<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" gd:etag="W/&quot;C0EDR3s7eSp7ImA9WhRaE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915</id><updated>2012-02-16T15:41:16.501+07:00</updated><category term="inspirasi" /><category term="catatan" /><category term="puisi" /><category term="cerita" /><title>.:tridi-zone:.</title><subtitle type="html">hanya sebuah cerita harian seorang tridi</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/tridizone" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="tridizone" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">tridizone</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;DEEEQHs7eCp7ImA9WhRaE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-639406244870484870</id><published>2012-02-16T08:28:00.004+07:00</published><updated>2012-02-16T08:43:21.500+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-16T08:43:21.500+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita" /><title>Be my valentine</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-SAF1v2WixcE/TyipX8wQAgI/AAAAAAAAAIU/45bPbRu-zfo/s1600/SMS+Valentine.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 272px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-SAF1v2WixcE/TyipX8wQAgI/AAAAAAAAAIU/45bPbRu-zfo/s1600/SMS+Valentine.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tell me whom you love and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will tell you who you are&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Will you be my valentine?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, lho, ketangkap sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedubrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat. Pendek saja isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tell me whom you love and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will tell you who you are&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Will you be my valentine?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronnie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke, deh!” sahut Meti mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa?!” dia nyaris tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti melangkah gontai ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa, Met?” kejar Mamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lho?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kok gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;sumber : http://amatureboyz.wordpress.com/2010/04/06/be-my-valentine/&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-639406244870484870?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/639406244870484870/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/be-my-valentine.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/639406244870484870?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/639406244870484870?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/be-my-valentine.html" title="Be my valentine" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-SAF1v2WixcE/TyipX8wQAgI/AAAAAAAAAIU/45bPbRu-zfo/s72-c/SMS+Valentine.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MERnc9eSp7ImA9WhRaEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-6909830858023102797</id><published>2012-02-14T07:58:00.002+07:00</published><updated>2012-02-14T08:03:27.961+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-14T08:03:27.961+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</title><content type="html">&lt;a href="http://amatureboyz.files.wordpress.com/2011/12/love1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 301px;" src="http://amatureboyz.files.wordpress.com/2011/12/love1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kata yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan kepada air yang menjadikannya tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://amatureboyz.wordpress.com/2010/04/08/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana-2/&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-6909830858023102797?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/6909830858023102797/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6909830858023102797?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6909830858023102797?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html" title="Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4BQ30-cCp7ImA9WhRaEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-1635743772766814526</id><published>2012-02-13T08:01:00.000+07:00</published><updated>2012-02-13T08:02:32.358+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-13T08:02:32.358+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="puisi" /><title>Puisi rindu</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HU3VGHhdmGs/Tbpb21QHw1I/AAAAAAAAAHI/2hyfXZqzGak/s1600/kerinduan%2Bprabandari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 350px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HU3VGHhdmGs/Tbpb21QHw1I/AAAAAAAAAHI/2hyfXZqzGak/s1600/kerinduan%2Bprabandari.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !&lt;br /&gt;Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas&lt;br /&gt;Aku masih disini…. Aku masih ada…&lt;br /&gt;Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati&lt;br /&gt;Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi&lt;br /&gt;Tuk menulis tentang hati…&lt;br /&gt;Dalam sebentuk puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya aku tak pernah sempat&lt;br /&gt;Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat&lt;br /&gt;Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat&lt;br /&gt;Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekali lagi di pagi ini&lt;br /&gt;Kerinduan pada puisi kembali menjadi&lt;br /&gt;Curahan hatiku dalam sebentuk puisi&lt;br /&gt;Semoga esok aku bisa segera kembal&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-1635743772766814526?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/1635743772766814526/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/puisi-rindu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/1635743772766814526?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/1635743772766814526?