<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>utami blog</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</managingEditor><pubDate>Thu, 19 Dec 2024 11:33:15 +0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Health"><itunes:category text="Alternative Health"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Tugas Softskill "Rr.Ayu Tri Wiji Utami (111-07-948)"</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2011/04/tugas-softskill-rrayu-tri-wiji-utami.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Wed, 6 Apr 2011 21:16:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-2914866107126276127</guid><description>UU Hak Cipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR  19  TAHUN 2002&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;HAK CIPTA&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;Menimbang       :  &lt;br /&gt;a.       bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni dan sastra dengan pengembangan-pengembangannya yang memerlukan perlindungan Hak Cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut; &lt;br /&gt;b.      bahwa Indonesia telah menjadi anggota berbagai konvensi/perjanjian internasional di bidang hak kekayaan intelektual pada umumnya dan Hak Cipta pada khususnya yang memerlukan pengejawantahan lebih lanjut dalam sistem hukum nasionalnya; &lt;br /&gt;c.       bahwa perkembangan di bidang perdagangan, industri, dan investasi telah sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan bagi Pencipta dan Pemilik Hak Terkait dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat luas; &lt;br /&gt;d.      bahwa dengan memperhatikan pengalaman dalam melaksanakan Undang-undang Hak Cipta yang ada, dipandang perlu untuk menetapkan Undang-undang Hak Cipta yang baru menggantikan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997; &lt;br /&gt;e.       bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut dalam huruf  a, huruf b, huruf c, dan huruf d, dibutuhkan Undang-undang tentang Hak Cipta; &lt;br /&gt; Mengingat        : &lt;br /&gt;1.      Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 28 C ayat (1), dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; &lt;br /&gt;2.      Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564); &lt;br /&gt;Dengan Persetujuan &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt; Menetapkan     :           UNDANG-UNDANG TENTANG HAK CIPTA. &lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;Pasal  1 &lt;br /&gt;Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: &lt;br /&gt;1.      Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;2.      Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. &lt;br /&gt;3.      Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra. &lt;br /&gt;4.      Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut  hak dari pihak yang menerima hak tersebut. &lt;br /&gt;5.      Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apa pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain. &lt;br /&gt;6.      Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. &lt;br /&gt;7.      Potret adalah gambar dari wajah orang yang digambarkan, baik bersama bagian tubuh lainnya ataupun tidak, yang diciptakan dengan cara dan alat apa pun. &lt;br /&gt;8.      Program Komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila   digabungkan    dengan     media     yang    dapat   dibaca  dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut. &lt;br /&gt;9.      Hak Terkait adalah  hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Produser Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya. &lt;br /&gt;10.  Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra,  folklor, atau karya seni lainnya. &lt;br /&gt;11.  Produser Rekaman Suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya. &lt;br /&gt;12.  Lembaga Penyiaran adalah organisasi penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum, yang melakukan penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik. &lt;br /&gt;13.  Permohonan adalah Permohonan pendaftaran Ciptaan yang diajukan oleh pemohon kepada Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;14.  Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu. &lt;br /&gt;15.  Kuasa adalah konsultan Hak Kekayaan Intelektual sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-undang ini. &lt;br /&gt;16.  Menteri adalah Menteri yang membawahkan departemen yang salah satu lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk Hak Cipta. &lt;br /&gt;17.  Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang berada di bawah departemen yang dipimpin oleh Menteri. &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;LINGKUP HAK CIPTA &lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Fungsi dan Sifat Hak Cipta &lt;br /&gt;Pasal  2 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;(2)  Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial. &lt;br /&gt;Pasal  3 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena: &lt;br /&gt;a.       Pewarisan; &lt;br /&gt;b.      Hibah; &lt;br /&gt;c.       Wasiat; &lt;br /&gt;d.      Perjanjian tertulis; atau &lt;br /&gt;e.       Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal  4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta, yang setelah Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Pencipta &lt;br /&gt;Pasal  5 &lt;br /&gt;(1)  Kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai Pencipta adalah: &lt;br /&gt;a.       orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal; atau &lt;br /&gt;b.      orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan.&lt;br /&gt;(2)  Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa Penciptanya, orang yang berceramah dianggap sebagai Pencipta ceramah tersebut. &lt;br /&gt;Pasal  6 &lt;br /&gt;Jika suatu Ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap sebagai Pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-masing atas bagian Ciptaannya itu. &lt;br /&gt;Pasal  7 &lt;br /&gt;Jika suatu Ciptaan yang dirancang seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, Penciptanya adalah orang yang merancang  Ciptaan itu. &lt;br /&gt;Pasal  8 &lt;br /&gt;(1)  Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya, Pemegang Hak Cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya Ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak Pencipta apabila penggunaan Ciptaan itu diperluas sampai ke luar hubungan dinas. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Ciptaan yang dibuat pihak lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas. &lt;br /&gt;(3)  Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak. &lt;br /&gt;Pasal  9 &lt;br /&gt;Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa Ciptaan berasal dari padanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai Penciptanya, badan hukum tersebut dianggap sebagai Penciptanya, kecuali jika terbukti sebaliknya. &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui &lt;br /&gt;Pasal  10&lt;br /&gt;(1)  Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan benda budaya nasional lainnya.&lt;br /&gt;(2)  Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya. &lt;br /&gt;(3)  Untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaan tersebut pada ayat (2), orang yang bukan warga negara Indonesia harus terlebih dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam masalah tersebut. &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini, diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal  11 &lt;br /&gt;(1)  Jika suatu Ciptaan tidak diketahui Penciptanya dan Ciptaan itu belum diterbitkan, Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;(2)  Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;(3)  Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya dan/atau Penerbitnya, Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;Bagian Keempat &lt;br /&gt;Ciptaan yang Dilindungi &lt;br /&gt;Pasal  12 &lt;br /&gt;(1)  Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup: &lt;br /&gt;a.       buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain; &lt;br /&gt;b.      ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu; &lt;br /&gt;c.       alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; &lt;br /&gt;d.      lagu atau musik dengan atau tanpa teks; &lt;br /&gt;e.       drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim; &lt;br /&gt;f.        seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; &lt;br /&gt;g.       arsitektur; &lt;br /&gt;h.       peta; &lt;br /&gt;i.         seni batik; &lt;br /&gt;j.        fotografi; &lt;br /&gt;k.      sinematografi; &lt;br /&gt;l.         terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. &lt;br /&gt;(2)  Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf l dilindungi sebagai Ciptaan tersendiri dengan tidak mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan asli.&lt;br /&gt;(3)  Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), termasuk juga semua Ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang nyata, yang memungkinkan Perbanyakan hasil karya itu. &lt;br /&gt;Pasal  13 &lt;br /&gt;Tidak ada Hak Cipta atas: &lt;br /&gt;a.       hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara; &lt;br /&gt;b.      peraturan perundang-undangan; &lt;br /&gt;c.       pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah; &lt;br /&gt;d.      putusan pengadilan atau penetapan hakim; atau &lt;br /&gt;e.       keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya. &lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembatasan Hak Cipta &lt;br /&gt;Pasal  14&lt;br /&gt;Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:&lt;br /&gt;a.       Pengumuman dan/atau Perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli; &lt;br /&gt;b.      Pengumuman dan/atau Perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama Pemerintah, kecuali apabila Hak Cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada Ciptaan itu sendiri atau ketika Ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak; atau &lt;br /&gt;c.       Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap. &lt;br /&gt;Pasal  15 &lt;br /&gt;Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:&lt;br /&gt;a.       penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta; &lt;br /&gt;b.      pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan; &lt;br /&gt;c.       pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan: &lt;br /&gt;(i)   ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau &lt;br /&gt;(ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari  Pencipta; &lt;br /&gt;d.      Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika Perbanyakan itu bersifat komersial; &lt;br /&gt;e.       Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya; &lt;br /&gt;f.        perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti Ciptaan bangunan; &lt;br /&gt;g.       pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri. &lt;br /&gt;Pasal  16 &lt;br /&gt;(1)  Untuk kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan, serta kegiatan penelitian dan pengembangan,  terhadap Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan sastra, Menteri setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta dapat: &lt;br /&gt;a.       mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan; &lt;br /&gt;b.      mewajibkan Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan dalam hal Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan tidak melaksanakan sendiri atau melaksanakan sendiri kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf a; &lt;br /&gt;c.       menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut dalam hal Pemegang Hak Cipta tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf b. &lt;br /&gt;(2)  Kewajiban untuk menerjemahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya Ciptaan di bidang ilmu pengetahuan dan sastra selama karya tersebut belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;(3)  Kewajiban untuk memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah lewat jangka waktu: &lt;br /&gt;a.       3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;b.      5 (lima) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang ilmu sosial dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;c.       7 (tujuh) tahun sejak diumumkannya buku di bidang seni dan sastra dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;(4)  Penerjemahan atau Perbanyakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat digunakan untuk pemakaian di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dan tidak untuk diekspor ke wilayah Negara lain. &lt;br /&gt;(5)  Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c disertai pemberian imbalan yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;(6)  Ketentuan tentang tata cara pengajuan Permohonan untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;Pasal  17&lt;br /&gt;Pemerintah melarang Pengumuman setiap Ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang agama, pertahanan dan keamanan Negara, kesusilaan, serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  18 &lt;br /&gt;(1)  Pengumuman suatu Ciptaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk kepentingan nasional melalui radio, televisi dan/atau sarana lain dapat dilakukan dengan tidak  meminta izin kepada Pemegang Hak Cipta dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Hak Cipta, dan kepada Pemegang Hak Cipta diberikan imbalan yang layak. &lt;br /&gt;(2)  Lembaga Penyiaran yang mengumumkan Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang mengabadikan Ciptaan itu semata-mata untuk Lembaga Penyiaran itu sendiri dengan ketentuan bahwa untuk penyiaran selanjutnya, Lembaga Penyiaran tersebut harus memberikan imbalan yang layak kepada Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan.&lt;br /&gt; Bagian Keenam&lt;br /&gt;Hak Cipta atas Potret &lt;br /&gt;Pasal  19 &lt;br /&gt;(1)  Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia. &lt;br /&gt;(2)  Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam Potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan dalam Pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat: &lt;br /&gt;a.       atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret; &lt;br /&gt;b.      atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau &lt;br /&gt;c.       untuk kepentingan orang yang dipotret. &lt;br /&gt;Pasal  20 &lt;br /&gt;Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:&lt;br /&gt;a.       tanpa persetujuan dari orang yang dipotret; &lt;br /&gt;b.      tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau &lt;br /&gt;c.       tidak untuk kepentingan yang dipotret, &lt;br /&gt;apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia. &lt;br /&gt;Pasal  21 &lt;br /&gt;Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan. &lt;br /&gt;Pasal  22 &lt;br /&gt;Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana, Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkan oleh instansi yang berwenang. &lt;br /&gt;Pasal  23 &lt;br /&gt;Kecuali terdapat persetujuan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan fotografi, seni lukis, gambar, arsitektur, seni pahat dan/atau hasil seni lain, pemilik berhak tanpa persetujuan  Pemegang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyaknya dalam satu katalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret. &lt;br /&gt;Bagian Ketujuh&lt;br /&gt;Hak Moral &lt;br /&gt;Pasal  24&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya. &lt;br /&gt;(2)  Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain, kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan judul dan anak judul Ciptaan, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Pencipta. &lt;br /&gt;(4)  Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal  25&lt;br /&gt;(1)   Informasi elektronik tentang informasi manajemen hak Pencipta tidak boleh ditiadakan atau diubah. &lt;br /&gt;(2)   Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt; Pasal  26 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas suatu Ciptaan tetap berada di tangan Pencipta selama kepada pembeli Ciptaan itu tidak diserahkan seluruh Hak Cipta dari Pencipta itu. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta yang dijual untuk seluruh atau sebagian tidak dapat dijual untuk kedua kalinya oleh penjual yang sama. &lt;br /&gt;(3)  Dalam hal timbul sengketa antara beberapa pembeli Hak Cipta yang sama atas suatu Ciptaan, perlindungan diberikan kepada pembeli yang lebih dahulu memperoleh Hak Cipta itu. &lt;br /&gt;Bagian Kedelapan&lt;br /&gt;Sarana Kontrol Teknologi &lt;br /&gt;Pasal  27 &lt;br /&gt;Kecuali atas izin Pencipta, sarana kontrol teknologi sebagai pengaman hak Pencipta tidak diperbolehkan dirusak, ditiadakan, atau dibuat tidak berfungsi. &lt;br /&gt;Pasal  28 &lt;br /&gt;(1)  Ciptaan-ciptaan yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi, khususnya di bidang cakram optik (optical disc), wajib memenuhi semua peraturan perizinan dan persyaratan produksi yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana produksi berteknologi tinggi yang memproduksi cakram optik sebagaimana diatur pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah &lt;br /&gt;BAB  III &lt;br /&gt;MASA BERLAKU HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  29&lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan: &lt;br /&gt;a.       buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain; &lt;br /&gt;b.      drama atau drama musikal, tari, koreografi; &lt;br /&gt;c.      segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung; &lt;br /&gt;d.      seni batik; &lt;br /&gt;e.      lagu atau musik dengan atau tanpa teks; &lt;br /&gt;f.       arsitektur; &lt;br /&gt;g.      ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lain; &lt;br /&gt;h.      alat peraga; &lt;br /&gt;i.        peta; &lt;br /&gt;j.        terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai, &lt;br /&gt;berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia. &lt;br /&gt;(2)  Untuk Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih, Hak Cipta berlaku selama hidup Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya. &lt;br /&gt;Pasal  30 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan: &lt;br /&gt;a.       Program Komputer; &lt;br /&gt;b.      sinematografi; &lt;br /&gt;c.       fotografi; &lt;br /&gt;d.      database;  dan &lt;br /&gt;e.       karya hasil pengalihwujudan, &lt;br /&gt;    berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. &lt;br /&gt;(2)   Hak Cipta atas perwajahan karya tulis  yang diterbitkan berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan. &lt;br /&gt;(3)   Hak Cipta atas Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pasal ini serta Pasal 29 ayat (1) yang dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. &lt;br /&gt;Pasal  31&lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan yang dipegang atau dilaksanakan oleh Negara berdasarkan:&lt;br /&gt;a.       Pasal 10 ayat (2) berlaku tanpa batas waktu; &lt;br /&gt;b.      Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diketahui umum. &lt;br /&gt;(2)   Hak Cipta atas Ciptaan yang dilaksanakan oleh Penerbit berdasarkan Pasal 11 ayat (2) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diterbitkan. &lt;br /&gt;Pasal  32&lt;br /&gt;(1)  Jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang diumumkan bagian demi bagian dihitung mulai tanggal Pengumuman bagian yang terakhir. &lt;br /&gt;(2)  Dalam menentukan jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang terdiri atas 2 (dua) jilid atau lebih, demikian pula ikhtisar dan berita yang diumumkan secara berkala dan tidak bersamaan waktunya, setiap jilid atau ikhtisar dan berita itu masing-masing dianggap sebagai Ciptaan tersendiri. &lt;br /&gt;Pasal  33&lt;br /&gt;Jangka waktu perlindungan bagi hak Pencipta sebagaimana dimaksud dalam:&lt;br /&gt;a.       Pasal 24 ayat (1) berlaku tanpa batas waktu; &lt;br /&gt;b.      Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3) berlaku selama berlangsungnya jangka waktu Hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan, kecuali untuk pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Penciptanya. &lt;br /&gt;Pasal  34&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi hak Pencipta atas jangka waktu perlindungan Hak Cipta yang dihitung sejak lahirnya suatu Ciptaan, penghitungan jangka waktu perlindungan bagi Ciptaan yang dilindungi:&lt;br /&gt;a.       selama 50 (lima puluh) tahun; &lt;br /&gt;b.      selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, dimulai sejak 1 Januari untuk tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan, diketahui oleh umum, diterbitkan, atau setelah Pencipta meninggal dunia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;BAB  IV &lt;br /&gt;PENDAFTARAN CIPTAAN &lt;br /&gt;Pasal  35 &lt;br /&gt;(1)  Direktorat Jenderal menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan dan dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan. &lt;br /&gt;(2)  Daftar Umum Ciptaan tersebut dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Setiap orang dapat memperoleh untuk dirinya sendiri suatu petikan dari Daftar Umum Ciptaan tersebut dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan tentang pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  36 &lt;br /&gt;Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi, arti, maksud, atau bentuk dari Ciptaan yang didaftar. &lt;br /&gt;Pasal  37 &lt;br /&gt;(1)  Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan dilakukan atas Permohonan yang diajukan oleh Pencipta atau oleh Pemegang Hak Cipta atau Kuasa. &lt;br /&gt;(2)  Permohonan diajukan kepada Direktorat Jenderal dengan surat rangkap 2 (dua) yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan disertai contoh Ciptaan atau penggantinya dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Terhadap Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktorat Jenderal akan memberikan keputusan paling lama 9 (sembilan) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya Permohonan secara lengkap. &lt;br /&gt;(4)  Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah konsultan yang terdaftar pada Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;(5)  Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara untuk dapat diangkat dan terdaftar sebagai konsultan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(6)  Ketentuan lebih lanjut tentang syarat dan tata cara Permohonan ditetapkan dengan Keputusan Presiden.