<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Semesta dalam Kata-kata</title>
	
	<link>http://www.semestanet.com</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2009 10:03:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/semestanet/BLxi" /><feedburner:info uri="semestanet/blxi" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>semestanet/BLxi</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Who will be the right person for our next president?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/9szwk7MglgU/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2009/05/16/who-will-be-the-right-person-for-our-next-president/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 07:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2009/05/16/who-will-be-the-right-person-for-our-next-president/</guid>
		<description><![CDATA[Should we vote SBY for the next five year term or we change him with other candidates? Well, the questions can be answered by other questions which are some indicators that we may use to make a judgment over his presidency during last five years of his power. Those indicators will not talk about complicated [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5CJunarto%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>     Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4   </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>     </xml>< ![endif]--><!--[if !mso]><object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></object><br />
<style> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } </style>
<p> < ![endif]--><br />
<style></style>
<p>Should we vote SBY for the next five year term or we change him with other candidates?</p>
<p>Well, the questions can be answered by other questions which are some indicators that we may use to make a judgment over his presidency during last five years of his power. Those indicators will not talk about complicated macro economy. Instead, they tend to be related to our daily lives.</p>
<p>Firstly, compared to the early days of Susilo&#8217;s presidency to the present, have you been encountering an improvement of your quality of life? For example, you might have been jobless in 2004, but now you have a job. Or if you had had worked already, during the last five years you have enjoyed a rise of income which means you have a better purchasing power today than it was five years ago. That enables you to afford more than just basic needs such as food, clothes, and house as well as a good education for your children.</p>
<p>Secondly, do you feel safer?</p>
<p>Our brothers in Aceh, for instance, will absolutely say &#8220;yes&#8221; for this question. Undeniable, Susilo has created peace in Aceh. Of course, Jusuf Kalla&#8217;s significant contribution should be counted on too. The point is, however, the Helsinki agreement was made under Susilo&#8217;s authority. As tsunami hit the conflicting province at the end of 2004, he immediately ordered his officials to negotiate peace with Aceh Separatist Movement and encourage the entire process.</p>
<p>How about you then? Do you feel safer, for example, when you walk or drive in the city today without worrying about being robbed? Do you feel secured to travel around the archipelago now than five years ago when suicide bombers attacked many cities?</p>
<p>Thirdly, if you come from minority groups, are you treated more equal than five years ago?</p>
<p>And so on and so on. You can add more questions regarding your last five years life during Susilo&#8217;s presidency. The point is if your quality of life has been getting better in last five years, it would not be a mistake if you vote for him again. But if it has not or on the contrary your life has been worse, you should not choose him. Anyway, only you yourself know the answers, not political observers.</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=69&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/9szwk7MglgU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2009/05/16/who-will-be-the-right-person-for-our-next-president/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2009/05/16/who-will-be-the-right-person-for-our-next-president/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi Film Terbaik Tahun Ini</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/mfvdg_GJ3U4/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/10/03/laskar-pelangi-film-terbaik-tahun-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 10:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan Film]]></category>
		<category><![CDATA[andre hirata]]></category>
		<category><![CDATA[film indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[laskar pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[melayu belitong]]></category>
		<category><![CDATA[mira lesmana]]></category>
		<category><![CDATA[riri riza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/10/03/laskar-pelangi-film-terbaik-tahun-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Apa Anda sudah menonton Laskar Pelangi versi layar lebar? Setelah menyaksikan penampilan Andre Hirata dalam Kick Andy, membeli novelnya secara terhubung di internet, dan akhirnya membaca buku ini dalam sehari, saya menjadi salah seorang di antara ratusan ribu penggemar yang menantikan Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Saya menontonnya kemarin dan sangat menikmatinya. Laskar Pelangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa Anda sudah menonton <em>Laskar Pelangi </em>versi layar lebar?</p>
<p>Setelah menyaksikan penampilan Andre Hirata dalam <em>Kick Andy</em>, membeli novelnya secara terhubung di internet, dan akhirnya membaca buku ini dalam sehari, saya menjadi salah seorang di antara ratusan ribu penggemar yang menantikan Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Saya menontonnya kemarin dan sangat menikmatinya.</p>
<p><span id="more-68"></span><em>Laskar Pelangi</em> adalah novel karya Andre Hirata yang menyentuh sekaligus jenaka, membangkitkan semangat melawan pelbagai bentuk batasan struktur, dan menunjukkan bahwa kejayaan bisa diraih oleh siapapun, jika mau berusaha.</p>
<p>Saya larut dalam setiap kalimat yang ia tulis dengan gaya Melayu Belitong, yang berpadu dengan ungkapan dengan kata-kata serapan bahasa asing, sedikit pengaruh bahasa percakapan anak muda langgam Jakarta, serta kesalahan penulisan menurut baku &#8220;ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&#8221; Namun lebih daripada itu, kekuatan sang penulis mengungkapkan dan memilih kata, serta penuturan yang diasosiasikan dengan pelbagai cabang ilmu pengetahuan membuat pikiran saya mengembara ke mana-mana. Saya kagum dengan wawasan sang penulis yang begitu luas. Jelas bahwa Andre Hirata seorang jenius.</p>
<p>Saya menyukai lakon tokoh-tokohnya yang manusiawi. Betapa anak-anak Melayu Belitong yang terlupakan, hidup serbakurang, apa adanya, lugu, jujur, polos di pulau terpencil yang belum terlalu tercemar oleh gaya hidup duniawi yang kebarat-kebaratan sebagaimana di kota-kota metropolitan. Ada kesetiakawanan, kebersamaan, keakraban, kehangatan, dan banyak perjuangan dan pengorbanan.</p>
<blockquote><p>Kisahnya mungkin tidak bersitegang dengan nilai-nilai yang mapan sebagaimana <em>Larung</em> karya Ayu Utami yang, misalnya, menantang, bahkan mendelegitimasi agama dan sakralitas seksualitas. Meskipun begitu, Laskar Pelangi tetap kritis terhadap ketimpangan struktur, yang kala itu berlaku pada era awal Orde Baru (dan berlanjut sampai sekarang).</p></blockquote>