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/puisi-rindu.html" title="Puisi rindu" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-HU3VGHhdmGs/Tbpb21QHw1I/AAAAAAAAAHI/2hyfXZqzGak/s72-c/kerinduan%2Bprabandari.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04GQXk5eSp7ImA9WhRaEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-3745205275624987736</id><published>2012-02-12T19:41:00.004+07:00</published><updated>2012-02-13T21:05:20.721+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-13T21:05:20.721+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Bola mana yang dipilih?</title><content type="html">&lt;a href="http://ilmuphotoshop.com/wp-content/uploads/2009/10/bola-kristal14.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 595px; height: 396px;" src="http://ilmuphotoshop.com/wp-content/uploads/2009/10/bola-kristal14.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brian Dyson, mantan CEO Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. Katanya, "Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dengan empat bola di udara.&lt;br /&gt;Kita bisa menamai bola-bola itu dengan sebutan:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- Pekerjaan&lt;br /&gt;- Keluarga&lt;br /&gt;- Kesehatan&lt;br /&gt;- Sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun situasi mengharuskan Anda melepaskan salah satu di antara empat bola tersebut, lepaskanlah "pekerjaan" karena pekerjaan adalah BOLA KARET.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Anda menjatuhkan nya, suatu saat ia akan melambung kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiga bola lain seperti Keluarga, Kesehatan dan Sahabat adalah BOLA KACA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola karet).&lt;br /&gt;Bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan dan sahabat demi menyelamatkan bola karet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;- Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga,&lt;br /&gt;- Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan,&lt;br /&gt;- Demi uang atau pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti pekerjaan tidak penting! Tapi jangan sampai uang atau pekerjaan menjadi "berhala" dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, kalaupun kita kehilangan, uang selalu bisa dicari lagi.&lt;br /&gt;Tapi jika keluarga sudah "terjual", ke mana kita bisa membelinya lagi?&lt;br /&gt;Apakah kita bisa membeli sahabat?&lt;br /&gt;Apakah kesehatan kita bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marii kita jaga agar prioritas hidup kita tetap seimbang..&lt;br /&gt;Have a WonderfuL Monday all :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://devilzc0de.org/forum/thread-13092.html&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-3745205275624987736?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/3745205275624987736/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/brian-dyson-mantan-ceo-coca-cola-pernah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/3745205275624987736?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/3745205275624987736?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/brian-dyson-mantan-ceo-coca-cola-pernah.html" title="Bola mana yang dipilih?" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQGRXoyfip7ImA9WhRbGEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-7554668314655324955</id><published>2012-02-10T10:53:00.002+07:00</published><updated>2012-02-10T10:58:44.496+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-10T10:58:44.496+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="puisi" /><title>Mengapa satu hati</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lR5gHg4UndE/TcF3gkLHu4I/AAAAAAAAByY/SV7fLSsywVI/s200/Satu+Hati.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 184px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-lR5gHg4UndE/TcF3gkLHu4I/AAAAAAAAByY/SV7fLSsywVI/s200/Satu+Hati.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Tuhan menciptakan kita dengan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki. Keduanya saling tolong menolong, jika salah satu diantaranya hilang (cacat), maka yang lainnya akan merasa sedih dan susah. Begitu juga dengan diriku,,, sedih akan kehilangan dirimu. Jadi, berusahalah untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Terkadang kita selalu lalai untuk bersyukur pada-Nya. Itulah manusia,,,&lt;br /&gt;Lupa akan jati dirinya,,,&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang kita pikirkan hanya kesenangan semata,,,&lt;br /&gt;Namun, kesedihan yang dialami orang lain kita abaikan,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa,,,&lt;br /&gt;Mengapa kita sekeji itu,,,&lt;br /&gt;Mengapa kita tega melakukan hal itu,,,&lt;br /&gt;Pikir, cobalah untuk berpikir,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku masih bingung,,,&lt;br /&gt;Bingung mencari jawaban,,,&lt;br /&gt;Mengapa tuhan hanya menciptakan Satu Hati buat kita,,,&lt;br /&gt;Mengapa kita tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Q merenung,,,&lt;br /&gt;Sejauh mata memandang,,,&lt;br /&gt;Dengan pikiran yang terkuras,,,&lt;br /&gt;Dengan renungan hati yang paling dalam,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, semenjak Q mengenal dirimu, Q telah menemukan jawaban itu,,, Q merasa bersyukur, karena dirimulah yang telah memberikan Inspirasi,,, Sehingga diriku bisa menemukan jawaban dari kebimbangan Q selama ini, dirimulah yang telah memberi sejuta harapan sehingga kini diriku merasa senang dan ceria kembali,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku hanya seorang insan yang menumpang kegembiraan. Hadapi setiap kehidupan ini dengan Senyuman,,, Berikan senyum manismu kepada dunia,,, Tunjukkan bahwa kita masih bisa tersenyum dalam kesedihan,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source » http://www.wakrizki.net/2011/05/mengapa-satu-hati.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-7554668314655324955?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/7554668314655324955/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/mengapa-satu-hati.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/7554668314655324955?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/7554668314655324955?