&lt;br /&gt;Pasal  38 &lt;br /&gt;Dalam hal Permohonan diajukan oleh  lebih dari seorang  atau suatu badan hukum yang secara bersama-sama berhak atas suatu Ciptaan, Permohonan tersebut dilampiri salinan resmi akta atau keterangan tertulis yang membuktikan hak tersebut.  &lt;br /&gt;Pasal  39 &lt;br /&gt;a.       Dalam Daftar Umum Ciptaan dimuat, antara lain: &lt;br /&gt;b.      nama Pencipta dan Pemegang Hak Cipta; &lt;br /&gt;c.       tanggal penerimaan surat Permohonan; &lt;br /&gt;d.      tanggal lengkapnya persyaratan menurut Pasal 37; dan &lt;br /&gt;e.       nomor pendaftaran Ciptaan. &lt;br /&gt;Pasal  40 &lt;br /&gt;(1)  Pendaftaran Ciptaan dianggap telah dilakukan pada saat diterimanya Permohonan oleh Direktorat Jenderal dengan lengkap menurut Pasal 37, atau pada saat diterimanya Permohonan dengan lengkap menurut Pasal 37 dan Pasal 38 jika Permohonan diajukan oleh lebih dari seorang atau satu badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. &lt;br /&gt;(2)  Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;Pasal  41 &lt;br /&gt;(1)  Pemindahan hak atas pendaftaran Ciptaan, yang terdaftar menurut Pasal 39 yang terdaftar dalam satu nomor, hanya diperkenankan jika seluruh Ciptaan yang terdaftar itu dipindahkan haknya kepada penerima hak.&lt;br /&gt;(2)  Pemindahan hak tersebut dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permohonan tertulis dari kedua belah pihak atau dari penerima hak dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Pencatatan pemindahan hak tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;Pasal  42 &lt;br /&gt;Dalam hal Ciptaan didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2)  serta Pasal 39, pihak lain yang menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga. &lt;br /&gt;Pasal  43 &lt;br /&gt;(1)  Perubahan nama dan/atau perubahan alamat orang atau badan hukum yang namanya tercatat dalam Daftar Umum Ciptaan sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permintaan tertulis Pencipta atau Pemegang Hak Cipta yang mempunyai nama dan alamat itu dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(2)  Perubahan nama dan/atau perubahan alamat tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;Pasal  44 &lt;br /&gt;Kekuatan hukum dari suatu pendaftaran Ciptaan hapus karena: &lt;br /&gt;a.       penghapusan atas permohonan orang atau badan hukum yang namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta; &lt;br /&gt;b.      lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 30, dan Pasal 31 dengan mengingat Pasal 32; &lt;br /&gt;c.       dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;BAB  V &lt;br /&gt;LISENSI &lt;br /&gt;Pasal  45 &lt;br /&gt;(1)  Pemegang Hak Cipta berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian Lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 2. &lt;br /&gt;(2)  Kecuali diperjanjikan lain, lingkup Lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;(3)  Kecuali diperjanjikan lain, pelaksanaan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disertai dengan kewajiban pemberian royalti kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi.&lt;br /&gt;(4)  Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi. &lt;br /&gt;Pasal  46&lt;br /&gt;Kecuali diperjanjikan lain, Pemegang Hak Cipta tetap boleh melaksanakan sendiri atau memberikan Lisensi kepada pihak ketiga untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. &lt;br /&gt;Pasal  47 &lt;br /&gt;(1)  Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;(2)  Agar dapat mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga, perjanjian Lisensi wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;(3)  Direktorat Jenderal wajib menolak pencatatan perjanjian Lisensi yang memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden.&lt;br /&gt;BAB  VI &lt;br /&gt;DEWAN HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  48 &lt;br /&gt;(1)  Untuk membantu Pemerintah dalam memberikan penyuluhan dan pembimbingan serta pembinaan Hak Cipta, dibentuk Dewan Hak Cipta. &lt;br /&gt;(2)  Keanggotaan Dewan Hak Cipta terdiri atas wakil pemerintah, wakil organisasi profesi, dan anggota masyarakat yang memiliki kompetensi di bidang Hak Cipta, yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas, fungsi, susunan, tata kerja, pembiayaan, masa bakti Dewan Hak Cipta ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(4)  Biaya untuk Dewan Hak Cipta sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibebankan kepada anggaran belanja departemen yang melakukan pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual.&lt;br /&gt;BAB  VII &lt;br /&gt;HAK  TERKAIT &lt;br /&gt;Pasal  49 &lt;br /&gt;(1)  Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya. &lt;br /&gt;(2)  Produser Rekaman Suara memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya memperbanyak dan/atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyi. &lt;br /&gt;(3)  Lembaga Penyiaran memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel, atau melalui sistem elektromagnetik lain.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pasal  50 &lt;br /&gt;(1)  Jangka waktu perlindungan bagi:&lt;br /&gt;a.       Pelaku, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut pertama kali dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual; &lt;br /&gt;b.      Produser Rekaman Suara, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut selesai direkam; &lt;br /&gt;c.       Lembaga Penyiaran, berlaku selama 20 (dua puluh) tahun sejak karya siaran tersebut pertama kali disiarkan. &lt;br /&gt;(2)  Penghitungan jangka waktu perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai sejak tanggal 1 Januari tahun berikutnya setelah:&lt;br /&gt;a.       karya pertunjukan selesai dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual; &lt;br /&gt;b.      karya rekaman suara selesai direkam; &lt;br /&gt;c.       karya siaran selesai disiarkan untuk pertama kali. &lt;br /&gt;Pasal  51 &lt;br /&gt;Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 14 huruf b dan huruf c, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63, Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66, Pasal 68, Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, dan Pasal 77 berlaku mutatis mutandis terhadap Hak Terkait.&lt;br /&gt;BAB  VIII &lt;br /&gt;PENGELOLAAN HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  52 &lt;br /&gt;Penyelenggaraan administrasi Hak Cipta sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;Pasal  53 &lt;br /&gt;Direktorat Jenderal menyelenggarakan sistem jaringan dokumentasi dan informasi Hak Cipta yang bersifat nasional, yang mampu menyediakan informasi tentang Hak Cipta seluas mungkin kepada masyarakat.&lt;br /&gt;BAB  IX &lt;br /&gt;BIAYA &lt;br /&gt;Pasal  54 &lt;br /&gt;(1)   Untuk setiap pengajuan Permohonan, permintaan petikan Daftar Umum  Ciptaan,  pencatatan pengalihan Hak Cipta,  pencatatan perubahan nama dan/atau alamat, pencatatan perjanjian Lisensi, pencatatan Lisensi wajib, serta lain-lain yang ditentukan dalam Undang-undang ini dikenai biaya yang besarnya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(2)   Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu, dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;(3)   Direktorat Jenderal dengan persetujuan Menteri dan Menteri Keuangan dapat menggunakan penerimaan yang berasal dari biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;BAB  X &lt;br /&gt;PENYELESAIAN SENGKETA &lt;br /&gt;Pasal  55 &lt;br /&gt;Penyerahan Hak Cipta atas seluruh Ciptaan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pencipta atau ahli warisnya untuk menggugat yang tanpa persetujuannya: &lt;br /&gt;a.       meniadakan nama Pencipta yang tercantum pada Ciptaan itu;  &lt;br /&gt;b.      mencantumkan nama Pencipta pada Ciptaannya;  &lt;br /&gt;c.       mengganti atau mengubah judul Ciptaan;  atau &lt;br /&gt;d.      mengubah isi Ciptaan.  &lt;br /&gt;Pasal  56 &lt;br /&gt;(1)  Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu. &lt;br /&gt;(2)  Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah, pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;(3)  Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  57 &lt;br /&gt;Hak dari Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak berlaku terhadap Ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperoleh Ciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial. &lt;br /&gt;Pasal  58 &lt;br /&gt;Pencipta atau ahli waris suatu Ciptaan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. &lt;br /&gt;Pasal  59 &lt;br /&gt;Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Pasal 56, dan Pasal 58 wajib diputus dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan di Pengadilan Niaga yang bersangkutan. &lt;br /&gt;Pasal  60 &lt;br /&gt;(1)  Gugatan atas pelanggaran Hak Cipta diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga. &lt;br /&gt;(2)  Panitera mendaftarkan gugatan tersebut pada ayat (1) pada tanggal gugatan diajukan dan kepada penggugat diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran. &lt;br /&gt;(3)  Panitera menyampaikan gugatan kepada Ketua Pengadilan Niaga paling lama 2 (dua) hari terhitung setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;(4)  Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari setelah gugatan didaftarkan, Pengadilan Niaga mempelajari gugatan dan menetapkan hari sidang. &lt;br /&gt;(5)  Sidang pemeriksaan atas gugatan dimulai dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;Pasal  61 &lt;br /&gt;(1)  Pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita paling lama 7 (tujuh) hari setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;(2)  Putusan atas gugatan harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah gugatan didaftarkan dan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari atas persetujuan Ketua Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(3)  Putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan apabila diminta dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun terhadap putusan tersebut diajukan suatu upaya hukum. &lt;br /&gt;(4)  Isi putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib disampaikan oleh juru sita kepada para pihak paling lama 14 (empat belas) hari setelah putusan atas gugatan diucapkan. &lt;br /&gt;Pasal  62 &lt;br /&gt;(1)  Terhadap putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (4) hanya dapat diajukan kasasi. &lt;br /&gt;(2)  Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan  kasasi diucapkan atau diberitahukan kepada para pihak dengan mendaftarkan kepada Pengadilan yang telah memutus gugatan tersebut. &lt;br /&gt;(3)  Panitera mendaftar permohonan kasasi pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon kasasi diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan pendaftaran. &lt;br /&gt;Pasal  63 &lt;br /&gt;(1)   Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi kepada panitera dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal  permohonan kasasi didaftarkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (2). &lt;br /&gt;(2)   Panitera wajib mengirimkan permohonan kasasi dan memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pihak termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah memori kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;(3)   Termohon kasasi dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada panitera paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal termohon kasasi menerima memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan panitera wajib menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah kontra memori kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;(4)   Panitera wajib mengirimkan berkas perkara kasasi yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung paling lama 14 (empat belas)  hari setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). &lt;br /&gt;Pasal  64 &lt;br /&gt;(1)  Mahkamah Agung wajib mempelajari berkas perkara kasasi dan menetapkan hari sidang paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(2)  Sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi mulai dilakukan paling lama 60 (enam puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(3)  Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(4)  Putusan atas permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada  ayat (3) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. &lt;br /&gt;(5)  Panitera Mahkamah Agung wajib menyampaikan salinan putusan kasasi kepada panitera paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan atas permohonan kasasi diucapkan. &lt;br /&gt;(6)  Juru sita wajib menyampaikan salinan putusan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada pemohon kasasi dan termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;Pasal  65 &lt;br /&gt;Selain penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56, para pihak dapat menyelesaikan perselisihan tersebut melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa. &lt;br /&gt;Pasal  66 &lt;br /&gt;Hak untuk mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Pasal 56, dan Pasal 65 tidak mengurangi hak Negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;BAB  XI &lt;br /&gt;PENETAPAN SEMENTARA PENGADILAN &lt;br /&gt;Pasal  67 &lt;br /&gt;Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan, Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan dengan segera dan efektif untuk: &lt;br /&gt;a.       mencegah berlanjutnya pelanggaran Hak Cipta, khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar Hak Cipta atau Hak Terkait ke dalam jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi; &lt;br /&gt;b.      menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti; &lt;br /&gt;c.       meminta kepada pihak yang merasa dirugikan, untuk memberikan bukti yang menyatakan bahwa pihak tersebut memang berhak atas Hak Cipta atau Hak Terkait, dan hak Pemohon tersebut memang sedang dilanggar. &lt;br /&gt;Pasal  68 &lt;br /&gt;Dalam hal penetapan sementara pengadilan tersebut telah dilakukan, para pihak harus segera diberitahukan mengenai hal itu, termasuk hak untuk didengar bagi pihak yang dikenai penetapan sementara tersebut. &lt;br /&gt;Pasal  69 &lt;br /&gt;(1)  Dalam hal hakim Pengadilan Niaga telah menerbitkan penetapan sementara pengadilan, hakim Pengadilan Niaga harus memutuskan apakah mengubah, membatalkan, atau menguatkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf a dan huruf b dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikeluarkannya penetapan sementara pengadilan tersebut. &lt;br /&gt;(2)  Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari hakim tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penetapan sementara pengadilan tidak mempunyai kekuatan hukum. &lt;br /&gt;Pasal  70 &lt;br /&gt;Dalam hal penetapan sementara dibatalkan, pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang meminta penetapan sementara atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh penetapan sementara tersebut. &lt;br /&gt;BAB  XII &lt;br /&gt;PENYIDIKAN &lt;br /&gt;Pasal  71 &lt;br /&gt;(1)  Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. &lt;br /&gt;(2)  Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: &lt;br /&gt;a.       melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;b.      melakukan pemeriksaan terhadap pihak atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;c.       meminta keterangan dari pihak atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;d.      melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;e.       melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain; &lt;br /&gt;f.        melakukan penyitaan bersama-sama dengan pihak Kepolisian terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang Hak Cipta; dan &lt;br /&gt;g.       meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. &lt;br /&gt;(3)   Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. &lt;br /&gt;BAB  XIII &lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA &lt;br /&gt;Pasal  72 &lt;br /&gt;(1)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan  pidana  penjara  masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),  atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). &lt;br /&gt;(2)  Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud  pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;(3)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;(4)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). &lt;br /&gt;(5)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(6)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(7)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh  juta rupiah). &lt;br /&gt;(8)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(9)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28  dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;Pasal  73 &lt;br /&gt;(1)  Ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana Hak Cipta atau Hak Terkait serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan. &lt;br /&gt;(2)  Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bidang seni dan bersifat unik, dapat dipertimbangkan untuk tidak dimusnahkan. &lt;br /&gt;BAB  XIV &lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN &lt;br /&gt;Pasal  74 &lt;br /&gt;Dengan berlakunya Undang-undang ini segala peraturan perundang-undangan di bidang Hak Cipta yang telah ada pada tanggal berlakunya Undang-undang ini, tetap berlaku selama tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. &lt;br /&gt; Pasal  75  &lt;br /&gt;Terhadap Surat Pendaftaran Ciptaan yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang  Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, masih berlaku pada saat diundangkannya Undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku untuk selama sisa jangka waktu perlindungannya. &lt;br /&gt;BAB  XV &lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP &lt;br /&gt;Pasal  76 &lt;br /&gt;Undang-undang ini berlaku terhadap: &lt;br /&gt;a.       semua Ciptaan warga negara, penduduk, dan badan hukum Indonesia; &lt;br /&gt;b.      semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia yang diumumkan untuk pertama kali di Indonesia; &lt;br /&gt;c.       semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia, dengan ketentuan: &lt;br /&gt;(i)    negaranya mempunyai perjanjian bilateral mengenai perlindungan Hak Cipta dengan Negara Republik Indonesia; atau &lt;br /&gt;(ii)   negaranya dan Negara Republik Indonesia merupakan pihak atau peserta dalam perjanjian multilateral yang sama mengenai perlindungan Hak Cipta. &lt;br /&gt; Pasal  77 &lt;br /&gt;Dengan berlakunya Undang-undang ini, Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 dinyatakan tidak berlaku. &lt;br /&gt; Pasal  78 &lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal  29 Juli 2002&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;ttd &lt;br /&gt;MEGAWATI SOEKARNOPUTRI &lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal  29 Juli 2002&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;       ttd &lt;br /&gt; BAMBANG KESOWO &lt;br /&gt; LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 85 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;br /&gt;SEKRETARIAT KABINET RI&lt;br /&gt;Kepala Biro Peraturan&lt;br /&gt;Perundang-undangan II, &lt;br /&gt; ttd &lt;br /&gt;Edy Sudibyo &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 19 TAHUN 2002&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;HAK CIPTA  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I.                    I.    UMUM&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat kaya. Hal itu sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa, dan agama yang secara keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu dilindungi. Kekayaan seni dan budaya itu merupakan salah satu sumber dari karya intelektual yang dapat dan perlu dilindungi oleh undang-undang. Kekayaan itu tidak semata-mata untuk seni dan budaya itu sendiri, tetapi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan di bidang perdagangan dan industri yang melibatkan para Penciptanya. Dengan demikian, kekayaan seni dan budaya yang dilindungi itu dapat meningkatkan kesejahteraan tidak hanya bagi para Penciptanya saja, tetapi juga bagi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Indonesia telah ikut serta dalam pergaulan masyarakat dunia dengan menjadi anggota dalam Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual), selanjutnya disebut TRIPs, melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Selain itu, Indonesia juga meratifikasi Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works (Konvensi Berne tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra) melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan World Intellectual Property Organization Copyrights Treaty  (Perjanjian Hak Cipta WIPO), selanjutnya disebut WCT, melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.&lt;br /&gt;Saat ini Indonesia telah memiliki Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 yang selanjutnya disebut Undang-undang Hak Cipta.  Walaupun perubahan itu telah memuat beberapa penyesuaian pasal yang sesuai dengan TRIPs, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu disempurnakan untuk memberi perlindungan bagi karya-karya intelektual di bidang Hak Cipta, termasuk upaya untuk memajukan perkembangan karya intelektual yang berasal dari keanekaragaman seni dan budaya tersebut di atas. Dari beberapa konvensi di bidang Hak Kekayaan Intelektual yang disebut di atas, masih terdapat beberapa ketentuan yang sudah sepatutnya dimanfaatkan. Selain itu, kita perlu menegaskan dan memilah kedudukan Hak Cipta di satu pihak dan Hak Terkait di lain pihak dalam rangka memberikan perlindungan bagi karya intelektual yang bersangkutan secara lebih jelas. &lt;br /&gt;Dengan memperhatikan hal-hal di atas dipandang perlu untuk mengganti Undang-undang Hak Cipta dengan yang baru. Hal itu disadari karena kekayaan seni dan budaya, serta pengembangan kemampuan intelektual masyarakat Indonesia memerlukan perlindungan hukum yang memadai agar terdapat iklim persaingan usaha yang sehat yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;Hak Cipta terdiri atas hak ekonomi (economic rights) dan hak moral (moral rights). Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaan serta produk Hak Terkait. Hak moral adalah hak yang melekat pada diri Pencipta atau Pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apa pun, walaupun Hak Cipta atau Hak Terkait telah dialihkan. &lt;br /&gt;Perlindungan Hak Cipta tidak diberikan kepada ide atau gagasan karena karya cipta harus memiliki bentuk yang khas, bersifat pribadi dan menunjukkan keaslian sebagai Ciptaan yang lahir berdasarkan kemampuan, kreativitas, atau keahlian sehingga Ciptaan itu dapat dilihat, dibaca, atau didengar.