<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>SekarMadjapahit</title>
	<atom:link href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com</link>
	<description>[ information and publish learning | WordPress.com site untuk belajar, bekerja dan sharing ]</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Nov 2012 04:31:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="sekarmadjapahit.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/b568fb67e3fcec91933be30865914070d7c0d0d302437952ab28eed45a1bd625?s=96&amp;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SekarMadjapahit</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="SekarMadjapahit" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>[ information and publish learning | WordPress.com site untuk belajar, bekerja dan sharing ]</itunes:subtitle><item>
		<title>PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) PADI SAWAH</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/04/29/ptt-padi-sawah/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/04/29/ptt-padi-sawah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 09:21:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[USAHA TANI]]></category>
		<category><![CDATA[bagan warna daun]]></category>
		<category><![CDATA[BWD]]></category>
		<category><![CDATA[cara seleksi benih bermutu]]></category>
		<category><![CDATA[intermittent irrigation]]></category>
		<category><![CDATA[komponen teknologi PTT]]></category>
		<category><![CDATA[pasca panen padi]]></category>
		<category><![CDATA[pemupukan berimbang]]></category>
		<category><![CDATA[pengairan berselang]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan tanaman terpadu]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan tanaman terpadu padi sawah]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian gulma]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian hama dan penyakit terpadu]]></category>
		<category><![CDATA[PHT]]></category>
		<category><![CDATA[PTT padi sawah]]></category>
		<category><![CDATA[sistem tanam jajar legowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=347</guid>

					<description><![CDATA[PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah merupakan sebuah inovasi untuk menunjang peningkatan produksi padi. Hal ini dilatarbelakangi karena beras sebagai bahan pangan yang berasal dari padi merupakan bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu sebagai bahan pangan pokok utama padi memegang posisi yang strategis untuk dikembangkan. PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_348" style="width: 390px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-348" data-attachment-id="348" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/04/29/ptt-padi-sawah/ptt-padi-sawah-2/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg" data-orig-size="1110,750" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;5&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;E5700&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1090557399&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;8.9&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0043497172683776&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="PTT Padi Sawah" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Budidaya Padi Melalui PTT&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg?w=620" class=" wp-image-348  " title="PTT Padi Sawah" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg?w=380&#038;h=280" alt="PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi sawah" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-348" class="wp-caption-text">Budidaya Padi Melalui PTT</p></div>
<p align="justify"><strong>PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah</strong> merupakan sebuah inovasi untuk menunjang peningkatan produksi padi. Hal ini dilatarbelakangi karena beras sebagai bahan pangan yang berasal dari padi merupakan bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu sebagai bahan pangan pokok utama padi memegang posisi yang strategis untuk dikembangkan.</p>
<p><span id="more-347"></span></p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usaha tani padi sawah dengan menggabungkan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang dan dengan memperhatikan penggunaan sumber daya alam secara bijak agar memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.</p>
<p align="justify">Pengelolaan Tanaman Terpadu atau PTT padi sawah bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dari segi hasil dan kualitas melalui penerapan teknologi yang cocok dengan kondisi setempat (spesifik lokasi) serta menjaga kelestarian lingkungan. Dengan meningkatnya hasil produksi diharapkan pendapatan petani akan meningkat.</p>
<p align="justify">Sebagai salah satu upaya maupun inovasi untuk meningkatkan produktivitas tanaman penerapan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah didasarkan pada empat prinsip, yaitu :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Terpadu ; bukan merupakan teknologi maupun paket teknologi tetapi merupakan suatu pendekatan agar sumberdaya tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sinergis ; memanfaatkan teknologi pertanian yang sudah dikembangkan dan diterapkan dengan memperhatikan unsur keterkaitan sinergis antar teknologi.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Spesifik lokasi ; memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi pertanian setempat.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Partisipatif ; petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kemampuan petani dan kondisi setempat melalui proses pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Dalam penerapan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah tidak lagi dikenal rekomendasi untuk diterapkan secara nasional karena petani secara bertahap dapat memilih sendiri komponen teknologi yang paling sesuai dengan kemampuan petani dan keadaan setempat untuk diterapkan dengan mengutamakan efisiensi biaya produksi dan komponen teknologi yang saling menunjang untuk diterapkan.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>KOMPONEN TEKNOLOGI PTT PADI SAWAH</strong></p>
<p align="justify">Komponen teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah dirakit berdasarkan kajian kebutuhan dan peluang (KKP) yang akan mempelajari permasalahan yang dihadapi petani dan cara-cara mengatasi permasalahan tersebut dalam upaya meningkatkan produksi sehingga komponen teknologi yang dipilih akan sesuai dengan kebutuhan setempat.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menyediakan beberapa pilihan komponen teknologi yang dikelompokkan menjadi komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan.</p>
<p align="justify">Komponen teknologi dasar adalah sekumpulan teknologi yang dianjurkan untuk diterapkan semuanya sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi dengan input yang efisien sebagaimana menjadi tujuan dari PTT. Komponen teknologi dasar PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah meliputi :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan bernilai ekonomi tinggi yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan dan keinginan petani</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Benih bermutu dan berlabel/bersertifikat</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT).</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Sedangkan komponen teknologi pilihan adalah teknologi-teknologi penunjang yang tidak mutlak harus diterapkan tetapi lebih didasarkan pada spesifik lokasi maupun kearifan lokal dan telah terbukti serta berpotensi meningkatkan produktivitas. Secara spesifik lokasi dan kearifan lokal komponen teknologi ini dapat diperoleh dari sumber daya alam yang tersedia ataupun dari pengalaman petani sendiri. Komponen teknologi pilihan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah meliputi :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penggunaan bibit muda (&lt; 21 HSS)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tanam dengan jumlah bibit terbatas yaitu antara 1 – 3 bibit perlubang</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengaturan populasi tanaman secara optimum (jajar legowo)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pemberian bahan organik berupa <a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana" target="_blank"><em>kompos</em> </a>atau pupuk kandang serta pengembalian jerami ke sawah sebagai pupuk dan pembenah tanah</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengairan berselang (intermiten irrigation) secara efektif dan efisien</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengendalian gulma dengan landak atau gasrok</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Panen dan penanganan pasca panen yang tepat.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Perpaduan komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan ini diharapkan dapat memberikan jalan keluar terhadap permasalahan produktivitas padi dengan didasarkan pada pendekatan yang partisipatif.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>TEKNIS PELAKSANAAN PTT PADI SAWAH</strong></p>
<p align="justify">Berikut akan diuraikan teknis budidaya padi sawah melalui pendekatan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) dengan menggabungkan komponen teknologi dasar dan teknologi pilihan.</p>
<p><strong>A. Pengolahan Tanah Sesuai Musim dan Pola Tanam</strong></p>
<p align="justify">Pengolahan tanah dapat dilakukan secara sempurna dengan dua kali pembajakan dan satu kali garu atau minimal, atau tanpa olah tanah. Pemilihan cara yang akan dilakukan disesuaikan dengan keperluan dan kondisi. Faktor yang menentukan adalah kemarau panjang, pola tanam dan jenis/struktur tanah.</p>
<p align="justify">Dua minggu sebelum pengolahan tanah, taburkan bahan organik secara merata di atas hamparan sawah. Bahan organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang (2 ton/ha) atau kompos jerami (5 ton/ha).</p>
<p><strong>B. Varietas Unggul</strong></p>
<p align="justify">Dalam PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah pemilihan varietas merupakan salah satu komponen utama yang mampu meningkatkan produktivitas padi. Varietas padi yang akan ditanam dipilih varietas unggul baru (VUB) yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, tahan serangan penyakit, berdaya hasil dan bernilai jual tinggi serta memiliki kualitas rasa yang dapat diterima pasar.</p>
<p align="justify">Varietas unggul baru (VUB) dapat berupa padi inbrida seperti ciherang, mekongga, inpari (10, 11,13) atau hibrida seperti rokan, hipa 3, bernas super dan intani. Tanam varietas unggul baru ini secara bergantian untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit.</p>
<p><strong>C. Benih Bermutu</strong></p>
<p align="justify">Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi, berukuran penuh dan seragam, daya kecambah diatas 80 % (vigor tinggi), bebas dari biji gulma, penyakit dan hama atau bahan lain. Gunakan selalu benih yang telah memiliki sertifikasi atau label untuk mendapatkan benih dengan tingkat kemurnian tinggi dan berkualitas atau benih bermutu yang diproduksi oleh petani.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menganjurkan untuk menyeleksi atau memilih benih bermutu agar didapatkan benih yang benar-benar berkualitas (bernas) dan vigor tinggi dengan cara membuat larutan garam dapur (30 gram garam dapur dalam 1 liter air) atau larutan pupuk ZA (1kg pupuk ZA dalam 2,7 liter air). Benih dimasukkan ke dalam larutan garam atau pupuk ZA (volume larutan 2 kali volume benih) kemudian diaduk dan benih yang mengambang atau terapung di permukaan larutan dibuang.</p>
<p align="justify">Cara sederhana dapat dilakukan dengan merendam benih dalam larutan garam dapur menggunakan indikator telur. Telur mentah (bisa telur ayam atau bebek) dimasukkan ke dalam air, kemudian masukkan garam sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai telur terapung ke permukaan. Kemudian telur diambil dan benih dimasukkan ke dalam larutan garam. Benih yang mengapung dibuang dan benih yang tenggelam selanjutnya dicuci sampai bersih dari garam untuk disemai.</p>
<p align="justify">Untuk keperluan penanaman seluas 1 hektar benih yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak 20 kg. Benih bernas (yang tenggelam) dibilas dengan air sampai bersih dari garam kemudian direndam dengan air bersih selama 24 jam. Selanjutnya diperam dalam karung atau wadah lainnya selama 48 jam dan dijaga kelembabannya dengan membasahi wadah dengan air.</p>
