<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>UPTD PERBIBITAN TERNAK BANTAENG</title>
	<atom:link href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com</link>
	<description>Desa Baruga Kec. Pa&#039;jukukang Kab. Bantaeng</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Jun 2011 07:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22219082</site><cloud domain='uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://s0.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>UPTD PERBIBITAN TERNAK BANTAENG</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/osd.xml" title="UPTD PERBIBITAN TERNAK BANTAENG" />
	<atom:link rel='hub' href='https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Pembibitan Sapi Potong</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/17/345/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/17/345/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 07:22:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=345</guid>

					<description><![CDATA[Usaha pembibitan sapi potong rakyat sebagai tulang punggung pemasok utama sapi bibit dan bakalan dalam negeri, sebagian besar berdasarkan pada kemampuan induk dalam memproduksi pedet belum mengarah pada kualitas bibit yang dihasilkan; sedangkan bibit yang berasal dari plasma nutfah lokal merupakan salah satu sarana penting dalam pengembangan industri peternakan dan mempunyai peran penting dalam upaya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Usaha pembibitan sapi potong rakyat sebagai tulang punggung pemasok utama sapi bibit dan bakalan dalam negeri, sebagian besar<a href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg"><img data-attachment-id="348" data-permalink="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/17/345/dsc01040/" data-orig-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg" data-orig-size="640,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;4&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;DSC-T300&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1229074447&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;19.11&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;320&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.008&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="DSC01040" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=300" data-large-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=595" class="alignright size-thumbnail wp-image-348" title="DSC01040" src="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" srcset="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=150 150w, https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a> berdasarkan pada kemampuan induk dalam memproduksi pedet belum mengarah pada kualitas bibit yang dihasilkan; sedangkan bibit yang berasal dari plasma nutfah lokal merupakan salah satu sarana penting dalam pengembangan industri peternakan dan mempunyai peran penting dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak, dalam negeri disamping pakan dan tatalaksana pemeliharaan. Untuk menjamin keberlanjutan mutu bibit sapi potong sesuai dengan harapan konsumen, diperlukan bibit ternak yang bermutu sesuai dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi potong. Secara umum stuktur bibit dikelompokkan menjadi 3 yaitu bibit dasar, bibit induk dan bibit sebar.<span id="more-345"></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bibit dasar (Elite/<em>Foundation stock</em>) merupakan kumpulan sapi potong terpilih dari hasil seleksi yang mempunyai nilai pemuliaan (missal tinggi gumba, bobot badan dsb).</li>
<li>Bibit induk ( <em>Breeding stock</em> ) merupakan kumpulan sapi potong yang diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar dengan spesifikasi tertentu yang mempunyai silsilah, untuk menghasilakn bibit sebar.</li>
<li>Bibit sebar <em>( Commercial stock</em> ) merupakan bibit yang diperoleh dari proses pengembangan bibit induk, dengan spesifikasi tertentu untuk digunakan dalam proses produksi.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam memilih bibit sapi potong :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kesesuain warna tubuh dengan bangsanya.</li>
<li>Keserasian bentuk dan ukuran tubuh meliputi kapala, leher dan tubuh ternak.</li>
<li>Ukuran minimal tinggi gumba, mengacu pada standart bibit populasi setempat,dan regional.</li>
<li>Tidak adanya kelainan/cacat tubuh yang dapat menurun.</li>
<li>Sehat ditunjukkan oleh mata yang bersinar, gerakan lincah tetapi tidak liar dan bebas dari penyakit.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">KRITERIA MEMILIH BIBIT SAPI Sapi Induk</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sapi induk harus dapat beranak secara teratur setiap tahun (&lt;14 bulan).</li>
<li>Turunan anak jantan maupun betina tidak cacat.</li>
<li>Skor kondisi tubuh sedang yaitu skor 5-7 (skor 1-10).</li>