<p>Bahkan sebaliknya, tanpa rangkaian kalimat yang meledak-ledak, pembaca akan ikut hanyut dalam kemarahan, kesedihan, ketidakadilan, keputusasaan, di samping juga kesabaran, kegembiraan, perlawanan, dan perjuangan yang diilhami oleh nilai-nilai tradisional Islam.</p>
<p>Jadi, ketika film ini diluncurkan di hadapan masyarakat akhir September lalu, saya bertanya-tanya, ingin tahu, penasaran, apakah &#8211; atau sampai sejauh mana &#8211; Riri Reza dan Mira Lesmana akan mensekularisasi, mengurangi muatan islami novel <em>Laskar Pelangi</em> agar tetap setia pada ideologi mereka yang liberal?</p>
<p><object width="425" height="349"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/fFZVM8EDbKA&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/fFZVM8EDbKA&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="349"></embed></object><br />
Ternyata di tangan mereka <em>Laskar Pelangi </em>versi layar lebar tidak terlalu kehilangan nuansa islaminya. Islam justru digambarkan dengan pemahaman sejagat. Versi layar lebar berhasil, umpamanya, mewujudkan gambaran benak saya tentang hasrat sepuluh anak yang belajar dalam keterbatasan, dan semangat jihad seorang guru muda Bu Muslimah  ke alam visual. Tapi, sang ibu guru (yang diperankan Cut Mini) lebih cantik daripada yang saya bayangkan.</p>
<p>Adegan-adegan di awal film yang memperlihatkan akad Bu Mus yang pada awal tahun ajaran membuka kelas baru, yang dengan sabar bersiteguh menanti murid kesepuluh, mampu membuat penonton seketika bersimpati dengan Bu Mus.</p>
<p>Atau ketika berapa kali Sahara &#8211; sang gadis cilik berkerudung yang berkepribadian keras &#8211; mengucap nasihat agama kepada kawan-kawannya, penggambarannya sama sekali tidak berkesan dibuat-buat atau menggurui (walau dalam versi novel, tidak jarang Andre mengutip kitab suci).</p>
<p>Saya juga terkesima dengan keberhasilan sang sutradara menghidupkan langgam bahasa percakapan Melayu Belitong. Buat mereka yang jenuh mendengar bahasa gaul muda-mudi Jakarta sehari-hari yang dikampanyekan televisi-televisi Jakarta yang mengklaim diri sebagai TV nasional atau film-film layar lebar tentang gaya hidup muda-mudi metropolitan sehingga meminggirkan keistimewaan budaya daerah &#8211; ini terasa menyejukkan. Saya merasa seolah benar-benar berada di Belitong kala itu. Boleh dibilang, mereka benar-benar menggarap film ini secara rinci, hati-hati, dan menjadikannya bermutu.</p>
<blockquote><p>Malah latar belakang Pulau Belitong pada pertengahan dasawarsa 70-an ditampilkan dengan apik. Ada cuplikan pantai bernyiur hijau yang melambai dan perahu-perahu para nelayan, ada celah bebatuan besar di pantai tempat para Laskar Pelangi biasa berlari-lari, ada seekor buaya yang biasa melintas dan menghentikan perjalanan Lintang ke sekolah. Ada juga jalan-jalan perintis yang kiri dan kanannya pepohonan menghijau, serta pusat kota yang berkegiatan.</p></blockquote>
<p>Kesenjangan terhadap saluran ekonomi dan pendidikan antara anak-anak keluarga kaya yang memegang jabatan penting di PN Timah dan rakyat jelata seperti Ikal dan kawan-kawannya pun berjaya ditampilkan secara tepat guna. Sekali waktu ada pelajaran matematika di kelas. Anak-anak SD Muhammadiyah berhitung dengan seikat batang lidi, sedangkan para pelajar SD PN Timah dengan segenggam mesin hitung yang diberikan secara cuma-cuma. Kamera juga meneropong anak-anak SD PN Timah berlatih menabuh genderang dalam kelompok yang berbaris rapi, mempersiapkan diri menghadapi pesta rakyat, atau bermain sepatu roda, disaksikan anak-anak miskin yang terkagum-kagum itu dari balik pagar.</p>
<p>Puncak cerita adalah cerdas cermat. Anak-anak Muhammadiyah yang hanya berjumlah sepuluh orang berjuang mempersiapkan diri dibimbing Bu Mus. Ketegangan muncul pada hari H, ketika Lintang, sang jenius, benar-benar tertahan oleh buaya untuk waktu yang lebih lama dari biasanya, lantaran si buaya kali ini berbaring di tengah jalan. Lintang berhasil lewat setelah seorang pria kurus paruh baya berbaju hitam yang misterius menyingkirkan buaya itu.</p>
<p>Adegan cerdas cermat &#8211; meskipun berbeda dengan alur cerita dalam buku &#8211; disunting dengan baik dan menghasilkan kesan perungan sengit (sampai-sampai seorang remaja di samping saya yang menyaksikannya gelisah, berkali-kali ia mengerakkan badan karena tegang). Akhirnya SD Muhammadiyah menang. Tapi keesokan harinya, Lintang yang sangat cerdas taklagi dapat bersekolah. Ayahnya menghilang setelah melaut dan ia mau tidak mau harus menggantikan peran sang ayah bagi adik-adiknya yang masih kecil. Lintang menyampaikan perpisahan kepada kawan-kawannya.</p>
<p>Lantas film mulai berangsur-angsur menuju akhir, diawali dengan adegan pertemuan Ikal dan Lintang belasan tahun kemudian, tahun 1999. Lintang mengajak Ikal pergi melihat anaknya dari balik jendela kelas. Sang anak terlihat menonjol di kelas. &#8220;Itu anakku,&#8221; katanya dengan bangga.</p>
<p>Bagaimanapun, <em>Laskar Pelangi</em> tetaplah film pengejar laba yang mendramatisasi jalan cerita di buku dalam adegan-adegannya. Tentu saja agar penonton tidak lekas bosan. Ketika adegan Kepala Sekolah Pak Harfan yang sakit-sakitan dipertontonkan, saya berpikir, jika ini film Hollywood, Pak Harfan akan diwafatkan. Saya sempat bertanya, apakah Riri Reza akan mewafatkan tokoh ini? Ternyata dia mematikan tokoh Pak Harfan walau tidak ada penuturan rinci tentang kematian Pak Harfan dalam buku.</p>
<p>Adegan selanjutnya, Bu Mus yang tidak masuk di kelas selama lima hari karena berduka. Sekolah terancam bubar karena Bu Mus satu-satunya guru yang tersisa.</p>
<p>Karakter Bu Mus yang kelihatan kokoh menjadi rapuh. Atau bisa jadi sang sutradara ingin memanusiawikan lakon Bu Mus dan ingin membangkitkan hawa keputusasaan, kegetiran perjuangan Bu Mus di kalangan penonton. Meskipun begitu, khalayak juga larut dalam hasrat kuat anak-anak Laskar Pelangi untuk belajar secara mandiri.</p>
<p>Adegan berikutnya, Bu Mus menyaksikan anak-anak didiknya terus belajar sendiri meski tanpa kehadirannya. Bu Mus yang berkaca-kaca masuk di depan kelas. Sahara menjerit girang. Ia lantas dipeluk oleh semua anak didiknya.</p>
<blockquote><p>Peralihan gambar terasa cepat tidak membosankan. Buat orang yang daya tangkap visualnya lebih bagus daripada daya tangkap aksaranya, tentu tidak masalah. Tapi di sisi lain kadang-kadang menurut saya ada beberapa tayangan yang berganti terlalu cepat untuk dapat ditafsirkan awam. Tapi saya paham, film ingin mewujudkan realitas dalam buku sebanyak-banyaknya. Ada banyak karakter dan penggambaran dalam buku, tapi di film Ikal menjadi tokoh utama yang penampilannya &#8220;bersaing&#8221; dengan tokoh-tokoh lainnya.</p></blockquote>
<p>Film ini memang sedikit menggubah atau menafsirkan ulang versi bukunya. Namun, sang penulis skenario berhasil mengangkat banyak adegan dari buku yang memang patut diangkat di samping menciptakan adegan baru yang berbeda yang tidak keluar dari nalar cerita aslinya.</p>
<p>Para pemeran anak-anak Laskar Pelangi di sini mencerminkan anak-anak Indonesia kebanyakan. Mereka lusuh, dekil, berbicara dan berpikir secara alami sebagaimana usia mereka. Kita seperti menyaksikan kehidupuan anak-anak Indonesia yang sesungguhnya, bukan anak-anak dari kelas tertentu saja.</p>
<p>Saran saya, bacalah bukunya sebelum menonton buku ini agar bisa mengikuti jalan cerita. Sebab memang, pemunculan tokoh pria misterius yang menolong Lintang melewati buaya, sebagai contoh, akan membingungkan jika kita tidak membaca asal-usulnya di versi novelnya.</p>