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/mengapa-satu-hati.html" title="Mengapa satu hati" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-lR5gHg4UndE/TcF3gkLHu4I/AAAAAAAAByY/SV7fLSsywVI/s72-c/Satu+Hati.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQNRXo9eCp7ImA9WhRaE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-9207666199570864484</id><published>2012-02-05T09:01:00.004+07:00</published><updated>2012-02-16T08:39:54.460+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-16T08:39:54.460+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita" /><title>Aku mencintaimu</title><content type="html">Kisah Perjalanan Cinta yang Mengharukan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu butuh kesabaran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan kami sederhana namun meriah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &amp; mapan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu &amp; adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang &amp; malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sibuk membersihkan &amp; mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih baik kau pulang saja, ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &amp; cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya &amp; menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu &amp; adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu sudah siap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun dilarikan ke rumah sakit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan tanganku basah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dihina oleh mereka ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diusir dari rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak boleh merawat suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat marah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau sakit hati lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Maha Adil..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus sadar diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah.. aku masih tak rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku harus ikhlas menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ajal ini menjemputku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah.. aku kangen ayah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda akan selalu hidup dihati ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah Ayah disana Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Sayang Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-9207666199570864484?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/9207666199570864484/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/aku-mencintaimu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/9207666199570864484?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/9207666199570864484?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/aku-mencintaimu.html" title="Aku mencintaimu" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8HSXs6eip7ImA9WhRbGEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-3177439495601688459</id><published>2012-02-05T03:29:00.003+07:00</published><updated>2012-02-10T11:07:18.512+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-10T11:07:18.512+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="puisi" /><title>Berpisah</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_qPJLeTTpCv0/TQm755FS5PI/AAAAAAAAABg/qsnmdKogceQ/s1600/berpisah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 260px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qPJLeTTpCv0/TQm755FS5PI/AAAAAAAAABg/qsnmdKogceQ/s1600/berpisah.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara&lt;br /&gt;Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang&lt;br /&gt;Masih kudapatkan dan kurasakan&lt;br /&gt;Curahan  rahmat dan berbagai ni'mat&lt;br /&gt;Yang kerap Kau berikan&lt;br /&gt;Tapi bila tiba waktu berpisah&lt;br /&gt;Pantaskah kumemohon diri&lt;br /&gt;Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku&lt;br /&gt;Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai&lt;br /&gt;Masih kudapatkan dan kurasakan&lt;br /&gt;Keramaian suasana dan ketenangan jiwa&lt;br /&gt;Tapi bila tiba waktu berpisah&lt;br /&gt;Akankah kupergi seorang diri&lt;br /&gt;Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku&lt;br /&gt;Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti&lt;br /&gt;Masih bisa kumenghibur diri&lt;br /&gt;Tubuhku kan bersih dan  esok kan lebih baik&lt;br /&gt;Tanpa sebersit keraguan &lt;br /&gt;Tapi bila tiba waktu berpisah&lt;br /&gt;Masih adakah kesempatan bagiku&lt;br /&gt;Tuk membersihkan jiwa dan hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan&lt;br /&gt;Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan&lt;br /&gt;Masih kudengar dan kurasakan&lt;br /&gt;Suara-suara yang menghibur&lt;br /&gt;Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal&lt;br /&gt;Tapi bila tiba waktu berpisah &lt;br /&gt;Adakah yang akan menghiburku&lt;br /&gt;Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-3177439495601688459?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/3177439495601688459/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/berpisah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/3177439495601688459?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/3177439495601688459?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/berpisah.html" title="Berpisah" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_qPJLeTTpCv0/TQm755FS5PI/AAAAAAAAABg/qsnmdKogceQ/s72-c/berpisah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcDSX0_fCp7ImA9WhRbGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-5469569808174591305</id><published>2012-02-05T03:04:00.004+07:00</published><updated>2012-02-11T19:24:38.344+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-11T19:24:38.344+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>Wahai Ayah Aku Ingin Membeli Waktumu 1 Jam Saja</title><content type="html">&lt;a href="http://catatansizuki.files.wordpress.com/2012/01/cerpen-ayah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://catatansizuki.files.wordpress.com/2012/01/cerpen-ayah.