&lt;br /&gt;Undang-undang ini memuat beberapa ketentuan baru, antara lain, mengenai: &lt;br /&gt;1.      1.    database merupakan salah satu Ciptaan yang dilindungi;&lt;br /&gt;2.      2.    penggunaan alat apa pun baik melalui kabel maupun tanpa kabel, termasuk media internet, untuk pemutaran produk-produk cakram optik (optical disc) melalui media audio, media audio visual dan/atau sarana telekomunikasi;&lt;br /&gt;3.      3.    penyelesaian sengketa oleh Pengadilan Niaga, arbitrase, atau alternatif penyelesaian sengketa;&lt;br /&gt;4.      4.    penetapan sementara pengadilan untuk mencegah kerugian lebih besar bagi Pemegang hak;&lt;br /&gt;5.      5.    batas waktu proses perkara perdata di bidang Hak Cipta dan Hak Terkait, baik di Pengadilan Niaga maupun di Mahkamah Agung;&lt;br /&gt;6.      6.    pencantuman hak informasi manajemen elektronik dan sarana kontrol teknologi;&lt;br /&gt;7.      7.    pencantuman mekanisme pengawasan dan perlindungan terhadap produk-produk yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi;&lt;br /&gt;8.      8.    ancaman pidana atas pelanggaran Hak Terkait;&lt;br /&gt;9.      9.    ancaman pidana dan denda minimal;&lt;br /&gt;10. 10.  ancaman pidana terhadap perbanyakan penggunaan Program Komputer untuk kepentingan komersial secara tidak sah dan melawan hukum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II.                II.    PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal  1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  2&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. &lt;br /&gt;                  Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  3&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Beralih atau dialihkannya Hak Cipta tidak dapat dilakukan secara lisan, tetapi harus dilakukan secara tertulis baik dengan maupun tanpa akta notariil.&lt;br /&gt;                        Huruf a&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf b&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf c&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf d&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf e&lt;br /&gt;Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan, misalnya pengalihan yang disebabkan oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.  &lt;br /&gt;      Pasal  4&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Karena manunggal dengan Penciptanya dan bersifat tidak berwujud, Hak Cipta pada prinsipnya tidak dapat disita, kecuali Hak Cipta tersebut diperoleh secara melawan hukum.&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  5&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;Pada prinsipnya Hak Cipta diperoleh bukan karena pendaftaran, tetapi dalam hal terjadi sengketa di pengadilan mengenai Ciptaan yang terdaftar dan yang tidak terdaftar sebagaimana dimaksud pada ketentuan ayat (1) huruf a dan  huruf b serta apabila pihak-pihak yang berkepentingan dapat membuktikan kebenarannya, hakim dapat menentukan Pencipta yang sebenarnya berdasarkan pembuktian tersebut.&lt;br /&gt;      Pasal  6&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan bagian tersendiri, misalnya suatu Ciptaan berupa film serial, yang isi setiap seri dapat lepas dari isi seri yang lain, demikian juga dengan buku, yang untuk isi setiap bagian dapat dipisahkan dari isi bagian yang lain.&lt;br /&gt;      Pasal  7&lt;br /&gt;            Rancangan yang dimaksud adalah gagasan berupa gambar atau kata atau gabungan keduanya, yang akan diwujudkan dalam bentuk yang dikehendaki pemilik rancangan. Oleh karena itu, perancang disebut Pencipta, apabila rancangannya itu dikerjakan secara detail menurut desain yang sudah ditentukannya dan tidak sekadar gagasan atau ide saja. Yang dimaksud dengan di bawah pimpinan dan pengawasan adalah yang dilakukan dengan bimbingan, pengarahan, ataupun koreksi dari orang yang memiliki rancangan tersebut.&lt;br /&gt;      Pasal  8&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan hubungan dinas adalah hubungan kepegawaian antara pegawai negeri dengan instansinya.&lt;br /&gt;            Ayat  (2)&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Hak Cipta yang dibuat oleh seseorang berdasarkan pesanan dari instansi Pemerintah tetap dipegang oleh instansi Pemerintah tersebut selaku pemesan, kecuali diperjanjikan lain.  &lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan hubungan kerja atau berdasarkan pesanan di sini adalah Ciptaan yang dibuat atas dasar hubungan kerja di lembaga swasta atau atas dasar pesanan pihak lain.&lt;br /&gt;      Pasal  9&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  10&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam rangka melindungi folklor dan hasil kebudayaan rakyat lain, Pemerintah dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta tindakan yang merusak atau pemanfaatan komersial tanpa seizin negara Republik Indonesia sebagai Pemegang Hak Cipta. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan tersebut.&lt;br /&gt;Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan Ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun,  termasuk:&lt;br /&gt;a.       a.    cerita rakyat, puisi rakyat;&lt;br /&gt;b.      b.    lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional;&lt;br /&gt;c.      c.    tari-tarian rakyat, permainan tradisional;&lt;br /&gt;d.      d.    hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  11&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan status Hak Cipta dalam hal suatu karya yang Penciptanya tidak diketahui dan tidak atau belum diterbitkan, sebagaimana layaknya Ciptaan itu diwujudkan. Misalnya, dalam hal karya tulis atau karya musik, Ciptaan tersebut belum diterbitkan dalam bentuk buku atau belum direkam. Dalam hal demikian, Hak Cipta atas karya tersebut dipegang oleh Negara untuk melindungi Hak Cipta bagi kepentingan Penciptanya, sedangkan apabila karya tersebut berupa karya tulis dan telah diterbitkan, Hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan dipegang oleh Penerbit.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Penerbit dianggap Pemegang Hak Cipta atas Ciptaan yang diterbitkan dengan menggunakan nama samaran Penciptanya. Dengan demikian, suatu Ciptaan yang diterbitkan tetapi tidak diketahui siapa Penciptanya atau terhadap Ciptaan yang hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit yang namanya tertera di dalam Ciptaan dan dapat membuktikan sebagai Penerbit yang pertama kali menerbitkan Ciptaan tersebut dianggap sebagai Pemegang Hak Cipta. Hal ini tidak berlaku apabila Pencipta di kemudian hari menyatakan identitasnya dan ia dapat membuktikan bahwa Ciptaan tersebut adalah Ciptaannya.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Penerbit dianggap Pemegang Hak Cipta atas Ciptaan yang telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit yang pertama kali menerbitkan Ciptaan tersebut dianggap mewakili Pencipta. Hal ini tidak berlaku apabila Pencipta dikemudian hari menyatakan identitasnya dan ia dapat membuktikan bahwa Ciptaan tersebut adalah Ciptaannya.&lt;br /&gt;      Pasal  12&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Huruf  a&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan perwajahan karya tulis adalah karya cipta yang lazim dikenal  dengan  "typholographical  arrangement",  yaitu  aspek seni pada susunan dan bentuk penulisan karya tulis. Hal ini mencakup antara lain format, hiasan, warna dan susunan atau tata letak huruf indah yang secara keseluruhan menampilkan wujud yang khas.&lt;br /&gt;                  Huruf  b&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan Ciptaan lain yang sejenis adalah Ciptaan-ciptaan yang belum disebutkan, tetapi dapat disamakan dengan Ciptaan-ciptaan seperti ceramah, kuliah, dan pidato.&lt;br /&gt;                  Huruf  c&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan alat peraga adalah Ciptaan yang berbentuk dua ataupun tiga dimensi yang berkaitan dengan geografi, topografi, arsitektur, biologi atau ilmu pengetahuan lain. &lt;br /&gt;                  Huruf  d&lt;br /&gt;Lagu atau musik dalam Undang-undang ini diartikan sebagai karya yang bersifat utuh, sekalipun terdiri atas unsur lagu atau melodi, syair atau lirik, dan aransemennya termasuk notasi. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan utuh adalah bahwa lagu atau musik tersebut merupakan satu kesatuan karya cipta.&lt;br /&gt;                        Huruf e&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                  Huruf  f&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan gambar antara lain meliputi: motif, diagram, sketsa, logo dan bentuk huruf indah, dan gambar tersebut dibuat bukan untuk tujuan desain industri. &lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan kolase adalah komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan (misalnya dari kain, kertas, kayu) yang ditempelkan pada permukaan gambar. &lt;br /&gt;                        Seni terapan yang berupa kerajinan tangan sejauh tujuan pembuatannya bukan untuk diproduksi secara massal merupakan suatu Ciptaan. &lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;Huruf  g&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan arsitektur antara lain meliputi: seni gambar bangunan, seni  gambar miniatur, dan seni gambar maket bangunan.&lt;br /&gt;                  Huruf  h&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia yang berada di atas ataupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu.&lt;br /&gt;                  Huruf  i&lt;br /&gt;                        Batik yang dibuat secara konvensional dilindungi dalam Undang-undang ini sebagai bentuk Ciptaan tersendiri. Karya-karya seperti itu memperoleh perlindungan karena mempunyai nilai seni, baik pada Ciptaan motif atau gambar maupun komposisi warnanya. Disamakan dengan pengertian seni batik adalah karya tradisional lainnya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang terdapat di berbagai daerah, seperti seni songket, ikat, dan lain-lain yang dewasa ini terus dikembangkan.&lt;br /&gt;                  Huruf  j&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                  Huruf  k&lt;br /&gt;                        Karya sinematografi yang merupakan media komunikasi massa gambar gerak (moving images) antara lain meliputi: film dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan skenario, dan film kartun. Karya sinematografi dapat dibuat dalam pita seluloid, pita video, piringan video, cakram optik dan/atau media lain yang memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, di layar lebar atau ditayangkan di televisi atau di media lainnya. Karya serupa itu dibuat oleh perusahaan pembuat film, stasiun televisi atau perorangan.&lt;br /&gt;      Huruf  l&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan bunga rampai meliputi: Ciptaan dalam bentuk buku yang berisi kumpulan karya tulis pilihan, himpunan lagu-lagu pilihan yang direkam dalam satu kaset, cakram optik atau media lain, serta komposisi berbagai karya tari pilihan. &lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan database adalah kompilasi data dalam bentuk apapun yang dapat dibaca oleh mesin (komputer) atau dalam bentuk lain, yang karena alasan pemilihan atau pengaturan atas isi data itu merupakan kreasi intelektual. Perlindungan terhadap database diberikan dengan tidak mengurangi hak Pencipta lain yang Ciptaannya dimasukkan dalam database tersebut. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pengalihwujudan adalah pengubahan bentuk, misalnya dari bentuk patung menjadi lukisan, cerita roman menjadi drama, drama menjadi sandiwara radio, dan novel menjadi film.&lt;br /&gt;      Ayat (2)&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Ayat (3)&lt;br /&gt;Ciptaan yang belum diumumkan, sebagai contoh sketsa, manuskrip, cetak biru (blue print), dan yang sejenisnya dianggap Ciptaan yang sudah merupakan suatu kesatuan yang lengkap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  13&lt;br /&gt;                Huruf  a&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  b&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  d&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  e&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan keputusan badan-badan sejenis lain, misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa, termasuk keputusan–keputusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, dan Mahkamah Pelayaran.&lt;br /&gt;      Pasal  14&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Contoh dari Pengumuman dan Perbanyakan atas nama Pemerintah adalah Pengumuman dan Perbanyakan mengenai suatu hasil riset yang dilakukan dengan biaya Negara.&lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan berita aktual adalah berita yang diumumkan dalam waktu 1 x 24 jam sejak pertama kali diumumkan.&lt;br /&gt;      Pasal  15&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Pembatasan ini perlu dilakukan karena ukuran kuantitatif untuk menentukan pelanggaran Hak Cipta sulit diterapkan. Dalam hal ini akan lebih tepat apabila penentuan pelanggaran Hak Cipta didasarkan pada ukuran kualitatif. Misalnya, pengambilan bagian yang paling substansial dan khas yang menjadi ciri dari Ciptaan, meskipun pemakaian itu kurang dari 10 %. Pemakaian seperti itu secara substantif merupakan pelanggaran Hak Cipta. Pemakaian Ciptaan tidak dianggap sebagai  pelanggaran Hak Cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial. Misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Penciptanya. Termasuk dalam pengertian ini adalah pengambilan Ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran. Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber Ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama Pencipta, judul atau nama Ciptaan, dan nama Penerbit jika ada.&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan kepentingan yang wajar dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta adalah suatu kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu Ciptaan. &lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  d&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  e&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  f&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  g&lt;br /&gt;                  Seorang pemilik (bukan Pemegang Hak Cipta) Program Komputer dibolehkan membuat salinan atas  Program  Komputer  yang  dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri. Pembuatan salinan cadangan seperti di atas tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;      Pasal  16&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  17&lt;br /&gt;            Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah beredarnya Ciptaan yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum. Misalnya, buku-buku atau karya-karya sastra atau karya-karya fotografi.&lt;br /&gt;      Pasal  18&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Maksud ketentuan ini adalah Pengumuman suatu Ciptaan melalui penyiaran radio, televisi dan sarana lainnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah haruslah diutamakan untuk kepentingan publik yang secara nyata dibutuhkan oleh masyarakat umum.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  19&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Tidak selalu orang yang dipotret akan setuju bahwa potretnya diumumkan tanpa diminta persetujuannya. Oleh karena itu ditentukan bahwa harus dimintakan persetujuan yang bersangkutan atau ahli warisnya. &lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3) &lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  20&lt;br /&gt;            Dalam suatu pemotretan dapat terjadi bahwa  seseorang telah dipotret tanpa diketahuinya dalam keadaan yang dapat merugikan dirinya.&lt;br /&gt;Pasal  21&lt;br /&gt;            Misalnya, seorang penyanyi dalam suatu pertunjukan musik dapat berkeberatan jika diambil potretnya untuk diumumkan.&lt;br /&gt;Pasal  22&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal  23&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  24&lt;br /&gt;                Ayat  (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat  (2)&lt;br /&gt;Dengan hak moral, Pencipta dari suatu karya cipta memiliki hak untuk:&lt;br /&gt;a.       a.   dicantumkan nama atau nama samarannya di dalam Ciptaannya ataupun salinannya dalam hubungan dengan penggunaan secara umum; &lt;br /&gt;b.      b.   mencegah bentuk-bentuk distorsi, mutilasi atau bentuk perubahan lainnya yang meliputi pemutarbalikan, pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan karya cipta yang pada akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi Pencipta. &lt;br /&gt;Selain itu tidak satupun dari hak-hak tersebut di atas dapat dipindahkan selama Penciptanya masih hidup, kecuali atas wasiat Pencipta berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;                Ayat  (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat  (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal 25&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan informasi manajemen hak Pencipta adalah informasi yang melekat secara elektronik pada suatu Ciptaan atau muncul dalam hubungan dengan kegiatan Pengumuman yang menerangkan tentang suatu Ciptaan, Pencipta, dan kepemilikan hak maupun informasi persyaratan penggunaan, nomor atau kode informasi. Siapa pun dilarang mendistribusikan, mengimpor, menyiarkan, mengkomunikasikan kepada publik karya-karya pertunjukan, rekaman suara atau siaran yang diketahui bahwa perangkat informasi manajemen hak Pencipta telah ditiadakan, dirusak, atau diubah tanpa izin pemegang hak.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  26&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Pembelian hasil Ciptaan tidak berarti bahwa status Hak Ciptanya berpindah kepada pembeli, akan tetapi Hak Cipta atas suatu Ciptaan tersebut tetap ada di tangan Penciptanya. Misalnya, pembelian buku, kaset, dan lukisan.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;      Pasal  27&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan sarana kontrol teknologi adalah instrumen teknologi dalam bentuk antara lain kode rahasia, password, bar code, serial number, teknologi dekripsi (decryption) dan enkripsi (encryption) yang digunakan untuk melindungi Ciptaan.&lt;br /&gt;Semua tindakan yang dianggap pelanggaran hukum meliputi: memproduksi atau mengimpor atau menyewakan peralatan apa pun yang dirancang khusus untuk meniadakan sarana kontrol teknologi atau untuk mencegah, membatasi Perbanyakan dari suatu Ciptaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                       Pasal 28 &lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ketentuan persyaratan sarana produksi berteknologi tinggi, misalnya, izin lokasi produksi, kewajiban membuat pembukuan produksi, membubuhkan tanda pengenal produsen pada produknya, pajak atau cukai serta memenuhi syarat inspeksi oleh pihak yang berwenang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  29&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  30&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  31&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  32&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  33&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  34&lt;br /&gt;Ketentuan ini menegaskan bahwa tanggal 1 Januari sebagai dasar perhitungan jangka waktu perlindungan Hak Cipta, dimaksudkan semata-mata untuk memudahkan perhitungan berakhirnya jangka perlindungan. Titik tolaknya adalah tanggal 1 Januari tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan, diketahui oleh umum, diterbitkan atau Penciptanya meninggal dunia. Cara perhitungan seperti itu tetap tidak mengurangi prinsip perhitungan jangka waktu perlindungan yang didasarkan pada saat dihasilkannya suatu Ciptaan apabila tanggal tersebut diketahui secara jelas.&lt;br /&gt;      Pasal  35&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Pendaftaran Ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, dan timbulnya perlindungan suatu Ciptaan dimulai sejak Ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran. Hal ini berarti suatu Ciptaan baik yang terdaftar maupun tidak terdaftar tetap dilindungi.&lt;br /&gt;      Pasal  36&lt;br /&gt;            Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan tidak bertanggung jawab atas isi, arti, maksud, atau bentuk dari Ciptaan yang terdaftar.&lt;br /&gt;      Pasal  37&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Kuasa adalah Konsultan Hak Kekayaan Intelektual yaitu orang yang memiliki keahlian di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan secara khusus memberikan jasa mengurus permohonan Hak Cipta, Paten, Merek, Desain Industri serta bidang-bidang Hak Kekayaan Intelektual lain dan terdaftar sebagai Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Direktorat Jenderal.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan pengganti Ciptaan adalah contoh Ciptaan yang dilampirkan karena Ciptaan itu sendiri secara teknis tidak mungkin untuk dilampirkan dalam Permohonan, misalnya, patung yang berukuran besar diganti dengan miniatur atau fotonya.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Jangka waktu proses permohonan dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada Pemohon.&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (5)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (6)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  38&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  39&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  40&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  41&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  42&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  43&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  44&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  45&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  46&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  47&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  48&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  49&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan menyiarkan termasuk menyewakan, melakukan pertunjukan umum (public performance), mengomunikasikan pertunjukan langsung (life performance), dan mengkomunikasikan secara interaktif suatu karya rekaman Pelaku.