<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>|</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 8 Nov 2024 07:36:56 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>ichin</itunes:email></itunes:owner><item><title>ILMU LADUNI, ANTARA HAKIKAT DAN KHURAFAT</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2013/01/ilmu-laduni-antara-hakikat-dan-khurafat.html</link><category>FIQH</category><category>HAKIKAT</category><category>ILMU</category><category>SANTRI</category><category>SYARIAH</category><category>ULAMA</category><pubDate>Mon, 7 Jan 2013 04:06:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-2074846743407602355</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s1600/ahli-kitab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s320/ahli-kitab.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Manusia dilahirkan 
di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan 
kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan 
dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa 
Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan 
tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan 
hati, agar kamu bersyukur." (An-Nahl: 78) &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Pada hakikatnya, 
semua ilmu makhluk adalah "Ilmu Laduni" artinya ilmu yang berasal dari Allah 
Subhanahu wa Ta'ala. Para malaikat-Nya pun berkata: "Maha Suci Engkau, tidak ada 
yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." 
(Al-Baqarah: 32). Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua 
bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang 
didapat karena belajar (kasbiy). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama (didapat tanpa belajar) 
terbagi menjadi dua macam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Ilmu Syar'iat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaitu ilmu 
tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan 
Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri'), baik yang langsung dari Allah maupun 
yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima 
oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad 
shallallahu 'alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi 
Musa dari Nabi Khidlir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Khidhir: 
"Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami 
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits 
Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa 
alaihissalam: "Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang 
telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) 
berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak 
mengetahuinya juga." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu syari'at ini sifatnya mutlak kebenarannya, 
wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai 
datang ajal kematiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Ilmu Ma'rifat (hakikat) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaitu 
ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya 
tabir ghaib) atau ru'ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya 
yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan 
julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh 
diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari'at yang sudah termaktub di 
dalam mushaf Al-Qur'an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa 
berbentuk menentang, menambah atau mengurangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagian Kedua 
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua 
makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, 
mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga ilmu ini 
(syari'at, ma'rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari 
wahyu yaitu ilmu syari'at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak 
dianggap apabila menyalahi syari'at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di 
dalam Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align="left" class="chapter2"&gt;&lt;b&gt;Khurafat Shufi 
&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Istilah "ilmu laduni" secara khusus tadi telah 
terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi 
mengatakan bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ilmu laduni" atau kasyf adalah ilmu yang khusus 
diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih 
ahli hadits (sunnah), tidak bisa mendapatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ilmu laduni" atau ilmu 
hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari'at). Mereka mendasarkan hal itu 
kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa 
alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah 
ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: 
"Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia 
lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang 
yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan 
dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu syari'at (Al-Qur'an dan 
As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai 
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, 
tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan 
metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib 
diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul 
Kamil fi Ma'rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab 
Al-Futuhatul Makkiyyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan 
derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan 
kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hatiku memberitahu 
aku dari Tuhanku." Atau "Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, 
langsung tanpa perantara apapun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga akibatnya banyak hadits palsu 
menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. 
Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu 
dengan ahli kasyf (tasawwuf). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align="left" class="chapter2"&gt;&lt;b&gt;Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan di atas 
&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli 
tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah 
dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang 
sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan 
ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi 
kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk 
sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada 
dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, 
seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasalam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah 
mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui." (Al-Iraqy berkata: HR. Abu 
Nu'aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif). 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Yang benar menurut 
Ahlusunnah wal Jama'ah adalah Nabi Khidhir alaihissalam memiliki syari'at 
tersendiri sebagaimana Nabi Musa alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau 
Nabi Musa alaihissalam lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena 
Nabi Musa alaihissalam termasuk Ulul 'Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan 
hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan 
Muhammad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan 
yang nyata karena Nabi shallallahu 'alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu 
syari'at (ilmu wahyu), Al-Qur'an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama 
yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada 
orang selain Nabi shallallahu 'alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari 
Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan 
bahwa ilmu syari'at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan 
untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan 
kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari 
cahaya Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan bahwa dengan "ilmu laduni" sudah cukup adalah 
kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir 
Al-Jailani mengatakan: "Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh 
syari'at adalah zindiq (sesat)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah penyebab lain bagi kesesatan 
tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid'ahan dalam tasawwuf yang didasarkan 
kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi 
dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena mereka 
menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam menilai hadits, dua 
metode bid'ah yang menyesatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kebenaran kecuali apa yang 
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda: 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan 
belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu 
agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan 
difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini." (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, 
Al-Bazzar dan Abu Nu'aim, hadits hasan). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
&lt;b&gt;Abu Hamzah 
As-Sanuwi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji': &lt;br /&gt;- Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani 
(hal. 159, 143, 232). &lt;br /&gt;- Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 
311). &lt;br /&gt;- Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali (jilid 3/22-23) dan (jilid 1/71). &lt;br /&gt;- 
At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).&lt;br /&gt;- Fathul Bariy, 
Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167). &lt;br /&gt;- Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218). 
&lt;br /&gt;- Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76). &lt;br /&gt;- Al-Hawi, Suyuthiy 
(2/197).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s72-c/ahli-kitab.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>KRITERIA DITERIMANYA SUATU AMAL</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2013/01/kriteria-diterimanya-suatu-amal.html</link><category>IBADAH</category><category>MORAL</category><category>MUSLIM</category><category>RENUNGAN</category><category>SYARIAH</category><pubDate>Mon, 7 Jan 2013 04:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5228442050209902639</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Segala puji bagi 
Allah Rabb semesta alam, semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada 
nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dan semoga kita tidak termasuk 
golongan orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang 
orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia 
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka 
berbuat sebaik-baiknya". (Al-Kahfi: 103-104). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu perlu 
kita pahami dua syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-right: 5px;"&gt;
Ikhlas, ini merupakan syarat bathin. 
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-right: 5px;"&gt;
Mengikuti tuntunan Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam (ittiba'urrasul shallallahu 'alaihi wasallam ), ini 
merupakan syarat zhahir. &lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Kedua syarat ini 
tidak boleh diabaikan salah satunya, karena barangsiapa melaksanakan suatu 
amalan dengan ikhlas, tapi menyelisihi atau menyalahi ajaran Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam maka amalan itu tertolak atau sia-sia. Begitu pula 
sebaliknya siapa saja yang beramal sesuai ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi 
wasallam tapi niatnya tidak ikhlas karena Allah maka sia-sia pula amalan itu. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya marilah kita pahami uraian berikut ini: 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Ikhlas &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala 
menciptakan kita semua tidaklah sia-sia, namun mempunyai tujuan yang amat agung 
yaitu beribadah kepada Allah. FirmanNya:&lt;i&gt; "Dan Aku tidak menciptakan jin dan 
manusia melainkan supaya mereka menyembahKu".(Adz-Dzaariyaat: 56). 
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penciptaan alam semesta beserta isinya ini Allah tidak dibantu 
dan tidak butuh bantuan dari siapapun, sehingga sudah pasti ibadah itu harus dan 
wajib diperuntukkan bagi Allah saja dan tidak boleh bagi yang lain, baik itu 
nabi-nabi yang Allah utus ataupun malaikat-malaikat yang dekat dengan Allah. Dan 
lebih tidak boleh lagi kalau ibadah itu ditujukan kepada wali-wali, kyai-kyai, 
batu, keris, dll. Hal ini sesuai dengan firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Padahal mereka 
tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan 
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus". (Al-Bayyinah: 5). 
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah sewajarnya ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 
ditanya tentang berperangnya seorang laki-laki dengan niat untuk memperoleh 
pahala dari Allah dan juga agar dikenang oleh manusia, beliau menjawab: dia 
tidak memperoleh apa-apa. Kemudian Rasulullah ditanya sampai tiga kali dan tetap 
jawaban Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti semula, lalu beliau 
bersabda: &lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal kecuali 
dari orang yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya". (Diriwayatkan oleh Imam 
An-Nasa'i dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahihnya nomor 56). 
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sangat tepat perkataan ulama bahwa ikhlas itu penunggalan niat 
untuk mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla bersih dari segala jenis 
kotoran syirik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Ittiba'ur Rasul &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 
'alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul, dan beliau itu merupakan 
semulia-mulia manusia di muka bumi, dan hal ini telah disaksikan oleh Allah 
dalam firmanNya : &lt;i&gt;"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang 
luhur". (Al-Qalam: 4). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajar jika Allah menjadikan keta'atan 
kepada Rasul itu bagian dari kecintaan kepadaNya, firmanNya : 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, 
niscaya Allah akan mengasihimu". (Ali Imran: 31). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah 
menegaskan perintah ta'at ini dengan firmanNya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apa yang diberikan 
Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka 
tinggalkanlah". (Al Hasyr: 7). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian banyak ayat yang 
memerintahkan kita untuk ta'at kepada Rasulullah dan senantiasa berpegang teguh 
terhadap ajaran beliau, lebih-lebih beliau telah bersabda: &lt;i&gt;"Barangsiapa yang 
mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintahnya dari kami maka 
amalan itu tertolak". (HR. Muslim). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu tidak ada alasan 
bagi kita untuk menyelisihi atau menyimpang dari ajaran Rasulullah shallallahu 
'alaihi wasallam, baik dalam bentuk pengurangan seperti mengingkari kewajiban 
berjilbab/hijab bagi wanita, maupun dalam bentuk penambahan seperti perayaan 
Nuzulul Qur'an, ulang tahun Nabi, puasa pati geni, dll, yang semua itu tidak 
pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata 
Sufyan Ats-Tsauri : "Tidak akan diterima suatu perkataan kecuali dengan 
perbuatan, dan tidak akan tegak perkataan, perbuatan, dan niat itu kecuali 
sesuai dengan petunjuk Rasulullah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pembahasan ini, marilah 
kita mohon kepada Allah agar dimasukkan dalam golongan orang yang ikhlas dan 
senantiasa mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanpa 
menambah atau mengu-ranginya, dan agar kita ditetapkan dalam golongan ini sampai 
akhir hayat kita. Amin. &lt;b&gt;(Imam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rujukan: Tazkiyatun Nufuus karangan 
Ahmad Farid, cetakan Darul Bukhari).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s72-c/apa-yg-kau-pinta.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM IBADAH</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2013/01/syarat-yang-harus-dipenuhi-dalam-ibadah.html</link><category>DAKWAH</category><category>FIQH</category><category>IBADAH</category><category>SANTRI</category><category>SEJARAH ISLAM</category><category>SYARIAH</category><pubDate>Sun, 6 Jan 2013 09:27:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5277623951654983031</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgenn6uV3YnGiYvESeZbyxzz1w7L02rmHmUU7ux-pjKtWFbaHRi4ZgfCrdLGEkELefr3JEFVgekrZSjupIHEKcmQW8n79pHB9eKi7fnwxDxVLtvt_f3PYII9V0SIH7QcmbWK4w2l9ajUcE/s1600/11-formula-ibadah-yang-membawa-kesuksesan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgenn6uV3YnGiYvESeZbyxzz1w7L02rmHmUU7ux-pjKtWFbaHRi4ZgfCrdLGEkELefr3JEFVgekrZSjupIHEKcmQW8n79pHB9eKi7fnwxDxVLtvt_f3PYII9V0SIH7QcmbWK4w2l9ajUcE/s320/11-formula-ibadah-yang-membawa-kesuksesan.jpg" width="269" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu 
diketahui bahwa mutaba'ah (mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak 
akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari'at dalam 
enam perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama : Sebab.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang melakukan 
suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari'atkan, maka ibadah 
tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh : Ada orang yang 
melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih 
bahwa malam itu adalah malam Mi'raj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
(dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena 
dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid'ah. Karena ibadah tadi didasarkan 
atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari'at. Syarat ini -yaitu : ibadah 
harus sesuai dengan syari'at dalam sebab - adalah penting, karena dengan 
demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, 
namun sebenarnya adalah bid'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua : Jenis.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : 
ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak 
diterima. Contoh : Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, 
karena menyalahi ketentuan syari'at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban 
yaitu unta, sapi dan kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga : Kadar 
(Bilangan).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang yang menambah bilangan raka'at suatu 
shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah 
bid'ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari'at dalam 
jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka'at, 
umpamanya, maka shalatnya tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat : Kaifiyah 
(Cara).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, 
lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang 
ditentukan syari'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima : Waktu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada orang yang 
menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka tidak sah, 
karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah 
mendengar bahwa ada orang bertaqarub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan 
menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid'ah, karena tidak ada sembelihan 
yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji 
dan akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan i'tikad mendapat 
pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam Idul Adha adalah bid'ah. Kalau 
menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keenam : 
Tempat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata ada orang beri'tikaf di tempat selain masjid, maka 
tidak sah i'tikafnya. Sebab tempat i'tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, 
andaikata ada seorang wanita hendak beri'tikaf di dalam mushalla di rumahnya, 
maka tidak sah i'tikafnya, karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan 
ketentuan syari'at, Contoh lainnya : Seseorang yang melakukan thawaf di luar 
Masjid Haram dengan alasan karena di dalam sudah penuh sesak, tahawafnya tidak 
sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam Baitullah tersebut, sebagaimana 
firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Artinya : Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang 
thawaf". [Al-Hajj : 26]. &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Kesimpulan dari 
penjelasan di atas, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh kecuali 
apabila memenuhi dua syarat, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Ikhlas&lt;br /&gt;Kedua : 
Mutaba'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Mutaba'ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara 
yang telah diuraikan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy 
Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya 
Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur 
MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgenn6uV3YnGiYvESeZbyxzz1w7L02rmHmUU7ux-pjKtWFbaHRi4ZgfCrdLGEkELefr3JEFVgekrZSjupIHEKcmQW8n79pHB9eKi7fnwxDxVLtvt_f3PYII9V0SIH7QcmbWK4w2l9ajUcE/s72-c/11-formula-ibadah-yang-membawa-kesuksesan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>ADA APA DENGAN HATI MANUSIA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2013/01/ada-apa-dengan-hati-manusia.html</link><category>HAKIKAT</category><category>METAFISIKA</category><category>MUDZAKAROH</category><category>PSIKOLOGI ISLAM</category><category>RENUNGAN</category><pubDate>Sun, 6 Jan 2013 09:22:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-8620237397689501559</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxQYV27DwyPqVFuBRhL1UBqzfSjCxqj8YioBJ4-5dLg26QS-lAFycSszsDIWFRZsbHYK5Zm9GmrQhITJw4EdSBvMTGLpa5K_pkzDqflaWU9HrgSvIMhGW-AKLriJCzCPZQhlCslSPXyQI/s1600/10429_150507601987_103293261987_2599931_2846717_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="315" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxQYV27DwyPqVFuBRhL1UBqzfSjCxqj8YioBJ4-5dLg26QS-lAFycSszsDIWFRZsbHYK5Zm9GmrQhITJw4EdSBvMTGLpa5K_pkzDqflaWU9HrgSvIMhGW-AKLriJCzCPZQhlCslSPXyQI/s320/10429_150507601987_103293261987_2599931_2846717_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada 
memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat : 21) &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Diri Manusia &lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Alqur’an 
telah banyak menyibak tentang apa dan siapa manusia sebenarnya. Namun ungkapan 
ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila perasaan jiwa tidak pernah dibawa 
ke alamnya secara nyata. Atau dengan kata lain kita tidak mau menilik yang mana 
diri kita sesungguhnya. Bukan dengan teori-teori tasawuf atau psikologi yang 
sulit dimengerti yang kita butuhkan. Melainkan dimulai dengan yang sangat 
sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang bayi yang lahir dengan proses alami. Ia lahir 
bukan karena permintaan atau kehendaknya. Ia tidak mengerti untuk apa 
dilahirkan. Ia tidak punya apa-apa bahkan telanjang dan malupun tidak punya. 
Lantas sekelilingnya memberikan kesadaran secara bertahap. Mulai dari pemberian 
nama, identitas kelamin dan batasan kesadaran yang sangat sempit. Ia dikenalkan 
dengan dirinya bahwa namanya si Anu dan jenis kelaminnya laki-laki. Diajarkannya 
pula nama-nama anggota tubuhnya, ini kepala ada mata, telinga, hidung, mulut, 
ini tangan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran ini membuat terikat kepada sebatas 
apa yang ia terima dan ketahui. Sehingga sang diri terbelenggu dan tersesat 
dalam ketidaktahuan siapa yang sebenarnya diri ini. Ada sebuah ungkapan “barang 
siapa mencintai sesuatu maka ia akan menjadi hambanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tembang 
ilir-ilir Kanjeng Sunan Ampel Rahmatullah, dodot atau pakaian adalah sesuatu 
yang menimbulkan ikatan pada jiwa seseorang. Menurut filsafat, pakaian adalah 
sesuatu yang menempel mengikat (binding) dalam jiwa manusia. Jika manusia 
melakukan sikap yang binding dengan dunia sekelilingnya, jiwanya akan 
terkungkung dan kesadarannya akan terbelenggu. Oleh karena itu dalam hidupnya 
manusia harus selalu berusaha melakukan unbinding terhadap dunia sekitarnya. 
Maksudnya manusia harus mulai menyadari keterbatasan dirinya dimana selama ini 
kita “dijerumuskan” oleh pengetahuan yang kita dapat, bahwa diri ini hanya 
sebatas pada mata, telinga, tangan, kaki serta anggota tubuh lain yang 
kelihatan. Mari kita perhatikan tentang apa sebenarnya tubuh ini, diri 
ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Mengenal Diri &lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Dalam 
bertauhid pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Tujuannya agar bisa 
menghubungkan diri kepada Allah. Untuk itu perlu penyelarasan dari ilmu tauhid 
dan syariat yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari. Dalam 
sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari 
Rasulullah SAW), bahwa : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Man 'Arofa Nafsahu faqod 'Arofa Rabbahu", artinya : 
"Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya". 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Begitu pentingnya 
mengenal diri karena pengenalan terhadap diri merupakan syarat mutlak untuk 
dapat mengenal Allah yang merupakan awalnya beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Sahabat 
yang kualitas batinnya terdidik langsung Rasulullah SAW, Imam Ali r.a. Tajjul 
Arifin (Mahkota Ilmu) mengatakan bahwa : "Awwaluddin Ma'rifatullah", artinya : 
“Awal dari agama adalah mengenal Allah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mengenal langit, bumi, 
bintang, jagat raya, alam semesta seisinya. Bukan mengenal ciptaan Allah tetapi 
mengenal Yang menciptakan. Bukan mengenal tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi 
Yang punya tanda. Untuk dapat mengenal Allah kita harus mengenal diri (An-Nafs) 
terlebih dahulu. Dari sini akan dapat diketahui esensi diri yang sebenarnya dan 
merupakan awal dari seseorang beragama dengan haq. Pengenalan kepada diri 
merupakan kunci untuk mengenal Tuhan, bahkan tujuan pengetahuan itu sendiri 
adalah untuk mengenal diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri manusia dapat dilihat secara inderawi 
dengan perilaku dan perangainya. Dari seseorang berperilaku, seseorang 
berperangai, merupakan cerminan dari hatinya. Sehingga untuk mengenal diri kita, 
kita harus memulainya dengan mengenal hati (qalb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia 
sering tidak menyadari realitas dirinya sendiri. Ia memandang tubuh fisiknya 
sebagai esensi dari dirinya sendiri dan lupa pada sifat abstrak dari hati 
spiritual. Manusia terlalu disibukkan dengan memberi makanan pada tubuh fisiknya 
untuk memenuhi hasrat-hasrat inderawinya, padahal sesungguhnya di tempat inilah 
ia harus menyiapkan bekal untuk hari akhir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud hati 
dalam hubungannya hubungannya dengan Sang Pencipta adalah hati ruhaniah. Hati 
jenis inilah yang merasa, mengetahui serta mengenal. Disebut pula hati latifah 
(yang halus) atau hati Robbaniyyah karena ia berhubungan dengan sifat-sifat 
ketuhanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati inilah yang merupakan tempat untuk mengenal Allah 
(ma’rifatullah) agar dapat beriman kepada Allah. Ma’rifat yang merupakan ilmu 
pengenalan terhadap Allah, tidak mungkin dapat dilakukan jika kita tidak 
mengenal hati dan tidak mengetahui dimana letak hati (qalb). Dalam literatur 
barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti heart, soul, spirit, mind, dan 
intellect sering campur aduk ketika berbicara mengenai persoalan-persoalan yang 
berhubungan dengan konsep jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"... Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan 
iman itu indah dalam hatimu ..." (QS. 49:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...karena iman itu belum 
masuk ke dalam hatimu, ...". (QS. 49:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Mereka itulah orang-orang 
dimana Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka ..." (QS. 58:22) 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Bahkan lebih dari 
itu, dalam hadits Qudsi dikatakan: "...Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan 
langit, tetapi yang cukup menampung-KU hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang 
mukmin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman, dengan 
hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang halus itulah 
hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa, dan ia mengetahui serta 
mengenal segala sesuatu. Hati inilah yang jadi sasaran pembicaraan, yang akan 
disiksa, dicerca dan dituntut. Karena eratnya hubungan antara hati jasmani dan 
hati rohani itu, sehingga kebanyakan akal manusia menjadi bingung untuk 
membedakannya. Hubungan kedua hati itu seperti halnya sifat dengan jisim yang 
disifati, atau seperti benda yang dijadikan perkakas dengan sifat perkakasnya. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak mudah untuk mengatakan bahwa dia telah beriman sebelum 
mengetahui ilmu tentang hati. Sebagaimana pengakuan orang Arab yang mengatakan 
bahwa dirinya telah beriman tetapi langsung dibantah oleh Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Orang-orang Arab Baduwi itu berkata : “Kami telah beriman”. 
