<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" >

<channel>
	<title>urbancult</title>
	<atom:link href="http://www.urbancult.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.urbancult.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Oct 2020 12:24:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.1.8</generator>
	<item>
		<title>OBEDIENCE</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2020/10/01/obedience/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2020/10/01/obedience/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2020 11:39:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Stensil]]></category>
		<category><![CDATA[#corona19 #covid19 #Guerillas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9140</guid>

					<description><![CDATA[ &#8211; Obedience by Guerillas Bilamana kita sepakat bahwa mengikuti protokol merupakan wujud mengikuti sistem aturan, bisa jadi kita sedang menyepakati tatanan khayalan atau sejenis mitos yang (mungkin sengaja) dibuat atau dimunculkan dengan tujuan tertentu. Bicara mengenai tatanan baru atau new normal, mengingatkan saya pada tulisan Yuval Noah Harari pada bukunya Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"> &#8211; Obedience by Guerillas</p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience3.jpg" rel="attachment wp-att-9138"><img  decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-9138 alignleft" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience3-375x472.jpg" alt="Obedience3" width="375" height="472" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience3-375x472.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience3-768x967.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience3-500x629.jpg 500w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_46182" /></a> Bilamana kita sepakat bahwa mengikuti protokol merupakan wujud mengikuti sistem aturan, bisa jadi kita sedang menyepakati tatanan khayalan atau sejenis mitos yang (mungkin sengaja) dibuat atau dimunculkan dengan tujuan tertentu. Bicara mengenai <em>tatanan baru</em> atau <em>new norma</em>l, mengingatkan saya pada tulisan Yuval Noah Harari pada bukunya <em>Sapiens</em>: <em>Riwayat Singkat Umat Manusia</em> yang menyinggung tatanan khayalan &#8211; yaitu tatanan tertentu yang kita percayai bukan karena tatanan itu benar secara objektif namun kalau kita bisa mempercayainya maka kita bisa bekerja sama secara efektif dan menjadikan masyarakat lebih baik. Namun sebaliknya, tatanan khayalan akan selalu menghadapi bahaya runtuh karena tatanan ini tergantung kepada mitos dan mitos akan lenyap runtuh ketika manusia berhenti percaya.</p>
<p>Saya begitu mengalami kesulitan untuk menulis pernyataan di atas sebagai awalan menulis narasi karya street art terkait dengan berita wabah <em>COVID-19</em> yang menjadi global, <em>Corona,</em> <em>New Normal</em> &#8211; <em>Tatanan Normal Baru</em> dan issue kesehatan yang tanpa diduga banyak orang sudah membuat Tahun 2020 yang hampir selesai sebagai &#8220;prank&#8221; yang tidak lucu. Karya dari Guerillas yang sudah dipasang di papan baliho besar di Perempatan Ringroad Selatan Jl. Imogiri Barat &#8211; Yogyakarta ini pun cukup menggelitik saya untuk mencermatinya.</p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience2.jpg" rel="attachment wp-att-9137"><img  decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-9137 alignright" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience2-375x500.jpg" alt="Obedience2" width="375" height="500" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience2-375x500.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience2-768x1024.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience2-500x667.jpg 500w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_80919" /></a>Bagi saya, karya itu secara cerdas mau menarasikan apa yang saat ini terjadi secara umum di masyarakat di mana kepatuhan menjadi ikon utama baru dengan diterapkannya <em>tatanan baru</em>. Karya Guerillas, yang pertama muncul dalam pikiran saya &#8211; adalah gambaran seorang warga pakai masker yang ditodong <em>thermogun</em> oleh seorang petugas yang juga pakai masker dan sepertinya seseorang yang ditodong alat deteksi di kening adalah seorang seniman karena keliahatannya membawa semacam screen sablon atau semacam pigura canvas. Masker menjadi semiotika atas sikap tertutup, tidak transparan, tidak saling tahu dan sama-sama terjajah oleh ketidaktahuan yang sangat asing. Ketika saya coba bertemu denga Guerillas dan mengobrol sedikit tentang karyanya, dia menyampaikan bahwa menurutnya ada sesuatu yang janggal dengan segala tatanan baru ini, ada udang di balik batu, ada tujuan tertentu yang diharapkan dengan penerapan <em>kepatuhan baru</em> ini. Dalam obrolan, Guerillas juga menyampaikan secara singkat bahwa karyanya sebenarnya adalah bentuk kritis untuk selalu waspada &#8211; tidak semata-mata ingin menyampaikan &#8220;patuhilah tatanan baru, diam pakai masker, diam ditodong <em>thermogun</em>, diam melaksanakan tatanan baru yang diterapkan&#8221;; tetapi sebuah wujud waspada dan mawas diri.</p>
