<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4135250174612056844</id><updated>2024-08-28T03:01:16.817-07:00</updated><category term="cinta"/><category term="prambors"/><category term="puisi"/><category term="radio"/><category term="surat"/><title type='text'>Kumpulan Cerita Ku</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://story-ku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story-ku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sampiran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04015442495670043323</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4135250174612056844.post-1487830455287490145</id><published>2007-11-02T18:10:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T18:14:58.003-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cinta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="surat"/><title type='text'>SESAAT SEBELUM DIA PERGI</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Matahari bersinar  sangat terik saat Icha beranjak pergi dari halte bus itu.&lt;br /&gt;“Mungkin bisnya mogok narik kali, neng,” ucap penjaga kios minuman di halte itu.&lt;br /&gt;“Masa sih mang? Khan bukannya kemaren tuh baru aja mogok narik?”tanya icha pada lelaki setengah baya itu.&lt;br /&gt;“Lha kalo belum dapet yang mereka mau ya pasti mogok lagi, neng,”&lt;br /&gt;“Iya ya,makasih ya mang. Saya pulang jalan kaki saja,”&lt;br /&gt;“Jalan kaki, neng? Memangnya rumah neng deket yah?”&lt;br /&gt;“Jauh seh.Tapi paling nanti cuman sampe perempatan didepan itu.Disana khan banyak bis lain,” kata icha sambil melangkah pergi. Lelaki setengah baya itu cuman mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya lagi.&lt;br /&gt;Icha hanya berpikir dia harus cepat pulang karena perutnya sudah kelaparan.&lt;br /&gt;Setelah cukup lama berjalan ke arah perempatan yang dimaksudkannya tadi, icha langsung mencari halte untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, icha langsung melempar tasnya dan langsung berjalan cepat ke dapur, mencari makanan.&lt;br /&gt;“Icha, tadi ada telepon dari Kiki!”teriak mamanya dari ruang tamu. Icha yang sudah siap menyendok nasi langsung diam tertegun.&lt;br /&gt;Lalu ia berteriak, “Yakin itu Kiki, ma?”&lt;br /&gt;“Iya kok, wong dia sempet cerita – cerita banyak hal ke mama.”&lt;br /&gt;“Dia minta kamu telpon dia kalo kamu sudah pulang,”sahut mamanya lagi. Icha masih diam. Icha berpikir bagaimana Kiki yang sudah hampir 5 tahun tidak kelihatan tiba – tiba menelpon ke rumahnya, ngobrol pula lagi sama mama.&lt;br /&gt;“Icha?”tanya mamanya.&lt;br /&gt;“Iya ma?”&lt;br /&gt;“Kok bengong gitu?”tanya mamanya yang tiba – tiba sudah ada disebelahnya.&lt;br /&gt;“Icha mau telpon dulu deh, ma,”jawab icha sambil setengah berlari ke ruang tamu.&lt;br /&gt;Masih setengah tidak percaya, icha memutar nomor telepon.&lt;br /&gt;“Halo?”tanya cowok diseberang sana.&lt;br /&gt;“Halo, bisa bicara dengan Kiki?”tanya icha pelan.&lt;br /&gt;“Icha ya? Ini kiki, cha!Lama banget deh loe pulang. Udah gue tungguin dari tadi tahu!”teriak suara itu yang perlahan menjadi sangat akrab di telinga icha. Icha kaget, tidak menyangka cowok itu benar - benar menunggu telponnya&lt;br /&gt;“Eh, kiki. Iya,ada apa yah?”&lt;br /&gt;“Ya ampun, non! Kok jadi formal getuh sih? Nyantai aja lagi.Gue kangen aja sama loe.”&lt;br /&gt;Icha masih kanget, bagaimana mungkin kiki bisa merindukan dirinya. Padahal….&lt;br /&gt;“ICHA!Kebiasaan deh loe.Bengong melulu.Gue pengen ketemu loe, non,”sahut kiki.&lt;br /&gt;“Iya iya.Rese deh, baru nongol udah ngeledekin gue!” sahut icha dengan penuh emosi.&lt;br /&gt;Icha bingung kenapa dia jadi emosian begini.