<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822</atom:id><lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 18:01:06 +0000</lastBuildDate><category>pb2007</category><category>Kehidupan</category><category>Sosial</category><category>ICT</category><category>Budaya</category><category>Opini</category><category>Renungan</category><title>S e r u n a i</title><description>It's my thought, my opinion, my concern</description><link>http://serunai.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Herman)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>118</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/serunai" /><feedburner:info uri="serunai" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-1508833003058811357</guid><pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-09T09:32:58.262+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Dari Lok Baintan ke Martapura</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XiRAWxzqsl0/Tt7p3r600RI/AAAAAAAABeU/cI96RNR3PfE/s1600/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%25285%2529.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-XiRAWxzqsl0/Tt7p3r600RI/AAAAAAAABeU/cI96RNR3PfE/s400/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%25285%2529.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pagi-pagi buta aku dan teman-teman berangkat menuju Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Di pinggiran sungai di dekat Museum Wasaka, sebuah museum mengenang perjuangan rakyat Banjarmasin melawan penjajah, telah menunggu perahu klotok yang kami sewa untuk ke Pasar Lok Baintan. Kami menyempatkan diri menunaikan sembahyang subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Mbak Nurhikmah yang mendampingi perjalanan kami selama di Kalimantan Selatan menyarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali menuju Lok Baintan, sebab nanti tiba di sana pas betul ketika para pedagang mulai memenuhi lokasi dengan perahu-perahu (orang Banjar menyebutnya Jukung) berisi barang dagangan mereka. Hari itu tanggal 8 Mei 2011.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_Terapung_Lok_Baintan"&gt;Pasar Terapung Lok Baintan&lt;/a&gt; terletak di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar. Selain di sini, ada satu lagi pasar terapung yang terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung. Aktifitas jual-beli berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga hingga empat jam. Barang dagangan berupa hasil produksi pertanian/perkebunan, bahan makanan yang tak tahan lama seperti sayur-sayuran, buah-buahan, makanan tradisional atau kudapan dan kebutuhan dapur rumah tangga lainnya. pada pagi sekitar pukul 6 atau 7  mulai tampak di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lok Baintan konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8U9tcSOY6sA/Tt7qFF8cZ-I/AAAAAAAABeg/ZhDrVsRWxns/s1600/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%25287%2529.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-8U9tcSOY6sA/Tt7qFF8cZ-I/AAAAAAAABeg/ZhDrVsRWxns/s320/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%25287%2529.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Selain melihat aktivitas jual-beli di pasar terapung, sebenarnya kami ingin "ngobrol" tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan juga mereka yang menjadi pedagang di pasar terapung yang terkenal itu. Untuk bisa ngobrol dan tidak membuat tersinggung para penjual, kami membeli barang dagangan mereka sehingga tak tampak kalau kami sedang menggali informasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Bu Fatimah, dosen Universitas Lambung Mangkurat yang pernah meneliti kehidupan perempuan pedagang di pasar terapung, kebanyakan pedagang kelas bawah memang berjualan makanan atau bahan makanan yang tak tahan lama. Harapannya setelah kembali dari Lok Baintan barang dagangan tersebut telah habis terjual. Jika tak habis, sebelum pulang ke rumah biasanya ibu-ibu pedagang akan membawa dagangannya masuk ke pemukiman warga yang tinggal di atas sungai untuk berjualan. Ibu-ibu pedagang ini adalah pencari nafkah keluarga yang tangguh. Kadang-kadang, para pedagang melakukan barter sayuran atau hasil bumi lainnya menjadi kebutuhan pokok. Jadi tak mesti dijual dengan uang, apalagi saat hari semakin siang dan barang dagangan belum habis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gJZ2bGLsYVI/Tt7qUUTp3qI/AAAAAAAABes/iTLshtpFhI8/s1600/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%252812%2529.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-gJZ2bGLsYVI/Tt7qUUTp3qI/AAAAAAAABes/iTLshtpFhI8/s400/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%252812%2529.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Sepulang dari Lok Baintan kami menyusuri sungai untuk melakukan wawancara dengan beberapa warga. Lalu mampir di Warung Soto Banjar Bang Amat yang terletak di tepi Sungai Pengambangan (anak Sungai Martapura). Waktu di Surabaya Oktober 2010 lalu, aku dan seorang teman sempat mencicipi soto Banjar. Kupikir saat itu soto Banjar ini adalah soto yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harus saya akui memang saya bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk mencicipi semua masakan nusantara yang sekarang orang menyebutnya sebagai wisata kuliner :). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan Soto Banjar, juga sate ayam, sembari mendengarkan musik tradisional orang Banjar yang disebut Panting. Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan, merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada perkembangannya, Panting dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti babun, gong,dan biola sehingga pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dari pasar terapung, kami ke Martapura, Banjar, untuk menemui dan mewawancarai tokoh masyarakat di sana. Salah satu yang kemi temui adalah Abah Anang, seorang Kyai (ulama Banjar) yang sangat berpengaruh. Karena kuatnya pengaruh Abah Anang di masyarakat Banjar, hampir semua calon Presiden bertandang padanya setiap kali musim pemilu di Indonesia. Bahkan Kapolri, Paglima TNI, dan pejabat lembaga-lembaga tinggi Negara hampir semuanya datang padanya. Kalau masyarakat kecil datang untuk berkonsultasi soal keislaman bahkan urusan dapur, kasur dan sumur, maka para pejabat datang padanya untuk minta didoakan supaya langgeng dan (ny)aman kursi kekuasaan mereka. :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5CzOhNkzyyg/Tt7qoItxsFI/AAAAAAAABe0/r8smSkol-Ow/s1600/IMG_0008.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-5CzOhNkzyyg/Tt7qoItxsFI/AAAAAAAABe0/r8smSkol-Ow/s320/IMG_0008.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Kami pun mampir membeli buah tangan kain Sasirangan dan juga batu mulia. Sahabat Sasirangan adalah salah satu produsen dan penjual kain (batik) Sasirangan. Di salah satu tokonya di Martapura ada tergerai kain Sasirangan palsu. Buatan dari negeri Cina. Bahan kainnya tampak beda serta dari penampilan sudah tampak kalau ia dibuat secara massal menggunakan mesin. Jelas ditulis pada secarik kertas yang tertempel di kain kalau ini adalah Sasirangan palsu, dan toko ini tidak menjualnya. Bahkan pencapaian budaya nenek moyang dalam bentuk kain batik pun tak dilindungi dengan semestinya oleh Pemerintah. Ada banyak kasus seperti ini, motif-motif kain tenun atau batik di berbagai daerah dengan mudah ditiru oleh negeri tirai bambu itu. Mereka memproduksinya secara berlimpah sehingga harganya jadi murah. Tetapi, tentu saja, adalah barang palsu. Kalau kita mau ikut melestarikan kekayaan budaya negeri sendiri, salah satu wujud kecintaan itu adalah dengan cara membeli barang yang asli... :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Martapura, saya dan teman-teman sempat mampir di &lt;a href="http://rifafreedom.wordpress.com/2008/09/17/mesjid-al-karomah-martapura/"&gt;Masjid Agung Al Karomah&lt;/a&gt;. Dari luar masjid ini tampak indah dan megah. Di dalamnya, usai sembahyang kami sempat leyeh-leyeh. Udara di dalam jelas terasa sejuk. Sementara cahaya matahari begitu menyengat di luar masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini merupakan bagian dari perjalan saya di Kalimantan Selatan pada 4 - 13 Mei 2011.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-1508833003058811357?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/31EpM0Yi2Mw/dari-lok-baintan-ke-martapura.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-XiRAWxzqsl0/Tt7p3r600RI/AAAAAAAABeU/cI96RNR3PfE/s72-c/Pasar%2BTerapung%2BLok%2BBaintan%2B%25285%2529.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/12/dari-lok-baintan-ke-martapura.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-8717388816434442238</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 11:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-06T09:43:54.683+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><title>Saya pun salah satu korbannya</title><description>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IqPgq0gA3dk/Torz6upNGSI/AAAAAAAABD8/w4nVT7Hw2-s/s1600/logo_tsel.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-IqPgq0gA3dk/Torz6upNGSI/AAAAAAAABD8/w4nVT7Hw2-s/s1600/logo_tsel.png" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi ini saya mendapati sebuah koran nasional yang kebetulan dibeli oleh seorang teman kerja yang berpapasan di ruang makan. Salah satu beritanya, semakin banyak keluhan masyarakat yang merasa ditipu, pulsa ponselnya digarong oleh layanan SMS Content yang mereka tak pernah berlangganana. Modus-modus penipuan melalui SMS, mulihat, dan kemudian penerima SMS secara tak sadar kemudian terjebak berlangganan pesan yang mereka inginkan. Pulsa tersedot, informasi yang diterima juga tak berguna. Selain itu, ada juga yang secara tiba-tiba, tanpa pernah mendaftar, lalu terdaftar sebagai pelanggan informasi dengan tarif premium itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang ini secara mengejutkan saya pun kembali menerima SMS yang tidak jelas sumbernya. Langsung saya cek pulsa yang saya gunakaan terakhir dari pemakaian. Karena saya pengguna nomor Simpati dari operator Telkomsel, saya pun mengecek dengan cara menghubungi *888# dan hasilnya mengejutkan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Biaya akses event terkahir adalah Rp.2200&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Adapun layar ponsel saya menunjukkan keterangan dan isi SMS ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;9388&lt;br /&gt;
04.10.2011&lt;br /&gt;
03:22 PM&lt;br /&gt;
Rafi Ahmad mempersembahkan sesuatu khusus untuk anak Yuni Shara, saksikan liputannya di http://bit.ly/r5kRSI&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Kalau seandainya manusia, bukan mesin, tentu si pengirim sudah sangat keterlaluan berkirim informasi yang sesungguhnya buat saya adalah sampah. Saya tidak mengurusi kehidupan artis. Sungguh saya adalah pembenci berita remeh temeh semacam ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kemudian menghubungi nomor pengaduan yang disediakan oleh &lt;a href="http://www.detikinet.com/read/2011/10/03/110147/1735273/328/brti-sesalkan-minimnya-pengawasan-operator/"&gt;Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)&lt;/a&gt; di 159. Telepon saya dijawab oleh mesin penerima. Satu hal yang membuat saya tercenung adalah permintaan mesin penjawab supaya sebelum melakukan pengaduan ini sebaiknya pengadu melakukan pengaduan terlebih dahulu ke operator telepon selulernya. Saya pikir, saran ini sangat masuk akal. Saya ingin operator ponsel memberikan layanan yang baik dan bertanggung jawab atas penipuan ini. Jika tidak pengaduan ini tidak memuaskan, maka saya akan adukan ini ke BRTI. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pun menghubungi operator di nomor 116. Setelah mengikuti instruksi mesin operator, saya pun akhirnya berhasil tersambung ke petugasnya yang bernama Karin. Saya adukan perihal nomor sms content yang baru saja menyedot pulsa saya sebesar 2.200 rupiah itu. Lalu kemudian Karin yang suaranya lembut sebagaimana operator telepon maupun penyiar radio yang memang tidak kita ketahui seperti apa rupanya, meminta saya menunggu. Ia akan mengecek Content SMS yang terdaftar pada nomor ponsel saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil pengecekan operator Telkomsel ini akhirnya menemukan bahwa terdapat 3 SMS Content serta nama atau keterangan dari nomor-nomor tersebut yang tentunya masih akan terus memangsa pulsa yang saya miliki. Mereka adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;7337: IGUANA, aktif sejak 6 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;9044: NEXIAN, aktif sejak 21 Agustus 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;9388: INFOKOM, aktif sejak 6 September 2011&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Saya minta semuanya dihapus dari daftar SMS Content pada nomor ponsel saya. Sesungguhnya saya merasa tidak pernah mendaftar ke nomor-nomor premium tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memang baru berganti ponsel dari semula Nokia ke Nexian. Alsannya sederhana, saya membutuhkan pesawat ponsel untuk nomor CDMA. Pesawat saya yang lama saya gunakan untuk telepon rumah. Telepon rumah sendiri yang dulu menggunakan layanan dari PT. Telkom hendak saya putus karena memang kami sekeluarnya nyaris tidak pernah menggunakannya, sementara abonement yang harus kami bayarkan lebih dari cukup untuk menjadikan ponsel CDMA di rumah selalu aktif. Jadilah saya pengguna Nexian yang menawarkan penggunaan nomor GSM dan CDMA dalam satu pesawat telepon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SMS content yang masih terdeteksi Telkomsel saya curigai dari penggunaan pesawat baru ini, meski saya merasa sudah melakukan pemutusan layanan SMS Content dengan cara UNREG untuk semua layanannya, entah mengapa nomor dari Nexian ini masih bercokol. Nomor 9388 yang barusan menyedot pulsa saya itu sama sekali tidak pernah saya mendaftarkan. Sebagai catatan, saya tidak pernah merasa tertarik pada gosip artis yang tidak punya kemanfaatan terhadap saya dan keluarga, apalagi buat masyarakat Indonesia selain daripada sekedar sampah informasi yang harusnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Bahkan saya tidak memiliki televisi di rumah karena banyaknya tayangan sampah infotainment seperti itu. Layanan SMS Content dari IGUANA juga, entah mengapa bisa bercokol di nomor ponsel saya. Saya tidak pernah mendaftar ke nomor ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebulan lalu pun saya sempat menerima SMS yang berisi tentang pengetahuan agama. SMS ini pun dengan tarif premium dan sungguh mati saya tidak pernah mendaftar ke nomor tersebut. Saya kesal. Langsug SMS saya balas dengan mengetik UNREG dan kirim. Akhrinya berhasil berhenti berlangganan. Padahal saya hanya mengira-ngira cara untuk berhenti berlangganan dengan mengetik UNREG saja. :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluhan masyarakat luas yang sampai menjadi pemberitaan media beberapa hari terahir ini menjadi pelajaran buat saya. Juga buat masyarakat semua. Penipuan seringkali beroperasi dengan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Saya termasuk orang yang tidak suka ikut perkembangan gaya hidup, entah itu fashion maupun gadget. Bahkan kalau ditanya ponsel saya tipe apa, saya pun tak tahu selain bahwa ia punya merek dagang tertentu. Prinsip saya, selagi sesuai dengan kebutuhan saya maka itulah yang saya gunakan. SMS Content yang sudah hilang dari daftar benalu nomor ponsel saya, terus terang belum menjadi kebutuhan untuk saat ini. Entah nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembaruan Jum'at, 07 Oktober 2011:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini saya menggunakan Telkomsel Flash untuk  mengakses internet. Tiba-tiba muncul SMS yang nomor pengirimnya ditutupi  (&lt;i&gt;masked&lt;/i&gt;) sehingga keterangan pengirim yang muncul bernama PROMO  seperti tampak berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;From: PROMO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;Time: 2011-10-06 13:16:02&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;Pemilik no.HP dgn 4 digit belakang 1988, SEGERA hubungi *800*600#, kesempatan dapat Uang dan Pulsa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;2rb/sms/hr cs02158908230 Stop:UNREG LANGIT ke9577&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Saya menghubungi operator Telkomsel. Salah satu petugasnya (namanya Lindi atau siapa, saya jadi lupa karena emosi mendengar jawabannya :) ) Kemudian ia mengecek jikaa ada nomor yang  saya berlangganan SMS Content. Hasilnya NIHIL. Nomor untuk internetan saya tidak berlangganan apapun. Saya mengeluhkan pulsa saya yang dicuri. Petugas operator ini terus ngotot menyatakan saya berlangganan atau membalas SMS penawaran sehingga pulsa saya terkurangi. Terus berbantahan, akhirnya saya tanyakan apa ada kebijakan Telkomsel untuk menghentikan promo seperti ini. Ia hanya mengatakan kalau itu kesalahan saya yang membalas SMS promo yang saya terima. Hopeless!!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyadari kalau yang saya hadapi adalah petugas lapangan yang tidak tahu soal kebijakan pemberian izin promo kurang ajar ini. Mestinya operator tidak boleh membuka kesempatan para pencuri seperti ini. Kalau memang mau promosi produk tertentu, silahkan saja mengirim SMS dengan cara umumnya. Kalau penerima tidak mau membalas, tentu ia tidak mengeluarkan pulsa untuk biayanya. Apalagi kalau sekedar menerima SMS, tidak boleh pulsa si penerima diambil seenaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di negara kleptokrasi seperti Indonesia ini, tak hanya pengurus Negara, banyak pihak juga berlomba-lomba jadi pencuri. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-8717388816434442238?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/yFAHoL-zf-U/saya-pun-salah-satu-korbannya.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-IqPgq0gA3dk/Torz6upNGSI/AAAAAAAABD8/w4nVT7Hw2-s/s72-c/logo_tsel.png" height="72" width="72" /><thr:total>8</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/10/saya-pun-salah-satu-korbannya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-7165368791004008636</guid><pubDate>Mon, 15 Aug 2011 09:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T19:04:10.051+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Ingat bidadari, lupa pada istri</title><description>Beberapa malam lalu saya mencicipi ceramah menarik pada ibadah tarawih berjamaah di sebuah perumahan mewah di sebelah Timur Cibubur. Sebagaimana pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, saya memang suka mengikuti ceramah tarawih di masjid ini karena isi ceramah yang biasanya memang bagus-bagus, tidak menggurui, dan menambah wawasan. Tak melulu ngomongin ibadah ritual, tetapi juga tentang kaitan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial dan kebudayaan masyarakat. Maklum, sejak kecil saya tidak pernah nyantri selain pesantren kilat waktu masih siswa SMA di Bengkulu sana. Juga, pengetahuan agama saya teramat sedikit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-SchLCZ2ur7k/TkjiOFettZI/AAAAAAAABDw/iElS1BpBl6U/s1600/Lotim%2B%2528102%2529.