<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>EXTREME SWEET IDEA LIBRARY</title><description>abstract literatur nationale</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Andy Art)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 15:57:01 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">94</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>abstract literatur nationale</itunes:subtitle><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Literature"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>METAMORFOSA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/metamorfosa.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Fri, 8 Feb 2013 16:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-6231904437297166463</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..sajakku sajak tak sehat, tertuang dari jiwa yang buta. sajakku sajak dusta, lahir dari tradisi yang sarat dengan kebohongan. sajakku mengalir dari sungai yang dilimbahi kebodohan. sajakku tumbuh dari lembah yang dirimbuni daun-daun kemunafikan. sajakku adalah kotoran yang mengungkap bau busuk dari sampah-sampah emosi dan logika yang teronggok di sudut kenyataan. sajakku sajak tolol, sajak hipokrit. apalah arti terang jika tak sanggup menangkap isi kegelapan dan menjabarkannya untuk cahaya? lebih baik terpenjara dalam gunjingan pekat, mengeja bintang meski terbata. karena terang untuk terang hanyalah kekosongan. karena terang yang berbangga terang tak lain kebutaan. beruntunglah laron yang terperosok lubang kegelapan dan meraba wangi dari busuknya setiap dosa demi menapaki setangkai pendar kepastian. itulah hakekat pembelajaran, itulah perjuangan: evolusi untuk revolusi. kesalahan adalah awal dari kebenaran, dan tak ada kesalahan pada diri manusia selain mengulang kesalahan. telanjang, dan berkacalah! kita adalah jawaban untuk kehinaan diri kita sendiri. kita telah lupa, roti dan anggur yang kita nikmati sesungguhnya telah menuntun kita pada lelapnya kemabukan yang meninabobokan kita dengan rayuan mimpi dan dongeng-dongeng celaka. begitu juga dengan kain dan parfum yang kita pakai, corak dan aromanya telah menyihir kita menjadi budak-budak pemuja berhala kesombongan. kita telah binasa oleh peluru dan racun-racun yang kita buat sebagai paham dan senjata-senjata yang disebut hukum. kita tersesat dalam wacana dan retorika.." &amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KARANGAN BUNGA UNTUK YANG DISEBUT SI BANGSAT KORUP</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/karangan-bunga-untuk-yang-disebut-si.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Fri, 8 Feb 2013 16:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-6641193396517677435</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..untuk yang disebut si bangsat korup: aku kalungkan kata-kata hinaku ini di lehermu sebagai bunga penghormatan dariku. mungkin tak berharga bagi penyeleweng sepertimu, jika dibanding dengan tebalnya rupiah yang kau telan. aku katakan padamu: dirimu tak ubahnya seekor babi ngepet. apa yang kau banggakan dari kekayaan, jabatan, pangkat dan kedudukanmu jika cuma menjadi alat untuk memuaskan hasrat serta gairahmu sendiri? bukankah amanat yang menjadi hakekat dari setiap ucap dan lakumu adalah tanah untuk menancapkan arti kejujuran sesungguhnya? telah kau dustai dirimu sendiri dan kau pantas disebut pengkhianat yang tak memiliki sedikitpun martabat kewibawaan, si miskin celaka yang diperbudak oleh lapar dan rasa haus yang tak kunjung berujung. lebih beruntung dan mulia seorang pengemis yang menyuap sekepal nasi untuk menyambung hidup, meski harus kembali menadah tangan. kaulah kotoran yang membangun aib di negeri ini, kebusukan yang menciptakan kebusukan, biang dari segala maling yang telah menciptakan maling, kebodohan yang telah menanam kebodohan, keserakahan yang telah menumbuhkan kesengsaraan, sudah sepatutnya peluru hukum bersarang di otakmu.." &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENGAYUN SUNYI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/mengayun-sunyi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 7 Feb 2013 15:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-8048570159932769047</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
“..sunyi, masihkah tersisa di ruang tidurku kisah tentang kupu-kupu yang
  menari antara harum bunga-bunga dan rerumputan saat kubuka jendela 
pagi  usai kulacuri mimpi malamku sementara iblis telah menaruh matahari
 di  atap rumahku? kurindu bulir embun meresap segar di mataku yang 
kabur  bersama pekat dan kentalnya lumpur. di kota ini aku mendengkur 
dalam  pengabnya jeruji keinginan dan rantai-rantai harapan yang 
berpaling di  setiap arti. kujumpai tinggallah reklame-reklame raksasa 
kesenjangan dan  bermacam pamflet kejahatan yang bergelak 
menjulur-julurkan lidah meniup  terompet kemenangan di atas bangkai 
harga diri yang di lelang untuk  cacing, lalat-lalat, belatung dan 
burung nazar. kota ini surga bagi  sampah-sampah dusta dan pembodohan, 
kejujuran menyerupai seonggok fosil  manusia purba yang dipajang di 
etalase museum. dan sejarah yang kubaca  hanyalah cangkir dan 
piring-piring kotor yang berantakan di meja bekas  perjamuan kemarin 
yang tak sempat dicuci dan dirapikan. akankah esok  hari kemerdekaan itu
 meniupkan hakekatnya di ufuk kelahiranku dan  memberikan hak-haknya 
pada tuntutan setiap kewajiban sebagai ketentuan  hidup yang lapang? 
