<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><!-- generator="Joomla! 1.5 - Open Source Content Management" --><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">
	<channel>
		<title>Selamat Datang di Komunitas Sasak</title>
		<description>Komunitas Sasak, Pulau Lombok, Lombok Island</description>
		<link>http://sasak.org/component/content/frontpage.html</link>
		<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2009 05:10:05 +0000</lastBuildDate>
		<generator>Joomla! 1.5 - Open Source Content Management</generator>
		<language>in-id</language>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Komunitas Sasak, Pulau Lombok, Lombok Island</itunes:subtitle><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/sasak" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>sasak</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
			<title>Masyarakat Tebaban Bangun Masjid 1 Milyar Rupiah</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/9eGThwZbk5o/1063-masyarakat-tebaban-bangun-masjid-1-milyar-rupiah.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/berita/sosial/1063-masyarakat-tebaban-bangun-masjid-1-milyar-rupiah.html</guid>
			<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Lombok Timur [Sasak.Org]</strong> Masyarakat Desa Tebaban, Kecamatan Suralaga Lombok Timur sedang membangun Masjid Raya Raudhatul Jannah. Pembangunan Masjid ini menelan biaya 1 Milyar rupiah. Uniknya, dana sebanyak itu adalah murni dari swadaya masyarakat Tebaban.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tanggung tanggung, demi memberikan apresiasi mendalam terhadap peran masyarkat dalam pembangunan, peletakan batu pertama masjid ini yang diadakan pada sabtu 11 juli 2009, langsung dihadiri oleh Gubernur NTB TGH Zaenul Majdi, MA.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan itu, Majdi mengatakan bahwa " kebersamaan, kekompakan harus tetap dijaga sehingga keamanan, ketenteraman masyarakat dalam melaksanakan aktifitas terus terjaga. Masyarakat tidak saja membangun masjid akan tetapi tidak kalah pentingya pembangunan ekonomi juga diprioritaskan. <strong>[WKS 5]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>sumber: pemkab lotim</em></p>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 12:05:49 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/berita/sosial/1063-masyarakat-tebaban-bangun-masjid-1-milyar-rupiah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Beranjaklah!</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/m3w7ZgOZ1y4/1062-sasak-beranjaklah.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1062-sasak-beranjaklah.html</guid>
			<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Assalamulaikum wr wb<br /> <em><br /> " Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang orang kafir. Dan ampunilah kami, Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Al Qur'an 60:5)</em><br /> <br /> <strong><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" align="right" />[Sasak.Org] </strong>Hari hari dimusim panas ini debu berterbangan menerpa dusun yang makin tampak suram dan kumuh. Daun daun bambu luruh dan menerpa pengorong. Ada sebatang pohon yang menjorok menerobos ke sisi pengorong lainnya dan mengotori rumah tetangga sebelah. Suatu siang yang panas Amax Cenun didatangi Mamix Gunase. Mereka adalah tetangga terdekat dan sudah hidup berpuluh tahun. Mamix Gunase datang dengan wajah sekeras karang dan semerah api unggun di malam dingin kemarau ini. Kata katanya meluncur seperti bicaranya jendral Van Ham yang mati dibunuh di Cakra Negara.<br /> <br /> Perkaranya sangat spele, daun daun bambu kering menutupi sedikit pekarangan Mamix Gunase. Amax Cenun tahu hal itu tapi dia orang yang sangat segan pada tentangganya sehingga meskipun dia sangat ingin membersihkan halaman tetangganya, dia tak berani. Bahkan kalau lewatpun dia selalu menunduk nunduk mekok telor sepanjang pengorong sampai rumahnya. Mamix Gunase berasal dari dasan di sebuah wilayah di Tanah Selaparang. Orang mengenalnya sebagi datu pagah. Pagah dalam arti yang sebenarnya. Dia orang yang punya pendirian kuat dan tidak mau mengalah. Sebaliknya Amax Cenun yang asli kampung itu dikenal perot dan blok. Dia sangat menjaga kehormatan orang lain. Saking hati hatinya dia tampak blok dan perot tapi dibalik sikapnya itu ia setingkat dengan ulama dalam ilmu agama. Hanya saja dia tidak mampu berhaji dan tak terpandang karena bukan orang berpunya.<br /> <br /> Di antara penghuni dasan itu ada seorang terpelajar yang tinggal di tepi kali berbatas sawah. Dia pernah datang ke tempat Amax Cenun untuk menawar pekarangannya yang strategis. Orang terpelajar itu gagal mebeli pekarangan karena pemiliknya orang yang sederhana dan tidak ingin anaknya jadi gelandangan tapi bermobil. Ia tak ingin mewariskan barang rongsokan atau nekad naik haji tapi punya anak cucu kere dikemudian hari. Oknum terpelajar ini main mata dengan Mamix Gunase dengan mengarang cerita bahwa Amax Cenun adalah dukun santet, suka menenung orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada Amax Cenun si oknum punya versi yang lain tentang Mamix Gunase itu. Katanya mamix itu akan merebut pekarangan Amax Cenun dengan segala cara. Sehingga kedua tetangga itu saling tidak suka dan bahkan seperti musuh.<br /> <br /> Dasan ini punya kebanggaan luar biasa, mana ada negeri yang dijajah hanya 50 tahunan, hampir semua wilayah Nusantara dijajah Belanda dan asing lain antara 350 sampai 400 tahun. Tanah Selaparang officially terjajah 50 tahun atau kurang. Memang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Bali tapi selalu ada perlawanan sampai jendral Belanda mati dan kerajaan Bali mundur. Kasus dua tetangga itu sangat sering terjadi pada saat adanya konflik politik. Perbedaan kepentingan membuat fihak tertentu menghalalkan segala cara. Memasuki ranah agama, adat dan budaya, merusak anak dasan dari dalam.<br /> <br /> Diamanapun dan dalam tiap kesepatan musuh musuh yang tidak senang pada kekuatan ikatan anak Bangsa Sasak yang erat seperti cekelan padi atau rekatnya ketan bersiram gula merah. Beratus tahun mereka ditarik tarik agar terburai dan dapat dikuasai, berabad pula mereka berhasil lepas dan merekat lagi. Tak ada penjajah apapun yang dapat merusak kekuatan ikatan semeton dasan besar ini. Cerita yang mengatakan bahwa ada warga dasan sebelah yang bersembunyi saat perang dan dasan satu lagi kocar kacir lari adalah isapan jempol yang dibuat agar anak dasan besar ini pecah dan terburai. Kita telah lolos dari jeratan dan politik devide et impera. Sekarang kita sudah kuat tapi masih ada tugas besar pepadu untuk menjaga anak bangsa ini agar tak dijajah oleh penjajah baru yang canggih. Daya tarik hidup bebas, hedonis dan instant. Inilah musuh yang terus mengerogoti setelah musnahnya fitnah adu domba yang membelenggu kita dimasa lalu.