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-SchLCZ2ur7k/TkjiOFettZI/AAAAAAAABDw/iElS1BpBl6U/s200/Lotim%2B%2528102%2529.JPG" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada malam itu, kalau biasanya penceramah hadir di shaf (barisan) shalat paling depan, penceramah yang saya lupa namanya ini datang dari shaf tengah dan kemudian berjalan menuju mimbar sesaat setelah dipersilahkan oleh panitia Ramadhan di masjid tersebut. Ia terlihat sederhana, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan menggunakan peci, tubuh terlihat agak kurus dibandingkan dengan tinggi badannya yang sekira 160-an centi meter. Dialek Jawanya yang terkesan orang "ndeso" tertutupi oleh pengetahuan agama yang terlihat luas dan membuatnya tetap terlihat berwibawa membawakan ceramah dengan sindiran-sindirannya yang cukup tajam malam itu. &lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Naik ke mimbar, ia memulai ceramah dengan cerita tentang taman surga bagi siapa saja yang memiliki amal kebaikan selama hidup di dunia. Ia mengingatkan kembali betapa sukanya manusia akan tempat yang disebut dengan taman. Di sebelah utara Jakarta terdapat Taman Impian Jaya Ancol. Lalu ada Taman Safari yang jauh di sebelah selatannya. Juga ada Taman Mekarsari di daerah Jonggol, kabupaten Bogor. Jika sudah meninggal pun orang maunya dimakamkan di sebuah taman, seperti yang terdapat di daerah Kalibata:  Taman Makam Pahlawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang pastilah ingin berada di taman yang indah sebagai tempat peristirahatan terakhir. Meski ukurannya kecil, hanya satu kali dua meter saja, kalau suasananya seperti taman tentunya akan terasa nyaman. Tidak terasa lamanya menunggu hari akhir (akhirat) datang. Pada intinya, amal kebaikan yang kita lakukan selama di dunia ini yang akan menentukan apakah kuburan kita nanti akan seperti taman yang indah atau malah gelap gulita dan menyeramkan :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di akhirat nantinya kita maunya masuk ke taman surga. Taman Firdaus adalah surga dengan tingkatan paling atas, tempatnya orang-orang yang seluruh hidupnya di dunia hanya diisi dengan amal kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah lebih kurang cerita ustadz itu tentang taman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, penceramah yang membuat saya jatuh hati ini kemudian bertanya pada jamaah, "Anda mengharapkan siapa kira-kira pendamping hidup Anda kalau nanti masuk surga?" Pertanyaan itu itu kemudian diarahkan ke imam shalat Tarawih malam itu. Ia minta imam menjawab pertama kali. Lalu sang imam pun menjawabnya, "Bidadari..." Penceramah tersebut mengarahkan pertanyaan yang sama kepada semua jamaah laki-laki. Tentu jawabannya sama dengan sang imam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan nada sedikit meninggi, ustadz meminta imam beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Istighfar. Minta ampunlah kepada Allah karena ketika masuk surga ternyata pak imam lupa pada istri. Lupa pada anak-anaknya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontan pernyataan ustadz ini membuat terperangah semua jamaah termasuk saya yang ada di barisan agak belakang ruang masjid yang besar itu. Ustadz juga meminta semua jamaah untuk beristighfar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau pulang kerja, kita minta dibuatkan teh pada istri. Kalau capek minta dipijitin istri. Apa-apa minta disediakan istri. Giliran masuk surga, istrinya dilupakan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamaah terdiam. Saya terkesima. Belum pernah saya mendengar sindiran yang tajam kepada jamaah muslim di masjid ini. Sindiran ini, meski disampaikan dengan cara sambil tertawa, terus terang sangat mengena.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dulu waktu kita masih kecil, masih ingat gak siapa yang nyebokin kita? Siapa? Ibu kita. Ayah kita. Lalu masuk surga pun kita lupa pada mereka."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamaah bertambah diam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak salah, semua orang selama ini membayangkan kehidupan di surga yang serba indah, serba nikmat, tak ada habisnya. Tapi tak pernah kita berpikir bahwa semua kenimatan itu akan dinikmati bersama orang-orang yang kita cintai selama di dunia, anak-istri kita, orang tua kita, tetangga-tetangga kita. Mereka semua orang-orang seperjuangan dengan kita saat menjalani kehidupan di dunia ini. Bahkan, jika memang memaknai Rahmatan lil 'alamin secara lebih luas, tentunya kita ingin semua orang di dunia ini berbuat kebaikan bersama kita sehingga kelak kebahagiaan di akhirat pun kita nikmati bersama-sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada lagi penderitaan. Tak ada lagi kemiskinan. Tak ada lagi luka lara. Semua bahagia di surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata ustadz yang berceramah malam itu, akan lebih baik kalau kita berdoa agar masuk surga bersama-sama orang-orang yang kita cintai di dunia ini. Bidadari itu adalah simbol tentang kecantikan luar biasa makhluk-Nya. Tentu kita berharap bidadari itu kelak adalah ibu yang telah melahirkan dan mencurahkan kasih sayangnya pada kita sejak masih dalam kandungan, istri kita yang merasakan betul pahit getir mendampingi hidup kita, adik - kakak perempuan kita, dan semua perempuan yang telah mengamalkan seluruh hidupnya untuk berbuat kebaikan dan membuat dunia ini begitu nyaman bagi semua penghuninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.  &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-7165368791004008636?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/T_phsJbyu6Y/ingat-bidadari-lupa-pada-istri.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-SchLCZ2ur7k/TkjiOFettZI/AAAAAAAABDw/iElS1BpBl6U/s72-c/Lotim%2B%2528102%2529.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/08/ingat-bidadari-lupa-pada-istri.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-275483054418145042</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 04:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-15T16:27:46.294+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Niken dan PRT-nya</title><description>Menerima PRT mulanya dari tetanggannya yang mencari pekerjaan dengan mendatangi bapaknya di Purworejo. Akhirnya PRT ini dibawa ke tempat tinggalnya di Batam sejak tahun 2007. Lalu kemudian berlanjut ketika ia dan keluarganya pindah ke Jakarta dan terakhir di Yogyakarta setahun terakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan yang diberikan kepada PRT berupa bersih-bersih rumah, mencuci, dan memasak dan mengantarkan anak ke sekolah. Saat pertama kali di tahun 2007 ia menggaji PRT sejumlah 600 ribu rupiah. Lalu dinaikan hingga menjadi 800 ribu rupiah. Sebenarnya tidak ada pekerjaan  yang diwajibkan untuk diselesaikan oleh PRT. Niken juga biasanya menyapu halaman serta membersihkan rumah. Jadi ia memberikan pekerjaan kerumahtanggaan secara fleksibel kepada PRTnya. Suasana kekeluargaan terus dijaga oleh Niken selaku orang tua tunggal dalam keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Sejak berpisah dengan suaminya kira-kira 6 bulan lalu, Niken bernegosiasi dengan PRT mengenai gaji. Niken menurunkan gaji PRTnya kerena ia merasa tidak mampu untuk membayar sebesar 800rb seperti sebelumnya. Ia menyanggupi 600 rb setiap bulannya. Lalu sejak 4 bulan lalu akhirnya ia kembali bernegosiasi tentang gaji PRTnya ini, sebab ia hanya mampu membayar 400 rb. Untuk ekonomi keluarga, sejak bercerai dengan suaminya Niken menghidupi 2 orang anaknya dari berjualan buku serta menulis cerpen dan novel serta tulisan-tulisan non fiksi yang ia cetak dan distribusikan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Meski kesepekatan dengan PRT ia akan menggaji hanya 400rb, namun Niken biasanya membayarkan 500rb. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua kebutuhan PRT dipenenuhi oleh Niken. Tak ada perbedaan makan antara keluarga Niken dan PRTnya. Rumah kontrakan yang mereka tempati memiliki 3 kamar tidur. PRTnya sekamar dengan anak-anak Niken. Meski ada kamar sendiri, PRT biasa tidur dengan anak-anak karena akrabnya mereka. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan bersih-bersih rumah, Niken ikut melakukan, sehingga sebenarnya PRT lebih ringan pekerjaannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PRT Niken biasanya mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah sekitar 7km dari kediaman mereka. Ada sepeda motor yang biasa digunakan oleh PRTnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang pernah mengganggu Niken, PRTnya pernah dianggap membahayakan keselamatan mereka. Satu saat, ketika memboncengkan Niken dengan sepeda motor, di traffic light PRTnya asyik mengirimkan SMS. Ini mengganggu Niken. Karena sering terjadi, akhirnya Niken menegur. Bagi Niken, hal semacam itu lebih baik dikomunikasikan. Ia akan menegur PRT kalau ada hal yang dinilainya tidak baik. Mengenai SMS, di rumah tinggal pun PRT sering SMSan dan berpacaran menggunakan HP. Tapi Niken membiarkan saja karena masih dianggap wajar. Masih bisa ditoleransi. Lagi pula ia memaklumi masa lalu PRTnya pernah ditinggal oleh suaminya, dan sekarang bertemu lagi dengan teman masa kecil melalui facebok. Niken sendiri yang mengenalkan facebook (dan internet) kepada PRTnya ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niken seorang penjual buku serta penulis cerpen dan masuk dalam komunitas sastrawan muda yang lahir dari kalangan mahasiswa tahun 2000 awal. Ia memiliki perpustakaan untuk keluarganya. Ia pun ingin perpustakaan tersebut menjadi sumber ilmu buat PRTnya, tak hanya bagi diri dan anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yogyakarta, 20 Oktober 2010&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-275483054418145042?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/2AJ9ut1CuEc/niken-dan-prt-nya.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/06/niken-dan-prt-nya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-6893178094735044384</guid><pubDate>Thu, 16 Jun 2011 08:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T09:46:36.615+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Lie on Air Maskapai Lion Air</title><description>Anda pernah naik pesawar Lion Air? "Pesawat ini memang suka &lt;i&gt;Lie on air&lt;/i&gt;," kata teman lama masa kuliah dulu menanggapi sebuah foto kericuhan yang terjadi pada 2 Juni 2011 malam di terminal 1B bandara Soekarno Hatta. Foto itu saya ambil saat orang-orang ramai berkerumun mengelilingi petugas Lion Air di salah satu &lt;i&gt;Gate&lt;/i&gt; di terminal itu. Saya mengunggahnya di facebook beberapa menit setelah kejadian memalukan tersebut. Orang-orang minta bertemu dengan pihak managerial Lion Air karena merasa kasihan juga kalau bawahan-bawahan yang langsung menghadapi para calon penumpang. Kata-kata kasar meluncur. Makian kian tak terkendali. Tapi nyatanya, Lion Air memang sudah terkenal suka ingkar jadwal penerbangan yang mereka buat sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SCt56Vtd5BI/Tfm8iUcIIsI/AAAAAAAABCo/_JKJm-3dSUY/s1600/Ricuh+di+Bandara.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-SCt56Vtd5BI/Tfm8iUcIIsI/AAAAAAAABCo/_JKJm-3dSUY/s400/Ricuh+di+Bandara.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Saya kebetulan hendak pulang ke Bengkulu hari itu. Kami semua berjumlah 14 orang termasuk anak saya yang belum lagi berusia 2 tahun. Jadwal penerbangan ke Bengkulu sebenarnya pukul 17.04 WIB. Ketika kami datang pada sekitar pukul 16, sampai dengan pukul 17, ruang tunggu sudah tak mampu menampung calon penumpang. Calon penumpang tumpah ruah menunggu di koridor menuju ruang tunggu. Lalu tiba-tiba suasana jadi bertambah ramai oleh kegaduhan para calon penumpang yang penerbangannya ditunda. Yang saya ingat, mereka hendak menuju Medan. Mereka kecewa karena, bisa jadi, jadwal rapat mereka akhirnya harus terganggu dengan penundaan ini. Juga ada janji keluarga atau urusan bisnis lain yang pada akhirnya jadi berantakan karena penundaan ini. &lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Kegaduhan yang terjadi sore itu berlanjut hingga malam. Penerbangan kami ke Bengkulu juga diumumkan mengalami penundaan 3 jam dan itu pun menimbulkan teriakan "huuu....." dari para calong penumpang. Itu artinya paling cepat kami baru bisa berangkat pada pukul 20.04 WIB. Entah kenapa kok penundaan bisa selama itu. Lalu sekitar sejam dua jam kemudian kegaduhan terjadi lagi dan kali ini merupakan bentuk kemarahan dari penumpang menuju Palembang. Disusul kembali dengan kemarahan dari mereka yang hendak ke Pekanbaru. Menjelang pukul 20 lalu terjadi keributan. Ternyata kembali calon penumpang yang akan menuju Medan. Penumpang yang satu rombongan dengan kami pun mulai berteriak-teriak seperti penumpang-penumpang dengan tujuan kota-kota di Sumatera itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa capek dengan semua keributan. Sebenarnya sangat marah dan kesal pada pelayanan macam ini. Saya sudah menebak sejak semula bahwa tidak mungkin hanya sekedar persoalan terknis penerbangan. Sangat mungkin karena keinginan maskapai untuk membuat semua kursi di pesawat penuh semua hingga baru akan diberangkatkan. Lagi pula, ini saatnya libur panjang di akhir pekan. Tanggal 2 Juni merupakan hari libur nasional karena peringatan Kenaikan Isa Almasih. Otomatis hari Jumat keesokan harinya menjadi libur bersama yang akan berlanjut hingga hari Ahad. Tiket dengan harga mahal tentu bak musim panen bagi maskapai angkutan udara. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Saya hanya peduli dengan anak-anak saya yang mulai tak bisa diam karena jemu menunggu. Mereka berlarian kesana kemari. Saya khawatir mereka akan kecapean dan juga hilang ditengah kerumunan orang yang sedang emosi tinggi. Tentu saya tak ingin mereka sampai celaka karena terinjak atau malah terbanting di salah satu sudut karena ketidaksengajaan orang-orang yang sedang kecewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunggu selama 3 jam ternyata membuat hati saya penat. Sejak selepas lebaran Idul Fitri tahun lalu saya menjalankan tugas penelitian lapangan di berbagai daerah di Indonesia bagian Timur dan Tengah. Eloknya, penerbangan kami selalu menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Saya bangga dengan maskapai ini yang merupakan simbol transportasi udara Nusantara milik pemerintah. Pelayanan baik, meski pernah satu kali kami harus marah pada petugas bandara Sultan Hasanuddin Makassar karena ketidakjelasan &lt;i&gt;Gate &lt;/i&gt;untuk keberangkatan. Itupun kami sadari kemudian disebabkan karena ketidakberesan dalam pengelolaan bandara hingga tak ada kepastian tempat parkir pesawat. Hal semacam ini tak hanya terjadi di Makassar, di bandara Soekarno Hatta pun sudah menjadi biasa penumpang harus berpindah dari &lt;i&gt;Gate&lt;/i&gt; yang tertera di &lt;i&gt;Boarding Pass&lt;/i&gt; ke &lt;i&gt;Gate&lt;/i&gt; dimana pesawat yang akan digunakan mendapat tempat parkir. Hal ini merupakan gambaran pengelolaan yang belum sempurna--untuk tidak mengatakan buruk--bandara-bandara yang katanya kelas internasional. Tak hanya itu, saya pikir ini semua cermin pemimpin-pemimpin negeri ini yang juga bisa jadi lebih buruk dalam mengurus Negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang lebih baik saya dapatkan dari layanan Garuda adalah keterlambatan dibayar dengan &lt;i&gt;Executive Lounge&lt;/i&gt; yang membuat saya dan teman-teman satu tim yang akan ke Ambon November lalu harus rehat dan menikmati hidangan di ruang tuggu itu. Setidaknya, kami merasa mendapatkan kepastian bahwa pesawat memang tertunda karena keterlambatan pesawat yang datang dari daerah. Kenyamanan ruang tunggu dan hidangan itu sedikit mengobati. Dan yang pasti, meski kursi penumpang tidak semuanya terisi, pesawat dari maskapai ini tetap melakukan penerbangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maskapai lain yang pernah saya dan keluarga tumpangi kadangkala juga mengalami penundaan penerbangan. Hanya saja tidak separah yang dilakukan oleh Lion Air. Kalau Lion Air terkenal suka menunda penerbangan, itu tandanya sudah telalu sering penumpang mengalami ini serta frekuensinya terlalu tinggi. Syukurnya, maskapai ini tidak menguasai penerbangan semua rute dan dengan ongkos relatif murah. Kalau tidak, tentunya kita hanya bisa menggerutu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vHZIqUlXSfw/Tfm8xsirgwI/AAAAAAAABCs/Z-XFfCiaBu8/s1600/Lion+Air.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://2.bp.blogspot.com/-vHZIqUlXSfw/Tfm8xsirgwI/AAAAAAAABCs/Z-XFfCiaBu8/s400/Lion+Air.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Saya teringat kecelakaan Lion Air di bandara Adi Sumarmo pada 30 November 2004 lalu. &lt;a href="http://berita.liputan6.com/read/90957/class=" target="_blank"&gt;Peristiwa naas&lt;/a&gt; yang menewaskan puluhan orang termasuk pilotnya tersebut &lt;a href="http://www.jurnalnet.com/konten.php?nama=Aktualita&amp;amp;id=13" target="_blank"&gt;dibantah&lt;/a&gt; oleh pihak Lion Air sebagai satu kecerobohan dan mengabaikan standar keselamatan. Peristiwa itu membuat saya ngeri. Sebuah koran nasional memuat karikatur di pojok kiri bawah halaman muka dengan tulisan &lt;i&gt;We make people cry&lt;/i&gt;. Tulisan tersebut merupakan plesetan dari semboyan &lt;i&gt;We make people fly&lt;/i&gt; yang dijual maskapai ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manajemen di darat yang kacau balau bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kekacauan dalam penerbangan di udara. Dan jika fatal, sangat mungkin nyawa bisa jadi taruhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Mandala Air, yang menurut seorang teman memiliki layanan terbaik kedua setelah Garuda, telah mengalami tutup buku, saya berharap maskapai-maskapai lain dapat memberikan layanan tak kalah memuaskan bagi para pengguna jasa angkutan udara di Indonesia. Ungkapan teman lama saya pada awal tulisan ini "Lie on air" yang mungkin maksudnya Lion Air suka bohong tentu harus mendapatkan perhatian dari pihak manajemen maskapai ini jika tak mau terus menerus mengalami kemerosotan kepercayaan. Saya kecewa, tapi saya masih berharap Lion Air mau belajar dari kekecewaan penumpang-penumpangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tambahan informasi, 11 Juli 2011:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lion Air juga dilaporkan ke Komnas HAM oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia terkait diskriminasi yang sering mereka terima saat ingin melakukan penerbangan menggunakan maskapai itu. Lihat beritanya &lt;a href="http://tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/07/11/brk,20110711-345964,id.html" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-6893178094735044384?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/PFmI6PaBpGw/lie-on-air-maskapai-lion-air.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-SCt56Vtd5BI/Tfm8iUcIIsI/AAAAAAAABCo/_JKJm-3dSUY/s72-c/Ricuh+di+Bandara.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/06/lie-on-air-maskapai-lion-air.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-4840177414771197514</guid><pubDate>Tue, 29 Mar 2011 03:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-29T10:38:29.056+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Tuhan menjadi saksi pernikahan kami</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dJfHiQoX240/TZFSkrGv2SI/AAAAAAAABBE/qxtJ37IEhSs/s1600/alternative-speed-dating-800X800.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="http://1.bp.blogspot.com/-dJfHiQoX240/TZFSkrGv2SI/AAAAAAAABBE/qxtJ37IEhSs/s200/alternative-speed-dating-800X800.