&lt;br /&gt;“Nanti jam setengah empat aku ke rumahmu ya,”tanya kiki.&lt;br /&gt;“Setengah empat? Jangan dirumah. Di tempat biasa aja,”usul icha.Tempat biasa, pikir icha, tempat dulu dia dan kiki menghabiskan waktu bersama. Sebuah taman kecil di samping mesjid itu.&lt;br /&gt;“Ya udah,setengah empat di tempat biasa. Yang cantik ya!”sahut kiki riang. Mendengar suara kiki yang riang, icha tersenyum, membayangkan raut wajah bekas kekasihnya itu.&lt;br /&gt;“Iya kiki,”ucap icha pelan.&lt;br /&gt;“Ya udah, see you later dear,”ucap kiki sebelum dia menutup telponnya di seberang.&lt;br /&gt;Icha kaget lagi. Apa dia tidak salah dengar kiki mengucapkan dear, pikirnya.&lt;br /&gt;Aku salah denger kali, pikir icha sambil garuk – garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 3, icha sudah mematut-matut dirinya di depan cermin. Aku ingin tampak cantik didepan kiki, pikir icha riang.&lt;br /&gt;“Icha, kamu mau bertemu dengan kiki ya?”tanya mama yang sudah ada di depan pintu kamarnya.&lt;br /&gt;“Iya, ma”&lt;br /&gt;“Dia kangen sama kamu tuh,” mamanya tersenyum. Icha tersipu malu, lalu mamanya meninggalkannya melamun sendiri. Icha teringat saat dia pertama kali bertemu kiki di halaman kampusnya. Saat kiki yang idola kampus dengan wajah memerah menyapa dirinya. Saat kiki mengajaknya pacaran. Saat kiki….&lt;br /&gt;“Icha, bukannya kamu mau ketemu kiki? Telat ngak tuh?”teriak mamanya.&lt;br /&gt;Icha tersadar. Jam di dinding sudah  menunjukkan pukul tiga lewat 20 menit. Icha panik.&lt;br /&gt;Ia langsung mengambil dompetnya lalu tergopoh – gopoh keluar kamar.&lt;br /&gt;“Icha pamit dulu ya,ma!” teriak icha setelah ia diluar rumah.&lt;br /&gt;“Hati – hati, cha!”&lt;br /&gt;Di sepanjang perjalanan icha cuman memikirkan semoga ia tidak terlambat sampai di tempat itu.&lt;br /&gt;Sesampainya di taman itu, icha belum melihat sosok kiki. Dia menarik nafas, lalu duduk di tempat terdekat.&lt;br /&gt;“Icha!”teriak seseorang yang sudah ada di belakangnya. Icha menoleh.&lt;br /&gt;Melihat sosok yang hampir tak dikenalinya, icha menahan nafas.&lt;br /&gt;“Icha? Kok diem aja sih? Ngak suka liat aku ya?” tanya sosok itu. Icha masih terdiam, lalu tiba – tiba ia menangis dan memeluk sosok itu.&lt;br /&gt;“Kiki, kamu kemana aja sih? Lima tahun ngak ngabarin aku,” ucap icha dalam tangisnya. Kiki tertegun.&lt;br /&gt;“Aku kangen sama kamu tahu. Kamu tega banget ih ninggalin aku begitu aja.” Kiki tersenyum lalu membelai rambut icha yang pendek itu.&lt;br /&gt;“Maafin aku, cha. Aku pergi bukan tanpa alasan. Maaf,”ucap kiki.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu ninggalin aku, ki?”tanya icha masih sambil menangis. Kiki diam, lalu mendorong tubuh icha perlahan. Menatap icha dengan tatapan yang sama 5 tahun lalu.&lt;br /&gt;“Ki?”tanya icha khawatir.&lt;br /&gt;“Ngak apa – apa kok. Besok akan aku ceritakan ke kamu,” ucap kiki sambil menyeka air mata icha.&lt;br /&gt;“Sekarang aku cuman pengen melepas kangenku sama kamu. Aku janji besok akan aku ceritakan semuanya.Oke?”&lt;br /&gt;“Ya udah kalo itu yang kamu mau, ki,”jawab icha pelan. Icha duduk diikuti dengan kiki disampingnya.&lt;br /&gt;Tangan kiri kiki merangkul bahu mantan kekasihnya itu, sementara tangan kanannya merogoh sesuatu dari kantong celananya.&lt;br /&gt;Terlihat sebuah kotak beludru kecil berwarna biru kesukaan icha. Icha tersenyum, lalu bertanya, “Itu buat aku yah?”&lt;br /&gt;“Iya sayang. Buat kamu. Aku harap kamu suka,” kata kiki sambil membukanya.&lt;br /&gt;Tiba – tiba icha terpekik, “Itu benar – benar buat aku, ki?” tanyanya. Kiki mengangguk dan tersenyum.&lt;br /&gt;“Aku masih ingat kok, cha,”ucap kiki.