<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Sastra Berduri | Karya Sastra Anak Indonesia</title><description>goresan pena klasik yang menjerit...</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 17:37:35 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://sastraberduri.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:image href="http://i1272.photobucket.com/albums/y388/Fariz_Huzairi/sastraberduri3_zpsf3691440.png"/><itunes:keywords>sastra,berduri</itunes:keywords><itunes:summary>goresan pena klasik yang menjerit</itunes:summary><itunes:subtitle>pena sastra berduri</itunes:subtitle><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="Philosophy"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>fariz.huzairi@yahoo.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Kesadaran yang Terpejam</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2015/12/puisi-kesadaran-yang-terpejam.html</link><category>kumpulan puisi</category><category>prosa</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 30 Dec 2015 05:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-4503618447866569282</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;Kesadaran yang Terpejam...&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Aku hanyalah sebatang pena yang sudah lama tak pernah digunakan lagi. Aku hampir saja mengering, bahkan sebentar lagi, mungkin.&lt;br /&gt;
Aku sudah lupa bagaimana caranya merangkai puisi, menguasai hati dan pikiran untuk mengubahnya menjadi inspirasi yang hidup. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menemukan kata yang tepat untuk satu saja keadaanku saat ini, selain hanya mengulang-ulang kata yang sama yang aku lakukan. Kata-kata yang sama, baris demi baris. Seperti air yang tertumpah, bukan tertuang. Seperti gerimis yang sesaat lalu kering, dan gerimis lagi, dan lalu kering lagi.&lt;br /&gt;
Inspirasi yang hilang, ataukah semangat yang seakan tak punya lagi kesempatan untuk tumbuh. Musim kemarau berlalu, musim hujan pun tak menentu. Sebaris udara yang kurasa, yang kadang dingin, dan tak jarang pula panas.&lt;br /&gt;
Rangkaian hidup terus berjalan, namun tak sempat kusimpan perjalanan itu dalam sebait saja cerita. Sendiri, juga tidak! Ramai namun sepi. Tersenyum namun hati menangis. Bersandar pada ketentuan yang ada. Mencari keberadaan hakiki yang mungkin harus kutemukan: Kesadaran!
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Langit Merah</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2014/12/langit-merah.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 17 Dec 2014 23:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-3752248379168719870</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Tatkala aku mengerti apa yang terjadi&lt;br /&gt;
Hutan-hutan terbakar dan bara api yang menghanguskan&lt;br /&gt;
Lebih banyak dari pada itu, dan mereka terus berlari&lt;br /&gt;
Dan lebih banyak dari mereka yang berlari serta saling menyalahkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala aku mengerti apa yang terjadi&lt;br /&gt;
Kambing-kambing yang telah mati dan terkapar&lt;br /&gt;
Lebih banyak dari pada itu, sapi dan ayam pun telah terlanjur mati&lt;br /&gt;
Dan mungkin saja mereka hanya peduli pada lapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala aku mengerti apa yang terjadi&lt;br /&gt;
Akan lebih banyak dari pada apa yang telah terjadi ini&lt;br /&gt;
Dan mereka menyadari, sesaat setelah mati&lt;br /&gt;
Tatkala langit merah dan Tuhan berkata: "Semua tak dapat diulang kembali!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fariz Huzairi&lt;br /&gt;
Jakarta, 17 Desember 2014&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Pasar Timur, Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13310, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2168076 106.86607700000002</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2187806 106.86355550000002 -6.2148346000000005 106.86859850000002</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Drama Sebuah Rahasia</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2014/04/puisi-bersajak-drama-sebuah-rahasia.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Sun, 13 Apr 2014 10:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-7578747432123870119</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Sedih bukanlah pinta untuk meneteskan air mata&lt;br /&gt;
Karena terkadang laku lebih dari sebuah cerita&lt;br /&gt;
Seperti angin yang mengoyak apa yang ada di atas bumi&lt;br /&gt;
Atau yang besar, yang tak lebih kuat dari yang kecil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah cerita itu tak pantas untuk dikisahkan?&lt;br /&gt;
Bukankah segala sesuatu yang ada telah hadapi takdirnya?&lt;br /&gt;
Kepercayaan, kesulitan, dan aroma kejahatan yang mulai merintih&lt;br /&gt;
Menjerit hati dalam senyum tangis dan tersembunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hakekat pada terciptanya suatu hati:&lt;br /&gt;
Niat menjadi kunci bagaimana raga bertindak,&lt;br /&gt;
Keadilan selalu berdiri meski awalnya samar terkalahkan,&lt;br /&gt;
Dan kemalangan bukanlah hal yang diraih oleh kebaikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sanalah rahasia itu kan berdiri&lt;br /&gt;
Di suatu pagi yang cerah matahari,&lt;br /&gt;
Di saat yang tidur pun terjaga, dan yang lupa&lt;br /&gt;
Kan kembali pada asalnya&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2087634 106.84559899999999</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.4613213999999992 106.5228755 -5.9562054 107.16832249999999</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Mencari Keyakinan Setelah Kehilangan</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/08/mencari-keyakinan-setelah-kehilangan.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 28 Aug 2013 22:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-4059469612952665507</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Kelu tak bicara&lt;br /&gt;
Harap, sirna&lt;br /&gt;
Hanya pandangi apa yang terjadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibingkai penyesalan atau entah kekecewaan&lt;br /&gt;
Diujung perjalanan temui kawanan:&lt;br /&gt;
Mereka tak berapi!&lt;br /&gt;
Mereka tak bertanah!&lt;br /&gt;
Mereka jelas tak bercahaya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir, lantas&lt;br /&gt;
apakah ini musibah atau bencana?&lt;br /&gt;
Akankah sesuatu yang hilang dapat kembali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau yakin?"&lt;br /&gt;
Sesuatu nampaknya bicara padaku,&lt;br /&gt;
"Sesuatu yang hilang tak akan pernah terganti?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sampai pada waktu yang kita tahu,&lt;br /&gt;
Keyakinan bukanlah upeti!&lt;br /&gt;
Atau sama sekali hingga mati keyakinan tidak akan tumbuh!&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.211544 106.84517200000005</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.464102 106.52244850000005 -5.958986 107.16789550000004</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Doa Untuk Ibu</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/04/puisi-doa-untuk-ibu.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Sat, 20 Apr 2013 21:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-5680729417993475671</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Entahlah berapa lama lagi&lt;br /&gt;
Kuhitung tahun dan hari-hari kulalui&lt;br /&gt;
Gemerlapnya dunia hiburku sepi&lt;br /&gt;
Sepi, aku sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sendiri lelah menanti&lt;br /&gt;
Tuhan beri aku pinta&lt;br /&gt;
Tuhan beri aku segala&lt;br /&gt;
Tapi Tuhan selalu memberi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang aku, selalu meminta&lt;br /&gt;
Sepintas lupa tak luput di hamba&lt;br /&gt;
Hamba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pinta dan doa...&lt;br /&gt;
Pinta adalah doa&lt;br /&gt;
Pinta adalah harapan&lt;br /&gt;
Cinta yang selalu merasa untuk hidup, dari Tuhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku merintih,&lt;br /&gt;
Meski aku menangis,&lt;br /&gt;
Dan meski aku tanpanya, ku selalu memanggil namanya,&lt;br /&gt;
“Ibu... Semoga engkau selalu bersamaNya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Jakarta, 20 April 2013&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Fariz Huzairi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Ketika Hanya Takdir yang Menjawab</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/ketika-hanya-takdir-yang-menjawab.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Sun, 10 Mar 2013 21:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-1930921240390198201</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
KETIKA HANYA TAKDIR YANG MENJAWAB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;untuk mereka yang selalu bertanya, mengapa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hujan tak mau jatuh, meski rapuh&lt;br /&gt;
di langit ditikam kegelapan&lt;br /&gt;
dihitung resah tak juga terlukiskan&lt;br /&gt;
berat asa kami terjatuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ladang-ladang kami kering, juga sumur&lt;br /&gt;
pun sungai menjadi penyakit&lt;br /&gt;
“Tuhan, di mana kuasa-Mu&lt;br /&gt;
dan jelaskan pada kami apa yang sedang Kau perbuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akhirnya kami tak lagi bicara tentang apa yang terjadi,&lt;br /&gt;
sebab kami tak mengerti&lt;br /&gt;
dan kami tak lagi berusaha untuk apa yang kami&lt;br /&gt;
butuhkan, sebab kami semakin tak mengerti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diam-diam kami kali ini, dalam hilang&lt;br /&gt;
asa kepada-Mu:&lt;br /&gt;
“Tuhan, pengajarankah bagi kami&lt;br /&gt;
agar kami dapat mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;fariz huzairi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644 -6.3174117 106.888644</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Sebelum Larut Malam Menjemputku</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/sajak-sebelum-larut-malam-menjemputku.html</link><category>karya sastra</category><category>prosa</category><category>sajak</category><pubDate>Sun, 10 Mar 2013 20:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-1366762383460077501</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