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Surti. Itu bukanlah nama aslinya. Ia mahasiswa asal Sumatera saat itu. Kuliah di Jogja memberikan pengalaman tersendiri untuknya. Mengikuti kegiatan kampus dan organisasi bersama teman-temannya di Jogja, melakukan bakti sosial pada masyarakat di sekeliling kampus, membuat dirinya mengalami perubahan cukup signifikan. Semula ia adalah gadis pendiam. Susah untuk melihatnya mau bicara kalau orang tak mengajaknya bercakap-cakap secara pribadi. Jadilah ia gadis rantau yang mulai mengenal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa kuliah, sebagai muslimah yang baik, ia tak begitu terpengaruh oleh teman-temannya yang mulai menjalin hubungan khusus dengan teman mahasiwa laki-laki. Ia tahu, sebagai orang yang berlatar belakang keluarga yang cukup agamis, hal semacam ini harus ia hindari. &lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Memasuki tahun ketiga ia kuliah di Jogja, Surti mulai berkenalan dengan salah satu kelompok kajian mahasiswa. Kelompok ini mencoba mencari pemahaman baru tentang keislaman mereka. Mereka kritis pada teman-teman di kampus yang mulai seperti garis keras, gampang menganggap teman-teman lain sebagai kelompok sesat, tidak syari'ah, atau menilai bahwa pemahaman teman-teman lain terhadap agama Islam banyak yang salah. Surti merasa tidak mendapatkan tempat untuk memiliki pemahaman yang lain di komunitas mahasiswa muslimah kampusnya. Karena itulah, kelompok kajian tempat ia baru bergabung ini memberikan kesan yang cukup dalam untuknya. Ia boleh menggali keagamaan dan keingintahuannya secara lebih leluasa. Ia bisa mendiskusikan apa saja untuk mendalami pemahamannya. Teman-teman barunya ini kemudian ia ketahui sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syiah. Kelompok ini terkenal suka melakukan kajian kritis Keislaman dan isu-isu sosial politik. Murtada Mutahhari dan Ali Syariati merupakan dua tokoh Islam asal Iran yang menjadi idola mereka dalam memahami Islam dan dunia. Dua tokoh merupakan tokoh kritis pada masa revolusi di negeri Timur Tengah tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di komunitas baru ini Surti kemudian mengenal seorang pemuda. Satu kampus dengannya, hanya beda fakultas. Pemuda ini terlihat cerdas, kritis dan senang berpolitik di kampus. Pemuda itu pernah pula mencalonkan diri pada satu kesempatan pemilihan Ketua BEM di tingkat universitas. Kebetulan mereka sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Meski berasal dari Sumatera, orang tua Surti sebenarnya berasal dari tanah Sunda. Mereka pun akrab. Akhirnya kedekatan mereka cepat diketahui oleh teman-teman sekitarnya. Mungkin karena mereka sudah mulai terlihat bersama ke mana-mana. Penampilan Surti yang mengenakan pakaian muslimah seperti jubah, dengan kerudung yang cukup besar, menimbulkan tanda tanya besar pada teman-temannya tentang terlihatnya mereka berjalan bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berceritalah Surti pada salah teman dekatnya dulu yang juga sama-sama merantau dari Sumatera untuk melanjutkan pendidikan di Jogja. Surti pun membuka cerita perjalanannya hidupnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surti dan pemuda pujaannya meyakini ajaran syiah yang mereka pelajari belakangan ini. Mereka juga tak ingin menjalani kehidupan sebagaimana mahasiswa lain yang melakukan pacaran. Buat mereka, tak boleh ada hubungan semacam pacaran. Ajaran Islam yang mereka yakini memberikan jalan kemudahan supaya mereka dapat hidup bersama namun tidak berdosa. Mereka sudah menikah menurut keyakinan mereka. Pernikahan ini yang dinamakan Pernikahan Muth'ah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan muth'ah yang mereka jalani, menurut Surti, adalah pernikahan yang mereka lakukan sendiri. Prosesnya, mereka bersepakat menjadi suami istri. Lalu meniatkan diri untuk menjadi pasangan suami istri. Dalam pernikahan ini mereka terikat perjanjian atau kontrak yang mereka sepekati berkaitan dengan sebatas mana hubungan ini mereka jalani. Misalnya, apakah mereka hanya boleh berjalan berudua-duaan saja, atau sampai pada tinggal serumah, melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya hubungan suami istri yang dipahami khalayak banyak, beban ekonomi ditanggung ataukah tidak oleh salah satu pihak atau menjadi tanggungan kedua belah pihak, apakah status suami istri ini akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu ataukah akan tetap selamanya, dan lain sebagainya. Semua itu harus disepakati bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surti dan "suaminya" menikah pada satu waktu di tempat kos Surti. Tempat ini adalah sebuah rumah tinggal. Ada beberapa mahasiswi yang tinggal di sini. Mereka tinggal bersama dengan keluarga pemilik rumah. Mereka menyewa kamar-kamar yang seperti paviliun di rumah itu. Di teras rumah ini terdapat beberap kursi dan meja yang memang dijadikan tempat menerima tamu baik tamu keluarga pemilik rumah maupun tamu mahasiswi yang mondok di situ. Di situlah Surti dan pemuda pujaannya itu menikah. Ketika temannya bertanya apakah ada saksi, Surti hanya menjawab: "Allah Maha Tahu segalanya. Ia adalah Tuhan. Tuhan menjadi saksi pernikahan kami..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa tahun kemudian pemuda yang menjadi suami Surti lulus dari studinya. Ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Sebagai pemuda yang mulai berpolitik sejak mahasiswa, laki-laki pujaan Surti ini kemudian melanjutkan karir politiknya di sebuah partai politik Islam yang sempat jaya di masa Orde Baru. Di partai ini, demi karir politiknya yang kinclong, ia rela meninggalkan Surti. Pemuda ini lalu memilih menikahi putri salah seorang petinggi partai politik tempatnya bergelut, hingga ia tak lagi merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup bersama dengan Surti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surti kecewa ditinggal pemudanya. Ia sedih, sakit hati, tapi tak bisa berbuat lain selain menangisi diri. Surti memang tak pernah bercerita batasan hubungan dari pernikahan muth'ah mereka. Tetapi, status sebagai istri muth'ah pun membuatnya tak memiliki hak sama sekali untuk menuntut suaminya supaya tidak meninggalkannya. Ia kecewa selamanya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
1. Tulisan ini merupakan satu dari beberapa tulisan tentang kasus perkawinan untuk masukan revisi UU Perkawinan No.1 tahun 1974&lt;br /&gt;
2. Gambar ilustrasi diambil dari &lt;a href="http://www.ehow.com/way_5289383_alternative-speed-dating.html" target="_&amp;quot;blank&amp;quot;"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-4840177414771197514?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/Ws_PrGD445w/tuhan-menjadi-saksi-pernikahan-kami.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-dJfHiQoX240/TZFSkrGv2SI/AAAAAAAABBE/qxtJ37IEhSs/s72-c/alternative-speed-dating-800X800.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/03/tuhan-menjadi-saksi-pernikahan-kami.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-6292952042676612592</guid><pubDate>Thu, 10 Feb 2011 07:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-14T16:08:30.815+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Mengakui Pekka, Mengentaskan Kemiskinan</title><description>Oktober lalu, seorang teman aktivis perempuan yang mendampingi petani di pedesaan Yogyakarta dan Jawa Tengah bercerita kalau ada perempuan yang tidak dapat mengakses secara penuh bantuan pertanian dari Pemerintah. Petani pedesaan di sana mengalami diskriminasi karena mereka adalah janda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantuan pertanian berupa pupuk dari pemerintah pusat (Kementerian Pertanian) turun hingga ke masyarakat melalui pemerintah desa. Dalam hal pembangunan pertanian di desa, masyarakat membuat kelompok  tani-kelompok tani untuk mendapatkan bantuan. Di dalam kelompok petani,  setiap keluarga hanya diwakili oleh satu orang kepala keluarga. Di  beberapa desa, perempuan janda yang menjadi pencari nafkah untuk  keluarganya tidak dapat dianggap sebagai kepala keluarga. Masyarakat  masih menilai bahwa yang boleh menjadi kepala keluarga hanyalah seorang  lelaki, seorang suami sekaligus ayah dalam keluarganya. Ini menjadi  masalah krusial bagi keluarga yang tidak memiliki suami atau ayah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jU6tf-X3nFo/TVOM8C1ufdI/AAAAAAAAA8c/rzomp-08vf0/s1600/pekka.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://3.bp.blogspot.com/-jU6tf-X3nFo/TVOM8C1ufdI/AAAAAAAAA8c/rzomp-08vf0/s400/pekka.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Menurut informasi yang disampaikan oleh &lt;a href="http://www.pekka.or.idhttp//www.pekka.or.id"&gt;Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga&lt;/a&gt; (Pekka), sebuah NGO yang mendampingi dan memberdayakan perempuan kepala keluarga, ada sekitar 13 - 17 persen rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan (Pekka, 2009). Mereka yang terhitung sebagai perempuan kepala keluarga adalah perempuan yang ditinggal cerai, suaminya sakit hingga tak bisa mencari nafkah, janda ditinggal meninggal, perempuan lajang namun pencari nafkah untuk keluarganya, serta perempuan yang ditinggal suaminya untuk merantau atau hal lain namun lama tak jelas keberadaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika menghadapi kondisi di atas, seorang perempuan mau tak mau harus berjuang menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup diri dan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 masih menilai kepala keluarga adalah laki-laki. Budaya masyarakat di Indonesia yang masih bias patriarkhi juga mengabaikan entitas perempuan yang mengambil alih fungsi seorang laki-laki (kepala keluarga) untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Akibatnya, perempuan kepala keluarga seringkali mendapatkan diskriminasi dan kekerasan dalam keluarga bahkan di dalam masyarakatnya. Tidak diperhitungkan keberadaannya dalam kelompok tani seperti terjadi di salah satu desa di Yogyakarta adalah contohnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tempat tinggal saya, di pinggiran Jakarta, gang tempat kami tinggal dikenal sebagai gang janda. Sebabnya, dibandingkan dengan gang-gang lain di komplek perumahan ini, gang kami memiliki paling banyak janda (ditinggal mati suami). Mereka harus mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anaknya antara lain dengan berjualan atau membuka warung nasi kecil-kecilan di pagi hari. Pada satu rapat rukun tetangga (RT) tahun lalu, keputusan rapat yang dihadiri oleh kepala keluarga menyatakan kalau perempuan tidak boleh ikut mewakili keluarganya dalam rapat rutin RT setiap bulannya. Padahal, rapat RT seringkali membuat keputusan-keputusan yang menyangkut semua warga. Dengan demikian, jika keluarga janda ini tidak ada yang mewakili dalam rapat, berarti mereka harus menerima begitu saja semua keputusan rapat RT, dan&amp;nbsp; mereka pun wajib menjalankan keputusan-keputusannya. Terlihat jelas kalau perempuan janda tidak diakui sebagai kepala keluarga serta suaranya tidak dihargai. Padahal, tempat tinggal kami masih terhitung daerah perkotaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Millenium_Development_Goals"&gt;Tujuan pembangunan milenium&lt;/a&gt; yang dirumuskan oleh pemimpin-pemimpin dunia dan diupayakan untuk tercapa pada tahun 2015, pada tujuan pertama memuat "pengentasan kemiskinan dan kelaparan ekstrem" (Eradicate extreme poverty and hunger). Pada tujuan ketiganya disebutkan "mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan" (Promote gender equality and empower women). Kasus sulitnya perempuan kepala rumah tangga mengakses bantuan pertanian di pedesaan menunjukan dengan jelas rentannya perempuan pada kemiskinan. Sangat mungkin mereka akan menjadi petani miskin karena kebijakan pemerintah di sektor pertanian sendiri selama ini sudah membuat bertani bukan pekerjaan yang membuat sejahtera. Impor beras saat petani di dalam negeri sedang panen dan harga pupuk membubung tinggi saat musim bercocok tanam merupakan dua dari sekian kebijakan pertanian yang memiskinkan. Di tambah lagi, saat adanya program bantuan&amp;nbsp; untuk para petani, ternyata perempuan tidak dapat mengaksesnya dengan baik karena mereka tidak diakui sebagai kepala keluarga. Sementara, perempuan di wilayah kota (urban) tidak memiliki suara dalam pertemuan di lingkungan mereka. Kondisi ini jelas menunjukan ketimpangan relasi gender yang masih melekat dalam nilai-nilai sosial di masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Delapan tujuan pembangunan millenium yang disepakati dan dirumuskan pada Millennium Summit tahun 2000 agaknya akan sulit dicapai Indonesia pada 2015 nanti jika pemerintah masih belum berhasil membuat kebijakan yang baik. Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 perlu direvisi untuk memungkinkan pengakuan perempuan sebagai kepala keluarga. Demikian pula dengan pendidikan bagi masyarakat luas (baik formal dan informal) serta upaya-upaya menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan lelaki dan perempuan mutlak harus dilakukan oleh pemerintah selain yang sudah dilakukan oleh NGO perempuan. Kemiskinan di negeri ini lebih banyak dialami dan diderita kaum perempuan, dari pedesaan hingga perkotaan. Menghargai perempuan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah serta menghormati kesetaraan perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil upaya untuk mengentaskan kemiskinan sebagaimana menjadi tujuan dari pembangunan millenium.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-6292952042676612592?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/64SwzGFNP3I/mengakui-pekka-menghapus-kemiskinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-jU6tf-X3nFo/TVOM8C1ufdI/AAAAAAAAA8c/rzomp-08vf0/s72-c/pekka.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2011/02/mengakui-pekka-menghapus-kemiskinan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-7657740644155967366</guid><pubDate>Thu, 23 Dec 2010 08:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-14T16:08:44.860+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Sumbangsih PRT terhadap Ekonomi Nasional</title><description>Apakah ada sumbangsih &lt;strike&gt;Pembantu&lt;/strike&gt; Pekerja Rumah Tangga (PRT) terhadap ekonomi nasional? Pertanyaan ini terus muncul dan membutuhkan jawaban di tengah-tengah upaya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT (RUU PPRT).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah, baik sebagai pegawai sebuah instansi atau perusahaan, maupun  memiliki usaha sendiri, pekerjaan di wilayah domestik diserahkan pada PRT. Mulai dari menyapu rumah, merawat anak serta mengantar ke sekolah, mencuci pakaian, memasak dan urusan-urusan rumah lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh PRT ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan pencari nafkah keluarga (suami, istri atau suami dan istri) menjadi lancar karena urusan domestik mereka telah ditangani oleh PRT. &lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
PRT telah turut berperan dalam memungkinkan suami-istri dalam sebuah keluarga bisa bekerja dengan leluasa. Suami-istri yang yang bekerja ini akan meningkatkan konsumsi dan investasi yang pada gilirannya akan menambah pendapatan nasional.&lt;acronym title="lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)"&gt;[1]&lt;/acronym&gt;  Demikian pula dengan PRT yang dengan profesi yang ia tekuni, ia memiliki penghasilan dan dengan demikian mampu mengkonsumsi dan investasi yang tentunya memiliki pengaruh dalam pendapatan nasional.&lt;acronym title="lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di  http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-ibelanjakan (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)"&gt;[2]&lt;/acronym&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data pendapatan nasional merupakan alat untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi nasional. Data Pendapatan nasional dapat digunakan untuk melihat berbagai sektor perekonomian suatu negara, apakah ia merupakan negara industri, pertaninan, atau negara jasa. Data itu juga dapat dipakai untuk membandingkan kemajua perekonomian dari waktu ke waktu, membandingakn perkonomian antarnegara atau antar daerah, serta sebagai landasan perumusan kebijakan pembangunan oleh pemerintah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PRT adalah pekerjaan dalam sektor jasa. Sama halnya dengan TKI yang bekerja di beberapa negara tetangga, mereka berprofesi sebagai PRT yang merupakan sektor jasa juga. Jika sumbangsih TKI terhadap ekonomi nasional dapat dihitung besarnya devisa yang dihasilkan (dilihat dari remitansi). Pada tahun 2008 saja, TKI memberikan devisa 130) trilyun rupiah.&lt;acronym title="KompasTv.com, 15 Desember 2008"&gt;[3]&lt;/acronym&gt; Angka sumbangan devisa kedua setelah Migas (180 trilyun rupiah).  PRT dalam negeri tentunya memiliki sumbangan ekonomi yang tak kalah signifikan karena peran mereka yang memberikan peningkatan produktifitas angkatan kerja karena urusan domestik telah dialihkan ke PRT. Angka-angka tersebut memang belum pernah disebutkan dalam sensus atau pendataan yang serius oleh lembaga yang kridibel seperti BPS. Tentunya pendataan secara lebih cermat menjadi rekomendasi penting untuk melihat peran strategis PRT dalam ekonomi nasional.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik TKI (yang kebanyakan berprofesi PRT di luar negeri) maupun PRT di dalam negeri belum mendapatkan perlindungan yang memadai untuk pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja maupun perlindungan atas pelanggaran hak-hak mereka sebagai manusia. Pelecehan seksual, penganiayaan, upah di bawah standar, penganiayaan dan bentuk kekerasan lainnya tidak sedikit dialami oleh PRT. Perlindungan yang sistematis dan menyulurh sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi semua itu. Memahami kontribusi PRT terhadap ekonomi nasional merupakan satu langkah untuk meyakinkan pemerintah bahwa keberadaan PRT harus diakui dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi. Bagi masyarakat luas yang mempekerjakan PRT juga perlu mengetahui peran penting PRT ini terhadap ekonomi keluarga mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan Akhir:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Tulisan ini merupakan kerangka acuan diskusi dengan tema yang sama, yang diselenggarakan oleh &lt;a href="http://www.jala-prt.org/"&gt;Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga&lt;/a&gt; (Jala PRT) bekerjasama dengan &lt;a href="http://www.komnasperempuan.or.id/"&gt;Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan&lt;/a&gt; (Komnas Perempuan) di Jakarta pada 14 Desember 2010. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1] Lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional"&gt; http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional&lt;/a&gt; (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2] Lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di&lt;a href="http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan"&gt;  http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan&lt;/a&gt; (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3] &lt;a href="http://kompastv.com/"&gt;KompasTv.com&lt;/a&gt;, 15 Desember 2008&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-7657740644155967366?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/WrLlVnSa6ic/sumbangsih-prt-terhadap-ekonomi.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/12/sumbangsih-prt-terhadap-ekonomi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-3136816789148270306</guid><pubDate>Thu, 23 Dec 2010 05:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-14T16:05:59.619+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><title>Kantong Plastik</title><description>Pagi hingga siang tadi saya ke Jakarta Eye Center, memeriksakan mata kiri yang perih sejak tertusuk garpu. Semalam sehabis mengantarkan putra kedua imunisasi dan konsultasi ke dokter di rumah sakit Permata Cibubur, saya bermain dengan si kecil yang baru berusia 1,5 tahun. Selain itu ada pakdenya dari Cimanggis yang kebetulan mengantar pulang kami, hingga semalam bermain dengan anak-anak jadi agak lebih lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai makan malam bersama dan ngobrol-ngobrol, si kecil yang masih memegang garpu kakanya saya pangku dengan harapan bisa mengambil garpu itu. Meski sudah seringkali diingatkan bahwa garpu merupakan benda berbahaya untuk anak kecil, namun keingintahuan tak pernah urung anak saya untuk menggenggamnya. Saat di pangkuan itulah garpu secara tak sengaja menusuk mata sebelah kiri. Saya rasakan perih. Karena yakin tak akan apa-apa pada mata, saya tak langsung ke dokter meski mas Adi (pakdenya anak-anak) sudah bersedia mengantarkan. Lagi pula, waktu sudah menunjukan pukul 21.30-an saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Pagi tadi, setibanya di tempat kerja saya teringat ada Jakarta Eye Center, sebuah rumah sakit mata yang tak jauh dari tempat saya bekerja di bilangan Menteng. Usai mengisi daftar hadir dan bertegur sapa dengan beberapa teman, saya putuskan pergi ke dokter mata. Mata sebelah kiri masih terasa perih dan terlihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai menjalani pemeriksaan saya membayar ke kasir untuk jasa konsultasi ke dokter. Lalu beranjak ke apotek yang berada ruangan berbeda. Setelah obat siap, petugas memanggil dan membungkus obat dengan kantong plastik. Saya katakan saya tidak membutuhkan plastik itu. Saya punya kantong sendiri di dalam tas. Petugas apotek itu terheran-heran. Saya pun membuka tas punggung/ransel mengeluarkan kantong plastik yang sama, sebab sebelum mendapatkan obat saya sudah membeli vitamin yang disarankan oleh dokter selain obat yang diresepkan. Petugas itu masih terheran saat saya memasukkan obat ke dalam kantong itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan plastik bisa dikurangi dengan menyatukan barang dalam satu kantong (tentu tidak untuk barang-barang yang memiliki pengaruh kimia satu sama lainnya). Sudah terlalu banyak plastik yang membebani bumi ini karena penggunaan yang terlalu berlebihan. Sepertinya di dalam keterperangahan petugas bernama Nurul itu, ia tak banyak mendapati pasien seperti ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan-kawan, seorang teman baik saya di Yogyakarta sedang melakukan survei tentang penggunaan kantong plastik. Saya tahu betul, sejak saya mengenalnya saat masa kuliah dulu, ia peduli nian pada issue lingkungan hidup. Sudilah kawan-kawan ikut mengisi survei tentang penggunaan kantong plastik yang ia lakukan lewat jaringan internet ini. Silahkan kunjungi alamat berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/www.surveymonkey.com/s/surveikresek1"&gt;www.surveymonkey.com/s/surveikresek1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-3136816789148270306?