<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 02:57:11 +0000</lastBuildDate><category>Mata Pelajaran</category><category>Fisika</category><category>Kelas X</category><category>Makalah</category><category>Ekonomi</category><category>Kerja PR</category><category>Kimia</category><category>Sekolah Skill</category><category>Skill Komunikasi</category><title>Sekolaholic</title><description></description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-7143011521076960330</guid><pubDate>Thu, 01 Sep 2016 13:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-01T06:56:17.421-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sekolah Skill</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Skill Komunikasi</category><title>Pengertian dan Kedudukan Komunikasi</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhP0qd3-6i8EXkFDt7HUebQUPLtH6o6OLlaPt6cqK6OgaPAb_k_EXIec94nY35a2jBMbJtAh5SSGrF0fenRkbsDlEYI3sXw0xgG_LG0e84Vu1qsoaXEHIBkKT9WwtmLkLqJWoV0ebSgfYui/s1600/communication.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;524&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhP0qd3-6i8EXkFDt7HUebQUPLtH6o6OLlaPt6cqK6OgaPAb_k_EXIec94nY35a2jBMbJtAh5SSGrF0fenRkbsDlEYI3sXw0xgG_LG0e84Vu1qsoaXEHIBkKT9WwtmLkLqJWoV0ebSgfYui/s640/communication.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Etimologis : Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin “communis” yang berarti “sama”, communico, communicatio yang berarti “membuat sama” Kata “sama” tersebut dimaksudkan adalah sama makna, sama kedudukan, sama pengertian. Jadi secara etimologis, istilah komunikasi dapat diartikan berarti suatu kegiatan yang mengarah pada adanya kesamaan pengertian dan kesamaan pemaknaan terhadap sesuatu pesan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Terminologis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
· Harorld D.Lasswell mendefinisikan komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media, yang akan menimbulkan efek tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
· Carl I.Hovland menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses mengubah perilaku orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
· Sementara itu Edwin B. Flippo menyebutkan bahwa komunikasi adalah kegiatan mendorong orang lain untuk menafsirkan ide dengan cara yang diinginkan oleh si pembicara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
· Stephen P. Robbins menyebut komunikasi lebih mengarah pada penyampaian dan pemahaman suatu maksud.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
· Dari beberapa pengertian yang disampaikan beberapa ahli tersebut terdapat suatu benang merah yang dapat ditarik dan dijadikan pengertian komunikasi, yaitu adanya proses penyampaian pesan, berupa ide, gagasan dan maksud tertentu dan seseorang kepada orang lain, sehingga terdapat pengertian dan pemahaman&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Filsafat Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Filsafat komunikasi merupakan suatu studi dengan objek formal filsafat, sedangkan objek materialnya adalah komunikasi, yang tak lain adalah “pernyataan antar manusia baik secara langsung maupun tidak langsung”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi merupakan kajian reflektif secara mendalam, komprehensif dan holistik hingga menyentuh hal-hal esensial, berbagai fenomena dalam proses komunikasi, baik itu unsur komunikasi, prinsip komunikasi hingga model-model komunikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Hakikat Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi menjadi suatu kajian yang penting, mengingat berbagal permasalahan kerapkali muncul dalam proses pergaulan antar manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi sesungguhnya terkait erat dengan hakikat kodrat manusia yang membutuhkan keberadaan orang lain dan hidup bersama orang lain dalam sosialitasnya. Perbedaan adalah satu hal yang tidak dapat dielakkan, sehingga diperlukan suatu komunikasi untuk menyamakan persepsi, pengertian dan pemahaman antara satu orang dengan orang lain. Dapatlah disimpulkan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mutlak bagi keberlangsungan proses sosialisasi manusia. Hakikat komunikasi tidak lain adalah proses pernyataan dan pemaknaan antar manusia. Peryataan tersebut baik berupa pikiran dan perasaan yang kemudian dikomunikasikan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kedudukan Filsafat Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Filsafat komunikasi merupakan cabang filsafat yang masih relatif baru. Sekitar awal abad XX, kajian tentang hakikat komunikasi berdiri sendiri sebagal cabang flisafat, yang tak lain merupakan satu bentuk spesialisasi dan cabang filsafat sosial yang mempunyal ruang lingkup demikian luas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagal salah satu cabang filsafat, filsafat komunikasi mempunyai hubungan erat dengan cabang filsafat yang lain. Hubungan erat tersebut terutama tampak pada fenomena manusia yang melakukan komunikasi. Dengan kata lain filsafat komunikasi berhubungan erat dengan filsafat manusia. Filsafat komunikasi berusaha menjabarkan sifat kodrat manusia sebagal makhluk individual sekaligus&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
makhluk social yang mempunyai kecenderungan hakiki untuk berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu perlu disusun suatu prinsip-prinsip, metode dan teknik komunikasi yang tetap mengedepankan manusia sebagai subjek komunikasi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa titik singgung antara filsafat manusia dan filsafat komunikasi adalah keberadaan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hubungan erat yang kedua yaitu antar filsafat komunikasi dengan filsafat sosial, yang semula merupakan induk filsafat komunikasi. Filsafat sosial menyelidiki bentuk-bentuk hubungan sosial, struktur-struktur scsial dalam masyarakat, sedangkan filsafat komunikasi mengkaji sebagian dan fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat, yaitu komunikasi sebagai saran bagi manusia untuk melakukan hubungan satu sama lain. Perkembangan yang terjadi memperlihatkan bahwa komunikasi ternyata bukan lagi menjadi tujuan sosialisasi manusia, tetapi komunikasi telah menjadi alat atau instrument bagi manusia untuk mendapatkan hal lain, seperti pemenuhan kebutuhan materi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hubungan selanjutnya terdapat dalam kaitannya dengan usaha manusia untuk memperoleh pengetahuan yang benar, maka dalam hat mi filsafat komunikasi juga berhubungan dengan epistemologi (filsafat pengetahuan). Dengan adanya hubungan ciengan epistemology, maka penguasaan pengetahuan merupakan sesuatu yang penting bagi terjadinya proses pemaknaan Komunikasi antar manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berkaitan dengan masalah penilalan baik dan buruk dalam proses komunikasi maka filsafat komunikasi juga akan berhubungan filsafat nilai (aksiologi). Manusia merupakan makhluk penilai, maka dalam proses komunikasi hendaknya juga harus dipertimbangkan adanya nilai-nilai. Apakah pesan yang disampaikan pada orang lain dapat dipertanggungjawabkan, proses penyampaian&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
pesan tetap mempertimbangkan aspek etika atau tidak?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2016/09/pengertian-dan-kedudukan-komunikasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhP0qd3-6i8EXkFDt7HUebQUPLtH6o6OLlaPt6cqK6OgaPAb_k_EXIec94nY35a2jBMbJtAh5SSGrF0fenRkbsDlEYI3sXw0xgG_LG0e84Vu1qsoaXEHIBkKT9WwtmLkLqJWoV0ebSgfYui/s72-c/communication.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-2388340925245567956</guid><pubDate>Thu, 28 Jan 2016 03:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-01-31T18:51:47.842-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fisika</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kelas X</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mata Pelajaran</category><title>Pengertian Pengukuran</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;border-width: 100%; direction: ltr;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;direction: ltr; margin-left: 0in; margin-top: 0in; width: 7.5152in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;direction: ltr; margin-left: 0in; margin-top: 0in; width: 7.5152in;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq9hI8wXpM7KX7pIjn4MorkQt6MHT1D579Raub-dawHFfQ0MFBDcgGxZwCOl3JPIwNjhBBIQ87FNluw1cF3iauY7b2qw4jP7al0j-R1PvYAWlQJXh7qe7t0dGLHZ0ZDdF6aWJkhqxsQa0E/s1600/Pengukuran.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;332&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq9hI8wXpM7KX7pIjn4MorkQt6MHT1D579Raub-dawHFfQ0MFBDcgGxZwCOl3JPIwNjhBBIQ87FNluw1cF3iauY7b2qw4jP7al0j-R1PvYAWlQJXh7qe7t0dGLHZ0ZDdF6aWJkhqxsQa0E/s640/Pengukuran.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLamuObdKt9qawVg9jE3jaqjnc8a0S1LaEFzqcXWuKFkyxqxh-IPz5NHVczc5cInIQEEDnu_ZUNO7Qn9Vk5uyWl-VN5tDYhUQ_upfuKg3uq2cGiBC4GQ1bpMQytii5H8Q2enJl-JowVzuO/s1600/Pengukuran.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam setiap ilmu
pengetahuan, pengukuran menghasilkan deskripsi kuantitatif dari suatu proses
dan produk yang membuat kita memahami tingkah laku dan hasil. Dan akan semakin
berkembang jika kita memilih teknik dan utilitas yang lebih baik untuk
mengendalikan dan memaksimalkan kinerja suatu proses, produk dan resources
(sumber) yang ada. Karena seorang engineer tidak dapat dikatakan sebagai
engineer sejati, sampai kita dapat membangun pondasi yang solid untuk mengukur
berbasiskan teori. (Pfleeger et al., 1997).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Dibawah ini pengertian pengukuran menurut para ahli:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Lord Kelvin&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika
kalian dapat mengukur apa yang kalian katakan dan mengekspresikannya dalam
angka-angka, maka kalian mengetahui sesuatu tentang itu. Tetapi jika kalian
tidak dapat mengukur dan mengekspresikan sesuatu dengan angka-angka,
pengetahuan tersebut tidak &lt;/div&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;lengkap dan belum mencukupi dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.75in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
J. C. Maxwell&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Mengukur
berarti mengetahui&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Krantz et al, 1971&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran
adalah memetakan obyek empirik ke obyek angka-angka dengan perubahan yang
setara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Teori Pengukuran :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran
berarti perubahan yang setara antara area empirik dan barisan angka-angka
tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Definisi Pengukuran
menurut Pflanzagl&#39;s :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran
adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu (misalnya entiti
matematik untuk mewakili isi sebuah vektor), untuk mendeskripsikan suatu
atribut empirik dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran menurut
Ellis (1966) melalui (Carnahan, 1997)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran
adalah penyebutan dengan pasti secara numerik terhadap sesuatu, termasuk untuk
setiap urutan yang sudah pasti dan aturan non degenerate.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Dari (Bill, 1980)
melalui Steven (1984).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Proses
pengukuran adalah proses memetakan properti atau hubungan empiris ke model
formal. Pengukuran dimungkinkan dengan adanya isomorphism antara :&lt;/div&gt;
&lt;ul style=&quot;direction: ltr; margin-bottom: 0in; margin-left: .75in; margin-top: 0in; unicode-bidi: embed;&quot; type=&quot;circle&quot;&gt;
&lt;li style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: middle;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot;; font-size: 11.0pt;&quot;&gt;Hubungan empiris diantara
     properti suatu obyek dan kejadian yang ada padanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: middle;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot;; font-size: 11.0pt;&quot;&gt;Properti dari model formal
     yang terdiri dari angka dan perubahan operator.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Mengukur (IEEE,
1993) :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu
jalan untuk memastikan dan memberitahukan suatu nilai dengan cara
membandingkannya dengan suatu standar, untuk mengaplikasikan suatu metrik (cara
dan metode pengukuran).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran (IEEE,
1993):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Tindakan
melakukan proses mengukur : gambaran, tingkatan atau jumlah yang dapat
dihasilkan dari mengukur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pfleeger et al.,
(1997):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Mengukur
adalah pemetaan sederhana dari suatu kenyataan, dunia empiris ke dunia
matematik, dimana kita dapat lebih mudah dalam memahami atribut dari entiti dan
relasi masing-masiong entiti tersebut dengan entiti lainnya. Kesulitannya
adalah bagaimana kita dapat menginterpretasikan perilaku matematik dan
mengartikannya dalamdunia nyata kembali secra tepat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran: (Fenton,
1994)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pengukuran
adalah pendefinisian suatu proses dengan angka atau simbol-simbol yang
menjelaskan dengan pasti atribut suatu entiti di dunia nyata sesuai dengan
aturan tertentu yang didefinisikan sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2016/01/pengertian-pengukuran.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq9hI8wXpM7KX7pIjn4MorkQt6MHT1D579Raub-dawHFfQ0MFBDcgGxZwCOl3JPIwNjhBBIQ87FNluw1cF3iauY7b2qw4jP7al0j-R1PvYAWlQJXh7qe7t0dGLHZ0ZDdF6aWJkhqxsQa0E/s72-c/Pengukuran.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-3923208995658888695</guid><pubDate>Thu, 28 Jan 2016 03:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-01-30T23:26:51.314-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fisika</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kelas X</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mata Pelajaran</category><title>Hakikat Pembelajaran Fisika</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;border-width: 100%; direction: ltr;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;direction: ltr; margin-left: 0in; margin-top: 0in; width: 7.5152in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;direction: ltr; margin-left: 0in; margin-top: 0in; width: 7.5152in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKNd4heEbXDAhefYW4wSfGgED5pHC3S3TEh80GlLInNizKeq9kMrTY5IDZ5mEDCiKxiqEFdCHuqXfJkE07MrC7uLjfuE3lZTeES2sxunEDoKsj97ds1R_CE0_4g8iYYsEX86ZEsg3htPBU/s1600/rumus-fisika.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;370&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKNd4heEbXDAhefYW4wSfGgED5pHC3S3TEh80GlLInNizKeq9kMrTY5IDZ5mEDCiKxiqEFdCHuqXfJkE07MrC7uLjfuE3lZTeES2sxunEDoKsj97ds1R_CE0_4g8iYYsEX86ZEsg3htPBU/s640/rumus-fisika.jpg&quot; title=&quot;Hakikat pembelajaran fisika&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Fisika merupakan
ilmu yang mempelajari tingkah laku alam dalam berbagai bentuk gejala untuk
dapat memahami apa yang mengendalikan atau menentukan kelakukan tersebut.
Berdasarkan hal tersebut maka belajar fisika tidak lepas dari penguasaan
konsep-konsep dasar fisika melalui pemahaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pada dasarnya,
fisika adalah ilmu dasar, seperti halnya kimia, biologi, astronomi, dan
geologi. Ilmu-ilmu dasar diperlukan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan
terapan dan teknik. Tanpa landasan ilmu dasar yang kuat, ilmu-ilmu terapan
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;tidak dapat maju dengan pesat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Teori fisika tidak
hanya cukup dibaca, sebab teori fisika tidak sekedar hafalan saja akan tetapi
harus dibaca dan dipahami serta dipraktikkan, sehingga siswa mampu menjelaskan
permasalahan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pembelajaran Fisika
adalah bagian dari pelajaran ilmu alam. Ilmu alam secara klasikal dibagi
menjadi dua bagian, yaitu (1) ilmu-ilmu fisik&amp;nbsp;(physical
sciences)&amp;nbsp;yang objeknya zat, energi, dan transformasi zat dan energi, (2)
ilmu-ilmu biologi&amp;nbsp;(biological sciences) yang objeknya adalah makhluk hidup
dan lingkungannya. (Kemble, 1966: 7)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Belajar merupakan
upaya memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui serangkaian kegiatan yang
melibatkan berbagai unsur yang ada. Siswa yang belajar sebenarnya di dalam otak
terdapat banyak konsep, terutama &amp;nbsp;konsep awal tentang alam yang ada di sekitarnya.
Melalui proses pembelajaran yang sistematis, maka &amp;nbsp;konsep awal tersebut
akan menghasilkan konsep yang benar dan tepat serta terarah. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam belajar
fisika, yang pertama dituntut adalah kemampuan untuk memahami konsep, prinsip
maupun hukum-hukum, kemudian diharapkan siswa mampu menyusun kembali dalam
bahasanya sendiri sesuai dengan tingkat kematangan dan perkembangan
intelektualnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Belajar fisika yang
dikembangkan adalah kemampuan berpikir analitis, induktif dan deduktif dalam
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika, serta dapat mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. (Depdiknas, 2003: 1)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Selanjutnya secara
garis besar pembelajaran Fisika seperti yang diungkapkan oleh Abu
Hamid(sulistyono,1998:12), adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;direction: ltr; font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.375in; margin-top: 0in; unicode-bidi: embed;&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: middle;&quot; value=&quot;1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Proses belajar Fisika
     bersifat untuk menentukan konsep, prinsip, teori, dan hukum-hukum alam,
     serta untuk dapat menimbulkan reaksi, atau jawaban yang dapat dipahami dan
     diterima secara objektif, jujur dan rasional.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: middle;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Pada hakikatnya mengajar
     Fisika merupakan suatu usaha untuk memilih strategi mendidik dan mengajar
     yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, dan upaya untuk
     menyediakan kondisi-kondisi dan situasi belajar Fisika yang kondusif, agar
     murid secara fisik dan psikologis dapat melakukan proses eksplorasi untuk
     menemukan konsep, prinsip, teori, dan hukum-hukum alam serta menerapkannya
     dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: middle;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Pada hakikatnya hasil belajar
     Fisika merupakan kesadaran murid untuk memperoleh konsep dan jaringan
     konsep Fisika melalui eksplorasi dan eksperimentasi, serta kesadaran murid
     untuk menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi
     dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in 0in 0in 0.375in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pembelajaran
merupakan proses pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada
saat individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Menurut Corey
(Yusufhadi Miarso, 1986 : 195) pembelajaran adalah suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta
dalam tingkah-laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan
respon terhadap situasi tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11pt; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pembelajaran fisika
dipandang sebagai suatu proses untuk mengembangkan kemampuan memahami konsep,
prinsip maupun hukum-hukum fisika sehingga dalam proses&amp;nbsp; pembelajarannya
harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pembelajaran fisika di sekolah menengah pertama merupakan salah satu mata
pelajaran IPA yang dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2016/01/hakikat-pembelajaran-fisika.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKNd4heEbXDAhefYW4wSfGgED5pHC3S3TEh80GlLInNizKeq9kMrTY5IDZ5mEDCiKxiqEFdCHuqXfJkE07MrC7uLjfuE3lZTeES2sxunEDoKsj97ds1R_CE0_4g8iYYsEX86ZEsg3htPBU/s72-c/rumus-fisika.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-7102608590003832464</guid><pubDate>Mon, 25 Jan 2016 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-01-30T23:27:10.364-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ekonomi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kelas X</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mata Pelajaran</category><title>Konsep Dasar Ilmu Ekonomi</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1zKGrtC7OdFSJOXlLHGXjGHj7kW1RTfpBFNLD02h0M9Tme08GbqdJ6-CftUhi0loh6Kj8EXkx9W460QtwdHqNYrMrqxCX50SCUjADI7o3qKIy_OotDZ1emuUY1XR8ElN3_7dNzzeXBctS/s1600/ekonomi.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Konsep Ilmu Ekonomi&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;448&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1zKGrtC7OdFSJOXlLHGXjGHj7kW1RTfpBFNLD02h0M9Tme08GbqdJ6-CftUhi0loh6Kj8EXkx9W460QtwdHqNYrMrqxCX50SCUjADI7o3qKIy_OotDZ1emuUY1XR8ElN3_7dNzzeXBctS/s640/ekonomi.png&quot; title=&quot;Pengertian Ekonomi&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Apa kabar Teman Sekolah!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Baiklah, sebelum
kita membahas terlalu jauh mata pelajaran Ekonomi, pertama-tama kita akan
mempelajari dahulu konsep mendasar tentang Ilmu Ekonomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Nah, langsung saja!