<br /> <br /> Anak anak Mamix Gunase dan Amax Cenun beruntung memahami persoalan sesungguhnya, sebab mereka mengaji bersama dan sekolah bersama selama 12 tahun. Hari hari hujan dan panas mereka lalui selama itu. Belajar dan bermain bersama. Meskipun anak Mamix sudah Doktor, masa 12 tahun sekolah jauh lebih berperan penting dalam hidup kedua orang itu. Tak akan ada oknum yang dapat memecah belah mereka. Inilah wajah anak dasan baru, yang kuat, pintar, cerdas dan pandai sekaligus. Mereka adalah Sasak pemberani dan pagah dalam arti yang sebenarnya. Pepadu harapan masa depan dasan. Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!<br /> <br /> Wallahualam bissawab<br /> Demikian dan maaf<br /> <br /> Yang ikhlas<br /> <br /> Hazairin R. JUNEP</p>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 10:24:53 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1062-sasak-beranjaklah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>CJH NTB antri sampai 2016</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/svMh4YOi2ec/1061-cjh-ntb-antri-sampai-2016.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/berita/agama/1061-cjh-ntb-antri-sampai-2016.html</guid>
			<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/ilustrasi_haji.jpg" border="0" alt="CJH NTB antri sampai 2016" title="CJH NTB antri sampai 2016" align="left" />Mataram [Sasak.Org] </strong>Saat ini, Nusa Tenggara Barat (NTB) meduduki peringkat 4 jumlah tertinggi Calon Jamaah Haji (CJH) nasional,  setelah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Daftar tunggu JCH NTB terus bertambah apalagi jika melihat kuata NTB yang 4500 orang pertahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SIskohat) CJH NTB yang masuk daftar tunggu akan bisa berangkat semua sampai 2016. Ini artinya, jika ada CJH baru, maka akan masuk daftar tunggu setelah 2016 tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar CJH NTB adalah para petani tembakau dan bawang yang biasanya menyetor lunas biaya ONH mereka setelah musim panen tiba.<strong> [WKS 5]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>picture by <span style="font-family: arial,sans-serif;"><span class="a">sulang.wordpress.com</span></span></em></p>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 08:42:26 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/berita/agama/1061-cjh-ntb-antri-sampai-2016.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Lahir Kembali</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/Prvu8x3tRgQ/1060-sasak-lahir-kembali.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1060-sasak-lahir-kembali.html</guid>
			<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Assalamualaikum wr wb<br /> <br /> <strong><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" align="right" />[Sasak.Org]</strong> Dasan kami kecil tapi asri dengan selokan alami yang mengalir air sepanjang tahun. Belut, mujair serta lele masih bersembunyi ditepi tepi yang ada tumbuh rerumputan air. Kalau ikan kecil seperti pudah dan kepala timah atau yang lebih besar pudah jamax alias wader atau kami sebut ikan pelangi, tinggal ulurkan tangan dan dapat kita tangkap dengan mudah saking banyaknya. Kegiatan anak dasan adalah mencari kayu bakar, menggembala, menyabit rumput, membantu di sawah dan banyak kegiatan produktif lainnya. Hari hari dimulai ketika merebot mengumandangkan azan subuh, sesudah itu jalan jalan ramai dan musik yang sangat indah mengalun dari jalan yang ramai. Suara inax inax yang bergerombol jalan ke pasar satu satunya di dekat gedung Gabimas. Ditingkahi suara pelembaran bambu pengangkut terong dan ubi, bunyinya seperti musik keroncong Tugu yang teratur bersahutan dengan sesekali diselingi lenguhan hembus nafas para pengangkut. Terong yang besar besar warna lila dan tomat yang bentuknya lonjong disebut tomat Arab. Ubi jalar yang besar besar, labu , bokah, truwuk, komak dan kendokak dan banyak lagi. Kemakmuran yang lebih merata diantara masyarakat yang tawaduk itu hanyalah kenangan yang sekejab sirna ditelan kejahilan anak bangsa yang dengan mudah ditipu para penjajah modern.<br /> <br /> Ketika itu para anak dasan yang bersarung dan berbaju hanya satu itu, bermain slodor dan klereng atau main karet , yeye, bekel dan permainan yang paling bergengsi adalah main kasti, mereka punya idealisme hebat, cita cita yang banyak dibicarakan adalah ingin jadi Tentara, polisi, jaksa, dokter, guru dan ustad. Di dasan itu belum pernah ada pepadunya yang merantau jauh jauh. Kalau orang menyebut Karang Jangkong, Dasan Agung atau Monjok itu sudah seperti luar negerilah. Meskipun bagi orang dewasa ke Mataram itu hanya disebut turun. Dan Bis Sampoerna yang disetir Pak Jamal yang tinggal didasan kami hanya merambat dari Labuhan Haji ke Ampenan. Merambat sekali, tapi saat itu fikiran kami masih merambat juga. Kalau sudah ada yang muntah muntah berarti sudah capai dan kita sampai di Labuhan Haji. Kalau sampai Ampenan mungkin saja orang sudah remuk baru tiba. Kalau anak sekarang pasti sudah diinfus saat turun kendaraan karena dehidrasi.<br /> <br /> Di blok sebelah barat ada rumah Bapak HM. Amin Shaleh yang disewa oleh TNI untuk jadi Asrama. Itulah satu satunya bangunan besar dengan banyak kamar. Ada sepuluhan tentara tinggal disitu. Mereka itu sangat disegani oleh warga dasan. TNI saat itu mengayomi sekali, keamanan terjaga kecuali maling dapat mengibuli mereka. Ada satu anggota yang suka mabok dan dibuang oleh komandannya di selokan gombleng yang bau. Dia akan bangun sendiri dan rupanya kayak monyet dengan wajah belepotan raok. Kami nonton diatas dan lari lintang pukang begitu dia bangun, dia teriak seperti Tarzan. Setelah banyak membaca majalah intisari saya mengerti mengapa orang itu mabok terus. Kesepian di dasan asing yang hanya berlistrik malam, menyelimuti hatinya yang muda.