&lt;br /&gt;Icha tak habis pikir. Kiki masih mengingat cincin perak bermata biru, tanda dia mengikat janji dengan kiki dahulu. Sebelum kiki pergi tanpa kabar.&lt;br /&gt;“Maaf,” ucap icha, “Aku pikir cincin itu sudah hilang saat aku lempar dahulu.”&lt;br /&gt;“Dulu, saat terakhir kita bertemu, saat kau marah – marah dan melempar cincin ini, aku sangat sedih. Dan saat kau pergi, aku langsung mencarinya berharap pada saat pertemuan berikutnya aku bisa mengembalikannya padamu,”&lt;br /&gt;“Maaf,”ucap Icha.&lt;br /&gt;“Tak disangka kita baru bertemu lagi 5 tahun kemudian,” ucap kiki sedih. Icha merasa jadi ingin menangis lagi. Kiki tahu itu, tangannya langsung membelai wajah mungil icha.&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu, cha,”&lt;br /&gt;“Aku juga sayang kamu, ki. Jangan pernah tinggalin aku lagi ya,” ucap icha.&lt;br /&gt;Kiki mengambil cincin itu dari kotak, dan mengenakannya ke jari manis yang pernah memakainya selama 3 tahun.&lt;br /&gt;“Jangan pernah lupakan bahwa aku sayang kamu, cha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamarnya icha masih asik melamunkan kejadian sore tadi. Singkat, tapi sangat indah. Icha memandangi cincin biru di jari manisnya itu.&lt;br /&gt;Masih terngiang – ngiang yang diucapkan kiki padanya. Kiki masih sayang padanya.&lt;br /&gt;Mungkin jika tanpa cincin biru itu, icha masih akan meragukan perasaan kiki padanya setelah ia meninggalkan icha selama 5 tahun.&lt;br /&gt;Icha juga masih ingat bagaimana kiki menciumnya tadi. Masih berbekas di bibirnya.&lt;br /&gt;“Icha, kamu belum makan malam khan. Sudah malam lho,” tanya mamanya dari balik pintu kamar icha.&lt;br /&gt;“Iya ma, sebentar lagi aku keluar,” jawab icha.&lt;br /&gt;Lalu icha bangkit keluar kamar, sementara telpon berdering. Icha yang saat itu di dalam dapur mendengar mamanya yang mengangkat telpon itu.&lt;br /&gt;Icha sempat mendengar nama kiki disebut mamanya. Takut, khawatir tiba – tiba menyelimuti perasaannya.&lt;br /&gt;Ya tuhan, semoga kiki baik – baik saja, ucap icha dalam hati.&lt;br /&gt;“Icha, sini sayang,”panggil mamanya. Icha makin takut.&lt;br /&gt;“Iya, ma,”sahut icha sambil menghampiri mamanya. Icha melihat mamanya tampak tenang. Mungkin tidak ada apa – apa, pikir icha.&lt;br /&gt;Icha duduk di samping mamanya.&lt;br /&gt;“Kamu ingat yogi khan?” tanya mamanya. Icha bingung, apa hubungan yogi dengannya.&lt;br /&gt;“Iya ma,”ucap icha bingung.&lt;br /&gt;“Tadi yogi telpon, mengabarkan kalau kiki ada di rumah sakit,”&lt;br /&gt;Icha panik. Kiki di rumah sakit, mana mungkin, tadi dia baik – baik saja, pikir icha, bohong pasti ini. Tapi mama tidak mungkin berbohong, pikir icha kembali.&lt;br /&gt;“Cha, yogi cerita tadi, kalau kiki sudah meninggal dunia,”mamanya menambahkan.&lt;br /&gt;Sesaat icha merasa waktu berhenti. Semua hanyalah mimpi belaka, pikir icha.&lt;br /&gt;Lalu semuanya menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, icha menemukan sepucuk surat di depan pintu kamarnya. Surat dengan tulisan icha di depan amplopnya.&lt;br /&gt;Dibukanya surat itu, berharap itu surat dari kiki, mengatakan bahwa kiki sehat – sehat saja.