<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Siskha's Blog</title><link>http://siskhana.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/siskhana" /><description></description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (siskha)</managingEditor><lastBuildDate>Wed, 30 Nov 2011 22:56:04 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="siskhana" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">siskhana</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Shampo Alami dan Cara Membuatnya</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/11/shampo-alami-dan-cara-membuatnya.html</link><category>kosmetik</category><category>seledri</category><category>sediaan farmasi</category><category>shampo</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Fri, 03 Dec 2010 07:37:59 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-648122770216366092</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPjvFIsD7pI/AAAAAAAAAKA/3KoO-4ic46g/s1600/shampo%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPjvFIsD7pI/AAAAAAAAAKA/3KoO-4ic46g/s320/shampo%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546445812617440914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang semester terakhir,hanya tinggal 1 mata praktikum yang tersisa dan menurutku paling awesome :D.yeah,,praktikum KOSMETIKA ALAMI. Well, praktikum ini memungkinkan kami untuk membuat sediaan kosmetik dengan bahan dasar yang alami. Sediaan pertama yang kami buat adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shampo&lt;/span&gt;. Sebelumnya,apa sih yang dimaksud shampo??. Shampo merupakan sediaan kosmetik untuk mengeramas rambut, hingga kulit kepala dan rambut bersih, sedapat mungkin rambut menjadi bersih, berkilau, indah dan mudah diatur. Sebelum shampo populer, sabun pembersih badan dipakai untuk membersihkan rambut. Rambut memang bisa dibersihkan dari kotoran yang melekat, sebum, keringat dan stratum korneum yang terlepas tetapi akan membuat rambut tapak kusam, kasar dan kering sehingga sukar ditata. Oleh karena itu, dibutuhkan pembersih lain bagi rambut yang  tidak hanya membersihkan tetapi sekaligus membuat rambut indah yakni shampo.Semula bahan-bahan yang sering digunakan untuk sampo adalah berbagai bahan dari alam seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang (sekam padi). Dewasa ini yang digunakan adalah detergen (zat sabun sintetik).&lt;br /&gt;Dalam praktikum yang saya lakukan, shampo yang akan dibuat berupa shampo dari ekstrak seledri.Herba seledri mengandung glikosida apiin, apigenin, isoquersetin dan umbelliferon,furanokumarin,  minyak atsiri. Manfaat ekstrak seledri yang ditambahkan dalam shampo untuk melebatkan dan menyuburkan rambut. Sediaan shampo seledri yang ada di pasaran kebanyakan berupa shampo untuk bayi.&lt;br /&gt;Langsung saja, untuk membuat shampo seledri alat dan bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alat : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;panci stainless steel&lt;br /&gt;kompor&lt;br /&gt;pengaduk kayu&lt;br /&gt;termometer&lt;br /&gt;kemasan sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komposisi bahan : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ekstrak seledri                    0,5 g&lt;br /&gt;Sodium Lauryl sulfat 70 %          50  g&lt;br /&gt;Cocamide DEA                       12,5 g&lt;br /&gt;Cocoamidopropyl betain ( CAB-30 )  12,5 g&lt;br /&gt;Nipagin                             0,5 g&lt;br /&gt;Asam sitrat                        secukupnya&lt;br /&gt;NaCl                               2,5 g&lt;br /&gt;parfum alami ( Lavender )          secukupnya&lt;br /&gt;pewarna alami                      secukupnya&lt;br /&gt;Aqua bidestilata                   163 ml&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara pembuatan  :&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;1. panaskan Aqua dan ekstrak seledri sampai panas tambahkan nipagin, setelah larut tambahkan sodium lauryl sulfat dan diaduk sampai merata&lt;br /&gt;2.tambahkan cocamide diaduk sampai merata &lt;br /&gt;3.tambahkan CAB-30 diaduk sampai merata&lt;br /&gt;4.masukkan NaCl dan asam sitrat diaduk sampai merata,cek PH pastikan kisaran PH 6-7      menyesuaikan PH normal kulit.&lt;br /&gt;5.setelah dingin tambahkan pewarna dan parfum, diaduk sampai homogen&lt;br /&gt;6.pengadukan dilanjutkan sampai diperoleh larutan jernih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penjelasan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang dilakukan adalah memanaskan aquabidest yang berfungsi sebagai pembawa dengan nipagin sampai nipagin larut sempurna. Digunakan nipagin karena shampo harus tidak boleh  terkontaminasi oleh mikroba. Nipagin disini digunakan sebagai pengawet dan antimikroba. Nipagin dilarutkan terlebih dahulu karena nipagin susah larut tanpa pemanasan, oleh karena itu agar cepat larut maka harus dibantu dengan proses pemanasan dan pengadukan. Setelah dipanaskan kemudian dimasukkan bahan aktifnya yaitu ekstrak seledri agar ekstrak tersebut dapat larut dalam campuran tersebut. &lt;br /&gt;Kemudian langkah berikutnya adalah memasukkan SLS atau sodium lauril sulfat. SLS ini digunakan untuk surfaktan. Tapi dalam shampo harus dibuat kombinasi lain selain hanya SLS sebagai surfaktan. Bahan lain ini adalah cocamide serta CAB untuk memperkuat daya surfaktan dari SLS. Pemasukkan SLS ke dalam larutan harus hati-hati karena bila teralu panas akibatnya akan terbentuk banyak buih, apalagi bila dengan pengadukan yang cepat maka akan terjadi buih yang sangat banyak. Pengadukan dilakuakn pelan sampai SLS homogen dalam larutan tersebut. Apabila semua telah larut kemudian dilanjutkan dengan penambahan cocamide. Cocamide akan meningkatkan daya penetrasi SLS sebagai surfaktan juga kan meningkatkan viskositas dari larutan shampo. Selain itu, cocamide dapat digunakan sebagai pembuat busa sampo. Pemasukkan cocamide juga harus hati-hati karena akan membentuk busa yang banyak bila dimasukkan secara cepat dan diaduk cepat.Setelah homogen lalu dimasukkan CAB atau Cocaamidopropyl betain. CAB ini juga akan menguatkan fungsi gabungan SLS , CAB dan cocamide sehingga daya surfaktannya kan menjadi sangat kuat. Sifatnya yang juga sebagai surfaktan ini adalah untuk membuat shampo menjadi tidak mengiritasi mata sehingga dapat digunakan oleh anak-anak karena resep ini menurut literatur  sebagian mirip dengan resep shampo milik Jhonson and jhonson ® for baby and kids. Pemasukkan CAB juga harus hati-hati karena akan membuat busa bila berlebihan. Setelah homogen kemudian ditambahkan NaCl dan juga asam sitrat. Fungsi asam sitrat adalah untuk menyeimbangkan pH agar dapat menetralisir reaksi basa yang yang terjadi dalam penyampoan rambut. Setelah ditunggu dingin kemudian ditambahkan bahan pewangi. Pewangi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minyak seribu bunga. Ditambahkan saat dingin karena minyak atsiri tidak stabil oleh pemanasan. Kemudian yang terakhir adalah pengecekan pH agar tetap di range netral yakni 6-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman Stephen, 2007, Shampoo Formulation &amp; surfactant SelectionFairleigh, New york : Dickinson University Cosmetic Formulations Lab&lt;br /&gt;Setyowati, E., dkk, 2010, Petunjuk Praktikum Kosmetika Alami,Fakultas Farmasi UGM,Yogyakarta&lt;br /&gt;Tranggono, R.I., Latifah, F., 2007, Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;Wasitaatmaja, SM, 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, UI Press, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-648122770216366092?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-03T22:37:59.085+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPjvFIsD7pI/AAAAAAAAAKA/3KoO-4ic46g/s72-c/shampo%2B1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Hal yang Perlu Diketahui tentang Shampo</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/11/hal-yang-perlu-diketahui-tentang-shampo.html</link><category>sediaan farmasi</category><category>shampo</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Fri, 03 Dec 2010 08:46:24 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-3767909636434788942</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPkdGxJMF1I/AAAAAAAAAKQ/k4vNX4V-W40/s1600/shampoo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPkdGxJMF1I/AAAAAAAAAKQ/k4vNX4V-W40/s320/shampoo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546496418191775570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Shampo adalah sabun cair yang digunakan untuk mencuci rambut dan kulit kepala yang terbuat dari campuran bahan-bahan alami ( tumbuhan ) atau zat-zat kimia. Pengertian lain dari sampo yaitu sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok berguna untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit kepala tidak membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan Si pemakai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agar sampo berfungsi sebagaimana disebutkan di atas, sampo harus memiliki sifat berikut : &lt;br /&gt;1. Shampo harus membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.&lt;br /&gt; 2. Shampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika tidak kulit kepala menjadi kering. &lt;br /&gt;3. Shampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada di dalam komposisi sampo. Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika. &lt;br /&gt;4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata. &lt;br /&gt;5. Shampo harus tetap stabil. Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam penyimpanan. Viskositas dan pH-nya juga harus tetap konstan, sampo harus tidak terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasad renik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan ke dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan sampo memiliki sifat fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang dikehendaki untuk shampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersih kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut menjadi kering, kusam, dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur. Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk shampo adalah kemampuan membangkitkan busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai C 10-18. &lt;br /&gt;Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan shampo, harus memiliki sifat berikut :&lt;br /&gt; 1. harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.&lt;br /&gt; 2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik. &lt;br /&gt;3. Warnanya tidak boleh menyolok. &lt;br /&gt;Karakteristik shampo yang baik :&lt;br /&gt;1. dapat menghilangkan kotoran, mengurangi kelebihan lemak, menghilangkan residu kosmetika&lt;br /&gt;2. dapat memuaskan (aspek psikologi)&lt;br /&gt;3. mudah dihilangkan dengan air&lt;br /&gt;4. bau sedap terutama saat digunakan, menutup bau rambut basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Isi shampo meliputi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Surfaktan&lt;br /&gt;Surfaktan adalah bahan aktif sampo yang berupa deterjen pembersih sintesis yang cocok untuk kondisi rambut pemakai. Deterjen bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan cairan karena bersifat amfibilik, sehingga dapat melarutkan kotoran yang melekat pada permukaan rambut. Biasanya dipilih surfaktan anionik yaitu fatty alcohol sulfate, antara lain:&lt;br /&gt;a. Lauril sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), merupakan pembersih yang baik namun mengeraskan rambut.&lt;br /&gt;b. Lauret sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), pembentuk busa yang baik dan kondisioner yang baik.&lt;br /&gt;c. Sarkosinat (natrium lauril, lauril), daya bersih kurang, kondisioner yang baik.&lt;br /&gt;d. Sulfasuksinat (dinatrium oleamin, natrium dioktil), pelarut lemak yang kuat untuk rambut berminyak.&lt;br /&gt;Biasanya digunakan lebih dari satu surfaktan dalam sampo, yang utama disebut surfaktan primer, selebihnya adalah surfaktan pelengkap atau sekunder. Surfaktan yang dipilih dapat dari golongan yang sama atau dari golongan surfaktan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelembut (conditioner)&lt;br /&gt;Pelembut membuat rambut lebih mudah disisir dan diatur oleh karena dapat menurunkan friksi antarrambut, mengkilapkan rambut oleh karena memperbaiki refleksi cahaya yang mengenai batang rambut, dan memperbaiki keadaan rambut yang rusak akibat overshampooed, overdried, overbrushed, overcombed, keriting, pewarna, pemutih, atau styling yang menyebabkan kerusakan pada korteks rambut yang merupakan kekuatan dari rambut. Bahan pelembut yang sering digunakan adalah lemak, protein, polimer atau silikon, adeps, lanolin, oleialkohol, dan asetogliserida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembentuk busa&lt;br /&gt;Pembentuk busa adalah bahan surfaktan yang masing-masing berbeda daya pembuat busanya. Busa adalah emulsi udara dalam cairan. Kemampuan membentuk busa tidak menggambarkan kemampuan membersihkan. Busa yang terbentuk akan segera terikat dengan lemak sebum sehingga rambut yang lebih bersih akan menimbulkan busa yang lebih banyak pada pengulangan pemakaian shampoo. Busa yang terbentuk lazim diberi penguat yang menstabilkan busa agar lebih lama terjadi, misalnya dengan menambahkan alkanolamid atau aminoksida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengental (thickener) dan pengeruh (opacifier)&lt;br /&gt;Bahan ini ditambahkan untuk menyenangkan konsumen, keduanya tidak menggambarkan daya bersih dan konsentrasi bahan aktif dalam sampo. Zat pengental biasanya gom sintetik/alam : tragakan, gom akasia, hidroksietilselulosa.&lt;br /&gt;Opacifyng agents:&lt;br /&gt;a. alkohol (rantai panjang) : stearil, setil&lt;br /&gt;b. cairan magnesium : stearat, silikat, gom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemisah logam&lt;br /&gt;Dibutuhkan keberadaannya untuk mengikat logam berat (K, Mg) yang terdapat dalam air pencuci rambut, misalnya etilen diamin tetra asetat (EDTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. pH balance&lt;br /&gt;Diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam penyampoan rambut, misalnya asam sitrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pemberi warna dan bau&lt;br /&gt;Bahan ini ditambahkan untuk memberi kesan nyaman bagi konsumen yang memakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bahan tambahan&lt;br /&gt;a. Vitamin (vitamin E, antenol/B5).&lt;br /&gt;b. Minyak mink, rempah-rempah, minyak kelapa, llilin.&lt;br /&gt;c. Protein (RNA, kolagen, plasenta, susu).&lt;br /&gt;d. Tabir surya kimia.&lt;br /&gt;e. Antiketombe, misalnya : tar, sulfur, seng pirition, dan selenium sulfida (mencegah segum yang menyebabkan rambut pecah dan berketombe).&lt;br /&gt;f. Balsam, wortel, madu, jojoba, aloe (lidah buaya).&lt;br /&gt;g. Pengawet : formaldehid, metilhidroksibenzoat, propilhidroksibenzoat, alkil anisol, butil hidroksi benzoat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bentuk- bentuk shampo :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Shampo serbuk&lt;br /&gt;- bahan dasar : sabun serbuk&lt;br /&gt;- bahan pengencer : Na2CO3, NaHCO3&lt;br /&gt;- bahan lain : Na lauril sulfat&lt;br /&gt;B. Sampo cair&lt;br /&gt;- Jernih&lt;br /&gt;- formulasi : viskositas, berwarna, keharuman, pembentukan busa, stabilitas busa, pengawetan.&lt;br /&gt;C. Shampo emulsi&lt;br /&gt;- mudah dituang&lt;br /&gt;- jenis tambahan : lendir, EGG, Brendi, Lemon, dll.&lt;br /&gt;- Alkil sulfat&lt;br /&gt;- Detergen cair + ophacizier (agar shampoo kelihatan keruh)&lt;br /&gt;D. Shampo krim / busa&lt;br /&gt;- bahan dasar : Na – alkil sulfat + setil alkohol (pengental) + dietanolamin (pemantapan busa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenis-jenis shampo :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. shampo dasar (basic shampoo), yaitu shampoo yang dibuat sesuai dengan kondisi rambut (kering, normal, berminyak).&lt;br /&gt;2. shampo bayi (baby shampoo), yaitu sampo yang dibuat menggunakan bahan yang tidak mengiritasi mata dan mempunyai daya bersih sedang karena kulit dan rambut bayi minim sebumnya. Dapat dipakai oleh mereka yang ingin bersampo setiap hari.&lt;br /&gt;3. shampo dengan pelembut (conditioner), yaitu 2 in 1 (sampo berupa kosmetika) dan 3 in 1 (dan vitamin).&lt;br /&gt;4. shampo profesional, yang mempunyai konsentrasi bahan aktif lebih tinggi sehingga harus diencerkan sebelum pemakaian.&lt;br /&gt;5. shampo medik, shampo yang mengendung antikotembe atau tabir surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana Shampo bekerja ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air → meningkatkan kemampuan air untuk membasahi kotoran yang melekat (Ingat makin kecil nilai tegangan permukaan air, makin besar kemampuan air membasahi benda).&lt;br /&gt;Surfaktan bergerak di bawah lapisan berminyak → mengangkat dan permukaan → partikel berbentuk bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim.1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Depkes RI : Jakarta&lt;br /&gt;Herman Stephen, 2007, Shampoo Formulation &amp; surfactant SelectionFairleigh, New york : Dickinson University Cosmetic Formulations Lab,&lt;br /&gt;Tranggono, R.I., Latifah, F., 2007, Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;Wasitaatmaja, SM, 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, UI Press, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-3767909636434788942?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-03T23:46:24.111+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TPkdGxJMF1I/AAAAAAAAAKQ/k4vNX4V-W40/s72-c/shampoo.