SEBELUM LARUT MALAM MENJEMPUTKU&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Malam tak mau larut saat kugadaikan mimpi untuk menembusmu ke dalam pelukan. Seperti rindu yang tak juga surut, kau selalu masuk diwaktu sendiriku. Mendesir, bersemilir, bersemayam di dalam batinku. Satu rasa yang selalu kurasa saat getir musim hijau telah mati dan hilang adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kutuang kembali secangkir kenangan untuk menghilangkan kantukku. Secangkir harapan yang telah mati bercampur takdir Tuhan kini. Di lintas khayal dan di pesisir kenangan, disapu ombak(!); di pantai itu kini telah menjadi lautan yang tersapu laksana tsunami waktu itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inikah musim itu yang tak lagi menentu dan berubah sewaktu-waktu? Kematian beriring kematian dan dosa beriring dosa. Lalu bagai wajah yang tak tahu malu menikam sendi-sendi yang tak berdosa yang telah menilai-memberi harga. Dan apa yang pantas dikata untuk maaf yang tiada guna, jika hari-hari selalu sama baginya, tiada ubahnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lain memang, tak mungkin berulang. Takdir mungkin, namun tak pasti selama Tuhan masih memberi. Karena kesempatan hidup memang satu kali, dan bukan mati jika masih bisa diusahakan untuk membenah diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesal memang tiada arti jika dirasai tanpa disesali. Disesali pun tiada ubah jika diri tak mampu untuk merubah. Kuasa memang milik Tuhan namun manusia diberi kesempatan untuk mengusahakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasib. Kau kata kadang seolah sudah jalan. Takdir. Kau kata seakan semakin sudah terang. Kau rangkai cerita bak melodi di atas iringan perkusi yang tersembunyi. Kau berlabuh bak terjatuh terluka diri. Kau tikam semua janji dengan akhir tanpa awal. Dan kau lupakan siulan-siulan merdu yang pernah terjadi. Bahkan kau ubah emas menjadi duri!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta, indahnya tak secantik pesonanya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kan kujaga nasihat-nasihat itu. Meski terpenggal kisah hitam menimpa diri, namun arti bukanlah sebagai penghias diri. Rasa cinta kan tetap ada meski sebatas doa dan penghapus dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Untukmu, sepenggal rindu, sepenggal kawan jiwaku –yang telah lampau sebelum pahit, dan sebelum rasa sakit memisahkan jiwa dan ragaku, kan kujaga doa untuk masa yang tak pernah kita tahu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Fariz Huzairi, di Jakarta, 10 Maret 2013&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699532000000005 106.5659205 -6.0648702 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Sajak Doa Orang Menyesal</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/sajak-doa-orang-menyesal.html</link><category>karya sastra</category><category>prosa</category><category>sajak</category><pubDate>Sat, 9 Mar 2013 08:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-1865443020985441390</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Doa Orang Menyesal&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah apa lagi yang harus kutuangkan di sini. Secangkir sajak telah sesak penuhi nikmat yang telah melaknat. Aku tak mau habiskan ini. Nikmat-nikmat itu sebagian banyak membuatku harus terlaknati...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebur tak lagi satu; sahabat, cinta, dan juga keluarga, entah (aku)... rasanya tak lagi ada. Bagai memuat doa-doa pasrah dalam gelisah nun jauh harap masih ingin terbitkan wajah. Namun aku hanya menepi, dan hanya menepi, berharap kembali jika telah sanggup kuganti mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisahi diri, aku pikir, sadari yang terjadi. Dari sekian jalan dalam muara penggalannya yang berfase, (meronta-ronta dalam sesal) enggan kubuat kembali ombak duri. Bagiku, cukup sudah bencana menimpa. Aku tak ingin lagi puasi diri dengan amuk birahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukuplah. Cukuplah saja aku pernah merasanya. Deru haru tak kebalkanku kecuali rindu. Ya, seperti perpisahan yang terjadi, yang terukir sebab kuasa birahi dan lupa diri, serta merta membuatku banyak kehilangan arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kini, dimulai kali ini, sudah sepatutnya bak pengajar diri. Melihat! Merasai! Melihat apa yang pernah terjadi! Darah menjadi nanah di hidung hingga kini masih basah: berlumur resah, berikat pasrah, menjadi obat untuk tidak dulu menyerah! Meski hidup memang terlihat tak lagi memimpi mewah, setidaknya masih membentuk diri yang tak lepas bak tak berarwah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski adanya....................&lt;br /&gt;
Dunia... Oh, Tuhan! Duniamu inikah juangku(?)&lt;br /&gt;
Kuingin Kau katakan, katakan bahwa kesempatan ini masih Kau berikan untukku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Fariz Huzairi, di Jakarta, 8 Maret 2013&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Sajak Putih Karya Chairil Anwar *versi SS</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/sajak-putih-karya-chairil-anwar.html</link><category>chairil anwar</category><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Fri, 8 Mar 2013 10:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-4732992896045899649</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://s1272.beta.photobucket.com/user/Fariz_Huzairi/media/AkuIniBinatangJalangChairilAnwar_zps113a3113.jpg.html" rel="nofollow" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank" title="kepingan sajak chairil anwar"&gt;&lt;img aku="" alt="Sajak" anwar="" binatang="" border="0" chairil="" src="http://i1272.photobucket.com/albums/y388/Fariz_Huzairi/AkuIniBinatangJalangChairilAnwar_zps113a3113.jpg" height="200" ini="" jalang="" karya="" width="160" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;b&gt;Aku Ini Binatang Jalang&lt;/b&gt;, Jakarta: Gramedia, 2012&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SAJAK PUTIH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;buat tunanganku, Mirat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersandar pada tari warna pelangi&lt;br /&gt;
kau depanku bertudung sutera senja&lt;br /&gt;
di hitam matamu kembang mawar dan melati&lt;br /&gt;
harum rambutmu mengalun bergelut senda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba&lt;br /&gt;
meriak muka air kolam jiwa&lt;br /&gt;
dan dalam dadaku memerdu lagu&lt;br /&gt;
menarik menari seluruh aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hidup dari hidupku, pintu terbuka&lt;br /&gt;
selama matamu bagiku menengadah&lt;br /&gt;
selama kau darah mengalir dari luka&lt;br /&gt;
antara kita Mati datang tidak membelah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,&lt;br /&gt;
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!&lt;br /&gt;
Kucuplah aku terus, kucuplah&lt;br /&gt;
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;puisi karya Chairil Anwar&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(versi Surat-surat 1943-1983)&lt;br /&gt;
Sumber Acuan: "&lt;b&gt;Aku Ini Binatang Jalang"&lt;/b&gt; Editor: &lt;b&gt;Pamusuk Eneste&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Kepingan Sajak Chairil Anwar | Gejolak 1943</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/chairilanwar-gejolak-1943.html</link><category>chairil anwar</category><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Thu, 7 Mar 2013 02:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-5303618868353594844</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Sajak #1:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DIPONEGORO &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa pembangunan ini&lt;br /&gt;
tuan hidup kembali&lt;br /&gt;
dan bara kagum menjadi api&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di depan sekali tuan menanti&lt;br /&gt;
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.&lt;br /&gt;
Pedang di kanan, keris di kiri&lt;br /&gt;
Berselempang semangat yang tak bisa mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MAJU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini barisan tak bergenderang-berpalu&lt;br /&gt;
Kepercayaan tanda menyerbu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali berarti&lt;br /&gt;
Sesudah itu mati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MAJU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagimu Negeri&lt;br /&gt;
Menyediakan Api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Punah di atas menghamba&lt;br /&gt;
Binasa di atas ditinda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh pun dalam ajal baru tercapai&lt;br /&gt;
Jika hidup harus merasai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maju.&lt;br /&gt;
Serbu.&lt;br /&gt;
Serang.&lt;br /&gt;
Terjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #2:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SUARA MALAM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia badai dan topan&lt;br /&gt;
Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”&lt;br /&gt;
Jadi ke mana&lt;br /&gt;
Untuk damai dan reda?&lt;br /&gt;
Mati.&lt;br /&gt;
Barangkali ini diam kaku saja&lt;br /&gt;
dengan ketenangan selama bersatu&lt;br /&gt;
mengatasi suka dan duka&lt;br /&gt;
kekebalan terhadap debu dan nafsu.&lt;br /&gt;
Berbaring tak sedar&lt;br /&gt;
Seperti kapal pecah di lautan&lt;br /&gt;
jemu dipukul ombak besar.&lt;br /&gt;
Atau ini.&lt;br /&gt;
Peleburan dalam tiada&lt;br /&gt;
dan sekali akan menghadap cahaya.&lt;br /&gt;
..............................................................&lt;br /&gt;
Ya Allah! Badanku terbakar—segala samar.&lt;br /&gt;
Aku sudah melewati batas.&lt;br /&gt;
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #3:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AKU &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;
Kumau tak seorang ‘kan merayu&lt;br /&gt;
Tidak juga kau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu sedu sedan itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;
Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;
Aku tetap meradang-menerjang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;
Berlari&lt;br /&gt;
Hingga hilang pedih peri&lt;br /&gt;
Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;
Aku mau hidup seribu tahun lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #4:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUKUM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saban sore ia lalu depan rumahku&lt;br /&gt;
Dalam baju tebal abu-abu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bungkuk jalannya – Lesu&lt;br /&gt;
Pucat mukanya – Lesu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang menyebut satu nama jaya&lt;br /&gt;
Mengingat kerjanya dan jasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melecut supaya ini padanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekik di angkasa: Perwira muda&lt;br /&gt;
Pagi ini menyinar lain masa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nanti, kau dinanti-dimengerti!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #5:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESABARAN &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa tidur&lt;br /&gt;
Orang ngomong, anjing menggonggong&lt;br /&gt;
Dunia jauh mengabur&lt;br /&gt;
Kelam mendinding batu&lt;br /&gt;
Dihantam suara bertalu-talu&lt;br /&gt;
Di sebelahnya api dan abu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hendak berbicara&lt;br /&gt;
Suaraku hilang, tenaga terbang&lt;br /&gt;
Sudah! tidak jadi apa-apa!&lt;br /&gt;
Ini dunia enggan disapa, ambil peduli&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keras membeku air kali&lt;br /&gt;
Dan hidup bukan hidup lagi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuulangi yang dulu kembali&lt;br /&gt;
Sambil bertutup telinga, berpicing mata&lt;br /&gt;
Menunggu reda yang mesti tiba&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #6:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;CERITA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kepada Darmawidjaja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pasar baru mereka&lt;br /&gt;