Katakanlah (kepada mereka) : “kamu belum beriman, tetapi katakanlah “kami telah 
tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada 
Allah dan Rasulnya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun amalanmu..” (QS. 
Al-Ahzab : 14). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Hatilah yang 
diterima disisi Allah, apabila ia selamat atau terhindar dari hal-hal selain 
Allah dan sebaliknya, ia pula yang terhijab atau terdinding dari Allah, apabila 
ia tenggelam dalam-hal-hal selain Allah. Hatilah yang akan dituntut, dijadikan 
sasaran pembicaraan dan cercaan dan ia pula yang berbahagia dengan mendekat 
kepada Allah. Akan menanglah orang yang mensucikan hatinya dan sebaliknya ia 
akan kecewa dan celaka jika ia mengotori serta merusak hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Mengapa Hati Harus Dibersihkan 
&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Sungguh akan memperoleh kemenangan (beruntunglah) orang-orang 
yang membersihkan (hati) nya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya” (QS. 
Asy Syamsi : 9-10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah 
penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih,...” (QS. Al-Baqarah : 10) 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Nabi SAW bersabda 
:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Sesungguhnya syaitan mengalir dalam diri manusia melalui 
urat-urat darahnya, dan mendirikan markasnya dalam dada 
manusia”.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Juga sabdanya 
:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
”Sesungguhnya di dalam tubuh anak adam itu terdapat segumpal 
daging, yang apabila bersih ia maka akan bersihlah semuanya dan apabila rusak 
(kotor) ia maka rusaklah semuanya”, kemudian para sahabat bertanya ”Apakah itu 
ya Rasulullah? ketahuilah bahwasanya ia itulah hati”. &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Dalam hadist ini 
Rasulullah menekankan betapa pentingnya untuk selalu berusaha membersihkan hati, 
membersihkan hati bermakna menghapus darinya kecintaan pada dunia dan hal-hal 
duniawi serta menghilangkan daripadanya segenap kesedihan, kedukaan, 
kekhawatiran, kecemasan, dan takut atas segala sesuatu yang tidak berguna. Dalam 
kaitan hati ini para ulama berpandangan bahwasanya semakin manusia tenggelam 
dalam berbagi urusan duniawi dan sibuk dengan berbagai hal-hal materiil maka ia 
semakin beroleh banyak kesulitan dan akan bertambah pula beban yang 
ditanggungnya. Semakin ia memanjakan badannya dengan dan terus-menerus 
memperhatikan penampilannya maka keadaan mentalnya akan semakin memburuk, 
kemampuan spiritualnya akan semakin memudar, kesucian dan kecemerlangan hatinya 
kehilangan semangat, noda dan kegelapan pun semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah 
sebabnya mensucikan hati dari pengaruh duniawi dan menerapkan pola hidup zuhud 
menjadi salah satu syarat yang mesti dipenuhi. Menjauhkan diri dari segala 
sesuatu selain Allah adalah salah satu jalan/cara untuk menuju Allah. Pengertian 
menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah bukanlah berarti seseorang itu 
meninggalkan kehidupan duniawinya, tetapi bagaimana seseorang itu tidak menaruh 
duniawi dalam hatinya melainkan dalam tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Abdul Qodir 
Jailani menjelaskan dalam kitab “Al-fath Rabbany” hal. 90:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mensucikan 
hati sehingga tidak ada sesuatu di dalam hati itu melainkan Allah”. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang menaruh dunia dalam hatinya ketika kehilangan hal-hal 
duniawi akan goncanglah jiwanya dan semakin terpuruklah keadaannya seolah-olah 
dunia sudah berakhir, tapi seseorang yang menaruhnya dalam genggaman tangannya 
tatkala kehilangan pun ia akan lebih bisa memahami bahwasannya di alam dunia itu 
tidak akan kekal dan akan timbul satu sikap optimis bahwa dia akan mampu untuk 
meraihnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembersihan hati adalah untuk melatih jiwa agar 
dapat masuk dalam dimensi Ketuhanan yang Maha Latif (halus). Indah tidaknya 
pandangan batin seseorang akan sangat tergantung dari sejauh mana ia mampu 
membersihkan hatinya. Hati adalah makhluk Allah yang paling jujur dan sebagai 
tempat untuk dapat berhubungan kepada Allah. Dan Allah tidak melihat perbuatan 
kita, juga amal kita, tetapi yang pertama-tama dilihat dan diperiksa oleh Allah 
adalah hati kita, apakah ada ilmunya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatilah yang pada 
hakekatnya ta’at kepada Allah Ta’ala, sedangkan ibadah yang dikerjakan oleh 
anggota badan itu adalah penjelmaan dari cahaya hati. Sebaliknya hati pulalah 
yang ingkar dan durhaka kepada Allah Ta’ala, sedangkan kejahatan-kejahatan yang 
terjadi pada anggota badan itu merupakan pantulan sinar gelap yang ada di dalam 
hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan bersinarnya hati akan muncul kebaikan-kebaikan 
lahiriah dan dengan gelapnya hati akan muncul pula kejahatan-kejahatan, sebab 
tiap-tiap bejana (tempat) itu terkena percikan dengan apa-apa yang ada di 
dalamnya. Hati adalah bagaikan sebuah cermin yang telah diliputi oleh hal-hal 
yang membekas dan bekas itu secara bersambung akan sampai kepada hati, adapun 
bekas-bekas yang terpuji akan membuat cermin hati semakin mengkilap cemerlang, 
bercahaya dan terang-benderang sehingga berkilauanlah kebenaran yang nyata di 
dalam hati dan terbukalah hakikat segala sesuatu yang dituntut oleh agama. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada hati semacam inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW : 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka 
Allah akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya” (HR.Abu Manshur 
ad-dailami dengan sanad yang baik). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Sabdanya lagi 
:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Barang siapa yang mempunyai penasihat dari hatinya maka Allah 
akan memeliharanya”. &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Bagaimana kalau 
hati tidak dibersihkan? Allah mengancam dalam Al-qur’an : “Dan adapun 
orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu 
bertambah kekufuran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kufur”. (QS. At.Taubah 
: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Dimana Letak Hati? &lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Betapa 
pentingnya kita membersihkan hati. Ikhlas, iman, dan taqwa adalah efek yang 
timbul jikalau hati seseorang itu bersih dan sebaliknya iri, dengki, hasad, ria, 
dsb timbul jikalau hati seseorang itu kotor. Untuk itu hati harus senantiasa 
dibersihkan sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Walaupun berbagai 
kalangan telah banyak menyampaikan mengenai soal hati atau Qalbu tetapi 
pernahkah kita sadari bahwa sebenarnya hanya berputar dalam teori hati, dalam 
arti kita hanya mempelajari efek dari bersih dan kotornya hati, tetapi tidak 
pernah kita mengetahui dimana sesungguhnya letak hati itu dan bagaimana cara 
untuk membersihkannya? Apakah mungkin kita dapat membersihkan sesuatu jikalau 
kita tidak mengetahui dimana letak sesuatu itu dan bagaimana cara 
membersihkannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Membersihkan Hati 
&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda : “Segala sesuatu ada 
pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah berzikir kepada 
Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan iman di dalam hati itu adalah seperti sayur-sayuran 
yang tumbuh subur karena air yang bersih sedangkan perumpamaan nifak di dalam 
hati itu adalah seperti luka yang menjalar karena nanah. Maka dimana di antara 
kedua hal tadi yang menang maka itulah yang akan menguasai hati seperti sabda 
Nabi SAW : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
”Hati orang mukmin itu bersih di dalamnya ada lampu yang 
bersinar dan hati orang kafir itu hitam dan terbalik ”(HR. Ahmad &amp;amp; 
Thabrani). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Dan perumpamaan air 
bagi sayuran tadi (hati) adalah zikir kepada Allah. Jalan untuk dapat mencapai 
kebersihan hati seperti di atas adalah dengan banyak-banyak mengingat Allah 
(zikrullah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allalah hati itu dapat 
menjadi tenang (bersih)” (QS. Ar-Ra’d : 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah Tuhanmu di dalam 
hatimu” (QS. Al-A’raf : 204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang 
yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (QS.Al-Hadiid : 16). 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Bahkan mengingat 
Allah dalam hati (khofi) akan memperoleh pahala yang lebih besar daripada 
mengingat Allah dengan lidah, seperti sabda Rasulullah SAW :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Zikir yang paling baik adalah zikir khofi (dalam hati)” 
(HR.Baihaqi). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Hati dan Akal &lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Di dalam 
Al-qur’an dijelaskan bahwa hati adalah salah satu alat untuk berfikir (aql), 
karena aql mengandung arti mengerti, memahami, dan berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi lalu mereka 
mempunyai qalb (hati) yang dengan itu mereka dapat memahami atau telinga yang 
dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang 
buta tetapi hati yang ada di dalam dada” (QS.Al-Hajj :46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan 
sesungguhnya kami jadikan isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, 
mereka mempunyai qalb (hati) tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat 
Allah)” (QS.Al-A’raf:179) &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Menurut Al-Qusyairi 
perbedaan hati dan akal yaitu akal tidak dapat memperoleh pengetahuan yang 
sebenar-benarnya tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah SAW : “Janganlah 
berpikir (menggunakan akal) dalam Dzatullah tetapi berpikirlah kepada 
ciptaannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini Rasul sudah menjelaskan bahwa akal itu mempunyai 
keterbatasan di dalam mengenal Tuhan dan ia (akal) tidak akan sampai kepada 
pengenalan yang sesungguhnya terhadap Tuhan. Mengenai hal ini secara nyata kita 
dapat belajar dari i’tibar Nabi Ibrahim AS yang mencoba mencari dan mengenal 
Tuhan melalui akal dengan memperhatikan alam semesta dan benda-benda ciptaan 
Tuhan. Nabi Ibrahim memperhatikan jagat raya, matahari, bintang, langit dan 
seisinya sebagai ciptaan Tuhan. Usaha keras tersebut ternyata sia-sia karena 
Ibrahim AS tidak menemukan dimana Tuhan. Oleh karena itu melalui hatilah dapat 
diketahui dan dikenal segala hakikat yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Tiadalah berdusta apa-apa yang dilihat oleh hati” (QS. An-Najm 
: 11). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Sabda Rasulullah 
SAW : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Andaikata setan-setan itu tidak menutupi lensa batin anak 
Adam, niscaya mereka dapat melihat kepada Alam Malakut yang ada di langit” (HR. 
Ahmad)&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td class="subbab"&gt;&lt;b&gt;Niat di Dalam Hati &lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Suatu 
ibadah tidak akan sah tanpa niat di dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda 
: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Setiap amalan itu di mulai (dinilai) dari niat dan niat itu 
ada di dalam hati”. &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Para imam mujtahid 
sepakat bahwasanya aktivitas raga tidak akan diterima tanpa disertai aktivitas 
hati, sedangkan aktivitas hati tetap akan dinilai (diterima) meskipun tanpa 
aktivitas raga. Andaikata tidak demikian adanya maka iman juga tidak akan 
diterima karena fardhu iman ialah diucapkan dengan lidah dan dibenarkan dengan 
hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Allah mencatat keimanan di dalam hati mereka”. 
(QS.Al-Mujadalah : 22) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itu adalah orang-orang yang dicoba 
hatinya oleh Allah untuk takwa” (QS.Al-hujurat:3). &lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Di dalam sebuah 
hadist Rasulullah SAW pernah ditanya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Ya Rasulullah! siapakah orang yang terbaik itu? maka beliau 
menjawab : yaitu orang mukmin yang bersih hatinya, maka ditanyakan lagi : apakah 
artinya orang yang bersih hatinya itu wahai Rasulullah? beliau lalu menjawab : 
ialah orang yang takwa, bersih tidak ada kepalsuan padanya, tak ada kedurhakaan, 
pengkhianatan, dendam dan kedengkian”. (HR. Ibnu Majah)&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Dan Sabdanya lagi 
:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
“Ilmu itu letaknya di dalam dada (hati) bukan pada tulisan”. 
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div align="justify" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;"&gt;
Salam,&lt;br /&gt;Mochamad 
Bayu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sumber : milis daarut tauhid at yahoo dot com&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxQYV27DwyPqVFuBRhL1UBqzfSjCxqj8YioBJ4-5dLg26QS-lAFycSszsDIWFRZsbHYK5Zm9GmrQhITJw4EdSBvMTGLpa5K_pkzDqflaWU9HrgSvIMhGW-AKLriJCzCPZQhlCslSPXyQI/s72-c/10429_150507601987_103293261987_2599931_2846717_n.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>POLITIK DAN PENDIDIKAN ISLAM</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/12/politik-dan-pendidikan-islam.html</link><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>PENDIDIKAN</category><category>POLITIK</category><category>SEJARAH ISLAM</category><pubDate>Wed, 19 Dec 2012 07:17:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-1652032409649971207</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s1600/ahli-kitab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s320/ahli-kitab.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” (Khalifah Abdul Malik bin Marwan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Tahun 60-an ada perbincangan yang menarik antara Prof Deliar Noer dengan Kiyai Zarkasyi. ”Cuma ada pesan saya...kan pak Natsir tidak boleh berpolitik,”kata Kiyai Zarkasyi kepada Deliar Noer.”Sekurang-kurangnya walau tak resmi, namun langkahnya dalam berpolitik terlambat. Saya ada pesan,”lanjutnya, dan minta agar disampaikannya ke Pak Natsir.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;”Saya ingat Ki Hajar Dewantoro,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Setelah ia kembali dari Belanda dan tidak boleh bergerak aktif dalam bidang politik, ia membatasi dirinya bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa, dan ia berhasil dengan usahanya ini. Saya berpikir apakah setidaknya Pak Natsir tidak&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;berbuat hal yang seperti ini,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Ia seorang pemimpin: bisa di bidang politik dan sosial. Tetapi asalnya juga dari bidang pendidikan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Dan, Kiyai Zarkasyi menyebut-nyebut&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;kegiatan Natsir di jaman Belanda dengan sekolah-sekolah Pendis-nya (Pendidikan Islam) di Bandung, terdiri dari TK, HIS, MULO dan HIK. Menurut Kiyai Zarkasyi, Pendis ini sedikit banyak berhasil. ”Kalau tidak Jepang masuk,”tambahnya,”tentu sekolahan tersebut akan berkembang.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;”Dan kini dalam bidang politik, Pak Natsir mendapat hambatan,”sambung pendiri Gontor ini,”Alihkan perhatian penuh ke bidang yang agaknya lebih perlu dikelola,”katanya tegas. ”Dan saya harap,”sambungnya,”Saudara menyampaikan ini kepada beliau.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ia menambahkan bahwa orang seperti Pak Natsir, dana pun akan tiba.&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dan dengan pendidikan usahanya akan lebih nyata, kebebasan juga akan lebih terpelihara...begitu saya kembali dari Gontor, permulaan tahun 1970-an itu, pesan Kiyai Zarkasyi sempat saya sampaikan kepada Pak Natsir.&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;(Prof. Dr. Deliar Noer dalam KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, Gontor Press, 1996, 643-644)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Politik&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dalam pemilihan ketua partai (kecuali sebagian kecil), bupati, gubernur, bahkan presiden uang menjadi faktor utama penentu keberhasilan. Bukan ilmu, kapabilitas calon dan adab atau akhlak yang baik yang dimiliki sang calon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Padahal ilmu dan adab pemimpin politik itu menjadi syarat utama dalam memimpin masyarakat. Ulama Melayu terkemuka, Syekh Ahmad al Fathani mencirikan sifat-sifat yang mesti dimiliki pemimpin politik. Diantaranya: sempurna anggota (indera), baik budi pekerti, baik kefahaman, cerdik/bijaksana, faham terhadap sekalian ilmu terutama ilmu berhitung dan ilmu tarikh, benar dalam perkataan dan menjauhkan kebohongan, elok perlakuan muamalat, berkelakuan yang lembut, dalam perjumpaan selalu memberikan kelapangan, tidak tamak pada makanan, minuman dan perkawinan, menjauhi bermain-main dalam segala urusan, mempunyai ketinggian himmah (cita-cita), bersungguh-sungguh pada membangun kerajaan, mencintai keadilan, benci kezaliman, mempunyai hati yang tabah dan berani dan mengetahui sekalian muslihat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Pentingnya ilmu politik ini, dikemukakannya pada kitab&amp;nbsp;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Hadiqatul Azhar&lt;/em&gt;&amp;nbsp;: ”Muhimmah, pada bicara ilmu siasat (politik). Yaitu ilmu memperbaiki rakyat dengan menunjukkan mereka itu kepada jalan yang melepaskan mereka itu daripada tiap-tiap kekeruhan pada dunia dan akherat..maka hukumnya ilmu itu wajib kifayah.” (Wan Mohd Saghir: 1992, 103).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Masalahnya, dalam ilmu politik sekuler saat ini, masalah akherat tidak dimasukkan sebagai urusan negara.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Akherat tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan politik dan inilah awal malapetaka politik di Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya. Sehingga suap, ingkar janji, kebohongan, hasad, tamak, riya’ menjadi tontotan politik sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Padahal dahulu bila para ulama memberikan nasehat kepada raja atau sultan selalu diawali dengan nasehat agar para pemimpin itu mula-mula bertakwa kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan seterusnya. Dulu, dalam sejarah Islam,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Jendral Abdullah bin Husain, ketika menasihati anaknya, maka dia menulis agar agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin dan sebagainya. Apakah ada jenderal sekarang ini yang menasihati anaknya demikian? Juga ketika khalifah Ali bin Abi Thalib menasihati kepada gubernurnya.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ia menasihatkan tentang pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, perhatian kepada orang miskin, jangan terpengaruh godaan dunia dan lain-lain. Apakah ada sekarang ulama atau pejabat yang menasihatkan seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Politik dan Pendidikan Islam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Dalam era kehidupan politik yang sekuler saat ini, juga ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang. Pemimpin-pemimpin ini hanya mampu mengulang-ulangi praktek pendidikan yang yang datang atau dipengaruhi sepenuhnya oleh Barat. Intelektual terkemuka Melayu, Syed Muhammad Naquib al Attas mengemukakan dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Risalah untuk Kaum Muslimin&lt;/em&gt;&amp;nbsp;: ”Saluran yang melancarkan penyelundupan faham-faham asasi yang asing itu adalah sistem pembelajaran dan pendidikan yang dikuatkuasakan oleh kuasa-kuasa politik serta gejala-gejala pentadbirannya, dan seterusnya dibantu oleh golongan para guru dan pensharah dan golongan penulis yang menyamarkan faham-faham itu sebagai hasil sastera.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dan betapakah lagi kacaunya andaikata orang-orang yang mewakili kuasa-kuasa tersebut, dan guru dan pensharah&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan penulis itu tiada pula memahami serta mengenali dan mengetahui benar-benar sifat serta hakikat kandungan faham-faham yang dikuatkuasakan dan dianjurkannya itu! Kaum Muslimin harus insaf bahawa sebahagian besar mereka yang memainkan peranan dalam menyebarkan kekeliruan dan kepalsuan ini –baikpun secara disedari mauhupun tiada disedari—merupakan orang-orang yang bukan sahaja tiada memahami serta mengenali dan mengetahui benar ilmu kebudayaan Barat, bahkan jua yang tiada mempunyai ilmu keislaman, dan yang pengetahuan serta amalan Islamnya sangat-sangatlah menyedihkan sebab sekadar yang bertaraf kebudak-budakan belaka.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Padahal golongan-golongan ini dibiarkan –malah diberi amanah—oleh kaum Muslimin untuk memimpinnya dalam pelbagai lapangan kehidupan!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Lebih lanjut Prof al Attas menasehatkan: ”Janganlah hendaknya kau fikir –wahai saudaraku Muslimin—bahwa sekarang ini kononnya dengan tersingkirnya ciri-ciri zahiriah kolonialisme kebudayaan Barat, pemimpin-pemimpin kita yang Islam yang telah kita amanahkan untuk menjalankan tugas membimbing masyarakat kita itu, memang benar-benar menunaikan tugas mereka dengan secara yang tiada berlawanan dengan Islam.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kau harus insaf bahwa kebanyakan mereka itu mewarisi ilmu serta cara berfikir kolonial yang jahil terhadap Islam.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mereka belum lagi berhasil menunaikan syarat-syarat serta pencapaian ilmu yang fardhu ain di sisi Islam, dan boleh dikatakan langsung sunyi daripada ilmu pengetahuan Islam yang harus dianggap sebagai fardhu kifayah yang terutama bagi mereka, maka betapakah dapat mereka itu menghindarkan diri dan masyarakatnya terpesong (terperosok) ke jalan yang sesat!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Dalam bidang ilmu pengetahuan yang merujuk kepada pendidikan dan pelajaran, kata al Attas, pemimpin-pemimpin kita yang bertanggungjawab mengenainya tiada sadar bahwa banyak yang diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajian tinggi itu bukanlah ilmu pengetahuan, akan tetapi ilmu yang batil yang berselaputkan dugaan yang mensia-siakan masa dan mengelirukan fikiran dan diri penuntutnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar Casis-UTM Malaysia, menjelaskan lebih jauh, bahwa perubahan yang terpenting dalam pendidikan adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi khususnya S3, S2 dan S1. “Ini bukan bersifat elitis yang negatif, tapi elitis yang stratejik. Pendidikan mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Semua anbiya’ diturunkan untuk mengajar kepada orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Al-Attas ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya Universitas. Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai kantor juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sejarah Islam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Dalam zaman Umawiyah tampak sekali bahwa tujuan pendidikan selain untuk kepentingan agama juga untuk kepentingan sosial.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Umpamanya Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya,”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” Orang mengetahui bahwa pada waktu itu banyak ulama mengajar anak-anak khalifah dan orang-orang dari kelompok atas, syair, sejarah, juga sejarah orang-orang Arab, nenek moyang mereka dan tindakan-tindakan mereka yang hebat-hebat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Adapun dalam zaman Abasiyah, maka kedudukan ulama adalah tinggi sekali.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Para khalifah menghormati para ulama dan ditempatkan pada tempat yang tinggi sesuai dengan ilmunya.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Inilah sebabnya mengapa orang-orang giat belajar supaya mereka memperoleh kedudukan yang baik.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Perlu diketahui bahwa para ulama itu pada umumnya dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat biasa.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Lalu mereka meningkat karena ilmunya kepada tingkatan yang tinggi.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ahli syair Abul Itahiyah asalnya adalah tukang batu, Abu Tamam asalnya adalah penjual air di masjid Amr.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ayah Bashar adalah orang yang membikin alat dari tanah, al Jahiz penjual roti dan ikan, az Zajjaz tukang menulis di kaca, dan bapak al Ghazali penenun bulu.&amp;nbsp;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;(&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;KH Imam Zarkasyi di Mata Umat,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;hal. 928). *&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=498:politik-dan-pendidikan-islam&amp;amp;catid=23:pendidikan-islam&amp;amp;Itemid=23" target="_blank"&gt;insistnet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s72-c/ahli-kitab.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>KEMATIAN YANG INDAH (HUSNUL KHOTIMAH)</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/kematian-yang-indah-husnul-khotimah.html</link><category>DAKWAH</category><category>EKONOMI ISLAM</category><category>METAFISIKA</category><category>MUDZAKAROH</category><category>MUSLIM</category><category>RENUNGAN</category><category>ULAMA</category><pubDate>Tue, 16 Oct 2012 14:45:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-3896027761043220396</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNTBxMPRJcNb0T5zn7fCkvj6zGWNpButSZZ4oqc6bvhN65LxZJhZVrUxfBLMn78_47BNqZ7vj9puSmfd-4vSgUmdGKo1wQkw6lnQJXlGUNbd8wFHP00BDSCbeucSn0o8GZRNk0cCpMyFs/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNTBxMPRJcNb0T5zn7fCkvj6zGWNpButSZZ4oqc6bvhN65LxZJhZVrUxfBLMn78_47BNqZ7vj9puSmfd-4vSgUmdGKo1wQkw6lnQJXlGUNbd8wFHP00BDSCbeucSn0o8GZRNk0cCpMyFs/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Khalid bin Walid, panglima perang Islam semasa Rasulullah SAW, bercita-cita mati 
syahid di medan perang. Allah ternyata berkehendak lain. Pahlawan legendaris 
yang digelari Saifullah (pedang Allah) itu justru meninggal dalam kesendirian di 
kamarnya. Bagi kaum Muslimin, mati syahid dalam pertempuran melawan musuh-musuh 
Islam, memang, terasa gagah. Heroik dan dramatis. Mati syahid, mati saat 
berjihad membela kebenaran di jalan Allah dan demi memperoleh ridha Allah, bukan 
hanya kematian yang indah, tapi juga mulia; memenuhi janji Allah untuk hidup 
abadi di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, ''Janganlah kamu mengira bahwa 
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi 
Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia 
Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.'' (Ali 'Imran ayat 169-170). 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu sebab mengapa banyak orang terpanggil untuk berjihad 
di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid. Persoalannya, jihad itu bukan hanya 
berperang melawan musuh-musuh Islam seperti di zaman Khalid bin Walid dulu. 