<li>Aktivitas reproduksi normal.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Calon Induk</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mempunyai bobot sapih 205 hari ,bobot pada umur 12 bulan di atas rataan.</li>
<li>Bobot badan umur 365 hari di atas rataan.</li>
<li>Penampilan fenotipe sesuai dengan rumpun atau bangsa.</li>
<li>Umur di atas 12 bulan.</li>
<li>Estrus pertama umur 14 bulan sehingga kawin pertama pada umur 18 bulan, pada bobot badan &gt; 230 kg.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Calon Pejantan</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mempunyai catatan bobot sapih 205 hari di atas rataan dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) umur 1- 1,5 di atas rataan.</li>
<li>Mempunyai libido dan kualitas sperma baik</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam pembuatan kandang sebaiknya dirancang dengan memperhatikan ruang gerak sapi dan juga Bangunan kandang dilengkapi dengan ”bank pakan”, sebagai tempat untuk hijauan/ pakan serat, dan tempat pakan tambahan yang berguna untuk memudahkan sistem pemberian pakan, hal diharapkan :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Meningkatkan angka kebuntingan kebuntingan (<em>calf crops</em>).</li>
<li>Penggunaan tenaga kerja yang lebih efisien</li>
<li>Kematian ternak &lt;3% akibat meningkatnya status kesehatan ternak.</li>
<li>Nilai tambah kompos meningkat karena kualitas lebih baik dan proses pemasakan  sederhana karena proses pengadukan kompos dikerjakan oleh ternak sendiri</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">PERKAWINAN Untuk mendukung keberhasilan reproduksi yang ditunjukkan oleh jarak beranak &lt; 14 bulan, maka perkawinan dalam kandang kelompok menggunakan pejantan terpilih atau digunakan pejantan pengusik apabila perkawinan dilakukan menggunakan IB.</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="Apple-style-span" style="color:#ff0000;"><strong>Baca Juga :</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>[archives]</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/17/345/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">345</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/dsc01040.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01040</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menentukan Jenis Kelamin Itik</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/08/cara-menetukan-jenis-kelamin-itik/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/08/cara-menetukan-jenis-kelamin-itik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 08:09:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=323</guid>

					<description><![CDATA[Mengetahui jenis kelamin itik merupakan hal yang penting dalam memulai usaha peternakan itik.  apalagi jika tujuan beternak adalah untuk menghasilkan telur. adalah sangat lucu jika ternyata itik yang dipelihara ternyata lebih banyak ternak jantannya. Menentukan jenis kelamin itik gampang gampang susah. beda jika itik tersebut sudah dewasa, mungkin agak gampang membedakannya. Berikut tips yang dapat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg"><img data-attachment-id="330" data-permalink="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/08/cara-menetukan-jenis-kelamin-itik/attachment/36/" data-orig-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg" data-orig-size="236,214" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="36" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg?w=236" data-large-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg?w=236" class="alignleft size-thumbnail wp-image-330" title="36" src="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg?w=150&#038;h=136" alt="" width="150" height="136" srcset="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg?w=150 150w, https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg 236w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Mengetahui jenis kelamin itik merupakan hal yang penting dalam memulai usaha peternakan itik.  apalagi jika tujuan beternak adalah untuk menghasilkan telur. adalah sangat lucu jika ternyata itik yang dipelihara ternyata lebih banyak ternak jantannya. Menentukan jenis kelamin itik gampang gampang susah. beda jika itik tersebut sudah dewasa, mungkin agak gampang membedakannya. Berikut tips yang dapat anda pilih dalam menentukan jenis kelamin DOD.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Hand Sexing; Hand sexing adalah cara menentukan bebek jantan betina dengan memegang dan melihat bagian anus / dubur / kloaka bebek. Pegang bebek dengan tangan kiri dengan punggung ke arah bawah serta tangan kanan membuka dubur. Jika ada tonjolan runcing warna putih seperti akar kecambah maka itu jantan, sedangkan apabila tidak ada maka betina. Voice Sexing;</li>
<li>Voice sexing adalah cara menentukan bebek jantan betina dengan mendengar suaranya. Pegang bebek dan tekan bagian pangkal leher di dekat tembolok. Jika suara serak maka jantan dan jika melengking nyaring itu bebek betina.</li>
