<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-9484727</atom:id><lastBuildDate>Fri, 18 Dec 2009 08:11:52 +0000</lastBuildDate><title>Triyani</title><description>Personal weblog tentang isue-isue terkini di dunia perpajakan dan personal informasi lainnya</description><link>http://triyani08.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Triyani)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email><itunes:name>Triyani</itunes:name></itunes:owner><itunes:author>Triyani</itunes:author><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Personal weblog tentang isue-isue terkini di dunia perpajakan dan personal informasi lainnya</itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId>Triyani</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-6970779248128670323</guid><pubDate>Sat, 31 Jan 2009 17:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-01T00:31:19.931+07:00</atom:updated><title>Info</title><description>Buat semuanya, mohon maaf blog ini sudah tidak pernah saya update lagi sejak saya pindah ke http://triyani.wordpress.com&lt;http: com=""&gt; .  Untuk memperoleh update info seputar pajak, silahkan berkunjung ke blog saya di wordpress yaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng krn lihat feedburner melihat banyak email yg masih terdaftar sebagai subscriber.&lt;/http:&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-6970779248128670323?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/UGx2sRMVzoE/info.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2009/02/info.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-6692024188805826120</guid><pubDate>Fri, 23 Nov 2007 06:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-23T13:21:09.462+07:00</atom:updated><title>update</title><description>For more update please visit http://triyani.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-6692024188805826120?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/zoplcL81RVg/update.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/11/update.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-2321760363006695487</guid><pubDate>Fri, 19 Oct 2007 13:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-10-19T20:40:27.110+07:00</atom:updated><title>Flickr</title><description>This is a test post from &lt;a href="http://www.flickr.com/r/testpost"&gt;&lt;img alt="flickr" src="http://www.flickr.com/images/flickr_logo_blog.gif" width="41" height="18" border="0" align="absmiddle" /&gt;&lt;/a&gt;, a fancy photo sharing thing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-2321760363006695487?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/Mr7tnCFGEy0/flickr.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/10/flickr.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-4905204934588387509</guid><pubDate>Tue, 16 Oct 2007 07:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-10-16T14:52:08.545+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">पजक</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Tata Cara Pengisian SPT 1107 di rubah</title><description>Hari pertama bekerja setelah libur lebaran, iseng liat2 web pajak, termasuk ke webnya LTO, kaget liat ada aturan baru PER-142/PJ./2007 tgl 3 Okt 2007 (aturannya bisa didownload di http://www.kanwilpajakwpbesar.go.id/data/ruling/PER-142.rar) tentang : ”Perubahan PER-146/PJ./2007 tentang Bentuk Isi dan Tata Cara Penyampaian SPT Masa PPN”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat baca judul aturannya aku langsung ’curiga’ kalau ada perubahan bentuk Form 1107 (udah pingin ’complaint’ nihh kalo perubahan bentuk lagi heheheh), tapi setelah download dan baca isi peraturannya, aku (dan para WP tentunya :) ) berterima kasih pada DJP atas terbitnya PER-142 ini :). Trima kasih yaa pak Dirjen Pajak dan semua jajarannya :), juga Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin, semoga after lebaran DJP makin baik :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ringkasan isi peraturan tsb, semoga bermanfaat buat teman-teman semua, jangan lupa say thanks to DJP :) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam per-142 ini, DJP menambah contoh penggantian faktur pajak dalam masa pajak yang sama. Dengan adanya contoh dan penjelasan tentang bagaimana cara pelaporan  faktur pajak pengganti yang diterbitkan dalam masa pajak yang sama dg faktur pajak yang diganti, WP tidak lagi bertanya2 tentang hal itu. Karena semula dalam PER-146 hanya diberikan contoh untuk penggantian faktur pajak dengan masa pajak yang berbeda. Berikut ini contoh dimaksud : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Contoh apabila terdapat penggantian Faktur Pajak pada masa yang sama.&lt;br /&gt;Pada tanggal 5 Januari 2007 PT Angkasa (PKP) melakukan penjualan kepada PT Bahari (PKP) dengan nilai penjualan sebesar Rp 500.000.000,-.  PT Angkasa menerbitkan Faktur pajak dengan  kode dan nomor 010.000-07.00000009 dengan DPP sebesar Rp 500.000.000,- dan PPN sebesar Rp 50.000.000,-. Pada tanggal 10 Januari 2007 PT Angkasa melakukan penggantian faktur pajak karena ternyata nilai penjualan adalah sebesar Rp 550.000.000,-. Atas penggantian tersebut PT Angkasa menerbitkan Faktur Pajak pengganti pada tanggal 10 Januari 2007 dengan kode dan nomor 011.000-07.00000022, DPP sebesar Rp 550.000.000 dan PPN sebesar Rp 55.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tata cara pelaporan Faktur Pajak dalam SPT Masa PPN bagi PT Angkasa adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pada Masa Pajak Januari 2007, Faktur pajak dengan kode dan nomor 010.000-07.00000009 dilaporkan dengan DPP Rp 500.000.000,- dan PPN Rp 50.000.000,- , kemudian PT Angkasa melaporkan faktur pajak pengganti pada SPT Masa PPN Masa  Januari 2007 dengan mengisi kolom kode dan nomor seri faktur pajak dengan 011.000-07.00000022, kolom DPP sebesar Rp 550.000.000,- dan PPN sebesar Rp 55.000.000,- sedangkan kolom kode dan nomor seri FP yang diganti diisi dengan 010.000-07.00000009 Khusus bagi WP yang mengisi SPT Masa PPN secara manual, nilai yang tercantum pada faktur pajak dengan kode dan nomor 010.000-07.00000009 dilaporkan dengan DPP Rp 500.000.000,- dan PPN Rp 50.000.000,- namun diabaikan pada saat penghitungan total jumlah Pajak Keluaran.&lt;br /&gt;b. Tata cara pelaporan Faktur Pajak pada SPT Masa PPN bagi PT Bahari sama dengan PT Angkasa sebagai pajak Masukan pada formulir 1107 B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Selain menambah contoh tsb diatas, dalam PER-142 ini DJP memperbaiki redaksi dan memberikan penegasan tentang cara pengisian SPT PPN 1107 Pembetulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sebelumnya diprotes banyak WP (setidaknya melalui milis tax-ina dan FP :P), jg beberapa pertanyaan japri  ke saya, jg berbagai pertanyaan yang diajukan ke AR (ini kata temen2 yang udah nanya ke AR-nya lho), yaitu : ”apabila Jumlah PPN Lebih Bayar setelah pembetulan menjadi lebih kecil dibanding dg jumlah PPN Lebih Bayar sebelum pembetulan,  maka selisihnya harus disetor ke kas negara sbg PPN kurang bayar (akibat pembetulan)”. Sebelumnya banyak WP complain  mengenai hal ini, karena tidak jarang hal tsb mengganggu cashflow perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diterbitkannya PER-142 ini hal tsb telah dianulir. WP mempunyai alternatif untuk tidak membayar selisih lebih bayar akibat pembetulan tsb dg cara membetulkan SPT Masa PPN masa2 setelah Masa yang dibetulkan (pembetulan berturut2) seperti halnya pada saat berlakunya SPT 1195. Makanya kita (WP) harus berterima kasih dg diterbitkannya PER-142 ini :). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah ini kutipan perubahan dimaksud :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam hal PPN yang semula atau sebelumnya dilaporkan Lebih Bayar kemudian dibetulkan menjadi Lebih Bayar lebih besar, Lebih Bayar lebih kecil, Nihil, atau Kurang Bayar, seperti contoh berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Semua SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 17.000.000,- dan telah diajukan permohonan kompensasi ke masa pajak berikutnya (Februari 2007).Setelah dilakukan pembetulan menjadi Lebih Bayar lebih besar yaitu Rp 20.000.000,-. Sehingga pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari terdapat lebih bayar PPN sebesar Rp 3.000.000,- yang belum dikompensasikan. Untuk mengkompensasikan PPN tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1. PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Februari dan Maret dengan membetulkan jumlah kompensasi yang berasal dari Masa Pajak Januari semula Rp 17.000.000,- menjadi Rp 20.000.000,-. SPT Masa PPN Masa Pajak April sudah mencantumkan nilai kompensasi sesuai SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Maret, sehingga pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari jumlah Lebih Bayar yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya adalah jumlah sebagaimana Pajak berikutnya adalah jumlah sebagaimana tercantum pada butir II.D yaitu sebesar Rp 20.000.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2. PKP tidak melakukan pembetulan SPT Masa Pajak Februari dan seterusnya, maka pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari, jumlah yang dimintakan kompensasi ke Masa Pajak saat SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari disampaikan yaitu April 2007 sebesar Rp 3.000.000,- merupakan jumlah sebagaimana tercantum pada butir II.F.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 200.000,- dan telah diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak berikutnya (Februari 2007). SPT Masa Pebruari Lebih Bayar Rp 300.000 dan telah dikompensasikan ke masa Maret 2007. SPT Masa Maret 2007 lebih bayar Rp  250.000 dan telah diajukan permohonan kompensasi ke masa April 2007. Setelah dilakukan pembetulan untuk SPT Masa Januari 2007 ternyata lebih bayar menjadi lebih kecil yaitu Rp 100.000,-. Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 100.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 1.000.000,- dan telah diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak berikutnya (Februari 2007). Setelah dilakukan pembetulan menjadi Nihil. Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 1.000.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 1.000.000,-. Setelah dilakukan pembetulan menjadi Kurang Bayar Rp 250.000,-. Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 1.250.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk contoh 2.2 diatas PKP mempunyai 2 pilihan sbb :&lt;br /&gt;a. PKP dapat membetulkan masa Januari saja dan membayar/menyetor PPN yang kurang dibayar pada butir II.F, namun tidak perlu membetulkan SPT Masa PPN Masa Februari dan masa-masa seterusnya sampai dengan posisi lebih bayar menjadi kurang bayar, atau sampai dengan Masa Pajak saat  Pembetulan SPT dilakukan. Atas pembetulan SPT tersebut PKP akan dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; atau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. PKP melakukan pembetulan SPT untuk masa Pajak Januari dan seluruh masa pajak berikutnya s/d Masa Pajak dimana posisi menjadi kurang bayar, atau sampai dengan masa pajak saat SPT Masa PPN dibetulkan. Angka kurang bayar pada butir II F sebagai akibat pembetulan untuk masa pajak Januari, Februari dan Maret diabaikan. Nilai lebih bayar yang diajukan permohonan kompensasi ke masa pajak April adalah Rp 150.000,-&lt;br /&gt;Untuk contoh nomor 2.3. dan 2.4. berlaku hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKP harus menyetor PPN yang kurang dibayar pada butir II.F dan PKP dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Pengisian pada formulir SPT Masa PPN berdasarkan contoh-contoh di atas menjadi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Penghitungan PPN Kurang atau (lebih) bayar PPN (Rupiah) &lt;br /&gt;Contoh 2.1  Butir II.D          (Rp 20.000.000)&lt;br /&gt;            Butir II. E   (Rp 17.000.000)&lt;br /&gt;            Butir II.F    (Rp 3.000.000)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh 2.2  Alternatif a :&lt;br /&gt;Masa Jan Butir II.D   (Rp 100.000)&lt;br /&gt;  Butir II. E   (Rp 200.000)&lt;br /&gt;  Butir II.F     Rp 100.000&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Pebruari  Alternatif b :&lt;br /&gt;  Butir II.D   (Rp 100.000)&lt;br /&gt;  Butir II. E   (Rp 200.000)&lt;br /&gt;  Butir II.F     Rp 100.000&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masa Maret  &lt;br /&gt;  Butir II.D   (Rp 100.000)&lt;br /&gt;  Butir II. E   (Rp 200.000)&lt;br /&gt;  Butir II.F     Rp 100.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa April Lampiran 2: Daftar pajak masukan dan PPn BM, Angka Romawi I Butir 3 huruf A ; Kompensasi kelebihan PPN dari Masa Sebelumnya Rp 150.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2.3&lt;br /&gt;  Butir II.D   Rp 0&lt;br /&gt;  Butir II. E   (Rp 1.000.000)&lt;br /&gt;  Butir II.F    Rp 1.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2.4&lt;br /&gt;  Butir II.D   Rp 250.000 &lt;br /&gt;  Butir II. E   Rp (1.000.000)&lt;br /&gt;  Butir II.F    (Rp 1.250.000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Jika ada kesalahan kutip dalam tulisan ini, silahkan langsung refer ke file peraturan di maksud dalam pdf file. Thanks&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-4905204934588387509?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/IGpYTLihoBQ/tata-cara-pengisian-spt-1107-di-rubah.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/10/tata-cara-pengisian-spt-1107-di-rubah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-4472829602885558847</guid><pubDate>Tue, 10 Apr 2007 11:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-10T18:59:32.731+07:00</atom:updated><title>Tarif PPh 23 berubah lagi :)</title><description>Dirjen pajak telah menerbitkan PER-70/PJ./2007 tgl 9 April 2007 sebagai pengganti PER 178/PJ./2006 tentang PPh pasal 23. Hal ini menjawab keberatan bergabai asosiasi usaha/industri yang merasakan dampak pemotongan PPh 23 berdasarkan PER 178.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PER-70 lebih mirip dengan KEP-170 yang telah berlaku sejak 2002, hanya saja tarifnya lebih rendah. Bahkan ada beberapa jenis jasa yang 'hilang' dari list tanpa adanya keberatan dari asosiasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara segitu dulu infonya :) nanti dilanjut dg comment/review atas aturan yang baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Serpong, 10 April 2007, posting iseng sambil nunggu ujan reda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-4472829602885558847?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/wkMnDwgYSrc/tarif-pph-23-berubah-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/04/tarif-pph-23-berubah-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-1380051053032867893</guid><pubDate>Wed, 14 Mar 2007 11:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-03-14T18:42:14.210+07:00</atom:updated><title>Pernahkah Anda merasa sangat membutuhkan pertolongan orang lain?</title><description>Pernahkah Anda merasa sangat membutuhkan pertolongan orang lain?&lt;br /&gt;Pernahkan Anda merasa profesi  yang dilakukan orang lain sangat kita butuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yahh.. kadang kita (maksudnya saya.. :P) menganggap pekerjaan (profesi) yang dilakukan oleh orang lain tidak begitu penting. padahal ada saat2 tertentu bahwa kita sangat butuh bantuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin malem (12/3/07) terpaksa pulang larut, selain karena banyak pekerjaan SPT tahunan yang masih tertunda, juga karena menunggu adik yang biasa jemput saya masih diperjalanan dari balaraja. Akhirnya Jam 21.30  baru bisa balik. Baru jalan kira2 10 menit dari kantor.... waduhh...kok motor tiba2 seperti oleng yahh... berhenti sebentar utk cek kondisi ban.. "nggak apa2 kok mba", gitu kata suro. tapi saat kita  jalan lagi.. kok tambah aneh yaa.. ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnyaaa... aku ngalamin jg hal seperti ini.. :(&lt;br /&gt;pulang malem.. jalanan dah sepi.. terpaksa kudu jalan kaki dan dorong motor akibat ban bocor.. (’sobek’ lebih tepatnya..  ). Entahlah.. kenapa sekrup segedhe gitu bisa nancep ke ban motorku...  gak kebayang kalau aku naik motor sendirian gimana ceritanya.. ^-^  (hihihihi.. jadi nambah alasan utk tdk mau naik motor sendiri neh heheheheeh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek, bete, pingin marah.. tp mau marah sama siapa..?? akhirnya yaaah.. sambil jalan masih ’ketawa2’ (gak ada larangan mentertawakan diri sendiri khan?.. :D). Dalam hati kasihan sama adikku jg.. baru sampai rumah jam 9 (setelah seharian bersihin rumput di rmh balaraja), harus jemput aku... ehh,.. sialnya.. (?) ada acara ban kempes gara2 sekrup di jalanan. Tapi Alhamdulillah.. adik kecilku ini bukan tipe orang yang mudah mengeluh dan kesal thd keadaan... penurut dan ga banyak protes...(untuk hal ini.. aku harus banyak belajar bersikap dari dia). Shg meskipun aku yakin suro dalam kondisi capek, ditambah harus dorong motor.. tetap dijalanin dengan ’santai’ dan masih bisa bilang.. ”untung kempesnya pas pulang.. jd ga sendirian.. :) sambil berpikir kira2 tukang tambal ban dimana yang masih buka malem2 gini (jam 22.00).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan selangkah demi selangkah... sambil membayangkan (berpikir?) ..duhh.. baru sampai ’sini’.. masih berapa lama yaa perjalanan.. dari BSD ke rumah... :(, sambil berpikir kira2 tukang tambal ban dimana yang masih buka malem2 gini . kalau ga ada tukang tambal ban dititip kemana yah ni motor.. ditinggalin dijalan khan ga mungkin...  :( waduhh... terpaksa bakal dorong sampai rumah nih.. :(  hmmm.. bakal nyampai rumah jam berapa yaa.. jam 11, 12, atau malah jam 1. ohh No.... besok pagi aku harus meeting di kuningan.. harus berangkat pagi. ya Allah....tolonglah aku, beri aku kekuatan dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman kota BSD terlewati, bangunan rumah sakit terlewati.... ahh.. dikit lagi ITC, BSD junction.. duhh.. gimana nyebrangnya yaaa..?? dorong2 motor gini.. meskipun malem puteran Junction khan rame kendaraan lewat.  ohh.. kita lewat  jalan sebelah aja,ngelawan arus.. bisa ga yaa.. gitu usulku. ahh.. tapi tetep aja susah.. nyebrangnya. ya Allah.. aku mesti gimana nih.. :(. dlm kondisi bingung dan nyaris hopeless... tiba2 ada seorang bapak2 trotoas deket belokan BSD junction bertanya..”bocor  dek?” adikku nengok sambil senyum2 dan menjawab iya pak.&lt;br /&gt;ahh...Alhamdulillah...ada juga tukang tambal ban malam2 begini; pikirku setelah melihat perlengkapan tambal ban yang ada di dekat motor bapak tsb.  Suro langsung menaikkan motor ke arah trotoar. dan aku menjawab pertanyaan tukang tambal ban tsb..’iya nih pak bocor, ga tau kenapa tiba2 kempes, alhamdulillah bapak masih buka malem2 gini... nambal  berapa pak? tanyaku.. ”lima ribu” jawabnya. Subhanallah.... terima kasih yaa Allah.. aku yakin ini pertolongan-Mu. Jujur aku kaget dengan jawaban harga jasa tambal ban tsb. Memang harga tsb adalah harga pasaran utk pekerjaan tambal ban, harga umum. tapi tidak jarang saya mendengar berita miring, ada saja tukang tambal ban yang ”memanfaatkan kesusahan orang lain” dg menetapkan harga lebih tinggi (meskipun ini sah2 saja –hukum ekonomi...:P- atau ”memaksa agar orang lain” untuk ganti ban dg alasan ban tdk dapat di tambal; bahkan tidak sedikit berita mengenai ’oknum tukang tambal ban’ yang sengaja menyebarkan paku tdk jauh dari lokasi  prakteknya...-Semoga aku ga pernah ketemu yang begini-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah.. malam ini kondisi yang saya alami sangat berbeda dg berita2 negatif yang pernah aku dengar. Saat saya tanya harga jawabanya harga wajar. Oh ya, saya sengaja tanya harga di awal, untuk menghindari conflict setelah pekerjaan dilakukan. Seandainya tukang tambal ban tsb menetapkan harga lebih tinggi, sudah berdasarkan kespakatan.. shg tdk perlu ada ribut2. Duduk diatas kaleng cat yg disediakan (bangku darurat .. hehehe), melihat pekerjaan yang dilakukan tukang tambal ban tsb, buka ban, cek bocor dst..aku berpikir.. Alhamdulillah masih ada orang yang jujur dan baik seperti ini. Betapa tidak.. dalam kondisi  seperti malam itu  : 1) saat itu hampir tengah malam.. (jam 22.30); 2) ada orang (calon client) yang amat sangat membutuhkan jasa yang dia jual; 3) disepanjang jalan tsb jg tdk ada pesaing... 4) secara ekonomi wajar saja jika tukang tambal ban tsb menetapkan harga yang ’mahal’ bahkan mungkin ’lebih dari mahal’; bahkan tdk ada alasan aku untuk tidak memakai jasa dia, karena aku sangat membutuhkannya. Tapi orang tsb tetap memberlakukan harga normal. Subhanallah.. di jaman seperti ini, dalam kondisi ekonomi seperti sekarang.. harga2 mahal, kebutuhan hidup meningkat, cari uang sulit.. dst.. tapi tukang tambal ban tsb sama sekali tdk berpikir utk mencari keuntungan dg memanfaatkan kesulitan orang lain. padahal mungkin saja malam itu dia jg belum mendapatkan uang yang cukup untuk dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ohhh.. ini yang bikin bocor.. ujar tukang tambal ban tsb, saat mengecek motor. sekrup sebesar ibu jari, dg panjang lebih dari 5 cm.. nancep di ban motor.. bagaimana ga bikin sobek katanya sambil terus memompa utk mengecek bagian yang bocor/sobek. iseng2 aku tanya.. ”kalau ganti ban berapa pak”.... ”25ribu neng” jawabnya.&lt;br /&gt;”oh.. yaa udah pak diganti saja dehh kalau sobeknya parah”, ujarku ke tukang tambal ban tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya pekerjaan mengganti ban selesai. Aku ulurkan tiga lembar puluhan ribu untuk membayar harga ban tsb dan tukang tambal ban tsb-pun segera memberikan kembaliannya. ”udah  pak” nggak apa2.. pas aja, Makasih banyak udah dibantuin. ”iya neng sama2.. makasih banyak. Dan aku meneruskan perjalanan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah ada tukang tambal ban yang mangkal disitu malam2.. jd ga harus dorong motor sampai rumah. ahh ternyata memang Allah tdk pernah tidur... entahlah..padahal seringkali lewat situ.. tdk pernah aku melihat kalau ditrotoar tsb ada tukang tambal ban, tp ketika aku sangat membutuhkan pertolongan, ternyata ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku jadi lebih mengerti sekarang. Dulu... setiap kali melihat orang jualan minuman, makanan keliling malam2 (blm lagi kalau kondisi hujan) aku sering berpikir apa ada yang beli yaa?.., kalau lihat orang jualan ditempat yang sepi, buka warung, bengkel ditempat yang  ”terpencil”... aku sering berpikir ditempat sepi begini apa ada yang beli yah.. apa ada pelanggan yahh.. ? berapa banyak uang yang mereka dapatkan dari pekerjaan tsb? apa cukup yaa buat makan/hidup sehari2? kok mereka bisa yaa terus bertahan ..? dan sederet tanya lainnya dalam hatiku. ahhh.. barangkali memang bukan dari banyaknya uang yang mereka hasilkan, niat dan usaha mereka untuk bekerja, mencari rizki yang halal dan yakin akan pertolongan Allah dlm memberikan rizki, sehingga mereka tetap menjalankan pekerjaan tsb, dan justeru keberadaan mereka suatu saat menjadi ’penolong’ bagi orang-orang yang membutuhkan. seperti halnya saya ketika ”tengah malam” membutuhkan jasa tukang tambal ban :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah,.... akhirnya sampai jg dirumah sebelum tengah malam. ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Serpong, Maret 13, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-1380051053032867893?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/PC5e2E_DzcE/pernahkah-anda-merasa-sangat.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/03/pernahkah-anda-merasa-sangat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-8097798098414045436</guid><pubDate>Wed, 07 Feb 2007 09:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-02-07T16:55:12.167+07:00</atom:updated><title>WPOP dg Omzet 1,8M Boleh Menggunakan Norma</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;p&gt;Nomer peraturan: : 01/PMK.03/2007&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanggal : 2007-01-16 00:00:00&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perihal : PENYESUAIAN BESARNYA PEREDARAN BRUTO BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG BOLEH MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN MENGGUNAKAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;PENYESUAIAN BESARNYA PEREDARAN BRUTO BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG BOLEH MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN MENGGUNAKAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MENTERI KEUANGAN,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menimbang:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;a. bahwa besarnya peredaran bruto bagi Wajib Pajak orang pribadi yang boleh menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Nama Penghitungan Penghasilan Neto yang selama ini berlaku berdasarkan Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;b. bahwa berdasarkan Pasal 14 ayat (7) UU PPh diatur bahwa besarnya peredaran bruto sebagaimana diatur Pasal 14 ayat (2) UU PPh dapat diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penyesuaian Besarnya Peredaran Bruto Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Boleh Menghitung Penghasilan Neto Dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengingat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (LN RI Tahun 1983 No. 49, TLN RI No. 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 (LN RI Tahun 2000 No. 126, TLN RI No. 3984);&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (LN RI Tahun 1983 No. 50, TLN RI No. 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 (LN RI Tahun 2000 No. 127, TLN RI No. 3985);&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Keputusan Presiden No. 20/P Tahun 2005;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;M E M U T U S K A N : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menetapkan: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENYESUAIAN BESARNYA PEREDARAN BRUTO BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG BOLEH MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN MENGGUNAKAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 1&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(1) Besarnya peredaran bruto dalam 1 (satu) tahun bagi Wajib Pajak orang pribadi yang boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2000, diubah menjadi kurang dari Rp1.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta rupiah).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2007.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 2&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wajib Pajak orang pribadi yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) dan bermaksud menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 3&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketentuan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 4&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pada tanggal 16 Januari 2007&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MENTERI KEUANGAN,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ttd.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SRI MULYANI INDRAWATI &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-8097798098414045436?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/D2oqgBJLT14/wpop-dg-omzet-18m-boleh-menggunakan.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2007/02/wpop-dg-omzet-18m-boleh-menggunakan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-116419221594957775</guid><pubDate>Wed, 22 Nov 2006 10:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-11-22T17:43:36.490+07:00</atom:updated><title>new regulation : SE-13/PJ.52/2006 -No Faktur Pajak sejak Jan 2007--</title><description>ini kutipan SE mengenai format no faktur pajak yang berlaku sejak jan 2007.. &lt;br /&gt;siap2 kalau nanti saat menyampaikan laporan SPT Masa bulan Des.. tidak dilampiri dg surat2 pemberitahuan.. ditolak... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;SURAT EDARAN&lt;br /&gt;NOMOR  :  SE -  13  /PJ.52/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR  PER- 159 /PJ./2006 TENTANG SAAT PEMBUATAN, BENTUK, UKURAN, PENGADAAN, TATA CARA PENYAMPAIAN, DAN TATA CARA PEMBETULAN FAKTUR PAJAK STANDAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ini disampaikan kepada Saudara salinan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-159/PJ./2006 tentang Saat Pembuatan, Bentuk, Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam rangka memberikan kemudahan dan kepastian hukum kepada Pengusaha Kena Pajak dalam mengisi Faktur Pajak Standar dan mengoptimalkan kegunaan sistem faktur pajak yang dianut dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 dengan dukungan teknologi informasi, diterbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur tentang Saat Pembuatan, Bentuk, Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar sebagai pengganti dari aturan sebelumnya yaitu Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-549/PJ./2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PER-59/PJ./2005.   Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006 ini sekaligus mencabut Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-424/PJ./2002 tentang Penerbitan dan Pengkreditan Faktur Pajak yang Dibuat Tidak Tepat Waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ/2006 berlaku untuk penerbitan Faktur Pajak Standar mulai Masa Pajak Januari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;a. Saat Pembuatan.&lt;br /&gt;a.1. Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat:&lt;br /&gt;- pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;- pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;- pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;- pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau&lt;br /&gt;- pada saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.&lt;br /&gt;a.2. Faktur Pajak Gabungan harus dibuat paling lambat :&lt;br /&gt;- pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak, dalam hal pembayaran baik sebagian atau seluruhnya terjadi setelah berakhirnya bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak; atau&lt;br /&gt;- pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak, dalam hal pembayaran baik sebagian atau seluruhnya terjadi sebelum berakhirnya bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bentuk dan Ukuran.&lt;br /&gt;Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak Standar disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak dan dalam hal diperlukan dapat ditambahkan keterangan lain, serta dapat dibuat sebagaimana contoh pada Lampiran IA Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006 untuk transaksi yang menggunakan mata uang rupiah dan Lampiran IB Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-     159/PJ./2006 untuk transaksi yang menggunakan mata uang asing dan/atau rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengadaan.&lt;br /&gt;c.1. Pengusaha Kena Pajak melakukan pengadaan sendiri atas Faktur Pajak Standar yang diterbitkannya.&lt;br /&gt;c.2. Faktur Pajak Standar dibuat rangkap 2 (dua), masing-masing 1 (satu) lembar untuk pembeli dan 1 (satu) lembar untuk penjual, dan dapat dibuat lebih dari 2 (dua) rangkap yang secara nyata dijelaskan peruntukannya dalam lembar Faktur Pajak Standar yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tata Cara Pengisian Keterangan pada Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;d.1. Tata Cara Pengisian Keterangan pada Faktur Pajak Standar dilakukan sebagaimana diatur dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006.&lt;br /&gt;d.2. Faktur Penjualan yang memuat keterangan sesuai dengan keterangan dalam Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, dan  pengisiannya sesuai dengan Tata Cara Pengisian Keterangan pada Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada butir d.1., dipersamakan dengan Faktur Pajak Standar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Format Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;e.1. Kode Faktur Pajak Standar terdiri dari 6 (enam) digit, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;- 2 (dua) digit pertama adalah Kode Transaksi, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Transaksi Digunakan untuk&lt;br /&gt;01 penyerahan kepada selain Pemungut PPN&lt;br /&gt;02 penyerahan kepada Pemungut PPN Bendaharawan Pemerintah&lt;br /&gt;03 penyerahan kepada Pemungut PPN Lainnya (selain Bendaharawan Pemerintah)&lt;br /&gt;04 penyerahan yang menggunakan DPP Nilai Lain kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;05 penyerahan yang Pajak Masukannya diDeemed kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;06 penyerahan Lainnya kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;07 penyerahan yang PPN atau PPN dan PPn BM-nya Tidak Dipungut kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;08 digunakan untuk penyerahan yang Dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPn BM kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;09 digunakan untuk penyerahan Aktiva Pasal 16D kepada selain Pemungut PPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 1 (satu) digit berikutnya adalah Kode Status, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Status Digunakan untuk&lt;br /&gt;0 Normal&lt;br /&gt;1 Penggantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 3 (tiga) digit berikutnya adalah Kode Cabang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.2. Nomor Seri Faktur Pajak Standar, terdiri dari 10 (sepuluh) digit, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;- 2 (dua) digit pertama adalah Tahun Penerbitan.&lt;br /&gt;Cara penulisan Tahun Penerbitan pada Nomor Seri Faktur Pajak Standar adalah dengan mencantumkan dua digit terakhir dari tahun diterbitkannya Faktur Pajak Standar, contohnya tahun 2007 ditulis ‘07’.&lt;br /&gt;- 8 (delapan) digit selanjutnya adalah Nomor Urut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga format Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar secara keseluruhan menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;0 0 0. 0 0 0 - 0 0 . 0 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Tata Cara Penerbitan Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;f.1. Kode Cabang, diisi dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;f.1.1. bagi Pengusaha Kena Pajak yang dipusatkan secara jabatan pada Kantor Pelayanan Pajak yang menerapkan Sistem Administrasi Modern (SAM), namun :&lt;br /&gt;f.1.1.1. sistem penerbitan Faktur Pajak Standar-nya belum online antara Kantor Pusat dan Kantor-kantor Cabang-nya; dan/atau&lt;br /&gt;f.1.1.2. Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang-nya ada yang ditetapkan sebagai Penyelenggara Kawasan Berikat dan/atau ditetapkan sebagai Pengusaha Di Kawasan Berikat dan/atau berada di Pulau Batam dan/atau mendapat fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor;&lt;br /&gt;maka :&lt;br /&gt;- Kode Cabang ditentukan sendiri secara berurutan, diisi dengan kode ’000’ untuk Kantor Pusat dan dimulai dari kode ’001’ untuk Kantor Cabang, serta Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat pemusatan pajak terutang dilakukan paling lambat sebelum Faktur Pajak Standar diterbitkan, dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.&lt;br /&gt;- Untuk pertama kali, Pengusaha Kena Pajak dapat mengurutkan Kode Cabang menurut cara yang dianggap paling mudah, namun untuk penambahan Kode Cabang baru setelah berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, disarankan kepada Pengusaha Kena Pajak untuk mengurutkan Kode Cabang berdasarkan tanggal pengukuhan masing-masing Kantor Cabang. &lt;br /&gt;- Kode Cabang dapat ditambah dan/atau dihentikan penggunaannya karena adanya penambahan dan/atau pengurangan Kantor Cabang sesuai dengan perkembangan usaha dan Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atas penambahan dan/atau penghentian penggunaan Kode Cabang tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan paling lambat sebelum Faktur Pajak Standar diterbitkan dan/atau sesudah pengurangan Kantor Cabang, dengan menggunakan formulir yang ditetapkan dan dilampiri dengan dokumen pendukung.&lt;br /&gt;- Peruntukan Kode Cabang tidak boleh berubah, dan Kode Cabang yang sudah dihentikan penggunaannya tidak boleh digunakan kembali.&lt;br /&gt;f.1.2. Bagi Pengusaha Kena Pajak selain dari Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir f.1.1. Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar diisi dengan kode ’000’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.2. Nomor Urut, diisi dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;f.2.1. Nomor Urut dibuat secara berurutan, tanpa perlu dibedakan antara Kode Transaksi, Kode Status Faktur Pajak Standar dan mata uang yang digunakan.&lt;br /&gt;f.2.2. Nomor Urut dimulai dari 1 (satu) pada setiap awal tahun takwim mulai bulan Januari, kecuali bagi Pengusaha Kena Pajak yang baru dikukuhkan, maka Nomor Urut 1 (satu) dimulai sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak tersebut dikukuhkan. Bagi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir f.1.1, maka Nomor Urut 1 (satu) dimulai pada setiap awal tahun takwim mulai bulan Januari pada masing-masing Kantor Pusat dan Kantor-kantor Cabangnya kecuali bagi Kantor Cabang yang baru dikukuhkan, maka Nomor Urut 1 (satu) dimulai sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak tersebut dikukuhkan.&lt;br /&gt;f.2.3. Apabila sebelum bulan Januari tahun takwim berikutnya, Nomor Urut telah habis digunakan oleh Pengusaha Kena Pajak (termasuk Nomor Urut di Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang bagi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir f.1.1.), maka Pengusaha Kena Pajak harus menerbitkan dengan Nomor Urut dimulai dari Nomor Urut 1 (satu) dan Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis, paling lambat pada saat Faktur Pajak Standar dengan Nomor Urut 1 (satu) tersebut diterbitkan, dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.&lt;br /&gt;f.2.4. Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir f.2.3. pada awal tahun takwim berikutnya harus menerbitkan Faktur Pajak Standar dengan Nomor Urut dimulai dari Nomor Urut 1 (satu) kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.3. Penandatanganan Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;f.3.1. Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis nama pejabat yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar disertai dengan contoh tandatangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada saat pejabat yang berhak menandatangani mulai menandatangani Faktur Pajak Standar dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.&lt;br /&gt;f.3.2. Pejabat yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak Standar dapat lebih dari 1 (satu) orang.&lt;br /&gt;f.3.3. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak Orang Pribadi yang tidak memiliki struktur organisasi memberikan kuasa kepada pihak lain untuk menandatangani Faktur Pajak Standar, maka Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada saat pihak yang diberi kuasa mulai menandatangani Faktur Pajak Standar, dengan menggunakan formulir yang ditetapkan, dan menyertakan Surat Kuasa Khusus dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.&lt;br /&gt;f.3.4. Dalam hal terjadi perubahan pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada butir g.3.1. dan g.3.3. maka Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan perubahan tersebut secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada saat pejabat atau kuasa pengganti mulai menandatangani Faktur Pajak Standar, dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.&lt;br /&gt;f.3.5. Dalam pengertian pejabat yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak Standar, termasuk pula pejabat di tempat-tempat kegiatan usaha yang dipusatkan dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan pemusatan tempat pajak terutang yang Faktur Pajak Standarnya dicetak di tempat-tempat kegiatan usaha masing-masing.&lt;br /&gt;f.4. Penulisan Kode dan Nomor Seri pada Faktur Pajak Standar, harus lengkap sesuai dengan  banyaknya digit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Sanksi.&lt;br /&gt;Pengusaha Kena Pajak dikenakan sanksi Pasal 14 ayat (4) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 dalam hal :&lt;br /&gt;g.1. Pengusaha Kena Pajak menerbitkan Faktur Pajak Cacat, yaitu Faktur Pajak Standar yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, termasuk di dalamnya adalah Faktur Pajak Standar yang tidak diisi secara lengkap, jelas, benar, dan/atau tidak ditandatangani oleh pejabat atau kuasa yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak.  Faktur Pajak Cacat juga meliputi :&lt;br /&gt;g.1.1. Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 3.f.1.1. yang Pengusaha Kena Pajak-nya tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan penggunaan Kode Cabang, termasuk apabila ada penambahan atau penghentian penggunaan Kode Cabang sampai dengan diterimanya pemberitahuan. Untuk pertamakali sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, Pengusaha Kena Pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan penggunaan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar sampai dengan tanggal 20 Januari 2007, maka Faktur Pajak Standar yang diterbitkan sampai dengan diterimanya pemberitahuan merupakan Faktur Pajak Cacat.&lt;br /&gt;g.1.2. Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 3.f.1.2. yang menggunakan Kode Cabang selain dari Kode Cabang yang telah ditetapkan. &lt;br /&gt;g.1.3. Faktur Pajak Standar yang pada awal tahun takwim bulan Januari atau pada Masa Pajak saat Pengusaha Kena Pajak pertama kali dikukuhkan tidak diterbitkan mulai dari Nomor Urut 1 (satu), termasuk Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang dari Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 3.f.1.1.&lt;br /&gt;g.1.4. Faktur Pajak Standar yang diterbitkan mulai dari Nomor Urut 1 (satu) sebelum Masa Pajak Januari tahun takwim berikutnya yang Pengusaha Kena Pajak-nya tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan sampai dengan Masa Pajak Desember atau sampai dengan diterimanya pemberitahuan, termasuk Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang dari Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 3.f.1.1.&lt;br /&gt;g.1.5. Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan mengenai pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar sampai dengan diterimanya pemberitahuan, termasuk apabila terdapat perubahan pejabat atau kuasa. Untuk pertamakali sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, Pengusaha Kena Pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan mengenai pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar sampai dengan tanggal 20 Januari 2007, maka Faktur Pajak Standar yang diterbitkan sampai dengan diterimanya pemberitahuan merupakan Faktur Pajak Cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.2. Pengusaha Kena Pajak menerbitkan Faktur Pajak Standar setelah melewati jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak saat Faktur Pajak Standar seharusnya dibuat sebagaimana dimaksud pada butir 3.a, dan Pengusaha Kena Pajak dianggap tidak menerbitkan Faktur Pajak Standar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;- Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum pada Faktur Pajak Cacat dan/atau Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 3.g.1 dan butir 3.g.2, tidak dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak Pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Tata Cara Pembetulan, Penggantian dan Pembatalan Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;- Tata cara penggantian Faktur Pajak Standar yang cacat, rusak, salah dalam pengisian, atau salah dalam penulisan, tata cara penggantian Faktur Pajak Standar yang hilang, dan tata cara pembatalan Faktur Pajak Standar, diatur dalam Lampiran VIII huruf A, B dan C Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006.&lt;br /&gt;- Penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti atau pembatalan Faktur Pajak Standar hanya dapat dilakukan paling lambat 2 (dua) tahun sejak Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut diterbitkan sepanjang terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dimana Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut dilaporkan, belum dilakukan pemeriksaan dan atas Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar tersebut belum dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;- Sebagai konsekuensi dari penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti dan/atau pembatalan Faktur Pajak Standar, Pengusaha Kena Pajak Penjual harus melakukan pembetulan terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dimana Faktur Pajak Standar yang diganti, atau dibatalkan tersebut dilaporkan.&lt;br /&gt;- Pembeli Barang Kena Pajak dan/atau Penerima Jasa Kena Pajak yang telah melakukan pengkreditan Pajak Masukan atas Pajak Pertambahan Nilai pada Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan oleh Pengusaha Kena Pajak Penjual, harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dimana Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut dilaporkan, sepanjang belum dilakukan pemeriksaan dan atas Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar tersebut belum dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketentuan Peralihan.