<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB</title>
	
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 May 2012 13:21:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SalmanItb" /><feedburner:info uri="salmanitb" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/</creativeCommons:license><feedburner:emailServiceId>SalmanItb</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Memikirkan Pemikiran Soekarno</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/r3Fz18p3IcA/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/memikirkan-pemikiran-soekarno/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2012 23:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Faisal Fadilla Noorikhsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13482</guid>
		<description><![CDATA[<p>Siapa tak kenal sosok Soekarno, bapak bangsa Indonesia sekaligus presiden pertama Republik ini. Beliau adalah salah satu tokoh naional yang pemikiran-pemikirannya tidak habis dimakan zaman. Pancasila hanyalah salah satu pemikirannya. Konon katanya Soekarno...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/memikirkan-pemikiran-soekarno/">Memikirkan Pemikiran Soekarno</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13489" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/Picture-003.jpg"><img class="size-medium wp-image-13489" title="Picture 003" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/Picture-003-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://www.imajie.com/</p>
</div>
<p>Siapa tak kenal sosok Soekarno, bapak bangsa Indonesia sekaligus presiden pertama Republik ini. Beliau adalah salah satu tokoh naional yang pemikiran-pemikirannya tidak habis dimakan zaman. Pancasila hanyalah salah satu pemikirannya. Konon katanya Soekarno merusmuskan pancasila sewaktu dibuang  ke Ende. Setiap pagi dan petang di bawah pohon sukun Soekarno merenung.</p>
<p>Ada lagi yang sangat beliau pikirkan tentang Indonesia yaitu nasib kaum petani atau dalam sebutan beliau adalah kaum Marhaen. Kaum ini adalah kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain (misal: kaum dagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum grobag, kaum nelayan, dan lain-lain).</p>
<p>Soekarno mengartikan Marhaenisme sebagai suatu ideologi kerakyatan yang mempunyai cita-cita terbentuknya masyarakat yang sejahtera secara merata. Asas Marhaenisme adalah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sosio-nasionalisme adalah nasionalisme masyarakat, yaitu nasionalisme dengan kedua kakinya berdiri di atas masyarakat. Sosio-nasionalisme menolak setiap tindakan borjuisme yang menjadi sebab kepincangan masyarakat.</p>
<p>Soekarno juga yakin, bahwa untuk menentang kolonialisme dan imperialisme serta mewujudkan persatuan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan adalah dengan menyatukan tiga aliran paham besar yang ada di masyarakat Indonesia, yaitu nasionalistis, Islamistis, dan Marxistis. Ketiga gelombang besar ini bisa bersatu untuk melawan kolonialisme . Nasionalisme menekankan pentingnya batas-batas dan kepentingan nasional, agama (Islam) pada dasarnya bersifal universal, menolak batas-batas nasionalisme dan materialisme ala Marx. Namun demikian ketiganya memiliki tujuan yang sama.</p>
<p>Soekarno sangat anti terhadap kolonialisme dan imperialisme. Menurutnya penindasan bukan hanya datang dari para kapitalis asing saja, tetapi juga dari para kapitalis bangsa sendiri, dan dari kesewenang-wenangan kaum borjuis lokal. Hanya nasionalisme yang bersifat Marhaenis-lah yang bisa menjalankan tugas sejarah guna menghilangkan segala borjuisme dan kapitalisme.</p>
<p>Menurut Soekarno, Islam tidak harus digabungkan dengan negara.  Dalam negara demokrasi, Soekarno menilai semua aspirasi  dapat disalurkan melalui parlemen.</p>
<p>***</p>
<p>Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1965. Judul aslinya &#8220;Soekarno: An Autobiography as told to Cindy Adams&#8221;. Memang bukan buku biografi resmi Bung Karno, tapi buku ini cukup lengkap menceritakan kehidupan, cita-cita politik, perjuangan, harapan-harapan serta latar belakang langkh-langkah yang diambil oleh Bapak bangsa ini.</p>
<p>Pertama kali terbit dalam bahasa Indonesia pada tahun 1966. Judulnya &#8220;Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia&#8221;. Terakhir dicetak ulang pada tahun 2000. Dalam cetakan edisi revisi ini semua kesalahan dalam penulisan sudah diperbaiki. Misal, salah terjemah untuk istilah “soldier of fortune” yang diterjemahkan “prajurit terhormat”, bukan “serdadu bayaran”.  Atau megenai kalimat yang mendiskreditkan peranan Bung Hatta dalam proklamasi “Di dalam dua hari yang memecahkan urat saraf itu  peranan Hatta dalam sejarah tidak ada.”</p>
<p>***</p>
<p><strong>Identitas Buku</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="http://a2.img.mobypicture.com/fa2bf7f71a628fc39773ffc1e3660a76_view.jpg" alt="" width="130" height="173" /></p>
<p>Judul                : Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia<br />
Pengarang       : Cindy Adams<br />
Penerjemah      : Syamsu Hadi<br />
Terbit               : Cetakan Pertama Edisi Revisi 2007, Cetakan kedua Edisi Revisi 2012<br />
Penerbit           : PT MEDIA PRESINDO<br />
Tebal               : 432 Halaman<br />
ISBN               : 979-911-032-7-9</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/memikirkan-pemikiran-soekarno/">Memikirkan Pemikiran Soekarno</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/r3Fz18p3IcA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/memikirkan-pemikiran-soekarno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/memikirkan-pemikiran-soekarno/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Cerdas Baca Buku, Pintar Baca Lingkungan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/zd1IHicvtOA/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/cerdas-membaca-buku-pintar-membaca-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2012 13:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Faisal Fadilla Noorikhsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13473</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160; Sudahkah Anda membaca hari ini? Buku apa yang Anda baca? Kita sering mendengar kalimat membaca pangkal pandai. Sudahkah membaca menjadi rutinitas harian kita? Jika kita tengok para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/cerdas-membaca-buku-pintar-membaca-lingkungan/">Cerdas Baca Buku, Pintar Baca Lingkungan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_m4ouktVunb1r9mgqro1_500.jpg" alt="" width="490" height="326" />
<p class="wp-caption-text">(Gambar: teachingliteracy.tumblr.com)</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudahkah Anda membaca hari ini? Buku apa yang Anda baca? Kita sering mendengar kalimat membaca pangkal pandai. Sudahkah membaca menjadi rutinitas harian kita?<br />
</p>
<div>Jika kita tengok para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Sebut saja Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir. Mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar. Kita tidak mungkin berdiskusi tanpa membaca dulu sebelumnya. Dengan membaca perdebatan dalam diskusi menjadi lebih bermutu dan tetap relevan dibaca.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Ada cerita betapa dekatnya pendiri bangsa dengan buku. Bung Hatta menjadikan buku karangannya, Al<em>am Pikiran Yunani</em> sebagai hadiah pengantin untuk isterinya. Seorang penyair dari Padang pernah berkata tentang Bung Hatta, “Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan tamat dibaca.”</div>