<p>Film ini sangat saya anjurkan untuk ditonton. Anda akan tertawa dan menangis pada saat yang sama. <em>Ayat-ayat Cinta</em> boleh jadi film paling tenar tahun ini, tapi <em>Laskar Pelangi</em> adalah film terbaik tahun ini dari segi alur cerita, penokohan, pengambilan gambar, latar belakang tempat, dan penyuntingan. Film ini layak dipertontonkan pada setiap hari pendidikan nasional, atau bahkan dijadikan propaganda pendidikan UNICEF bagi anak-anak dunia. Ajaklah anak-anak Anda menontonnya bersama-sama agar mereka menghargai setiap bentuk kemudahan yang mereka peroleh agar belajar lebih giat dan tetap semangat menggapai asa.</p>
<p>Satu lagi, yang membuat saya senang kemarin, tidak ada satupun film asing tayang di bioskop tempat saya menonton. Semua film Indonesia. Ini takkan pernah terbayangkan pada sepuluh sampai tujuh belas tahun silam yang kala itu film-film Hollywood merajai gedung bioskop di tanah air. Film Indonesia sepertinya sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jayalah film Indonesia!</p>
<p>(Silahkan nikmati lagu tema film <em>Laskar Pelangi </em>dari Nidjie di bawah)</p>
<p><object width="425" height="349"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/FwlKSKdsLG4&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/FwlKSKdsLG4&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="349"></embed></object></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=68&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/mfvdg_GJ3U4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/10/03/laskar-pelangi-film-terbaik-tahun-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/10/03/laskar-pelangi-film-terbaik-tahun-ini/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Find the Best Criminal Defense Lawyers in Dallas</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/_5is2yzP-xQ/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/09/30/find-the-best-criminal-defense-lawyers-in-dallas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 10:59:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iklan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/09/30/find-the-best-criminal-defense-lawyers-in-dallas/</guid>
		<description><![CDATA[If you are arrested and accused of criminal offenses in Dallas, it means you need Dallas criminal defense lawyers to help you defend your rights. Located in Irving, The Law Office of Richard C McConathy handles very diverse criminal cases, including minor infractions and misdemeanors and the most serious felony indictments. They serve clients who [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5CJunarto%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>     Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4   </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>     </xml>< ![endif]--><!--[if !mso]><object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></object><br />
<style> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } </style>
<p> < ![endif]--><br />
<style>  </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p> < ![endif]-->If you are arrested and accused of criminal offenses in Dallas, it means you need <a href="http://www.mcconathylaw.com/">Dallas criminal defense lawyer</a>s to help you defend your rights.</p>
<p>Located in Irving, The Law Office of Richard C McConathy handles very diverse criminal cases, including minor infractions and misdemeanors and the most serious felony indictments. They serve clients who are charged in state and federal courts and they handle state and Federal appeals.</p>
<p>They have long experienced in serving as <a href="http://www.mcconathylaw.com/">attorneys of criminals in Dallas</a>. Richard C. McConathy, founding member of McConathylaw, for example, has been counsel in more than 600 criminal proceedings in the Dallas, Denton Fort Worth, Irving, and Collin County courts while in the practice of law.</p>
<p>Meanwhile, Brian A. Bolton has handled thousands of criminal offenses in State court, including Drug Possession offenses, Drug Manufacturing/Delivery offenses, Theft and Fraud offenses, Weapons offenses, Assualt offenses, Burglary offenses, Drivers License offenses, Intoxication Manslaughter, Municipal citation offenses, and other offenses.</p>
<p>And Eric Gruetzner is currently of counsel with the Law Offices of Richard C. McConathy. His practice is exclusively confined to Criminal Defense and Civil Matters in the strongly litigated Collin County Courts.</p>
<p>They have more than 18 years striving to be the best <a href="http://www.mcconathylaw.com/">attorney of criminal Dallas defense</a>. You can contact them and they will help you aggressively fight for your right and reputation. Do not lose hope because they will properly defend your case. At the end, you will be able to make decision rightly.</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=67&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/_5is2yzP-xQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/09/30/find-the-best-criminal-defense-lawyers-in-dallas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/09/30/find-the-best-criminal-defense-lawyers-in-dallas/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dia Berlutut di samping Diriku</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/qYBulxjQb6o/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 14:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Biasa yang Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[puisi klasik]]></category>
		<category><![CDATA[Senja di Pelabuhan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Ajati]]></category>
		<category><![CDATA[video wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/</guid>
		<description><![CDATA[Buat penggemar berat Chairil Anwar, sajak berjudul &#8220;Senja di Pelabuhan Kecil&#8221; tentu tidak asing lagi. Nama &#8220;Sri Ajati&#8221; ditulis Chairil sebagai pihak yang diperuntukkan bagi puisi itu. Kemolekan Sri Ajati begitu terekam di benak sang Pujangga sampai-sampai Chairil berlutut di sampingnya. Sri Ajati adalah tokoh nyata. Tahun lalu bersama Jayadi, saya membuat video wawancara dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat penggemar berat Chairil Anwar, sajak berjudul &#8220;Senja di Pelabuhan Kecil&#8221; tentu tidak asing lagi. Nama &#8220;Sri Ajati&#8221; ditulis Chairil sebagai pihak yang diperuntukkan bagi puisi itu. Kemolekan Sri Ajati begitu terekam di benak sang Pujangga sampai-sampai Chairil berlutut di sampingnya.</p>
<p>Sri Ajati adalah tokoh nyata. Tahun lalu bersama Jayadi, saya membuat video wawancara dengan Sri Ajati. Jayadi, kawan saya yang penggila berat Chairil Anwar ini, menjadi pewawancara, sedangkan saya kamerawan sekaligus penyuntingnya. Maka untuk merayakan hari kemerdekaan Republik yang ke-63, saya muat video ini di Semesta dalam Kata-kata untuk Anda. Ya, kisah cinta Chairil Anwar dengan gadis cantik yang kini renta mempunyai konteks sejarah yang menarik. Selamat menikmati.</p>
<p><object width="425" height="349"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/6Y7XnBIPWko&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/6Y7XnBIPWko&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="349"></embed></object></p>
<p><span id="more-66"></span><strong>Senja di Pelabuhan Kecil</strong></p>
<p>buat Sri Ajati</p>
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br />
di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br />
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut<br />
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.</p>
<p>Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang<br />