telah kupuja cinta yang dijajakan sang bebal di  biolik kemiskinan 
dengan rasa pahit yang menyumbat kerongkonganku dan  bencana yang 
menistai segala doa di tikar persujudan. haruskah  pengkhianatan itu 
terus menjadi berhala dan menanamkan kaidah-kaidahnya  untuk membangun 
kuil masa depan? lalu, apa yang disebut kebenaran jika  kerusakan yang 
dicipta? sunyi, ceritakanlah arti hidup yang luhur pada  
serigala-serigala yang memakai jubah gembala tentang makhluk yang 
diwarisi  kodrat kesempurnaan, jangan kau diam!..” &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>FRAGMEN SEGALA BANGSA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/fragmen-segala-bangsa.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 7 Feb 2013 14:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-565515716503240570</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..ia yang berhak atas tanah segala bangsa adalah raksasa yang lemah, tuan berbaju kacung yang harus patuh pada budak berjubah raja. tak lebih dari seekor gajah yang digembalakan kawanan singa, tak lebih dari seekor marmut yang dikerubuti peluru kaum pemburu, tak lebih dari seorang perempuan yang terhina di rumah pelacuran, tak lebih dari piala bergilir yang direbutkan para atlit. ia yang berhak atas tanah segala bangsa adalah perjuadian masa depan, nasibnya tergantung dari lemparan dadu. ditunggangi obsesi sang ambisi yang menari dalam pagar kemerdekaan. pembangunan yang tak dilandasi kesempurnaan akhlak tak lain tambang kematian, pendulang tulang-tulang kesengsaraan. inilah bencana, revolusi picik segelintir manusia untuk pemakaman manusia. martabat kemanusiaannya hanyalah kekosongan, harga dirinya dibungkus plastik-plastik materialis dan hedonis.."&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>INVALID RHAPSODY</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/invalid-rhapsody.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 7 Feb 2013 14:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-953881931723592974</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
kau petik harpa malaikat, tiup terompet firdaus, romantis nyanyikan syair bidadari, dalam sumur tawas berlumpur cemas. tawar pesta kau sorakkan, kerek ornamen-ornamen idiom kubah baru, sembunyikan kerak hitam dari ceruk-ceruk klise gerobak bututku. nasi kremi, roti tempik bersosis penis, sup nanah berkuah lidah, anggur darah, sopan kau hidangkan. sementara lonceng tawa gemeretak bergelak, sedap semprotkan semerbak parfum kesenangan, pucat lusuhku tak jemu kecut meringkuk, sekedar menjadi taplak perjamuan. buruk rupaku memburuk, terus terpuruk, dipupur telur busuk berkunang jelaga. apalah makna kemenangan jika berkalang tulang-tulang kesengsaraan? apalah makna kemewahan jika rentangkan kesenjangan? apalah makna pembangunan jika brtumbal airmata? apalah makna kemerdekaan jika tertuang derita? tak ada moral kemanusiaan, tak ada sosial keadilan. kenyataan bagi kurcaci adalah kematian, sebelum kematian. seekor kerbau terdengar melenguh antara tumpukan jerami kering, mengejek gagal panen: oi, sublimasi!&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PARODI JERUJI BESI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/parodi-jeruji-besi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 7 Feb 2013 14:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-1907449846566078781</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Saat memasuki penjara, seorang pencuri menyentil telinga sipir, "Aku bebas, tuan." Sang sipir mengerut kening, geleng kepala. Dan ketika masa kurungannya telah habis, ia kembali menyentil telinga sipir, "Aku terbelewnggu, tuan." Sang sipir tetap mengerut kening, geleng kepala. Menyimpan sebaris tanya: bla...bla...bla...&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUMIKU (catatan 2013)</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2013/02/bumiku-catatan-2013.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Wed, 6 Feb 2013 21:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-5654745666207172426</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..Bumiku, adalah putaran tragedi yang tak bosan memuat amarah dan kelicikan. Barat dan timur terbunuh dalam luapan sampah kesombongan yang menebar bau busuk dan mengurai arti kemiskinan sesungguhnya. adegan yang dipertontonkan setiap waktunya hanyalah parodi kepura-puraan dan anekdot-anekdot yang menjadi objek dari skenario segala kegilaan yang menetaskan bencana. Wajah-wajah durhaka yang didandani gaun dan jubah kehormatan itu menyerupai wabah menakutkan yang sembunyi di balik hukum dan undang-undang dengan pupur dan jilatan parfum. Mereka adalah pintalan kata-kata yang menabur benih untuk setiap kerusakan dan kehancuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Bumiku, adalah pikatan mata yang buta dan kasidah para jahil yang rajin membangun surga kebohongan di setiap rumah dan sumpalkan kebodohan dengan berbagai sajian memabukkan yang menuntun pada gelap, mimpi-mimpi murung dan kekosongan. Mereka merayap di permukaan air dan tanah kotor dengan mulut menganga dan menjulur-julurkan lidah seperti kawanan serigala dan ular-ular berbisa yang siap berebut menelan mangsa-mangsanya untuk perut yang tak pernah kenyang. Mereka adalah kaum-kaum serakah dan bangsa-bangsa hipokrit yang bersekutu untuk kehajahatan, mereka menggali kuburannya sendiri sebagai kota-kota dan memahat berhala-berhala kekuasaannya dari emas untuk pusara keadilannya yang hina.."&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>JEMBATAN BUMI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/jembatan-bumi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-3099558259515689960</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;meta content='jembatan bumi' name='description'/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;meta content='jembatan, bumi, sejenak, asap, mengepul, lilin, tiup, hilang, angin, aku, sekejap, kisah, belulang, teronggok, sepi, tertulis, dinding, waktu, bersandar, arti, kebisuan, tangis, derai, tawa, senyum, berlumur, air mata' name='keywords'/&gt;&lt;br /&gt;