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/p2eIjTLkEC4/kantong-plastik.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/12/kantong-plastik.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-6977679486655651566</guid><pubDate>Sat, 02 Oct 2010 12:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-14T16:05:22.657+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Joran Pancing Lidi Nau</title><description>Inilah alat mengail (memancing) ikan penduduk di dusun Air Langkap, Kaur Tengah, kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu. Jorannya terbuat dari lidi &lt;i&gt;Nau&lt;/i&gt; (lidi dari pohon aren). Lidi sepanjang lebih kurang 1,5 meter ini disambung dengan &lt;i&gt;buluh &lt;/i&gt;(bambu) sebesar ibu jari orang dewasa. Panjang &lt;i&gt;buluh&lt;/i&gt; disesuaikan dengan kebutuhan panjang joran untuk mengail. Seperti joran pancing umumnya, tentu ada tali &lt;i&gt;atum &lt;/i&gt;(tali pancing) dan mata kail (mata pancing/hook) untuk mengait ikan yang memakan umpannya. Ujung tali atum yang memiliki mata kail di salah satu ujung lainnya diikatkan pada ujung lidi nau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Buluh &lt;/i&gt;yang digunakan untuk mengail ini adalah &lt;i&gt;buluh Temiang&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;buluh Kapal&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Buluh &lt;/i&gt;ini dianggap paling pas untuk disambung dengan lidi &lt;i&gt;Nau&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Lidi &lt;i&gt;Nau &lt;/i&gt;yang dipilih mengail adalah lidi yang sudah tua, dari daun &lt;i&gt;Nau&lt;/i&gt; (yang mirip dengan daun kelapa) yang sudah tua sehingga merupakan lidi yang kuat. Lidi yang dipilih lalu diletakkan di atas &lt;i&gt;Lantai&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Lantai &lt;/i&gt;dalam bahasa Air Langkap adalah tempat meletakkan bumbu-bumbu masak, panci dan lainnya di atas tungku perapian memasak. Dengan demikian, lidi yang disimpan di atasnya mengalami pengasapan setiap hari. Proses ini dinilai membuat lidi nau menjadi lebih kuat namun tetap lentur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski menggunakan lidi nau, joran pancing ini bisa dipakai untuk menangkap ikan dengan berat hingga 2 kilogram. Joran ini pun bisa dipakai untuk mengail di sungai, pinggir laut/pantai, air payau, kolam atau sawah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umpan yang dipakai untuk mengail adalah umang-umang. Hewan sejenis siput ini hidup di pinggir laut atau pasir pantai. Ukuran umang-umang ini kecil hingga sekitar kelingking orang dewasa. Umang-umang ini biasa dipakai untuk memancing di pantai Air Langkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu cerita menarik mengenai cara memancing orang Air Langkap ini. Pada tahun 2003 lalu, dalam rangka ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Koramil Kaur Selatan menyelenggarakan lomba memancing. Peserta memancing jumlahnya puluhan dan berasal dari seluruh propinsi Bengkulu. Pemenang lomba memancing adalah ia yang paling banyak mendapatkan ikan. Setelah lomba selesai, ikan tersebut ditimbang oleh panitia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lomba memancing berlangsung di dermaga Linau Kaur Selatan, sebuah pelabuhan alam dengan banyak karang di pantai-pantai dekat pelabuhan itu. Waktu memancing ditentukan lamanya dan dalam rentang waktu itu semua peserta harus berlomba mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi pemenang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamsir (38 tahun) berasal dari dusun Air Langkap berhasil mengumpulkan ikan terbanyak diantara peserta yang lainnya. Dengan joran khas Air Langkap dan umpan umang-umang ia memenangkan lomba memancing tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut cerita Tamsir, ada peserta lainnya yang ia tegur saat lomba berlangsung. Peserta tersebut membawa ikan di dalam kantong plastik hitam. Ikan laut dari membeli di pasar itu hendak ia serahkan ke panitia untuk ditimbang sebagai hasil tangkapan mata kailnya. Tamsir sudah mengingatkan kalau panitia tidak sebodoh yang ia bayangkan. Panitia memeriksa ikan-ikan hasil tangkapan. Mungkin karena hasil perlombaan jauh lebih segar hingga berbeda dengan ikan dari pasar, panitia akhirnya mengetahui ada peserta yang berbuat curang. Ikan yang bukan hasil tangkapan perlombaan itu diserahkan panitia kepada peserta yang curang tesebut. "Ikan ini kau bawa ke ibumu untuk dimasak!" kata panitia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pemenang, Tamsir mendapatkan piala dan sejumlah hadiah lainnya. Alat mengailnya yang terbuat dari &lt;i&gt;buluh Temiang&lt;/i&gt;/&lt;i&gt;Kapal &lt;/i&gt;yang disambung dengan lidi &lt;i&gt;Nau &lt;/i&gt;diminta panitia sebagai kenang-kenangan penyelenggara lomba. Alat memancing itu menyedot perhatian banyak orang karena tidak lumrah dan unik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Air Langkap sudah sejak lama menggunakannya. Dengan joran pancing lidi &lt;i&gt;Nau&lt;/i&gt; Tamsir berhasil mengalahkan peserta lainnya yang menggunakan joran pancing yang bagus-bagus, mahal dan katanya alat pancing yang lebih modern.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-6977679486655651566?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/Tn0xdGpJi28/joran-pancing-lidi-nau.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/10/joran-pancing-lidi-nau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-5335294839022891554</guid><pubDate>Mon, 26 Apr 2010 04:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-26T12:21:31.269+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Resolusi untuk Perubahan</title><description>Saya membaca majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Respect &lt;/span&gt;edisi 02 (Des 09 - Jan 10), yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor. Majalah berukuran separoh kertas cetak ini menawarkan diri sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Panduan Gaya Hidup Ramah Sosial dan Lingkungan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai edisi di awal tahun 2010, majalah respect memberikan suplemen kalender menarik berukuran kertas cetak dilipat-lipat hingga muat di kantong baju. Tak hanya warna-warnanya yang seru, kalender ini juga disisipi 12 resolusi ide untuk perubahan di 2010. Meski tawarannya di tahun 2010, namun sebagai sebuah gerakan perubahan tentunya ia harus kita lakukan terus menerus. Tak ada perubahan yang tak bisa terjadi kalau kita gigih melakukannya sehari-hari tanpa henti. Berikut ini resolusi yang dimaksud:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makan produk organik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lebih sehat, lebih ramah lingkungan dan sosial, dan lebih renyah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Respect food&lt;/span&gt; bisa dipesan melalui no 021-78831383&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsumsi buah lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jamblang, sawo, delima atau kecapi? Ini buah-buahan lokal yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yummy&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fresh&lt;/span&gt;, dan eksotis lho. Coba deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pake batik saat hang out&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batik Indonesia sudah diresmikan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belanja di pasar tradisional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jarang berbelanja di pasar tradisional? Sekali sekali belanja di sini yuk. Dengan berbelanja di pasar, kita sudah turut mendukung pedagang lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minum kopi lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nikmat &amp;amp; aroma kopi Indonesia sudah mendunia. Sebut saja kopi Gayo, Toraja, Robusta, Arabika, dan Sumba. Minum kopi yuk, di gerai lokal lebih asyik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Say NO to styrofoam!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Styrofoam tidak dapat terurai. Proses pembuatannya pun tidak ramah lingkungan. Menyebabkan kanker pula...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendukung kampanye Desa Sejahtera di facebook dan twitter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suka facebook-an dan twitter-an? Jadilah fans desa sejahter di facebook dan twitter. Mau tahu lebih banyak? Silahkan akses desasejahtera.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daur ulang kertas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sisa kertas yang asih bisa ditulis bisa menjadi scrapbook. Lalu kita jual menjadi produk kerajinan. Kalau kreatif, makin banyak yang mau beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membeli pruduk pakaian lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;FYI, produk fesyen banyak yang bua di Indonesia dan banyak yang diekspor dan jadi banah dsar brand terkenal. Artinya kualitas kita juga internasional...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makan beras hitam atau merah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki sekitar 8.000 jenis padi, kini hanya 10-15% yang masih ada. Saat kita makan beras hitam dan merah, spesies padi lokal yang terancam punah akan ditanam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sweat shop? no more...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gaya tapi bikin orang menderita? Ah gak cool banget ya... Sweat shop! Perusahaan yang membayar buruhnya dengan sangat murah. Contohnya banyak di produk pakaian dan sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjelajahi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menemukan banyak tempat-tempat keren yang justru lebih banyak diketahui orang bule...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-5335294839022891554?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/psdFQVKk4hk/resolusi-ide-untuk-perubahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/04/resolusi-ide-untuk-perubahan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-6152536941985434196</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 09:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T17:00:14.880+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Budaya</title><description>Edward Burnett Tylor, memahami kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menilai kebudayaan merupakan sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Sosiologi Modern mendifinisikan kebudayaan sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;The total, generally organized way of life, including values, norms, institutions, and artifacts, that is passed on from generation to generation by learning alone.[2]&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Herskovits, kebudayaan terbentuk dalam waktu yang panjang sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Andreas Eppink menilai kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, termasuk segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.[3]&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai definisi para ilmuan di atas, terlihat bahwa sebuah kebudayaan memakan waktu yang cukup panjang untuk menjadi sebuah nilai, norma sosial, dan pengetahuan yang diyakini dan menjadi rujukan bersama berupa sebuah sistem sosial. Perwujudan kebudayan itu sendiri berupa benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat, nilai-nilai sosial dari sebuah budaya juga mengatur hubungan sosial dan keluarga antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada umumnya hubungan antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat di Indonesia masih menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki, yang berarti nilainya lebih rendah. Nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat ini pada akhirnya ikut mendukung, bahkan penyebab terjadinya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Berikut ini beberapa contoh kekerasan terhadap perempuan yang berhubungan erat dengan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bali, anak perempuan yang sudah kawin dan keluar dari lingkungan keluarganya, maka ia tidak berhak mewaris karena ia sepenuhnya telah menjadi tanggung jawab keluarga pihak suami selama perkawinannya langgeng.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat Nusa Tenggara Timur, untuk menikahi seorang perempuan, calon mempelai laki-laki harus memberikan mas kawin yang dalam bahasa setempat disebut "belis". Belis ini berupa uang, emas batangan atau perhiasan, sejumlah ternak dan atau barang-barang berharga lainya.[6] Semakin besar nilai belis menunjukkan semakin tinggi tingkat sosial-ekonomi keluarga si laki-laki. Pihak laki-laki harus bisa menaksir tingkat sosial-ekonomi keluarga calon istrinya, sehingga keluarganya dapat memperkirakan seberapa besar nilai belis yang harus mereka sediakan, atau memahami nilai belis yang diminta oleh keluarga perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut informasi dari Yn, seorang aktivis perempuan yang berasal dari Manggarai, Flores Barat, NTT, Belis dikumpulkan secara gotong-royong oleh perempuan-perempuan saudara ayah dari calom mempelai laki-laki. Dari pihak calon mempelai perempuan, penerima belis sendiri adalah paman dan orang tuanya. Bahkan, seringkali pamannya memperoleh bagian yang jauh lebih besar daripada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, belis yang semula merupakan mas kawin, menjadi semacam alat tukar untuk membeli si perempuan. Ketika si perempuan telah resmi masuk menjadi bagian dari keluarga laki-laki, tak sedikit perempuan diperlakukan seperti 'budak' oleh anggota keluarga laki-laki. Kesannya, si perempuan sudah dibeli sehingga ia bisa diperlakukan seenaknya, seperti budak yang mengerjakan apapun di rumah tangga keluarga suaminya. Bahkan ketika keluarga suami menganggapnya tidak bisa menjadi istri yang baik dan mendapatkan kekerasan, keluarga si perempuan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Sebabnya? Karena keluarga si perempaun telah mendapatkan belis sebagai alat tukar dan menyerahkan sepenuhnya anak perempuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh Kawin Cina Buta adalah contoh lain dari praktik kekerasan terhadap perempuan yang berbasis pada budaya. Kawin Cina Buta adalah perpaduan pemaksaan cerai dan pemaksaan perkawinan. Ikatan perkawinan harus putus ketika telah jatuh talak 3 oleh pihak suami kepada istrinya. Dengan demikian, untuk rujuk kembali, maka keduanya harus menikah dengan pihak lain yang kemudian harus dipastikan kalau mereka dengan pasangannya masing-masing telah malakukan hubungan seksual dengan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi kondom. Pernikahan dengan pasangan masing-masing untuk kembali ke pasangan sebelumnya itulah yang disebut sebagai kawin cina buta. Menurut sejumlah ulama setempat, pernikahan ini merupakan hal wajib dilalui bagi pasangan yang beragama Islam yang akan rujuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya, untuk bisa malakukan praktik kawin cina buta, si perempuan harus membayar sejumlah  uang kepada calon suaminya. Terpaksa menjadi istri bagi seorang laki-laki pasangan kawin cina buta bukanlah hal yang membahagiakan. Bahkan ketika harus melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak ia cintai pun merupakan hal menyakitkan. Jika telah kawin dengan pasangan kawin cina buta, belum tentu si suami barunya ini mau menceraikannya sehingga ia tak bisa segera kembali ke suami sebelumnya. Juga, suami sebelumnya belum tentu mau menerimanya kembali setelah ia menjalani kawin cina buta, apalagi kalau ia akhirnya mengandung benih anak dari hasil berhubungan dengan suami kawin Cina Buta itu. Perlu dicatat, setelah bercerai dengan suami kawin cina buta, si perempuan harus menunggu masa iddah sepanjang 3 bulan 10 hari sebelum ia bisa menikah lagi dengan suami sebelumnya. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat masyarakat Bali, seperti pengaturan hak waris di atas berdasarkan pada nilai-nilai agama Hindu yang mereka anut di sana. Demikian pula dengan Kawin Cina Buta, yang berangkat dari satu pemahaman mengenai nilai-nilai yang dianut dalam ajaran Islam. Seringkali, pemahaman akan satu ajaran agama itu menjadi sumber persoalan. Pemahaman akan ayat-ayat suci atau ajaran yang bias gender, lebih mengemuka untuk mempertahankan posisi yang lebih memuliakan laki-laki daripada perempuan. Pemahaman-pemahaman demikian lalu menjadi sumber pengaturan dalam adat istiadat yang membentuk satu kebudayaan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman-pemahaman akan relasi laki-laki dan perempuan yang patriarkhal telah ikut menyebabkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat dan keluarga menjadi subordinat. Pada akhirnya, hak-hak perempuan dalam keluarga dan juga sosial menjadi terpinggirkan kalau tidak malah tak terpenuhi. Prioritas ada pada laki-laki: laki-laki sebagai pemimpin, sebagai orang yang mengenyam pendidikan tinggi, hak reproduksi lebih diperhatikan, sebagai pengambil keputusan publik maupun keluarga, bahkan sebagai pihak yang harus mendapatkan pelayanan dari pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita di atas merupakan beberapa fakta mengenai kekerasan yang dialami perempuan di berbagai daerah karena budaya masyarakat setempat. Saat ini saya bersama dengan teman-teman di lembaga tempat kami bekerja sedang mencoba untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi karena faktor budaya: adat istiadat masyarakat setempat. Dengan adanya peta kekerasan berbasis budaya ini, harapannya advokasi untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dapat dilakukan dengan lebih baik dan tentunya dengan pendekatan budaya setempat. Upaya ini akan dimulai dengan melakukan diskusi, atau lebih tepatnya konsultasi, dengan teman-teman serta mereka yang menggeluti isu kebudayaan lokal dan memiliki pengetahuan berkaitan dengan peran dan posisi perempuan di masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses identifikasi ini akan melibatkan kawan-kawan internal, lembaga mitra yang bergerak dalam w&lt;span style="font-style: italic;"&gt;omen's rights issue&lt;/span&gt;s, akademisi, peneliti, dan mereka yang dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bergelut pada isu budaya dan kekerasan terhadap perempuan. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi acuan untuk proses selanjutnya, yakni melaksanakan program Pemetaan Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Budaya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan akhir:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses pada 17 Maret 2010&lt;br /&gt;[2] http://courses.ed.asu.edu/margolis/spf301/definitions_of_culture.html, diakses pada tangal 17 Maret 2010&lt;br /&gt;[3] Ibid.&lt;br /&gt;[4] Ibid.&lt;br /&gt;[5] Ni Ketut Sri Utari, SH.MH, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengikis Ketidakadilan Gender dalam Adat Bali&lt;/span&gt;. Makalah disampaikan pada Temu Ilmiah II Asosiasi Pengajar  dan Peminat Hukum Berspektif Gender se Indonesia (APPHGI). Tgl 18-20 September 2006, di Surabaya&lt;br /&gt;[6] lihat misalnya tulisan Gesit Ariyanto, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BUDAYA ROTE: “Tu’u” Belis di Nusa Lontar&lt;/span&gt; di KOMPAS, 18 November 2008.&lt;br /&gt;[7] Laporan Khusus untuk Aceh Pelapor Khusus Komnas Perempuan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebagai Korban juga Survivor: Pengalaman dan Suara Perempuan Pengungsi Aceh tentang Kekerasan dan Diskriminasi&lt;/span&gt; (Komnas Perempuan, April 2006), hal. 54 - 55&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-6152536941985434196?