<p align="justify">Untuk benih padi hibrida tidak diberi perlakuan perendaman dalam larutan garam tetapi langsung direndam dalam air dan selanjutnya diperam.</p>
<p align="justify">Lahan persemaian untuk 1 hektar luasan lahan pertanaman sebaiknya 400 meter persegi (4% dari luas tanam) dengan lebar bedengan 1 – 1,2 meter dan antar bedengan dibuat parit sedalam 25 – 30 cm. Saat pembuatan bedengan taburkan bahan organik 2 kg /meter persegi seperti kompos, pupuk kandang atau campuran berbagai bahan antara lain kompos, pupuk kandang, serbuk kayu, abu dan sekam padi. Tujuan pemberian bahan organik ini untuk memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi.</p>
<p><strong>D. Sistem Tanam</strong></p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menganjurkan tanam menggunakan bibit muda atau kurang dari 21 HSS (hari setelah sebar) dan jumlah bibit 1 – 3 batang per lubang karena bibit lebih muda akan menghasilkan anakan lebih banyak dibanding menggunakan bibit lebih tua.</p>
<p align="justify">Pada daerah endemik keong untuk mengantisipasi serangan keong dapat menggunakan bibit lebih dari 21 HSS tetapi dianjurkan tidak lebih dari 25 HSS. Masa kritis serangan keong berada pada 21 hari setelah sebar dan 10 hari setelah pindah tanam.</p>
<p align="justify">Tanam dilakukan dengan kondisi lahan jenuh air (ketinggian air kurang lebih 2 cm dari permukaan tanah macak-macak) dengan jumlah bibit yang ditanam tidak lebih dari 3 bibit per rumpun. Gunakan jarak tanam yang beraturan seperti model tegel 20 X 20 cm (25 rumpun/meter persegi) atau 25 X 25 cm (16 rumpun/meter persegi). Pengaturan jarak tanam dapat dilakukan dengan menggunakan <em>caplak</em> atau tali sebagai <em>mal</em>.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menganjurkan untuk mengatur jarak dan populasi tanaman dengan menerapkan <a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo" target="_blank"><strong>sistem tanam jajar legowo</strong></a>. Sistem tanam jajar legowo adalah sistem tanam dengan pengaturan jarak tanam tertentu sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menganjurkan penerapan sistem tanam jajar legowo karena adanya keuntungan dan kelebihan yang lebih dibanding dengan sistem tanam konvensional (tegel) diantaranya yaitu :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Adanya efek tanaman pinggir</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sampai batas tertentu semakin tinggi populasi tanaman semakin banyak jumlah malai persatuan luas sehingga berpeluang menaikkan hasil panen</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Terdapat ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulan keong atau mina padi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengendalian hama, penyakit dan gulma menjadi lebih mudah</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dengan areal pertanaman yang lebih terbuka dapat menekan hama dan penyakit</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Sistem tanam jajar legowo yang dapat diterapkan adalah sistem tanam jajar legowo 2 : 1 atau 4 : 1 dan penyulaman tanaman dapat dilakukan sebelum tanaman berumur 14 HST (hari setelah tanam).</p>
<p><strong>E. Pengairan Berselang (<em>Intermittent Irrigation</em>)</strong></p>
<p align="justify">Pengairan dilakukan dengan sistem pengairan berselang (intermittent irrigation). Pengairan berselang adalah pengaturan kondisi sawah dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian yang bertujuan untuk :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi lebih luas</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memberi kesempatan akar tanaman memperoleh udara lebih banyak sehingga dapat berkembang lebih dalam karena akar yang dalam dapat menyerap unsur hara dan air yang lebih banyak</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mencegah timbulnya keracunan besi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mencegah penimbunan asam organik dan gas hidrogen sulfida yang menghambat perkembangan akar</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mengaktifkan jasad renik (mikrobia tanah) yang bermanfaat</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mengurangi kerebahan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran <a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/29/pengendalian-hama-wereng-coklat" target="_blank"><strong>hama wereng coklat</strong> </a>dan penggerek batang serta mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Teknis penerapan pengairan berselang dilakukan pada saat tanaman berumur 3 HST (hari setelah tanam) dimana petakan sawah diairi dengan tinggi genangan 3 cm dan selama 2 hari berikutnya tidak ada penambahan air sampai kondisi air di petakan habis dan tanah mengering sedikit retak. Baru pada hari ke 4 (7 HST) petakan sawah diairi kembali hingga genangan air setinggi 3 cm dan tidak ada penambahan air sampai kondisi air dipetakan habis dan tanah menjadi mengering sedikit retak kembali. Cara ini dilakukan terus sampai fase anakan maksimal.</p>
<p align="justify">Pada saat mulai fase pembentukan malai (bunting) sampai pengisian biji petakan sawah digenangi terus. Petakan dikeringkan kembali saat 10 – 15 hari sebelum panen.</p>
<p align="justify">Pada tanah yang cepat menyerap air atau berpasir selang waktu pengairan harus diperpendek. Apabila ketersediaan air selama satu musim tanam kurang mencukupi selang waktu pengairan dapat diperpanjang yaitu dengan selang waktu 5 hari.</p>
<p align="justify">Pengairan berselang secara efektif dan efisien hanya dapat dilakukan pada areal sawah irigasi teknis yang dapat dengan mudah mengatur masuk dan keluarnya air pada areal persawahan. Pada sawah-sawah yang sistem drainasenya tidak baik (sulit dikeringkan) atau sawah tadah hujan pengairan berselang (intermittent irrigation) tidak perlu diterapkan.</p>
<p><strong>F. Pemupukan Berimbang</strong></p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah menerapkan pemupukan berimbang secara efektif dan efisien sesuai kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Pemupukan berimbang adalah pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman adalah unsur N (nitrogen ; dalam bentuk pupuk urea), P (phospat ; dalam bentuk pupuk TSP/SP36) dan K (kalium ; dalam bentuk pupuk KCL).</p>
<p align="justify">Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan bagan warna daun (BWD). Bagan warna daun adalah sebuah alat untuk mengukur tingkat kebutuhan N tanaman dengan mengukur skala tingkat kehijauan warna daun sehingga dapat diketahui jumlah kebutuhan unsur hara N tanaman.</p>
<p align="justify">Nilai pembacaan bagan warna daun (BWD) digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi tanaman.</p>
<p align="justify">Pemberian pupuk awal N diberikan pada umur tanaman sebelum 14 HST ditentukan berdasarkan tingkat kesuburan tanah. Dosis pupuk awal N (urea) untuk padi varietas unggul baru adalah 50 – 75 kg/ha, sedangkan untuk padi tipe baru dengan dosis 100 kg/ha. Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif ; umur 21 – 28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordia ; umur 35 – 40 HST). Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru pembacaan BWD juga dilakukan pada saat tanaman dalam kondisi keluar malai dan 10 % berbunga.</p>
<p align="justify">Pemupukan dilakukan dengan cara disebar/ditabur merata di seluruh permukaan tanah. Urea merupakan pupuk yang mudah larut dalam air sehingga pada saat pemupukan sebaiknya saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup.</p>
<p align="justify">Pemupukan P dan K disesuaikan dengan hasil analisis status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Status hara tanah P dan K dapat ditentukan dengan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Tiap wilayah telah memiliki dosis rekomendasi pemupukan P dan K yang berdasarkan pada uji tanah sawah yang dilakukan oleh instansi terkait (Balai Penyuluhan/Dinas Pertanian).</p>
<p align="justify">Terdapat tiga skala tingkatan status hara tanah P dan K pada suatu lahan sawah yaitu tinggi, sedang dan rendah sebagaimana termuat dalam tabel di bawah ini :</p>
<p><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg"><img data-attachment-id="353" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/04/29/ptt-padi-sawah/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg" data-orig-size="548,100" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Rekomendasi Pemupukan P dan K" data-image-description="&lt;p&gt;Tabel Rekomendasi Pemupukan P dan K&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg?w=548" class="aligncenter size-full wp-image-353" title="Tabel Rekomendasi Pemupukan P dan K" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg?w=620" alt="Rekomendasi Pemupukan P dan K"   /></a></p>
<p align="justify">Pupuk P diberikan seluruhnya sebagai pupuk dasar atau bersamaan dengan pemupukan N yang pertama pada 0 &#8211; 14 HST. Pupuk K pada lahan sawah dengan status hara tanah P dan K rendah (dosis 100 kg/ha KCL) diberikan 50 % sebagai pupuk dasar (pemupukan pertama) dan sisanya diberikan pada masa primordia.</p>
<p align="justify">Pada lahan sawah dengan status hara tanah P dan K sedang – tinggi (&lt; 50 kg KCL/ha) pupuk K diberikan seluruhnya sebagai pupuk dasar (0 – 14 HST).</p>
<p><strong>G. Pengendalian Gulma</strong></p>
<p align="justify">Pengendalian gulma atau penyiangan adalah kegiatan membersihkan pertanaman dari rumput dan tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya (gulma) di areal pertanaman karena dapat mengganggu perkembangan tanaman pokok. Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mencabut gulma dengan tangan, menggunakan alat <em>gasrok </em>(<em>landak</em>) atau menggunakan herbisida.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah lebih menganjurkan melakukan penyiangan dengan menggunakan alat <em>gasrok </em>karena sinergis dengan pengelolaan lainnya dan lebih memiliki keuntungan yaitu :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Ramah lingkungan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hemat tenaga kerja sehingga lebih ekonomis dibandingkan dengan penyiangan menggunakan tangan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memberikan sirkulasi udara ke dalam tanah sehingga dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila dilakukan bersamaan atau segera setelah pemupukan akan membenamkan pupuk ke dalam tanah sehingga pemberian pupuk menjadi efisien.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Penyiangan menggunakan <em>gasrok </em>dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Penyiangan dilakukan saat tanaman berumur 10 – 15 HST</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dianjurkan dilakukan dua kali, dimulai pada saat tanaman berumur 10 – 15 HST dan diulangi 10 – 25 hari kemudian</p>
</li>
<li>
<p align="justify">dilakukan pada kondisi air macak-macak dengan ketinggian 2 – 3 cm</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Gulma yang terlalu dekat dengan tanaman dicabut dengan tangan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dilakukan dua arah yaitu diantara dan di dalam barisan tanaman.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Pengendalian gulma atau penyiangan secara manual hanya efektif dilakukan apabila air di petakan sawah dalam kondisi macak-macak atau tanah jenuh air. Jika kondisi tidak memungkinkan dilakukan penyiangan/pengendalian gulma secara manual dan populasi gulma sudah tinggi maka pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida.</p>
<p><strong>H. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT)</strong></p>
<p align="justify">Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT) merupakan suatu pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alam dan tidak menimbulkan kerugian yang besar.</p>
<p align="justify">Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) merupakan perpaduan berbagai cara pengendalian hama dan penyakit diantaranya dengan melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat menjadi lebih tepat.</p>
<p align="justify">Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) dapat dilakukan dengan menggunakan strategi diantaranya :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Gunakan varietas tahan hama dan penyakit</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tanam tanaman yang sehat</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memanfaatkan musuh alami</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pengendalian secara mekanik (menggunakan alat) dan fisik (menangkap)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Penggunaan pestisida hanya jika diperlukan dan dilakukan tepat sesuai dosis, sasaran dan waktu.</p>