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengolahan Limbah Industri Kosmetik</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/10/pengolahan-limbah-industri-kosmetik.html</link><category>kosmetik</category><category>Umum</category><category>kesehatan</category><category>Limbah</category><category>industri</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Wed, 20 Oct 2010 20:16:37 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-2302909628266918181</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL-u9NCT3FI/AAAAAAAAAJw/0cmHV564XHs/s1600/waste+treatment.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 183px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL-u9NCT3FI/AAAAAAAAAJw/0cmHV564XHs/s320/waste+treatment.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530331233928862802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan limbah yang bersumber dari industri kosmetik cukup mengkhawatirkan. Bahan beracun dan berbahaya banyak digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik maupun sebagai penolong. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan itu sendiri, baik dari jumlah maupun kualitasnya. Beberapa kriteria berbahaya dan beracun telah ditetapkan antara lain mudah terbakar, mudah meledak, korosif, oksidator dan reduktor, iritasi bukan radioaktif, mutagenik, patogenik, mudah membusuk dan lain-lain. Dalam jumlah tertentu dengan kadar tertentu, kehadirannya dapat merusakkan kesehatan bahkan mematikan manusia atau kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan dalam lingkungan pada waktu tertentu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Industri kosmetik, saat ini lebih terfokus pada upaya untuk melakukan efisiensi seiring makin melambungnya biaya produksi, belanja pegawai hingga ongkos energi. Sehingga mau tak mau akan menomorduakan persoalan pembuangan limbahnya. Apalagi pengolahan limbah memerlukan biaya tinggi. Padahal limbah industri kosmetik sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran. Pada umumnya limbah industri kosmetik mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18/99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. &lt;br /&gt; Hal tersebut tidak bisa dibiarkan karena cepat atau lambat pasti akan membawa dampak yang buruk bagi lingkungan ataupun bagi kesehatan manusia. Limbah industri harus ditangani dengan baik dan serius oleh Pemerintah Daerah dimana wilayahnya terdapat industri. Pemerintah harus mengawasi pembuangan limbah industri dengan sungguh-sungguh. Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi bersih, memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan yang terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran atau paling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di samping itu perlu dilakukan penelitian atau kajian-kajian lebih banyak lagi mengenai dampak limbah industri yang spesifik (sesuai jenis industrinya) terhadap lingkungan serta mencari metoda atau teknologi tepat guna untuk pencegahan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Mendownload lebih lengkap makalah mengenai pengolahan Limbah Industri Kosmetik, Klik &lt;a href="http://www.4shared.com/document/9IAIwTIp/limbah_kosmetik.html"&gt;Di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-2302909628266918181?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-21T10:16:37.673+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL-u9NCT3FI/AAAAAAAAAJw/0cmHV564XHs/s72-c/waste+treatment.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Uji Klinik Tensigard</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/10/uji-klinik-tensigard.html</link><category>tensigard</category><category>seledri</category><category>uji klinik</category><category>fitofarmaka</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Tue, 19 Oct 2010 18:16:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-5854046648363363746</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5A6vPlsRI/AAAAAAAAAJQ/W6viJvCwWVE/s1600/tensigard.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5A6vPlsRI/AAAAAAAAAJQ/W6viJvCwWVE/s320/tensigard.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529928770315989266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tensigrad merupakan produk fitofarmaka yang terdiri atas 2 konstituen bahan alam yaitu, seledri (Apium graveolens) dan kumis kucing (Orthosiphon stamineus). Uji klinik dilakukan dengan rancangan Ramdomized Triple Blind Control Study dengan lama 12 minggu.  Uji tersebut meliputi 282 pasien pria dan wanita berusia 25-75 tahun yang menderita hipertensi tingkat I dan II, dengan pembanding amlodipin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fitofarmaka Tensigard 3 kali 1 kapsul (250 mg) per hari selama dua belas minggu mampu menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik setara dengan farmakologik Amlodipin 1 kali 5 perhari. Efek samping yang ditimbulkan berupa angina tak stabil yang dapat diatasi dengan pemberian nitrat. Sedangkan efek toksikologi pada ginjal dan hati tidak ditemukan secara bermakna.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fitofarmaka Tensigard 3 kali 1 kapsul (250 mg) per hari selama dua belas minggu mampu menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik setara dengan farmakologik Amlodipin 1 kali 5 perhari. Tekanan darah sistolik masing-masing kelompok turun secara bertahap dari 153,26 +- 10,87 mmHg menjadi 131,72 +-13,63 mmHG yang diberi obat seledri dan kumis kucing.&lt;br /&gt;Selain itu tidak terjadi penurunan drastis atau hipotensi meski pengobatan terus dilakukan. Ini disebabkan karena seledri memiliki efek calcium antagonis dan kumis kucing punya efek beta blocker disamping efek diuretic yang setara dengan Amlodipin. Artinya, obat ini bisa digunakan untuk pemeliharaan agar tekanan darah stabil. Sifat calcium antagonis bekerja pada reseptor pembuluh darah dan akan memberi rasa rileks ( evieta, 2002 ). Pemberian Tensigard juga tidak mempengaruhi kadar elektrolit plasma, kadar lipid plasma maupun kadar gula darah. Sementara itu efek samping yang dicatat dalam uji klinis ini menunjukkan pemberian Tensigard berupa sakit kepala, nausea yang sama atau tidak berbeda bermakna dengan apa yang terjadi di kelompok farmakologi Amlodipin. Tidak ditemukan udem tibia maupun takikardi ataupun bradikardi di dua kelompok.&lt;br /&gt;Tercatat ada satu kasus TIA (Temporary Ischemic Attack) pada kelompok Amlodipin dan satu kasus Angina tak stabil yang teratasi dengan pengobatan nitrat pada kelompok Tensigard. Pada hasil uji klinik ini juga tidak ditemukan perbedaan yag bermakna pada parameter fungsi hati maupun ginjal (Gsianturi, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evieta, 2002, Obat Darah Tinggi Baru dari Jamu, tersedia online: http://www.infoanda.com, diakses pada  10 oktober 2010, 21.00 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gsianturi, 2002, Kumis Kucing dan Seledri untuk Hipertensi, tersedia online: http://www.gizi,net , diakses pada 10 Oktober 2010, 21.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-5854046648363363746?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-20T08:16:13.282+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5A6vPlsRI/AAAAAAAAAJQ/W6viJvCwWVE/s72-c/tensigard.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Efek Samping Obat Alam dari Seledri</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/10/efek-samping-obat-alam-dari-seledri.html</link><category>seledri</category><category>Efek Samping</category><category>Fitokimia</category><category>tanaman obat</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Tue, 19 Oct 2010 18:41:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-5470907266001181993</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5H4MLD3SI/AAAAAAAAAJg/0weedp54jc8/s1600/seledri.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5H4MLD3SI/AAAAAAAAAJg/0weedp54jc8/s320/seledri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529936423123410210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seledri merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia. Penggunaan seledri sudah sangat luas di masyarakat. Beberapa klaim menyebutkan bahwa seledri dapat menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol dan lemak darah. Masyarakat biasa menggunakan herba seledri segar sebagai lalapan maupun obat. Dewasa ini perusaahaan farmasi telah mengolahnya menjadi sediaan obat fitofarmaka, yaitu Tensigard.&lt;br /&gt;Secara tradisional herba seledri digunakan sebagai pemacu enzim pencernaan atau sebagai penambah nafsu makan, peluruh air seni dan penurun tekanan darah.&lt;br /&gt;Disamping itu digunakan pula untuk memperlancar keluarnya air seni, mengurangi rasa sakit pada rematik dan gout, juga digunakan sebagai anti kejang. Dekokta biji digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada nyeri lambung, rematik dan encok. Bijinya juga diyakini memiliki efek sedatif terhadap sistem syaraf sentral. Sering dipakai untuk mengobati penderita bingung.&lt;br /&gt;Selebihnya daun dan batang seledri sangat populer sebagai sayur, lalab untuk penyedap masakan tradisional&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;PENGGUNAAN OBAT, EFEK SAMPING, PATOGENESIS DAN PENANGANAN&lt;br /&gt;a. Penggunaan Obat&lt;br /&gt;Beberapa penelitian menyebutkan pemberian intravena ekstrak daun seledri pada anjing dan kelinci dapat menurunkan tekanan darah normal. Adanya efek menurunkan tekanan darah juga telah dibuktikan pada 16 orang laki-laki bertekanan darah tinggi yang diberi 40 ml campuran ekstrak seledri dan madu atau sirup secara oral 3xsehari. &lt;br /&gt;Efek penurunan tekanan darah tersebut disebabkan karena terjadi¬nya stimulasi pada reseptor kimia (chemoreceptor) pada “carotid bo¬dy” dan “aorticarch”. Efek ini ada kaitannya dengan sistem sya¬raf simpatik.&lt;br /&gt;Seledri telah diketahui mengandung senyawa yang dapat memperlancar darah. Itulah sebabnya harus diperhatikan bila digunakan bersama warfarin atau aspirin (obat pengencer darah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Efek Samping Seledri &amp; Keamanannya&lt;br /&gt;Seledri merupakan herbal yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah. Akan tetapi ada beberapa efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan seledri. Seledri dapat menyebabkan inflamasi pada kulit dan sensitivitas matahari. Wanita hamil dan menyusui sebaiknya menghindari mengkonsumsi seledri selama masa kehamilan. Konsumsi seledri dalam jumlah besar dapat menyebabkan kontaksi uterus dan keguguran. Seledri juga menyebabkan alergi pada orang yang sensitive pada beberapa tanaman termasuk wortel, &amp; dandelion. Penyakit ini disebut sindrom celery-carrot-mugwort-spice. Orang yang mnegalami ganggunan ginjal juga dilarang mengkonsumsi seledri. Seledri dapat berefek pada system nervous. Pada beberapa penelitian, kombinasi anastesi dan obat lain yang dipakai selama dan setelah operasi menurun system nevous sangat banyak. Hentikan penggunaan seledri minimal 2 minggu sebelum jadwal operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Patogenesis Seledri&lt;br /&gt;Seledri biasa digunakan sebagai herba penurun tekanan darah dan sudah dilakukan uji klinik. Seseorang yang menggunakan warfarin dan seledri pada waktu yang sama memiliki kemungkinan mengalami perdarahan. Warfarin yang memiliki jendela terapi yang sempit ditambah dengan seledri yang mengandung furanokumarin dapat meningkatkan efek antikoagulan. &lt;br /&gt;Selain itu adanya laporan munculnya reaksi alergi dan anafilaksis adalah akibat penggunaan seledri secara oral. Reaksi alergi dimediasi oleh adanya antibody Ig-E meskipun antigennya belum diketahui. Sensitivitas silang pada seledri telah terjadi pada pasien yang alergi dandelion dan wortel.&lt;br /&gt;Mengkonsunsi seledri bersamaan dengan pengobatan yang meningkatkan sensitivitas terhadap sinar matahari dapat meningkatkan kemungkinan kulit terbakar, melepuh arau ruam-ruam jika terpapar sinar matahari. Obat yang menyebabkan reaksi fotosensitif misalnya amitriptyline, ciprofloxacin, norfloxacin, trimetroprim, tetracycline, trioxalen.  Efek samping fotosensitivitas ini akibat adanya senyawa furanokumarin dalam seledri.&lt;br /&gt;Data-data tersebut menunjukkan bahwa seledri memiliki efek samping obat tipe B, yaitu efek samping tidak berkaitan dengan indikasi seledri sebagai antihipertensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penanganan&lt;br /&gt;Efek samping seledri dapat diminimalisir dengan menghindari penggunaan selederi bersamaan dengan obat antikoagulan (walfarin) dan obat yang meningkatkan sensitifitas terhadap sinar matahari (amitriptyline, ciprofloxacin, norfloxacin, trimetroprim, tetracycline, trioxalen). Selain itu dianjurkan untuk selalu menggunakan tabir surya dan pakaian yang melindungi selama tubuh terkena paparan sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim, 2010. WebMD. Celery. Diakses dari WebMD Better Information.Better Health. &lt;br /&gt;Amy M. Heck, Beth A. Dewitt, and Anita L. Lukes.   Potential Interactions - Alternative Therapies and Warfarin: Potential Interactions of Herbs with Warfarin. Medscape Journal. 2000.&lt;br /&gt;Gunawan, Didik. 2010. Obtrando’s Blog. Apium graveolens (seledri). Diakses dari http://www. Obtrando’s blog.com .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-5470907266001181993?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-20T08:41:13.449+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5H4MLD3SI/AAAAAAAAAJg/0weedp54jc8/s72-c/seledri.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Heboh Nipagin (Methylparaben ) dalam Mie Instan</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/10/heboh-nipagin-methylparaben-dalam-mie.html</link><category>Nipagin</category><category>kesehatan</category><category>Mie Instan</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Tue, 19 Oct 2010 18:29:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-8627838303269919120</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5Ds_FrEoI/AAAAAAAAAJY/S2A2-dThVZY/s1600/methylparaben.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5Ds_FrEoI/AAAAAAAAAJY/S2A2-dThVZY/s320/methylparaben.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529931832586080898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Methylparaben jadi buah bibir terkait masalah pencekalan produk mi instan Indomie di Taiwan. Zat ini memang bermanfaat untuk mencegah pembusukan dan kontaminasi dari jamur dan bakteri sehingga produk tahan dalam beberapa jangka waktu.&lt;br /&gt;Zat ini dikenal sebagai ester dari asam para-hidroksibenzoat yang bahan dasarnya dikembangkan dari asam organik dan alkohol.Nipagin memiliki nama lain, yakni methylparaben dengan rumus kimia  CH3(C6H4(OH)COO). Jenis paraben lain yang juga banyak digunakan adalah propylparaben dan butylparaben. Walaupun paraben adalah produk alam, namun karena penggunaannya massal paraben diproduksi secara sintetis&lt;br /&gt;Meski Methylparaben bisa larut dalam air dan mudah diserap oleh saluran usus atau kulit tetap saja ada risiko jika penggunaannya berlebih.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut informasi yang dikutip Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA), nipagin merupakan zat tambahan untuk mencegah jamur dan ragi. Methyl p-hydroxybenzoate adalah salah satu dari jenis parabens atau pengawet yang banyak digunakan untuk kosmetik dan obat.  &lt;br /&gt;Menurut FDA, untuk suatu produk biasanya paraben yang digunakan berjumlah lebih dari satu jenis. Pengawet ini biasanya digabung dengan pengawet lain untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis mikroorganisme.&lt;br /&gt;Methylparaben adalah jenis paraben yang dapat dihasilkan secara alami dan ditemukan dalam sejumlah buah-buahan, terutama blueberry dan jenis paraben lainnya. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa methylparaben dapat menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan pada konsentrasi tertentu dalam penggunaan perawatan tubuh atau kosmetik. &lt;br /&gt;FDA menilai, methylparaben sebagai pengawet yang aman atau generally regarded as safe (GRAS) untuk kosmetik. Di Eropa, methylparaben digunakan sebagai pengawet makanan yang mendapat persetujuan Uni Eropa dengan kode E-218.&lt;br /&gt;Methylparaben juga dapat dimetabolisme oleh bakteri tanah sehingga benar-benar terurai. Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidroliskan menjadi asam p-hidroksibenzoat dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh.&lt;br /&gt;Di setiap negara, batas maksimum pemakaian nipagin berbeda. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Singapura, kadar maksimum nipagin adalah 1.000 mg per kg. Adapun nipagin di Hongkong 550 mg per kg. Di Indonesia, Badan POM telah menetapkan batas maksimal penggunaan nipagin 250 mg per kg ( Kompas, 12 oktober 2010 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilansir dari beberapa jurnal kesehatan yakni &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal of Applied Toxicology dan Journal of Reproductive Toxicology&lt;/span&gt; yang dikutip Selasa (12/10/2010), ada beberapa efek negatif kesehatan dari zat pengawet Methylparaben yang digunakan secara berlebihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kanker payudara&lt;br /&gt;Penggunaan Methylparaben secara berlebihan dan dalam jangka waktu lama dapat membahayakan tubuh. Zat pengawet yang tidak dipecah dan dikeluarkan tubuh dapat bertindak sebagai estrogen yang kemudian menumpuk di organ reproduksi. Pada perempuan, hal ini dapat memicu kanker payudara.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil studi yang telah diterbitkan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal of Applied Toxicology&lt;/span&gt; pada tahun 2004, pada beberapa kasus kanker payudara ditemukan adanya sejumlah paraben pada jaringan kanker payudara yang di biopsi.&lt;br /&gt;2. Infertilitas (ketidaksuburan) pada pria&lt;br /&gt;Paraben menyerupai hormon estrogen pada wanita dalam tubuh. Menurut studi Januari 2009 yang diterbitkan dalam Journal of Reproductive Toxicology, penggunaan paraben secara berlebihan dapat menyebabkan kemandulan dan kanker prostat pada pria.