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  50&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  51&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  52&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  53&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  54&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan menggunakan penerimaan adalah penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai dengan sistem dan mekanisme yang berlaku. Dalam hal ini seluruh penerimaan disetorkan langsung ke kas negara sebagai PNBP. Kemudian, Direktorat Jenderal melalui Menteri mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan untuk menggunakan sebagian PNBP sesuai dengan keperluan yang dibenarkan oleh Undang-undang, yang saat ini diatur dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687). &lt;br /&gt;      Pasal  55&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  56&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  57&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  58&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  59&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  60&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Ketua Pengadilan Niaga adalah Ketua Pengadilan Negeri/Pengadilan Niaga.&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (4)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (5)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  61&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  62&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dengan “panitera” pada ayat ini adalah panitera Pengadilan Negeri/Pengadilan Niaga.&lt;br /&gt;      Pasal  63&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  64&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  65&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan alternatif penyelesaian sengketa adalah negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan cara lain yang dipilih oleh para pihak sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;      Pasal  66&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  67&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, sehingga hakim Pengadilan Niaga diberi kewenangan untuk menerbitkan penetapan sementara guna mencegah berlanjutnya pelanggaran dan masuknya barang yang diduga melanggar Hak Cipta dan Hak Terkait ke jalur perdagangan termasuk tindakan importasi.&lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah penghilangan barang bukti oleh pihak pelanggar. &lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  68&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  69&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  70&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  71&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu adalah pegawai yang diangkat sebagai penyidik berdasarkan Keputusan Menteri.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  72&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan memperbanyak penggunaan adalah menggandakan, atau menyalin Program Komputer dalam bentuk kode sumber (source code) atau program aplikasinya.&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan kode sumber adalah sebuah arsip (file) program yang berisi pernyataan-pernyataan (statements) pemrograman, kode-kode instruksi/perintah, fungsi, prosedur dan objek yang dibuat oleh seorang pemrogram (programmer).&lt;br /&gt;                  Misalnya: A membeli Program Komputer dengan hak Lisensi untuk digunakan pada satu unit komputer, atau B mengadakan perjanjian Lisensi untuk pengunaan aplikasi Program Komputer pada 10 (sepuluh) unit komputer. Apabila A atau B menggandakan atau menyalin aplikasi Program Komputer di atas untuk lebih dari yang telah ditentukan atau diperjanjikan, tindakan itu merupakan pelanggaran, kecuali untuk arsip.&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (5)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (6)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (7)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (8)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (9)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  73&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan "bersifat unik" adalah bersifat lain daripada yang lain, tidak ada persamaan dengan yang lain, atau yang bersifat khusus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  74&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal 75&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  76&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  77&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  78&lt;br /&gt;            Diberlakukan 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diundangkan dimaksudkan agar Undang-undang ini dapat disosialisasikan terutama kepada pihak-pihak yang terkait dengan Hak Cipta, misalnya, perguruan tinggi, asosiasi-asosiasi di bidang Hak Cipta, dan lain-lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4220&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;referensi :UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR  19  TAHUN 2002&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;HAK CIPTA&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;Menimbang       :  &lt;br /&gt;a.       bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni dan sastra dengan pengembangan-pengembangannya yang memerlukan perlindungan Hak Cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut; &lt;br /&gt;b.      bahwa Indonesia telah menjadi anggota berbagai konvensi/perjanjian internasional di bidang hak kekayaan intelektual pada umumnya dan Hak Cipta pada khususnya yang memerlukan pengejawantahan lebih lanjut dalam sistem hukum nasionalnya; &lt;br /&gt;c.       bahwa perkembangan di bidang perdagangan, industri, dan investasi telah sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan bagi Pencipta dan Pemilik Hak Terkait dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat luas; &lt;br /&gt;d.      bahwa dengan memperhatikan pengalaman dalam melaksanakan Undang-undang Hak Cipta yang ada, dipandang perlu untuk menetapkan Undang-undang Hak Cipta yang baru menggantikan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997; &lt;br /&gt;e.       bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut dalam huruf  a, huruf b, huruf c, dan huruf d, dibutuhkan Undang-undang tentang Hak Cipta; &lt;br /&gt; Mengingat        : &lt;br /&gt;1.      Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 28 C ayat (1), dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; &lt;br /&gt;2.      Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564); &lt;br /&gt;Dengan Persetujuan &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt; Menetapkan     :           UNDANG-UNDANG TENTANG HAK CIPTA. &lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;Pasal  1 &lt;br /&gt;Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: &lt;br /&gt;1.      Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;2.      Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. &lt;br /&gt;3.      Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra. &lt;br /&gt;4.      Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut  hak dari pihak yang menerima hak tersebut. &lt;br /&gt;5.      Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apa pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain. &lt;br /&gt;6.      Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. &lt;br /&gt;7.      Potret adalah gambar dari wajah orang yang digambarkan, baik bersama bagian tubuh lainnya ataupun tidak, yang diciptakan dengan cara dan alat apa pun. &lt;br /&gt;8.      Program Komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila   digabungkan    dengan     media     yang    dapat   dibaca  dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut. &lt;br /&gt;9.      Hak Terkait adalah  hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Produser Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya. &lt;br /&gt;10.  Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra,  folklor, atau karya seni lainnya. &lt;br /&gt;11.  Produser Rekaman Suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya. &lt;br /&gt;12.  Lembaga Penyiaran adalah organisasi penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum, yang melakukan penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik. &lt;br /&gt;13.  Permohonan adalah Permohonan pendaftaran Ciptaan yang diajukan oleh pemohon kepada Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;14.  Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu. &lt;br /&gt;15.  Kuasa adalah konsultan Hak Kekayaan Intelektual sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-undang ini. &lt;br /&gt;16.  Menteri adalah Menteri yang membawahkan departemen yang salah satu lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk Hak Cipta. &lt;br /&gt;17.  Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang berada di bawah departemen yang dipimpin oleh Menteri. &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;LINGKUP HAK CIPTA &lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Fungsi dan Sifat Hak Cipta &lt;br /&gt;Pasal  2 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;(2)  Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial. &lt;br /&gt;Pasal  3 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena: &lt;br /&gt;a.       Pewarisan; &lt;br /&gt;b.      Hibah; &lt;br /&gt;c.       Wasiat; &lt;br /&gt;d.      Perjanjian tertulis; atau &lt;br /&gt;e.       Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal  4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta, yang setelah Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Pencipta &lt;br /&gt;Pasal  5 &lt;br /&gt;(1)  Kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai Pencipta adalah: &lt;br /&gt;a.       orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal; atau &lt;br /&gt;b.      orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan.&lt;br /&gt;(2)  Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa Penciptanya, orang yang berceramah dianggap sebagai Pencipta ceramah tersebut. &lt;br /&gt;Pasal  6 &lt;br /&gt;Jika suatu Ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap sebagai Pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-masing atas bagian Ciptaannya itu. &lt;br /&gt;Pasal  7 &lt;br /&gt;Jika suatu Ciptaan yang dirancang seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, Penciptanya adalah orang yang merancang  Ciptaan itu. &lt;br /&gt;Pasal  8 &lt;br /&gt;(1)  Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya, Pemegang Hak Cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya Ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak Pencipta apabila penggunaan Ciptaan itu diperluas sampai ke luar hubungan dinas. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Ciptaan yang dibuat pihak lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas. &lt;br /&gt;(3)  Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak. &lt;br /&gt;Pasal  9 &lt;br /&gt;Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa Ciptaan berasal dari padanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai Penciptanya, badan hukum tersebut dianggap sebagai Penciptanya, kecuali jika terbukti sebaliknya. &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui &lt;br /&gt;Pasal  10&lt;br /&gt;(1)  Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan benda budaya nasional lainnya.&lt;br /&gt;(2)  Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya. &lt;br /&gt;(3)  Untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaan tersebut pada ayat (2), orang yang bukan warga negara Indonesia harus terlebih dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam masalah tersebut. &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini, diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal  11 &lt;br /&gt;(1)  Jika suatu Ciptaan tidak diketahui Penciptanya dan Ciptaan itu belum diterbitkan, Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;(2)  Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;(3)  Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya dan/atau Penerbitnya, Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. &lt;br /&gt;Bagian Keempat &lt;br /&gt;Ciptaan yang Dilindungi &lt;br /&gt;Pasal  12 &lt;br /&gt;(1)  Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup: &lt;br /&gt;a.       buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain; &lt;br /&gt;b.      ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu; &lt;br /&gt;c.       alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; &lt;br /&gt;d.      lagu atau musik dengan atau tanpa teks; &lt;br /&gt;e.       drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim; &lt;br /&gt;f.        seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; &lt;br /&gt;g.       arsitektur; &lt;br /&gt;h.       peta; &lt;br /&gt;i.         seni batik; &lt;br /&gt;j.        fotografi; &lt;br /&gt;k.      sinematografi; &lt;br /&gt;l.         terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. &lt;br /&gt;(2)  Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf l dilindungi sebagai Ciptaan tersendiri dengan tidak mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan asli.&lt;br /&gt;(3)  Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), termasuk juga semua Ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang nyata, yang memungkinkan Perbanyakan hasil karya itu. &lt;br /&gt;Pasal  13 &lt;br /&gt;Tidak ada Hak Cipta atas: &lt;br /&gt;a.       hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara; &lt;br /&gt;b.      peraturan perundang-undangan; &lt;br /&gt;c.       pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah; &lt;br /&gt;d.      putusan pengadilan atau penetapan hakim; atau &lt;br /&gt;e.       keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya. &lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembatasan Hak Cipta &lt;br /&gt;Pasal  14&lt;br /&gt;Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:&lt;br /&gt;a.       Pengumuman dan/atau Perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli; &lt;br /&gt;b.      Pengumuman dan/atau Perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama Pemerintah, kecuali apabila Hak Cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada Ciptaan itu sendiri atau ketika Ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak; atau &lt;br /&gt;c.       Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap. &lt;br /&gt;Pasal  15 &lt;br /&gt;Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:&lt;br /&gt;a.       penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta; &lt;br /&gt;b.      pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan; &lt;br /&gt;c.       pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan: &lt;br /&gt;(i)   ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau &lt;br /&gt;(ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari  Pencipta; &lt;br /&gt;d.      Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika Perbanyakan itu bersifat komersial; &lt;br /&gt;e.       Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya; &lt;br /&gt;f.        perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti Ciptaan bangunan; &lt;br /&gt;g.       pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri. &lt;br /&gt;Pasal  16 &lt;br /&gt;(1)  Untuk kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan, serta kegiatan penelitian dan pengembangan,  terhadap Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan sastra, Menteri setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta dapat: &lt;br /&gt;a.       mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan; &lt;br /&gt;b.      mewajibkan Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan dalam hal Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan tidak melaksanakan sendiri atau melaksanakan sendiri kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf a; &lt;br /&gt;c.       menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut dalam hal Pemegang Hak Cipta tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf b. &lt;br /&gt;(2)  Kewajiban untuk menerjemahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya Ciptaan di bidang ilmu pengetahuan dan sastra selama karya tersebut belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;(3)  Kewajiban untuk memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah lewat jangka waktu: &lt;br /&gt;a.       3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;b.      5 (lima) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang ilmu sosial dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia; &lt;br /&gt;c.       7 (tujuh) tahun sejak diumumkannya buku di bidang seni dan sastra dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;(4)  Penerjemahan atau Perbanyakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat digunakan untuk pemakaian di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dan tidak untuk diekspor ke wilayah Negara lain. &lt;br /&gt;(5)  Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c disertai pemberian imbalan yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;(6)  Ketentuan tentang tata cara pengajuan Permohonan untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;Pasal  17&lt;br /&gt;Pemerintah melarang Pengumuman setiap Ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang agama, pertahanan dan keamanan Negara, kesusilaan, serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  18 &lt;br /&gt;(1)  Pengumuman suatu Ciptaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk kepentingan nasional melalui radio, televisi dan/atau sarana lain dapat dilakukan dengan tidak  meminta izin kepada Pemegang Hak Cipta dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Hak Cipta, dan kepada Pemegang Hak Cipta diberikan imbalan yang layak. &lt;br /&gt;(2)  Lembaga Penyiaran yang mengumumkan Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang mengabadikan Ciptaan itu semata-mata untuk Lembaga Penyiaran itu sendiri dengan ketentuan bahwa untuk penyiaran selanjutnya, Lembaga Penyiaran tersebut harus memberikan imbalan yang layak kepada Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan.&lt;br /&gt; Bagian Keenam&lt;br /&gt;Hak Cipta atas Potret &lt;br /&gt;Pasal  19 &lt;br /&gt;(1)  Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia. &lt;br /&gt;(2)  Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam Potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan dalam Pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat: &lt;br /&gt;a.       atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret; &lt;br /&gt;b.      atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau &lt;br /&gt;c.       untuk kepentingan orang yang dipotret. &lt;br /&gt;Pasal  20 &lt;br /&gt;Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:&lt;br /&gt;a.       tanpa persetujuan dari orang yang dipotret; &lt;br /&gt;b.      tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau &lt;br /&gt;c.       tidak untuk kepentingan yang dipotret, &lt;br /&gt;apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia. &lt;br /&gt;Pasal  21 &lt;br /&gt;Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan. &lt;br /&gt;Pasal  22 &lt;br /&gt;Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana, Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkan oleh instansi yang berwenang. &lt;br /&gt;Pasal  23 &lt;br /&gt;Kecuali terdapat persetujuan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan fotografi, seni lukis, gambar, arsitektur, seni pahat dan/atau hasil seni lain, pemilik berhak tanpa persetujuan  Pemegang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyaknya dalam satu katalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret. &lt;br /&gt;Bagian Ketujuh&lt;br /&gt;Hak Moral &lt;br /&gt;Pasal  24&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya. &lt;br /&gt;(2)  Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain, kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan judul dan anak judul Ciptaan, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Pencipta. &lt;br /&gt;(4)  Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal  25&lt;br /&gt;(1)   Informasi elektronik tentang informasi manajemen hak Pencipta tidak boleh ditiadakan atau diubah. &lt;br /&gt;(2)   Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt; Pasal  26 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas suatu Ciptaan tetap berada di tangan Pencipta selama kepada pembeli Ciptaan itu tidak diserahkan seluruh Hak Cipta dari Pencipta itu. &lt;br /&gt;(2)  Hak Cipta yang dijual untuk seluruh atau sebagian tidak dapat dijual untuk kedua kalinya oleh penjual yang sama. &lt;br /&gt;(3)  Dalam hal timbul sengketa antara beberapa pembeli Hak Cipta yang sama atas suatu Ciptaan, perlindungan diberikan kepada pembeli yang lebih dahulu memperoleh Hak Cipta itu. &lt;br /&gt;Bagian Kedelapan&lt;br /&gt;Sarana Kontrol Teknologi &lt;br /&gt;Pasal  27 &lt;br /&gt;Kecuali atas izin Pencipta, sarana kontrol teknologi sebagai pengaman hak Pencipta tidak diperbolehkan dirusak, ditiadakan, atau dibuat tidak berfungsi. &lt;br /&gt;Pasal  28 &lt;br /&gt;(1)  Ciptaan-ciptaan yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi, khususnya di bidang cakram optik (optical disc), wajib memenuhi semua peraturan perizinan dan persyaratan produksi yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana produksi berteknologi tinggi yang memproduksi cakram optik sebagaimana diatur pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah &lt;br /&gt;BAB  III &lt;br /&gt;MASA BERLAKU HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  29&lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan: &lt;br /&gt;a.       buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain; &lt;br /&gt;b.      drama atau drama musikal, tari, koreografi; &lt;br /&gt;c.      segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung; &lt;br /&gt;d.      seni batik; &lt;br /&gt;e.      lagu atau musik dengan atau tanpa teks; &lt;br /&gt;f.       arsitektur; &lt;br /&gt;g.      ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lain; &lt;br /&gt;h.      alat peraga; &lt;br /&gt;i.        peta; &lt;br /&gt;j.        terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai, &lt;br /&gt;berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia. &lt;br /&gt;(2)  Untuk Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih, Hak Cipta berlaku selama hidup Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya. &lt;br /&gt;Pasal  30 &lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan: &lt;br /&gt;a.       