<br /> <br /> Setelah TNI pindah asrama di embung, rumah berkamar kamar itu disewa oleh pendatang yang tiba tiba muncul dari antah berantah. Ada 4 orang yang saya catat dengan baik.mereka adalah pendatang dari Minangkabau. Meskipun saya sudah tahu letak semua pulau dan ibukota provinsi bahkan semua Negara dunia sampai yang terpencil saya tahu semua, tapi kali itulah saya berinteraksi pertama kali dengan orang asing. Sebenarnya dasan kami sudah banyak orang luar yang jadi warganya tapi sudah tidak lagi asing karena mereka menyatu dan berbahasa Sasak dengan sempurna. Kalau diberi skor semacam TSFL (Test of Sasak as Foreign Language) mereka sudah mencapi 600 semua. Ada Banjar, Madura dan Jawa bahkan guru SMA ada yang dari Bengkulu. <br /> <br /> Tapi empat orang Minang ini mebawa wawasan baru bagi kami, mereka rajin mengaji dan bekerja keras menjual obat, pakaian dsb. Mereka pandai berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pengetahuan kesusastraan tinggi sehingga kalau bicara, pantun dan pepatah melayang disan sini. Mereka banyak membaca padahal pendidikan formal tak ada. Warga dasan tak ada yang baca Koran atau majalah. Satu satunya bacaan adalah Al Qur'an tapi aneh sekali tidak ada usaha dari ulama untuk membumikan Al Qur'an itu agar warga melaksanakan isinya dengan baik dan benar. Sepertinya para Ulama itu sangat menjaga dan memelihara kebodohan warga agar jangan sampai hilang taatnya kepada sang ulama. Aneh dan jahat sekali karena ketaatan sesungguhnya ditujukan hanya kepada Allah bukan?.<br /> <br /> Salah satu dari orang Minang itu, mengisahkan hidupnya sampai saya berlinang airmata hingga detik ini. Ia seorang laki laki yang di negerinya tidak punya hak waris karena Inaxnyalah yang berkuasa. Warisan diturunkan kepada perempuannya. Saat kelas 3 SD dia diusir ibunya dengan diberi sebutir telur ayam. Dia pergi ke langgar dan masjid masjid berkelana. Berbekal mengaji di langgar itulah dia hidup dari satu pulau ke pulau lain.Saya merasa orang ini hebat sekali sementara anak dasan malas belajar. Bagimana tidak hebat saya anak kecil dilayani juga, coba kalau ada bebajang ngotok di bough dan saya mendekat mereka serta merta bilang; pergi …anak kecil mau ikut ngotok! Satu satunya kesempatan saya main dengan anak yang lebih besar adalah kalau saya disuruh mengangkat layangannya saat ditarik terbang. Mendingan saya mengejar belalang dengan sapu lidi.<br /> <br /> Orang Minang itu kemana saja bersama, bulan ini ke Timor, Bulan depan ke Bima atau ke Sumba terus saja bersama dan saling urus keperluan masing masing. Tapi aneh setelah sekian lama saya sering bertemu dengan mereka di Pancor atau di Selong lagi. Mereka rupanya cocok sekali dengan sifat religius warga dasan ini. Warung Padang belum ada saat itu. Orang dasam memasak makanan sangat lezat di rumah masing masing karena bumbunya sampai berpuluh macam dalam satu hidangan. Masakan Padang jauh dibelakang. Ada satu hal yang kucatat dengan baik dipangkal otakku yang paling tersembunyi agar tidak mudah hilang. Orang orang itu selalu saling menjaga karena merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka adalah orang orang yang kita sebut Tilar Negara. Pegangan mereka sangat jelas. Adat bersendi Syara' Syara' bersendi Kitabullah. Adat itu bersendikan Syari'at dan Sayariat itu berinti Al Qur'an. Pendeknya mereka berbuat apapun berpedoman pada Syari'at dari Al Qur'an itu. Saya lihat mereka bertemu dan berpisah sama eloknya.<br /> <br /> Warga dasan tiba tiba kehilangan seorang pepadu entah kemana rimbanya, dia itu selalu jadi problem, suka nyolong kecil kecilan karena kekurangan dan broken home. Meskipun sudah broken home dan orangtuanya bercerai tapi mereka rukun hidup bersama amaxnya yang kawin lagi dan tinggal besebelahan. Hebat sekali warga dasan satu itu. Setelah berpuluh tahun pemuda hilang itu pulang dan bingung menanyakan rumahnya dimana. Pohon nangka yang besar di depan rumah HM Amin Shaleh itu lenyap, selokan kering, pemuda seumuran sudah jadi amax amax dan inax inax. Akhirnya ketemu juga rumahnya yang telah menjadi gubuk karena semakin menyempit dibagi bagi. Dia sendiri sudah lama hilang dari ingtan orang kecuali ianaxnya yang selalu mengaharap. Pemuda itu merantau ke Sulawesi lalu ke Sumatra. Apa yang dibawa pulang?. Hanya cerita kosong melompong. Dia jadi buruh membantu di kapal nelayan Bugis dan menjadi petani membantu mertuanya membakar ladang, titik! Setelah pulang dia tak lagi balik kepada istri dan keluarganya di Sumatra sana.<br /> <br /> Ketika saya bertualang sampai Bali, tak ada tenmpat tujuan tak ada keluarga, tapi saya seorang pemuda tanggung 17 tahun kurang, sudah digembleng dan dibok bok amax dengan penyerahan diri kepada Allah. Dalam keadaan lemas dan kesulitan seorang muallaf menampung saya. Ia adalah istri merebot M.Ali seorang nelayan tua Bugis yang taat dan sederhana. Sudah miskin dan susah masih mau menampung saya dirumahnya. Sedangkan disebelahnya tinggal orang dasan berpangkat dan kaya, menolak sekedar untuk menolong memberi informasi bahkan saya diusir dari masjid!. Waktu di Dasan saya sering main ke pantai ke pantai sampai di Tanjung Ringgit dan bergaul dengan nelayan yang banyak Bugisnya itu. Kini ayah angkat saya adalah orang Bugis. Bangsa ini sungguh luar biasa, mereka sangat kuat berpegang pada akidahnya sehingga timbul keberanian yang luar biasa. Mereka adalah manusia paling berani mengarungi samudra luas. Mereka adalah pengunjung setia Australia sebelum disentuh para penjahat Eropah. Orang Bugis berlayar sampai ke Madagaskar. Semua pulau di Pasifik bahkan pulau Paskah di dekat wilayah Chili. Di Candi Borobudur ada gambar perahu besar di sisi barat dan utara, perahu itu sangat indah. Menurut catatan dari China jalur pasifik sudah dilalui pelayaran Asia ke Amerika. Sekali lagi sebelum pejahat Eropah yang datang 750 tahun kemudian menghancurkan semuanya. <br /> <br /> Suatu hari di bulan agustis 2008 saya berkunjung ke sebuah desa kecil di Belgia Selatan kira kira satu jam dari perbatasan Prancis di sekitar Musium Napoleon Bonaparte dan patung Le Petit Corporal. Saya turun dari kereta api yang bersih sekali dan masuk trowongan menuju stasiun kecil untuk mencari taksi. Teman saya mencari transport, menelpon taksi tapi tak ada, bahkan bis juga tidak ada. Semua orang menggunakan mobil sendiri atau jalan kaki kalau yang dekat, satu dua kilometer itu tergolong dekat untuk desa ini. Karena tak berhasil dapat taksi sayapun keluar dati gedung kecil itu. Di depan saya ada seorang wanita yang menatap saya dalam dalam, saya berdebar, dia berpenampilan dan berwajah seperti orang Timor. Dia teriak dengan suara tersedu: "Indonesia?". Dia menghampiri dengan cepat sebelum saya selesai bilang "Ya" dan saya balik bertanya Ibu? Saya mengira dia orang dasan dan saya masih berbahasa Indonesia. Dia ternyata berbahasa Prancis. Kami sama sama terharu karean dua anak dasan yang terpisah ribuan tahun bertemu di negeri yang jauh sekali. Dengan bahasa Prancis kami berbincang, dia berdoa terus untuk saya dengan berlinang air mata. Saya akhirnya tahu dia dari Madagaskar dan mengaku sebagai anak Nusantara, siapa lagi kalau bukan Bugis!