Istilah jihad, tulis Dr M Quraish Shihab dalam Wawasan Alquran, sering 
disalahpahami atau dipersempit artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran mengisyaratkan jihad 
sebagai perjuangan melawan kebatilan. Sepanjang hayat manusia, bahkan sampai 
kiamat kelak, dituntut untuk berjuang melawan segala bentuk kebatilan. 
''Al-jihad madhin ila yaum al-qiyamah.'' (jihad, perjuangan, terus berlanjut 
sampai hari kiamat). Jihad itu banyak bentuk dan macamnya. Begitu pula 
kebatilan. Jihad di jalan-Nya juga bukan hanya perang secara fisik melawan 
kebatilan yang berada di luar, tapi juga di dalam diri kita sendiri. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat At-Taubah ayat 24, Allah berfirman, ''Katakanlah, 'Jika 
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta 
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan 
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan 
Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah 
mendatangkan keputusan-Nya'.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut menunjukkan keutamaan 
berjihad di jalan Allah, seperti keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak 
ada kata pedang, senjata, atau bau darah di dalamnya. Setiap Muslim, apa pun 
profesi dan pekerjaannya, yang menegakkan kebenaran demi Allah, punya kesempatan 
yang sama untuk berjihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemberani yang kukuh dan teguh melawan 
kebatilan, kezaliman, dan kebiadaban seperti Munir (almarhum), misalnya, insya 
Allah, termasuk orang-orang yang lulus menempuh ujian, dengan segala kemampuan, 
kesabaran, dan ketabahannya. Jihad adalah cara yang ditetapkan Allah untuk 
menguji manusia. Orang yang tahan uji seperti itu, kalaupun gugur di jalan 
Allah, ia menempuh kematian yang indah. Seperti kata Allah, ia tidak mati, 
bahkan hidup di sisi Allah dengan mendapat rezeki-Nya. Wallahu a'lam. &lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNTBxMPRJcNb0T5zn7fCkvj6zGWNpButSZZ4oqc6bvhN65LxZJhZVrUxfBLMn78_47BNqZ7vj9puSmfd-4vSgUmdGKo1wQkw6lnQJXlGUNbd8wFHP00BDSCbeucSn0o8GZRNk0cCpMyFs/s72-c/images.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>AKHLAK SANG PEMIMPIN</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/akhlak-sang-pemimpin.html</link><category>MUSLIM</category><category>PEMIMPIN</category><category>PENDIDIKAN</category><category>SYARIAH</category><category>ULAMA</category><pubDate>Tue, 16 Oct 2012 14:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5477049407497105111</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s1600/102796.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="176" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s320/102796.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Suatu masyarakat dan bangsa akan disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang maju 
manakala memiliki peradaban yang tinggi dan akhlak yang mulia, meskipun dari 
segi ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat sederhana. Sedangkan pada 
masyarakat dan bangsa yang meskipun kehidupannya dijalani dengan teknologi yang 
modern dan canggih, tapi tidak memiliki peradaban atau akhlak yang mulia, maka 
masyarakat dan bangsa itu disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang terbelakang 
dan tidak menggapai kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa merwujudkan masyarakat dan 
bangsa yang berakhlak mulia dengan peradaban yang tinggi, diperlukan pemimpin 
dengan akhlak yang mulia. Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik ketika menyampaikan 
pidato pertamanya sebagai khalifah mengemukakan hal-hal yang mencerminkan 
bagaimana seharusnya akhlak seorang pemimpin. Dalam pidato itu beliau 
mengemukakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku 
sebagai khalifah untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik diantara kamu, 
maka bila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku, tetapi bila 
aku bertindak salah, betulkanlah. Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong 
adalah khianat. Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku sampai aku 
dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah. Siapa saja yang kuat diantaramu 
akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang 
dipegangnya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan 
Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak 
ada kewajibanmu untuk taat kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pidato Khalifah Abu Bakar di 
atas, kita bisa menangkap keharusan seorang pemimpin untuk memiliki tujuh sifat 
sebagai bagian dari akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Tawadhu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara 
harfiyah tawadhu artinya rendah hati, lawannya adalah tinggi hati atau sombong. 
Dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar tidak merasa sebagai orang yang paling baik, 
apalagi menganggap sebagai satu-satunya orang yang baik. Sikap tawadhu bagi 
seorang pemimpin merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal ini karena seorang 
pemimpin membutuhkan nasihat, masukan, saran, bahkan kritik. Kalau ia memiliki 
sifat sombong, jangankan kritik, saran dan nasihatpun tidak mau diterimannya. 
Akibat selanjutnya adalah ia akan memimpin dengan hawa nafsunya sendiri dan ini 
menjadi sangat berbahaya. Karena itu kesombongan menjadi kendala utama bagi 
manusia untuk bisa masuk ke dalam surga. Karena itu, Allah Swt sangat murka 
kepada siapa saja berlaku sombong dalam hidupnya, apalagi para pemimpin. Sejarah 
telah menunjukkan kepada kita bagaimana Fir’aun yang begitu berkuasa dimata 
rakyatnya, tapi berhasil ditumbangkan dengan penuh kehinaan melalui dakwah yang 
dilakukan oleh Nabi Musa dan Harun as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Menjalin 
Kerjasama.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidato Khalifah Abu Bakar di atas, tercermin juga 
akhlak seorang pemimpin yang harus dimiliki yakni siap, bahkan mengharapkan 
kerjasama dari semua pihak, beliau mengatakan: “maka bila aku berlaku baik dalam 
melaksanakan tugasku, bantulah aku”. Ini berarti kerjasama yang harus dijalin 
antar pemimpin dengan rakyat adalah kerjasama dalam kebaikan dan taqwa 
sebagaimana yang ditentukan Allah Swt dalam firman-Nya: Tolong menolonglah kamu 
dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan 
(QS 5:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin tentu tidak mungkin bisa menjalankan tugasnya 
sendirian,sehebar apapun dirinya. Karenanya Rasulullah Saw telah menunjukkan 
kepada kitabagaimana beliau menjalin kerjasama yang baik, mulai dari membangun 
masjid diMadinah hingga peperangan melawan orang-orang kafir, bahkan dalam 
suatupeperangan yang kemudian disebut dengan perang Khandak, Rasulullah menerima 
dan melaksanakan pendapat Salman Al Farisi untuk mengatur strategi perang dengan 
cara menggali parit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Mengharap Kritik dan Saran.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang 
pemimpin, karena kedudukannya yang tinggi dan mulia dihadapan orang lain, iapun 
mendapatkan penghormatan dari banyak orang, kemana pergi selalu mendapatkan 
pengawalan yang ketat dan setiap ucapannya didengar orang sedangkan apapun yang 
dilakukannya mendapatkan liputan media massa yang luas. Dari sinilah banyak 
pemimpin sampai mengkultuskan dirinya sehingga ia tidak suka dengan kritik dan 
saran. Hal itu ternyata tidak berlaku bagi Khalifah Abu Bakar, maka sejak awal 
kepemimpinannya, ia minta agar setiap orang mau memberikan kritik dan saran 
dengan membetulkan setiap kesalahan yang dilakukan, Abu Bakar berpidato dengan 
kalimat: “Bila aku bertindak salah, betulkanlah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti ini 
dilanjutkan oleh Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah sehingga saat Umar 
mengeluarkan kebijakan yang meskipun baik maksudnya tapi menyalahi ketentuan 
yang ada, maka Umar mendapat kritik yang tajam dari seorang ibu yang sudah 
lanjut usia, ini membuat Umar harus mencabut kembali kebijakan tersebut. 
Kebijakan itu adalah larangan memberikan mahar atau mas kawin dalam jumlah yang 
banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Berkata dan Berbuat Yang Benar.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Abu 
Bakar juga sangat menekankan kejujuran atau kebenaran dalam berkata maupun 
berbuat, bahkan hal ini merupakan amanah dari Allah Swt, hal ini karena manusia 
atau rakyat yang dipimpin kadangkala bahkan seringkali tidak tahu atau tidak 
menyadari kalau mereka sedang ditipu dan dikhianati oleh pemimpinnya. Dalam 
pidato saat pelantikannya sebagai khalifah, Abu Bakar menyatakan: Berlaku jujur 
adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala seorang pemimpin 
memiliki kejujuran, maka ia akan dapat memimpin dengan tenang, karena kebohongan 
akan membuat pelakunya menjadi tidak tenang sebab ia takut bila kebohongan itu 
diketahui oleh orang lain yang akan merusak citra dirinya. Disamping itu, 
kejujuran akan membuat seorang pemimpin akan berusaha untuk terus mencerdaskan 
rakyatnya, sebab pemimpin yang tidak jujur tidak ingin bila rakyatnya cerdas, 
karena kecerdasan membuat orang tidak bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Memenuhi 
Hak-Hak Rakyat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pemimpin harus mampu memenuhi hak-hak rakyat 
yang dipimpinnya, bahkan bila hak-hak mereka dirampas oleh orang lain, maka 
seorang pemimpin itu akan berusaha untuk mengembalikan kepadanya. Karena itu 
bagi Khalifah Abu Bakar, tuntutan terhadap hak-hak rakyat akan selalu 
diusahakannya meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah sehingga seolah-olah 
mereka itu adalah orang yang kuat, namun siapa saja yang memiliki kekuatan atau 
pengaruh yang besar bila mereka suka merampas hak orang lain, maka mereka 
dipandang sebagai orang yang lemah dan pemimpin harus siap mengambil hak orang 
lain dari kekuasaannya. Akhlak pemimpin seperti ini tercermin dalam pisato 
Khalifah Abu Bakar yang menyatakan: “Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat 
bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak 
yang seharusnya ada pada pemimpin tidak hanya menjadi kalimat-kalimat yang indah 
dalam pidato Khalifah Abu Bakar, tapi beliau buktikan hal itu dalam 
kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya sebagai seorang pemimpin. Satu diantara 
kebijakannya adalah memerangi orang-orang kaya yang tidak mau bayar zakat, 
karena dari harta mereka terdapat hak-hak bagi orang yang miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. 
Memberantas Kezaliman.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kezaliman merupakan sikap dan tindakan yang 
merugikan masyarakat dan meruntuhkan kekuatan suatu bangsa dan negara. Karena 
itu, para pemimpin tidak boleh membiarkan kezaliman terus berlangsung. Ini 
berarti, seorang pemimpin bukan hanya tidak boleh bertindak zalim kepada 
rakyatnya, tapi justeru kezaliman yang dilakukan oleh orang lain kepada 
rakyatnyapun menjadi tanggungjawabnya untuk diberantas. Karenanya bagi Khalifah 
Abu Bakar, sekuat apapun atau sebesar apapun pengaruh pelaku kezaliman akan 
dianggap sebagai kecil dan lemah, dalam pidato yang mencerminkan akhlak seorang 
pemimpin, beliau berkata: “Siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan 
denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya 
Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Menunjukkan Ketaatan Kepada Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang 
sejati adalah pemimpin yang mengarahkan rakyatnya untuk mentaati Allah Swt dan 
Rasul-Nya. Oleh karena itu, iapun harus menunjukkan ketaatan yang sesungguhnya. 
Namun bila seorang pemimpin tidak menunjukkan ketaatannya kepada kepada Allah 
dan Rasul-Nya, maka rakyatpun tidak memiliki kewajiban untuk taat kepadanya. 
Dalam kaitan inilah, Khalifah Abu Bakar menyatakan dalam pidatonya: “Taatlah 
kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi 
kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat 
kepadaku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ketataan kepada pemimpin tidak bersifat 
mutlak sebagaimana mutlaknya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, inilah 
diantara isyarat yang bisa kita tangkap dari firman Allah yang tidak menyebutkan 
kata taat saat menyebut ketataan kepada pemimpin (ulil amri) dalam firman-Nya: 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil 
amri diantara kamu (QS 4:59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat kita simpulkan 
betapa penting bagi kita untuk memiliki pemimpin dengan akhlak yang mulia. 
Kerancuan dan kekacauan dengan berbagai krisis yang melanda negeri kita dan umat 
manusia di dunia ini karena para pemimpin dalam tingkat nagara dan dunia tidak 
memiliki akhlak seorang pemimpin yang ideal. Karenanya, saat kita memilih 
pemimpin dalam seluruh tingkatan di masyarakat jangan sampai memilih mereka yang 
tidak berakhlak mulia. wallohu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s72-c/102796.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>CIRI-CIRI GENERASI RABBANI</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/ciri-ciri-generasi-rabbani.html</link><category>DAKWAH</category><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>PENDIDIKAN</category><category>SANTRI</category><category>ULAMA</category><pubDate>Tue, 16 Oct 2012 10:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-7791244578862012934</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2tpwaNbaUkfsUoOQm7QeIQFP_rn32f9jhzr6dU1gljY0UTsku8OanMMMneJkYhN6VjtPPBGGlXaw86ghz_xF_0uovzha7OaprSQY0LaC5_eSYn0Mvss-v75uRoUsSUUIZf0UDxml-i30/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2tpwaNbaUkfsUoOQm7QeIQFP_rn32f9jhzr6dU1gljY0UTsku8OanMMMneJkYhN6VjtPPBGGlXaw86ghz_xF_0uovzha7OaprSQY0LaC5_eSYn0Mvss-v75uRoUsSUUIZf0UDxml-i30/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Perkataan ribbiyy dan rabbaniyy merujuk pada segolongan manusia yang mempunyai 
ilmu yang luas lagi mendalam berkenaan dengan agama. Dengan bekal ilmunya, ia 
tak pernah berhenti beramal demi mencari keridhaan Allah SWT. Selain itu, iapun 
mampu menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, dengan penuh kesabaran serta 
istiqamah. Dalam Al Qur'an Allah SWT menyebut tentang golongan ini dalam 
beberapa tempat, semisal : Surat Ali `Imran ayat 146; Surat Al Maa-idah, ayat 
44; Surat Al Maa-idah, ayat 43; Surat Ali 'Imran ayat 7; dan Surat Ali `Imran, 
ayat 79. Sibawaih, seorang ahli bahasa berpendapat : jika huruf alif dan nun 
ditambahkan pada perkataan ribbiyy, lalu menjadi rabbaniyy, menunjukkan mereka 
adalah golongan yang sangat mendalam ilmunya mengenai ketuhanan (Lisan al 
Arab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kematian Abdullah ibn Abbas r.a, telah berkata Muhamad 
ibn Ali ibn Hanafiyah “.. hari ini telah gugur seorang rabbaniyy dari umat ini.” 
Ibn Abbas r.a memang terkenal di kalangan sahabat berkat kedalaman dan keluasan 
ilmunya. Maka adalah wajar jika ia digelari insan rabbaniyy. Telah dikatakan 
pula oleh Ali bin Abu Thalib r.a : “Manusia itu terdiri dari tiga golongan : 
alim yang rabbaniyy, penuntut ilmu demi jalan kejayaan, serta orang hina 
pengikut segala keburukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam al Taalim Imam Al Banna telah 
menegaskan bahwa umat mesti membentuk diri, agar menjadi insan kamil yang 
mempunyai aqidah sejahtera, ibadah yang sahih, akhlak yang mantap, pikiran yang 
berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, hidup yang berdikari, diri yang berjihad, masa 
yang dihargai, tugas yang tersusun dan sentiasa memberi manfaat kepada orang 
lain. (Risalat al-Taalim, rukun al-Amal). Itulah kriteria figur generasi 
rabbani, menurut tokoh pelopor Ikhwanul Muslimin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Syahid Sayyid 
Quthb dalam rumusannya mengenai generasi rabbani (dengan merujuk pada generasi 
sahabat era Rasulullah SAW ), mengemukakan tiga ciri penting dari generasi awal 
Islam itu, seperti : selalu membersihkan diri dari segala unsur jahiliyyah, 
sumber rujukan mereka yang utama hanyalah Al Qur'an Nur Karim, dan apa yang 
dipelajari semata-mata hanyalah untuk diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran generasi 
rabbani menjadi mungkin, jika umat tetap berpegang pada Al Qur'an dan Al Hadits. 
Diperlukan pula banyaknya murabi yang mempunyai keluasan dan kedalaman ilmu. 
Disamping itu, generasi rabbani akan terlahir jika banyak keluarga telah 
mencapai derajar sakinah, institusi pendidikan, masyarakat serta negara 
berkomitmen penuh atas tegaknya dakwah Islamiyyah. Usaha melahirkan kembali 
generasi ini di akhir jaman, merupakan ikhtiar suci yang memerlukan pengorbanan 
diri, waktu dan harta</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2tpwaNbaUkfsUoOQm7QeIQFP_rn32f9jhzr6dU1gljY0UTsku8OanMMMneJkYhN6VjtPPBGGlXaw86ghz_xF_0uovzha7OaprSQY0LaC5_eSYn0Mvss-v75uRoUsSUUIZf0UDxml-i30/s72-c/apa-yg-kau-pinta.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>KERANGKA BERPIKIR ANAK MUDA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/kerangka-berpikir-anak-muda.html</link><category>DAKWAH</category><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>PENDIDIKAN</category><category>PSIKOLOGI ISLAM</category><category>RENUNGAN</category><pubDate>Tue, 16 Oct 2012 10:34:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5120304203231041730</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD8NYsb_fNa_C195j4Pu13wJbPk85EaCcBexmdbbjHZvVtO9gYOQoySfRfHyJbxJh6inTmo3S4pqvQM8T5aw1r8cIhfs9qlOeV5skpvv9H1RuZY86HoCdjJtJUTXQZmx1Cn4kImbbjgqY/s1600/Berpikir+logis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD8NYsb_fNa_C195j4Pu13wJbPk85EaCcBexmdbbjHZvVtO9gYOQoySfRfHyJbxJh6inTmo3S4pqvQM8T5aw1r8cIhfs9qlOeV5skpvv9H1RuZY86HoCdjJtJUTXQZmx1Cn4kImbbjgqY/s1600/Berpikir+logis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Oleh : M. Ridha&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Assalamu'alaikum wr.wb.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era globalisasi modern seperti zaman 
sekarang ini banyak anak-anak muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. 