<p>Berita <em>covid-19</em> membelah dunia atas mereka yang percaya dan tidak percaya, antara yang takut dan tidak takut, antara yang setuju <em>stay at home</em> atau <em>not stay at home</em>, antara yang menolak dan menerima, antara mereka yang mau menunggu vaksin dan obat virus dengan mereka yang percaya dengan imune alami tubuh. Lalu ada topic tentang <em>elite global</em>, <em>deep state</em>, konspirasi, depopulasi, pandemic dan plandemic, WHO, WHOAX hingga istilah-istilah baru dalam kesehatan atau cara-cara kesehatan tradisional yang muncul lagi. Belum lagi menjadi trendynya kegiatan &#8220;dunia maya&#8221; belajar online, meeting online, work from home, webinar, etc.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience-1.jpg" rel="attachment wp-att-9136"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-9136" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience-1-375x500.jpg" alt="Obedience 1" width="375" height="500" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience-1-375x500.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience-1-768x1024.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience-1-500x667.jpg 500w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_70232" /></a> <a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience4.jpg" rel="attachment wp-att-9139"><img  decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-9139 alignright" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience4-375x488.jpg" alt="Obedience4" width="375" height="488" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience4-375x488.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience4-768x1000.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2020/10/Obedience4-500x651.jpg 500w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_17312" /></a><br />
Ada banyak hal saling bersautan. Mungkin ada banyak yang tahu mungkin ada banyak yang tidak tahu, apa yang berlangsung semenjak awal tahun 2020 ini. Krisis kesehatan, orang meninggal, pandemi, <em>lockdown,</em> pembatasan, <em>social distancing</em>, <em>physical distancing</em>, masker, <em>health protocol</em>, peringkat kematian, daftar negara terkena dampak paling parah dan hingga kapan situasi seperti ini akan berlangsung, tidak ada yang tahu persis. Akan ikut arus tetap patuh, hanya menjadi bingung, memutuskan sendiri terus maju menghadapi situasi &#8211; akhirnya juga akan kembali kepada setiap pribadi untuk mengurus kesehatan sendiri dan selalu menjaga imune tubuh dan kesehatan dengan pilihan masing-masing paling nyaman.</p>
<p>Tulisan ini adalah catatan pribadi dan hanya sekedar menjadi narasi subjektif disamping untuk menjadi catatan di samping karya Guerillas berjudul &#8220;Obedience&#8221;.  Guerillas <a href="https://www.instagram.com/_guerillas/">https://www.instagram.com/_guerillas/</a> adalah project street art yang diprakarsai oleh Wimbo Praharso.</p>
<p>Hello World &#8211; 1 Oktober 2020</p>
<p style="text-align: justify;">tulisan oleh RG untuk urbancult.net. Foto-foto adalah koleksi pribadi Wimbo Praharso.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2020/10/01/obedience/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.8363733 110.3742523</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Penyeragaman membunuh Keberagaman</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/04/10/penyeragaman-membunuh-keberagaman/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/04/10/penyeragaman-membunuh-keberagaman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[squaresolid]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2016 10:12:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan kewek]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[SJD]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Jogja Damai]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9110</guid>