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mengambil fotonya, sesungguhnya dia adalah orang Madagaskar kedua yang saya kenal. Sebelumnya ada seorang dokter yang rindu negeri moyangnya datang dari Paris dan hanya sehari kami bersama tapi dia meperlakukan saya sebagai saudaranya sampai saat ini. Saya belajar dari bapak saya M.Ali, Orang Madagaskar dan teman saya seasrama dahulu, bahwa orang Bugis adalah orang yang berpegang pada tali Allah sehingga mereka dengan berani dan bangga jadi manusia Mredeka!. Ya, kemerdekaan hati dan fikiran membuat mereka kuat dimanapun dan kapanpun. <br /> <br /> Petualangan saya yang lain adalah, ketika sampai di Jakarta saya adalah participant Canada World Youth terakhir yang mendapat orang tua asuh karena masing masing berebutan mendahului. Saya paling beruntung seperti selalu saja saya alami. Saya mendapat orang tua asuh Batak dengan istri cantik jelita dari Jogjakarta. Saya mendapat keluarga dengan kultur berwarna warni. Saya belajar dari keluarga saya yang Batak ini, apa itu Ala Kita. Bagaimana mereka saling panggil Itok dan Lae. Dan banyak lagi tentang Batak Tembak labgsung. Mereka bicara apa adanya, meskipun kadang bikin panas telinga orang dari kebangsaan lain. Setelah sampai di Sumatera sayapun mendapat ibu asuh batak pula dan ayah saya seorang melayu intelektual yang selalu jadi khatib dan imam di masjid. Sayapun punya saudara angkat dari Aceh, Timor, Papua, Borneo dan Sulawesi, kalau Maluku banyak sekali. <br /> <br /> Sewaktu di Bali, saya tersesat di Kuta dan ditolong seorang ibu pedagang asongan. Saya diantar ke rumah seorang semeton dari Cakranegara, dia seorang Hindu Bali tapi dengan segala kemampuan menolong saya. Dia akan pindah tugas ke kabupaten lain dalam beberapa hari. Maka saya diurus dan diberi surat pengantar kepada orang dasan kaya dan berpangkat yang saya sebut diatas. Saya belajar banyak dari semeton semeton kita yang kita sebut Dengan Bali ini, baik di Bali maupun di Lombok. Mereka bilang: "Engakau adalah aku, aku adalah engkau".<br /> <br /> Setelah saya pulang ke Lombok sayapun dibuang oleh bangsa sendiri dan saya mendapat nikmat tingal di sebuah dasan terpencil di Sila Bima. Sayapun mendapat orang orang yang cinta kepada saya dan belajar kepada mereka sastra dan budaya Bima dalam waktu singkat. Mereka punya prinsip "duduk dulu baru belajar" artinya terima dahulu tanggung jawab baru dipeklajari. Dan merekaun saling tolong dalam kesulitan. Sepanjang hari dasan terpencil itu dihiasi oleh alunan orang mengaji dirumah rumah panggung reot dan bolong. Wajah mereka bercahaya dan bicaranya leas. Ntah mengapa dimanapun saya berada saya mendapat orang tua asuh atau saudara angkat yang menolong saya setiap saat. Di Sila inilah saya mulai membangun karakter kesasakan diantara perantau dasan dan sampai kini kami masih erat berhubungan meskipun sudah berpuluh tahun terpisah jarak dan waktu.<br /> <br /> Petualangan kecil kecilan saya di berbagai belahan nusantara dan dunia ini, mengajarkan banyak hal tapi ada yang penting yang membuka mata dan hati saya sehingga saya bertekad membebaskan anak bangsa Sasak dari ketertinggalannya yang makin mundur saja. Mengapa akhlak dan mentalitas generasi sekarang tergerus dan masyarakatnya terpecah belah?. Belajar dari para orangtua angkat saya dan saudara angkat saya dari Nusantara maupun manca Negara, saya melihat bahwa anak Bangsa Sasak telah menukar identitas dan ajimatnya dengan masalah duniawi berupa kepentingan sesaat. Mereka makin miskin tapi buka kemiskinan yang dilawan. Mereka makin bodoh tapi bukan kebodohan yang dilawan. Lihatlah berapa banyak yang terus memilahara kemiskinan dan kebodohan. Lombok Selatan dan Utara kesulitan air dari tahun ke tahun tapi bukan kesulitan iar yang diurus tapi proyek bantuan asing yang diperebutkan. Mengapa tidak mulai dengan membangun pipa pipa air atau menampung air hujan disetiap rumah. Hujan 3 bulan cukup banyak untuk kebutuhan sepanjang tahun. Air hujan melimpah dibiarkan mengalir ke laut begitu saja. Saya pernah bertualang di Gawah Sekaroh sampai Ekas dan bukit yang sekarang ada hotel paradisenya itu. Air tidak kurang tapi akal tidak jalan dan niatpun tidak ada. Sekolah mahal terus jadi alasan tetapi mengapa tidak dibuat sekolah ala dasan yag asli 100% murah dan bermutu yaitu datang ke berugax?. Jangan kita menyesatkan anak bangsa hanya dengan mengerahkan mereka ke sekolah untuk mengejar nilai UN yang akhirnya banyakan tidak lulus. Dan akhirnya bagai kutukan tak terampuni mereka dicap sebagai anak gagal, padahal yang diukur adalah ketangkasan ikut permainan proyek orang diknas!. Tapi mari kita ajar mereka untuk bercocok tanam dilahan yang ada. Biarpun kering harus kita usahakan dangan teknologi sederhana. Ada jenis pohon yang tahan kering diprioritaskan. Tampungan air hujan dan destilasi air laut sederhana dikembangkan. Lebih baik kita punya lahan kering daripada basah. Bukankah lebih gampang tanah kering daripada tanah becek?.<br /> <br /> Dasan yang maju pesat diberbagai tempat yang saya kunjungi mempunyai sejarah panjang banyaknya pepadu mereka yang merantau. Bangsa yang sering kita sebut lebih baik dari kita itu adalah bangsa perantau. Bandingkan dengan anak bangsa Sasak. Yang merantau sangat kecil. Yang terbesar berasal dari Lotim oleh karena itu Lotim jauh lebih berkembang dari kabupaten lain di Lombok ini. Di mulai dari ulama ulama dan kemudian pepadu pepadu sekarang sudah menerobos dunia. Kemudian Loteng lalu Lobar yang terakhir. Inilah saatnya kita perjuangkan sebanyak banyaknya generasi muda dikirim keluar untuk bekerja dan belajar. Kita harus tetap istikomah agar dapat mengejar ketertinggalan ini. Kalau kita kerja keras insayaallah dalam 5 tahun kita sudah melampaui zaman renaissance Bangsa Sasak. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan satu ikrar: Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!<br /> <br /> Wallahualambissawab<br /> Demikian dan maaf<br /> <br /> Yang ikhlas<br /> <br /> Hazairin R. JUNEP</p>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 07:20:42 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1060-sasak-lahir-kembali.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Yang Telanjang</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/IyscvWXOkhw/1024-sasak-yang-telanjang.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1024-sasak-yang-telanjang.html</guid>