Mereka tidak segan-segan mempertanyakan keimanan dan aturan-aturan dalam agama. 
Kalau kurikulum pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu 
mengaddress masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: 
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Anak-anak muda ini menjadi ragu terhadap agama dan bila 
keragu-raguan ini lambat laun menumpuk, mereka tidak segan-segan mendeclarekan 
diri keluar dari agama atau bahkan mencela agama,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Mereka akan mencari sumber-sumber informasi dari luar sekolah 
yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Informasi dari luar ini 
mungkin bisa memuaskan keingintahuan dalam pemahaman terhadap agama. Bisa jadi 
ini mengantarkan mereka kepada pemahaman agama yang benar, atau pemahaman agama 
yang salah yang dapat melahirkan sikap ekstrimisme dalam beragama, atau 
sebaliknya mungkin malah membuat mereka tambah ragu dan keluar dari 
agama.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Berdasarkan pengalaman saya sejak SD sampai SMA di tanah air 
dahulu, pelajaran-pelajaran agama di sekolah lebih bersifat kepada doktrin dan 
sangat sedikit (kalau bisa dibilang ada) yang membahas kerangka berpikir dalam 
menyikapi pertanyaan-pertanyaan terhadap masalah keimanan dan aturan-aturan 
agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru semasa kuliah S1 dulu, ketika saya tinggal dengan beberapa 
roomates non-Muslims, saya dihadapkan kepada banyak pertanyaan-pertanyaan yang 
sebelumnya tidak pernah saya dapatkan dari pelajaran agama di sekolah di 
Indonesia. Kebetulan roomates saya dulu ada yang Kristen, ada yang atheist dan 
ada yang agnostic. Saya dihadapkan kepada pertanyaan mengenai masalah keimanan, 
baik dari si atheist ("Why do you believe in God that cannot be seen?", "Why do 
you believe in such God that creates evil in the world?", etc.), dari agnostic 
("Why are you so sure that God sent down His revelation to us on this earth?", 
"Isn't possible God of all religions is infact an alien -UFO- that has more 
advanced technology than us who wants to control over us?", etc.), maupun dari 
Kristen ("Why are you not sure that you are going to heaven like us who accept 
Jesus died for our sin?", "Why do you believe in the Arabian Prophet who came 
600 years later after Jesus?", etc). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula pertanyaan mengenai 
masalah tata cara ibadah yang diamati mereka ("Why do you have to wash 3-3 
times?", "Why do you have to pray 5 times a day?", "Why do you have to face that 
way?", "Why do you have to say your prayer in Arabic?", "Why do you have to 
suffer not eating or drinking for many hours?", etc.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau 
ada peristiwa-peristiwa yang terjadi di Middle East yang diberitakan di media 
massa. "Look, Muslims are killing innocent people again!", "Are Muslims not 
allowed to live peacefully with people of other faith?", "Aren't you somewhat 
embarrassed to profess this faith that has spilled so much blood in its 
history?", etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar 
seperti di atas tidak pernah terdengar di tanah air yang mayoritas penduduknya 
Muslims, sehingga tidak ada atau masih sedikit usaha dari pihak pengajar agama 
untuk meng-address-nya. Mungkin menurut banyak da'i di Indonesia, buat apa 
buang-buang waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh macam itu, masih 
banyak urusan umat yang real, yang harus diperbaiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para da'i 
seharusnya siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sebelumnya tidak 
pernah keluar (atau tidak berani) ditanyakan oleh generasi-generasi zaman 
mereka. Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap "kafir" 
oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak-anak yang sejak 
kecil (terutama yang dibesarkan di negaranegara barat) yang kritis dan tidak mau 
menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan yang masuk akal mereka. Dan saya 
rasa pertanyaan-pertanyaan macam ini cepat atau lambat akan keluar juga dari 
para generasi muda akibat era globalisasi di mana pertukaran informasi di bumi 
sudah terjadi dan tidak bisa dihindarkan lagi. Dan bila tidak ada yang care 
terhadap masalah ini, tidak mustahil tidak sedikit generasi muda yang bingung 
dan berpandangan liberal yang menghalalkan segala-galanya, atau berpandangan 
extrim yang mudah termakan emosi dan membuat konflik di masyarakat, atau bisa 
pula menjadi ragu dan keluar dari agama. Ini semua muncul akibat pemahaman agama 
yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan saya, perasaan sensitif anak-anak muda 
terhadap agama ini bisa dipengaruhi pula oleh pandangan mereka terhadap tingkah 
laku orang-orang tua (terutama para ulama atau ustadz) yang mereka anggap 
merupakan contoh "ideal" dari orang-orang yang ahli agama. Ketika ada orang tua 
atau ulama yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, image agama orang 
tersebut turut menjadi buruk dalam pandangan mereka. Kekaguman mereka terhadap 
seorang ustadz misalnya berubah menjadi kebencian (bukan hanya terhadap sang 
ustadz tapi juga terhadap agamanya) setelah mengetahui "kekurangan" dari ustadz 
tersebut. Karena itu tidak aneh kalau ada anak muda yang KTPnya Islam 
berkomentar "Ah agama apaan tuh, ngajarinnya cuma kawin melulu!" atau "Ah, nggak 
usah capek-capek belajar Islam, tuh lihat orang ahli Islam aja tingkah lakunya 
seperti itu!" - akibat kecewa melihat "kemunafikan" orang-orang yang sebelumnya 
diidolakan. Mereka menilai suatu agama dari perbuatan pemeluk-pemeluknya, serupa 
dengan banyak orang di banyak negara yang menilai Islam sebagai agama yang buruk 
akibat melihat perbuatan buruk pemeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa pula kekecewaan 
mereka timbul akibat melihat pertikaian yang tidak kunjung habis antara intern 
pemeluk agama sendiri, baik yang berbeda pandangan atau pun akibat banyaknya 
sekte-sekte di dalam Islam. Bagi banyak orang mungkin banyaknya paham-paham 
dalam Islam ini membuat mereka bingung sehingga feel frustrated dalam memahami 
perbedaan-perbedaan yang ada ini. "Islam yang mana?" menjadi pertanyaan yang 
tidak asing lagi di telinga kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap-tiap pandangan yang berbeda 
sama-sama berusaha mendasarkan pandangannya dengan Qur'an maupun hadits Nabi. 
"Islam warna-warni", "Islam multi-interpretasi", "jangan mengklaim kebenaran 
sendiri", dll, juga sering terlontar secara apriori tanpa ada usaha melihat dan 
menganalisa setiap pandangan yang berbeda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kerangka dasar 
dalam berpikir atau berargumentasi yang benar dipahami oleh setiap Muslim 
terutama para generasi mudanya sehingga mereka dapat meresponse dengan baik 
argument-argumen yang banyak ditemui dalam pergolakan pemikiran (ghazwul fikr) 
baik dari kalangan internal (paham liberalism, extremism, sectarians, dll) dan 
kalangan external (atheism, orientalism, missionaries, Islamophobic, 
dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya para ulama sejak dulu dalam membahas masalah-masalah 
agama, baik itu dalam hal ushul fiqh, ibadah, aqidah, maupun muamalah, selalu 
menggunakan metode-metode maupun kerangka berpikir yang bisa dijumpai dalam 
kitab-kitab mereka. Sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini sering 
hilang dalam argument-argument orang Islam ketika meresponse pendapat yang 
berbeda, yang sering kali lebih terasa nada emosionalnya daripada bobot 
argumentnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari 
kesalahan-kesalahan dalam berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini 
antara lain: 
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Inconsistent": Contohnya si A bilang "Sirah dan hadits tidak 
bisa dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal". Tapi ketika A 
ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad, atau dari 
mana ia tahu Qur'an yang ia percayai terjaga kemurniaannya sejak zaman Nabi 
sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis sirah dan hadith, ini namanya 
inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah dan hadits, mengapa masih dipakai untuk 
dasar keimanannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika 
menghujat Nabi SAW dengan leluasa menggunakan cuplikan-cuplikan hadits dan sirah 
sesukanya (Nabi berpoligami, kisah-kisah dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi 
ketika ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan 
tanda-tanda kenabian Nabi seperti mu'jizat-mu'jizat beliau, mereka berkomentar 
bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh sesudah Nabi 
wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih dipakai untuk menghujat 
Nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang 
pada kenyataannya jelas-jelas berbeda. Kalau ada orang yang bilang "Semua 
interpretasi atau tafsiran agama adalah sah-sah saja dan benar adanya karena 
kebenaran itu relatif sifatnya", maka ia harus bisa konsisten untuk tidak 
menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh orang-orang tak 
berdosa, atau pendapat-pendapat yang menghalalkan sex bebas, incest, dlsb, 
dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan orang tidak ada 
salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu bilang halal, yang lain 
bilang haram, benar kedua-duanya? Kalau kita mau jujur, kita akan mengakui bahwa 
"logical circuit" dalam otak kita jelas menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Incomprehensive": Si A bilang "Orang Islam diajarkan Qur'an 
ayat 5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang-orang non-Muslim." 
Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata-kata, context maupun 
historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan ayat tsb 
seharusnya tahu ada ayat-ayat Al Qur'an lain yang menjelaskan lebih jauh 
mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang partial terhadap hal-hal 
ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Out-of-context": Si A bilang "Dalam Al Qur'an ayat 9:5, orang 
Islam diperintahkan membunuh orang-orang musyrik di mana saja mereka jumpai". Si 
A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum mengambil kesimpulan 
demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang-orang kafir Quraisy serta 
sekutu-sekutu mereka yang memerangi umat Islam saat itu).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Generalization": Ini serupa dengan pepatah "Karena nila 
setitik rusak susu sebelanga". Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena 
di antara pemeluk-pemeluknya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan dalih 
agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya, mayoritas umat 
Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang teguh pada 
prinsip-prinsip agama yang jelas-jelas melarang aksi terorisme. Apakah 
orang-orang Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama penjajah 
"gold-glory-gospel" karena perlakuan sebagian kelompok mereka terhadap 
bangsa-bangsa di dunia?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Double-standard": Si A yang beragama Kristen bilang "Islam 
adalah agama palsu karena Nabinya berpoligami". Seharusnya si A tahu bahwa 
Nabi-nabi yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang 
mengutuk pembunuhan orang-orang tak bersalah sebagai perbuatan terorisme, tapi 
di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah melabelnya sebagai 
"collateral damage". Dengan menggunakan standard yang sama, pembunuhan 
orang-orang tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai tindakan terorisme, tidak 
peduli siapa korban dan siapa pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Straw-man" : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya 
(biasanya dicampur "half-truth" atau "twisted-truth"). Misalnya si A menuduh "Al 
Qur'an merendahkan status wanita di bawah status laki-laki". Meskipun dalam 
Qur'an disebutkan "Laki-laki adalah pelindung/pemimpin kaum wanita" ini tidak 
berarti di dalam Islam status wanita itu lebih rendah dari status laki-laki 
karena masing-masing memiliki role yang berbeda dalam pandangan Allah 
SWT.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Red-herring" : mengalihkan subject sehingga bukan membahas 
argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya, ketika si A 
ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya menjawab pertanyaan tsb, si 
A malah membawa tuduhan banyaknya kontradiksi di dalam Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Appeal to authority": Si A bilang ke si B "Argument anda pasti 
salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli dalam bidang 
ini". Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan merefer ke authority 
yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si professor yang disebutnya 
tadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
"Ad-hominem" (argument to the man): bukan argumentnya yang 
dibahas, tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan 
dengan argument yang didebatkan. Misalnya, "Pendapat si A itu sudah pasti salah 
karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren", atau "Ah, pendapat si B yang 
playboy kayak gitu kok dibahas!". Padahal logis tidaknya suatu argument tidak 
bisa ditentukan dari pribadi orang yang berargument. Dalam beargumentasi, yang 
harus dilihat adalah argumentnya, jangan diserang orangnya.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir hanyalah "tool" (framework) yang 
bisa digunakan dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan 
masalah-masalah agama, tapi juga masalah-masalah dalam hidup lainnya. Karena 
hanya general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa saja. 
Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang-orang non-Muslim 
orang-orang Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan mengetahui 
kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini, metode dalam 
memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama dapat dimengerti, 
sehingga diskusi-diskusi maupun debatdebat dalam memahami agama dapat berjalan 
dengan baik, dengan menganalisa argument masing-masing pihak yang berbeda, tanpa 
menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan perpecahan yang tidak diinginkan 
bersama bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan ada manfaatnya&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD8NYsb_fNa_C195j4Pu13wJbPk85EaCcBexmdbbjHZvVtO9gYOQoySfRfHyJbxJh6inTmo3S4pqvQM8T5aw1r8cIhfs9qlOeV5skpvv9H1RuZY86HoCdjJtJUTXQZmx1Cn4kImbbjgqY/s72-c/Berpikir+logis.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SESEORANG DALAM MENUNTUT ILMU</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/hal-hal-yang-harus-dilakukan-seseorang.html</link><category>DAKWAH</category><category>MUDZAKAROH</category><category>MUSLIM</category><category>PENDIDIKAN</category><category>ULAMA</category><pubDate>Sun, 14 Oct 2012 11:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-6605053007983670354</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRBeGcgJ6Pb7WEAnisNO5rvXcDXUJ6pY7bxjiAWntgnJjJZiE6R-3Glj20hIFHPOzpXHbORF_gwZU5thyphenhyphenqFJr0dpMm15h0kuKzrWoSGyyFKNaVo9Y3DY92arjnDr3gJ68_Kp5Fq5h5Pb8/s1600/santri_pesantren_pakarfisika.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRBeGcgJ6Pb7WEAnisNO5rvXcDXUJ6pY7bxjiAWntgnJjJZiE6R-3Glj20hIFHPOzpXHbORF_gwZU5thyphenhyphenqFJr0dpMm15h0kuKzrWoSGyyFKNaVo9Y3DY92arjnDr3gJ68_Kp5Fq5h5Pb8/s320/santri_pesantren_pakarfisika.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ada beberapa hal yang seyogyanya seorang penuntut ilmu menghiasi diri dengannya, 
karena hal itu akan membantu dia dalam mencari ilmu atau mengokohkan ilmunya. 
Diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Bertaqwa kepada Allah SWT&lt;/b&gt;Dalam firmanNya, 
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah maka allah 
akan menjadikan untuk kalian furqon (pembeda) “ (QS. Al Anfaal;29). Dijelaskan 
oleh Ibnu Utsaimin, Allah akan menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian 
pakai untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, manfaat dan mudharat, dan 
ini masuk didalamnya ilmu. Dimana Allah akan membukakan untuk seseorang 
ilmu-ilmu yang tidak dibukakan untuk selainnya. Karena dengan bertaqwa akan 
diperoleh petunjuk, tambahan ilmu, dan tambahan hapalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin 
Mas’ud mengatakan, “Belajarlah, barangsiapa telah berilmu maka hendaklah beramal 
“. Beliau juga berkata, “Sungguh aku menyangka bahwa seseorang akan lupa ilmunya 
dengan sebab dosa yang dia lakukan “ (Adab Syar’iyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Memulai 
dengan yang lebih penting&lt;/b&gt;Hal ini disebabkan karena terbatasnya 
kesempatan dan kemampuan, sementara ilmu yang akan dituntut sangat banyak. Ada 
sebuah ucapan dari seorang penyair:&lt;br /&gt;Ilmu itu jika kamu cari sangat 
banyak&lt;br /&gt;Sedang umur untuk mendapatkannya terlalu pendek&lt;br /&gt;Maka mulailah 
dengan yang paling penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Sabar dan kontinyu dalam menuntut 
ilmu&lt;/b&gt;Yahya bin Abi Katsir al Yamami berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat 
dengan jasmani yang santai “ (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat 
Shalawat Khams). Demikian pula sebagian salaf mengatakan, “Ilmu, jika engkau 
berikan seluruh dirimu untuknya, dia akan memberimu sebagiannya.” Begitulah para 
ulama terdahulu, mereka tidak mencapai derajat yang mereka capai kecuali dengan 
kesabaran dan kesinambungan dalam menuntut ilmu. Sufyan Ats Tsauri berkata, 
“Kita akan belajar terus selama kita mendapati ada yang mengajari kita “ (Adab 
Syar’iyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Menulis&lt;/b&gt;Yakni menulis ilmu yang diperoleh baik 
dalam kajian atau dari bacaan atau yang lain. Dan jangan menerima ilmu hanya 
sepintas lalu karena hal ini akan menghilangkan ilmu yang didapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. 
Menjaga Ilmu&lt;/b&gt;Diantaranya dengan menjaga catatan. Oleh karena itu, 
semestinya menulis ilmu tersebut pada buku catatan yang layak, bukan sembarang 
kertas, sehingga hal ini akan membantu dia untuk menjaganya. Atau menjaga ilmu 
tersebut dengan menghapalnya sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu 
maupun sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Mulazamah&lt;/b&gt;Yakni berguru kepada seorang 
ulama dan bersamanya dalam waktu yang lama. Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Wajib 
bagi setiap penuntut ilmu untuk memohon pertolongan kepada Allah kemudian minta 
bantuan kepada para ulama dan memanfaatkan apa yang telah mereka tulis. Karena, 
kalau hanya dengan membaca dan mentelaah, membutuhkan waktu yang banyak. Ini 
berbeda ketika duduk dengan seorang alim yang bisa menerangkan kepadanya dan 
menunjuki jalannya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu tidak akan didapat kecuali 
dari seorang guru, akan tetapi cara yang paling baik adalah mengambil ilmu dari 
para guru .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sumber :Kitabul Ilmi Dikutip dari majalh 
Asy-Syariah&lt;/b&gt; </description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRBeGcgJ6Pb7WEAnisNO5rvXcDXUJ6pY7bxjiAWntgnJjJZiE6R-3Glj20hIFHPOzpXHbORF_gwZU5thyphenhyphenqFJr0dpMm15h0kuKzrWoSGyyFKNaVo9Y3DY92arjnDr3gJ68_Kp5Fq5h5Pb8/s72-c/santri_pesantren_pakarfisika.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>HAL-HAL YANG MERUSAK TALI PERSAUDARAAN</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/hal-hal-yang-merusak-tali-persaudaraan.html</link><category>HAKIKAT</category><category>MUDZAKAROH</category><category>MUSLIM</category><category>RENUNGAN</category><pubDate>Sun, 14 Oct 2012 07:50:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-1507205593508424604</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI3duA10PvVoL4XdaTY54kkX-FL0cpPpA2gsm6FZaZ1lfx3brN95zqJXAOlPn5O7TTIBZGlZgbA0ccNUmavqWx6fJvu951UC-mLeUa42zmcuFHas8U7NKIKtGO-XtNh1hwsS0ck-sE5L8/s1600/ilustrasi-_120815204904-516.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="189" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI3duA10PvVoL4XdaTY54kkX-FL0cpPpA2gsm6FZaZ1lfx3brN95zqJXAOlPn5O7TTIBZGlZgbA0ccNUmavqWx6fJvu951UC-mLeUa42zmcuFHas8U7NKIKtGO-XtNh1hwsS0ck-sE5L8/s320/ilustrasi-_120815204904-516.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena 
itu damaikanlah antara kedua saudaramu…." &lt;br /&gt;(Al-Hujurat: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kami 
lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka 
merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."(Al-Hijr: 47). 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan 
persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan karena Allah telah 
kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu 
setiap individu berada dalam kehidupan yang sulit, merasa terpisah menyendiri 
dari masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka 
telah tercemari oleh hal-hal yang dapat merusak persaudaraan, yang terkadang 
mereka menyadari hal tersebut, dan terkadang tidak menyadarinya. Oleh sebab itu, 
kami akan mencoba memaparkan beberapa hal yang dapat merusak persahabatan dan 
persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadis dan 
perkataan para ulama' salaf mengenai hubungan persaudaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah 
hadis yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah 
di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah menyebutkan salah satu 
di antaranya adalah, "Dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena 
Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya."(HR Bukhari dan Muslim). Dan di 
dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai 
karena-Ku, berhak atas kecintaan-Ku…."(HR Malik dan Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin 
Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau 
menjawab, "Ketika bertemu dengan saudara-saudara (sahabat-sahabat), dan 
membahagiakan mereka." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan berkata, "Kami lebih mencintai 
sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, karena sahabat-sahabat kami 
mengingatkan kami akan kehidupan akherat, sedangkan keluarga kami mengingatkan 
kami akan kehidupan dunia." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid bin Shafwan berkata, "Orang yang 
lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah beberapa 
perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadis, maupun perkataan para 
ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. 
Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh memegangi hidayah? Siapakah 
yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika 
dirundung bencana dan malapetaka? Karena itu Umar pernah berkata, "Bertemu 
dengan para ikhwan bisa menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati." 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan 
mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan carut marut. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, di antaranya adalah; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. 
Tamak dan rakus terhadap dunia, terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain. 
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. Bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan 
mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan 
mencintai kamu."(HR Ibnu Majah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu tertimpa musibah, mintalah 
musyawarah kepada saudaramu dan jangan meminta apa yang engkau butuhkan. Sebab 
jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk 
menolongmu, tanpa harus meminta atau meneteskan air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Maksiyat 
dan meremehkan ketaatan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa 
dzikir dan ibadah, saling menasehati, mengingatkan dan memberi pelajaran, 
berarti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh 
kerasnya hati dan hal itu bisa mengakibatkan terbukannya pintu-pintu kejahatan 
sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. 
Padahal Rasulullah saw. Bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim 
yang lain, tidak mendzoliminya dan tidak menghinakannya. Demi Dzat yang jiwa 
Muhammad ada di tangan-Nya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian 
dipisahkan antara keduanya kecuali hanya karena satu dosa yang dilakukan oleh 
salah seorang dari keduanya."(HR Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayim, dalam kitab 
"Al-Jawabul Kafi" mengatakan, "Di antara akibat dari perbuatan maksiyat adalah 
rasa gelisah (takut dan sedih) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiyat itu 
untuk bertemu dengan saudara-saudaranya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang ahli maksiyat dan 
kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar 
ketakwaan melainkan atas dasar materi sehingga akan dengan mudah berubah menjadi 
permusuhan. Bahkan hal itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah swt. 
Berfirman, "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi 
sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."(Az-Zukhruf: 67). 
Sedangkan persahabatan karena Allah, akan terus berlanjut sampai di surga, 
"…sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas 
dipan-dipan."(Al-Hijr: 47). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Tidak menggunakan adab yang baik 
(syar'i) ketika berbicara. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara dengan saudara atau 
kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman, 
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'hendaklah mereka mengucapkan kata-kata 
yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di 
antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi 
manusia'."(Al-Isra: 53). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis Nabi saw. Bersabda, "Kalimah 
thayibah adalah shadaqah."(HR Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Tidak memperhatikan 
apabila ada yang mengajak berbicara dan memalingkan muka darinya. 
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama salaf berkata, "Ada seseorang yang menyampaikan hadis 
sedangkan aku sudah mengetahui hal itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan 
tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai 
berbicara." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Banyak bercanda dan bersenda gurau. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berapa 
banyak orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda 
dan senda gurau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Banyak berdebat dan berbantah-bantahan. 
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terkadang hubungan persaudaraan terputus karena terjadinya 
perdebatan yang sengit yang bisa jadi itu adalah tipuan setan. Dengan alasan 
mempertahankan akidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan 
dirinya dan kesombongannya. Rasulullah saw. Bersabda, "Orang yang paling dibenci 
di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya."(HR Bukhari dan 
Muslim). Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka menggelar perdebatan, 
adu argumen dan pendapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi debat dengan cara yang baik untuk 
menerangkan kebenaran kepada orang yang bodoh, dan kepada ahli bidah, hal itu 
tidak masalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka hal itu tidak 
diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan 
diri, hal itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bisa saja dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan 
hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang 
lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Berbisik-bisik (pembicaraan rahasia) 
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbisik-bisik adalah merupakan hal yang sepele tetapi mempunyai 
pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan 
persaudaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. Berfirman, "Sesungguhnya pembicaraan rahasia 
itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman berduka 
cita…."(Al-Mujadalah: 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, "Jika kalian bertiga, 
maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang 
ketiga karena itu akan bisa menyebabkannya bersedih."(HR Bukhari dan Muslim). 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berkata, "Setan akan membisikkan kepadanya dan berkata, 
'Mereka itu membicarakanmu'." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta 
idzin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik (berbicara rahasia). 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: di adaptasi dari tulisan berjudul Hal-hal yang Merusak Ukhuwah 
karya Syaikh Saad Al-Ghinaam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI3duA10PvVoL4XdaTY54kkX-FL0cpPpA2gsm6FZaZ1lfx3brN95zqJXAOlPn5O7TTIBZGlZgbA0ccNUmavqWx6fJvu951UC-mLeUa42zmcuFHas8U7NKIKtGO-XtNh1hwsS0ck-sE5L8/s72-c/ilustrasi-_120815204904-516.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>JENIS DAN MACAM-MACAM JIN</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/jenis-dan-macam-macam-jin.html</link><category>HAKIKAT</category><category>METAFISIKA</category><category>RENUNGAN</category><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 17:02:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-4228673910848366974</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTqsQT3TAYQ_2gOK9gpH9Ctuw4nR4BFztAcGxn-R43OHBHOcBpMRsPf59kUbEFuEHhrxBNzvCKske4kAJ1fi29kunvP53lANQIwoYx7rQmcPjZh2Xhd_1XKN3nKZovwaB3zxE3Jc3ZIkk/s1600/jin-genie.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTqsQT3TAYQ_2gOK9gpH9Ctuw4nR4BFztAcGxn-R43OHBHOcBpMRsPf59kUbEFuEHhrxBNzvCKske4kAJ1fi29kunvP53lANQIwoYx7rQmcPjZh2Xhd_1XKN3nKZovwaB3zxE3Jc3ZIkk/s320/jin-genie.gif" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Dari beberapa ayat Alquran, para ulama memahami bahwa jin 
memiliki kelompok-kelompok, bahkan masyarakat jin itu tidak ubahnya seperti 
masyarakat manusia.&amp;nbsp; Allah SWT berfirman yang artinya, "Hai jamaah/kelompok jin 
dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, 
maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya, melainkan dengan kekuatan." 
(Ar-Rahman: 33). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata jamaah/kelompok yang ditujukan kepada jin dan 
manusia menunjukkan bahwa antara masing-masing jenis itu --manusia dan jin-- 
terdapat ikatan yang menyatukan anggota-anggotanya. Ini juga sejalan dengan 
petunjuk dalam Alquran surah Al-A'raf: 38 yang menyifati, baik manusia maupun 
jin, dengan kata umum (jamak: umat), yakni sekelompok makhluk yang memiliki 
ikatan karena adanya persamaan-persamaan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, banyak 
ulama menegaskan bahwa jin, sebagaimana semua makhluk ciptaan Allah, terdiri 
dari dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Hal ini sejalan dengan hakikat 
yang ditegaskan oleh Allah antara lain dalam surah Yasin: 36, "Maha suci (Tuhan) 
yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang 
ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka 
ketahui." Disebutkan di dalam surah Al-Jin: 6, "Ada beberapa orang laki-laki di 
antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin …." 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keterangan dari Alquran, juga disebutkan di dalam hadis yang 
diriwayatkan melalui sahabat Anas bin Malik r.a. yang berkata bahwa Nabi saw. 
apa bila masuk ke toilet membaca, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari 
gangguan jin laki-laki dan jin perempuan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bangsa jin itu 
berjenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan, maka mereka pun berhubungan 
seks. Jumlah jin juga sangat banyak, "Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka 
Jahanam banyak dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak 
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) danmrk mempunyai mata (tetapi) 
tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka 
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat 
Allah)." (Al-A'raf: 179). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Nabi saw., Abu Hurairah r.a., 
menceritakan bahwa ia ditugaskan oleh Rasulullah saw. menjaga zakat pada bulan 
Ramadan. Pada suatu malam ia kedatangan seorang yang merangkak untuk mengambil 
makanan. Abu Hurairah menangkapnya sambil berkata, "Demi Allah, engkau pasti 
kubawa kepada Rasulullah saw." Yang ditangkap itu berkata, "Aku perlu dan aku 
mempunyai anak-anak (keluarga)." Maka, Abu Hurairah melepaskannya. Peristiwa 
serupa terulang, dan pada malam ketiganya Abu Hurairah berkeras membawanya 
kepada Rasulullah saw. Yang ditangkap itu mengimbau sambil mengajarkan kepada 
Abu Hurairah agar membaca ayat Kursi sebelum tidur supaya terpelihara dari 
gangguan setan. Keesokan harinya Nabi saw. bertanya kepada Abu Hurairah apa yang 
dialaminya semalam, dan setelah dijelaskannya, Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya 
ia telah berucap benar kepadamu, walau sebenarnya dia pembohong. Tahukah engkau 
siapa yang engkau ajak berbicara sejak tiga malam?" "Tidak!" (jawab Abu 
Hurairah). Sabda Nabi saw., "Itulah setan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat tersebut 
terlihat bahwa setan mempunyai anak dan keluarga dan bahwa dia membutuhkan pula 
makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin dapat Terlibat dalam Hubungan Seks antara Suami dan Istri 
dari Golongan Manusia Jin dapat terlibat dan ikut berhubungan seks dengan 
istri-istri manusia serta anak-anak mereka. Hal ini dapat dipahami dari 
penggalan sebuah ayat yang berbunyi, "… berserikatlah dengan mereka pada harta 
dan anak-anak, ….". Oleh karena itu, Nabi saw. mengajar pasangan suami istri 
agar berdoa sebelum melakukan hubungan seks dengan membaca, yang artinya, "Ya 
Allah, hindarkanlah kami dari setan dan hindarkan pula setan dari rezeki yang 
Engkau anugerahkan kepada kami." (HR Bukhari dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Macam-Macam 
Jin &lt;/b&gt;Dalam konteks pembicaraan tentang jenis-jenis makhluk halus ini, ada 
beberapa riwayat yang menjelaskannya. Rasulullah saw. bersabda, "Jin ada tiga 
macam. Ada yang memiliki sayap terbang di udara, ada yang berupa ular dan 
anjing, serta ada juga yang bermukim dan berpindah-pindah." Hadis ini 
diriwayatkan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami' al-Shagir, demikian juga 
Al-Hakim. Kedua ulama ini menilai bahwa riwayat di atas sahih. Namun, ulama 
lainnya menilai bahwa kedua ulamat tersebut cenderung longgar dalam penilaian 
mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat lain dari pakar hadis Ibnu Abi Addunya di dalam Makaaid 
asy-Syaithan melalui Abu Darda r.a., bahwa Nabi saw. bersabda, "Allah 
menciptakan jin tiga macam. Ada yang berupa ular, kalajengking dan bermukim atau 
berpindah-pindah, dan ada juga jenis yang akan dimintai pertanggungjawaban serta 
siksa. Allah menciptakan manusia tiga macam pula, ada yang semacam binatang, 
"Allah berifmran, 'Mereka mempunyai kalbu, tetapi mereka tidak menggunakannya 
untuk mengetahui, mereka mempunyai mata, tetapi tidak menggunakannya untuk 
melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak menggunakannya untuk mendengar; 
dan ada juga yang jasmaninya, jasmani manusia, tetapi jiwanya jiwa setan, dan 
ada lagi yang berada di bawah naungan Allah, pada hari tiada naungan kecuali 
naungan-Nya (hari kiamat)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentetan perawi hadis ini, terdapat 
orang-orang yang dinilai lemah, sehingga tidak sedikit ulama yang menilai hadis 
ini lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Utsman Sa'id bin Al-Abbas ar-Razi meriwayatkan dari Ibn 
Abbas, katanya, "Sesungguhnya anjing merupakan jenis jin yang lemah, siapa yang 
didatangi oleh anjing pada makanannya, segeralah makan makanan itu atau 
ditunda." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin Mughaffal, Nabi 
saw. bersabda, "Kalaulah anjing itu bukan suatu umat, niscaya aku perintahkan 
kalian untuk membunuhnya. Maka, bunuh saja anjing yang hitam legam." At-Tirmizi 
meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal dengan lafal yang lain, "Kalaulah 
anjing itu bukan suatu umat, niscaya aku perintahkan kalian untuk membunuhnya. 
Maka, bunuhlah darinya yang hitam legam saja." Muslim meriwayatkan dengan 
redaksi, "Berhati-hatilah terhadap yang hitam legam yang mempunyai dua titik 
(bintik), karena sesungguhnya itu setan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah juga menambahkan, 
"Jalannya anjing yang hitam dapat memutuskan salat." Lalu, ditanya kepada 
beliau, "Bagaimana dengan anjing berwarna merah, putih, selain warna hitam?" 
Beliau menjawab, "Anjing hitam adalah setan." (HR Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Abu 
Ya'la mengatakan, "Jika ada orang yang bertanya pengertian ucapan Rasul bahwa 
anjing hitam adalah setan, padahal diketahui ia lahir dari anjing itu sendiri, 
atau unta dikatakan sebagai jin, padahal ia lahir dari unta juga, maka 
jawabannya, beliau mengatakan itu untuk menyerupakannya dengan jin, karena 
anjing hitam adalah anjing yang paling berbahaya dan paling sedikit kegunaannya 
dibandingkan anjing-anjing lain, sedangkan diserupakannya unta dengan jin karena 
sulit jangkauannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thabarani dan Abu asy-Syaikh dalam kitab 
Al-Azhamah meriwayatkan sebuah hadis sahih dari Ibn Abbas, ia berkata, 
Rasulullah bersabda, "Ular adalah perubahan bentuk jin, sebagaimana perubahan 
kera dan babi dari Bani Israel." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Jabir 
bahwa Rasulullah mengatakan, "Hati-hatilah kalian berjalan di malam hari, karena 
bumi tersembunyi di malam hari; jika hantu menjelma di hadapan kalian hendaklah 
kalian mengumandangkan azan." (Lihat Jam'ul Jawami' oleh As-Suyuthi) 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi: &lt;br /&gt;1. Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam 
Jalaluddin as-Suyuthi &lt;br /&gt;2. Yang Tersembunyi: Jin Iblis, Setan, &amp;amp; Malaikat 
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa 
kini, M. Quraish Shihab &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTqsQT3TAYQ_2gOK9gpH9Ctuw4nR4BFztAcGxn-R43OHBHOcBpMRsPf59kUbEFuEHhrxBNzvCKske4kAJ1fi29kunvP53lANQIwoYx7rQmcPjZh2Xhd_1XKN3nKZovwaB3zxE3Jc3ZIkk/s72-c/jin-genie.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>HAKIKAT DAN MAKNA DAKWAH</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/hakikat-dan-makna-dakwah.html</link><category>DAKWAH</category><category>HAKIKAT</category><category>MORAL</category><category>PEMIMPIN</category><category>PENDIDIKAN</category><category>SEJARAH ISLAM</category><category>SYARIAH</category><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 16:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-883587638661933970</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFqluUtgfdXv9TcGdt9-rQNKr3dEFUpSfwov19G5gN4qL9KeN0cwrS95Uq_lcshEvR8io1ps25PWaYDKmcKOVMmm29ufz8t6PGfFMF221W7lTRi9lDvSwqvARfnNEPDYFl-qWdOzCqKBA/s1600/dakwah-itu-adalah-proses-bukan-hasil-akhir.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFqluUtgfdXv9TcGdt9-rQNKr3dEFUpSfwov19G5gN4qL9KeN0cwrS95Uq_lcshEvR8io1ps25PWaYDKmcKOVMmm29ufz8t6PGfFMF221W7lTRi9lDvSwqvARfnNEPDYFl-qWdOzCqKBA/s1600/dakwah-itu-adalah-proses-bukan-hasil-akhir.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di tengah-tengah masyarakat, kata da'wah lebih sering diidentikkan dengan 
ceramah. Padahal, ceramah hanyalah bagian kecil dari da'wah, sebab, kita semua 
tahu bahwa semenjak usia 40 tahun sampai kembali kepada Allah, keseluruhan hidup 
Rasulullah saw adalah untuk da'wah. Namun, jika seluruh ceramah-ceramah 
Rasulullah saw kita kumpulkan, pastilah tidak akan sampai berjilid-jilid, 
paling-paling satu jilid sedang saja. Oleh karena itu, kita perlu menengok 
kembali apa makna da'wah itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa kita,&amp;nbsp; bisa diartikan: 
&lt;br /&gt;-Mencenderungkan.&lt;br /&gt;-Mencondongkan.&lt;br /&gt;-Membuat tertarik.&lt;br /&gt;-Membuat 
terpancing, atau semacamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam 
berda'wah; diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Secara bahasa, bila ada seekor ayam lewat 
dihadapan kita, lalu kita berusaha memancing perhatiannya agar menoleh kepada 
kita, lalu kita katakan: kuuur ... kuuur ..., maka, sekali lagi, secara bahasa, 
kita bisa dikatakan menda'wahi ayam itu. Beda lagi kalau yang hendak kita 
pancing perhatiannya itu adalah seekor kucing, maka untuk menda'wahinya kita 
tidak mengatakan kuuur ... kuuur ..., akan tetapi kita katakan: pus ... pus ... 
pus. Ini mengajarkan kepada kita bahwa, perbedaan "obyek" da'wah mengharuskan 
adanya perbedaan cara dan metode da'wah yang kita pakai. Menda'wahi mahasiswa 
berbeda dengan menda'wahi dosen. Berda'wah di kalangan birokrat berbeda dengan 
da'wah di tengah-tengah masyarakat, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sebagai seorang 
da'i, kita harus aktif, selalu sebagai pihak yang berinisiatif, dan bahkan pro 
aktif. Ingat kata-kata Ibnu Faris: engkau berusaha membuat mail ... Sikap pasif 
dalam berda'wah tidaklah dibenarkan. Bahkan, dalam tinjauan dakwah, sikap 
reaktif-pun (dalam arti, setelah ada aksi dari orang lain, kita sebagai da'i 
baru mengambil sikap), tidaklah dibenarkan, meskipun harmoni da'wah terkadang 
menuntut kita untuk melakukan sikap reaktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Yang menjadi incaran para 
da'i adalah bagaimana "obyek" dakwah itu tertarik, terpancing perhatiannya, 
cenderung dan condong kepada sang da'i. Ini berarti pula bahwa sang da'i harus: 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.Memiliki daya tarik yang membuat "obyek" da'wah cenderung kepadanya, 
apa saja hal-hal yang menarik itu (tentunya dengan syarat tidak bertentangan 
dengan syari'at Islam), mulai dari komitmen diri, shidq (benar), penampilan, 
tutur tata, metodologi, gaya bicara, ilustrasi, cara pemaparan informasi dan 
pengetahuan, dan ... (singkatnya) segala nilai plus yang mungkin kita memiliki, 
sebab, "gara-gara" nilai plus (positif) yang dimilikinya, proton berhasil 
membuat elektron selalu berada di dekatnya, bahkan ber-thawaf (atau istilah 
da'wahnya: yaltaffuuna haulana) secara terus menerus, sebagaimana thawafnya 
manusia di sekeliling Ka'bah. Atau dalam bahasa fisika yang lain bisa kita 
katakan: dengan nilai plus itulah kita akan menjadi magnit yang menyebabkan 
segala unsur yang sangat berdaya guna (seperti biji-biji besi) selalu menempel 
kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ii.Mengetahui pintu-pintu dan celah-celah hati, kejiwaan, dan 
kecenderungan "obyek" da'wah, agar bisa dengan mudah dan efektif dalam memikat 
dan menarik perhatian "obyek" da'wahnya itu. Tentunya hal ini menuntut adanya 
pengetahuan sang da'i secara mendalam tentang keseluruhan pribadi "obyek" da'wah 
itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena inilah barangkali (wallahu a'lam), salah seorang da'i abad 
20 ini menulis buku dengan judul: ad-da'watu ilallah hubbun (da'wah kepada Allah 
itu cinta), dan ath-thariiq ilal qulub (jalan masuk menuju hati), yaitu Syekh 
Abbas-As-Sisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah dua contoh dari apa yang telah kami 
sebutkan di muka: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pada sekitar tahun 11 dari kenabian Muhammad saw, 
dan setelah ada beberapa orang Yatsrib (sekarang Madinah) memeluk Islam, 
Rasulullah saw mengutus Mush'ab bin 'Umair Radhiyallahu 'anhu sebagai muqri' 
(guru dan da'i) ke Yatsrib, untuk mendidik para muslim baru dan menda'wahi 
masyarakat yang belum memeluk Islam. Mush'ab bin 'Umair adalah salah seorang 
sahabat nabi yang sangat lembut tutur katanya, atau istilahnya hulwal kalam 
(omongannya manis). Pernah suatu kali ia kedatangan Usaid bin Khudhair (waktu 
itu masih musyrik) yang bermaksud mengusirnya dari Yatsrib. Namun dengan 
kelembutan tutur katanya, dan dengan kebaikan perangainya, ditambah dengan 
keindahan bacaan Al Qur'annya, Mush'ab bin 'Umair berhasil "menundukkan" dan 
melunakkan hati Usaid bin Khudhair, sehingga memeluk Islam. Begitu juga saat 
bertemu dengan S'ad bin Mu'adz (waktu itu masih musyrik). Semoga Allah meridhai 
mereka semua, amiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pada suatu kali Hasan Al Banna diundang oleh 
murid-muridnya untuk menjadi penceramah acara tabligh akbar di sebuah daerah 
yang didominasi oleh tokoh-tokoh tarekat (tsawuf). Para tokoh terakat dan 
murid-muridnya telah menyusun sebuah rencana untuk menggagalkan acara tabligh 
akbar tersebut atau mengacaukannya. Mereka semua berkumpul untuk mematangkan 
rencana tersebut. Tiba-tiba mereka mendengar suara pintu terketuk dengan suara 
salamnya yang lembut. Mereka bertanya: "Siapa?". Si pengetuk menjawab: "Hasan". 