&lt;br /&gt;Studi tersebut melaporkan bahwa sifat estrogenik ringan pada bahan pengawet ini dapat mengubah kesehatan sel-sel di testis, yang pada gilirannya menyebabkan jumlah sperma lebih rendah dan potensi reproduksi berkurang.&lt;br /&gt;3. Alergi&lt;br /&gt;Pada sebagian orang yang sentisif terhadap Methylparaben dapat menyebabkan alergi. Orang yang alergi paraben bisa mengalami dermatitis dan iritasi kulit bila mengalami kontak dengan zat pengawet tersebut.&lt;br /&gt;Meski hal ini tidak terjadi pada kebanyakan orang, beberapa individu yang rentan terhadap alergi kulit, eksim dan rosacea (kondisi kulit kronis yang ditandai dengan kemerahan) sebaiknya menghindari penggunaan produk dengan zat pengawet paraben.&lt;br /&gt;4. Gangguan pencernaan&lt;br /&gt;Penggunaan Methylparaben dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran percernaan seperti asam lambung meningkat dan tukak lambung.&lt;br /&gt;5. Gangguan pernapasan&lt;br /&gt;Selain gangguan pencernaan, penggunaan Methylparaben dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, seperti menyebabkan sakit tenggorokan, batuk dan kesulitan bernapas ( Detik Health, 12 Oktober 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://health.kompas.com/read/2010/10/12/0928286/Mengenal.Pengawet.Nipagin&lt;br /&gt;http://www.detikhealth.com/read/2010/10/12/111656/1462148/763/risiko-di-balik-zat-pengawet-methylparaben?881104755&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-8627838303269919120?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-20T08:29:02.598+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/TL5Ds_FrEoI/AAAAAAAAAJY/S2A2-dThVZY/s72-c/methylparaben.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Salep</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/05/salep.html</link><category>sediaan farmasi</category><category>formulasi</category><category>cair semi padat</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Fri, 30 Apr 2010 22:20:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-6479246779510573276</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9u5vDRrhdI/AAAAAAAAAI4/tSaYGwFn5bk/s1600/salep+edit.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9u5vDRrhdI/AAAAAAAAAI4/tSaYGwFn5bk/s320/salep+edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466166790728680914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir (FI ed IV). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (FI ed III). Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10 % ( Anief, 2005).&lt;br /&gt;Fungsi salep adalah :&lt;br /&gt;a. Sebagai bahan pembawa  substansi obat untuk pengobatan kulit&lt;br /&gt;b. Sebagai bahan pelumas pada kulit&lt;br /&gt;c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsang kulit ( Anief, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas dasar salep meliputi:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;a. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar.&lt;br /&gt;b. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen. Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,inflamasi dan ekskloriasi. &lt;br /&gt;c. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit.&lt;br /&gt;d. Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau  menghambat aksi terapi  dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang diobati.&lt;br /&gt;e. Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan (Anief, 2005).&lt;br /&gt;Persyaratan salep menurut FI ed III&lt;br /&gt;1. Pemerian&lt;br /&gt;Tidak boleh berbau tengik&lt;br /&gt;2. Kadar&lt;br /&gt;Kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10 %.&lt;br /&gt;3. Dasar salep&lt;br /&gt;4. Homogenitas&lt;br /&gt;Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.&lt;br /&gt;5. Penandaan&lt;br /&gt;Pada etiket harus tertera “obat luar” (Syamsuni, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salep dapat digolongkan berdasarkan konsistensi, sifat farmakologi, bahan dasarnya dan formularium nasional antara lain:&lt;br /&gt;1. Menurut konsistensi salep&lt;br /&gt;a. Unguenta &lt;br /&gt;Salep yang memiliki konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan&lt;br /&gt;b. Krim ( cream )&lt;br /&gt;Salep  yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci dengan air&lt;br /&gt;c. Pasta&lt;br /&gt;Salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat ( serbuk) berupa suatu salep tebal karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diolesi.&lt;br /&gt;d. Cerata&lt;br /&gt;Salep berlemak yang mengandung persentase lilin ( wax) yang tinggi sehingga konsistensinya lebih keras ( ceratum labiale )&lt;br /&gt;e. Gelones / spumae/ jelly&lt;br /&gt;Salep yang lebih halus, umumnya cair , dan sedikit mengandung atau tidak mengandung mukosa ;  sebagai pelicin atau basis, biasanya berupa campuran sederhana yang terdiri dari minyak  dan lemak dengan titik lebur rendah. Contoh : starch jelly ( amilum 10%  dengan air mendidih).&lt;br /&gt;2. Menurut sifat farmakologi / terapetik dan penetrasinya&lt;br /&gt;a. Salep epidermik ( epidermic ointment , salep penutup )&lt;br /&gt;Salep ini berguna untuk melindungi kulit, menghasilkan efek lokal dan untuk meredakan rangsangan / anestesi lokal ; tidak diabsorbsi ; kadang-kadang ditambahkan antiseptik atau astringent. Dasar salep yang baik untuk jenis salep ini adalah senyawa hidrokarbon.&lt;br /&gt;b. Salep endodermik&lt;br /&gt;Salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui kulit, tetapi tidak melalui kulit ; terabsorbsi sebagian dan digunakan untuk melunakkan kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang terbaik adalah minyak lemak.&lt;br /&gt;c. Salep diadermik&lt;br /&gt;Salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui kulit untuk mencapai efek yang diinginkan. Misalnya, salep yang mengandung senyawa merkuri iodida atau belladona.&lt;br /&gt;3. Menurut dasar salepnya&lt;br /&gt;a. Dasar salep hidrofobik&lt;br /&gt;Salep yang tidak suka air atau salep yang dasar salepnya berlemak ( greassy bases ) : tidak dapat dicuci dengan air. Misalnya, campuran lemak-lemak , minyak lemak, malam.&lt;br /&gt;b. Dasar salep hidrofilik&lt;br /&gt;Salep yang  suka air atau kuat menarik air, biasanya mempunyai dasar salep tipe o/w.&lt;br /&gt;4. Menurut formularium nasional&lt;br /&gt;a. Dasar salep 1 ( dasar salep senyawa h drokarbon)&lt;br /&gt;b. Dasar salep 2  ( dasar salep serap )&lt;br /&gt;c. Dasar salep 3 ( dasar  salep yang dapat dicuci dengan air atau dasar salep emulsi  o/w)&lt;br /&gt;d. Dasar salep 4 ( dasar salep yang larut dalam air )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;Anonim, 2005, Farmasetika , Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1978, Formularium Nasional II, Depkes RI, Jakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1979, Farmakope Indonesia III, Depkes RI, Jakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1995, Farmakope Indonesia IV, Depkes RI, Jakarta.&lt;br /&gt;Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-6479246779510573276?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-01T12:20:00.426+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9u5vDRrhdI/AAAAAAAAAI4/tSaYGwFn5bk/s72-c/salep+edit.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Suppositoria</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/04/suppositoria.html</link><category>sediaan farmasi</category><category>formulasi</category><category>cair semi padat</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Fri, 30 Apr 2010 04:48:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-827974587389657559</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9rDE1vaMgI/AAAAAAAAAIw/gEnhl5MyJTU/s1600/IMG00082.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9rDE1vaMgI/AAAAAAAAAIw/gEnhl5MyJTU/s320/IMG00082.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465895585680339458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang diberikan melalui rectal,vaginal atau uretra (Anonim,1995 ). Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa  sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu masuk, har us dapat  bertahan untuk suatu waktu tertentu (Ansel,2005).&lt;br /&gt;Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi:&lt;br /&gt;1. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang &lt;br /&gt;2 g ( anonim, 1995). Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru,torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao ( Ansel,2005 ).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5,0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat  sebagai  “pessarium” .&lt;br /&gt;( Anonim,1995; Ansel, 2005).&lt;br /&gt;3. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan panjang ± 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel, 2005).&lt;br /&gt;4. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”, keduanya berbentuk  sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Namun, suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).&lt;br /&gt;Penggunaan suppositoria bertujuan :&lt;br /&gt;1. Untuk tujuan lokal seperti pada pengobatan wasir  atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.    Suppositoria untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum.&lt;br /&gt;2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat&lt;br /&gt;3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati ( Syamsuni, 2005 )&lt;br /&gt;Keuntungan penggunaan suppositoria antara lain:&lt;br /&gt;1. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung&lt;br /&gt;2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan &lt;br /&gt;3. Obat dapat masuk langsung saluran darah dan ber akibat obat dapat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral&lt;br /&gt;4. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak &lt;br /&gt;5. Bentuknya  seperti terpedo mengunt sadarungkan karena suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur (Anief, 2005; Syamsuni, 2005).&lt;br /&gt;Kerugian penggunaan bentuk sediaan suppositoria antara lain:&lt;br /&gt;1. Tidak menyenangkan penggunaan&lt;br /&gt;2. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat per rektal:&lt;br /&gt;1. Faktor fisiologis antara lain pelepasan uobat dari basis atau bahan dasar, difusi obat melalui  mukosa, detoksifikasi atau metanolisme, distribusi di cairan jaringan dan terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan.&lt;br /&gt;2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain : kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran partikel dan basis supositoria ( Syamsuni, 2005).&lt;br /&gt;Bahan dasar yang digunakan untuk membuat suppositoria harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah lemak cokelat (oleum cacao), polietilenglikol (PEG), lemak tengkawang (oleum shorae) atau gelatin (Syamsuni, 2005). Sifat ideal bahan dasar/ basis yang digunakan antara lain:&lt;br /&gt;1. Tidak mengiritasi&lt;br /&gt;2. Mudah dibersihkan&lt;br /&gt;3. Tidak meninggalkan bekas&lt;br /&gt;4. Stabil&lt;br /&gt;5. Tidak tergantung PH&lt;br /&gt;6. Dapat bercampur dengan banyak obat&lt;br /&gt;7. Secara terapi netral&lt;br /&gt;8. Memiliki daya sebar yang baik/ mudah dioleskan&lt;br /&gt;9. Memiliki kandungan mikrobakteri yang kecil (10 2 / g ) dan tidak ada enterobakteri  pseudemonas  aeruginosa  dan s.aureus  ( Sulaiman dan Kuswahyuning,2008 ).&lt;br /&gt;Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bahan dasar  yang digunakan harus meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada di rektum.&lt;br /&gt;2. Obat harus larut dalam bahan dasar dan bila perlu dipanaskan. Bila sukar larut, obat harus diserbukkan terlebih dahulu sampai halus.&lt;br /&gt;3. Setelah campurn obat dan bahan dasarnya meleleh atau mencair, campuran itu dituangkan ke dalam cetakan supositoria dan didinginkan. Cetakan ini dibuat dari besi yang dilapisi nikel dan logam lain; ada juga terbuat dari plastik (Syamsuni, 2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Anief, Moh, 2000,  Ilmu Meracik Obat,  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Anief, Moh, 2005, Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Ed III, Depkes RI, Jakarta&lt;br /&gt;Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Ed IV, Depkes  RI, Jakarta&lt;br /&gt;Ansel, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta&lt;br /&gt;Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta&lt;br /&gt;Sulaiman, T. N. S dan Rina Kuswahyuning, 2008, Teknologi dan Formulasi Sediaan Semipadat, Laboratorium Teknologi Farmasi Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-827974587389657559?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-30T18:48:42.239+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9rDE1vaMgI/AAAAAAAAAIw/gEnhl5MyJTU/s72-c/IMG00082.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Larutan (solutio)</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/04/larutan-solutio.html</link><category>sediaan farmasi</category><category>formulasi</category><category>cair semi padat</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Mon, 26 Apr 2010 06:41:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-7714732812429668414</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9PAFm8fLsI/AAAAAAAAAII/rsC3s7CRgg8/s1600/Erlenmeyer.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9PAFm8fLsI/AAAAAAAAAII/rsC3s7CRgg8/s320/Erlenmeyer.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463921975516671682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut( Anonim, 1995). Larutan ada dua macam yaitu solutio dan mixtura. Bila  solution hanya mengandung satu jenis obat yang dilarutkan sedangkan mixtura menggunakan lebih dari satu bahan obat yang dilarutkan. Molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, sehingga menjamin  keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur ( Anonim,1995).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan bentuk sediaan larutan  antara lain &lt;br /&gt;- campuran homogen&lt;br /&gt;- dosis mudah diubah-ubah dalam pembuatan&lt;br /&gt;- dapat diberikan dalam larutan encer kapsul atau tablet lambung, sedangkan bila dalam bentuk tablet atau kapsul sulit diecerkan&lt;br /&gt;- kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorbsi&lt;br /&gt;- mudah diberi pemanis, bau-bauan dan warna, dan hal ini untuk pemakaian obat pada anak-anak&lt;br /&gt;- untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan&lt;br /&gt;Kerugian bentuk larutan antara lain:&lt;br /&gt;- volume bentuk larutan lebih besar&lt;br /&gt;- ada obat yang tidak stabil dalam larutan&lt;br /&gt;- ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ( Anief, 2005).&lt;br /&gt;Dalam suatu larutan (solutio) terdapat dua komponen utama yaitu pelarut ( solven) dan zat terlarut ( solute). Adapun pemilihan solven didasarkan  atas:&lt;br /&gt;- toksisitas rendah&lt;br /&gt;- viskositas&lt;br /&gt;- rasa, baud an warna&lt;br /&gt;- kecocokan dengan bahan lain  &lt;br /&gt;- ekonomis.&lt;br /&gt;Pelarut yang sering digunakan adalah air. Namun dapat pula menggunakan pelarut lain seperti gliserol, alcohol, propilen glikol, dan minyak lemak, aseton, isopropyl akohol, dsb. Untuk memberi nama larutan, terdapat satu ketentuan umum yaitu:&lt;br /&gt;- jika larutan tersebut pelarutnya air maka dinamakan solutio diikuti dengan nama zat aktif&lt;br /&gt;- jika larutan tersebut pelarutnya bukan air maka dinamakan sesuai pelarutnya. Contoh : solution champhora oleosa ( pelarut  minyak ), solution champhora spiritusa  ( pelarut spiritus ).&lt;br /&gt;Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan solution yaitu:&lt;br /&gt;- PH&lt;br /&gt;Basa lemah seperti alcohol, atropine, codein, morfin tidak terlalu larut dalam air sehingga pelarut yang digunakan adalah asam encer. Zat organic berupa asam lemah seperti fenobarbital dan sulfonamide akan mengendap dalam larutan alkalis, membentuk garam yang dapat larut dalam air.&lt;br /&gt;- Suhu&lt;br /&gt;Panas pelarutan negatif zat  menyerap panas dan kelarutan zat akan meningkatkan adanya kenaikan suhu. Sedangkan panas pelarutan positif yaitu zat akan berkurang kelaru tannya seiring dengan kenaikan suhu, zat akan melepas panas.&lt;br /&gt;- Ukuran partikel&lt;br /&gt;Semakin kecil ukuran partikel maka semakin luas permukaannya sehingga frekuensi kontak dengan pelarut makin banyak dan proses pelarutan akan makin cepat.&lt;br /&gt;- Pengadukan&lt;br /&gt;Semakin kuat pengadukan maka semakin banyak pelarut tak jenuh bersentuhan dengan obat sehingga semakin cepat terbentuk larutan. Kelarutan suatu zat terutama tergantung luas permukaan zat. Pemanasan dalam proses pelarutan akan menaikkan kecepatan difusi. Jika reaksi yang terjadi eksoterm maka pelarutan dengan pemanasan harus diperhatikan karena berbahaya. Misalnya pada Hydras nutrias.&lt;br /&gt;Pemanasan harus dihindari jika :&lt;br /&gt;- Senyawa terurai dengan pemanasan&lt;br /&gt;Contoh : Luminal Natrium terurai menjadi fenil etil asetil ureum hexamine terurai menjadi formaldehid dan ammonia.&lt;br /&gt;- Kelarutan senyawa menurun dengan pemanasan&lt;br /&gt;Contoh : calcii hydroxyda, calcii hypophosphite, natrium sulfat anhidris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anief, Moh, 1995, Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Ed III, Depkes RI, Jakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Ed IV, Depkes  RI, Jakarta&lt;br /&gt;Anonim, 2007, Kapita Selekta Dispensing I, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-7714732812429668414?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-26T20:41:54.894+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S9PAFm8fLsI/AAAAAAAAAII/rsC3s7CRgg8/s72-c/Erlenmeyer.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ke mana perginya waktu?