<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909</id><updated>2024-03-22T00:20:45.212+07:00</updated><category term="sajak"/><category term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><category term="cerpen"/><category term="Film dan Percakapan Mereka"/><category term="Suara dan yang terdengar"/><category term="buku dan yang berserak"/><category term="obituari dari yang awam"/><title type='text'>sangitaromalangit</title><subtitle type='html'>kadang lelap/ kadang senyap/ kadang tiarap/ tapi berusaha tegap</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-313869766652556306</id><published>2013-03-07T14:41:00.000+07:00</published><updated>2013-03-07T14:45:49.661+07:00</updated><title type='text'>Suatu Kali; Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Surat Terbuka buat Pramoedya Ananta Toer&lt;br /&gt;TEMPO, Edisi 000409-005/Hal. 96 Rubrik Kolom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEANDAINYA ada Mandela di sini…. Bung Pram, saya sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat orang jemu. Tapi Mandela, di Afrika Selatan, menyelamatkan manusia dari abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap zaman punya gilanya sendiri. Abad ke-20 adalah zaman rencana besar dengan pembinasaan besar. Hitler membunuh jutaan Yahudi karena Jerman harus jadi awal Eropa yang bersih dari ras yang tak dikehendaki. Stalin dan Mao dan Pol Pot membinasakan sekian juta “kontrarevolusioner” karena sosialisme harus berdiri. Kemudian Orde Baru: rezim ini membersihkan sekian juta penduduk karena “demokrasi pancasila” tak memungkinkan adanya orang komunis (dan/atau “ekstrem” lainnya) di sudut mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana besar, cita-cita mutlak, dan mengalirkan darah. Manusia menjadi penakluk. Ia menaklukkan yang berbeda, yang lain, agar dirinya jadi subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandela bertahun-tahun di penjara, orang hitam Afrika Selatan bertahun-tahun ditindas, tapi kemudian ketika ia menang, ia membuktikan bahwa abad ke-20 tak sepenuhnya benar: manusia ternyata bisa untuk tak jadi penakluk. Ia menawarkan “rekonsiliasi” dengan bekas musuh. Ia tak membalikkan posisi dari si obyek jadi sang subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap korban yang mengerti rasa sakit yang sangat tak akan mengulangi sakit itu bahkan kepada musuhnya yang terganas. Ia akan menghabisi batas antara subyek dan obyek. Makna “rekonsiliasi” di Afrika Selatan punya analogi dengan impian Marx: karena proletariat tertindas, kelas ini berjuang agar setelah kapitalisme ambruk, segala kelas sosial pun hilang. Proletariat tak akan mengakhiri sejarah dengan berkuasa, melainkan menghapuskan kekuasaan, pangkal lahirnya korban-korban. Sejarah adalah sejarah penebusan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utopia itu tak terlaksana, tapi tiap utopia mengandung sesuatu yang berharga. Begitu ia menang, Mandela membongkar kembali tindak sewenang-wenang para petugas rezim apartheid yang menindasnya (dan juga tindak sewenang-wenang pejuang kemerdekaan pendukung Mandela sendiri). Proses itu mirip “pengakuan dosa” di depan publik. Kemudian: pertalian kembali. Mandela menunjukkan bahwa pembebasan yang sebenarnya adalah pembebasan bagi semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Pram, saya ragu apakah Bung akan setuju dengan asas itu. Bung menolak ide “rekonsiliasi”, seperti Bung nyatakan dalam wawancara dengan Forum Keadilan, 26 Maret 2000, pekan lalu. Bung menolak permintaan maaf dari Gus Dur. “Gampang amat!” kata Bung. Saya kira, di sini Bung keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kenalan yang, seperti Bung, juga pernah disekap di Pulau Buru, di antaranya dalam keadaan yang lebih buruk. Mereka sedih oleh pernyataan Bung. Saya juga sedih karena Bung telah bersuara parau ketidakadilan. Justru ketika berbicara untuk keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung terutama tak adil terhadap Gus Dur. Bagi seseorang dalam posisi Gus Dur (Presiden Republik Indonesia, pemimpin NU, tokoh Islam, yang tumbuh dalam masa Orde Baru), meminta maaf kepada para korban kesewenang-wenangan 1965 berarti membongkar tiga belenggu yang gelap dan berat di pikiran banyak orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belenggu pertama adalah kebiasaan seorang pemimpin umat untuk memperlakukan umatnya sebagai kubu yang suci. Dengan meminta maaf, Gus Dur memberi isyarat bahwa klaim kesucian itu tak bisa dipertahankan, dan tak usah. Tiap klaim kesucian bisa jadi awal pembersihan dan kesewenang-wenangan. Dengan meminta maaf, diakui bahwa dalam peristiwa pada tahun 1965 sejumlah besar orang NU, juga orang Islam lain-juga orang Hindu di Bali dan orang Kristen di Jawa Tengah-telah terlibat dalam sebuah kekejaman. Mengakui ini dan meminta maaf sungguh bukan perkara gampang. Bung Pram toh tahu tak setiap orang sanggup melakukan hal itu. Mungkin juga Bung sendiri tidak akan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meminta maaf, Gus Dur juga membongkar belenggu takhayul selama hampir seperempat abad: bahwa tiap orang PKI, juga tiap anak, istri, suaminya, layak dibunuh atau disingkirkan. Gus Dur mencampakkan sebuah sikap yang tak mau bertanya lagi: adilkah yang terjadi sejak 1965 itu? Seandainya pun pimpinan PKI bersalah besar pada tahun 1965, toh tetap amat lalim hukuman yang dikenakan kepada tiap orang, juga sanak keluarganya, yang terpaut biarpun tak langsung dengan partai itu. Kita ingat kekejaman purba: sebuah kota dikalahkan dan setiap warganya dibantai atau diperbudak….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur agaknya tak menginginkan kezaliman itu. Ia, sebagai presiden, membiarkan dirinya dipotret duduk mesra dekat Iba, putri D.N. Aidit, yang hampir seumur hidupnya jadi pelarian yang tanpa paspor di Eropa. Dalam adegan itu ada gugatan: bersalahkah Iba hanya karena ia anak Ketua PKI? Jawaban Gus Dur: tidak. Tak banyak tokoh politik yang berbuat demikian, Bung Pram. Tak gampang untuk seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur juga telah membongkar belenggu “teori” tua ini: bahwa PKI selamanya berbahaya. Ia bukan saja minta maaf kepada para korban pembasmian massal 1965. Ia juga hendak menghapuskan larangan resmi bagi orang Indonesia untuk mempelajari Marxisme-Leninisme. Ia seperti menegaskan bahwa komunisme adalah masa lampau yang menjauh, gagal-juga di Rusia dan Cina. *****ikkan terus “bahaya komunis” adalah menyembunyikan kenyataan bahwa PKI jauh lebih mudah patah dalam perlawanannya dibandingkan dengan gerakan Darul Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menghentikan masa lalu akan dihentikan oleh masa lalu. Gus Dur tidak. Ia sering salah, tapi ada hal-hal pelik yang ia tempuh karena ia ingin masa lalu tak jadi sebuah liang perangkap. Ia memang bukan Mandela yang pernah dirantai. Tapi seorang korban yang memaafkan sama nilainya dengan seorang bukan-korban yang meminta maaf. Maaf bukanlah penghapusan dosa. Maaf justru penegasan adanya dosa. Dan dari tiap penegasan dosa, hidup pun berangkat lagi, dengan luka, dengan trauma, tapi juga harapan. Dendam mengandung unsur rasa keadilan, tapi ada yang membedakan dendam dari keadilan. Dalam tiap dendam menunggu giliran seorang korban yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sulitkah Bung menerima prinsip itu? Karena masa lalu seakan-akan menutup pintu ke masa depan? Sekali lagi: siapa yang menghentikan masa lalu akan dihentikan oleh masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin juga Bung hanya bisa melihat korban sebagai perpanjangan diri sendiri. Seakan di luar sana tak mungkin ada. Dalam wawancara, Bung menyatakan setuju bila orang-orang yang tak sepaham dengan Revolusi disingkirkan (ini di masa “Demokrasi Terpimpin” 1959-1965, ketika sejumlah surat kabar diberangus, sejumlah buku &amp;amp; film &amp;amp; musik dilarang, sejumlah orang dipenjarakan). Bung mengakui ini semua melanggar hak asasi. Dan Bung punya argumen: waktu itu “Perang Dingin” dan Indonesia dalam bahaya. Tapi kekuasaan apa yang berhak menentukan ada “bahaya” atau tidak? Dan jika adanya “bahaya” bisa menjadi dalih penindasan, Soeharto pun menjadi benar. Ia juga dulu mengumumkan Indonesia terancam bahaya (“komunis”) di “Perang Dingin”, maka rezimnya pun membunuh, membuang, dan mencopot entah berapa ribu orang dari jabatan. Dan pengadilan dibungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung memang menambahkan: ingat, pelanggaran hak asasi waktu Bung Karno tak seburuk dengan yang terjadi di masa Orde Baru. Mochtar Lubis, korban “Demokrasi Terpimpin”, tak dikurung di Pulau Buru, tapi di Jawa. Memang ada perbedaan. Tapi adakah peringkat penderitaan? Bagaimana membandingkannya? Di mana ukurannya bila di masa yang sama, apalagi di masa yang berbeda, ada yang ditembak mati, ada yang disiksa, ada yang di sel, ada yang di pulau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah kesewenang-wenangan, semua korban akhirnya diciptakan setara, biarpun berbeda. Suatu hari dalam kehidupan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru setara terkutuknya dengan suatu hari dalam kehidupan Ivan Denisovich dalam sebuah gulag Stalin. Tak bisa ada hierarki dalam korban, sebagaimana mustahil ada hierarki kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ini penting dikemukakan. Di zaman ketika sang korban dengan mudah dianggap suci, seorang yang merasa lebih “tinggi” derajat ke-korban-annya akan mudah merasa berhak jadi maha-hakim terakhir. Tapi seperti setiap klaim kesucian, di sini pun bisa datang kesewenang-wenangan. Mandela tahu itu. Gus Dur mungkin juga tahu itu. Keduanya merendahkan hati. Saya pernah mengharapkan Bung akan bersikap sama. Saya pernah mengharapkan ini, Bung Pram: bukan sekadar keadilan dan hukum yang adil yang harus dibangun, tapi di arus bawahnya, kebencian pun lepas, dan kemudian hilang, tenggelam. Saya tak tahu masih bisakah saya berharap.&lt;br /&gt;============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA BUKAN NELSON MANDELA&lt;br /&gt;(tanggapan buat Goenawan Mohamad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan presiden Abdurrahman Wahid, seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokat menindas kulit coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semuanya yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini mempunya lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa basi. Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar. Basa basi baik saja, tapi hanya basa basi. Selanjutnya mau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa basi minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak, saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa basi tak lagi bisa menghibur saya.