<div></div>
<p></p>
<div>“Tidak ada orang besar yang tidak membaca. Bahkan Fi&#8217;raun pun membaca. Meskipun Fir&#8217;aun dari kebiasaan membacanya itu membuatnya melakukan tindakan negatif,” kata Oom Nurohmah, ketika ditemui di ruangannya di kantor  Badan Perpustakaan dan Arsip daerah (BAPUSIPDA) jumat (25/5).</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Untuk mencapai tahap minat baca, orang terlebih dulu melewati tahapan kemampuan membaca.”Sebelum minat tumbuh, kemampuan membaca dulu yang ditumbuhkan,” ujar ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Jawa Barat. Menurutnya, kemampuan membaca itu bukan bawaan sejak lahir, tetapi harus dilatih.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Ada proses yang dilewati untuk mewujudkan kondisi gemar membaca. Proses tersebut dibina dari lingkungan terkecil. Keluarga merupakan lingkungan terkecil untuk membina dan mewujudkan gemar membaca.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>“<em>Political will</em> (regulasi) supaya terwujud budaya baca pun sangat penting. Pemerintah lewat kebijakan yang dikeluarkan bisa mendorong ke arah terwujudnya budaya baca,” ujar Oom. Mewujudkan budaya baca pada akhirnya menjadi tugas bersama, baik itu keluarga, lingkungan sekolah sampai pada pemerintah.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Menurut data UNCEF, minat baca orang Indonesia tergolong rendah. Kalau dipresentasekan Indonesia berada pada kisaran 0,01 pesen. “Artinya di Indonesia  satu buku di baca oleh seribu orang,” tambah Oom. Tampaknya ini terkait dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih memilih ke pusat perbelanjaan ketimbang toko buku atau perpustakaan di kala waktu senggang.</div>
<div></div>
<div></div>
<p></p>
<div><strong>Mengembalikan Fungsi Pepustakaan</strong></div>
<div></div>
<p></p>
<div>Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW dengan ayat pertama yang berbunyi “iqra”, bacalah, bacalah dengan menyebut Tuhan yang Maha Pemurah.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>“Jelaslah, manusia diciptakan untuk membaca. Bukan sekedar membaca teks tapi juga lingkungan, alam sekitar,” kata Oom.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Perkembangan teknologi informasi dewasa ini, di satu sisi ada peluang dan juga ancaman. Peluang untuk kita mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Ancaman ketika digunakan secara tidak bijak dan etis.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>“Kita harus cerdas informasi dan cerdas media,” terang Oom. “Itu juga bagian dari membaca. Membaca lingkungan. Tren teknologi saat ini kita ikuti. Tapi dalam menggunakannya kita harus bijak dan etis. Orang yang bjak dan etis tentu akan dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukanya.”</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Informasi juga bisa kita dapatkan di perpustakaan. Melalui buku-buku yang ada di perpustakaan kita dapat menjadikan informasi sebagai sumber kekuatan. Salah satu fungsi dari perustakaan adalah sebagai fungsi informatif.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Di perpustakaan juga kita bisa belajar. Ada pertarungan dialektika di sana. Lewat buku-buku kita membangun karakter. Buku kerap kita anggap “tidak ramah”. Kita malas membeli buku karena harganya kelewat mahal. Oleh sebab itu perpustakaan menjadi solusi bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.</div>
<div></div>
<p></p>
<div>Sudah saatnya kita mulai melestarikan budaya membaca. Hari ini banyak cara dikembangkan agar membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, lewat lagu yang membangkitkan gairah untuk membaca. Seperti yang dilakukan oleh Oom dan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). Mereka merilis album yang berisi lagu-lagu untuk menumbuhkan semangat membaca. Membaca disajikan dengan se-rekreatif mungkin dan tidak menjemukan.<em> So</em>, siapa lagi yang menyusul? ***</div>
<div></div>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/cerdas-membaca-buku-pintar-membaca-lingkungan/">Cerdas Baca Buku, Pintar Baca Lingkungan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/zd1IHicvtOA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/cerdas-membaca-buku-pintar-membaca-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/cerdas-membaca-buku-pintar-membaca-lingkungan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Iwan Setyawan: Tembus Batas Ketakutan!</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/NAU9zLO2Pl8/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 14:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raudika Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13436</guid>
		<description><![CDATA[<p>Iwan Setyawan mengisi acara bedah buku dalam penutupan rangkaian acara Islamic Student Fair (ISF), Minggu (20/5). Dalam acara yang digelar di Aula Timur ITB tersebut Iwan membahas novel inspiratifnya yang berjudul ‘9 Summers...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/">Iwan Setyawan: Tembus Batas Ketakutan!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13437" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/iwan-setyawan/" rel="attachment wp-att-13437"><img class="size-medium wp-image-13437" title="iwan setyawan" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/iwan-setyawan-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Seperti biasa, Iwan Setyawan berkisah pengalaman hidupnya dengan penuh semangat. (Foto: Fery AP)</p>
</div>
<p style="text-align: left;" align="center">Iwan Setyawan mengisi acara bedah buku dalam penutupan rangkaian acara Islamic Student Fair (ISF), Minggu (20/5). Dalam acara yang digelar di Aula Timur ITB tersebut Iwan membahas novel inspiratifnya yang berjudul ‘9 Summers 10 Autumuns’.</p>
<p>Seperti <em>tagline</em> pada bukunya, ‘Dari Kota Apel ke The Big Apple’, novel tersebut mengisahkan perjalanan hidup Iwan, seorang anak supir angkot dari Kota Batu, Malang, yang menjadi direktur di New York City.</p>
<p>Dalam acara bedah buku tersebut Iwan berujar, “tembus batas ketakutan.” Pelan, namun penuh tekanan di setiap kata.</p>
<p>Kata-kata yang kerap Iwan jadikan pegangan ini berawal dari nasihat ibunya. Dahulu, dari Batu Iwan merantau ke Bogor. Dirinya yang seorang juara keras menemui banyak pesaing dalam merebut prestasi akademik. Mulai dari siswa dengan prestasi olimpiade tingkat nasional sampai tingkat internasional menjadi rivalnya.</p>
<p>Nyalinya sempat ciut. Iwan menghubungi ibunya dan mengeluh bahwa ia tidak kuat hidup di Bogor. Ibunya hanya menyuruhnya untuk pulang saja ke Batu. Namun, di akhir pembicaraan mereka, ibunya berkata, “Coba dulu jangan takut.” Dan itulah yang ia lakukan. Mencoba sampai akhirnya berhasil menembus batas ketakutan itu.</p>