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di dekat pintu rumah, Ia dapati anak lelakinya yang masih kecil tengah menanti kedatangannya. Sang Anak mulai bertanya, ” Ayah, bolehkah aku tanya sesuatu?”. Sang Ayah menjawab : “Tentu Nak, silahkan bertanya”. Sang Anak melanjutkan, “Berapa penghasilan ayah, bekerja selama satu jam ?”.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Sang Ayahpun marah dan berkata, “Bukan urusanmu! Apa yang membuatmu mengutarakan pertanyaan tidak sopan semacam itu?”. “Sekedar ingin tahu ayah” Jawab Sang Anak. “Kumohon ayah, beritahukan kepadaku berapa penghasilan ayah bekerja selama satu jam “, pintanya sekali lagi. Akhirnya Sang Ayah mengatakan ” Baiklah, kalau engkau terus bertanya, akan aku jawab. Aku mendapatkan dua dinar untuk pekerjaan selama satu jam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah ayah mau meminjamkan untukku, barang satu dinar saja?” Sang Anak kembali bertanya. “Engkau bertanya berapa penghasilanku selama satu jam, untuk minta satu dinar yang akan kau belikan mainan dan makanan, pergi ke kamar dan tidur! Aku bekerja sepanjang hari menempuhi waktu yang melelahkan, tidak ada waktu lagi untuk meladenimu!” Jawab Sang ayah kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak tak berucap sepatah kata pun, matanya mulai mulai berkaca-kaca lalu meneteskan air mata. Iapun segera beranjak kekamarnya. Beberapa saat kemudian Sang Ayah merenungi apa yang baru saja terjadi, dirasanya ia terlalu kasar dan mulai berpikir barang kali anaknya memang benar membutuhkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia mendatang kamar Sang Anak. Setelah membuka pintu, iapun bertanya, “Sudah tidurkah engkau nak?”. “Belum ayah, aku masuh belum tidur” jawab sang Anak. ” Barangkali tadi aku terlalu kasar kepadamu. Hari ini aku merasa amat penat dan letih sangat. Ambilah uang yang kau pinta ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Sang Anak amatlah bersuka cita. Akan tetapi Sang Ayah kemudian terkejut ketika melihat anaknya mengambil uang satu dinar lagi dari bawah bantalnya, menyatukan dan meletakkan kedua keping dinar itu dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Nada emosi ia kembali bertanya, “Mengapa engkau meminta satu dinar, sedang engkau masih memiliki uang?” Sang anak menjawab,”Tadi, Uang yang kupunya masih belum mencukupi. Tapi kini aku punya dua dinar, aku ingin membeli satu jam saja dari waktu ayah, untuk kita gunakan bersama-sama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diterjemahkan secara bebas banget (maklum, sudah malam)&lt;br /&gt;original by Saber Omri&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-5469569808174591305?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/5469569808174591305/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/wahai-ayah-aku-ingin-membeli-waktumu-1.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/5469569808174591305?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/5469569808174591305?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/wahai-ayah-aku-ingin-membeli-waktumu-1.html" title="Wahai Ayah Aku Ingin Membeli Waktumu 1 Jam Saja" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYMQnc4fSp7ImA9WhRbGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-6708083736942322022</id><published>2012-02-05T02:40:00.003+07:00</published><updated>2012-02-11T19:26:23.935+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-11T19:26:23.935+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>Izinkan aku menciummu ibu</title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oKGzgUH27Lw/TbtcvX7BYQI/AAAAAAAAHco/VIzk4SLH81Y/s1600/ibu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oKGzgUH27Lw/TbtcvX7BYQI/AAAAAAAAHco/VIzk4SLH81Y/s1600/ibu.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sewaktu masih kecil&lt;/span&gt;, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.&lt;br /&gt;Kini, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;setelah dewasa&lt;/span&gt; aku mengerti kenapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.&lt;br /&gt;Saat pertama kali aku masuk sekolah di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Taman Kanak-Kanak&lt;/span&gt;, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.&lt;br /&gt;Kini, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;setelah aku besar&lt;/span&gt;, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.&lt;br /&gt;Di usiaku yang menanjak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;remaja&lt;/span&gt;, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.&lt;br /&gt;Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.&lt;br /&gt;Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selepas SMA&lt;/span&gt;, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Usai wisuda sarjana&lt;/span&gt;, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hari pernikahanku&lt;/span&gt;, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.&lt;br /&gt;Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.&lt;br /&gt;“Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak”&lt;br /&gt;NB : ini adalah artikel yang aku baca, kemudian aku copas &lt;a href="http://tridizone.blogspot.com"&gt;di sini&lt;/a&gt;, sumbernya &lt;a href="http://situslakalaka.blogspot.com/2011/05/izinkan-aku-menciummu-ibu.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-6708083736942322022?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/6708083736942322022/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/izinkan-aku-menciummu-ibu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6708083736942322022?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6708083736942322022?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/izinkan-aku-menciummu-ibu.html" title="Izinkan aku menciummu ibu" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-oKGzgUH27Lw/TbtcvX7BYQI/AAAAAAAAHco/VIzk4SLH81Y/s72-c/ibu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUUDQnkyfCp7ImA9WhRbGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-1517885404356129522</id><published>2012-02-05T02:27:00.004+07:00</published><updated>2012-02-11T19:27:53.794+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-11T19:27:53.794+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>Terima Kasih Ayah</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5wxa5iAMpg8/TbtkgAGHhCI/AAAAAAAAHc4/2X8BZqiA6MY/s1600/ayah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 272px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5wxa5iAMpg8/TbtkgAGHhCI/AAAAAAAAHc4/2X8BZqiA6MY/s1600/ayah.