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/313869766652556306/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/03/suatu-kali-goenawan-mohamad-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/313869766652556306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/313869766652556306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/03/suatu-kali-goenawan-mohamad-dan.html' title='Suatu Kali; Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-2439288104563122190</id><published>2013-02-28T13:49:00.000+07:00</published><updated>2013-02-28T13:49:19.454+07:00</updated><title type='text'>Umar Kayam - Seribu Kunang-Kunang di Manhattan [Cerpen]</title><content type='html'>&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;


&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu ungu, Marno.&lt;br /&gt;Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?&lt;br /&gt;Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?&lt;br /&gt;Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?&lt;br /&gt;Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!&lt;br /&gt;Kuning keemasan!&lt;br /&gt;Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno, Sayang.&lt;br /&gt;Ya, Jane.&lt;br /&gt;Bagaimana Alaska sekarang?&lt;br /&gt;Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.&lt;br /&gt;Maksudku hawanya pada saat ini.&lt;br /&gt;Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?&lt;br /&gt;Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.&lt;br /&gt;Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.&lt;br /&gt;Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu . Eh, maukah kau membikinkan aku segelas .. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini . Uuuuuup .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.&lt;br /&gt;Dari dapur, bekas suamiku, kautahu .. Marno, Darling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada apa dengan dia?&lt;br /&gt;Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.&lt;br /&gt;Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.&lt;br /&gt;Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.&lt;br /&gt;Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.&lt;br /&gt;Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.&lt;br /&gt;Oh.&lt;br /&gt;Mungkin juga dia tidak di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno, Manisku.&lt;br /&gt;Ya, Jane.&lt;br /&gt;Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?&lt;br /&gt;Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.&lt;br /&gt;Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.&lt;br /&gt;Tetapi bukankah belum tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?&lt;br /&gt;Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.&lt;br /&gt;Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.&lt;br /&gt;Kau anak yang manis, Marno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno.&lt;br /&gt;Ya, Jane.&lt;br /&gt;Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?&lt;br /&gt;Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.&lt;br /&gt;Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini dipegangya itu. Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, kau tahu, Marno?&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;Empire State Building sudah dijual.&lt;br /&gt;Ya, aku membaca hal itu di New York Times.&lt;br /&gt;Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?&lt;br /&gt;Tidak. Bisakah kau?&lt;br /&gt;Bisa, bisa.&lt;br /&gt;Bagaimana?&lt;br /&gt;Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kalau saja ..&lt;br /&gt;Kalau saja apa, Kekasihku?&lt;br /&gt;Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.&lt;br /&gt;Lantas?&lt;br /&gt;Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit.&lt;br /&gt;Kau anak desa yang sentimental!&lt;br /&gt;Biar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno terkejut karena kata biar itu terdengar keras sekali keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.&lt;br /&gt;Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu. Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jet keparat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa segar sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?&lt;br /&gt;He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?&lt;br /&gt;Oh, lupakan saja. Aku Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep blue sea .&lt;br /&gt;Marno.&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?&lt;br /&gt;Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke Park-nya.&lt;br /&gt;Dalam perkimpoian kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?&lt;br /&gt;Oh, aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.&lt;br /&gt;Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!&lt;br /&gt;Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.&lt;br /&gt;Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.&lt;br /&gt;Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.&lt;br /&gt;Aku membosankan jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno, kemarilah, duduk.&lt;br /&gt;Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ.&lt;br /&gt;Kemarilah, duduk.&lt;br /&gt;Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.&lt;br /&gt;Kunang-kunang?&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.&lt;br /&gt;Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.&lt;br /&gt;Begitu kecil?&lt;br /&gt;Ya. Tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?&lt;br /&gt;Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.&lt;br /&gt;Ya, pohon-hari-natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno, waktu kau masih kecil .. Marno, kau mendengarkan aku, kan?&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?&lt;br /&gt;Mainan kekasih?&lt;br /&gt;Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?&lt;br /&gt;Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.&lt;br /&gt;Itu bukan mainan, itu piaraan.&lt;br /&gt;Piaraan bukankah untuk mainan juga?&lt;br /&gt;Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.&lt;br /&gt;Siapa dia?&lt;br /&gt;Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.&lt;br /&gt;Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifie.&lt;br /&gt;Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno yang masih bersandar di jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno, Sayang.&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?&lt;br /&gt;Belum, Jane.&lt;br /&gt;Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, Jane.&lt;br /&gt;Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Jane ikut tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.&lt;br /&gt;Apakah itu, Jane?&lt;br /&gt;Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harap kausuka pilihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kausuka dengan pilihanku ini?&lt;br /&gt;Ini piyama yang cantik, Jane.&lt;br /&gt;Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane.&lt;br /&gt;Ya, Sayang.&lt;br /&gt;Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.&lt;br /&gt;Oh? Kau banyak kerja?&lt;br /&gt;Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah .&lt;br /&gt;Kaumerasa tidak enak badan?&lt;br /&gt;Aku baik-baik saja. Aku . eh, tak tahulah, Jane.&lt;br /&gt;Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.&lt;br /&gt;Terima kasih, Jane.&lt;br /&gt;Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.&lt;br /&gt;Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.&lt;br /&gt;Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?&lt;br /&gt;Tentu, Jane.&lt;br /&gt;Kapan, aku bisa mengharapkan itu?&lt;br /&gt;Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.&lt;br /&gt;Kautahu nomorku kan? Eldorado&lt;br /&gt;Aku tahu, Jane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga. Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Disclaimer: Cerpen ini saya posting di blog karena mau saya masukkan ke pocket [app] di hape.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014220930/share-umar-kayam/2&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
[danke Gan!!! :D :beer:] &lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/2439288104563122190/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/02/umar-kayam-seribu-kunang-kunang-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/2439288104563122190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/2439288104563122190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/02/umar-kayam-seribu-kunang-kunang-di.html' title='Umar Kayam - Seribu Kunang-Kunang di Manhattan [Cerpen]'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-2697439879679596358</id><published>2013-02-28T13:42:00.002+07:00</published><updated>2013-02-28T13:42:36.637+07:00</updated><title type='text'>Umar Kayam - Lebaran di Karet, di Karet... [cerpen]</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menjelang hrai-hari Lebaran yang semakin dekat, Is merasa rumahnya semakin kelihatan besar dan kosong lagi. Betapa tidak. Empat ruang tidur di tengah rumah itu hanya dia tempati sendiri sejak istrinya meninggal setahun yang lalu. Ruang-ruang tidur selebihnya selalu kosong sejak anak-anaknya pindah ke luar negeri dan ruang tamu itu lebih lama lagi tidak disinggahi orang. Di bagian belakang rumah, adalah kamar tempat tinggal sepasang suami-istri Sumo yang sudah ikut keluarga Is selama bertahun-tahun. Mereka akan muncul ke dalam rumah kalau Is memanggil mereka untuk keperluan ini dan itu. selebihnya tidak ada komunikasi antara mereka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rumah yang sekarang terasa besar itu dibeli Is dan istrinya waktu mereka pulang dari New York sesudah mereka bertugas dinas selama bertahun-tahun di markas besar PBB. Dengan tabungan uang yang mereka kumpulkan mereka membeli dua buah Impala dan berbagai perabotan rumah mewah yang lengkap. Dengan hasil penjualan moil Impala dan perabotan itulah, sepulang di Jakarta, mereka berhasil membuat rumah besar yang mereka huni sekarang ini. Rumah itu besar dan mewah, yang oleh teman-temannya pegawai negeri diejek sebagai rumah menteri besar. Is dan istrinya hanya tersenyum mendengar ejekan itu. Di rumah besar itulah Is dan istrinya bertahan dengan ulet dan liat mempertahankan kemakmuran dan sedikit kemewahan gaya hidup mereka sebagai diplomat dalam negeri di Deparlu, sambil dari sedikit menjuali barang-barangnya sembari membesarkan anak-anak mereka yang masih harus menyelesaikan pelaajaran mereka di New York. Dan waktu dalam beberapa tahun terakhir mereka menyelesaikan studi mereka dan menyebar mencari nafkah di Geneva, Amsterdam dan New York, Is dan istrinya menyadari pula bahwa anak-anak mereka sudah waktunya membangun sarang-sarang di luar pohon besar mereka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam hari-hari mendekati Lebaran, is berharap surat anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada hari-hari seperti itu. dan memang betul saja, surat mereka memang pada berdatangan. tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan bersungut-sungut sura-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orangtua kok dikirim dalam kartu pos bergambar... Itu pun dalam beberapa garis... Nana yang menulis dari Geneva minta maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari sku di Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget nggih Dad? Makam Mommy apa sudah ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam &quot;Hi, Dad&quot;. Kemudian surat dari Suryo, Anaknya yang sulung, yang masih menetap di New York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto Rico. Sambil bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu pun soal sudah dinisan apa belum....