&lt;br /&gt;a. Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, namun Faktur Pajak Standar-nya belum diterbitkan pada saat berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, maka Faktur Pajak Standar harus diterbitkan dengan menggunakan Kode dan Nomor Seri sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006.&lt;br /&gt;b. Atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajak Standar-nya diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006 yang masih menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang lama, namun Faktur Pajak Standar-nya diterima dan/atau dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak Pembeli setelah berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ./2006, maka Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum pada Faktur Pajak Standar tetap dapat dikreditkan sepanjang memenuhi ketentuan perpajakan yang berlaku.&lt;br /&gt;c. Penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti atas Faktur Pajak Standar yang telah diterbitkan sebelum Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku, wajib menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.  &lt;br /&gt;d. Bagi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b yang melakukan pemusatan tempat pajak terutang dan keputusan pemusatannya diberikan sebelum Peraturan Direktur Jenderal Nomor PER-159/PJ./2006 berlaku, namun :&lt;br /&gt;d.1. sistem penerbitan Faktur Pajak Standar-nya belum online antara Kantor Pusat dan Kantor-kantor Cabang-nya; dan/atau&lt;br /&gt;d.2. Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang-nya ada yang ditetapkan sebagai Penyelenggara Kawasan Berikat dan/atau ditetapkan sebagai Pengusaha Di Kawasan Berikat dan/atau berada di Pulau Batam dan/atau mendapat fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor;&lt;br /&gt;maka tata cara pengisian Kode Cabangnya sama dengan tata cara pengisian Kode Cabang yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud butir 3.f.1.1, sampai dengan berakhirnya masa berlaku pemusatan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai pemusatan tempat pajak terutang.&lt;br /&gt;e. Untuk pertama kali, Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan secara tertulis penggunaan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar dan nama pejabat atau kuasa yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak Standar disertai dengan contoh tandatangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada tanggal 20 Januari 2007 bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, para Kepala Kantor Pelayanan Pajak, para Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak, dan para Kepala Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan di seluruh Indonesia, agar :&lt;br /&gt;a. segera melakukan sosialisasi Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang baru beserta tata cara penyampaian dan pembetulannya kepada Pengusaha Kena Pajak yang berada di bawah pengawasannya.&lt;br /&gt;b. menginstruksikan petugas di unit-unit Kantor Pelayanan Pajak untuk melakukan penelitian terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai yang di dalamnya terdapat Faktur Pajak Standar yang Nomor Urut-nya tidak berurutan. Apabila dirasakan perlu, Petugas di Kantor Pelayanan Pajak dapat meminta keterangan kepada Pengusaha Kena Pajak atas penerbitan Faktur Pajak Standar yang Nomor Urut-nya tidak berurutan.&lt;br /&gt;c. menginstruksikan petugas di Kantor Pelayanan Pajak agar menolak penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak Desember 2006 yang tidak dilampiri dengan pemberitahuan secara tertulis penggunaan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar dan nama pejabat atau kuasa yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada butir 4.e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sejak tanggal 1 Januari 2007, Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-01/PJ.9/1995 tentang Penggantian/Pemberian Kode Seri Faktur Pajak, dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt; Pada tanggal 31 Oktober 2006&lt;br /&gt; Direktur Jenderal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Darmin Nasution&lt;br /&gt; NIP  130605098&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembusan :&lt;br /&gt;1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;&lt;br /&gt;2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;&lt;br /&gt;3. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;&lt;br /&gt;4. Kepala Biro Humas Departemen Keuangan;&lt;br /&gt;5. Sekretaris Direkorat Jenderal Pajak;&lt;br /&gt;6. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-116419221594957775?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/xybOHhsgdsA/new-regulation-se-13pj522006-no-faktur.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/11/new-regulation-se-13pj522006-no-faktur.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-116407241029661736</guid><pubDate>Tue, 21 Nov 2006 01:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-11-21T08:26:50.536+07:00</atom:updated><title>No Seri Faktur Pajak Berubah sejak Jan 2007</title><description>Format Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kode Faktur Pajak Standar terdiri dari 6 (enam) digit, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 2 (dua) digit pertama adalah Kode Transaksi, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kode Transaksi Digunakan untuk&lt;br /&gt;01 penyerahan kepada selain Pemungut PPN&lt;br /&gt;02 penyerahan kepada Pemungut PPN Bendaharawan Pemerintah&lt;br /&gt;03 penyerahan kepada Pemungut PPN Lainnya (selain Bendaharawan Pemerintah)&lt;br /&gt;04 penyerahan yang menggunakan DPP Nilai Lain kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;05 penyerahan yang Pajak Masukannya diDeemed kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;06 penyerahan Lainnya kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;07 penyerahan yang PPN atau PPN dan PPn BM-nya Tidak Dipungut kepada selain  &lt;br /&gt;        Pemungut PPN;&lt;br /&gt;08 digunakan untuk penyerahan yang Dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan &lt;br /&gt;        PPn BM kepada selain Pemungut PPN;&lt;br /&gt;09 digunakan untuk penyerahan Aktiva Pasal 16D kepada selain Pemungut PPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 1 (satu) digit berikutnya adalah Kode Status, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kode Status Digunakan untuk&lt;br /&gt;0 Normal&lt;br /&gt;1 Penggantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 3 (tiga) digit berikutnya adalah Kode Cabang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nomor Seri Faktur Pajak Standar, terdiri dari 10 (sepuluh) digit, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;- 2 (dua) digit pertama adalah Tahun Penerbitan.&lt;br /&gt;Cara penulisan Tahun Penerbitan pada Nomor Seri Faktur Pajak Standar adalah dengan mencantumkan dua digit terakhir dari tahun diterbitkannya Faktur Pajak Standar, contohnya tahun 2007 ditulis ‘07’.&lt;br /&gt;- 8 (delapan) digit selanjutnya adalah Nomor Urut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga format Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar secara keseluruhan menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;0 0 0. 0 0 0 - 0 0 .0 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan kode Faktur Pajak standar yang berlaku sebelumnya sbb :&lt;br /&gt;ABCDE-XXX-0000000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABCDE     = 5 huruf acak yang diberikan oleh KPP pada saat pengukuhan sebagai PKP&lt;br /&gt;XXX    = 3 Digit kode KPP&lt;br /&gt;0000000   = 7 digit no seri Faktur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-116407241029661736?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/MXNTZ5Imlyc/no-seri-faktur-pajak-berubah-sejak-jan.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/11/no-seri-faktur-pajak-berubah-sejak-jan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-114966935607429436</guid><pubDate>Tue, 30 May 2006 08:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-06-07T16:14:30.273+07:00</atom:updated><title>Oleh2 dari Nomat</title><description>Nonton, salah satu kegiatan yang jarang aku lakukan. Berhubung sudah lama tdk ke bioskop dan kebetulan ada film yang sudah "dinanti-nantikan" sejak blm muncul.. jadi penasaran pingin nonton jg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan referensi kiri kanan, baca ulasa film Da Vinci Code... ahh kok tdk ada satupun yang bilang kalau film-nya ok. Hampir semua teman yang sudah nonton, bilang kecewa thd film tsb, entah karena harapan terlalu tinggi atau karena hal lain. yang jelas kecewa.. titik.. :). Wahh.. planning mau nonton gak jadi dehh kalau gitu, sebelum kecewa.. bigitu pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin (29-05-06) abis long weekend janjian dg Ida (dulu temen kantor) utk nonton di Djakarta. Ida yang semula ingin nonton Da Vinci Code jg merubah pilihannya. Akhirnya sepakat utk nonton poseidon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK, kita nonton jam 7 saja ya Da, aku keluar Kantor jam 5". Dalam rangka program menghemat.. hehheh (menghemat kok nonton.. :P); dari jagakarsa naik kopaja ke blok M, dan nyambung Transjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 18.45 sampai di halte sarinah. Ida sudah menunggu di tangga masuk Djakarta, seperti janjinya. Aku langsung ke tempat Ida menunggu. Dari kejauhan aku lihat ida sudah berdiri di tempatnya. Setelah ketemu, say hello dan saling menanyakan kabar (karena dah lama ga ketemu) Ida memberikan oleh2 pesananku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku jalan kedepan, tiba2 ada cowok yang sama2 berdiri deket tangga masuk Djakarta membalikkan badannya dg gaya yang sksd... sambil mengulurkan tangan dan say Hello. "Hai, baru dateng, apa kabar... ?" sapanya . kemudian dia berusaha memperkenalkan aku ke teman2 lainnya (di sekitarnya ada sekitar 6-7 orang cowok cewek yang mungkin sedang menunggu rekan lainnya jg). "Ini si A, ini si B, ini si C..." katanya memperkenalkan aku ke teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terbengong2.. dan mikir "ini salah orang atau nggak sihh" aku menyalami mereka satu2. Ida yang sudah berjalan lebih dulu utk masuk ke Djakarta, ketika menoleh kebelakang (maksudnya nyari aku...) jg terbengong2 melihat aku sedang bersalam-salaman dg orang2 yang tadi berdiri disebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah selesai bersalaman dg sekelompok orang tadi, aku berjalan ke arah Ida. Tiba2 Ida tanya.. "ketemu siapa Tri?"; banyak amat. "emang ada teman2 kamu di tempat gaul gini?". upsss.. "gak tau.... gw jg heran" sahutku. "gw pikir tuh tadi cowok yang negur gw duluan itu temen kamu"... :D "gw heran aja kok sok kenal banget, bukan loe yang ngenalin ke gw" sambungku. "Enggak, aku pergi sendirian kok", sahut Ida sambil ketawa2.. lha terus loe ngapain salaman ma semua orang tadi.. lanjut ida. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hahahahah... wahh.. berarti salah orang kali tuh tadi cowok negur gw dan ngenalin ke yang lain2nya... gw pikir tuh cowok temen kamu da, gw kirain loe emang nonton rame2 ma temen kantor or temen main loe. tapi anehnya kok  loe langsung jalan tanpa ngajak2 mereka dan jg gak ngenalin mrk ke gw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah sambil nunggu jam nonton ketawa-ketiwi inget kejadian tsb. lucu juga. sayangnya aku tdk tll ingat nama2 orang yang dikenalkan tsb. dan aku jg tdk bertanya mrk menunggu siapa dst.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-114966935607429436?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/IYF3pVI2Dus/oleh2-dari-nomat.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">13</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/05/oleh2-dari-nomat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-114595582546001727</guid><pubDate>Tue, 25 Apr 2006 08:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-04-25T16:03:45.780+07:00</atom:updated><title>PPh 21 atas tenaga harian lepas dalam Per-15/PJ./2006</title><description>Ini iseng aja, sedikit komentar baru baca Per-15/PJ./2006 nemu perbedaan.&lt;br /&gt;Meskipun kalau dilihat dari angka2nya perbedaan tsb nggak material, tapi&lt;br /&gt;kalau dilihat efeknya.. bisa jadi "substansial" jg.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telat banget yaa hari gini baru baca PER-15. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan yang mau kasih opininya. Thanks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Iseng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---kutipan dari per-15----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penghitungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.1.1 Seto dengan status belum menikah. pada bulan Januari 2006 bekerja&lt;br /&gt;sebagai buruh harian pada PT Hanif Sejahtera. Ia bekerja selama 10 hari dan&lt;br /&gt;menerima upah harian sebesar Rp 110.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah sehari Rp 110.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan PPh Rp 110,000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak Sehari Rp 0,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari: Rp 0,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan hari ke-10, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum&lt;br /&gt;melebihi Rp 1.100.000,00, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan Seto bekerja selama 11 hari, maka pada hari ke-11, setelah jumlah&lt;br /&gt;kumulatif upah yang diterima melebihi Rp 1.100.000,00, maka PPh Pasal 21&lt;br /&gt;terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah s.d hari ke-11 (Rp 110.000,00 x 11) Rp 1.210.000,00&lt;br /&gt;PTKP sebenarnya ( Rp 13.200.000,00 x 11 / 360) Rp 403.333,00&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-11 Rp 806.667,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-11&lt;br /&gt;Rp 806.667 x 5% Rp 40.333,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-10 Rp 0,00&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-11 Rp 40.333,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pada hari ke-11, upah bersih yang diterima Seto sebesar:&lt;br /&gt;Rp 110.000,00 - Rp 40.333,00 = Rp 69.667,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan Seto bekerja selama 12 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang&lt;br /&gt;harus dipotong pada hari ke-12 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah s.d hari ke-12 ( Rp 110.000,00 x 12) Rp 1.320.000,00&lt;br /&gt;PTKP sebenarnya (Rp 13.200.000,00 x 12 /360) Rp 440.000,00&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak s.d hari 12 Rp 880.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-12&lt;br /&gt;Rp 880.000,00 x 5% Rp 44.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 telah dipotong s.d hari ke-11 Rp 40.333,00&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-12 Rp 3.667,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pada hari ke-12, Seto menerima upah bersih sebesar:&lt;br /&gt;Rp 110.000,00 - Rp 3.667,00 = Rp 106.333,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----akhir kutipan---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyani's Comment :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan contoh perhitungan tsb penghasilan kena pajak yang menjadi dasar&lt;br /&gt;perhitungan PPh 21 utk tenaga harian lepas TIDAK DIBULATKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----kutipan lagi----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.1.2. Abdullah (tidak menikah) pada bulan Maret 2006 bekerja pada&lt;br /&gt;perusahaan PT Gema Nusantara, menerima upah sebesar Rp 150.000,00 per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan PPh Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah sehari Rp 150.000,00&lt;br /&gt;Upah sehari di atas Rp 110.000,00 = Rp 150.000,00 - Rp 100.000,00 = Rp 40.000,00&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 = 5% x Rp 40.000,00 = Rp 2.000,00 (harian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedelapan dalam bulan takwim yang bersangkutan, Abdullah telah&lt;br /&gt;menerima penghasilan sebesar Rp 1.200.000,00, sehingga telah melebihi Rp&lt;br /&gt;1.100.000,00. Dengan demikian PPh Pasal 21 atas penghasilan Abdullah pada&lt;br /&gt;bulan Maret 2006 dihitung sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah 8 hari kerja Rp 1.200.000,00&lt;br /&gt;PTKP : 8 x (Rp 13.200.000,00/360) Rp 293.333,00&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;Upah harian terutang pajak Rp 906.667,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembulatan Rp 906.000,00&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 = 5% x Rp 906.000,00 Rp 45.300,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang telah dipotong&lt;br /&gt;7 x Rp 2.000,00 Rp 14.000,00&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 kurang dipotong Rp 31.300,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah sebesar Rp 31.300,00 ini dipotongkan dari upah harian sebesar Rp&lt;br /&gt;150.000,00 sehingga upah yang diterima Abdullah pada hari kerja kedelapan&lt;br /&gt;adalah Rp 150.000,00 - Rp 31.300,00 = Rp 118.700,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kerja ke 9 dan seterusnya dalam bulan takwim yang bersangkutan,&lt;br /&gt;jumlah PPh Pasal 21 per hari yang dipotong adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah sehari Rp 150.000,00&lt;br /&gt;PTKP&lt;br /&gt;- untuk WP sendiri Rp 13.200.000,00 : 360 Rp 36.667,00&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;Upah harian terutang pajak adalah Rp 113.333,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembulatan Rp 113.000,00&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 terutang adalah 5% x Rp 113.000,00 = Rp 5.650,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----akhir kutipan lagi----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyani's Comment :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam contoh perhitungan ke-2 untuk case yang sama (tenaga harian lepas)&lt;br /&gt;Penghasilan kena pajak yang menjadi dasar perhitungan PPh 21 DIBULATKAN&lt;br /&gt;ribuan kebawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;1) Berdasarkan contoh tsb diatas, bagaimana seharusnya perhitungan PPh 21&lt;br /&gt;untuk tenaga harian lepas, apakah penghasilan kena pajaknya DIBULATKAN dalam&lt;br /&gt;ribuan kebawah atau TIDAK ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Triyani (nanya sendiri jawab sendiri heheheh.. ) Berdasarkan contoh&lt;br /&gt;perhitungan tsb diatas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau penghasilannya s/d 110rb/hari, tetapi dalam 1 bln takwim lebih dari&lt;br /&gt;1,1Jt, penghasilan kena pajak-nya TIDAK DIBULATKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalau penghasilannya diatas 110rb/hari maka penghasilan kena pajak-nya&lt;br /&gt;DIBULATKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes : Jawaban tsb adalah jawaban asal, sehingga bisa benar bisa juga&lt;br /&gt;salah.. hehehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah petunjuk umum untuk perhitungan PPh 21 atas tenaga harian&lt;br /&gt;lepas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tentukan jumlah upah/uang saku harian, atau rata-rata upah/uang saku&lt;br /&gt;yang diterima atau diperoleh dalam sehari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. upah/uang saku mingguan dibagi 6;&lt;br /&gt;. upah satuan dikalikan dengan jumlah rata-rata satuan yang dihasilkan dalam sehari;&lt;br /&gt;. upah borongan dibagi dengan jumlah hari yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan borongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian belum melebihi Rp 110.000,00, dan jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp 1.100.000,00, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang harus dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian telah melebihi Rp 110.000,00, dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp 1.100.000,00, maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian setelah dikurangi Rp 110.000,00, dikalikan 5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dalam hal jumlah upah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp 1.100.000,00, maka PPh Pasal 21 yang terutang dihitung dengan mengurangkan PTKP yang sebenarnya, yaitu sebanding dengan banyaknya hari, dari jumlah upah bruto yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comments :&lt;br /&gt;Dalam petunjuk umum tsb tidak ada keterangan kalau PKP-nya harus dibulatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam pasal 17  UU PPh ayat 4 disebutkan bhw untuk keperluan penerapan&lt;br /&gt;tarif (penerapan tarif pasal 17 -red-) maka penghasilan kena pajak dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lagi :&lt;br /&gt;Tarif 5% yang digunakan dalam menghitung PPh 21 atas penghasilan tenaga&lt;br /&gt;harian lepas apakah merupakan tarif pasal 17? Karena dalam petunjuk tsb&lt;br /&gt;disebutkan dikalikan 5% (bukan dikalikan dg tarif pasal 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;PT Partner Utama Konsultan (PARTAMA Consultant)&lt;br /&gt;Financial, Management, &amp; Registered Tax Consultants&lt;br /&gt;Telp.: 021-7888.7627; 7888.5073; 7918.1286&lt;br /&gt;Fax.: 021-7888.5073; 7918.1301&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-114595582546001727?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/9a7kDONg27w/pph-21-atas-tenaga-harian-lepas-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/04/pph-21-atas-tenaga-harian-lepas-dalam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-114076449596945517</guid><pubDate>Fri, 24 Feb 2006 06:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-02-24T14:01:36.210+07:00</atom:updated><title>Bingung Isi SPT Tahunan ?</title><description>Bingung ngisi SPT Tahunan?&lt;br /&gt;Baru Pertama kali dapat tugas ngisi SPT ?&lt;br /&gt;Pingin tahu bagaimana ngisi SPT yang benar ?&lt;br /&gt;Pingin tahu bagaimana menghitung PPh Badan ?&lt;br /&gt;Pingin tahu bagaimana menghitung PPh 21 ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's join with our workshop below.... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rgds&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANGAN WORKSHOP PENGISIAN SPT PPh BADAN DAN SPT PPh 21 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Wajib Pajak Badan diwajibkan untuk mengisi dan menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan (SPT 1771) dan SPT Tahunan PPh 21 (SPT 1721). SPT Tahunan tahun 2005 paling lambat disampaikan ke KPP pada tgl 31 Maret 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempelajari hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam mengisi SPT tahunan PPh Badan dan SPT Tahunan PPh 21 serta aspek-aspek yang terkait lainnya, Mailing list tax-ina bekerja sama dengan PT PARTAMA Consultant dan Universitas Al Azhar Indonesia, bersama ini mengundang Anda untuk mengikuti Pelatihan dan diskusi yang akan diselenggarakan pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tgl  : Selasa – Rabu ; 7-8 Maret 2006&lt;br /&gt;Waktu          : Jam 08.30 s/d Jam 15.30&lt;br /&gt;Topik          : 1. SPT PPh Badan,  Selasa 07 Maret 2006&lt;br /&gt;    2. PPh 21, Rabu 08 Maret  2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandu Oleh    : Bp. Prianto Budi Saptono, Ak, BKP&lt;br /&gt;                 (Tax Partner PT PARTAMA Consultant)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat          :  Universitas Al Azhar Indonesia &lt;br /&gt;     Komplek Masjid Agung Al Azhar&lt;br /&gt;     Jakarta Selatan   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya  : Rp 300.000/orang / hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas : Hardcopi Makalah, &lt;br /&gt;  Softcopi Makaladh dan SPT 1771 dan SPT 1721 dalam format  &lt;br /&gt;  Excel, Certificate of Participation, &lt;br /&gt;  Cofee Break (2x) + Lunch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran ditutup tanggal 5 Maret 2006 (kecuali kapasitas sudah&lt;br /&gt;penuh). Pembayaran paling lambat tanggal 6 Maret 2006.&lt;br /&gt;Pembayaran di transfer ke rekening BCA no : XXX XXX XXXX (INFORMED BY JAPRI) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pendaftaran dan konfirmasi pembayaran dapat menghubungi moderator melalui email : tax-ina-owner@yahoogroups.com atau triyani08@yahoo.com dengan mengisi formulir pendaftaran dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas partisipasi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderator tax-ina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyani (Ph 0812 8570 921 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Form Pendaftaran Workshop PEngisian SPT Tahunan PPh Badan dan PPh 21 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Peserta          : …………………………………………&lt;br /&gt;Jabatan   :.................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Perusahaan  : …………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat Lengkap  : ……………………………………………..&lt;br /&gt;Email address  : ……………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Telp yang dapat dihubungi : ……………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendaftar Untuk  :  ………………………………..&lt;br /&gt;(Mohon isi pilihan pelatihan sesuai nomor dibawah )&lt;br /&gt;1. Pelatihan SPT PPh Badan Tgl 7 Maret 2006&lt;br /&gt;2. Pelatihan SPT PPh 21 Tgl 8 Maret 2006&lt;br /&gt;3. Pelatihan SPT PPh Badan dan SPT PPh 21 Tgl 7 – 8 Maret 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-114076449596945517?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/4ftHmZ1Mj-U/bingung-isi-spt-tahunan.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">21</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/02/bingung-isi-spt-tahunan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113946728855522294</guid><pubDate>Thu, 09 Feb 2006 06:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-02-09T13:41:30.913+07:00</atom:updated><title>Mother, how are you today</title><description>Mother, how are you today&lt;br /&gt;[Maywood]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Here is a note from your daughter,&lt;br /&gt;With me everything is okay.&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Mother, don't worry, I'm fine.&lt;br /&gt;Promise to see you this summer.&lt;br /&gt;This time there'll be no delay.&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;I found the man of my dreams.&lt;br /&gt;Next time you will get to know him.&lt;br /&gt;Many things happened while I was away.&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Here is a note from your daughter,&lt;br /&gt;With me everything is okay.&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Many things happened while I was away.&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;br /&gt;Mother, how are you today?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113946728855522294?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/_DopuWEg0XY/mother-how-are-you-today.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/02/mother-how-are-you-today.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113940296703753047</guid><pubDate>Wed, 08 Feb 2006 12:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-02-08T19:49:27.383+07:00</atom:updated><title>Bad mood nehh</title><description>Lagi bad mood banget nehh. enaknya ngapain yah? &lt;br /&gt;ihh dari tadi kayaknya males banget mo ngapa2in, pdhal byk hal yang harus dilakukan... :(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113940296703753047?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/1K3Yuj7RD_s/bad-mood-nehh.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/02/bad-mood-nehh.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113730234587210487</guid><pubDate>Sun, 15 Jan 2006 05:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-01-15T12:19:06.770+07:00</atom:updated><title>Dikasih NPWP ? Trus kudu ngapain ?</title><description>Buat teman2 yang terpaksa punya NPWP krn dikirimin hadiah oleh DJP, dan masih bingung harus ngapain setelah punya NPWP, mending gabung di workshop berikut ini... :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANGAN WORKSHOP PPh ORANG PRIBADI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang mempunyai penghasilan diatas PTKP Wajib memiliki&lt;br /&gt;NPWP. Saat ini DJP telah menerbitkan NPWP secara Jabatan untuk Wajib&lt;br /&gt;Pajak Orang Pribadi berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai&lt;br /&gt;sumber. Apakah Anda merupakan salah satu Wajib Pajak Baru tersebut ?&lt;br /&gt;Sudah tahukah Anda apa yang harus dilakukan setelah memiliki&lt;br /&gt;NPWP ? Tahukah anda apa hak dan kewajiban Anda sebagai Wajib&lt;br /&gt;Pajak ? Tahukah Anda Bagaimana menghitung Pajak yang terutang atas&lt;br /&gt;penghasilan yang Anda peroleh ? Tahukah Anda bagaimana mengisi SPT&lt;br /&gt;Tahunan Anda ? Tahukah Anda apa resiko yang akan timbul atas ketidak&lt;br /&gt;tahuan Anda ? Segera hilangkan kekhawatiran Anda dengan bergabung&lt;br /&gt;bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempelajari aspek perpajakan yang terkait dengan Wajib Pajak&lt;br /&gt;Orang Pribadi, PT PARTAMA Consultant bekerja sama dengan milis tax-&lt;br /&gt;ina, mailing list groups of tax professionals of taxpayers in&lt;br /&gt;Indonesia, bersama ini mengundang Anda untuk mengikuti Pelatihan dan&lt;br /&gt;Diskusi yang akan diselenggarakan pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tgl         : Sabtu, 28 Januari 2006&lt;br /&gt;Waktu            : Jam 08.30 s/d Jam 15.30&lt;br /&gt;Tema             : Perpajakan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi&lt;br /&gt;Dipandu Oleh     : Bp. Prianto Budi Saptono, Ak, BKP&lt;br /&gt;                   (Tax Partner PT PARTAMA Consultant)&lt;br /&gt;Tempat           : Dieng Room - Hotel Kartika Candra,&lt;br /&gt;                   Jl Gatot Subroto – Jakarta&lt;br /&gt;Biaya            : Rp 300.000/orang&lt;br /&gt;Fasilitas        : Hardcopy Makalah&lt;br /&gt;                   Softcopy SPT 1770 dan SPT 1770-S dalam format Excel.&lt;br /&gt;                   Certificate of Participation. Cofee Break (2x) + Lunch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran ditutup tanggal 24 Januari 2006 (kecuali kapasitas sudah&lt;br /&gt;penuh). Pembayaran paling lambat tanggal 25 Januari 2006.&lt;br /&gt;Pembayaran di transfer ke rekening BCA no : XXX.XXX.XXX [informed by japri] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pendaftaran dan konfirmasi pembayaran dapat menghubungi moderator melalui email : tax-ina-owner@yahoogroups.com atau triyani08@yahoo.com dengan mengisi formulir pendaftaran dibawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas partisipasi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;Moderator tax-ina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyani &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;Form Pendaftaran Workshop PPh Orang Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Peserta : …………………………………………&lt;br /&gt;Jabatan :.................&lt;br /&gt;Nama Perusahaan : …………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat Lengkap : ……………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email address : ……………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Telp yang dapat dihubungi : ……………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Topik-topik yang akan dibahas antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpajakan Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak Orang Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kewajiban memiliki NPWP bagi WPOP.&lt;br /&gt;b. Bagaimana mengajukan Penghapusan NPWP bagi WPOP&lt;br /&gt;c. Apa yang harus dilakukan WPOP setelah memperoleh NPWP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perhitungan PPh Untuk WPOP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian PPh Orang Pribadi&lt;br /&gt;b. Subjek Pajak Orang Pribadi&lt;br /&gt;c. Penghasilan yang merupakan Obyek PPh&lt;br /&gt;d. Penghasilan yang bukan merupakan Obyek PPh Non Final&lt;br /&gt;e. Penghasilan yang merupakan Obyek PPh Final&lt;br /&gt;f. Pajak untuk WPOP Karyawan yang memiliki penghasilan teratur&lt;br /&gt;lainnya&lt;br /&gt;g. Pajak untuk WPOP Karyawan yang memiliki Penghasilan yang tidak&lt;br /&gt;teratur&lt;br /&gt;h. Pajak untuk WPOP yang bekerja di lebih dari satu pemberi kerja&lt;br /&gt;i. Pajak untuk WPOP Pengusaha dan Professional yang melakukan&lt;br /&gt;pekerjaan bebas&lt;br /&gt;j. Perhitungan PPh bagi WPOP yang memiliki perjanjian Pisah Harta&lt;br /&gt;k. Daftar Harta dan Kewajiban bagi WPOP dan pengaruhnya terhadap PPh&lt;br /&gt;terutang.&lt;br /&gt;l. Analisa Biaya Hidup bagi WPOP dan pengaruhnya terhadap PPh&lt;br /&gt;terutang.&lt;br /&gt;m. Lampiran yang disyaratkan dalam SPT Tahunan PPh OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cara Mengisi SPT PPh OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Studi kasus Pengisian SPT 1770-S&lt;br /&gt;b. Studi Kasus Pengisian SPT 1770&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113730234587210487?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/LXj5Ym43agw/dikasih-npwp-trus-kudu-ngapain.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2006/01/dikasih-npwp-trus-kudu-ngapain.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113498234501759060</guid><pubDate>Mon, 19 Dec 2005 08:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-12-19T15:52:39.290+07:00</atom:updated><title>SPT Masa PPN Baru (SPT 1106) Ditunda Masa Berlakunya</title><description>FYI Please&lt;br /&gt;Berdasarkan PER-166/PJ./2006 Tgl 16/12/05 Jo SE-16/PJ.52/2005 Tgl 16/12/05 &lt;br /&gt;SPT Masa PPN yang baru (SPT 1106) ditunda masa berlakunya sampai 31/12/06.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;JOKE OF THE DAY... !!!!.. Sad But True... heheheheh&lt;br /&gt;KPP2 di Kanwil Khusus baru mulai sosialisasi SPT Masa PPN Baru ini tgl 13 Des Kemarin dan sampai saat ini masih berlangsung, sementara IKPI akan mengadakan Sosialisasi tgl 20 Des besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgl 16 Des keluar aturan ttg penundaan berlakunya SPT Masa PPN Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasinya gimana yah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, ttg SPT PPN ini... tahun 1997 juga ada aturan ttg perubahan form 1195. dulu di salah satu KPP khusus malah sudah meminta WP-nya utk menyampaikan SPT Masa PPN menggunakan form baru...... tapi keesokan harinya keluar aturan yang menunda berlakunya SPT Masa PPN baru th 1997 tsb. Penundaan dilakukan sampai waktu yang ditentukan kemudian.. dan sampai sekarang ga ada kabar beritanya tuhh... :D, ehhh... tahu2 th 2005 ada aturan baru ttg SPT PPN dan ternyata ditunda juga..... tapi ditundanya sampai 31/12/06 katanyaaaaaaaaaaaaa..... :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113498234501759060?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/TXZ2DoIVMb0/spt-masa-ppn-baru-spt-1106-ditunda.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/12/spt-masa-ppn-baru-spt-1106-ditunda.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113412933836953412</guid><pubDate>Fri, 09 Dec 2005 11:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-12-09T19:17:20.596+07:00</atom:updated><title>Dari Pelatihan SPT Masa PPN Baru</title><description>Tepat sehari sebelum Seminar ttg VAT Update tax-ina diselenggarakan (Oct'05), ada peraturan DJP yang baru tentang perubahan form SPT Masa PPN (SPT 1106) yang akan mulai diberlakukan untuk masa pajak Januari 2006. Oleh karena itu, sebelum seminar diadakan sudah banyak yang menanyakan apakah VAT Update besok termasuk membahas Form baru atau tidak... hehehehe. yahh Jawabnya standart aja.. mengenai form baru.. nantikan sesi pelatihan/seminar berikutnya.. :D&lt;br /&gt;sebelum seminar VAT Update bubar, sebagian peserta menanyakan kapan tax-ina mengadakan pelatihan form SPT Masa PPN baru tsb? padahal saat itu formulir SPTnya juga blm ada... ck ck ck. Semula direncanakan pelatihan SPT PPN Baru tsb akan dilaksanakan sekitar bln Des'05 (selain menunggu bentuk form dan juklaknya, jg utk memberi kesempatan "pembicara" mempelajari form baru tsb jika sudah diperoleh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah ketika di sounding ke teman2 lain, responsnya sangat antusias. Dengan berbagai pertimbangan (tentunya setelah form diperoleh) akhirnya pelatihan tsb dapat diadakan tgl 16 Nov 2005 dengan jumlah peserta yang jauh melampaui target. Target dalam pelatihan kali ini diharapkan 50 peserta... namun krn yang mendaftar lebih dari 80 orang pada awalnya dan juga banyak yang mendaftar sbg peserta cadangan. alhamdulillah kapasitas ruangan cukup utk 85 org, akhirnya pelatihan diadakan utk 85 orang... Suprised!!!. Sempet khawatir takut pada hari H kondisinya kurang kondusif dg banyaknya peserta tsb... Alhamdulillah semua berjalan dg lancar, meskipun saat itu saya harus meninggalkan teman2 sebelum bubar (krn jam 4 harus mengisi training di GA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya peserta yang masuk dalam daftar cadangan otomatis kami harus mempersiapkan pelatihan gelombang berikutnya. Alhamdulillah pelatihan gel II jg dapat berjalan dg lancar. Target yang semula hanya untuk peserta yang masuk dalam daftar cadangan dan tambahan teman2 yang tdk bisa ikut pelatihan tgl 16.. ternyata yang mendaftar sampai 90 orang... benar2 diluar prediksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah... senang sekali melihat antusiasme teman2 calon peserta pelatihan untuk belajar... benar2 luar biasa. meskipun hanya selang 2 minggu setelah pelatihan gel I, syukurlah semua berjalan dg baik, meskipun lagi2 disela2 pelatihan harus kabur.. krn ada agenda lain yang harus dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kegiatan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi aku untuk mengorganize kegt seminar/Pelatihan. Meskipun sudah beberapa kali mengadakan event seminar, tapi kali ini beda.. krn acara di set lebih formil dan dilaksanakan pada hari kerja, selain itu jg untuk public (non member tax-ina). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega banget rasanya.. plonk.. seperti hilang beban berat.. hehehehe.. lupa dehh kalau kemarin sampai kuping panas nerima telp di HP dari calon peserta.. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu terima kasih untuk teman2 panitia, pemandu/pembicara, peserta, spsonsor dan semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara tsb. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan balasan yang jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kemarin2 sempat berpikir untuk mengadakan pelatihan gel III (krn sampai kemarin masih ada beberapa org yang menanyakan kapan pelatihan SPT PPN baru tsb akan diadakan lagi), tapi krn KPP2 sudah mengadakan sosialisasi untuk para WPnya.. rasanya sudah kurang seru kalau tax-ina kembali mengadakan pelatihan yang sama.. :). selain itu EO komersial lainnya jg ada yang menyelenggarakan pelatihan sejenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral of the story : Cepat tanggap akan perubahan dan menjadi yang pertama dalam mengerjakan sesuatu (sesuatu yg baik tentunya) tidak akan merugikan.. :). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113412933836953412?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/R90BDoBm1iY/dari-pelatihan-spt-masa-ppn-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/12/dari-pelatihan-spt-masa-ppn-baru.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113178939730582234</guid><pubDate>Sat, 12 Nov 2005 09:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-11-12T17:00:54.836+07:00</atom:updated><title>Seorang Kuasa Pajak Harus memiliki Izin Praktek Konsultan Pajak.</title><description>Kemarin sore (11/11/05) lagi iseng browsing sambil nunggu ujan reda sebelum pulang kantor, suprised banget liat ada peraturan Menteri Keuangan baru yang mengatur tentang Syarat seorang Kuasa Pajak dan juga tentang Konsultan Pajak Indonesia. Alhamdulillah, ketika melihat detail aturan tersebut sangat mendukung profesi saya sebagai Konsultan Pajak Berlisensi... :). Maklumlah selama ini sering muncul berbagai pertanyaan tentang apa gunanya punya ijin praktek konsultan, krn cukup dengan mempunyai brevet negara sudah bisa menjadi kuasa wajib pajak untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih terkejut lagi (dan sekaligus bersyukur....hehehehe...), karena sebelumnya saya baru saja mengambil keputusan penting dalam pekerjaan saya (see previous posting dg judul "ganti email"). Dengan melihat aturan baru tsb, saya menjadi lebih yakin bahwa apa yang saya putuskan memang keputusan yang terbaik buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kutipan aturannya :&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;PERSYARATAN SEORANG KUASA UNTUK MENJALANKAN HAK DAN MEMENUHI KEWAJIBAN MENURUT &lt;br /&gt;KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PERPAJAKAN; berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 576/KMK.04/2000 sebagaimana terakhir telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No 97/PMK.03/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wajib Pajak dapat menunjuk seorang Kuasa yang bukan pegawainya dengan suatu Surat Kuasa Khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kuasa sebagaimana dimaksud pada point 1 harus memenuhi syarat sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. menyerahkan Surat Kuasa Khusus asli dengan ketentuan 1 (satu) Surat Kuasa   berlaku untuk 1 (satu) jenis pajak dan 1 (satu) tahun/masa pajak dengan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan tsb dan menyerahkan Surat Pernyataan dengan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan tsb; &lt;br /&gt;b. &lt;strong&gt;memiliki ijin praktek sebagai Konsultan Pajak&lt;/strong&gt;; dan &lt;br /&gt;c. tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lain dibidang keuangan negara." &lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bagi anda yang ingin menunjuk pihak ketiga sebagai kuasa untuk mewakili dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakan jangan ragu-ragu untuk contact saya. Karena sudah memenuhi syarat sesuai dg peraturan menteri keuangan yang baru tsb :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani  &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Registered Tax Consultant. &lt;br /&gt;License : SI-1008/PJ./2004&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113178939730582234?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/sl1dnXDSYG8/seorang-kuasa-pajak-harus-memiliki.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/11/seorang-kuasa-pajak-harus-memiliki.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113032749014595617</guid><pubDate>Wed, 26 Oct 2005 11:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-10-26T18:51:30.220+07:00</atom:updated><title>Kewajiban Pajak Bagi WP Badan</title><description>Continued from previous posting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kewajiban Pajak Bagi Wajib Pajak Badan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dilakukan oleh wajib pajak setelah &lt;br /&gt;terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak dan memiliki NPWP adalah &lt;br /&gt;melakukan pembayaran dan melaporkan pajak yang terutang atas &lt;br /&gt;penghasilan yang diterima atau diperolehnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, wajib pajak juga memiliki kewajiban untuk &lt;br /&gt;memungut/memotong dan menyetorkan pajak atas penghasilan yang &lt;br /&gt;dibayarkan/ terutang kepada pihak lainnya.  Tatacara &lt;br /&gt;pemenuhan kewajiban tersebut diatur dalam undang-undang no 7 &lt;br /&gt;tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana terakhir &lt;br /&gt;telah diubah dengan Undang-undang No 17 tahun 2000 beserta &lt;br /&gt;peraturan pelaksanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Pajak Penghasilan, bagi pengusaha yang telah &lt;br /&gt;dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak juga memiliki &lt;br /&gt;kewajiban dibidang PPN dan PPn BM yang ketentuannya diatur &lt;br /&gt;dalam Undang-undang no 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan &lt;br /&gt;Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah sebagaimana terakhir &lt;br /&gt;telah diubah dengan UU No 18 tahun 2000 beserta peraturan &lt;br /&gt;pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak badan setelah &lt;br /&gt;memperoleh NPWP adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wajib pajak terdaftar di KPP dan memiliki NPWP, maka &lt;br /&gt;memiliki kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan &lt;br /&gt;Masa/ bulanan ke kantor pelayanan pajak tempat wajib pajak &lt;br /&gt;terdaftar. Jenis SPT Masa yang harus disampaikan oleh wajib &lt;br /&gt;pajak badan terdiri dari : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. SPT Masa PPh Pasal 25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 25 merupakan angsuran PPh dalam tahun pajak &lt;br /&gt;berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk &lt;br /&gt;setiap bulan. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 adalah sebesar &lt;br /&gt;Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan &lt;br /&gt;Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu, setelah &lt;br /&gt;dikurangi dengan PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak &lt;br /&gt;lain dan PPh yang terutang/dibayar diluar negeri yang dapat &lt;br /&gt;dikreditkan; dibagi 12 (dua belas) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wajib pajak yang baru pertama kali memperoleh &lt;br /&gt;penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak &lt;br /&gt;berjalan (Wajib Pajak baru), besarnya Angsuran PPh Pasal 25 &lt;br /&gt;dihitung berdasarkan  Pajak Penghasilan yang dihitung &lt;br /&gt;berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto &lt;br /&gt;sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran PPh pasal 25 adalah setiap tanggal 15 &lt;br /&gt;bulan berikutnya. Apabila tanggal 15 jatuh pada hari libur, &lt;br /&gt;maka pembayaran Ph Pasal 25 dapat  dilakukan pada hari kerja &lt;br /&gt;berikutnya. Sedangkan batas untuk menyampaikan SPT Masa PPh &lt;br /&gt;Pasal 25 adalah 20 hari setelah berakhirnya masa pajak (tgl &lt;br /&gt;20 bulan berikutnya). Apabila tanggal 20 jatuh pada hari &lt;br /&gt;libur, maka pelaporan harus dilakukan pada hari kerja &lt;br /&gt;sebelumnya. Hari libur meliputi hari libur nasional dan hari- &lt;br /&gt;hari yang ditetapkan sebagai hari cuti bersama oleh &lt;br /&gt;pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 25, juga merupakan SPT &lt;br /&gt;Masa PPh Pasal 25. SPT Masa PPh Pasal 25 ini, merupakan salah &lt;br /&gt;satu SPT Masa yang wajib disampaikan oleh wajib pajak badan, &lt;br /&gt;meskipun tidak terdapat pembayaran (SPT Nihil).  Apabila &lt;br /&gt;Wajib pajak tidak menyampaikan atau terlambat menyampaikan &lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 25, maka wajib pajak akan dikenakan sanksi &lt;br /&gt;berupa denda sebear Rp 50.000 untuk satu SPT Masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Badan selain yang bergerak dibidang usaha &lt;br /&gt;pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan, apabila &lt;br /&gt;melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan atau &lt;br /&gt;bangunan wajib menyetor PPh yang terutang atas pengalihan hak &lt;br /&gt;atas tanah dan atau bangunan. Besarnya PPh yang terutang &lt;br /&gt;adalah 5% dari nilai tertinggi antara nilai transaksi dengan &lt;br /&gt;nilai  NJOP. PPh yang terutang atas transaki pengalihan hak &lt;br /&gt;atas tanah dan atau bangunan merupakan uang muka pajak yang &lt;br /&gt;dapat dikreditkan dalam PPh Badan pada akhir tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. SPT Masa PPh Pasal 21/26 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh pasal 21 merupakan PPh yang terutang atas penghasilan &lt;br /&gt;berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain &lt;br /&gt;dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan &lt;br /&gt;pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak &lt;br /&gt;orang pribadi. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 Undang-unang &lt;br /&gt;PPh, PPh Pasal 21 wajib dipotong, disetor dan dilaporkan oleh &lt;br /&gt;pemotong pajak, yaitu : pemberi kerja, bendaharawan &lt;br /&gt;pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan dan penyelenggara &lt;br /&gt;kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib pajak badan selaku pemberi kerja yang membayarkan gaji, &lt;br /&gt;upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama &lt;br /&gt;dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan dengan &lt;br /&gt;pekerjaan yang dilakukan oleh waib pajak orang pribadi wajib &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21. Batas waktu penyetoran &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 adalah tanggal 10 bulan berikutnya, namun &lt;br /&gt;apabila tanggal 10 jatuh pada hari libur maka penyetoran &lt;br /&gt;dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Sedangkan batas &lt;br /&gt;waktu pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21 adalah 20 hari setelah &lt;br /&gt;berakhirnya masa pajak (tanggal 20 bulan berikutnya), apabila &lt;br /&gt;tanggal 20 jatuh pada hari libur, maka penyampaian SPT Masa &lt;br /&gt;PPh pasal 21 harus dilakukan pada hari kerja sebelumnya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 21 juga merupakan SPT Masa yang wajib &lt;br /&gt;disampaikan oleh Wajib Pajak Badan meskipun tidak terdapat &lt;br /&gt;penyetoran PPh Pasal 21/26 (SPT Nihil). Apabila Wajib pajak &lt;br /&gt;tidak menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21 atau terlambat &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21, maka akan dikenakan &lt;br /&gt;sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000,- untuk satu SPT Masa. &lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut tentang Petunjuk pelaksanaan &lt;br /&gt;pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21 dan pasal &lt;br /&gt;26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan orang &lt;br /&gt;pribadi diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak No KEP- &lt;br /&gt;545/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. SPT Masa PPN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena &lt;br /&gt;Pajak (PKP) diwajibkan untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai &lt;br /&gt;(PPN) dan Pajak atas Penjualan Barang Mewah (PPn BM) serta &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Masa PPN. Jatuh tempo penyetoran PPN adalah &lt;br /&gt;setiap tanggal 15 bulan berikutnya, sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;penyampaian SPT Masa PPN adalah 20 hari setelah berakhirnya &lt;br /&gt;masa pajak (tgl 20 bulan berikutnya). Seperti halnya &lt;br /&gt;pembayaran PPh Masa, apabila jatuh tempo penyetoran PPN jatuh &lt;br /&gt;pada hari libur, maka penyetoran dapat dilakukan pada hari &lt;br /&gt;kerja berikutnya. Sedangkan untuk pelaporan, apabila batas &lt;br /&gt;waktu pelaporan jatuh pada hari libur maka penyampaian SPT &lt;br /&gt;Masa PPN wajib dilakukan pada hari kerja sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPN merupakan SPT Masa yang wajib disampaikan oleh &lt;br /&gt;Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena &lt;br /&gt;pajak, meskipun Nihil. Apabila Wajib yang telah dikukuhkan &lt;br /&gt;sebagai pengusaha kena pajak tidak menyampaikan  atau &lt;br /&gt;terlambat menyampaikan SPT Masa PPN maka akan dikenakan &lt;br /&gt;sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000 untuk satu SPT Masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT PPN) adalah sebagai sarana &lt;br /&gt;untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan &lt;br /&gt;jumlah Pajak PPN dan PPn BM yang sebenarnya terutang dan &lt;br /&gt;untuk melaporkan tentang : &lt;br /&gt;• Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; &lt;br /&gt;• Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah &lt;br /&gt;dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan atau &lt;br /&gt;melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, yang ditentukan &lt;br /&gt;oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang &lt;br /&gt;berlaku; &lt;br /&gt;• Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat &lt;br /&gt;Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan &lt;br /&gt;mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan &lt;br /&gt;disetorkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai PPN diatur dalam Undang-undang no 8 tahun &lt;br /&gt;1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan &lt;br /&gt;Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana terakhir telah &lt;br /&gt;diubah dengan UU No 18 tahun 2000 beserta peraturan &lt;br /&gt;pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. SPT Masa PPh Pasal 23/26 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh pasal 23 merupakan PPh yang terutang atas penghasilan &lt;br /&gt;yang diterima/diperoleh oleh wajib pajak badan dalam negeri &lt;br /&gt;atau bentuk usaha tetap; yang berupa : &lt;br /&gt;• Deviden &lt;br /&gt;• Bunga &lt;br /&gt;• Royalti &lt;br /&gt;• Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh &lt;br /&gt;pasal 21 &lt;br /&gt;• Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan &lt;br /&gt;penggunaan harta &lt;br /&gt;• Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa   &lt;br /&gt;manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain (yg &lt;br /&gt;ditetapkan DJP) selain jasa yang telah dipotong PPh pasal 21. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh yang terutang atas penghasilan tersebut (PPh Pasal 23) &lt;br /&gt;wajib dipotong, disetorkan dan dilaporkan oleh pemotong PPh &lt;br /&gt;Pasal 23; yaitu badan pemerintah, subyek pajak badan dalam &lt;br /&gt;negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap atau &lt;br /&gt;perwakilan wajib pajak luar negeri lainnya; yang membayar/ &lt;br /&gt;memberikan penghasilan yang merupakan obyek PPh pasal 23. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 26 merupakan PPh yang terutang atas penghasilan &lt;br /&gt;yang diterima/diperoleh oleh Wajib Pajak Luar Negeri  yang &lt;br /&gt;berupa : &lt;br /&gt;g. Deviden; &lt;br /&gt;h. bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan &lt;br /&gt;imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;   &lt;br /&gt;i. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan &lt;br /&gt;penggunaan harta; &lt;br /&gt;j. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan &lt;br /&gt;kegiatan; &lt;br /&gt;k. hadiah dan penghargaan; &lt;br /&gt;l. pensiun dan pembayaran berkala lainnya ; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh yang terutang atas penghasilan tersebut (PPh Pasal 26) &lt;br /&gt;wajib dipotong, disetorkan dan dilaporkan oleh pemotong PPh &lt;br /&gt;Pasal 26. Pemotong PPh Pasal 26 yaitu badan pemerintah, &lt;br /&gt;subyek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk &lt;br /&gt;usaha tetap atau perwakilan wajib pajak luar negeri lainnya; &lt;br /&gt;yang membayar/memberikan penghasilan yang merupakan obyek PPh &lt;br /&gt;pasal 26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu penyetoran PPh Pasal 23/26 oleh pemotong PPh &lt;br /&gt;adalah tanggal 10 bulan berikutnya, sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;penyampaian SPT Masa PPh pasal 23/26 adalah anggal 20 bulan &lt;br /&gt;berikutnya. Apabila tanggal jatuh tempo penyetoran PPh pasal &lt;br /&gt;23/26 jatuh pada hari libur maka penyetoran dapat dilakukan &lt;br /&gt;pada hari kerja berikutnya. Namun apabila tanggal jatuh tempo &lt;br /&gt;pelaporan jatuh pada hari libur, maka laporan harus &lt;br /&gt;disampaikan pada hari kerja sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 23/26 hanya wajib dilaporkan ke KPP &lt;br /&gt;apabila terdapat pembayaran yang terutang PPh Pasal 23/26. &lt;br /&gt;Dengan demikian tidak terdapat SPT Masa PPh pasal 23/26 Nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. SPT Masa PPh Final pasal 4 (2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) PPh final atas penghasilan yang diterima/diperoleh &lt;br /&gt;oleh wajib pajak sendiri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Badan yang memperoleh penghasilan yang &lt;br /&gt;merupakan obyek PPh final, maka diwajibkan untuk membayar dan &lt;br /&gt;melaporkan PPh final pasal 4 (2) yang terutang atas &lt;br /&gt;penghasilan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final dan &lt;br /&gt;pembayaran PPh-nya wajib dilakukan sendiri oleh penerima &lt;br /&gt;penghasilan (Wajib pajak Badan) adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WP Badan dari &lt;br /&gt;kegiatan persewaan tanah dan atau bangunan juga merupakan &lt;br /&gt;obyek PPh final pasal 4 (2). Dalam hal penyewa adalah bukan &lt;br /&gt;pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas penghasilan dari &lt;br /&gt;transaksi persewaan tanah dan atau bangunan wajib dibayar &lt;br /&gt;sendiri oleh penerima penghasilan. Besarnya PPh yang terutang &lt;br /&gt;atas transaksi ini adalah sebesar 10% dari jumlah bruto nilai &lt;br /&gt;persewaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila penyewa adalah pemotong pajak (i.e. WP Badan), maka &lt;br /&gt;pelunasan PPh final atas transaksi ini dilakukan melalui &lt;br /&gt;pemotongan oleh pihak penyewa. Pemotong pajak (penyewa) wajib &lt;br /&gt;memberikan bukti pemotongan (Bukti Potong PPh Final pasal 4 &lt;br /&gt;(2)) kepada wajib pajak (penerima penghasilan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran PPh Final PS 4 (2) atas transaksi ini &lt;br /&gt;adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pemakai jasa bukan merupakan pemotong PPh, atas &lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WP Badan (yang tidak &lt;br /&gt;memiliki sertifikasi sebagai pengusaha kontruksi menengah &lt;br /&gt;atau besar) dari kegiatan Jasa Konstruksi, PPh yang terutang &lt;br /&gt;atas penghasilan tersebut wajib dibayar sendiri oleh wajib &lt;br /&gt;pajak. Namun apabila pemakai jasa merupakan pemotong pajak, &lt;br /&gt;maka PPh yang terutang atas kegiatan ini pelunasannya &lt;br /&gt;dilakukan melalui pemotongan oleh pemakai jasa. Pemotong &lt;br /&gt;pajak (Pemakai jasa) wajib memberikan bukti potong. Besarnya &lt;br /&gt;PPh final pasal 4 (2) yang terutang atas penghasilan dari &lt;br /&gt;kegiatan jasa konstruksi adalah sbb : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Jasa Perencanaan Konstruksi  4% (empat persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto; &lt;br /&gt;b) Jasa Pelaksanaan Konstruksi  2% (dua persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto; &lt;br /&gt;c) Jasa Pengawasan Konstruksi  4% (empat persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) PPh final atas penghasilan yang dibayarkan/terutang &lt;br /&gt;kepada pihak lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib pajak badan yang melakukan pembayaran/memberikan &lt;br /&gt;penghasilan tertentu yang pengenaan pajaknya telah diatur &lt;br /&gt;dengan peraturan pemerintah dan dikenakan PPh final &lt;br /&gt;diwajibkan untuk memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh &lt;br /&gt;yang terutang atas penghasilan  tersebut ke kantor pajak. &lt;br /&gt;Penghasilan yang pengenaan pajaknya telah diatur dengan &lt;br /&gt;peraturan pemerintah dan dikenakan PPh yang bersifat final &lt;br /&gt;adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa &lt;br /&gt;efek. &lt;br /&gt;• Penghasilan dari hadiah undian &lt;br /&gt;• Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau &lt;br /&gt;bangunan &lt;br /&gt;• Penghasilan dari bunga deposito dan tabungan serta &lt;br /&gt;diskonto Sertifikat Bank Indonesia. &lt;br /&gt;• Penghasilan dari persewaan tanah dan atau bangunan &lt;br /&gt;• Penghasilan dari obligasi yang diperdagangkan di &lt;br /&gt;bursa efek &lt;br /&gt;• Penghasilan dari usaha jasa konstruksi &lt;br /&gt;Apabila terdapat transaksi yang merupakan obyek PPh final, &lt;br /&gt;wajib pajak badan yang melakukan transaksi tersebut wajib &lt;br /&gt;memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh yang terutang. &lt;br /&gt;Pelaporan PPh final dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPh &lt;br /&gt;Final. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Final hanya wajib dilaporkan oleh wajib pajak &lt;br /&gt;badan apabila terdapat transaksi yang berhubungan dengan &lt;br /&gt;obyek PPh final, sehingga tidak ada SPT Masa PPh Final Nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. SPT Tahunan PPh Badan (SPT 1771) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berakhirnya tahun pajak, Wajib pajak diwajibkan untuk &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Tahunan (SPT Tahunan PPh Badan – SPT 1771). &lt;br /&gt;SPT Tahunan paling lambat disampaikan 3 (tiga) bulan setelah &lt;br /&gt;akhir tahun pajak/tahun buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT Tahunan) bagi Wajib Pajak &lt;br /&gt;adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan &lt;br /&gt;mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang &lt;br /&gt;sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah &lt;br /&gt;dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan atau &lt;br /&gt;pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian &lt;br /&gt;Tahun Pajak; &lt;br /&gt;• Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan &lt;br /&gt;objek pajak; &lt;br /&gt;• Harta dan kewajiban; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. SPT Tahunan PPh 21 (SPT 1721) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melaporkan SPT Tahunan PPh Badan, Wajib Pajak Badan &lt;br /&gt;selaku pemotong PPh pasal 21 juga diwajibkan menyampaikan SPT &lt;br /&gt;Tahunan PPh pasal 21. Dalam waktu 2 (dua) bulan setelah tahun &lt;br /&gt;takwim berakhir, Pemotong Pajak berkewajiban menghitung &lt;br /&gt;kembali jumlah PPh Pasal 21 yang terutang oleh pegawai tetap &lt;br /&gt;dan penerima pensiun bulanan menurut tarif sebagaimana &lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 17  UU PPh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Pemotong Pajak wajib mengisi, menandatangani, dan &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Tahunan PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan &lt;br /&gt;Pajak tempat Pemotong Pajak terdaftar atau Kantor Penyuluhan &lt;br /&gt;Pajak setempat. Surat Pemberitahuan Tahunan PPh Pasal 21 &lt;br /&gt;harus disampaikan selambat-lambatnya tanggal 31 Maret tahun &lt;br /&gt;takwim berikutnya. Batas waktu pelaporan ini berlaku juga &lt;br /&gt;bagi wajib pajak yang tahun bukunya berbeda dengan tahun &lt;br /&gt;takwim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENGHITUNG DAN MEMBUAT SURAT PEMBERITAHUAN (LAPORAN &lt;br /&gt;PAJAK) &lt;br /&gt;... to be continued...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113032749014595617?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/0onEsqKP_dU/kewajiban-pajak-bagi-wp-badan.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/kewajiban-pajak-bagi-wp-badan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113032730537776409</guid><pubDate>Wed, 26 Oct 2005 11:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-10-26T18:48:32.696+07:00</atom:updated><title>Kewajiban Pajak Bagi WPOP Pengusaha</title><description>Pengantar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan lanjutan seri Ketika Kita Harus &lt;br /&gt;Mempunyai NPWP. Dalam bagian sebelumnya telah diuraikan   &lt;br /&gt;tentang "Hak Dan Kewajiban Pajak Secara Umum" &lt;br /&gt;serta "Kewajiban Pajak Bagi WPOP Karyawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seri ini diuraikan tentang "Kewajiban Pajak Bagi WPOP &lt;br /&gt;Yang Melakukan Kegiatan Usaha / Pekerjaan Bebas". Dan akan &lt;br /&gt;dilanjutkan dengna "Kewajiban Pajak Bagi WP Badan". Kewajiban &lt;br /&gt;Pajak yang diuraikan dalam tulisan ini merupakan kewajiban &lt;br /&gt;pajak yang mendasar bagi wajib pajak baru, oleh karena itu &lt;br /&gt;Belum diungkap kewajiban-kewajiban pajak lainnya, seperti &lt;br /&gt;kewajiban pajak sehubungan dengan transaksi impor misalnya. &lt;br /&gt;Tulisan ini diharapkan dapat membantu Wajib Pajak baru yang &lt;br /&gt;belum memahami tentang apa yang harus dilakukan setelah &lt;br /&gt;memperoleh NPWP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Membaca, Semoga Bermanfaat. Any Comments and &lt;br /&gt;Correction are highly appreciated. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Triyani &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------- &lt;br /&gt;B. Kewajiban Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang &lt;br /&gt;melakukan Kegiatan Usaha atau Pekerjaan Bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan Usaha &lt;br /&gt;atau pekerjaan bebas, setelah terdaftar di kantor pelayanan &lt;br /&gt;pajak dan memperoleh NPWP maka akan memiliki kewajiban pajak &lt;br /&gt;yang harus dilaksanakan. Wajib Pajak Orang Pribadi yang &lt;br /&gt;melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas selaku pemberi kerja &lt;br /&gt;selain diwajibkan untuk membayar dan melaporkan pajak yang &lt;br /&gt;terutang atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya &lt;br /&gt;sendiri juga diwajibkan untuk menyetorkan dan melaporkan PPh &lt;br /&gt;yang terutang atas penghasilan yang dibayarkan atau terutang &lt;br /&gt;kepada karyawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal WPOP yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas &lt;br /&gt;telah dikukuhkan sebagai Pengusaha kena pajak juga memiliki &lt;br /&gt;kewajiban dibidang PPN. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi &lt;br /&gt;tertentu yang telah ditunjuk oleh dirjen pajak sebagai &lt;br /&gt;pemotong PPh Pasal 23 dan PPh Final pasal 4 (2), juga &lt;br /&gt;memiliki kewajiban dibidang PPh 23 dan PPh Final Pasal 4 (2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak Orang Pribadi &lt;br /&gt;yang melakukann kegiatan usaha/pekerjaan bebas setelah &lt;br /&gt;memperoleh NPWP adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wajib pajak terdaftar di KPP dan memiliki NPWP, maka &lt;br /&gt;memiliki kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan &lt;br /&gt;Masa/ bulanan ke kantor pelayanan pajak tempat wajib pajak &lt;br /&gt;terdaftar. Jenis SPT Masa yang harus disampaikan oleh wajib &lt;br /&gt;pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan &lt;br /&gt;bebas terdiri dari : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. SPT Masa PPh Pasal 25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 25 merupakan angsuran PPh dalam tahun pajak &lt;br /&gt;berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk &lt;br /&gt;setiap bulan. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 adalah sebesar &lt;br /&gt;Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan &lt;br /&gt;Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu, setelah &lt;br /&gt;dikurangi dengan PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak &lt;br /&gt;lain dan PPh yang terutang/dibayar diluar negeri yang dapat &lt;br /&gt;dikreditkan; dibagi 12 (dua belas) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wajib pajak yang baru pertama kali memperoleh &lt;br /&gt;penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak &lt;br /&gt;berjalan (Wajib Pajak baru), besarnya Angsuran PPh Pasal 25 &lt;br /&gt;dihitung berdasarkan  Pajak Penghasilan yang dihitung &lt;br /&gt;berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto &lt;br /&gt;sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran PPh pasal 25 adalah setiap tanggal 15 &lt;br /&gt;bulan berikutnya. Apabila tanggal 15 jatuh pada hari libur, &lt;br /&gt;maka pembayaran Ph Pasal 25 dapat  dilakukan pada hari kerja &lt;br /&gt;berikutnya. Sedangkan batas untuk menyampaikan SPT Masa PPh &lt;br /&gt;Pasal 25 adalah 20 hari setelah berakhirnya masa pajak (tgl &lt;br /&gt;20 bulan berikutnya). Apabila tanggal 20 jatuh pada hari &lt;br /&gt;libur, maka pelaporan harus dilakukan pada hari kerja &lt;br /&gt;sebelumnya. Hari libur meliputi hari libur nasional dan hari- &lt;br /&gt;hari yang ditetapkan sebagai hari cuti bersama oleh &lt;br /&gt;pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 25, juga merupakan SPT &lt;br /&gt;Masa PPh Pasal 25. SPT Masa PPh Pasal 25 ini, merupakan salah &lt;br /&gt;satu SPT Masa yang wajib disampaikan oleh wajib pajak orang &lt;br /&gt;pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas, &lt;br /&gt;meskipun tidak terdapat pembayaran (SPT Nihil).  Apabila &lt;br /&gt;Wajib pajak tidak menyampaikan atau terlambat menyampaikan &lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 25, maka wajib pajak akan dikenakan sanksi &lt;br /&gt;berupa denda sebesar Rp 50.000 untuk satu SPT Masa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. SPT Masa PPh Pasal 21/26 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh pasal 21/26 merupakan PPh yang terutang atas penghasilan &lt;br /&gt;berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain &lt;br /&gt;dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan &lt;br /&gt;pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak &lt;br /&gt;orang pribadi. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 Undang-undang &lt;br /&gt;PPh, PPh Pasal 21 wajib dipotong, disetor dan dilaporkan oleh &lt;br /&gt;pemotong pajak, yaitu : pemberi kerja, bendaharawan &lt;br /&gt;pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan dan penyelenggara &lt;br /&gt;kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan &lt;br /&gt;usaha/pekerjaan bebas selaku pemberi kerja yang membayarkan &lt;br /&gt;gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan &lt;br /&gt;nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan &lt;br /&gt;dengan pekerjaan yang dilakukan oleh wajib pajak orang &lt;br /&gt;pribadi; wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26. Batas &lt;br /&gt;waktu penyetoran PPh Pasal 21/26 adalah tanggal 10 bulan &lt;br /&gt;berikutnya, namun apabila tanggal 10 jatuh pada hari libur &lt;br /&gt;maka penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. &lt;br /&gt;Sedangkan batas waktu pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/26 &lt;br /&gt;adalah 20 hari setelah berakhirnya masa pajak (tanggal 20 &lt;br /&gt;bulan berikutnya), apabila tanggal 20 jatuh pada hari libur, &lt;br /&gt;maka penyampaian SPT Masa PPh pasal 21/26 harus dilakukan &lt;br /&gt;pada hari kerja sebelumnya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 21/26 juga merupakan SPT Masa yang wajib &lt;br /&gt;disampaikan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan &lt;br /&gt;kegiatan usaha/pekerjaan bebas meskipun tidak terdapat &lt;br /&gt;penyetoran PPh Pasal 21/26 (SPT Nihil). Apabila Wajib pajak &lt;br /&gt;tidak menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 atau terlambat &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26, maka akan dikenakan &lt;br /&gt;sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000,- untuk satu SPT Masa. &lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut tentang Petunjuk pelaksanaan &lt;br /&gt;pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21 dan pasal &lt;br /&gt;26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan orang &lt;br /&gt;pribadi diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak No KEP- &lt;br /&gt;545/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. SPT Masa PPN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena &lt;br /&gt;Pajak (PKP) diwajibkan untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai &lt;br /&gt;(PPN) dan Pajak atas Penjualan Barang Mewah (PPn BM) serta &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Masa PPN. Jatuh tempo penyetoran PPN adalah &lt;br /&gt;setiap tanggal 15 bulan berikutnya, sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;penyampaian SPT Masa PPN adalah 20 hari setelah berakhirnya &lt;br /&gt;masa pajak (tgl 20 bulan berikutnya). Seperti halnya &lt;br /&gt;pembayaran PPh Masa, apabila jatuh tempo penyetoran PPN jatuh &lt;br /&gt;pada hari libur, maka penyetoran dapat dilakukan pada hari &lt;br /&gt;kerja berikutnya. Sedangkan untuk pelaporan, apabila batas &lt;br /&gt;waktu pelaporan jatuh pada hari libur maka penyampaian SPT &lt;br /&gt;Masa PPN wajib dilakukan pada hari kerja sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPN merupakan SPT Masa yang wajib disampaikan oleh &lt;br /&gt;Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena &lt;br /&gt;pajak, meskipun Nihil. Apabila Wajib yang telah dikukuhkan &lt;br /&gt;sebagai pengusaha kena pajak tidak menyampaikan  atau &lt;br /&gt;terlambat menyampaikan SPT Masa PPN maka akan dikenakan &lt;br /&gt;sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000 untuk satu SPT Masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT PPN) adalah sebagai sarana &lt;br /&gt;untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan &lt;br /&gt;jumlah Pajak PPN dan PPn BM yang sebenarnya terutang dan &lt;br /&gt;untuk melaporkan tentang : &lt;br /&gt;o Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; &lt;br /&gt;o Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah &lt;br /&gt;dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan atau &lt;br /&gt;melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, yang ditentukan &lt;br /&gt;oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang &lt;br /&gt;berlaku; &lt;br /&gt;o Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat &lt;br /&gt;Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan &lt;br /&gt;mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan &lt;br /&gt;disetorkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai PPN diatur dalam Undang-undang no 8 tahun &lt;br /&gt;1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan &lt;br /&gt;Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana terakhir telah &lt;br /&gt;diubah dengan UU No 18 tahun 2000 beserta peraturan &lt;br /&gt;pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. SPT Masa PPh Pasal 23/26 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pajak dapat menunjuk Wajib Pajak orang &lt;br /&gt;pribadi dalam negeri sebagai pemotong Pajak Penghasilan Pasal &lt;br /&gt;23. Wajib Pajak  Orang Pribadi tertentu tersebut terdiri &lt;br /&gt;dari : &lt;br /&gt;o Akuntan, Arsitek, Dokter, Notaris, Pejabat Pembuat &lt;br /&gt;Akte Tanah (PPAT) kecuali PPAT tersebut adalah Camat, &lt;br /&gt;pengacara, dan konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas; &lt;br /&gt;o Orang pribadi yang menjalankan usaha yang &lt;br /&gt;menyelenggarakan pembukuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tertentu tersebut &lt;br /&gt;diatas yang telah ditunjuk Dirjen Pajak, akan mendapatkan &lt;br /&gt;urat Penunjukan Sebagai Pemotong PPh Pasal 23 dari Kantor &lt;br /&gt;Pelayanan Pajak tempat WP teraftar. WPOP tertentu yang telah &lt;br /&gt;ditunjuk sebagai pemotong PPh 23, Wajib memotong PPh Pasal 23 &lt;br /&gt;atas pembayaran berupa sewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila terdapat pembayaran/pembebanan biaya berupa sewa, &lt;br /&gt;maka WPOP tertentu yang telah ditunjuk sebagai pemotong PPh &lt;br /&gt;23 oleh Dirjen pajak, diwajibkan untuk memotong, menyetor dan &lt;br /&gt;melaporkan PPh 23 yang terutang atas pembayaran sewa &lt;br /&gt;tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan ketentuan pasal 26 undang-undang PPh, atas &lt;br /&gt;penghasilan berupa : &lt;br /&gt;a. Deviden; &lt;br /&gt;b. bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan &lt;br /&gt;imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;   &lt;br /&gt;c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan &lt;br /&gt;penggunaan harta; &lt;br /&gt;d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan &lt;br /&gt;kegiatan; &lt;br /&gt;e. hadiah dan penghargaan; &lt;br /&gt;f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya ; &lt;br /&gt;yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak luar negeri &lt;br /&gt;selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak &lt;br /&gt;sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak &lt;br /&gt;yang wajib membayarkan. Apabila WPOP yang melakukan kegiatan &lt;br /&gt;usaha/pekerjaan bebas melakukan transaksi dengan wajib pajak &lt;br /&gt;luar negeri sehubungan dengan penghasilan tersebut  diatas &lt;br /&gt;maka memiliki kewajiban untuk memotong, menyetor dan &lt;br /&gt;melaporkan PPh yang terutang atas  penghasilan tersebut (PPh &lt;br /&gt;Pasal 26). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu penyetoran PPh Pasal 23/26 oleh pemotong PPh &lt;br /&gt;adalah tanggal 10 bulan berikutnya, sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;penyampaian SPT Masa PPh pasal 23/26 adalah anggal 20 bulan &lt;br /&gt;berikutnya. Apabila tanggal jatuh tempo penyetoran PPh pasal &lt;br /&gt;23/26 jatuh pada hari libur maka penyetoran dapat dilakukan &lt;br /&gt;pada hari kerja berikutnya. Namun apabila tanggal jatuh tempo &lt;br /&gt;pelaporan jatuh pada hari libur, maka laporan harus &lt;br /&gt;disampaikan pada hari kerja sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 23/26 hanya wajib dilaporkan ke KPP &lt;br /&gt;apabila terdapat pembayaran yang terutang PPh Pasal 23/26. &lt;br /&gt;Dengan demikian tidak terdapat SPT Masa PPh pasal 23/26 Nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. SPT Masa PPh Final pasal 4 (2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) PPh final atas penghasilan yang diterima/diperoleh &lt;br /&gt;oleh wajib pajak sendiri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha &lt;br /&gt;atau pekerjaan bebas yang memperoleh penghasilan yang &lt;br /&gt;merupakan obyek PPh final, maka diwajibkan untuk membayar dan &lt;br /&gt;melaporkan PPh final pasal 4 (2) yang tertuang atas &lt;br /&gt;penghasilan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final dan &lt;br /&gt;pembayaran PPh-nya wajib dilakukan sendiri oleh penerima &lt;br /&gt;penghasilan (Wajib pajak) adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau &lt;br /&gt;bangunan; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WPOP yang menerima/memperoleh penghasilan dari transaksi &lt;br /&gt;pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan diwajibkan &lt;br /&gt;membayar PPh final pasal 4 (2). Besarnya PPh yang terutang &lt;br /&gt;atas transaksi pegalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ini &lt;br /&gt;adalah sebesar 5% dari nilai yang tertinggi antara nilai &lt;br /&gt;pengalihan (nilai transaksi) dengan nilai NJOP.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP dari kegiatan &lt;br /&gt;persewaan tanah dan atau bangunan juga merupakan obyek PPh &lt;br /&gt;final pasal 4 (2). Dalam hal penyewa adalah bukan pemotong &lt;br /&gt;pajak, maka PPh yang terutang atas penghasilan dari transaksi &lt;br /&gt;persewaan tanah dan atau bangunan wajib dibayar sendiri oleh &lt;br /&gt;penerima penghasilan. Besarnya PPh yang terutang atas &lt;br /&gt;transaksi ini adalah sebesar 10% dari jumlah bruto nilai &lt;br /&gt;persewaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila penyewa adalah pemotong pajak (i.e. WP Badan), maka &lt;br /&gt;pelunasan PPh final atas transaksi ini dilakukan melalui &lt;br /&gt;pemotongan oleh pihak penyewa. Pemotong pajak (penyewa) wajib &lt;br /&gt;memberikan bukti pemotongan (Bukti Potong PPh Final pasal 4 &lt;br /&gt;(2)) kepada wajib pajak (penerima penghasilan) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran PPh Final PS 4 (2) atas transaksi ini &lt;br /&gt;adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Sedangkan batas waktu &lt;br /&gt;pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pemakai jasa bukan merupakan pemotong PPh, atas &lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP dari kegiatan &lt;br /&gt;Jasa Konstruksi, PPh yang terutang atas penghasilan tersebut &lt;br /&gt;wajib dibayar sendiri oleh wajib pajak. Namun apabila pemakai &lt;br /&gt;jasa merupakan pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas &lt;br /&gt;kegiatan ini pelunasannya dilakukan melalui pemotongan oleh &lt;br /&gt;pemakai jasa. Pemotong pajak (Pemakai jasa) wajib memberikan &lt;br /&gt;bukti potong. Besarnya PPh final pasal 4 (2) yang terutang &lt;br /&gt;atas penghasilan dari kegiatan jasa konstruksi adalah sbb : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Jasa Perencanaan Konstruksi  4% (empat persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto; &lt;br /&gt;b) Jasa Pelaksanaan Konstruksi  2% (dua persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto; &lt;br /&gt;c) Jasa Pengawasan Konstruksi  4% (empat persen) dari &lt;br /&gt;jumlah bruto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) PPh final atas penghasilan yang terutang/dibayarkan &lt;br /&gt;kepada pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Pajak dapat menunjuk Wajib pajak Orang Pribadi &lt;br /&gt;tertentu sebagai pemotong PPh Final Pasal 4 (2) atas &lt;br /&gt;transaksi persewaan Tanah dan atau bangunan.  Wajib Pajak &lt;br /&gt;Orang Pribadi tertentu yang dapat ditunjuk sebagai pemotong &lt;br /&gt;PPh atas transaksi persewaan tanah dan atau bangunan oleh DJP &lt;br /&gt;adalah: &lt;br /&gt;• Akuntan, arsitek, dokter, Notaris, Pejabat Pembuat &lt;br /&gt;Akte Tanah (PPAT) kecuali PPAT tersebut adalah Camat, &lt;br /&gt;pengacara, dan konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas yang &lt;br /&gt;telah terdafta sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri, &lt;br /&gt;• Orang pribadi yang menjalankan usaha yang &lt;br /&gt;menyelenggarakan pembukuan &lt;br /&gt;yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WPOP tertentu yang telah mendapat surat penunjukan sebagai &lt;br /&gt;pemotong Pajak atas penghasilan dari persewaan tanah dan atau &lt;br /&gt;bangunan dari KPP tempat WP terdaftar memiliki kewajiban &lt;br /&gt;untuk memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh final atas &lt;br /&gt;penghasilan dari transaksi persewaan tanah dan atau bangunan &lt;br /&gt;yang dibayarkan atau terutang kepada pihak lain. &lt;br /&gt;PPh yang terutang atas transaksi persewaan tanah dan bangunan &lt;br /&gt;tersebut, wajib disetorkan paling lambat tanggal 10 bulan &lt;br /&gt;berikutnya dan wajib dilaporkan ke kantor pelayanan pajak &lt;br /&gt;tempat Wajib pajak (pemotong) terdaftar paling lambat tanggal &lt;br /&gt;20 bulan berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Final hanya wajib dilaporkan oleh wajib pajak &lt;br /&gt;apabila terdapat transaksi yang berhubungan dengan obyek PPh &lt;br /&gt;final, sehingga tidak ada SPT Masa PPh Final Nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. SPT Tahunan PPh Badan (SPT 1770) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berakhirnya tahun pajak, Wajib pajak diwajibkan untuk &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Tahunan (SPT Tahunan PPh Orang Pribadi – SPT &lt;br /&gt;1770). SPT Tahunan paling lambat disampaikan 3 (tiga) bulan &lt;br /&gt;setelah akhir tahun pajak/tahun buku. Apabila tahun buku   &lt;br /&gt;sama dengan tahun takwim maka SPT Tahunan wajib disampaikan &lt;br /&gt;paling lambat tanggal 31 Maret tahun berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT Tahunan) bagi Wajib Pajak &lt;br /&gt;adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan &lt;br /&gt;mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang &lt;br /&gt;sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : &lt;br /&gt;• Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah &lt;br /&gt;dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan atau &lt;br /&gt;pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian &lt;br /&gt;Tahun Pajak; &lt;br /&gt;• Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan &lt;br /&gt;objek pajak; &lt;br /&gt;• Harta dan kewajiban; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. SPT Tahunan PPh 21 (SPT 1721) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi (SPT 1770), &lt;br /&gt;Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan &lt;br /&gt;usaha/pekerjaan bebas selaku pemotong PPh pasal 21 juga &lt;br /&gt;diwajibkan menyampaikan SPT Tahunan PPh pasal 21. Dalam waktu &lt;br /&gt;2 (dua) bulan setelah tahun takwim berakhir, Pemotong Pajak &lt;br /&gt;berkewajiban menghitung kembali jumlah PPh Pasal 21 yang &lt;br /&gt;terutang oleh pegawai tetap dan penerima pensiun bulanan &lt;br /&gt;menurut tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17  UU PPh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Pemotong Pajak wajib mengisi, menandatangani, dan &lt;br /&gt;menyampaikan SPT Tahunan PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan &lt;br /&gt;Pajak tempat Pemotong Pajak terdaftar atau Kantor Penyuluhan &lt;br /&gt;Pajak setempat. Surat Pemberitahuan Tahunan PPh Pasal 21 &lt;br /&gt;harus disampaikan selambat-lambatnya tanggal 31 Maret tahun &lt;br /&gt;takwim berikutnya. Batas waktu pelaporan ini berlaku juga &lt;br /&gt;bagi wajib pajak yang tahun bukunya berbeda dengan tahun &lt;br /&gt;takwim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kewajiban Pajak Bagi Wajib Pajak Badan... &lt;br /&gt;..........to be continued.........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113032730537776409?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/V8npmIB9BTw/kewajiban-pajak-bagi-wpop-pengusaha.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/kewajiban-pajak-bagi-wpop-pengusaha.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113023224504164755</guid><pubDate>Tue, 25 Oct 2005 09:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-10-25T16:28:27.270+07:00</atom:updated><title>PPN Atas Cross Border Transaction</title><description>&lt;strong&gt;Penyerahan diluar Daerah Pabean Terutang PPN ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia perdagangan modern seperti sekarang, transaksi perdagangan yang melibatkan beberapa pihak yang berada di negara yang berbeda secara sekaligus merupakan hal yang lazim terjadi. Hal ini terutama untuk alasan praktis dan efisiensi. Aspek perpajakan yang timbul dari transaksi tersebut merupakan salah factor yang harus mendapat perhatian wajib pajak dalam mengambil keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) didalam daerah pabean  diwajibkan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang. Memori penjelasan pasal  4 huruf a undang-undang PPN menegaskan bahwa Penyerahan barang yang dikenakan pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak, &lt;br /&gt;b. barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak tidak berwujud, &lt;br /&gt;c. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean, dan &lt;br /&gt;d. penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.&lt;br /&gt;Salah satu syarat yang menyebabkan penyerahan barang kena pajak tersebut menjadi penyerahan yang terutang PPN adalah “Penyerahan dilakukan didalam daerah pabean”. Definisi Daerah Pabean menurut undang-undang PPN adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Transaksi Perdagangan Segitiga. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia perdagangan, tidak jarang terjadi transaksi bisnis yang melibatkan tiga pihak yang berada di negara yang berbeda seperti dalam contoh kasus berikut ini :&lt;br /&gt;PT Semangat45 (PT S45), merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan spare part mesin kertas. Barang tersebut berasal dari perusahaan afiliasi yang berada di Jerman. Mesin kertas terseut dijual kepada pelanggan baik yang berada di dalam daerah pabean maupun diluar daerah pabean Indonesia. Penyerahan barang kepada pelanggan dilakukan dengan cara sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Transaksi 1 : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyerahan Barang dilakukan didalam daerah pabean Indonesia :&lt;/strong&gt;•&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelanggan yang ada di Indonesia) menyampaikan pesanan pembelian kepada PT S45.  Selanjutnya PT S45 membuat pesanan kepada VPT, Gmbh (VPT) yang berkedudukan di Jerman. VPT ini mengirim barang yang dipesan PT S45 disertai dengan faktur komersial. &lt;br /&gt;- PT S45 mengirimkan barang yang dipesan kepada pelanggan disertai dengan invoice penjualan dan faktur pajak. Pelanggan melakukan pembayaran atas tagihan tersebut kepada PT S45. kemudian  PT S45 melakukan pembayaran kepada VPT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Transaksi 2 : &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyerahan dilakukan diluar Daerah Pabean Indonesia, Barang tidak pernah masuk ke Daerah Pabean Indonesia :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelanggan menyampaikan Pesanan Pembelian kepada PT S45.  Karena barang yang dipesan Pelanggan tidak tersedia, PT S45 memesan barang tersebut ke VPT dan memberikan instruksi kepada VPT agar barang yang dipesan tersebut dikirim langsung ke afiliasi pelanggan yang berada di Malaysia sesuai dengan permintaan pelanggan. Dalam hal ini tidak terjadi penyerahan didalam daerah pabean Indonesia.&lt;br /&gt;- PT S45 menagih kepada pelanggan di Indonesia atas pegiriman barang yang dilakukan VPT. PT S45 membuat faktur penjualan dan membukukan transaksi tersebut sebagai penjualan. PT S45 membayar kepada VPT atas barang yang dikirim langsung kepada afiliasi pelanggan di Malaysia. Atas transaksi tersebut PT S45 membukukannya sebagai pembelian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Transaksi 3 :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyerahan diluar daerah Pabean dan Pajak Impor dilunasi oleh pelanggan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelanggan menyampaikan Pesanan Pembelian kepada PT S45. Karena barang yang dipesan Pelanggan tidak tersedia, PT S45 memesan barang tersebut ke VPT. Sesuai permintaan pelanggan, Barang yang dipesan akan “diambil sendiri” oleh pelanggan. Semua dokumen impor untuk memasukkan barang tersebut dibuat atas nama pelanggan. Pajak yang terutang dalam rangka impor dilunasi sendiri oleh pelanggan (tidak terjadi penyerahan didalam daerah pabean Indonesia).