Untuk memahami konsep dasar ilmu ekonomi, kita bisa memulainya dengan menjawab
pertanyaan berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Apakah ilmu ekonomi
hanya mengkaji keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pelaku bisnis dan
pemerintah saja?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Kalau Tidak, lalu
ilmu ekonomi itu mengkaji apa?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Secara istilah
‘ekonomi’ berasal dari bahasa Yunani asal kata ‘oikosnamos’ atau oikonomia’
yang artinya ‘manajemen urusan rumah-tangga’, khususnya penyediaan dan
administrasi pendapatan. Namun sejak perolehan maupun penggunaan kekayaan
sumberdaya secara fundamental perlu diadakan efesiensi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;termasuk pekerja dan
produksinya, maka dalam bahasa modern istilah ‘ekonomi’ tersebut menunjuk
terhadap prinsip usaha maupun metode untuk mencapai tujuan dengan alat-alat
sesedikit mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;
Pada dasarnya,&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Ilmu ekonomi&lt;/span&gt;&amp;nbsp;mempelajari bagaimana individu dan masyarakat memanfaatkan sumber daya&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;yang terbatas.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Di bawah ini akan dijelaskan beberapa definisi tentang ilmu
ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Ahli ekonomi lainnya
yaitu J.L. Meij mengemukakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu tentang usaha
manusia ke arah kemakmuran. Pendapat tersebut sangat realistis, karena ditinjau
dari aspek ekonomi di mana manusia sebagai mahluk ekonomi (Homo Economicus) pada
hakekatnya mengarah kepada pencapaian kemakmuran. Kemakmuran menjadi tujuan
sentral dalam kehidupan manusia secara ekonomi, sesuai yang dituliskan pelopor
“liberalisme ekonomi” oleh Adam Smith dalam buku “An Inquiry into the Nature
and Cause of the Wealth of Nations” tahun 1976. Namun dengan cara bagaimana
manusia itu berusaha mencapai kemakmurannya? Dalam definisi yang dikemukakan
Meij memang tidak dijelaskan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot;;&quot;&gt;Kemudian
Samuelson dan Nordhaus (1990: 5) mengemukakan “Ilmu ekonomi merupakan studi
tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber
daya yang langka dan memiliki beberapa alternatif penggunaan, dalam rangka
memproduksi berbagai komoditi, untuk kemudian menyalurkannya &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;segoe ui symbol&amp;quot;;&quot;&gt;⎯&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot;;&quot;&gt;
baik saat ini maupun di masa depan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;segoe ui symbol&amp;quot;;&quot;&gt;⎯&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; kepada
berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Menurut
Samuelson bahwa ilmu ekonomi itu merupakan ilmu pilihan. Ilmu yang mempelajari
bagaimana orang memilih penggunaan sumber-sumber daya produksi yang langkap
atau terbatas untuk memproduksi berbagai komoditi, dan menyalurkannya ke
berbagai anggota masyarakat untuk segera dikonsumsi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Jadi, jika
disimpulkan dari tiga pendapat di atas walaupun kalimatnya berbeda, namun
tersirat bahwa pada hakikatnya ilmu ekonomi itu merupakan usaha manusia untuk
memenuhi kebutuhannya dalam mencapai kemakmuran yang diharapkan, dengan memilih
penggunaan sumber daya produksi yang sifatnya langka/terbatas itu. Dengan kata
lain yang sederhana bahwa ilmu ekonomi itu merupakan suatu disiplin tentang
aspek-aspek ekonomi dan tingkah laku manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Nah, mudah-mudahan Teman Sekolah
sudah paham konsep dasar ilmu Ekonomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Biar ingatannya bisa tahan lama, coba dibaca pelan-pelan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: Calibri; font-size: 11.0pt; margin: 0in;&quot;&gt;
Selamat belajar!&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2016/01/konsep-dasar-ilmu-ekonomi.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1zKGrtC7OdFSJOXlLHGXjGHj7kW1RTfpBFNLD02h0M9Tme08GbqdJ6-CftUhi0loh6Kj8EXkx9W460QtwdHqNYrMrqxCX50SCUjADI7o3qKIy_OotDZ1emuUY1XR8ElN3_7dNzzeXBctS/s72-c/ekonomi.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-3215147425104787841</guid><pubDate>Tue, 01 Dec 2015 02:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-01-30T23:27:29.202-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kimia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mata Pelajaran</category><title>Sejarah Perkembangan Teori-Teori Struktur Atom</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6RfEgAp6wNxEV1-nDqxsK9pfdJVj9Sx7ISCpZJDjiebTuvsWBfCU3YqmqWZSzDtycTgPvrT4m5uVf68m09M77gSt0Mi41dflVakRvricDjsHA3OljByO_7preAooKj31MkB7EjW6SO8_k/s1600/struktur+atom.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;336&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6RfEgAp6wNxEV1-nDqxsK9pfdJVj9Sx7ISCpZJDjiebTuvsWBfCU3YqmqWZSzDtycTgPvrT4m5uVf68m09M77gSt0Mi41dflVakRvricDjsHA3OljByO_7preAooKj31MkB7EjW6SO8_k/s640/struktur+atom.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fulsuf yunani Tahun 300-400 S.M.&lt;br /&gt;
- Democritus dan Epicurus pertama kali memikirkan ide bahwa materi disusun oleh suatu pertikel terkecil yang tidak dapat dibagi disebut &#39;atom&#39;.&lt;br /&gt;
- Aristotle tidak sependapat. Dia menyatakan bahwa materi itu berubah dan terbuat dari empat elemen dasar dari bumi yaitu &#39;tanah, udara, api, dan air&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jhon Dalton Tahun 1808&lt;br /&gt;
- memperkenalkan kembali konsep dari atom yang tidak dapat dibagi lagi pada &#39;teori atomnya&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jhon J. Thompson Tahun 1897-1920&lt;br /&gt;
- Mengidentifikasi elektron sebagai partikel negatif. Ia menyimpulkan bahwa semua atom mengandung elekktron. Dia menggambarkan model atomnya seperti kue kismis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ernest Rutherford 1902-1920&lt;br /&gt;
- Mengajukan model atom dengan inti atom bermuatan positif sebagai pusat dan dikelilingi oleh elektron bermuatan negatif. Ia juga mengajukan sifat dari muatan positif proton dan memprediksi eksistensi neutron.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
Henry Moseley 1913&lt;br /&gt;
- Memperkenalkan konsep dari nomor atom yang didasarkan pada muatan positif dari inti atom.&lt;br /&gt;
- Kemudian ditunjukkan oleh besarnya angka dari proton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niels Bohr 1913&lt;br /&gt;
- Mengajukan eksistensi dari lintasan elektron (berupa lapisan atau tingkat energi) mengelilingi inti dari atom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Frederick Soddy 1914&lt;br /&gt;
- Meneliti asal-usul dan sifat dari isotop.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Francis Aston 1919&lt;br /&gt;
- Membuktikan beberapa unsur biasa tersusun dari isotop menggunakan penemuannya yaitu &#39;spectometer mass&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wolfgang Pauli 1925&lt;br /&gt;
- Mengajukan &#39;Asas Larangan Pauli&#39; untuk menjelaskan penyebaran dari elektron pada tingkatan energi yang mengitari inti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Erwin Schrodinger 1926&lt;br /&gt;
- Memperkenalkan suatu penjabaran matematis dari tingkatan energi pada elektron.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
James Chadwick 1932&lt;br /&gt;
- Menemukan pancaran neutron untuk menjelaskan keberadan isotop.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lise Meitner&lt;br /&gt;
- Pertama kali menyarankan ide tentang peluruhan nuklir (sebelumnya di teliti oleh Marie Curre pada tahun 1898)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Glen Seaborg 1941&lt;br /&gt;
- Memperkenalkan hampir seluruh dari unsur-unsur transuranium.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2015/11/sejarah-perkembangan-teori-teori.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6RfEgAp6wNxEV1-nDqxsK9pfdJVj9Sx7ISCpZJDjiebTuvsWBfCU3YqmqWZSzDtycTgPvrT4m5uVf68m09M77gSt0Mi41dflVakRvricDjsHA3OljByO_7preAooKj31MkB7EjW6SO8_k/s72-c/struktur+atom.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-1102657776073985862</guid><pubDate>Fri, 14 Aug 2015 17:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-01-31T18:51:01.125-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fisika</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kerja PR</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah</category><title>Makalah Sistem Penginderaan Jauh Satelit</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd6NgnXRghDTIDhjepk8A5EABoAEZ_DnEVTkOxZy3dV6xi_OM-hKfHEZUV-NSpHv_DbC-DdUOsy0PYKg1AZg8csBtXZvyfIBLWCXYkfZQTYlJFVi159LHvR7pxdqNKnSESWKrAxVSE2tEJ/s1600/penginderaan+jauh.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;384&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd6NgnXRghDTIDhjepk8A5EABoAEZ_DnEVTkOxZy3dV6xi_OM-hKfHEZUV-NSpHv_DbC-DdUOsy0PYKg1AZg8csBtXZvyfIBLWCXYkfZQTYlJFVi159LHvR7pxdqNKnSESWKrAxVSE2tEJ/s640/penginderaan+jauh.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;KATA
PENGANTAR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Puji syukur kita
panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayan-Nya
penulis dapat membuat sebuah makalah tentang “Sistem Penginderaan Jauh pada
Satelit”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam
makalah ini, penulis menyajikan materi-materi yang bersangkutan dengan sistem
penginderaan satelit. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas
ini terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Untuk itu, kami meminta kritik dan
saran mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Atas perhatian pembaca, kami ucapkan terimah kasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 216.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Makassar, 12 April 2014&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 288.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 288.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Penulis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br clear=&quot;all&quot; style=&quot;mso-special-character: line-break; page-break-before: always;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;BAB
I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;A.
Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 14.2pt; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di bumi ini tersebar berbagai macam fenomena–fenomena alam yang
sudah diungkap oleh manusia maupun yang belum diungkap oleh manusia. Salah satu
langkah untuk mengungkap dan mengenali fenomena alam adalah dengan menggunakan
teknologi sesuai perkembangan zaman. Manusia sudah tidak lagi langsung terjun langsung
ke lapangan guna mengungkap fenomena alam, namun dengan perkembangan teknologi
maka manusia mengenal teknologi penginderaan jauh. Teknologi penginderaan jauh
merupakan pengembangan dari teknologi pemotretan udara yang mulai diperkenalkan
pada akhir abad ke 19. Manfaat potret udara dirasa sangat besar dalam perang
dunia pertama dan kedua, sehingga cara ini dipakai dalam eksplorasi ruang
angkasa. Sejak saat itu istilah penginderaan jauh (remote sensing) dikenal dan
menjadi populer dalam dunia pemetaan sampai saat ini. Eksplorasi ruang angkasa
yang berlangsung sejak tahun 1960 an antara lain diwakili oleh satelit-satelit
Gemini, Apollo, Sputnik, Solyus. Kamera presisi tinggi mengambil gambar bumi
dan memberikan informasi berbagai gejala dipermukaan bumi seperti geologi,
kehutanan, kelautan dan sebagainya. Teknologi pemotretan dan perekaman
permukaan bumi berkembang lebih lanjut dengan menggunakan berbagai sistem
perekam data seperti kamera majemuk, multispectral scanner, vidicon,
radiometer, spectrometer yang berlangsung sampai sekarang. Bahkan dalam waktu
terakhir ini alat GPS (Global Positioning System) dimanfaatkan pula untuk
merekam peta ketinggian dalam bentuk DEM (Digital Elevation Model). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Penginderaan jauh adalah
ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala
dengan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak
langsung terhadap objek, daerah, atau gejala yang dikaji (Sutanto, 1986). Citra
penginderaan jauh merupakan gambaran yang erekam oleh kamera atau oleh sensor
lainnya. Penginderaan jauh (remote sensing) telah digunakan untuk berbagai
macam keperluan, antara lain untuk keperluan analisis dalam bidang kelautan,
analisis bidang pertanian, analisis bidang pertambangan, dan lain sebagainya.
Penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi tentang
suatu objek, areal, ataupun fenomena geografis melalui analisis data yang
diperoleh dari sensor. Perkembangan ilmu penginderaan jauh dari tahun ke tahun
mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga manusia selalu akan
mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan ilmu tersebut, salah satunya
dengan mengembangkan citra satelit agar dapat digunakan untuk kepentingan–kepentingan
lainnya yang erat kaitannya dengan perolehan informasi suatu objek, daerah
ataupun fenomena geografisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;B. Batasan Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;1.
Menjelaskan definisi penginderaan jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;2.
Menjelaskan mengenai satelit pengindera jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Energi Elektromagnetik dalam Penginderaan Jauh Satelit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;4. Energi
Elektromagnetik dalam Penginderaan Jauh Satelit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;5. Sensor dan Wahana
(Flatform) Teknologi Penginderaan Jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;6. Citra
Penginderaan Jauh Satelit&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br clear=&quot;all&quot; style=&quot;mso-special-character: line-break; page-break-before: always;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt;&quot;&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 300%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt; line-height: 300%;&quot;&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;A.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pengertian
Penginderaan Jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Penginderaan
jauh adalah ilmu, teknologi dan seni perolehan data dan pemrosesan data yang
merekam interaksi antara &lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;energi&lt;/span&gt; elektromagnetik
dengan suatu obyek. Dengan kata lain dapat didefinisikan sebagai ilmu,
teknologi dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau
fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak
langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Secara
umum penginderaan jauh menunjukkan aktifitas perekaman, pengamatan dan
penangkapan fenomena obyek atau peristiwa dari jarak tertentu. Dalam
pengideraan jauh, sensor tidak langsung kontak dengan obyek yang diamati.
Informasi tersebut membutuhkan alat penghantar secara fisik untuk perjalanan
dari obyek ke sensor melalui medium. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada
&lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;Tutorial&lt;/span&gt; Pelatihan ini penginderaan jauh lebih
dibatasi pada suatu teknologi perolehan informasi permukaan bumi (laut dan
daratan) dengan menggunakan sensor di atas platform satelit dan spaceborne
(pesawat ruang angkasa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;B.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Satelit
Pengindera Jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Satelit penginderaan jauh sumber daya yang banyak dimanfaatkan selama ini
merupakan satelit yang menggunakan sistem optis. Penginderaan jauh sistem optis
ini memanfaatkan spektrum tampak hingga infra merah (Liang, 2004). Rentang
gelombang elektromagnetik yang lebih luas dalam penginderaan jauh meliputi
gelombang pendek mikro hingga spektrum yang lebih pendek seperti gelombang
infra merah, gelombang tampak, dan gelombang ultra violet&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Penginderaan jauh berkembang dalam bentuk pemrotretan muka bumi melalui
wahana pesawat terbang yang menghasilkan foto udara dan bentuk penginderaan
jauh berteknologi satelit yang mendasarkan pada konsep gelombang
elektromagnetis. Dalam perkembangannya saat ini, dengan adanya teknologi
satelit berresolusi tinggi, pengenalan sifat fisik dan bentuk obyek dipermukaan
bumi secara individual juga dapat dilakukan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada dasarnya teknologi pemotretan udara dan penginderaan jauh berteknologi
satelit adalah suatu teknologi yang merekam interaksi berkas cahaya yang
berasal dari sinar matahari dan obyek di permukaan bumi. Pantulan sinar
matahari dari obyek di permukaan bumi ditangkap oleh kamera atau sensor. Tiap
benda atau obyek memberikan nilai pantulan yang berbeda sesuai dengan sifatnya.
Pada pemotretan udara rekaman dilakukan dengan media seluloid (film), sedangkan
penginderaan jauh melalui media pita magnetik dalam bentuk sinyal-sinyal
digital. Dalam perkembangannya potret udara juga seringkali dilakukan dalam
bentuk digital&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Data
penginderaan jauh adalah berupa citra. Citra penginderaan jauh memiliki
beberapa bentuk yaitu foto udara ataupun citra satelit. Data penginderaan jauh
tersebut adalah hasil rekaman obyek muka bumi oleh sensor. Data penginderaan
jauh ini dapat memberikan banyak informasi setelah dilakukan proses
interpretasi terhadap data tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Interpretasi citra merupakan serangkaian kegiatan identifikasi, pengukuran
dan penterjemahan data-data pada sebuah atau serangkaian data penginderaan jauh
untuk memperoleh informasi yang bermakna. Sebuah data penginderaan jauh dapat
diturunkan banyak informasi dari serangkaian proses interpretasi citra
ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dalam proses interpretasi, obyek diidentifikasikan
berdasarkan pada karakteristik berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Target
dapat berupa fitur titik, garis, ataupun area.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Target harus dapat dibedakan dengan obyek
lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kemampuan
teknologi penginderaan jauh dalam perolehan informasi yang luas tanpa
persinggungan langsung dengan obyeknya banyak dimanfaatkan dalam berbagai hal
yang bersifat spasial. Hingga saat ini penginderaan jauh telah diaplikasikan
untuk keperluan pengelolaan lingkungan, ekologi, degradasi lahan, bencana alam,
hingga perubahan iklim (Horning, 2010; Roder, 2009; Bukata, 2005; Adosi, 2007).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;C.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Energi Elektromagnetik
dalam Penginderaan Jauh Satelit&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Cahaya
tampak merupakan salah satu dari beberapa bentuk energi elektromagnetik,
gelombang radio, sinar &lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;ultraviolet&lt;/span&gt; dan sinar X juga
merupakan bentuk lain energi yang lazim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0DcHo-31HQVNuLZr0BPfp5vec3CjpUushKNvOZyFxYHqgsL8KtNLFRzfUf8o1XXRnTb5yR4zyH4uBSH5pKcYWtSZJrR33wYrKC5ICM71WHaKscdyAHNJKSlQ3t1gRx23gspjvhzViwOX-/s1600/1.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shapetype coordsize=&quot;21600,21600&quot; filled=&quot;f&quot; id=&quot;_x0000_t75&quot; o:preferrelative=&quot;t&quot; o:spt=&quot;75&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;
 &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;
 &lt;v:formulas&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;
 &lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;
 &lt;v:path gradientshapeok=&quot;t&quot; o:connecttype=&quot;rect&quot; o:extrusionok=&quot;f&quot;&gt;
 &lt;o:lock aspectratio=&quot;t&quot; v:ext=&quot;edit&quot;&gt;
&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0DcHo-31HQVNuLZr0BPfp5vec3CjpUushKNvOZyFxYHqgsL8KtNLFRzfUf8o1XXRnTb5yR4zyH4uBSH5pKcYWtSZJrR33wYrKC5ICM71WHaKscdyAHNJKSlQ3t1gRx23gspjvhzViwOX-/s1600/1.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613437763767396242&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1031&quot; style=&quot;height: 99pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;1&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;Gambar&lt;/span&gt;: Ilustrasi perekaman berbagai fenomena yang
ada di permukaan menggunakan teknologi penginderaan jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada
dasarnya semua energi adalah sama dan melakukan radiasi sesuai dengan teori
dasar gelombang. Pada Gambar 1. ditunjukkan teori dasar energi elektromagnetik
yang bergerak secara harmonis berbentuk &lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;sinusoidal&lt;/span&gt;
dengan kecepatan cahaya ©. Berdasarkan konsep fisika dasar, gelombang mempunyai
persamaan umum sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;C
= f x &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;c
= kecepatan cahaya (3 x 108 m/dtk)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;f
= frekuensi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
= panjang gelombang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Di
dalam penginderaan jauh satelit, pengelompokkan gelombang elektromagnetik
paling sering digunakan diletakkan menurut letak panjang gelombang di dalam
spektrum elektromagnetik (Gambar 2.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrUDADhuqnGoFtIhokFaIfNdE_x6KO_tcK8ikA9gD6xedwsf4CnsKNHYpaMLfH7_xD0q8GjUP356zvDSQu49XmMo6ZIz2g4he-bBfSryLAZzXrxOO0pOND14rp3tC-fnfrfMv1DgTybynn/s1600/3.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrUDADhuqnGoFtIhokFaIfNdE_x6KO_tcK8ikA9gD6xedwsf4CnsKNHYpaMLfH7_xD0q8GjUP356zvDSQu49XmMo6ZIz2g4he-bBfSryLAZzXrxOO0pOND14rp3tC-fnfrfMv1DgTybynn/s1600/3.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613440360542384114&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1030&quot; style=&quot;height: 103.5pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;3&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar 2. Spektrum elektromagnetik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Nama
spektrum biasanya digunakan pada bagian spektrum elektromagnetik, seperti
gelombang inframerah, gelombang radio, gelombang mikro, dan sebagainya. Dan
spektrum ini tidak mempunyai batasan yang tegas antara satu bagian spektrum
satu dengan spektrum berikutnya.. Bagian spektrum&amp;nbsp; 0,4 – 0,7 μm) pada gambaran logaritmik
merupakan bagian&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;±&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;sinar tampak ( sempit, mempunyai kepekaan
pada mata manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sifat
radiasi elektromagnetik lebih mudah diuraikan dengan menggunakan teori
gelombang, tetapi interaksi antara energi elektromagnetik dengan benda dapat
dijelaskan dengan teori &lt;span class=&quot;rt50yi6&quot;&gt;partikel&lt;/span&gt;. Teori partikel
menyatakan bahwa radiasi elektromagnetik terdiri dari beberapa bagian terpisah
yang disebut sebagai foton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;D.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Interaksi
Energi Elektromagnetik&amp;nbsp; Dengan Atmosfer
dan Permukaan Bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Semua
radiasi yang dideteksi dengan sistem penginderaan jauh satelit melalui atmosfer
dengan jarak atau panjang jalur tertentu. Panjang jalur tesebut dapat
bervariasi panjangnya. Pada fotografi dari antariksa dihasilkan dari radiasi
matahari yang melewati dua kali tebal penuh atmosfer bumi pada perjalannya dari
sumber radiasi ke sensor. Selain itu, sensor termal yang mendeteksi energi yang
dipancarkan oleh obyek di bumi, melewati jarak di atmosfer yang relatif pendek.