&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sakit yang pada akhirnya merenggut nyawa istrinya, buat kanker yang tumbuh di sebelah payudaranya sesungguhnya tidak terduga kecepatan pertumbuhannya. Bahkan mulai dengan bisul kecil dahulu. Is juga tidak menganggap terlalu serius. Waktu bisul kecil yang kemudian mulai sedikit membesar, istrinya, Rani, secara iseng menanyakan itu kepada dokternya temannya. sesudah diperiksa agak teliti teman dokternya mengatakan bahwa bisul itu mengandung gejala tumor. Rani dianjurkan agar lebih teliti dan intensif memeriksakan bisulnya ke rumah sakit temannya itu. Is ingat istrinya masih dengan tersenyum ceria melaporkan kepada suaminya.&lt;br /&gt;&quot;Hey, coba bayangkan, Is. Sesudah sekian tahun di New York baru sekarang di negeri kita yang primitif ini aku mungkin ketahuan kena kanker...&quot;&lt;br /&gt;Is ingat peristiwa itu. Dan Is tidak dapat tersenyum. Dia khawatir akan kehilangan Rani. Dan hari-hari serta minggu dan bulan-bulan Is dan Rani semakin menyadari bahwa ajal Rani akan seera tiba. Mereka memutuskan dua hal. Satu, anak-anak harus diberitahu secepatnya, dan tentulah selugas mungkin. Mereka sudah dewasa dan dibesarkan di tengah kehidupan yang modern dan zakelijk. Kedua, bahwa anak-anak harus sadar bahwa pada suatu waktu kita akan meninggalkan dunia yang fana, dan semua yang pernah kita cintai dan sayangi keran itulah hukum alam yang tidak dapat kita elakkan. ketiga, karena anak-anak masih berada di luar negeri, untuk menjauhi kesulitan baik emosional atau yang bukan, anak-anak tidak diharuskan hadir pada hari pemakamannnya.&lt;br /&gt;Sesudah suami istri itu mendiskusikan semua yang berhubungan dengan hari pemakaman Rani yang akan datang, Is dan Rani berbicara tentang pemilihan tempat makam yang baik.&lt;br /&gt;Makam, meskipun hanya tempat jasad kita, mestilah kita usahakan yang baik, tidak rusak dan kotor lagi pula orang yang mau ziarahi makam tersebut tidak akan kesulitan menemuinya. Maka sesudah mereka berunding mereka memilih perkuburan karet. rani terutama yang mantab menjatuhkan pilihannya itu. Karet adalah pemakaman khas Jakarta. Semua orang terkenal Jakarta dimakamkan di situ katanya. Umar Ismail, Djayakusuma dan Chairil Anwar, si bintang jalang itu,Is. Masih ingat kau, is, salah satu sajaknya... Di karet, di karet tempat kira yang akan datang....&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Is masih juga duduk di beranda depan yang luas menghadap halaman depan. Dilihatnya halaman depan itu sejak pagi disapu bersih oleh Pak Sumo. Orang lalu-lalang mulai tampak di jalan depan rumahnya. Tanda hari sudah semakin pagi. Kartu pos bergambar dari anak-anaknya, yang sebelumnya dilempar di meja dibacanya lagi. Mulitnya menyungging senyum membayangkan wajah anak-anaknya, Thos rascals... Wajah Nana dan jon yang paling mereka sayangi muncul di depannya. Mungkin karena kedua anaknya yang perempuan dan bungsu itu yang biasanya selalu minta dimanja oleh orang-tua mereak. Tapi toh mereka, menerima penjelasan Radi yang gagah itu. Anank-anak sialan, gerutu Is lagi tentang anak-anaknya.&lt;br /&gt;Dan sekarang mereka kan sedang kedinginan di Alpen. Di Alpen(!). gerutu Is lagi. Berapa ongkosnya ke tempat yang semahal itu. Dan gaji-gaji mereka yang masih pada jatah junior itu! Dibayar dengan kartu kredit? Huh, anak zaman sekarang di mana uang plastik mengatur jalan hidup mereka! Dan kemudian pada gambar pemandangan lanskap Puerto Rico dari Suryo anaknya sulung. Dan anaknya ini rupanya juga akan siap dilarikan pacarnya yang hitam legam dari Puerto Rico. Is menarik napasnya panjang-panjang. Rasanya baru kemarin anak-anak itu menjadi milik meraka bersama Rani. Di mana meraka masih begitu membutuhkan pertolongan penyelesaian studi dan pencarian kerja dan nafkah mereka. Sekarang mereka sudah menjadi pemilik pohon mandiri mereka. Ia menggerendeng bercampur sungut: kalau begini naga-naganya, apa aku masih akan ketemu dengan keluarga dan anak-anak mereka. Satu kali waktu nanti. Ah....&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pada hari Lebaran, pagi-pagi sesudah sholat Ied, Pak Sumo dan Bu SUmo pergi ke Depok menengok keluarga jauhnya yang juga sudah tua. Sebelum mereka pergi, meja makan di ruang makan sudah ditutup rapi lengkap dengan berbagai piring, pinggan, penuh berbagai macam hidangan lauk pauk khas Lebaran. Ada ketupat, rendang daging dan paru yang merah kecoklatan, tapi membayang merah kepedesannya, sambal goreng hati dan jantung ayam diantara lautan santan kental dan taburan petai dan cabai, opor ayam yang berwarna kekuningan yang bergelimang santan pula.&lt;br /&gt;Is sambil menyedot bau harum masakan pembantunya tidak urung mengumpat orang tua yang baik hati itu. Makanan sebanyak itu siapa yang akan menghabiskannya nanti...&lt;br /&gt;sesudah mandi dan berganti pakaian bersih dilahapnya sarapan pagi hidangan pembantunya yang baik hati itu. Kemudian Is berjalan Bergegas ke garasi. Hari sudah mulai siangan sedikit. Jalan sudah mulai ramai dilewati kendaran bermotor. Is mulai menyadari bahwa orang mulai bergerak dalam arus Lebaran. Pelan-pelan Is membuka garasinya, kemudian dengan pelan pula mendorong mobil dinas Toyota tua dari kantornya dengan terengah-engah karena kehabisan napas, dia masih mencoba tersenyum menyadari ketuaannya dan keteringatannya pula waktu dia dan Rani masih menaiki Impala pribadi mereka...&lt;br /&gt;Waktu akhirnya dia duduk di belakang setir, siap untuk menghidupkan starter tiba-tiba di harus berpikir keras. Mau ke mana? Ke makam Jeruk Purut atau ke Karet? dia berhenti berpikir. Tiba-tiba Is terkenang akan diskusi di kamar tidur mereka. Rani ingin dimakamkan di Karet. Pemakaman yang paling terkenal di Jakarta itu. Juga semua orang dimakamkan di Jakarta. Iya, kan? Di Jakarta, di Jakarta...&lt;br /&gt;Dengan tegas Is menghidupkan starternya jrek-ejrek-ejeerk sreek-sreek-jreeeng dan hidup msein itu. dengan ketegasan sopir pribadi New York, mobil dinas Toyota Dparlu itu mengebut keluar jalan raya. Dengan tegas berhenti sebentar kemudian membanting stirnnya ke arah jurusan kiri. Ke Karet, ke Karet - tidak ke Jeruk Purut ke tempat Rani, melainkan ke Karet, ke Karet... Rani pasti setuju dan senang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Disclaimer: Cerpen ini saya posting di blog karena mau saya masukkan ke pocket [app] di hape.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014220930/share-umar-kayam/2&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
[danke Gan!!! :D :beer:] &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/2697439879679596358/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/02/umar-kayam-lebaran-di-karet-di-karet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/2697439879679596358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/2697439879679596358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2013/02/umar-kayam-lebaran-di-karet-di-karet.html' title='Umar Kayam - Lebaran di Karet, di Karet... [cerpen]'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-4019034603708538836</id><published>2011-12-18T04:42:00.002+07:00</published><updated>2011-12-18T04:42:32.543+07:00</updated><title type='text'>Surat Hemingway kepada Ibunya</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsYLAqJ71eT8Enl3VKnQuh-xenpgBixSQNkTiJh-dCB0Pv5Vuo10l2BnJs3EbXwIG20jIPyx6PS8xvrhLjFfgHHUJvXP_3SkyliwKuF7eh7Y9Wnya2ZRETE2YUhoakm36xtQED6nR7BJk/s1600/hemingway.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsYLAqJ71eT8Enl3VKnQuh-xenpgBixSQNkTiJh-dCB0Pv5Vuo10l2BnJs3EbXwIG20jIPyx6PS8xvrhLjFfgHHUJvXP_3SkyliwKuF7eh7Y9Wnya2ZRETE2YUhoakm36xtQED6nR7BJk/s1600/hemingway.jpeg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Surat Hemingway kepada Grace Hall Hemingway (ibunya)&lt;br /&gt;Dari Kansas City, 16 Januari 1918&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama tersayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuterima
 suratmu hari ini. Aku heran kenapa lama tak ada kabar dari kalian di 
rumah seolah hubungan kita sedemikian buruknya. Dua puluh derajat di 
luar, sangat dingin meski tidak banyak salju. Di Kansas paling-paling 
hanya setebal dua atau tiga kaki. Tak ada kereta jalan dari barat atau 
dari timur. Hubungan kita pasti terputus untuk sementara waktu. Stok 
batu bara sangat buruk di sini. Karenanya kami hanya bisa berharap agar 
musim semi segera tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, keringkan air matamu, Mama, dan
 bergembiralah. Kau akan menemukan sesuatu yang lebih baik daripada 
terus gelisah. Jangan rusuh hatimu atau menangis atau meratap hanya 
karena aku bukan seorang Kristen yang baik. Aku sebisa mungkin selalu 
berdoa setiap malam dan yakin sekuat mungkin untuk selalu bahagia. Maka,
 jangan resah hatimu hanya karena aku orang Kristen yang periang. Alasan
 kenapa aku tidak ke gereja pada hari Minggu adalah karena pada hari 
Sabtu aku harus bekerja keras hingga pukul satu dinihari untuk 
menyiapkan The Sunday Star dan kadang hingga pukul tiga atau empat pagi.
 Dan aku tak pernah membuka mata pada hari Minggu sampai pukul setengah 
satu siang. Kautahu, itu bukan kehendakku. Kautahu, aku tak terlalu 
menggebu-gebu soal agama tetapi aku tetap seorang Kristen sejauh bisa. 