menyinggung muram, desir hari lari berenang<br />
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak<br />
dan kini tanah air tidur hilang ombak.<br />
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan<br />
menyisir semenanjung, masih pengap harap<br />
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan<br />
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=66&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/qYBulxjQb6o" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>KPI Mandul?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/YCvs1nnes18/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/08/03/kpi-mandul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 07:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/08/03/kpi-mandul/</guid>
		<description><![CDATA[KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) secara rutin mengirimkan laporan, memberikan laporan pemantauan, dan mengingatkan pengelola stasiun televisi agar berhati-hati, merevisi, atau menghentikan acara yang beresangkutan. Akan tetapi sepertinya, pantauan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap kebijakan stasiun televisi dalam penayangan. Sepertinya stasiun televisi tidak terlalu mengindahkannya. Stasiun televisi menggunakan metode hit and run. Jika menerima teguran, mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) secara rutin mengirimkan laporan, memberikan laporan pemantauan, dan mengingatkan pengelola stasiun televisi agar berhati-hati, merevisi, atau menghentikan acara yang beresangkutan. Akan tetapi sepertinya, pantauan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap kebijakan stasiun televisi dalam penayangan. Sepertinya stasiun televisi tidak terlalu mengindahkannya.<br />
<span id="more-65"></span></p>
<p>Stasiun televisi menggunakan metode <em>hit and run.</em> Jika menerima teguran, mereka merunduk sejenak. Tapi, beberapa saat kemudian, jika dirasa aman, mereka kembali menayangkan acara-acara yang bermasalah. Di sini terlihat bahwa industri tidak tulus mengikuti regulasi-regulasi penyiaran. Sebab, jelas bahwa pertimbangan mereka untung-rugi. Ketika pengawasan mengendur, industri memanfaatkan celah-celah kekurangan dalam sistem regulasi penyiaran yang memang masih bermasalah.</p>
<p>Ini berkaitan dengan kekuatan wewenang untuk memaksa tidak dimiliki KPI. Undang-undang No.32/2002 memberikan kewenangan memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran. Pada dasarnya UUP No.32/2002 ini bersemangat kepentingan masyarakat.</p>
<p>Sayangnya Peraturan Pemerintah tentang Penyiaran yang sebagai autran pelaksana yang operasional, justru cenderung anti kepentingan masyarakat. Dalam PP, pemerintah membuat tafsiran yang sebaliknya, dan mengambil kewenangan yang seharusnya dimiliki KPI, sehingga peran KPI tidak berdaya.</p>
<p>Sayangnya, kewenangan KPI semakin berkurang disebabkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi. MK menolak 20 pasal dan menerima 2 pasal yang diminta uji oleh enam lembaga (ATVSI, PRSSNI, IJTI, PPPI, Persusi, dan Komteve). Satu pasal yang diterima (Pasal 62) menyangkut kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia dalam hal peraturan pemerintah di bidang penyiaran yang dikembalikan kepada pemerintah (presiden).</p>
<p>Kemudian <em>judicial review</em> yang diajukan KPI ke Mahkamah Agung berkaitan dengan Peraturan Pemerintah juga ditolak Mahkamah Agung.  &#8220;Ini menyebabkan KPI tidak lagi berfungsi,&#8221; kata Ade Armando. Maksudnya KPI tidak berperan seharusnya sebagaimana di negara-negara demokrasi lainnya.</p>
<p>Dengan penolakan peninjauan kembali terhadap PP oleh KPI kepada Mahkamah Agung, posisi KPI hanya berperan sebagai wakil masyarakat yang memberikan masukan kepada pemerintah. Dengan posisi ini, KPI tidak lagi membuat keputusan.</p>
<p>&#8220;Kewenangan KPI telah merosot serius,&#8221; kata Ade Armando.</p>
<p>Ade mengisahkan bahwa sebelum ada keputusan lembaga negara itu, pada awal-awal berdirinya, KPI aktif mengawasi kandungan siaran, memberikan peringatan, dan menyampaikan bahwa teguran punya implikasi terhadap perizinan. KPI saat itu benar-benar berperan sebagai regulator.</p>
<p>Dengan posisi yang lebih jelas, KPI pada masa itu mempunyai pengaruh yang kuat. Industri televisi memperhitungkan teguran dan masukan dari KPI. Mereka tidak bisa begitu saja mengabaikannya, karena mengetahui bahwa kewenangan KPI disebutkan dalam undang-undang. Banyak program acara berhenti tayang karena surat teguran KPI. Misalnya, Komedi Nakal dan acara gulat <em>Smackdown</em>.</p>
<p>&#8220;Meskipun kini berkurang, mestinya KPI masih bisa punya peran,&#8221; kata Ade Armando. Sebab, eksistensi KPI tersebut dalam undang-undang, sehingga dibanding lembaga-lembaga lain seperti MUI, KWI, dan lain-lain, &#8220;Masukan KPI seharusnya lebih berpengaruh,&#8221; tambahnya.</p>
<p><strong>KPI DIMANDULKAN ATAU MEMANG MANDUL?</strong></p>
<p>Idealnya, KPI bisa bekerja &#8220;normal&#8221; sebagaimana lembaga regulator penyiaran di negara-negara demokratis lainnya. Tapi kenyataannya, kewenangan KPI terbatas, atau telah dibatasi. Pertanyaannya, seberapa jauhkah sesungguhnya peran yang masih bisa dimainkan KPI dalam ruang yang telah dibatasi?  Atau, mungkinkah ada gerakan madani yang mampu merestorasi kedudukan KPI sebagai lembaga independen sehingga mampu berperan sebagaimana mestinya?</p>
<p>Seandainya KPI dan pemerintah bisa sejalan dan berbesar hati menerima masukan KPI, dalam posisi ini KPI masih akan sangat berpengaruh. Sayangnya, pemerintah cenderung memihak industri. Pemerintah yang pro-pasar mengambil alih peran sebagai regulator penyiaran demi kepastian bisnis mengingat telah banyak pemilik modal asing yang menanamkan investasi mereka ke bisnis penyiaran. Atau dengan kata lain, pemerintah ingin meraih <em>business</em> <em>confidence</em> dari penanam modal baik lokal maupun mancanegara, yaitu bahwa pemerintah dapat dipercaya sebagai penjamin jangka panjang kelangsungan usaha mereka.</p>
<p>Selain itu, anggota KPI dipilih melalui proses politik. Dalam proses politik yang pro-pasar, kepentingan industri dan kepentingan pemerintah secara dominan melakukan intervensi. Pada akhirnya, proses politik yang harusnya adil berpihak pada kepentingan industri dan pemerintah  Kepentingan ini memarjinalkan kepentingan-kepentingan lain, misalnya, masyarakat yang menghendaki tayangan yang sehat dan regulasi penyiaran yang adil.</p>
<p>Dengan demikian proses seleksi anggota KPI menjadi semacam <em>screening</em> oleh anggota DPR dan pemerintah yang pro-pasar untuk memastikan apakah para kandidat membahayakan privilese kepentingan industri dan pemerintah atau tidak. Akibatnya, kebanyakan anggota komisi yang terpilih sebagian besar tidak peduli, tidak berpihak, atau tidak berpengetahuan tentang pentingnya regulasi penyiaran dalam masyarakat yang demokratis.</p>
<p>Implikasi intervensi pihak luar ke dalam KPI adalah anggota KPI menjadi tidak kompak. Ade Armando dengan tegas menengarai persoalan internal: Ada sejumlah anggota komisi yang jelas-jelas pro industri, sehingga mempersulit para anggota lain yang secara tegas berpihak kepada masyarakat.</p>
<p>&#8220;Sudah rahasia umum bahwa sejumlah anggota KPI yang menjadi orang bayaran industri,&#8221; kata Ade Armando. &#8220;Orang bisa melihat dari tidak ada <em>greget-</em>nya sama sekali,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Kasus Astro, umpamanya, adalah contoh yang memperlihatkan keberpihakan yang merugikan kepentingan publik. Masyarakat harus membayar mahal untuk sebuah tontonan yang harusnya bisa dinikmati secara gratis. Keberpihakan mengacaukan kompetisi yang sehat di antara televisi yang berbayar. Ironisnya, KPI justru mengatakan bahwa Astro telah mengikuti prosedur dengan benar. Akhirnya, semua persoalan dikembalikan kepada pemerintah.</p>