<li>Bend Sexing; Bend sexing adalah cara membedakan kelamin betina dan jantan anak bebek/itik dod (day old duck) dengan melihat gerak-gerik bebek. Yang jantan kepala lebih besar, badan lebih besar, warna bulu gelap, gerakan lebih tenang, bulu kepala kasar panjang, paruh runcing gelap melengkung, sedangkan yang betina kebalikannya</li>
</ol>
<div style="text-align:justify;"><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/06/08/cara-menetukan-jenis-kelamin-itik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">323</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/36.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">36</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penanganan Semen Beku</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/26/penanganan-semen-beku/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/26/penanganan-semen-beku/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 06:02:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=247</guid>

					<description><![CDATA[Angka kebuntingan pada ternak sapi dengan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB), dipengaruhi oleh beberpa faktor, antara lain : a). Ketepatan deteksi berahi; b). deposisi semen dalam organ reproduksi betina; c). kualitas semen yang dipergunakan; d). kondisi organ reproduksi ternak betina. Kualitas spermatozoa yang terkandung dalam semen beku sangat dipengaruhi oleh Bagaimana penananganan semen pada saat penyimpanan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Angka kebuntingan pada ternak sapi dengan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB), dipengaruhi oleh beberpa faktor, antara lain : a). Ketepatan deteksi berahi; b). deposisi semen dalam organ reproduksi betina; c). kualitas semen yang dipergunakan; d). kondisi organ reproduksi ternak betina.</p>
<p style="text-align:justify;">Kualitas spermatozoa yang terkandung dalam semen beku sangat dipengaruhi oleh Bagaimana penananganan <span id="more-247"></span>semen pada saat penyimpanan, transportasi, thawing dan penyuntikan pada organ reproduksi.</p>
<p style="text-align:justify;">PENANGANAN SEMEN BEKU DALAM KONTAINER</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Segera periksa kondisi container, kondisi nitrogen cair, kondisi straw baik mengenai jumlah dan motilitas sperma setelah thawing.</li>
<li>Jika kondisi N2 cair dianggap kurang segera lakukan penambahan nitrogen dan segera tutup kembali container, karena kekurangan nitrogen cair akan menurunkan kualitas semen.</li>
<li>Sebaiknya diberi label petunjuk isi per canister untuk memudahkan pengambilan oleh petugas IB</li>
<li>Semen beku harus selalu dalam rendaman nitrogen cair atau apabila hanya terdapat satu canister maka volume nitrogen cair minimal 1/3 tinggi container</li>
<li>Untuk mengecek  nitrogen cair dapat digunakan mistar atau tongkat kecil berskala yang dicelupkan kedalam container. Mistar atau tongkat berskala terssebut setelah dicelupkan kemudian dilihat Kristal es/embun yang terbentuk pada tongkat. Hal ini menandakan tinggi/volume nitrogen cair dalam container.</li>
<li>Pengambilan straw dalam canister dari container tidak boleh melebihi tinggi leher container</li>
<li>Hindari pemindahan straw dari container satu ke container lain sesering mungkin</li>
<li>Straw yang sudah dithawing tidak dapat lagi dikembalikan kedalam container</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">THAWING</p>
<p style="text-align:justify;">Thawing dapat dilakukan dengan menggunakan air hangat dengan suhu 37 – 38 derajat celcius atau dengan menggunakan air dingin. Thawing dengan menggunakan air dingin dilakukan aagak lama disbanding dengan menggunakan air hangat. Thawing dilakukan sampai tampak gelembung udara pada straw.</p>
<p style="text-align:justify;">Segera lakukan Inseminasi Buatan (IB) setelah pelaksanaan thawing untuk mendapatkan angka fertilitas yang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Betina berahi disiapkan, dengan menempatkan betina berahi dalam kandang jepit.</li>
<li style="text-align:justify;">Straw yang sudah dithawing dissenting pada AI Gun dan dimasukkan kedalam vagina</li>
<li style="text-align:justify;">Lakukan palpasi rectal untuk membantu Gun IB menuju posisi IV</li>
<li style="text-align:justify;">Semen disemprotkan pada posisi IV secara perlahan, selanjutkan Gun IB dikeluarkan dan tangan kiri petugas IB memijat lembut serviks dan vagina</li>
<li style="text-align:justify;">Setelah IB dilaksanakan, inseminator harus melakukan pencatatan dan memberikan penjelasan kepada petani dan membereskan kembali semua peralaatan IB</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/26/penanganan-semen-beku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Kesehatan Pedet</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/21/manajemen-kesehatan-pedet/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/21/manajemen-kesehatan-pedet/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 06:23:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=228</guid>