Minggu adalah hari di mana aku bisa tidur nyenyak. Gereja tante Arabell 
juga terlalu menonjolkan mode pakaian dan tanpa pendeta yang 
simpatik—aku merasa tidak cocok di sana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa kasih,&lt;br /&gt;Ernie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari &lt;i&gt;Ernest Hemingway, Selected Letters&lt;/i&gt;, Carlos Baker)&lt;br /&gt;
-reblogged from http://as-laksana.blogspot.com/- &lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/4019034603708538836/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/12/surat-hemingway-kepada-ibunya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4019034603708538836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4019034603708538836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/12/surat-hemingway-kepada-ibunya.html' title='Surat Hemingway kepada Ibunya'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsYLAqJ71eT8Enl3VKnQuh-xenpgBixSQNkTiJh-dCB0Pv5Vuo10l2BnJs3EbXwIG20jIPyx6PS8xvrhLjFfgHHUJvXP_3SkyliwKuF7eh7Y9Wnya2ZRETE2YUhoakm36xtQED6nR7BJk/s72-c/hemingway.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7464655581657961052</id><published>2011-09-09T05:27:00.002+07:00</published><updated>2011-09-09T05:30:40.242+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>Saya suka lirik lagu mbak Bjork yang satu ini (moon)</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHN7jNmoVoNsPc1NYj9dqgoSBguKBq-vNOLHL_5GwEzal77eVBATjTW4Jg6VdwKiIavpWXHxDUShJ9_8VuF5CX6tw4Sd-SotM6xNEUdUsu1KFFN0wDsItOzLpsatzxHHrUodQTKnE4uSs/s1600/images.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHN7jNmoVoNsPc1NYj9dqgoSBguKBq-vNOLHL_5GwEzal77eVBATjTW4Jg6VdwKiIavpWXHxDUShJ9_8VuF5CX6tw4Sd-SotM6xNEUdUsu1KFFN0wDsItOzLpsatzxHHrUodQTKnE4uSs/s200/images.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5650119793429790498&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Best way to start-a-new&lt;br /&gt;Is to fail miserably&lt;br /&gt;Fail at loving&lt;br /&gt;And fail at giving&lt;br /&gt;Fail at creating a flow&lt;br /&gt;Then realign the whole&lt;br /&gt;And kick into the start hole</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7464655581657961052/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/09/saya-suka-lirik-lagu-mbak-bjork-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7464655581657961052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7464655581657961052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/09/saya-suka-lirik-lagu-mbak-bjork-yang.html' title='Saya suka lirik lagu mbak Bjork yang satu ini (moon)'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHN7jNmoVoNsPc1NYj9dqgoSBguKBq-vNOLHL_5GwEzal77eVBATjTW4Jg6VdwKiIavpWXHxDUShJ9_8VuF5CX6tw4Sd-SotM6xNEUdUsu1KFFN0wDsItOzLpsatzxHHrUodQTKnE4uSs/s72-c/images.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-5531788082348894162</id><published>2011-08-19T15:59:00.003+07:00</published><updated>2011-08-19T16:13:33.771+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Sajak Untuk R</title><content type='html'>:R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahasa kita adalah kesunyian&lt;br /&gt;suara telah menjelma gelembung&lt;br /&gt;tak sanggup kita pecahkan:&lt;br /&gt;melambung&lt;br /&gt;kitapun limbung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata kita tak mampu mengeja&lt;br /&gt;kekosongan adalah satusatunya rasa&lt;br /&gt;atas berderet huruf serta angka&lt;br /&gt;yang padanya kita begitu alpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu adalah debar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelombang tak sanggup mengalir&lt;br /&gt;apalagi berdesir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adieu&lt;br /&gt;adieu&lt;br /&gt;adieu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/5531788082348894162/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/08/sajak-untuk-r.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/5531788082348894162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/5531788082348894162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/08/sajak-untuk-r.html' title='Sajak Untuk R'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-4173052218100252541</id><published>2011-06-10T23:31:00.003+07:00</published><updated>2011-06-10T23:42:49.219+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Mafhum</title><content type='html'>Aku akan menjemputmu&lt;br /&gt;bukan hari ini&lt;br /&gt;ketika kereta&lt;br /&gt;tak mampu&lt;br /&gt;menyeret tubuhnya&lt;br /&gt;yang keras&lt;br /&gt;pada rel yang&lt;br /&gt;terlampau jenuh&lt;br /&gt;putaran rodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan menjemputmu&lt;br /&gt;mungkin besok&lt;br /&gt;ketika angkot&lt;br /&gt;tak lagi berkelok&lt;br /&gt;mencoba semua jalur&lt;br /&gt;seakan dialah&lt;br /&gt;kaki terkuat&lt;br /&gt;maka mesti mengulat&lt;br /&gt;berputar melingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan menjemputmu&lt;br /&gt;saat ini juga&lt;br /&gt;saat aku rasa&lt;br /&gt;aku butuh pulang&lt;br /&gt;butuh membelai pintumu&lt;br /&gt;menghirup udara&lt;br /&gt;dalam paru&lt;br /&gt;ruang tamumu&lt;br /&gt;dan menerobos&lt;br /&gt;dalam ruang&lt;br /&gt;yang tak seorang&lt;br /&gt;kau izinkan&lt;br /&gt;kecuali dirimu&lt;br /&gt;karena aku..kau telah tahu.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/4173052218100252541/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/06/mafhum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4173052218100252541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4173052218100252541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/06/mafhum.html' title='Mafhum'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7308681420550942005</id><published>2011-06-05T01:34:00.002+07:00</published><updated>2011-06-05T02:08:49.911+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Sibuk</title><content type='html'>kita adalah kekasih&lt;br /&gt;aku dan kau:kesibukan.&lt;br /&gt;meski memang&lt;br /&gt;sesekali jenuh&lt;br /&gt;datang merayu: dia&lt;br /&gt;tahu dia begitu ayu, namun&lt;br /&gt;percayalah laiknya kekasih,&lt;br /&gt;aku tak kemana&lt;br /&gt;terkecuali mengubur diri&lt;br /&gt;pada debur laku&lt;br /&gt;atas perintah&lt;br /&gt;atas sadar&lt;br /&gt;atas niscaya&lt;br /&gt;atas segala anasir yang kau cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka akulah debu&lt;br /&gt;tak letih mengendap&lt;br /&gt;tak peduli berjuta kali&lt;br /&gt;bersih memburuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku adalah sibuk&lt;br /&gt;tak peduli jenuh&lt;br /&gt;mengurai ngilu&lt;br /&gt;karena rutin&lt;br /&gt;sekarang jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka ingatlah wahai kekasihku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku dan kau adalah sepasang binar terang&lt;br /&gt;telah lupa cara gelap merangsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku dan kau adalah rekah tawa&lt;br /&gt;telah kubuang gelisah duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun bukankah kita&lt;br /&gt;serupa berjutapasang kekasih lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mungkin sesekali mendua&lt;br /&gt;aku mungkin suatu saat tak lagi sibuk&lt;br /&gt;aku mungkin seketika tergoda&lt;br /&gt;oleh jenuh&lt;br /&gt;oleh temaram&lt;br /&gt;oleh kesunyian&lt;br /&gt;oleh kehampaan&lt;br /&gt;oleh ketidakhadiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena aku mungkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah ucap&lt;br /&gt;banal berjanji&lt;br /&gt;lemah ingat&lt;br /&gt;atau aku memang&lt;br /&gt;hanyalah manusia&lt;br /&gt;sebuah prototipe lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maklumlah!</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7308681420550942005/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/06/sibuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7308681420550942005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7308681420550942005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/06/sibuk.html' title='Sibuk'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-8538772086391156604</id><published>2011-05-18T04:56:00.003+07:00</published><updated>2011-05-18T05:06:07.872+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>This Posting May be a Mistake..??!</title><content type='html'>&quot;Which is it? is man only God&#39;s mistake or God only man&#39;s mistake?&quot; -Nietzche, Twilight of The Idols.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWS-28af_fqqEK-Wm6mee6wYjn2VzfQjJGhEBV4PfbSE7XzJSxTRjSq5nJsmX-7xxUodeuSjV2wCmBMJbgEL1dN6I2I_FlHw26XSLV_U6m_jwmlDUnP-DV_VZCkiDLu9ZMzvRfRE3hB9g/s1600/nietzsche.gif&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 167px; height: 304px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWS-28af_fqqEK-Wm6mee6wYjn2VzfQjJGhEBV4PfbSE7XzJSxTRjSq5nJsmX-7xxUodeuSjV2wCmBMJbgEL1dN6I2I_FlHw26XSLV_U6m_jwmlDUnP-DV_VZCkiDLu9ZMzvRfRE3hB9g/s200/nietzsche.gif&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5607809268454916002&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/8538772086391156604/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/05/this-posting-may-be-mistake.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/8538772086391156604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/8538772086391156604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/05/this-posting-may-be-mistake.html' title='This Posting May be a Mistake..??!'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWS-28af_fqqEK-Wm6mee6wYjn2VzfQjJGhEBV4PfbSE7XzJSxTRjSq5nJsmX-7xxUodeuSjV2wCmBMJbgEL1dN6I2I_FlHw26XSLV_U6m_jwmlDUnP-DV_VZCkiDLu9ZMzvRfRE3hB9g/s72-c/nietzsche.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-4266184826614276698</id><published>2011-05-11T14:40:00.004+07:00</published><updated>2011-05-11T15:34:41.152+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>Biarkan Saya Jengah Sebentar</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya sedang membenci negeri-negeri pemodal. Seperti yang terlihat di belakang saya. Semuanya hanya untuk membuat kita laiknya anjing yang hebat jika mampu memiliki penciuman tinggi. Padahal tak lebih hanya tunduk pada bau yang seakan membuktikan kita tak pernah punya daya tawar. Saya benci amerika karena itu saya MEMBELAKANGI &#39;produknya &#39; yang satu ini. Saya sebenarnya (mungkin) juga akan benci Indonesia jika bertingkah laiknya Amerika jika tiba-tiba kaya (yah meski sedikit lama atau berat).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTSVGrLy2iOud3klVmLoARL8iVALzu6reZ1blHA3N_HsMc0saR4z7VTYd7j33So1GsDzG5JjrWe7ScFiGL1p8lFGaIalDxJOzY6njtIFfUPPlUFQJj9eO1Bg9mHEf0ySbB4lrtdNt6yow/s1600/amcor+tai.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTSVGrLy2iOud3klVmLoARL8iVALzu6reZ1blHA3N_HsMc0saR4z7VTYd7j33So1GsDzG5JjrWe7ScFiGL1p8lFGaIalDxJOzY6njtIFfUPPlUFQJj9eO1Bg9mHEf0ySbB4lrtdNt6yow/s200/amcor+tai.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5605372152833484162&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/4266184826614276698/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/05/biarkan-saya-jengah-sebentar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4266184826614276698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4266184826614276698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/05/biarkan-saya-jengah-sebentar.html' title='Biarkan Saya Jengah Sebentar'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTSVGrLy2iOud3klVmLoARL8iVALzu6reZ1blHA3N_HsMc0saR4z7VTYd7j33So1GsDzG5JjrWe7ScFiGL1p8lFGaIalDxJOzY6njtIFfUPPlUFQJj9eO1Bg9mHEf0ySbB4lrtdNt6yow/s72-c/amcor+tai.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7119017381154058451</id><published>2011-04-29T23:13:00.006+07:00</published><updated>2011-04-30T12:10:23.871+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Cermin</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;:untuk panoptic monkey&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sore ini datang&lt;br /&gt;Mengunjugimu:berharap&lt;br /&gt;Tak bersua muka, sebab&lt;br /&gt;Telah kubawa cermin&lt;br /&gt;Sebagai ganti agar&lt;br /&gt;Kau temu dirimu&lt;br /&gt;Tanpa menggali mataku&lt;br /&gt;Mengaduk hatiku yang&lt;br /&gt;Padanya tak menuju kemana&lt;br /&gt;Tak memberimu apa&lt;br /&gt;Terkecuali duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin itu: bawalah kemana&lt;br /&gt;Engkau suka, niscaya&lt;br /&gt;Kan kau raba dimana&lt;br /&gt;                                Rasa&lt;br /&gt;Yang pada mimpi mencarimu&lt;br /&gt;Berharap sebuah temu&lt;br /&gt;Dan padanya tak kenal pulang&lt;br /&gt;Maka kaulah labuh akhir&lt;br /&gt;Atas anasir, atas takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah kau bawa:&lt;br /&gt;Cermin itu, simpanlah.