					<description><![CDATA[Minggu (10 April 2016) dini hari di Yogyakarta, Urbancult berangkat menuju Jembatan Kleringan/Kewek di tengah kota atas undangan beberapa teman. Mereka mengaku diri mereka sebagai bagian dari Forum Solidaritas Jogja Damai (SJD) sebuah forum yang baru-baru ini dibentuk oleh berbagai individu, organisasi, dan kelompok kreatif di Yogyakarta. Kami disambut dengan salam hangat, dengan tangan berlumuran [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1.jpg" rel="attachment wp-att-9114"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone size-large wp-image-9114" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1-500x281.jpg" alt="City of Tolerance 1" width="500" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1-500x281.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1-375x211.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1-768x432.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-1.jpg 1800w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_52263" /></a></p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman.jpg" rel="attachment wp-att-9113"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone size-large wp-image-9113" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-500x281.jpg" alt="City of Tolerance - Penyeragaman membunuh Keberagaman" width="500" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-500x281.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-375x211.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-768x432.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman.jpg 1800w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_51617" /></a></p>
<p>Minggu (10 April 2016) dini hari di Yogyakarta, Urbancult berangkat menuju Jembatan Kleringan/Kewek di tengah kota atas undangan beberapa teman. Mereka mengaku diri mereka sebagai bagian dari Forum Solidaritas Jogja Damai (SJD) sebuah forum yang baru-baru ini dibentuk oleh berbagai individu, organisasi, dan kelompok kreatif di Yogyakarta. Kami disambut dengan salam hangat, dengan tangan berlumuran cat berwarna hitam yang kemudian juga membekas di tangan kami. Segera kami bergabung dan nongkrong di pinggiran trotoar mengamati dinding-dinding Jembatan Kewek yang hampir seluruhnya tertutup dengan cat basah berwarna hitam.</p>
<p><span id="more-9110"></span></p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent.jpg" rel="attachment wp-att-9118"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone size-large wp-image-9118" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent-500x281.jpg" alt="City of Tolerance - Penyeragaman membunuh Keberagaman, Zent" width="500" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent-500x281.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent-375x211.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent-768x432.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-Penyeragaman-membunuh-Keberagaman-Zent.jpg 1800w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_22916" /></a></p>
<p>Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai mencat hitam keseluruhan dinding &#8211; dinding di sisi jalan Jembatan Kewek, baik di bagian barat maupun di bagian timur. Mereka kemudian menuliskan sebuah &#8220;tanda tanya (?)&#8221; besar dan kalimat &#8220;City of Tolerance&#8221; dengan cat semprot berwarna kuning tepat di tengah sebuah dinding bagian barat Jembatan Kewek. Tulisan serupa juga ditorehkan pada kedua dinding bagian timur. Di satu dinding bagian barat mereka menuliskan &#8220;PENYERAGAMAN membunuh KEBERAGAMAN&#8221; dengan cat semprot berwarna oranye.</p>
<p>Setelah mendokumentasikan kegiatan tersebut, kami kemudian bertanya pada salah satu dari pelaku aksi tersebut. Dia menjelaskan aksi tersebut sebagai sebuah sikap terhadap rentetan kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Mural ini adalah sebuah pesan kritis terhadap terancamnya nilai-nilai keberagaman yang seharusnya tumbuh dan terpelihara di Indonesia apalagi di kota yang mengklaim dirinya sebagai &#8220;City of Tolerance&#8221;. Kasus intoleransi tersebut acap kali disertai dengan aksi kekerasan sebagai sebuah tindakan penyeragaman atas kepentingan sebuah kelompok tertentu. Dia kemudian menjelaskan tindakan penyeragaman itu telah membunuh nilai-nilai keberagaman yang sudah mendarah daging dan telah menjadi dasar ideologi persatuan bangsa Indonesia.</p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2.jpg"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone wp-image-9115 size-large" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2-500x281.jpg" alt="City of Tolerance 2" width="500" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2-500x281.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2-375x211.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2-768x432.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-2.jpg 1800w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_28305" /></a></p>
<p>&#8220;City of Tolerance&#8221; itu sendiri adalah sebuah slogan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta atas heterogennya warga kota tersebut. Benar saja, hingga saat ini bisa dibilang kota Yogyakarta dihuni oleh warga dari seluruh penjuru Indonesia. Tapi apakah keberagaman tersebut terpelihara dengan perlindungan dari negara adalah sebuah pertanyan yang muncul pada saat ini.</p>
<p>Rentetan kasus intoleransi di Indonesia khususnya di kota Yogyakarta, membuat warga kian resah dan mempertanyakan kondisi tersebut. Yogyakarta mengklaim dirinya sebagai &#8220;City of Tolerance&#8221;, namun kenyataan di lapangan kondisi itu sangat berbeda. Kasus-kasus intoleransi semakin marak dan negara seolah abai dan justru terkesan memelihara kelompok-kelompok yang menggunakan aksi kekerasan dalam melakukan penyerangan kepada kelompok minoritas.</p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3.jpg"><img  decoding="async" loading="lazy" class="alignnone wp-image-9116 size-large" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3-500x281.jpg" alt="City of Tolerance 3" width="500" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3-500x281.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3-375x211.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3-768x432.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/04/City-of-Tolerance-3.jpg 1800w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_41439" /></a></p>
<p>Baru baru ini, Setara Institute merilis hasil kajiannya tentang kondisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) tahun 2015. Laporan itu menempatkan Yogyakarta masuk dalam lima besar provinsi dengan pelanggaran tertinggi. Menurut analisis Setara Institute ada tiga penyebab kenapa Yogyakarta masuk dalam provinsi dengan peringkat pelanggaran KBB tertinggi. Pertama, faktor dinamika kepemimpinan di tingkat lokal. Kedua, pertumbuhan kelompok-kelompok sosial yang menampilkan wajah dan tindakan intoleran. Mereka memanfaatkan keterbukaan masyarakat Yogyakarta. Ketiga, lemahnya kontrol legal dan kontrol sosial.</p>
<p>Aksi teman-teman dari Forum SJD ini, mengangkat pentingnya pemeliharaan hak asasi seluruh warga Indonesia yang beragam. Forum SJD dibentuk sebagai forum bersama yang mempunyai semangat untuk mendorong usaha-usaha perjuangangan bagi terciptanya keadilan dan perdamaian bagi kelompok minoritas. Klaim slogan &#8220;City of Tolerance&#8221; sudah sewajibnya dipelihara oleh pemerintah dan seluruh warga yang berhuni di Indonesia. Khusus bagi pemerintah Yogyakarta, sudah sewajibnya tidak sekedar membuat slogan tapi juga berkewajiban melaksanakan dan memelihara slogan itu dalam kenyataan. (RG for urbancult)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/04/10/penyeragaman-membunuh-keberagaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.7900000 110.3689270</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Tumbuh Subur Tak Terkendali</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/25/tumbuh-subur-tak-terkendali/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/25/tumbuh-subur-tak-terkendali/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2016 07:22:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mural]]></category>
		<category><![CDATA[Deki Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Hotel]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja Ora Didol]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Mall]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[Porno]]></category>
		<category><![CDATA[rebut kembali]]></category>
		<category><![CDATA[reclaim]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<category><![CDATA[vandal]]></category>
		<category><![CDATA[Vine Apple]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9077</guid>