&lt;br /&gt;Icha membaca surat itu perlahan, lalu ia menangis sekeras – kerasnya. Berharap waktu kan berputar ke masa sesaat sebelum kiki pergi……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dear icha,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Mungkin pada saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Namun kini aku ingin menepati janjiku padamu, akan kujelaskan mengapa 5 tahun lalu aku harus meninggalkanmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Tepatnya seminggu sebelum kita bertengkar hebat, aku diberitahu oleh dokter tempat aku cek up dulu bahwa aku memiliki kanker. Maaf jika aku baru bisa memberitahumu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku bingung bagaimana harus memberitahumu, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Oleh karena itu, aku berusaha menyembuhkan penyakitku ini, aku pergi berobat tanpa kau ketahui. Berbagai macam pengobatan aku rasakan. Makanya saat kita bertemu lagi, aku sudah tidak seperti dulu lagi khan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku hanya ingin bersamamu selamanya, aku tidak ingin sakit lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Namun, kanker ini terlalu ganas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku sadar, mungkin waktuku tak akan lama lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Itulah mengapa aku kembali ke jakarta. Menemuimu lagi, walau entah untuk berapa lama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Aku hanya ingin bisa melihat wajahmu yang lucu itu sekali lagi. Aku ingin mendengar suaramu yang cempreng itu lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dan yang pasti, aku ingin mengatakan untuk terakhir kalinya, bahwa aku akan selalu menyayangimu dan mencintaimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Maaf jika aku tidak bisa ada disampingmu saat kau menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku hanya ingin kau berbahagia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kenanglah aku. Tapi jangan lupa bangkit  ya,cha! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Aku mencintaimu yang begitu tegar, ingat itu! Hidupmu harus berjalan kembali. Walau tanpa aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Jagalah ibumu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Janji ya cha, bahwa kau akan selalu tegar walau tanpa aku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Jalanilah hidupmu sampai bagianku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Tidak apa kau melupakanku suatu hari nanti, asalkan kau bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Hanya ingin kau bahagia selalu sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;I Love You always!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Yang akan selalu mencintaimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kiki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://story-ku.blogspot.com/feeds/1487830455287490145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/4135250174612056844/1487830455287490145' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/1487830455287490145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/1487830455287490145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story-ku.blogspot.com/2007/11/sesaat-sebelum-dia-pergi.html' title='SESAAT SEBELUM DIA PERGI'/><author><name>sampiran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04015442495670043323</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4135250174612056844.post-5274429906312824028</id><published>2007-11-02T18:05:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T18:09:39.440-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="prambors"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="puisi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="radio"/><title type='text'>SEMUA AKAN BAIK –BAIK SAJA</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kamarku tercintah, 5 hari sesudah valentine, menjelang siaran yudha habis.