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/Pt40mS3W-so/kekerasan-terhadap-perempuan-berbasis.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/03/kekerasan-terhadap-perempuan-berbasis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-8397268565867042653</guid><pubDate>Fri, 19 Feb 2010 09:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-22T11:11:51.069+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Serbet Cinta untuk PRT</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35i7lclMTI/AAAAAAAAA5w/vpqWUNS9udA/s1600-h/Hari+PRT+%2841%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35i7lclMTI/AAAAAAAAA5w/vpqWUNS9udA/s200/Hari+PRT+%2841%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439894175713931570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mereka berbaris, terbagi dalam 4 kelompok dengan namanya masing-masing: Ember, pel, setrika dan panci. Mengenakan serbet yang diikatkan di kepala, dengan semangat yang tinggi mereka menjahit serbet-serbet yang berjumlah 900 lembar menjadi sebuah serbet raksasa. Di atas serbet raksasa itu tertulis tuntutan PRT seluruh Indonesia: Wujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menjahit serbet raksasa ini merupakan salah satu isi acara peringatan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Nasional yang berlangsung pada Ahad lalu, 14 Februari 2010. Tak kurang dari 300 orang hadir pada acara yang berlangsung di Monumen Proklamator Kemerdekaan, Jakarta Pusat. Mereka mewakili kalangan masyarakat, serikat buruh, majikan, pegawai pemerintah, anggota DPR, aktivis, dan semua pihak yang mendukung perlindungan bagi PRT dari segala tindak kekerasan dan eksploitasi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mr Peter van ROOIJ dari ILO Jakarta, Syafrudin dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Nurherwati dari Komnas Perempuan dan Sri Rahayu dari Komisi IX DPR-RI tampak turut menghadiri perayaan Hari PRT Nasional tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35ijU82tgI/AAAAAAAAA5o/-YlLjD3nMCM/s1600-h/Hari+PRT+%2884%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35ijU82tgI/AAAAAAAAA5o/-YlLjD3nMCM/s200/Hari+PRT+%2884%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439893758969034242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari PRT Nasional lahir untuk mengingat Sunarsih, seorang PRT yang yang tewas karena disiksa majikannya di Surabaya antara tanggal 12 - 15 Februari 2001. Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya perlindungan bagi PRT serta adanya pengakuan bagi mereka sebagai pekerja. Tanggal 15 Februari akhirnya disepakati oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) sebagai hari PRT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jala PRT adalah jaringan organisasi - organisasi yang gigih memperjuangkan hadirnya kebijakan perlindungan bagi PRT serta membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka adalah juga pekerja yang harus mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya. Sekarang jaringan ini memiliki anggota tak kurang dari 36 organisasi se-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut lembar informasi yang dibagikan oleh Jala PRT, tak kurang dari 4 juta orang PRT yang ada di Indonesia. Jumlah ini merupakan bagian dari sekitar 100-an juta orang yang memilih profesi sebagai PRT di seluruh dunia. PRT memiliki hubungan kerja dengan majikannya sehingga mereka layak untuk diakui profesinya:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ada pekerjaan yang lakukan oleh PRT&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada pihak yang mempekerjakan, yaitu majikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada pihak yang mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya, yakni PRT itu sendiri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada upah yang diberikan sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran PRT di dalam rumah majikan telah membuat pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, memasak, menyetrika, merawat anak dan anggota keluarga yang lanjut usia terselesaikan, hingga memungkinkan para majikan dapat menjalankan aktivitas di luar rumahnya dengan baik. Karena itulah kehadiran PRT menjadi sebuah kebutuhan banyak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRT juga membutuhkan satu perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, pelecehan dan kekerasan, serta kebebasan untuk beraktualisasi seperti bersosialisasi dengan sesama termasuk untuk berserikat dan berkumpul sebagaimana pekerja-pekerja di sektor formal. Sebagai pekerja, PRT berhak atas hak mereka sebagai pekerja seperti upah yang layak, libur mingguan, jaminan sosial dan kesehatan, bantuan hukum, dan segala bentuk perlakuan manusiawi lainnya dari keluarga majikan serta masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perayaan Hari PRT Ahad lalu, beberapa orang perwakilan PRT menyampaikan pernyataannya di hadapan semua yang hadir:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mendesak Pemerintah, khususnya Dewan Perwakilan Rakyat RI, Presiden, Menteri Tenaga Kerja &amp;amp; Transmigrasi untuk segera mewujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di tahun 2010 ini (Presiden, Menteri Tenaga Kerja &amp;amp; Transmigrasi harus penuh bertanggung jawab dan bekerjasama dengan DPR - RI yang telah berinisiatif membahas dan mewujudkan UU Perlindungan PRT di tahun 2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wujudkan hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) 15 Februari sebagai Hari PRT &amp;amp; Hari Libur Nasional Pekerja Rumah Tangga.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pernyataan tersebut merupakan bagian dari tuntutan terhadap komitmen Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melindungi warga negaranya yang bekerja sebagai PRT dan juga ajakan kepada masyarakat mewujudkan pengakuan, penghargaan dan perlindungan terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35j4ps8TfI/AAAAAAAAA54/U53-1zX393o/s1600-h/Hari+PRT+%28117%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35j4ps8TfI/AAAAAAAAA54/U53-1zX393o/s200/Hari+PRT+%28117%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439895224828317170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada acara itu pula, Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati melihat fakta bahwa UU 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) pun belum mampu membuka dan menjangkau pencegahan, perlindungan dan  penanganan yang komprehensif terhadap persoalan PRT dari kekerasan dan eksploitasi. Selain itu, ia juga melihat sisi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya ekosobnya sebagaimana telah dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005. Dalam hal ini, seperti disampaikan Nur, Komnas Perempuan merekomendasikan :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Percepatan dalam hal pembahasan dan pengesahan RUU Perlindungan PRT yang mengakui dan menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya PRT, khususnya dalam hal menjalankan pekerjaan yang layak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;RUU Perlindungan PRT yang disahkan wajib memuat standar perlindungan, bebas dari kekerasan dan eksploitasi, khususnya bagi PRT perempuan dan anak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Serbet raksasa yang dijahit bersama oleh semua elemen masyarakat itu merupakan "Serbet Cinta" untuk PRT. Selamat Hari PRT!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-8397268565867042653?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/cRfWfc08Qdw/serbet-cinta-untuk-prt.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S35i7lclMTI/AAAAAAAAA5w/vpqWUNS9udA/s72-c/Hari+PRT+%2841%29+%28Medium%29.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/02/serbet-cinta-untuk-prt.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-1474006100366823156</guid><pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-03T00:17:00.972+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><title>Bekenalan dengan Pilot</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S2hYBRuay5I/AAAAAAAAA4s/5mWTmlN47Xs/s1600-h/Herman+n+Keluarga+%2815%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S2hYBRuay5I/AAAAAAAAA4s/5mWTmlN47Xs/s200/Herman+n+Keluarga+%2815%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433689729383713682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bengkulu, anak pertamaku ini tidak bisa berhenti bicara. Banyak tanya dan banyak komentar. Hal semacam ini sering membuatku kelabakan kalau tak siap untuk meladeni semua muntahan pertanyaan dan komentarnya tentang apapun. Ibarat senapan serbu tentara a la film Rambo di tahun 80-an: tak henti-henti. Ia ingin tahu, di tengah hujan lebat kenapa pesawat yang meluncur cepat untuk take off seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak di belakangnya. Atau, kenapa kami harus naik bis menuju pesawat yang sedang parkir agak jauh dari tempat boarding? Dan seterusnya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://serunai.blogspot.com/2007/02/saya-dan-anak-kami-sehari-hari.html" target="_blank" title="zahid belajar bicara"&gt;Zahid &lt;/a&gt;memang aktif nogoceh sejak ia mulai bisa bicara pada usia setahun. Aku ingat, pada saat baru pindah kontrakan yang kami tempati sekarang, tetangga se-RT banyak yang memperhatikan kami berdialog. Mungkin aneh bagi mereka ada anak setahunan sudah banyak berdialog seperti orang dewasa. Pernah saat baru beberapa hari menempati rumah tinggal ini, seorang tetangga memperhatikan dari loteng rumahnya. Kami yang sedang jalan-jalan pagi tak menyadari kalau ada yang memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di pesawat sepanjang penerbangan menuju Bengkulu, pertanyaan-pertanyaan dan komentar Zahid menarik perhatian pramugari. Aku sendiri harus menjelaskan banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, Zahid sudah dua kali pulang ke Bengkulu. Pertama saat ia masih berusia setahun pada Agustus 2006. Kedua, saat lebaran tahun 2007 ketika usianya menginjak dua tahun. Ia tidur saat di pesawat hingga ia pun belum pernah mengamati awan, langit dan segala hal di pesawat saat sedang terbang. Mudik kali ini membuatnya memiliki kesempatan untuk mengetahui banyak hal saat berada di langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat landing di bandara Fatmawati Bengkulu, aku sengaja mengajak Zahid beranjak dari tempat duduk kami supaya bisa menjelaskan tentang tempat pilot bekerja serta menyapa pramugari yang bertugas di pewasat. Mendekati pintu keluar di bagian depan, kusampaikan ke salah satu pramugari kalau Zahid ingin tahu tempat pilot 'menyetir' pesawat. Tak dinyana, pramugari justru langsung menghubungi pilot dan mengenalkan Zahid padanya. Zahid masuk ke kokpit di mana pilot berada. Pilotnya yang bernama Kapten Agus justru senang berkenalan dengan Zahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau foto gak?" tanya pilot itu sambil membuat gerakan seperti sedang memotret ke arahku. Dengan nada sedikit menyesal kusampaikan kalau sedang tak membawa kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang banget, belum tentu loh pilotnya mau berbaik hati begini...." kata pramugarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, aku memahami bagaimana pilot tentunya akan menghindari hal semacam perkenalan dengan anak kecil yang banyak ingin tahu macam Zahid ini. Tentunya langka pilot yang mau meluangkan waktu kerjanya. Kesempatan langka yang diperoleh Zahid ini sangat mungkin karena si pramugari mengamati Zahid yang terus bicara sejak awal naik pesawat. Karena keingintahuan Zahid untuk tahu kokpit yang jadi tempat pilot bekerja, maka pramugari langsung mengenalkannya kepada pilotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memahami cerita pramugari itu kalau jarang sekali pilot mau berkenalan, berdialog, dan mau berfoto dengan anak kecil seperti Zahid. Tapi, apa boleh buat, perkenalan Zahid dan pilot Mandala Air itu tak dapat diabadikan dengan foto. Demi kepraktisan barang bawaan, kamera digital tak kubawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada kamera Bucik Neng, jadi kamera kita tak pelu dibawa" kata istriku saat menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat menuju bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah Nenek dan Datuk, aku ceritakan pada &lt;a href="http://visitbengkulu.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Bucik Neng&lt;/a&gt; tentang pengalaman Zahid tadi. Juga menelpon ibunya di rumah di Bogor. Semuanya merasa 'eman' kenapa perkenalan Zahid dengan pilot serta kesempatan masuk ke kokpit tidak difoto. Ya... jadi pelajaran saja, lain kali mesti bawa kamera untuk mengabadikan pengalaman anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin, pengalaman masa kecil memiliki arti yang luar biasa bagi anak kita pada masa mereka telah dewasa. Tak terkecuali pengalaman Zahid saat ikut aku pulang ke Bengkulu pada 24 - 26 Januari 2010 lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-1474006100366823156?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/1ae5L-TwtmY/bekenalan-dengan-pilot.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/S2hYBRuay5I/AAAAAAAAA4s/5mWTmlN47Xs/s72-c/Herman+n+Keluarga+%2815%29.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2010/02/bekenalan-dengan-pilot.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-2943040395479291051</guid><pubDate>Thu, 31 Dec 2009 05:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T13:40:32.634+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ICT</category><title>AutoCorrect Sesuai Kebutuhan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Szw9RFbmWEI/AAAAAAAAA1E/aTDxbnznBxk/s1600-h/AutoCorrect.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Szw9RFbmWEI/AAAAAAAAA1E/aTDxbnznBxk/s200/AutoCorrect.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421275415172241474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menggunakan teknologi sebagai alat bantu memang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak, maka sia-sia saja. Bahkan mungkin  bisa merugikan. Teknologi komputer, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pengalaman saya di awal pekan ini. Saya mengisi formulir pengajuan beasiswa. Tanpa saya sadari, AutoCorrect pada pengolah kata &lt;a href="http://www.openoffice.org/" target="_blank"&gt;OpenOffice.org&lt;/a&gt; (OOo) secara otomatis mengubah semua kata "my" yang saya ketik menjadi Malaysia, dan baru menyadarinya setelah menyelesaikan beberapa lembar tambahan formulir yang saya ketik. Bayangkan, ada kalimat yang seharusnya saya tulis "my experiences...." secara otomatis berubah menjadi "Malaysia experiences...." yang jelas-jelas memiliki makna yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas AutoCorrect yang ada pada program pengolah kata &lt;acronym title="OpenOffice.org"&gt;OOo&lt;/acronym&gt; ataupun Ms Word memang sangat membantu untuk mempercepat pengetikan. Tidak perlu mengetik terlalu panjang namun cukup singkatannya saja, seperti contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;yg = yang&lt;br /&gt;dg = dengan&lt;br /&gt;id = Indonesia&lt;br /&gt;shg = sehingga&lt;br /&gt;yk = Yogyakarta&lt;br /&gt;jtk = Jakarta&lt;br /&gt;dst = dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara menyetel singkatan itu, maka waktu untuk mengetik bisa dihemat sekian detik untuk setiap kata dan sekian menit bahkan jam untuk sebuah pekerjaan yang lebih banyak. Bagi Anda yang belum tahu, beginilah cara menyetel AutoCorrect itu (Untuk pengguna &lt;acronym title="OpenOffice.org"&gt;OOo&lt;/acronym&gt; Writer) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buka menu "Format" yang ada pada sisi kiri atas layar&lt;br /&gt;2. Pilih "AutoCorrect"&lt;br /&gt;3. Lalu pilih "AutoCorrect Option..."&lt;br /&gt;4. Ada dua kolom isian, yakni "Replace" dan "With" yang harus diisi sesuai dengan kebutuhan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukkan kata atau singkatan yang memudahkan Anda mengetik pada kolom "Replace" dan kata yang menjadi kepanjangan singkatan atau kata yang diinginkan berubah otomatis pada kolom "With". (lihat gambar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, fasilitas AutoCorrect ini berguna untuk mengubah atau memperbaiki secara otomatis kata-kata yang kemungkinan sering mengalami salah ketik. Dengan logika yang sama ia dapat pula untuk menyingkat kata saat mengentik dan kemudian akan berubah menjadi kepanjangan kata yang sesuai dengan keinginan si pengetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kasus yang menimpa saya di atas, kita dapat membuang kata dalam daftar AutoCorrect, sehingga yang ada hanyalah kata-kata yang berubah otomatis sesuai dengan kebutuhan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah untuk menyetel AutoCorrect pada Ms Word lebih kurang sama. Jika Anda belum tahu atau belum pernah menggunakan, serta tertarik untuk menggunakan, tak ada ada salahnya untuk mencoba. Selamat bekerja...!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-2943040395479291051?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/7R_oRpOS8Ik/autocorrect-sesuai-kebutuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Szw9RFbmWEI/AAAAAAAAA1E/aTDxbnznBxk/s72-c/AutoCorrect.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/12/autocorrect-sesuai-kebutuhan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-4177910660139150874</guid><pubDate>Mon, 16 Nov 2009 05:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T13:41:02.758+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ICT</category><title>Pembatasan Akses Internet</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SwDpbBn6ZRI/AAAAAAAAA0c/vBxfRaG2ryA/s1600/Backbone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 272px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SwDpbBn6ZRI/AAAAAAAAA0c/vBxfRaG2ryA/s320/Backbone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404576203346175250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah hampir setengah tahun ini lembaga tempat saya bekerja membatasi akses ke situs-situs pertemanan dan blogging seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;twitter&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;multiply&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;friendster&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;. Tak hanya itu, aplikasi &lt;a style="font-style: italic;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Instant_messanger" target="_blank"&gt;instant messanger&lt;/a&gt; pun seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Skype&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Digsby&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;YM&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pidgin &lt;/span&gt;dibuat tak berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapati beberapa kesulitan atas kebijakan yang diambil kantor tempat saya bekerja ini, berupa akses imel menggunakan mail client (saya biasa menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mozilla Thunderbird&lt;/span&gt;). Sudah sebulan terakhir saya ikut mempersiapkan satu kegiatan besar yang akan berlangsung pada 29 - 30 Nopember 2009 ini. Semua imel hanya bisa diakses melalui webmail. Kami kebetulan menggunakan &lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.google.com/apps/intl/en/business/index.html#contact_type=general_interest&amp;amp;utm_campaign=en&amp;amp;utm_source=en-ha-na-us-bk&amp;amp;utm_medium=ha&amp;amp;utm_term=google%20applications" target="_balnk"&gt;google application&lt;/a&gt; yang disediakan raksasa online saat ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;google.com&lt;/span&gt;. Bayangkan ada sekitar 50 imel yang masuk setiap hari ke akun saya, termasuk imel-imel untuk kepentingan kegiatan yang akan kami selenggarakan. Imel-imel yang sifatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;group&lt;/span&gt;, sudah dibatasi hanya beberapa mailing list yang berhubungan dengan pekerjaan dari tak kurang 40 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mailing list&lt;/span&gt; yang saya ikuti. Untuk mengaksesnya harus mengunjungi situs penyedia layanan secara langsung seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yahoogroups.com&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;googlegroups.com &lt;/span&gt;dan mbacanya dari sana.