&lt;br /&gt;- PT S45 menagih kepada pelanggan di Indonesia atas pegiriman barang yang dilakukan VPT. PT S45 membuat faktur penjualan dan membukukan transaksi tersebut sebagai penjualan. PT S45 membayar kepada VPT atas pesanan barang yang diambil langsung oleh pelanggannya. Atas transaksi tersebut PT S45 membukukannya sebagai pembelian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PPN Atas Penyerahan diluar daerah Pabean.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilustrasi kasus tersebut, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Transaksi 1 &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;merupakan transaksi yang terutang PPN. Sehingga atas penyerahan dari PT S45 kepada pelanggan harus dipungut PPN. Apa yang dilakukan oleh PT S45 dengan menerbitkan invoice penjualan dan faktur pajak, telah sesuai dengan UU PPN. Sedangkan atas pembelian barang dari VPT merupakan transaksi impor yang juga terutang PPN. PPN Impor merupakan pajak masukan yang dapat dikreditkan oleh PT S45. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Transaksi 2&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Penyerahan Barang Kena Pajak dilakukan diluar daerah pabean, barang tidak pernah masuk ke daerah pabean Indonesia sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk transaksi seperti ini Dirjen Pajak menjelaskan pengenaan PPN-nya melalui Surat Edaran SE-08/PJ.52/1996 tentang PPN atas jasa perdagangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Jasa Perdagangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Perdagangan adalah Jasa yang diberikan oleh orang atau badan kepada pihak lain, karena menghubungkan pihak lain tersebut kepada pembeli barang pihak lain itu atau menghubungkan pihak lain tersebut kepada penjual barang yang akan dibeli pihak lain itu. Jasa perdagangan dengan demikian dapat berupa jasa perantara, jasa pemasaran, maupun jasa mencarikan penjual. Pengusaha pemberi jasa perdagangan dan penerima jasa perdagangan dapat berada didalam Daerah Pabean atau diluar Daerah Pabean. Dengan demikian jasa perdagangan tersebut dapat terutang PPN atau tidak terutang PPN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jasa Perdagangan yang terutang PPN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa perdagangan dikenakan PPN jika kondisi berikut terpenuhi :  &lt;br /&gt;a. Pengusaha jasa Perdagangan dan penjual barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;b. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;c. Pengusaha jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedang penjual barang selaku penerima jasa perdagangan dan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;d. Pengusaha jasa perdagangan berada diluar Daerah Pabean, sedang pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan dan penjual barang berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;e. Pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang berada di luar Daerah Pabean, sedang pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean&lt;br /&gt;f. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang berada di luar Daerah Pabean, sedang penjual barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jasa Perdagangan yang tidak terutang PPN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa perdagangan tidak dikenakan PPN dalam hal : &lt;br /&gt;a. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean, sedang penjual barang selaku penerima jasa perdagangan berada diluar Daerah Pabean sepanjang penjual barang tersebut tidak mempunyai BUT di Indonesia dan pembayaran jasa tersebut dilakukan secara langsung oleh penjual barang tersebut kepada pengusaha jasa perdagangan.&lt;br /&gt;b. Pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang berada di dalam Daerah Pabean, sedang pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean sepanjang pembeli barang tersebut tidak mempunyai BUT di Indonesia dan pembayaran jasa tersebut dilakukan secara langsung oleh pembeli barang tersebut kepada pengusaha jasa perdagangan.&lt;br /&gt;c. Pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang selaku penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedang pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;d. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli selaku penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedang penjual barang berada di dalam Daerah Pabean&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam S-1178/PJ.51/2002 Dirjen pajak menjelaskan bahwa atas transaksi yang serupa dengan transaksi 2 tidak dikenakan PPN. Dalam contoh kasus tersebut diatas, PT S45 tidak perlu memungut PPN atau menerbitkan Faktur Pajak. Akan tetapi, apabila terdapat selisih Harga Jual dari PT S45 kepada Pelanggan (PT di Indonesia) dengan Nilai Perolehan atas order pengadaan Sparetpart mesin kertas, terhadap selisih harga tersebut dianggap sebagai jasa perdagangan yang dikenakan PPN dan harus dibuatkan Faktur Pajak. Meskipun dalam transaksi-2 ini Barang Kena Pajak tidak pernah masuk ke Daerah Pabean Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk model transaksi-3, Karena penyerahan Barang Kena Pajak telah dilakukan di Luar negeri (Jerman), maka Barang Kena Pajak masuk ke daerah pabean Indonesia melalui prosedur impor yang dilakukan oleh pelanggan. Atas transaksi semacam ini, Dirjen pajak melalui suratnya no S-967/PJ.52/2003, menjelaskan bahwa atas penyerahan barang yang terjadi diluar daerah pabean Indonesia tidak terutang PPN.  Namun PT S45 dianggap melakukan penyerahan jasa perdagangan kepada pelanggan yang ada di Indonesia. Atas penyerahan jasa perdagangan yang dilakukan oleh PT S45  terutang PPN sebesar 10%. Dasar Pengenaan PPN-nya adalah sebesar imbalan yang diterima PT S45, yaitu sebesar margin laba yang diperoleh atas penyerahan BKP tersebut. (TYN/PBS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari : Tax Partner (Tax Newsletter PT PARTAMA Consultant) Volume 1 No 3 Bulan Oct 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113023224504164755?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/jZwKvGVHEUA/ppn-atas-cross-border-transaction.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/ppn-atas-cross-border-transaction.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-113179488584684311</guid><pubDate>Thu, 20 Oct 2005 11:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-11-12T18:35:03.583+07:00</atom:updated><title>Ganti Email</title><description>Hari ini aku mengumumkan penggunaan email addressku yang baru dimilis tax-ina, meskipun email baru ini sudah exist sejak 9/9/05, tapi karena satu dan lain hal.. baru hari ini aku kasih tahu ke teman2 tax-ina juga teman2ku yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merupakan email kantor, email address tsb lebih menunjukkan identitas pekerjaan (identitas dimana saya bekerja). Ketika melihat email saya berubah, teman2ku berasumsi bhw aku pindah kerja. Banyak sahabat2 baruku yang lebih mengenal email address-ku ketimbang mengenal aku secara langsung. Tidak sedikit teman2ku yang heran ketika aku memberitahukan email baru ini, karena baru tgl 4 Jul yg lalu aku mengumumkan penggunaan email baru lainnya.. :). Lebih heran lagi ketika kadang2 aku  masih menggunakan email lama yang sudah sangat mereka kenal sejak beberapa tahun yl.. :)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman email address baruku tsb aku lakukan setelah aku sepakat dg perusahaan lama (R&amp;P) untuk merubah pola hubungan kerja. Dengan berbagai alasan, semula memang aku berniat untuk pindah kerja. Puluhan applikasi sudah aku kirimkan, puluhan kali interview sudah aku lakukan, namun tidak juga ketemu yang cocok. Hal itu membuat aku berpikir, mungkin memang blm saatnya saya pindah kerja. Sampai kemudian datang tawaran untuk bergabung dg TaxFile. Penawaran tsb merupakan hal unik yang pernah aku alami... :). Karena aku  merasa tawaran tsb merupakan hal yang luar biasa dan sesuai dengan tujuan &amp; visi yang aku inginkan, tentu merupakan kesempatan tidak boleh di sia-siakan. Begitu juga ketika aku diajak untuk bergabung di PARTAMA Consultant. Ini juga merupakan kesempatan yang istimewa bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya tawaran dari TaxFile &amp; PARTAMA membuat aku berpikir bahwa mungkin saat ini merupakan saat yang tepat bagi aku untuk mulai pindah Quadran dan bukan pindah kerja. Bekerja sbg kary tetap dengan penghasilan tetap (lebih tepatnya, "tetap sedikit" :D ) dengan segala rutinitasnya sudah aku jalani selama lebih dari 12 th (dah lama buanget khan.. ?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan aku memutuskan untuk mulai pindah Quadran, aku mencoba belajar untuk self employment, sehingga aku bisa mengatur waktu dengan lebih flexible. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'ain yahh Friends.. agar aku bisa menjalani hal ini dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-113179488584684311?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/nB8hwU8SZF0/ganti-email.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/ganti-email.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-112917903462389574</guid><pubDate>Thu, 13 Oct 2005 04:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-10-13T11:50:34.633+07:00</atom:updated><title>Kewajiban Pajak Bagi WPOP Karyawan</title><description>&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan lanjutan dari seri "Ketika Kita Harus&lt;br /&gt;Mempunyai NPWP" yang telah diposting sebelumnya. Pada bagian&lt;br /&gt;awal telah diuraikan tentang hak dan kewajiban wajib pajak&lt;br /&gt;secara umum berdasarkan ketentuan umum perpajakan. Dalam seri&lt;br /&gt;lanjutan ini diuraikan tentang kewajiban pajak bagi wajib&lt;br /&gt;pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau&lt;br /&gt;pekerjaan bebas (WPOP berstatus sebagai karyawan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seri "Ketika Kita Harus Mempunyai NPWP" ini insya Allah akan&lt;br /&gt;dilanjutkan dengan uraian tentang kewajiban pajak bagi WPOP&lt;br /&gt;yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas serta kewajiban&lt;br /&gt;pajak bagi Wajib Pajak Badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca, semoga bermanfaat. Any comments and&lt;br /&gt;corrections are highly appreciated. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Triyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kewajiban untuk menyetor dan melaporkan pajak yang terutang&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dilakukan oleh wajib pajak setelah&lt;br /&gt;terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak dan memiliki NPWP adalah&lt;br /&gt;melakukan pembayaran dan melaporkan pajak yang terutang atas&lt;br /&gt;penghasilan yang diterima atau diperolehnya. Selain itu,&lt;br /&gt;wajib pajak juga memiliki kewajiban untuk memungut/memotong&lt;br /&gt;dan menyetorkan pajak atas penghasilan yang dibayarkan/&lt;br /&gt;terutang kepada pihak lainnya. Selain Pajak Penghasilan,&lt;br /&gt;bagi pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena&lt;br /&gt;pajak juga memiliki kewajiban dibidang PPN dan PPn BM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pajak yang harus dilakukan bagi masing-&lt;br /&gt;masing â€œjenisâ€ wajib pajak berbeda-beda. Dalam tulisan ini&lt;br /&gt;akan diuraikan tentang kewajiban pajak bagi wajib pajak orang&lt;br /&gt;pribadi, baik yang berstatus sebagai karyawan maupun orang&lt;br /&gt;pribadi yang melakukan kegiatan usaha serta kewajiban pajak&lt;br /&gt;bagi wajib pajak badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kewajiban Pajak Bagi Wajib pajak orang pribadi&lt;br /&gt;Karyawan yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan&lt;br /&gt;bebas (WPOP Karyawan).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a) WPOP Karyawan yang hanya memperoleh penghasilan dari&lt;br /&gt;satu pemberi kerja&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha&lt;br /&gt;atau pekerjaan bebas (berstatus sebagai karyawan) dan hanya&lt;br /&gt;bekerja pada satu pemberi kerja tidak memiliki kewajiban&lt;br /&gt;untuk membayar pajak sendiri setiap bulan atas penghasilan&lt;br /&gt;yang diterima/ diperoleh seubungan dengan pekerjaan. WP Orang&lt;br /&gt;Pribadi ini juga tidak memiliki kewajiban untuk membuat&lt;br /&gt;laporan (Surat Pemberitahuan Masa) ke Kantor Pelayanan Pajak&lt;br /&gt;setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan tempat wajib pajak bekerja (pemberi kerja)&lt;br /&gt;memiliki kewajiban untuk memotong pajak atas penghasilan&lt;br /&gt;sehubungan pekerjaan yang dibayarkan/terutang kepada&lt;br /&gt;karyawannya setiap bulan dan menyetorkannya ke Kas Negara&lt;br /&gt;serta melaporkannya ke kantor pelayanan pajak setempat. Oleh&lt;br /&gt;karena itu gaji yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi&lt;br /&gt;yang berstatus sebagai karyawan adalah gaji bersih setelah&lt;br /&gt;dipotong pajak penghasilan. Pajak yang terutang atas&lt;br /&gt;Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dikenal dengan&lt;br /&gt;istilah PPh Pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dilakukan oleh WPOP yang berstatus&lt;br /&gt;sebagai karyawan adalah menyampaikan laporan tahunan&lt;br /&gt;(menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi) dengan formulir&lt;br /&gt;yang telah disediakan. (Form 1770-S). Apabila wajib pajak&lt;br /&gt;orang pribadi ini tidak menerima/memperoleh penghasilan lain&lt;br /&gt;selain dari penghasilan yang diperoleh dari satu pemberi&lt;br /&gt;kerja, maka pada saat menyampaikan SPT Tahunan tidak akan&lt;br /&gt;terdapat PPh yang kurang dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi ini paling lambat harus&lt;br /&gt;dilaporkan paling lambat 3 bulan setelah berakhirnya tahun&lt;br /&gt;pajak (pada tanggal 31 Maret tahun berikutnya). Jika Wajib&lt;br /&gt;Pajak terlambat menyampaikan SPT 1770-S tersebut maka akan&lt;br /&gt;dikenakan sanksi administrasi atas keterlambatan sebesar Rp&lt;br /&gt;100.000,-. Besarnya sanksi keterlambatan penyampaian SPT PPh&lt;br /&gt;OP ini dalam RUU Pajak th 2005 diusulkan menjadi sebesar Rp&lt;br /&gt;250.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wajib pajak yang tidak menyampaikan SPT atau&lt;br /&gt;menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar, atau tidak&lt;br /&gt;lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar&lt;br /&gt;sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara&lt;br /&gt;diancam dengan sanksi pidana dan denda. Bagi wajib pajak yang&lt;br /&gt;tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya&lt;br /&gt;tidak benar karena kealpaannya, diancam dengan sanksi pidana&lt;br /&gt;kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling&lt;br /&gt;tingi 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau&lt;br /&gt;kurang dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagi wajib pajak yang dengan sengaja tidak&lt;br /&gt;menyampaikan surat pemberitahuan atau menyampaikan surat&lt;br /&gt;pemberitahuan dan atau keterangan yang isinya tidak benar&lt;br /&gt;atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugaian pada&lt;br /&gt;pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling lama&lt;br /&gt;enam (enam) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali&lt;br /&gt;jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b) WPOP Karyawan yang memperoleh penghasilan lain yang&lt;br /&gt;bukan obyek PPh Final.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan&lt;br /&gt;usaha atau pekerjaan bebas (WPOP Karyawan) yang memperoleh&lt;br /&gt;penghasilan lain selain dari satu pemberi kerja, baik karena&lt;br /&gt;bekerja pada lebih dari satu pemberi kerja maupun memiliki&lt;br /&gt;penghasilan lain selain dari pekerjaan dan penghasilan lain&lt;br /&gt;tsb bukan merupakan obyek PPh final, maka selain diwajibkan&lt;br /&gt;untuk melaporkan SPT Tahunan (SPT 1770-S) juga memiliki&lt;br /&gt;kewajiban untuk membayar dan melaporkan PPh pasal 25 setiap&lt;br /&gt;bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya PPh Pasal 25 yang harus dibayar oleh wajib pajak&lt;br /&gt;dihitung berdasarkan PPh yang terutang dalam SPT Tahunan&lt;br /&gt;tahun sebelumnya setelah dikurangi dengan pemotongan yang&lt;br /&gt;dilakukan pihak lain yang dapat dikreditkan dan dibagi 12&lt;br /&gt;(dua belas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh tempo pembayaran PPh pasal 25 adalah tanggal 15 bulan&lt;br /&gt;berikutnya. Jika jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari&lt;br /&gt;libur, maka pembayaran dapat dilakukan pada hari kerja&lt;br /&gt;berikutnya. Pembayaran Angsuran PPh pasal 25 ini, wajib&lt;br /&gt;dilaporkan ke kantor pelayanan pajak tempat wajib pajak&lt;br /&gt;terdaftar paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Apabila&lt;br /&gt;jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur maka penyampaian&lt;br /&gt;SPT Masa PPh pasal 25 harus dilakukan pada hari kerja&lt;br /&gt;sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila wajib pajak terlambat melakukan pembayaran PPh pasal&lt;br /&gt;25, maka akan dikenakan sanksii bunga sebesar 2%/bulan,&lt;br /&gt;maksimum 24 bulan (48%). Sedangkan atas keterlambatan&lt;br /&gt;penyampaian SPT Masa PPh 25 akan dikenakan sanksi sebesar Rp&lt;br /&gt;50.000/ SPT Masa. Seperti halnya dengan sanksi keterlambatan&lt;br /&gt;penyampaian SPT Tahunan, dalam RUU Perpajakan th 2005&lt;br /&gt;besarnya sanksi keterlambatan penyampaian SPT masa diusulkan&lt;br /&gt;menjadi sebesar Rp 100.000,-/ SPT Masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c) WPOP Karyawan yang memperoleh penghasilan lain yang&lt;br /&gt;merupakan obyek PPh Final&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan&lt;br /&gt;usaha atau pekerjaan bebas (WPOP Karyawan) yang memperoleh&lt;br /&gt;penghasilan lain selain dari satu pemberi kerja, dan memiliki&lt;br /&gt;penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final, maka selain&lt;br /&gt;diwajibkan untuk melaporkan SPT Tahunan (SPT 1770-S) juga&lt;br /&gt;memiliki kewajiban untuk membayar dan melaporkan PPh final&lt;br /&gt;pasal 4 (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final dan&lt;br /&gt;pembayaran PPh-nya wajib dilakukan sendiri oleh penerima&lt;br /&gt;penghasilan (Wajib pajak) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau&lt;br /&gt;bangunan;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WPOP Karyawan yang menerima/memperoleh penghasilan dari&lt;br /&gt;transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan&lt;br /&gt;diwajibkan membayar PPh final pasal 4 (2). Besarnya PPh yang&lt;br /&gt;terutang atas transaksi pegalihan hak atas tanah dan/atau&lt;br /&gt;bangunan ini adalah sebesar 5% dari nilai yang tertinggi&lt;br /&gt;antara nilai pengalihan (nilai transaksi) dengan nilai NJOP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang dierima/diperoleh oleh WPOP karyawan dari&lt;br /&gt;kegiatan persewaan tanah dan atau bangunan juga merupakan&lt;br /&gt;obyek PPh final pasal 4 (2). Dalam hal penyewa adalah bukan&lt;br /&gt;pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas penghasilan dari&lt;br /&gt;transaksi persewaan tanah dan atau bangunan wajib dibayar&lt;br /&gt;sendiri oleh penerima penghasilan. Besarnya PPh yang terutang&lt;br /&gt;atas transaksi ini adalah sebesar 10% dari jumlah bruto nilai&lt;br /&gt;persewaan. Apabila penyewa adalah pemotong pajak (i.e. WP&lt;br /&gt;Badan), maka pelunasan PPh final atas transaksi ini dilakukan&lt;br /&gt;melalui pemotongan oleh pihak penyewa. Pemotong pajak&lt;br /&gt;(penyewa) wajib memberikan bukti pemotongan (Bukti Potong PPh&lt;br /&gt;Final pasal 4 (2)) kepada wajib pajak (penerima penghasilan) .&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran PPh Final PS 4 (2) atas transaksi ini&lt;br /&gt;adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Sedangkan batas waktu&lt;br /&gt;pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi ;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP Karyawan dari&lt;br /&gt;kegiatan Jasa Konstruksi (sebagai usaha sampingan misalnya),&lt;br /&gt;Apabila pemakai jasa bukan merupakan pemotong pajak, maka&lt;br /&gt;PPh-nya wajib dibayar sendiri oleh wajib pajak. Namun apabila&lt;br /&gt;pemakai jasa merupakan pemotong pajak, maka PPh yang terutang&lt;br /&gt;atas kegiatan ini pelunasannya dilakukan melalui pemotongan&lt;br /&gt;oleh pemakai jasa. Pemotong pajak (Pemakai jasa) wajib&lt;br /&gt;memberikan bukti potong. Besarnya PPh final pasal 4 (2) yang&lt;br /&gt;terutang atas penghasilan dari kegiatan jasa konstruksi&lt;br /&gt;adalah sbb :&lt;br /&gt;a) Jasa Perencanaan Konstruksi ==&gt; 4% (empat persen) dari&lt;br /&gt;jumlah bruto;&lt;br /&gt;b) Jasa Pelaksanaan Konstruksi ==&gt; 2% (dua persen) dari&lt;br /&gt;jumlah bruto;&lt;br /&gt;c) Jasa Pengawasan Konstruksi ==&gt;  4% (empat persen) dari&lt;br /&gt;jumlah bruto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Kewajiban Pajak Bagi Wajib pajak orang pribadi yang&lt;br /&gt;melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be continued.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-112917903462389574?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/ExLAshsyZbc/kewajiban-pajak-bagi-wpop-karyawan.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/kewajiban-pajak-bagi-wpop-karyawan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-112834284947025422</guid><pubDate>Mon, 03 Oct 2005 12:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2005-10-03T20:20:05.576+07:00</atom:updated><title>form SPT Masa PPN dirubah</title><description>Berdasarkan Peraturan DJP No PER-145/PJ./2005 tgl 15 Sept 2005 Bentuk formulir SPT Masa PPN dirubah. Peraturan tsb mulai berlaku untuk masa pajak Januari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir SPT Masa PPN yang baru terdiri dari : &lt;br /&gt; a. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai - Formulir 1106 (F.1.2.32.01);&lt;br /&gt; b. Lampiran I Daftar Pajak Keluaran - Formulir 1106 A (F.1 .2.32.02);&lt;br /&gt; c. Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan - Formulir 1106 B (F. 1.2.32.03);&lt;br /&gt; d. Lampiran 3 Penghitungan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah - Formulir 1 106 BM (F.1.2.32.04);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPN yang baru tersebut, lebih sederhana/lebih sedikit jika dibandingkan dg SPT Masa PPN sebelumnya (SPT 1195) yang terdiri dari : &lt;br /&gt; a. Formulir 1195    (KP.PPN.1.1 - 95)&lt;br /&gt; b. Formulir 1195 A1 (KP.PPN.1.1.1 - 95)&lt;br /&gt; c. Formulir 1195 A2 (KP.PPN.1.1.2 - 95)&lt;br /&gt; d. Formulir 1195 A3 (KP.PPN.1.1.3 - 95)&lt;br /&gt; e. Formulir 1195 B1 (KP.PPN.1.1.4 - 95)&lt;br /&gt; f. Formulir 1195 B2 (KP.PPN.1.1.5 - 95)&lt;br /&gt; g. Formulir 1195 B3 (KP.PPN.1.1.6 - 95)&lt;br /&gt; h. Formulir 1195 B4 (KP.PPN.1.1.7 - 95)&lt;br /&gt; i. Formulir 1195 BM (KP.PPN.1.1.8 - 95)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara penyampaian SPT Masa PPN dapat dilakukan oleh wajib pajak dengan cara sbb : &lt;br /&gt;SPT dan Lampiran SPT yang dibuat oleh PKP dapat disampaikan dengan cara sebagai berikut :&lt;br /&gt; a. manual yaitu SPT dan Lampiran SPT yang disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy), baik untuk Formulir 1106 dan Lampiran SPT;&lt;br /&gt; b. e-SPT (formulir elektronik dalam media elektronik) yaitu dalam bentuk formulir kertas (hard copy) untuk Formulir 1106 dan dalam bentuk media elektronik untuk Lampiran SPT; atau&lt;br /&gt; c. e-Filing yaitu suatu cara penyampaian SPT yang dilakukan melalui sistem on-line yang real time melalui satu atau beberapa perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengusaha kena pajak adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bagi PKP yang membuat dan menerima FP sampai dengan 300 (tiga ratus) Faktur pajak standart :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- PKP yang dalam satu Masa Pajak secara akumulatif membuat dan menerima sampai dengan 300 (tiga ratus) Faktur Pajak Standar untuk penyerahan BKP dan atau JKP &lt;strong&gt;dapat menyampaikan Lampiran SPT dalam bentuk kertas (hard copy) sampai dengan Masa Pajak Juni 2006&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;PKP yang masih menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas (hard copy) untuk Masa Pajak Juli 2006 dan seterusnya, dianggap tidak menyampaikan SPT &lt;/strong&gt;dan dikenakan sanksi sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bagi PKP yang membuat dan menerima FP lebih dari 300 (tiga ratus) Faktur pajak standart :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- PKP selain yang menyampaikan SPT dan Lampiran SPT dalam bentuk formulir elektronik yang pengisiannya melalui program atau secara elektronik (e-Fiting), yang dalam satu Masa Pajak secara akumulatif membuat dan menerima lebih dari 300 (tiga ratus) Faktur Pajak Standar untuk penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak &lt;strong&gt;wajib menyampaikan Lampiran SPT dalam bentuk media elektronik. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Bagi PKP yang tidak menyampaikan Lampiran SPT dalam bentuk media elektronik, dianggap tidak menyampaikan SPT dan dikenakan sanksi sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SPT NIHIL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lampiran SPT tidak perlu disampaikan dalam hal SPT dilaporkan NIHIL karena : &lt;br /&gt;- PKP tidak ada kegiatan penyerahan dan atau perolehan; atau &lt;br /&gt;- PKP adalah PKP baru yang belum aktif.&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap adanya perubahan Form SPT Masa PPN ini telah dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan matang oleh DJP, sehingga dalam pelaksanaannya tidak timbul kendala. sayangnya, sampai hari ini diwebsite pajak dan di KPP2 blm tersedia formulir SPT Masa PPN tsb... :(, padahal WP/PKP "dituntut" untuk memahami bagaimana cara pengisian form SPT Masa PPN tsb dg segera, mengingat saat ini sudah menjelang akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya yang lebih besar lagi adalah semoga perubahan form SPT Masa PPN ini tidak mengalami nasib yang sama dg perubahan form SPT Masa PPN tahun 1997 yang telah ditunda sampai batas waktu yang akan ditetapkan kemudian. hmmm.. kalau saat ini sudah keluar peraturan baru ttg form SPT PPN (yg berbeda sama sekali dg yg diatur dalam perubahan form th 1997, kira2 aturan tsb ditunda sampai kapan yahh.. ;).&lt;br /&gt;Entahlahhh..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali "belajar" mengisi SPT Masa PPN ... :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-112834284947025422?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/6uk9WTXjzZM/form-spt-masa-ppn-dirubah.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/10/form-spt-masa-ppn-dirubah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9484727.post-112773463631618942</guid><pubDate>Mon, 26 Sep 2005 11:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-07-04T17:56:32.740+07:00</atom:updated><title>Ketentuan Perpajakan Atas Uang Pesangon</title><description>Ketentuan Perpajakan Atas Uang Pesangon &lt;br /&gt;TRIYANI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pesangon merupakan hak karyawan yang harus diberikan oleh pengusaha dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja. Pesangon yang diterima/ diperoleh karyawan adalah penghasilan yang merupakan obyek PPh Pasal 21. Dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar pesangon yang menjadi hak karyawan terdapat beberapa cara yang lazim digunakan oleh pengusaha. Perbedaan cara dalam memenuhi kewajiban tersebut akan mempunyai konsekuensi perpajakan yang berbeda.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keywords : Pesangon; Lembaga Pengelola Dana Pesangon; PPh atas Uang Pesangon &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, berdasarkan undang-undang No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima kepada karyawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar pesangon, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan oleh pengusaha (pemberi kerja). Pada umumnya perusahaan membayarkan uang pesangon secara langsung kepada karyawan pada saat adanya pemutusan hubungan kerja. Namun ada pula perusahaan tidak membayarkan uang pesangon secara langsung kepada karyawan, tetapi menunjuk pihak ketiga untuk mengelola dana pesangon yang menjadi kewajiban perusahaan. Pihak ketiga yang ditunjuk sebagai pengelola dana pesangon bisa berupa Lembaga Pengelola Dana Pesangon yang dibentuk oleh perusahaan sendiri, Pengleola dana pesangon bukan bank maupun diserahkan kepada bank. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima/diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun atau imbalan dalam bentuk lainnya (termasuk uang pesangon) merupakan obyek Pajak penghasilan.  Berdasarkan pasal 21 undang-undang PPh, pemotongan, penyetoran dan pelaporan pajak atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh wajib pajak orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun dilakukan oleh pemberi kerja yang membayar penghasilan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan perpajakan atas penghasilan berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua diatur dalam Peraturan Pemerintah No 149 tahun 2000 tanggal 23 Desember 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlakuan  Perpajakan atas Uang Pesangon yang Dibayarkan Secara Langsung&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 149 tahun 2000 atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun yang dibayar oleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, dan Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua, yang dibayarkan sekaligus oleh Badan Penyelenggara Pensiun atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final oleh pihak-pihak yang membayarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Pajak Penghasilan yang harus dipotong adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;No Jumlah Penghasilan Bruto                 Tarif PPh&lt;br /&gt;1 Rp 0 s/d Rp 25.000.000,-             Dikecualikan dari pemotongan PPh&lt;br /&gt;2 Diatas Rp 25.000.000,- s/d Rp 50.000.000,- 5% (Lima Persen)&lt;br /&gt;3 Diatas Rp 50.000.000,- s/d Rp 100.000.000,- 10% (sepuluh persen)&lt;br /&gt;4 Diatas Rp 100.000.000,- s/d Rp 200.000.000,- 15% (lima belas persen)&lt;br /&gt;5 Diatas Rp 200.000.000                         25% (dua puluh lima persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 : Tarif PPh pasal 21 final atas Uang Pesangon, Tebusan Pensiun, Tunjangan Hari Tua/ Jaminan Hari Tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No 112/KMK.03/2001, yang dimaksud dengan uang pesangon adalah penghasilan yang dibayarkan oleh pemberi kerja kepada karyawan dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan berakhirnya masa kerja atau terjadi pemutusan hubungan kerja, termasuk penghargaan masa kerja dan uang ganti kerugian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi tersebut sejalan dengan keputusan menteri tenaga kerja No KEP-150/Men/2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Ganti Kerugian; yang masih berlaku pada saat penetapan keputusan menteri keuangan No 112/KMK.03/2001 tersebut.  Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,  ketentuan mengenai pesangon diatur dalam pasal 156. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, berikut ini penulis sajikan besarnya uang pesangon yang menjadi hak tenaga kerja menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 150/Men/2000 dan menurut undang-undang No 13 tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jenis Pemutusan Hubungan Kerja K-150/2000 UU Ketenagakerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Pada Usia Pensiun  &lt;br /&gt;1.      Ada Program Pensiun dan tidak ada iuran pekerja NIHIL Max (0;2PSNG+PMK+PH-MP)+PH&lt;br /&gt;2 Ada Program Pensiun dan ada iuran pekerja - Max (0;2PSNG+PMK+PH-MP+IP)+PH&lt;br /&gt;3 Tidak ada program pensiun 2xPSNG+PMK+GK 2XPSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;II Sebelum Usia Pensiun  &lt;br /&gt;4 Melakukan kesalahan berat PMK + GK PH&lt;br /&gt;5 Melakukan kesalahan berat/ pelanggaran perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja sama PSNG + PMK + GK PSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;6 Ditahan dan tidak dapat melakukan pekerjaan atau dinyatakan salah oleh pengadilan NIHIL PMK+PH&lt;br /&gt;7 Mengundurkan diri secara baik atas kemauan sendiri PMK + GK PH&lt;br /&gt;8 Kesalahan pengusaha PSNG + PMK + GK 2XPSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;9 Perorangan – bukan kesalahan pekerja tetapi dapa menerima 2XPSNG + PMK + GK -&lt;br /&gt;10 Massal – perusahaan tutup karena rugi – force majeur PSNG+PMK+GK PSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;11 Massal – Perusahaan tutup bukan karena rugi, melakukan efisiensi 2XPSNG+PMK+GK 2XPSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;12 Perubahan status/kepemilikan sebagian/ seluruh / pindah lokasi dengan syarat baru = lama dan pekerja tidak bersedia kerja PSNG+PMK+GK PSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;13 Perubahan status/ kepemilikan sebagian/seluruh / pindah lokasi dan pengusaha tidak mau menerima apapun alasannya 2XPSNG+PMK+GK 2XPSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;14 Perusahaan pailit Tidak diatur PSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;15 Meninggal dunia 2XPSNG+PMK+GK 2XPSNG+PMK+PH&lt;br /&gt;16 Mangkir selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut - PH&lt;br /&gt;17 Sakit berkepanjangan, cacat karena kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 bulan NIHIL 2XPSNG+2XPMK+PH&lt;br /&gt;Tabel 2 : Perbandingan Besaran Hak PHK : K-150/2000 dan UU No 13 tahun 2003 &lt;br /&gt;Sumber : Kompas – Bisnis dan Investasi / 25 Maret 2003.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;- PSNG  =  Pesangon&lt;br /&gt;- PMK = Penghargaan Masa Kerja&lt;br /&gt;- GK = Ganti Kerugian&lt;br /&gt;- PH = Penggantian Hak (Cuti Tahunan, Biaya repatriasi, penggantian &lt;br /&gt;perumahan serta pengobatan dan perawatan sebesar 15% dari uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja&lt;br /&gt;- MP = Manfaat Pensiun&lt;br /&gt;- IP = Himpunan Peserta dan Hasil Pengembaliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Kerja (MK) Uang Pesangon Uang penghargaan Masa Kerja *&lt;br /&gt;MK &lt; 1 1 0&lt;br /&gt;1&lt;=MK&lt;2 2 0&lt;br /&gt;2&lt;=MK&lt;3 3 0&lt;br /&gt;3&lt;=MK&lt;4 4 2&lt;br /&gt;4&lt;=MK&lt;5 5 2&lt;br /&gt;5&lt;=MK&lt;6 6 2&lt;br /&gt;6&lt;=MK&lt;7 7+0 3&lt;br /&gt;7&lt;=MK&lt;8 7+1 3&lt;br /&gt;8&lt;=MK&lt;9 7+2 3&lt;br /&gt;9&lt;=MK&lt;12 7+2 4&lt;br /&gt;12&lt;=MK&lt;15 7+2 5&lt;br /&gt;15&lt;=MK&lt;18 7+2 6&lt;br /&gt;18&lt;=MK&lt;21 7+2 7&lt;br /&gt;21&lt;=MK&lt;24 7+2 8&lt;br /&gt;MK&gt;=24 7+2 10&lt;br /&gt;Tabel 3  :Skala Uang Pesangon dan Uang Penghargaan Masa Kerja&lt;br /&gt;* Kelipatan Upah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja dan perusahaan melakukan pembayaran pesangon yang menjadi kewajibannya secara langsung kepada tenaga kerja, maka perusahaan memiliki kewajiban untuk memotong dan menyetorkan PPh pasal 21 (PPh final) yang terutang atas pesangon. Besarnya PPh Pasal 21 dihitung sesuai dengan tarif dalam tabel 1 tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pembayaran uang pesangon ini perusahaan dapat membebankan sebagai biaya/ pengurang penghasilan dalam menghitung penghasilan kena pajak dan PPh badan terutang (merupakan deductable expenses).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila perusahaan telah membentuk cadangan untuk dana pesangon sebelum terjadinya pemutusan hubungan kerja, maka atas pembentukan cadangan dana pesangon belum terutang PPh Pasal 21. Selain itu, pembentukan cadangan dana pesangon tersebut tidak dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak dan PPh badan (merupakan non deductable expenses) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlakuan Perpajakan atas uang pesangon yang dialihkan kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kewajibannya membayar pesangon kepada tenaga kerja, perusahaan dapat menunjuk pihak lain untuk menanganinya. Pada saat terjadinya pemutusan hubungan kerja, pihak lain yang ditunjuk oleh perusahaan tersebut yang akan melakukan pembayaran uang pesangon kepada karyawan yang berhak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KEP-350/PJ./2001 yang dimaksud pengelola dana pesangon adalah badan yang ditunjuk oleh pemberi kerja untuk mengelola uang pesangon yang selanjutnya membayarkan uang pesangon tersebut kepada karyawan dari pemberi kerja yang bersangkutan pada saat berakhirnya masa kerja atau terjadi pemutusan hubungan kerja. &lt;br /&gt;Pengalihan tanggung jawab untuk  membayar uang pesangon yang menjadi hak Tenaga kerja kepada pengelola dana pesangon dapat dilakukan oleh perusahaan melalui pembayaran uang pesangon secara sekaligus maupun secara bertahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a) Pembayaran Uang Pesangon Dilakukan Secara Sekaligus&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pembayaran uang pesangon yang menjadi hak tenaga kerja dialihkan kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja dilakukan oleh perusahaan secara sekaligus, maka pada saat tanggung jawab pembayaran uang pesangon dialihkan kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja karyawan dianggap telah menerima hak atas manfaat uang pesangon. Dengan demikian pemberi kerja memiliki kewajiban untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 21 yang terutang atas uang pesangon yang dialihkan pada saat terjadinya pengalihan tanggung jawab pembayaran uang pesangon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh pasal 21 yang terutang atas pembayaran uang pesangon pada saat terjadinya pengalihan uang pesangon kepada pengelola dana pesangon merupakan PPh 21 Final. Besarnya PPh yang harus dipotong oleh pemberi kerja (perusahaan) adalah sesuai dengan tariff pada table 1 diatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga atas tabungan uang pesangon merupakan hak karyawan yang akan diberikan oleh pengelola dana pesangon tenaga kerja pada saat berakhirnya masa kerja atau terjadinya PHK terlebih dahulu harus dipotong PPh sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. Dalam hal pengelola dana pesangon adalah bukan bank, maka dipotong PPh sebesar 15% dari jumlah bruto sebagaimana diatur dalam pasal 23 (1) huruf a Undang-undang PPh.&lt;br /&gt;b. Dalam hal pengelola dana pesangon adalah bank maka dipotong PPh sebesar 20% dari jumlah bruto berdasarkan ketentuan pasal 4 (2) Undang-undang PPh dan PP No 131 tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pengelola dana pesangon tenaga kerja membayar uang pesangon kepada karyawan tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 karena PPh pasal 21-nya telah dibayar pada saaat pengalihan uang pesangon dari pemberi kerja kepada badan pengelola dana pesangon tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 wajib diberikan oleh pemberi kerja (perusahaan) kepada karyawan pada saat dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pesangon secara sekaligus kepada pengelola dana pesangon. Bukti Pemotongan ini dapat digunakan sebagai bukti bahwa pemotongan pajak telah dilakukan pada saat dana dialihkan sehingga saat membayar uang pesangon kepada karyawan, pengelola dana pesangon tidak perlu memotong PPh Pasal 21 lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pembayaran uang pesangon yang menjadi hak tenaga kerja dialihkan kepada pihak ketiga dilakukan secara sekaligus, pemberi kerja dapat membebankan uang pesangon tersebut sebagai biaya dalam menghitung Penghasilan Kena pajak pada saat terjadinya pengalihan tanggung jawab kepada pengelola dana pesangon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b) Pembayaran uang pesangon dilakukan secara bertahap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan PPh pasal 21 atas uang pesangon yang dialihkan kepada pengelola dana pesangon secara bertahap adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. Pada saat tanggung jawab pembayaran uang pesangon dialihkan kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja melalui pembayaran uang pesangon secara bertahap, pemberi kerja tidak melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas pembentukan uang pesangon tersebut &lt;br /&gt;2. Pada saat pengelola dana pesangon tenaga kerja membayar uang pesangon kepada karyawan, pengelola dana pesangon tenaga kerja wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. PPh pasal 21 yang harus dipotong oleh pengelola dana pesangon merupakan PPh pasal 21 final. Besarnya PPh pasal 21 yang harus dipotong adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 149 tahun 2000 dan KMK No.112/KMK.03/2001 (seperti tabel 1 diatas).&lt;br /&gt;3. Bunga atas tabungan uang pesangon merupakan hak karyawan yang harus diberikan oleh pengelola dana pesangon tenaga kerja bersamaan dengan pembayaran uang pesangon kepada karyawan yang bersangkutan.  Atas pembayaran bunga ini terutang PPh sebagai berikut : &lt;br /&gt;• Dalam hal pengelola dana pesangon adalah bukan bank maka dipotong Pajak Penghasilan sebesar 15% dari jumlah bruto, sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan&lt;br /&gt;• Dalam hal pengelola dana pesangon adalah bank maka dipotong PPh Final sebesar 20% dari jumlah bruto berdasarkan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan dan PP no 131 tahun 2000.&lt;br /&gt;Dalam hal pembayaran uang pesangon dialihkan kepada pihak ketiga secara bertahap, meskipun pemotongan PPh Pasal 21 baru dapat dilakukan pada saat pembayaran uang pesangon kepada karyawan yang bersangkutan, namun pembebanan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak bagi pemberi kerja telah dapat dilakukan pada saat pengalihan tanggung jawab pembayaran uang pesangon tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perlakuan PPh atas pembayaran uang pesangon/tebusan pensiun adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Pesangon merupakan penghasilan bagi karyawan yang dikenakan PPh pasal 21 dan  merupakan deductable expense  bagi perusahaan.&lt;br /&gt;2) Saat terutangnya PPh Pasal 21 atas pesangon yang dibayarkan secara langsung oleh pemberi kerja pada saat terjadinya pemutusan hubungan kerja adalah pada saat pesangon tersebut terutang/dibayarkan kepada tenaga kerja.&lt;br /&gt;3) Saat terutangnya PPh Pasal 21 atas pesangon yang pembayarannya dialihkan secara sekaligus kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja adalah pada saat pengalihan tanggungjawab pembayaran pesangon kepada pengelola dana pesangon. Pada saat terjadinya pemutusan hubungan kerja, pesangon yang dibayarkan oleh pengelola dana pesangon tidak lagi dikenakan PPh pasal 21. &lt;br /&gt;4) Saat terutangnya PPh Pasal 21 atas pesangon yang pembayarannya dialihkan kepada pengelola dana pesangon tenaga kerja secara bertahap adalah pada saat pesangon dibayarkan kepada karyawan.&lt;br /&gt;5) Jika Pengelola dana pesangon bukan bank, bunga tabungan dana pesangon yang diterima/diperoleh karyawan merupakan obyek PPh pasal 23 dengan tariff 15% &lt;br /&gt;6) Jika Pengelola dana pesangon adalah wajib pajak bank, bunga tabungan dana pesangon yang diterima/diperoleh karyawan merupakan obyek PPh Pasal 4 (2) dengan tariff 20%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-350/PJ./2001 tanggal 14 Mei 2001  tentang Perlakuan Perpajakan atas Uang Pesangon yang Dialihkan kepada Pengelola Dana Pesangon tenaga kerja sebagaimana terakhir telah diubah dengan KEP-649/PJ./2001 tanggal 5 Oktober 2001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.03/2001 tanggal 6 Maret 2001 tentang Pemotongan PPh pasal 21 atas Penghasilan berupa Uang Pesangon, Uang  Tebusan Pensiun, dan Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Menteri Tenaga Kerja  Republik Indonesia Nomor KEP-150/Men/2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja Dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja Dan Ganti Kerugian Di Perusahaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 149 tahun 2000 tanggal 23 Desember 2000 tentang Pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun dan Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Dirjen Pajak Nomor S-131/PJ.313/2005 tanggal 14 Februari 2005 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Dana Pensiun dan Dana Pesangon &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang nomor 17 tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, 25 Maret 2003 – Kolom Bisnis dan Ivestasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Artikel ini dimuat di majalah Jurnal Perpajakan Indonesia, Edisi Juli 2006 (Tri 040706).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="vertical-align:middle;border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/Triyani" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9484727-112773463631618942?l=triyani08.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Triyani/~3/Z7hKW5xkqMA/ketentuan-perpajakan-atas-uang.html</link><author>noreply@blogger.com (Triyani)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://triyani08.blogspot.com/2005/09/ketentuan-perpajakan-atas-uang.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:credit role="author">Triyani</media:credit><media:rating>adult</media:rating></channel></rss>