"..sejenak, asap itu mengepul saat lilin kutiup, lalu hilang disapu angin. seperti itulah aku, sekejap mengurai kisah, tinggal belulang teronggok sepi. segalanya tertulis di dinding waktu, bersandar pada arti kebisuan, tentang tangis yang bertabur derai tawa dan senyum yang berlumur air mata.."&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>DARI BAJU DAN CELANA KOTOR</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/dari-baju-dan-celana-kotor.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 13 Nov 2011 23:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-5610423108864784401</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;meta content='dari baju dan celana kotor' name='description'/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;meta content='baju, celana, kotor, cuci, rapi, berserak, bergantungan, buah, gagal, busuk, kebun, musim, rumah, mimpi, ludah, anjing, penista, doa, arti, pengharapan, kosong, cinta, dibunuh, mulut, pembual, manis, permen, pengkhianatan, kabut, bayang-bayang, murung, sinis, pojok, dingin, galau, sejarah, tertidur, debu, buku, mengigau, ruang, pikir, sempit, arti, damai, kebebasan, kasih sayang, kebersamaan, surga, kebahagiaan, pantulan, diksi, pencapaian, abstraksi, membutakan, bunga, kematian, aspal, kemanusiaan, kerikil, jerami, kering, pengetahuan, picik, ziarah, kayu, bakar, perapian, gelak, canda, menyulang, perih, rasa, sakit, meja, makan, balada, kaum, sekarat, jalanan, biolik, bumi, anggur, kenikmatan, racun, derma, tangan, berkah, wajah, menakutkan, kebodohan, tembok, bencana, hikayat, dongeng, darah, air mata, dendam, kebencian, umat, durhaka, tengkorak, hewan, pemangsa, menzinahi, bisu, keadilan, penipu, tolol, kekalahan, ambisi, kekuasaan, tertindas, kekalahan, kain kafan, selimut, embun, kamar, kopi, rokok, munajat, muak, kebosanan, puisi, sampah, kemiskinan, busuk, penyakit, hidup, liang lahat, perubahan, zaman, manusia, rantai, kenyataan, jeruji, masa depan, ranjang, batu nisan, alam, firasat, kebaikan, rahang, raksasa, anak-anak, mamalia, keserakahan, taring, cakar, pintu, waktu, telanjang, matahari, rasa malu, kemabukan, gairah, penderitaan, dusta, kecut, ilustrasi, kesenangan, roti, daging, bangkai, kotoran' name='keywords'/&gt;&lt;br /&gt;
"..baju-baju dan celana kotor, tak sempat kucuci dan kurapikan. berserak, bergantungan seperti buah-buah gagal yang busuk di kebun, karena musim enggan memihak. di rumah ini, mimpi-mimpi yang dulu kupuja kini menentangku, meludahi dan mencibirku dengan gonggongan anjing-anjing penista yang menutur doa-doa dalam arti pengharapan yang kosong, seperti cinta yang dibunuh mulut-mulut pembual dengan manisnya permen pengkhianatan. tersisa hanyalah onggokan kabut dan bayang-bayang murung yang sinis menyungging di pojok-pojok dingin dan kegalauanku. sejarahmu yang tak kupahami tertidur bersama debu, mengotori buku-buku dan mengigau di ruang pikirku yang sempit. apalah arti damai, kebebasan, kasih sayang dan kebersamaan itu jika surga kebahagiaan hanya pantulan diksi dari pencapaian sebuah abstraksi membutakan yang menabur bunga-bunga kematian sepanjang aspal kemanusiaan dan menjadi kerikil-kerikil pengetahuan yang picik dalam ziarahmu? telah kau buat keranjang mainan dari tumpukan jerami kering dan kayu-kayu yang kau bakar di perapianmu untuk persinggahan gelak candamu yang menyulang setiap perih dan rasa sakit di meja makanmu. lalu, balada apa lagi yang akan kau sampaikan untuk kaum-kaum yang sekarat di jalanan dan biolik-biolik bumi, sementara anggur kenikmatan telah berganti racun dan derma tangan-tangan sang berkah kini telah menyingkapkan wajahnya yang menakutkan dan menyandarkan kebodohan itu di tembok-tembok bencana? di sini, telah kubaca hikayat dan dongeng-dongeng tentang darah, tentang air mata, tentang dendam dan kebencian, tentang umat yang durhaka, tentang tengkorak-tengkorak, tentang ambisi dan kekuasaan, tentang yang tertindas, tentang hewan-hewan pemangsa yang sopan menzinahi bisunya keadilan, tentang penipu, tentang tololku dan segala kekalahanku. kain kafan yang kau kirim, sekarang menjadi selimut penghangat malamku dan penutup jendelaku dari buruknya kegelapan. esok akan kulipat saat embun mengetuk kamarku dengan secangkir kopi dan sebatang rokok sebagai munajat pelepas muak dan kebosananku. untukmu kutulis puisi ini, saat kata-kata menjadi sampah kemiskinan yang menggusur bau busuk dan penyakit-penyakit yang mengantar hidup ke liang lahat. perubahan zaman telah mengutuk manusia dan memperbudaknya dengan rantai-rantai kenyataan yang menggantung jeruji masa depan di ranjang-ranjang dan batu nisan. alam bukan lagi firasat kebaikan, rahang raksasa-raksasa keserakahan telah menanam taring dan cakar-cakarnya di pintu-pintu waktu dan menyulap anak-anak sebagai mamalia yang telanjang di pusaran matahari tanpa mengenal rasa malu. telah kau kultuskan kemabukan gairah-gairahmu untuk menebus tulang-tulang penderitaan yang mendustaimu dengan kecutnya ilustrasi-ilustrasi kesenangan yang mengganti roti dan daging-daging berkahmu dengan bangkai dan kotoranmu sendiri.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>JAKARTA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/jakarta.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 13 Nov 2011 23:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-1149047075249245993</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..kubuka mata, batu-batu terjal menghampar. klakson dan knalpot kemacetan menegurku dari jendela, seperti distorsi musik kematian. jakarta, inilah sarapan kita. pagi yang tak ramah itu lantas mengejek malasku untuk berkemas, karena hidup adalah perburuan.