Perbedaan jarak yang dilalui , kondisi atmosfer, panjang gelombang yang
digunakan serta besarnya sinyal energi yang indera berpengaruh terhadap variasi
total atmosfer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pengaruh
atmosfer sangat bervariasi tergantung pada intensitas dan komposisi spectral
radiasi yang tersedia bagi suatu system penginderaan satelit. Pengaruh ini
disebabkan oleh mekanisme hamburan (scattering) dan serapan (absorption)
atmosferik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB_OU1HLSVcAfWF96rk0optrKRtuYSRSHER4cx6-OtDzyAr3mM1Tepu55aEDo4VNCxIB_YkgyZL7DX-mFS9FtF72rHTK9UHjiCQ7UI7oXDURsuoP8mKja4ZDfBohyJXnUSq-H-UNIZ1LDh/s1600/4.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB_OU1HLSVcAfWF96rk0optrKRtuYSRSHER4cx6-OtDzyAr3mM1Tepu55aEDo4VNCxIB_YkgyZL7DX-mFS9FtF72rHTK9UHjiCQ7UI7oXDURsuoP8mKja4ZDfBohyJXnUSq-H-UNIZ1LDh/s1600/4.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613440978133399506&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1029&quot; style=&quot;height: 85.5pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;4&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar 3. Hamburan (Scaterring) dan Serapam (Absorption)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Bagian
energi yang mengenai obyek dipermukaan bumi akan dipantulkan, diserap, atau
ditransmisikan dengan menerapkan hukum kekekalan energi. Dalam hukum kekekalan
energi tersebut dapat dinyatakan sebagai hubungan timbal balik antara tiga
jenis interaksi energi tersebut, sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;E1
)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;)
+ EA +ET (&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;) = ER (&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;symbol&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;E1
&amp;nbsp; = energi yang mengenai obyek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;ER
 = energi yang dipantulkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;EA
 = energi yang diserap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;ET
&amp;nbsp; = energi yang ditransmisikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Persamaan
di atas merupakan suatu persamaan keseimbangan energi yang menunjukan hubungan
timbal balik antara mekanisme pantulan, serapan dan transmisi. Dari persamaan
di atas terdapat 2 (dua) hal penting :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 39.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Bagian
energi yang dipantulkan, diserap dan ditransmisikan akan berbeda tergantung
pada jenis materi dan kondisi obyek muka bumi. Dari perbedaan ini, memungkinkan
kita dapat membedakan obyek yang berbeda pada suatu citra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 39.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengan
panjang gelombang yang berbeda, untuk obyek yang sama bagian energi yang
dipantulkan, diserap dan ditransmisikan kemungkinan akan berbeda, sebagai
akibatnya, variasi spectral ini akan menghasilkan efek visual yaitu warna.
Sebagai contoh: obyek akan berwarna biru bila obyek tersebut banyak memantulkan
bagian spectrum biru, berwarna hijau bila banyak memantulkan bagian spectrum
hijau, dan seterusnya. Sehingga interpretasi visual dengan mata dapat
menggunakan variasi spectral pada besaran energi pantulan untuk menbedakan
berbagai obyek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;E.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pantulan
Spektral Vegetasi, Tanah dan Air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgajlX6vM9uzpCUoQrelwyl6_zGtqJyIvRisXU0LHl97NVrdijzhctKqm1RP5NTkG1HM2YIDA1Bj_PusLhPoWGKysH5mJqvYMlmmeJc-t8gMxiUOB1vKMyUw39416ZPcP70rVB7-JK3SZd4/s1600/5.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgajlX6vM9uzpCUoQrelwyl6_zGtqJyIvRisXU0LHl97NVrdijzhctKqm1RP5NTkG1HM2YIDA1Bj_PusLhPoWGKysH5mJqvYMlmmeJc-t8gMxiUOB1vKMyUw39416ZPcP70rVB7-JK3SZd4/s1600/5.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613442817406492386&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1028&quot; style=&quot;height: 112.5pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;5&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image004.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar: Pantulan spectral energi elektromagnetik matahari terhadap vegetasi,
tanah dan air yang diterima oleh sansor satelit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada gambar &amp;nbsp;ditunjukkan suatu kurva pantulan spectral pada
tiga obyek utama di permukaan bumi, yaitu vegetasi sehat berdaun hijau, tanah
gundul ( lempung coklat kelabu ), dan air jernih. Garis pada kurva tersebut
menyajikan kurva pantulan rata-rata yang dibuat dengan pengukuran sampel obyek
yang jumlahnya banyak (Lillesand. 2002). Kurva ini menunjukkan suatu indicator
tentang jenis dari kondisi obyek yang berkaitan. Walaupun pantulan obyek secara
invidual akan berbeda besar di atas dan dibawah nilai rata-rata, tetapi kurva
tersebut menunjukan beberapa titik fundamental yang berkaitan dengan pantulan
spektral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Vegetasi sehat berwarna hijau disebabkan
oleh besarnya penyerapan energi pada spektrum hijau. Apabila tumbuhan mengalami
beberapa gangguan, dan akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan produksinya
secara normal maka hal itu akan mengurangi atau mematikan produksi klorofil.
Akibatnya berupa kurangnya serapan oleh klorofil pada saluran biru dan merah.
Sering pantulan pada spektrum merah bertambah hingga kita lihat tumbuhan tampak
berwarna kuning (gabungan antara hijau dan merah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;F.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sensor
dan Wahana (Flatform) Teknologi Penginderaan Jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sensor
adalah alat untuk mengukur dan merekam energi elektromagnetik. Dalam system
penginderaan jauh, sensor dapat dibedakan dalam 2 kategori yaitu sensor aktif
dan sensor pasif. Uraian mengenai hal tersebut,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Untuk
sensor pasif tergantung pada sumber energi dari luar, yaitu matahari. Sehingga
penginderaan jauh sistem pasif menerima energi yang dipantulkan dan/atau
dipancarkan dari permukaan bumi. Teknologi penginderaan jauh satelit yang
menggunakan sensor dengan saluran tampak mata (visible) dan inframerah. Kamera
fotografi adalah merupakan sensor pasif yang paling lama dan umum dipakai.
Sebagai contoh lain sensor pasif adalah gamma-ray spectrometer, kamera udara,
kamera video dan scanner multispektral dan termal, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVOqsbX2Fn6x1MSdQYAvJWwviekF13yLJNXfu-qUiRa166XZ1GCFssKrzYHl8oObyaTjv7md9EDZ3KXszFTJfKez5lQxgkrqSJy8XoQEuKMGPa9ozD953-uPkNhzXXHrp0NzORdr1MyPnu/s1600/7.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVOqsbX2Fn6x1MSdQYAvJWwviekF13yLJNXfu-qUiRa166XZ1GCFssKrzYHl8oObyaTjv7md9EDZ3KXszFTJfKez5lQxgkrqSJy8XoQEuKMGPa9ozD953-uPkNhzXXHrp0NzORdr1MyPnu/s1600/7.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613451124567882098&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1027&quot; style=&quot;height: 105pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;7&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image005.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar: Sistem sensor aktif sistem gelombang mikro dan pasif dengan sensor
optik beserta citra satelit yang dihasilkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 31.65pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Kemampuan penetrasi liputan awan pada
gelombangan mikro mengasilkan citra yang bersih dari tutupan awan. Sistem
wahana (platform) Penginderaan jauh dapat dikategori dalam dua sistem, pertama
penginderaan jauh dengan airborne, yaitu dengan menggunakan pesawat udara
(aircraft), balon udara, dan sebagainya. Kedua adalah dan system penginderaan
jauh menggunakan sistem speceborne yaitu dengan menggunakan wahana satelit,
pesawat ruang angkasa, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;G.&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-stretch: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Citra
Penginderaan Jauh Satelit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Citra
satelit penginderaan jauh adalah gambaran 2 dimensi (2D) yang menggambarkan
suatu obyek dari pandangan nyata. Citra penginderaan jauh satelit menggambarkan
bagian dari permukaan bumi yang terlihat dari suatu ruang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Citra
dapat berbentuk analog maupun digital. Sebagai contoh, foto udara merupakan
citra analog berupa film dengan proses kimiawi untuk mendapatkan citra, sedang
citra satelit didapatkan dari sensor elektronik dan diporses secara digital.