Lalu mengada-menggaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikat sudah kesal&lt;br /&gt;
Tak tahu apa dibuat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jiwa satu teman lucu&lt;br /&gt;
Dalam hidup, dalam tuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gundul diselimuti tebal&lt;br /&gt;
Sama segala berbuat-buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kadang pula dapat&lt;br /&gt;
Ini renggang terus terapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #7:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DI MESJID &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuseru saja Dia&lt;br /&gt;
Sehingga datang juga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pun bermuka-muka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.&lt;br /&gt;
Segala daya memadamkannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini ruang&lt;br /&gt;
Gelanggang kami berperang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Binasa-membinasa&lt;br /&gt;
Satu menista lain gila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #8:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DENDAM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri tersentak&lt;br /&gt;
Dari mimpi aku bengis dielak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tegak&lt;br /&gt;
Bulan bersinar sedikit tak nampak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan meraba ke bawah bantalku&lt;br /&gt;
Keris berkarat kugenggam di hulu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan bersinar sedikit tak nampak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencari&lt;br /&gt;
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencari&lt;br /&gt;
Diri tercerai dari hati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan bersinar sedikit tak tampak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #9:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JANGAN KITA DI SINI BERHENTI &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan kita di sini berhenti&lt;br /&gt;
Tuaknya tua, sedikit pula&lt;br /&gt;
Sedang kita mau berkendi-kendi&lt;br /&gt;
Terus, terus dulu...!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke ruang di mana botol tuak untuk banyak berbaris&lt;br /&gt;
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis&lt;br /&gt;
O, bibir merah, sastra indonesia modern &lt;br /&gt;
O, hidup, kau masih ketawa??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #10:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1943 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Racun berada direguk pertama&lt;br /&gt;
Membusuk rabu terasa di dada&lt;br /&gt;
Tenggelam darah dalam nanah&lt;br /&gt;
Malam kelam-membelam&lt;br /&gt;
Jalan kaku-lurus. Putus&lt;br /&gt;
Candu.&lt;br /&gt;
Tumbang&lt;br /&gt;
Tanganku menadah patah&lt;br /&gt;
Luluh&lt;br /&gt;
Terbenam&lt;br /&gt;
Hilang&lt;br /&gt;
Lumpuh.&lt;br /&gt;
Lahir&lt;br /&gt;
Tegak&lt;br /&gt;
Berderak&lt;br /&gt;
Rubuh&lt;br /&gt;
Runtuh&lt;br /&gt;
Mengaum. Mengguruh&lt;br /&gt;
Menentang. Menyerang&lt;br /&gt;
Kuning&lt;br /&gt;
Merah&lt;br /&gt;
Hitam&lt;br /&gt;
Kering&lt;br /&gt;
Tandas&lt;br /&gt;
Rata&lt;br /&gt;
Rata&lt;br /&gt;
Rata&lt;br /&gt;
Dunia&lt;br /&gt;
Kau&lt;br /&gt;
Aku&lt;br /&gt;
Terpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #11:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ISA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu Tubuh&lt;br /&gt;
mengucur darah&lt;br /&gt;
mengucur darah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rubuh&lt;br /&gt;
patah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mendampar tanya: aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kulihat Tubuh mengucur darah&lt;br /&gt;
aku berkaca dalam darah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terbayang terang di mata masa&lt;br /&gt;
bertukar rupa iini segara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengatup luka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku bersuka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini Tubuh&lt;br /&gt;
mengucur darah&lt;br /&gt;
mengucur darah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sajak #12:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DOA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku&lt;br /&gt;
Dalam termangu&lt;br /&gt;
Aku masih menyebut namaMu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biar susah sungguh&lt;br /&gt;
mengingat Kau penuh seluruh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cayaMu panas suci&lt;br /&gt;
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku hilang bentuk&lt;br /&gt;
remuk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku mengembara di negeri asing&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku&lt;br /&gt;
di pintuMu aku mengetuk&lt;br /&gt;
aku tidak bisa berpaling&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Acuan:&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Aku Ini Binatang jalang&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Deru Campur Debu&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://s1272.beta.photobucket.com/user/Fariz_Huzairi/media/KoleksiSastraBerduri_zps62648864.jpg.html" rel="nofollow" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank" title="koleksi sajak chairil anwar"&gt;&lt;img alt="koleksi sajak chairil anwar" border="0" src="http://i1272.photobucket.com/albums/y388/Fariz_Huzairi/KoleksiSastraBerduri_zps62648864.jpg" height="190" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;koleksi buku sastraberduri.com&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Koleksi Karya Sastra&lt;/b&gt; | &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sastra Berduri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; | &lt;i&gt;Jakarta, 7 Maret 2013&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Bagian 1: “&lt;b&gt;Kepingan Sajak Chairil Anwar&lt;/b&gt; | &lt;b&gt;Gejolak 1943&lt;/b&gt;”&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Teratai Sajak Berduri</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/03/kumpulan-sajak-lembaran-lalu.html</link><category>antologi sastra berduri</category><category>karya sastra</category><category>kumpulan puisi</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 6 Mar 2013 02:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-2941355503144461193</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://www.sastraberduri.com/2013/03/kumpulan-sajak-lembaran-lalu.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kumpulan sajak&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; ini ditulis dengan meminjam &lt;span style="color: #38761d;"&gt;keindahan bunga pagi yang tertelan senja&lt;/span&gt; untuk &lt;u&gt;setangkai Teratai Berduri &lt;/u&gt;yang kehausan... &lt;a href="http://www.sastraberduri.com/2013/03/kumpulan-sajak-lembaran-lalu.html"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: #38761d;"&gt;&lt;b&gt;Lembaran sajak indah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/a&gt; untuk seseorang yang telah menjadi inspirasi bagi saya, dan selama itu pula atau bahkan hingga selamanya, saya harus &lt;span style="color: #38761d;"&gt;menemukan kembali fajar pagi&lt;/span&gt;. Juga yang telah mengalirkan sederas siraman emosi untuk batin, untuk kehidupan yang lebih baik –bagian dari setiap sisi konsep kehidupan manusia, yang relatif tidak berubah-ubah: teguh dan solid! Ya, Perubahan! Itulah prase yang digunakan untuk menangkap sebagian besar tujuan tersebut. Sehingga ada dan diperlukannya konsistensi &lt;i&gt;mawas diri&lt;/i&gt;. Konsistensi terhadap sebuah jalan: cita-cita dan masa depan. Konsistensi akan sebuah keputusan dan tindakan. Juga, Konsistensi dalam berkasih sayang; tidaklah mudah ketika harus menyelam tanpa dahulu harus menghela napas seraya memberikan udara bagi kehidupan sekitar. Karena tanpa konsistensi dalam mempertahankan &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;cinta&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, tidaklah mungkin terciptanya &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;kesetiaan&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Untukmu, segores &lt;a href="http://www.sastraberduri.com/2013/02/memahami-sastra-indonesia.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sastra&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; tanpa nama... yang berduri, yang tajam, dan yang terkadang tertatih atau bagai &lt;b&gt;teratai&lt;/b&gt; yang menusuk hati. Tiada lupa pun duka adanya kini, meski untaian &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;cinta&lt;/span&gt; hanya tinggal &lt;i&gt;teratai yang kering&lt;/i&gt;; tiada suka pun kiranya, meski sulit adanya namun tampak adanya bercahaya tatkala asam pahit tertera dalam &lt;i&gt;kalam&lt;/i&gt; hingga bencana. Ya, bersama seribu tarian kejam dan &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;pena&lt;/span&gt;, bersama &lt;a href="http://www.sastraberduri.com/2013/03/kumpulan-sajak-lembaran-lalu.html"&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;nyanyian sajak lama&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; juga rindu, segaris dan setitik yang berasal dari dalam kalbu, yang tak akan pernah layak untuk padam itu tak akan kubiarkan padam! Karena cinta, bagai &lt;b&gt;teratai sajak&lt;/b&gt; yang selalu indah yang tumbuh dalam kalam –lalu dengan &lt;i&gt;&lt;b&gt;pena&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Tuhan menulis &lt;a href="http://www.sastraberduri.com/" target="_blank"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;sajak&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;: “Inilah Kalam Kehidupan,” setangkai pena yang dengan cinta dan kesetiaannya, juga rindu, seringkali terdapat menghiasi kalbu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TENTANG MIMPI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang mimpi dan apa yang aku miliki&lt;br /&gt;
Itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari&lt;br /&gt;
Mencari apa yang belum ia temukan.&lt;br /&gt;
Tentang apa yang aku miliki&lt;br /&gt;
Hanyalah harapan untuk membawamu terbang bebas!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bekasi, 2 Nopember 2007&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali dulu saya harusnya mengucapkan dan melakukan: “Bukan karena cinta (wanita) senyum itu ada! Dan bukan karena wanita (cinta) lantas kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan manusia itu mengalir deras adanya!” Dan barangkali memang seperti adanya, segalanya harus dipertimbangkan, agar ucapan tak melaknati dirinya sendiri, dan agar kebahagian sepertinya (itu) tetap berdiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau bagai bunga-bunga yang tumbuh penuh dengan anugerah, ia... yang membuat luluh lantas hati menyerah padanya, seraya merasa-mengucap bahagia, lalu menjelma aku bak Bidara gagah perkasa. Atau, seperti melati yang tertanam di kudapan abadi Sang Bidadari –ya, dialah memang yang memancarkan aura bidadari itu. Dan tentunya, agar kebahagiaan itu semakin nyata menjadi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang Mimpi dan hari kemarin&lt;br /&gt;