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang sudah terbiasa memanfaatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mail client&lt;/span&gt; seperti halnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thunderbird&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ms Outlook&lt;/span&gt; tentunya sangat faham aplikasi ini akan sangat memudahkan dalam mengatur imelnya dengan menggunakan filter yang tersedia. Sebut saja misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mailing list&lt;/span&gt; Pembaca Kompas, Ebook Maniak, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Jakarta Process&lt;/span&gt; yang saya ikuti. Tak perlu lagi mencari imel tertentu di tengah belantara imel yang masuk ke akun kita seperti yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam lalu saya baru menyadari situs penyimpanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;file &lt;/span&gt;(semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;file server&lt;/span&gt;) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;googledocs&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;box.net&lt;/span&gt; tak dapat saya gunakan untuk mengunggah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;upload&lt;/span&gt;) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;file&lt;/span&gt;. Padahal, saya merasakan manfaat menyimpan file di sana untuk bisa diakses dari mana saja asal terhubung ke internet. Beda dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;file server&lt;/span&gt; di kantor yang hanya bisa diakses dari jaringan &lt;acronym title="Local Area Network"&gt;LAN&lt;/acronym&gt; saja. Artinya, kalau saya tak membawa file di dalam media penyimpanan (External HDD dan flashDisk) atau tak ada di dalam akun imel, maka ketika membutuhkannya saya pun harus mendatangi komputer di kantor untuk mengaksesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah mail client yang tak bisa berfungsi telah saya sampaikan pada admin jaringan sekaligus penanggung jawab IT. Sayangnya, ia pun tak begitu memahami persoalan ini. Katanya, persoalan blokir memblokir jaringan ini dibantu oleh pihak ketiga (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;out sourcing&lt;/span&gt;). Sekarang, hingga seminggu setelah pengaduan tak ada penyelesaian masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membatasi akses internet karyawan memang ada bagusnya. Pemimpin Redaksi PortalHR.com menuliskannya dengan baik  di &lt;a href="http://www.portalhr.com/kolom/2id130.html" target="_blank" title="Portal HR"&gt;sini&lt;/a&gt;. Pembatasan akses internet yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas (atau kinerja?) karyawan harusnya dilakukan dengan cara yang tepat. Misalnya mengidentifikasi aplikasi dan situs apa saja yang perlu dibatasi atau diblokir. Sehingga, bukan yang bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan justru yang dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Gambar ilustrasi saya dapatkan dari &lt;a href="http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Backbone.jpg" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meski pernah belajar, saya tak begitu memahami secara baik teknologi jaringan, sehingga tulisan di atas mencoba menghindari istilah-istilah teknis dalam ilmu jaringan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;computer network&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-4177910660139150874?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/FH9ZyheCgcQ/pembatasan-akses-internet.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SwDpbBn6ZRI/AAAAAAAAA0c/vBxfRaG2ryA/s72-c/Backbone.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/11/pembatasan-akses-internet.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-1196811907052368981</guid><pubDate>Thu, 15 Oct 2009 07:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-19T09:40:53.063+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>12 Tahun Pasca Putih Abu-abu</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbRH_2S3gI/AAAAAAAAA0M/z9HUVmjklKg/s1600-h/smunli+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbRH_2S3gI/AAAAAAAAA0M/z9HUVmjklKg/s200/smunli+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392727539151199746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kemacetan jalan-jalan di Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, suasana relasi yang cenderung saling tidak peduli pada orang di kanan-kiri, rasanya merupakan salah satu kepenatan sendiri untuk aku. Tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta bukan hal yang mudah. Ditambah lagi secara ekonomi masih terhitung pas-pasan dan terus bepikir bagaimana caranya untuk hidup tenang dan bahagia dalam kondisi apa pun. Kalau perlu menertawakan diri sendiri menjadi satu cara menuju ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan ini aku merasa bahagia. Di tengah-tengah kepenatan menghadapi situasi tersebut, ternyata berkumpul dengan teman-teman lama merupakan satu jeda untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;. Bulan Ramadhan lalu, aku mengikuti reuni sekaligus berbuka puasa bersama dengan teman-teman semasa SMA. Lalu hari Ahad lalu, 11 Oktober, teman-teman seangkatan dari JIP Fisipol UGM mengajak berkumpul bagi semua alumni 1997 di Jakarta. Tadi malam ngobrol dengan Wahid Arsyad, teman dekat masa-masa kuliah yang kebetulan sedang berada di Jakarta serta tak sempat ikut reunian di blok M dengan teman-teman kuliah pada Ahad lalu. Sebelumnya, 8 Oktober, aku bertemu dengan Ochy teman masa kecil di Bengkulu. Insya Allah akhir pekan ini aku pun akan bertemu Rendi, sama seperti Ochy, teman dekat masa-masa sekolah di SDN 66 desa Tanjung Jaya, Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbRPm1bwXI/AAAAAAAAA0U/CiU1KGk5vp0/s1600-h/smunli+5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbRPm1bwXI/AAAAAAAAA0U/CiU1KGk5vp0/s200/smunli+5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392727669875655026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Reuni dengan teman-teman SMA menarik perhatian aku. Undangan dikirim oleh Fitri Herlita, teman waktu di kelas 2C, lewat pesan di facebook. Meminjam istilah anak-anak sekarang, judulnya menggigit banget: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;12 Tahun Pasca Abu-abu&lt;/span&gt;. Belasan yang hadir, baik mereka yang pernah sekelas (dalam arti dalam satu ruang kelas), maupun tidak. Bahkan lucunya, Henny Perwitasari yang tidak pernah sekelas denganku tidak tahu nama sehingga harus bertanya pada teman lainnya. Demikian pun dengan aku sendiri, hanya ingat wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) Bengkulu, ada 6 ruang kelas secara paralel, untuk semua level kelas 1 hingga kelas 2. Selanjutnya, di kelas 3 kami dibagi menjadi 2 jurusan, jurusan IPS terdapat 3 kelas dan demikian pula untuk jurusan IPA. Tak seperti sebelumnya, jurusan Budaya atau Bahasa ditiadakan pada periode kami. Reunian ini mempertemukan kami setelah 12 tahun terpisah karena melanjutkan pendidikan di berbagai kota dan seterusnya memasuki dunia kerja di Jakarta dan sekitarnya. Buka puasa bersama berlangsung di restoran Tawan, Pacific Place jalan Sudirman pada 3 September lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPFeuyffI/AAAAAAAAAz0/yLS5pYvvo_Q/s1600-h/Reuni+IP97.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPFeuyffI/AAAAAAAAAz0/yLS5pYvvo_Q/s200/Reuni+IP97.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392725296878353906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ahad lalu, 11 Oktober adalah pertemuan dengan teman-teman kuliah. Tidak tahu pasti ada berapa alumni seangkatan yang ada di Jakarta. Yang jelas, juga melalui facebook Makhrus telah menghubungi beberapa teman sepekan sebelumnya untuk melakukan pertemuan ini. Yang hadir hanya 6 orang. Ada Desianto yang masih betah jadi PNS di Gedung DPR/MPR Senayan, juga Pramaarta yang tempat kerjanya sama dengan Desianto namun berstatus staf ahli, Sari yang bekerja di Bank DKI, Ayu yang bekerja di BNI, Harunti di Depdagri, Makhrus yang bekerja di perusahaan IT dan aku sendiri yang menjadi "pekerja sosial". Bertemu teman-teman Yogya memberikan kesan sendiri. Entahlah, aku merasa sepertinya kami bertemu dengan penuh bahagia, bercerita tentang masa-masa kuliah, tentang Yogya, tentang teman-teman yang tak dapat ikut serta, serta hal-hal lainnya. Berbeda dengan reunian lain yang pernah aku ikuti, suasana bertemu dengan teman-teman kali ini terasa sederhana tapi menyenangkan. Barangkali karena kami produk Yogya :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPkHGuliI/AAAAAAAAA0E/bCfesY3fnro/s1600-h/Herman+n+Arsyad+2009+%28Small%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPkHGuliI/AAAAAAAAA0E/bCfesY3fnro/s200/Herman+n+Arsyad+2009+%28Small%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392725823112255010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wahid Arsyad adalah salah satu teman dekatku semasa di Yogya. Saat ini ia tinggal di Lampung sebagai PNS guru di sekolah Depag, serta juga nyambi memelihara Muhammadiyah di sana dengan menjadi kepala sekolah, ketua Pemuda Muhammadiyah, dan beberapa hari terakhir ini berada di Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebelum melakukan survey sebuah proyek lembaga internasional yang banyak memberikan hutang untuk Indonesia. Arsyad dikenal sebagai mahasiswa Musholla (katanya Sari loh...) sama seperti Saleh yang sekarang kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Ia menempuah pendidikan di fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga selain di Fisipol UGM. Itu pula yang menyebabkan ia dapat menjadi pegawai di Departemen Agama. Tadi malam kami bercerita tentang banyak hal hingga larut malam di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sama seperti dulu, ia masih tetap kritis namun mengakui kalau kekurangan banyak informasi setelah berpindah ke daerah. Tapi aku masih suka berdiskusi dengan teman satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPNJJRWkI/AAAAAAAAAz8/TxpwYYPmzyI/s1600-h/Ochy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbPNJJRWkI/AAAAAAAAAz8/TxpwYYPmzyI/s200/Ochy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392725428522801730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ochy adalah salah satu temanku masa-masa di SD. Saat ini bekerja untuk sebuah perusahaan pertambangan di Bengkulu. Kami bercerita tentang kawan-kawan lama serta tentang diri kami masing-masing. Miris juga mendengar kisah teman-teman kecil dulu yang ternyata menghadapi kesulitan ekonomi sehingga pendidikan tinggi mereka harus putus di tengah jalan karena memilih bekerja sebab tak ada biaya. Ada juga cerita tentang cita-cita ingin melanjutkan studi di luar Bengkulu namun terpaksa menerima kehendak orang tua untuk memilih pendidikan keguruan dan di UNIB supaya kelak menjadi PNS sebagaimana kehendak kebanyakan orang tua di Bengkulu. Entahlah, aku pikir tak hanya di daerah kelahiran aku itu, banyak orang menjadikan PNS sebagai cita-cita final dan rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk status PNS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ochy, menurut cerita Yeni Yunidarti yang kutelepon sehari setelah mendapatkan nomor kontaknya, berpenampilan sedikit tomboy. Cerita itu sedikit berbeda jika kubandingkan dengan foto-foto Ochy yang banyak terdapat di facebook. Saat kami bertemu ia memang terlihat penuh keberanian serta percaya diri tinggi. Ochy bekerja untuk sebuah perusahaan asing yang cukup menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena kepercayaan dan kedekatan dengan Bos (yang juga perempuan sukses seperti terkesan dari cerita yang kutangkap), Ochy memiliki kebebasan untuk bertamasya ke seluruh Indonesia jika sudah penat dengan pekerjaan. Dari Ochy pula aku memahami Bengkulu saat ini dari konstelasi politik elit-elit di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akhir pekan ini aku akan bertemu Rendi. Sesuai dengan janji aku pada Ochy, aku ingin mengajak Rendi untuk merencanakan berkumpul dengan teman-teman kami dulu. Mungkin akhir tahun ini, atau bisa jadi lebaran idul fitri tahun depan. aku dan rendi cukup dekat dan berpisah kira-kira 5 tahun lalu. Rendi menamatkan kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kakak dan saudara-saudara sepupunya menempuh pendidikan di UGM. Mereka menyewa sebuah rumah di sebelah utara kampus biru itu. Rumah itu pula yang setelah gempa hebat di Bengkulu tahun 2000 menjadi sekretariat Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Bengkulu di Yogyakarta. Aku sering main ke sekretariat itu. Aku dan Rendi sudah berjanji bertemu akhir pekan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan teman lama, bercerita tentang masa-masa lampau serta berbagi kabar masing-masing pada saat ini merupakan satu cara untuk melepaskan beban. Mengenang masa lalu betul-betul menyenangkan. Untuk aku, ini merupakan cara mengisi jeda untuk melanjutkan perjalanan ke masa depan. Mungkin itu pula yang menyebabkan orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk bersama-sama mengikut konser kelompok musik yang tenar di masa mereka muda. Atau, yang sekarang lagi tren ada &lt;a href="http://komunitas80an.blogspot.com/" target="_blank"&gt;komunitas 80-an&lt;/a&gt;, yang membuat blog untuk berbagi cerita, serta mengikuti secara rutin acara di salah satu televisi swasta bertajuk "&lt;a href="http://zona-80.com/" target="_blank"&gt;Zona 80&lt;/a&gt;". Sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu aku pun senang mendengarkan acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the seventies hits&lt;/span&gt; yang diasuh oleh Helmi Yahya di sebuah jaringan stasiun radio ibukota setiap pekannya. Meski masuk dalam kategori generasi 90-an, lagu-lagu itu cukup akrab menemaniku belajar saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beberapa orang, reuni bisa jadi merupakan saat dimana orang yang "sukses" ingin menunjukkan kesuksesannya pada teman-teman lama. Ini yang sempat diungkap seorang seniorku yang menjadi Anggota DPR-RI mewakili propinsi DI Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika aku mengabari ada reunian alumni organisasi tempat kami pernah memupuk aktivisme mahasiswa. Ia ogah untuk ikutan karena ia anggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya memunculkan rasa sombong. Buat aku sendiri, perjumpaan dengan teman-teman lama ibarat berkaca diri sudah berbuat apa saja dalam hidup ini sejak perpisahan dengan mereka. Juga, upaya mengobati rasa kangen yang bisa menjadi sumber energi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun dan memelihara relasi bisa jadi memang merupakan langkah seorang politisi untuk membangun dan memelihara kekuatan dukungan. Buatku, cukuplah ini sebagai upaya mengeratkan tali silaturrahmi. Dan, sungguh ini bukanlah sesuatu yang "sia-sia"....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-1196811907052368981?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/BvlXOyuVdak/12-tahun-pasca-putih-abu-abu.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/StbRH_2S3gI/AAAAAAAAA0M/z9HUVmjklKg/s72-c/smunli+4.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/10/12-tahun-pasca-putih-abu-abu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-8757653576553471668</guid><pubDate>Fri, 02 Oct 2009 06:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-05T10:13:57.544+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Paranormal: Paradoks Indonesia Modern</title><description>Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar Juli tahun 2006 lalu. Kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan &lt;a href="http://www.hrw.org/" target="_blank"&gt;Human Rights Watch&lt;/a&gt;, yang dapat Anda baca di &lt;a href="http://serunai.blogspot.com/2008/07/as-if-i-am-not-human.html" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peneyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian saat itu antara lain berupa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marawis" target="_blank"&gt;Marawis&lt;/a&gt; dari Betawi serta tari  &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Saman" target="_blank"&gt;Saman&lt;/a&gt; dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilangsungkan di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SBY baru menjabat &lt;strike&gt;Pesinden&lt;/strike&gt; Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana untuk menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;tulisan yang sama dimuat di &lt;a href="http://politikana.com/baca/2009/10/02/paranormal-paradoks-indonesia-modern.html" target="_blank"&gt;Politikana.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-8757653576553471668?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/BM6pVySxlUs/paranormal-paradoks-indonesia-modern.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/10/paranormal-paradoks-indonesia-modern.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-5528168159038566953</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 09:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-30T15:28:48.652+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Narto Mudik Lagi</title><description>SALAH satu tukang ojek langganan saya yang mangkal di depan kampus UKI, Cawang, begitu bahagia pagi ini. Sambil menyiapkan motornya untuk mengantar saya ke jalan Latuharhari Menteng, ia bercerita kalau besok pagi selepas sahur (dan selepas subuh tentunya), ia akan berangkat menunggangi kuda besi bersama tujuh teman lainnya. Ia akan mudik ke Boyolali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narto bertubuh kurus dengan kulit terbakar matahari sebagaimana tukang ojek kebanyakan di Jakarta. Matanya sering tampak sayu seperti aktor Herman Ngantuk di masa kejayaan TVRI tahun 80-an. Ia sering dipanggil Gus Dur oleh teman-temannya di pangkalan ojek di depan kampus UKI itu. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ingat kapan pertama kali menggunakan jasanya untuk berangkat ke tempat kerja. Yang pasti, sejak 3 tahun lalu ada 3 tukang ojek langganan saya. Pertama, adalah Budi, yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus istirahat total beberapa bulan. Kedua, Syahrul Gondrong, yang panjang rambutnya melampaui bahu. Ketiga, ya si Narto "Gus Dur" ini. Jika mereka semua ada di Cawang, maka sebagai tukang ojek pertama yang berkenalan dengan saya, kesempatan pertama jatuh pada Budi. Demikian seterusnya. Mereka saling memahami untuk masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi sudah hampir setahun tak kelihatan. Setelah mengalami kecelakaan, ia muncul dengan sepeda motor baru. Lalu menghilang dan muncul dengan sepeda motor berbeda. Setelah lama tak tampak, Gondrong bercerita kalau Budi tak sanggup membayar cicilan kredit hingga sepeda motornya harus diambil kembali oleh dealer penjualnya. Sudah sekitar dua bulan ini Gondrong juga hilang dari peredaran tukang ojek Cawang. Narto yang tinggal satu-satunya pengantar saya, bercerita kalau Gondrong memutuskan tinggal di rumah menemani anak-anaknya serta menjaga warung, sebab istrinya setiap hari berdagang di pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, beberapa pekan sebelum menghilang, Gondrong bercerita tentang pendapatannya sebagai tukang ojek semakin menurun. Pertama karena penumpang yang semakin berkurang dan lebih memilih naik bisa kota atau Transjakarta setelah krisis keuangan tahun lalu. Kedua, tukang ojek di Cawang telah semakin bertambah tanpa dapat dikendalikan oleh paguyuban tukang ojek yang mereka buat sendiri. "Dapat 30 ribu sehari sudah mending," katanya suatu kali mengantar saya. "Ini juga baru narik meski sudah nunggu dari pagi," tambahnya lagi. Kadang seharian hanya mengantar penumpang satu, ya saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narto masih bisa bertahan dengan profesinya. Dulu ia menggunakan Honda Astrea Grand tahun 90-an yang sudah terlihat payah. Dua bulan terakhir ia sudah menggunakan sepeda motor bebek yang sama keluaran terbaru. Ia terlihat lebih percaya diri dengan kendaraan kredit yang saya sendiri merasa belum mampu untuk mengangsurnya. Tapi itulah pilihan perjuangan hidup di kota Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tukang ojek langganan saya memiliki sifat pendiam. Tak banyak bicara kecuali kalau ditanya, atau bercerita seadanya kalau ada hal yang mereka pikir akan menarik perhatian saya. Narto lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak disangka, ternyata ia berasal dari dusun yang bersebelahan dengan tempat kelahiran istri saya di kecamatan Ngaglik, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Itu sebabnya meski tak banyak bicara namun bahasa tubuhnya memperlihatkan keakraban tak sekedar hubungan antara penjual dan pembeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang lebaran idul fitri tahun lalu Narto bercerita kalau mau mudik menggunakan bis yang disediakan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Dari ceritanya tadi pagi, saya ketahui kalau Pemda di sana sudah menyelenggarakan mudik bareng sejak sekitar 5 tahun terakhir. Kali ini Narto terlihat sangat bahagia. "Dapat 5 tiket," ceritanya. Masing-masing untuk istri dan dua anaknya, satu untuk kak ipar dan satu lagi saudaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir tentunya program ini cukup baik, sekaligus politis. Masyarakat asli Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek tentunya memiliki rasa bangga memiliki pemerintahan Jawa Tengah, dan tentu akan meningkatkan dukungan politik baik dari mereka yang di perantauan maupun dari keluarga mereka yang masih tinggal di Jawa Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratannya cukup mudah: hanya membuktikan memiliki KTP atau Kartu Keluarga Jawa Tengah. Lalu mereka mendaftar di tempat-tempat yang sudah ditentukan sebagaimana tersebut dalam pengumuman di beberapa koran dan radio. Hal ini memunculkan pertanyaan dari dalam diri saya. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Jakarta bisa memiliki KTP Jakarta dan juga KTP Jawa Tengah? Bukankah untuk mendapatkan KTP dan KK Jakarta harus menggunakan surat pindah dari pemerintah daerah tempat domisili sebelumnya? Inilah masalah kronis dari Departemen Dalam Negeri Indonesia dan jajarannya hingga tingkat paling bawah. Seingat saya, surat keterangan pindah domisili dikeluarkan oleh kantor kecamatan untuk diserahkan ke kantor kecataman tujuan sehingga kita bisa mendapatkan KTP dan KK baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah umum untuk mendapatkan KTP dan KK di Jakarta, para pendatang harus membayarnya dengan mahal. Seorang teman beberapa bulan lalu harus membayar sejumlah 600 ribu untuk mendapatkan satu KTP dan KK. Sulit untuk menghindari proses mahal ini, sebaba jika ingin mengurus sendiri pun seringkali menjadi mustahil. Di sini, semua pakai uang kalau mau lancar. Akibatnya, sangat mungkin orang yang mendapatkan KTP baru di Jakarta juga masih memegang KTP daerah asalnya. Macam Narto ini. Di sinilah ketidakberesan dalam pencatatan kependudukan yang diselenggarakan oleh Depdagri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1997, saya mendapatkan KTP Bengkulu yang katanya merupakan KTP nasional dan berlaku di seluruh Indonesia. Nomor penduduk yang tercatat di sana bersifat tunggal sehingga tak mungkin status kependudukan saya tercatat dua kali atau lebih di daerah yang berbeda. Nyatanya, KTP itu tidak berlaku di Yogyakarta saat saya ke sana, juga tak berlaku di Kabupaten Bogor tempat saya tinggal sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP pemegang tiket mudik bareng ke Jawa Tengah diberi paket lebaran. Ada sarung cap Gajah Duduk, minuman dalam kemasan beserta roti, serta paket dari Air Mancur, sebuah perusahaan jamu yang terletak di daerah itu. Tentu semuanya adalah sponsor kegiatan. Ada 120 bus pariwisata yang disediakan oleh Pemda Jawa Tengah. Bagi pendaftar yang lebih awal, 30 bis diantaranya merupakan bisa kelas VIP untuk mereka. Selebihnya bis yang juga cukup nyaman untuk pulang ke kampung halaman. Mereka semua, termasuk keluarga Narto, telah berangkat kemarin sore dari Taman Mini Indonesia Indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun Narto masih mencari penumpang hari ini, itu karena ia masih ingin mendapatkan uang beberapa puluh ribu lagi. Paling tidak untuk tambahan beli bensin pada keberangkatannya besok pagi menuju Boyolali. Cukup jauh. "Sekitar 600 kilometer," katanya bercerita tadi pagi. Sesampainya di kantor, saya beri ongkos seperti biasanya, ditambah dengan beberapa untuk sekedar uang saku bagi anaknya. "Minal Aidin walfaidzin, maaf lahri dan batin. Hati-hati di jalan ya," pesan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran tahun lalu Narto sangat ingin ketemu saya yang juga mudik ke kampung istri. Demikian pula sebaliknya. Sayang,  sebelumnya kami tak sempat bertukar nomor ponsel. Tahun ini, saya dan istri tak bisa mudik. Fatih, anak kedua kami belum genap berusia 3 bulan. Agak repot ke mana-mana dengan satu anak yang baru mulai ceria di masa TK serta satu anak yang mulai berusaha membalik-balik badannya. Apalagi belum memiliki kendaraan roda empat pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Berlebaran, kawan-kawan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, serta memiliki pengaruh luar biasa untuk perbaikan bangsa ini di masa yang akan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang sangat mungkin tidak berkenan di hati Anda. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-5528168159038566953?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/uORUSXNw1vc/narto-mudik-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/09/narto-mudik-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-3438525935721696249</guid><pubDate>Thu, 03 Sep 2009 03:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-17T16:04:21.145+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><title>World Bank Report 2009</title><description>Saya menemukan laporan World Bank 2009 di scribd. com. Seperti biasanya, saya mengunduh dokumen-dokumen menarik dari situs ini. Namun, ternyata sudah tidak bisa melakukannya dari jaringan internet di kantor kali ini. Pesan yang muncul saat beberapa kali mencoba mengunduh: All download limits exceeded from your IP (202.152.XX.XXX).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan tahuan ini cukup menarik karena ia menunjukkan perkembangan dunia "versi" lembaga keuangan bentukan kalangan neoliberal. Paling tidak, kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan dunia saat ini, dan tentu saja kita harus tetap kritis terhadap semua isinya. Tidak ada yang netral dalam hal ini. Termasuk isi sebuah laporan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di situs Scribd.com terurai deskripsi laporan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;The World Bank Annual Report 2009, Year in Review, explores the impact of the global financial and economic crisis in developing countries, and fast-track funding and programs that can help member countries withstand the debacle. In addition, new and ongoing programs and projects in health, climate change, infrastructure, and several other areas are highlighted. A new feature this year is personal-impact stories for each region, relaying the positive effects of World Bank assistance on individuals.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="View The World Bank Annual Report 2009: Year in Review on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/19359561/The-World-Bank-Annual-Report-2009-Year-in-Review" style="margin: 12px auto 6px; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; display: block; text-decoration: underline;"&gt;The World Bank Annual Report 2009: Year in Review&lt;/a&gt; &lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_709788591814647" name="doc_709788591814647" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" rel="media:document" resource="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=19359561&amp;amp;access_key=key-26s1sbfd9jc3a0kjqygq&amp;amp;page=1&amp;amp;version=1&amp;amp;viewMode=" media="http://search.yahoo.com/searchmonkey/media/" dc="http://purl.org/dc/terms/" align="middle" height="500" width="100%"&gt;  &lt;param name="movie" value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=19359561&amp;amp;access_key=key-26s1sbfd9jc3a0kjqygq&amp;amp;page=1&amp;amp;version=1&amp;amp;viewMode="&gt;   &lt;param name="quality" value="high"&gt;   &lt;param name="play" value="true"&gt;  &lt;param name="loop" value="true"&gt;   &lt;param name="scale" value="showall"&gt;  &lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;   &lt;param name="devicefont" value="false"&gt;  &lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;   &lt;param name="menu" value="true"&gt;  &lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;   &lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;   &lt;param name="salign" value=""&gt;        &lt;embed src="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=19359561&amp;amp;access_key=key-26s1sbfd9jc3a0kjqygq&amp;amp;page=1&amp;amp;version=1&amp;amp;viewMode=" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_709788591814647_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle" height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang tertarik, silahkan mengunduhnya sendiri dari Scribd.com melalui jaringan internet yang Anda miliki. Atau, silahkan unduh dari website WB langsung &lt;a href="http://www-wds.worldbank.org/external/default/main?pagePK=64193027&amp;amp;piPK=64187937&amp;amp;theSitePK=523679&amp;amp;menuPK=64187510&amp;amp;searchMenuPK=64187283&amp;amp;theSitePK=523679&amp;amp;entityID=000334955_20090827040954&amp;amp;searchMenuPK=64187283&amp;amp;theSitePK=523679" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Selamat membaca dan mempelajari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-3438525935721696249?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/YSynPqXPKjo/world-bank-report-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/09/world-bank-report-2009.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-3060891303162107101</guid><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 04:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-03T10:37:07.832+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Bahasa: Berlomba atau  Bertanding?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SozOu1cllcI/AAAAAAAAAx4/YdstKskyDXY/s1600-h/Pencak+Silat+Betawi+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SozOu1cllcI/AAAAAAAAAx4/YdstKskyDXY/s200/Pencak+Silat+Betawi+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371895759562446274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Maaf, saya bukan ahli bahasa. Hanya sedikit pengetahuan saya mengenainya. Hanya saja, saya agak tergelitik mengetahui penggunaan beberapa kata atau istilah yang kurang tepat. Berikut ini contoh yang kurang tepat itu, yakni penggunaan kata "lomba" dan "tanding".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "lomba" dan "tanding" biasanya digunakan dengan imbuhan "pe-an" yang akan menjadi "perlombaan" dan "pertandingan" serta imbuhan "ber" yag akan mengubahnya menjadi "berlomba" dan "bertanding". Bagaimana memahami arti kedua kata ini? Menurut &lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/a&gt;, lomba berarti adu kecepatan atau adu kecakapan. Berlomba berati beradu kecepatan atau kecakapan. Tanding berarti yang seimbang/sebanding atau satu lawan satu. Bertanding berarti berlawanan, ada bandingnya (imbangannya, lawannya), atau melawan/menyaingi/menyamai.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri memahami keduanya sebagai proses bersaing untuk menjadi "lebih unggul". Berlomba sebagai proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang setiap pesertanya tidak saling berhadapan. Misalnya, lomba mewarnai gambar yang biasanya diikuti oleh banyak anak-anak sekaligus, atau lomba lari maraton 10 km. Bertanding merupakan proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang pesertanya saling berhadapan. Contoh dalam hal ini adalah bertanding sepak bola, pencak silat, atau bola volly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja satu jenis olahraga dimainkan untuk perlombaan sekaligus pertandingan. Misalnya, perlombaan pencak silat indah, dimana salah satu penilaian juri adalah keindahan seni beladiri ini. Juga, pertandingan pencak silat, dimana juri melihat dua orang peserta saling berhadapan dan saling serang sesuai dengan aturan pertandingan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cara paling mudah untuk membedakan penggunaan kedua kata itu, menurut guru SMA saya dulu, yakni melihat apakah dalam satu permainan masing-masing peserta dalam keadaan berhadap-hadapan atau tidak. Jika berhadapan, maka ia adalah bertanding. Jika tidak, maka itu adalah berlomba. Satu perlombaan, biasanya diikuti oleh banyak peserta sekaligus, berkebalikan dengan pertandingan yang biasanya terdiri dari dua pihak saja. Terdengar janggal kalau ada orang yang begitu bersemangat bercerita kalau ia baru saja pulang dari Senayan menonton perlombaan sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Picture of Pencak Silat was taken from &lt;a href="http://www.plurk.com/saherman/invite" target="_blank"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-3060891303162107101?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/yUrRSWROaZg/bahasa-berlomba-atau-bertanding.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SozOu1cllcI/AAAAAAAAAx4/YdstKskyDXY/s72-c/Pencak+Silat+Betawi+1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/08/bahasa-berlomba-atau-bertanding.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-1762157586305113720</guid><pubDate>Wed, 19 Aug 2009 08:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:39:35.342+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Ragam Pitulasan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8JBMPvXI/AAAAAAAAAxg/sE2YeimN3uI/s1600-h/16+Agustus+%2847%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8JBMPvXI/AAAAAAAAAxg/sE2YeimN3uI/s320/16+Agustus+%2847%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371593843694091634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari melakukan kontemplasi dan diskusi tentang perkembangan bangsa dan negara ini sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan untuk bersuka ria sebagai bangsa yang telah "merdeka", bahkan ada yang menganggapnya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan tempat tinggal saya, desa Ciangsana, Gunung Puteri, Kabupaten Bogor, seperti biasanya ada perayaan dengan pertandingan dan perlombaan, serta panggung hiburan kesenian. Di RW 02 tempat kami tinggal, puncak acara peringatan hari kemerdekaan ini berlangsung pada 16 Agustus lalu, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Pada sore hari dengan matahari yang masih terik, masyarakat dari RT 01 hingga RT 11 menyertai anak-anak yang berlomba pawai mengelilingi separoh komplek perumahan yang menjadi wilayah RW 02.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pawai dilakukan dengan rombongan dari masing-masing RT berbaris menurut urut RT di jalan utama sebelah selatan yang terletak di wilayah RT 11. Pawai ini sesungguhnya diikuti anak-anak dari usia sekitar 3 tahun hingga usia SMA. Mereka berbaris dengan atribut  pakaian yang beraneka macam, dari pakaian adat maupun seragam putih-putih, dari yang membawa cangkul a la seorang petani dengan kumis palsu menghiasi, kebaya, bahkan dengan sepeda hias dan seragam tentara seperti anak saya dan beberapa temannya sebagaimana permintaan panitia di RT. Orang tua hanya mengiringi barisan, terutama untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil yang kemungkinan sulit untuk diarahkan dan tentunya akan membuat kacau barisan. Acara ini menjadi kesempatan saling menyapa antartetangga bahkan sesama orang tua yang berlainan RT. Satu bentuk suka cita karena ada kemeriahan di komplek perumahan. Entah mengapa, keramaian sejak dulu selalu merupakan satu hal yang teramat disukai. Seperti suasana keheningan desa yang ditinggalkan para pemudanya karena lebih memilih keramaian di kota-kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8n3UGnjI/AAAAAAAAAxo/6DMHZFa_DEs/s1600-h/16+Agustus+%2878%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8n3UGnjI/AAAAAAAAAxo/6DMHZFa_DEs/s200/16+Agustus+%2878%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371594373618638386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di saat semua peserta pawai dari masing-masing RT merapihkan barisannya, satu kelompok kesenian Reog memainkan atraksi tari-tariannya. Kebanyak penghuni kawasan kami berasal dari Jawa termasuk Jawa Timur. Pertunjukan Reog menjadi hiburan menarik buat semua yang hadir. Kabar beberapa waktu lalu yang menyebutkan kalau Reog diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai kesenian asli dari mereka telah membuat berang warga Ponorogo yang merupakan asal kesenian ini. Masyarakat Indonesia pun merasa tersentil rasa kepemilikan kesenian yang memang belakangan kurang mendapat perhatian. Reog mendapat sambutan hangat pada perayaan kemerdekaan tahun ini di tempat tinggal kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati jalan-jalan pinggiran hingga ke tengah perumahan, acara pawai diakhiri di dekat gerbang masuk komplek kami. Di sana, bersebelahan dengan pos satpam, terdapat lapangan bola volly. Pertunjukkan reog diteruskan untuk menghibur semua penonton yang mengelilingi lapangan. cukup ramai. Bahkan di salah satu sisi lapangan adalah tebing yang berbatasan dengan pemukiman penduduk desa sebelah perumahan dipenuhi oleh mereka yang menonton dengan leluasa ke seluruh lapangan. Di sela-sela pertunjukan reog itu pula diumumkan para pemenang berbagai macam lomba dan pertandingan di tingkat RW, mulai dari pertandingan bulu tangkis, bola volly, catur, futsal, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan bentuk kompetisi lainnya, yang sudah terselenggara sejak awal Juli lalu. Perlombaan pawai menjadi penutup acara sesorean itu. Setelah semua hadiah di selesai dibagikan, para pemain reog mulai mengusung semua peralatan kembali ke rumah. Semua peserta pawai, anak dan orang tua juga mulai bergerak pulang. Anak-anak senang, meski tak menang ada hadiah makanan dan minumana ringan disediakan oleh panitia penyelenggara di tingkat RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8-Lc2DaI/AAAAAAAAAxw/wu-tp_Io2i8/s1600-h/Agustusan+09+%2828%29+%28Medium%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8-Lc2DaI/AAAAAAAAAxw/wu-tp_Io2i8/s200/Agustusan+09+%2828%29+%28Medium%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371594756981132706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada sore hari esoknya, 17 Agustus, ada perlombaan di tingkat RT 08 tempat kami tinggal. Semua anak-anak dikumpulkan untuk berbagai macam perlombaan: membawa kelereng dalam sendok, makan pilus dalam sebuah piring, mengambil uang logam yang menempel pada buah semangka, memecah balon yang berisi air dengan menggunakan jarum, memasukkan pensil ke dalam botol dan beberapa permainan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara perayaan kemerdekaan ini melahirkan berbagai hiburan tahunan dalam masyarakat. Berbagai macam perlombaan dan pertandingan menjadi tontonan menarik, juga menjadi ajang menunjukkan kemampuan pengusaan permainan tertentu. Tapi, ada yang luput kami tonton kali ini, yakni perlombaan panjat pinang. Perlombaan ini hampir selalu ada di setiap daerah. Semakin tahun terlihat semakin menarik saja hadiahnya. Sayang, karena harus mencari semangka kesukaan anak kami, hiburan satu ini jadi terlewati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-1762157586305113720?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/vmjFxULWfic/ragam-pitulasan.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sou8JBMPvXI/AAAAAAAAAxg/sE2YeimN3uI/s72-c/16+Agustus+%2847%29+%28Medium%29.