<p>Selama KPI tidak mempunyai konsep atau cetak biru tentang pertelevisian di tanah air, kebijakan  yang diambil takkan terarah. Padahal, jika mau, KPI sudah memiliki modal dasar legal, yaitu undang-undang yang mengakui keberadaannya. Dengan modal ini KPI seharusnya  bisa duduk bersma-sama dengan Menteri Komunikasi dan Informasi dan mengajukan konsep penyiaran di tanah air secara menyeluruh. Misalnya, KPI dan pemerintah menurunkan konsep itu dalam tiga bulan pertama dengan target-target yang lebih kecil. Dengan begitu, regulasi-regulasi baru bisa lahir demi kepentingan bersama.</p>
<p>&#8220;Kalau mereka mau, KPI akan sangat didengar pemerintah,&#8221; kata Ade.</p>
<p>Persoalannya tinggal inisiatif para anggota KPI sendiri. Mereka mau melakukannya, atau tidak. Padahal, jika ada kemauan, KPI bisa duduk bersama dengan pemerintah dan mengambil sikap terhadap kenakalan-kenakalan media massa. Menurut Ade, dibanding sekarang, kepengurusan KPI  sebelumnya bermental pejuang, sedangkan era sekarang yang para anggotanya kebanyakan adalah titipan pelbagai kepentingan.</p>
<p>&#8220;Itu kata yang paling lunak. Tapi sesunggunya mereka betul-betul bermain,&#8221; kata Ade. &#8220;Selama orang-orangnya masih itu-itu juga, takkan bisa,&#8221; kata Ade. Ia menyebut anggota KPI periode sekarang dengan beberapa kemungkinan. &#8220;Enggan, bodoh, tidak pengetahuan, atau pro-industri,&#8221; katanya. &#8220;Mereka sibuk mengurusi kegiatan sendiri-sendiri.&#8221;</p>
<p>Ade Armando berkata.</p>
<p>&#8220;Kemungkinan paling baik adalah memang bodoh atau tidak punya pengetahuan yang cukup, sehingga merka tidak mengerti bagaimana mengatur.  Yang namanya bodoh ‘kan <em>nggak</em> jahat. Tapi yang lebih buruk adalah jahat memang. Jadi, dalam hal ini, instead of menunjukkan sikap yang tegas, ini malah dikembalikan lagi semua ke industri.</p>
<p>&#8220;Tidak ada keputusan-keputusan <em>decisive</em>. Ini saya dengaer juga dari KPID-KPID. Mereka sangat kecewa karena mereka butuh sikap yang tegas mengenai jaringan. Dan ternyata menruut mereka pusat selalu mengarahkan dalam berbagai munas agar tidak konfrontatif dengan indsutri, dengan pemerintah. Saya sudah sering dengar Sasa sebagai ketua ke mana-mana mengatakan &#8216;kita berteman,&#8217; &#8216;kita sejalan&#8217; dan seterusnya. Seolah mengatakan bahwa sikap kita yang dulu itu, sikap yang keras itu salah. Jadi, kelihatan sekali arahnya.&#8221;</p>
<p>Dengan kata lain, kewenangan KPI yang lemah sekarang, menurut Ade, cenderung disebabkan oleh aktor-aktor di dalamnya. Persoalannya, mekanisme pemilihan anggota KPI secara politik (uji kelayakan oleh anggota parlemen) adalah yang terbaik di antara pilihan-pilihan yang terburuk. Bahwa DPR mengajukan nama-nama yang lebih sesuai dengan kepentingan politik mereka sudah takterhindarkan. &#8220;Itulah kelemahan demokrasi,&#8221; kata Ade Armando.</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=65&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/YCvs1nnes18" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/08/03/kpi-mandul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/08/03/kpi-mandul/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>If you are involved in DWI in Texas, ask for help</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/mJVBmmvNYwc/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/07/13/if-you-are-involved-with-dwi-in-texas-ask-for-help/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 02:09:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iklan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/07/13/if-you-are-involved-with-dwi-in-texas-ask-for-help/</guid>
		<description><![CDATA[Every year, thousands of people are charged with Driving While Intoxicated (DWI) throughout the State of Texas. If you are one of that thousands, it means you have become a subject of a highly technical criminal charge. Please be aware of the danger situation because the system is sometimes overbearing. You could lose your driving [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Every year, thousands of people are charged with Driving While Intoxicated (DWI) throughout the State of Texas. If you are one of that thousands, it means you have become a subject of a highly technical criminal charge.</p>
<p>Please be aware of the danger situation because the system is sometimes overbearing. You could lose your driving license and be jailed, for example, especially if you could not afford the fine that increases year by year.</p>
<p>If you are involved in DWI in Dallas, Tarrant, Denton, Collin, Parker, and all other surrounding counties in the Dallas-Fort Worth area, it is encouraged that you ask a <a href="http://www.mcconathylaw.com/">Dallas criminal defense lawyer</a> for assistance.</p>
<p>The Law Office of Richard C McConathy located in Irving, Texas, is an experienced <a href="http://www.mcconathylaw.com/">Dallas DWI lawyer</a>. They have more than 18 years striving to be the best <a href="http://www.mcconathylaw.com/">Fort Worth DWI lawyer</a> as well as be the best lawyer in Dallas, and Denton. You can contact them and they will help you aggressively fight for your right and reputation. Do not lose hope because they will properly defend your case. At the end, you will be able to make decision rightly.</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=64&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/mJVBmmvNYwc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/07/13/if-you-are-involved-with-dwi-in-texas-ask-for-help/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/07/13/if-you-are-involved-with-dwi-in-texas-ask-for-help/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dede Yusuf dan Fenomena Politik Baru di Indonesia:  Ketika Ketenaran dan Kaderisasi Menentukan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/0VD_aWo-c5w/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/04/16/dede-yusuf-dan-fenomena-politik-baru-di-indonesia-ketika-unsur-ketenaran-dan-kaderisasi-menentukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 05:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Dede Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>
		<category><![CDATA[partai kader]]></category>
		<category><![CDATA[partai massa]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/04/16/dede-yusuf-dan-fenomena-politik-baru-di-indonesia-ketika-unsur-ketenaran-dan-kaderisasi-menentukan/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sangka Dede Yusuf yang pernah diremehkan justru menang. Dede bahkan dipandang sebelah mata oleh politisi partainya sendiri. Tokoh gaek Amin Rais dan ketua Majelis Permusyawaratan Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat Amir Mafhud secara terbuka pernah menyatakan Dede Yusuf tidak pantas memimpin Jawa Barat. Tapi pencalonan Dede dengan setia didukung Ketua PAN Soetrisno Bachir. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sangka Dede Yusuf  yang pernah diremehkan justru menang. Dede bahkan dipandang sebelah mata oleh politisi partainya sendiri. Tokoh gaek Amin Rais dan ketua Majelis Permusyawaratan Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat Amir Mafhud secara terbuka pernah menyatakan Dede Yusuf tidak pantas memimpin Jawa Barat.<br />
<span id="more-63"></span></p>