<p>Menurut penyuka yoga ini, hidup seperti pelayaran.Membangun masa depan haruslah dari sekarang. Mimpi sekecil apa pun jika dikejar sepenuh hati akan ada bonusnya. Sementara kerja keras merupakan investasi untuk masa depan.***</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/">Iwan Setyawan: Tembus Batas Ketakutan!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/NAU9zLO2Pl8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/iwan-setyawan-tembus-batas-ketakutan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Masjid Salman ITB Belum Ramah Penyandang Disabilitas</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/EsadNXxU1mc/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/masjid-salman-itb-belum-ramah-penyandang-disabilitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2012 04:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13463</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebagian besar masjid di Indonesia belum ramah terhadap penyandang disabilitas, termasuk Masjid Salman ITB. Demikian disampaikan oleh Muhammad Budi Pramono, staf Advokasi Bandung Independent Living Center (BILIC), ketika mengunjungi Masjid Salman ITB beberapa waktu lalu.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/masjid-salman-itb-belum-ramah-penyandang-disabilitas/">Masjid Salman ITB Belum Ramah Penyandang Disabilitas</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13466" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.png"><img class=" wp-image-13466 " title="disabilitas dan pandangan masyarakat" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat-300x300.png" alt="Disabilitas" width="250" height="250" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: hujan-info.blogspot.com</p>
</div>
<p>Sebagian besar masjid di Indonesia belum ramah terhadap penyandang disabilitas, termasuk Masjid Salman ITB. Demikian disampaikan oleh Muhammad Budi Pramono, staf Advokasi Bandung Independent Living Center (BILIC), ketika mengunjungi Masjid Salman ITB beberapa waktu lalu.</p>
<p>Lebih lanjut, Budi menyampaikan bahwa umumnya masjid di Indonesia dibuat tinggi. Sehingga tidak bisa menghindari keberadaan tangga. Hal ini, menurut Budi, tidak ramah untuk penyandang disabilitas, khususnya yang membutuhkan kursi roda sebagai alat bantunya.</p>
<p>&#8220;Padahal, masjid kan tempat untuk semua orang, termasuk para penyandang disabilitas,&#8221; ungkap penyandang Cerebral Palsy (Lumpuh Otak) ini. Untuk itu, Budi mengharapkan pengurus masjid memiliki wawasan tentang penyandang disabilitas. Lebih dari itu, Budi juga mengharapkan masjid memiliki sarana dan prasarana pendukung penyandang disabilitas untuk menjalankan aktivitas ibadahnya.</p>
<p>Budi mencontohkan sarana dan prasarana untuk penyandang tuna rungu dan tuna wicara adalah tanda yang membuat mereka tidak perlu bicara. Sedangkan untuk pengguna kursi roda, membutuhkan lantai yang landai. Selain itu, idealnya masjid pun memiliki pendamping untuk penyandang disabilitas, khususnya untuk penyandang tuna netra dan Cerebral Palsy. &#8220;Tugasnya membantu mengarahkan jalan di masjid,&#8221; papar sastrawan Bandung ini.</p>
<p><strong>Terjatuh di Salman ITB</strong></p>
<p>Sebelum menemui saya, Budi sempat terjatuh di Masjid Salman ITB. Ketika itu, dia hendak berwudhu dan melaksanakan shalat Ashar di masjid kampus pertama di Indonesia tersebut.</p>
<p>Adapun penyebabnya adalah sebuah kubangan pembatas antara toilet dan tempat wudhu pria. Kubangan ini disediakan sebagai tempat mencuci kaki jamaah yang baru saja buang air di toilet. &#8220;Seharusnya warna lantainya dibuat berbeda, sehingga orang-orang (yang baru berkunjung pertama kali) sadar ada lubang untuk mencuci kaki,&#8221; usul Budi.</p>
<p>Hal yang patut disesalkan, ketika Budi terjatuh, tidak ada seorang pun yang menolong Budi. Mereka hanya melihat. &#8220;Kemungkinan mereka (jamaah) bingung harus melakukan apa. Mungkin juga mereka baru melihat penyandang CP (Cerebral Palsy) seperti saya,&#8221; ungkap Budi berpikir positif.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/masjid-salman-itb-belum-ramah-penyandang-disabilitas/">Masjid Salman ITB Belum Ramah Penyandang Disabilitas</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/EsadNXxU1mc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/masjid-salman-itb-belum-ramah-penyandang-disabilitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/masjid-salman-itb-belum-ramah-penyandang-disabilitas/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [25 Mei 2012]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/24bPh8zRQhg/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2012 01:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13454</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rumah Amal Salman ITB bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung akan menggelar aksi donor darah. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada: Hari       : Jumat Tanggal : 25 Mei...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/">Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [25 Mei 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13455" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/dordar-4/" rel="attachment wp-att-13455"><img class="size-medium wp-image-13455" title="dordar" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/dordar-207x300.jpg" alt="" width="207" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">Donor darah 25 Mei 2012</p>
</div>
<p>Rumah Amal Salman ITB bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung akan menggelar aksi donor darah. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:</p>
<p>Hari       : Jumat</p>
<p>Tanggal : 25 Mei 2012</p>
<p>Waktu   : Pukul 10.00-14.00 WIB</p>
<p>Tempat : Komplek Masjid Salman ITB, Jl. Ganesha no. 7, Bandung</p>
<p>Bagi anda yang ingin mendonorkan darahnya, dapat mendaftar melalui SMS ke 0811 222 8333. Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubungi Ani (0856 240 92 107).</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/">Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [25 Mei 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/24bPh8zRQhg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/aksi-donor-darah-dan-infaq-transfusi-25-mei-2012/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>150 Peserta Learning Camp untuk Merintis Beasiswanya Sendiri</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/k0mXpmFU4rg/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2012 03:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Mulya Dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13327</guid>
		<description><![CDATA[<p>Masuk ke lingkungan militer, berarti harus bisa beradaptasi dengan aturan-aturan yang ada di sana. Jalan yang di- verboden, aturan berjalan, dan selalu berpakaian rapi. Hal tersebut dialami 150 peserta Learning Camp (LC) Beasiswa Perintis II.  Pasalnya, tahun...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/">150 Peserta Learning Camp untuk Merintis Beasiswanya Sendiri</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13402" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/perintis-5/" rel="attachment wp-att-13402"><img class="size-medium wp-image-13402" title="perintis" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/perintis-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Suasana belajar beasiswa perintis 2, selama empat pekan mereka akan digembleng untuk bersiap menempuh SNMPTN. (Foto: Irfan R)</p>
</div>
<p>Masuk ke lingkungan militer, berarti harus bisa beradaptasi dengan aturan-aturan yang ada di sana. Jalan yang di- <em>verboden, </em>aturan berjalan, dan selalu berpakaian rapi<em>. </em>Hal tersebut dialami 150 peserta <em>Learning Camp</em> (LC) Beasiswa Perintis II.  Pasalnya, tahun ini LC berlangsung di Sadik (Sekolah Pendidikan) Infanteri Susjur Beta Pusdikif, Cimahi.</p>