&lt;br /&gt;Jauhkan dia atas debu&lt;br /&gt;Namun, apa kiranya debu?&lt;br /&gt;Tak mampu menyaru&lt;br /&gt;Mengelabuhimu lewat kata&lt;br /&gt;Yang diucapkan lewat angin&lt;br /&gt;Yang mencipta deru, maka&lt;br /&gt;Satusatunya cara tentulah&lt;br /&gt;Membantingnya, memecahruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sore tadi datang&lt;br /&gt;Menghindarimu: meyakini&lt;br /&gt;Kau terlampau mafhum&lt;br /&gt;Pada dirimu bukan aku&lt;br /&gt;Maka lenyap percik&lt;br /&gt;Wujudku pada sela&lt;br /&gt;Muntahan cermin pada&lt;br /&gt;Sela kakimu sesaat sebelum&lt;br /&gt;Kurayakan waktu atas&lt;br /&gt;Sederhana menyecap diri&lt;br /&gt;Serupa apatis meluap peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Surabaya, Tutup April 2011&lt;/blockquote&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7119017381154058451/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/cermin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7119017381154058451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7119017381154058451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/cermin.html' title='Cermin'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-8957790008751823605</id><published>2011-04-29T21:23:00.002+07:00</published><updated>2011-04-29T21:29:53.745+07:00</updated><title type='text'>Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Masyarakat Indonesia umumnya mengenal mitologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari unsur-unsur kepercayaan lokal. Sebelum agama-agama disebarkan serta dipeluk secara luas, mitologi telah memiliki peran penting dalam upaya kontrol sosial masyarakat melalui beragam tata nilai, norma serta amanat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, hingga kini, kisah-kisah mite masih mengambil andil dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat berbagai daerah, baik sebagai warisan intangible culture maupun fungsi-fungsi lain yang bersifat edukatif dan rekreatif.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.&lt;br /&gt;   2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.&lt;br /&gt;   3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”&lt;br /&gt;   4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.&lt;br /&gt;   5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;   6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.&lt;br /&gt;   7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).&lt;br /&gt;   8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email : ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).&lt;br /&gt;   9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011&lt;br /&gt;  10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)&lt;br /&gt;  11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.&lt;br /&gt;  12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Diposkan oleh Relawan Bentara Budaya Bali pada Februari 14, 2011 di http://bentarabudayabali.wordpress.com dan dipos ulang di Blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut, Sila langsung ke website Bentara Budaya Bali di http://bentarabudayabali.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/8957790008751823605/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/lomba-cipta-puisi-nasional-bentara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/8957790008751823605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/8957790008751823605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/lomba-cipta-puisi-nasional-bentara.html' title='Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-4998809105590589457</id><published>2011-04-29T19:29:00.005+07:00</published><updated>2011-04-29T19:46:17.163+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerpen"/><title type='text'>Jimat Sero - Sebuah Cerpen dari Eka Kurniawan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cerpen Eka Kurniawan (&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 24 Januari 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru selesai membaca cerpen ini dan saya rasa cerpen ini sangat  menarik. Kebetulan sekali saya juga baru selesai membaca buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan &quot;Cinta Tak Ada Mati&quot;, tapi rasanya lebih memungkinkan memposting cerpen Eka yang pernah dimuat di Suara Merdeka ini karena memang tidak diambil dari buku. Semoga saja penulis berkenan. Jadi semoga posting ini bermanfaat bagi siapa saja yang  sengaja/tidak sengaja ingin mengambil manfaat :). Sila membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4h7FsbmrJ_fgWU9yeW0AbupscvGn5zOWoHqyEwhzry1mGCKWZlEU_6fwCuRIEJ-M4-8ez391MQRbWXb8QEN_X7hdmYiyiHE2Ny2iuKViivkInd7AN6zdOybCA-XnwViDG5iguEIvPkSs/s1600/jimat-sero1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 245px; height: 307px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4h7FsbmrJ_fgWU9yeW0AbupscvGn5zOWoHqyEwhzry1mGCKWZlEU_6fwCuRIEJ-M4-8ez391MQRbWXb8QEN_X7hdmYiyiHE2Ny2iuKViivkInd7AN6zdOybCA-XnwViDG5iguEIvPkSs/s200/jimat-sero1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5600983063488779778&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“KAMU&lt;/strong&gt; masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku,  waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,”  jawabku sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jimat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu untuk mulut najismu,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maumu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meludahi mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, ampun,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian segalanya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/4998809105590589457/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/jimat-sero-sebuah-cerpen-dari-eka_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4998809105590589457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/4998809105590589457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/jimat-sero-sebuah-cerpen-dari-eka_29.html' title='Jimat Sero - Sebuah Cerpen dari Eka Kurniawan'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4h7FsbmrJ_fgWU9yeW0AbupscvGn5zOWoHqyEwhzry1mGCKWZlEU_6fwCuRIEJ-M4-8ez391MQRbWXb8QEN_X7hdmYiyiHE2Ny2iuKViivkInd7AN6zdOybCA-XnwViDG5iguEIvPkSs/s72-c/jimat-sero1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-3796936702392217306</id><published>2011-04-27T21:04:00.009+07:00</published><updated>2011-04-27T21:24:11.891+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>Maka Biarkan Saya Tidur Sekedar untuk Memiliki Diri Sepenuhnya Meski Hanya Sekedip..!!</title><content type='html'>Siapa pun yang mengontrol media, mengontrol pikiran.— &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Jim Morrison&lt;/span&gt; (1943-1971)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8PGcUz0KYXeaAFOH9HUHH_9rFC8lotN7Tj62ozc3IV8he-XRvJXwaqLhe8zGlVGlmEc3MQrmkEgD_JAM8rEdkxvUtlDNwfUniv4iAnux8G61pjsYxqfhKDSXSW2qjIN9wFxO5Ycnm4l4/s1600/jim_morrison.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 200px; height: 140px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8PGcUz0KYXeaAFOH9HUHH_9rFC8lotN7Tj62ozc3IV8he-XRvJXwaqLhe8zGlVGlmEc3MQrmkEgD_JAM8rEdkxvUtlDNwfUniv4iAnux8G61pjsYxqfhKDSXSW2qjIN9wFxO5Ycnm4l4/s200/jim_morrison.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5600268394231479634&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkvKXA4tfja0okoxi-x7ds0ESoK8gfogabchu-nNKjdClf7VrMszYRCPz7S26isV7wyV23Xwen_YVKnCiuLMY3OBTMfguqL4CaRPbBa0qgxrn4cr8w95A1KNYxMQlAwsHoqbDQ-4dTCpg/s1600/morrison.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor: pointer; width: 181px; height: 140px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkvKXA4tfja0okoxi-x7ds0ESoK8gfogabchu-nNKjdClf7VrMszYRCPz7S26isV7wyV23Xwen_YVKnCiuLMY3OBTMfguqL4CaRPbBa0qgxrn4cr8w95A1KNYxMQlAwsHoqbDQ-4dTCpg/s200/morrison.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5600268282787673058&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/3796936702392217306/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/maka-biarkan-saya-tidur-untuk-memiliki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3796936702392217306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3796936702392217306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/maka-biarkan-saya-tidur-untuk-memiliki.html' title='Maka Biarkan Saya Tidur Sekedar untuk Memiliki Diri Sepenuhnya Meski Hanya Sekedip..!!'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8PGcUz0KYXeaAFOH9HUHH_9rFC8lotN7Tj62ozc3IV8he-XRvJXwaqLhe8zGlVGlmEc3MQrmkEgD_JAM8rEdkxvUtlDNwfUniv4iAnux8G61pjsYxqfhKDSXSW2qjIN9wFxO5Ycnm4l4/s72-c/jim_morrison.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-3448086374926496818</id><published>2011-04-14T10:31:00.012+07:00</published><updated>2011-04-26T21:08:52.410+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>Minat Baca yang Kembali?</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzKeqbUA0vAA-Bf69WBifunyFNXDAVgZHzFK29FxyjBUEU7CfPLojatBqlW_iCq302IDSWNjEfowK6WDmpLVsOJkXGCisoufab9bBvGpdGSR144LEZpjQo88bryV5tC87uAj1KSs7DlSA/s1600/buku+pinjaman+2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 224px; height: 168px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzKeqbUA0vAA-Bf69WBifunyFNXDAVgZHzFK29FxyjBUEU7CfPLojatBqlW_iCq302IDSWNjEfowK6WDmpLVsOJkXGCisoufab9bBvGpdGSR144LEZpjQo88bryV5tC87uAj1KSs7DlSA/s200/buku+pinjaman+2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5595638662376374562&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pagi ini setelah urusan bimbingan skripsi berjalan lebih mudah dengan dosen pembimbing dan terutama setelah ada keputusan bersama untuk melakukan bimbingan via e-mail, rasanya ada beban yang sedikit terlepas dari benak. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;well it&#39;s such a relief!&lt;/span&gt;. Semoga tidak justru membuat semakin bermalas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak untuk menjaga keseimbangan, akhirnya diputuskan untuk meminjam beberapa buku bacaan/novel di perpustakaan kampus yang selama ini belum sempat dibaca: As I lay Dying milik Kakek Faulkner, The Catcher in the Rye karya J.D Sallinger dan citarasa lokal untuk tetap melihat diri dari kacamata kebangsaan dipilihlah karya Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung. Semoga buku-buku tersebut mampu mengusir kejenuhan untuk mengerjakan skripsi lebih serius jika tidak ingin disebut main-main. Atau paling tidak tetap mampu memberikan jeda yang berarti ketika lelah pada kekonyolan hidup itu sendiri. Tentunya mampu mengingatkan jika tak ingin menganggap sebagai motivasi untuk mengerjakan kewajiban yang diwajib-wajibkan yaitu skripsi itu sendiri. Hhhh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semoga pagi ini menjadi titik awal untuk menjaga diri pada jalur yang tepat meski tetaplah itu semua tidak lebih dari  jalur &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;random&lt;/span&gt;/acak dan menuju ketiadaan itu sendiri. Tetap membaca, tetap bekerja, tetap menulis dan selalu setia menghidupi kekonyolan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-sangit-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/3448086374926496818/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/minat-baca-yang-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3448086374926496818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3448086374926496818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/minat-baca-yang-kembali.html' title='Minat Baca yang Kembali?'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzKeqbUA0vAA-Bf69WBifunyFNXDAVgZHzFK29FxyjBUEU7CfPLojatBqlW_iCq302IDSWNjEfowK6WDmpLVsOJkXGCisoufab9bBvGpdGSR144LEZpjQo88bryV5tC87uAj1KSs7DlSA/s72-c/buku+pinjaman+2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-1755447941944494549</id><published>2011-04-10T03:20:00.006+07:00</published><updated>2011-04-26T21:09:04.560+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>Tanggal Sepuluh di bulan april</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Semua berjalan seperti biasanya. Kebetulan sekali hari sabtu. Bukan, bukan karena di hari lain sibuk. Ahh..mungkin menonton film memang bisa disebut sibuk. Jadi mungkin memang sibuk. Tapi tanggal sepuluh april pun ternyata lebih banyak dihabiskan menonton film juga. Jadi kalaupun sibuk maka kesibukannya pun sama.