</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/04/ke-mana-perginya-waktu.html</link><category>diary</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Thu, 15 Apr 2010 02:34:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-8892428741050852397</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S8bddCE9uBI/AAAAAAAAAIA/uolRi39-LWA/s1600/hectic0.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 177px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S8bddCE9uBI/AAAAAAAAAIA/uolRi39-LWA/s320/hectic0.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460295089076942866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;hmm,,tak terasa dua bulan sudah aku tidak menyapa blogku. Maklum,kegiatan kuliah semester ini benar-benar hectic. Meski sudah mengurangi berbagai kegiatan organisasi and mulai beralih menjadi study oriented student tetep saja aq merasa waktuku hilang entah ke mana. Bayangkan saja dalam seminggu, aku praktikum 4 kali padahal hari aktif kuliah kan 5 hari. Praktikum-praktikum itu diantaranya Farmasetika, Elusidasi struktur, Teknologi sediaanCair Semi padat dan Standarisasi Obat Alam serta Teknologi Fitofarmasetik (pasca mid semester) . &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang praktikum pasti ga lengkap tanpa bicara laporan yang harus diserahkan, di mana mayoritas laporannya tulis tangan-.-".  Laporan yang paling berat yach ga lain laporan praktikum farmasetika karena praktikumnya seminggu sekali dan selama praktikum mengerjakan 3 sediaan farmasi maka otomatis laporan yang dikerjakan juga 3 biji !.hwwaaah..seperti masih kurang,kegiatan-kegiatan lain pun bertubi-tubi menghampiri. Aku juga terlibat menjadi anggota tim pengusul kkn ppm semester pendek besok yang hampir tiap saat kerjaannya rapat mulu-oke,,lebay ga tiap saat sich cuma sering banget- . Selain itu juga, aku harus mengerjakan pkm. whoaaaa..serasa kebebasanku terenggut di semester ini !&lt;br /&gt;hosh..hosh..hosh..&lt;br /&gt;ternyata mengeluh itu capek juga.hehehe&lt;br /&gt;okelah,,itu semua memang cuma alasan cemen karena orang lain pun bisa jadi punya kesibukan yang jauuuuuuuuuuuh lebih padat dibandingkan aq. Hmm,,alih-alih mengakui kemalasanku meng-update blog ini aku menyalahkan waktu .Padahal  sebenarnya kesalahan ada padaku sendiri. Aku masih belum bisa mengatur waktu,diri,pikiran,de el el. Eniwei, biarlah catatan ini menjadi evaluasi  agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. semangat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-8892428741050852397?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-15T16:34:49.060+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S8bddCE9uBI/AAAAAAAAAIA/uolRi39-LWA/s72-c/hectic0.gif" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KRS oh KRS..</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2009/02/krs-oh-krs.html</link><category>diary</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Wed, 10 Feb 2010 17:32:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-4980729821179448064</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S3NWFNGjekI/AAAAAAAAAHw/6pg14D4ZYbs/s1600-h/portal.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S3NWFNGjekI/AAAAAAAAAHw/6pg14D4ZYbs/s320/portal.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436783822582807106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fiuh,,akhirnya kelar juga mengurus krs(kartu rencana studi) hari ini. Lumayan capek karena harus ke sana kemari ngurus ini-itu terlebih dosen pembimbing akademikku belum muncul-muncul sampai kakiku lecet(beneran lho!). Pengorbananku tidak sia-sia, ba'da dzuhur semua urusan KRS udah beres. Hmm,,btw semester ini aku mengambil 22 sks dengan mata kuliah antah-berantah yang sepertinya sulit dicerna.haha. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S3NZSe3zPYI/AAAAAAAAAH4/RsX5SrXDQ80/s1600-h/krs+6+edit.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S3NZSe3zPYI/AAAAAAAAAH4/RsX5SrXDQ80/s320/krs+6+edit.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436787349225946498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sengaja tidak membebani diri terlalu banyak semester ini karena semester 6 memang masa-masa kritis dalam perjalanan mahasiswa S1. Selain aku harus menghadapi kuliah yang padat-merayap seperti biasa, aku juga harus mengurus KKN, nge-lab PKM dan mulai nyicil skripsi!.heddoo..Makanya harus ada yang dikorbankan. Aku telah melepas kegiatan-kegiatan keorganisasian, sekarang yang tersisa hanya menjadi staf divisi IT Piogama(Pusat Informasi Obat Universitas Gadjah Mada) yang notabenenya kerjaannya ga terlalu berat.hhee..Semoga semester 6 ini lancar jaya..Amien&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-4980729821179448064?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-11T08:32:32.350+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S3NWFNGjekI/AAAAAAAAAHw/6pg14D4ZYbs/s72-c/portal.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Arti Lambang Farmasi "Bowl of Hygieia"</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/arti-lambang-farmasi-bowl-of-hygiea.html</link><category>Umum</category><category>farmasi</category><category>Bowl of Hygieia</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sat, 30 Jan 2010 04:30:51 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-4056657391113233679</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KIT8G1tfI/AAAAAAAAAHY/h5vQTr_Zij4/s1600-h/bowl_hygeia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KIT8G1tfI/AAAAAAAAAHY/h5vQTr_Zij4/s200/bowl_hygeia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432053976695944690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernah terlontar pertanyaan iseng dari temanku yang bukan anak farmasi." Eh sis kenapa sich lambang farmasi itu ular yang melilit pada mangkuk?". Hmm,,aku pun termenung sambil berpikir " Wah, Kenapa ya? Heran selama ini hal tersebut tidak pernah mengusik pikiranku, aku terbiasa menerima hal itu memang sudah begitu adanya". Lantas akupun menjawab sekenanya "Yah,mungkin karena ular itu mengeluarkan bisa yang nantinya ditampung di mangkuk tersebut. Lalu bisa ular tersebut dapat digunakan sebagai obat. Seperti halnya obat,Bisa ular dapat bersifat sebagai obat maupun sebagai racun tergantung takarannya". Temanku pun menjawab "Oh begitu yaa". Namun sebenarnya aku masih belum puas dan yakin dengan jawabanku. Maka aku pun mencari informasi lebih  lanjut mengenai hal itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KbbWQq2cI/AAAAAAAAAHg/au9iPK04P0w/s1600-h/150px-Hygeia-Hermitage.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KbbWQq2cI/AAAAAAAAAHg/au9iPK04P0w/s200/150px-Hygeia-Hermitage.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432074994696509890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah berselancar ria di internet, aku menemukan bahwa ternyata lambang farmasi tersebut merupakan patung yang menggambarkan dewi Yunani-Hygieia-sedang memegang mangkuk dengan ular jinak yang mengitarinya dan seolah minum dari mangkuk tersebut. Hygeia adalah dewi kesehatan, kebersihan dan sanitasi yang merupakan seorang anak dari Asclepius (Dewa pengobatan dan penyembuhan dalam mitologi yunani). Beberapa orang berpendapat bahwa mangkuk Hygeia dan ular merupakan simbol keseimbangan alam di muka bumi. Ular menggambarkan pasien yang bebas memilih untuk mengobati dirinya sendiri atau tidak. Menurut kepercayaan Yunani kuno, ular yang melilit pada mangkuk menggambarkan kebijaksanaan dan kesembuhan. Hal ini dikarenakan ketika orang mati akan berada pada alam baka yang entah baik atau buruk dan ular dipercaya bisa berkomunikasi dengan orang mati tersebut. Bahkan ular juga dipercaya bisa membawa jiwa orang yang telah meninggal untuk membantu kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI:&lt;br /&gt;Anonim, 2009,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bowl of Hygieia&lt;/span&gt;,diakses 26 Januari 2010,[http://en.wikipedia.org/wiki/Bowl_of_Hygieia]&lt;br /&gt;Anonim, 2010,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Hygieia&lt;/span&gt;, diakses 25 Januari 2010[http://en.wikipedia.org/wiki/Hygieia]&lt;br /&gt;Treante,2008, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asal Lambang Apotik&lt;/span&gt;, diakses 25 Januari 2010,[http://reatheryan.wordpress.com/2008/08/09/asal-lambang-apotik/]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-4056657391113233679?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-30T19:30:51.284+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KIT8G1tfI/AAAAAAAAAHY/h5vQTr_Zij4/s72-c/bowl_hygeia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Analgetik</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/analgetik.html</link><category>Antipiretik</category><category>morfin</category><category>Kuliah</category><category>Analgetik</category><category>Narkotik</category><category>Farmakologi</category><category>Nyeri</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Fri, 29 Jan 2010 00:31:05 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-1638190693742111647</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KciIjIVwI/AAAAAAAAAHo/SpOhdJouqLY/s1600-h/pain-map.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 147px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KciIjIVwI/AAAAAAAAAHo/SpOhdJouqLY/s200/pain-map.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432076210786555650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psychis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejang-kejang otot.&lt;br /&gt;Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator  nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam  otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium.&lt;br /&gt;Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu :&lt;br /&gt;1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.&lt;br /&gt;2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal&lt;br /&gt;3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum.&lt;br /&gt;Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analgetika Narkotik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.&lt;br /&gt;Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin.&lt;br /&gt;2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :&lt;br /&gt;a.    Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil&lt;br /&gt;b. Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen&lt;br /&gt;c. Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.&lt;br /&gt;Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan mrfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin dan nalokson.&lt;br /&gt;Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis.&lt;br /&gt;Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan opioid lain terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi efek analgetik dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa waktu sebelum pemberian morfin, efek analgetik obat ini tidak begitu besar. Sebaliknya bila stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai maksimum, dosis morfin yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih kecil. Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin dengan dosis besar untuk menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin. Tetapi bila nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas oleh morfin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analgetika Perifer (non-narkotik)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.&lt;br /&gt;Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat&lt;br /&gt;2. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol&lt;br /&gt;3. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-turunannya&lt;br /&gt;4. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analgetika-Antipiretik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh yang tingi. Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.&lt;br /&gt;Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Histamin&lt;br /&gt;2. Serotonin&lt;br /&gt;3. Plasmokinin (antara lain Bradikinin)&lt;br /&gt;4. Prostaglandin&lt;br /&gt;5. Ion Kalium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks serebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anief,Moh.2000. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi&lt;/span&gt;. Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada University Press.&lt;br /&gt;Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press&lt;br /&gt;Katzung,B.G.1997. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Farmakologi Dasar dan Klinik&lt;/span&gt;, ed IV.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC.&lt;br /&gt;Mutschler Ernest. 1991.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dinamika Obat, Buku Ajar Farmakologi &amp; Toksikologi&lt;/span&gt; edisi V. Bandung : Penerbit ITB&lt;br /&gt;Tjay, Tan Hoan,Drs.,Rahardja,Kirana,Drs.2002. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Obat-obat Penting&lt;/span&gt;. Jakarta : &lt;br /&gt;Gramedia       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-1638190693742111647?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-29T15:31:05.502+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2KciIjIVwI/AAAAAAAAAHo/SpOhdJouqLY/s72-c/pain-map.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Belajar Bahasa Jepang yuk...</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/belajar-bahasa-jepang-yuk.html</link><category>liburan</category><category>Bahasa</category><category>Japan</category><category>diary</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Wed, 27 Jan 2010 06:36:49 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-118675399630546185</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2BNmaiRxEI/AAAAAAAAAHQ/SLmrcAHzzYk/s1600-h/childhoodmemory.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 318px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2BNmaiRxEI/AAAAAAAAAHQ/SLmrcAHzzYk/s320/childhoodmemory.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431426472962278466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Liburan semester hampir sebulan seperti ini tentunya akan sangat membosankan bila tidak ada kegiatan apapun. Karena itu saya mengisi liburan dengan berbagai kegiatan agar tidak gampang bosan. Salah satunya adalah belajar bahasa Jepang. Ketertarikan saya pada bahasa ini berawal dari kesenangan saya menonton dorama.hehe. What a silly reason!. Tapi bolehlah kan itung-itung bisa menambah ilmu.Lagian kan seru tuh kalau bisa mengerti dialog dorama tanpa teks!.Sebenarnya saya memang terobsesi menguasai berbagai bahasa asing dan merasa kemampuan linguistik saya memang baik. Entah mengapa dulu tidak mengambil jurusan bahasa saja*PD mode on*.&lt;br /&gt;Karena memang masih awam banget dengan bahasa jepang, maka  saya mencari referensi sebanyak-banyaknya tentang bahasa jepang.&lt;span class="fullpost"&gt;Apalagi saya memang belum sempat ( dan belum ada dana.hehe) untuk mengambil kursus. Meskipun begitu, saya tidak kehabisan akal . Tentunya,dengan menggunakan cara yang paling mudah dan murah meriah yaitu memanfaatkan internet. Saya pun mulai mengeitk keyword " belajar bahasa jepang " pada mesin pencari  dan menemukan banyak sekali situs-situs belajar bahasa jepang dan kebanyakan gratis!. Wah, senangnya....Berikut ini situs-situs belajar bahasa jepang Gratis yang saya rekomendasikan untuk teman-teman:&lt;br /&gt;&lt;a href="1.http://www.nhk.or.jp/lesson/indonesian/index.html"&gt;1.http://www.nhk.or.jp/lesson/indonesian/index.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Situs dari sebuah lembaga penyiaran di Jepang. Di sini teman-teman bisa mendengarkan siaran radio online berbahasa jepang. Selain itu NHK juga menyediakan materi pembelajaran-kebanyakan percakapan-baik berupa format pdf maupun dalam format mp3 yang berdurasi beberapa menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://freejapanese.org"&gt;http://freejapanese.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu situs belajar bahasa jepang berbahasa Indonesia yang cukup bagus apalagi untuk pemula. Di sini kita bisa mendownload materi-materi dasar belajar bahasa Jepang. Saya sangat terbantu karena materi yang disampaikan mudah dicerna dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://mlcjapanese.co.jp"&gt;http://mlcjapanese.co.jp&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Situs Jepang yang menyediakan materi-materi belajar bahasa jepang yang sangat lengkap. Dari materi-materi tingkat dasar hingga tingkat mahir. Materi-materi yang disampaikan sangat menarik  dengan animasi dan flash. Kreatif!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;a href="http://livemocha.com"&gt;http://livemocha.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya situs ini tidak hanya ditujukan untuk belajar bahasa jepang saja tapi banyak lagi bahasa asing lainnya. Di sini teman-teman bisa belajar interaktif selayaknya menggunakan software semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rosetta Stone&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tell Me Mor&lt;/span&gt;e. Namun sebaiknya koneksi internet teman-teman cukup kencang untuk memutar video tanpa buffering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya masih banyak lagi situs-situs belajar berbahasa jepang gratis lainnya yang bertebaran di internet. Silahkan teman-teman sharing di sini..nihongo benkyo shitte kudasai:)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-118675399630546185?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-27T21:36:49.855+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S2BNmaiRxEI/AAAAAAAAAHQ/SLmrcAHzzYk/s72-c/childhoodmemory.