<p>Mereka akan tinggal selama empat pekan, sejak Ahad lalu (13/5) hingga sabtu (9/6). Namun, jika diantara mereka ada yang lolos SNMPTN Undangan, mereka diperkenankan untuk pulang pada 29 Mei mendatang. Tujuan LC ini untuk mempersiapkan siswa SMA untuk mengikuti SNMPTN, harapannya semua peserta LC ini tembus Perguruan Tinggi Negeri.</p>
<p>Menurut Irfan, koordinator  lapangan LC, mereka diarahkan untuk bisa merintis beasiswanya sendiri  ketika telah lolos di PTN,“Kita kasih informasinya, yang paling utama beasiswa bidikmisi, dan kita mengarahkan mereka, kan ada beasiswa salman juga, kita bantu secara kekeluargaan”, katanya.</p>
<p>LC ini dipegang oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan (LPP) Salman seluruhnya. Peserta LC pun beragam, terdiri dari SMA/MA se-Jawa Barat. Ada yang berasal dari saringan Beasiswa Perintis Bandung, MA Salman Cirebon, MA Putri Talaga, Garut Selatan, dan ujian mandiri. Kendati demikian ada juga siswa yang berasal dari SMA Balikpapan, Kalimantan. Siswa tersebut menempuh jalur ujian mandiri agar dapat mengikuti LC kali ini.</p>
<p>Fasilitas penunjang belajar mereka dapatkan secara gratis seperti, buku SNMPTN, makan sehari tiga kali, juga kaos. Pengajar dan fasilitator berasal dari mahasiswa ITB, UPI, dan UNPAD. Selain itu LPP menyediakan tim psikolog, “Untuk mereka konsultasi mengenai jurusan yang mereka pilih”, tukas Irfan.</p>
<p>Kalaupun ada penarikan biaya, biaya tersebut digunakan untuk biaya <em>laundry</em>. “Karena disana anak-anak tidak ada kesempatan untuk nyuci, mereka belajar, belajar, dan belajar” tegasnya. Orang tua siswa pun tidak keberatan dengan tarif tersebut. Mereka pun siap untuk berpisah dengan putra-putrinya sementara waktu. Namun, mereka boleh berkunjung pada Ahad mendatang (27/5). <strong>[Fe]</strong></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/">150 Peserta Learning Camp untuk Merintis Beasiswanya Sendiri</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/k0mXpmFU4rg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/150-peserta-learning-camp-untuk-merintis-beasiswanya-sendiri/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Profesional Training on Media &amp; Journalistics #1 [26 Mei-17 Juni 2012]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/YmX1Ovm85P8/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 06:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13441</guid>
		<description><![CDATA[<p>1. Training “Menulis untuk Media Massa” Pemateri: Islaminur Pempasa, M.Si (Praktisi, trainer, konsultan dalam bidang penulisan. Dosen IM Telkom) Materi (4 pertemuan) &#124; Sabtu &#124; 26 Mei &#124; 2, 9, 16 Juni 2012...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/">Profesional Training on Media &#038; Journalistics #1 [26 Mei-17 Juni 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13442" class="wp-caption alignleft" style="width: 180px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/professional-training-on-media-and-journalistic/" rel="attachment wp-att-13442"><img class="size-full wp-image-13442" title="Professional training on media and journalistic" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/Professional-training-on-media-and-journalistic.jpg" alt="" width="180" height="254" /></a>
<p class="wp-caption-text">Professional Training on Media and Journalistic</p>
</div>
<p>1. Training “Menulis untuk Media Massa”<br />
Pemateri: Islaminur Pempasa, M.Si (Praktisi, trainer, konsultan dalam bidang penulisan. Dosen IM Telkom)<br />
Materi (4 pertemuan) | Sabtu | 26 Mei | 2, 9, 16 Juni 2012 | 9.00-12.00:<br />
• Membongkar Hambatan Menulis<br />
• Gagasan dan Pre-writing Strategy<br />
• Editing<br />
• Intellectual Public dan Mengirim ke Media Massa</p>
<p>2. Training “Fotografi”<br />
Pemateri: Dudi Sugandi (Fotografer Senior Pikiran Rakyat)<br />
Materi (4 pertemuan) | Sabtu | 26 Mei | 2, 9, 16 Juni 2012 | 9.00-12.00:<br />
• Mengenal Peralatan Fotografi<br />
• Komposisi dan Pencahayaan<br />
• Momen dan Editing<br />
• Praktek – Photo Hunting</p>
<p>3. Training “Desain dan Layout”<br />
Pemateri: Nada Ahmad (Layouter Senior Pikiran Rakyat)<br />
Materi (4 pertemuan) | Sabtu | 26 Mei | 2, 9, 16 Juni 2012 | 13.00-16.00:<br />
• Desain: Sebuah Perkenalan<br />
• Komposisi dan Warna<br />
• Layout: Aplikasi Desain<br />
• Project</p>
<p>4. Training “Public Speaking”<br />
Pemateri: Moh. Arif (Penyiar Sindo Radio)<br />
Materi (4 pertemuan) | Minggu | 27 Mei | 3, 10, 17 Juni 2012 | 13.00-16.00:<br />
• Public Speaking: Sebuah Perkenalan<br />
• Suara dan Intonasi<br />
• Membangun Mental dan Konten<br />
• Praktek</p>
<p>Fasilitas:<br />
- CD Kompilasi Materi<br />
- Makanan Ringan<br />
- Konsultasi (Life Time)<br />
- Sertifikat (75% kehadiran)</p>
<p>Biaya Training:<br />
Reguler:<br />
1 Training Rp 200.000 | 2 Training Rp 350.000 | 3 Training Rp 500.000 | 4 Training Rp 650.000<br />
Early Bird (Sebelum tanggal 23 Mei 2012):<br />
1 Training Rp 150.000 | 2 Training Rp 250.000 | 3 Training Rp 400.000 | 4 Training Rp 500.000</p>
<p>Informasi dan Pendaftaran:<br />
DPP Salman ITB<br />
Jalan Ganesha 7 Bandung 40132<br />
Synersia EO<br />
Septian Firmansyah (0856 5938 7339)<br />
Nadhira Rizki (0856 2414 0389)</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/">Profesional Training on Media &#038; Journalistics #1 [26 Mei-17 Juni 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/YmX1Ovm85P8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/profesional-training-media-journalistics-1-26-mei17-juni-2012/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/AHzXqawBeVs/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 07:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13429</guid>
		<description><![CDATA[<p>Anda merasa &#8216; melaksanakan sholat tapi masih merasa hampa&#8217; ? sholat hanya sebatas melaksanakan kewajiban? temukan jawabannya di Kelas Tematik DPD Salman, &#8221; Shalat, sebuah solusi dalam hidup dan kehidupan &#8220; Materi: 1. Kajian...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/">Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13430" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/kelas-tematik/" rel="attachment wp-att-13430"><img class="size-medium wp-image-13430" title="kelas tematik" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/kelas-tematik-300x208.jpg" alt="" width="300" height="208" /></a>
<p class="wp-caption-text">Kelas Tematik DPD Salman</p>
</div>
<p>Anda merasa &#8216; melaksanakan sholat tapi masih merasa hampa&#8217; ?</p>
<p>sholat hanya sebatas melaksanakan kewajiban?</p>
<p>temukan jawabannya di Kelas Tematik DPD Salman, &#8221; Shalat, sebuah solusi dalam hidup dan kehidupan &#8220;</p>
<p>Materi:<br />
1. Kajian Lintas Mahzab</p>
<p>a. Fiqih yang disepakati dalam salat [24 Mei 2012]</p>
<p>b. Fiqih perbedaan dalam salat [31 Mei 2012]</p>
<p>Pemateri: KH. Agus Syarif H. Lc, MA.</p>
<p>(Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Bandung dan Pimpinan Ponpes Wasilatul Huda Cikuyu, Cicalengka )</p>
<p>2. Hikmah Salat</p>
<p>a. Rahasia di balik salat (hikmah personal) [7 Juni 2012]</p>
<p>Pemateri: Dra. Iip Fariha, M.Psi (Psikolog di RS PINDAD)</p>
<p>b. Hikmah Salat dalam kehidupan manusia (Hikmah sosial) [14 Juni 2012]</p>
<p>Pemateri: Adriano Rusfi, M.Psi (Psikolog)</p>
<p>WAKTU DAN TEMPAT<br />
Kelas dilaksanakan tiap hari Kamis, 24 Mei 2012 hingga 14 Juni 2012 Pkl. 16:00-18:00 WIB di Kompleks Masjid Salman ITB, Jl. Ganesha No. 7, Bandung.</p>