yang kini pagi telah membelahnya&lt;br /&gt;
Menjaga apa yang didapatkan.&lt;br /&gt;
Tentang hari ini yang aku lalui&lt;br /&gt;
Hanyalah langkahku untuk selalu menjagamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bekasi, 13 Desember 2007&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau tersipu ketika kukecup atas sementara waktu... seperti ini:&lt;br /&gt;
“Jika semua wanita adalah bidadari, maka engkaulah Sang Bunda Keindahan&lt;br /&gt;
yang melahirkan seribu bidadari serta menurunkan keindahannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh, ini terasa amat hina jika cinta dapat diukur sesuatu yang ada di antara waktu dan harta! Dan sungguh ini terasa memilukan dalam malu saat cinta harus dilumuri dengan ambisi dan keinginan semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah sementara waktu dan masa itu, sementara kehidupan dan kehidupan setelah kematian, akan selalu ada dan ditumbuhi karena cinta, dan untuk cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku menangis, maka air mataku adalah&lt;br /&gt;
sebentuk cinta yang menjauhkanmu dari pahit dan kesedihan.&lt;br /&gt;
Dan jika aku terluka, maka darahku&lt;br /&gt;
tak lebih dari sekedar pengorbanan agar kau tetap bahagia jauh dari duka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karawang, 4 Maret 2008&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti melayang namun tak terbang,&lt;br /&gt;
kau buat hidupku seakan jauh lebih berarti.&lt;br /&gt;
Dan dalam kesunyian yang sebelumnya kurasakan penat,&lt;br /&gt;
kau buat kedamaian di dalam hatiku.&lt;br /&gt;
Kau seakan menjadi auteur&lt;br /&gt;
kisah cintaku,&lt;br /&gt;
yang tak ternilai begitu indahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta, meski tak selamanya harus hidup bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Lembaran "&lt;a href="http://www.sastraberduri.com/2013/03/kumpulan-sajak-lembaran-lalu.html"&gt;&lt;b&gt;Teratai Sajak Berduri&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;"&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Fariz Huzairi,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;di Jakarta, 6 Maret 2013&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Puisi Cinta Untuk Ibu</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/puisi-cinta-untuk-ibu.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Mon, 25 Feb 2013 23:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-3154983977052619710</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;Puisi Cinta Untuk Ibu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tertegun ingatan saat kubuka halaman diariku&lt;br /&gt;
Ada setitik pahit yang kubaca, saat kuraba, hingga kemudian terpikir masa laluku&lt;br /&gt;
sedalam kalbu&lt;br /&gt;
Menyeruat, menyulap beringas hinggapkan getir pedih masa kelamku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun rintihan melodi kehidupan menawanku dari keterbebasan hasrat&lt;br /&gt;
yang tampak nyaris keterbatasan pun melekat, seolah tak lagi berdawai semangat&lt;br /&gt;
Kudekap pedih semakin sakit, kutahan rindu pun semakin pilu,&lt;br /&gt;
hingga kubiarkan namun rasanya tak sanggup&amp;nbsp; kulewati hari hingga berlalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu... semakin pedih aku,&lt;br /&gt;
....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran pun tak merubah selain kehadiran yang masih dicitakan&lt;br /&gt;
Kesadaran pun tak merubah selain penyesalan dan pengharapan&lt;br /&gt;
Dan kesadaran pun, seperti anjing serigala yang melolong di malam pesta perkawinan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas dalam maya kumencarimu&lt;br /&gt;
sepenggal nama yang mungkin dapat kutemukan di sana&lt;br /&gt;
yang berharap, sepenggal kabar kurasai sejukan hati meski selama mengingatnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga pada malam kemudian selira menyerah dan berdoa&lt;br /&gt;
Selira pasrah dalam lemah tak berdaya&lt;br /&gt;
Dan selira memohon ampunan kepada Sang Pencipta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu... semakin menyesal aku,&lt;br /&gt;
....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya akulah anakmu, yang berdiri tegak tanpa sesak&lt;br /&gt;
Yang runcing melawan keras kehidupan seiring memuncak&lt;br /&gt;
Mengubur hina mengumbar bangga, bukan malah menggores laknat!&lt;br /&gt;
Bukan aku malah mendawai larat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu, semakin tertegun saat kubaca halaman itu&lt;br /&gt;
Saat terbayang engkau masih bersamaku&lt;br /&gt;
Dalam satu ruang yang satu&lt;br /&gt;
Hingga tetes kini laksa menoreh azab siksaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 25 Februari 2013,&lt;br /&gt;
dalam coretan sastra &lt;b&gt;Puisi Cinta Untuk Ibu&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644 -6.3174117 106.888644</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Untuk Cinta Dengan Doa</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-02.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Sun, 24 Feb 2013 23:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-3030095561364804762</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;Antologi Puisi&lt;/b&gt;. Antologi &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sastra Berduri&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, “&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-02.html"&gt;Untuk Cinta Dengan Doa&lt;/a&gt;”&lt;br /&gt;
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sebagai &lt;u&gt;&lt;b&gt;antologi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi sebua syair berbentuk &lt;b&gt;puisi&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Untuk Cinta Dengan Doa”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang rindu menjadi ombak&lt;br /&gt;
yang menghalauku di saat lajuku,&lt;br /&gt;
juga rinduku.&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
“Untukmu... rinduku yang sampai detik ini&lt;br /&gt;
masih belum aku mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
Kesempurnaan itu masih saja selalu terlintas dalam benak, juga penat&lt;br /&gt;
Seperti menggiringku ke suatu tempat&lt;br /&gt;
yang entah,&lt;br /&gt;
yang entah membuatku rasanya selalu takut dan gelisah,&lt;br /&gt;
yang membuatku pada akhirnya harus memikirkan semua itu di sana.&lt;br /&gt;
Ya, di malamku yang selalu dipenuhi sunyi menanti rasa-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian syair lagu indah, membuat cinta memahkotai sang Insan akan pesona keindahan&lt;br /&gt;
Atau seperti denting hujan di kala bintang dan rembulan&lt;br /&gt;
menghiasi ketulusan dua insan di syurga yang saling mencinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa di rasanya. Aku tak pernah tahu, karena di rasaku,&lt;br /&gt;
sepertinya yang ada masih hanya akan selalu gelisah&lt;br /&gt;
Dan di rasaku, yang aku tahu rasanya seperti taburan debu yang menghantam ombak,&lt;br /&gt;
yang kemudian hilang,&lt;br /&gt;
lenyap,&lt;br /&gt;
atau seperti pohon&lt;br /&gt;
yang patah,&lt;br /&gt;
atau kering,&lt;br /&gt;
atau bahkan yang tandus,&lt;br /&gt;
yang akarnya tak mungkin lagi menyempurnakan kehidupan seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti rindu itu, doaku, &lt;br /&gt;
juga seperti doa itu&lt;br /&gt;
Untuk cinta,&lt;br /&gt;
untuk satu cinta yang masih juga belum aku tahu&lt;br /&gt;
di mana akhirnya aku kan berlabuh dengan setia...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 24 Februari 2013.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Antologi Puisi&lt;/b&gt; Sastra Berduri,&amp;nbsp; “&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-02.html"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk Cinta Dengan Doa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;” merupakan ranngkaian puisi "&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-01.html" target="_blank"&gt;Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia&lt;/a&gt;" dalam&lt;b&gt; kumpulan puisi&lt;/b&gt; Sastra Berduri.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Memahami Sastra Indonesia</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/memahami-sastra-indonesia.html</link><category>artikel</category><category>karya sastra</category><pubDate>Sat, 23 Feb 2013 12:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-7498165844857223491</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;, sebuah identitas &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sastra-sebagai-kebebasan-dalam-berfilsafat.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;karya&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;sastra&lt;/b&gt; untuk segala &lt;b&gt;macam&lt;/b&gt; &lt;b&gt;sastra&lt;/b&gt; dan kesusastraan yang tumbuh dan berkembang di Asia Tenggara. Berikut penjelasan singkatnya mengenai Pemahaman &lt;u&gt;&lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; berdasarkan &lt;b&gt;pengertian&lt;/b&gt; dan perkembangannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/memahami-sastra-indonesia.html"&gt;Memahami pengertian Sastra Indonesia&lt;/a&gt;, sebagai salah satu penalaran pokok yang dilakukan sastrawan maupun seniman sastra itu sendiri terhadap karya sastra pada umumnya. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; itu sendiri merupakan sebuah istilah untuk berbagai macam karya sastra berbahasa melayu yang umumnya merujuk pada macam sastra di Asia Tenggara.&amp;nbsp; Istilah “Indonesia” mengandung makna yang lebih mengkhususkan pada lingkup karya sastra yang berada di wilayah Kepulauan Indonesia, yang secara geografis dan perkembangannya identik dengan adat, kebudayaan serta perkembangan masyarakat di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara bahasa, &lt;u&gt;&lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; sebenarnya merupakan suatu &lt;i&gt;karya sastra&lt;/i&gt; yang dihasilkan dan diciptakan berdasarkan perkembangan kebudayaan dan kehidupan masyarakat di Indonesia, yang lebih menekan-khususkan pengertiannya untuk segala macam karya sastra yang berkembang di Indonesia saja. Namun, jika diartikan berdasarkan perkembangannya dewasa ini --setelah mendapat pengaruh berdasarkan kebudayaan dan urutan waktu pada jamannya, “&lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;” memiliki makna yang lebih dispesifikasi, yakni suatu karya sastra yang mencakup segala macam sastra baik lisan maupun tulisan berdasarkan kehidupan masyarakat dan perkembangan budaya keindonesiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;u&gt;Pengaruh dan Perkembangan Sastra di Indonesia Dewasa Ini.