					<description><![CDATA[Tumbuh Subur Tak Terkendali Karya mural kolaborasi antara Vine Apple dan Deki Utama yang bertajuk waktu 2016 ini tidak perlu dijelaskan lagi sudah sungguh sangat sekali banget dapat dimengerti maksudnya. Tumbuh Subur Tak Terkendali, apanya? Silakan dijawab sendiri-sendiri karena karya ini berada di Jogja. Pasti yang tumbuh subur bukan pepohonan ataua tetanaman di jalanan tetapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tumbuh Subur Tak Terkendali</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali.jpg" rel="attachment wp-att-9078"><img  decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-9078 alignleft" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali-375x281.jpg" alt="Tumbuh Subur Tak Terkendali" width="375" height="281" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali-375x281.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali-768x576.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali-500x375.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Tumbuh-Subur-Tak-Terkendali.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_11147" /></a>Karya mural kolaborasi antara Vine Apple dan Deki Utama yang bertajuk waktu 2016 ini tidak perlu dijelaskan lagi sudah sungguh sangat sekali banget dapat dimengerti maksudnya. Tumbuh Subur Tak Terkendali, apanya? Silakan dijawab sendiri-sendiri karena karya ini berada di Jogja. Pasti yang tumbuh subur bukan pepohonan ataua tetanaman di jalanan tetapi hutan-hutan baru berupa tembok-tembok dan beton-beton dan menjulang menjadi bangunan-bangunan yang disebut hotel-hotel dan mall. Silakan tanya pada pemerintah Walikota, Bupati dan Gubernurmu kalau mau tahu lebih detail tentang pertumbuhan dan kesuburan hotel dan mall di Jogjakarta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Out of the topic</em> dari ketumbuhan dan kesuburan atas hotel dan mall sudah tak terkendali yang jadi <em>art collaboratie</em> antara Vine Apple dan<a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Vandalized.jpg" rel="attachment wp-att-9079"><img  decoding="async" loading="lazy" class="wp-image-9079 size-thumbnail alignright" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Vandalized-150x150.jpg" alt="Vandalized" width="150" height="150" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Vandalized-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Vandalized-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Vandalized-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_79115" /></a> Deki Utama, bahwa sebenarnya gambar foto di atas adalah sudah diedit pakai photoshop oleh <em>dear-mimin</em> karena sebenarnya karya sebenarnya yang ada di tembok seputar Taman Budaya Yogyakarta itu sudah dinodai <em>tagging</em> yang sembrono dan tidak bertanggung jawab berupa vandal gambar yang identik dengan &#8220;<em>titit</em> dan <em>manuk</em>&#8220;. Pesannya, kalau mau nggambar titit atau manuk mbok yah di kamar mandi saja atau di kamarmu sendiri atau di raimu saja sekalian, jangan di karya orang lain. Kenapa demikian? Coba bayangkan bilamana gambar itu dilihat oleh anak-anak kecil. Bisa jadi mereka akan niru nggambar titit di karya bagus lainya, atau mereka jadi mikir &#8220;oh ngrusak gambar orang itu boleh&#8221;, pikirknalah sebelum mencoret. Akan lebih baik kalau sekalian ditablek itu karya lalu gambar yang lebih baik dengan teknik apapun yang bertanggung jawab secara estetik dan etika. titik sudah.</p>
<p style="text-align: justify;">catatan RG untuk urbancult.net</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/25/tumbuh-subur-tak-terkendali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.8008132 110.3688202</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Cirebon #3</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2016 06:39:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[Mural]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Parujakan]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9066</guid>