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>RUH BUMI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/ruh-bumi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 6 Nov 2011 21:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-6594794130567913442</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..jika kebenaran hanya pantulan sebuah diksi dan alasan yang menjadi topeng dari setiap kejahatan, lalu hukum seperti apa yang harus dibangun untuk menata arti kemuliaan dan kesempurnaan kodrat hidup itu sendiri? bukankah hakekat manusia adalah nurani, akal pikiran, ucap dan perbuatan yang menjadi media atau kendaraan untuk menuju satu pencapaian hidup sebagai manusia utama yang menghidupkan Tuhan dalam konsep kehidupannya tanpa harus menuhankan hidup? bacalah! karena kebodohan bukan yang berakal. tidakkah kau saksikan planet dan musim-musim yang membungkuk sopan pada rotasi ketetapan yang adil? dan apakah alam yang menganugerahimu dengan segala berkah kebaikan telah meminta bayaranmu untuk setiap limpahan nikmat yang kau tegak? ooo durhakaku! kenapa lantas kau nistai dirimu dengan berbuat dzalim, saling membunuh dan mencipta kerusakan-kerusakan? berkacalah! tidak ada yang patut dibanggakan karena tubuh ini hanyalah daging dan tulang pembawa kotoran yang menuliskan kehancurannya di tenggorokan waktu. wahai ruh bumi yang menjelajah pintu-pintu pagi dan kemurungan senja! wahai sang jujur yang menempuh kegelapan malam untuk terbitnya cahaya! sejak awal telah kau sematkan ketaatanmu atas hukum-hukum yang tidak tertulis di lingkaran fitrahmu sebagai ketentuan untuk pengkajianku. tapi aku tidak kunjung mengerti, roti dan anggur-anggur yang tersaji di lembah persujudanku hanya menjadi aroma busuk dan rasa pahit yang membatu dalam sesaknya gudang-gudang gairah dan lelap kemabukanku, sementara lapar dan hausku telah menyeretku pada jamuan kedustaanku sendiri. telah kupalingkan wajahku pada berhala kesombongan yang kusembah dan kusucikan untuk kematianku. di sini, salam dan munajatku terpanjat untuk setan-setan bencana dan kekacauan yang rajin dzikirkan surga keadilan di bilik dosa-dosa. wahai ruh bumi! pantaskah makhluk kerdil yang tidak tahu diri seperti aku berbangga akan kehinaannya dan menepuk dada di depan kubur yang siap memangsaku?.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>UNTUK ANAK MANUSIA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/untuk-anak-manusia.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 6 Nov 2011 20:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-7784186071986686034</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..hiduplah sebagai manusia semestinya, dan matilah selayaknya sebagai manusia. karena hidup berbudi pekerti hakekatnya adalah nurani, akal pikiran, ucap dan perbuatan yang digunakan sesuai kodratnya.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KOTA SEPOTONG KAYU</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/11/kota-sepotong-kayu.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 6 Nov 2011 20:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-499859291791640515</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..ada kota yang terapung di atas lumpur, menyerupai sepotong kayu di perapian. kekuasaan yang miring membangun temboknya dengan sampah-sampah, limbah, dan kotoran yang diperas dari tulang-tulang kemiskinan. batu nisan menjadi tugu kehormatan yang membuka gerbang dan portal-portal kematian bagi kerumunan mimpi-mimpi murung yang memburu arti pengharapan pada berhala-berhala penjaja cinta yang pamerkan kesombongan di etalase dan pintu-pintu kebodohan. di emper dan pasar loak orang-orang tua menjual tengkorak anak-anaknya yang dibungkus secarik kain kemerdekaan untuk membeli harga diri dari iblis kebohongan yang mengirim anggur dan kain kafan sebagai penghangat tidur kosongnya. penyihir-penyihir licik meninabobokan bayi-bayi dengan permentasi racun-racun keadilan yang dikutuk hukum munafik dan menyulapnya menjadi tuyul-tuyul penghamba rupiah yang diperbudak hedonis dan kemanjaan.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>JENDELA ESOK HARI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/jendela-esok-hari.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 30 Oct 2011 23:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-2624201439441825280</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..berangkatlah cemasku, karena musik telah dimainkan bersama suara-suara kegelapan yang mengganggu mimpi-mimpimu dengan manisnya racun-racun dusta dan opium kemesraan yang menelantarkanmu di sumur air mata dan kehinaan. berangkatlah! simfoni memanggilmu untuk menari, simpan murungmu di bantal dan selimut tidurku sebagai kuntum pengharum sepiku. jangan kau hiraukan tubuhku yang surut di jurang kehancuran, karena tragedi ini adalah pintu kesempurnaan yang membuka jalan laut dan gunung-gunung untuk menggapai Sang Abadi dan menjadi awal dan akhir berita bagi manusia. cemasku, tengoklah! pohon tidak pernah meratapi daun-daunnya yang tanggal saat kemarau menyinggahiya, begitupun dengan lebah dan kupu-kupu yang kehilangan madu saat musim gugur merontokkan bunga-bunga. tapi, akankah kau berpikir dan menyadari bahwa hakekat keindahan itu tidak akan mengetuk jendelamu jika penciptaanmu berpaling dari ketentuan kodrat dan hukum hidup atau kau cuma menjadi pengkhayal yang meringkuk di pojok kamarmu dan mencibir pahitnya kepengecutanmu sendiri? berangkatlah! pandang sejenak ketololanku dan lupakan, arti telah menantimu di ujung malam dengan embun-embun dan udara sejuk yang akan memanjakan rasa lapar dan hausmu di meja perjamuan dalam diksi perubahan.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DI PINGGIR ABSTRAKSI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/di-pinggir-abstraksi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 27 Oct 2011 21:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-4253464821046531186</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..sekejap gonggong sang anjing mengetuk kupingku lalu mati dikungkung sepi, seperti puisi yang kau bisikkan sore tadi sebagai parfum yang lulurkan aroma surga untuk murung dan setiap letihku.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SENJA DI PEMBUANGAN SAMPAH</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/senja-di-pembuangan-sampah.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Wed, 26 Oct 2011 22:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-5311728144194483568</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