&lt;br /&gt;Dear diary,&lt;br /&gt;Met malem diarikuh tercintah juga. Hari ini tuh bisa dibilang hari yang gila deh. Banyak hal terjadi hari ini. Padahal semalem aku tuh ngak mimpi apa – apa. Wong aku tidurnya nyenyak kok. Ngak nyangka ajah kalo hari ini banyak kejadian. Dan aku pasti akan ceritain dengan lengkap buat kamu deh. Ngak usah takut ketinggalan cerita aku hari ini.&lt;br /&gt;Begini ceritanya,&lt;br /&gt;Pagi tadi pas aku bangun, tiba – tiba…&lt;br /&gt;“Jeniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Kesini kamu!” teriak papi mengagetkan aku. Aku langsung dengan cepat berlari ke ruang makan dimana semuanya sudah memasang tampang kesal.&lt;br /&gt; “Ada apa pi?”tanyaku pelan. Pasti gara – gara tagihan telpon itu, mati aku@%#$!&lt;br /&gt; “Lihat ini! Semuanya nomor yang sama!Kamu itu!” teriak papi lagi.&lt;br /&gt; “Iya nih, udah tahu telpon mahal sekarang,”sambar , kakakku Joe yang paling rese itu. Huh!&lt;br /&gt; “Nomor apaan sih pi?” aku pura – pura tidak tahu.&lt;br /&gt; “Ini!Lihat ini!”teriak papi menyodorkan berlembar lembar kertas padaku. Aku pura – pura membaca kertas – kertas itu.  &lt;br /&gt; “Kamu pikir papi ini pabrik uang yah!!!” Muka papi makin memerah. Aku pasti dihukum kali ini…&lt;br /&gt; “Ya bukan lha pi,” jawabku lemas. Aduh, aku pasti mati kali ini. Kak Joe juga tertawa – tawa saja di belakang papi. Sialan dia.&lt;br /&gt;“Papi nggak pernah melarang kamu telepon, tapi kira – kira dong. Ini nomor telpon siapa?” tanya papi mencoba sabar denganku. Aku diam takut bicara. Pasti kalau aku beritahu itu nomor telpon stasiun kesayanganku, bisa – bisa aku dilarang dengerin radio pula.&lt;br /&gt; “Itu nomor telpon stasiun radio kesayangan Jeni, pi!”teriak kak Joe.&lt;br /&gt;Aduh, kak Joe kok bilang sih. &lt;br /&gt;“Apa? Stasiun radio? Memangnya kamu pacaran sama penyiarnya yah sampai sebanyak ini?”tanya papi makin marah. Aku mengangguk saja. Berharap papi akan mereda.&lt;br /&gt;“Manda hanya suka ikut merespon acara di stasiun radio itu saja pa,”bela mama yang sedari tadi diam, “Sabar pa, ingat tekanan darahmu.”&lt;br /&gt;Huh, untung mama membelaku. Tidak seperti kak Joe.&lt;br /&gt;“Ya sudah, tapi papi tidak mau ini terulang lagi. Dan sebagai hukumannya, hari ini radio kamu papi SITA,”ucap papi mengejutkan aku. Tidak boleh dengerin radio? Hukuman apapun ngak apa – apa deh, asal jangan itu. Aku bisa mati bosanan kalau papi benar – benar menyita radioku.&lt;br /&gt; “Pi,” ucapku.&lt;br /&gt;“Tidak, papi sudah memutuskan!Ya sudah, kamu berangkat sekolah sana!Nanti terlambat lagi,”ucap papi menutup keputusan hukumanku.&lt;br /&gt;Aku langsung mengambil tas ku, dan berjalan gontai.&lt;br /&gt;Di depan tukang becak tua itu telah menungguku untuk mengantarkan aku ke sekolah.&lt;br /&gt;Tak habis pikir, papi kok bisa – bisanya menghukum aku dengan itu. Biasanya paling – paling aku disuruh menemani kakekku memancing. Huh, memancing memang membosankan, tapi lebih membosankan jika aku tidak bisa mendengarkan radio.&lt;br /&gt; “Sudah sampai, non,”kata tukang becak menyadarkanku.&lt;br /&gt; “Oh ya, ini uangnya mang,”jawabku sambil menyerahkan selembar lima ribuan.&lt;br /&gt;Lemas rasanya kakiku ini melangkah ke sekolah. Jadi malas banget, pikirku.&lt;br /&gt; “Jen, tebak tadi siapa yang nanyain kamu?”seru Icha sahabatku yang tahu tahu sudah ada di depanku. Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“A.L.D.O !!”serunya kembali. Aku yang tadi lemas, rasanya semangat lagi. Aldo, cowok keren di kelas sebelah itu menanyakan diriku.&lt;br /&gt;“Jenifer, kok kamu nggak diem aja sih?”tanya Icha bingung. Aku jadi bingung sendiri. Padahal Aldo itu gebetanku yang paling yahud, dan dia mencari aku. Tapi kenapa aku rasanya jadi datar begini. Tidak seperti kemarin kemarin...