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder Dengan Kultur Jaringan Tanaman Melalui Jalur Biosintesis</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan_26.html</link><category>metabolit sekunder</category><category>Kuliah</category><category>Biosintesis</category><category>kultur jaringan tanaman</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 23:20:23 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-5990511725889259729</guid><description>Jalur biosintesis merupakan urutan pembentukan suatu metabolit dari molekul yang paling sederhana hingga molekul yang paling kompleks. Pengetahuan akan jalur biosintesis ini memungkinkan untuk melakukan modifikasi dari jalur tersebut sehingga dapat diproduksi metabolit dalam jumlah yang lebih banyak dan dalam waktu yang lebih singkat, mengetahui struktur metabolit yang dihasilkan, kemudian dapat dilakukan sintesis untuk menghasilkan derivatnya.&lt;br /&gt;Jalur yang biasanya dilalui dalam pembentukan metabolit sekunder ada tiga jalur, yaitu:&lt;br /&gt;1.jalur asam asetat,&lt;br /&gt;2. jalur asam sikimat, dan &lt;br /&gt;3. jalur asam mevalonat&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S16XeLSrCwI/AAAAAAAAAHA/N7kt3F0OWCI/s1600-h/jalur+biosintesis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S16XeLSrCwI/AAAAAAAAAHA/N7kt3F0OWCI/s320/jalur+biosintesis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430944745338374914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Waktu penggunaan jalur biosintesis saat:&lt;br /&gt;1. Rendahnya ekspresi dari gen-gen yang mengontrol tahap-tahap penting dari jalur biosintesis&lt;br /&gt;2. Untuk mendapatkan senyawa tertentu yang sangat dibutuhkan dalam suatu obat.  Dengan demikian dalam jalur biosintesis tanaman tersebut ditambahkan suatu prekursor seperti menggunakan jalur biosintesis triptofan untuk menyediakan prekursor terhadap sintesis hormon auksin (Indole-3-acetic acid/ IAA), fitoaleksin, glukosinolat, dan indole- serta anthranilat yang keduanya merupakan derivat alkaloid&lt;br /&gt;Alasan penggunaan jalur biosintesis adalah :&lt;br /&gt;1. Bisa mengubah senyawa awal menjadi senyawa baru yang lebih bermanfaat dengan pertolongan suspensi sel.&lt;br /&gt;5. Berdasarkan biosintesis, metabolit sekunder dapat diumpankan dengan prazat untuk menjadi produk yang lebih cepat dengan kultur suspensi sel. Prazat dapat merangsang aktivitas enzim tertentu yang terlibat dalam jalur biosintesis, sehingga dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder. Selain itu juga senyawa yang dikehendaki dapat ditingkatkan jumlahnya dengan cara memanipulasi media maupun dengan penambahan senyawa prekursor/prazat ,merangsang aktivitas enzim tertentu yang terlibat dalam jalur biosintesis, sehingga dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder, contohnya penambahan skualen yang memberi pengaruh nyata dalam meningkatkan kandungan azadirahtin di dalam sel sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zakiah(2003). Mendapatkan metabolisme sekunder yang merupakan bentuk diferensiasi dari sel-sel tanaman. Untuk memperoleh kandungan metabolit sekunder yang lebih tinggi dari induknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengubah senyawa tertentu menjadi senyawa lain untuk menggantikan reaksi dengan kultur suspensi sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pemetaan jalur biosintesis:&lt;br /&gt;Untuk  mengetahui jalur biosintesis adalah dapat melakukan derivatisasi. Setelah kita mengetahui jalur biosintesisnya , dan ternyata jalur biosintesisnya bercabang- cabang maka kita dapat melakukan blocking pada salah satu cabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modifikasi jalur biosintesis:&lt;br /&gt;a. Blocking suatu jalur untuk mengoptimalkan jalur yang lain&lt;br /&gt;b. Penambahan enzim, precursor, senyawa intermediet, atau substrat ( aktivasi enzim )&lt;br /&gt;c. Modifikasi kondisi lingkungan pertumbuhan.&lt;br /&gt;Perlakuan stres lingkungan meliputi kekurangan air (draught), kekurangan cahaya, kekurangan nutrisi (mineral), suhu di atas atau di bawah optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara untuk mengetahui jalur biosintesis pada kultur jaringan adalah :&lt;br /&gt;1. Dengan analisis senyawa kompleks sehingga dapat diketahui building block penyusunnya yang dapat mengarahkan kita kepada senyawa asal dan jalur biosintesisnya.&lt;br /&gt;a. Pendekatan klasik dengan mengidentifikasi jalur biosintesis tiap individu&lt;br /&gt;b. Isolasi enzim&lt;br /&gt;c. Mengkloning gen pengkode&lt;br /&gt;2. Pelabelan dengan radioisotop&lt;br /&gt;3. Mencari database mengenai jalur biosintesis suatu metabolit yang telah diteliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan:&lt;br /&gt;1. Tidak ada step tambahan untuk perlakuan kultur&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan relative mudah &lt;br /&gt;3. Predictable&lt;br /&gt;Saat penambahan prazat sudah dapat dipastikan dapat meningkatkan metabolit sekunder meskipun sedikit, kadar prazat yang  berlebihan (melebihi kadar optimum) dapat meracuni sel terutama prazat yang bersifat toksik bagi sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian:&lt;br /&gt;1. Membutuhkan pengetahuan yang lebih, terutama tentang jalur biosintesis untuk pembentukkan metabolit sekunder yang dituju&lt;br /&gt;2. Terjadi kesalahan penambahan substrat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI:&lt;br /&gt;Knoss, W, Reuter, B, 1997, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biosynthesis of isoprenic units via different pathways : &lt;br /&gt;Occurrence and future prospects&lt;/span&gt;, Institute of Pharmaceutical Biology, &lt;br /&gt;University of Bonn, Germany&lt;br /&gt;Manito, Paolo.1992.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biosintesis Produk Alam&lt;/span&gt;.IKIP Press. Semarang.&lt;br /&gt;Soegihardjo, C.J. 2007. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengaruh Stress terhadap Produksi Metabolit Sekunder&lt;/span&gt;. Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta. &lt;br /&gt;Zakiah,Zulfa,dkk, 2003, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Peningkatan Produksi Azadirahtin dalam Kultur Suspensi Sel &lt;br /&gt;Azadirachta indica A.Juss melalui Penambahan Skualen&lt;/span&gt;, Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Tanjungpura, Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-5990511725889259729?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-26T14:20:23.544+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S16XeLSrCwI/AAAAAAAAAHA/N7kt3F0OWCI/s72-c/jalur+biosintesis.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder Dengan Kultur Jaringan Tanaman Melalui Biotransformasi</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan_25.html</link><category>metabolit sekunder</category><category>Kuliah</category><category>kultur jaringan tanaman</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 18:52:40 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-3122948589661586261</guid><description>AHY6BJYEE82TBiotransformasi adalah suatu teknik yang menggunakan enzim pada suatu sel tanaman untuk mengubah kelompok fungsioinal eksternal suatu senyawa kimia yang telah disediakan. Biotransformasi ini digunakan pada banyak kasus untuk meningkatkan aktivitas biologik dari suatu struktur kimia dan biasanya melibatkan aksi dari salah satu atau beberapa enzim yang digabungkan dalam sequence untuk melakukan suatu reaksi kimia khusus. Dalam suatu sistem seperti metabolisme primer dari sel-sel tumbuhan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyediakan sebuah mekanisem untuk regernerasi yang sesuai co-enzim / co-factor yang diperlukan untuk mempertahankan katalisis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Biotransformasi oleh komponen sel tumbuhan dapat diambil dua bentuk:&lt;br /&gt;a. Penggunaan seluruh sel dimana sel-sel tersebut dapat berupa suspensi sel bebas yang lengkap, atau dukungan eksternal dari sel immobil&lt;br /&gt;b. Penggunaan komponen persiapan sel immobil, dimana enzim spesifik yang bersangkutan terisolasi, dimurnikan dan dukungan eksternal sel immobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Biotransformasi&lt;br /&gt;Biotransformasi ini bertujuan untuk menghasilkan senyawa baru yang memiliki efek farmakologi, memiliki stabilitas dari senyawa awalnya. Dihasilkan senyawa baru yang unik aktivitas biologinya. Maka senyawa baru yang dihasilkan tersebut haruslah memiliki harga yang lebih mahal.&lt;br /&gt;Syarat Agar Biotransformasi Berhasil :&lt;br /&gt;(1) kultur harus mempunyai enzim utama untuk mengubah dari prekusor ke produk,&lt;br /&gt; (2) produk harus dibentuk lebih cepat untuk menghindari dimetabolisme lebih lanjut, dan &lt;br /&gt;(3) kultur harus toleransi dengan substrat yang ditambahkan juga produk yang dihasilkan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan Biotransformasi Dengan Kultur Jaringan Tanaman&lt;br /&gt;Hubungan atau kaitan biotransformasi dengan KJT yaitu dalam menghasilkan senyawa baru tersebut digunakan kultur suspensi sel, serta sel yang digunakan adalah sel tanaman. Dimana kultur suspensi sel ini dipelajari dalam kultur jaringan tanaman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-Langkah Rancangan Proses Biotransformasi :&lt;br /&gt;1. Memanipulasi selManipulasi yang dilakukan adalah perlakuan stres contoh: enambahkan senyawa aromatik eugenol, thymol dan carvacrol pada kultur sel Eucalyptus Perriniana. Senyawa aromatik tsb direspon sebagai racun sehingga sel memproduksi glukopiranosil untuk menyerang gugus hidroksi senyawa tersebut dengan bantuan enzim glukosiltransferase&lt;br /&gt;2. Pemberian enzim glukosiltransferase sebagai katalisator untuk mensubtitusi gugus glukosa&lt;br /&gt;3. Perlakuan gelap dan pada kultur protoplas masih mengandung klorofil (Shimoda, 2006).&lt;br /&gt;Keuntungan Biotransformasi&lt;br /&gt;1. Biotransformasi dengan kultur sel tanaman bersifat enzimatis sehingga reaksinya selektif dan spesifik&lt;br /&gt;2. Biotransformasi juga dapat dilakukan pada obat sintetis seperti asam mefenamat&lt;br /&gt;3. Dihasilkan senyawa baru, dimana senyawa tersebut tidak mungkin dihasilkan dalam proses yang normal, didapatkan senyawa baru yang unik aktivitas biologinya, punya efek farmakologi, senyawa baru yang dihasilkan  memiliki harga yang lebih tinggi (mahal), dan senyawa yang lebih baik dari senyawa awalnya, baik dlam hal stabilitasnya, kelarutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian :&lt;br /&gt;1. Teknik biotransformasi ini sulit dan rumit untuk dilakukan dan peralatan yang dibutuhkan cukup mahal.   &lt;br /&gt;2. Mahalnya harga substrat yang diperlukan dalam proses biotransformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shimoda, Kei, Yoko Kondo, Tomohisa Nishida, Hatsuyuku Hamada, Nobuyoshi Makajima, Horoki Hamada, 2006, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biotransformation of Tymol, Carvacrol, and Eugenol by Cultured Cells of Eucalyptus perriniana&lt;/span&gt;, Journal.&lt;br /&gt;Syahrani, Achmad, 2004, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Produksi Biomaterial Baru secara Biotransformasi dengan Kultur Suspensi Sel Tanaman&lt;/span&gt;, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Universitas Airlangga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surodjo, Suzana, 2008, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biotransforamsi Asam Mefenamat dengan Kultur Suspensi Sel Solanum mammosum L&lt;/span&gt;, ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uzir, Hekarl, Mashitah Mat Don, Aimi Aishah Ariffin, 2008, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Production of Citronellol as an Articial Flavour Using Whole Cell Saccaromyces cerevisiae: Design of a Continuous Closed-Gas-Loop Bioreactor for Biotransformation (CCGLBB)&lt;/span&gt;, Laporan Akhir Projek Penyelidikan Jangka Pendek, Universiti Sains Malaysia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulandari, Erna Tri, 2000, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Potensi Kultur Suspensi Sel Kemangi (Ocimum americanum L) Untuk Biotransformasi Flavonoid&lt;/span&gt;, Tesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-3122948589661586261?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-26T09:52:40.671+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder dengan Kultur Jaringan Tanaman melalui Kultur Akar Berambut (Hairy root)</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan_24.html</link><category>metabolit sekunder</category><category>Kuliah</category><category>Hairy Root</category><category>kultur jaringan tanaman</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sun, 24 Jan 2010 01:05:09 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-1671876491097830097</guid><description>Akar berambut adalah anak akar yang berupa akar kecil berbentuk seperti rambut halus. Sedangkan yang dimaksud dengan kultur akar berambut adalah suatu metode budidaya akar berambut secara in vitro dengan kondisi yang terkendali dan aseptis. &lt;br /&gt;Kultur akar merupakan kultur jaringan akar yang hidup dan berdiferensiasi secara terorganisir membentuk biomasa akar tanpa kehadiran tipe organ lain dari tanaman seperti batang, tunas atau daun secara in vitro (Payne et al. 1992). Akar yang dikulturkan dapat berupa akar normal atau akar transgenik hasil transformasi genetik. Kultur akar normal diperoleh dengan menanam ujung akar tanaman atau kecambah secara in vitro dalam media yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman. Sedangkan kultur akar transgenik diperoleh dengan menanam akar rambut (hairy root) yang dihasilkan dari transformasi genetik dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kegunaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kultur akar berambut merupakan kultur organ pada teknik kultur jaringan tanaman yang utamanya digunakan untuk memproduksi metabolit sekunder.&lt;br /&gt;Kaitan Kultur Akar Berambut dengan Metabolit Sekunder&lt;br /&gt;Kultur akar berambut yang telah dilakukan yaitu kultur dari akar yang merupakan hasil transformasi sel tanaman dengan Agrobacterium rhizogenes. Agrobacterium merupakan bakteri tanah yang mempunyai kemampuan untuk mentransfer T-DNA dari plasmid yang dikenal dengan Ri plasmid (root inducing plasmid) ke dalam sel tanaman melalui pelukaan (Nilson &amp; Olsson, 1997).&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1wMrNBBrxI/AAAAAAAAAGw/-ey3GJ5NDH0/s1600-h/hairy+root.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 168px; height: 129px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1wMrNBBrxI/AAAAAAAAAGw/-ey3GJ5NDH0/s320/hairy+root.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430229187069849362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prosesnya adalah sebagai berikut, T-DNA akan terintegrasi pada kromosom tanaman dan akan mengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opine, di samping itu T-DNA juga mengandung onkogen yaitu gen-gen yang berperan untuk menyandi hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Ekspresi onkogen pada plasmid Ri mencirikan pembentukan akar adventif secara besar-besaran pada tempat yang diinfeksi dan dikenal dengan ‘hairy root’ (Nilson &amp; Olsson, 1997). &lt;br /&gt;Penyerangan terhadap akar oleh bakteri Agrobacterium rhizogenes yang menyebabkan tumbuhnya akar berambut secara cepat pada eksplan. akan dapat menghasilkan metabolit sekunder.&lt;br /&gt;Kultur akar rambut tersebut telah digunakan untuk mempelajari keberadaan senyawa bioaktif seperti ribosome inactivating protein (RIP) atau senyawa bioaktif lainnya (alkaloida, flavonoida, poliaetilena dan fitoaleksin) (Toppi et al. 1996; Savary &amp; Flores 1994). Akar rambut dari L. cylindrical dilaporkan memproduksi RIP yang diberi nama luffin dengan kuantitas dan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi oleh bagian tanaman lainnya (Toppi et al. 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aplikasi Kultur Akar Berambut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknik ini merupakan suatu pilihan kultur organ yang digunakan ketika metabolit sekunder tidak dapat dihasilkan oleh sel. Metabolit sekunder umumnya muncul saat sel telah terdiferensiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Metode&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pemilihan eksplan&lt;br /&gt;2. Eksplan dicuci lalu disterilkan dengan sterilan, kemudian dibilas dengan air steril selanjutnya ditumbuhkan dalam media padat yang sesuai.&lt;br /&gt;3. Eksplan yang dipilih kemudian dikecambahkan dalam media padat selama waktu yang ditentukan.&lt;br /&gt;4. Inokulasi bakteri&lt;br /&gt;Agrobacterium rhizogenes strain LBA9457 ditumbuhkan dalam media yeast manitol broth (YMB) padat yang tersusun dari yeast extract (0,4 g/l), manitol (10 g/l), NaCl (0,1 g/l), MgSO4.7H2O (0,2 g/l), KH2PO4 (0,5 g/l), dan agar-agar (7 g/l) sebagai bahan pemadat. Induksi pembentukan akar rambut dilakukan dengan cara menusukkan jarum preparat yang telah dicelupkan ke koloni bakteri umur 3 hari ke bagian hipokotil dari eksplan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan kultur akar berambut antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Galur Agrobacterium rhizogenes&lt;br /&gt;2. spesies tanaman&lt;br /&gt;3. sumber eksplan dan&lt;br /&gt;4. komposisi medium&lt;br /&gt;Keempatnya berpengaruh terhadap inisiasi, pertumbuhan, perkembangan dan vigor akar rambut&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan Kultur Akar Berambut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Hasilnya yang relatif seragam&lt;br /&gt;2. Memiliki kestabilan genetik yang tinggi.&lt;br /&gt;3. Mudah dilakukan elisitasi untuk peningkatan jumlah produksi metabolit sekunder.&lt;br /&gt;4. Kapasitas metabolit sekunder lebih besar daripada tanaman asal.