Citra satelit yang dicetak atau dalam bentuk hardcopy dapat juga disebut
sebagai citra/data analog.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Data
penginderaan jauh tidak hanya sekedar sebagai gambar, tetapi data citra
disimpan dalam format grid secara reguler yang biasa disebut sebagai data
raster yang terdiri dari baris (row) dan kolom (column). Satu elemen terkecil
(gambar 7) dinamakan sebagai pixel (picture element). Untuk setiap pixel
mempunyai informasi koordinat (row dan column) dan nilai spectral yang
dikonversi dalam bentuk angka, yang biasa disebut DN (Digital Number). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tiap
pixel menggambarkan bagian wilayah permukaan bumi dengan nilai intensitas serta
lokasi alamat dalam bentuk 2 dimensi. Nilai intensitas tersebut menggambarkan
ukuran kuantitas fisik yang merupakan pantulan atau pancaran radiasi matahari
dari suatu obyek dengan panjang gelombang tertentu yang diterima oleh sensor.
Seperti disebutkan sebelumnya, intensitas pixel disimpan sebagai nilai digital
(DN (Digital Number)). DN disimpan dalam bits dengan jumlah tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kualitas
data penginderaan jauh pada utamanya ditentukan oleh karakteristik system
sensor platform. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBZmiMT6OYp0bBCaOsJ-AbIA7RfbI7QuDUmWyozLeCWfCIcoG_0-d9Q4mFPwrb5lq9ngOF8IM7EM1vB8cXkHlOlroW1NDTBVqPWzTp_-0KDHoZ3wbCcl020XWQcOGvD1kBAr7Vs1p4OLoT/s1600/9.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBZmiMT6OYp0bBCaOsJ-AbIA7RfbI7QuDUmWyozLeCWfCIcoG_0-d9Q4mFPwrb5lq9ngOF8IM7EM1vB8cXkHlOlroW1NDTBVqPWzTp_-0KDHoZ3wbCcl020XWQcOGvD1kBAr7Vs1p4OLoT/s1600/9.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613452401006832786&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1026&quot; style=&quot;height: 112.5pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;9&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image006.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar: Data citra satelit Landsat TM5 dengan nilai spectral yang dimilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Resolusi
ini berdasarkan pada masing bagian dari Spektrum Elektromagnetik yang diukur
dan perbedaan energi yang diamati. Sebagi contoh : Landsat 7 ETM+ mempunyai 9
saluran/band, SPOT5 menggunakan 5 band dan IKONOS II menggunakan 5 band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Resolusi
spasial didasarkan pada unit terkecil suatu obyek yang diukur, menunjukkan
ukuran minimum obyek. Sebagai contoh ukuran per pixel untuk SPOT5 Pankromatik
5m x 5m dan 2.5m x 2.5; Multispektral 10m x 10m dan Landsat 7 ETM+ Pankromatik
15m x 15m; Multispektral 30m x 30m Termal A dan B 60m x60m; serta IKONOS II
Pankromatik 1m x 1m, Multispektral 4m x 4m.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsT6hVlIM4iyhfMMVnxcOp9YgTNnQqnIZAolcrYc97uJFvYfn2wrhIoJSWdLdoUKgiEAS8RWdx9C1vuju9YQPi2matqNHuFa2tyBVH39DB_QBmb_D1sLp4ATxcI6Ez3KpKRRqNOE1JwGPK/s1600/10.JPG&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;v:shape href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsT6hVlIM4iyhfMMVnxcOp9YgTNnQqnIZAolcrYc97uJFvYfn2wrhIoJSWdLdoUKgiEAS8RWdx9C1vuju9YQPi2matqNHuFa2tyBVH39DB_QBmb_D1sLp4ATxcI6Ez3KpKRRqNOE1JwGPK/s1600/10.JPG&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5613453163693517346&quot; o:button=&quot;t&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1025&quot; style=&quot;height: 109.5pt; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 149.25pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:fill o:detectmouseclick=&quot;t&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata o:title=&quot;10&quot; src=&quot;file:///C:\Users\user\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image007.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:fill&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Gambar: Perbandingan Resolusi Spasial citra satelit Landsat MSS 5m, Landsat TM5
30m, SPOT4 20m dan SPOT4 Pan 10m. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Resolusi
temporal (Revisit time) adalah waktu pengulangan pengambilan atau perekaman
data pada posisi obyek yang sama. Landsat 7 ETM+ melakukan pengambilan atau
perekaman data pada posisi obyek yang sama setiap16 hari, IKONOS II selama 4
hari untuk posisi tegak dan setiap hari dapat melakukan perekaman karena
kemampuannya untuk perekeman dalam posisi obliq (miring).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br clear=&quot;all&quot; style=&quot;mso-special-character: line-break; page-break-before: always;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt;&quot;&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 14.0pt;&quot;&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;A. Kesimpulan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Penginderaan jauh adalah
ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala
dengan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak
langsung terhadap objek, daerah, atau gejala yang dikaji (Sutanto, 1986). Citra
penginderaan jauh merupakan gambaran yang erekam oleh kamera atau oleh sensor
lainnya. Penginderaan jauh (remote sensing) telah digunakan untuk berbagai
macam keperluan, antara lain untuk keperluan analisis dalam bidang kelautan,
analisis bidang pertanian, analisis bidang pertambangan, dan lain sebagainya.
Penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi tentang
suatu objek, areal, ataupun fenomena geografis melalui analisis data yang
diperoleh dari sensor. Perkembangan ilmu penginderaan jauh dari tahun ke tahun
mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga manusia selalu akan
mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan ilmu tersebut, salah satunya
dengan mengembangkan citra satelit agar dapat digunakan untuk kepentingan–kepentingan
lainnya yang erat kaitannya dengan perolehan informasi suatu objek, daerah
ataupun fenomena geografisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br clear=&quot;all&quot; style=&quot;mso-special-character: line-break; page-break-before: always;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;Default&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 14.0pt;&quot;&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Lillesand,
Thomas M. ( Penerjemah Dulbhri, Suharsono P, Suharyadi S). 1990. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Remote Sensing and Image
Interpretation Diterjemahkan Dalam bahasa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Indonesia
: Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.
Yogyakarta: gadjah mada &amp;nbsp; University
Press. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sinaga,J.2011.Satelit
ikonos.  &lt;a href=&quot;http://www.pagarberkawatduri.blogspot.com/2011/11/satelit-&quot;&gt;www.pagarberkawatduri.blogspot.com/2011/11/satelit-&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ikonos.html. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; diakses pada tanggal 28 November 2011 Jam 15. 35 WIB &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;Default&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sutanto.1986.&lt;i&gt;Penginderaan
Jauh Jilid 1&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Gadjah Mada University &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Press &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sutanto.1994.&lt;i&gt;Penginderaan
Jauh Jilid I1&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2015/08/makalah-sistem-penginderaan-jauh-satelit.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd6NgnXRghDTIDhjepk8A5EABoAEZ_DnEVTkOxZy3dV6xi_OM-hKfHEZUV-NSpHv_DbC-DdUOsy0PYKg1AZg8csBtXZvyfIBLWCXYkfZQTYlJFVi159LHvR7pxdqNKnSESWKrAxVSE2tEJ/s72-c/penginderaan+jauh.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7439164806482618503.post-3298226398723225201</guid><pubDate>Mon, 04 Jun 2012 14:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-10-08T21:51:13.361-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah</category><title>makalah seni teater</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
Makalah Seni Budaya&lt;br /&gt;
Seni Teater&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Pengantar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Assalamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;
Segala
puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan tugas ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikan dengan baik. &lt;br /&gt;
Tugas ini disusun agar
pembaca dapat memperluas ilmu tentang beberapa cerita teater di
Indonesia, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan.
Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.&lt;br /&gt;
Tugas ini memuat tentang
“TEATER” , Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam
pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau
naskah (kalau ada) , penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan
dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa
pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses
penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat
berteater. Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata
theaomai(bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.&lt;br /&gt;
Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas.&lt;br /&gt;
Teeater
dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan
manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan
didasarkan pada naskah yang tertulis.&lt;br /&gt;
Dalam arti luas, teater adalah
segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya
wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada guru Seni Budaya yaitu Ibu Hasni yang
telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara
kami menyusun karya tulis.&lt;br /&gt;
Semoga karya tulis ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Karya tulis ini ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan
kritiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wassalamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tanuntung, 24 January 2012&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;(Penyusun)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Isi&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Sampul (Cover)……………………………………………………&lt;br /&gt;
Kata Pengantar ……………………………………………………&lt;br /&gt;
Daftar Isi …………………………………………………………..&lt;br /&gt;
Latar Belakang …………………………………………………...&lt;br /&gt;
Bab 1 Pengetahuan ……………………………………………….&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengertian Teater ………………………………………&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sejarah Teater Indonesia ………………………………&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Unsur&amp;nbsp; Pembentuk Teater………………………………&lt;br /&gt;
Bab 2 (Setting) Lakon …………………………………………….&lt;br /&gt;
Bab 3 Penyutradaraan ……………………………………………&lt;br /&gt;
Bab 4 Pemain &amp;amp; Penonton………………………………………..&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Akting yang Baik ……………………………………….&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Penonton …………………………………………………&lt;br /&gt;
Bab 5 Tata Artistik ……………………………………………….&lt;br /&gt;
Kritik dan Saran ………………………………………………….&lt;br /&gt;
Daftar Pustaka ……………………………………………………&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah
panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai
melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berlangsung
bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. Dengan
demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan
interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta. Selain
itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal dari usaha-usaha
perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada
perburuan ini, mereka menirukan perilaku binatang buruannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah
selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara
upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan “penghormatan”
terhadap Sang Pencipta semesta. Ada juga yang menyebutkan sejarah
teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa
Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan serta difestivalkan
pada suatu tempat untuk dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang
lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang
berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor
mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater
atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan
kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu
dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun demikian, teater selalu
dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai
yang berarti bertindak atau berbuat dan Drame yang berasal dari kata
Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan
lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah
yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang
punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata
drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM),
sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama
bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater
yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau
lakon atau karya sastra. Terlepas dari sejarah dan asal kata yang
melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit
dan kompleks, sehingga sering disebut dengan collective art atau
synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin
seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seni
teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak)
yang meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater
merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon,
sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan
diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni
teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya sejalan dan
seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim. Pertunjukan ini
merupakan proses seseorang atau sekelompok manusia dalam rangka
mencapai tujuan artistik secara bersama. Dalam proses produksi artistik
ini, ada sekelompok orang yang mengkoordinasikan kegiatan (tim
produksi). Kelompok ini yang menggerakkan dan menyediakan fasilitas,
teknik penggarapan, latihan latihan, dan alat-alat guna pencapaian
ekspresi bersama. Hasil dari proses ini dapat dinikmati oleh
penyelenggara dan penonton. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi penyelenggara, hasil dari
proses tersebut merupakan suatu kepuasan tersendiri, sebagai ekspresi
estetis, pengembangan profesi dan penyaluran kreativitas, sedangkan
bagi penonton, diharapkan dapat diperoleh pengalaman batin atau
perasaan atau juga bisa sebagai media pembelajaran. Melihat
permasalahan di dalam teater yang begitu kompleks, maka penulis mencoba
membuat sebuah paparan pengetahuan teater dari berbagai unsur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab I &lt;br /&gt;
Pengetahuan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengertian Teater&lt;br /&gt;
Secara
etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Dalam
arti luas, teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan
orang banyak. Teater bisa juga diartikan sebagai drama, kisah hidup dan
kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media :
Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis
ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sejarah Teater Indonesia&lt;br /&gt;
Sejarah
teater tradisional di Indonesia&amp;nbsp; dimulai sejak sebelum Zaman Hindu.
Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional
banyak digunakan untuk&amp;nbsp; mendukung upacara ritual. Teater tradisional
merupakan bagian dari&amp;nbsp; suatu upacara keagamaan ataupun upacara
adat-istiadat dalam tata cara&amp;nbsp; kehidupan masyarakat kita. Pada saat
itu, yang disebut “teater”,&amp;nbsp; sebenarnya baru merupakan unsur-unsur
teater, dan belum merupakan&amp;nbsp; suatu bentuk kesatuan teater yang utuh.
Setelah melepaskan diri dari&amp;nbsp; kaitan upacara, unsur-unsur teater
tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas
rakyat dalam masyarakat&amp;nbsp; lingkungannya.&amp;nbsp; Proses terjadinya atau
munculnya teater tradisional di Indonesia bervariasi dari satu daerah
dengan daerah lainnya. Hal ini&amp;nbsp; disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk
teater tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap
budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional
lahir.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Unsur Pembentuk Teater&lt;br /&gt;
Dalam khasanah teater dewasa
ini dapat disimpulkan unsur utama teater&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; naskah&amp;nbsp; lakon,&amp;nbsp;
sutradara,&amp;nbsp; pemain,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; penonton.&amp;nbsp; Tanpa keempat unsur tersebut
pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk mendukung unsur pokok
tersebut diperlukan unsur tata artistik yang memberikan keindahan dan
mempertegas makna lakon yang dipentaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab 2&lt;br /&gt;
(Setting) Lakon&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naskah Lakon&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah
satu cirri teater modern adalah digunakannya naskah lakon yang
merupakan bentuk tertulis dari cerit drama yang baru akan menjadi karya
teater setelah divisualisasikan kedalam pementasan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naskah
Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata.
Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya
seni dari media bahasa kata ke media bahasa pentas. Dalam visualisasi
tersebut karya&amp;nbsp; sastra kemudian berubah esensinya menjadi karya teater.
Pada saat transformasi inilah karya sastra bersinggungan dengan
komponen-komponen teater, yaitu sutradara, pemain, dan tata artistik.&lt;br /&gt;
Naskah&amp;nbsp;
lakon&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; karya&amp;nbsp; sastra&amp;nbsp; lain,&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; dasarnya mempunyai
struktur yang jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan
tetapi, naskah&amp;nbsp; lakon yang khusus dipersiapkan untuk dipentaskan
mempunyai struktur lain yang spesifik. Struktur&amp;nbsp; ini pertama kali di
rumuskan oleh Aristoteles yang membagi menjadi lima bagian besar, yaitu
eksposisi (pemaparan), komplikasi, klimaks, anti klimaks atau resolusi,
dan konklusi (catastrope). Kelima bagian tersebut pada perkembangan
kemudian tidak&amp;nbsp; diterapkan&amp;nbsp; secara kaku, tetapi lebih bersifat
fungsionalistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab 3&lt;br /&gt;
Penyutradaraan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di
Indonesia penanggung jawab proses transformasi naskah lakon ke bentuk
pemanggungan adalah sutradara yang merupakan pimpinan utama kerja
kolektif sebuah teater. Baik buruknya pementasan teater sangat
ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun unsur-unsur lainnya juga
berperan tetapi masih berada di bawah kewenangan sutradara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai
pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan
proses terciptanya pementasan&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; bertanggung jawab terhadap
masyarakat atau penonton. Meskipun dalam&amp;nbsp; tugasnya seorang sutradara
dibantu&amp;nbsp; oleh stafnya dalam menyelesaikan&amp;nbsp; -tugasnya tetapi sutradara
tetap merupakan penanggung jawab utama. Untuk&amp;nbsp; itu sutradara dituntut
mempunyai&amp;nbsp; pengetahuan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; luas&amp;nbsp; agar mampu mengarahkan pemain untuk
mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang
timbul dalam proses penciptaan. Sebagai&amp;nbsp;&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp;&amp;nbsp; pemimpin,&amp;nbsp;&amp;nbsp;
sutradara&amp;nbsp;&amp;nbsp; harus mempunyai Pedoman yang pasti sehingga&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp;
mengatasi&amp;nbsp; kesulitan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; timbul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut&amp;nbsp; Harymawan (1993)&amp;nbsp; Ada&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; tipe&amp;nbsp; sutradara&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sutradara&amp;nbsp; konseptor. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ia&amp;nbsp;
menentukan&amp;nbsp; pokok&amp;nbsp; penafsiran&amp;nbsp; dan menyarankan&amp;nbsp; konsep&amp;nbsp; penafsiranya
kepada pemain.&amp;nbsp; Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara
kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb. Sutradara
diktator. Ia&amp;nbsp; mengharapkan&amp;nbsp; pemain&amp;nbsp; dicetak&amp;nbsp; seperti dirinya sendiri,&amp;nbsp;&amp;nbsp;
tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada konsep&amp;nbsp;&amp;nbsp; penafsiran&amp;nbsp;&amp;nbsp; dua arah&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia mendambakan seni
sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot - robot yang
tetap buta tuli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sutradara&amp;nbsp; koordinator. &lt;br /&gt;
Ia&amp;nbsp;
menempatkan&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; pengarah atau&amp;nbsp; polisi&amp;nbsp; lalulintas&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;
mengkoordinasikan&amp;nbsp; pemain&amp;nbsp; dengan konsep pokok penafsirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sutradara paternalis. &lt;br /&gt;
Ia
bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan
mengasuh batin&amp;nbsp; para anggotanya.Teater&amp;nbsp;&amp;nbsp; disamakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp;
padepokan, sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada
sutradara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab 4&lt;br /&gt;
Pemain &amp;amp; Penonton&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk
mentransformasikan naskah di atas panggung dibutuhkan pemain yang mampu
menghidupkan tokoh dalam naskah lakon menjadi sosok yang nyata. Pemain
adalah alat untuk memeragakan tokoh. Tetapi Bukan sekedar&amp;nbsp; alat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;
harus tunduk&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; naskah.&amp;nbsp; Pemain mempunyai&amp;nbsp; wewenang&amp;nbsp; membuat&amp;nbsp;
refleksi&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; naskah&amp;nbsp; melalui&amp;nbsp; dirinya.Agar&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp; merefleksikan&amp;nbsp;
tokoh&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp; sesuatu&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; hidup,&amp;nbsp; pemain dituntut&amp;nbsp; menguasai
aspek-aspek&amp;nbsp; pemeranan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dilatihkan&amp;nbsp; secara khusus,&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp;
jasmani&amp;nbsp; (tubuh/fisik), rohani&amp;nbsp; (jiwa/emosi),&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; intelektual.
Memindahkan naskah lakon ke dalam panggung melalui media pemain tidak&amp;nbsp;
sesederhana&amp;nbsp; mengucapkan&amp;nbsp; kata&amp;nbsp; -&amp;nbsp; kata&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; naskah
lakon&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau sekedar memperagakan keinginan penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp; melainkan proses
pemindahan mempunyai&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karekterisasi&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tersendiri,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; harus
menghidupkan bahasa kata (tulis) menjadi bahasa pentas (lisan).&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;AKTING YANG BAIK&lt;br /&gt;
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. &lt;br /&gt;
Dialog yang baik ialah dialog yang : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. terdengar (volume baik) &lt;br /&gt;
2. jelas (artikulasi baik) &lt;br /&gt;
3. dimengerti (lafal benar) &lt;br /&gt;
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)&lt;br /&gt;
5. Gerak yang balk ialah gerak yang : &lt;br /&gt;
6. terlihat (blocking baik) &lt;br /&gt;
7. jelas (tidak ragu ragu, meyakinkan) &lt;br /&gt;
8. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan) &lt;br /&gt;
9. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh.&lt;br /&gt;
2.
Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata
terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali.
Jangan terjadi kata kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih. &lt;br /&gt;
3.
Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan
bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus
diucapkan berani bukan ber ani. &lt;br /&gt;
4. Menghayati atau menjiwai
berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang
sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.&lt;br /&gt;
5. Blocking ialah
penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu
dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat
melihat pemain yang ditutupi. &lt;br /&gt;
6. Pemain lebih baik terlihat
sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar
belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut&lt;br /&gt;
a. Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.&lt;br /&gt;
b. Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.&lt;br /&gt;
c.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai
seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance,
komposisinya: &lt;br /&gt;
•Bagian kanan lebih berat daripada kiri &lt;br /&gt;
•Bagian depan lebih berat daripada belakang &lt;br /&gt;
•Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah &lt;br /&gt;
•Yang lebar lebih berat daripada yang sempit &lt;br /&gt;
•Yang terang lebih berat daripada yang gelap &lt;br /&gt;
•Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi &lt;br /&gt;
Komposisi
diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk
mewarnai sesuai adegan yang berlangsung; Jelas, tidak ragu ragu,
meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan
setengah setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu
terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting.
Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak
menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat
barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke
kiri, dsb. Menghayati berarti gerak gerak anggota tubuh maupun gerak
wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk
dan usia. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Penonton&lt;br /&gt;
Tujuan&amp;nbsp;&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp;&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp;&amp;nbsp;
pementasan&amp;nbsp;&amp;nbsp; lakon&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp;&amp;nbsp; penonton.Respon&amp;nbsp; penonton&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; lakon&amp;nbsp;
akan&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; respons&amp;nbsp; melingkar, antara penonton dengan&amp;nbsp;
pementasan. Banyak&amp;nbsp; sutradara&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kurangmemperhatikan&amp;nbsp;&amp;nbsp; penonton&amp;nbsp;&amp;nbsp;
dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; menganggapnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp;&amp;nbsp; kelompok konsumsi&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp; menerima
begitu&amp;nbsp; saja&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; disuguhkan sehingga&amp;nbsp; jika terjadi suatu&amp;nbsp;
kegagalan&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; pementasan&amp;nbsp; penonton dianggap&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; penyebabnya
karena mereka tidak&amp;nbsp; mengerti&amp;nbsp; atau kurang terdidik untuk memahami
sebuah pementasan. Kelompok&amp;nbsp; penonton pada&amp;nbsp; sebuah&amp;nbsp; pementasan&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp;
suatu komposisi organisme kemanusiaan yang peka. Mereka pergi menonton
karena&amp;nbsp; ingin&amp;nbsp; memperoleh&amp;nbsp; kepuasan,&amp;nbsp; kebutuhan,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cita-cita.&amp;nbsp;
Alasan lainnya&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; tertawa,&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; menangis,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;
digetarkan&amp;nbsp; hatinya, karena terharu akibat dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; hasrat&amp;nbsp;&amp;nbsp; ingin&amp;nbsp;&amp;nbsp;
menonton.Penonton meninggalkan rumah, antri karcis dan membayar biaya
masuk dan lainlain karena teater adalah dunia ilusi dan imajinasi.
Membebaskan pola rutin kehidupan&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; dibuka&amp;nbsp; hingga&amp;nbsp;
ditutupnya&amp;nbsp; tirai&amp;nbsp; untuk memuaskan hasrat jiwa khayalannya.&lt;br /&gt;
Eksistensi&amp;nbsp;
teater&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mengenal&amp;nbsp; batas&amp;nbsp; kedudukan&amp;nbsp; manusia. Secara&amp;nbsp;&amp;nbsp; ilmiah,
manusia memiliki&amp;nbsp;&amp;nbsp; kekuatan&amp;nbsp;&amp;nbsp; menguasai&amp;nbsp;&amp;nbsp; sikap dan tindakannya.
Tindakannya pergi ke teater disebabkan oleh keinginan dan kebutuhan&amp;nbsp;
berhubungan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; sesama. Sehingga&amp;nbsp; menempuh&amp;nbsp; jalan sebagai berikut
: &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bertemu dengan orang lain&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menonton&amp;nbsp; teater. Teater merupakan suatu lembaga sosial.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&amp;nbsp;Memproyeksikan diri&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; peranan-peranan yang melakonkan hidup
dan kehidupan di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; pentas&amp;nbsp; secara khayali. Teater adalah salah
satu cara proses interaksi sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam&amp;nbsp; memandang&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp;
karya&amp;nbsp; seni&amp;nbsp; penonton&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp; mampu memelihara&amp;nbsp; adanya suatu
objektivitas artistik. Ini bisa tercapai dengan menentukan jarak
estetik&amp;nbsp; (aestetic distance) sehubungan dengan karya seni yang
dihayatinya. Pemisahan yang dimaksud, antara penonton dan yang
ditonton, pada seni teater diusahakan dengan jalan:&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menciptakan penataan yang tepat atas auditorium dan pentas. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Adanya batas artistik proscenium sebagai bingkai gambar. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pentas yang terang dan auditorium yang gelap.&lt;br /&gt;
Semua&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; akan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membantu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kedudukan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; penonton&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sehingga memungkinkan untuk melakukan perenungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab 5&lt;br /&gt;
Tata Artistik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tata
artistik merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari teater.
Pertunjukan teater menjadi&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak utuh tanpa adanya tata artistik yang
mendukungnya. Unsur artistik disini meliputi tata panggung&amp;nbsp; , tata
busana,&amp;nbsp; tata&amp;nbsp; cahaya,&amp;nbsp; tata&amp;nbsp; rias,&amp;nbsp; tata&amp;nbsp; suara,&amp;nbsp; tata&amp;nbsp; musik&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;
dapat membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan.
Unsur-unsur artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dan penata
artistik mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut sehingga
unsur-unsur&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; bagian&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menempel&amp;nbsp;
atau mendukung,&amp;nbsp; tetapi&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp; kesatuan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;
utuh&amp;nbsp; dari sebuah pementasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tata Panggung &lt;br /&gt;
adalah
pengaturan pemandangan di panggung selama pementasan&amp;nbsp; berlangsung.
Tujuannya&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; sekedar&amp;nbsp; supaya permainan bisa dilihat penonton
tetapi juga menghidupkan pemeranan dan suasana panggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tata&amp;nbsp; Cahaya&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; Lampu&lt;br /&gt;
adalah&amp;nbsp;
pengaturan&amp;nbsp; pencahayaan&amp;nbsp; di daerah sekitar panggung yang fungsinya
untuk menghidupkan permainan dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; suasana&amp;nbsp;&amp;nbsp; lakonyang&amp;nbsp;&amp;nbsp;
dibawakan,&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp; menimbulkan suasana istimewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tata Musik&lt;br /&gt;
adalah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
pengaturan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; musik&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengiringi pementasan&amp;nbsp; teater yang&amp;nbsp;
berguna untuk memberi&amp;nbsp; penekanan&amp;nbsp; pada suasana permainan dan mengiringi
pergantian babak dan adegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tata suara&lt;br /&gt;
adalah
pengaturan keluaran suara yang dihasilkan dari berbagai macam sumber
bunyi seperti; suara aktor, efek suasana, dan musik. Tata suara
diperlukan untuk menghasilkan harmoni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tata rias dan tata busana&lt;br /&gt;
Adalah
pengaturan rias dan busana yang dikenakan pemain. Gunanya untuk
menonjolkan watak peran yang dimainkan, dan bentuk fisik pemain bisa
terlihat jelas penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, sebuah pertunjukan teater yang berlangsung di atas panggung&lt;br /&gt;
membutuhkan proses garap yang lama mulai dari (penentuan) lakon,&lt;br /&gt;
penyutradaraan, pemeranan, dan proses penataan artistik. Dalam&lt;br /&gt;
setiap tahapan proses ini melibatkan banyak orang (pendukung) dari&lt;br /&gt;
berbagai bidang sehingga dengan memahami tugas dan tanggung&lt;br /&gt;
jawab masing-masing maka kerja penciptaan teater akan padu.&lt;br /&gt;
Kualitas kerja setiap bidang akan menjadi harmonis jika masingmasing&lt;br /&gt;
dapat bekerja secara bersama dan bekerja bersama akan&lt;br /&gt;
berhasil dengan baik jika semua elemen memahami tugas dan&lt;br /&gt;
tanggung jawabnya. Itulah inti dari proes penciptaan seni teater, &lt;br /&gt;
“KERJASAMA”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kritik &amp;amp; Saran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Pustaka &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://aamovi.wordpress.com/2009/03/26/pengertian-drama-dan-teater-2/ &lt;br /&gt;
http://www.psb-psma.org/content/blog/seni-teater&lt;br /&gt;
http://mengenal-teater.blogspot.com/2010/04/sejarah-teater-indonesia.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://kingponselku.com/kingponselku.comseni/seni-teater-nusantara-seni-teater-nusantara-teater-tradisional&lt;br /&gt;
http://senibudayaparamitha.blogspot.com/2011/02/unsur-pembentuk-teater-dalam-khasanah.html&lt;br /&gt;
http://www.slideshare.net/airlanggha/kesenian&lt;br /&gt;
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/ragam-seni-teat&lt;/div&gt;
</description><link>http://sekolaholic.blogspot.com/2012/06/makalah-seni-teater.html</link><author>noreply@blogger.com (Agung Din Eka Hidayat)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>