<p>BIAYA</p>
<p>Pendaftaran : Rp 20.000,-</p>
<p>Infaq Program : Rp 80.000,-</p>
<p>PENDAFTARAN</p>
<p>Daftar langsung ke Sekretariat DPD (Divisi Pelayanan dan Dakwah) Salman ITB Gedung Kayu Lt. 1, setiap hari Senin-Jumat pkl. 10:00-16:00 WIB, Sabtu pkl. 10:00-14:00 WIB.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/">Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/AHzXqawBeVs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/kelas-tematik-dpd-salman-itb-shalat-sebuah-solusi-dalam-hidup-dan-kehidupan-24-mei-201214-juni-2012/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pengumuman Seleksi Administrasi Beasiswa Salman</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/hEGF9zK-AfI/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/pengumuman-seleksi-administrasi-beasiswa-salman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 06:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13425</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hasil Seleksi Administrasi Calon Penerima Beasiswa Salman ITB 2012. Berdasarkan hasil seleksi administrasi yang masuk ke panitia penerimaan beswan Salman ITB, berikut ini kami umumkan nama-nama yang lolos seleksi administrasi. No Nama Lengkap Pilihan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/pengumuman-seleksi-administrasi-beasiswa-salman/">Pengumuman Seleksi Administrasi Beasiswa Salman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13164" class="wp-caption aligncenter" style="width: 212px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/pendaftaran-beasiswa-salman-itb-periode-juli-desember-2012-1-13-mei-2012/poster-beasiswa/" rel="attachment wp-att-13164"><img class="size-medium wp-image-13164" title="poster beasiswa" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-212x300.jpg" alt="" width="212" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">Beasiswa Salman</p>
</div>
<p>Hasil Seleksi Administrasi Calon Penerima Beasiswa Salman ITB 2012.</p>
<p>Berdasarkan hasil seleksi administrasi yang masuk ke panitia penerimaan beswan Salman ITB, berikut ini kami umumkan nama-nama yang lolos seleksi administrasi.</p>
<table width="329" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<colgroup>
<col width="25" />
<col width="184" />
<col width="120" /> </colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="25" height="51"><strong>No</strong></td>
<td width="184"><strong>Nama Lengkap</strong></td>
<td width="120"><strong>Pilihan Beasiswa Yang Diajukan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Subkhan Sarif</td>
<td width="120">Adzan</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Wisam Rizqullah</td>
<td width="120">Adzan</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">M. Kamalul Imam B.</td>
<td width="120">Adzan</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Abdul Aziz</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Adrian Tahriz Lazuardi</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">Anis Balqis Nursaumi</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td width="184">Atik Agustini</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td width="184">Atti Sholihah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td width="184">Avrionesti</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">7</td>
<td width="184">Bisma Alfian Nurandika</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">8</td>
<td width="184">Dea Annisa Utami</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">9</td>
<td width="184">Dede Ridwan</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">10</td>
<td width="184">Dieni Hanifa Robihatul Aisy</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">11</td>
<td width="184">Eko Apriansyah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">12</td>
<td width="184">Eva Nurmalasari</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">13</td>
<td width="184">Fani Afriyani Susilawati</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">14</td>
<td width="184">Febriliawan Dewanti Hariyanto</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">15</td>
<td width="184">Feny Permatasari</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">16</td>
<td width="184">Fitri Rizkia Gahari</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">17</td>
<td width="184">Hanaan</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">18</td>
<td width="184">Leni Nur Hikmah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">19</td>
<td width="184">Leni Syarifah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">20</td>
<td width="184">M. Dodi Rusli</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">21</td>
<td width="184">Ma&#8217;mun Firmansyah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">22</td>
<td width="184">Nurul Aini Hermawan</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">23</td>
<td width="184">Rani Nurzahidah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">24</td>
<td width="184">Rina Anur Sari</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">25</td>
<td width="184">Romi Hardiyansyah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">26</td>
<td width="184">Siti Nurani Hikmah</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">27</td>
<td width="184">Susila Hadiyati</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">28</td>
<td width="184">Wahyudi Nugraha</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">29</td>
<td width="184">Wuddan Nadhirah R.</td>
<td width="120">Aktivis</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">30</td>
<td width="184">Luthfie</td>
<td width="120">Aktivis &#8211; Tutor TPB</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Akhmad Arraafiqi</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Angga Kusumadinata</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">Ario Dean Wirawan</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td width="184">Ayu Puspa Wirani</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td width="184">Bagus Hanindhito</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td width="184">Baharuddin Aziz</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">7</td>
<td width="184">Dinara Enggar Prabakti</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">8</td>
<td width="184">Fady Noor Ilmi Lubis</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">9</td>
<td width="184">Guntur Adisurya Ismail</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">10</td>
<td width="184">Muhammad Taufik Hidayat</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">11</td>
<td width="184">Muhammad Yusuf Musabbiq</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">12</td>
<td width="184">Selma Nurul Fauziah</td>
<td width="120">Biaya Hidup</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Aini Yurisa</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Aditya Pratama</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">Agus Risman Suryaman</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td width="184">Aldi Rudianto</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td width="184">Asnin Nur Salamah</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td width="184">Dicky Fauzi Firdaus</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">7</td>
<td width="184">Mariah Rabiatul Qibtiyah</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">8</td>