			<description><![CDATA[<div><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" hspace="20" vspace="10" align="left" /><em>Assalamualaikum wr wb.</em><br /> <br /> <strong>[Sasak.Org] </strong>Lombok tidak hanya lebih indah dari Bali tapi dari semua negeri lain, karena Lombok adalah tanah airku! Baik Tidak baik Seleparang lebih baik! Ungkapan yang berkata, Bali dapat dilihat di Lombok menandakan ketergantungan dan rasa minder manusianya. Mau Promosi? Di Lombok juga bisa Lihat Malaysia, Timur Tengah, Jawa dst. Bukankah ratusan ribu mantan TKI dan keluarga TKI sangat berbau bau Malaysia dan Arab?. Itu tidak berarti apa apa. Oleh karena itu marilah kita putar kepala kita ke kiri kanan depan belakang atas dan bawah. Lihatlah apakah kita bicara sambil bertindak atau hanya bangga di tempat saja? Bagaimana mau bangga dengan masyarkat bali yang 10% yang sudah mendarah daging jadi Bangsa Sasak tapi masih belum kita perlakukan sama dengan semeton sendiri? Apakah Bali yang dilihat di Lombok itu adalah Bali pengecualian?. Kecuali bahwa di Lombok mereka hidupnya tidak sehebat Bali yang di Bali. <br />
]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 04:48:24 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1024-sasak-yang-telanjang.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Kembalilah Ke Brugax</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/SC3yfP5SNKA/1025-sasak-kembalilah-ke-brugax.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1025-sasak-kembalilah-ke-brugax.html</guid>
			<description><![CDATA[<div>Assalamualaikum wr.wb<br /> <br /> <strong><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" align="right" />[Sasak.Org] </strong>Seorang amax mengamuk setelah anaknya diajak bersekolah oleh pepadu yang baru saja pulang dari menuntut ilmu di Jawa. Amax itu sangat tersinggung karena dia merasa terhina seolah tak dapat mengurus anaknya sendiri. Tetangga lainnya seorang inax marah marah dan memaki saat seseorang memberi anaknya makanan yang dibawa pulang oleh anak itu. Diapun tersinggung berat karena menyangka pemberi makanan itu menghinanya sebagai anak pengemis. Di dasan kami ada banyak pepadu yang diam saja di rumah meskipun sudah diajak gotong royong. Kalau di tegur, diapun mengamuk karena tersinggung diganggu kebebasannya. <br />
]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 08:33:55 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1025-sasak-kembalilah-ke-brugax.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Yang Busuk Itu</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/k1JDBDVt6uY/1035-sasak-yang-busuk-itu.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1035-sasak-yang-busuk-itu.html</guid>
			<description><![CDATA[<div>Assalamualaikum wr wb<br /> <br /> <img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" align="left" /><strong>[Sasak.Org] </strong>Dini hari yang dingin dan sunyi di bulan april bertahun tahun yang lalu, angin menghembus daun bambu sampai batangnya bergesekan dan mengalunkan musik seperti cello yang teratur mengiringi nyanyian malam. Inax membangunkan amax karena ada suatu yang mendesak. Sebelum amax sadar dari tidurnya yang masih terbawa saat berjalan, inax sudah terduduk dilantai. Tangannya sempat menggelar tikar pandan didepannya. Dalam kepanikan itu, amax membuka pintu untuk mencari bantuan. Tetangga sebelah yang terusik bangun dan mempelajari apa yang terjadi. Setelah amax berbasa basi, tetangga segera memberi pertolongan, semuanya serba cepat. Seorang papux tua yang menjadi tamu di tetangga itu, datang menolong persis ketika jabang bayi itu keluar dan berteriak keras: " Aku datang wahai dunia!". Berulang teriakan itu menghentak pagi yang sunyi membuat ensambel musik pohon bambu, angin dan nyanyian si bayi. Diantara konser itu orang orang bicara keras dan pelan seperti penyanyi rap dari Amrik.<br /> <br /> Papux itu, seorang belian dari dusun Jantuk, kelak oleh karena itu aku dipanggil "Jantuk" untuk merendahkanku. Papux itu mengangkat kedua kakiku tinggi tingi, kepalaku menggantung bingung, dia bilang kepada inax: " dengar semeton, anakmu ini akan pergi sangat jauh, jauh sekali". Inax menjawab dengan sangat lembut: "amin, mudahan dia dapat menjadi pembebas bagi anak bangsanya dimanapun dia berada". Amax yang berada disekitar dua wanita hebat itu berseru: "Amin ya Rabbal Alamin". Sesudah itu, amax mengazankan dan ikomah sekaligus lalu menyambar kitab yang selalu dia baca. Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.<br /> <br /> Setiap manusia lahir sebagai anak zamannya, angin politik selalu jahat menerbangkan impian orang kecil untuk hidup tentram dan damai, kalau sejahtera itu adalah buah dari tentram dan damai. Tentram dan damai adalah buah dari orang berserah diri. Aku menikmati hidup kanak kanakku dalam tembang kedamaian orang dasan yang berpeluh dalam perjuangan menjaga hati dan fikiran. Tidak lama aku tidur bagai biji bambu yang bertapa selama 7 tahun didalam tanah sebelum ia tumbuh dengan kecepatan 11 cm per malam!. Aku mengalami mimpi buruk yang dahsyat saat tidur 7 tahunku itu. Selax ngeres, bebai, maling, ancul ancul ditambah lagi peristiwa yang mengukir sejarah bangsaku. Pemberontakan panjang dan melelahkan, pembunuhan atas anak bangsa satu oleh anak bangsa yang lain. Tembang indah anak dasan sempat menghilang karena, musik malam diganti deru mesin truk dan bunyi roda menggilas batu jalanan. Berhari hari dalam beberapa bulan anak dasan tidak cukup tidur karena tiap malam ada keributan dan orang tua berbisik dalam bicara, ada yang akan dibunuh!. Meskipun berbisik tapi kami anak kecil mendengar juga dan gigi gigi kami bergetar seperti per berspiral yang di pantul pantulkan. Hati kami kecut dan ludah rasa asam. Kata orang truk truk itu mengangkut PKI ke Kembang Kuning atau Lepak untuk dibantai. Lain waktu Kelompok etnis China yang jadi sasaran. Dasan kecil kami yang tentram menjadi ajang mengerikan sebab disisi selatan melintas jalan lingkar luar menuju timur yang membelok ke jalan raya satu satunya. Berselang seling, tiap malam ada teriakan dari tetangga. Setelah maling menggerayangi , Tau Selax ngeres menghembus jampinya lalu truk truk tancap gas melintas, alangkah panjangnya rasa takut.