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payah-nya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobilsport, Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.&lt;br /&gt;Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci!&lt;br /&gt;Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Buku yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yah… Ayah memang sangat mencintai saya, tapi dengan semua uang ayah, ayah hanya membelikan Buku ini untukku?”&lt;br /&gt;Dia membanting Buku itu lalu lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Rumahnya besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.&lt;br /&gt;Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendirian. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya dia pada anaknya.&lt;br /&gt;Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam. Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.&lt;br /&gt;Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Buku itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Buku itu dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Buku itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Sampai kapanpun kamu adalah anak ayah, terimakasih sudah memberikan yang terbaik buat ayah”&lt;br /&gt;Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Buku itu. Dia memungutnya, ….sebuah kunci mobil!&lt;br /&gt;Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, persis sama dengan dealer mobilsport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Buku itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.&lt;br /&gt;Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu.&lt;br /&gt;Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.&lt;br /&gt;Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati. Ayah, maafkan anakmu yah, dan terimakasih atas hadiahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://situslakalaka.blogspot.com/2011/05/ayah-terimakasih-atas-hadiahnya.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-1517885404356129522?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/1517885404356129522/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/terima-kasih-ayah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/1517885404356129522?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/1517885404356129522?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/terima-kasih-ayah.html" title="Terima Kasih Ayah" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-5wxa5iAMpg8/TbtkgAGHhCI/AAAAAAAAHc4/2X8BZqiA6MY/s72-c/ayah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUQCQX0ycCp7ImA9WhRbGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-8309285775162560312</id><published>2012-02-05T00:31:00.005+07:00</published><updated>2012-02-11T19:29:20.398+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-11T19:29:20.398+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>Lelaki biasa dengan cinta yang luar biasa</title><content type="html">MENJELANG hari nikah, Winda masih sukar mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Setelah melihat ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sedar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ternyata sama herannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?? tanya mereka di hari Winda mengantarkan surat undangan.&lt;br /&gt;Saat itu teman-teman baik Winda sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pipi Winda bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Winda terbuka.&lt;br /&gt;Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Winda yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Winda menyampaikan keinginan Firly untuk melamarnya. Arisan keluarga Winda dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu pasti bercanda!?. Winda kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Winda menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Winda bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Winda yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Winda!? Winda serius!? tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika firly memang melamarnya. Tidak ada yang lucu,? suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!? Winda tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Winda tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Winda tidak serius dengan Firly, kan?? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?? Winda terkesima Kenapa?" Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Winda sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winda memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata kenapa? yang barusan Winda lontarkan. Winda Cuma mau Firly, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Firly. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.Parah. Tapi kenapa?? Sebab Firly cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Winda mencoba membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Winda!? Cukup! Winda menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Winda lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Firly. Barangkali karena Winda memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Firly tampak ?luar biasa?. Winda Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Winda menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Firly. Disampingnya Winda bahagia. Mereka akhirnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun pernikahan.&lt;br /&gt;Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Winda, apa sebenarnya yang dia lihat dari Firly. Jeleknya, Winda masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Firly agar tampak di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winda hanya merasakan cinta begitu besar dari Firly, begitu besar hingga Winda bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Winda. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Firly pada Winda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suara Winda tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Winda hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.?Win, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!. ?Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!.Winda merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Firly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Firly juga tidak jelek, Kak!.Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar!.Tidak sepintarmu, Winda. Firly juga sukses, pekerjaannya lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lumayan, Winda. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Firly. Lagi-lagi percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat hidupmu, Winda. Lalu lihat Firly! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teganya kakak-kakak Winda mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Winda dan Firly sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Firly bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Winda lebih dari cukup untuk hidup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak apa, kata lelaki itu, ketika Winda memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.&lt;br /&gt;Gaji Winda cukup, maksud Winda jika digabungkan dengan gaji Abang.&lt;br /&gt;Winda tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.&lt;br /&gt;Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengelus pipi Winda dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Winda cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Winda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Winda di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Winda besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Winda memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!&lt;br /&gt;Bisik-bisik masih terdengar, setiap Winda dan Firly melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Winda, bisik Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya!.Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Winda belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Winda masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Winda mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Firly melukai hati Winda, atau membuat Winda menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Winda tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Winda. Harus segera dikeluarkan!.Mula-mula dokter kandungan langganan Winda memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Winda. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Firly tidak beranjak dari sisi tempat tidur Winda di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Winda belum satu pun yang datang Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Winda tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Winda per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. "Baru pembukaan satu."."Belum ada perubahan, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.&lt;br /&gt;Winda dan Firly berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh jam berlalu. Winda baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. "Masih pembukaan dua, Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firly tercengang. Cemas. Winda tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang?".Firly termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. "Dokter?" ."Kita operasi, Win. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin".Firly dan Winda berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?. Bagaimana jika terlambat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, Winda berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Firly tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan dilakukan, Winda digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Winda merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.&lt;br /&gt;Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Firly bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar, Firly dan keluarga Winda mendekat.&lt;br /&gt;?Pendarahan yang cukup besar.?.Firly membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mereka selamat, tapi Winda dalam kondisi kritis. Mama Winda yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Winda menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Firly seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Winda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu lebih Winda koma. Selama itu Firly bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Winda dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Winda terkadang ikut menunggui Winda di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Winda dengan Firly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Firly bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, dedikasi Firly terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Firly menjaga Winda siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Winda yang terbaring di ruang ICU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firly percaya meskipun tidak mendengar, Winda bisa merasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;"Winda, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Firly masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Winda sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Winda ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, "Winda, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam penantian dilewatkan Firly dalam sujud dan permohonan. Asalkan Winda sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Winda, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Firly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Winda. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Firly tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Winda lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Winda sudah tidur terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketigapuluh tujuh doa Firly terjawab. Winda sadar dan wajah penat Firly adalah yang pertama ditangkap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan telah begitu lama. Firly menangis, menggenggam tangan Winda dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan air mata yang jatuh. Asalkan Winda sadar, semua tak penting lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winda membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Winda selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Winda, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Winda ke teras, melihat senja datang sambil memangku Winda seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam Firly mendandani Winda agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Winda selalu merasa cantik. Meski seringkali Winda mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Firly dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Winda, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Firly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu Firly mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.