					<description><![CDATA[Tentang Karya Seni Jalanan di Lingkungan Stasiun Kereta Api Hampir sama dengan lingkungan stasiun kereta api lain di Jawa, Stasiun Kereta Api di Parujakan Cirebon juga dilingkupi dengan tembok-tembok yang penuh dengan karya street art. Praduga saya, pasti karya seni ini bukan ulah masinis atau kondektur kereta api, tapi jelas para pegiat seni jalanan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tentang Karya Seni Jalanan di Lingkungan Stasiun Kereta Api</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir sama dengan lingkungan stasiun kereta api lain di Jawa, Stasiun Kereta Api di Parujakan Cirebon juga dilingkupi dengan tembok-tembok yang penuh dengan karya street art. Praduga saya, pasti karya seni ini bukan ulah masinis atau kondektur kereta api, tapi jelas para pegiat seni jalanan yang memanfaatkan lingkungan stasiun kereta api yang &#8220;biasanya&#8221; punya tembok tinggi dan lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Lingkungan Stasiun Kereta Api Parujakan juga dilingkupi tembok tinggi dan lebar. Tentu saja karya street art ada banyak tampil dan terpasang di tembok-tembok tersebut. Entah kusam karena karya street artnya, entah kusam karena temboknya, entah kusam karena kebijakan yang baru saja dilaksanakan terkait lingkungan di Stasiun Parujakan yang sudah ditembok dan &#8220;sekarang diberi pagar tambahan&#8221;. Mungkin karena PKL itu menakutkan dan karena para PKL itu menggunakan lingkungan stasiun untuk mencari nafkah, maka tembok-tembok itu sekarang diberi pagar. Jadi ada &#8220;tembok yang dijaga oleh pagar&#8221; di Stasiun Parujakan Cirebon.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya street art, selalu bertengger di tempat semacam ini, karena merekalah yang me&#8221;reclaim&#8221; tempat-tempat terbuka dan ruang public di jalan. Kenapa selalu ada kesempatan yang terhambat? Kesempatan yang terhambat, apaan sih &#8230;. bilang aja nggak boleh. titik</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi jangan lupa dengan pesan Sunan Gunungjati, &#8220;Ingsun titip tajug lan fakir miskin&#8221;</p>