</li>
</ul>
<p><strong>I. Panen dan Pasca Panen</strong></p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah sangat memperhatikan proses penanganan panen dan pasca panen. Panen dan pasca panen harus ditangani secara baik dan benar karena penanganan panen dan pasca panen yang tidak baik dan benar dapat menyebabkan kehilangan hasil 4 – 18 %.</p>
<p align="justify">Untuk mendapatkan butir padi dan beras dengan kualitas baik perlu memperhatikan ketepatan waktu panen. Panen terlalu cepat dapat menimbulkan prosentase butir hijau tinggi yang berakibat sebagian butir padi tidak berisi atau rusak saat digiling. Panen terlambat menyebabkan hasil berkurang karena butir padi mudah lepas dari malai dan tercecer di sawah atau beras pecah saat digiling.</p>
<p align="justify">Umur tanaman padi mungkin berbeda antara varietas satu dengan varietas yang lainnya sehingga hal ini juga perlu diperhatikan. Hitung sejak padi berbunga biasanya panen dilakukan pada 30 s/d 35 hari setelah padi berbunga. Jika malai telah menguning 95 % segera lakukan pemanenan.</p>
<p align="justify">Panen dilakukan dengan cara memotong padi menggunakan sabit bergerigi 10 – 15 cm dari atas permukaan tanah atau dari pangkal malai jika akan dirontok dengan power thresser. Panen sebaiknya dilakukan secara berkelompok (15 – 20 orang) yang dilengkapi dengan alat perontok. Dengan cara ini maka tingkat kehilangan hasil pada saat panen dapat dikurangi.</p>
<p align="justify">Gunakan plastik atau terpal sebagai alas padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sesegera mungkin padi dirontokan, apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya sore harinya segera dirontokkan karena perontokkan yang dilakukan lebih dari dua hari dapat menyebabkan kerusakan beras.</p>
<p align="justify">Perlu diperhatikan juga jika perontokkan padi dilakukan dengan cara tradisional (di-<em>gepyok</em>) maka gunakan alas dari plastik atau terpal yang lebarnya mencukupi dan bagian pinggir plastik atau terpal dilipat keatas yang berfungsi sebagai dinding untuk menahan butir padi terlempar keluar dari alas sehingga dapat mengurangi kehilangan hasil.</p>
<p align="justify">Proses selanjutnya adalah penanganan pasca panen. Gabah yang sudah dirontokkan dijemur di atas lantai jemur atau jika tidak ada bisa menggunakan terpal. Gabah dijemur dengan ketebalan 5 – 7 cm dan dilakukan pembalikan setiap 2 jam sekali hingga kering. Gabah kering jika tidak langsung digiling harus disimpan di tempat yang bersih dalam lumbung/gudang yang bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Gabah yang akan dikonsumsi agar diperoleh beras dengan kualitas baik disimpan dengan kadar air 14 %. Sedangkan gabah yang akan digunakan sebagai benih disimpan dengan kadar air 12 %.</p>
<p align="justify">Gabah yang akan disimpan dalam waktu lama harus memiliki kadar air yang lebih rendah. Untuk penyimpanan 4 – 6 bulan gabah harus memiliki kadar air 12 % dan apabila disimpan selama 7 – 12 bulan kadar air gabah 11 %.</p>
<p align="justify">Yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan gabah adalah tempat penyimpanan dan wadah yang digunakan untuk mengemas gabah. Gudang atau tempat penyimpanan harus bersih dari kotoran dan hama, dapat melindungi gabah dari hama seperti tikus dan memiliki sirkulasi udara yang baik.</p>
<p align="justify">Wadah pengemas dapat menggunakan kemasan karung, kemasan plastik dan kemasan yute. Kemasan harus dapat melindungi gabah dari hama, kerusakan fisik terhadap goncangan dan mudah dipindahkan. Simpan gabah dengan ditata rapi secara bertumpuk dan mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Sebaiknya kemasan atau karung disimpan tidak langsung menempel pada dinding karena dapat mempengaruhi kelembaban padi dalam kemasan.</p>
<p align="justify">Pencegahan dan pengendalian hama dapat dilakukan dengan cara fumigasi. Penggunaan insektisida jangan langsung disemprotkan pada butiran gabah karena dapat mempengaruhi kualitas gabah.</p>
<p align="justify">Gabah yang sudah disimpan jika akan digiling diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum digiling untuk menghindari butir beras pecah.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>PENUTUP</strong></p>
<p align="justify">Sekali lagi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah bukan bersifat teknologi tetapi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam usaha meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam usaha usaha tani padi.</p>
<p align="justify">Pada prinsipnya PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) lebih bersifat spesifik lokasi dan partisipatif sehingga semua teknis yang telah diuraikan di atas tidak harus mutlak untuk diterapkan di seluruh daerah. Petani di tiap-tiap dengan didampingi tenaga teknis dari instansi terkait dapat memilih sendiri komponen teknologi yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi lingkungan setempat.</p>
<p align="justify">PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah diterapkan dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan menerapkan efisiensi dan efektifitas dalam usaha tani padi sawah dengan memperhatikan sumber daya alam, kearifan lokal dan kelestarian lingkungan hidup.</p>
<p align="justify">Akhirnya supaya penerapan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) dalam budidaya padi sawah dan usaha tani lainnya dapat berjalan dengan baik dan benar maka diperlukan kerjasama dan bimbingan yang intensif dari semua pihak yang terkait demi terwujudnya peningkatan produksi beras nasional dalam menunjang ketahanan pangan dan swasembada beras pada khususnya.</p>
<p><span style="font-size:11px;">Sumber pustaka :</span></p>
<p><span style="font-size:11px;"><em>Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Usaha Tani Padi Dengan Pendekatan PTT, Jakarta : Kementerian Pertanian, 2011</em></span></p>
<p><span style="font-size:11px;"><em>Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Budidaya Padi, Jakarta : BPSDM Pertanian, 2011</em></span></p>
<p><span style="font-size:11px;"><em>Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Petunjuk Teknis PTT Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah, Semarang : Set – BAKORLUH Jawa Tengah, 2010</em></span></p>
<p><span style="font-size:11px;"><em>Penatanian.Blogspot.COM, Tata Cara Penyimpanan, Pengemasan maupun Pelabelan Gabah atau Beras Secara Baik dan Benar, 2011</em></span></p>
<p><span style="font-size:11px;">Sumber foto : <em>blog.ub.ac.id</em></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/04/29/ptt-padi-sawah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ptt-padi-sawah1.jpg">
			<media:title type="html">PTT Padi Sawah</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/tabel-rekomendasi-pupuk-p-dan-k.jpg">
			<media:title type="html">Tabel Rekomendasi Pemupukan P dan K</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBUAT KOMPOS SECARA SEDERHANA</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 20:48:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PERTANIAN ORGANIK]]></category>
		<category><![CDATA[cara membuat kompos]]></category>
		<category><![CDATA[kompos dari limbah rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[membuat kompos secara sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk dari bahan organik]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk organik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=251</guid>

					<description><![CDATA[Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hara bagi tanaman dalam usaha tani berbasis pertanian organik dapat dilakukan dengan membuat kompos secara sederhana. Sesuai konsep pertanian organik yaitu menekankan penggunaan bahan-bahan dari alam sehingga semua bahan yang digunakan dalam usaha tani (bertani) harus menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, dedak dan kotoran hewan. Salah satu elemen penting yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_423" style="width: 390px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-423" data-attachment-id="423" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana/membuat-kompos-cara-sederhana/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg" data-orig-size="497,390" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Membuat Kompos Secara Sederhana" data-image-description="&lt;p&gt;membuat kompos dari bahan organik sisa-sisa limbah rumah tangga&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;Membuat Kompos&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg?w=497" class="wp-image-423   " title="Membuat Kompos Secara Sederhana" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg?w=380&#038;h=280" alt="membuat kompos dari limbah rumah tangga" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-423" class="wp-caption-text">Membuat Kompos</p></div>
<p align="justify">Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hara bagi tanaman dalam usaha tani berbasis pertanian organik dapat dilakukan dengan <a title="teknik dan cara sederhana membuat kompos" href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana"><strong>membuat kompos secara sederhana</strong></a>. Sesuai konsep pertanian organik yaitu menekankan penggunaan bahan-bahan dari alam sehingga semua bahan yang digunakan dalam usaha tani (bertani) harus menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, dedak dan kotoran hewan.</p>
<p><span id="more-251"></span></p>
<p align="justify">Salah satu elemen penting yang dibutuhkan tanaman adalah pupuk. Pupuk organik bisa didapatkan dari sisa tanaman dan kotoran hewan. Secara alami bahan-bahan tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk terdekomposisi sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman, oleh karena itu diperlukan proses atau perlakuan agar bahan-bahan tersebut lebih cepat terdekomposisi.</p>
<p align="justify"><a title="cara membuat kompos dari limbah rumah tangga" href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana">KOMPOS</a> adalah bahan organik yang telah membusuk Karena proses fermentasi. Bahan organik ini bisa berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan atau campuran dari keduanya. Kompos sangat kaya nutrisi atau hara yang dibutuhkan oleh tanaman.</p>
<p align="justify">Membuat kompos dapat dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, sampah organik dan hijauan daun. Bahan baku membuat kompos relatif mudah diperoleh dari lingkungan sekitar rumah bahkan sisa limbah dapur yang berupa sisa sortiran sayur dan buah yang tidak dikonsumsi juga merupakan bahan baku kompos yang baik.</p>
<p align="justify">Berikut saya coba paparkan <a title="teknik dan cara sederhana membuat kompos" href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana">cara sederhana membuat kompos</a> menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dari lingkungan sekitar dan mudah dipraktekkan dalam skala rumah tangga.</p>
<div id="__ss_11376460" style="width:630px;" align="center"><iframe src='https://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/11376460' width='630' height='516' frameborder='2' scrolling='no' sandbox="allow-popups allow-scripts allow-same-origin allow-presentation" allowfullscreen webkitallowfullscreen mozallowfullscreen></iframe></div>
<p align="justify">Dengan menggunakan bahan organik maka kita telah menghormati dan menjaga kelestarian alam beserta semua ekologi dan ekosistemnya. Berbeda dengan pupuk kimia dan bahan kimia lain, bahan organik memiliki kelebihan mudah diuraikan dan tidak meninggalkan residu atau racun yang berbahaya sehingga aman untuk kelestarian lingkungan. selain itu aplikasi pada tanaman pangan, buah dan hortikultura dari produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi.</p>
<p align="justify">Demikian sedikit informasi tentang <a title="teknik dan cara sederhana membuat kompos" href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana">membuat kompos secara sederhana</a> semoga dapat diambil manfaatnya dan pintu selalu terbuka lebar untuk komentar, saran maupun kritik yang membangun dari anda yang telah berkunjung ke blog kami dan membaca artikel ini.</p>
<p><span style="font-size:11px;">&#8211; <em>disusun dari berbagai sumber</em> &#8211;</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/02/02/membuat-kompos-secara-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/02/membuat-kompos-cara-sederhana.jpg">
			<media:title type="html">Membuat Kompos Secara Sederhana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANAM PADI SISTEM JAJAR LEGOWO</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 06:02:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[USAHA TANI]]></category>
