn5&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot;&gt;[5]&lt;/a&gt; Dengan demikian, diperlukan iman untuk mengikuti ekaristi sebab perjamuan yang diterimakan kepada umat berhubungan dengan pengampunan dosa. Inilah yang mendorong kita untuk mengikuti sakramen ini: untuk memperoleh harta yang di dalam dan melaluinya kita menerima pengampunan dosa.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn6&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot;&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Calvin berpendapat bahwa roti dan anggur dalam ekaristi merupakan simbol tubuh Kristus yang dengannya kita memperoleh kekuatan rohani.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn7&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot;&gt;[7]&lt;/a&gt; Perjamuan merupakan tanda Allah memelihara anak-anak-Nya dalam persekutuan Gereja.Di dalam baptisan kita dilahirkan kembali oleh Allah, kita dimasukkannya ke dalam persekutuan Gereja-Nya dan diangkatnya menjadi anak-anak-Nya. Dan Ia melaksanakan tugas seorang kepala keluarga yang ingat akan nasib anak-anaknya dengan senantiasa menyediakan makanan bagi kita supaya kita terpelihara dan selamat di dalam kehidupan yang dimaksudkan-Nya bagi kita waktu kita dilahirkan-Nya dengan Firman-Nya.&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn8&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot;&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan dasar “diangkat menjadi anak-Nya dan pemeliharaan Allah” itulah, baptisan menjadi prasyarat seseorang untuk mengikuti perjamuan kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PERSIAPAN PERJAMUAN KUDUS&lt;br /&gt;Agar perjamuan kudus tidak menjadi sia-sia atau mendatangkan keburukkan (bnd 1Kor 11:17) karena diikuti asal-asalan, maka dilakukanlah persiapan sebelumnya. Persiapan bertujuan untuk pemeriksaan diri (&lt;em&gt;censura morum&lt;/em&gt; = sensus moral) setiap pribadi umat dan persekutuan Gereja, tetapi bukan penghakiman pribadi. Persiapan perjamuan kudus menekankan kembali akan undangan Tuhan untuk mengenangkan-Nya (1Kor 11:24) dan memberitakan-Nya (1Kor 11:26). Tujuan persiapan perjamuan kudus, pertama-tama bukan menyeleksi siapa yang boleh ikut dan siapa yang dilarang. Larangan mengikuti perjamuan atas diri seseorang, bukan hanya menimbulkan rasa malu tetapi juga sakit hati. Akibatnya adalah perpecahan dalam tubuh Jemaat, namun keburukan toh terus berlangsung.&lt;br /&gt;Undangan Tuhan untuk ikut makan dan minum semeja dengan-Nya bersifat kudus. Ini mengingatkan Gereja bahwa penyelenggara perjamuan adalah Tuhan sendiri, bukan Gereja. Undangan itu datang dari Tuhan, bukan dari Gereja. Karena undangan-Nya itu, umat dan Gereja mempersiapkan diri sebaiknya. Yang kurang, ditambahi. Yang buruk, diperbaiki. Yang bercela, dinasihati agar pantas menerima undangan Tuhan tersebut. Hal “seleksi” mengikuti perjamuan kudus muncul dalam sejarah yang akan diuraikan pada bagian berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; R.J. Halliburton, The Patristic Theology of the Eucharist, &lt;em&gt;The Study of Liturgy&lt;/em&gt;, h 202-203 menguraikan ajaran beberapa naskah dan Bapa gereja perihal kebersamaan dalam perjamuan. Antara lain:.Ignatius, Didakhe, Augustinus. Juga dikemukakan bahwa perpecahan dan pembatasan untuk berpartisipasi dalam perjamuan baru muncul setelah terjadi pemisahan ajaran Kristen ke dalam sekte-sekte.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn2&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Oleh sebab itu, saat ini &lt;em&gt;fractio&lt;/em&gt; (pemecahan roti) selalu diiringi dengan nyanyian &lt;em&gt;Agnus Dei&lt;/em&gt; (Anakdomba Allah) untuk menggambarkan bahwa ada hubungan kesatuan antara pembagian roti, pemerataan, dan kebersatuan dengan kurban Kristus Sang Anakdomba. Joseph Martos, &lt;em&gt;Doors to the Sacred&lt;/em&gt;, h 239-240. Saya juga berterimakasih kepada Pdt. Dede S. Muljana yang memberikan buku John H. Westerhoff III &amp;amp; William H. Willimon, &lt;em&gt;Liturgy and Learning through the Life Cycle&lt;/em&gt;, h 31.