<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-1/'><img  width="375" height="290" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-1-375x290.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-1-375x290.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-1-768x593.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-1-500x386.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-1.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_23108" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-2/'><img  width="375" height="281" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-2-375x281.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-2-375x281.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-2-768x576.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-2-500x375.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_88483" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-3/'><img  width="375" height="281" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-3-375x281.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-3-375x281.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-3-768x576.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-3-500x375.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-3.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_17874" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-4/'><img  width="375" height="500" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-4-375x500.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-4-375x500.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-4-768x1024.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-4-500x667.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-4.jpg 900w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_23645" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-5/'><img  width="375" height="281" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-5-375x281.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-5-375x281.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-5-768x576.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-5-500x375.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-5.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_91038" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/st-parujakan-6/'><img  width="375" height="281" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-6-375x281.jpg" class="attachment-medium size-medium" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-6-375x281.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-6-768x576.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-6-500x375.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/St.-Parujakan-6.jpg 1200w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_19062" /></a>

<p style="text-align: justify;">catatan RG untuk urbancult.net</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/25/oleh-oleh-dari-cirebon-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-6.7194061 108.5588226</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Cirebon #2</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2016 05:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mural]]></category>
		<category><![CDATA[2016]]></category>
		<category><![CDATA[Adem]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Bill]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[MBB]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Parujakan]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9060</guid>

					<description><![CDATA[Karya di Jalan Parujakan Cirebon ini cukup familiar sekali. Saya merasa tidak di mana-mana, atau justru karena pelakunya yang terus bergerak ke mana-mana menebarkan karyanya. Saya senang sekali dengan karya macam ini, ada estetikanya, ada etikanya dan tanggung jawab kekaryaan. Estetika, etika dan tangung jawab kekaryaan? Maksudnya apa? Begini deh. Pertama, estetika, gampangnya adalah karya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karya di Jalan Parujakan Cirebon ini cukup familiar sekali. Saya merasa tidak di mana-mana, atau justru karena pelakunya yang terus bergerak ke mana-mana menebarkan karyanya. Saya senang sekali dengan karya macam ini, ada estetikanya, ada etikanya dan tanggung jawab kekaryaan. Estetika, etika dan tangung jawab kekaryaan? Maksudnya apa?</p>
<p style="text-align: justify;">Begini deh. Pertama, <em>estetika, </em>gampangnya adalah karya ini bagus, menarik, indah, cantik, warna-warni, berkarakter, tidak asal-asalan, menggunakan teknik tertentu yang diperhitungkan. Kedua, <em>etika dan tanggung jawab kekaryaan</em>, gampangnya pembuat karya pasti mempertimbangkan etika ke dalam dan tanggung jawab ke dalam atas karyanya yang mana akan mencerminkan &#8220;kekaryaan seni&#8221; yang mereka kerjakan. Kalau karyanya asal-asalan kan semacam &#8220;eek&#8221; sembarangan yang dipertontonkan di ruang publik. Namun selain, etika dan tanggung jawab kekaryaan secara ke dalam (yang akhirnya juga bermanfaat untuk pembuat karya, macam protfoliao juga kan?) terdapat juga etika dan tanggung jawab kekaryaan ke luar, artinya yang terpancar ke luar pada khlayak publik, di mana karya-karya ini bisa dinikmati, tidak asal-asalan, dekoratif, indah dan jelas menunjukkan &#8220;<em>reclaim</em>&#8221; atas ruang publik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini hanya opini permukaan saya secara pribadi, karena sebagai warga awam saya senang ada semakin banyak karya yang &#8220;baik&#8221; di mana-mana. Ada banyak alasan subyektif untuk menyebut karya di jalan yang &#8220;baik&#8221; dan yang &#8220;tidak baik&#8221;. Terus berkarya dan sebarkan &#8220;kebaikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">catatan RG untuk urbancult.net</p>