&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kasus ini, di mana setiap &lt;i&gt;karya sastra baru&lt;/i&gt; yang tumbuh dan peka terhadap jaman terutama pengaruh modernisai, masih memiliki interpretasi yang tinggi yang terkandung pada nilainya (sastra) namun lebih meluas alurnya pada kebudayaan dan bangsa Indonesia yang didominasi oleh substansi sastra dengan pengaruh kebudayaan asing yang merasuk. Sehingga pemahamannya pun, yang menitik-beratkan pada substansi pokok kandungannya sebagai manifestasi karya sastra, telah mengejawantah dan tumbuh mengakar pada kehidupan bermasyarakat masyarakat indonesia sebagai alinea sastra baru atau sastra modern. Inilah penyebabnya mengapa sastra selalu memiliki pengertian atau makna yang variabel, baik pengertian sastra pada umumnya maupun kesusastraan (sastrawi) sebagai substansi dasar penciptaannya segala macam karya sastra, yang pengaruhnya terdapat pada isi karya sastra itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;u&gt;Sumber dan Inspirasi&lt;/u&gt;:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhamdulillah, akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada Wikipedia [&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Sastra Indonesia&lt;/a&gt;], Asem Manis [&lt;a href="http://asemmanis.wordpress.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Dunia Bahasa dan Sastra Indonesia&lt;/a&gt;], dan beberapa teman blogging lainnya yang (mohon maaf) tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Saya ucapkan terima kasih banyak karena telah memberikan inspirasi dan bahan untuk catatan singkat &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/memahami-sastra-indonesia.html"&gt;Memahami Sastra Sebagai “Sastra Indonesia”&lt;/a&gt; sebagai bentuk ungkapan serta wujud kecintaan saya terhadap &lt;b&gt;Sastra Indonesia&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Sastra Sebagai Kebebasan Dalam Berfilsafat</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sastra-sebagai-kebebasan-dalam-berfilsafat.html</link><category>artikel</category><category>karya sastra</category><pubDate>Fri, 22 Feb 2013 02:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-3760423944926204411</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2TUpfE1ak6GRVREoIJWRO8Xiqpoeh9AaR8NV3xtJKDay-6e1L-sE0TAWgktZZoAKiH-agRjcJh4qMkwGXEi1asNngTb9qcPH8xgt9p5vcYMHx79AGt9qTjiPfQz30uqndWUGQwo5W1uQN/s1600/sastra+sebagai+kebebasan+dalam+berfilsafat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2TUpfE1ak6GRVREoIJWRO8Xiqpoeh9AaR8NV3xtJKDay-6e1L-sE0TAWgktZZoAKiH-agRjcJh4qMkwGXEi1asNngTb9qcPH8xgt9p5vcYMHx79AGt9qTjiPfQz30uqndWUGQwo5W1uQN/s200/sastra+sebagai+kebebasan+dalam+berfilsafat.jpg" height="142" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;[image cropped from google]&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sastra-sebagai-kebebasan-dalam-berfilsafat.html"&gt;Sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat&lt;/a&gt;. Ini yang tampaknya seringkali terlupakan, bahwa pada hakikatnya &lt;u&gt;&lt;b&gt;sastra&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; berasal dari suatu jalan pemikiran dan proses refleksi di mana kehidupan dan manusia yang menjadi objeknya. Sehingga kemudian terciptanya suatu &lt;b&gt;karya&lt;/b&gt; (cipta), baik lisan maupun tulisan, yang di dalamnya terkandung suatu pemikiran atas pencitraan dan&amp;nbsp; penggambaran alam kehidupan yang dituangkannya ke dalam suatu &lt;i&gt;karya&lt;/i&gt;. Maka menjadi lazim, jika di dalam setiap &lt;i&gt;karya sastra&lt;/i&gt; selalu terkandung ide-ide dasar serta sudut pandang yang jika diungkap terdapat adanya suatu pemikiran filsafati sebagai ide (konsep) dasar penciptanya.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dan meski memiliki perbedaan yang signifikan di antara keduanya, &lt;u&gt;sastra dan filsafat&lt;/u&gt; tidak akan pernah terpisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sastra&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang merupakan suatu &lt;i&gt;&lt;b&gt;karya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, baik lisan maupun tulisan, yang diciptakan berdasarkan daya akal (kemampuan nalar) dalam menalarkan pengalaman sebagai interpretasi atas jalan pemikirannya, entah bersifat khayali maupun fakta. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Plato: bahwa “Sastra merupakan hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan. Sebuah &lt;u&gt;karya sastra&lt;/u&gt; harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Karena itu, &lt;i&gt;nilai&lt;/i&gt; &lt;i&gt;sastra&lt;/i&gt; semakin rendah dan jauh dari dunia ide.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Plato yang menegaskan bahwa &lt;u&gt;nilai sastra&lt;/u&gt; semakin rendah dan jauh dari dunia ide, dikarenakan &lt;i&gt;sastra&lt;/i&gt; memang bukanlah gagasan utuh melainkan pengungkapan atau pencitraan yang dilakukan si pencipta mengenai objeknya, yakni alam kehidupan. Begitu pula dengan yang diungkapkan oleh Supardi: bahwa “Sastra merupakan lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.” Sehingga nampaklah pengertian yang mendefinisikan &lt;i&gt;sastra&lt;/i&gt;, di mana ada daya akal (nalar) yang berfungsi untuk menjalankan suatu proses pengaitan antara kenyataan dan pencitraan (gambaran) yang dilatarbelakangi oleh gagasan pokok (ide dan sudut pandang &lt;i&gt;filsafati&lt;/i&gt;) pada suatu &lt;i&gt;karya&lt;/i&gt; yang juga berlandaskan pada alam kehidupan dan manusia sebagai objeknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan &lt;i&gt;&lt;b&gt;filsafat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, merupakan suatu usaha pemikiran yang bersifat radikal dengan unsur-unsur keutuhan objeknya yang luas (yang ada dan yang mungkin ada) yang mana bertujuan untuk mengungkap segala hakikat dengan hakiki. &lt;b&gt;Filsafat&lt;/b&gt; tidak mengindahkan nilai-nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada &lt;b&gt;karya sastra&lt;/b&gt;. Bahkan filsafat tidak memandangnya ada (nilai estetika tersebut) ketika sesuatu yang hakiki yang menjadi dasar tujuan dalam menemukan pemahaman tertentu yang hakiki. Sehingga akhirnya estetika itu sendiri kemudian menjadi satu pandangan khusus (bidang ilmu) yang dicari kehakikiannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak filosof-filosof yang mendefinisikan &lt;i&gt;filsafat&lt;/i&gt; secara maknawi yang mana pada hakikatnya filsafat itu sendiri menjadi suatu bagian pokok bagi semua ilmu yang dilahirkannya kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jelaslah pula, bahwasannya &lt;b&gt;sastra dan filsafat&lt;/b&gt; merupakan dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. “Ibarat dua sisi mata uang, di mana yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan lainnya; di mana sifatnya yang komplementer, saling melengkapi,” begitu kata Maman S. Mahyana, dalam artikelnya yang berjudul &lt;a href="http://mahayana-mahadewa.com/2008/11/27/hubungan-sastra-dan-filsafat/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Hubungan Sastra dan Filsafat&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun, jika ditilik berdasarkan nilainya, tentu saja tidak bisa disamakan pula, di mana seorang &lt;i&gt;seniman sastra&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;sastrawan&lt;/i&gt; yang membatasi radikalistisnya dengan menahan diri pada pengambilan sub-ide atas ide (konsep manusiawi) yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kemampuan nalarnya untuk segera dilakukan pengambilan kesimpulan berupa pengungkapan, pencitraan dan sebagainya. Adapun seorang filosof sudah tentu dia akan mendapati dirinya menjadi seorang seniman sastra atau bahkan sastrawan ketika di mana ia harus menuangkan hasil pemikiran radikalnya (ide) ke dalam bahasa maupun tulisan, atau bahkan di saat ia harus menelusuri makna hakiki tentang sastra itu tersebut beserta segenap cabang ilmu di dalamnya, sedangkan sifat pemikirannya yang radikalistis (filosofis) tidak akan lepas selama membentangkan makna filosofisnya sedalam dan seakurat mungkin, yakni sampai pada menghasilkan satu kebenaran yang bisa dibenarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran seseorang dalam menuliskan suatu &lt;u&gt;&lt;b&gt;karya sastra&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; maupun &lt;i&gt;karya tulis&lt;/i&gt; umumnya, sangat menentukan untuk menunjang kebutuhan tujuannya itu sendiri; di mana nalar menjadi dasar dan daya pikir (pengaitan, penerapan, pencitraan) menjadi unsur sehingga terciptanya kualitas yang dapat diukur dengan logika dan rasio. Dan karena itu pula, maka mulai dari &lt;i&gt;&lt;b&gt;karya sastra&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (sastra) hingga seorang sastrawan sekalipun, mereka adalah seorang filosofis yang menumpahkan idenya ke dalam bahasa lisan maupun tulisan. Ide yang pada awalnya berasal dari proses refleksi atas kehidupan dan manusia sebagai objek vitalnya, lalu kemudian menjadi suatu alur yang dialiri seni sehingga terciptalah sebuah &lt;u&gt;karya sastra&lt;/u&gt; yang telah mengandung sudut pandangan dan karakter si pembuatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang pada akhirnya mampu membawa realitas ini menuju &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sebuah-pengantar-kehidupan-besar.html" target="_blank"&gt;kehidupan besar&lt;/a&gt;. Sebuah pemikiran yang jenius. Sebuah radikalisme yang tumbuh di bawah logika dan rasionalisme yang tinggi, sehingga segala sesuatunya selalu mendasar dan bertujuan untuk saling melengkapi. Melalui pemikiran yang filosofis itulah, kehidupan akan menjadi seni yang memukai bagai &lt;u&gt;karya seni seniman sastra&lt;/u&gt;, di mana telah ditemukan di dalamnya &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sastra-sebagai-kebebasan-dalam-berfilsafat.html"&gt;sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2TUpfE1ak6GRVREoIJWRO8Xiqpoeh9AaR8NV3xtJKDay-6e1L-sE0TAWgktZZoAKiH-agRjcJh4qMkwGXEi1asNngTb9qcPH8xgt9p5vcYMHx79AGt9qTjiPfQz30uqndWUGQwo5W1uQN/s72-c/sastra+sebagai+kebebasan+dalam+berfilsafat.