&lt;br /&gt; “Sumpah deh..kamu itu kesambet setan mana seh? Aku dicuekkin begini,” omel Icha.&lt;br /&gt; “Aih..maap maap, Cha! Aku lagi bete banget nih..”sahutku.&lt;br /&gt;“Kenapa lagi sih? Paling-paling tagihan telepon khan? Tiap bulan selalu sama tahu!! Dan tiap bulan pasti ada 1 hari kamu kesambet,”omel Icha.&lt;br /&gt;“Hahahahahahahaha!!! Icha kamu lucu banget!” kataku geli melihat tampangnya sohibku satu itu. Eh, tapi dia langsung makin cemberut mendengar tawaku.&lt;br /&gt; “Eit...eit...maap non. Habisan kamu lucu banget kalau ngomelin aku,” kataku.&lt;br /&gt; “Serah deh..tapi for your information only..Aldo itu nitip salam buat kamu,” sahut Icha  masih dengan gaya ngambeknya.&lt;br /&gt; “MALESSS!!!” sahutku kencang. &lt;br /&gt;Setelah itu bel berbunyi kencaaaaaang sekali. Tapi yang membuat aku sebal, bel itu ada di atas telingaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jeeeeeeeeeennnnniiiiiferrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!” teriak Icha  dari depan pintu kelasku. &lt;br /&gt;“Kamu ngak mau pulang yah? Udah sepi begini masih ngendon di kelas. Jangan-jangan kamu kesambet setan matematika itu yah!!”omel Icha.&lt;br /&gt; “Bukan getu, Cha. Aku bete banget nehh,” keluhku.&lt;br /&gt;“Lha kok makin bete sih? Kurang cukup yah si ganteng itu ngehibur kamu dengan senyumnya yang manis,” gurau Icha. Ganteng? Iya sih..matematika..dengan gurunya yang ganteng banget itu lumayan bikin aku terhibur. Tapi radio yang disita, bel bodoh yang membuatku tuli sepanjang kelas bahasa membuat aku ditertawakan sekelas, belum lagi tadi tiba-tiba aku ditinggal ke puncak sama keluargaku. Huh! Sebelll banget...rasanya sial terus hari ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sial sial....!!!”umpatku. Benar – benar sial aku hari ini, becak yang tadi kutumpangi jatuh ke selokan. Hanya gara – gara kaget lihat kucing melintas katanya. Rese..rese banget hari ini.&lt;br /&gt;Aku langsung mandi, membersihkan diri dari bau busuk itu...&lt;br /&gt;KRINGGGG!!!!!! Suara telepon nyaring.&lt;br /&gt; “Halo?”tanyaku segan. &lt;br /&gt; “Nona Jenifer Simatupang, jangan lupa kirim puisi kamu itu yah!” ucap suara cempreng di sebrang.&lt;br /&gt; “Iya ibu Icha...” jawabku.&lt;br /&gt; “Ya udah..dagh!” sahut Icha langsung menutup telponnya.&lt;br /&gt;Huh! Dasar Icha. Dia pikir aku lupa apa. Tentu saja aku akan kirim puisiku itu ke acaranya Yudha. Tapi, aku ingat ingat, hari ini khan aku tanpa radio. Bagaimana yah? Pikirku.&lt;br /&gt;Ah biarlah, aku nekat kirimkan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Yudha,&lt;br /&gt;Malam ini aku hanya ingin mengirimkan puisi ini untuk teman-teman, hope you’ll like it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINGGA NANTI&lt;br /&gt;Hujan turun membasahi bumi,&lt;br /&gt;Seakan hapuskan kesedihan,&lt;br /&gt;Hancurkan semua penderitaan&lt;br /&gt;Walau hanya sekejap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari bersinar &lt;br /&gt;Terangi semua jiwa&lt;br /&gt;Bimbing tiap hati yang tersesat&lt;br /&gt;Walau hanya sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan takut &lt;br /&gt;Jangan menangis&lt;br /&gt;Jangan bimbang&lt;br /&gt;Janganlah merasa kesepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karna aku kan selalu ada&lt;br /&gt;Walau hujan tak lagi turun&lt;br /&gt;Walau mentari tak lagi bersinar&lt;br /&gt;Hingga dunia tak lagi berputar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks&lt;br /&gt;-Luv-&lt;br /&gt;Jennifer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun kirimkan puisi itu. Feeling hopeless. Rasanya tidak seru kalau kirim puisi, tapi tidak bisa mendengarkannya dibacakan Yudha.