Program Komputer; &lt;br /&gt;b.      sinematografi; &lt;br /&gt;c.       fotografi; &lt;br /&gt;d.      database;  dan &lt;br /&gt;e.       karya hasil pengalihwujudan, &lt;br /&gt;    berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. &lt;br /&gt;(2)   Hak Cipta atas perwajahan karya tulis  yang diterbitkan berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan. &lt;br /&gt;(3)   Hak Cipta atas Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pasal ini serta Pasal 29 ayat (1) yang dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. &lt;br /&gt;Pasal  31&lt;br /&gt;(1)  Hak Cipta atas Ciptaan yang dipegang atau dilaksanakan oleh Negara berdasarkan:&lt;br /&gt;a.       Pasal 10 ayat (2) berlaku tanpa batas waktu; &lt;br /&gt;b.      Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diketahui umum. &lt;br /&gt;(2)   Hak Cipta atas Ciptaan yang dilaksanakan oleh Penerbit berdasarkan Pasal 11 ayat (2) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diterbitkan. &lt;br /&gt;Pasal  32&lt;br /&gt;(1)  Jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang diumumkan bagian demi bagian dihitung mulai tanggal Pengumuman bagian yang terakhir. &lt;br /&gt;(2)  Dalam menentukan jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang terdiri atas 2 (dua) jilid atau lebih, demikian pula ikhtisar dan berita yang diumumkan secara berkala dan tidak bersamaan waktunya, setiap jilid atau ikhtisar dan berita itu masing-masing dianggap sebagai Ciptaan tersendiri. &lt;br /&gt;Pasal  33&lt;br /&gt;Jangka waktu perlindungan bagi hak Pencipta sebagaimana dimaksud dalam:&lt;br /&gt;a.       Pasal 24 ayat (1) berlaku tanpa batas waktu; &lt;br /&gt;b.      Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3) berlaku selama berlangsungnya jangka waktu Hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan, kecuali untuk pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Penciptanya. &lt;br /&gt;Pasal  34&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi hak Pencipta atas jangka waktu perlindungan Hak Cipta yang dihitung sejak lahirnya suatu Ciptaan, penghitungan jangka waktu perlindungan bagi Ciptaan yang dilindungi:&lt;br /&gt;a.       selama 50 (lima puluh) tahun; &lt;br /&gt;b.      selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, dimulai sejak 1 Januari untuk tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan, diketahui oleh umum, diterbitkan, atau setelah Pencipta meninggal dunia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;BAB  IV &lt;br /&gt;PENDAFTARAN CIPTAAN &lt;br /&gt;Pasal  35 &lt;br /&gt;(1)  Direktorat Jenderal menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan dan dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan. &lt;br /&gt;(2)  Daftar Umum Ciptaan tersebut dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Setiap orang dapat memperoleh untuk dirinya sendiri suatu petikan dari Daftar Umum Ciptaan tersebut dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan tentang pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  36 &lt;br /&gt;Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi, arti, maksud, atau bentuk dari Ciptaan yang didaftar. &lt;br /&gt;Pasal  37 &lt;br /&gt;(1)  Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan dilakukan atas Permohonan yang diajukan oleh Pencipta atau oleh Pemegang Hak Cipta atau Kuasa. &lt;br /&gt;(2)  Permohonan diajukan kepada Direktorat Jenderal dengan surat rangkap 2 (dua) yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan disertai contoh Ciptaan atau penggantinya dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Terhadap Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktorat Jenderal akan memberikan keputusan paling lama 9 (sembilan) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya Permohonan secara lengkap. &lt;br /&gt;(4)  Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah konsultan yang terdaftar pada Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;(5)  Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara untuk dapat diangkat dan terdaftar sebagai konsultan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(6)  Ketentuan lebih lanjut tentang syarat dan tata cara Permohonan ditetapkan dengan Keputusan Presiden.&lt;br /&gt;Pasal  38 &lt;br /&gt;Dalam hal Permohonan diajukan oleh  lebih dari seorang  atau suatu badan hukum yang secara bersama-sama berhak atas suatu Ciptaan, Permohonan tersebut dilampiri salinan resmi akta atau keterangan tertulis yang membuktikan hak tersebut.  &lt;br /&gt;Pasal  39 &lt;br /&gt;a.       Dalam Daftar Umum Ciptaan dimuat, antara lain: &lt;br /&gt;b.      nama Pencipta dan Pemegang Hak Cipta; &lt;br /&gt;c.       tanggal penerimaan surat Permohonan; &lt;br /&gt;d.      tanggal lengkapnya persyaratan menurut Pasal 37; dan &lt;br /&gt;e.       nomor pendaftaran Ciptaan. &lt;br /&gt;Pasal  40 &lt;br /&gt;(1)  Pendaftaran Ciptaan dianggap telah dilakukan pada saat diterimanya Permohonan oleh Direktorat Jenderal dengan lengkap menurut Pasal 37, atau pada saat diterimanya Permohonan dengan lengkap menurut Pasal 37 dan Pasal 38 jika Permohonan diajukan oleh lebih dari seorang atau satu badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. &lt;br /&gt;(2)  Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;Pasal  41 &lt;br /&gt;(1)  Pemindahan hak atas pendaftaran Ciptaan, yang terdaftar menurut Pasal 39 yang terdaftar dalam satu nomor, hanya diperkenankan jika seluruh Ciptaan yang terdaftar itu dipindahkan haknya kepada penerima hak.&lt;br /&gt;(2)  Pemindahan hak tersebut dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permohonan tertulis dari kedua belah pihak atau dari penerima hak dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(3)  Pencatatan pemindahan hak tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;Pasal  42 &lt;br /&gt;Dalam hal Ciptaan didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2)  serta Pasal 39, pihak lain yang menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga. &lt;br /&gt;Pasal  43 &lt;br /&gt;(1)  Perubahan nama dan/atau perubahan alamat orang atau badan hukum yang namanya tercatat dalam Daftar Umum Ciptaan sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permintaan tertulis Pencipta atau Pemegang Hak Cipta yang mempunyai nama dan alamat itu dengan dikenai biaya. &lt;br /&gt;(2)  Perubahan nama dan/atau perubahan alamat tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal.  &lt;br /&gt;Pasal  44 &lt;br /&gt;Kekuatan hukum dari suatu pendaftaran Ciptaan hapus karena: &lt;br /&gt;a.       penghapusan atas permohonan orang atau badan hukum yang namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta; &lt;br /&gt;b.      lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 30, dan Pasal 31 dengan mengingat Pasal 32; &lt;br /&gt;c.       dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;BAB  V &lt;br /&gt;LISENSI &lt;br /&gt;Pasal  45 &lt;br /&gt;(1)  Pemegang Hak Cipta berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian Lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 2. &lt;br /&gt;(2)  Kecuali diperjanjikan lain, lingkup Lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;(3)  Kecuali diperjanjikan lain, pelaksanaan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disertai dengan kewajiban pemberian royalti kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi.&lt;br /&gt;(4)  Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi. &lt;br /&gt;Pasal  46&lt;br /&gt;Kecuali diperjanjikan lain, Pemegang Hak Cipta tetap boleh melaksanakan sendiri atau memberikan Lisensi kepada pihak ketiga untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. &lt;br /&gt;Pasal  47 &lt;br /&gt;(1)  Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;(2)  Agar dapat mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga, perjanjian Lisensi wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;(3)  Direktorat Jenderal wajib menolak pencatatan perjanjian Lisensi yang memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden.&lt;br /&gt;BAB  VI &lt;br /&gt;DEWAN HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  48 &lt;br /&gt;(1)  Untuk membantu Pemerintah dalam memberikan penyuluhan dan pembimbingan serta pembinaan Hak Cipta, dibentuk Dewan Hak Cipta. &lt;br /&gt;(2)  Keanggotaan Dewan Hak Cipta terdiri atas wakil pemerintah, wakil organisasi profesi, dan anggota masyarakat yang memiliki kompetensi di bidang Hak Cipta, yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri. &lt;br /&gt;(3)  Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas, fungsi, susunan, tata kerja, pembiayaan, masa bakti Dewan Hak Cipta ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(4)  Biaya untuk Dewan Hak Cipta sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibebankan kepada anggaran belanja departemen yang melakukan pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual.&lt;br /&gt;BAB  VII &lt;br /&gt;HAK  TERKAIT &lt;br /&gt;Pasal  49 &lt;br /&gt;(1)  Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya. &lt;br /&gt;(2)  Produser Rekaman Suara memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya memperbanyak dan/atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyi. &lt;br /&gt;(3)  Lembaga Penyiaran memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel, atau melalui sistem elektromagnetik lain.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pasal  50 &lt;br /&gt;(1)  Jangka waktu perlindungan bagi:&lt;br /&gt;a.       Pelaku, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut pertama kali dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual; &lt;br /&gt;b.      Produser Rekaman Suara, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut selesai direkam; &lt;br /&gt;c.       Lembaga Penyiaran, berlaku selama 20 (dua puluh) tahun sejak karya siaran tersebut pertama kali disiarkan. &lt;br /&gt;(2)  Penghitungan jangka waktu perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai sejak tanggal 1 Januari tahun berikutnya setelah:&lt;br /&gt;a.       karya pertunjukan selesai dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual; &lt;br /&gt;b.      karya rekaman suara selesai direkam; &lt;br /&gt;c.       karya siaran selesai disiarkan untuk pertama kali. &lt;br /&gt;Pasal  51 &lt;br /&gt;Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 14 huruf b dan huruf c, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63, Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66, Pasal 68, Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, dan Pasal 77 berlaku mutatis mutandis terhadap Hak Terkait.&lt;br /&gt;BAB  VIII &lt;br /&gt;PENGELOLAAN HAK CIPTA &lt;br /&gt;Pasal  52 &lt;br /&gt;Penyelenggaraan administrasi Hak Cipta sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal. &lt;br /&gt;Pasal  53 &lt;br /&gt;Direktorat Jenderal menyelenggarakan sistem jaringan dokumentasi dan informasi Hak Cipta yang bersifat nasional, yang mampu menyediakan informasi tentang Hak Cipta seluas mungkin kepada masyarakat.&lt;br /&gt;BAB  IX &lt;br /&gt;BIAYA &lt;br /&gt;Pasal  54 &lt;br /&gt;(1)   Untuk setiap pengajuan Permohonan, permintaan petikan Daftar Umum  Ciptaan,  pencatatan pengalihan Hak Cipta,  pencatatan perubahan nama dan/atau alamat, pencatatan perjanjian Lisensi, pencatatan Lisensi wajib, serta lain-lain yang ditentukan dalam Undang-undang ini dikenai biaya yang besarnya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(2)   Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu, dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;(3)   Direktorat Jenderal dengan persetujuan Menteri dan Menteri Keuangan dapat menggunakan penerimaan yang berasal dari biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;BAB  X &lt;br /&gt;PENYELESAIAN SENGKETA &lt;br /&gt;Pasal  55 &lt;br /&gt;Penyerahan Hak Cipta atas seluruh Ciptaan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pencipta atau ahli warisnya untuk menggugat yang tanpa persetujuannya: &lt;br /&gt;a.       meniadakan nama Pencipta yang tercantum pada Ciptaan itu;  &lt;br /&gt;b.      mencantumkan nama Pencipta pada Ciptaannya;  &lt;br /&gt;c.       mengganti atau mengubah judul Ciptaan;  atau &lt;br /&gt;d.      mengubah isi Ciptaan.  &lt;br /&gt;Pasal  56 &lt;br /&gt;(1)  Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu. &lt;br /&gt;(2)  Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah, pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;(3)  Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;Pasal  57 &lt;br /&gt;Hak dari Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak berlaku terhadap Ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperoleh Ciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial. &lt;br /&gt;Pasal  58 &lt;br /&gt;Pencipta atau ahli waris suatu Ciptaan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. &lt;br /&gt;Pasal  59 &lt;br /&gt;Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Pasal 56, dan Pasal 58 wajib diputus dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan di Pengadilan Niaga yang bersangkutan. &lt;br /&gt;Pasal  60 &lt;br /&gt;(1)  Gugatan atas pelanggaran Hak Cipta diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga. &lt;br /&gt;(2)  Panitera mendaftarkan gugatan tersebut pada ayat (1) pada tanggal gugatan diajukan dan kepada penggugat diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran. &lt;br /&gt;(3)  Panitera menyampaikan gugatan kepada Ketua Pengadilan Niaga paling lama 2 (dua) hari terhitung setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;(4)  Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari setelah gugatan didaftarkan, Pengadilan Niaga mempelajari gugatan dan menetapkan hari sidang. &lt;br /&gt;(5)  Sidang pemeriksaan atas gugatan dimulai dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;Pasal  61 &lt;br /&gt;(1)  Pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita paling lama 7 (tujuh) hari setelah gugatan didaftarkan. &lt;br /&gt;(2)  Putusan atas gugatan harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah gugatan didaftarkan dan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari atas persetujuan Ketua Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(3)  Putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan apabila diminta dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun terhadap putusan tersebut diajukan suatu upaya hukum. &lt;br /&gt;(4)  Isi putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib disampaikan oleh juru sita kepada para pihak paling lama 14 (empat belas) hari setelah putusan atas gugatan diucapkan. &lt;br /&gt;Pasal  62 &lt;br /&gt;(1)  Terhadap putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (4) hanya dapat diajukan kasasi. &lt;br /&gt;(2)  Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan  kasasi diucapkan atau diberitahukan kepada para pihak dengan mendaftarkan kepada Pengadilan yang telah memutus gugatan tersebut. &lt;br /&gt;(3)  Panitera mendaftar permohonan kasasi pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon kasasi diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan pendaftaran. &lt;br /&gt;Pasal  63 &lt;br /&gt;(1)   Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi kepada panitera dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal  permohonan kasasi didaftarkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (2). &lt;br /&gt;(2)   Panitera wajib mengirimkan permohonan kasasi dan memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pihak termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah memori kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;(3)   Termohon kasasi dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada panitera paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal termohon kasasi menerima memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan panitera wajib menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah kontra memori kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;(4)   Panitera wajib mengirimkan berkas perkara kasasi yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung paling lama 14 (empat belas)  hari setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). &lt;br /&gt;Pasal  64 &lt;br /&gt;(1)  Mahkamah Agung wajib mempelajari berkas perkara kasasi dan menetapkan hari sidang paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(2)  Sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi mulai dilakukan paling lama 60 (enam puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(3)  Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;(4)  Putusan atas permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada  ayat (3) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. &lt;br /&gt;(5)  Panitera Mahkamah Agung wajib menyampaikan salinan putusan kasasi kepada panitera paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan atas permohonan kasasi diucapkan. &lt;br /&gt;(6)  Juru sita wajib menyampaikan salinan putusan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada pemohon kasasi dan termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan kasasi diterima oleh panitera. &lt;br /&gt;Pasal  65 &lt;br /&gt;Selain penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56, para pihak dapat menyelesaikan perselisihan tersebut melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa. &lt;br /&gt;Pasal  66 &lt;br /&gt;Hak untuk mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Pasal 56, dan Pasal 65 tidak mengurangi hak Negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;BAB  XI &lt;br /&gt;PENETAPAN SEMENTARA PENGADILAN &lt;br /&gt;Pasal  67 &lt;br /&gt;Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan, Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan dengan segera dan efektif untuk: &lt;br /&gt;a.       mencegah berlanjutnya pelanggaran Hak Cipta, khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar Hak Cipta atau Hak Terkait ke dalam jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi; &lt;br /&gt;b.      menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti; &lt;br /&gt;c.       meminta kepada pihak yang merasa dirugikan, untuk memberikan bukti yang menyatakan bahwa pihak tersebut memang berhak atas Hak Cipta atau Hak Terkait, dan hak Pemohon tersebut memang sedang dilanggar. &lt;br /&gt;Pasal  68 &lt;br /&gt;Dalam hal penetapan sementara pengadilan tersebut telah dilakukan, para pihak harus segera diberitahukan mengenai hal itu, termasuk hak untuk didengar bagi pihak yang dikenai penetapan sementara tersebut. &lt;br /&gt;Pasal  69 &lt;br /&gt;(1)  Dalam hal hakim Pengadilan Niaga telah menerbitkan penetapan sementara pengadilan, hakim Pengadilan Niaga harus memutuskan apakah mengubah, membatalkan, atau menguatkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf a dan huruf b dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikeluarkannya penetapan sementara pengadilan tersebut. &lt;br /&gt;(2)  Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari hakim tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penetapan sementara pengadilan tidak mempunyai kekuatan hukum. &lt;br /&gt;Pasal  70 &lt;br /&gt;Dalam hal penetapan sementara dibatalkan, pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang meminta penetapan sementara atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh penetapan sementara tersebut. &lt;br /&gt;BAB  XII &lt;br /&gt;PENYIDIKAN &lt;br /&gt;Pasal  71 &lt;br /&gt;(1)  Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. &lt;br /&gt;(2)  Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: &lt;br /&gt;a.       melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;b.      melakukan pemeriksaan terhadap pihak atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;c.       meminta keterangan dari pihak atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;d.      melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta; &lt;br /&gt;e.       melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain; &lt;br /&gt;f.        melakukan penyitaan bersama-sama dengan pihak Kepolisian terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang Hak Cipta; dan &lt;br /&gt;g.       meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. &lt;br /&gt;(3)   Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. &lt;br /&gt;BAB  XIII &lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA &lt;br /&gt;Pasal  72 &lt;br /&gt;(1)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan  pidana  penjara  masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),  atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). &lt;br /&gt;(2)  Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud  pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;(3)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;(4)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). &lt;br /&gt;(5)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(6)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(7)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh  juta rupiah). &lt;br /&gt;(8)  Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). &lt;br /&gt;(9)  Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28  dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;Pasal  73 &lt;br /&gt;(1)  Ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana Hak Cipta atau Hak Terkait serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan. &lt;br /&gt;(2)  Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bidang seni dan bersifat unik, dapat dipertimbangkan untuk tidak dimusnahkan. &lt;br /&gt;BAB  XIV &lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN &lt;br /&gt;Pasal  74 &lt;br /&gt;Dengan berlakunya Undang-undang ini segala peraturan perundang-undangan di bidang Hak Cipta yang telah ada pada tanggal berlakunya Undang-undang ini, tetap berlaku selama tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. &lt;br /&gt; Pasal  75  &lt;br /&gt;Terhadap Surat Pendaftaran Ciptaan yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang  Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, masih berlaku pada saat diundangkannya Undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku untuk selama sisa jangka waktu perlindungannya. &lt;br /&gt;BAB  XV &lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP &lt;br /&gt;Pasal  76 &lt;br /&gt;Undang-undang ini berlaku terhadap: &lt;br /&gt;a.       semua Ciptaan warga negara, penduduk, dan badan hukum Indonesia; &lt;br /&gt;b.      semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia yang diumumkan untuk pertama kali di Indonesia; &lt;br /&gt;c.       semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia, dengan ketentuan: &lt;br /&gt;(i)    negaranya mempunyai perjanjian bilateral mengenai perlindungan Hak Cipta dengan Negara Republik Indonesia; atau &lt;br /&gt;(ii)   negaranya dan Negara Republik Indonesia merupakan pihak atau peserta dalam perjanjian multilateral yang sama mengenai perlindungan Hak Cipta. &lt;br /&gt; Pasal  77 &lt;br /&gt;Dengan berlakunya Undang-undang ini, Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 dinyatakan tidak berlaku. &lt;br /&gt; Pasal  78 &lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal  29 Juli 2002&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;ttd &lt;br /&gt;MEGAWATI SOEKARNOPUTRI &lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal  29 Juli 2002&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;       ttd &lt;br /&gt; BAMBANG KESOWO &lt;br /&gt; LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 85 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;br /&gt;SEKRETARIAT KABINET RI&lt;br /&gt;Kepala Biro Peraturan&lt;br /&gt;Perundang-undangan II, &lt;br /&gt; ttd &lt;br /&gt;Edy Sudibyo &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 19 TAHUN 2002&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;HAK CIPTA  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I.                    