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699532000000005 106.5659205 -6.0648702 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/hancurnya-kehidupan-perdamaian-manusia.html</link><category>artikel</category><category>karya sastra</category><pubDate>Thu, 21 Feb 2013 13:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-556552140707877531</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/hancurnya-kehidupan-perdamaian-manusia.html"&gt;&lt;b&gt;Kehidupan perdamaian manusia&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; tengah terusik dan mengalami &lt;b&gt;kehancuran&lt;/b&gt;. Ketidakseimbangan hidup telah menimbulkan pertentangan antar golongan tertentu. Sebagai bukti kekerasan yang terjadi dengan mengatasnamakan Islam, sehingga kontroversi disetiap kalangan memicu terjadinya kerusuhan yang semakin serius. Seperti yang dikutip dalam majalah &lt;i&gt;Muslimah edisi 09 tahun 2003&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; hingga pada akhirnya Islam disalah mengerti karena selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah oleh musuh-musuh Islam, dan terkadang orang Islam sendiri yang tidak memahami Islam&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;u&gt;&lt;b&gt;Hancurnya kehidupan perdamaian manusia&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; tersebut disebabkan oleh manusia itu sendiri. Berawal dari individu yang kemudian berdampak pada lingkungan. Lemahnya keyakinan terhadap Tuhan menjadi alasan tepat, sehingga kehidupan antar sesama menjadi persaingan kotor demi mendapatkan kejayaan dan keuntungan bagi diri sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut ulama Sufi jaman dahulu, &lt;b&gt;kerusuhan di dunia&lt;/b&gt; ini terjadi disebabkan oleh dua keadaan. Pertama, karena manusia itu tidak percaya adanya Tuhan. Kedua, karena manusia itu terlalu mencintai dirinya sendiri. Bagaimana seseorang dapat mencintai agamanya, sedangkan ia tidak mengerti dan tidak memahami agamanya. Begitu pula dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan terhadap Tuhan, mana mungkin ia dapat mengenali Tuhannya dengan baik. Jika sudah demikian, manusia itu tidak akan patuh dan tidak akan takut terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedangkan sebab yang kedua mengakibatkan manusia itu menjadi serakah, mencintai harta yang berlimpah, mencintai kedudukan yang tinggi, mencintai nama yang harum dan masyhur, mencintai anak isteri yang berlebih-lebihan, dan bahkan menjadikan manusia di sekitarnya sebagai lawan saing yang harus ditumbangkan. Hal demikian membawa manusia kepada kecintaan yang sangat kepada dunia dan ingin hidup kekal di dalamnya. Padahal, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesenangan yang mereka rasakan tidak akan berlangsung lama. Segala yang mereka cintai tidak akan membawanya kepada kebahagiaan hakiki. Sebagaimana firman Allah swt., “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat lebih baik untuk orang-orang bertakwa.” (QS. An-Nisaa`: 77)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan firman Allah swt., “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al-An`aam: 32)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam surat Al-Hasyr ayat 18, Allah swt. juga berfirman, “Dan hendaklah setiap diri (seseorang) memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok.” Maksudnya, hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang diperbuatnya itu, bermanfaat ataukah tidak. Sebagai investasi untuk hari yang akan datang, yaitu akhirat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Namun, kebanyakan manusia itu sibuk menumpuk harta, padahal hartanya tersebut tidak akan dibawanya ketika meninggal. Atau, ada juga yang sibuk berlomba-lomba mengejar kedudukan yang tinggi. Padahal, belum tentu juga apa yang dikejarnya itu dapat memberinya kebahagiaan di akhirat kelak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hati dan pikiran mereka telah digelapkan oleh &lt;b&gt;hawa nafsu&lt;/b&gt;. Sedangkan, kecintaannya kepada dunia yang berlebih-lebihan itu membuatnya melupakan akhirat dan selalu sibuk dengan urusan duniawi. Mereka pun menjadi tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Penyakit hatinya tersebut terus menggerogoti dan menyeretnya kepada kekufuran kepada Allah Swt. Padahal, matinya hati adalah lebih keji dan celaka daripada matinya jiwa manusia yang tak lepas dari dosa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;Imam Al-Ghazali&lt;/b&gt; berkata dalam kitab &lt;i&gt;Mukhasyafatul Qulub&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Sesungguhnya hawa nafsu yang mengarahkan manusia kepada kejahatan, dan ia lebih jahat daripada iblis&lt;/i&gt;”. Karena, hawa nafsu yang dijadikan sebagai senjata oleh setan itu hanyalah menipu manusia dengan angan-angan kosong dan kesenangan sesaat, yang akhirnya menjerumuskan manusia kepada kesesatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak ada lagi solidaritas terhadap sesama, hilangnya rasa saling menghargai antar sesama manusia, dan lenyapnya rasa cinta dan persaudaraan kepada sesama. Lebih dari itu, hancurnya suatu bangsa akibat dari rusaknya akhlak dan moral manusia itu sendiri. Sehingga dampaknya dirasakan pula oleh semua orang, baik disadari ataupun tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan bodoh”. (QS. Al-Ahzab: 72). Kezhaliman manusia yang tiada lain hanyalah menzhalimi dirinya sendiri. Sebab, setiap apa yang diperbuat manusia hanyalah untuk manusia itu sendiri, baik amal yang baik maupun amal yang buruk. Sedangkan Allah swt. hanya akan menghakimi manusia itu dan membalasnya dengan pahala ataukah siksa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Firman Allah swt., “Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa kamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai Rasul bagi seluruh manusia, dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisaa`: 79)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Semua itu merupakan sebab-akibat &lt;b&gt;&lt;i&gt;hancurnya kehidupan perdamaian manusia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang berasal dari kehidupan manusia itu sendiri yang zhalim. Tidak dapat dikatakan mutlak sebagai takdir Allah swt., karena Allah swt. telah menurunkan kebenaran melalui petunjuk rasul-Nya untuk diikuti oleh semua umat manusia. Yaitu Islam, yang diturunkan sebagai agama Allah yang cinta damai. Di dalamnya terdapat kebenaran hakiki yang memanusiakan manusia menurut fitrah yang sebenarnya. Maka sesatlah manusia yang tidak mengikuti petunjuk kebenaran tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Firman Allah swt., “Dan sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat (kebenaran), dan tidak ada yang ingkar kepadanya kecuali orang-orang yang fasik (durhaka)”. (QS. Al-Baqarah: 99)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan rasa kasih sayang itu seratus bagian. Yang sembilan puluh sembilan disimpan di sisi-Nya, sedangkan yang satu bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah para makhluk saling berkasih sayang, sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak”. (Shahih Bukhari terjemah kitab At-Tajridush Sharih)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena itu, sudah menjadi keharusan sebagai manusia untuk &lt;b&gt;menjaga dan memelihara perdamaian&lt;/b&gt; di muka bumi ini. Mengendalikan kehidupan dengan sikap normal dan sewajarnya, sehingga terbentuklah kehidupan yang seimbang dan penuh dengan kasih sayang. Sebagaimana yang dikatakan oleh H. Aboebakar Atjeh dalam buku Pengantar Ilmu Tarekat, “Bahwa perdamaian itu adalah perseimbangan, jika perseimbangan itu tidak terdapat maka terjadilah pertentangan antara pribadi seorang manusia dengan manusia lainnya”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perseimbangan yang dimaksud ialah seimbangnya unsur-unsur penggerak kehidupan ruhani manusia. Seperti pendapat yang dikemukakan orang Sufi terdahulu, bahwa kehidupan lahir itu hanya merupakan akibat dari apa yang dilakukan manusia. Sedangkan kehidupan manusia digerakkan oleh tiga pokok, yaitu syahwat (hawa nafsu),&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; `aqal (akal), dan ghadhab (kegiatan). Jika ketiganya itu seimbang, maka hidup manusia menjadi normal dan wajar. Dengan kata lain, jika ketiganya ini dapat dikuasai dengan baik maka tidak akan ada salah satunya yang berlebihan. Karena, jika salah satunya melebihi yang lain (tidak seimbang), maka kehidupan manusia itupun menjadi abnormal atau tidak wajar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Namun, ketiga unsur penggerak kehidupan ruhani manusia itu berasal dari yang satu, yaitu syahwat. Syahwat atau hawa nafsu itulah yang menyebabkan timbulnya keinginan hingga kemudian menggerakkan kehidupan manusia. Dengan demikian, jika hawa nafsu itu berlebihan maka keinginan yang timbul pun menjadi tidak wajar bagi kehidupan seorang manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Manusia itu sendirilah yang menentukan apakah ia akan menjadi manusia yang baik atau buruk. Sebagaimana firman-Nya, “Allah tidak menjadikan seseorang dua hati di dalam rongganya”. (QS. Al-Ahzab: 4). Bahwa Allah swt. Tidak menciptakan kebaikan dan keburukan sekaligus secara utuh bersamaan keduanya di dalam hati seseorang. Namun, kembali kepada manusia itu sendiri bagaimana mengendalikan dan mengarahkan syahwatnya sehingga membentuk hati yang baik ataukah buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedangkan syahwat tidak akan sempurna dikendalikan tanpa adanya akal dan ghadhab. Adapun ilmu, merupakan syarat mutlak penghidupan yang dicerna oleh akal sehingga melahirkan akhlak yang sempurna bagi seorang manusia. Sebagai contoh, akhlak yang mulia para Sufi tidak akan terbentuk tanpa adanya ilmu dan pengendalian hawa nafsu. Maka lahirlah hasilnya, kehidupan perdamaian manusia yang tentram dan sejahtera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak ada istilah keterlambatan dalam melakukan perubahan. Sebelum terbitnya matahari dari barat dan penyesalan yang tiada gunanya, saat kehancuran besar menghentikan putaran waktu. Dengan memulainya dari diri sendiri (individual) demi terciptanya sebuah perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik, dan dari yang benar untuk terus menebarkan kebenaran. Dan ingatlah yang difirmankan Allah swt., “Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang selalu kembali kepada Tuhan dan senantiasa memelihara fitrah dan amal perbuatannya, yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dalam keadaan menyendiri datang (kepada Allah) dengan hati bertaubat”. (QS. Qaaf: 32-33)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditulis Oleh: Fariz Huzairi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Artikel &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/hancurnya-kehidupan-perdamaian-manusia.html"&gt;&lt;b&gt;Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; ini telah diterbitkan di &lt;a href="http://www.karawanginfo.com/?p=6383" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.karawanginfo.com&lt;/a&gt; dengan judul yang berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-01.html</link><category>artikel</category><category>karya sastra</category><category>puisi</category><pubDate>Thu, 21 Feb 2013 00:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-8624924811091969196</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;Antologi Puisi&lt;/b&gt;. Antologi puisi &lt;b&gt;Sastra Berduri&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1842024545723487687"&gt; &lt;/a&gt;yang berjudul “&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-01.html" target=""&gt;Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia&lt;/a&gt;”&lt;br /&gt;
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai &lt;u&gt;&lt;b&gt;antologi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi setangkai &lt;u&gt;&lt;b&gt;puisi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, dipersembahkan untuk mereka yang memiliki perasaan abadi, yang membulatkan tekadnya untuk selalu mensucikan cinta sejati.&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Antologi Puisi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, &lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Sastra Berduri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzx1bgUOK6-S8dJcFGgjtL8PDRLf7rvcpdZdbpVplzsEI7RNH6Jni31pj8sL6bBMX2z71lhbaGtFsVIBOeWWbYEvq8fvNNcDKRfIV5zAhopAhRQ_hmpXAFmGJbVHfudUZ9aW4lhHQFukAw/s1600/antologi+puisi+sastra+berduri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="antologi puisi sastra berduri" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzx1bgUOK6-S8dJcFGgjtL8PDRLf7rvcpdZdbpVplzsEI7RNH6Jni31pj8sL6bBMX2z71lhbaGtFsVIBOeWWbYEvq8fvNNcDKRfIV5zAhopAhRQ_hmpXAFmGJbVHfudUZ9aW4lhHQFukAw/s200/antologi+puisi+sastra+berduri.jpg" height="100" width="280" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Antologi Puisi Sastra Berduri, Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;"Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya sungai, hingga ke lautan;&lt;br /&gt;