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/08/ragam-pitulasan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-4121698198934569187</guid><pubDate>Wed, 12 Aug 2009 07:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-14T14:14:37.781+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Ia yang Maha Segala</title><description>Suatu ketika, Musa sedang sakit. Lalu ia berdo'a memohon kepada Allah SWT, minta disembuhkan dari sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Musa adalah seorang nabi, utusan Allah, maka datanglah kepadanya malaikat Jibril. Malaikat penyampai wahyu itu memberitahu Musa tentang obat untuk menyembuhkan sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambillah daun-daunan dari tumbuhan yang ada di dekat rumahmu, lalu rebuslah daun-daun itu dan minumlah air rebusan itu." Demikian jibril memberi tahu tentang obat untuk Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SoJquwFEbaI/AAAAAAAAAxY/PciDbbGaDIQ/s1600-h/senja-linau5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SoJquwFEbaI/AAAAAAAAAxY/PciDbbGaDIQ/s400/senja-linau5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368971057191742882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu Musa melakukan apa yang dikatakan oleh malaikat Jibril. Tak lama setelahnya, Musa pun sembuh dari sakit yang ia derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian Musa kembali mengalami sakit. Ia merasakan gejala sakit yang ia derita sama dengan sakit yang ia alami sebelumnya. Maka, dengan percaya diri Musa pun mulai meracik obat sesuai dengan petunjuk yang dulu pernah diberikan oleh malaikar Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah meminum ramuan obat, menunggu beberapa lama, ternyata Musa tak juga sembuh dari sakitnya. Ia pun bertanya-tanya kenapa gerangan ia tak juga kunjung sembuh dari sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah Jibril memberikan jawaban. Ia katakan kepada Musa, "sesungguhnya sakir yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit adalah Allah SWT. Ia yang maha segalanya, termasuk menyembuhkan segala macam penyakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, malaikat Jibril menyampaikan teguran Allah kepada Musa. Musa telah lalai, telah abai bahwa sesungguhnya ramuan berupa dedaunan dan semua yang bernama obat adalah perantara dari bantuan kesembuhan yang diberikan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia yang disebut modern ini, seringkali manusia lupa pada kekuasaan-Nya. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, manusia menganggap bahwa dirinya maha tahu segalanya. Seolah ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi oleh manusia. Orang lupa bahwa ada Ia yang Maha Kuasa. Bahwa manusia ini hanyalah ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak manusia yang lupa bahwa ia berasal dari-Nya, dari penciptaan-Nya, dan kelak akan kembali lagi kepada-Nya. Cerita tentang Adam adalah hikmah bagi umat manusia, bahwa sesungguhnya hanya Ia  yang Maha Kuasa atas segala yang ada di kehidupan ini. Ia yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya. Tanpa kehendak-Nya, obat hasil ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia tak akan pernah bisa mengobati segala penyakit yang ada. Hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Cerita ini saya dapat dari istri saya yang menyimak satu kajian agama Islam selepas subuh di radio Delta FM Jakarta beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;2. Foto &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Senja di Linau&lt;/span&gt; saya dapatkan dari &lt;a href="http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=617#more-617" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;, dan  © pada Farid Gaban sebagai fotografernya. Pantai Linau terletak di daerah kelahiran saya, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-4121698198934569187?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/7yejVdBq770/ia-yang-maha-segala.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SoJquwFEbaI/AAAAAAAAAxY/PciDbbGaDIQ/s72-c/senja-linau5.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/08/ia-yang-maha-segala.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-3824107764820914768</guid><pubDate>Sun, 02 Aug 2009 17:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-26T12:08:12.644+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Cerita tentang Warung</title><description>Namanya Murtini. Saya lupa persis namanya, dan hanya kata itu yang saya ingat untuk namanya, meski tidak yakin bahwa itu nama yang ia sebutkan pada dua pekan lalu. Ya, dua pekan lalu saya mampir di warung nasi yang ia kelola di dekat Gudeg Yu Djum, sebelah utara Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya mampir ke warungnya setelah sekitar 7 tahun lalu untuk terakhir kali saya makan di sana. Mbak Murtini berusia sekitar 35 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di Tawang Sari saat itu, tak jauh dari warung mbak Murtini yang berada di Karangasem. Ada banyak warung di daerah pondokan mahasiswa di sebelah utara kampus "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt;" itu. Saya salah satu mahasiswa 12 tahun lalu, bisa memilih warung mana saja sekedar untuk variasi makanan sehingga tak bosan. Namun, pilihan warung macam milik mbak Murtini lebih karena murahnya.Bandingkan misalnya dengan warung Bu Tuti, yang menyediakan masakan khas Bengkulu, yang harganya bisa tiga kali lipat. Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk makan di warung mbak Murtini saat itu? Seingat saya, makan dengan seribu atau seribu lima ratus perak sudah sangat layak untuk mahasiswa sembilan tahun lalu. Apalagi saat sebelum krisis, makan dengan lauk ayam dan tempe dua potong hanya butuh tak sampai seribu perak.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia masih mengingat saya, setidaknya ia masih ingat kalau saya dulu sering makan di warungnya. Saya memiliki seorang teman yang kebetulan mondok di kos-kosan miliknya di bagian belakang warung. Saya bertanya kabarnya, dan ia katakan kalau ia baik-baik saja. Kakaknya yang dulu bersamanya menghidangkan pesanan pembeli ternyata mengalami struk sudah beberapa tahun terakhir, sehingga otomatis tinggal mbak Murtini yang menunggui warung. Ia terlihat lebih gemuk, meski menurut pengakuannya ia belum bersuami. Inilah anggapan yang keliru di masyarakat, bahwa setiap orang yang sudah berkeluarga pasti akan menjadi gemuk. Ia pun mulai bercerita tentang suasana warungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang sepi, mas. Sedikit mahasiswa yang makan di warung ini. Jika dulu warung buka sampai malam, namun sekarang pukul lima sore warung sudah saya tutup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu orang akan mikir dua kali kalau mau makan di lesehan atau resto yang sekarang makin menjamur. Namun sekarang mahasiswa lebih senang makan di sana daripada di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mbak Murtini lebih terdengar sebagai keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahalnya biaya kuliah dengan penetapan UGM, IPB, ITB, dan UI sebagai &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/29/Kesra/kes01.htm" target="_blank"&gt;Badan Hukum Milik Negara (BHMN)&lt;/a&gt; telah menjadikan kampus-kampus besar ini hanya dapat diakses oleh anak-anak dari kalangan berduit. UGM sebagai kampus negeri terbesar dan tertua di Yogyakarta (bahkan kampus tertua di Indonesia) pun menjadi sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya.  Dulu mahasiswa UGM kebanyakan adalah anak-anak cerdas namun kebanyakan dari kalangan ekonomi "lemah". Jika ada anak orang kaya yang masuk ke sini, maka mereka akan sedikit banyak mengikuti gaya hidup teman-temannya yang sederhana, ramah, dan mudah bersosialisasi dengan warga setempat. Bahkan setelah lulus pun mereka memiliki idealisme untuk membangun masyarakat di daerah-daerah daripada bergelimang harta dan tahta di kota-kota besar. Sekarang, mahasiswanya berbeda, lebih kaya sekaligus lebih manja dengan fasilitas yang serba ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiknya biaya pendidikan di UGM mempengaruhi kampus-kampus lain di Yogya. Biaya hidup pun jadi lebih mahal dari sebelumnya. Mungkin benar bahwa kondisi ini mengikuti inflasi setiap tahun terjadi yang membuat nilai uang semakin berkurang dari waktu ke waktu. Selera makan mahasiswa pun jadi berubah, dari yang semula makan makanan sederhana dari warung-warung warga sekitar tempat pondokan menjadi makan makanan yang disediakan oleh resto-resto atau semacam cafe yang sekarang bertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal makan ini, tak hanya dari sajian makanan yang berbeda, namun suasana lebih "santai" dengan iringan musik hidup serta tempat tempat yang lebih luas yang tersedia yang tak dimiliki oleh warung-warung sederhana yang dulu jadi idola. Jika dulu koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedaulatan Rakyat&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bernas&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Pos &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;menjadi daya tarik warung sebab mahasiswa ingin makan sambil membaca koran. Sekarang, koran-koran serta harga murah tidak menjadi daya tarik yang tinggi untuk makan di warung. Mungkin era berita yang serba digital karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (ICT), koran-koran itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Uang yang banyak membuat harga tinggi tak perlu dikhwatiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mbak Murtini merupakan kegelisahan warung makan-warung makan yang dikelola oleh masyarakat setempat. Kos-kosan yang disewakan memang merupakan pemasukan ekonomi. Namun kos-kos dengan fasilitas yang lebih banyak, suasana lebih nyaman tentunya menjadikan kos-kos dengan fasilitas seadanya hanya mampu menghasilkan uang bagi pemiliknya dengan jumlah pas-pasan. Banyak kos-kosan dengan fasilitas lebih "mewah" sebenarnya merupakan usaha (milik) orang-orang Jakarta. Warung makan adalah pelengkap sumber penghasilan sehari-hari. Warung-warung seperti milik mbak Murtini memang telah mengalami pengurangan penghasilan yang cukup berarti. Seperti di siang saat bertandang ke sana, hanya saya satu-satunya pembeli di jam makan siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga pekan lebih saya di Yogya dan menyisakan sepekan lagi sebelum kembali mengikuti aktivitas Jakarta yang ramai. Sempat saya amati setiap akhir pekan, warung-warung memang banyak yang berubah. Mereka yang memiliki modal yang cukup akan mengubah penampilan dan juga sajian yang lebih "modern" akan mempertahankan, setidaknya, jumlah pengunjung yang sudah ia miliki. Tapi, ada berapa banyak yang bisa begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung mbak Murtini sendiri tidak berubah sejak 7 tahun lalu. Sementara, di luar sana, di pinggir-pinggir jalan atau tempat strategis di sekitar kampus telah berdiri kafe atau resto dengan tampilan dan suasana yang lebih "kota" serta ada pula sajian musik hidup yang lebih menggoda para mahasiswa yang kebanyakan dari kota-kota se-Indonesia. Meski harga lebih tinggi dari harga makanan di warung mbak Murtini, tetap saja tempat semacam ini menjadi lebih ramai. Saya perkirakan, warung warga setempat dengan modal seadanya dan tak mampu mengubahnya menjadi lebih "modern" itu akan terus terhimpit dari waktu ke waktu. Mereka akan seperti warga asli Ibu kota, tersingkir oleh para pendatang yang memiliki naluri bisnis yang tinggi. Kekhawatiran saya pun sama seperti pada kondisi orang-orang betawi, kelak di kemudian hari mereka hanya mampu menonton dari jauh, sembari bercerita pada anak-cucu: dulu, di sana, mbah kakung dan mbah putri pernah tinggal dan memiliki warung yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-3824107764820914768?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/1AuFDvucE60/cerita-tentang-warung.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/08/cerita-tentang-warung.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7045841735665652822.post-3610483506233701883</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2009 09:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-17T17:45:51.763+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kehidupan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Ojek Dilarang Masuk</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sjdobl3NzhI/AAAAAAAAAvE/GXfkerkoG0Y/s1600-h/Orang+miskin+sakit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sjdobl3NzhI/AAAAAAAAAvE/GXfkerkoG0Y/s200/Orang+miskin+sakit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347857905755213330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Akhir pekan lalu, saya dan istri membeli beberapa kebutuhan untuk kelahiran putra kedua kami. Saat itu, istri menyebut satu toko yang menurut informasi yang ia dapat merupakan toko yang menjual barang-barang yang sedikit lebih murah dibanding toko-toko lain yang menjual barang yang sama di sekitar sana. Toko itu terletak di sebuah kawasan niaga sebuah perumahan elit di timur Cibubur, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melewati gerbang perumahan yang dijaga oleh beberapa satpam itu, betapa terkejutnya saya pada satu tanda lingkaran yang dibuat garis miring diamater menutupi gambar orang bersepeda motor di dalamnya. Di bawah gambar tertulis: Ojek dilarang masuk. Tegas sekali larangan itu. Ojek yang merupakan alat transportasi kawasan yang paling praktis dan cepat ternyata dilarang di kawasan itu. Mungkin saja larangan itu berkaitan dengan keamanan bagi penghuni kawasan dengan rumah-rumah besar namun tak sedikit hanya ditempati oleh pekerja rumah tangga (PRT), bahkan ada yang kosong tak berpenghuni. Asumsinya, semua penghuni perumahan memiliki kendaraan pribadi sehingga tak membutuhkan alternatif angkutan. Namun, bagi saya pribadi larangan ini adalah satu bentuk diskriminasi yang seharusnya tak boleh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kawasan perumahan memang menyediakan angkutan kawasan. Sebut saja perumahan Kota Wisata. Perumahan elit ini menyediakan angkutan itu, namun warga tetap saja memerlukan ojek sebagai alat transportasi alternatif. Selain lebih cepat karena tak perlu berkeliling kawasan namun langsung menuju rumah, juga karena angkutan kawasan datang tidak dalam jeda yang singkat. Ojek akhirnya menjadi satu kebutuhan. Ada demand maka ada supply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keamanan, perumahan dengan pengamanan satpam di setiap cluster kawasan tentunya tak begitu mengkhawatirkan. Jika pun tukang ojek sering melintas, sebagai mana tamu yang datang, biasanya dimintai tanda pengenal atau dicatat ciri-cirinya oleh satpam yang ada. Jika memiliki langganan, tentunya ia akan sering keluar-masuk, dan satpam seharusnya mengetahui itu. Sungguh, tak perlu ada kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarangan ojek untuk masuk ke dalam kawasan menunjukkan satu bentuk tuduhan secara tidak langsung bahwa para pencari nafkah dengan menawarkan jasa mengantar orang dengan sepeda motor ini adalah mereka yang "pasti" melakukan kejahatan. Bisa jadi ini adalah permintaan segelintir warga atau pun memang "fasilitas" kenyamanan yang ditawarkan pengelola perumahan. Namun, siapa yang dapat memastikan kalau mereka adalah pelaku kejahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melarang ojek masuk kawasan sama niatnya dengan pelarangan terhadap &lt;a href="http://teroriscinta.blog.friendster.com/2008/11/apakah-semua-pemulung-adalah-pencuri/" target="_blank"&gt;pemulung&lt;/a&gt;. Harus diakui, memang ada kejadian di mana pemulung membawa pergi beberapa barang berharga milik warga. Namun, sekali lagi, tak semua pemulung berbuat jahat melakukan pencurian atau kejahatan yang lain. Mereka, para pemulung itu, adalah penyelamat lingkungan. Mereka memungut kardus, bungkus plastik, botol-botol bekas dan barang-barang tak terpakai lagi yang kelak akan jadi barang-barang bermanfaat setelah mengalami proses daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sepatutnya berterima kasih pada pemulung. Atas jasa mereka, sampah-sampah yang kita buang tak langsung mengotori dan menyakiti bumi ini. Mereka yang begitu benci pada pemulung karena ketakutan hartanya dicuri belum tentu adalah mereka yang ramah pada bumi, dan membuang sampah pada tempatnya. Mungkin secara sosial status kepemilikan harta mereka yang melarang pemulung masuk lebih tinggi kedudukannya, namun dalam hal kesadaran melestarikan bumi untuk anak-cucu kita nanti juga belum pasti mereka memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati pelarangan di mana-mana ini, sepertinya ada upaya untuk melestarikan sekat-sekat antarkelas dalam masyarakat. Sekat itu bisa antara penghuni perumahan "elit" dengan para kelas ekonomi paling bawah seperti para pemulung atau tukang ojek. Bisa juga dalam bentuk yang lain berupa akses untuk mendapatkan layanan publik yang saat ini telah banyak diserahkan pengelolaannya pada pihak swasta. Pihak swasta, yang dengan kerakusan pada akumulasi keuntungan tidak akan mudah memberikan akses kepada mereka yang tidak memberikan keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kepentingan publik telah diserahkan pada swasta, maka layanan publik yang masih dijalankan oleh Pemerintah biasanya tetap tidak mampu memberikan layanan maksimal kepada masyarakat. Inilah skenario kapitalisme neoliberal yang menjadikan subsidi pemerintah sebagai duri dalam daging yang harus dilenyapkan. Karena itu, kesepakatan hutang Pemerintah Indonesia dengan IMF dan lembaga moneter lainnya jelas menyebutkan tak boleh ada lagi pemberian subsidi. Pencabutan subsidi adalah kewajiban Pemerintah lainnya di samping menyerahkan pengelolaan kepentingan publik kepada swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja sekolah-sekolah di wilayah Jabodetabek yang mulai berstatus internasional atau sekolah unggulan. Jika bukan milik swasta maka ia adalah sekolah-sekolah negeri yang iuran wajibnya tak mungkin dapat terbayar oleh para pemulung atau tukang ojek. Sekolah murah untuk kaum miskin dengan subsidi yang telah terkurangi adalah sekolah yang paling banyak dapat diakses oleh anak-anak tukang ojek dan pemulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit pun demikian. Susah sekali untuk menemukan rumah sakit pemerintah yang mau memberikan pelayanan yang baik pada orang-orang miskin. Bahkan yang dirawat dengan menggunakan kartu tanda keluarga miskin pun harus ikhlas untuk dibedakan standar pelayanan minimal dengan mereka yang mampu membayar dengan lebih mahal untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit-rumah sakit swasta, untuk mendapatkan pelayanan Anda harus menyetorkan sejumlah uang sebagai deposit untuk menjamin bahwa biaya perawatan dapat dibayar oleh keluarga si sakit. Besar deposit biasanya sebanyak biaya perawatan selama 10 hari. Jika tak dapat membayarkan uang deposit ini, jangan harap Anda akan mendapatkan perhatian yang manusiawi dari para tenaga medis di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu membuat tanda larangan dan menuliskannya dengan huruf-huruf berukuran besar sebagaimana larangan masuk bagi tukang ojek di kawasan perumahan elit di timur Cibubur itu. Fenomena akses ke sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit dengan layanan yang layak jelas menunjukkan larangan nyata bagi sebagian besar masyarakat kita. Meminjam bahasa aktivis HAM dari dari Yogyakarta, Eko Prasetyo: "Orang Miskin Dilarang Sekolah" dan "Orang Miskin Dilarang Sakit."&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Gambar sampul buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang Miskin Dilarang Sakit&lt;/span&gt; saya ambilkan dari &lt;a href="http://dungdungpret.blogspot.com/2009/02/orang-miskin-dilarang-sakit.html" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2. Istri saya trauma atas kejadian &lt;a href="http://ibuprita.suatuhari.com/" target="_blank"&gt;Prita Mulyasari&lt;/a&gt; dan beberapa orang lainnya yang dituntut karena mengemukakan pendapat. Karena itu, saya pun tidak mendapat izinnya untuk memotret tanda larangan masuk bagi tukang ojek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7045841735665652822-3610483506233701883?l=serunai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/serunai/~3/H5yABiI3W-E/ojek-dilarang-masuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Herman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/Sjdobl3NzhI/AAAAAAAAAvE/GXfkerkoG0Y/s72-c/Orang+miskin+sakit.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>7</thr:total><feedburner:origLink>http://serunai.blogspot.com/2009/06/ojek-dilarang-masuk.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