		<category><![CDATA[efek tanaman pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[jajar legowo]]></category>
		<category><![CDATA[sistem tanam jajar legowo]]></category>
		<category><![CDATA[tanam padi sistem jajar legowo]]></category>
		<category><![CDATA[teknik meningkatkan populasi tanaman padi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=219</guid>

					<description><![CDATA[Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo. Dalam melaksanakan usaha [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_224" style="width: 390px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-224" loading="lazy" data-attachment-id="224" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/sistem-tanam-jajar-legowo/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg" data-orig-size="1600,1200" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;2730 classic&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1327913697&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="sistem tanam jajar legowo" data-image-description="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo adalah salah satu teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg?w=620" class=" wp-image-224  " title="sistem tanam jajar legowo" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg?w=380&#038;h=280" alt="meningkatkan produksi tanaman padi dengan sistem tanam jajar legowo" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-224" class="wp-caption-text">Sistem Tanam Jajar Legowo</p></div>
<p align="justify">Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo.</p>
<p><span id="more-219"></span></p>
<p align="justify">Dalam melaksanakan usaha tanam padi ada bebarapa hal yang menjadi tantangan salah satunya yaitu bagaimana upaya ataupun cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil produksi padi yang tinggi. Namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya.</p>
<p align="justify">Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “<em>lego</em> (lega)” dan “<em>dowo</em> (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>PENGERTIAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO</strong></p>
<p align="justify">Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).</p>
<p align="justify">Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada dipinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir). Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut :</p>
<p align="justify">1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro.</p>
<p align="justify">2. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong.</p>
<p align="justify">3. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.</p>
<p align="justify">4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.</p>
<p align="justify">5. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>PENERAPAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO</strong></p>
<p align="justify">Bersumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten bahwa modifikasi jarak tanam pada sistem tanam jajar legowo bisa dilakukan dengan melihat berbagai pertimbangan. Secara umum jarak tanam yang dipakai adalah 20 X 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 X 22,55 cm atau 25 X 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya. Jarak tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64 seperti varietas ciherang cukup dengan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan untuk varietas padi yang memiliki penampilan lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya 22,5 sampai 25 cm. Demikian juga pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak yang lebih lebar misal 22,5 cm atau pada tanah yang sangat subur jarak tanamnya bisa 25 X 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam ini bertujuan agar mendapatkan hasil yang optimal.</p>
<p align="justify">Ada beberapa tipe cara tanam sistem jajar legowo yang secara umum dapat dilakukan yaitu ; tipe legowo (2 : 1), (3 : 1), (4 : 1), (5 : 1), (6 : 1) dan tipe lainnya yang sudah ada serta telah diaplikasikan oleh sebagian masyarakat petani di Indonesia. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian diketahui jika tipe sistem tanam jajar legowo terbaik dalam memberikan hasil produksi gabah tinggi adalah tipe jajar legowo (4:1) sedangkan dari tipe jajar legowo (2 : 1) dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih.</p>
<p align="justify">Jajar legowo (2 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap dua baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris sedangkan jarak tanaman dalam barisan adalah setengah kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (2 : 1) adalah 20 cm (antar barisan) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong).</p>
<p align="justify">Dengan sistem jajar legowo (2 : 1) seluruh tanaman dikondisikan seolah-olah menjadi tanaman pinggir. Penerapan sistem jajar legowo (2 : 1) dapat meningkatkan produksi padi dengan gabah kualitas benih dimana sistem jajar legowo seperti ini sering dijumpai pada pertanaman untuk tujuan penangkaran atau produksi benih. Untuk lebih jelasnya tentang cara tanam jajar legowo (2 : 1) dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.</p>
<div data-shortcode="caption" id="attachment_229" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-229" loading="lazy" data-attachment-id="229" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/sistem-tanam-jajar-legowo_21/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg" data-orig-size="474,412" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="sistem tanam jajar legowo (2 : 1)" data-image-description="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (2 : 1) untuk meningkatkan produksi padi dengan gabah kualitas benih&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (2 : 1)&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg?w=474" class=" wp-image-229     " title="sistem tanam jajar legowo (2 : 1)" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg?w=500&#038;h=500" alt="meningkatkan produksi tanaman padi dengan sistem tanam jajar legowo" width="500" height="500" /></a><p id="caption-attachment-229" class="wp-caption-text">sistem tanam jajar legowo (2 : 1)</p></div>
<p align="justify">Jajar legowo (3 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap tiga baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Modifikasi tanaman pinggir dilakukan pada baris tanaman ke-1 dan ke-3 yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-3) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.</p>
<p align="justify">Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (3 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.</p>
<div data-shortcode="caption" id="attachment_230" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-230" loading="lazy" data-attachment-id="230" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/sistem-tanam-jajar-legowo_31/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg" data-orig-size="520,412" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="sistem tanam jajar legowo (3 : 1)" data-image-description="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (3 : 1) untuk meningkatkan produksi tanaman padi dengan penambahan populasi tanaman sebesar 25 %&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (3 : 1)&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg?w=520" class=" wp-image-230  " title="sistem tanam jajar legowo (3 : 1)" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg?w=500&#038;h=500" alt="meningkatkan produksi padi dengan sistem tanam jajar legowo (3 : 1)" width="500" height="500" /></a><p id="caption-attachment-230" class="wp-caption-text">sistem tanam jajar legowo (3 : 1)</p></div>
<p align="justify">Jajar legowo (4 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap empat baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Dengan sistem legowo seperti ini maka setiap baris tanaman ke-1 dan ke-4 akan termodifikasi menjadi tanaman pinggir yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-4) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.</p>
<p align="justify">Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (4 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.</p>
<div data-shortcode="caption" id="attachment_232" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-232" loading="lazy" data-attachment-id="232" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/sistem-tanam-jajar-legowo_41/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg" data-orig-size="520,396" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="sistem tanam jajar legowo (4 : 1)" data-image-description="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (4 : 1) untuk meningkatkan produksi padi dengan hasil dan kualitas gabah yang tinggi serta sangat dianjurkan untuk diterapkan&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;sistem tanam jajar legowo (4 : 1)&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg?w=520" class=" wp-image-232  " title="sistem tanam jajar legowo (4 : 1)" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg?w=500&#038;h=500" alt="meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan sistem tanam jajar legowo (4 : 1)" width="500" height="500" /></a><p id="caption-attachment-232" class="wp-caption-text">sistem tanam jajar legowo (4 : 1)</p></div>
<p align="justify">Seperti telah diuraikan di atas bahwa prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Adapun jumlah peningkatan populasi tanaman dengan penerapan sistem tanam jajar legowo ini dapat kita ketahui dengan rumus : 100 % X 1 / (1 + jumlah legowo).</p>
<p align="justify">Dengan demikian untuk masing-masing tipe sistem tanam jajar legowo dapat kita hitung penambahan/peningkatan populasinya sebagai berikut ;</p>
<p>Jajar legowo (2 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1(1 + 2) = 30 %<br />
Jajar legowo (3 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 3) = 25 %<br />
Jajar legowo (4 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 4) = 20 %<br />
Jajar legowo (5 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 5) = 16,6 %<br />
Jajar legowo (6 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 6) = 14,29 %</p>
<p align="justify">Tipe sistem tanam jajar legowo (4 : 1) dipilih sebagai anjuran kepada petani untuk diterapkan dalam rangka peningkatan produksi padi karena berdasarkan hasil penilitian yang telah dilakukan dengan melihat serta mempertimbangkan tingkat efisiensi dan efektifitas biaya produksi dalam penggunaan pupuk dan benih serta pengaruhnya terhadap hasil produksi tanaman padi.</p>
<p align="justify">Sistem tanam jajar legowo memang telah terbukti dapat meningkatkan produksi padi secara signifikan meskipun masih terdapat beberapa hal yang mungkin lebih tepat disebut sebagai “konsekuensi untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih tinggi” dibanding disebut sebagai “kelemahan atau kekurangan” dari sistem tanam jajar legowo. Beberapa hal ini diantaranya adalah ;</p>
<p align="justify">1. Sistem tanam jajar legowo akan membutuhkan tenaga dan waktu tanam yang lebih banyak.</p>
<p align="justify">2. Sistem tanam jajar legowo juga akan membutuhkan benih dan bibit lebih banyak karena adanya penambahan populasi.</p>
<p align="justify">3. Pada baris kosong jajar legowo biasanya akan ditumbuhi lebih banyak rumput/gulma.</p>
<p align="justify">4. Sistem tanam jajar legowo yang diterapkan pada lahan yang kurang subur akan meningkatkan jumlah penggunaan pupuk tetapi masih dalam tingkat signifikasi yang rendah.</p>
<p align="justify">5. Dengan membutuhkan waktu, tenaga dan kebutuhan benih yang lebih banyak maka membutuhkan biaya yang lebih banyak juga dibandingkan dengan budi daya tanpa menggunakan sistem tanam jajar legowo.</p>
<p align="justify">Dengan budi daya padi sesuai rekomendasi atau anjuran yang tepat dalam hal ini pengelolaan tanaman terpadu (PTT) maka semua hal diatas dapat tertutupi dari hasil produksi yang didapatkan sehingga ditinjau dari faktor penambahan tenaga kerja dan biaya produksi tidak akan berpengaruh dan tetap lebih menguntungkan dibandingkan tanpa menerapkan sistem tanam jajar legowo.</p>
<p align="justify">Sebagai tambahan bahwa penerapan sistem tanam jajar legowo akan memberikan hasil maksimal dengan memperhatikan arah barisan tanaman dan arah datangnya sinar matahari. Lajur barisan tanaman dibuat menghadap arah matahari terbit agar seluruh barisan tanaman pinggir dapat memperoleh intensitas sinar matahari yang optimum dengan demikian tidak ada barisan tanaman terutama tanaman pinggir yang terhalangi oleh tanaman lain dalam mendapatkan sinar matahari.</p>