Seribu anak sungai bahkan menuju samudera...&lt;br /&gt;
Awalnya kering hingga membanjiri, padahal bunga telah merekah dan&lt;br /&gt;
harumnya pun sudah tinggal sampai di mata-mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guratan nasib tidak membungkus sarapan yang telah lalu,&lt;br /&gt;
juga tidak membawa makanan untuk hari yang tak pernah ada,&lt;br /&gt;
hanya saja takdir yang membatasi nafsu untuk merangkul dan memikul,&lt;br /&gt;
namun tidaklah ia menahanmu untuk tetap bersahaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derita jika kau katakan, “Ini derita!”&lt;br /&gt;
Dan duka jika kau &lt;span style="font-size: small;"&gt;nyata&lt;/span&gt;kan, “Ini rasanya!”&lt;br /&gt;
Namun cinta, sungguh! Jika kau pahami cinta, jauh dari apa yang telah kau lihat selama di dunia ini,&lt;br /&gt;
selama hidupmu, cinta, tak pernah membawa apa-apa...&lt;br /&gt;
kecuali nurani dan hatimu yang menjiwainya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sungguh, kuungkap semua ini bukan karena nasib atau takdir yang &lt;i&gt;mencengkeramku&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;
atau juga karena pandang-jiwaku, melainkan karena aku menatapnya;&lt;br /&gt;
karena aku menyantapnya dengan jiwaku,&lt;br /&gt;
dan inilah bahwasannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungai takkan sampai jika tak ditakdirkan untuk selalu merindukan samudera,&lt;br /&gt;
juga lautan takkan tenang jika saja ombak tak menghiasi damainya.&lt;br /&gt;
Seperti apa yang kau lihat&lt;br /&gt;
pada setangkai bunga mawar itu, yang telah tumbuh dan lalu meninggalkan masanya,&lt;br /&gt;
bukankah tak berarti itu tanpa arti, jika harumnya sempat menghiasi dunia!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Fariz Huzairi, di Jakarta, 20 Februari 2013.&lt;br /&gt;
Dalam &lt;b&gt;Antologi Puisi &lt;/b&gt;Sastra Berduri yang berjudul&amp;nbsp; “&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/antologi-puisi-sastra-berduri-01.html"&gt;Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia&lt;/a&gt;”&lt;br /&gt;
Sebuah Coretan Sastra dalam &lt;u&gt;&lt;b&gt;Antologi Puisi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, &lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; Sastra Berduri.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzx1bgUOK6-S8dJcFGgjtL8PDRLf7rvcpdZdbpVplzsEI7RNH6Jni31pj8sL6bBMX2z71lhbaGtFsVIBOeWWbYEvq8fvNNcDKRfIV5zAhopAhRQ_hmpXAFmGJbVHfudUZ9aW4lhHQFukAw/s72-c/antologi+puisi+sastra+berduri.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Sebuah Pengantar Kehidupan Besar</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sebuah-pengantar-kehidupan-besar.html</link><category>artikel</category><category>karya sastra</category><category>pengantar</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-1647985494709791431</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inilah sebuah Anugerah, &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sebuah-pengantar-kehidupan-besar.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Sebuah Pengantar Kehidupan Besar&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kehidupan besar&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Rahasia yang mengagumkan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;! Ketika setiap anak menyadari apa yang telah dialaminya selama ini(?); atas apa yang telah didapatkannya sejauh ini(?), dan atas apa yang telah diperbuat dan dilakukan serta diusahakannya hingga seusia kini(?); maka untuk apa serta kepada siapa akhir tujuan hidupnya itu diberikan(?).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Inilah kehidupan yang penuh dengan mistik&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; --bagi beberapa orang yang mempercayainya sebagai keajaiban belaka, mistik tidaklah berarti apa-apa selain prasangka dan fanatisme-- di atas moral yang logis dan berlapis kemanusiaan serta ketuhanan yang nyata!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka saya mengatakan bahwa kehidupan ini amatlah rasional, tak cukup hanya dengan akal dan logika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti kehidupan yang sebelumnya saya rasakan yang sangatlah penuh dengan keterbatasan, ternyata memiliki keluasan yang tiada batasnya ketika saya dapat berinteraksi dan berbagi melalui blog ini. Sebuah nikmat yang luar biasa, sebagai karunia dari Sang Pencipta, tiada lain agar kita selalu saling menjaga kehidupan sosial di atas individu sebagai makhluk manusia yang memang tidak memiliki kesempurnaan kecuali dengan cara saling melengkapi demi memenuhi seperangkat kebutuhan dasar untuk melakukan hidup dan terus memahat diri hingga mendapatkan hari esok yang kita inginkan sebaik mungkin: Itulah sekiranya yang menurut saya dinamakan &lt;u&gt;&lt;i&gt;Nilai Sejati&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;!&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaf0pLOCcyQq-7yTdyxX2kuPhr9moZ9hSnsedSuuREK4zsiG1Fae3kAkQWwsuBJcHvzOgZk95QYWOr2JjqAHiI2L6mww3y-Zi1vmbcyy-RVGAhBSyvJiaD7vsi3XrNzEx3U-YlZfUUGO2Q/s1600/sastra+berduri+indonesia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="sastra berduri, sebuah pengantar kehidupan besar" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaf0pLOCcyQq-7yTdyxX2kuPhr9moZ9hSnsedSuuREK4zsiG1Fae3kAkQWwsuBJcHvzOgZk95QYWOr2JjqAHiI2L6mww3y-Zi1vmbcyy-RVGAhBSyvJiaD7vsi3XrNzEx3U-YlZfUUGO2Q/s200/sastra+berduri+indonesia.jpg" height="150" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sastra Berduri, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lentera yang terang dan yang terkadang meredup....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Logika yang seringkali dibanggakan oleh seseorang dan sebagian banyak orang ternyata tak membendung akal untuk masuk lebih dalam, yakni melalui rasio yang kita bawa sejak lahir yang ternyata selalu menangkap kesalahan dan kekurangan atas apa yang terlihat sebagai hal yang mengagumkan yang dicipta manusia. Namun sebagaimana kebijaksanaan yang telah Tuhan berikan kepada Manusia terpilih, juga kepada makhluk seluruhnya, bahwa harga dan nilai itu sejatinya adalah untuk dihargai bukan untuk dimunafikkan. Maka itu mustahil jika hasrat tak dapat ditahan, dan jika nurani tak dapat dipergunakan menyertai kesabaran dan kemampuan yang mapan, sebab anak manusia sama dilahirkan dan sama saling bertautan: sebagai rantai kehidupan yang mempertautkan masa yang satu dengan masa berikutnya, antara jaman yang satu dengan jaman selanjutnya, dan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan setelah kematian seluruhnya. Inilah Kebijaksanaan Besar: kebijaksanaan untuk saling menghargai, kebijaksanan untuk saling menyadari, serta kebijaksanaan untuk yang tiada pernah mendapat kesempuranaan, di mana hanya jiwa itulah yang tunduk dan patuh pada kekekalan abadi --keabadian atas izin Sang Pemilik kebijaksanaan dan kematian-- baik maupun buruk akhirnya manusia itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan akhirnya... hanya kepada Sang Penciptalah, penulis tunduk dan mengabdi, seraya memohon pertolongannya agar senantiasa selalu dipertemukan dengan pembaca dan sekawanan manusia yang selalu ingin memperbaiki nilainya tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan sesama manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sastra Berduri, &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/sebuah-pengantar-kehidupan-besar.html" target="_blank"&gt;Sebuah Pengantar Kehidupan Besar&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[fariz huzairi] Jakarta, 10 februari 2013&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaf0pLOCcyQq-7yTdyxX2kuPhr9moZ9hSnsedSuuREK4zsiG1Fae3kAkQWwsuBJcHvzOgZk95QYWOr2JjqAHiI2L6mww3y-Zi1vmbcyy-RVGAhBSyvJiaD7vsi3XrNzEx3U-YlZfUUGO2Q/s72-c/sastra+berduri+indonesia.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Pengantar Blog Sastra Berduri</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/pengantar-blog-sastra-berduri.html</link><category>pengantar</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-23314631876299670</guid><description>Selamat Datang di Blog &lt;b&gt;&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/"&gt;Sastra Berduri&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inilah saatnya tak hanya jaman yang mengalami perkembangan dan perubahan yang didasari kreatifitas dan inovasi!!! Karena kehidupan baru yang lebih baik dan mapan hanya akan tercipta secara nyata melalui perubahan individu yang mendasar, yaitu &lt;b&gt;Konsep Berpikir&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas, apa yang menjadi kekeliruan pemikiran setiap orang jika dinyatakan bahwa kehidupan baru yang lebih baik dan mapan hanya akan tercipta dengan cara berpikir setiap individu?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu diperhatikan lebih mendalam, bahwa begitu banyak &lt;i&gt;perdagangan&lt;/i&gt; yang telah mengalami &lt;i&gt;transaksi&lt;/i&gt; dan bahkan sudah &lt;i&gt;dikonsumsi&lt;/i&gt; oleh banyak konsumen di negeri ini, bahkan di dunia ini, yang tanpa sadar telah menjadi sekarung nasi di lapar nan dahaganya sendiri. Namun seberapa liter beras yang mereka dapat dari hasil panen ladangnya sendiri? Seberapa gelas air yang didapat dari hasil galian sumur di halaman belakang rumahnya sendiri? Cukupkah mereka menahan hasrat untuk hidup layak sementara kambing dan domba terus melahap pagarnya dengan cara menukarnya dengan sepotong keju dan roti bakar? Dan seberapa berat lagi serta banyaknya beban yang harus ditanggung hari ini dan esok, beserta anak-istri mereka?