<br /> <br /> Dua tahun pertamaku sejak aku berteriak: "Aku datang wahai dunia!". Aku sama sekali tidak diterima oleh gumi ini, dasan ini, angin ini, matahari ini, bulan ini dan entahlah bintang bintangpun enggan menyapaku. Bagaimana tidak, sekujur tubuhku melepuh dan membusuk. Aku dapat menguraikan keadaan tubuhku tiap incinya karean aku disiksa lagi saat aku SD, penyakit yang mirip aku sandang lagi beberapa kali di tahun tahun sekolah dasarku. Saat UNICEF turun tangan membagikan alat cangkul dan sabun mandi atau susu, saat itulah keadaan negeri sangat menyedihkan, namun lagu "Ku Lihat Ibu Pertiwi" tidak dilantunkan, karena kami tak sempat nembang, tiap tiap mata kanak kanak yang ku tatap ada tersirat rasa khawatir dan was was. Semua orang tampak seperti dalam bayangan bagai difilm film yang diberi nuansa warna dalam mimpi. Orang di dasan yang jauh menderita kelaparan, ada yang mati karena tak punya makanan setelah tanaman rusak dan tak bisa dirawat. Penyebabnya selain faktor alam juga karena tak berhenti rusuh. Disebelah rumahku ada gubuk kecil dan ada papux Anci yang menderita penyakit gawat, tapi hebatnya tak dikucilkan, dia dirawat oleh semua orang. Aku suka masuk ke gubuknya.<br /> <br /> Dalam keadaan membusuk selama dua tahun, inax merawatku dengan linangan airmata tumpah. Yang luar biasa lagi semua saudara inax berbondong bondong menolongku. Mereka datang menembus pekatnya malam menelusuri jalan berduri dan berbatu. Kalau sekarang kita jalan kaki Selong - Korleko tentu sangat cepat sampai tapi dahulu jalan tikuslah satu satunya jalur dan turun naik sungai berpasir pula. Berangkat sore bisa tiba jam 4 pagi. Demikian mereka berbondong menawarkan apa saja agar berhentilah airmata inax menetes. Bukan aku hebat atau obat obatan mereka yang dahsyat, penyakit itulah yang telah bosan menggerogotiku, aku tak mati mati, malah mataku melotot terus. Mungkin aku berkata : " teruslah kau makan tubuhku sampai puas!". Umur tiga tahun aku memakai celana monyet kuning emas yang sudah suram karena celana itu warisan kakakku yang enam tahun lebih tua. Kami bermain ke jalan raya di depan Penjara. Diseberang jalan ada kebun raya kecil yang bagi kami anak kecil besar sekali. Pohon pohon kenari besar sekali, kami menganggapnya sebesar rumah!. "Marax belex bale", kata kami kalau bercerita. Itulah pertama kali aku dapat mengucapkan satu kata: " Ibu Pati". Kakak dan amaxku tertawa dan semua juga ikut tertawa. " Bupati" kata kakakku. Aku Diam karena malu. Kata pertama itu masih melekat diingtanku bersama burjo, cao dan gule gaet. <br /> <br /> Aku pergi mendaftar ke SD, sendiri, rupanya amax sangat percaya kepadaku sejak kecil, bukankah akau sudah seharusnya mati membusuk, tapi tetap survive?. Aku datang Ke SD I di dekat kuburan umum Selong dan aku dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Waktu itu SMA Selong baru beberapa tahun dibuka, SD kami dipakai pagi hari dan siang hari giliran kami. Aku pergi ke sekolah jam 12.00 atau sebelumnya sedangkan SMA selesai jam 13.00 atau lebih SD mulai jam 13.00 sampai jam 17.00 kelak waktu di SMA Selong aku masih bertemu guru yang suka aku lihat mengajar ilmu ilmu yang aku tidak ketahui saat itu. Merekalah guru terakhir di gumi Sasak ini. Setelah mereka SDM yang menjadi pengajar berubah warna dan rupa, sikap dan perilaku sangat jauh seperti " jaox lalang gunung!".<br /> <br /> Setelah kerusuhan bertubi bosan menghantui dasan kami, berangsur keadaan tenang tapi hidup masih susah sekali. Di musim kering pengemis berbaris di jalan jalan dan kami suka memesan ubi dari Paox Motong, makanan kami bermacam macam. Pernah kami makan ketan selama berbulan bulan karena kami sekeluarga sangat suka ketan, amaxpun menanam ketan, bukan padi seperti petani lainnya. Lain waktu kami makan padi padian sperti gandum biji, bulgur dan sorgum kalau umbi umbian lengkap kami santap sperti uwi, gembili, sudax, gadung, talas, ganyol dsb.. Kami punya kambing, ayam, bebek dan sapi. Aneh sekali susu kambing kami tidak ada yang memerahnya. Pengetahuan ternyata sangat berpengaruh pada pola makan. Sekarang susu kambing sangat dicari, sebab orang tahu manfaatnya. Celakanya wabah koreng melanda dasan dan semua orang kena, ada yang sangat parah sampai bopeng, akau juga tak luput, sekujur tubuhku bercak bercak dan ada yang bernanah, rasanya perih dan teriris. Lama sekali rasanya penderitaan itu, jalanku pincang dan aku harus disuntik penesilin beberpa kali. Aku berpikir bahwa dendam penyakitku yang membuatku busuk dua tahun rupanya bangkit dari tidur, dia tidak hilang, dia bercokol ditubuhku dan suatu saat yang ditentukan akan muncul lagi. Yah, aku tawakkal kepada Allah yang memberiku penyakit dan rezeki. Aku hanya bersandar kepadaNYA. Inax menyerahkanku kepadaNYA dan aku juga menyerahkan diriku kepadaNYA. Kalau bukan DIA aku pasti tidak hidup, tidak sakit dan tidak mati meskipun busuk, bahkan bususkkpun dari DIA juga.<br /> <br /> Sekolah Dasar aku lalui dengan tanda Tanya besar, aku pernah bertanya tentang Tuhan, inax amax selalu dapat menerangkan dengan caranya dan aku puas tapi aku bertanya untuk apakah orang bersekolah?. Inak amaxku tak pernah memeberiku jawaban pasti, kalau untuk belajar tentu dirumah atau dimana saja bisa. Bukankah kakek moyang kami yang bernama Papux Guru tidak pernah makan genteng sekolahan tapi dia menjadi guru bangsanya. Aku kehilangan minat bersekolah setelah masuk SMP dulu hanya satu SMP di Selong. Aku kena malaria dan berbagai penyakit bahaya lain yang merontokkan rambutku, sampai obat keras ku telan semua tapi malaria sungguh dahsyat. Hingga sekarang masih ada aku dengar orang terkena malaria. Semua badan menggigil. Aku terkena malaria saat SMP dan SMA mengerikan sekali. Bergiliran orang dasan menggigil panas tapi dingin, dingin tapi panas. Semua berputar dan perutpun bergejolak memuntahkan semua yang diminum atau dimakan.<br /> <br /> Waktu kelas tiga SD aku sakit entah apa tapi aku muntah dan panas demam, rambutku ada yang rontok, aku sering dijenguk inax kake yang bekas perawat, dia banyak memberi instruksi pada inax. Pada suatu saat di hari hari itulah malaikat menggendongku terbang ke langit dan ku lihat alam smesta yang maha luas. Aku mampir di planet planet asing yang kosong saat aku kelelahan aku minta pulang dan aku ada di dipan besar satu satunya di rumah kami. Beruntung sekali aku dapat melihat alam raya ini dari atas, tapi rasanya terbang dan apalagi saat pulang tak pernah lagi aku rasakan. Kalau itu mimpi dari manakah dia datang. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang pernah kita alami dan kita ketahui?. Aku tak tahu apa apa tentang planet dan alam semesta. Rasanya aku ingin belajar tentang alam ini, tapi sampai aku SMA tak ada seorangpun menjelaskan tentang astronomi lebih detail. Jangankan astronomi aku Tanya apa bedanya masuk IKIP dan Universitas saja tak ada yang dapat menerangkan kepadaku kecuali, satu jadi guru, satu jadi PNS. Bagaimana mau maju, jalan keluar saja tidak tahu.