<p align="justify">Demikian sedikit yang bisa diuraikan tentang sistem tanam jajar legowo semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Saran dan kritik sangat diharapkan untuk memperbaiki dan mengembangkan tulisan ini sehingga didapatkan daya manfaat yang lebih besar.</p>
<p><span style="font-size:11px;">Sumber referensi :</span><br />
<span style="font-size:11px;"><em>Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten</span><br />
<span style="font-size:11px;">Maspari dalam gerbang pertanian.com</span><br />
<span style="font-size:11px;">Situs indigenous core</em></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>34</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo.jpg">
			<media:title type="html">sistem tanam jajar legowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_21.jpg?w=300">
			<media:title type="html">sistem tanam jajar legowo (2 : 1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_31.jpg?w=300">
			<media:title type="html">sistem tanam jajar legowo (3 : 1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/01/sistem-tanam-jajar-legowo_41.jpg?w=300">
			<media:title type="html">sistem tanam jajar legowo (4 : 1)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/29/pengendalian-hama-wereng-coklat/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/29/pengendalian-hama-wereng-coklat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 23:14:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[HAMA dan PENYAKIT]]></category>
		<category><![CDATA[hama dan penyakit tanaman padi]]></category>
		<category><![CDATA[hopperbum]]></category>
		<category><![CDATA[insektisida wereng coklat]]></category>
		<category><![CDATA[Nilaparvata lugens]]></category>
		<category><![CDATA[pembasmian wereng coklat]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan OPT tanaman padi]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian hama dan penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian wereng coklat]]></category>
		<category><![CDATA[perangkap hama wereng]]></category>
		<category><![CDATA[PHT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=148</guid>

					<description><![CDATA[Wereng coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim pertanaman. Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan sistem [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_189" style="width: 390px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-189" loading="lazy" data-attachment-id="189" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/29/pengendalian-hama-wereng-coklat/hama-wereng-coklat/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg" data-orig-size="306,241" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="hama wereng coklat" data-image-description="&lt;p&gt;pengendalian hama wereng coklat secara terpadu dengan konsep PHT (pengendalian hama terpadu)&lt;/p&gt;
" data-image-caption="&lt;p&gt;hama wereng coklat&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg?w=306" class=" wp-image-189   " title="hama wereng coklat" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg?w=380&#038;h=280" alt="pengendalian hama wereng coklat secara terpadu dengan konsep PHT" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-189" class="wp-caption-text">Hama Wereng Coklat</p></div>
<p align="justify"><strong>Wereng coklat</strong> (<em>Nilaparvata lugens</em>) sampai saat ini masih dianggap sebagai <strong>hama</strong> utama pada pertanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim pertanaman.</p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p align="justify">Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan <strong>wereng coklat</strong>. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP &gt;200 dan sebagainya). Tergantung pada tingkat kerusakan, serangan <strong>wereng coklat</strong> dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kuintal gabah sampai puso.</p>
<p align="justify">Kerusakan yang disebabkan dapat terjadi secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung karena kemampuan serangga <strong>wereng coklat</strong> menghisap cairan jaringan tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati. Secara tidak langsung karena serangga <strong>wereng coklat</strong> dapat menjadi vektor virus <strong>penyakit</strong> kerdil rumput dan kerdil hampa.</p>
<p align="justify">Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkut tanaman padi <strong>wereng coklat</strong> dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian).</p>
<p align="justify">Gejala yang tampak dari serangan <strong>wereng coklat</strong> dapat terlihat dari daun yang menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar). Gejala ini dikenal dengan istilah <em>hopperbum</em>. Dalam suatu hamparan gejala <em>hopperbum </em>terlihat sebagai bentuk lingkaran yang menunjukkan pola penyebaran <strong>wereng coklat</strong> yang dimulai dari satu titik kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan seperti ini populasi <strong>wereng coklat</strong> biasanya sudah sangat tinggi.</p>
<p align="justify">Langkah-langkah pencegahan hama wereng coklatsecara umum dapat dilakukan dengan cara menggunakan variatas tahan, penanaman padi serempak dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas dan <strong>pengendalian </strong>dengan insektisida.</p>
<p align="justify">Namun dengan melihat gejala kerusakan yang diakibatkan pada tanaman padi dipetakan sawah yang dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, maka <strong>pemberantasan hama</strong> ini perlu dilakukan dengan cara preventif, kuratif dan represif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. TINDAKAN PREVENTIF</strong></p>
<p align="justify">Tindakan preventif bersifat <strong>pencegahan </strong>dengan cara melakukan pengamatan di lahan pertanaman padi. Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara :</p>
<p align="justify">a. Tanam Padi Serempak</p>
<p align="justify">Pola tanam serempak dalam areal yang luas dan tidak dibatasi oleh batas administrasi dapat mengantisipasi penyebaran serangan <strong>wereng coklat</strong> karena jika tidak serempak hama dapat berpindah-pindah ke lahan padi yang belum panen. Wereng coklat terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atau lautan.</p>
<p align="justify">b. Pengamatan <strong>Wereng Coklat</strong></p>
<p align="justify">Pengamatan atau monitoring <strong>wereng coklat</strong> setiap 1 – 2 minggu sekali. Jika terdapat serumpun daun padi layu lakukan pemeriksaan dengan teliti. Apabila ditemukan seekor <strong>wereng</strong> dirumpun padi segera bunuh/musnahkan dan periksa telur-telurnya di daun lalu daun tersebut dicabut dan dibakar. Apabila pengamatan <strong>wereng coklat</strong> per rumpun melebihi ambang ekonomi maka segera dilakukan <strong>pengendalian </strong>dengan insektisida.</p>
<p align="justify">c. Perangkap Lampu</p>
<p align="justify">Perangkap lampu merupakan perangkap yang paling umum digunakan untuk pemantauan migrasi dan pendugaan populasi serangga yang tertarik pada cahaya khususnya<strong> wereng coklat</strong>. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap lampu antara lain ; kekontrasan lampu yang digunakan (semakin kontras cahaya lampu yang digunakan maka akan semakin luas jangkauan tangkapannya), kemampuan serangga untuk menghindari lampu perangkap yang dipasang dan intensitas cahaya (pada umumnya seranga cenderung tertarik pada cahaya dengan intensitas tinggi).</p>
<p align="justify">Perangkap lampu dipasang pada pematang (tempat) yang bebas dari naungan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter di atas permukaan tanah. Lampu yang digunakan adalah lampu pijar 40 watt dengan voltage 220 volt. Lampu dinyalakan pada jam 18.00 dan dimatikan pada jam 06.00. Agar serangga yang tertangkap tidak terbang lagi maka pada penampung serangga yang berisi air ditambahkan sedikit deterjen.</p>
<p align="justify">Langkah yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu yaitu ; wereng yang tertangkap dikubur, keringkan pertanaman padi sampai retak dan segera setelah dikeringkan <strong>kendalikan wereng</strong> pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasikan (tidakan kuratif).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>2. TINDAKAN KURATIF</strong></p>
<p align="justify">Tindakan kuratif adalah tindakan <strong>pengendalian hama wereng coklat</strong> dengan cara menggunakan insektisida yang direkomendasikan. Tindakan ini bukan merupakan langkah <strong>pencegahan </strong>lagi tetapi merupakan langkah <strong>pembasmian</strong>. Langkah ini bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif buprofen, BPMC, fipronil, amitraz, bupofresin, karbofuran, karbosulfan, metalkarb, MIPCI, propoksur atau liarnetoksan dan imidakloprid.</p>
<p align="justify">Penggunaan insektisida berbentuk serbuk/butiran (misal : furadan, basudin, diazinon) dilakukan dengan menaburkan diantara larikan petak sawah 3 atau 4 minggu sekali. Penyemprotan insektisida cair dilakukan seminggu sekali atau maksimal 10 hari sekali. Semua penggunaan insektisida harus memperhatikan aturan dosis dan pakai yang tertera pada setiap produk yang digunakan.</p>
<p align="justify">Perkembangan <strong>wereng coklat</strong> pada pertanaman padi terbagi menjadi empat generasi yaitu ; generasi 0 (G0) = umur padi 0 – 20 HST, Generasi 1 (G1) = umur padi 20 – 30 HST (<strong>wereng </strong>akan menjadi imago <strong>wereng coklat</strong> generasi ke-1), generasi 2 (G2) = umur padi 30 – 60 HST (<strong>wereng </strong>akan menjadi imago <strong>wereng coklat</strong> generasi ke-2), dan generasi 3 (G3) = umur tanaman padi di atas 60 HST.</p>
<p align="justify"><strong>Pengendalian wereng</strong> yang baik dilakukan pada saat generasi nol (G0) dan generasi 1 (G1) dengan mengunakan insektisida berbahan aktif seperti disebutkan di atas. Pengendalian saat generasi 3 (G3) atau puso tidak akan berhasil.</p>
<p align="justify">Penggunaan insektisida juga harus memperhatikan faktor-faktor ; tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif seperti disebutkan di atas, tepat air pelarut 400 – 500 liter air/ha, aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada antara pukul 08.00 – 11.00 dilanjutkan sore hari, insektisida harus sampai pada batang padi. Dan tidak kalah pentingnya adalah keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang berupa semprotan maupun butiran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>3. TINDAKAN REPRESIF</strong></p>
<p align="justify">Tindakan ini dilakukan jika <strong>hama wereng</strong> sudah merupakan kejadian luar biasa di mana dalam satu wilayah petakan/hamparan hama ini sudah mengakibatkan kerusakan secara masal. Tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah ; pengeringan petakan sawah, pencabutan dan pembakaran seluruh tanaman, memilih varietas unggul baru yang lebih tahan <strong>serangan wereng</strong> dan melakukan pergiliran atau rotasi tanaman (padi-palawija).</p>
<p align="justify">Daerah-daerah endemik <strong>wereng coklat</strong> biotipe 1 dapat menanam varietas membrano, widas dan cimalati. Untuk biotipe 2 dan 3 dapat menanam varietas membrano, cigeulis dan ciapus.</p>
<p align="justify">Dengan langkah-langkah di atas diharapkan <strong>serangan hama wereng coklat</strong> dapat ditekan dan tidak menyebabkan kerugian yang semakin besar seperti yang sudah pernah terjadi. Peran aktif semua pihak juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan <strong>pengendalian hama wereng coklat</strong> ini.</p>
<p>&nbsp;<br />
<span style="font-size:11px;">Disusun dari berbagai sumber dan referensi</span><br />
<span style="font-size:11px;">Sumber gambar : <a href="http://surabaya.tribunnews.com" rel="nofollow">http://surabaya.tribunnews.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/29/pengendalian-hama-wereng-coklat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>24</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/hama-wereng-coklat4.jpg?w=300">
			<media:title type="html">hama wereng coklat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA PADI DI LAHAN PASANG SURUT</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/28/budidaya-padi-di-lahan-pasang-surut/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/28/budidaya-padi-di-lahan-pasang-surut/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 08:44:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[USAHA TANI]]></category>
		<category><![CDATA[budidaya padi lahan pasang surut]]></category>