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui cara inilah: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Seni Dalam Berpikir&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;b&gt;Berbahasa Dengan Akal&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Bercengkrama Dengan Sastra Dalam Diri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, sehingga pada akhirnya mampu menciptakan peluang yang real untuk menatap dunia modern yang serba saling-menguntungkan ini berjalan dan memperbaikinya dengan unsur keindahan dan kelembutan yang terkandung. Sebab sejatinya, seni tidak pernah menghancurkan selain hanya bertujuan menciptakan keindahan yang tentram dan mendamaikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Sastra Berduri&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Goresan Pena Klasik Yang Menjerit&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, sebagai ungkapan bahwa Sang Penulis blog ini cukup antusias untuk menyampaikan beberapa konsep yang perlu untuk dipahami dalam menciptakan nilai seni dalam diri, atau lebih tepatnya untuk mencari nilai seni dalam kehidupan diri setiap pribadi. Namun, ada bebrapa hal yang sebelumnya harus diketahui dan perlu dipahami:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya tidak mengklaim siapa diri saya dan dari mana saya berasal. Karena menurut saya, tidak ada batasan untuk merealisasikan suatu pemahaman selama itu tidak mengandung unsur paksaan dalam cara apa pun dan dengan alasan apa pun. Latar belakang yang seringkali menjadi topik permasalahan pun, menurut saya, bukanlah alasan untuk menjadikan atau menciptakan suatu sikap yang membedakan satu sama lain. Yang perlu saya tegaskan adalah, bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan seperti apa dan apa yang mendasari jalan pemikirannya sekarang atau pun kemudian. "Inilah demokrasi!" Begitu katanya. Maka bersikaplah terbuka dengan segala pemikiran positif dan persepsi yang objektif yang dalam konteks ini tidak sama sekali melibatkan persepsi-persepsi belaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya, sebagai pemilik dan penulis sebagian banyak/ seluruh isi dalam materi blog ini sebisa mungkin untuk selalu bersikap terbuka, baik dalam menulis maupun menanggapi kritik dan komentar pembaca yang dikirim melalui online maupun offline. Dan oleh karena itu, perlu saya tegaskan kembali, semoga pembaca yang menyadari atau bahkan memiliki pendapat lain agar saling menghargai dan saling membagi pemahaman dengan cara yang sopan dan diskusi yang aman. Namun saya yakin, bahwa sebagian besar pembaca media online memiliki hati yang lapang dan bijak jika ada kekeliruan atau segelintir kata yang &lt;i&gt;menyulap&lt;/i&gt; hati Anda maka mohon untuk dibukakan pintu kebijaksanaannya selapang mungkin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terima kasih,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sastra Berduri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1272.photobucket.com/albums/y388/Fariz_Huzairi/sastraberduri3_zpsf3691440.png" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="sastra berduri indonesia" border="0" height="150" src="http://i1272.photobucket.com/albums/y388/Fariz_Huzairi/sastraberduri3_zpsf3691440.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pena Sastra Berduri Indonesia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Terlampau Merindukanmu, Ayah</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/terlampau-merindukanmu-ayah_20.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-5993214383403745996</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Puisi&lt;/i&gt; &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/terlampau-merindukanmu-ayah_20.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Terlampau Merindukanmu, Ayah&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Sastra Berduri Indonesia&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bergetar tubuhku di teriknya waktu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bergemuruh rindu kubaca seorang diri, memburu&lt;br /&gt;
menatap angin yang sunyi berhalang&lt;br /&gt;
di antara dua ruang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bahkan lebih&lt;br /&gt;
di sudut malam yang hanya nampak angan mati&lt;br /&gt;
di sepasang semangat dan sisa-sisa mimpi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di mana? tak berteriak engkau di telingaku, juga tak berkibar&lt;br /&gt;
langkahmu tak menyuarakan hidupku. Ayah...&lt;br /&gt;
engkau di mana, Ayah? Dengar!&lt;br /&gt;
Bayimu kini telah dewasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka pulanglah&lt;br /&gt;
menderu dingin dengan hangatmu&lt;br /&gt;
meski di sepertiga malamku yang hampir habis&lt;br /&gt;
dan bacalah sisa-sisa air mataku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/terlampau-merindukanmu-ayah_20.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Terlampau Merindukanmu, Ayah&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Sastra Berduri Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
[fh] 9 April 2010&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/ketika-kabar-duka-membunuh-malam-pertama_20.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-7692433178884899682</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;i&gt;Puisi&lt;/i&gt; &lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/ketika-kabar-duka-membunuh-malam-pertama_20.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Sastra Berduri Indoesia&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
telah habis terhapus senja&lt;br /&gt;
terpupuk rindu, cintaku&lt;br /&gt;
setelah sang mentari garang kunikmati lara&lt;br /&gt;
di langit sendu menatapku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kasih,&lt;br /&gt;
sesungguhnya bulan purnama itu ada&lt;br /&gt;
dan malam senantiasa bersenandung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di syahdunya senyuman&lt;br /&gt;
di tepian rindu yang hampir berkilauan&lt;br /&gt;
semua itu ada!&lt;br /&gt;
di indahanya kisah yang kini berakhir, seketika&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kasih,&lt;br /&gt;
bukan malam pertama yang kunikmati kini&lt;br /&gt;
pun sang rembulan, tak kuasa bersinar untukku&lt;br /&gt;
sebab ragamu kini tak lagi menyimpan jiwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[fh] 13 April 2010&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/ketika-kabar-duka-membunuh-malam-pertama_20.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karya Pena&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Sastra Berduri Indoesia&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Tentang Mimpi [2]</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/tentang-mimpi2.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-2155892945192917547</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
tentang mimpi dan hari kemarin,&lt;br /&gt;
yang kini pagi telah membelahnya&lt;br /&gt;
menjaga apa yang didapatkan&lt;br /&gt;
tentang hari ini yang aku lalui,&lt;br /&gt;
hanyalah langkahku untuk terus menjagamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[fh] 13 Desember 2007&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Tentang Mimpi [1]</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/tentang-mimpi1.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:04:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-7984684486554342355</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
tentang mimpi dan apa yang aku miliki,&lt;br /&gt;
itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari&lt;br /&gt;
mencari apa yang belum ia temukan&lt;br /&gt;
tentang apa yang aku miliki,&lt;br /&gt;
hanyalah harapan, untuk membawamu terbang bebas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[fh] 2 Nopember 2007&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Tentang Malam</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/tentang-malam_20.html</link><category>karya sastra</category><category>puisi</category><category>sajak</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 08:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-4937789979990006524</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
tentang malam yang tak pernah berakhir&lt;br /&gt;
aku terjaga bagaikan sang Penjaga Waktu&lt;br /&gt;
yang bertanya dengan kebisuannya...&lt;br /&gt;
tentang malam,&lt;br /&gt;
ketika pagi menguliti kegelapan&lt;br /&gt;
bayangnya berjalan di antara siang&lt;br /&gt;
hingga langit menangis tersedu,&lt;br /&gt;
sedangkan pelangi itu adalah kebisuan yang terpancar&lt;br /&gt;
dan bayang itu adalah dirimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[fh] 6
Desember 2007 &lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><title>Abi dan Cinta Sejati</title><link>http://sastraberduri.blogspot.com/2013/02/abi-dan-cinta-sejati.html</link><category>karya sastra</category><category>my diary</category><category>roman</category><pubDate>Wed, 20 Feb 2013 07:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1842024545723487687.post-8610586401866870016</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
[Kisah ini diceritakan oleh serang gadis, saat di
mana ia melantunkan syair-syair cinta dalam penantiannya.]
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Abi dan Cinta Sejati&lt;/b&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku punya sebuah cerita... Sebelum aku bertemu
denganmu, aku selalu meminta agar ada seseorang yang datang kepadaku, yang bisa
menemaniku saat suka maupun duka. Akan tetapi doaku belum juga terkabul. Hingga
kemudian datanglah seorang Abi. Ya, nama itu aku berikan kepadanya. Abi
bukanlah manusia. dia bagaikan malaikat, laki-laki khayalan yang nyata yang
selalu ada di sampingku, yang menemaniku di saat suka dan duka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abi selalu memberiku semangat, agar aku tidak
terjatuh, agar aku tidak bersedih. Dia tahu apa yang aku mau dan yang aku
butuhkan. Meski memang, dia hanyalah khayalan, namun aku merasakannya begitu
nyata. Abi selalu menjadi imam dalam setiap tahajjudku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas aku berdoa: "Semoga Abi menjadi
manusia nyata."&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan sejak aku mulai merasa lelah mencari Tuhanku,
dan di saat aku merasa imanku begitu melemah, aku kehilangan Abi. Aku
mencarinya dalam setiap tahajjudku, dalam setiap doa dan malamku. Aku menangis
mengingat dosa yang selama ini pernah kuperbuat. Abi benar-benar hilang. Ia
meninggalkanku sendiri dalam hening dan denyut yang gersang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Aku tidak mau kehilangan Abi!"&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku terus berdoa dan mencarinya... dalam setiap
tahajjudku, dalam setiap doa dan malamku, dan dalam kegundahan yang datang
setiap waktu. Sampai akhirnya mimpi itu datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abi datang dalam mimpiku. Hatiku pun bahagia. Abi
mengajakku shalat di sebuah masjid. Dia banyak memberiku kata-kata yang
menyejukkan seperti Telaga Kautsar. Abi menyayangiku, Abi mencintaiku, dan aku
begitu merasakan Abi selalu hendak membawaku menuju Istana Suci.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun ternyata itu adalah pertemuanku yang
terakhir degannya. Abi pergi, Abi meninggalkanku, Abi menjauhiku dari dunia
yang nyata ini. Dan Abi sempat berkata kepadaku, sebelum ia hilang membawaku di
atas goresan takdir ini, ia mengatakan bahwa doaku akan segera terjawab; aku
akan menemui seorang lelaki yang sangat mencintaiku, yang rela berkorban dan
berubah demi Allah dan aku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bersedih mengingat Abi. Aku menangis
kehilangan Abi. Tidak ada lagi yang membangunkanku untuk shalat malam. Tidak
ada lagi imamku. Namun aku bahagia, karena kesedihanku akan tergantikan oleh
kedatangan seorang lelaki yang akan menjadi teman hidupku, seorang lelaki yang
akan menjadi imamku, seorang lelaki yang akan menjadi suamiku di suatu saat
nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Semoga engkaulah doaku yang tertunda...
orang yang kucari, yang dapat membawaku untuk meraih Cinta Sejati."&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[mk] &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Desember
2007&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jakarta Timur, Jakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.3174117 106.888644</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5699542 106.5659205 -6.0648692 107.2113675</georss:box><author>fariz.huzairi@yahoo.com (Anonymous)</author></item></channel></rss>