<br /> <br /> Peristiwa besar di dasan kami, tak pernah dicatat dalam buku sejarah, kalau sekarang kita susun berarti kita membuatnya bukan mencatat kejadia sebenarnya. Aku mencatat dalam ingtan dari cerita inax, bagaimana HM Faisal memimpin pemberontajan di gedung Gabimas didepan rumah kami. Amax Iman belo bulu adalah salah satu pahlawan besar bersama tokoh lain dia berjuang merebut kemerdekaan. Kata merebut ini aku banggakan sekali, sebab sesungguhnya kita merdeka dan telah dirampas kemerdekaan kita itu oleh bangsa Asing,<br /> <br /> Jangan kira pemuda dasan tidak hebat, aku agak lupa suatu waktu kakak kakak kami yang di SMA Selong dan semua pelajar yang aktif berdemo besar, mungkin memperotes suatu kebijakan pemerintah. Tiba tiba dasan ribut karena ada dua yang tertembak yaitu Kak Nanang dan kak Saleh. Mereka ini akhirnya ditangkap juga. Lama kemudian aku dengar kak Saleh jadi pelaut dan kak Nanang jadi Bos di Aceh. Aku heran mengapa setiap pepadu pintar pergi dan tak kembali ke Dasan?. Mungkinkah dasan ini memang ditakdirkan melahirkan orang hebat untuk pergi jauh?. <br /> <br /> Minat belajarku jeblok waktu SMP, aku capek disuruh menghafal, aku capek dengan rumus, aku capek mondar mandir dan puncaknya aku pilih tidak naik kelas. Kawan kawanku hanya mentertawakanku, Yusuf Akhyar yang paling pinter hanya memandangku geli. Setelah aku tidak naik aku mengulang lagi tapi aku seperti anak autis dan bergerak sesukaku. Suatu hari aku diadu di arena oleh guru kami Pak sayafari. Semua murid menontonku beradu lawan Awan Jeweh. Pertarungan berakhir seri. Sementara kesukaanku berkoresponden dengan berbagai radio dan tokoh dunia terus aku lakukan, aku makin banyak menerima surat dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang terkesan adalah aku berkoresponden dengan mantan tentara AS di Guam. Dia pernah terbang ke Rambang dan Taliwang di masa PD II, sayang kami putus, karena hilang kontak. Lalu aku berkoresponden dengan pusat misionaris terbesar di Amerika yang berpusat di Ekuador. Bertahun kemudian aku menguasai bahasa Spanyol karena mereka banyak memberi inspirasi. Aku berkoresponden dengan Igor seorang tokoh radio yang bekerja di radio Moskwa dan terakhir di BBC London, dia bersedia mengajariku berbahasa Rusia tapi tidak kesampaian. Siapa mengira sekarang aku lancar berabhasa Rusia. Ah, masih banyak lagi kawan kawan koresponden yang mempegaruhi hidupku.<br /> <br /> Selain berkoresponden aku suka filateli dan perangkoku boleh dibilang terlengkap di NTB meski aku tak pernah ikut lomba. Salah satu koleksiku adalah perangko yang masih utuh dengan amplopnya yang dikirm dari berbagai tempat oleh Le Mujitahid Amien. Orangnya tak pernah ku kenal secara pribadi tapi adik adiknya adalah kawan sekolah dan sekelasku. Dunia ini Tak selabar daun kelor tapi tiba tiba menjadi kenyataan karena tokoh ini tidak hanya memberiku inspirasi lewat amplop berprangko asing, tapi detik inipun kami terhubung lewat Sasak.org. nasib manusia selalu mencari titik berkumpulnya. Dimana semua cita cita baik akan menyatu, karena kekuatan energi cita cita mulia untuk menjayakan anak bangsa.<br /> <br /> Dalam kenyataan hidup aku terbang mengikuti arah angina bertiup, tepat seperti waktu kepalaku diayun ayun Papux Jantuk, kiranya doa tiga orang hebat itu merasuk dalam otakku dan saat pencarian diri, tiap tiap manusia dasan membangun karakterku dengan sebutir pasir termasuk Kak Muji tanpa dia ketahui. Aku Si Sasak Busuk itu sedang menunggu malaikat untuk mengembalikan aku dari pelanet asing ini, aku lelah dan haus. Aku ingin pulang dan mengajarkan anak anak dasan terbang dengan sayap keikhlasan, dengan roda kecerdasan, dengan tenaga dahsyat reaktor ketawakkalan. Aku ingin anak dasan terbang di awang awang dengan segala kemungkinan terbentang di bawah sana. Aku ingin pulang…<br /> <br /> Wallahualambissawab<br /> <br /> Demikian dan maaf<br /> Yang ikhlas<br /> Hazairin . JUNEP</div>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 03:10:00 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1035-sasak-yang-busuk-itu.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Pengantar Penulis Buku Dunia Daun Kelor dan Guminte Lombokte</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/ncur_ZFki-o/1026-pengantar-penulis-buku-dunia-daun-kelor-dan-guminte-lombokte.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1026-pengantar-penulis-buku-dunia-daun-kelor-dan-guminte-lombokte.html</guid>
			<description><![CDATA[<p align="justify"><strong>Dunia Daun Kelor &amp; Gu</strong><img class="caption" src="http://sasak.org/images/banners/buku2.jpg" border="0" alt="Dunia Daun Kelor" title="Cover Buku Dunia Daun Kelor" width="200" align="left" /><strong>minte, Lombokte </strong></p>
<p align="justify"><strong><em>Pengantar Penulis</em></strong></p>
<p align="justify">Pada sutu malam rasa sedih saya tak terbendung lagi setelah mendengar tentang perkelahian anak Bangsa Sasak yang memenuhi media masa nasional. Saya mencari informasi di internet dan mencoba menulis kata“sasak”, dipagi berikutnya. Apa yang saya temukan adalah sebuahkomunitas yang mengisi halaman yahoo.grup dengan pengajian dan diskusi masalah kesasakan. Sebagai anggota ke 83 saya diterima pada tanggal 8 Februari 2008.<br /> <br /> Saya langsung meradang setelah membaca beberapa tulisan anggota yang sama saja dengan isi pengajian di santren santren. Kalau demikianterus niscaya komunitas ini akan disambangi dan segera ditinggalkan. Saya menanggapi issue mengenai usaha masyarakat Sasak membantu orangjompo. Hal itu sangat hebat bagi saya yang selama tinggal di Lomboktidak ada hal hal besar seperti itu.</p>
]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 08:51:37 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1026-pengantar-penulis-buku-dunia-daun-kelor-dan-guminte-lombokte.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Yang Melengket</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/hmYdB3386iQ/1051-sasak-yang-melengket.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1051-sasak-yang-melengket.html</guid>
			<description><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Assalamualaikum wr wb.<br /> <br /> <img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" alt="Hazairin R. Junep" title="Hazairin R. Junep" align="right" /><strong>[Sasak.Org] </strong>Sejarah Perang dingin sangat panjang menghiasi masa hidup beberapa generasi. Kalau kita baca atau lihat garis perjalanan manusia selama masa itu pasti tidak banyak yang mengetahui bagaimana orang hidup di belahan lain dunia ini. Warga Amerika yang menganggap Indonesia adalah suatu bagian dari Bali dan Orang Indonesia menganggap penduduk Uni Sovyet sebagai PKI semua adalah hal yang normal terjadi. Dimasa itu komunikasi terbatas dan semua orang lebih tertutup. Ketertutupan itu banyak disebabkan oleh situasi politik di bagian negara blok timur dan negera berkembang.</div>