<p>Tapi pencalonan Dede dengan setia didukung Ketua  PAN Soetrisno Bachir. Dan akhirnya ia bisa memperoleh surat keputusan persetujuan dari Dewan Pemimpin Pusat PAN sebagai kandidat resmi partai ini.</p>
<p>Tantangan Dede yang lain, tidak ada calon gubernur dari kubu lain yang bersedia meminangnya sebagai pasangan mereka. Danny Setiawan, Agum Gumelar, ataupun Ahmad Heryawan sama sekali tidak memperhitungkan posisinya. Biang keladinya adalah pendapat lembaga survai bahwa nama Dede Yusuf takkan menjual secara politik.</p>
<blockquote><p>Akan tetapi, di saat-saat terakhir, pilihan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengusung Ahmad Heryawan akhirnya jatuh kepada Dede setelah kandidat mereka ditolak pihak Danny. Kedudukan tawar untuk menjadi orang nomor satu antara Dede dan Ahmad sebenarnya seimbang. Tapi Soetrisno Bachir memutuskan agar yang maju sebagai kandidat gubernur adalah Ahmad Heryawan yang lebih tua tiga bulan daripada Dede Yusuf.</p></blockquote>
<p>Ahmad Heryawan dikenal di kalangan aktivis PKS sebagai seorang ustad, seorang da&#8217;i. Ia sering dijadikan rujukan media komunitas partai ini atau pembicara dalam acara atau kegiatan Islam.</p>
<p>Di kalangan yang lebih luas, Dede Yusuf  lebih tenar daripada Ahamad Heryawan. Pada akhir 1980-an Dede membintangi film-film layar lebar bertema remaja. Dan pada awal 1990-an masyarakat mengenalnya sebagai pemeran sinetron <em>Jendela Rumah Kita</em> yang tayang di satu-satunya stasiun televisi Indonesia saat itu: TVRI. Lantas, pada masa bermekaran stasiun televisi swasta, Dede membintangi sinteron-sinetron laga. Semenjak awal masa reformasi ia bergabung sebagai penggiat PAN dan menjadi anggota DPR dari partai itu.</p>
<p>Kembali ke pemilihan gubernur Jawa Barat. Lembaga-lembaga survei pra-pilkada jika bukan salah memilih sampel, mungkin memang telah benar-benar menerapkan metode ilmiah. Tapi, jika demikian, telah terjadi distorsi penyebaran sampel yang signifikan, lantaran pada kenyataannya para responden hanya bersuara untuk lembar kuesioner, bukan untuk kertas suara itu sendiri. Mereka ternyata cenderung golput pada saat pemilihan. Di sinilah letak titik lemah yang tidak ditangkap lembaga survai.</p>
<p>Mereka mungkin bisa mengantisipasinya dengan pertanyaan saringan di lembar kuesioner untuk menggali data apakah responden berniat memungut suara pada hari H, atau cenderung golput. Satu butir pertanyaan, tapi jika dilupakan, fatal. Inilah yang menyebabkan distorsi antara sampel dan populasi, antara survei dan hasil penghitungan suara.</p>
<blockquote><p>Buat pemilih golput, mungkin tidak ada bedanya memilih atau tidak memilih. Fenomena ini biasanya muncul di negara-negara yang justru demokrasinya mapan seperti di Amerika Serikat. Jumlah pemilih aktif di sana hanya sekitar separuh pemilih terdaftar. Dan Indonesia sepertinya sedang bergerak menuju apatisme politik itu.</p></blockquote>
<p>Dalam tingkat golput yang tinggi tersebut, pemilu akan gampang dimenangi partai kader semacam PKS. Sebab, partai kader mempunyai simpatisan yang loyal serta dibangun melalui proses kaderisasi ideologis yang baik dan sistematis. Dengan begitu, ketika ada peristiwa-peristiwa politik semacam pemilu, tidaklah sukar memobilisasi massa atau menggalang dana. Bayangkan, jika seorang kader yang setia secara militan mempengaruhi tiga atau empat anggota keluarga, kerabat, atau teman mereka yang mengambang secara politik, hasilnya adalah pilkada Jawa Barat ini.</p>
<p>Saksikan juga pemilihan gubernur Jakarta Raya sebelumnya. Di sini PKS berhasil menggaet angka 40 persen untuk kandidat mereka meskipun harus melawan koalisi partai-partai besar. Padahal jumlah kader mereka lebih rendah dari persentase itu. Fenomena itu sukar dijelaskan kecuali dengan memahami bahwa PKS mempunyai basis pendukung yang sangat setia, militan, dan akur.</p>
<p>Kecenderungan ini yang harus dibaca partai massa, yaitu partai yang memiliki pendukung tidak loyal dan berubah-ubah, cenderung pragmatis. Partai-partai semacam ini mungkin hanya mampu mengandalkan nama besar, tokoh-tokoh tenar, dan tampan. Tapi kemenangan mereka harus dicapai dengan biaya politik dan sosial yang jauh lebih besar ketimbang partai kader.</p>
<p>Partai kader telah menginvestasikan kemenangan mereka melalui kaderisasi, pendidikan politik, ikatan komunitas yang kuat, dan agenda politik lebih terstruktur di bawah ideologi yang jelas. Singkat kata, tanpa ideologi, tanpa kaderisasi, partai massa sukar berjaya menggaet pemilih khusus, yaitu yang punya wawasan tertentu tentang bagaimana seharusnya mengelola negara.</p>
<blockquote><p>Jadi jangan kaget bila dalam beberapa tahun ke depan, PKS bakal mempunyai posisi tawar yang terus menguat. Melalui kegiatan indoktrinasi ideologi yang disebut &#8220;Tarbiyah&#8221; PKS telah merintis proses pengkaderan semenjak dini. Para calon kader dibina secara disiplin semenjak SMA, dan dijaga ketika di perguruan tinggi.</p></blockquote>
<p>Boleh dibilang PKS berpotensi berkembang pesat, dan dengan kader-kader yang terdidik, mereka akan menuai banyak kemenangan di masa depan. Dalam hal ini, partai-partai lain hendaknya mulai membakukan ideologi mereka untuk dapat memperoleh basis pendukung yang loyal, bukan mengutamakan kepentingan sesaat belaka. Sayangnya, kebanyakan partai politik kita cenderung pengambil untung sesaat.</p>
<p>Pelajaran lain: Jangan gampang percaya terhadap hasil lembaga survai tanpa memahami metodologinya. Distorsi yang besar, apapun penyebabnya, menunjukkan bahwa ada masalah dalam metodologi mereka. Istilahnya: operasionalisasi konsep tidak andal dan tidak sahih.</p>
<p>Fenomena lain yang perlu diperhitungkan adalah, jangan sepelekan artis karena mereka punya tabungan suara berupa para penggemar fanatik. Paling tidak Dede Yusuf, telah berhasil membuktikan bahwa dia mempunyai nilai jual politik yang tinggi. Tapi, tentu saja, untuk memimpin wilayah Jawa Barat yang luasnya berkali-kali ketimbang Jakarta, dibutuhkan lebih daripada kemampuan seorang artis.</p>
<p><strong>Baca juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/07/01/memilih-gubernur-jakarta-bang-uki-istikarah/">Memilih Gubernur Jakarta, Bang Uki Istikarah</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=63&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/0VD_aWo-c5w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/04/16/dede-yusuf-dan-fenomena-politik-baru-di-indonesia-ketika-unsur-ketenaran-dan-kaderisasi-menentukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/04/16/dede-yusuf-dan-fenomena-politik-baru-di-indonesia-ketika-unsur-ketenaran-dan-kaderisasi-menentukan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Memasang Kubah dengan Ajaib</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/sfbmvg50U7A/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/03/19/memasang-kubah-dengan-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 08:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paranormal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/03/19/memasang-kubah-dengan-ajaib/</guid>
		<description><![CDATA[Sukar dipercaya. Komunitas Muslim di Desa Kailolo, Pulau Haruku, Maluku Tengah, memasang kubah masjid yang berbobot ribuan kilogram dengan kekuatan paranormal. Fenomena yang ditayangkan Trans 7 pada tanggal 17 Maret 2008 petang memperlihatkan bahwa gejala paranormal benar-benar ada dan nyata. Sesuatu yang sering dilihat pendukung positivisme secara skeptis. Anda dapat meletakkan tautan teks iklan Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sukar dipercaya. Komunitas Muslim di Desa Kailolo, Pulau Haruku, Maluku Tengah, memasang kubah masjid yang berbobot ribuan kilogram dengan kekuatan paranormal. Fenomena yang ditayangkan Trans 7 pada tanggal 17 Maret 2008 petang memperlihatkan bahwa gejala paranormal benar-benar ada dan nyata. Sesuatu yang sering dilihat pendukung positivisme secara skeptis.</p>