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Posting pertama di bulan april. Ahh..mungkin bukan posting pertama di bulan april karena tahun lalu sudah pernah. Jadi yang benar adalah posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april di tahun ini. Itu berarti di tanggal yang sama dan di bulan april tahun lalu sudah pernah ada posting yang seperti ini. Ohh..rasanya tidak, mungkin hanya sama di bulan april atau sebenarnya tidak pernah..entahlah. Tapi jika benar belum pernah maka ini jadi posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Tidur di pagi hari setelah menjemur pakaian. Bangun siang hari agak kesorean dengan kepala sedikit pusing. Bukan, bukan karena jatuh dari tempat tidur dan kepala terbentur lantai kemudian tertimpa laptop yang jatuh dari meja. Terlalu berlebihan. Hanya pusing sederhana seorang manusia megembalikan kesadaran nyata setelah menghidupi kesadaran mimpi (yang barusan adalah denotasi tak menyimpan konotasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak ada yang istimewa yang dilakukan setelah kesadaran didapat. Hanya kemudian memasak air untuk segelas teh sambil menikmati sore di balkon depan kamar kos sangat sangat sangat serius sederhana dengan sahutan eyang-eyang Beatles dan Om-om Naif. Ahh..sore yang begitu sederhana dan nyaman di tanggal sepuluh di bulan april dengan buih gula yang masih berputar di cangkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Berdiam diri di kamar sambil medengarkan suara film &#39;Janji Joni&#39; dan &#39;Tiga Hari Untuk Selamanya&#39;. Sebuah cara baru menikmati film di tanggal sepuluh di bulan april. Ahh..tak harus di tanggal sepuluh, tapi mungkin harus di bulan april karena bulan depan bulan mei. Itu berarti tanggal sepuluh di bulan mei. Ahh..bulan apalah asal ada film yang diputar dan siap didengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Setelah puas medengarkan film, sepertinya memang harus kembali ke cara konvensional tradisional komunal visual. &#39;Menonton film&#39;. Akhirnya, setelah melalui perdebatan batin dan berakhir dengan sistem random, yang ditonton adalah &#39;Tiga Hari Untuk Selamanya&#39; dan &#39;Gie&#39; kebetulan dua-duanya film Riri Riza. Dianggap kebetulan karena dibetul-betulkan. Kebetulan yang dibetul-betulkan di tanggal sepuluh di bulan april.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Dan inilah yang benar-benar tanggal sepuluh di bulan april. Dinihari sesaat setelah menyantap nasi dengan tempe gorengan orag lain dan telur ceplok gorengan sendiri, diputuskan untuk keluar kos. Sedikit kaget karena di luar masih ramai seperti jam 7 malam. Mungkin orang-orang di sekitar kos memang lebih suka minggu dinihari dibanding malam minggu. Iya Minggu dinihari di tanggal sepuluh di bulan april.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal sepuluh di bulan april. Sesaat sebelum berhalusinasi dengan postingan &#39;tanggal sepuluh di bulan april,&#39; sedikit menengok blok teman karena ada pemberitahuan posting baru di dasbor blog. Tidak ada yang istimewa seperti di blog ini kecuali berisi posting makian dan cacian atau sekedar pertanyaan &#39;sudah puaskah seseorang karena telah meninggalkan teman yang punya blog.&#39; Banyak kejadian di tanggal sepuluh di bulan april. Hanya seperjutaan dari sekian banyak yang mampu diambil dan dimasukkan dalam catatan. Ahh..akhirnya sebuah catatan di tanggal sepuluh di bulan april yang melibatkan sembilan april selesai. Semoga masih ada sepuluh april lainnya. Bukan, bukan takut tak bertemu sepuluh april lagi, tapi bukankah lebih menakutkan jika tanggal sembilan dan sebelas di bulan april tak pernah bertemu karena tanggal sepuluh di bulan april hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-sangit-     &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/1755447941944494549/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/tanggal-sepuluh-di-bulan-april.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1755447941944494549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1755447941944494549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/04/tanggal-sepuluh-di-bulan-april.html' title='Tanggal Sepuluh di bulan april'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-112942192933327763</id><published>2011-03-11T21:35:00.008+07:00</published><updated>2011-04-26T21:09:18.081+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan balkon dan kelunatikan itu"/><title type='text'>[nyampah] Jepang dan Tokyo Story</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Judul di atas tidak pernah mewakili tulisan yang sekarang saya ketik dan kemudian nantinya mungkin (meski kemungkinannya kecil) salah satu anda membacanya. satu-satunya alasan tulisan ini diketik hanyalah karena agak merasa aneh dengan kata jepang akhir-akhir ini atau lebih tepatnya beberapa jam sebelum posting ini dibuat.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh karena baru saja saya sempat menonton film &#39;Tokyo Story&#39; karya Ozu dan harus saya akui bahwa film tersebut termasuk tiga film yang membuat saya benar-benar terharu dan cukup lama tak bisa berkata-kata atau jika kondisi &#39;tak mampu berkata-kata&#39; terlalu berlebihan paling tidak dalam benak saya muncul rasa rindu yang luar biasa terhadap orang tua saya. Dan bukan berarti sebelumnya tidak pernah tapi lebih seperti sebuah rindu yang seakan sebelumnya tertahan &#39;nalar&#39; dan &#39;pendewaan terhadap kebebasan semu&#39; yang menemukan celah keluar dan seakan kemudian tak cukup celah namun membuncah. Dan adakah yang lebih besar dari rindu yang membuncah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh? belum sampai ternyata setelah kemudian memutuskan browsing di internet ternyata baru saja terjadi bencana di Jepang. Kebetulan atau tidak yang jelas saya merasa banyak belajar berpikir ulang akhir-akhir ini setelah melihat cara berpikir orang jepang baik dari buku atau lewat film. Bukan, bukan untuk meniru apa yang mereka pikirkan dan lakukan tapi bagaimana mereka bisa menghidupi hidup dengan tradisi mereka meski jelas merekapun mulai terserap modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..aneh atau tidak, semoga dimanapun dan siapapun yang tertimpa bencana mampu menguasai diri masing-masing dan tetap tak bosan menghidupi hidup yag konyol seperti ini. Bukankah sekonyol-konyolnya hidup ini tak lebih konyol daripada membaca tulisan ini. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Indeed ridiculous!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/112942192933327763/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/03/nyampah-jepang-dan-tokyo-story.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/112942192933327763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/112942192933327763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/03/nyampah-jepang-dan-tokyo-story.html' title='[nyampah] Jepang dan Tokyo Story'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-1976659052545427064</id><published>2011-02-03T20:45:00.006+07:00</published><updated>2011-04-27T20:32:33.754+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Bright Star, would I were stedfast as thou art - a John Keats&#39; poem</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjD-iML3ADuk1hIIxoH9-y4VCVFLpv3xJWlE6qc7NK29rKToTkPGQScn-xVB6-WsEtzjiMsvIX0KFntDuiDoru1SUtRJvZYQk80uTlyUgoIM07oZrhbLOdI1TkIiy6-qvzBKxaN_dYgi4A/s1600/john-keats.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 208px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjD-iML3ADuk1hIIxoH9-y4VCVFLpv3xJWlE6qc7NK29rKToTkPGQScn-xVB6-WsEtzjiMsvIX0KFntDuiDoru1SUtRJvZYQk80uTlyUgoIM07oZrhbLOdI1TkIiy6-qvzBKxaN_dYgi4A/s200/john-keats.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5600255641234939282&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bright star, would I were stedfast as thou art&lt;br /&gt;Not in lone splendor hung aloft the night&lt;br /&gt;And watching, with eternal lids apart,&lt;br /&gt;Like nature&#39;s patient, sleepless Eremite,&lt;br /&gt;The moving waters at their priestlike task&lt;br /&gt;Of pure ablution round earth&#39;s human shores,&lt;br /&gt;Or gazing on the new soft-fallen mask&lt;br /&gt;Of snow upon the mountains and the moors&lt;br /&gt;No yet still stedfast, still unchangeable,&lt;br /&gt;Pillow&#39;d upon my fair love&#39;s ripening breast,&lt;br /&gt;To feel for ever its soft fall and swell,&lt;br /&gt;Awake for ever in a sweet unrest,&lt;br /&gt;Still, still to hear her tender-taken breath,&lt;br /&gt;And so live ever or else swoon to death</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/1976659052545427064/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/02/bright-star-john-keats-poem.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1976659052545427064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1976659052545427064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/02/bright-star-john-keats-poem.html' title='Bright Star, would I were stedfast as thou art - a John Keats&#39; poem'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjD-iML3ADuk1hIIxoH9-y4VCVFLpv3xJWlE6qc7NK29rKToTkPGQScn-xVB6-WsEtzjiMsvIX0KFntDuiDoru1SUtRJvZYQk80uTlyUgoIM07oZrhbLOdI1TkIiy6-qvzBKxaN_dYgi4A/s72-c/john-keats.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7934778627493156305</id><published>2011-02-02T18:06:00.004+07:00</published><updated>2011-04-26T20:03:11.171+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Kursi</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;:badut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka semua menyebutmu kursi&lt;br /&gt;Tempat kaki menyerah menyangga diri&lt;br /&gt;Kau tahu, kau tak butuh benar menahanku&lt;br /&gt;Pada pangkuanmu, karena seketika itu&lt;br /&gt;Cukup kutahu ada harapan untuk jedaku&lt;br /&gt;Padamu tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka semua meyebutmu kursi&lt;br /&gt;Tempat tubuh tak menyerah membaring diri&lt;br /&gt;Kau tahu, Kau cukup melunakkan tengah tubuhku&lt;br /&gt;Menyandarkan sisanya, dan oleh sebab itu&lt;br /&gt;Terlihat landai pandanganku tak perlu curam&lt;br /&gt;Padamu tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu mereka menyebutmu?&lt;br /&gt;Kau tak tahu mereka menyebutmu&lt;br /&gt;Kau hanya tahu mereka tak benar mereka&lt;br /&gt;Kau sangat yakin mereka Satu&lt;br /&gt;Kau menyebutku mereka&lt;br /&gt;Kau jeda pada senyap sakral langit berbintang mereka&lt;br /&gt;Kau debar landai pandang membelakangi curam mereka&lt;br /&gt;Padamu? Kau pasti tahu.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;01-01-11 18:34&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7934778627493156305/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/02/kursi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7934778627493156305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7934778627493156305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/02/kursi.html' title='Kursi'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7616666553028254711</id><published>2011-01-24T14:14:00.014+07:00</published><updated>2011-04-27T02:53:27.081+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Film dan Percakapan Mereka"/><title type='text'>Black Swan (2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlH51LdYas99fRCQeEo_FlhFVzvCti5w9SwvPBgZi4N-kx2qkmFeBP-7oN9NFl39oOP41EQ204SINzYCFz3dY1-Mvl9iepkVFFb22pe7QNzo7JXA1CO9TgKOBCVB063Pd-OMBf-TqG8uc/s1600/black+swan.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 135px; height: 184px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlH51LdYas99fRCQeEo_FlhFVzvCti5w9SwvPBgZi4N-kx2qkmFeBP-7oN9NFl39oOP41EQ204SINzYCFz3dY1-Mvl9iepkVFFb22pe7QNzo7JXA1CO9TgKOBCVB063Pd-OMBf-TqG8uc/s200/black+swan.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5565670860218559122&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/title/tt0947798/&quot;&gt;Black Swan&lt;/a&gt;|2010|Directed by. &lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/name/nm0004716/&quot;&gt;Darren Aronovsky&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;I had the craziest dream last night about a girl who has turned into a  swan, but her prince falls for the wrong girl and she kills herself.