<div style="text-align: justify;"><br /> 
]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 05:45:23 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1051-sasak-yang-melengket.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
			<title>Sasak Untung Rugi</title>
			<link>http://feedproxy.google.com/~r/sasak/~3/0wC0gYkujrg/1058-sasak-untung-rugi.html</link>
			<guid isPermaLink="false">http://sasak.org/kolom/hr-junep/1058-sasak-untung-rugi.html</guid>
			<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="caption" src="http://sasak.org/images/ks/hjunep.jpg" border="0" title="Hazairin R. Junep" align="right" />Assalamualaikum wr wb.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>"Orang yang hari ini lebih baik keadaannya daripada hari kemarin adalah Orang yang beruntung. Orang yang hari ini keadaannya sama saja dengan hari kemarin adalah Orang yang rugi. Dan Orang yang hari ini lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan hari keamarin adalah Orang yang celaka". Al Hadits.</em></p>
<div style="text-align: justify;"><br /><strong>[Sasak.Org] </strong>Merenungkan hadist diatas membuat saya jadi sedih sekali, karena sebagian terbesar anak dasan adalah orang yang momot meconya makin hari makin kronis. Artinya hari kini mereka terus menerus lebih buruk dari hari kemarin mereka. Membandingkan hari kemarin dan hari ini pada kehidupan ahli momot meco itu sperti melihat kebusukan yang terjadi pada penyakit kanker yang tak terobati.<br /><br />Catatan Pemililihan Presiden kemarin menunnjukkan bahwa yang ikut adalah orang berpendidikan SMP kebawah sebanyak 80%. Pantas saja mereka tak tahu menahu soal memilih pemimpin. Siapa yang dapat mengerti issue issue yang dikumandangkan oleh para kandidat selama ini. Apa itu neolib, pro rakyat, bekerja lebih cepat lebih baik, bahkan yang mau dilanjutkan yang mana dan apa saja juga tidak diketahui. Rakyat ini cukup melihat penampilan dan citra orang sudah berbondong memilih. Itu terjadi secara nasional sampai tingkat dasan. Banyak yang mengelabuhi rakyat dengan mengulang jargon bahwa rakyat sudah pinter, mereka tahu siapa yang harus dipilih. Rakyat sekarang sudah pinter semua. Rakyat hanya ingin tentram dalam bekerja. Berapa kali pemilu dan masih saja hasilnya membikin pilu. Sesudah kenduri besar itu kita selalu kembali berkutat dengan hutang, pengangguran dan masalah penyakit yang diimpor dari para penjajah modern. Flu burung dibuat agar kita lupa serbuan ke Irak. Flu babi dibuat agar kita lupa krisis moneter. Kita yang tak terkait dengan masalah orang asing itu kok ikut ikut menderita. Permainan para kapitalist ini makin membuat bodoh yang 80% dengan mengalihkan perhatian mereka pada satu hal. Gegap gempita kampanye, bagikan uang, bayarkan bonus. Kenikmatan itu membuat mereka menjadi hantu yang digiring ke dalam botol.<br /><br />Anak bangsa Sasak yang terus celaka itu perlu disetir dengan kekuatan revolusi agar tidak jadi bahan mainan musiman. Pertama perhatian diprioritaskan pada masalah kesehatan. Orang sehat perlu makan cukup dan berimbang, orang yang mau makan harus bekerja keras dan baik. Kedua perbaiki pendidikan. Untuk dapat bekerja dengan baik dan lebih keras, orang harus diberi pendidikan dan pelatihan yang tepat. Ketiga ketahanan pangan. Orang yang ingin makmur, hidup sehat dan sejahtera harus menguasai iptek, bekerja keras dan displin tinggi. Disiplin tinggi hanya bisa dicapai oleh orang yang berbudi pekerti ( Budi artinya pengetahuan dan pkrti artinya kejujuran) alias berakhlak mulia. <br /><br />Kalau kita buat hitungan kasar tentang isi dasan saat ini pasti kita ketir ketir untuk mulai usaha penyelamatan, apalagi mau buka usaha dagang atau industri. Dari Tiga juta penduduk sebanyak 2,4 juta berpendidikan SMP atau kurang. Kalau yang berpenghasilan Rp. 20 ribu perhari dianggap miskin maka silahkan hitung berapa banyak mereka dengan anak dan istri satu atau dua.Masih ada lagi yang bahkan tidak berpenghasilan karena bergantung pada alam sehingga mereka makan setiap jumat sekali!.Belum lagi yang tidak suka kerja atau kelompok momot meco. Kaum terpelajarnya 10% dan bertebaran di seluruh dunia. Kebanyakan pulang saat pensiun dan menunggu gorong batang baru, handmade asli produk dasan. Kondisi seperti ini menjadi lahan subur pertumbuhan maling, penipu, penjudi, tukang putar putar keling kota dan TKI bermasalah. <br /><br />Tanah Selaparang ini adalah tanah yang penuh dengan ulama yang disebut TG. Dari sisi manapun TG ini selalu terlibat. Sebagai masyarakat yang cenderung menggantungkan diri pada segelintir orang yang dikultuskan, maka harapan anak dasan tidak bisa tidak , mereka bersandar pada para TG yang sama banyaknya dengan kelompok momot meco itu. Tiap dasan ada puluhan TG masakan mereka tak dapat memutar revolusi lebih cepat?. <br /><br />Peluang untuk mengubah kehidupan sangat luas. Tanah subur yang terbengkalai dapat diusahakan menjadi lahan pertanian produk unggulan. Bukit bukit bisa disulap menjadi lahan subur dengan mengerahkan insinyur pertanian yang bergentayangan disetiap pengorong dasan. Bekerjasama dengan Insinyur peternakan yang masih menunggu nasib jadi PNS, bukankah lebih baik mulai menggarap apa yang ada didepan mata?. Masih banyak lagi para calon manajer abadi yang menyimpan rapi Ijazah SE dan calon abadi lawyer yang IP kumulatifnya tiga koma. Janganlah pendidikan sarjana membuat mereka jadi tidak mau memegang pacul dan sabit. <br /><br />Bekerja adalah bentuk ibadah, kekayaan yang utama adalah kekayaan hati. Kekayaan hati inilah yang akan menyelamatkan dasan dari celaka duabelas yang terus menerus menerpa selama 12 bulan pertahun dan entah sudah berapa putaran 12 berlalu.Anak dasan terjebak dalam pusaran yang membuatnya makin momot meco. Inilah saatnya kita hentikan lingkaran syaiton itu dan kita ganti dengan langkah tegap seorang yang bertawaf. Acungkan tanganmu dengan tawaduk(rendah hati dan taat) dan katakan, bahwa Allah menolong orang yang menolong dirinya sendiri.<br /><br />Walalohualambissawab<br />Demikian dan maaf<br /><br />Yang ikhlas<br /><br />Hazairin R. JUNEP</div>]]></description>
			<author>wiendietry@gmail.com (Administrator)</author>
			<category>frontpage</category>
			<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 04:51:14 +0000</pubDate>
		<feedburner:origLink>http://sasak.org/kolom/hr-junep/1058-sasak-untung-rugi.html</feedburner:origLink></item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss>