		<category><![CDATA[padi rawa]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan tanaman terpadu]]></category>
		<category><![CDATA[PTT padi rawa dan pasang surut]]></category>
		<category><![CDATA[teknik budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[varietas unggul padi lahan pasang surut dan rawa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=134</guid>

					<description><![CDATA[Budidaya padi di lahan pasang surut memerlukan teknologi dan sarana produksi yang spesifik karena kondisi lahan dan lingkungan tumbuhnya tidak sama dengan sawah irigasi. Lahan pasang surut berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaanya menyangkut kesuburan tanah, ketersediaan air dan teknik pengelolaannya. Pengelolaan tanah dan air ini merupakan kunci keberhasilan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_142" style="width: 390px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-142" loading="lazy" data-attachment-id="142" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/28/budidaya-padi-di-lahan-pasang-surut/sawah-pasang-surut/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg" data-orig-size="1600,1200" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.2&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;E71&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1270028406&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;4.9&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="sawah lahan pasang surut" data-image-description="&lt;p&gt;metode pengelolaan tanaman terpadu padi lahan pasang surut&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg?w=620" class=" wp-image-142 " title="sawah lahan pasang surut dan rawa" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg?w=380&#038;h=280" alt="teknologi pengelolaan tanaman terpadu budi daya padi lahan pasang surut dan rawa" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-142" class="wp-caption-text">Budidaya Padi Lahan Pasang Surut dan Rawa</p></div>
<p align="justify"><strong>Budidaya padi di lahan pasang surut</strong> memerlukan <strong>teknologi </strong>dan sarana produksi yang spesifik karena kondisi lahan dan lingkungan tumbuhnya tidak sama dengan sawah irigasi. <strong>Lahan pasang surut</strong> berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaanya menyangkut kesuburan tanah, ketersediaan air dan teknik pengelolaannya.</p>
<p><span id="more-134"></span></p>
<p align="justify">Pengelolaan tanah dan air ini merupakan kunci keberhasilan <strong>usaha tani</strong> di <strong>lahan pasang surut</strong>. Dengan upaya yang sungguh-sungguh lahan pasang surut ini dapat bermanfaat bagi petani dan masyarakat luas.</p>
<p align="justify">Beberapa kendala ditemui di <strong>lahan pasang surut</strong> seperti kendala fisik (rendahnya kesuburan tanah, pH tanah dan adanya zat beracun Fe dan Al), kendala biologi (hama dan penyakit) dan kendala sosial ekonomi (keterbatasan modal dan tenaga kerja). Dengan melihat kendala yang ada, maka dalam penerapannya memerlukan tindakan yang spesifik agar dapat memberikan hasil yang optimal.</p>
<p align="justify">Adapun tujuan dari pengelolaan lahan adalah untuk mengatur pemanfaatan sumber daya lahan secara optimal, mendapatkan hasil maksimal dan mempertahankan kelestarian sumber daya lahan itu sendiri.</p>
<p align="justify">Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam <strong>budi daya padi di lahan pasang surut</strong> beberapa hal sangat penting untuk diperhatikan dan sangat dianjurkan yaitu :</p>
<p align="justify"><strong>1. KOMPONEN TEKNOLOGI PTT</strong></p>
<p align="justify">Komponen PTT yang sangat direkomendasikan dalam <strong>budidaya padi di lahan pasang surut</strong> meliputi :</p>
<p align="justify">a. Komponen utama ; terdiri dari <strong>varietas unggul</strong> yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan setempat, rasa nasi dan sesuai dengan permintaan pasar, benih bermutu dan berlabel, penggunaan pupuk organik, pengaturan populasi tanaman (legowo) 2 :1 atau 4 : 1, pemupukan berdasarkan status hara P dan K dengan PUTS/PUTR dan urea berdasarkan BWD, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu serta tata air mikro.</p>
<p align="justify">b. Komponen pilihan ; terdiri dari pengolahan lahan sesuai lahan, penanaman bibit muda (&lt; 21 HSS), tanam 1 – 3 batang/lubang, penyiangan gulma serta panen dan gabah segera dirontok.</p>
<p align="”justify”"><strong>2. PENYIAPAN LAHAN</strong></p>
<p align="justify"><strong>Lahan pasang surut</strong> lebih beragam dibanding lahan <strong>sawah </strong>irigasi oleh karena itu penyiapan lahannya juga berbeda. Penyiapan lahan bisa dilakukan dengan TOT (tanpa olah tanah) dan traktor.</p>
<p align="justify">Penyiapan lahan dengan tanpa olah tanah (TOT) dapat dilakukan pada lahan gambut atau lahan sulfat masam yang memiliki lapisan pirit 0 – 30 cm dari permukaan tanah. Sedangkan penyiapan lahan dengan traktor dapat dilakukan pada lahan-lahan potensial yang memiliki lapisan pirit atau beracun lebih dari 30 cm dari pemukaan tanah.</p>
<p align="”justify”"><strong>3. VARIETAS UNGGUL</strong></p>
<p align="justify"><strong>Varietas unggul</strong> merupakan salah satu komponen yang nyata dalam meningkatkan produksi tanaman dan dapat diadopsi dengan cepat oleh petani. Banyak <strong>varieatas unggul lahan pasang surut</strong> yang telah dikeluarkan oleh badan litbang pertanian sehingga petani dapat memilih benih yang disukai dan sesuai dengan kondisi setempat.</p>
<p align="”justify”"><strong>4. BENIH BERMUTU</strong></p>
<p align="justify">Penggunaan benih bermutu sangat dianjurkan karena akan menghasilkan bibit yang sehat dan akar yang banyak, perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, saat bibit dipindah tanam lebih cepat tumbuh dan akan menghasilkan produksi tinggi.</p>
<p align="justify">Untuk memperoleh benih yang baik dapat dilakukan dengan merendam pada air larutan garam 2 – 3 % atau larutan Za dengan perbandingan 20 gram Za/liter air. Dapat juga menggunakan garam dengan indikator telur yang semula berada di dasar air setelah diberi garam telur terangkat ke permukaan. Benih yang digunakan hanya benih yang tenggelam dan yang mengapung dibuang. Setelah diangkat benih perlu dibilas dengan air agar garam tercuci.</p>
<p align="justify">Pada daerah yang sering terserang penggerek batang dianjurkan melakukan perlakuan benih menggunakan pestisida berbahan aktif fipronil.</p>
<p align="justify">Benih bermutu ditandai dengan sertifikat/label, memiliki daya tumbuh &gt;90 % dan tidak tercampur dengan jenis padi atau biji tanaman lain.</p>
<p align="”justify”"><strong>5. PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK</strong></p>
<p align="justify">Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan, kimia dan biologi tanah. Bahan ini dapat berupa kotoran hewan (pupuk kandang), sisa tanaman, pupuk hijau dan kompos sebanyak 5 ton/ha.</p>
<p align="”justify”"><strong>6. PERSEMAIAN</strong></p>
<p align="justify">Jika tanpa olah tanah persemaian dapat dilakukan dengan persemaian kering dimana benih langsung disemai tanpa direndam dulu. Setelah disemai tutupi dengan tanah halus atau abu sekam.</p>
<p align="justify">Jika tanah diolah persemaian dapat dilakukan dengan persemaian basah. Buat bedengan berlumpur di sawah dengan lebar 1 – 1,2 meter dan panjangnya 10 – 20 meter, tambahkan bahan organik atau sekam sebanyak 2 kg per meter persegi. Persemaian dipagar plastik untuk mencegah serangan hama tikus, selain itu persemaian dipupuk urea 20 – 40 gram/meter persegi.</p>
<p align="”justify”"><strong>7. PENANAMAN</strong></p>
<p align="justify">Pelaksanaan penanaman dilakukan dengan menggunakan bibit muda (&lt; 21 HSS) karena dengan bibit muda akan memiliki kelebihan dimana bibit akan cepat pulih kembali karena adaptasi lingkungannya relatif tinggi, akar akan lebih kuat dan dalam, tanaman akan menghasilkan anakan lebih banyak, tanaman lebih tahan rebah dan kekeringan serta lebih efektif dalam pemanfaatan hara.</p>
<p align="justify">Tanam 1 &#8211; 3 batang perlubang agar tidak terjadi kompetensi yang tinggi dalam pemanfaatan hara antar bibit dalam satu rumpun. Pada <strong>lahan pasang surut</strong> dengan tipe luapan A dan pada wilayah endemik keong mas disarankan tidak menggunakan bibit muda.</p>
<p align="justify">Lakukan pengaturan populasi tanaman dengan sistem jajar legowo. Sistem ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan cukup efektif untuk mengurangi keong mas dan tikus. Jajar legowo adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua baris (legowo 2 : 1) atau empat baris (legowo 4 : 1) dan tanaman dalam barisan dirapatkan.</p>
<p align="justify">Sistem tanam jajar legowo memiliki keuntungan dimana semua barisan rumpun tanaman berada pada sisi pinggir yang biasanya memberikan hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir), pengendalian hama, penyakit dan gulma menjadi lebih mudah dilakukan, menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong, menekan tingkat keracunan besi dan penggunaan pupuk lebih berdaya guna.</p>
<p align="”justify”"><strong>8. PEMUPUKAN</strong></p>
<p align="justify">Pemupukan urea dilakukan dengan bantuan Bagan Warna Daun (BWD) sedangkan pemupukan P dan K berdasarkan peta status hara P dan K atau hasil analisa tanah dengan menggunakan perangkat uji tanah <strong>sawah </strong>(PUTS) atau perangkat uji tanah <strong>rawa </strong>(PUTR).</p>
<p align="justify">Pemupukan urea pertama pada umur 7 – 10 hari setelah tanam (HST) dengan dosis 50 – 70 kg/ha. Pemupukan urea susulan dilakukan dengan bantuan BWD yang didasarkan pada kebutuhan riil tanaman yaitu 10 hari setelah pemupukan dasar dan diulang setiap 10 hari sekali sampai umur 40 HST atau interval waktu yaitu pada umur 25 – 28 HST dan 38 – 42 HST.</p>
<p align="justify">Pemupukan Sp 36 dan KCl diberikan bersamaan dengan pemupukan urea pertama seluruhnya kecuali jika dosis pupuk K 100 kg/ha atau lebih dapat diberikan dua kali yaitu setengah bagian bersamaan dengan pemupukan urea pertama dan setengah bagian lagi pada umur 40 HST.</p>
<p align="justify">Metode diatas sudah melewati kajian yang dilakukan di <strong>lahan sawah pasang surut</strong> wilayah Kalimantan Barat dengan menggunakan benih <strong>varietas unggul</strong> inpara 1, 2 dan 3. Produksi yang dapat dicapai 5 – 6 ton/ha. Kesimpulannya bahwa dengan pengelolaan tanah, air dan pengunaan varietas unggul yang tepat maka <strong>usaha tani di lahan pasang surut</strong> dapat memberikan hasil produksi yang optimal.</p>
<p align="justify"><strong>Varietas padi lahan pasang surut</strong> yang memiliki rasa pulen diantaranya inpara 2, lambur dan mendawak.</p>
<p>&nbsp;<br />
<span style="font-size:11px;">Sumber : Sari Nurita, Ir., Penyuluh BPTP Kalimantan Barat, Ratmini Sri, dkk., 2007, Pengelolaan Tanah dan Air di <strong>Lahan Pasang Surut</strong></span></p>
<p><span style="font-size:11px;">Gambar : <a href="http://wongtaniku.wordpress.com" rel="nofollow">http://wongtaniku.wordpress.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/28/budidaya-padi-di-lahan-pasang-surut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sawah-pasang-surut.jpg">
			<media:title type="html">sawah lahan pasang surut dan rawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INTEGRASI TERNAK SAPI DENGAN TANAMAN PANGAN</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/22/integrasi-ternak-sapi-dengan-tanaman-pangan/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/22/integrasi-ternak-sapi-dengan-tanaman-pangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 23:20:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[USAHA TANI]]></category>
		<category><![CDATA[hortikultura]]></category>
		<category><![CDATA[integrasi ternak]]></category>
		<category><![CDATA[jagung]]></category>
		<category><![CDATA[pola usaha tani]]></category>
		<category><![CDATA[sapi]]></category>
		<category><![CDATA[SIPT]]></category>