wajah langit rekah memerah, ikrarkan senja yang resah. ranum bagai sepotong daging susila bertuna, menganga dalam drama perhelatan antara bangsal kebutuhan dan ranjang dosa. berbaur di sumur siksa: neraka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
desis angin ringkih menari mengais wangi bangkai, mengusik hening daun-daun kering yang muram berserak. asap kehitaman merangkak congkak, mengutuk pasrah lapuk setumpuk sampah. sementara lidah api beringas memberangus, julur-julurkan balada pembantaian: tak ubahnya lukisan karbala, pahatan holocaust, atau catatan samar lubang buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kamis menjelang peralihan. saat matahari renta sekarat di gerbang kelam, bumi yang kotor ngelojot lolongkan kabar dari seonggok peristiwa teracuhkan. di bawah rindang sebatang pohon rambutan, seekor kucing burik tak bertuan terkapar lelap berulat dininabobokan dengung lalat-lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
parodi mimpi mengerikan telah terdampar di tabung penghabisan. sisakan ampas waktu yang enggan bicara: Izroil pembunuhnya! tak terdengar tangis. tak terdengar ratap doa. tak terdengar nyanyian duka cita. kusaksikan hanya ricuhnya pesta binatang menjijikkan, nyalang nyeringai taburkan sekeranjang kembang kepuasan, sedap berkalang tulang kesenangan pada busuk kemenangan: memualkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lapar! lapar! sungguh tak pantas kau lepas bersarung sengsara. sebenarnya siapa yang salah atas prahara? Kaisar pemilik guci kehidupan? atau kerumunan boneka? cepat katakan! katakan dan tanyakan; di manakah hakekat kasih sayang yang bertengger agung di ubun-ubun kehidupan? atau bisikkan; kita adalah para pemangsa, semua hanya kiasan, hanya bualan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di pintu dapur, ludah ini kutitipkan sebagai kain kafan untuk setiap bajingan yang menyuling anggur dalam lumpur air mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DESKRIPSI MIMPI YANG MATI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/sinopsis-tanah-surga.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Tue, 25 Oct 2011 21:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-4526639303494478871</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..alasan apa lagi yang akan kau buat, o anjing munafik? bukankah kenyataan telah berkata jujur bahwa ia dipenuhi dusta dan kepura-puraan? lihatlah! bangsa ini seperti pelacur sakit yang telanjang di ranjang perzinahan dan tiada henti diludahi sperma para durjana. aku katakan: bangsa ini bukanlah piala bergilir yang menjadi rebutan dalam turnamen, bangsa ini adalah amanat yang harus dibangun dengan kejujuran, kebersamaan, dan kerendahan hati. karena bangsa ini diperjuangkan bukan untuk mengapresiasikan berhala kesombongan. celakalah, wahai yang tertidur di biolik persujudan! tidakkah kau berpikir tentang kumpulan bunga-bunga yang menghias kebun dan taman-taman dengan beragam warna dan harumnya? dan bisakah setiap perbedaan mencipta nuansa keindahan yang diikat oleh rasa persamaan dan persaudaraan tanpa harus adanya sikap egois dan apatis? tidakkah kau berpikir tentang sungai-sungai yang menyatukan gunung dengan lembah oleh airnya? dan bisakah kita berbangsa seperti semut yang membangun hidupnya dengan gotong royong dan kebersamaan? kucintai bangsa ini, karena di tanah inilah awal dan akhirku memahami ketololan. bangsaku bangsa yang subur dan kaya raya, bangsa yang tertinggal karena kemiskinan cinta. bangsaku bangsa yang tenggelam dalam sejarah kejayaan masa silam karena arti hidup dan tujuan berbangsa tidak lagi dipahaminya. bangsaku bangsa yang kabur dalam tirai kemerdekaannya karena hukum dan norma-norma telah menjadi ladang kuburnya.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KEN AROK</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/ken-arok.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Mon, 24 Oct 2011 22:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-3215659763697783551</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..Ingatlah, selama tujuh turunan, kelak anak cucumu akan saling memangsa dan menghamba pada sang binasa! Sesaat lelaki tua itu kelojotan, lalu beranjak tenang bersama waktu yang kecut menuntun kutuknya. Sementara Arok mengais sungging melototi keris curiannya yang dilumuri darah Gandring, pun ketika tonggak hasratnya memburu nikmat di liang peranakan Dedes yang direbutnya dari nyawa Ametung: tak sadar ambisinya akan kekuasaan hanyalah pintalan sebuah derita, dendam dan kesombongan belaka.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>INSTRUMEN DALAM SETIAP LUKA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/instrumen-dalam-setiap-luka.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Fri, 21 Oct 2011 21:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-4035719424327808975</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..kenalilah aku lewat bantal dan selimut yang setia menemani tidurmu, meski aku tak mampu memberimu mimpi-mimpi yang akan menuntunmu dari resah dan rasa sakit: karena aku adalah instrumen yang kau mainkan saat kau peras air mata, kenalilah aku dalam dirimu sebagai arti yang sabar mengetukmu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/instrumen-dalam-setiap-luka.html"&gt;dalam setiap luka..