&lt;br /&gt;5. Merupakan metode yang ideal untuk mempelajari kandungan senyawa aktif yang diproduksi tanaman karena akar rambut dapat melakukan sintesis senyawa aktif yang diinginkan dan dapat tumbuh stabil dalam media in vitro &lt;br /&gt;6. Prosesnya yang relatif mudah yaitu penggunaan media untuk tumbuh tidak memerlukan penambahan zat pengatur tumbuh. &lt;br /&gt;7. Mudah untuk memanipulasi berbagai faktor dalam kultur jaringan yang digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi biomasa atau senyawa aktif yang diinginkan. Manipulasi yang dapat dilakukan antara lain seleksi galur akar rambut yang produktif, optimasi kondisi media kultur dan induksi produksi senyawa aktif dengan perlakuan elisitasi (Fu 1999).&lt;br /&gt;8. Kultur akar ini bisa di regenerasi. sedangkan pada kultur sel, viabilitas sel dapat hilang dengan beberapa kali subkultur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kerugian Kultur Akar Berambut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pembentukan akar berambut tidaklah mudah karena keberhasilan transformasinya rendah.&lt;br /&gt;2. Tidak semua yang dihasilkan oleh kultur akar berambut adalah metabolit sekunder yang kita inginkan, sehingga hasil metabolit sekunder dari kultur akar berambut tidak dapat dipastikan.&lt;br /&gt;3. Rendahnya tingkat keberhasilan transformasi eksplan dengan Agrobacterium rhizogenes dan pertumbuhannya yang lambat&lt;br /&gt;4. Sulitnya scaling-up dengan rancang bangun bioreaktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan produktivitas kultur akar berambut ini dapat dilakukan salah satunya adalah dengan cara elisitasi menggunakan elisitor pada sel tumbuhan dengan tujuan untuk menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mathius, N.T, dkk, 2006, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengaruh elisitasi terhadap pertumbuhan dan produksi alkaloida kinolin dari akar rambut tanaman kina (Cinchona succirubra Pavon ex Klotzsch)&lt;/span&gt;. Menara Perkebunan, 74 (1), 10-22&lt;br /&gt;Mathius, N.T, dkk, 2006, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hairy Root Culture Of Cinchona ledgeriana and C. Succirubra By In Vitro Culture&lt;/span&gt;. [Tersedia online], diakses tanggal 2 Desember 2009, pukul 17.00&lt;br /&gt;Nilsson O, Olsson O, 1997, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Getting to the root: the role of the Agrobacterium rhizogenes rol genes in the formation of hairy roots&lt;/span&gt;, Physiol Plant 100:463-473&lt;br /&gt;Payne GF, Bringi V, Prince CL,Shuler ML, 1992, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plant Cell and Tissue Culture in Liquid Systems&lt;/span&gt;, John Wiley and Sons, New York&lt;br /&gt;Savary BJ, Flores HE,1994, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biosynthesis of defense-related protein in transformed root cultures of Trichosanthes kirilowii Maxim var. Japonicum (Kitam)&lt;/span&gt;, Plant Physiol 106:11&lt;br /&gt;Toppi LSD, Gorini P, Properzi G, Barbieri L, Spano L. 1996, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Production of ribosomeinactivating protein from hairy root cultures of Luffa cyllindrica (L) Roem&lt;/span&gt;, Plant Cell Reports 15:910-913.&lt;br /&gt;Srivastava, S., Srivastava, A. K., 2007, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hairy Root Culture for Mass Production of High-Value Secondary Metabolites&lt;/span&gt;, Critical Reviews in Biotechnology 27: 29-43.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-1671876491097830097?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T16:05:09.939+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1wMrNBBrxI/AAAAAAAAAGw/-ey3GJ5NDH0/s72-c/hairy+root.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder dengan Kultur Jaringan Tanaman melalui Elisitasi</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan_23.html</link><category>Elisitasi</category><category>metabolit sekunder</category><category>Kuliah</category><category>kultur jaringan tanaman</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sun, 24 Jan 2010 00:28:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-8216483824365845341</guid><description>Elisitasi merupakan proses penambahan elisitor pada sel tumbuhan dengan tujuan untuk menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder. Selain itu, elisitasi merupakan suatu respon dari suatu sel untuk menghasilkan metabolit sekunder. Dalam hal ini adanya interaksi patogen dengan inang akan menginduksi pembentukan fitoaleksin pada tumbuhan. Fitoaleksin itu sendiri merupakan senyawa antibiotik yang mempunyai berat molekul rendah, dan dibentuk pada tumbuhan tinggi sebagai respons terhadap infeksi mikroba patogen. Senyawa yang merupakan bagian dari mekanisme tersebut dapat dianalogikan dengan antibody yang terbentuk sebagai respons imun pada hewan (Yoshikawa&amp;Sugimito, 1993). Elisitor selain dapat menginduksi sintesis fitoaleksin, ternyata dapat juga menginduksi sintesis metabolit sekunder yang bukan fitoaleksin pada kultur kalus dan sel (Eilert et al 1986).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Elisitor terdiri atas dua kelompok, yaitu elisitor abiotik dan elisitor biotik (Logemann 1995). &lt;br /&gt;1. Elisator abiotik, bisa berasal dari senyawa anorganik , radiasi secara fisik, seperti ultraviolet, logam berat, dan detergen&lt;br /&gt;2. Elisator biotic dapat dikelompokkan dalam elisator endogen,dan elisator eksogen,yaitu &lt;br /&gt;i. Elisator endogen, umumnya berasal dari bagian tumbuhan itu sendiri, seperti bagian dari dinding sel ( poligogalakturonat ) yang rusak. Rusaknya dinding sel ini, disebabkan oleh suatu serangan pathogen. Dinding sel yang rusak dan terluka oleh karena aktivitas enzim hidrolisis dari serangan pathogen. &lt;br /&gt;ii. Elisator eksogen, bisa berasal dari dinding jamur misalnya kitin, atau glukan. Selain itu dapat  berupa senyawa yang disintesis, misalnya protein ( enzim ) ( Salisburry &amp; Ross, 1995 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kegunaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. untuk menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder.&lt;br /&gt;2. merangsang suatu tanaman untuk menghasilkan fitoaleksin. Suatu tanaman dapat menghasilkan fitoaleksin jika tanaman tersebut mendapatkan cekaman. Cekaman tersebut dapat berupa serangan ataupun perlukaan pada sel tanaman. Sel tersebut akan merespon serangan dengan mekanisme pertahanan, dan zat yang dihasilkan dari mekanisme pertahanan tersebut merupakan fitoaleksin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Waktu penggunaan metode ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat kita ingin memproduksi metabolit sekunder yang menghasilkan fitoaleksin dan enzim spesifik penghasil metabolit sekunder serta medium paling tepat sudah diketahui agar berhasil meningkatkan produksi metabolit sekunder. Serta menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat yang jika secara konvensional tidak bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alasan penggunaan metode&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Beragam sistem kultur sel pada tanaman tidak memberikan metabolit yang bernilai tinggi (Amid dan Jamal,2009).&lt;br /&gt;2. Dibandingkan dengan berbagai macam metode untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder seperti optimasi media,cell line selection, cell immobilization,penambahan precursor,transformasi genetic,kultur rambut akar;elisitasi merupakan metode yang paling berhasil memproduksi metabolit sekunder dalam kultur sel dari berbagai tanaman (Amid dan Jamal,2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keuntungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai strategi dalam menginduksi dan meningkatkan pementukan metabolit sekunder.&lt;br /&gt;2. Dapat meningkatkan aktivitas enzim- enzim yang berkaitan dengan pembentukan metabolit sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Kerugian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Prosedur kompleks, misal untuk mendapatkan hasil maksimum diperlukan kultur dengan dua tahap.&lt;br /&gt;2. Kadar konsentrasi elisitor harus optimum, konsentrasi elisitor adalah titik kritis dalam keberhasilan elisitasi. Jika penambahan kurang tepat malah akan mengurangi produksi metabolit sekundernya.&lt;br /&gt;3. Sulit untuk meningkatkan produksi dua atau lebih metabolit sekunder yang kita inginkan dalam sati sistem elisitasi.&lt;br /&gt;4. tidak semua metabolit sekunder yang dihasilkan berupa fitoaleksin sehingga dapat mengganggu peningkatan produksi metabolit sekunder. &lt;br /&gt;5. Karena pemberian elisitor yang menyebabkan luka sehingga nutrisi yang terdapat dalam tanaman digunakan untuk menutupi luka, akibatnya tidak ada nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan sel. serta jika penambahan elisitor terlalu banyak, justru akan mengurangi pertumbuhan sel, hal itu disebabkan adanya pengaruh feedback inhibition&lt;br /&gt;6. Membutuhkan senyawa spesifik untuk setiap metabolit sekunder (Verpoorte et al,1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Optimasi hasil elisitasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang menentukan keberhasilan elisitasi di antaranya adalah konsentrasi elisitor dan waktu kontak antara sel dengan elisitor. Contin et al.  (1999) menjelaskan bahwa elisitor dapat meningkatkan  kandungan metabolit sekunder dengan dua cara, yaitu meningkatkan aktivitas enzim dan meningkatkan sintesis enzim yang terlibat dalam jalur biosintesis metabolit tertentu.&lt;br /&gt;Menurut Yu et al.(2000) pendekatan umum yang dapat digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi adalah  menggunakan sistem kultur dengan dua tahap proses. Tahap pertama dengan medium pertumbuhan tanpa elisitor untuk biomassa maksimum, sedangkan pada tahap kedua jaringan akar rambut yang terakumulasi ditransfer ke dalam medium yang mengandung elisitor sebagai medium produksi yang membatasi pertumbuhan tetapi merangsang biosintesis alkaloida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aprianita, 1999, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengaruh Pemberian Homogenat Jamur Pythium aphanidermatum (Edson) Fitzp.          Terhadap kandungan Ajmalisin dalam Kultur Kalus Berakar C. roseus (L) G&lt;/span&gt;. Don. Tesis  Magister, Jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. Cosmo, F. and M. Misawa, 1995, Plant  cell and tissue culture : Alternatives for metabolites  production, Biotechnology  Advances, 3,  425- 453. &lt;br /&gt;Amid,A., dan P.Jamal, 2009, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Optimization of the Elicitation Process on Chrysanthemum indicum Cell Suspension Culture Producing Xanthine Oxidase Inhibitor&lt;/span&gt; , Journal of Applied Science Vol .9, Page  2256-2263&lt;br /&gt;Eilert, U., F. Constable, and W.G.W. Kurz, 1986, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Elicitor stimulation of monoterpene indole           alkaloid formation in suspension cultures of Catharanthus roseus&lt;/span&gt;, J. Plant Phys., 126, 11-22. &lt;br /&gt;Endress, R., 1994,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Plant Cell Biotechnology&lt;/span&gt;, Springer – Verlag., Berlin. &lt;br /&gt;Fitriani, Any, 2003, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kandungan Ajmalisin Pada Kultur Kalus Catharanthus Roseus (L.) G. Don Setelah Dielisitasi Homogenat Jamur Pythium Aphanidermatum Edson Fitzp.&lt;/span&gt;, diakses 4 desember 2009[ http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/06223/any_fitriani.htm]&lt;br /&gt;Funk, C., K. Gugler and P. Brodelius, 1987, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Increased secondary product formation in plant cell          suspension cultures after treatment with a yeast carbohydrate     preparation      (elicitor)&lt;/span&gt;,  J.          Phytochem., 26:2, 401-405. &lt;br /&gt;George, E. F. and P. H. Sherrington, 1984, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plant  Propagation by Tissue Culture&lt;/span&gt;, Eastern Press            Exegetic Ltd., England. &lt;br /&gt;Hashimoto, T. and Y. Yamada, 1994, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alkaloid  Biogenesis: Molecular Aspect&lt;/span&gt;, J. Plant Mol. Biol.,  45, 257-285. &lt;br /&gt;Salisburry, F.B., dan Ross, C.W., 1995, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fisiologi Tumbuhan&lt;/span&gt;, Ed III, 286-288, diterjemahkan oleh Dyah R. Lukman dan Sumaryono, ITB, Bandung.&lt;br /&gt;Verpoorte, R., R.van der Heijden, J.H.C. Hoge dan H.J.G ten Hoopen, 1994, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plant Cell Biotechnology for The Production of Secondary Metabolites, PureaAnd Applied Chemistry&lt;/span&gt; No.10/11, Page 2307-2310, Great Britain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-8216483824365845341?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T15:28:12.477+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder dengan Kultur Jaringan Tanaman melalui Sel Amobil</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan_22.html</link><category>metabolit sekunder</category><category>Kuliah</category><category>Sel Amobil</category><category>kultur jaringan tanaman</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:54:09 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-8704791641360146328</guid><description>Sel amobil adalah suatu sel atau gumpalan sel yang terjerap dalam matriks tertentu. Biomassa yang tertahan pada media amobil akan menghasilkan metabolit yang lebih tinggi dan meningkatkan konsentrasi produk. Hal ini dikarenakan sel yang tertahan akan mengalami stress sehingga produksi metabolit akan meningkat dengan sendirinya dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan kultur sel biasa. Ditinjau dari hal ini, teknik amobilisasi juga dapat dikatakan lebih ekonomis. Keberhasilan dari amobilisasi sel ini sangat dipengaruhi oleh media. Pertumbuhan sel amobil lebih lambat dari pada kultur suspensi sel. Jadi laju pertumbuhan spesifik produk dapat dikendalikan, pembentukan produk tidak terkait dengan laju pertumbuhan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tujuan penggunaan sel amobil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mencegah gesekan sel dengan dinding bioreaktor.&lt;br /&gt;2. Mencegah terjadinya agregasi/gumpalan sel, karena kalau terjadi agregasidapat mengakibatkan sel terdiferensiasi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proses Amobilisasi Sel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan sel amobil pada dasarnya adalah penjerapan sel dengan matriks tertentu. Polimer merupakan bahan yang banyak digunakan dalam amobilisasi sel dan prinsip kerjanya ada tiga macam, yaitu pembentukan gel dengan proses pengikatan-silang ionic dari polimer yang bermuatan, pembentukan gel dengan pendinginan polimer yang dilarutkan dengan pemanasan, dan pembentukan gel dengan reaksi kimia (Brodelius,1985). Secara berturut-turut dari prinsip tersebut adalah gelatin yang berikatan silang dengan glutaraldehida, agar atau agarosa, dan natrium alginat menjadi kalsium alginat. Walaupun sistem sel amobil dapat menyelesaikan masalah yang timbul dalam kultur suspensi sel, namun juga timbul persoalan baru, antara lain keterbatasan partisi dan difusi (perpindahan massa), pengukuran parameter sel, dan pembebasan dan perolehan produk (Brodelius, 1990). Untuk membebasan produk dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan pelarut organic, ultrasonifikasi, dan ionoforetik atau elektropermeabilisasi (Hunter dan Kilby,1988).&lt;br /&gt;Proses amobilisasi sel diawali dengan menginisiasi kalus dengan cara penanaman eksplan pada media padat aseptis yang telah ditambahkan zat pengatur tumbuh. Setelah ditutup dengan kertas aluminium, selanjutnya diinkubasi pada suhu (25 ± 3)° C hingga terbentuk kalus. Setelah kalus cukup besar, dilakukan subkultur, yaitu memindahkan kalus yang telah dibagi ke media padat. Subkultur dilakukan berulang kali hingga diperoleh kalus yang meremah (friable). Dari kalus tersebut dibuat kultur suspensi sel dengan media cair; kemudian diinkubasikan dengan digojog pada gyrorotary shaker (penggojog-berpusing). Selanjutnya dilakukan subkultur sehingga diperoleh biomasa yang cukup. Suspensi sel yang diperoleh disaring. Biomasa yang lolos disebut sel halus dan yang tertinggal di penyaring disebut sel kasar. Amobilisasi dilakukan terhadap suspensi sel halus dan suspensi sel kasar dalam larutan natrium alginat. Manik-manik yang mengandung sel (sel amobil) diinkubasi dalam media cair sebagai control, media produksi ditambah elisitor, ditambah elisitor dan prazat/precursor. Pertumbuhan sel untuk kultur sel amobil diamati berdasarkan berat kering (BK) sel. Sel yang diamobilisasi tumbuh lebih lambat dari pada kultur suspensi sel. Kadar dalam sampel kultur sel amobil dianalisis dengan menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography), yang dilengkapi dengan detektor UV (λ=254 nm) (Kadar, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1v7jmjkx_I/AAAAAAAAAGo/EqSDyDfVl5E/s1600-h/sel+amobil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1v7jmjkx_I/AAAAAAAAAGo/EqSDyDfVl5E/s200/sel+amobil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430210364789016562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                       Gbr. Sel amobil&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Problem – dalam sistem sel amobil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      Masalah yang yang ditemukan dalam sel amobil antara lain:&lt;br /&gt;1. Batas partisi dan difusi&lt;br /&gt;• Sistem ketidaksamaan&lt;br /&gt;Nutrisi yang terdapat di luar sel tidak sama dengan yang berada di dalam sel sehingga pengeluaran metabolit sekunder susah. Sehingga sebaiknya digunakan bentuk sel yang geometris.&lt;br /&gt;2.  pengukuran parameter seluler setelah amobilisasi&lt;br /&gt;• Parameter pengukuran dasar dari pertumbuhan sel seperti peningkatan berat basah, berat kering, jumlah sel, dan indek mitotic dan penentuan respirasi sel dan viabilitas sel sulit dilakukan.&lt;br /&gt;• Hilangnya nutrient di dalam media akan memberikan informasi yang sedikit mengenai pertumbuhan sel atau tingkatan fisiologinya.