&quot;-Nina, Black Swan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Jika penulis pernah bilang film yang tidak mungkin disangkal sebagai film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2010 adalah Inception, Black Swan mungkin adalah film untuk menutup 2010 dan memulai 2011 dengan berharap akan ada film sespektakuler film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini dimulai dengan sebuah mimpi Nina (Natalie Portman) tentang seorang gadis yang berubah menjadi &#39;angsa&#39; tapi pangeran dari angsa tersebut memilih gadis lain sehingga &#39;si angsa&#39; memilih untuk bunuh diri. Mimpi Nina tersebut berhubungan dengan sebuah peran utama dalam pagelaran balerina &quot;Swan Lake&quot; yang sudah sangat familiar mungkin bagi kita. Sebagai seorang balerina, peran utama dalam &quot;Swan Lake&quot; adalah peran yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuka dengan mimpi Nina, film ini berlanjut dengan sebuah pengumuman dari Thomas Leroy (Vincent Cassel) bahwa dia akan mencari pengganti Beth (Winona Ryder) dalam pertunjukan &quot;Swan Lake&quot; sebagai pembuka musim pertunjukannya yang baru. Dan pada akhirnya Nina lah yang ditunjuk sebagai Balerina utama. Apakah film ini selesai begitu saja setelah Nina mendapatkan perannya? rasanya tidak. Butuh sebuah &#39;kekuatan&#39; untuk tetap menjaga peran tersebut di tangan karena muncul Balerina baru, Lily (Mila Kunis) yang juga sangat menarik Thomas. Selain itu Nina harus menghadapi fakta bahwa dia luar biasa memerankan White Swan, tapi tidak dengan Black Swan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sendiri pada akhirnya berakhir bahagia jika tidak ingin dibilang tragis. Karena bagi penulis, apa yang lebih bahagia dari ambisi yang terbayar. Beberapa hal yang membuat penulis sangat tertarik adalah bahwa keinginan yang semakin besar akan menjadi sebuah ambisi dan ambisi yang semakin membesar akan berubah menjadi halusinasi yang menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis pribadi, tidak ada masalah ketika sesuatu sekedar menjadi keinginan atau berubah menjadi ambisi bahkan sampai berhalusinansi karena sebenarnya keduanya mencari hasil sebagai solusi. Apakah selalu keinginan dan ambisi bisa meraih hasil? mungkin tidak selalu, tapi bagaimana menghadapi kegagalan itulah yang hampir pasti mengikuti keinginan dan ambisi. Serta bagaimana jika ambisi menemui solusi? kesempunaan tentunya, apa lagi? seperti ucapan Nina di akhir film;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;I felt perfect, I was Perfect,&quot;-Nina, black Swan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download &lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/title/tt0947798/&quot;&gt;&lt;/a&gt;Black Swan(Dvdscr|400mb|mkv|mediafire) &lt;a href=&quot;http://www.mediafire.com/?f6bp8b2k0qdtp21&quot;&gt;part1&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;http://www.mediafire.com/?7phopwpfowu9du6&quot;&gt;part2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                                                                                  Subtitle &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/13368531/BlackSwanDVDscr-Ind.rar.html&quot;&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Join file dengan HjSplit|&lt;a href=&quot;http://cinema3satu.blogspot.com/2009/01/cara-menggabungkan-file-dengan-hj-split.html&quot;&gt;download HjSplit di Cinema3satu&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://cinema3satu.blogspot.com/2009/01/cara-menggabungkan-file-dengan-hj-split.html&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Thanks to Cinema3satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7616666553028254711/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/black-swan-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7616666553028254711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7616666553028254711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/black-swan-2010.html' title='Black Swan (2010)'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlH51LdYas99fRCQeEo_FlhFVzvCti5w9SwvPBgZi4N-kx2qkmFeBP-7oN9NFl39oOP41EQ204SINzYCFz3dY1-Mvl9iepkVFFb22pe7QNzo7JXA1CO9TgKOBCVB063Pd-OMBf-TqG8uc/s72-c/black+swan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-7299824698448309326</id><published>2011-01-24T14:00:00.008+07:00</published><updated>2011-04-27T02:53:46.347+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Film dan Percakapan Mereka"/><title type='text'>Inception (2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr0v4SwHrK8tzxrWI3d4efHgK7u035VYYZ102ZNekrUDcnOIeMLEEw4cUxLYXbO7iMeoidDtYe2hkeo_rRfIbB7NgUhub82lTqFLqltDcRtfkYm_0xjVPGtg1Juc4vpKiP3hufBUO3ZCc/s1600/inception.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 135px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr0v4SwHrK8tzxrWI3d4efHgK7u035VYYZ102ZNekrUDcnOIeMLEEw4cUxLYXbO7iMeoidDtYe2hkeo_rRfIbB7NgUhub82lTqFLqltDcRtfkYm_0xjVPGtg1Juc4vpKiP3hufBUO3ZCc/s200/inception.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5565645591461222962&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/title/tt1375666/&quot;&gt;Inception&lt;/a&gt;|2010|Directed by. &lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/name/nm0634240/&quot;&gt;Christopher Nolan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dreams feel real while we&#39;re in them. It&#39;s only when we wake up that we realize something was actually strange.&quot;-Cobb, Inception-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Inilah film yang tidak bisa disangkal lagi sebagai film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2010. Rasanya tidak berlebihan jika penulis berasumsi seperti itu. kita akan benar-benar disuguhi sebuah perpaduan antara cerita yang bagus, efek luar biasa dan tentu saja bagaimana film ini mampu menjaga mata untuk terus melihat mulai dari awal sampai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini bercerita tentang sebuah perjalanan yang tidak bisa dibilang biasa yang &#39;harus&#39; dilakukan oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) ke dalam mimpi Rober Fischer (Cillian Murphy) untuk menanamkan sebuah keinginan yang dalam hal ini akan menguntungkan bisnis Saito (Ken Watanabe) di dunia nyata. Cobb &#39;harus&#39; melakukan perjalanan ini karena permintaan Saito yang mempunyai &#39;kekuatan&#39; untuk bisa membebaskan dirinya dari pelarian sehingga dia bisa menemui kembali dua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantu Arthur (Joseph Gordon-Levitt), &#39;rekrutan baru&#39; Adriane (Ellen Page) dan Saito sendiri, Cobb dkk berseluncur ke dalam mimpi untuk menemui mimpi Robert Fischer. Untuk melakukan penanaman pikiran (inception), Cobb dkk harus melakukannya dalam beberapa lapis mimpi. Hal ini tidak mudah tentu saja karena mereka tidak punya banyak waktu dan sangat susah pasti menjaga stabilitas mimpi dalam mimpi. Selain itu Cobb harus melawan kehadiran &#39;istrinya&#39;, Mal (Marion Cotillard) yang terus berusaha merayu Cobb. Sebagai resiko, bisa saja mereka terlempar ke dalam Limbo, sebuah tempat dalam mimpi yang membuat orang tidak akan pernah lagi kembali ke dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah Cobb dkk melewati semua itu? Film ini sendiri pada akhirnya harus berakhir ambigu jika tidak ingin dibilang tanpa penyelesaian. Namun Apakah segala hal harus mempunyai akhir yang pasti? Rasanya sang sutradara, Christopher Nolan tidak pernah salah membuat film seluar biasa ini karena dari beberapa film yang telah dia buat Inilah film yang mempunyai rating tertinggi di &lt;a href=&quot;http://www.imdb.com/title/tt1375666/&quot;&gt;IMDB&lt;/a&gt; walaupun tentunya film yang lain pun tidak mungkin dibilang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari keseluruhan film, penulis pribadi sangat tertarik dengan ide cerita tentang bagaimana bermimpi dalam sebuah mimpi serta konsep &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Limbo&lt;/span&gt;. Sebagian dari kita mungkin tahu apa arti &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Limbo&lt;/span&gt; yaitu tempat dimana orang akan dilupakan. Mungkinkah hal itu benar-benar ada di dunia nyata atau &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;yah&lt;/span&gt;.. sekedar di dunia fiksi? Rasanya fiksi ataupun nyata mempunyai kebenaran masing-masing, bisa saja sama bisa sama sekali berbeda. Tidak ada yag lebih agung diantaranya karena jika begitu, kita bisa lihat apa yag terjadi di televisi akhir-akhir ini orang-orang lebih menghargai fiksi ketika hal itu diberi nama reality (yah seperti &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;reality&lt;/span&gt; show di tv yang tidak benar-benar &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;reality&lt;/span&gt; maupun fiksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download&lt;a href=&quot;http://www.maknyos.com/4s77shvizwg9/inc3pt11on_450.rar.html&quot;&gt; Inception (DVDRip450mb|mkv)&lt;/a&gt;pass=dell@indofiles&lt;br /&gt;             Subtitle|&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/12570306/Inception.720p.BluRay.x264-Eng.rar.html&quot;&gt;English&lt;/a&gt;|&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/13218080/Inception.2010.720p.BluRay.x264-CROSSBOW-Ind.rar.html&quot;&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Join file dengan HjSplit|&lt;a href=&quot;http://cinema3satu.blogspot.com/2009/01/cara-menggabungkan-file-dengan-hj-split.html&quot;&gt;download HjSplit di Cinema3satu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Thanks to Cinema3satu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/7299824698448309326/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/inception.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7299824698448309326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/7299824698448309326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/inception.html' title='Inception (2010)'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr0v4SwHrK8tzxrWI3d4efHgK7u035VYYZ102ZNekrUDcnOIeMLEEw4cUxLYXbO7iMeoidDtYe2hkeo_rRfIbB7NgUhub82lTqFLqltDcRtfkYm_0xjVPGtg1Juc4vpKiP3hufBUO3ZCc/s72-c/inception.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-1640232253225777567</id><published>2011-01-13T22:13:00.003+07:00</published><updated>2011-04-26T20:09:05.556+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerpen"/><title type='text'>Kisah Lelaki Penjual Mainan Dan Air Mata</title><content type='html'>&lt;div  style=&quot;text-align: justify;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;font-size:130%;&quot; &gt;Namaku Raet. Aku adalah salah satu warga negeri Doogya. Negeri yang tidak terlalu jauh dari negerimu. Sehari-hari aku berkeliling komplek rumah dari mulai komplek yang paling kumuh sampai yang paling mewah. Tapi mulai beberapa tahun lalu kuputuskan untuk berhenti menyambangi komplek mewah.