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn3&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; K.W. Noakes, Eucharist: from the Apostolic Fathers to Irenaeus, &lt;em&gt;The Study of Liturgy&lt;/em&gt;, h 170-171.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn4&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Ibid., h 171 menurut Justinus (± 100 – ± 165) dalam I Apologia 65 dan 67.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn5&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Martos, h 280-281.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn6&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Martin Luther, &lt;em&gt;Katekismus Besar&lt;/em&gt;. Penerjemah: Anwar Tjen, h 211-212.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn7&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Martos, h 282.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn8&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; Yohanes Calvin, &lt;em&gt;Institutio: Pengajaran, Agama Kristen&lt;/em&gt;. Penerjermah: Winarsih Arifin, Van den End, J.S. Aritonang. h 242.&lt;/span&gt;</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/03/perjamuan-kudus-di-gereja-kristen.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1485553314218597060.post-573186386128965947</guid><pubDate>Sat, 08 Mar 2008 12:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-28T10:09:55.593+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pastoralia</category><title>BINCANG LITURGI SEBAGAI SARANA PASTORAL</title><description>Pendeta Rasid Rachman melayani di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Surya Uatam di Jakarta Barat. Beliau adalah dosen luar biasa di STT Jakarta untuk mata kuliah Liturgi dan anggota Komisi Liturgi Sinode GKI. Berikut ini wawancara melalui surat elektronik dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya (T): &lt;em&gt;Menurut pengamatan Saudara, apa sajakah permasalahan penting dalam&lt;br /&gt;liturgi gereja-gereja kita, baik dari segi bentuk, teologi, bahasa, kontekstualisasi&lt;br /&gt;maupun proses penciptaan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jawab (J): Gereja-gereja di Indonesia umumnya belum melihat liturgi sebagai teologi; Gereja-gereja Protestan di Indonesia masih melihat liturgi sebagai hal di luar teologi dan hanya merupakan salah satu kegiatan gereja. Persepsi ini memang kekeliruan yang kita buat sendiri yang memberikan kegiatan liturgi kepada pemusik, seniman, dan arsitek. tanpa bimbingan teologis dari pihak gereja. Peran Pendeta paling-paling hanya “menjaga dogma”, dalam arti tidak membuat perubahan apa pun dalam liturgi kecuali telah diputuskan oleh Sinode.&lt;br /&gt;Sebagai teologi, liturgi saling berkaitan dengan Alkitab, sejarah dan tradisi gereja, budaya masyarakat, dan geliat teologi kontekstual. Jelas, Alkitab tidak menetapkan satu pun bentuk liturgi. Namun sejarah dan tradisi gereja mencipta bentuk-bentuk dan ritus-ritus. Budaya masyarakat memperkaya ritus dalam khazanah liturgi gereja secara ekumenis. Pada gilirannya, gereja “membaptis” budaya masyarakat. Itu yang terjadi dengan Natal yang semula adalah festival musim dingin dan Paska yang berasal dari festival musik semi. Hal ini sejajar dengan upaya teologi pembebasan di Amerika Latin dan teologi Minjung di Korea yang mengkristenkan konteks. Di Flores sekarang ini ada prosesi Jumat Agung yang semula merupakan perayaan kemenangan rakyat terhadap serangan musuh asing. Di Yogyakarta, ada paroki yang telah “mengkristenkan” busana adat sebagai busana imam memimpin liturgi. Beberapa penyair, semisal H.A. van Dop dari Belanda, A.K. Saragih dari Simalungun, dan S. Tarigan (melalui Suan Kol) telah menginsiasi konteks budaya ke dalam kekristenan.&lt;br /&gt;Terminologi inisiasi, “membaptis”, dan “membaptis” saya gunakan di sini untuk mempertegas bahwa yang telah dilakukan tersebut bukan sekadar coba-coba yang berkedok eksperimentasi dan kreativitas, terlalu banyak bermain, atau demi kepuasan individu dan sesaat.