&lt;br /&gt;Selama itu pula dia selalu menyertakan Winda. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Winda harus ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak, seperti juga Firly, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Winda. Begitu bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu Winda sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Firly yang berkeringat mendorong kursi roda Winda ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Winda menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Winda tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik banget suaminya!"&lt;br /&gt;"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"&lt;br /&gt;"Winda beruntung!"&lt;br /&gt;"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."&lt;br /&gt;"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"&lt;br /&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.&lt;br /&gt;Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Winda makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah. Sangat salah. Winda menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras Winda menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Winda menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Winda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Original from shamus&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-8309285775162560312?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/8309285775162560312/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/lelaki-biasa-dengan-cinta-yang-luar.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/8309285775162560312?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/8309285775162560312?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/lelaki-biasa-dengan-cinta-yang-luar.html" title="Lelaki biasa dengan cinta yang luar biasa" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkYDSHk_fyp7ImA9WhRaEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-6530842210127827829</id><published>2012-02-05T00:27:00.002+07:00</published><updated>2012-02-12T10:42:59.747+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-12T10:42:59.747+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspirasi" /><title>hari ke 100</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bcrdTDdbf1U/TdplGifaEKI/AAAAAAAACwE/NUMFx-PrkRM/s1600/one+hundred.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 460px; height: 360px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-bcrdTDdbf1U/TdplGifaEKI/AAAAAAAACwE/NUMFx-PrkRM/s1600/one+hundred.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa memelakukan apapun,&lt;br /&gt;hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik&lt;br /&gt;bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi&lt;br /&gt;waktu denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua&lt;br /&gt;saja yang tidak punya pasangan sekarang."&lt;br /&gt;(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"&lt;br /&gt;Peter: "Eh? permainan apaan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi&lt;br /&gt;pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter: "Baiklah.... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan&lt;br /&gt;ke depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya.... semangat dong! hari ini akan&lt;br /&gt;jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen&lt;br /&gt;deh. katanya film itu bagus"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke&lt;br /&gt;karaoke ya...&lt;br /&gt;ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter : "Boleh juga..."&lt;br /&gt;(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang&lt;br /&gt;malam harinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 2:&lt;br /&gt;Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,&lt;br /&gt;suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati&lt;br /&gt;mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah&lt;br /&gt;kalung perak berliontin bintang untuk Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 3:&lt;br /&gt;Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat&lt;br /&gt;Peter.&lt;br /&gt;Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli&lt;br /&gt;sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di&lt;br /&gt;foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai&lt;br /&gt;berpegangan tangan untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 7:&lt;br /&gt;Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena&lt;br /&gt;tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina&lt;br /&gt;dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 25:&lt;br /&gt;Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri,&lt;br /&gt;langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka&lt;br /&gt;duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan&lt;br /&gt;suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan&lt;br /&gt;melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 41:&lt;br /&gt;Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan&lt;br /&gt;kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam&lt;br /&gt;hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu&lt;br /&gt;menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang&lt;br /&gt;tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 67:&lt;br /&gt;Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan&lt;br /&gt;mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear&lt;br /&gt;untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 72:&lt;br /&gt;Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.. Tina&lt;br /&gt;penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.. Sang peramal hanya&lt;br /&gt;mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu&lt;br /&gt;meneteskan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 84:&lt;br /&gt;Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi&lt;br /&gt;karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan&lt;br /&gt;berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya&lt;br /&gt;pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan&lt;br /&gt;mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 99:&lt;br /&gt;Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.