Kata mereka: "Hasan siapa?". Si pengetuk menjawab: "Hasan Al Banna". Mereka 
kaget dan terkejut, lalu mempersilahkan Hasan Al Banna masuk. Setelah berada di 
tengah mereka, Hasan Al Banna berkata: "Kami datang ke sini untuk meminta izin 
dari para syekh di sini. Hari ini saya diundang oleh anak-anak muda untuk 
menyampaikan ceramah kepada mereka. Namun karena daerah ini adalah wilayah para 
syekh, maka saya meminta izin kepada para syekh di sini, bila diijinkan, saya 
akan berceramah di hadapan mereka, bila tidak, maka hal ini menjadi hak para 
syekh di sini". Mendengar dan melihat sikap baik Hasan Al Banna seperti ini, 
maka majlis syuyukh (para syekh) yang tadinya berkumpul untuk membuat konspirasi 
itu, akhirnya bersepakat untuk mempersilahkan Hasan Al Banna menyampaikan 
ceramahnya di hadapan para pemuda, bahkan para syekh memobilisasi para muridnya 
untuk ikut serta mendengarkan ceramah Hasan Al Banna, semoga Allah merahmatinya, 
amiiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah swt … &lt;br /&gt;Marilah sekali 
lagi kita tarbiyah diri kita agar memiliki nilai plus, sehingga kita menjadi 
manusia-manusia magnit yang mampu menghimpun segal apotensi ummat Islam bersatu 
dalam membela kebenaran, amiiin. &lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFqluUtgfdXv9TcGdt9-rQNKr3dEFUpSfwov19G5gN4qL9KeN0cwrS95Uq_lcshEvR8io1ps25PWaYDKmcKOVMmm29ufz8t6PGfFMF221W7lTRi9lDvSwqvARfnNEPDYFl-qWdOzCqKBA/s72-c/dakwah-itu-adalah-proses-bukan-hasil-akhir.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>INILAH SAHABAT SETAN</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/inilah-sahabat-setan.html</link><category>DAKWAH</category><category>MUDZAKAROH</category><category>RENUNGAN</category><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 11:19:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-7814818996269653737</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiKeE4Vi-1OSSe8PFErbxHX5RI7Bin87akwv3AgeywWtyU2Ey2_-CKJRTfzG-OWNhAwCO9ZPY_HhPUcexhGNPZudBKs7NNXNNKtjNKAH_jWkrG2lJxaao090MNoxuymHJXdWYoCwYQdwQ/s1600/bisikan+setan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiKeE4Vi-1OSSe8PFErbxHX5RI7Bin87akwv3AgeywWtyU2Ey2_-CKJRTfzG-OWNhAwCO9ZPY_HhPUcexhGNPZudBKs7NNXNNKtjNKAH_jWkrG2lJxaao090MNoxuymHJXdWYoCwYQdwQ/s1600/bisikan+setan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Syaitan 
atau iblis telah divonis oleh Allah Swt sebagai makhluk yang kafir dan akan 
dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karena itu, setiap muslim harus menunjukkan 
sikap permusuhannya kepada syaitan, bukan malah menjadikannya sebagai teman, 
pemimpin apalagi saudara. Namun ternyata, ada juga manusia yang menjadikan 
syaitan sebagai teman, pemimpin bahkan saudara. Penyebutan syaitan sebagai 
saudara disebutkan dalam firman Allah yang artinya: Dan janganlah kamu 
menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu 
adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS 
17:26-27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiyah, syaitan berasal dari kata syatana yang 
artinya menjauh, syaitan memang selalu menjauh dari nilai-nilai kebenaran yang 
dating dari Allah Swt. Namun syaitan disebut juga dengan iblis yang berasal dari 
kata ablasa yang artinya putus asa, yakni putus asa dari rahmat atau kasih 
sayang Allah Swt. Adapun ikhwan berasal dari kata yang dalam bahasa Arab berarti 
persamaan. Ini berarti pada diri orang yang saling bersaudara terdapat kesamaan, 
bukan semata-mata kesamaan secara fisik, tapi yang terpenting adalah kesamaan 
sikap dan tingkah laku. Karena itu, ketika manusia disebut dengan ikhwan 
syaitan, itu berarti pada dirinya terdapat kesamaan sikap dan tingkah laku 
dengan syaitan, hal ini perlu kita pahami agar kita tidak termasuk golongan 
syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Boros Dalam Harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang telah 
menjadi saudara syaitan, maka pada dirinya terdapat sifat boros dalam harta 
sebagaimana yang terdapat dalam ayat di atas. Tabdzir yang dimaksud adalah 
menggunakan atau membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak baik dan tidak 
benar, baik sedikit apalagi banyak. Dalam kaitan ini, saudara syaitan itu 
biasanya begitu mudah mengeluarkan atau membelanjakan hartanya untuk keburukan 
dan kemaksiatan, sedangkan untuk kebaikan dan kebenaran ia begitu sulit 
mengorbankan hartanya. Adapun seorang muslim boleh menghabiskan hartanya yang 
banyak untuk kebaikan dan kebenaran dan ini tidak bisa disebut dengan tabdzir, 
ia begitu mudah mengeluarkan hartanya yang banyak demi kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat 
boros dalam harta, saudara syaitan ini diarahkan untuk menjadi manusia yang 
kikir karena takut kemiskinan menimpa dirinya, Allah Swt berfirman: “Syaitan 
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat 
kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan 
karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS 
2:268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Durhaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan merupakan makhluk Allah yang 
durhaka, ini terbukti dari tidak maunya bersujud (memberi hormat) kepada Adam as 
yang merupakan perintah Allah Swt. Karena itu, manusia yang menjadi saudara 
syaitan biasanya menjadi durhaka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, karena itu kita 
dapati begitu banyak manusia yang menjadi saudara syaitan karena ia menunjukkan 
kedurhakaannya kepada Allah Swt, Allah berfirman: Dan ingatlah ketika Kami 
berfirman kepada para malaikat: “sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah 
mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan 
orang-orang yang kafir (QS 2:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Sombong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan 
(takabbur) merupakan salah satu sifat iblis, ini nampak dari sikapnya yang 
merasa lebih baik dari Adam as (manusia) hanya karena ia dicipta dari api, 
sedangkan manusia dari tanah, Hal ini difirimankan oleh Allah Swt di dalam 
Al-Qur’an: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “sujudlah 
kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan 
menyombongkan diri dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS 
2:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat lain, Allah Swt berfirman: “apakah yang 
menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?”. Menjawab 
iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia 
Engkau ciptakan dari tanah” (QS 7:12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. 
Menyesatkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan adalah makhluk Allah Swt yang telah divonis 
bersalah dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Namun ia tidak mau masuk ke neraka 
sendirian, ia berusaha untuk mengajak orang lain dengan cara menyesatkan mereka. 
Dari sinilah akhinrya banyak manusia yang melakukan kejahatan dan perbuatan keji 
yang membuat martabat manusia menjadi begitu rendah bahkan lebih rendah dari 
binatang ternak sekalipun, hal ini terdapat dalam firman Allah: Sesungguhnya 
syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan terhadap 
Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS 2:169).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang telah menjadi 
ikhwan syaitan berusaha membantu syaitan dalam menyesatkan manusia, syaitanpun 
merasakan besarnya bantuan manusia dalam menyesatkan manusia sehingga tidak 
sedikit manusia yang telah melakukan kejahatan dan kekejian di muka bumi 
ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Menghalanggi Kebenaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan sangat tidak suka 
kepada kebenaran, karenanya yaitan akan selalu berusaha untuk mencegah tersebar 
dan tegaknya nilai-nilai kebenaran. Manakala manusia menjadi saudara syaitan, 
maka ia akan menghalangi manusia dari menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai 
kebenaran, namun ia tak mmerasa sedikitpun memiliki perasaan bersalah, tapi 
justeru ia malah menganggap dirinya benar dan mendapat petunjuk, Allah Swt 
berfirman: Dan syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar 
dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk (QS 43:37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 
hidup ini kita dapati banyak manusia yang menjadi ikhwan syaitan sehingga 
upaya-upaya penegakan nilai-nilai Islam menjadi terhambat bahkan tertunda dan 
gagal disebabkan banyaknya penghalang yang dilakukan oleh manusia juga, bahkan 
mereka mengaku sebagai mu’min dan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Janji 
Palsu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia seringkali dapat dengan mudah tergoda bila 
diiming-iming dengan sesuatu yang dapat menyenangkannya. Karenanya syaitan 
berusaha menyesatkan manusia dengan janj-janji palsu yang akhirnya mengikuti apa 
yang menjadi kehendak syaitan dan iapun mengalami penyesalahan yang amat dalam 
karena di dunia ia telah mengalami kesengsaraan disebabkan menuruti kata syaitan 
dan di akhirat ia akan mengalami kesengsaraan yang lebih menderita lagi 
sedangkan syaitan tidak mau disalahkan oleh manusia, Allah menceritakan masalah 
ini dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkatalah syaitan tatkala perkara hisab telah 
diselesaikan: “Sesungguhnya Allah berjanji kepadamu janji yang benar dan akupun 
telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada 
kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku menyeru kamu lalu kamu 
mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku tapi cercalah 
dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak bisa menolongmu dan kamupun tidak bisa 
menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku 
(dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat 
siksaan yang pedih” (QS 14:22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala manusia menjadi saudara dan 
pengikut syaitan, maka dalam hidup ini ia suka memberikan janji-janji palsu 
kepada orang lain guna menyesatkan mereka dan iapun tidak mau disalahkan oleh 
orang lain meskipun ia sudah jelas-jelas bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, 
kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap muslim sangat dituntut untuk selalu 
waspada terhadap langkah dan sepak terjang syaitan dalam kehidupan ini yang 
kesemuanya berorientasi kepada penyesatan manusia dari jalan Allah yang benar 
sehingga godaan-godaan syaitan menjadi kendala besar bagi setiap orang untuk 
menjadi muslim yang sejati. wallohu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiKeE4Vi-1OSSe8PFErbxHX5RI7Bin87akwv3AgeywWtyU2Ey2_-CKJRTfzG-OWNhAwCO9ZPY_HhPUcexhGNPZudBKs7NNXNNKtjNKAH_jWkrG2lJxaao090MNoxuymHJXdWYoCwYQdwQ/s72-c/bisikan+setan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>HAKIKAT ARTI SEBUAH KEPEMIMPINAN</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/hakikat-arti-sebuah-kepemimpinan.html</link><category>HAKIKAT</category><category>NEGARA</category><category>PEMIMPIN</category><category>PENDIDIKAN</category><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 11:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-9113223482509368729</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s1600/102796.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="176" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s320/102796.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Di 
dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala keluarga, 
begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan 
adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh 
tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai 
pemimpin perjalanan. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin 
dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar. 
Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak boleh 
mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang 
diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah 
dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada 
hari kiamat (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam 
tapi juga khalifah. Dalam shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. 
Secara harfiyah, imam berasal dari kata amma, yaummu yang artinya menuju, 
menumpu dan meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu 
didepan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. 
Disamping itu, pemimpin disebut juga dengan khalifah yang berasal dari kata 
khalafa yang berarti di belakang, karenanya khalifah dinyatakan sebagai 
pengganti karena memang pengganti itu dibelakang atau datang sesudah yang 
digantikan. Kalau pemimpin itu disebut khalifah, itu artinya ia harus bisa 
berada di belakang untuk menjadi pendorong diri dan orang yang dipimpinnya untuk 
maju dalam menjalani kehidupan yang baik dan benar sekaligus mengikuti kehendak 
dan arah yang dituju oleh orang yang dipimpinnya kearah kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 
pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan Islam, 
pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja yang 
menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya 
untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang 
dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam yang secara 
garis besar dalam lima lingkup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Tangung Jawab, Bukan 
Keistimewaan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin 
suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang 
besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya. Bukan 
hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan 
dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang 
pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga 
ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak 
mengistimewakan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ketika Umar bin Abdul Aziz, 
seorang khalifah yang cemerlang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung 
keadaan pasar, maka ia datang sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat 
sederhana sehingga ada yang menduga kalau ia seorang kuli panggul lalu orang 
itupun menyuruhnya untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya. Umar 
membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan 
upah. Namun ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia 
sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan 
siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar 
sang khalifah yang disuruhnya, iapun meminta maaf, namun Umar merasa hal itu 
bukanlah suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah 
yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu 
kepastian, Rasulullah Saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu 
akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR. Bukhari dan 
Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin 
atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan 
berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban 
dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada 
dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Karenanya dalam suatu riwayat diceritakan 
bahwa Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah menghabiskan dana untuk 
membeli pakaian yang harganya 400 dirham, tapi ketika ia menjadi khalifah ia 
hanya membeli pakaian yang harganya 10 dirham, hal ini ia lakukan karena 
kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, tapi harus dicontohkan 
langsung kepada masyarakatnya. Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam 
anggaran belanja negara atau propinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat 
anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta untuk membeli pakaian bagi para 
pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal 
sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau 
pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Kerja Keras, Bukan Santai.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin 
mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai 
persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk Selanjutnya 
mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan 
benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin 
dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat 
menghadapi krisis ekonomi, Khalifah Umar bin Khattab membagikan sembako (bahan 
pangan) kepada rakyatnya. Meskipun sore hari ia sudah menerima laporan tentang 
pembagian yang merata, pada malam hari, saat masyarakat sudah mulai tidur, Umar 
mengecek langsung dengan mendatangi lorong-lorong kampung, Umar mendapati masih 
ada rakyatnya yang masuk batu sekedar untuk memberi harapan kepada anaknya yang 
menangis karena lapar akan kemungkinan mendapatkan makanan. Meskipun malam sudah 
semakin larut, Umar pulang ke rumahnya dan ternyata ia memanggul sendiri satu 
karung bahan makanan untuk diberikan kepada rakyatnya yang belum memperolehnya. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin 
adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau 
pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat 
dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, Rasulullah Saw 
bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu Na’im)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh 
karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap 
orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti 
tidak ada keinginan sedikitpun untuk menzalimi rakyatnya apalagi menjual rakyat, 
berbicara atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk 
kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini terdapat 
dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianat yang paling besar, Rasulullah 
Saw bersabda: Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa 
memperdagangkan rakyatnya (HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Keteladanan dan 
Kepeloporan, Bukan Pengekor.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam segala bentuk kebaikan, seorang 
pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor 
yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika 
seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia 
telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal 
materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat 
menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan 
dan kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah Saw tunjukkan 
keteladanan dan kepeloporan dalam banyak peristiwa. Ketika Rasulullah Saw 
membangun masjid Nabawi di Madinah bersama para sahabatnya, beliau tidak hanya 
menyuruh dan mengatur atau tunjuk sana tunjuk sini, tapi beliau turun langsung 
mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis sekalipun. Beliau membawa batu bata 
dari tempatnya ke lokasi pembangunan sehingga ketika para sahabat yang lebih 
muda dari beliau sudah mulai lelah dan beristirahat, Rasul masih terus saja 
membawanya meskipun ia juga nampak lelah. Karena itu seorang sahabat bermaksud 
mengambil batu yang dibawa oleh nabi agar ia yang membawanya, tapi nabi justeru 
menyatakan: “kalau kamu mau membawa batu bata, disana masih banyak batu yang 
bisa engkau bawa, yang ini biar tetap aku yang membawanya”. Karenanya para 
sahabat tetap dan terus bersemangat dalam proses penyelesaian pembangunan masjid 
Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting 
kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah 
memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah 
tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat 
tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan 
presiden. Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, 
menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang 
kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak 
untuk kita percayakan menjadi pemimpin. wallohu a'lam. &lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsc04HI6_5_ivVHlm9MzyUWJOyJMeiqOmBoTzokHZPHnrLfxR0TwG-fcylvEbYpDemdBCtEkVo_EiMmuxBjFDe_XNseN27t-j3yuF47iouErDazSJ1YwAKpxuoX1XoKk2XTaIQ1ms1T-Y/s72-c/102796.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>GUSDUR : ULAMA DAN DEMOKRATISASI DI INDONESIA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/gusdur-ulama-dan-demokratisasi-di.html</link><category>DEMOKRASI</category><category>NEGARA</category><category>NU</category><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>SEJARAH ISLAM</category><category>ULAMA</category><pubDate>Fri, 12 Oct 2012 07:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5800109726238864402</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEpEg81C_7TG_XbCpiYLj4apB961zMl_p__d8QKzg9IQRps7Al4wNJ8EhYBa8jRNchzyHEta06yaUIR8_-VUcsBA7fDNKnLfXeCezJct39EsRd-eJTfEnw9xOMP2YMj80L9u3n3-ep9z8/s1600/1326172686336567183.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEpEg81C_7TG_XbCpiYLj4apB961zMl_p__d8QKzg9IQRps7Al4wNJ8EhYBa8jRNchzyHEta06yaUIR8_-VUcsBA7fDNKnLfXeCezJct39EsRd-eJTfEnw9xOMP2YMj80L9u3n3-ep9z8/s320/1326172686336567183.jpg" width="281" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Kata “Ulama” memiliki arti bermacam-macam pada zaman
yang berbeda-beda,&amp;nbsp; juga oleh pihak yang
berlain-lainan. Dalam bahasa arab modern, kata “Ulama” &amp;nbsp;digunakan untuk menunjuk kepada para ahli,
seperti ulama &lt;i&gt;al-Tiib&lt;/i&gt; (ahli kedokteran,
seorang dokter) dan Ulama &lt;i&gt;al-Nawawi&lt;/i&gt;
(ahli nuklir). Di negara kita, hingga saat ini kata tersebut digunakan untuk
menunjukkan seorang ahli agama, dan di kalangan NU kata tersebut berarti
seorang ahli agama&amp;nbsp; yang memiliki atau
memimpin pondok pesantren. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, kata tersebut di
lingkungan NU juga berarti para pemimpin pondok pesantren, baik yang menguasai
ilmu-ilmu keagamaan maupun tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Tulisan ini, menunjuk pada dua hal terakhir, yaitu
ahli ilmu-ilmu agama Islam maupun para pemimpin pondok pesantren. Kata itu,
dalam kedua pengertian tersebut, juga dicakup oleh penggunaannya&amp;nbsp; sebagai pengertian tentang para pemimpin
organisasi. Secara keseluruhan, kata “Ulama” digunakan bagi para pemimpin NU
dalam berbagai tingkatan, baik yang&amp;nbsp;
memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalam maupun tidak. Terkadang,
kata “Ulama” tidak disebutkan, tetapi mereka dimaksudkan ada dalam penggunaan
istilah lain –seperti kata Forum Langitan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Dengan demikian, kata “Ulama” yang dimaksudkan di
sini adalah para pemimpin NU dari berbagai tingkatan pengetahuan agama, menjadi
pengurus NU atau tidak, dari berbagai tingkatan&amp;nbsp;
kepemimpinan (pusat, daerah propinsi dan daerah tingkat II).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyTextIndent"&gt;
Karena PKB didirikan oleh NU, para pemimpin partai
tersebut juga dapat disebut sebagai Ulama. Dengan demikian,&amp;nbsp; Ulama yang memperjuangkan demokratisasi
adalah pengurus PKB atau NU dari berbagai tingkatan, juga dari tingkat
kepengurusan yang berbeda-beda dan juga termasuk yang tidak memiliki pondok
pesantren, namun tunduk pada kemauan mereka. Hal ini perlu dikemukakan terlebih
dahulu, untuk menjaga kesimpangsiuran dalam peristilahan. Hal yang sama pernah
dilakukan oleh Sydney John dalam artikel panjangnya, yang dimuat oleh majalah
Indonesia dari Cornell University di Amerika Serikat, tentang istilah Umat
Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Dalam muktamar NU tahun 1935, di Banjarmasin,
diajukan sebuah pertanyaan; wajibkah bagi kaum muslimin di kerajaan
Hindia-Belanda (kita, saat itu dikenal dengan nama tersebut) mempertahankan
negara itu, yang diperintah oleh orang-orang Belanda yang non-muslim? Jawab
muktamar adalah wajib, karena kaum muslimin di negeri ini masih bebas
melaksanakan ajaran agama mereka, dan juga karena di sini dulu terdapat
kerajaan-kerajaan Islam. Jawaban ini dapat dilihat dalam tesis S-2 yang ditulis
oleh Einar Sitompul dan menunjukkan pendapat mayoritas Ulama yang tidak
menginginkan negara Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Pada tanggal 18 Agustus 1945, para pemimpin berbagai
gerakan Islam memutuskan untuk menghapuskan Piagam Djakarta dari pembukaan Undang
Undang Dasar (UUD) 1945. Abikusno Tjokrosuyoso (SI), Ki Bagus Hadikusumo dan
KH. A. Kahar Muzakir (Muhammadiyah), Ahmad Subardjo (Masyumi), KH. A. Wachid
Hasjim (NU), A.R. Baswedan (PAI) dan H. Agus Salim dari berbagai gerakan Islam
mengambil keputusaan itu bersama-sama dengan Soekarno dan Hatta. Dasar dari
keputusan itu adalah apa yang disampaikan Laksamana Maeda dari pemerintahan
pendudukan Jepang –sehari sebelumnya, atas permintaan para anggota Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang tidak beragama Islam. mereka tidak
bersedia menerima Piagam itu karena secara efektif akan menempatkan diri mereka
dan para warga masyarakat lainnya yang tidak beragama Islam dalam kedudukan
sebagai warga negara&amp;nbsp; kelas dua. Dan,
keputusan itu tidak pernah dibantah&amp;nbsp; oleh
para ulama Figh (hukum figh), dengan demikian memperoleh pengesahan tidak
langsung dan&amp;nbsp; berlaku efekif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Pada akhir tahun 1984, muktamar NU di Asembagus
(Situbondo) telah memutuskan untuk menjadikan Pancasila sebagai asas