&lt;br /&gt;TING TONG TING TONG TING TONG!!! Bel depan rumah berbunyi...&lt;br /&gt; “BI  IFA!!!!! Tolong bukain pintu depan!!! Siapa tahu papa pulang bi!” teriak aku.&lt;br /&gt; “Iya non!” sahut bi Ifa.&lt;br /&gt;Pokoknya kalau papa yang pulang, aku mau merajuk saja! Lihat saja, ini sudah jam 10 malam, acara Yudha sudah hampir setengah jalan...&lt;br /&gt;BOSANNNN!!!!!&lt;br /&gt;“Non, bukan bapak, tapi Mas Joe yang pulang,” ucap bi Ifa menjelaskan. Kak Joe? Mana mungkin dia mau pulang sendirian tanpa mama dan papa. Pasti bawa pacarnya..mentang-mentang tidak ada papa dan mama. Huh!&lt;br /&gt; “Kak Joe datang sama siapa? Sama pacarnya yang lenje itu yah? Si Indira?” tanyaku sebal.&lt;br /&gt; “Bukan non. Bibi tidak kenal teman-temannya itu,” jawab bi Ifa langsung ngeloyor ke dapur. &lt;br /&gt;“Yeee si bibi. Malah masuk ke dalam,” sahutku kesal. Kak Joe datang sapa siapa pula? Teman-temannya yang mana pula yah? Setahu aku teman-temannya tidak ada yang pernah datang malam malam begini...&lt;br /&gt;“Kak JOE!!!” Aku pun langsung keluar. Hah? Siapa itu? Aku tidak melihat jelas teman kak Joe itu, sepertinya baru kali ini.Mungkin teman baru kali yah. Pikirku ragu.&lt;br /&gt; “SURPRISE!!!” teriak Kak Joe.  Surprise? Surprise apaan? Bingung aku dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kamu tahu diary? Ternyata kak Joe datang bersama Imam Wibowo, wadyabala PRAMBORS yang paling ‘mature’ sambil membawakanku radio kesayanganku. Ternyata papa mengirimkan email ke catatan malam hari mengatakan ingin Delivery Service khusus untuk aku. Dan kamu tahu diary, ternyata aku salah menilai keluargaku. Mereka lebih perhatian daripada yang kusangka.&lt;br /&gt;Akhirnya kamu tahu, malam ini setelah mengalami kesialan seharian, ternyata radioku kembali, aku bisa juga ON AIR di acaranya Yudha dan bertemu Imam Wibowo. Senangnya hatiku, ternyata semua berakhir baik-baik saja.&lt;br /&gt;Kira kira besok ada kejutan apa lagi yah diary??Can’t wait for tommorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Nite-&lt;br /&gt;Jennifer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://story-ku.blogspot.com/feeds/5274429906312824028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/4135250174612056844/5274429906312824028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/5274429906312824028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/5274429906312824028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story-ku.blogspot.com/2007/11/semua-akan-baik-baik-saja.html' title='SEMUA AKAN BAIK –BAIK SAJA'/><author><name>sampiran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04015442495670043323</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4135250174612056844.post-1562830373955601043</id><published>2007-03-19T06:40:00.000-07:00</published><updated>2007-03-19T06:41:10.342-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>dsafasfasdfsdf</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://story-ku.blogspot.com/feeds/1562830373955601043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/4135250174612056844/1562830373955601043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/1562830373955601043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4135250174612056844/posts/default/1562830373955601043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story-ku.blogspot.com/2007/03/dsafasfasdfsdf.html' title=''/><author><name>sampiran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04015442495670043323</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>