I.    UMUM&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat kaya. Hal itu sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa, dan agama yang secara keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu dilindungi. Kekayaan seni dan budaya itu merupakan salah satu sumber dari karya intelektual yang dapat dan perlu dilindungi oleh undang-undang. Kekayaan itu tidak semata-mata untuk seni dan budaya itu sendiri, tetapi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan di bidang perdagangan dan industri yang melibatkan para Penciptanya. Dengan demikian, kekayaan seni dan budaya yang dilindungi itu dapat meningkatkan kesejahteraan tidak hanya bagi para Penciptanya saja, tetapi juga bagi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Indonesia telah ikut serta dalam pergaulan masyarakat dunia dengan menjadi anggota dalam Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual), selanjutnya disebut TRIPs, melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Selain itu, Indonesia juga meratifikasi Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works (Konvensi Berne tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra) melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan World Intellectual Property Organization Copyrights Treaty  (Perjanjian Hak Cipta WIPO), selanjutnya disebut WCT, melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.&lt;br /&gt;Saat ini Indonesia telah memiliki Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 yang selanjutnya disebut Undang-undang Hak Cipta.  Walaupun perubahan itu telah memuat beberapa penyesuaian pasal yang sesuai dengan TRIPs, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu disempurnakan untuk memberi perlindungan bagi karya-karya intelektual di bidang Hak Cipta, termasuk upaya untuk memajukan perkembangan karya intelektual yang berasal dari keanekaragaman seni dan budaya tersebut di atas. Dari beberapa konvensi di bidang Hak Kekayaan Intelektual yang disebut di atas, masih terdapat beberapa ketentuan yang sudah sepatutnya dimanfaatkan. Selain itu, kita perlu menegaskan dan memilah kedudukan Hak Cipta di satu pihak dan Hak Terkait di lain pihak dalam rangka memberikan perlindungan bagi karya intelektual yang bersangkutan secara lebih jelas. &lt;br /&gt;Dengan memperhatikan hal-hal di atas dipandang perlu untuk mengganti Undang-undang Hak Cipta dengan yang baru. Hal itu disadari karena kekayaan seni dan budaya, serta pengembangan kemampuan intelektual masyarakat Indonesia memerlukan perlindungan hukum yang memadai agar terdapat iklim persaingan usaha yang sehat yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;Hak Cipta terdiri atas hak ekonomi (economic rights) dan hak moral (moral rights). Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaan serta produk Hak Terkait. Hak moral adalah hak yang melekat pada diri Pencipta atau Pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apa pun, walaupun Hak Cipta atau Hak Terkait telah dialihkan. &lt;br /&gt;Perlindungan Hak Cipta tidak diberikan kepada ide atau gagasan karena karya cipta harus memiliki bentuk yang khas, bersifat pribadi dan menunjukkan keaslian sebagai Ciptaan yang lahir berdasarkan kemampuan, kreativitas, atau keahlian sehingga Ciptaan itu dapat dilihat, dibaca, atau didengar.&lt;br /&gt;Undang-undang ini memuat beberapa ketentuan baru, antara lain, mengenai: &lt;br /&gt;1.      1.    database merupakan salah satu Ciptaan yang dilindungi;&lt;br /&gt;2.      2.    penggunaan alat apa pun baik melalui kabel maupun tanpa kabel, termasuk media internet, untuk pemutaran produk-produk cakram optik (optical disc) melalui media audio, media audio visual dan/atau sarana telekomunikasi;&lt;br /&gt;3.      3.    penyelesaian sengketa oleh Pengadilan Niaga, arbitrase, atau alternatif penyelesaian sengketa;&lt;br /&gt;4.      4.    penetapan sementara pengadilan untuk mencegah kerugian lebih besar bagi Pemegang hak;&lt;br /&gt;5.      5.    batas waktu proses perkara perdata di bidang Hak Cipta dan Hak Terkait, baik di Pengadilan Niaga maupun di Mahkamah Agung;&lt;br /&gt;6.      6.    pencantuman hak informasi manajemen elektronik dan sarana kontrol teknologi;&lt;br /&gt;7.      7.    pencantuman mekanisme pengawasan dan perlindungan terhadap produk-produk yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi;&lt;br /&gt;8.      8.    ancaman pidana atas pelanggaran Hak Terkait;&lt;br /&gt;9.      9.    ancaman pidana dan denda minimal;&lt;br /&gt;10. 10.  ancaman pidana terhadap perbanyakan penggunaan Program Komputer untuk kepentingan komersial secara tidak sah dan melawan hukum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II.                II.    PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal  1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  2&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. &lt;br /&gt;                  Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  3&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Beralih atau dialihkannya Hak Cipta tidak dapat dilakukan secara lisan, tetapi harus dilakukan secara tertulis baik dengan maupun tanpa akta notariil.&lt;br /&gt;                        Huruf a&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf b&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf c&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf d&lt;br /&gt;                                Cukup jelas&lt;br /&gt;                        Huruf e&lt;br /&gt;Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan, misalnya pengalihan yang disebabkan oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.  &lt;br /&gt;      Pasal  4&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Karena manunggal dengan Penciptanya dan bersifat tidak berwujud, Hak Cipta pada prinsipnya tidak dapat disita, kecuali Hak Cipta tersebut diperoleh secara melawan hukum.&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  5&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;Pada prinsipnya Hak Cipta diperoleh bukan karena pendaftaran, tetapi dalam hal terjadi sengketa di pengadilan mengenai Ciptaan yang terdaftar dan yang tidak terdaftar sebagaimana dimaksud pada ketentuan ayat (1) huruf a dan  huruf b serta apabila pihak-pihak yang berkepentingan dapat membuktikan kebenarannya, hakim dapat menentukan Pencipta yang sebenarnya berdasarkan pembuktian tersebut.&lt;br /&gt;      Pasal  6&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan bagian tersendiri, misalnya suatu Ciptaan berupa film serial, yang isi setiap seri dapat lepas dari isi seri yang lain, demikian juga dengan buku, yang untuk isi setiap bagian dapat dipisahkan dari isi bagian yang lain.&lt;br /&gt;      Pasal  7&lt;br /&gt;            Rancangan yang dimaksud adalah gagasan berupa gambar atau kata atau gabungan keduanya, yang akan diwujudkan dalam bentuk yang dikehendaki pemilik rancangan. Oleh karena itu, perancang disebut Pencipta, apabila rancangannya itu dikerjakan secara detail menurut desain yang sudah ditentukannya dan tidak sekadar gagasan atau ide saja. Yang dimaksud dengan di bawah pimpinan dan pengawasan adalah yang dilakukan dengan bimbingan, pengarahan, ataupun koreksi dari orang yang memiliki rancangan tersebut.&lt;br /&gt;      Pasal  8&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan hubungan dinas adalah hubungan kepegawaian antara pegawai negeri dengan instansinya.&lt;br /&gt;            Ayat  (2)&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Hak Cipta yang dibuat oleh seseorang berdasarkan pesanan dari instansi Pemerintah tetap dipegang oleh instansi Pemerintah tersebut selaku pemesan, kecuali diperjanjikan lain.  &lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan hubungan kerja atau berdasarkan pesanan di sini adalah Ciptaan yang dibuat atas dasar hubungan kerja di lembaga swasta atau atas dasar pesanan pihak lain.&lt;br /&gt;      Pasal  9&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  10&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam rangka melindungi folklor dan hasil kebudayaan rakyat lain, Pemerintah dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta tindakan yang merusak atau pemanfaatan komersial tanpa seizin negara Republik Indonesia sebagai Pemegang Hak Cipta. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan tersebut.&lt;br /&gt;Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan Ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun,  termasuk:&lt;br /&gt;a.       a.    cerita rakyat, puisi rakyat;&lt;br /&gt;b.      b.    lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional;&lt;br /&gt;c.      c.    tari-tarian rakyat, permainan tradisional;&lt;br /&gt;d.      d.    hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  11&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan status Hak Cipta dalam hal suatu karya yang Penciptanya tidak diketahui dan tidak atau belum diterbitkan, sebagaimana layaknya Ciptaan itu diwujudkan. Misalnya, dalam hal karya tulis atau karya musik, Ciptaan tersebut belum diterbitkan dalam bentuk buku atau belum direkam. Dalam hal demikian, Hak Cipta atas karya tersebut dipegang oleh Negara untuk melindungi Hak Cipta bagi kepentingan Penciptanya, sedangkan apabila karya tersebut berupa karya tulis dan telah diterbitkan, Hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan dipegang oleh Penerbit.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Penerbit dianggap Pemegang Hak Cipta atas Ciptaan yang diterbitkan dengan menggunakan nama samaran Penciptanya. Dengan demikian, suatu Ciptaan yang diterbitkan tetapi tidak diketahui siapa Penciptanya atau terhadap Ciptaan yang hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit yang namanya tertera di dalam Ciptaan dan dapat membuktikan sebagai Penerbit yang pertama kali menerbitkan Ciptaan tersebut dianggap sebagai Pemegang Hak Cipta. Hal ini tidak berlaku apabila Pencipta di kemudian hari menyatakan identitasnya dan ia dapat membuktikan bahwa Ciptaan tersebut adalah Ciptaannya.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Penerbit dianggap Pemegang Hak Cipta atas Ciptaan yang telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran Penciptanya, Penerbit yang pertama kali menerbitkan Ciptaan tersebut dianggap mewakili Pencipta. Hal ini tidak berlaku apabila Pencipta dikemudian hari menyatakan identitasnya dan ia dapat membuktikan bahwa Ciptaan tersebut adalah Ciptaannya.&lt;br /&gt;      Pasal  12&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Huruf  a&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan perwajahan karya tulis adalah karya cipta yang lazim dikenal  dengan  "typholographical  arrangement",  yaitu  aspek seni pada susunan dan bentuk penulisan karya tulis. Hal ini mencakup antara lain format, hiasan, warna dan susunan atau tata letak huruf indah yang secara keseluruhan menampilkan wujud yang khas.&lt;br /&gt;                  Huruf  b&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan Ciptaan lain yang sejenis adalah Ciptaan-ciptaan yang belum disebutkan, tetapi dapat disamakan dengan Ciptaan-ciptaan seperti ceramah, kuliah, dan pidato.&lt;br /&gt;                  Huruf  c&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan alat peraga adalah Ciptaan yang berbentuk dua ataupun tiga dimensi yang berkaitan dengan geografi, topografi, arsitektur, biologi atau ilmu pengetahuan lain. &lt;br /&gt;                  Huruf  d&lt;br /&gt;Lagu atau musik dalam Undang-undang ini diartikan sebagai karya yang bersifat utuh, sekalipun terdiri atas unsur lagu atau melodi, syair atau lirik, dan aransemennya termasuk notasi. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan utuh adalah bahwa lagu atau musik tersebut merupakan satu kesatuan karya cipta.&lt;br /&gt;                        Huruf e&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                  Huruf  f&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan gambar antara lain meliputi: motif, diagram, sketsa, logo dan bentuk huruf indah, dan gambar tersebut dibuat bukan untuk tujuan desain industri. &lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan kolase adalah komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan (misalnya dari kain, kertas, kayu) yang ditempelkan pada permukaan gambar. &lt;br /&gt;                        Seni terapan yang berupa kerajinan tangan sejauh tujuan pembuatannya bukan untuk diproduksi secara massal merupakan suatu Ciptaan. &lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;Huruf  g&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan arsitektur antara lain meliputi: seni gambar bangunan, seni  gambar miniatur, dan seni gambar maket bangunan.&lt;br /&gt;                  Huruf  h&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia yang berada di atas ataupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu.&lt;br /&gt;                  Huruf  i&lt;br /&gt;                        Batik yang dibuat secara konvensional dilindungi dalam Undang-undang ini sebagai bentuk Ciptaan tersendiri. Karya-karya seperti itu memperoleh perlindungan karena mempunyai nilai seni, baik pada Ciptaan motif atau gambar maupun komposisi warnanya. Disamakan dengan pengertian seni batik adalah karya tradisional lainnya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang terdapat di berbagai daerah, seperti seni songket, ikat, dan lain-lain yang dewasa ini terus dikembangkan.&lt;br /&gt;                  Huruf  j&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                  Huruf  k&lt;br /&gt;                        Karya sinematografi yang merupakan media komunikasi massa gambar gerak (moving images) antara lain meliputi: film dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan skenario, dan film kartun. Karya sinematografi dapat dibuat dalam pita seluloid, pita video, piringan video, cakram optik dan/atau media lain yang memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, di layar lebar atau ditayangkan di televisi atau di media lainnya. Karya serupa itu dibuat oleh perusahaan pembuat film, stasiun televisi atau perorangan.&lt;br /&gt;      Huruf  l&lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan bunga rampai meliputi: Ciptaan dalam bentuk buku yang berisi kumpulan karya tulis pilihan, himpunan lagu-lagu pilihan yang direkam dalam satu kaset, cakram optik atau media lain, serta komposisi berbagai karya tari pilihan. &lt;br /&gt;                        Yang dimaksud dengan database adalah kompilasi data dalam bentuk apapun yang dapat dibaca oleh mesin (komputer) atau dalam bentuk lain, yang karena alasan pemilihan atau pengaturan atas isi data itu merupakan kreasi intelektual. Perlindungan terhadap database diberikan dengan tidak mengurangi hak Pencipta lain yang Ciptaannya dimasukkan dalam database tersebut. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pengalihwujudan adalah pengubahan bentuk, misalnya dari bentuk patung menjadi lukisan, cerita roman menjadi drama, drama menjadi sandiwara radio, dan novel menjadi film.&lt;br /&gt;      Ayat (2)&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Ayat (3)&lt;br /&gt;Ciptaan yang belum diumumkan, sebagai contoh sketsa, manuskrip, cetak biru (blue print), dan yang sejenisnya dianggap Ciptaan yang sudah merupakan suatu kesatuan yang lengkap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  13&lt;br /&gt;                Huruf  a&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  b&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  d&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Huruf  e&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan keputusan badan-badan sejenis lain, misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa, termasuk keputusan–keputusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, dan Mahkamah Pelayaran.&lt;br /&gt;      Pasal  14&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Contoh dari Pengumuman dan Perbanyakan atas nama Pemerintah adalah Pengumuman dan Perbanyakan mengenai suatu hasil riset yang dilakukan dengan biaya Negara.&lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan berita aktual adalah berita yang diumumkan dalam waktu 1 x 24 jam sejak pertama kali diumumkan.&lt;br /&gt;      Pasal  15&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Pembatasan ini perlu dilakukan karena ukuran kuantitatif untuk menentukan pelanggaran Hak Cipta sulit diterapkan. Dalam hal ini akan lebih tepat apabila penentuan pelanggaran Hak Cipta didasarkan pada ukuran kualitatif. Misalnya, pengambilan bagian yang paling substansial dan khas yang menjadi ciri dari Ciptaan, meskipun pemakaian itu kurang dari 10 %. Pemakaian seperti itu secara substantif merupakan pelanggaran Hak Cipta. Pemakaian Ciptaan tidak dianggap sebagai  pelanggaran Hak Cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial. Misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Penciptanya. Termasuk dalam pengertian ini adalah pengambilan Ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran. Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber Ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama Pencipta, judul atau nama Ciptaan, dan nama Penerbit jika ada.&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan kepentingan yang wajar dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta adalah suatu kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu Ciptaan. &lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  d&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  e&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  f&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Huruf  g&lt;br /&gt;                  Seorang pemilik (bukan Pemegang Hak Cipta) Program Komputer dibolehkan membuat salinan atas  Program  Komputer  yang  dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri. Pembuatan salinan cadangan seperti di atas tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta. &lt;br /&gt;      Pasal  16&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  17&lt;br /&gt;            Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah beredarnya Ciptaan yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum. Misalnya, buku-buku atau karya-karya sastra atau karya-karya fotografi.&lt;br /&gt;      Pasal  18&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Maksud ketentuan ini adalah Pengumuman suatu Ciptaan melalui penyiaran radio, televisi dan sarana lainnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah haruslah diutamakan untuk kepentingan publik yang secara nyata dibutuhkan oleh masyarakat umum.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  19&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Tidak selalu orang yang dipotret akan setuju bahwa potretnya diumumkan tanpa diminta persetujuannya. Oleh karena itu ditentukan bahwa harus dimintakan persetujuan yang bersangkutan atau ahli warisnya. &lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3) &lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  20&lt;br /&gt;            Dalam suatu pemotretan dapat terjadi bahwa  seseorang telah dipotret tanpa diketahuinya dalam keadaan yang dapat merugikan dirinya.&lt;br /&gt;Pasal  21&lt;br /&gt;            Misalnya, seorang penyanyi dalam suatu pertunjukan musik dapat berkeberatan jika diambil potretnya untuk diumumkan.&lt;br /&gt;Pasal  22&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal  23&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  24&lt;br /&gt;                Ayat  (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat  (2)&lt;br /&gt;Dengan hak moral, Pencipta dari suatu karya cipta memiliki hak untuk:&lt;br /&gt;a.       a.   dicantumkan nama atau nama samarannya di dalam Ciptaannya ataupun salinannya dalam hubungan dengan penggunaan secara umum; &lt;br /&gt;b.      b.   mencegah bentuk-bentuk distorsi, mutilasi atau bentuk perubahan lainnya yang meliputi pemutarbalikan, pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan karya cipta yang pada akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi Pencipta. &lt;br /&gt;Selain itu tidak satupun dari hak-hak tersebut di atas dapat dipindahkan selama Penciptanya masih hidup, kecuali atas wasiat Pencipta berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;                Ayat  (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat  (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal 25&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan informasi manajemen hak Pencipta adalah informasi yang melekat secara elektronik pada suatu Ciptaan atau muncul dalam hubungan dengan kegiatan Pengumuman yang menerangkan tentang suatu Ciptaan, Pencipta, dan kepemilikan hak maupun informasi persyaratan penggunaan, nomor atau kode informasi. Siapa pun dilarang mendistribusikan, mengimpor, menyiarkan, mengkomunikasikan kepada publik karya-karya pertunjukan, rekaman suara atau siaran yang diketahui bahwa perangkat informasi manajemen hak Pencipta telah ditiadakan, dirusak, atau diubah tanpa izin pemegang hak.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  26&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;Pembelian hasil Ciptaan tidak berarti bahwa status Hak Ciptanya berpindah kepada pembeli, akan tetapi Hak Cipta atas suatu Ciptaan tersebut tetap ada di tangan Penciptanya. Misalnya, pembelian buku, kaset, dan lukisan.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;      Pasal  27&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan sarana kontrol teknologi adalah instrumen teknologi dalam bentuk antara lain kode rahasia, password, bar code, serial number, teknologi dekripsi (decryption) dan enkripsi (encryption) yang digunakan untuk melindungi Ciptaan.