&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mungkin akan maklum karena sebagai penjual mainan keliling rasanya susah sekali mendapat izin masuk komplek mewah seperti itu, sama seperti di negerimu bukan. Beberapa kali aku harus memotong uang labaku tidak hanya untuk rokok, tapi juga nasi bungkus untuk satpam yang aku sogok. Awalnya memang tidak memberikan masalah buatku karena tentu harga mainannya aku naikkan tapi masalah lain yang lebih penting untuk keberlangsungan karirku mengancam. Kau mungkin heran masalah apa yang mengancam pekerjaan remeh di negerimu itu yang dengan bangga di negeriku aku sebut karir. Aku akhirnya sadar ternyata lebih sulit membuat anak-anak kecil komplek mewah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah aku bilang tadi aku berhenti berkeliling di komplek mewah di Negeriku bukan karena ongkos sogok yang kadang tidak cukup hanya rokok tapi lebih karena susah sekali membuat anak-anak di sana menangis. Waktu kecil kau mungkin pernah menangis karena kau begitu menginginkan sebuah mainan yang dipajang tapi orang tuamu menolak untuk membelikannya. Jika orang tuamu miskin pasti akan bilang, “buat makan aja susah malah mau beli mainan, memangnya kau mau makan mainanmu?” Tapi jika orangtuamu kaya tapi pelit, mereka mungkin akan bilang, “Kemaren kan baru aja beli mainan (padahal sudah beberapa bulan lalu), nanti kalo bosen pasti dibiarin.” Mungkin mereka baru mau membelikan jika anaknya mau memakan mainannya setelah bosan. Maka terpujilah bagi orangtua seperti mereka jika di Negeriku karena dengan begitu aku bisa membuat anak mereka menangis. Dan jika tangisannya semakin keras dan begitu lama bahkan sampai membuat anak mereka berhalusinasi pada mainan yang mereka inginkan maka bukan hanya laba tapi sebuah prestasi tersendiri buatku demi berlangsungnya kehidupan umat manusia di negeriku Doogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak perlu heran apa hubungannya menjual mainan dengan anak kecil yang menangis bisa menjadi laba dan prestasi. Apalagi dengan membawa-bawa keberlangsungan umat manusia di negeriku karena semuanya akan kuceritakan setelah ini. Oya aku hampir lupa sebelumnya. Kau pasti dari negeri yang korupsi dan kejahatan begitu subur sehingga terlalu banyak orang sedih bahkan akhirnya banyak anak-anak menangis histeris karena orangtuanya sibuk dengan kesedihannya dan tak lagi peduli dengan anaknya. Kau harus bersyukur pada koruptor-koruptor dan orang-orang jahat di negerimu. Di negeriku, Doogya,  hampir semua orang sudah baik pada yang lain kecuali masih menyisakan sangat sedikit orang jahat, seperti satpam komplek mewah yang biasa aku sogok atau diriku sendiri tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu kenapa harus bersyukur telah tinggal di Negerimu? Kau tahu, di negeriku sekarang umat manusia terancam punah karena sudah tidak ada kebencian. Yang ada saling sayang satu sama lain. Itu membuat manusia di Doogya tidak mempunyai beban pikiran dan tentram. Karena minimnya beban pikiran, mereka jadi jarang berpikir. Kau tau apa yang terjadi jika manusia jarang berpikir, mereka melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Lalu jika mereka sudah tanpa pertimbangan tentu saja mereka jadi ikhlas itu sebabnya tidak ada kebencian diantara mereka. Dan akhir dari semua itu tentu kebahagiaan tak terkira. Kalau manusia sudah bahagia di Doogya lalu buat apa surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, salah satu manusia Doogya yang masih berpikir, tentu saja ingin mengembalikan konsep surga. Itu sebabnya aku berusaha membuat anak kecil menangis. Karena ketika mereka menangis bahkan sampai lupa cara meringis akan membawa efek traumatis. Ketika mereka besar, mereka akan berusaha menjadi orang yang bisa mendapatkan segalanya yang mereka inginkan. Tak peduli jika harus saudara mereka yang dikorbankan. Semakin banyak yang seperti itu maka kelangsungan Doogya dan konsep surga bisa dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus tahu juga di Doogya dari semua komplek yang ada hanya tinggal satu yang kumuh. Inilah mereka yang menjaga ketidakberaturan Negeri dan konsep surga. Itu sebabnya sangat mudah membuat anak-anak mereka menangis. Kau mungkin akan bilang cubit atau pukul saja biar menangis. Kalau yang seperti itu mereka sudah sering mendapatkan dari orangtuanya sendiri. Mereka harus menangis karena tersiksa oleh kegagalan mendapatkan apa yang sangat mereka inginkan. Kau mungkin baru tahu keinginan anak kecil melebihi keinginan seorang dewasa menginginkan tidur bersama setelah bertahun-tahun di penjara. Kau jangan tertawa. Ini masalah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sekarang pasti mulai bangga karena negerimu masih punya mimpi pada surga. Lihat saja angka kemiskinan yang semakin naik. Aku saja iri melihat semakin banyaknya komplek kumuh dan ala kadarnya di Negerimu. Di sini yang tinggal satu itu saja mungkin sewaktu-waktu berubah jadi mewah seperti yang lainnya. Itu jika semakin banyak orang terpengaruh untuk memenuhi kebutuhan anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu satpam yang bekerja di komplek mewah yang biasa aku sogok dulu adalah mereka yang tinggal di komplek kumuh. Dengan waktu yang lama untuk bekerja di sana serta gaji yang melimpah mereka semakin malas untuk berpikir sogok yang cuma rokok atau nasi bungkus. Mereka semakin menikmati bekerja dan membawa aura ikhlas ke rumah mereka. Mereka menebar senyum bahagia. Mereka jadi lupa dengan apa yang disebut surga. Mungkin bukan lupa sepenuhya tapi aku yakin sebentar lagi Doogya mungkin akan menjadi Soorga, sedikit mirip dengan surga, yang jelas berarti tempat bahagia. Karena kalian tahu sekarang yang aku sebut komplek kumuh pun tinggal satu rumah. Dan itu rumahku. Tinggal aku istri dan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh..kau sekarang mungkin tidak hanya bangga tapi sudah membuat perayaan dan syukuran di mana-mana. Kau akan mengundang para koruptor dan teman-temannya, mungkin kau sendiri juga. Kalian akan membuat sumpah untuk meningkatkan kinerja kejahatan kalian di masing-masing sektor yang kalian kuasai. Kalian kemudian lupa dengan duka lara memikirkan kejahatan di negeri kalian. Kalian..ya kalian akan mengampanyekan kejahatan di setiap sudut negeri kalian sampai semua terlaksana. Tapi pada akhirnya mungkin akan ada salah satu dari kalian yang seperti aku tapi melawan kejahatan yang mewabah dimana-mana karena dia ingin menjaga konsep neraka meski tak harus menjual mainan tentunya. Dia tak ingin nantinya kalian tak takut lagi pada neraka seperti aku yang tak ingin warga Doogya merasa biasa saja pada surga karena sudah punya Soorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;blockquote&gt;11 Januari 2011 20:47&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/1640232253225777567/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/kisah-lelaki-penjual-mainan-dan-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1640232253225777567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1640232253225777567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/kisah-lelaki-penjual-mainan-dan-air.html' title='Kisah Lelaki Penjual Mainan Dan Air Mata'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-1142151170977105910</id><published>2011-01-08T20:37:00.003+07:00</published><updated>2011-04-26T20:10:33.682+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sajak"/><title type='text'>Lenyap</title><content type='html'>Maka sebenarnya untuk apa&lt;br /&gt;Bumi dan udara ada&lt;br /&gt;Jika padanya justru hanya&lt;br /&gt;Mengantarku pada tiada, t-i-a-d-a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada daun yang jatuh&lt;br /&gt;Meninggalkan rantingnya yang kukuh&lt;br /&gt;Justru kulihat arti penuh&lt;br /&gt;Bahwa tak harus utuh&lt;br /&gt;Sesekali, justru kau butuh&lt;br /&gt;Mengaduh, pelan namun riuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin lenyap&lt;br /&gt;Lenyap yang entah senyap&lt;br /&gt;Atau justru sekedar tiarap&lt;br /&gt;Dari banyak barisan berderap&lt;br /&gt;Karena tak mampu tegap&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;27-05-2010 01:32 AM&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/1142151170977105910/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/lenyap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1142151170977105910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/1142151170977105910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2011/01/lenyap.html' title='Lenyap'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-3770210103300673246</id><published>2010-12-29T17:27:00.003+07:00</published><updated>2011-04-26T19:55:43.319+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerpen"/><title type='text'>Hujan Akhir Desember</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Antara Malang dan Surabaya, Sore hari mendekati maghrib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku. &lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;“Benarkah hujan memang turun dari langit? Kita sendiri tidak pernah berada di langit tapi sangat yakin hujan memang dari langit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Kau pun tersenyum, seyum termanis yang pernah kamu punya. “Hanya karena yang terlihat di atas langit, tak berarti di atas langit tak ada sungai atau sejenisnya yang sewaktu-waktu mengalirkan airnya ke bumi dan melewati langit yang jelas tampak di mata kita.” Kau diam dan memandang ke atas seolah ingin membuktikan benarkah ada sungai yang semacam itu di atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tiga jam sebelumnya di Blitar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Pagi hari, Subuh tepatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Subuh di depan rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Siang hari di makam Ir. Soekarno.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Sesaat sebelum maghrib di Lawang&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Surabaya, sesampainya di rumah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/3770210103300673246/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2010/12/hujan-akhir-desember.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3770210103300673246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3770210103300673246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2010/12/hujan-akhir-desember.html' title='Hujan Akhir Desember'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3874854720041735909.post-3070272919966274567</id><published>2010-12-28T11:45:00.008+07:00</published><updated>2011-04-26T20:15:42.006+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerpen"/><title type='text'>Indekos - Sebuah Cerpen</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namaku diah, aku salah satu mahasiswi sebuah PTN bergengsi di Surabaya. Aku mahasiswi perantauan dari Bontang. dan seperti kebanyakan mahasiswi perantauan lainnya, aku memilih kos sebagai tempat tinggal selama menempuh studiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;Kos-kosanku sendiri ada enam kamar, tiga kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Tentu saja ada dua kamar mandi, kebetulan dua-duanya di bawah dan tepat di depan kamarku. Paling tidak aku bisa gampang kalau mau mandi. Tidak perlu naik turun tangga, karena aku punya pengalaman buruk dengan ketinggian.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Seperti yang sudah aku bilang tadi, kamarku tepat di depan kamar mandi. Dan itu berarti yang paling kiri di lantai bawah. Di samping kamarku, kamar tengah lantai bawah, dihuni seorang mahasiswa Science yang kalau diperhatikan dari pakaiannya adalah mahasiwa yang mengikuti kerohanian islam di kampus. Seringkali dia keluar pagi sekitar jam sembilan dan hampir selalu pulang ke kos jam satu pagi, mungkin karena sibuk dengan kegiatan organisasinya itu. Hampir selalu seperti itu. Kau mungkin bertanya bagaimana aku tahu. Sangat mudah karena aku paling tidak bisa tidur ada suara pintu dibuka atau ditutup karena aku pasti terbangun. Oh iya aku hampir lupa memberitahu. Semua pintu kecuali kamarku jika dibuka hampir pasti megeluarkan suara yang keras. Seperti yang kau sering dapati pada pintu yang sudah harus diganti engselnya. Ah..iya, aku juga belum memberitahukan nama mahasiswa di samping kamarku. Namanya khoir, entahlah nama lengkapnya, karena aku sendiri tidak pernah langsung berkenalan. Yang jelas satu kali aku pernah dengar dia ngobrol dengan Adi, penghuni kamar atas tepat di atas kamarku. Dia bilang waktu itu, ‘Aku Khoir mas, Khoir itu artinya baik. Mas sendiri siapa namanya?’ “Ara..”, “Ara??” “Iya, Ara..nama lengkapku sebenarnya Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “bisa aja mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 27 Desember 2010       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/feeds/3070272919966274567/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2010/12/indekos-sebuah-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3070272919966274567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3874854720041735909/posts/default/3070272919966274567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangitaromalangit.blogspot.com/2010/12/indekos-sebuah-cerpen.html' title='Indekos - Sebuah Cerpen'/><author><name>daas sangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07062822396538354700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExtJvrnE2NNctTqFI985UILa70IOdwUPV89c8_wTEv0XcHgfJNp-QPieQHAiELyT-pXQGdGEpKGIS2mB44uavFJLK8KEKOyt2GrUt29tUpUnnClVpifM4b5mtrkGiSw/s220/alaypower.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>