<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/cirebon-1/'><img  width="500" height="361" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1-500x361.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1-500x361.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1-375x271.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1-768x555.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1-222x160.jpg 222w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-1.jpg 1200w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_53819" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/cirebon-2/'><img  width="500" height="339" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-2-500x339.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-2-500x339.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-2-375x254.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-2-768x520.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_53039" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/cirebon-3/'><img  width="500" height="335" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-3-500x335.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-3-500x335.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-3-375x251.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-3-768x515.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Cirebon-3.jpg 1200w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px"  displayexif=".DISPEXIF_50922" /></a>

]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-6.7197042 108.5607147</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Cirebon #1</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-1/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2016 23:30:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[Mural]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[Mega Mendung]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaq]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[North Coast]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Parujakan]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9057</guid>

					<description><![CDATA[Oleh-oleh dari Cirebon #1 Pada 26, 27, 28 Februari 2016 saya mendapatkan kesempatan untuk bertandang ke Kota Udang a.k.a Cirebon di Jawa Barat. Saya bisa bertandang ke Kota Cirebon karena kebaikan dari kawan-kawan 1 Buku untuk Indonesia, Pejalan Bergerak dan Gerakan Menabung. Saya ikut berkereta ke sana untuk mendukung Perpustakaan Safinatunnajah, sebuah perpustakaan keliling yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh-oleh dari Cirebon #1</p>
<p style="text-align: justify;">Pada 26, 27, 28 Februari 2016 saya mendapatkan kesempatan untuk bertandang ke <em>Kota Udang</em> a.k.a Cirebon di Jawa Barat. Saya bisa bertandang ke Kota Cirebon karena kebaikan dari kawan-kawan <a href="http://www.1bukuuntukindonesia.wordpress.com" target="_blank">1 Buku untuk Indonesia</a>, <a href="http://pejalanbergerak.blogspot.com" target="_blank">Pejalan Bergerak</a> dan <a href="https://web.facebook.com/gerakan.menabung.5?fref=ts" target="_blank">Gerakan Menabung</a>. Saya ikut berkereta ke sana untuk mendukung Perpustakaan Safinatunnajah, sebuah perpustakaan keliling yang diprakarsai oleh <a href="https://web.facebook.com/emikq.javarasta" target="_blank">Kang Emik</a> dan segenap kawan-kawan yang terlibat dalam #KawanEmik. Perpustakaan Safinatunnajah disebut perpustakaan keliling karena memang bentuknya adalah sepeda motor tua yang <em>dihacked</em> sedemikian rupa dan punya <em>sespan</em> dengan bentuk perahu untuk membawa buku-buku. Kendaraan ini berkeliling pada hari-hari tertentu ke tempat-tempat yang menjadi langganan untuk menjadi &#8220;taman baca&#8221; di seputar Cirebon. Ide ini menjadi inspirasi untuk banyak hal dan semangat termasuk aktifnya <a href="https://web.facebook.com/pustaka.suropati" target="_blank">Taman Bacaan Suropati</a>, <a href="https://web.facebook.com/tbmkihajardewantara/timeline" target="_blank">TBM Ki Hajar Dewantara</a> serta gerakan literasi di Cirebon lainnya.</p>
<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit.jpg" rel="attachment wp-att-9058"><img  decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-9058 alignleft" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit-375x245.jpg" alt="mega mendung cirebon" width="375" height="245" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit-375x245.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit-768x502.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit-500x327.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/DSCN8818-edit.jpg 1600w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px"  displayexif=".DISPEXIF_31066" /></a>Selain cerita di atas, ada oleh-oleh khusus berupa citra tembok di Cirebon yang saya ambil gambarnya di seputar Stasiun Perujakan; misalnya, gambar mural berupa motif Mega Mendung dengan label NORTH COAST dan bersanding graffiti, mungkin terbaca MOZAQ.</p>
<p>Ada beberapa spot karya seni jalanan yang saya lihat di seputar jalan menuju stasiun Parujakan. Andai saja ada lebih banyak karya seni visual yang tampil dalam tembok-tembok kusam itu, pasti Cirebon makin asyik. Membaca kata, membaca dunia.</p>
<p>(catatan RG untuk urbancult.net)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/22/oleh-oleh-dari-cirebon-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-6.7197042 108.5607147</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Sepanjang Graffiti</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amarawati Ayuningtyas]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2016 06:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kusumanegara]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<category><![CDATA[urbancult]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakartagraffiti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9042</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Graffiti sepanjang jalan Kusumanegara, Yogyakarta &#160; #urbancult #streetart #indonesia #graffiti #yogyakartagraffiti #kusumanegara #yogyakarta]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/2-5/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/2-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/2-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/2-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_90120" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/3-4/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/3-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/3-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/3-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_48317" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/4-2/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/4-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/4-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/4-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_22019" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/5-4/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/5-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/5-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/5-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_96665" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/6-2/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/6-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/6-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/6-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/6-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_51113" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/7-5/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/7-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/7-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/7-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/7-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_56024" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/attachment/8/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/8-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/8-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/8-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/8-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_31501" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/attachment/9/'><img  width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/9-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/9-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/9-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/9-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px"  displayexif=".DISPEXIF_23211" /></a>