&lt;br /&gt;3. Pelepasan produk dan recovery&lt;br /&gt;• Pelepasan produk&lt;br /&gt;Pengoperasian sistem sel tumbuhan amobil ini penting dalam pelepasan produk dari sel ke dalam medium dimana hal itu dapat diperbaiki tanpa kehilangan biomasa. Bagaimanapun, eksresi dari metabolit sekunder dengan kultur sel tanaman adalah hal yang tidak biasa, produknya akan terakumulasi dalam vakuola. Pengambilan produk dari sel merupakan masalah yang utama dalam kultur. Dalam sistem yang tidak alamiah mengekskresi produk, dua tahap sistem kultur yang terdiri dari pengulangan akumulasi produk dan pelepasan produk yang sudah dipakai. Biomassa amobil yang digunakan kembali harus dapat mempertahankan membrannya atau paling tidak dapat memperbaiki fungsi membrane dengan cepat.&lt;br /&gt;• Produk recovery&lt;br /&gt;Produksi sel amobil perlu dipertimbangkan juga dalam segi ekonominya. Metode klasik misalnya, membutuhkan pelarut yang mahal sehingga tidak ekonomis tetapi dapat  membuka solusi baru dalam bidang bioteknologi, seperti penggunaan sel amobil antibody untuk menghilangkan produk tertentu dari medium.&lt;br /&gt;Keunggulan Teknik Sel Amobil&lt;br /&gt;• mampu menggunakan kembali biomasa yang mahal harganya&lt;br /&gt;• mampu secara fisikawi memisahkan antara sel, media, dan produk&lt;br /&gt;• meningkatkan daya guna bioreaktor&lt;br /&gt;• mampu beroperasi secara berkesinambungan dalam jangka waktu lama (Payne et al.,1992).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Brodelius, P.E., 1985, Immobilized Plant Cells, in: Enzymes and Immobilized Cell in Biotechnology,(Laskin, A.I., ed.), 109-148, The Benyamin / Commings Publishing Company, Inc., London.&lt;br /&gt;Brodelius, P.E., 1990, Transport and Accumulation of Secondary Metabolites, in: Current Plant Science and Biotechnology in Agriculture, Vol.IX: Progress in Plant Cellular and Molecular Biology (Nijkamp,H.J., van der Plas, L.H.W., van Aartrijk,J., eds.), 567-576, Kluwer Academic Publisher, Dordrecht-The Netherlands.&lt;br /&gt;Dixon, R.A., 1985, Plant cell Culture: Practicial Approach, IRL Press, Oxford.&lt;br /&gt;Hunter,C.S. and Kilby, N.J., 1988, Electropermeabilization and Ultrasonic Techniques for Harvesting Secondary Metabolites from Plant Cells in Vitro, in: Manipulating Secondary Metabolism, (R.J.Robins and M.J.C, Rhodes, eds.), 285-289, Cambridge University Press, Cambridge.&lt;br /&gt;Kadar, V.R., 2009, Peningkatan Kadar Andrografolid dari Kultur Sel Andrographis paniculata (Burm.f.) Wallich ex Ness Melalui Teknik Amobilisasi Sel dalam Bioreaktor, ITB, Bandung.&lt;br /&gt;Payne,G., Bringi,V., Prince.C., Shuler,M., 1992, Plant Cell and Tissue Culture in Liquid Systems, 177-223, Hanser Publishers, Munich-Vienna. Rathore,A.K. &amp; Khanna,P., 1979, Steroidal Constituents of Costus speciosus (Koen) Sm. Callus Cultures, Planta Med., 35: 289-290&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-8704791641360146328?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T14:54:09.978+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1v7jmjkx_I/AAAAAAAAAGo/EqSDyDfVl5E/s72-c/sel+amobil.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Produksi Metabolit Sekunder Dengan Kultur Jaringan Tanaman</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekunder-dengan.html</link><category>metabolit sekunder</category><category>farmasi</category><category>Kuliah</category><category>kultur jaringan tanaman</category><category>bioteknologi</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sat, 23 Jan 2010 19:51:09 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-3542571853197721754</guid><description>Permasalahan yang kerap muncul  dalam  industri farmasi adalah pengadaan bahan baku obat.  Salah satu sumber bahan baku obat tersebut berasal dari metabolit sekunder yang diproduksi oleh tanaman. Namun , produksi metabolit sekunder secara konvensional pada tanaman biasanya memiliki kadar yang sedikit.  Metabolit sekunder merupakan senyawa yang tidak terlibat langsung dalam pertumbuhan, perkembangan, atau reproduksi mahluk hidup  yang fungsinya masih belum diketahui secara pasti. Senyawa ini biasa digunakan untuk pertahanan dan perkembangbiakan  tanaman. Kebanyakan senyawa metabolit sekunder ini beracun bagi hewan. Penggolongan metabolit sekuder berdasarkan biosintesisnya meliputi senyawa alkaloid, fenol, dan terpenoid (Anonim, 2010).&lt;br /&gt;Metode bioteknologi telah terbukti dapat meningkatkan produksi beberapa metabolit sekunder pada tanaman ( Manalu, 2007). Salah satu metode bioteknologi yang dimanfaatkan untuk memproduksi metabolit sekunder adalah kultur jaringan tanaman. Kultur jaringan adalah budidaya organ, jaringan, sel atau bagian sel di dalam suatu media yang sesuai secara aseptik dengan tujuan tertentu yang sifat-sifatnya akan sama dengan sifat genetik induknya (Santosa, 2008). Prisip budidaya melalui kultur jaringan bertitik tolak dari teori sel &lt;span class="fullpost"&gt;yang ditemukan oleh Schleiden dan Schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai sifat totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan tiap-tiap sel yang diambil dari bagian manapun, yang jika diletakkan pada lingkungan sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Suryowinoto,1985)&lt;br /&gt;Kultur jaringan tanaman dapat digolongkan menjadi :&lt;br /&gt;A. Kultur  sel&lt;br /&gt;kultur sel merupakan kultur sel dalam media cair dengan wadah yang diaerasi dengan agitasi(Gamborg dan Shyluk, 1981)&lt;br /&gt;B. Kultur organ&lt;br /&gt; Kultur organ merupakan kultur aseptik dari embrio, serbuk sari,akar,tunas atau organ tanaman yang lain pada media nutrisi(Gamborg dan Shyluk, 1981). Kultur organ terbagi menjadi:&lt;br /&gt;1.  kultur akar&lt;br /&gt;Kultur akar merupakan kultur jaringan akar yang hidup dan berdiferensiasi secara terorganisir membentuk biomasa akar tanpa kehadiran tipe organ lain dari tanaman seperti batang, tunas atau daun secara in vitro (Payne et al. 1992).&lt;br /&gt;2. Kultur akar berambut&lt;br /&gt;Akar rambut adalah akar kecil berbentuk seperti rambut halus. Kultur akar rambut adalah suatu metode budidaya akar rambut secara in vitro dengan kondisi yang terkendali dan aseptis.&lt;br /&gt;3. Kultur tunas&lt;br /&gt;Kultur tunas adalah kultur dari bagian ujung tanaman ( shoot ), yang didalamnya sudah terdapat beberapa sel primordial. Eksplan bisa berasal dari pucuk lateral beserta tangkainya yang masih kecil. Teknik ini sering digunakan untuk menumbuhkan tanaman untuk keperluan propagasi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1vDC671bXI/AAAAAAAAAGg/CTQGjw3UM5k/s1600-h/kultur+bwng.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1vDC671bXI/AAAAAAAAAGg/CTQGjw3UM5k/s200/kultur+bwng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430148230672641394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gbr. Kultur Tunas Bawang Putih (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allium cepa&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Keuntungan Produksi Metabolit Sekunder dengan Kultur Jaringan Tanaman&lt;br /&gt;1. Dapat mengurangi pengaruh faktor lingkungan &lt;br /&gt;2. Dapat mengendalikan faktor cahaya, suhu, campuran gas, nutrisi.&lt;br /&gt; 3. Dapat dikuranginya faktor saling mempengaruhi antar organ &lt;br /&gt;4. Dapat dicegahnya pengaruh organisme lain seperti kapang, bakteri, serangga.&lt;br /&gt;5. Dapat digunakan untuk pengawetan plasma nutfah → pemuliaan tanaman &lt;br /&gt;6. Dapat digunakan untuk produksi senyawa dengan nilai ekonomis tinggi ( Gani, A.P., 2009).&lt;br /&gt;Kendala Produksi Metabolit Sekunder Skala Besar&lt;br /&gt;1. Pengendalian organisasi sel, diferensiasi dan pembentukan produk&lt;br /&gt;Sel mempunyai kecenderungan untuk berkumpul satu sama lain sehingga membentuk agregat. Untuk memisahkan agregat diperlukan pengadukan. Bila dalam kondisi pekat, sel akan saling bergabung dengan cara berdiferensiasi. Sel hanya bisa membentuk metabolit sekunder bila sudah terdiferensiasi. Perubahan komposisi media dan lingkungan sel akan mengubah hasil produk dan kecepatan pertumbuhan sel. &lt;br /&gt;2. Ketidakmantapan sel &lt;br /&gt;Sel tanaman sensitif terhadap gesekan. Subkultur berulang mempengaruhi produktivitasnya. Sel yang terlalu lama disimpan kehilangan kemampuan untuk beregenerasi&lt;br /&gt;3. Karakteristik pertumbuhan sel&lt;br /&gt;Sel tumbuhan umumnya tumbuh lambat (doubling time 20 jam).&lt;br /&gt;• Sel unggul lebih lambat lagi &lt;br /&gt;• Ada kecenderungan sel menggumpal&lt;br /&gt;• Ada kecenderungan sel menempel pada dinding&lt;br /&gt;Seleksi galur sel dipelukan agar  sel tanaman yang dipilih dapat menghasilkan metabolit sekunder yang optimal, tidak mengalami mutasi.&lt;br /&gt;4. Penggumpalan sel dan pengaruhnya terhadap perpindahan massa&lt;br /&gt;Agregat( gumpalan sel ) akan menghambat perpindahan massa.&lt;br /&gt;5. Kesukaran dalam pembebasan produk, isolasi dan pemurnian&lt;br /&gt;Dipengaruhi oleh kemampuan sel dalam memproduksi metabolit sekunder yang rendah.&lt;br /&gt;6. Ketahanan sel yang rendah terhadap gesekan&lt;br /&gt;Sel tumbuhan mempunyai dinding sel yang tipis sedangkan ukuran vakuola besar sehingga bila terjadi gesekan akan mudah merusak sel ( Gani, A.P., 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Anonim, 2010,  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chemical Plants&lt;/span&gt;, diakses diakses 15 januari 2010 [http://www.open2.net/sciencetechnologynature/worldaroundus/chemicalplants.html ]&lt;br /&gt;Manalu , M.M, 2007, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Produksi Senyawa Metabolit Sekunder Melalui Kultur Jaringan dan Transformasi Genetik Nicotiana Tabacum L. dan Artemisia Annua L.&lt;/span&gt; , diakses 15 januari 2010 [http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=jbptitbpp-gdl-meilinamar-26883].&lt;br /&gt;Gamborg, O.L.A. , van den Brink, R. B. C., 1965, Nutrition, Media, and Characteristics of Plant Cell and Tisuue Cultures in Thrope, A.T., &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plant Tisuue Culture&lt;/span&gt;, Academic Press, New York.&lt;br /&gt; Gani, A.P., 2009, `Produksi Metabolit Sekunder Dengan Kultur Jaringan Tanaman’ Bahan kuliah Diberikan Pada Kuliah  Kultur Jaringan Tanaman , Yogyakarta, 28 November.&lt;br /&gt;Gani, A.P., 2009, `Produksi Metabolit Sekunder Skala Besar’ Bahan kuliah Diberikan Pada Kuliah  Kultur Jaringan Tanaman , Yogyakarta, 28 November.&lt;br /&gt;George, E. R., Sherrington, L. R., 1984, Plant Propagation by Tisuue Culture Exegetics Limited, Eversely, Baringstoke. &lt;br /&gt;Payne GF, Bringi V, Prince CL,Shuler ML, 1992, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plant Cell and Tissue Culture in Liquid Systems&lt;/span&gt;, John Wiley and Sons, New York&lt;br /&gt;Santosa, D., 2008, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hand Out Kultur Jaringan Tanaman&lt;/span&gt;, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Suryowinoto,M., 1985, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Budidaya Jaringan dan Manfaatnya&lt;/span&gt;, Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-3542571853197721754?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T10:51:09.036+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/S1vDC671bXI/AAAAAAAAAGg/CTQGjw3UM5k/s72-c/kultur+bwng.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengumuman hasil evaluasi  PKM 2010</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/pengumuman-hasil-evaluasi-pkm-2010.html</link><category>Umum</category><category>diary</category><category>PKM</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:39:46 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-1799165654773495447</guid><description>Alhamdulillah..&lt;br /&gt;Begitulah yang terucap pertama kali saat melihat judul PKM saya berada di antara ribuan judul lain yang telah lolos hasil evaluasi PKM 2010. Judul PKM saya "Uji Aktivitas Imunomodulator Ekstrak Etanol Daun Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L.) Terhadap Peningkatan Titer Imunoglobulin G (IgG) dan Proliferasi Sel Limfosit Pada Tikus yang Diinduksi Vaksin Hepatitis B" ada di urutan 2688. Sebuah kado yang manis di awal tahun 2010. Semoga bisa melanjutkan ke PIMNAS. Semangat!:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman-teman yang ingin mendownload file Pengumuman hasil evaluasi  PKM 2010, silahkan klik &lt;a href="http://www.4shared.com/file/196574393/9803141c/PKM-Hasil-Evaluasi-PKM_2010.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-1799165654773495447?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-14T23:39:46.356+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Pembuatan dan Penetapan Kontrol Kualitas Simplisia</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/pembuatan-dan-penetapan-kontrol.html</link><category>Kuliah</category><category>Fitokimia</category><category>simplisia</category><category>Pasca Panen</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:21:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-1324766036856003586</guid><description>Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terdiri dari simplsiia dikeringkan. Simplisia terdiri dari simplsiia nabati, hewani dan mineral. nabati, hewani dan mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Yang di maksud eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari selnya atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya. Simplisia  hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaan simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain bahan baku simplisia, proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia, cara pengepakan simplisia (Anonim,1985).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada perlakuan pasca panen, tahapan – tahapan  pembuatan  simplisia, yaitu :&lt;br /&gt;1. Pengumpulan bahan&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan  adalah umur tanaman atau bagian tanamn pada waktu panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh.&lt;br /&gt;2. Sortasi basah&lt;br /&gt;Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran –kotoran atau bahan- bahan asing lainnya dari bahan simplisia sehingga tidak ikut terbawa pada proses selanjutnya yang akan mempengaruhi hasil akhir.&lt;br /&gt;3. Pencucian&lt;br /&gt;Pencucian dilakukan agar menghilangkan tanah dan kotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Sebaiknya air yang digunakan adalah air yang mengalir dan sumbernya dari air bersih seperti air PAM, air sumur atau mata air.&lt;br /&gt;4. Perajangan&lt;br /&gt;Perajangan tidak harus selalu dilakukan. Pada dasarnya proses ini untuk mempermudah proses pengeringan. Jika ukuran simplisia cukup kecil/tipis, maka proses ini dapat diabaikan.&lt;br /&gt;5. Pengeringan&lt;br /&gt;Pengeringan dilakukan agar memperoleh simplisia yang tidak mudah rusak, sehngga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengeringan secara alami dan secara buatan. Pengeringan alami dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari baik secara langsung maupun ditutupi dengan kain hitam. Sedangkan pengeringan secara buatan dilakukan dengan oven.&lt;br /&gt;6. Sortasi kering &lt;br /&gt;Tujuan sortasi kering yaitu untuk memisahkan bahan – bahan asing seperti bagian tanaman yang tidak diinginkandan kotoran lain yang masih ada dan tertinggal di simplisia kering.&lt;br /&gt;7. Pengepakan dan penyimpanan&lt;br /&gt;Pengepakan simplisia dapat menggunakan wadah yang inert, tidak beracun, melindungi simplisia dari cemaran  serta mencegah adanya kerusakan.Sedangka penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah, terlindung dari sinar matahari, dan terlindung dari gangguan serangga maupun tikus.&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan mutu&lt;br /&gt;Merupakan usaha untuk menjaga keajegan mutu simplisia. Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pemberiaanya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia. Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, Materia medika indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisai suatu simplisia . Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter non spesifik dan  spesifik. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan factor lingkungan dalam pembuatan simplisia sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman. Penjelasan lebih lanjut mengenai parameter standardisasi simplisia sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.kebenaran simplisia&lt;br /&gt;Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan dengan cara organoleptik, makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan memeriksa kemurnian dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri luar serta warna dan bau simplisia. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia.&lt;br /&gt;2.parameter non spesifik&lt;br /&gt;meliputi uji terkait dengan pencemaran yang disebabkan oleh pestisida, jamur, aflatoxin, logam berat, dll.&lt;br /&gt;a. penetapan kadar abu&lt;br /&gt;Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai diperoleh simplisia dan ekstrak baik yang berasal dari tanaman secara alami maupun kontaminan selama proses, seperti pisau yang digunakan telah berkarat). Jumlah kadar abu maksimal yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi. Prinsip penentuan kadar abu ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kadar abu = bobot akhir/bobot awal x 100%&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kadar abu tinggi:&lt;br /&gt;-cemaran logam&lt;br /&gt;-cemaran tanah&lt;br /&gt;b.penetapan susut pengeringan&lt;br /&gt;susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105°C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x 100%&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.