<td width="184">Masmaranti Khairunisa</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">9</td>
<td width="184">Muhammad Kamal Wisyaldin</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">10</td>
<td width="184">Muhammad Usman</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">11</td>
<td width="184">Muldani Dwi Badrianto</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">12</td>
<td width="184">Nuriati Kartika</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">13</td>
<td width="184">Rohaeti</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">14</td>
<td width="184">Teuis Siti Nurlaela</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">15</td>
<td width="184">Vika Asriani</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">16</td>
<td width="184">Wina Iswatun Hasanah</td>
<td width="120">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Alfiyah Nur Fitriani</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Ela</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">Joko Pebrianto Trinugroho</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td width="184">Muhammad Azka</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td width="184">Muhammad Ikramurrasyid</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td width="184">Rio Aurachman</td>
<td width="120">Pengajar Al-Quran</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td width="184">Evi Latifah</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td width="184">Mardliyahtur Rohmah</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td width="184">Risci Rusyanawati</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td width="184">Riski Hadi Noercahyo</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td width="184">Syamsul Arifien</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td width="184">Tuti Alawiyah</td>
<td width="120">Wirausaha</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Kami ucapkan selamat kepada nama-nama tersebut di atas. Untuk informasi selengkapnya, silahkan datang langsung ke sekretariat Divisi Kemahasiswaan dan Kaderisasi (DMK) Salman ITB pada jam kerja, Senin-Jumat (08.00-16.00) dan Sabtu (08.00-12.00).</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/pengumuman-seleksi-administrasi-beasiswa-salman/">Pengumuman Seleksi Administrasi Beasiswa Salman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/hEGF9zK-AfI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/pengumuman-seleksi-administrasi-beasiswa-salman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/pengumuman-seleksi-administrasi-beasiswa-salman/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Budi is Different…</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SalmanItb/~3/_qglLfH0nqY/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/budi-different/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 06:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13418</guid>
		<description><![CDATA[<p>Budi sendiri hidup dengan Cerebral Palsy (CP) atau Lumpuh Otak. CP membuat saraf motoriknya terganggu. Sehingga tidak mampu mengoptimalkan gerak anggota badannya. Meskipun begitu, kemampuan intelektual orang dengan CP tidak terganggu sedikit pun.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/budi-different/">Budi is Different&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13420" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/M-Budi-P.jpg"><img class="size-medium wp-image-13420" title="M Budi P" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/M-Budi-P-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Budi ketika berkunjung ke Masjid Salman ITB (Foto: Yudha PS)</p>
</div>
<p>Mendung menggelayut pekat di atas kota Bandung. Sore itu, Mukti Mukti menggaungkan dendangnya di kafe Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. Im Books, sebuah toko buku di GIM, tengah merayakan ulang tahunnya yang pertama. Sekitar 20 orang undangan hanyut mendengarkan nyanyian Mukti.</p>
<p>Begitu juga dengan Budi Pramono (25). Dia duduk di samping kanan panggung menyaksikan pertunjukan musik akustik sore itu.</p>
<p>Ada yang membedakan Budi Pramono dari undangan lainnya. Kedua tangannya tidak bisa bergerak bebas. Jari-jarinya terkuncup kaku. Persendian di sikunya membentuk sudut sekitar 60 derajat dan tidak bisa diluruskan.</p>
<p>Begitu pun dengan kakinya. Persendian di lututnya membentuk sudut sekitar 120 derajat dan tidak bisa diluruskan. Bila berjalan, tampak pincang.</p>
<p>Perbedaan ini juga melanda organ di kepalanya. Nafasnya tersenggol-senggol untuk bicara. Untuk menyampaikan sebuah kalimat berisi 5-7 kata pun, butuh usaha yang besar. Beberapa kali saya harus mendekatkan telinga saya ke mulutnya. Hal ini saya lakukan agar mampu menangkap apa yang Budi sampaikan.</p>
<p>Kebetulan di dekatnya ada Sinta Ridwan, sastrawan sekaligus peneliti naskah kuno. “Om Yudha, kenalkan, ini Budi. Sastrawan, lho,” sahut Sinta kepada saya. Saat itu, Budi memang sedang memperlihatkan puisi-puisinya kepada Sinta. Puisinya berhasil masuk dalam buku Wirid Angin, kumpulan puisi Majelis Sastra Bandung. Ada tiga puisi jumlahnya.</p>
<p>Saya dan Sinta bersama-sama langsung membaca puisi Budi. Kami berdua terenyuh sekaligus terpesona. Kata-katanya begitu merdeka dan positif. Pilihan katanya tepat dan mengesankan.</p>
<p>Budi kemudian menyodorkan kartu namanya kepada saya. Sebuah kartu nama berwarna biru-putih dengan nama Muhammad Budi Pramono, sang pemiliknya. Di sudut kirinya tertera logo bertuliskan Bilic. Bilic sendiri singkatan dari Bandung Independent Living Center, merupakan lembaga non-pemerintah yang mendorong kemandirian orang-orang berkebutuhan khusus.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Terik matahari sore itu, menemani saya menyusuri jalan Murtamad, Cipaera, di bilangan Kosambi, Bandung. Padahal, cuaca baru saja hujan dan waktu ashar akan segera tiba. Namun, sengatannya tidak juga berkurang, setidaknya membuat saya merasa kepanasan.</p>
<p>Jalanan yang hanya muat satu mobil itu dipenuhi anak-anak yang bermain bola. Maklum, daerah ini termasuk kawasan padat penduduk. Tidak ada lapangan, jalanan pun jadi tempat bermain. Sebuah fenomena yang biasa di perkotaan.</p>
<p>Akhirnya saya tiba di jalan Murtamad nomor 22. Rumah ini adalah kantor Bilic, tempat saya dan Budi berjanji untuk bertemu sore itu. “Biar akang juga membiasakan dengar suara aku yang <em>nggak</em> jelas,” papar Budi ketika mengajukan pertemuan ini melalui layanan pesan singkat.</p>
<p>Saya memang tersentak dengan alasan Budi. Awalnya saya memintanya menceritakan perihal dirinya via surat elektronik. Namun, di luar dugaan saya, Budi menolak. Akhirnya, saya sadar, tampaknya Tuhan ingin membuat saya lebih dekat dan mengenal Budi. Dan saya pun setuju.</p>
<p>Rumah ini di kelilingi pagar setinggi 2 meter dengan gerbang geser berwarna hijau. Ada 2 jendela di kedua sisinya dengan pintu ganda yang bertengger di tengah-tengahnya. Saya agak ragu-ragu untuk masuk. Di depan rumah, tidak ada plang penunjuk bahwa bangunan ini adalah kantor Bilic. Bahkan, rumah ini sepi dari aktivitas, benar-benar bukan ciri sebuah kantor LSM yang biasa saya kunjungi. Saya ketuk pintunya pun, tidak ada orang yang menggubris.</p>
<p>Satu-satunya yang meyakinkan saya tempat ini merupakan kantor Bilic hanyalah sebuah motor beroda tiga yang terpakir di depannya. Sebuah motor yang bentuknya sudah dimodifikasi untuk mereka yang berkebutuhan khusus.</p>