<p>&nbsp;</p>
<p>Graffiti sepanjang jalan Kusumanegara, Yogyakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#urbancult #streetart #indonesia #graffiti #yogyakartagraffiti #kusumanegara #yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/21/sepanjang-graffiti/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.8019938 110.3894348</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Serial Karya di Jl. Palagan &#8211; Jogja</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2016 14:51:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jl. Palagan]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9020</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa karya graffiti di Jl. Palagan &#8211; Yogyakarta &#160;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa karya graffiti di Jl. Palagan &#8211; Yogyakarta</p>

<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/jl-palagan-1/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/jl-palagan-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-2-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-2-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-2-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/jl-palagan-3/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-3-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-3-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Jl.-Palagan-3-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>

<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/10/serial-karya-di-jl-palagan-jogja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.7484503 110.3723450</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Graffiti Series Jl. Bougenvile Selokan &#8211; Jogja</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2016 14:32:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[JOGJA]]></category>
		<category><![CDATA[selso]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9010</guid>

					<description><![CDATA[Karya-karya graffiti di sekitar Fakultas Peternakan UGM &#160; &#160; &#160; &#160; &#160;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karya-karya graffiti di sekitar Fakultas Peternakan UGM</p>

<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/ft-uny-5-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-5-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-5-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-5-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-5-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/ft-uny-4-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-4-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-4-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-4-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-4-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/ft-uny-3-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-3-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-3-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-3-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-3-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/ft-uny-2-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-2-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-2-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-2-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-2-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/ft-uny-1-2/'><img width="150" height="150" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-1-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-1-1-150x150.jpg 150w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-1-1-90x90.jpg 90w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/FT-UNY-1-1-144x144.jpg 144w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>

<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/10/9010/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.7683048 110.3875122</georss:point>	</item>
		<item>
		<title>Bhineka Tunggal Graffiti &#8211; Magelang</title>
		<link>http://www.urbancult.net/2016/03/10/bhineka-tunggal-graffiti-magelang/</link>
					<comments>http://www.urbancult.net/2016/03/10/bhineka-tunggal-graffiti-magelang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2016 13:53:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[graffiti]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.urbancult.net/?p=9007</guid>

					<description><![CDATA[Kebhinekaaan dalam satu karya graffiti &#8220;MAGELANG&#8221;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang.jpg" rel="attachment wp-att-9008"><img decoding="async" loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-9008" src="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang-375x667.jpg" alt="Real Graffiti - Magelang" width="375" height="667" srcset="http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang-375x667.jpg 375w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang-768x1365.jpg 768w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang-500x889.jpg 500w, http://www.urbancult.net/wp-content/uploads/2016/03/Real-Graffiti-Magelang.jpg 900w" sizes="(max-width: 375px) 100vw, 375px" /></a></p>
<p>Kebhinekaaan dalam satu karya graffiti &#8220;MAGELANG&#8221;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://www.urbancult.net/2016/03/10/bhineka-tunggal-graffiti-magelang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<georss:point>-7.4966645 110.2302399</georss:point>	</item>
	</channel>
</rss>