organisasi, menggantikan Islam. Dengan demikiian, NU menggantikan asas
Islam&amp;nbsp; dengan asas Pancasila, padahal
sebelumnya organisasi tersebut adalah organisasi yang secara resmi ditetapkan
sebagai perkumpulan Islam. Dengan rumusan begitu, NU secara tidak resmi dapat
dinyatakan sebagai;&amp;nbsp; bukan sebagai
oganisasi Islam, dan secara resmi menjadi perkumpulan agama saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-indent: .5in;"&gt;
Hal yang sama juga menjadi tanda
pernyataan diri (identitas) PKB. Sebagai sayap politik NU, PKB ditetapkan oleh
Mukernas (2001) di Jakarta dan Muktamar Luar Biasa (MLB) dipercepat di
Yogyakarta (2002) sebagai partai terbuka. Ia menjadi terbuka bagi kaum
non-muslimin maupun bagi wanita –yang oleh penulis disebut PKB=NU plus.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Dengan terhentinya pengikisan KKN secara efektif
oleh para pimpinan partai politik yang ada, maka terhenti pula upaya
demokratisasi di Indonesia. Tinggal PKB saja yang melaksanakan hal itu secara
efektif, itupun karena pimpinan PKB berani melaksanakannya, walaupun sering
disebut&amp;nbsp; berwatak otoriter –oleh mereka
yang tidak&amp;nbsp; setuju dengan tindakan
tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Karena penulis sebagai pimpinan DPP PKB berani
melakukan hal itu, dengan dukungan para Ulama NU terkemuka di berbagai
tingkatan, dengan sendirinya PKB dan NU langsung menjadi kekuatan efektif untuk
melakukan upaya demokratisasi di negara ini. Sudah tentu hal itu dilakukan
bersama-sama dengan para aktifis lainnya di negeri kita, tetapi jelas sekali
keikutsertaan Ulama –yang sering dianggap &lt;i&gt;kolot
&lt;/i&gt;dan tradisional. Perjuangan masih panjang, dan banyak sekali kemungkinan
hal-hal yang akan terjadi di negeri ini, namun amanat menegakkan demokrasi di
negeri kita jelas didukung para&amp;nbsp; Ulama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;Kita ucapkan selamat kepada mereka, dan kepada
proses demokratisasi di negeri ini. Dirgahayu !!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEpEg81C_7TG_XbCpiYLj4apB961zMl_p__d8QKzg9IQRps7Al4wNJ8EhYBa8jRNchzyHEta06yaUIR8_-VUcsBA7fDNKnLfXeCezJct39EsRd-eJTfEnw9xOMP2YMj80L9u3n3-ep9z8/s72-c/1326172686336567183.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>PERBADAAN DAN PERSAMAAN ANTARA PANCASILA DAN LIBERALISME</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/perbadaan-dan-persamaan-antara.html</link><category>DEMOKRASI</category><category>LIBERAL</category><category>NEGARA</category><pubDate>Wed, 10 Oct 2012 11:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-5929877389831884364</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc7UgS6MR7HSH9L-xJOnne2x4Y6T8FWYFkX0nTEImfJd79t1iqK7NmmqH48Iq3HLliJgCtwG_fsktF-Xqkx-1BOgErUSyA2rEoNvtflpBgFAlN2nieQysxwM60kqyUz_zv1dre4PWz3yk/s1600/1999_pancasila_300_175.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc7UgS6MR7HSH9L-xJOnne2x4Y6T8FWYFkX0nTEImfJd79t1iqK7NmmqH48Iq3HLliJgCtwG_fsktF-Xqkx-1BOgErUSyA2rEoNvtflpBgFAlN2nieQysxwM60kqyUz_zv1dre4PWz3yk/s1600/1999_pancasila_300_175.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pancasila
merupakan idelogi dasar yang dianut oleh bangsa Indonesia yang didalamnya
terdapat lima sila sebagai dasar hukum negara Indonesia. Dari sila-sila
tersebutlah Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan Liberalisme adalah suatu
ideology yang sangat mementingkan kebebasan dalam kehidupan bernegara. Tidak
ada batasan kebebasan dalam bangsa yang menganut liberalisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ideology Pancasila memiliki
persamaan dengan ideology Liberalisme, yaitu dalam hal demokrasi. Dua-duanya
sangat mernghargai kebebasan dalam hal mengemukakan pendapat dari setiap orang
dan keduanya menjunjung tinggi musyawarah sebagai cara untuk menyelesaikan
masalah yang ada dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan perbedaannya banyak
sekali, salah satunya adalah dalam hal ke-Tuhanan. Liberalisme tidak ingin
dibatasi oleh apapun bahkan agama, jadi mereka adalah orang yang sangat bebas,
berbeda dengan Pancasila yang menghormati dan berada dibawah hukum agama
masing-masing orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc7UgS6MR7HSH9L-xJOnne2x4Y6T8FWYFkX0nTEImfJd79t1iqK7NmmqH48Iq3HLliJgCtwG_fsktF-Xqkx-1BOgErUSyA2rEoNvtflpBgFAlN2nieQysxwM60kqyUz_zv1dre4PWz3yk/s72-c/1999_pancasila_300_175.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>TENTANG PENYATUAN AGAMA DAH THEOSOFI</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/tentang-penyatuan-agama-dah-theosofi.html</link><category>AGAMA</category><category>AHLUL KITAB</category><category>LIBERAL</category><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>PEMURTADAN</category><pubDate>Mon, 8 Oct 2012 22:12:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-3802054160092932397</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicySl-auE_xvKpS5tATFELkDSvrgDzUnT48AR8ezf2ha8F7oWtIYdNhx4spsBlK7d5OdSNydiQIE-nx514wNLBOYPjkz8GBRRHDt05c8KXpP7i4R79EehbhHJWij58JeW0GIkrCkiEg5Y/s1600/Theosofi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicySl-auE_xvKpS5tATFELkDSvrgDzUnT48AR8ezf2ha8F7oWtIYdNhx4spsBlK7d5OdSNydiQIE-nx514wNLBOYPjkz8GBRRHDt05c8KXpP7i4R79EehbhHJWij58JeW0GIkrCkiEg5Y/s1600/Theosofi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Gagasan perenialisme atau hikmah abadi (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;perennial wisdom)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;yang berujung pada upaya penyatuan agama-agama dengan jalan
menjaga kearifan masa lalu (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;the ancient wisdom&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;), membangun persaudaraan universal dan pengabdian terhadap
kemanusiaan, sejatinya memiliki akar sejarah yang panjang di Indonesia. Catatan
sejarah tersebut merujuk pada keberadaan perkumpulan Theosofi, sebuah
organisasi kebatinan yang pada masa lalu gencar mempropagandakan
doktrin-doktrin perenialisme dan pluralisme agama. Theosofi memiliki motto, “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;There is No Religion
Higher Than Truth”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;atau “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Satyan Nasti Paroh
Dharma&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;“ (Tidak Ada Agama yang Lebih
Tinggi daripada Kebenaran).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Perkumpulan Theosofi (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Theosophical Society&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;) didirikan pertama kali di New York pada tahun 1875 oleh
sekelompok orang yang terlibat aktif mempelajari kepercayaan-kepercayaan dan
tradisi-tradisi kuno dalam okultisme, mistisisme, dan kabbalah. Pendiri dan
tokoh sentral Theosofi adalah Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891), seorang
perempuan aristokrat Rusia berdarah Yahudi yang dijuluki oleh para pengikutnya
sebagai “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;mother of new age movement&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;” atau “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;founder of occult fraternities&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;” (Pendiri Persaudaraan Okultis). Tokoh-tokoh lain yang terkenal
dalam Theosofi Internasional adalah Henry Steel Olcott&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;&amp;nbsp;(1832-1907), Annie Besant (1847-1933), dan Charles Webster
Leadbeater (1847-1934).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Sebelum secara resmi diakui sebagai cabang dari Perhimpunan
Theosofi Internasional, keberadaan organisasi ini di Nusantara secara tidak
resmi sudah terlihat dengan berdirinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;The Pekalongan Theosophical Society&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(Masyarakat Theosofi Pekalongan) pada 1881. Keberadaan kelompok
ini pada saat itu sudah mendapat penolakan dari umat Islam setempat karena
dianggap menyebarkan paham mistis, kebatinan, dan sihir.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Lalu, pada 1901, dibuka loge Theosofi pertama di Semarang, di
bawah pimpinan D.G van Niewenhoven Helbach. Periode selanjutnya, pada 1909
berdiri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Nederlandsche Indie Onder Afdeling der Nederland Afdeling
van de Theosofische Vereniging&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(NIONATV) atau Perhimpunan Theosofi di Hindia Belanda yang berada
dalam wilayah kepengurusan Theosofi di Belanda, dan kemudian pada 1912 berubah
menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Nederlandsche Indische Theosofische Vereniging&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(NITV) atau Theosofi Cabang Hindia Belanda, yang berdiri sendiri
dan diakui secara resmi oleh markas Theosofi pusat sebagai cabang ke-20, dengan
ketuanya Dirk van Hinloopen Labberton.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Theosofi kemudian menyebarkan ajaran-ajarannya dengan mendirikan
loge-loge di berbagai daerah di Pulau Jawa dan mencetak media massa, seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Theosofisch Maandblad
voor Nederlandsch-Indie&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(terbit di Semarang),&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Koemandang Theosofi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(terbit di Surakarta),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Pewarta Theeosofie Boewat Tanah Hindia
Nederland&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(terbit di Jawa Timur), Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Pewarta
Theosofie Boeat Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;,
Majalah&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;Perhimpunan Theosofie Tjabang Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(terbit di Batavia), Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Persatoean Hidoep&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(Terbit di Batavia dan Bandung), Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Dyana&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;milik Pemuda Theosofi (terbit di Semarang), Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Lotus&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;milik Pemuda Theosofi (terbit di Bandung), dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Berita PB
Perwathin&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(Terbit di Jakarta). Media-media
massa ini, selain berisi laporan masing-masing loge dan kegiatan-kegiatannya,
juga banyak memuat doktrin-doktrin Theosofi yang digagas oleh Blavatsky dan
Annie Besant.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Apa itu Theosofi?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;The Key to Theosophy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;, Blavatsky mengatakan, Theosofi adalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;the wisdom
religion&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(agama kebijaksanaan) yang
berusaha mempersatukan agama-agama dalam sebuah “Kesatuan Hidup” yang selaras
dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan Theosofi, kata Blavatsky, sama dengan
apa yang dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Ammonius Saccas, yang berusaha
mengajak para&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;gentiles&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(non Yahudi), para pemeluk Kristen, pemuja dewa-dewa, untuk
mengenyampingkan tuntutan mereka dengan mengingat bahwa mereka memiliki
kebenaran yang sama. Agama menurutnya, adalah tunas-tunas dari batang pohon yang
sama, yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;the wisdom religion&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;. (H.P Blavatsky,&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Kunci Memahami Theosofi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(terj), Jakarta:PB Perwathin, 1972, hal.3)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Blavatsky menegaskan, tujuan utama Theosofi adalah mendamaikan
semua agama, sekte-sekte, dan bangsa-bangsa di bawah satu etika umum, yang
didasarkan pada kenyataan-keyataan abadi. Theosofi mengedepankan persaudaraan
universal, supremasi kemanusiaan, dan pentingnya menjadikan nilai-nilai
kebaikan sebagai titik temu semua agama-agama. Apa yang dilakukan Theosofi
berujung pada sinkretisme teologi, yang kemudian memunculkan banyak istilah
global, seperti; agama kemanusiaan, agama universal, agama budi, agama
kebijaksanaan, persaudaraan universal, pluralisme, inklusifisme, perenialisme,
dan sebagainya. Pada akhirnya, sikap dan pemahaman sinkretrisme teologi itu
terjerembab dalam paham netral agama,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;laa diniyah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Pewarta Theosofi Boeat Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;, No.2, Februari 1930, mengutip pernyataan Annie Besant, yang
menyatakan, “Kami berseru kepada kalian semua, marilah kita bekerja
bersama-sama untuk agama ketentraman, agama kenyataan, agama kemerdekaan. Di
dunia kerajaan dari surga yang sejati, inilah kita punya haluan…” Sementara
pada Majalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Perhimpunan Theosofie Tjabang Indonesia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(P.T.T.I), No.IV, tahun 1954, disebutkan,“Kebenaran pada pendapat
kami tidak dapat dimonopoli. Setiap orang mempunyai kebenaran atau kenyataan
sendiri. Begitupun Tuhan, tidak dapat dimonopoli. Tuhan ada dimana-mana, Satu,
tiada yang kedua, meliputi segala dan semuanya, Tuhan tidak terbatas.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Theosofi juga berkeyakinan tiap-tiap agama hanya berbeda pada
aspek eksoterik (lahir), dan memiliki kesamaan pada aspek esoterik (batin).
Mereka berkeyakinan, syariat lahir boleh berbeda, namun hakikat batin tetaplah
sama, menuju pada “Yang Satu”. Bagi Theosofi, Yang Satu itu ada dalam setiap
agama dan memiliki banyak nama. Dalam Pewarta Theosofi, No. 3, Februari tahun
1930, disebutkan,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;“Yang menciptakan barang yang
ada itu dinamakan Allah, God, Tuhan, dan ada lagi nama-nama apa saja yang orang
mau sebutkan.” Theosofi mengartikan kalimat “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;Laa Ilaaha Ilallah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;” dengan, “Tiada Gusti Allah, melainkan Gusti Allah.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Dalam tulisan berbahasa Inggris, para penganut Theosofi sering
menulis kata “God” dengan “Gods” (dengan tambahan huruf “s” untuk menunjukan
lebih dari satu). Tuhan dalam pandangan Theosofi juga bisa termanifestasikan
dengan nilai-nilai “Kebaikan” (dengan huruf “K” besar) yang dilakukan manusia.
Pancaran nilai Kebaikan inilah yang disebut sebagai pletik Ilahi (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;God in being&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;). Pletik Ilahi ini, menurut Theosofi, disebabkan karena manusia
manunggal dengan Tuhan. Manusia sejati (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;ingsun sejati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;) dalam keyakinan Theosofi adalah pancaran dari gambaran Tuhan.
Maka,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;ingsun
sejati&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;harus mengamalkan asas-asas
Ilahi, yaitu kasih sayang, kebenaran, kesatuan hidup, dan lain-lain. Inilah
yang kemudian dalam kebatinan Jawa disebut sebagai “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;kasampurnaning urip&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;(kesempurnaan hidup).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;Inti ajaran Theosofi mengarah pada perenialisme dan pluralisme
agama seperti tercermin dalam motto organisasi ini. Dalam inti ajaran Theosofi,
agama manapun selama menjunjung tinggi kemanusiaan dan menebarkan kebaikan,
maka pada hakikatnya sama. Tidak ada kedudukannya yang lebih tinggi daripada
kebenaran. Inilah yang menjadi landasan Theosofi dalam memandang agama. Tidak
boleh ada klaim mutlak kebenaran (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;absolute truth claim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;) dari satu agama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;The ultimate goal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;dalam hidup ini bagi mereka adalah menebar kebaikan kepada sesama
manusia,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;zonder&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt; padding: 0in;"&gt;memandang
agama, suku, ras, dan golongan. Meski awalnya Theosofi mengatakan semua agama
sama, tetapi pada kesempatan lain Theosofi mengatakan tak perlu beragama, cukup
dengan menjalankan lelaku batin, menebar kasih sayang, kebenaran, menolong
sesama manusia, dan lain-lain. Ujung-ujungnya adalah perangkap pada lubang
ateisme. Bukankah ini sebuah pemurtadan yang ramah?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicySl-auE_xvKpS5tATFELkDSvrgDzUnT48AR8ezf2ha8F7oWtIYdNhx4spsBlK7d5OdSNydiQIE-nx514wNLBOYPjkz8GBRRHDt05c8KXpP7i4R79EehbhHJWij58JeW0GIkrCkiEg5Y/s72-c/Theosofi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>BERBAGAI MACAM JENIS JIWA MANUSIA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/berbagai-macam-jenis-jiwa-manusia.html</link><category>AGAMA</category><category>MORAL</category><category>PSIKOLOGI ISLAM</category><category>SEJARAH ISLAM</category><category>TAFSIR</category><pubDate>Mon, 8 Oct 2012 11:08:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-8507996307540834212</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Manusia
bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh
libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah
menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga
orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi).
Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan
seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa
hewani dan nabati itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Jadi semua
perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs
mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud
al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh
(roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs
sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal),
dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat
manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb.&amp;nbsp; Gumpalan
itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih
Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat
qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn
Hanbal).&amp;nbsp; Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb
atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan
nafs dari dalam al-Qur’an:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Pertama,
nafs al-ammarah bi al-su’, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat
nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan,
kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu ini harus
diperangi.&amp;nbsp; Kedua, nafs al-lawwamah. Ini adalah nafs yang memiliki tingkat
kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari qalb-nya,
nafs menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil
maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Tingkat
ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat
jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif
dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk kedalam
kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya.&amp;nbsp;
Keempat, Nafs al-mutma’innah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap
imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor
duakan nikmat materi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kelima,
Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas
menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah
yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Tuhanku
engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku). Keenam, Nafs al-Mardhiyyah,
adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan.
Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak
dominan.&amp;nbsp; Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada
tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna.
Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan
kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Begitulah
jiwa manusia. Ada pergulatan antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang
tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Nabi Sufyan
al-Thawri pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menghadapi sesuatu yang
lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang
membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua
bisikan: bisikan syetan (lammat a-syaitan) dan bisikan malaikat )lammat
al-malak).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Perang
melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Mu’adh al-Razi
memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah
sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang
melukaimu… maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti
penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi
adalah jihad. Sabdanya “Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam
mentaati Allah”&amp;nbsp; (al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi ta’at Allah ‘azza wa
jalla). (HR.Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabrani, Hakim dsb).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kejahatan
diri dalam al-Qur’an juga dianggap penyakit (QS 2:10). Sementara Nabi
mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para ulama pun lantas berfikir
kreatif. Ayat-ayat dan ajaran-ajaran Nabi pun dirangkai diperkaya sehingga
membentuk struktur pra-konsep. Dari situ menjadi struktur konsep dan akhirnya
menjadi disiplin ilmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Ilmu
tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Ilm-al
Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu
kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa)
atau tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa
diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan&amp;nbsp; istilah al-Ilaj
al-nafs (psychoteraphy).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Dalam Ilmu
al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian pula
penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi
(850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga berkaitan dengan penyakit jiwa.
Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa
memiliki keserasian jiwa dan raga. Jika badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir
dan memahami, dan akan gagal menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau
jiwa itu sakit maka badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa
lama kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter
yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka dalam
bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb al-Ruhani
(kedokteran ruhani).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Jadi,
hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan nabati saja,
boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai
oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang
memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan
ridho dan diridhoi. Itulah manusia yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya
(misykat) bagi umat manusia.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s72-c/apa-yg-kau-pinta.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>KONSEP MANUSIA MULIA MENURUT AR-RAZI</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/konsep-manusia-mulia-menurut-ar-razi.html</link><category>AGAMA</category><category>MORAL</category><category>PEMIKIRAN ISLAM</category><category>PENDIDIKAN</category><category>PSIKOLOGI ISLAM</category><pubDate>Mon, 8 Oct 2012 11:03:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-6240575669118843711</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s1600/apa-yg-kau-pinta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;“Manusia
mulia adalah manusia yang mengutamakan wahyu Allah dan akalnya dibanding
mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya
Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan
Komentar Terhadap Kedua Potensinya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Fakhruddin
ar-Razi adalah seorang ulama-intelek yang berwibawa (m. 606 H/ 1210 M). Ia
menulis ratusan kitab dalam bidang Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Logika,
Fisika, Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan sebagainya. Menurut
ar-Razi,&amp;nbsp; manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu berusaha
menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat buruk. Tapi, jika manusia lebih
mengutamakan bimbingan wahyu Allah dan akal dibanding hawa nafsunya, maka ia
akan jadi mulia. Bahkan, manusia bisa lebih mulia dari malaikat.&amp;nbsp; Mengapa?
Malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara manusia
harus berjuang melawan hawa nafsunya. Demikian pendapat Fakhruddin ar-Razi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Bagi
Fakhruddin ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi
martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani, semisal
kuliner, seks dan hasrat memiliki materi.&amp;nbsp; Argumentasinya sebagai
berikut.&amp;nbsp; Pertama, jika&amp;nbsp; kebahagiaan manusia terkait dengan hawa
nafsu dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu&amp;nbsp; -- yang amarah dan
nafsunya lebih hebat --&amp;nbsp; akan lebih tinggi martabatnya dibanding
manusia.&amp;nbsp; Singa lebih kuat nafsu amarahnya dibanding manusia; burung lebih
kuat daya seksualnya ketimbang manusia. Tapi, faktanya, singa dan burung tidak
lebih mulia dari manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kedua,
jika makanan atau seksualitas menjadi sebab diraihnya kebahagiaan dan
kesempurnaan, maka seseorang yang makan terus menerus akan menjadi manusia
paling sempurna atau paling bahagia.&amp;nbsp; Tapi, seorang yang&amp;nbsp; makan terus
menerus dalam jumlah&amp;nbsp; berlebihan, justru akan membahayakan dirinya.&amp;nbsp;
Jadi, sebenarnya makan adalah sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan
menjadi penyebab pada kebahagiaan atau pun kesempurnaan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Ketiga,
manusia sebagaimana hewan merasakan kenikmatan saat makan dan minum. Jika makan
menjadi sebab pada kebahagiaan, maka manusia tidak akan menjadi lebih tinggi
derajatnya dibanding hewan. Bahkan manusia bisa lebih rendah dari hewan jika
kebahagiaan manusia diidentikkan dengan kenikmatan jasmani. Sebab, manusia --
dengan akalnya – menyadari,&amp;nbsp; kenikmatan jasmani tidaklah sempurna.
Sedangkan hewan, tidak bisa menyadarinya karena hewan tidak bisa berfikir
tatkala sedang dalam kenikmatan jasmani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Keempat,
kenikmatan jasmani sejatinya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya. Seseorang
yang sangat lapar, akan segera merasakan nikmat yang tinggi jika ia segera
makan. Sebaliknya, seseorang yang sedikit laparnya, sedikit pula rasa nikmatnya
ketika ia makan. Seseorang merasakan kenikmatan berpakaian saat ia merasa
terlindung dari rasa dingin dan panas.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ini menunjukkan,&amp;nbsp;
nikmat jasmani bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Jiwanyalah yang merasakan
kebahagiaan; dan kebahagiaan jiwa bukanlah kenikmatan jasmani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kelima,
manusia laiknya hewan,&amp;nbsp; makan,&amp;nbsp; minum, tidur,&amp;nbsp; melakukan
aktivitas seksual, dan terkadang ‘menyakiti’ yang lain. Namun, manusia lebih
mulia dari hewan. Jika demikian, maka kesempurnaan dan kebahagiaan manusia
mustahil sama dengan kenikmatan jasmani hewan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Keenam,
para malaikat lebih mulia dari hewan.&amp;nbsp; Malaikat tidak makan dan tidak
minum. Kesempurnaan Allah, Sang Pencipta, juga tidak terletak sama sekali pada
hal-hal yang terkait dengan kebutuhan jasmani. Kemuliaan Allah terletak bukan
pada kebutuhan jasmani. Dalam suatu hadis Nabi disebutkan,&amp;nbsp; supaya manusia
berakhlak dengan akhlak Allah. Tentunya memperbanyak kebajikan dan
kebijaksanaan akan menjadikan akhlak terpuji. Kemuliaan manusia bukan dengan
memperbanyak makan dan minum.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Ketujuh, orang yang memandang kebahagiaan dan kemuliaan bukan pada aspek
jasmani, akan memandang orang yang berpuasa, menahan diri dari makan, minum dan
hawa nafsu,&amp;nbsp; sebagai seorang yang memiliki aura spiritual yang
tinggi.&amp;nbsp; Sebaliknya, jika seseorang menyibukkan dirinya hanya dengan
makanan, seks, dan mengabaikan ibadah dan ilmu pengetahuan, maka orang tersebut
dipandang rendah. Ini menunjukkan kenikmatan jasmani bukanlah kenikmatan hakiki
yang mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kedelapan,
jika segala sesuatu pada dirinya adalah kesempurnaan dan kebahagiaan, maka
seseorang tidak akan malu untuk menunjukkannya. Orang itu justru bangga jika
dapat mengerjakannya.&amp;nbsp; Kita paham, orang berilmu tidak akan bangga dengan
makanannya dan nafsu-nafsu syahwat lainnya. Ini&amp;nbsp; --sekali lagi --
menunjukkan nikmat jasmani bukanlah sesuatu yang mengantarkan kepada
kebahagiaan dan kesempurnaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kesembilan,
hewan yang kerjanya hanya makan dan minum serta malas untuk berlatih, maka ia
akan dijual murah. Sebaliknya, hewan yang makan dan minum serta mau berlatih
keras, maka akan dijual dengan harga yang tinggi. Kuda yang ramping, berlari
kencang, lebih mahal harganya dibanding kuda yang gemuk dan malas untuk
berjalan. Jika kuda yang berlatih dihargai lebih mahal, apalagi kepada makhluk
hidup yang berakal. Jika manusia berlatih, berkerja dan melakukan kebajikan,
pasti lebih tinggi nilainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Kesepuluh,
penduduk yang tinggal jauh dari keramaian, dari kemajuan zaman, dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penduduk tersebut dianggap
lebih rendah dari penduduk yang terbiasa dengan beribadah, berbuat baik dan
maju dalam sains dan teknologi. Ini menunjukkan jika kesempurnaan diraih bukan
dengan makan, minum dan seksual. Tapi, diraih dengan ilmu pengetahuan dan
sifat-sifat baik yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tercela&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Fakhruddin ar-Razi,&amp;nbsp; jika manusia hanya sibuk dengan kenikmatan
jasmani, maka daya spiritualitasnya akan rendah dan intelektualitasnya
tertutup.&amp;nbsp; Ia akan tetap diliputi dengan nafsu kebinatangan, bukan dengan
kemanusiaan. Padahal esensi kemanusiaan yang sebenarnya adalah menyibukkan diri
kepada Allah, Yang Maha Agung, supaya ia menyembah-Nya,&amp;nbsp; mencintai-Nya
dengan sepenuh jiwa raganya. Kesibukan dengan kenikmatan duniawi akan
menghalanginya dari beribadah dan mengingat-Nya. Cinta kepada kenikmatan
jasmani akan menghalanginya untuk meraih Cinta kepada Sang Khalik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 13.5pt; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 12.0pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;Pemikiran
Fakhruddin ar-Razi tentang konsep manusia yang mulia sungguh sangat inspiratif.
Di tengah-tengah merebaknya pemujaan terhadap budaya kuliner, hedonis,
materialis, pornoaksi dan pornografi, pemikirannya mengingatkan kita bahwa
kenikmatan ruhani, kebahagiaan jiwa, kecintaan untuk meraih ilmu pengetahuan,
melakukan ibadah, menjauhi kemaksiatan, melakukan kebajikan dan mencintai Allah
dengan segenap jiwa dan raga, adalah esensi kemanusiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 115%;"&gt;Sebaliknya,
cengkeraman hawa nafsu&amp;nbsp; yang menjebak manusia hanya memperbanyak
kenikmatan jasmani akan menjauhkannya dari Sang Maha Pencipta. Pemikiran&amp;nbsp;
ar-Razi mudah-mudahan&amp;nbsp; bisa menginspirasi kita untuk membatasi diri dari
kenikmatan jasmani&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKwX0dTy-KNPTFY3gI0PvzSJ1E5E38qhuzDZ0YNnnd-jY2xlEyk_ALSJtXVdiKwWrKWQobGfjD_aZXvupVJMIBTyuu83DHW0PTFOr7C-20A0ghM3hqld-gK9m9ElqTjMO-rvRNXDO_kr4/s72-c/apa-yg-kau-pinta.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>SIAPAKAH AHLUL KITAB YANG DIMAKSUD AL-QURAN?</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/siapakah-ahlul-kitab-yang-dimaksud-al.html</link><category>AGAMA</category><category>AHLUL KITAB</category><category>SEJARAH ISLAM</category><category>TAFSIR</category><pubDate>Mon, 8 Oct 2012 10:56:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-2349896524999126120</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s1600/ahli-kitab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s320/ahli-kitab.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;HARDA ARMAYANTO&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Dalam tradisi Islam, para mufassir senantiasa berpendapat, bahwa
istilah Ahlul Kitab &amp;nbsp;merujuk pada dua komunitas: Yahudi dan Nasrani.
&amp;nbsp;Dalam perkembangannya, sebagian kalangan mengembangkan pengertian Ahlul
Kitab hingga semakin jauh dari apa yang telah dikaji oleh para ulama di masa
lalu. Kata mereka, Ahlul Kitab dapat mencakup semua agama yang memiliki kitab
suci; atau umat agama-agama besar dan agama kuno yang masih eksis sampai
sekarang; seperti golongan Yahudi, Nasrani, Zoroaster; Yahudi, Nasrani, Majusi,
Shabi’un, Hindu, Budha, Konghucu, dan Shinto. (Lihat, misalnya, Nurcholish
Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (1992), dan Huston Smith, kata pengantar
dalam Frithjof Schuon, The Trancendent Unity of Religions, (1984)).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Klaim ini disandarkan atas argumen bahwa setiap kaum telah diutus
bagi mereka nabi-nabi yang membawa risalah tauhid; umat-umat terdahulu berasal
dari satu kesatuan kenabian; setiap kaum memiliki sirath, sabil, syari’ah,
thariqoh, minhaj, mansakhnya masing-masing. Sebagian kalangan menarik
kesimpulan lebih jauh lagi: karena penganut semua agama dianggap sebagai Ahlul
Kitab, maka tidak ada bedanya antara Islam dengan agama-agama yang lain.
Bahkan, semuanya akan selamat di akhirat kelak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Pandangan-pandangan semacam ini jelas bertentangan dengan
pandangan para mufassir di masa lalu dalam tradisi intelektual Islam. Sebagai
contoh al-Thabary (w. 310 H), al-Qurthuby (w. 671 H), dan Ibn Katsir (w. 774 H)
mengatakan bahwa term Ahli Kitab tertuju kepada komunitas Yahudi dan Nasrani.
(Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, juz. 5, (Kairo: Hajar, cet. I, 2001). Juga:
al-Qurthuby, al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, jil. II, (Beirut: Muassasah
al-Risalah: cet. I, 2006), Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. II,
(Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I,
2000)). &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Lebih khusus lagi, Imam al-Syafi’i (w. 204 H) berpendapat bahwa
yang termasuk Ahli Kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nasrani dari Bani Israil
saja. (Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, Al-Umm, jil. 6, diedit oleh Rif’at Fauzi
‘Abd al-Mathlab, (T.Tmpt: Dar al-Wafa’, cet. I, 2001).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Istilah dalam al-Quran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an
sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat
tersebut adalah al-Baqarah, Alu ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut,
al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut
hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan
selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru
berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ini dikarenakan
bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama
Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwahnya adalah
kaum musyrik penyembah berhala. (Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna
dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), Muhammad Izzah Daruzah,
al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun),
&amp;nbsp;M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut
al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nasrani. (Muhammad Husayn
al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, juz. 16, (Beirut: Mu’assasah
al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983)). Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam
dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini
adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab
&amp;nbsp;dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara
umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan
bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat
menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya. (Yusuf Qaradhawi,
Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah
Wahbiyah, 1999)).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada
ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan
Nasrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni
juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani. (Abdul
Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam
Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan
Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, cet. I, 2006)).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Kedudukan Ahlul Kitab&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori
kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap
Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. (Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol
al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, cet. I,
1992).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti
mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa
Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah. (Muhammad Abu
Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, jil. II, Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby,
t.thn)).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi
Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian
Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya. (Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari,
Juz. 2). &amp;nbsp; Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok
tersebut jika tidak mengikuti Muhammad saw, dan tidak meninggalkan sunnah Nabi
Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang
Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga
datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada
Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan
binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nasrani adalah jika berpegang
kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi
Muhammad saw. Pada periode Nabi Muhammad saw ini, orang yang tidak mengikutinya
dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.” (Ibn
Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Abu al-Hasan al-Nadwy menggambarkan bahwa keadaan dunia ini
sebelum datangnya Muhammad ibarat gedung yang nyaris runtuh oleh gempa amat
dahsyat. Para penguasa menjadikan bumi Allah sebagai panggung sandiwara
kesenangan, hamba-hamba Allah diperbudak para rahib dan pendeta menjadi
tuhan-tuhan selain Allah, manusia-manusia merampas hak milik orang lain dengan
dengan cara yang tidak benar dan menghalangi orang dari perjuangan di jalan
Allah. (Abu al-Hasan al-Nadwy, Madza Khasira al-‘Alam bi Inkhitat al-Muslimin,
(Kairo: Maktabah al-Iman, t.thn).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik
dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat
Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nasrani menjadikan patung-patung, &amp;nbsp;para
rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang
Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad SAW. Dan mereka wajib
mempercayainya dan ajaran yang dibawanya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan
Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nasrani adalah dengan
memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka
sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar
tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Alu ‘Imran:
71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil,
dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli
Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci
mereka, Taurat dan Injil. (Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir,
Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi
Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, jil. I, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1,
2001).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya
agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir.
Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir
sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah
berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik
(mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang
kepada mereka bukti yang nyata.”&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Istilah kufur dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah
orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad. (Ibn ‘Asyur, Tafsir
al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX). Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat
jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang
dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 8.25pt; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Inilah perspektif Islam
dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu
wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan
lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4vv-5Mwl0Inf3nG3TgAPFYalqAKJirupV0blfJ9vNWLbGC1kizQJX2DcuR5M6tfQBkPRIn8qBQojEjQR-N2wJ-K7frnpqx7WylZSDLfFZqmqCRs8BuTh4WKRXUuLaJbbWSdVtniYb_mA/s72-c/ahli-kitab.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>INILAH CIRI-CIRI WANITA AHLI SORGA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/inilah-ciri-ciri-wanita-ahli-sorga.html</link><category>AGAMA</category><category>PENDIDIKAN</category><category>WANITA</category><pubDate>Sun, 7 Oct 2012 23:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-7592358588971270043</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgF1grVmM834eDG8VRrVOHKKq5-1J1aorl3xliM0FiSaHzkv_9Xg2bMcCqu4vyIc_DODUalPp6QvaOE8h67uTxcHoGEHzNjDYEgmJ6Ns9upoQilt33Gq9ER1_5ZW-oayWa1GEJDudZIMQI/s1600/wanita-shalihah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgF1grVmM834eDG8VRrVOHKKq5-1J1aorl3xliM0FiSaHzkv_9Xg2bMcCqu4vyIc_DODUalPp6QvaOE8h67uTxcHoGEHzNjDYEgmJ6Ns9upoQilt33Gq9ER1_5ZW-oayWa1GEJDudZIMQI/s320/wanita-shalihah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan&amp;nbsp;&lt;span8260542&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/10/ciri-ciri-wanita-ahli-surga.html" id="Y8260542S7" style="color: #000fff;"&gt;yang&lt;/a&gt;&lt;/span8260542&gt;&amp;nbsp;paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana&amp;nbsp;&lt;span8260542&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/10/ciri-ciri-wanita-ahli-surga.html" id="Y8260542S8" style="color: #000fff;"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span8260542&gt;&amp;nbsp;emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada&amp;nbsp;&lt;span8260542&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/10/ciri-ciri-wanita-ahli-surga.html" id="Y8260542S9" style="color: #000fff;" target="_blank"&gt;orang&lt;/a&gt;&lt;/span8260542&gt;-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;1. Bertakwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;14. Berbakti kepada kedua orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Wallahu A’lam Bis Shawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/10/ciri-ciri-wanita-ahli-surga.html" target="_blank"&gt;SUMBER&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgF1grVmM834eDG8VRrVOHKKq5-1J1aorl3xliM0FiSaHzkv_9Xg2bMcCqu4vyIc_DODUalPp6QvaOE8h67uTxcHoGEHzNjDYEgmJ6Ns9upoQilt33Gq9ER1_5ZW-oayWa1GEJDudZIMQI/s72-c/wanita-shalihah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item><item><title>AKUNTANSI SYARIAH DAN PERKEMBANGANNYA</title><link>http://makalah-artikel-islam.blogspot.com/2012/10/akuntansi-syariah-dan-perkembangannya.html</link><category>BISNIS</category><category>EKONOMI ISLAM</category><category>SYARIAH</category><pubDate>Sun, 7 Oct 2012 23:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1777742541018457800.post-9080626290003281286</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0enK89tj9V92m937w-2rXzodRHetM5T3ZEvbP3NUdIR3ecZFDTN7BAuRRsvWVqMcK2UpaGKt4aIoyOsAbKmYZxDHm2CJrhUe_k00otMuv4hKiZEiIzSeak3s2_puXQjrRjxYxeXlEC94/s1600/bsm-dalam.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0enK89tj9V92m937w-2rXzodRHetM5T3ZEvbP3NUdIR3ecZFDTN7BAuRRsvWVqMcK2UpaGKt4aIoyOsAbKmYZxDHm2CJrhUe_k00otMuv4hKiZEiIzSeak3s2_puXQjrRjxYxeXlEC94/s1600/bsm-dalam.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;A.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Perkembangan Umum Akuntansi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Hampir seluruh ‘peta’ akuntansi Indonesia merupakan&amp;nbsp;&lt;i&gt;by product&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Barat. Akuntansi konvensional (Barat) di Indonesia bahkan telah diadaptasi tanpa perubahan berarti. Hal ini dapat dilihat&amp;nbsp;&lt;span3115146&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/06/perkembangan-akuntansi-syariah.html" id="Y3115146S6" style="color: #000fff;"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span3115146&gt;&amp;nbsp;sistem pendidikan, standar, dan praktik akuntansi di lingkungan bisnis. Kurikulum, materi dan teori&amp;nbsp;&lt;span3115146&gt;&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/06/perkembangan-akuntansi-syariah.html" id="Y3115146S2" style="color: #000fff;"&gt;yang&lt;/a&gt;&lt;/span3115146&gt;&amp;nbsp;diajarkan di Indonesia adalah akuntansi pro Barat. Semua standar akuntansi berinduk pada landasan teoritis dan teknologi akuntansi IASC&lt;i&gt;(International Accounting Standards Committee)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;a href="" name="more" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;Indonesia bahkan terang-terangan menyadur&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;IASC, dengan judul Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;" /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Perkembangan terbaru, saat ini telah disosialisasikan sistem pendidikan akuntansi “baru” yang merujuk internasionalisasi dan harmonisasi standar akuntansi. Pertemuan-pertemuan,&amp;nbsp;&lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt;, lokakarya, seminar mengenai perubahan kurikulum akuntansi sampai standar kelulusan akuntan juga mengikuti kebijakan IAI berkenaan Internasionalisasi Akuntansi Indonesia tahun 2010.&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;Dunia bisnis tak kalah, semua aktivitas dan sistem akuntansi juga diarahkan untuk memakai acuan akuntansi Barat. Hasilnya akuntansi sekarang&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
menjadi menara gading dan sulit sekali menyelesaikan masalah lokalitas. Akuntansi hanya mengakomodasi kepentingan ”&lt;i&gt;market&lt;/i&gt;” (pasar modal) dan tidak dapat menyelesaikan masalah akuntansi untuk UMKM yang mendominasi perekonomian Indonesia lebih dari 90%&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/06/perkembangan-akuntansi-syariah.html" name="_ftnref1" style="color: #f89c21; text-decoration: none;"&gt;&lt;/a&gt;. Hal ini sebenarnya telah menegasikan sifat dasar lokalitas masyarakat Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Padahal bila kita lihat lebih jauh, akuntansi secara sosiologis saat ini telah mengalami perubahan besar. Akuntansi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. Akuntansi telah dipahami sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai (&lt;i&gt;value laden&lt;/i&gt;), tetapi dipengaruhi nilai-nilai yang melingkupinya. Bahkan akuntansi tidak hanya dipengaruhi, tetapi juga mempengaruhi lingkungannya (lihat Hines 1989; Morgan 1988; Triyuwono 2000a; Subiyantoro dan Triyuwono 2003; Mulawarman 2006)&lt;a href="http://skripsitesis4u.blogspot.com/2012/06/perkembangan-akuntansi-syariah.html" name="_ftnref2" style="color: #f89c21; text-decoration: none;"&gt;&lt;/a&gt;. Ketika akuntansi tidak bebas nilai, tetapi sarat nilai, otomatis akuntansi konvensional yang saat ini masih didominasi oleh sudut pandang Barat, maka karakter akuntansi pasti kapitalistik, sekuler, egois, anti-altruistik. Ketika akuntansi memiliki kepentingan ekonomi-politik MNC’s (&lt;i&gt;Multi National Company’s&lt;/i&gt;) untuk program neoliberalisme ekonomi, maka akuntansi yang diajarkan dan dipraktikkan tanpa proses penyaringan, jelas berorientasi pada kepentingan neoliberalisme ekonomi pula.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;a href="http://www.4shared.com/get/QddFNrDv/makalah_Akuntansi_Syariah_I.html" target="_blank"&gt;DOWNLOAD SELENGKAPNYA&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0enK89tj9V92m937w-2rXzodRHetM5T3ZEvbP3NUdIR3ecZFDTN7BAuRRsvWVqMcK2UpaGKt4aIoyOsAbKmYZxDHm2CJrhUe_k00otMuv4hKiZEiIzSeak3s2_puXQjrRjxYxeXlEC94/s72-c/bsm-dalam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>ichin (Anonymous)</author></item></channel></rss>