		<category><![CDATA[sistem integrasi padi ternak]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman buah]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman pangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[Integrasi ternak dalam usaha tani adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak sapi di areal tanaman tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas tanaman bahkan keberadaan ternak sapi ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan produksi sapi itu sendiri. Ternak sapi yang diintegrasikan dengan tanaman mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman) untuk pakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_96" style="width: 390px" class="wp-caption alignright"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-96" loading="lazy" data-attachment-id="96" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/22/integrasi-ternak-sapi-dengan-tanaman-pangan/sapi-dan-sawah-2/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg" data-orig-size="720,478" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="integrasi ternak dan tanaman pangan" data-image-description="&lt;p&gt;teknologi integrasi ternak&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg?w=620" class="wp-image-96  " title="integrasi ternak sapi dan tanaman pangan" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg?w=380&#038;h=280" alt="teknologi integrasi ternak sapi dengan tanaman pangan, jagung dan hortikultura" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-96" class="wp-caption-text">Integrasi Ternak dan Tanaman Pangan</p></div>
<p align="justify"><strong>Integrasi ternak</strong> dalam <strong>usaha tani</strong> adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah <strong>ternak sapi</strong> di areal <strong>tanaman </strong>tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas <strong>tanaman </strong>bahkan keberadaan <strong>ternak sapi</strong> ini dapat meningkatkan produktivitas <strong>tanaman </strong>sekaligus meningkatkan produksi <strong>sapi </strong>itu sendiri.</p>
<p align="justify"><strong>Ternak sapi</strong> yang di<strong>integrasi</strong>kan dengan <strong>tanaman </strong>mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping <strong>tanaman </strong>(sisa-sisa hasil <strong>tanaman</strong>) untuk pakan <strong>ternak </strong>dan sebaliknya <strong>ternak sapi</strong> dapat menyediakan bahan baku pupuk organik sebagai sumber hara yang dibutuhkan <strong>tanaman</strong>.</p>
<p align="justify">Sejalan dengan program pemerintah dalam peningkatan populasi dan produksi <strong>ternak sapi</strong> yaitu melalui program-program bantuan pengadaan bibit <strong>sapi </strong>maka hal ini sangat baik untuk penerapan <strong>integrasi ternak sapi</strong> dalam usaha tani <strong>tanaman</strong>.</p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p align="justify">Dalam tulisan ini akan diuraikan <strong>integrasi ternak sapi dengan tanaman pangan</strong> meliputi tanaman padi, jagung dan hortikultura (sayuran dan buah).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. INTEGRASI TERNAK SAPI DENGAN TANAMAN PADI</strong></p>
<p align="justify">Usaha pemeliharaan <strong>ternak sapi</strong> dalam suatu kawasan persawahan dapat memanfaatkan secara optimal sumberdaya lokal dan produk samping <strong>tanaman</strong> padi. Pola pengembangan ini dikenal dengan sistem <strong>integrasi padi ternak</strong> (SIPT).</p>
<p align="justify">Pelaksanaan SIPT dilaksanakan melalui penerapan teknologi pengolahan hasil samping <strong>tanaman </strong>padi seperti jerami padi dan hasil ikutan berupa dedak padi yang dapat dimanfaatkan oleh <strong>ternak sapi</strong> sebagai pakan <strong>sapi</strong>. Sedangkan kotoran <strong>ternak sapi</strong> dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pupuk organik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah di areal persawahan.</p>
<p align="justify">Produk samping <strong>tanaman </strong>padi berupa jerami mempunyai potensi yang cukup besar dalam menunjang ketersediaan pakan <strong>ternak</strong>. Produksi jerami padi dapat tersedia dalam jumlah yang cukup besar rata-rata 4 ton/ha dan setelah melewati proses fermentasi dapat menyediakan bahan pakan untuk <strong>sapi </strong>sebanyak 2 ekor/tahun. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal agar disukai <strong>ternak </strong>maka sebelum diberikan pada <strong>ternak </strong>dilakukan pencacahan, fermentasi ataupun amoniasi.</p>
<p align="justify">Jerami padi yang telah difermentasi siap untuk digunakan sebagai bahan dasar untuk pakan <strong>sapi </strong>namun dapat ditambahkan dengan bahan pakan lainnya secara bersama-sama seperti hijauan <em>legum</em> (<em>lamtoro, kaliandra, turi</em>) yang dibudidayakan di areal pematang atau pagar kebun.</p>
<p align="justify">Pemberian jerami disesuaikan dengan ukuran tubuh <strong>sapi</strong>. <strong>Sapi</strong> dewasa umumnya diberikan sejumlah 20 – 30 kg jerami per hari dan dipercikkan air garam untuk menambah nafsu makan. Penambahan bahan pakan lain seperti dedak padi atau hijauan <em>legum</em> dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi.</p>
<p align="justify">Kotoran <strong>sapi </strong>berupa <em>feses</em>, <em>urine</em> dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik padat dan cair untuk dimanfaatkan di areal persawahan sedangkan sisanya dapat dijual untuk menambah pendapatan petani. Seekor <strong>sapi </strong>dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8 – 10 kg setiap hari, urine 7 – 8 liter setiap hari dan bila diproses menjadi pupuk organik (padat dan cair) dapat menghasilkan 4 – 5 kg pupuk. Dengan demikian satu ekor <strong>sapi </strong>dapat menghasilkan sekitar 7,3 – 11 ton pupuk organik per tahun, sementara penggunaan pupuk organik pada lahan persawahan adalah 2 ton/ha untuk setiap kali tanam sehingga potensi pupuk organik yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8 – 2,7 hektar dengan dua kali tanam dalam setahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. INTEGRASI TERNAK SAPI DENGAN TANAMAN JAGUNG</strong></p>
<p align="justify">Setelah produk utamanya dipanen hasil ikutan <strong>tanaman jagung</strong> berupa daun, batang dan tongkol sebelum atau sesudah melalui proses pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan <strong>ternak</strong> alternatif. Jumlah produk ikutan jagung dapat diperoleh dari satuan luas <strong>tanaman jagung</strong> antara 2,5 – 3,4 ton bahan kering per hektar yang mampu menyediakan bahan baku sumber serat/pengganti hijauan untuk 1 satuan <strong>ternak </strong>(bobot hidup setara 250 kg dengan konsumsi pakan kering 3 % bobot hidup) dalam setahun.</p>
<p align="justify">Produk ikutan <strong>tanaman jagung</strong> sebelum digunakan sebagai bahan baku pakan dapat diolah menjadi silase baik dengan atau tanpa proses fermentasi dan amoniasi. Pemberian dalam bentuk segar atau sudah diolah disarankan sebaiknya dipotong-potong atau dicacah terlebih dahulu agar lebih memudahkan <strong>ternak </strong>dalam mengkonsumsi. Agar <strong>ternak </strong>lebih menyukai dapat ditambahkan <em>molases</em> atau air garam.</p>
<p align="justify">Kotoran <strong>ternak </strong>yang telah diproses dapat dipergunakan sebagai sumber energi (biogas) dan pupuk organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah pada lahan <strong>tanaman jagung</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. INTEGRASI TERNAK SAPI DENGAN TANAMAN HORTIKULTURA (Sayuran dan Buah)</strong></p>
<p>A. <strong>Tanaman </strong>Sayuran</p>
<p align="justify">Keterpaduan usaha <strong>ternak sapi dengan <strong>tanaman </strong>sayur-sayuran</strong> merupakan salah satu upaya pemanfaatan produk samping/ikutan yang dipelihara di kawasan sayur-sayuran atau memanfaatkan sisa-sisa sayuran yang sudah afkir dan tidak layak dipasarkan yang dapat digunakan sebagai pakan <strong>ternak sapi</strong>.</p>
<p align="justify">Namun pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan <strong>ternak </strong>tidak dapat diharapkan banyak karena limbah sayuran potensinya sangat sedikit. Oleh karena itu pola keterpaduan antara <strong>ternak sapi</strong> dengan areal <strong>tanaman </strong>sayur-sayuran dapat dilakukan secara terpisah antara ternak dan areal <strong>tanaman </strong>sayuran atau merupakan satu kesatuan. Agar tidak mengganggu <strong>tanaman </strong>sayuran maka <strong>ternak sapi</strong> harus dikandangkan.</p>
<p align="justify">Untuk memanfaatkan sisa-sisa rumput dari pembersihan tanaman, sisa sayuran dan kotoran ternak sapi dibuat kompos dan pupuk organik. Hasil pembuatan pupuk kompos maupun pupuk kandang diperlukan untuk <strong>tanaman</strong> sayuran dalam rangka peningkatan produksi maupun mengurangi ketergantungan pupuk buatan.</p>
<p align="justify">Manfaat yang diperoleh bagi <strong>ternak sapi</strong> lebih ditujukan pada pemanfaatan hijauan yang ditanam pada areal <strong>tanaman</strong> sayuran sebagai <strong>tanaman</strong> penguat teras dan sebagai <strong>tanaman</strong> pelindung. Dalam rangka penyediaan pakan hijauan <strong>ternak</strong> dilakukan dengan pola tiga strata yaitu <strong>tanaman</strong> sayuran, <strong>tanaman</strong> <em>legum herba</em> atau rerumputan dan <strong>tanaman</strong> <em>legum</em> pohon.</p>
<p>B. <strong>Tanaman</strong> Buah</p>
<p align="justify">Pengembangan <strong>ternak sapi</strong> pada areal <strong>tanaman</strong> buah-buahan yaitu memanfaatkan lahan yang berada di antara <strong>tanaman</strong> buah-buahan sebagai areal penanaman rumput untuk pakan <strong>ternak</strong>. Sementara <strong>ternak</strong>nya dikandangkan di areal <strong>tanaman</strong> buah-buahan dan rumput yang dihasilkan di areal <strong>tanaman</strong> buah-buahan dipotong dan dibawa ke kandang sebagai pakan <strong>ternak</strong>.</p>
<p align="justify">Selain itu di areal <strong>tanaman</strong> buah-buahan yang cukup luas dapat dikembangkan sebagai ladang penggembalaan <strong>ternak</strong> (<strong>ternak</strong> diikat pada kawasan tertentu) namun harus diawasi agar <strong>ternak</strong> tidak merusak <strong>tanaman</strong> buah-buahan yang ada.</p>
<p align="justify">Keuntungan dari keterpaduan ini adalah <strong>tanaman</strong> buah-buahan dapat terawat, dihasilkan beragam produk, tersedia pakan <strong>ternak</strong> dan pupuk organik untuk kesuburan serta konservasi sumber daya alam. <strong>Tanaman</strong> buah-buahan yang dapat di<strong>integrasi</strong>kan <strong>dengan ternak sapi</strong> diantaranya nanas dan pisang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="left"><em>Sumber : Pedoman Teknis Integrasi Ternak Sapi Dengan Tanaman, Direktorat Jendral Peternakan, 2010.<br />
Sumber gambar : <a href="http://beritadaerah.com" rel="nofollow">http://beritadaerah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/22/integrasi-ternak-sapi-dengan-tanaman-pangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/sapi-dan-sawah1.jpg">
			<media:title type="html">integrasi ternak sapi dan tanaman pangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA LAHAN KRITIS</title>
		<link>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/13/konservasi-tanah-dan-air-pada-lahan-kritis/</link>
					<comments>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/13/konservasi-tanah-dan-air-pada-lahan-kritis/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yudie Sutardjo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 21:48:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KONSERVASI]]></category>
		<category><![CDATA[dam parit]]></category>
		<category><![CDATA[guludan]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi lahan kritis]]></category>
		<category><![CDATA[metode vegetatif]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan lahan kritis]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan erosi]]></category>
		<category><![CDATA[pertanaman lorong]]></category>
		<category><![CDATA[sipil teknis]]></category>
		<category><![CDATA[strip rumput]]></category>
		<category><![CDATA[tanah dan air]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman penutup]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi konservasi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[terassering]]></category>
		<category><![CDATA[wind break]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sekarmadjapahit.wordpress.com/?p=23</guid>

					<description><![CDATA[Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya. Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_77" style="width: 390px" class="wp-caption alignright"><a href="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg" target="_blank"><img aria-describedby="caption-attachment-77" loading="lazy" data-attachment-id="77" data-permalink="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/13/konservasi-tanah-dan-air-pada-lahan-kritis/lahan-kritis-3/" data-orig-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg" data-orig-size="1509,904" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="lahan kritis" data-image-description="&lt;p&gt;penanganan kondisi lahan kritis&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg?w=300" data-large-file="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg?w=620" class="wp-image-77 " style="border-width:0;margin-top:0;margin-bottom:0;" title="konservasi lahan kritis" src="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg?w=380&#038;h=280" alt="konservasi air dan lahan kritis serta pemanfaatan lahan kritis" width="380" height="280" /></a><p id="caption-attachment-77" class="wp-caption-text">Konservasi Lahan Kritis</p></div>