&lt;br /&gt;Semua tindakan yang dianggap pelanggaran hukum meliputi: memproduksi atau mengimpor atau menyewakan peralatan apa pun yang dirancang khusus untuk meniadakan sarana kontrol teknologi atau untuk mencegah, membatasi Perbanyakan dari suatu Ciptaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                       Pasal 28 &lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ketentuan persyaratan sarana produksi berteknologi tinggi, misalnya, izin lokasi produksi, kewajiban membuat pembukuan produksi, membubuhkan tanda pengenal produsen pada produknya, pajak atau cukai serta memenuhi syarat inspeksi oleh pihak yang berwenang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  29&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  30&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  31&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  32&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  33&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  34&lt;br /&gt;Ketentuan ini menegaskan bahwa tanggal 1 Januari sebagai dasar perhitungan jangka waktu perlindungan Hak Cipta, dimaksudkan semata-mata untuk memudahkan perhitungan berakhirnya jangka perlindungan. Titik tolaknya adalah tanggal 1 Januari tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan, diketahui oleh umum, diterbitkan atau Penciptanya meninggal dunia. Cara perhitungan seperti itu tetap tidak mengurangi prinsip perhitungan jangka waktu perlindungan yang didasarkan pada saat dihasilkannya suatu Ciptaan apabila tanggal tersebut diketahui secara jelas.&lt;br /&gt;      Pasal  35&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Pendaftaran Ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, dan timbulnya perlindungan suatu Ciptaan dimulai sejak Ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran. Hal ini berarti suatu Ciptaan baik yang terdaftar maupun tidak terdaftar tetap dilindungi.&lt;br /&gt;      Pasal  36&lt;br /&gt;            Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan tidak bertanggung jawab atas isi, arti, maksud, atau bentuk dari Ciptaan yang terdaftar.&lt;br /&gt;      Pasal  37&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Kuasa adalah Konsultan Hak Kekayaan Intelektual yaitu orang yang memiliki keahlian di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan secara khusus memberikan jasa mengurus permohonan Hak Cipta, Paten, Merek, Desain Industri serta bidang-bidang Hak Kekayaan Intelektual lain dan terdaftar sebagai Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Direktorat Jenderal.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan pengganti Ciptaan adalah contoh Ciptaan yang dilampirkan karena Ciptaan itu sendiri secara teknis tidak mungkin untuk dilampirkan dalam Permohonan, misalnya, patung yang berukuran besar diganti dengan miniatur atau fotonya.&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Jangka waktu proses permohonan dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada Pemohon.&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (5)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (6)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  38&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  39&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  40&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  41&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  42&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  43&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  44&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  45&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  46&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  47&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  48&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  49&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan menyiarkan termasuk menyewakan, melakukan pertunjukan umum (public performance), mengomunikasikan pertunjukan langsung (life performance), dan mengkomunikasikan secara interaktif suatu karya rekaman Pelaku.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  50&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  51&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  52&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  53&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  54&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan menggunakan penerimaan adalah penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai dengan sistem dan mekanisme yang berlaku. Dalam hal ini seluruh penerimaan disetorkan langsung ke kas negara sebagai PNBP. Kemudian, Direktorat Jenderal melalui Menteri mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan untuk menggunakan sebagian PNBP sesuai dengan keperluan yang dibenarkan oleh Undang-undang, yang saat ini diatur dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687). &lt;br /&gt;      Pasal  55&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  56&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  57&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  58&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  59&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  60&lt;br /&gt;                Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Ketua Pengadilan Niaga adalah Ketua Pengadilan Negeri/Pengadilan Niaga.&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (4)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (5)&lt;br /&gt;                        Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  61&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  62&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dengan “panitera” pada ayat ini adalah panitera Pengadilan Negeri/Pengadilan Niaga.&lt;br /&gt;      Pasal  63&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  64&lt;br /&gt;                Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  65&lt;br /&gt;            Yang dimaksud dengan alternatif penyelesaian sengketa adalah negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan cara lain yang dipilih oleh para pihak sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;      Pasal  66&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  67&lt;br /&gt;            Huruf  a&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, sehingga hakim Pengadilan Niaga diberi kewenangan untuk menerbitkan penetapan sementara guna mencegah berlanjutnya pelanggaran dan masuknya barang yang diduga melanggar Hak Cipta dan Hak Terkait ke jalur perdagangan termasuk tindakan importasi.&lt;br /&gt;            Huruf  b&lt;br /&gt;                  Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah penghilangan barang bukti oleh pihak pelanggar. &lt;br /&gt;            Huruf  c&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  68&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  69&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  70&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  71&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu adalah pegawai yang diangkat sebagai penyidik berdasarkan Keputusan Menteri.&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  72&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                Ayat (3)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan memperbanyak penggunaan adalah menggandakan, atau menyalin Program Komputer dalam bentuk kode sumber (source code) atau program aplikasinya.&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan kode sumber adalah sebuah arsip (file) program yang berisi pernyataan-pernyataan (statements) pemrograman, kode-kode instruksi/perintah, fungsi, prosedur dan objek yang dibuat oleh seorang pemrogram (programmer).&lt;br /&gt;                  Misalnya: A membeli Program Komputer dengan hak Lisensi untuk digunakan pada satu unit komputer, atau B mengadakan perjanjian Lisensi untuk pengunaan aplikasi Program Komputer pada 10 (sepuluh) unit komputer. Apabila A atau B menggandakan atau menyalin aplikasi Program Komputer di atas untuk lebih dari yang telah ditentukan atau diperjanjikan, tindakan itu merupakan pelanggaran, kecuali untuk arsip.&lt;br /&gt;            Ayat (4)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (5)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (6)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (7)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (8)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;                Ayat (9)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;      Pasal  73&lt;br /&gt;            Ayat (1)&lt;br /&gt;                  Cukup jelas&lt;br /&gt;            Ayat (2)&lt;br /&gt;                  Yang dimaksud dengan "bersifat unik" adalah bersifat lain daripada yang lain, tidak ada persamaan dengan yang lain, atau yang bersifat khusus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  74&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal 75&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  76&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  77&lt;br /&gt;            Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Pasal  78&lt;br /&gt;            Diberlakukan 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diundangkan dimaksudkan agar Undang-undang ini dapat disosialisasikan terutama kepada pihak-pihak yang terkait dengan Hak Cipta, misalnya, perguruan tinggi, asosiasi-asosiasi di bidang Hak Cipta, dan lain-lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4220&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;referensi: www.bpkp.go.id/unit/hukum/uu/2002/19-02.pdf</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tugas v-class SPK</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/11/tugas-v-class-spk.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 22:15:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-9186880520272123112</guid><description>Tugas v-class sistem penunjang dapat di lihat pada link di bawah ini &lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.megaupload.com/?d=IJDD8BKG"&gt;http://www.megaupload.com/?d=IJDD8BKG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teknologi dalam pengantrar telematika</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/10/teknologi-dalam-pengantrar-telematika.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Sat, 16 Oct 2010 10:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-646082945553646632</guid><description>Telescope dengan menggunakan teknologi yang sangat canggih&lt;br /&gt;Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.[1] Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi budaya kita.[1] Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru.[2] padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer.[2] Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.[2]&lt;br /&gt;&lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Teknologi&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi berlangsung secara evolutif.[3] Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah nampak berorientasi ke bidang teknologi.[3] Secara etimologis, akar kata teknologi adalah "techne" yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni.[3] Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).[3]&lt;br /&gt;Kemajuan Teknologi&lt;br /&gt;Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.[4]&lt;br /&gt;Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :[4]&lt;br /&gt;• Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress)&lt;br /&gt;Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.&lt;br /&gt;• Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress)&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.&lt;br /&gt;• Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress)&lt;br /&gt;Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modal.&lt;br /&gt;Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang.[5] Di lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.[5]&lt;br /&gt;Konsepsi Teknologi (NEW)&lt;br /&gt;Teknologi menurut Gorokhov (1998) secara konseptual memiliki tiga makna prinsip, yaitu, (1) teknologi (secara teknis) sebagai agrerat dari semua artifak-artifak manusia yang dipergunakan, mulai dari perkakas sampai dengan sistem teknologis kompleks yang berskala besar; (2) teknologi sebagai agregat dari seluruh aktivitas teknis, penemuan yang bersifat invention (penciptaan) dan discovery (penemuan), riset dan pengembangan, dan tahapan-tahapan dalam penciptaan teknologis yang berhasil, serta penyebarannya ke masyarakat secara luas; dan (3) teknologi sebagai agregat dari keseluruhan pengetahuan teknis, mulai dari teknik yang sangat khusus dan praktik-praktiknya sampai pada sistem teknologis-saintifik teoretis termasuk pengetahuan mengenai perekayasaan (engineering knowlodge) dan know-how-nya.Dengan demikian, teknologi, menurut Gorokhov (1998), didefinisikan sebagai studi mengenai hubungan antara umat manusia dan dunia yang dimanifestasikan dalam pandangan teknologis dunia, studi mengenai fenomena teknologis sebagai keseluruhan, menempatkan teknologi dalam perkembangan masyarakat sebagai keseluruhan (dan bukan hanya perkembangan teknologi yang terisolasi), dan dalam dimensi historis, antara restrospektif dan prospektif.&lt;br /&gt;Tujuan dari studi teknologi menurut Gorokhov (1998) terutama difokuskan pada sains teknis atau perekayasaan, produksi teknis, aktivitas, dan pengetahuan sebagai fenomena kebudayaan; dan pengembangan kesadaran teknologis, terutama pemahaman diri dari engineer dan teknisi dalam praktik perekayasaan dan pengetahuan teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>BAB I PENDAHULUAN</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/04/bab-i-pendahuluan.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 5 Apr 2010 16:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-138034995289699404</guid><description>1.1 LATAR BELAKANG &lt;br /&gt;Manusia hidup di dalam suatu lingkungan yang beraneka ragam antara komponen satu dengan komponen lainnya. Didalam lingkungan dan manusia itu sendiri terjalin hubungan yang komplek satu dengan lain yang membentuk sumber daya berupa sistem makanan dan pernapasan, hubungan timbal balik tersebut senantiasa mengarah kepada bentuk keseimbangan yang disebut keseimbangan ekosistem. Keseimbangan ekosistem harus terjaga, apabila didalam lingkungan manusia terjadi sesuatu yang mengancam eksistensi manusia yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri, maka terjadilah apa yang dinamakan pencemaran lingkungan hidup. Salah satu pencemaran lingkungan hidup adalah banjir, dimana banjir timbul sebagai akibat aktivitas dan perilaku manusia secara langsung dan tidak langsung antara lain dikarenakan pembuangan sampah ke sungai atau karena penebangan hutan yang tidak terkontrol atau pemanfaatan tata ruang yang salah. &lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;DKI Jakarta merupakan salah satu kota yang sedang menghadapi permasalahan banjir yang harus segera ditangani, mengingat Kota Jakarta merupakan salah satu kota terbesar dan sangat besar peranannya dalam menerima dan mendistribusikan barang-barang industri, peralatan teknik, hasil-hasil pertanian, hasil hutan, sembako dan sebagainya, terutama bagi wilayah Indonesia timur. Dengan peranan Kota Jakarta yang sedemikian penting, gangguan genangan banjir yang melanda Kota Jakarta pada setiap musim hujan sangatlah berdampak luas terhadap kelancaran roda perekonomian, kesehatan dan kenyamanan hidup masyarakat Kota Jakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi sudah berkembang pesat pada saat ini. Hampir di semua perusahaan dan instansi-instansi telah menggunakan perangkat komputer dengan sistem informasi yang sangat memadai. Peranan sistem informasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan, efisiensi dan efektifitas suatu instansi, dimana sistem informasi dapat memberikan dukungan bagi instansi agar memiliki keunggulan yang kompetitif. Sistem informasi tidak hanya bermanfaat bagi instansi yang bersangkutan tetapi juga bagi masyarakat dikarenakan dinas Bina Marga kota Jakarta merupakan alat pemerintah untuk melayani masyarakat.&lt;br /&gt;Saat ini dalam dinas Bina Marga dan kota Jakarta telah terkomputerisasi tetapi sebatas pencatatan dan administrasi tidak menyentuh pada penerapan sistem teknologi yang tepat untuk penanganan banjir, sehingga dalam penanganan banjir tidak dapat mengatasi pokok permasalahan yang dihadapi  pada suatu daerah yang terkena banjir, Maka penerapan sistem yang sangat dibutuhkan untuk dinas Bina Marga dan Kota Jakarta saat ini adalah “Sistem Pendukung Keputusan Penanganan Banjir Pada Dinas Bina Marga dan  Kota Jakarta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Dari penjelasan latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa Dinas Bina Marga dan  kota Jakarta membutuhkan penerapan sistem  untuk penanganan daerah banjir sesuai dengan kriteria-kriteria dan alternatif yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 BATASAN MASALAH&lt;br /&gt;Batasan masalah yang akan penulis buat untuk analisa sistem ini adalah :&lt;br /&gt;a.  Sistem menghasilkan perangkingan pada daerah yang akan ditanggulangi.&lt;br /&gt;b.  Sistem yang akan dibuat berhubungan dengan proses pemilihan alternatif  berdasarkan kriteria - kriteria yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;c.  Proses perangkingan dan survey dilakukan satu kali selama selang waktu 1 tahun pada satu daerah banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 TUJUAN&lt;br /&gt;Adapun tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah :&lt;br /&gt;a.  Membuat sistem pendukung keputusan penanganan banjir yang mampu memberikan alternatif terbaik untuk bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan penanganan daerah banjir.&lt;br /&gt;b. Mengetahui faktor penyebab banjir di suatu daerah banjir, sebagai bahan evaluasi bagi Dinas Bina Marga dan dalam pelaksanaan penanganan banjir di kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 MANFAAT&lt;br /&gt;Manfaat dari sistem ini nantinya adalah:&lt;br /&gt;a. Membantu kepala dinas dalam menentukan alternatif terbaik untuk penanganan daerah banjir.&lt;br /&gt;b. Sebagai bahan evaluasi untuk Dinas Bina Marga dan kota Jakarta untuk mengatasi segala hambatan dalam penanganan banjir di kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6  METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;Library research yaitu metode pengumpulan data dan perancangan serta implementasi sistem dengan mencari dan membaca buku-buku materi yang berhubungan dengan penelitian ini. Metodologi yang digunakan untuk membangun perangkat lunak Sistem Informasi yaitu dengan metodologi SDLC (Software Development Life Cycle) adalah metode atau cara-cara atau teknik yang digunakan untuk menganalisa dan merancang sistem dimana sistem tersebut telah dikembangkan dengan baik melalui penggunaan siklus penggunaan penganalisis dan pemakai secara spesifik. Ada 7 fase / siklus dalam metodologi SDLC (Software Development Life Cycle) yaitu :&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;Definisi artinya mengidentifikasi masalah, peluang dan tujuan. Proses yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan wawancara pada pihak Dinas Bina Marga sebagai pihak yang akan menggunakan sistem ini. Dengan hasil wawancara dan pengumpulan data ini dapat diketahui masalah apa yang ada di Dinas Bina Marga.&lt;br /&gt;2. Determine&lt;br /&gt;Determine adalah memasukkan syarat-syarat informasi yang diperoleh dari pihak yang akan menggunakan sistem ini, dalam hal ini adalah pihak Dinas Bina Marga. Proses yang dilakukan pada tahap ini adalah memeriksa data mentah (hasil wawancara, pengumpulan data-data), menentukan sample yang akan digunakan sehingga dengan demikian dapat diketahui apa saja yang menjadi kebutuhan pemakai sistem yang ingin ditampilkan pada sistem.&lt;br /&gt;3. Analisa&lt;br /&gt;Analisa artinya menganalisa segala sesuatu yang dibutuhkan oleh sistem sesuai dengan kebutuhan pengguna / pemakai sistem, dalam hal ini pihak Dinas Bina Marga. Proses pada tahap ini adalah menentukan apa saja  yang dibutuhkan oleh sistem yaitu dengan membuat diagram aliran data /  data flow diagram (DFD) sehingga dapat mempermudah mengetahui  proses aliran data.&lt;br /&gt;4. Desain&lt;br /&gt; Desain sistem merupakan langkah awal untuk menerapkan dan membahas  permasalahan yang dihadapi sistem yang dibuat. Proses yang dilakukan  pada tahap ini adalah merancang ER Diagram, Database dan membuat  algoritma (Flowchart) dari program yang akan dibuat. &lt;br /&gt;5. Coding (Develop)&lt;br /&gt; Coding (Develop) merupakan transformasi hasil desain kedalam bahasa  pemprograman yang telah ditentukan. Proses yang dilakukan pada tahap  ini adalah membuat program aplikasi.&lt;br /&gt;6. Testing&lt;br /&gt; Testing merupakan uji coba pada program yang telah dibuat, apakah  sesuai dengan hasil yang diharapkan. Dengan mengadakan testing pada  software yang dibuat dapat mengurangi kesalahan atau error.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Implementasi&lt;br /&gt; Pada tahap implementasi ini program yang telah selesai dibuat akan coba diterapkan langsung oleh pemakai dalam hal ini pihak Dinas Bina Marga. Dengan demikian dapat di evaluasi hasil dari program yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7 SISTEMATIKA PENULISAN&lt;br /&gt;Dalam penyusunan Penulisan Ilmiah ini, Sistematika penulisan dalam penulisan di susun dalam 7 (tujuh) bab, dan tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, maka penulis akan menguraikan secara singkat mengenai materi dari bab-bab dalam penulisan Penulisan Ilmiah ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;BAB I  PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Berisi latar belakang pembuatan program ini, permasalah yang timbul, tujuan yang diharapkan pada penulisan, Metodologi yang digunakan, dan sistematika pembahasan.&lt;br /&gt;BAB II     LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;Dalam bab ini dibahas mengenai teori-teori yang melandasi pembuatan atau perancangan program mulai struktur program yang menggunakan Java serta menggunakan database PostgreSQL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III    ANALISA SISTEM&lt;br /&gt;Pada bab ini dijelaskan tentang analisa sistem yang akan dibuat diantaranya deskripsi sistem, kebutuhan data, kebutuhan proses, dan aliran data.desain system,implementasi program, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV  PENUTUP&lt;br /&gt;  Pada bab akhir ini berisikan kesimpulan seluruh pembahasan karya tulis serta saran yang bermanfaat untuk sistem Sistem Pendukung Keputusan di Dinas Bina Marga dan Kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Latar Belakang PI</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/03/latar-belakang-pi.