&lt;br /&gt;Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15:20 pm&lt;br /&gt;Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar.."&lt;br /&gt;Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu&lt;br /&gt;mau minum apa?"&lt;br /&gt;Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari&lt;br /&gt;ini. Sebentar ya"&lt;br /&gt;Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta&lt;br /&gt;selalu macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15:30 pm&lt;br /&gt;Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.&lt;br /&gt;Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah&lt;br /&gt;panik.&lt;br /&gt;Peter : "Ada apa pak?"&lt;br /&gt;Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu&lt;br /&gt;adalah temanmu"&lt;br /&gt;Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.&lt;br /&gt;Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak&lt;br /&gt;tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.&lt;br /&gt;Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.&lt;br /&gt;Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23:53 pm&lt;br /&gt;Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih&lt;br /&gt;bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan&lt;br /&gt;surat ini dalam kantung bajunya."&lt;br /&gt;Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia&lt;br /&gt;segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi&lt;br /&gt;terlihat damai.&lt;br /&gt;Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan&lt;br /&gt;erat.&lt;br /&gt;Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat&lt;br /&gt;dalam di hatinya.&lt;br /&gt;Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.&lt;br /&gt;Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Peter...&lt;br /&gt;ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.&lt;br /&gt;Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.&lt;br /&gt;Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,&lt;br /&gt;tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.&lt;br /&gt;Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.&lt;br /&gt;Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi&lt;br /&gt;sebelumnya.&lt;br /&gt;Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang&lt;br /&gt;hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh&lt;br /&gt;malam itu di pantai,&lt;br /&gt;Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi&lt;br /&gt;kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur&lt;br /&gt;hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23:58&lt;br /&gt;Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat&lt;br /&gt;meniup lilin ulang tahunku?&lt;br /&gt;Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya..&lt;br /&gt;Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99&lt;br /&gt;hari!&lt;br /&gt;Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!&lt;br /&gt;Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku&lt;br /&gt;kesepian!&lt;br /&gt;Tina, Aku sayang kamu...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari ke 100..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Original from shamus&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-6530842210127827829?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/6530842210127827829/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/hari-ke-100.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6530842210127827829?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/6530842210127827829?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/hari-ke-100.html" title="hari ke 100" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-bcrdTDdbf1U/TdplGifaEKI/AAAAAAAACwE/NUMFx-PrkRM/s72-c/one+hundred.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUDQXk5eyp7ImA9WhRbE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5993350133456563915.post-5022222027118319384</id><published>2012-02-04T23:56:00.003+07:00</published><updated>2012-02-05T00:24:30.723+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-05T00:24:30.723+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Awal yang baru</title><content type="html">Hai semuanya, ini adalah sebuah awal yang baru bagi blog ini.&lt;br /&gt;setelah sekian lama tidak pernah bermain blog, akhirnya diriku mulai membuatnya yang baru, meski dengan alamat yang lama.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sudah berkunjung, salam kenal.&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/63/355913067376699216886C4EFD976AAE.png"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ required HTML --&gt;&lt;div class="related-posts-widget"&gt;&lt;!-- { blog_url:'http://tridizone.blogspot.com' ,thumbs:0} --&gt;loading..&lt;/div&gt;&lt;!--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5993350133456563915-5022222027118319384?l=www.tridizone.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.tridizone.com/feeds/5022222027118319384/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/awal-yang-baru.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/5022222027118319384?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5993350133456563915/posts/default/5022222027118319384?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.tridizone.com/2012/02/awal-yang-baru.html" title="Awal yang baru" /><author><name>tridi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18148829519161933654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="26" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4BuAB3KraU/Tzhl652CHlI/AAAAAAAAAEQ/JbgSi-zDJXI/s220/tek4f11a953d6b469249592.png" /></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>