<p><object width="425" height="373"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Cs0taJrwYII&#038;rel=0&#038;border=1&#038;color1=0x2b405b&#038;color2=0x6b8ab6&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Cs0taJrwYII&#038;rel=0&#038;border=1&#038;color1=0x2b405b&#038;color2=0x6b8ab6&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="373"></embed></object></p>
<p><a href="http://www.semestanet.com/pasang-iklan/">Anda dapat meletakkan tautan teks iklan Anda di sini.</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=60&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/sfbmvg50U7A" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/03/19/memasang-kubah-dengan-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/03/19/memasang-kubah-dengan-ajaib/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>KRL Jabodetabek Layak Dipuji</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/eHykgQ-NkjI/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/03/01/krl-jabodetabek-layak-dipuji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 00:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/03/01/krl-jabodetabek-layak-dipuji/</guid>
		<description><![CDATA[Ada janji dengan Ade Armando – Bang Ade, saya menyebutnya – di kampus Universitas Indonesia Depok. Kali ini saya ingin mencoba jasa angkutan kereta listrik. Saya dengar, kini ada rangkaian gerbong berpendingin udara nyaman yang diberangkatkan pergi-pulang secara teratur antara Jakarta-Bogor. Maka saya pergi ke Stasiun Kalibata dengan bus sedang. Sesampai di sana saya melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Ada</st1> janji dengan Ade Armando – Bang Ade, saya menyebutnya – di kampus Universitas Indonesia Depok. <o></o>Kali ini saya ingin mencoba jasa angkutan kereta listrik. Saya dengar, kini ada rangkaian gerbong berpendingin udara nyaman yang diberangkatkan pergi-pulang secara teratur antara Jakarta-Bogor.<o></o><br />
<span id="more-59"></span></p>
<p>Maka saya pergi ke Stasiun Kalibata dengan bus sedang.</p>
<p>Sesampai di <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">sana</st1> saya melihat garis antrian dibedakan antara calon penumpang kereta ekonomi biasa dengan yang bererpendingin udara.<o></o></p>
<p>Saya mendekati jendela loket di antrian penjualan karcis kereta listrik berpendingin udara.<o></o></p>
<p>“Saya mau ke Depok,” kata saya kepada petugas loket. “Apa ada yang berhenti di Stasiun UI?”<o></o></p>
<p>Sang petugas sedang mengunyah makanan. Jadi, ia hanya bisa “berbicara” dengan kepala dan tangannya. Dia mengangguk, sedangkan telunjuknya mengarah ke lembar pengumuman keberangkatan yang tertempel di kaca. Pada lembar itu tertulis “Tujuan Bogor, pukul 11.38.” Saya menengok jam tangan digital saya. Sekarang pukul 11.15. Baiklah, masih ada waktu 23 menit.<o></o></p>
<p>“Ciri-ciri keretanya apa?” tanya saya, karena khawatir salah naik gerbong. Sebab ada rangkaian kereta cepat yang tidak berhenti di Stasiun UI.<o></o></p>
<p>“Nanti diberitahu lewat pengeras suara,” katanya. Kelihatannya ia sudah menelan seluruh makanannya.<o></o></p>
<p>Saya naik ke pelataran stasiun. <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Ada</st1> dua petugas berjaga-jaga di pintu masuk. Salah seorang meminta saya memperlihatkan karcis. Saya menunjukkannya. Dia mempersilakan saya lewat.<o></o></p>
<p>Sepertinya ada perubahan suasana di stasiun Kalibata. Biasanya – mungkin sampai dua-tiga pekan lalu — penjagaan pintu pelataran begitu longgar, sehinggga banyak orang yang mendapat tumpangan gratis.<o></o></p>
<p>Saya duduk di bangku besi panjang di pelataran. Sekitar sepuluh menit kemudian, kereta ekonomi non-AC masuk.<o></o></p>
<p>Penumpang berdesak-desakan. Tapi tidak ada yang naik ke atap. Situasinya amat berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya ketika banyak orang yang nekat duduk di atap gerbong. Akibatnya, banyak yang mati gosong lantaran terpanggang arus listrik tegangan tinggi. Atau terjatuh dengan darah yang berbekas pada anggota badan yang telah tercincang.<o></o></p>
<p>Pukul 11.37, petugas berseru dengan pengeras suara. “Perhatikan di jalur dua. Kereta ekonomi berpendingin udara tujuan <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Bogor</st1> akan masuk. Kereta akan berhenti di setiap stasiun.”<o></o></p>
<p>Saya takjub. Tepat pukul 11.38 Kereta saya benar-benar berhenti di hadapan saya. Luar biasa. Biasanya mereka tidak pernah menaati jadual. Ini kemajuan penting!<o></o></p>
<p>Pintu terbuka. Saya naik. Begitu saya masuk, pintu kembali tertutup.  Badan yang sedari tadi gerah, menjadi nyaman dengan hawa sejuk di dalam. Berbeda dengan kereta nirpendingin udara, gerbongnya leluasa. Tapi karena tempat duduk di gerbong tempat saya masuk terisi semua, saya menyusuri gerbong lainnya, mencari tempat duduk kosong. Saya lihat ada seorang petugas berjaga-jaga di setiap pintu penghubung antargerbong.<o></o></p>
<p>Ketika saya hendak melangkah ke gerbong berikut, seorang petugas meminta saya memperlihatkan karcis. Begitu juga ketika saya masuk ke gerbong berikutnya lagi, petugas yang lain menyakannya juga. Pengawasan ketat.<o></o></p>
<p>Akhirnya saya menemukannya juga di gerbong ketiga dari rangkaian terbelakang. Pada saat saya duduk, saya melihat di dinding seberang ada tulisan kanji terpampang. Oh, ini kereta bekas buatan Jepang. Kalau dilihat dari modelnya, sepertinya keluaran tahun 1960-an. Mengapa tidak membeli produksi dalam negeri sendiri, ya? ‘<st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Kan</st1> ada PT INKA?<o></o></p>
<p>Kereta yang saya tumpangi berhenti di setiap stasiun. Dan setiap ada sekelompok penumpang yang masuk, para kondektur di gerbong masing-masing memeriksa mereka dengan ketat, memastikan bahwa mereka membeli karcis yang sesuai.<o></o></p>
<p>Akhirnya kereta berhenti di Stasiun UI. Saya melihat jam tangan. Pukul 11.53! Perjalanan hanya butuh 15 menit. Jika dengan bus, mungkin 40 menit sampai 1 jam karena banyak hambatan di jalan.<o></o></p>
<p>Saya turun dengan perasaan sesegar ketika saya naik tadi. Jadi terkenang betapa tersiksanya ketika menggunakan trayek yang sama sepuluh tahun silam. Sesak, pengap, bau, kotor, <em>ngaret</em>, copet….<o></o></p>
<p>Tapi itu dulu, karena Rupanya Divisi Perusahaan Umum Kereta Api yang mengelola rute Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi bersunguh-sungguh ingin mengubah wajah mereka. Tahniah!<o></o></p>
<p><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2008/02/07/banjir-menggenang-sampai-thamrin/"> Banjir Menggenang Sampai Thamrin</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/07/01/memilih-gubernur-jakarta-bang-uki-istikarah/"> Memilih Gubernur Jakarta, Bang Uki Istikrarah</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=59&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/eHykgQ-NkjI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/03/01/krl-jabodetabek-layak-dipuji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/03/01/krl-jabodetabek-layak-dipuji/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Strategi Cerdik Infiltrasi Perbatasan Ala Malaysia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/semestanet/BLxi/~3/hvVigV2KgJ0/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/02/14/strategi-cerdik-infiltrasi-perbatasan-ala-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 11:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/02/14/strategi-cerdik-infiltrasi-perbatasan-ala-malaysia/</guid>