&lt;br /&gt;c.  kadar air&lt;br /&gt;Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%. &lt;br /&gt;Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:&lt;br /&gt;- metode titrimetri&lt;br /&gt;metode ini berdasarkan atas reaksi secra kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hidrogen.Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara (Anonim, 1995).&lt;br /&gt;- metode azeotropi ( destilasi toluena )&lt;br /&gt;metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembaban (Anonim, 1995).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; kadar air ( v/b) = volume air yang terukur / bobot awal simplisia x 100%&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- metode gravimetri&lt;br /&gt;Dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot tetap(Anonim, 1995).&lt;br /&gt;d. Kadar minyak atsiri&lt;br /&gt;Tujuan dari penetapan kadar minyak atsiri adalah untuk mengukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia. Penetapan dengan destilasi air dapat dilakukan karena minyak atsiri tidak dapat bercampur dengan air, sehingga batas antara minyak dan air dapat terlihat dan diukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang ada pada simplisia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; kadar minyak atsiri = volume minyak atsiri yang terukur/bobot sampel x 100%&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;e. Uji cemaran mikroba&lt;br /&gt;- uji aflatoksin&lt;br /&gt;untuk mengetahi cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Aspergillus flavus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- uji angka lempeng total&lt;br /&gt;untuk mengetahui jumlah mikroba/ bakteri dalam sampel. Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^6 CFU/ gram&lt;br /&gt;- uji  angka kapang&lt;br /&gt;untuk mengetahui adanya cemaran kapang.Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^4 CFU/ gram.&lt;br /&gt;-Most probably number (MPN)&lt;br /&gt;untuk mengetahui seberapa banyak cemaran bakteri coliform( bakteri yang hidup di saluran pencernaan).&lt;br /&gt;3. Parameter spesifik&lt;br /&gt;Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia.Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilkukan dengan analisis kromatografi lapis tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anonim, 1985,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Cara Pembuatan Simplisia&lt;/span&gt;, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;Anonim, 1995, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Farmakope Indonesia edisi IV&lt;/span&gt;, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-1324766036856003586?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-14T23:21:32.889+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Contoh soal dan pembahasan AKTO</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/contoh-soal-dan-pembahasan-akto.html</link><category>Kuliah</category><category>Fitokimia</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:14:59 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-3895741569152934282</guid><description>Contoh soal :&lt;br /&gt;1. Suatu flavonoid memiliki Rf 0,4 pada fase gerak BAW dan berfluoresensi ungu gelap. Setelah dihidrolisis memiliki bercak yang berfluoresensi ungu gelap dengan Rf 0,9. Kesimpulan apakah yang dapat diambil???&lt;br /&gt;a. Tidak terjadi hidrolisis&lt;br /&gt;b. Flavonoid tersebut termasuk glikosida flavonol&lt;br /&gt;c. Flavonoid tersebut termasuk glikosida flavon&lt;br /&gt;d. Flavonoid punya molekul gula pada C-3&lt;br /&gt;e. Hanya B dan D yang benar&lt;br /&gt;2. Pita suatu glikosida flavonoid punya λmaks = 346nm yang berfluoresensi ungu gelap. Setelah ditambah AlCl3 ditambah HCl menjadi λmaks = 396nm. Selanjutnya setelah ditambah HCl tidak t&lt;br /&gt;terjadi pergeseran. Kesimpulannya adalah ???&lt;br /&gt;a. Gugus dihidroksi di benzoil&lt;br /&gt;b. Tidak ada gugus ortohidroksi di sinamoil&lt;br /&gt;c. Tidak ada gugus hidroksi karbonil&lt;br /&gt;d. Ada gugus hidroksi bebas pada C-3&lt;br /&gt;e. Jawaban a, b, c, dan d salah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Setelah dihidrolisis flavonoid pada soal di atas, aglikon memberikan fluoresensi kuning dengan λmaks = 360nm + AlCl3 bergeser λmaks = 407nm, dan penambahan HCl tidak mengalami pergeseran lagi. Bagaimanakah kesimpulannya???&lt;br /&gt;a. Gula terikat pada posisi 3&lt;br /&gt;b. Gula terikat pada posisi 5&lt;br /&gt;c. Gula terikat pada posisi 4’&lt;br /&gt;d. Gula terikat pada posisi 7&lt;br /&gt;e. Jawaban a, b, c, dan d salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan coba jawab sendiri, setelah itu cocokkan dengan kunci jawaban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;1. BAW = fase gerak alkoholik --&gt; aglikon lebih nonpolar, lebih tertarik oleh fase gerak, Rf lebih besar.&lt;br /&gt;Fluoresensi ungu gelap = ada gugus hidroksi bebas pada posisi C-5 &lt;br /&gt;Flavonoid tersebut merupakan flavon&lt;br /&gt;Jawaban : C&lt;br /&gt;2. Penambahan AlCl3 terjadi bathochromics ∆λ=50nm  --&gt; ada gugus hidroksi pada posisi C-5&lt;br /&gt;Penambahan HCl pada langkah selanjutnya tidak terjadi pergeseran panjang gelombang  --&gt; g’ ada gugus ortohidroksi pada kerangka sinamoil&lt;br /&gt;Jawaban : B&lt;br /&gt;3. Glikosida  --&gt; aglikon + gula &lt;br /&gt;Gula biasanya nempel pada gugus hidroksi baik pada posisi C-3, C-5, dan C-7&lt;br /&gt;Glikosida berfluoresensi ungu gelap  --&gt; ada gugus hidroksi bebas pada C-5, posisi C-3 ada gugus OR (R=gula)&lt;br /&gt;Aglikon berfluoresensi kuning  --&gt; ada gugus hidroksi bebas pada posisi C-3 dan C-5  --&gt; dibuktikan pula dg pergeseran bathochromics setelah dg  ∆λ&lt;50nm setelah penambahan AlCl3&lt;br /&gt;Berarti gula terikat pada posisi C-3&lt;br /&gt;Penambahan HCl tidak terjadi pergeseran panjang gelombang  --&gt; g’ ada gugus ortohidroksi pada posisi C-3’ dan C-4'&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-3895741569152934282?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-14T23:14:59.955+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aku Sang Pemimpi</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2010/01/aku-sang-pemimpi.html</link><category>resolusi</category><category>2010</category><category>diary</category><category>tahun baru</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sun, 03 Jan 2010 05:15:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-6198020243627604251</guid><description>yippiiiiiiiii..happy new year 2010:D&lt;br /&gt;Ditengahi bunyi terompet dan kembang api yang bertebaran di angkasa malam ini, begitulah euforia pesta tahun baru yang ku saksikan. Aku sendiri tidak hanyut dalam pesta seperti orang lain namun malam tahun baru kulewatkan hanya di kos. Agak malas keluar-keluar, pengen mengistirahatkan tubuh sejenak setelah berdjoeang melawan soal-soal responsi.fiuh..Lagi pula,bagiku makna tahun baru tidak harus ditandai dengan hingar-bingar seperti itu. Yang terpenting adalah bagaimana kita merencanakan apa yang ingin kita capai di tahun ini a.k.a resolusi. Yupp,, resolusi-resolusi inilah yang akan memotivasi kita menghadapi hidup sepanjang tahun ini. Di kala kita sedang lengah, kita akan kembali diingatkan kalau kita mempunyai tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah menonton video kisah seorang mahasiswa IPB yang berjudul -kalu tidak salah- jejak mimpi sukses. Di situ dia mengisahkan bahwa impian-impian yang dicapainya selama ini merupakan perwujudan mimpi-mimpinya yang ditulis di selembar kertas dan ditempel di dinding kamar. Dengan menuliskan mimpinya, dia berarti menguatkan terwujudnya mimpi-mimpinya. Aku jadi teringat buku-buku memotivasi seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the secret&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;law of attraction&lt;/span&gt; dan sang alkemis. Makna yang bisa diambil dari buku-buku tersebut intinya adalah bila kita benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh alam akan membantu kita meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini juga menginspirasi saya untuk mulai menuliskan bukan hanya mengangankan saja apa yang saya mimpikan. Bagi saya, resolusi untuk tahun 2010 ini antara lain:&lt;br /&gt;1. IP cumlaude&lt;br /&gt;2. Ikut kursus bahasa inggris--terutama meningkatkan komunikasi aktif bahasa inggris.huff_&lt;br /&gt;3. Mendapatkan beasiswa&lt;br /&gt;4. Lolos PKM&lt;br /&gt;5. Ikut proyek dosen&lt;br /&gt;6. Dapat tempat KKN yang di sekitaran jogja aja biar bisa ikut perbaikan.hehe&lt;br /&gt;7. Mulai menyicil skripsi&lt;br /&gt;8. Belajar bahasa jepang -otodidak..prioritas kursus untuk bahasa inggris dulu&lt;br /&gt;9. Ikut dan bisa menjuarai-amiin- lomba-lomba karya tulis ilmiah dsb. &lt;br /&gt;10.Menjadi asisten&lt;br /&gt;11.Belajar Desain grafis&lt;br /&gt;12. Konsisten mengurusin blog^0^&lt;br /&gt;13. Selalu update berita&lt;br /&gt;14. belajar renang:D&lt;br /&gt;15. belajar masak.xixxi..ketahuan selama ini cuma menjadi konsumen sejati&lt;br /&gt;16. Mencari tambahan uang saku^0^&lt;br /&gt;dst..&lt;br /&gt;bingung ne..apalagi ya..to be continued deh..hehe:D&lt;br /&gt;Hal-hal di atas resolusi tahun baruku yang utama..Kalaupun nanti ada yang ingin dicapai bisa ditambahkan. Memang penting kita mempunyai mimpi,, tapi yang terpenting kita tahu bagaimana meraih mimpi tersebut.cheeers..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-6198020243627604251?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-03T20:15:22.022+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Analisis Etil  Parametoksi Sinamat dari Rimpang Kencur</title><link>http://siskhana.blogspot.com/2009/12/analisis-etil-parametoksi-sinamat-dari.html</link><category>Kuliah</category><category>Fitokimia</category><category>Etil para metoksi sinamat</category><category>kaempferia galanga</category><author>noreply@blogger.com (siskha)</author><pubDate>Sun, 03 Jan 2010 03:48:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7801148134592474189.post-7533110962711259467</guid><description>Etil p-metoksi sinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur (Kaempferia Galanga L.) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air, dan heksana. Dalam ekstraksi suatu senyawa yang harus diperhatikan adalah kepolaran antara pelarut dengan senyawa yang diekstrak, keduanya harus memiliki kepolaran yang sama atau mendekati (Firdausi, 2009). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kencur (Kaempferia galanga L.; East-Indian Galangal), adalah &lt;br /&gt;terna aromatik yang tergolong kedalam famili Zingiberaceae (temutemuan).Adapun klasifikasi terna kencur sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kingdom  : Plantae&lt;br /&gt;Subkingdom  : Tracheobionta   &lt;br /&gt;Superdivisio  : Spermatophyta&lt;br /&gt;Divisi   : Magnoliophyta&lt;br /&gt;Kelas   : Liliopsida   &lt;br /&gt;Sub-kelas  : Commelinidae &lt;br /&gt;Ordo   : Zingiberales &lt;br /&gt;Familia  : Zingiberaceae&lt;br /&gt;Genus   : Kaempferia&lt;br /&gt;Spesies  : Kaempferia galanga  L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencur (Kaempferia galanga L.) banyak digunakan sebagai &lt;br /&gt;bahan baku obat tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan campuran saus rokok pada industri rokok kretek. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, sakit perut. Minyak atsiri didalam rimpang kencur mengandung etil sinnamat dan metil p-metoksi sinamat yang banyak digunakan didalam industri kosmetika dan dimanfaatkan sebagai obat asma dan anti jamur (Rostiana et al, 2005).&lt;br /&gt;Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Di dalam rimpang&lt;br /&gt;kencur terdapat banyak zat yang dapat dimanfaatkan.Kandungan senyawa kimia dari rimpang kencur antara lain minyak atsiri berupa sineol sebanyak 0.02%, asam metil kanil, pentadekana, ester etil sinamat, asam sinamat, borneol, kamfena, paraeumarina, asam anisat, alkaloid, gom mineral sebanyak 13.7% dan pati 4.14%.Kandungan minyak atsiri dalam rimpang kencur yaitu 2-4% yang terdiri dari etil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, npentadekana, borneol, kamfen, 3,7,7-trimetil bisiklo [4,1,0] hept-3-ena  (J.J. Afriastini, 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Etil  Parametoksi Sinamat dari Rimpang Kencur yang dilakukan meliputi karakterisasi pada : &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. Bentuk Kristal di bawah mikroskop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan membuat preparat Kristal dengan meneteskan aquades  pada  Kristal di atas objek gelas.Bentuk Kristal Etil p-sinamat di bawah mikroskop terlihat seperti padatan jarum-jarum  putih kecil yang tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/SzRrM6xGqvI/AAAAAAAAAFI/XkmSdYWbxNc/s1600-h/bentuk+kristal+edit.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/SzRrM6xGqvI/AAAAAAAAAFI/XkmSdYWbxNc/s200/bentuk+kristal+edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419074121311365874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2. Uji jarak lebur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uji jarak lebur menggunakan mikroskop khusus yang terdapat thermometer. Cara pengukuran jarak lebur dengan meletakkan gelas objek yang telah diberi Kristal di bawah lensa okuler mikroskop. Selanjutnya dilakukan pengamatan kapan Kristal etil p-sinamat meleleh. Dalam praktikum, Kristal  etil p-sinamat mempunyai jarak lebur 47 o- 48 o C tidak berbeda jauh dengan teori yang menyatakan jarak lebur Kristal etil p-sinamat 48-48,5 o C (Bachtiar,2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;3. Uji kelarutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan uji kelarutan terhadap berbagai pelarut dengan beragam kepolaran Petroleum eter (PE), etanol 95%, air. Hasil uji kelarutan menunjukkan bahwa Kristal Larut dalam PE  dengan berat Kristal 40,7 mg dalam 38 tetes, Larut dalam etanol dengan berat Kristal 102,4 mg dalam 58 tetes, Larut dalam PE  dengan berat Kristal 102,9 mg tidak larut  sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Kristal etil p-sinamat cenderung bersifat nonpolar sehingga lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar (Petroleum eter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Kromatografi Lapis Tipis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sistem kromatografi&lt;br /&gt;Fase diam Silika gel 60 F 254&lt;br /&gt;Fase gerak Toluol  100%&lt;br /&gt;Pembanding Pembanding Kencur ( senyawa murni etil parametoksi sinamat )&lt;br /&gt;Pereaksi semprot anisaldehid H2SO4;panaskan 105 o C   selama 5 menit&lt;br /&gt;Larutan uji berasal dari Kristal yang dilarutkan ke dalam etanol 95%. Setelah itu lalu plat dielusi dengan jarak pengembangan 8 cm.&lt;br /&gt;Lempeng silika yang dipakai merupakan lempeng silika gel yang memakai pengikat gypsum tanpa ada F254, artinya lempeng tersebut tidak akan berpendar bila dilihat dibawah sinar UV 254 nm. Hal ini disebabkan pengamatan akan dilakukan pada sinar UV 366nm. Digunakan fase gerak toluol karena berdasarkan literatur fase gerak inilah yang mampu mengelusi larutan uji dan pembanding dengan baik.&lt;br /&gt;Untuk deteksi digunakan pereaksi semprot anisaldehid asam sulfat yang dilanjutkan dengan pemanasan. Pereaksi semprot ini dipilih karena tujuan dari KLT adalah untuk mengidentifikasi ada tidaknya etil para metoksi sinamat dalam sampel, dan diharapkan dapat mengisolasinya dalam keadaan sebagai senyawa murni. Etil para metoksi sinamat merupakan minyak atsiri, dan anisaldehid asam sulfat adalah pereaksi yang baik untuk pengamatan minyak atsiri, zat pedas, zat pahit dan saponin. Tujuan dari pemanasan adalah mempercepat terjadinya reaksi antara sampel dengan pereaksi.&lt;br /&gt;Setelah dielusi lalu dilakukan pengamatan di bawah sinar UV 254 dan UV 366 nm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim1.2009. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ethyl p-methoxhy cinnamate-Compound summary&lt;/span&gt;,Diakses pada 17 Desember 2009 ,[www.pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/summary/summary.egi/cid=5281783]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim2. 1977. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Materia Medika Indonesia jilid I&lt;/span&gt;. Departemen Kesehatan RI : Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyar, 2009, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Isolasi etil-p-metoksi sinamat dari kencur (kaemferia galanga l.) dan sintesis asam p-metoksisinamat sintesis turunannya dan penetapan struktur&lt;/span&gt;, diakses 17 desember 2009, [http://asyharstf08.wordpress.com/2009/12/11/isolasi-etil-p-metoksi-sinamat-dari-kencur-kaemferia-galanga-l-dan-sintesis-asam-p-metoksisinamat-sintesis-turunannya-dan-penetapan-struktur/].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bachtiar, Ujang Yuyut , 2005, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Konversi Etil P-Metoksisinamat Menjadi Asam P Metoksisinamat Dengan Iradiasi Gelombang Micro Melalui Media Kalium Karbonat&lt;/span&gt;, Undergraduate Theses of Airlangga University, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdausi, Nur Indah., 2009, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Isolasi Senyawa Etil Para Metoksi Sinamat (Epms) dari Rimpang Kencur Sebagai Bahan Tabir Surya Pada Industri Kosmetik&lt;/span&gt;, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang, Malang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otih Rostiana, Rosita SMD, Mono Rahardjo dan Taryono, 2005, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Budidaya Tanaman Kencur&lt;/span&gt;, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika, Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7801148134592474189-7533110962711259467?l=siskhana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-03T18:48:44.389+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ent1DwzXArk/SzRrM6xGqvI/AAAAAAAAAFI/XkmSdYWbxNc/s72-c/bentuk+kristal+edit.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