&lt;br /&gt;Kita terus menanti, mengharapkan, memotivasi agar para teolog Indonesia berpikir kontekstual untuk menghasilkan karya global. Tampilannya akan terlihat dalam perayaan liturgi di Gereja-gereja Protestan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Ini untuk gereja di kota-kota besar seperti Jakarta. Ada semacam fenomena di&lt;br /&gt;kalangan generasi muda yang memperlakukan gereja bak restoran: Tinggal pilih&lt;br /&gt;mana yang enak dan menarik. Juga bergengsi. Mereka menginginkan acara&lt;br /&gt;kebaktian gereja yang “diracik” ala panggung hiburan. Bagaimana Saudara&lt;br /&gt;menafsirkan fenomena ini?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J: Oleh karena liturgi tidak dipahami sebagai teologi perayaan, akibatnya tidak ada suasana perayaan dalam ibadah. Ibadah dijalankan melulu sebagai disiplin aturan, taat mati secara membabi buta pada keputusan sinode, diteruskan dengan peraturan Jemaat sendiri yang membuat “jangan ini dan jangan itu”; ini melahirkan kesan pengekangan. Perayaan liturgi seharusnya mengindahkan keteraturan sehingga dapat dinikmati dengan enak, bukan pengekangan. Pemberontakan selalu merupakan reaksi terhadap pengekangan. Ini dari satu sisi.&lt;br /&gt;Pada sisi yang lain, tawaran gaya hidup dan keberbagaian pilihan gaya beribadah juga memunculkan fenomena tersebut, sehingga menjadi gejala coba-coba, sekali menggunakan – “buang”, anti kemampanan atau konservativisme, dan anti pengaturan yang diindentikan dengan pengekangan.&lt;br /&gt;Yang penting adalah bagaimana sikap gereja. Seharusnya liturgi tetap pada eksistensi dasarnya, yaitu pertemuan dengan keteraturan yang tetap dan variasi yang selalu berubah. Dua hal ini paling logis dan manusiawi. Liturgi menyediakan sarana untuk kemanusiaan tersebut. Bahwasanya manusia membutuhkan hal keteraturan yang tetap dan variasi yang selalu berubah. Sebagaimana fenomena anti variasi, fenomena anti keteraturan tidak akan bertahan selamanya. Konon, gereja di Eropa sepi orang muda. Namun jangan lengah dan takabur. Biara-biara, gerakan kemanusiaan global, dan lembaga relawan sosial, dipenuhi oleh orang-orang muda baik Eropa, Amerika, maupun Asia. Bahkan sekarang ini banyak orang muda menjadi rahib/rubiah; terulang kembali fenoma abad ke-3. Orang-orang muda itu mulai bosan dengan keserbabebasan dan ketidakteraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Sudah sejauh manakah upaya gereja-gereja di Indonesia melakukan&lt;br /&gt;kontekstualisasi atau penggalian pengalaman umat dalam liturginya?&lt;br /&gt;Tolong berikan beberapa contoh.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J: Kalau saya tarik lini 1 sampai 100, mungkin sekarang baru pada angka 30. Ini optimisme, karena menggambarkan proses kontekstualisasi berjalan. Seabad yang lalu hanya bahasa asing di dalam liturgi, sekarang banyak yang menggunakan bahasa Indonesia atau Daerah. Sebelum 1984 (terbitnya Kidung Jemaat), kita tidak memiliki nyanyian jemaat Indonesia, sekarang sudah seratusan jumlah yang dikenal. Itu baru di area praksis. Yang banyak masih berada di area wacana. Beberapa mahasiswa STT Jakarta saja sedang atau sudah menulis skripsi S1 dan S2 tentang rumah adat (Karo, Sumba, Toraja) sebagai arsitektur gereja, perayaan adat (Timor, Ambon, Toraja) dan inisiasi adat (Dayak) sebagai perayaan gereja, dan seni (Sunda, Jawa) atau musik tradisional (Minahasa, Ambon) sebagai seni liturgi. Mudah-mudahan 30 tahun ke depan kita sudah sampai di angka 40 dalam praksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Gereja-gereja saat ini memasuki “Dasawarsa Mengatasi Kekerasan” (2001-&lt;br /&gt;2010). Menurut Saudara, bagaimana gereja-gereja dapat memberi kontribusi&lt;br /&gt;dalam upaya-upaya penghapusan kekerasan terutama kekerasan psikis yang&lt;br /&gt;bersifat verbal, simbolik atau bahkan struktural, melalui liturginya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J: Mulai dari gereja. Lalu gereja menggali tradisi ajarannya melalui Bapa-bapa gereja dan para orang berjasa bagi kemanusiaan dan dunia (bandingkan dengan Santo/a dalam tradisi Katolik). Kemudian gereja membuat semacam “kurikulum” penyampaian tema mengatasi kekerasan tersebut. Misal, tahun 2009 nanti adalah 500 tahun kelahiran Johannes Calvin. Apa sajakah ajaran Calvin tentang kekerasan dan kemanusiaan. Gereja juga menggali dan merencanakan ide–ide menentang kekerasan dari Benediktus Nursia, Cassiodorus, Fransiskus Asisi, Bunda Teresa dari Kolkata, Yap Thiam Hien, dan juga Munir, SH, dan lain-lain. Liturgi menampilkannya melalui khotbah, nyanyian jemaat, dan doa-doa syafaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Bagaimanakah semestinya liturgi merespons pluralisme agama, dalam arti&lt;br /&gt;agama-agama lain memperkaya liturgi gereja kita?