&lt;/a&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PARAGRAF TOLOL DARI YANG BINASA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/paragraf-ketololan-dari-yang-binasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Wed, 19 Oct 2011 22:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-1965225491946319396</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..di otakku: sembilan ratus sembilan puluh sembilan setan berjingkrak mainkan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;parodi&lt;/a&gt; cinta, menimang-nimang dan meninabobokan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;tolol&lt;/a&gt;ku dengan rayuan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;dongeng-dongeng&lt;/a&gt; surga yang memaksaku &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;telanjang&lt;/a&gt; di biolik fantasi dan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;kemabukan&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;mata&lt;/a&gt;ku hangus di perapian lelapku, pada asap dan nyala api kujabarkan arti kesetiaan yang berpaling dari setiap dzikir dan doa-doa. kuzinahi gairah mimpi-mimpi kosongku yang melenggak tebarkan aroma kemesraan dan kenikmatan di ranjang kehinaanku, aku binasa dalam pelukan raksasa &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;dusta&lt;/a&gt; dan kepura-puraan dimensi hidupku yang &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;bebal&lt;/a&gt;. telah kugali kuburanku &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;sendiri&lt;/a&gt;  dengan diksi-diksi kejahatanku, dan kubangun pusaraku dari kontruksi-kontruksi derita &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html"&gt;kesombongan&lt;/a&gt;ku yang anggun dihiasi ornamen &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;luka-luka&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html"&gt;kesedihan&lt;/a&gt;.."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ADALAH PUISI</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/adalah-puisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Mon, 17 Oct 2011 22:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-7641983383891628794</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..adalah puisi: simfoni tentang hati, pikiran dan kenyataan. kata-kata menjelma dari setiap tanya, dan beranjak merambah sesak rawa-rawa serta semak belukar yang pekat dirimbuni bengisnya gerigi-gerigi emosi, pertentangan dan alasan. seperti pengemis yang mencari secuil arti dari tadahan dan uluran tangan. akankah kodrat memberi dan menerima itu sanggup menanamkan benih-benih ketenangan serta kebahagiaan yang hakiki di gersangnya ladang prahara ini, dan menetaskan hari baru di jendela kamarmu usai kau terlelap di pangkuan mimpi-mimpi sang malam? dan akankah seorang penyair menuhankan kasidah-kasidahnya dan tegak di pintu senja menantang mautnya sendiri hingga pagi menutur salam dan menuliskan hakekat tentang embun, daun, harum bunga-bunga, burung dan matahari di bentangan sawah, lembah, gunung dan rumah-rumah? ataukah hanya menelan ludah, mengusap dada seraya mendandani kata-katanya dan menutup diri dari segala kekusutan parodi busuk dan memalukan ini? kusayangi hidup dengan alpa dan kepincangannya, karena itu telah menjadi bagian dari keberadaanku. dan aku percaya bahwa kehinaan itu adalah roda menuju kesempurnaan, andai kau memahaminya sebagai kajian. di sini, ada kekuasaan yang bimbang mengigau dalam bebalnya, kursi yang dikultuskannya menyerupai spanduk dan reklame-reklama kosong yang menjajakan kisah surga di bantaran miskin cinta. kota-kota dicipta dari buih air mata dan dihiasi ornamen-ornamen cantik yang mengantar gairah ke liang lahat. lalu, apa artinya tujuan hidup berbangsa jika kesombongan menjadi kendaraan tololnya dan dusta menjadi jalannya? bukankah manusia merdeka itu terikat oleh kebersamaan dan kehendak utamanya bukan kuasa? kukatakan padamu, ooo kaum yang malang! hidup yang durhaka adalah hidup yang dibangun dari dosa-dosa dan pengkhianatan. dan hidup yang celaka adalah hidup yang luput dari berkat dan keadilan.." &amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BHINNEKA TUNGGAL IKA DALAM DEMOKRASI INDONESIA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Thu, 13 Oct 2011 22:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-2874343254882277092</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Perbedaan suku, bahasa, agama, serta budaya, telah terbentuk menjadi satu kesatuan yang utuh (NKRI), yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Keragaman tersebut berdiri tegak dalam lingkaran persamaan, di bawah naungan satu bendera: bendera Merah Putih. Satu lagu kebangsaan: lagu Indonesia Raya. Satu bahasa: Bahasa Indonesia. Satu lambang negara, yakni seekor Garuda yang memiliki azas Pancasila, dan dipadu dengan seuntai kalimat bermakna agung "Bhinneka Tunggal Ika" sebagai mottonya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika merujuk pada esensi atau inti dari motto "Bhinneka Tunggal Ika" yang hakekatnya mengandung nilai-nilai nasionalisme, yaitu persatuan, kesatuan, serta kebersamaan untuk satu niat dan tujuan (visi dan misi), yang dijalin erat oleh rasa persaudaraan. Sudah tentu, keragaman yang terikat dalam Bhinneka Tunggal Ika adalah aset yang paling berharga bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita luhurnya, yakni menata dan membangun bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa bermartabat yang mampu berdiri sendiri: adil, makmur, damai, sentosa.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tapi, bagaimana mungkin, Garuda yang konotasi melambangkan eksistensi serta perjalanan bangsa Indonesia di era kemerdekaan, bisa mengepakkan sayap dan terbang mengangkasa, bila Pancasila hanya sebatas ruh yang pasif dalam jasadnya, dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi penggerak bagi ruh tersebut tidak dinamis, atau tidak bergerak efektif sesuai inti dari kandungan maknanya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam demokrasi Indonesia, yang menginduk pada Pancasila dan berorientasi pada Undang-Undang Dasar 1945, serta mengacu pada Musyawarah Mufakat, nuansa kebebasan yang sudah diatur dan dilindungi norma-norma atau etika kebangsaan, telah melahirkan kembali berbagai perbedaan yang kongkrit sebagai bentuk apresiasi dari kedemokrasian tersebut, seperti partai-partai politik, organisasi massa, serta lembaga swadaya masyarakat. Dan maraknya keberadaan kelompok, perkumpulan atau organisasi-organisasi, baik yang bergerak di bidang politik, sosial kemasyarakatan ataupun yang lainnya, menunjukan bukti bahwa demokrasi di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dan kemajuan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yang menjadi pertanyaan, apakah perbedaan itu masih berpegang teguh pada hakekat Bhinneka Tunggal Ika, dan menjadi keragaman yang harmonis atau selaras dalam demokrasi Indonesia? Apakah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi benang merah atau rangkuman dari norma-norma atau etika kebangsaan bangsa Indonesia, hanya tinggal semboyan yang maknanya tidak lagi dipahami sebagai wejangan atau petuah untuk motivasi bagi kehidupan bangsa Indonesia sekarang dan masa depan?