<p>Segera saya mengirimkan pesan ke Budi yang dibalas dengan sambutannya di depan pintu rumah. “Ayo, masuk,” ajaknya. Budi kemudian membawa saya ke sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter. Di dalamnya, 2 meja setinggi ½ meter berhimpit di tengah-tengah ruangan. Di sekelilingnya, 3 orang pengurus Bilic lainnya sedang duduk sembari mengerjakan sesuatu di <em>notebook</em>-nya masing-masing. Mode lesehan rupanya kantor ini.</p>
<p>“Inilah kantor kami, hanya ruangan ini,” sapa Yati Suryati, ketua Bilic, menjawab keheranan saya. Sedangkan ruangan lainnya adalah kamar-kamar kostan. Yah, kantor Bilic hanyalah satu dari sekian banyak kamar kostan di rumah jalan Murtamad 22 ini. “Kami baru beberapa bulan pindah ke sini, tapi nanti akan pindah lagi. Mungkin ke jalan Soekarno-Hatta,” sahut Budi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Budi sendiri hidup dengan <em>Cerebral Palsy</em> (CP) atau Lumpuh Otak. CP membuat saraf motoriknya terganggu. Sehingga tidak mampu mengoptimalkan gerak anggota badannya. Meskipun begitu, kemampuan intelektual orang dengan CP tidak terganggu sedikit pun.</p>
<p>“Lalu, kenapa mereka kerap berpikir lambat,” tanya Yati. “Karena mereka tidak pernah diajak berkomunikasi dengan baik oleh orang tuanya. Mereka selalu dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa,” sambungnya. Menurutnya, orang dengan CP akan berhasil mengoptimalkan kemampuannya bila diperlakukan dengan baik. Hal ini, terbukti dengan beberapa teman Yati yang mendapatkan dukungan dari orang tuanya sejak kecil.</p>
<p>Pikiran saya langsung terbang ke sosok Genie, seorang gadis berusia 13 tahun dari Kalifornia, Amerika Serikat. Sejak kecil, ayahnya mengikat Genie di sebuah tempat duduk yang ketat. Malam harinya, Genie ditempatkan dalam kurungan besi.</p>
<p>Dia tidak pernah diajak berkomunikasi dan berbicara. Ketika kakaknya memberi Genie makan, harus dilakukan diam-diam tanpa suara. Genie pun tidak pernah mendengar orang bercakap-cakap.</p>
<p>Pada 1970, ketika kasus Genie terbongkar, Genie tidak menunjukan perilaku seperti layaknya anak berusia 13 tahun. Tubuhnya bungkuk, kurus kering, kotor, dan tidak pernah berbicara sedikit pun. Ketika di bawa ke rumah sakit, dokter menyatakan bahwa kepandaiannya tidak ubahnya seperti seorang anak berusia 1 tahun.</p>
<p>Dalam dunia psikologi komunikasi, sosok Genie sungguh fenomenal. Pasalnya, ketika seorang anak tidak mendapatkan asupan komunikasi yang cukup, mereka tidak bisa berkembang layaknya seorang anak manusia pada umumnya.</p>
<p>Hal inilah yang menimpa orang-orang yang hidup dengan CP. “Mereka tidak pernah diajak berkomunikasi layaknya orang dewasa,” aku Yati.</p>
<p>Celakanya, Sekolah Luar Biasa (SLB) pun berlaku sama. Kurikulum kebanyakan SLB tidak pernah menganggap orang yang hidup dengan CP layaknya manusia pada umumnya. Kemampuan dan bakat anak CP tidak tergali dengan baik.</p>
<p>Yati mencontohkan dengan kemampuan menulis anak. Bila anak CP tidak mampu menulis menggunakan alat tulis konvesional berupa pulpen atau pensil, seharusnya pihak SLB mencarikan alternatif lain. Misalnya saja dengan alternatif teknologi.</p>
<p>Kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Yati mencontohkan seorang anak CP pernah meminta komputer. Si gurunya malah bilang, “Ngapain kamu minta komputer? Emang kamu bisa apa dengan komputer?”</p>
<p>Dari segi pemegang kebijakan, program yang dibuat pemerintah perspektifnya masih ditujukan kepada orang berkebutuhan khusus yang mampu dididik dan mampu dilatih. Bidangnya pun tidak jauh-jauh dari urusan domestik, seperti menjahit dan memasak.</p>
<p>Tak heran bila yang masuk program ini adalah mereka yang berkebutuhan khusus dalam skala ringan. Tidak untuk orang dengan CP. “<em>Nggak</em> ada tuh program pemerintah untuk pelatihan menulis sastra,” tandas Yati, yang juga penyandang polio ini. Padahal, banyak orang berkebutuhan khusus yang punya pontensi di bidang tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Saya begitu takjub ketika tahu bahwa Budi juga kerap memberikan pelatihan motivasi. “Boleh Budi peragakan kepada saya pelatihan motivasinya?” usul saya. Budi kemudian memberikan saya sebuah spidol. Saya disuruh menulis kata “kaya” di selembar kertas, kemudian kata “miskin” di bawah kata pertama.</p>
<p>“Pilih mana, ‘kaya’ atau ‘miskin’?” tanya Budi sembari menunjukkan kata-kata yang saya tulis sebelumnya. “Kaya mungkin, yah,” jawab saya diikuti senyuman Budi. “Sekarang, tulis kata ‘cacat’,” titah Budi lagi kepada saya sembari menunjukkan sebuah ruang kosong di bawah kata “miskin”.</p>
<p>“Sekarang, pilih mana, ‘miskin’ atau ‘cacat’?” tanyanya lagi. Perasaan bingung langsung menyergap. Saya sebenarnya memilih untuk tidak menjawab. Namun, karena saya yang mengusulkan simulasi ini, akhirnya dengan suara agak pelan dan ragu, saya memilih kata “miskin”. “Jadi, lebih memilih miskin yah daripada cacat?” tanyanya, menegaskan. Saya pun hanya menyeringai tanpa jawaban.</p>
<p>Belum usai sampai di situ, Budi menyuruh saya memilih lagi. Kali ini antara spidol berwarna cokelat dan spidol dengan tekstur berwarna-warni. Saya pun memilih spidol berwarna-warni dengan alasan karena lebih berwarna dan menarik.</p>
<p>“Lalu, untuk apa spidol ini (spidol cokelat) ada? Kalau <em>nggak</em> berguna, yah kita buang <em>aja</em>,” tandas Budi. Dia langsung membuang spidol itu ke sembarang arah. Sontak, saya agak kaget. Tanpa saya sadari, saya berkeringat dan jantung saya berdetak cukup kencang dan keras.</p>
<p>“Begitu pun dengan orang cacat. Untuk apa mereka ada? Bila tidak berguna, kenapa tidak dibuang saja?” tanya Budi, kali ini dengan nada yang agak tajam dan tinggi. Saya pun semakin gelisah.</p>
<p>“Mau kaya, miskin, atau cacat, yang penting kita tahu untuk apa kita hidup,” simpulnya, kali ini dengan nada yang lebih ramah. Saya, yang sebelumnya terhanyut dengan simulasi motivasi Budi, mulai bisa bernafas lega dan tenang.</p>
<p>“Bagaimana pun, Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Jadi, gunakanlah hidup kita secara baik,” nasihatnya penuh kebijakan.</p>
<p>“Tidak perlu dipermasalahkan. Orang kaya, hiduplah dengan kekayaannya. Orang miskin, hiduplah dengan kemiskinannya. Dan orang cacat, hiduplah dengan kecacatannya. Allah menciptakan semuanya dengan baik,” lanjutnya.</p>
<p>Kali ini, saya benar-benar terpukau. Budi benar-benar mampu menorehkan kata-kata sakti tersebut di hati saya, meskipun ini hanyalah simulasi.</p>
<p>Apa yang Budi sampaikan, memang tidak semudah dia mengucapkannya kini. Butuh bertahun-tahun untuk dirinya memahami apa yang telah terjadi dalam hidup.</p>
<p>Pernah, pada 2008 silam, selama 6 bulan lamanya Budi mengurung diri di rumah. Ketika itu, dia hanya mampu menghina dan mempertanyakan alasan Tuhan menciptakan dirinya yang berbeda dengan orang kebanyakan.</p>
<p>Bagaikan gayung bersambut. Ketika hinaan tersebut terlontar, terbesit pula jawabannya kemudian. “Engkau diciptakan begitu bukan untuk menyerah pada keadaanmu, melainkan untuk membuktikan pada langit dan bumi dan pada makhluk lainnya bahwa engkau mampu, engkau bisa bersaing dengan yang lain.”</p>
<p>Begitulah bisikan hatinya menjawab. Bisikan ini Budi tuangkan dalam puisi pertamanya berjudul Takdir. Dari sini pula lah Budi mulai menulis sosok yang belum pernah dia kenal sebelumnya, puisi. Melalui puisi pula lah Budi akhirnya bergabung dengan Bilic dan mengambil bagian dalam tim advokasinya.</p>