<p align="justify">Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.</p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p align="justify">Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak).</p>
<p align="justify">Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis.</p>
<p align="justify">Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang <em>applicable </em>dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau.</p>
<p align="justify">Dalam tulisan ini akan diuraikan dua metode <strong>konservasi lahan kritis</strong> yang mungkin lebih baik dari pada membuka hutan jika ditinjau dari segi pelestarian lingkungan dan efisiensi penggunaan dana dalam program ekstensifikasi dan perbaikan produktivitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. METODE VEGETATIF</strong></p>
<p align="justify">Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi <em>evaporasi</em> dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah <em>infiltrasi</em> dan mencegah terjadinya erosi.</p>
<p align="justify">Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.</p>
<p><strong>Aplikasi Metode Vegetatif :</strong></p>
<p align="justify">A. Sistem Pertanaman Lorong</p>
<p align="justify">Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.</p>
<p align="justify">Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.</p>
<p align="justify">B. Sistem Pertanaman Strip Rumput</p>
<p align="justify">Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.</p>
<p align="justify">C. Tanaman Penutup Tanah</p>
<p align="justify">Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah.</p>
<p align="justify">Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan <em>disperasi</em> air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar <em>infiltrasi</em> air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.</p>
<p align="justify">Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (<em>ring weeding</em>). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit.</p>
<p align="justify">Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu : (a) jenis merambat (rendah), contoh ; <em>Colopogonium moconoides</em>, <em>Centrosome sp</em>, <em>Ageratum conizoides</em>, <em>Pueraria sp</em>, (b) jenis perdu/semak (sedang) contoh ; <em>Crotalaria sp</em>, <em>Acasia vilosa</em>, (c) jenis pohon (tinggi) contoh ; <em>Leucaena leucephala</em> (lamtorogung), <em>Leucaena glauca</em> (latoro lokal), <em>Ablizia falcataria</em>, (d) jenis kacang-kacangan contoh <em>Vigna sinensis</em>, <em>Dolichos lablab</em> (komak).</p>
<p align="justify">D. Mulsa</p>
<p align="justify">Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.</p>
<p align="justify">Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm.</p>
<p align="justify">Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, <em>infiltrasi</em> dan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.</p>
<p align="justify">E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (<em>landscape</em>)</p>
<p align="justify">Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (<em>landscape</em>) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satu <em>landscape</em>. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.</p>
<p align="justify">F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah</p>
<p align="justify">Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.</p>
<p align="justify">G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat</p>
<p align="justify">Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit <strong>air</strong> pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan <em>run off</em> dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. METODE SIPIL TEKNIS</strong></p>
<p align="justify">Metode sipil teknis yaitu suatu metode konservasi lahan kritis dengan mengatur aliran permukaan sehingga tidak merusak lapisan olah tanah (<em>top soil</em>) yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Usaha konservasi lahan kritis dengan metode sipil teknis ini yaitu membuat bangunan-bangunan konservasi antara lain pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, teras dan saluran air (saluran pembuangan air, terjunan dan rorak).</p>
<p><strong>Aplikasi Metode Pendekatan Sipil Teknis</strong></p>
<p align="justify">A. Pembuatan Teras Pada Lahan Dengan Lereng Yang Curam</p>
<p align="justify">Pembuatan teras dilakukan jika budidaya tanaman dilakukan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 8%. Namun demikian budidaya tanaman semusim sebaiknya menghindari daerah berlereng curam. Jenis-jenis teras untuk konservasi air juga merupakan teras untuk<strong> konservasi tanah</strong> antara lain : teras gulud, teras buntu (rorak), teras kredit, teras individu, teras datar, teras batu, teras bangku, SPA dan <em>hillside ditches</em>.</p>
<p align="justify">B. Pembuatan Guludan</p>
<p align="justify">Guludan adalah suatu sistem konservasi lahan kritis dimana tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar. Sangat bermanfaat dalam mengatasi laju limpasan permukaan dan erosi, dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama N untuk tanaman lorong. Selain itu juga bermanfaat untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah, memperlambat limpasan air pada saluran peresapan dan sebagai pengumpul tanah yang tererosi sehingga sedimen tanah lebih mudah dikembalikan ke bidang olah. Rorak adalah lubang atau penampang yang dibuat memotong lereng yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air aliran permukaan. Umumnya rorak dibuat dengan ukuran panjang 1-2 meter, lebar 0,3-0,4 meter dan dalam 0,4-0,5 meter. Jarak antar rorak dalam kontur adalah 2-3 meter dan jarak antara rorak bagian atas dengan rorak di bawahnya 3-5 meter.</p>
<p align="justify">C. <em>Wind Break</em></p>
<p align="justify"><em>Wind break</em> dibuat untuk mengurangi kecepatan angin sehingga mengurangi kehilangan air melalui permukaan tanah dan tanaman selama irigasi (<em>evapotranspirasi</em>). Kombinasi tanaman dengan tajuk berbeda sangat mendukung metode ini. Pola <em>stage bouw</em> (tajuk bertingkat) seperti di pekarangan tradisional adalah contoh yang baik untuk diterapkan.</p>
<p align="justify">D. Pemanenan Air Hujan</p>
<p align="justify">Pemanenan air hujan merupakan salah satu alternatif dalam menyimpan air hujan pada musim penghujan dan untuk dapat digunakan pada musim kemarau. Beberapa teknik pemanenan air hujan yang telah dilakukan dibeberapa Negara yang beriklim kering adalah bangunan teras, penanaman searah kontur, DAM, tadah hujan, kanal, waduk, mata air galian dangkal dan berlubang serta irigasi pompa kecil dan <em>wadi bank</em>.</p>
<p align="justify">Teknik pemanenan air yang telah dilakukan di Indonesia antara lain embung dan <em>chanel reservoir</em>. Embung merupakan suatu bangunan konservasi air yang berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpahan atau rembesan di lahan sawah tadah hujan berdrainase baik. Embung sangat tepat diterapkan pada kelerengan 0-30% dengan curah hujan 500-1000 mm/tahun, bermanfaat untuk menyediakan air pada musim kemarau. Agar pengisian dan pendistribusian air lebih cepat dan mudah embung hendaknya dibangun dekat dengan saluran air dan pada lahan dengan kemiringan 5-30%. Tanah bertekstur liat atau lempung sangat cocok untuk pembuatan embung. Teknik konservasi air dengan embung banyak diterapkan di lahan tadah hujan bercurah hujan rendah.</p>
<p align="justify">E. Dam Parit</p>
<p align="justify">Dam parit adalah suatu cara mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit dengan tujuan untuk menampung aliran air permukaan sehingga dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya. Dam parit dapat menurunkan aliran permukaan, erosi dan sedimentasi.</p>
<p align="justify">Keunggulan dam parit yaitu dapat menampung air dalam volume besar akibat terbendungnya aliran air disaluran air/parit, tidak menggunakan areal atau lahan pertanian yang produktif, mengairi lahan cukup luas karena dibangun berseri diseluruh daerah aliran sungai (DAS), menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga mengurangi erosi dan hilangnya lapisan tanah atas yang subur serta sedimentasi, memberikan kesempatan agar air meresap kedalam tanah di seluruh wilayah DAS sehingga mengurangi resiko kekeringan pada musim kemarau dan pembuatannya lebih murah sehingga dapat dijangkau petani.</p>
<p align="justify">Konservasi air merupakan hal yang sangat relevan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor. Prinsip dasar dari konservasi air adalah menyimpan sebanyak-banyaknya air pada musim hujan dan memanfaatkan kembali pada musim kemarau. Meskipun cukup banyak teknik konservasi air yang dapat diimplementasikan di lahan kering tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh kondisi biofisik, sosial ekonomi dan keinginan petani.</p>
<p align="justify">Hal terakhir ini sering dilupakan oleh para pengelola lahan kering. Petani berhak memilih teknik konservasi air yang paling dapat diterima dan menguntungkan di mata petani. Akomodasi kepentingan dan keinginan petani ini akan dapat lebih menjamin kelangsungan pengembangan lahan kritis. Untuk dapat melakukan hal tersebut pemberdayaan petani menjadi salah satu prioritas utama bersamaan dengan penerapan teknik konservasi air.</p>
<p align="justify">Dengan adanya teknologi konservasi lahan kritis ini memungkinkan adanya usaha tani konservasi sehingga akan lebih mendukung program ketahan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani. Manfaat utama pertanian konservasi dibandingkan dengan teknik pertanian lain yaitu input tenaga kerja yang rendah dan penggunaan proses ekologis alamiah secara efektif. Pertanian konservasi memanfaatkan proses ekologis alami untuk mempertahankan kelembaban, meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat struktur tanah dan mengurangi erosi serta keberadaan hama penyakit. Hal itu dilakukan melalui tiga cara, yaitu dengan meminimalkan gangguan pada tanah, menyimpan sisa tanaman dan rotasi tanaman.</p>
<p align="justify">Pertanian konservasi sangat sedikit mengganggu tanah melainkan memberi kesempatan flora dan fauna tanah yang ada untuk tumbuh subur secara alami. Flora dan fauna tanah tersebut akan membusukkan sisa tanaman yang dijadikan penutup tanah oleh petani sehingga akan menambah nutrisi pada tanah dan meningkatkan struktur humus tanah. Selain itu pertanian konservasi mampu memanfaatkan hujan dengan lebih baik sebab tanah yang ditutupi oleh sisa tanaman akan menyerap lebih banyak air hujan dan mengalami lebih sedikit penguapan. Saat curah hujan rendah lahan akan menangkap kelembaban yang ada di udara. Penutupan lahan juga mengurangi kikisan air yang jika dipadukan dengan struktur tanah yang telah diolah akan mampu mengurangi erosi tanah dari air dan angin.</p>
<p align="justify">Akhirnya rotasi tanaman mendapatkan keuntungan dari proses ekologis alamiah melalui kacaunya siklus hama penyakit dan pemakaian tanaman polong-polongan untuk mengikat nitrogen di dalam tanah. Dalam jangka panjang pertanian konservasi yang memanfaatkan proses ekologis alami akan mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida oleh petani sehingga mengurangi penggunaan <em>input </em>dari luar.</p>
<p align="justify">Adanya keterpaduan kegiatan yang mencakup aspek biofisik, sosial ekonomi, kelembagaan dan keinginan petani maka konservasi air dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengembangan lahan kritis/kering sebagai upaya pendukung gerakan nasional kemitraan penyelamatan air dan konservasi lahan kritis.</p>
<p>&nbsp;<br />
<span style="font-size:11px;"><em>Sumber : Sundari, SST (penyuluh pertanian BBPPTP) dalam tabloid sinar tani nomor 3428 tahun XI.II</em></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/13/konservasi-tanah-dan-air-pada-lahan-kritis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/15d4fe5bebf430522aa89998baab6cde220a058d1c49e07196ab850dcd528d90?s=96&amp;d=wavatar&amp;r=G">
			<media:title type="html">sekarmadjapahit</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sekarmadjapahit.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/lahan-kritis2.jpg">
			<media:title type="html">konservasi lahan kritis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>