&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Demokrasi Indonesia atau Demokrasi Pancasila yang berazas musyawarah mufakat, yang secara harfiah menyimpan makna dari nilai-nilai nasionalisme dalam Bhinneka Tunggal Ika, yaitu kebersamaan yang diikat oleh rasa persaudaraan, yang menjadi manifestasi dari kokohnya persatuan serta kesatuan untuk satu tujuan, dimana setiap keputusan adalah hasil kesepakatan yang intensif dari kebersamaan, yang disaring secara jujur dan adil, dan dikembalikan dengan jujur dan adil pula untuk kebersamaan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perbedaan kelompok, perbedaan pendapat dan pemikiran, yang disebut keragaman dalam demokrasi Indonesia, bisa menjadi penyakit mematikan yang merongrong bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhurnya, dan akan menjadi bumerang yang memalukan bagi paham serta kedemokrasiannya, jika perbedaan atau keragaman tersebut telah saling berbenturan dan tidak lagi memprioritaskan kepentingan serta tujuan bersama atas nama kebersamaan yang dilandasi oleh rasa persaudaraan, seperti yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sejarah panjang penderitaan bangsa Indonesia pun akan terus berlarut, dan Indonesia hanya akan menjadi bangsa yang didominasi konflik internal di atas kemerdekaanya, jika ruang demokrasi yang begitu luas memberi kebebasan untuk berekspresi dan beraspirasi, telah menumbuhkan sikap egois, individualis, apatis, serta sikap mementingkan kelompok atau golongan. Sikap-sikap tersebut adalah pembunuh kebenaran makna demokrasi, yang tegas menyatakan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat, dan rakyatlah yang memegang kendali dalam sistem pemerintahan, yang kedudukannya berbentuk amanat. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sikap-sikap yang jelas bertentangan dengan hakekat Bhinneka Tunggal Ika, hanya akan membawa demokrasi Indonesia ke jurang kebablasan, dimana kedemokrasiannya bukan lagi media atau alat untuk menegakkan nilai-nilai nasionalisme yang menjadi subjek dari satu niat dan tujuan (visi dan misi) yang utuh. tetapi, menjadi ajang perseteruan dan menjadi kendaraan untuk memperebutkan kursi kehormatan yang disebut kekuasaan. Dan Pancasila yang menjadi ruh bangsa Indonesia, yang seharusnya menjadi tolak ukur bagi pola pikir dan tindakan bangsa Indonesia untuk merealisasikan tujuan bersama dalam wadah demokrasi, hanya menjadi objek yang mandul dalam kedemokrasiannya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam hal ini, yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah kesadaran&amp;nbsp; dari setiap individunya untuk bisa mengevaluasi dan merevisi diri, serta berevolusi untuk sebuah perubahan besar di dalam diri individunya atau revolusi diri, yang disebut pembinaan moral atau akhlak. karena moral atau akhlak, merupakan kerangka utama dalam demokrasi Indonesia atau Demokrasi Pancasila yang disistematikan oleh Bhinneka Tunggal Ika untuk menerapkan kejujuran dan keadilan dalam kebersamaan, demi menata dan membangun peradaban bangsa Indonesia dalam demokrasi yang berjiwa amanat: amanat dari amanat, amanat oleh amanat, amanat untuk amanat, tanpa harus dikotori oleh kebohongan. Sebab kebohongan adalah bentuk pengkhianatan yang tumbuh dari kemiskinan moral atau akhlak, yang menjadi titik awal dari kebobrokan atau kehancuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SEBUTIR KERIKIL</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/sebutir-kerikil.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Tue, 11 Oct 2011 23:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-7234946182757151415</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;"..saat kau berdiri di perempatan jalan, dan tidak tahu arah yang akan kau tempuh. janganlah menjadi yang bimbang: pelajarilah ke empat jalan tersebut, kau pasti memahami arah mana yang harus ditempuh.." (Andy Ideot, art and philosofy)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KASIDAH YANG TERLUKA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/kasidah-yang-terluka.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Sun, 9 Oct 2011 22:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-5902336977993393647</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
"..&lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/paragraf-ketololan-dari-yang-binasa.html"&gt;kesedihan&lt;/a&gt;ku, ziarah kemabukanku, anggur serta mantel penghangat kebekuan dan rasa takutku. &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/paragraf-ketololan-dari-yang-binasa.html"&gt;kesedihan&lt;/a&gt;ku, sahabat juga kekasih yang menuturkan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/paragraf-ketololan-dari-yang-binasa.html"&gt;cinta&lt;/a&gt; dan kesetiaan dalam perih dan sakitnya luka-lukaku. kaulah tetasan madu dari setiap bulir air mata dan kepahitan yang menampar lelapku dengan borehan kuntum-kuntum nasehat dan menuntun igauku untuk memahami arti kemiskinan dan ke&lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/paragraf-ketololan-dari-yang-binasa.html"&gt;tolol&lt;/a&gt;anku sendiri. kaulah nyanyian tentang embun dan matahari yang menyungging di jendela pagiku saat malam membakar mimpi-mimpi kosongku dan mengutukku dengan dongeng-dongeng kekecewaan yang memaksaku untuk telanjang menertawai badut-badut kedustaanku. kesedihanku, belenggu dan jerujiku yang membuka hakekat kebebasan dari rabun mataku dan sempitnya ruang pikirku. darimu aku percaya, bahwa hidup adalah janji dan penjabaran yang harus dibayar dan ditentukan, meski itu menjadi sebuah rangkuman yang tersimpan dalam lipatan dilema dan kata tanya. kesedihanku, pedang dan tameng dari segala rapuhku. telah kau lebur bongkahan batu kesombonganku, seperti setitik cahaya yang memancar di angkasa pekat, berkilat tajam menusuk bebal hatiku dan sadarkan keberadaanku yang kerdil antara kerikil. bersamamu telah kugali kuburan-kuburan untuk jenazah-jenazah kebusukan yang dibangun dari ornamen kebencian-kebencianku. dan sekarang sisa keinginan itu merangkak dalam gelombang tanpa ragu ataupun takut: aku telah siap.."