<p>Hal ini berawal dari perkenalan Budi dengan Opick. Sama seperti Budi, Opick pun hidup dengan CP. Sebelum Budi mengenal Puisi, Opick sudah lebih dulu berkarya di bidang sastra. Bahkan, Opick sudah membuat sebuah buku kumpulan puisinya yang bertajuk Isi Otakku.</p>
<p>Pada 2010, Opick mengajak Budi bergabung dengan Bilic. Pertemuan ini juga membuat Budi jatuh cinta dengan bidang advokasi. Rasa jatuh cinta inilah yang membuat Budi akhirnya bercita-cita merubah perspektif orang terhadap orang berkebutuhan khusus. Budi juga bertekad merubah kawan-kawannya untuk bangkit, mendapatkan pendidikan, dan bisa ke luar rumah.</p>
<p>Puisi juga membawa angin segar untuk Budi berkarya dan berekspresi. Tanpa ragu, dia berguru mengikat makna dan kata kepada Rahmat Jabaril, seniman sekaligus sastrawan Bandung. Dua bulan lamanya Budi berguru di bilangan Dago Pojok Bandung.</p>
<p>Sejak saat itu, ratusan puisi Budi terlantunkan di layar <em>notebook</em>-nya. Sebelum menerbitkannya menjadi sebuah buku, Budi ingin mengujinya terlebih dahulu. Hasilnya, 3 puisi Budi berhasil masuk kumpulan puisi Majelis Sastra Bandung 2012 bertajuk Wirid Angin. Dengan hasil ini, memantapkan langkah Budi untuk membukukan puisinya yang lain.</p>
<p>Kini, dengan kemampuan menulisnya yang semakin berkembang, Budi mulai mencoba menulis artikel tentang kehidupan manusia.  Menurutnya, tulisan membantunya memahami hak dan kehidupan orang-orang berkebutuhan khusus.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bilic boleh dibilang sebagai “Kawah Chandra Dimuka”-nya orang-orang berkebutuhan khusus. Sebuah “kawah” yang bervisi mendorong orang-orang berkebutuhan khusus untuk mampu memahami dirinya sendiri. Untuk menggapai visi tersebut, Yati dan timnya selalu menanamkan rasa percaya diri kepada mereka yang bergabung dengan Bilic.</p>
<p>Untuk mengembangkan rasa percaya diri ini, memang bukan perihal yang mudah bagi Yati. Butuh kesabaran ekstra. Bahkan, dirinya kerap memarahi orang-orang dengan CP lantaran mereka selalu merasa tidak bisa apa-apa. “Padahal mereka punya banyak potensi,” tandasnya.</p>
<p>Selang beberapa waktu, usaha Yati dan kawan-kawan Bilic mulai memberikan hasil. Kini, Budi dan kawan-kawan CP-nya mampu membuat laporan kegiatan. Bahkan, mereka pun kini sudah bisa menggunakan internet sebagai sarana berkomunikasi dan berekspresi. “Saya paksa mereka untuk mengirim laporan lewat email,” tutur Yati.</p>
<p>Lebih dari itu, kawan-kawan dengan CP ini sedang mengikuti ujian persamaan. Pasalnya, ketika bergabung dengan Bilic, mereka merasa tertipu. Kurikulum yang diajarkan di tingkat SMA di SLB, ternyata setara dengan kurikulum SD di sekolah umum. Tentu saja, mereka tidak puas. Sehingga kawan-kawan CP kini bertekad mengikuti ujian persamaan untuk mendapatkan gelar SMA sekolah umum.</p>
<p>Kunci dari keberhasilan ini menurut Yati adalah keluarga dan diri orang-orang berkebutuhan khusus. Namun, sayangnya, menurut Yati, “Keluarga seringkali memandang mereka yang berkebutuhan khusus sebagai objek, bukan manusia.” Seringkali, mereka disimpan dan disembunyikan di rumah oleh keluarga. Tak heran, bila kemampuan dan kemandirian orang-orang berkebutuhan khusus tidak pernah berkembang.</p>
<p>Hal yang sama juga terjadi pada Aden Ahmad, koordinator program Bilic. “Dulu juga saya ke mana-mana selalu dikawal oleh keluarga,” komentar Aden. Aden sendiri penyandang Amputee, ketiadaan anggota gerak kaki sejak lahir. Sehingga harus menggunakan kursi roda sebagai alat bantu aktivitasnya.</p>
<p>Keluarganya seringkali melindungi secara berlebihan (<em>over protective</em>) dan penuh ketakutan. “Pengawalan ini tidak memandirikan, bahkan bisa membuat si orang berkebutuhan khusus tidak bisa mandiri,” simpul Aden.</p>
<p>Untuk itu, Yati dan teman-temannya di Bilic selalu mensosialisasikan kepada keluarga dan diri orang berkebutuhan khusus bahwa mereka bisa mandiri. “Bagaimana pun, kemampuan untuk mandiri pada orang berkebutuhan khusus itu bukan kelebihan, tetapi dilatih,” tandas Yati.</p>
<p>Contohnya adalah seorang rekan Bilic yang merupakan penyandang tuna netra berusia 14 tahun. Ketika itu, dia takut keluar pintu rumahnya. Aktivitas sehari-harinya pun hanya di rumah saja.</p>
<p>Bilic pun mengajaknya untuk pergi ke Wiyata Guna, Padjadjaran, Bandung. Lokasi ini merupakan SLB untuk penyandang tuna netra. Di tempat ini pula, rekan Bilic tersebut belajar orientasi tempat, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya.</p>
<p>Selain itu, Bilic pun rutin memotivasi si anak dan keluarganya. Hasilnya, beberapa bulan kemudian, rekan Bilic ini sudah bisa pulang-pergi sendirian.</p>
<p>Hal yang sama pernah juga terjadi pada Budi. Yati mengisahkan bahwa orang tua Budi kerap mempertanyakan anaknya yang selalu keluar rumah. “<em>Ngapain sih</em> ke luar rumah? <em>Ngabisin</em> uang <em>aja</em>,” cerita Yati menirukan pandangan negatif orang tua Budi.</p>
<p>Selang beberapa waktu beraktivitas di Bilik dan memperlihatkan perkembangannya dalam berkarya, akhirnya bapaknya memandang Budi sebagai orang dewasa.</p>
<p>Di sela-sela kesibukannya bekerja di Bilic sebagai anggota tim advokasi, Budi pun kerap menjadi motivator. Dari aktivitasnya ini, Budi mampu membeli <em>notebook</em> dan ponsel sendiri, tanpa sepeser pun uang dari orang tuanya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>“<em>Different, not less</em>,” begitulah perjanjian dalam film Temple Grandin antara Eustacia Grandin (Julia Ormond), ibu Temple Grandin, dan Dr. Carlock (David Strathairm), guru sains sekaligus mentor Temple Grandin di sekolah berasrama. Saat itu, Eustacia merasa putus asa karena menilai Temple Grandin tidak akan diterima di sekolah berasrama tersebut. Namun, Dr. Carlock melihat bahwa Temple punya potensi di bidang sains dan berjanji untuk mengarahkannya.</p>
<p>Film Temple Grandin sendiri bercerita tentang seorang penyandang autis bernama Temple Grandin. Film ini diangkat dari kisah nyata sosok yang memiliki nama serupa. Hebatnya, Temple berhasil meraih gelar doktor dan profesor di bidang ilmu peternakan. Dia juga menjadi penulis buku laris dan konsultan industri peternakan dalam bidang perilaku hewan ternak.</p>
<p>Pada akhir film (bukan bermaksud <em>spoiler</em>), Temple bercerita bahwa dia tidak pernah sembuh dari autis. “Saya selalu menjadi autis,” ungkapnya. Meskipun begitu, ibu dan orang-orang di sekitarnya selalu bekerja keras untuk meyakinkan dirinya bahwa dia mampu.</p>
<p>“Mereka tahu saya berbeda, tetapi bukan cacat. Kau tahu? Saya punya kelebihan. Saya bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Saya bisa melihat detail yang orang lain tidak mampu melihatnya,” papar Temple.</p>
<p>“Berbeda, bukan cacat.” Itulah juga Budi dan kawan-kawan di Bilic. Mereka berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Perbedaan ini terletak dari tekadnya yang lebih kuat, mentalnya yang lebih membaja, dan perjuangannya yang lebih tidak mengenal lelah. ***</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/budi-different/">Budi is Different&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/SalmanItb/~4/_qglLfH0nqY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/budi-different/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://salmanitb.com/2012/05/budi-different/</feedburner:origLink></item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss><!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced

Served from: salmanitb.com @ 2012-05-29 20:22:38 -->