		<description><![CDATA[Malaysia rupanya belajar dari pengalaman masa lalu. Pada masa konfrontasi relawan Indonesia menyusup ke kota-kota Malaysia di perbatasan dan melakukan serangan. Kini Malaysia menugaskan warga Indonesia mengawal perbatasan negara mereka. Bahkan, ironisnya, warga Indonesia juga diminta menggeser tapal batas masuk ke wilayah sendiri. Sudah dua brigade (sekitar dua puluh ribu) pemuda Indonesia direkrut menjadi anggota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malaysia rupanya belajar dari pengalaman masa lalu. Pada masa konfrontasi relawan Indonesia menyusup ke kota-kota Malaysia di perbatasan dan melakukan serangan. Kini Malaysia menugaskan warga Indonesia mengawal perbatasan negara mereka. Bahkan, ironisnya, warga Indonesia juga diminta menggeser tapal batas masuk ke wilayah sendiri.<br />
<span id="more-56"></span></p>
<p>Sudah dua brigade (sekitar dua puluh ribu) pemuda Indonesia direkrut menjadi anggota Askar Wataniah untuk menjaga perbatasan di Kalimantan. Padahal, sejauh ini, TNI hanya menempatkan 680 personel untuk menjaga perbatasan sepanjang 204 km itu.</p>
<p>Pemerintah Malaysia menjanjikan gaji, bonus, dan asuransi kepada anggota Askar Wataniah layaknya prajurit Tentara Diraja Malaysia. Sebagai perbandingan, jika setiap prajurit TNI setingkat Tamtama digaji Rp1,4 juta sampai Rp1,7 juta per bulan, anggota Askar Wataniah dibayar Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan.</p>
<p>Namun, tidak hanya itu, anggota Askar juga diaku sebagai warga negara Malaysia. Tentu saja, dalam situasi ini, berlakulah hukum ekonomi penawaran dan permintaan yang menafikan nasionalisme.</p>
<p>Portal Kementrian Pertahanan Malaysia menyebutkan <a href="http://www.mod.gov.my/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=347">Askar Wataniah </a> adalah tentara simpanan (cadangan) Tentara Darat Malaysia. Mereka adalah lapis kedua pertahanan negara dalam konsep Hanruh (Pertahanan Menyeluruh) Malaysia. Dengan mengenakan seragam prajurit, mereka dilatih teknik bela diri, baris-berbaris dengan memanggul senjata, serta kemampuan militer. Keberadaan mereka mirip Kesatuan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) TNI, atau Garda Nasional Amerika Serikat.</p>
<p>Sebenarnya perekrutan ditujukan kepada warga  berusia 18 sampai 30 tahun yang memiliki KTP Malaysia. Hanya saja, warga Indonesia di perbatasan ber-KTP ganda. Dan lantaran miskin, para pemuda di perbatasan terdorong bergabung dengan Askar Wataniah. Mereka melintasi perbatasan dan ikut pelatihan. Setelah itu, mereka diterima sebagai anggota Askar. Mereka bahkan kerap diperintahkan menggeser patok perbatasan menjorok ke wilayah Indonesia.</p>
<p>Bayangkan saja, seandainya terjadi konflik fisik di perbatasan, yang bakal dihadapi TNI adalah warga Indonesia sendiri.</p>
<p>Akan tetapi, di samping persoalan kemiskinan, memang perbatasan Kalimantan Barat adalah wilayah ekonomi. Selain kayu gelondong, lahan di daerah ini berpotensi menghasilkan minyak kelapa sawit (<em>crude palm oil</em>) dalam jumlah besar. Harga CPO saat ini melambung lantaran dicari dunia. Sebab, CPO adalah energi alternatif bahan bakar fosil.</p>
<p>Tidak heran bila terjadi kasus patok bergeser, dan<a href="http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.13.20432948&amp;channel=1&amp;mn=2&amp;idx=5"> hutan Indonesia pun dieksploitasi oleh  Malaysia</a>. Saat ini wilayah perbatasan Indonesia yang tadinya hijau, sebagai contoh, menggersang lantaran dibalak secara liar oleh perusahaan kayu Malaysia. Menjadi semakin ironis bila pelakunya adalah warga Indonesia yang tunduk kepada oleh aparat Malaysia.</p>
<p>Jadi, boleh dibilang, perekrutan anggota Askar Wataniah dari kalangan warga Indonesia adalah usaha cerdik menyusupkan mata-mata, atau kaki ke dalam wilayah Indonesia. Itu juga strategi <em>kalem</em> tapi efektif untuk meningkatkan kekuatan dan kesiapan negara jiran itu di perbatasan mengantisipasi lawan. Tanpa ribut-ribut, tanpa konflik bersenjata, <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/kalimantan/2007/07/22/brk,20070722-104132,id.html">Malaysia telah mengambil sebagian wilayah Indonesia</a>.</p>
<p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2329/2264403785_475450906d_o.jpg" alt="askar wataniah" align="right" height="200" width="276" /><br />
Persoalannya, untuk kawasan perbatasan Indonesia kehabisan napas. Dibutuhkan anggaran buat beberapa departemen sekaligus seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Pertahanan, Markas Besar TNI, Polisi Republik Indonesia, dan Kejaksaan. Tanpa kekuatan negara yang sanggup menekan, Indonesia takkan mampu mencegah pengaruh Malaysia di perbatasan yang semakin kuat.</p>
<p>Anggota parlemen Happy Bone Zulkarnaen memperlihatkan kepada media massa jepretan foto-foto proses perekrutan dan pelatihan tempur dengan seragam militer. Namun, pemerintah tetap harus melaksanakan penyelidikan menyeluruh buat memastikan apakah para askar dalam foto itu benar-benar warga Indonesia. Jika terbukti, sikap resmi harus diambil: nota protes yang keras harus dinyatakan, lantaran Malaysia telah memanfaatkan warga Indonesia buat tujuan militer secara semena-mena.</p>
<p>Kasus ini adalah klimaks persoalan perbatasan yang terbengkalai. Kesejahteraan rakyat harus diangkat sejalan dengan peningkatan kekuatan pertahanan di kawasan ujung tombak negara ini. Oleh sebab itu, sudah saatnya, pertumbuhan ekonomi perbatasan dipercepat buat mengangkat taraf hidup mereka, sehingga tidak tergoda jebakan inflitrasi asing.</p>
<p>Yang perlu diatasi adalah benturan-benturan birokratis, terutama perdebatan antara batasan kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah. Untuk mengatasi itu, presiden sebaiknya mengeluarkan kebijakan khusus yang dilegitimasi parlemen melalui undang-undang.</p>
<p>Sikap tegas harus diambil segera, karena Indonesia selama ini sudah cukup lunak terhadap Malaysia. Prasangka baik kepada negara jiran perlu, tapi harus diiringi dengan sikap waspada. Jika tidak, setapak demi setapak asing melangkah, tahu-tahu hilanglah kedaulatan kita.</p>
<p><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-13-indonesia-sebenar-benar-asia-yang-multikultur-yang-demokratis/">Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-23-indonesia-negara-bebas-malaysia-negara-yang-mengekang/">Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-33-indonesia-menuju-perbaikan-malaysia-kerusakan/">Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan</a></p>
<p><iframe src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=semesdalamkat-20&amp;o=1&amp;p=13&amp;l=st1&amp;mode=books&amp;search=sukarno&amp;fc1=000000&amp;lt1=&amp;lc1=3366FF&amp;bg1=FFFFFF&amp;f=ifr" marginwidth="0" marginheight="0" border="0" style="border: medium none " frameborder="0" height="60" scrolling="no" width="468"></iframe></p>
<table bgcolor="#ffffff" border="0" cellpadding="2" cellspacing="0" width="200">
<tr class="affStatsHead">
</tr>
</table>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=56&type=feed" alt="" /><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/semestanet/BLxi/~4/hvVigV2KgJ0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/02/14/strategi-cerdik-infiltrasi-perbatasan-ala-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.semestanet.com/2008/02/14/strategi-cerdik-infiltrasi-perbatasan-ala-malaysia/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