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J : dalam rangka memperkaya liturgi, sebaiknya gereja menggunakan budaya masyakat. Liturgi khan mengedepankan harmonisasi, bukan konflik. Saya kira, umat agama lain akan tidak nyaman jika simbol dan pernak-pernik agamanya digunakan oleh gereja dalam liturgi, begitu pula sebaliknya. Gereja memiliki tradisi puasa (bandingkan dengan Hindu dan Islam), kiblat (bandingkan dengan Budha dan Islam), doa-doa harian 5 kali atau 7 kali sehari (bandingkan dengan Islam), air (bandingkan dengan Hindu), salib (dari Romawi) bukan karena gereja mengambil unsur agama-agama lain untuk memperkaya liturgi, melainkan karena unsur budaya tersebut telah digunakan gereja sejak lama sebelum berjumpa dengan Hinda, Budha, Romawi, dan Islam. Budaya “telah menyerahkan diri” untuk dipakai oleh agama dalam memperkaya penghayatan umat dalam ibadah.&lt;br /&gt;Bahwasanya ajaran agama-agama lain dapat memperkaya (sekaligus mengoreksi!) teologi gereja, memang seharusnya begitu. Jadi bukan mengungguli agama sendiri sambil menutup mata terhadap khazanah ajaran agama lain, melainkan terbuka untuk saling memperkaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Menurut Saudara, apakah gereja-gereja telah mendidik warganya agar lebih&lt;br /&gt;memahami susunan liturgi dan simbol-simbol yang digunakan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J: Ujung dari terjadi proses pendidikan adalah perubahan perilaku, perkembangan pola pikir, dan kecerdasan. Kalau liturgi diberikan hanya satu kali di kelas kakekisasi, tanpa implementasi dalam praksis perayaan, yang terjadi adalah terlalu banyaknya instruksi verbal hanya untuk duduk dan berdiri, umat pasif dalam ibadah, dan verbalisme alih-alih rasionalisme dan simbol. Dalam beberapa hal, umat masih berperilaku gerejawi seperti umat pada 3 abad lalu. Mau Natal, door to door cari sumbangan; ada korban bencana, 2-3 pekan kemudian baru mengumpulkan baju bekas dan jual koran bekas; beasiswa baru dibuka jika ada permintaan jemaat yang sudah terseok-seok untuk menyekolahkan anak; bantuan pengobatan baru turun jika sudah ada epidemi. Ini membuktikan bahwa gereja masih menempatkan liturgi sebagai salah satu kegiatan gereja yang bukan teologi. Liturginya ketinggalan zaman, niscaya praksis teologinya juga kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T: &lt;em&gt;Sejatinya apakah fungsi (pastoral) liturgi dan apa pula yang mau dicapai oleh&lt;br /&gt;suatu liturgi?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;J: Pastoral itu khan berarti memelihara dengan menjaga dan menumbuhkan. Pastoral bukan pengobatan yang dikerjakan hanya jika sudah menjadi masalah. Melalui perayaan liturgi, gereja menjaga kawanan domba Allah untuk selalu mengenangkan (anamnesis) peristiwa Kristus. Kristus itulah sumber kehidupan gereja. Liturgi adalah nafas kehidupan gereja. Jadi, liturgi harus menampakkan kepada dunia bahwa gereja itu hidup. Hidup harus bertumbuh (tambah taat, cerdas, dan bijak), bergerak (ada aksi, respons, upaya, dan kerja), sehat (aksi memberi sedekah, giat membangun, anti mengemis, dan melayani), dan berguna bagi dunia (sebagai juru damai, menjadi berkat, dan inspirasi bagi masyarakat). Baik umat maupun lembaga gereja yang beribadah dengan baik adalah umat dan lembaga gereja yang tahu menjalankan dan mengisi hidup dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara:&lt;br /&gt;Rainy MP Hutabarat&lt;br /&gt;via 7 Maret 2008</description><link>http://rasidrachman-liturgika.blogspot.com/2008/03/bincang-liturgi-sebagai-sarana-pastoral.html</link><author>noreply@blogger.com (Rasid Rachman)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>