&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>REVISI KATA DALAM LAGU INDONESIA RAYA</title><link>http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/revisi-kata-dalam-lagu-indonesia-raya.html</link><author>noreply@blogger.com (Andy Art)</author><pubDate>Fri, 7 Oct 2011 23:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1854949944705777827.post-3233706533704296598</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Dari sudut bahasa, kalimat &lt;i&gt;di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;, yang menjadi bagian dari lagu kebangsaan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;, yakni lagu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; Raya: menerangkan eksistensi atau keberadaan tempat yang menjadi rumah dan sandaran &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; (NKRI) untuk membangun peradabannya. Sedang esensi atau intinya, mengandung makna kecintaan atau rasa patriotisme &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; terhadap tanah airnya (NKRI), yang direalisasikan atau diwujudkan dengan cara mengabdi atau berbakti, yang didasari oleh keikhlasan. dan bentuk pengabdian tersebut diapreasiasikan dalam berbagai bidang, baik di bidang seni dan budaya, olah raga, ilmu pengetahuan, pertanian, perdagangan ataupun yang lainnya, dengan tujuan untuk memajukan peradaban dan mengharumkan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt;nya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Baik dipandang dari sudut bahasa, ataupun esensi dari kalimat tersebut: kemurnian, keluhuran, ketegasan, serta kekuatan maknanya, bisa menjadi hambar atau tidak efektif, dan hanya menjadi sebuah manifestasi atau pernyataan yang samar, jika kata &lt;i&gt;di sanalah, &lt;/i&gt;yang menjadi kata penghubung untuk kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku,&lt;/i&gt; tidak disesuaikan atau ditempatkan pada tempat semestinya. Kata &lt;i&gt;di sanalah, &lt;/i&gt;merupakan subjek atau pokok kalimat yang berperan penting dalam penegasan makna atau penjelas dari keutuhan kalimat &lt;i&gt;aku berdiri, &lt;/i&gt;yang dihubungkan dengan kalimat&lt;i&gt; jadi pandu ibuku.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Bila dipahami secara cermat, keberadaan kata &lt;i&gt;di sanalah, &lt;/i&gt;pada kalimat &lt;i&gt;di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku, &lt;/i&gt;sebenarnya tidak bersifat statis, atau kata yang harus tetap dipakai sebagai penghubung untuk kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;. Tetapi, kata tersebut memiliki sifat dinamis atau berubah-ubah, tergantung di mana lagu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; Raya dinyanyikan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Merujuk pada kata &lt;i&gt;di sanalah&lt;/i&gt; yang bersifat dinamis atau berubah-ubah, penggunaan kata tersebut tentu tidak tepat&amp;nbsp; dipakai sebagai kata penghubung untuk kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;, jika lagu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; Raya dinyanyikan di wilayah atau teritorial &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; itu  sendiri (dalam negeri). Karena secara bahasa, kata disanalah hakekatnya adalah untuk menunjukkan tempat yang jauh. Kata &lt;i&gt;di sanalah&lt;/i&gt;, akan lebih tepat dihubungkan dengan kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;, bila lagu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; Raya dinyanyikan di luar wilayah &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; (luar negeri).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di wilayah &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; atau dalam negeri sendiri, kata penghubung untuk kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;, seharusnya menggunakan kata &lt;i&gt;di sinilah&lt;/i&gt; bukan &lt;i&gt;di sanalah&lt;/i&gt;, dan keutuhan kalimat tersebut menjadi &lt;i&gt;di sinilah aku berdiri jadi pandu ibuku&lt;/i&gt;. kedudukan kata &lt;i&gt;di sinilah&lt;/i&gt;, berfungsi sebagai penjelas, untuk menegaskan atau menguatkan bahwa tempat yang ditunjuk &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;  sebagai tanah air tempat berdiri untuk menata hidup serta kehidupan bersama dalam satu lingkup peradaban yang menjunjung nilai-nilai patriotisme serta nasionalisme demi kehormatan &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt;nya, tidak lain adalah tanah yang dipijaknya, yaitu Negara Kesatuan Republik &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;, yang eksistensi atau keberadaanya bukanlah sesuatu yang abstrak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tujuan dari penggunaan atau pemakaian kata yang tepat sebagai kata penghubung untuk kalimat &lt;i&gt;aku berdiri jadi pandu ibuku &lt;/i&gt;dalam lagu &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; Raya, yang harus disesuaikan atau ditempatkan pada tempat semestinya, yaitu antara kata &lt;i&gt;di sanalah&lt;/i&gt; dan kata &lt;i&gt;di sinilah&lt;/i&gt;, selain untuk menegaskan atau menguatkan makna dalam kalimat tersebut, baik dari sudut bahasa ataupun esensinya, juga untuk memupuk rasa patriotisme serta rasa nasionalisme &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt; &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; terhadap kelangsungan hidup &lt;a href="http://senidanpemikiran.blogspot.com/2011/10/bhinneka-tunggal-ika-dalam-demokrasi.html"&gt;bangsa&lt;/a&gt;nya, sekarang dan masa depan. seperti yang diucapkan Khahlil Gibran, bahwa kemajuan tidak hanya sekedar memperbaiki masa lalu, tetapi bergerak untuk masa depan.&lt;br /&gt;
Andy Ideot (EXTREME SWEET IDEA LIBRARY..http://senidanpemikiran.blogspot.com)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;senidanpemikiran.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item></channel></rss>