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Wed, 3 Mar 2010 22:11:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-4527205516600845080</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI MENGGUNAKAN MICROSOFT VISUAL C++&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latar Belakang Penulisan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan setiap negara dunia antara lain diperoleh dari pendapatan pajak yang diberlakukan. Setiap negara memiliki peraturan, perhitungan dan jenis-jenis pajak yang berbeda-beda. Setiap jenis pajak memiliki peraturan, perhitungan dan obyek pajak tersendiri.&lt;br /&gt;Republik Indonesia memiliki sebuah jenis pajak yang diberlakukan bagi wajib pajak orang pribadi, yaitu Pajak Penghasilan (PPh). Perhitungan pajak penghasilan didasarkan pada pasal-pasal 17, 21,22,23,24,25,26,4(2) UU PPh.&lt;br /&gt;Perhitungan yang didasarkan pada pasal-pasal tersebut merupakan perhitungan yang kompleks dan rumit. Sehingga banyak wajib pajak yang mengalami kesulitan untuk menentukan dan menghitung jumlah pajak yang harus dibayar. Selama ini, para wajib pajak memanfaatkan jasa konsultan pajak untuk membantu mereka menentukan dan menghitung jumlah pajak yang harus dibayar.&lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut mendorong penulis untuk membuat sebuah aplikasi yang mempermudah para wajib pajak untuk menghitung jumlah pajak yang harus dibayar. Aplikasi yang dibuat bersifat sederhana sehingga mudah digunakan dan dapat dijalankan dengan komputer berkecepatan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruang Lingkup Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan ilmiah ini membahas tentang penghitungan Pajak Pengahasilan (PPh) WP pribadi, yang mencakup pasal-pasal 17,4(2) UU PPh.&lt;br /&gt;Aplikasi  dibuat dengan konsep Object Oriented Programming (OOP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan Penulisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yang akan dicapai yaitu membangun sebuah aplikasi untuk menghitung Pajak Penghasilan (PPh) WP Pribadi.&lt;br /&gt;Penulisan ilmiah dan pembuatan aplikasi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi wajib pajak untuk menentukan dan menghitung pajak yang harus dibayarkan, juga alternatif kemudahan penghitungan pajak bagi petugas pajak. Selain itu juga menjadi salah satu alternatif untuk langkah awal otomatisasi sistem perpajakan di Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metode Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal dalam pembuatan aplikasi dan penyusunan penulisan ilmiah ini adalah merumuskan pasal-pasal UU PPh menjadi bentuk matematis sehingga mudah untuk dimplementasikan dalam bahasa pemrograman. Kemudian rumusan tersebut diimplementasikan ke dalam algoritma program.&lt;br /&gt;Algoritma program yang telah disusun dituangkan kedalam bahasa pemrograman dalam bentuk fungsi (function). Fungsi berisi rumus dasar penghitungan PPh WP Pribadi. Fungsi tersebut akan digunakan dalam pembuatan aplikasi dengan Microsoft Visual C++.&lt;br /&gt;Langkah berikutnya yaitu menganalisa program yang telah dibuat, menguji kelayakan program dan memeriksa kesalahan-kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistematika Penulisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Bab I penulis menjabarkan latar belakang pembuatan aplikasi dan penulisan ilmiah, ruang lingkup pembahasan, tujuan penulisan, metode penelitian  dan sistematika penulisan.&lt;br /&gt;Pada Bab II penulis membahas tentang Pajak Penghasilan (PPh) WP pribadi, bahasa pemrograman C++ dan Microsoft Visual C++.&lt;br /&gt;Bab III berisi proses perumusan pasal-pasal UU PPh menjadi bentuk matematis, proses pembuatan fungsi dengan bahasa C++, pembuatan aplikasi menggunakan Microsoft Visual C++.&lt;br /&gt;Bab IV menjabarkan kesimpulan penulisan ilmiah ini dan saran-saran dari penulis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Aku</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/01/puisi-aku.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Wed, 6 Jan 2010 11:39:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-5511877923214411752</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Takkan ada manusia sepertimu&lt;br /&gt;sosok yang mencintaiku sepenuh hati&lt;br /&gt;di kala ku sedih&lt;br /&gt;bersedih, engkaulah sandaran penenangku&lt;br /&gt;di kala ku senang, engkaulah yang membahagiakan ku&lt;br /&gt;aku takkan membuatmu menangis&lt;br /&gt;aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia&lt;br /&gt;dan bangga padaku...&lt;br /&gt;itu janjiku&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bunda &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kaulah hidup dan matiku&lt;br /&gt;selamanya...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;created by: Rr. Ayu Tri Wiji Utami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Qu</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/01/puisi-qu.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Wed, 6 Jan 2010 11:34:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-5274424988865790671</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;hari-hari senang kita selalu bersama&lt;br /&gt;sedih,gundah, dan resah selalu ku rasakan bila kau tak disampingku&lt;br /&gt;habis air mataku saat kau menginggalkan ku&lt;br /&gt;tak ada tempat lagi yang bisa ku curahkan sgala isi hatiku&lt;br /&gt;selalu... dan selalu...kamu&lt;br /&gt;doaku selalu menyertaimu sahabat,selamat jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;created by: Rr. Ayu Tri Wiji Utami&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>aku ingin bebas</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2010/01/aku-ingin-bebas.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Wed, 6 Jan 2010 11:28:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-2362500546891545105</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tak seharusnya begini&lt;br /&gt;harusnya begitu&lt;br /&gt;kamu tak mengerti apa mauku&lt;br /&gt;aku ingin bebas seperti merpati diangkasa&lt;br /&gt;aku bukan manusia yang ingin terpenjara&lt;br /&gt;buka hatimu&lt;br /&gt;buka matamu&lt;br /&gt;lihatlah dunia yang luas membentang ini&lt;br /&gt;bebas... lepas...&lt;br /&gt;dunia memang kejam&lt;br /&gt;karna dihidupi dengan manusia-manusia kejam&lt;br /&gt;seperti kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;created by: Rr. Ayu Tri Wiji Utami&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>kalimat ragam baku</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/kalimat-ragam-baku.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 12:19:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-2787980392057689424</guid><description>- Ayah akan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menemui&lt;/span&gt; pimpinannya.&lt;br /&gt;- Dokter itu telah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menyembuhkan&lt;/span&gt; Kucingku</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengaruh Dunia Teknologi Informasi dalam Penegakkan Hukum</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/pengaruh-dunia-teknologi-informasi.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 11:57:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-8848592205432253211</guid><description>Pengaruh Dunia Teknologi Informasi dalam Penegakkan Hukum sangat besar sekali,karena tanpa teknologi yang canggih, kasus-kasus yang terjadi tidak akan terungkap. Contohnya Voice recorder antar telepon,video mesum,kamera cctv,dll..&lt;span class="hidenpost"&gt;  &lt;br /&gt;dari contoh2 tersebut sudah terbukti para koruptor yang korupsi,kasus KPK,ataupun tentang keberadaan Teroris yang paling dicari Noordin M.Top. Di lingkungan DPR juga sampai saat ini banyak terkuak kasus video mesum para anggotanya hingga menyebabkan orang tersebut di pecat dari anggota DPR. Lalu Al-Amin Nasution yang mempunyai kasus penyuapan di lahan pelabuhan Bagan Siapi-Api. dan kasus kriminalisasi KPK yang melibatkan pengusaha Anggoro Wijaya yang di kabarkan beliau juga terlibat dalam kasus Bank Century sebesar 6,7 Triliun. tidak hanya Anggoro saja,tetapi ada juga Budi Sampurna,Lukas yang terlibat.Selama ini Anggoro masih menjadi buronan polisi, dikarenakan dia melarikan diri ke Singapore,dan selama ini juga Anggoro selalu di bela oleh Saudara kandungnya Anggodo Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>kalimat ragam tidak baku</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/kalimat-ragam-tidak-baku.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 11:46:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-5487033588959288488</guid><description>- Rina yang di lemari baju tak di pakai akan di sumbangkan ke panti asuhan.&lt;br /&gt;  :- Baju milik Rina  di lemari yang tak dipakai akan di sumbangkan ke Panti Asuhan.&lt;br /&gt;   - Baju yang tidak dopakai yang di lemari mlik Rina akan di sumbangkan ke Panti Asuhan.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Karangan bebas Kriminalisasi</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/karangan-bebas-kriminalisasi.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 11:21:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-7367485055331809364</guid><description>Penjelasan Kapolri tidak Penuhi Standar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rpaat kerja Komisi III DPR dengan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri,Kamis(5/11) malam hingga Jumat(6/11),masih menyisakan kekecewaan dan kecaman,baik terhadap DPR maupun Kapolri.&lt;br /&gt;DPR dinilai tidak sensitif,tidak menguasai persoalan,dan tidak profesional.Di sisi lain,penjelasan Kapolri mengenai kasus yang menempatkan Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah sebagai tersangka dinilai tidak memenuhi standar analisis kriminal.&lt;br /&gt;"Berdasarkan logika dasr,barang bukti,saksi, dan keterangan Kapolri tidak nyambung,sehingga tidak masuk standar normatif analisis kriminal," kata Bambang Widodo Umar,dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia di Jakarta,kemarin.&lt;br /&gt;Dia mengemukakan itu menanggapi keterangan Kapolri dalam raker dengan Komisi III DPR mengenai barang bukti dan saksi yang kemudian membawa Bibit dan Chandra sebagai tersangka.Kapolri membeberkan semua itu untuk menyakinkan tidak ada rekayasa kriminalisasi Wakil Ketua Non-aktif KPK Bibit dan Chandra.&lt;br /&gt;Bambang memberikan salah satu contoh yakni Kapolri mengaitkan Chandra sebagai menantu almarhum Nurcholish Madjid.Pernyataan Kapolri itu malah menjadi bumerang. "pertnyataan Kapolri bahwa kasus Bibit dan Chandra segera P-21 (di limpahkan lengkap ke kejaksaan), tidak masuk akal. Apa yang di sangkakan tidak layak berdasarkan kajian normatif dan yudiris," ujarnya.&lt;br /&gt;Dia berharap Tim 8 bisa bekerja objektif mengungkap kasus dugaan rekayasa kriminalisasi pimpinan nonaktif KPK itu."Kalau Tim 8 subjektif dan bermain di wilayah politik,kredibilitas.mereka akan jatuh di mata publik,"tegasnya.&lt;br /&gt;Kritik dan kecaman terhadap komisi III DPR juga terus mengalir.Raker dengan Kapolri memberikan kesan Komisi III melindungi Kepolisian.Sikap itu amat memalukan karena DPR bertentangan dengan aspirasi publik.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>5 kalimat yang baik tetapi tidak benar</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/5-kalimat-yang-baik-tetapi-tidak-benar.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 11:16:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-951340001968760923</guid><description>1. Ibu Ani bakal pergi ke Surabaya nanti malam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nebeng&lt;/span&gt; mobil tetangga.&lt;br /&gt;2. Air yang imasak Ricky sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mateng&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;3. Laptop yang di pinjam Lina lupa di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;matiin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;4. Sandal saya putus karena ke &lt;span style="font-style:italic;"&gt;injek&lt;/span&gt; Budi.&lt;br /&gt;5. Baju ibu akan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jait&lt;/span&gt; ke tukang jahit besok malam.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>2 kalimat yang baik dan benar yang sesuai</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/12/2-kalimat-yang-baik-dan-benar-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 11:13:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-809381939067454026</guid><description>1.Linda ingin membeli mobil di showroom Toyota Depok&lt;br /&gt;2.Kemarin Dina membeli komputer di pameran komputer Jcc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengatasi Mata Lelah</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/10/mengatasi-mata-lelah.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Tue, 6 Oct 2009 06:06:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-5253341761537418257</guid><description>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="awal"&gt;M&lt;/span&gt;ata lelah merupakan gangguan yang sering terjadi pada mata kita, karna otot-otot mata kita dipaksa bekerja terlalu keras.&lt;br /&gt;terutama pada saat harus melihat objek dalam jangka waktu yang lama, kalau diantara anda ada yang mengalaminya.&lt;br /&gt;berikut tips untuk mengatasi mata lelah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;gosok ke-2 telapak tangan kita sampai terasa hangat&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pejamkan mata, tutup dengan telapak tangan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jangan sampai ada cahaya yang masuk ke dalam mata, untuk itu jari harus tertutup rapat&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;terik napas pelan-pelan, pikirkan hal-hal yang membuat kita senang,tahan selama 30 detik&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ulangi lagi selama 3 menit/lebih&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana..? sudah dicoba belum...???!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga berhasil&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Alamat Butik</title><link>http://mulai-ngblog.blogspot.com/2009/10/alamat-butik.html</link><author>noreply@blogger.com (mulai ngblog)</author><pubDate>Mon, 5 Oct 2009 10:09:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5153234668800672447.post-2435460997564411167</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy51Qg7ykipX7XTgoIyfPtKoAtBOr5F48a_5EOOtVdGY0rqu0UJs6pyiw_b5vf28bZEA6PrdQ1EiMmQAEU5Fz_YIC-2edSw2SSEYakkzXfRays4_koAfqzWdOVkreNO2K3oUSXCAPSxl0/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 129px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy51Qg7ykipX7XTgoIyfPtKoAtBOr5F48a_5EOOtVdGY0rqu0UJs6pyiw_b5vf28bZEA6PrdQ1EiMmQAEU5Fz_YIC-2edSw2SSEYakkzXfRays4_koAfqzWdOVkreNO2K3oUSXCAPSxl0/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388937803263105266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;B&lt;/span&gt;agi cewek-cewek yang "ShopHolic" banget gw punya niy alamat Butik-Butik ternama...&lt;br /&gt;Liat aja ya...:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B 18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok Indah Mall 1 Lt 1 no 142-143, Jl Metro Pondok Indah Blok III-B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Club 21&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Papilon Kemang Raya No.45 AA , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7192010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Danjyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Cililin No.12 A Keb-Baru . Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7254289&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Desire&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ITC Kuningan Lt 2 D 2 No. 1-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-579.35556&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Elizabeth Wahyu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang Selatan VIII No. 51 B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-70624154&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FJ'L&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang Raya No. 25 Jak- Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7182715&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gaudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grand Indonesia Lt. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-23580618&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mall Kelapa Gading 3 Lt 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-45855018&lt;br /&gt;&lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Her Design&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang I no. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph.021-7191715&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Heliopolis Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Petodjo Binatu No. 1 A Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-6334912&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ivy Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang Raya No. 69 , Jak Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7181731, Fax , 021-7181732&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jade Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senayan City&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 08159837513&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jewels Of Eden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square Lt 1 No. 12 , Jl. Dharmawangsa VI &amp;amp; IX , Jak - Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7397612&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;La Vie En Rose&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square lt 1 No. 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Le Privee Fashion Lounge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Indonesia lt 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph 021-3107613&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Linea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Indonesia Lt Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Senayan Lt 1 No.154 A Jl. Aia Afrika No 8 Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok Indah Mal I North, Jl. Metro Pondok Indah Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Little India&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Adorama lt 3 No. 301 , Jl. Kemang Raya No. 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7181113&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lucy House&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Indonesia Lt 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Masari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senayan City GF,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-72781287&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square Lt 1 Jl. Dharmawangsa VI &amp;amp; IX Keb Baru , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-72788367&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;My. Closet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang Raya No. 27 D Kemang , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-71792915&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muse&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Senayan GF Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph.021-57852770&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Nico-Nico Mare&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square Lt 2 No. 18 , Jl. Dharmawangsa Vi &amp;amp; IX Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Olive Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Maluku No.25 Menteng , Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-3925350&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;On Pedder&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Indonesia Lt Dasar No.131-133 A Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-31927852&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pour Le Mieux&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemang Icon Shop # 5 GF Jl. Kemang Raya No. 1 Kemang , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7192757&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Populo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Birah I No. 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. o21-7208625&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Promod&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senayan City Lt 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-72781401&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seven O Seven&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemang Icon lt 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7194817&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Socialite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Hang Tuah Raya No. 41 , Keb Baru , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7267336&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Soho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square lt 1 no 46/47 , Jl. Dharmawangsa VI &amp;amp; IX , Keb-Baru , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7199175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Swell&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kemang I No. 10 A , Kemang , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-7199175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tomodachi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square Lt 1 Lot B , Jl. Dharmawangsa VI &amp;amp; IX , Keb Baru , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021-72780767&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Velvet Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawangsa Square , Lt 1 Lot D , Jl. Dharmawangsa VI &amp;amp; IX , Keb - Baru , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Venue Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Senayan City Lt dasar No. G 27 Lot 19 , Jak-Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Yafriro Boutique&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galeria Grand Hyatt Lt 3 No. H 6/7 Jak-Pus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ph. 021 - 39838810 /39838811&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy51Qg7ykipX7XTgoIyfPtKoAtBOr5F48a_5EOOtVdGY0rqu0UJs6pyiw_b5vf28bZEA6PrdQ1EiMmQAEU5Fz_YIC-2edSw2SSEYakkzXfRays4_koAfqzWdOVkreNO2K3oUSXCAPSxl0/s72-c/images.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>