					<description><![CDATA[Induk  sapi yang bunting normal selama 283 hari (278-288 hari) akan melahirkan pedet yang fungsinya sebagai  penerus kelangsungan usaha ternak. Pedet yang baru dilahirkan harus segera mampu bernafas setelah tali pusarnya putus. Lendir yang membasahi  lubang hidungnya harus segera dibersihkan, dan tubuh dikeringkan dengan kain yang agak kasar disertai tekanan tangan yang keras. Kalau pedet [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Induk  sapi yang bunting normal selama 283 hari (278-288 hari) akan melahirkan pedet yang fungsinya sebagai  penerus kelangsungan usaha ternak. Pedet yang baru dilahirkan harus segera mampu bernafas setelah tali pusarnya putus. Lendir yang membasahi  lubang hidungnya harus segera dibersihkan, dan tubuh dikeringkan dengan kain yang agak kasar disertai tekanan tangan yang keras. Kalau pedet tidak bisa bernafas, perlu dirangsang melalui hidungnya dengan menggunakan tangkai sendok yang bersih, atau dengan jari tangan, sedalam lebih kurang 5 cm. Hal tersebut dimaksudkan untuk merangsang ujung syaraf di hidung, yang selanjutnya akan merangsang pusat pernafasan. Cara merangsang pernafasan dengan jalan menempatkan kedua kaki belakang di atas dan kepala dibawah, hingga pedet dalam posisi <span id="more-228"></span>tergantung, yang diikuti dengan hentakan keras telapak tangan pada dinding dada berkali-kali,tidak dibenarkan. Tali pusar diikat lebih kurang 5 cm dari dindingperut, lalu didesinfeksi dengan alkohol 70% atau desinfektan lainnya. sisa tali pusar dipotong dan bagian yang tinggal mencegah terjadinya radang pusar (Omfalitis).</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila pedet diletakkan di depan induknya, segera induk tersebut membersihkan badab pedet dengan menggunakan lidahnya. Pembersihan yang dilakukannya disertai tekanan, hingga merupakan pijatan yang dapat merangsang peredaran darah anaknya. Biasanya pedet tersebut segera bangkit dan mencari ambing induknya untuk memperoleh kolustrum.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila tidak mampu berdiri sendiri sebaiknya pedet tersebut dibantu berdiri sampai sanggup menyusu sendiri. Pedet dapat dikumpulkan induknya, yang lamanya tergantungpada cara beternak.</p>
<p style="text-align:justify;"> Pedet dan induknya disarankan dibiarkan selama 24 jam. Dalam peternakan besar biasanya pedet umur 1 hari segera dipisahkan dari induk, dikumpulkan dan ditempatkan dikandang pedet yang bersih, tidak berdebu, empuk, kering dan lebih hangat. Dapat juga pedet-pedet tersebut ditempatkan di dalam kandang terpisah, dengan ukuran 0,6 x 1.0 m. Tempat minum dan makan pedet harus disediakan terpisah dan secara rutin dicuci sebelum diisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum berumur 3 bulan, bila dikehendaki, tanduk pedet perlu dihilangkan.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>KEMATIAN PEDET</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Kematian pedet biasanya sejalan dengan a). skala usaha, makin besar ukuran suatu peternakan jumlah kematian jg makin tinggi, b). Perawat dalam peternakan, c). Jumlah kolustrum yg diberikan, apbila jumlah kolustrum yang diberikan kurang, pedet jadi lemah, d). Perkandangan, pedet yang dipelihara secara individual biasanya lebih kecil angka kematiannya dan f). Musim, pedet yang dilahirkan waktu musim hujan mungkin lebih mudah mengalami infeksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kematian pedet sampai umur 1 bulan bisa berkisar antara 3-30% (rata-rata 10 %).kematian yang mencapai 20 % menyebakan penurunan keuntungan usaha sampai 38 %. Penyebab kematian yang dipandang memiliki arti ekonomik dalam peternakan meliputi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keluron, lahir mati dan cacat bawaan. Kematian pedet juga meliputi yang disebabkan oleh penyakit-penyakit bruselosis, leptospirosis, distokia dan cacat bawaan (misalnya kare bawaan (misalnya karena BVD). Kematian ini biasanya mencapai 2-3% dari pedet yang dilahirkan</li>
<li>Diare akut, yang dapat mencapai 75 % dari pedet sampai umur 1 bulan. Disebabkan agen E.coli, Salmonella, Clostridium perfringens tipe C, Rota dan Corona Virus, Cryptosporodia dan Eimeria sp.</li>
<li>Diare kronik, disebabkan oleh rendahnya kualitas milk replacer.</li>
<li>Omfaloflebitis, yaitu radang pusar dan pembuluh darah, disebkan oleh kuman E.coli, Corynebacterium, dan kuman lain.</li>
<li>Septisemia, yang dialami pedet umur kurang dari 1 minggu karenakurangnya kolustrum(agammaglobulinemia)dan terbanyak disebabkan E.coli.</li>
<li>Pneumonia Enzootik, dialami pedet 1-2 bulan karena hewan selalu dikandangkan, dan mengalami infeksi kuman atau virus. Kematian bisa mencapai 15 %darikematian pedet sampai umur 6 bulan.</li>
<li>Penyakit nutrisional, kematian pedet berlangsung lambat terutama karena malnutrisi, defisiensi mineral (Cu, Zn, Fe) dan umur penyapihan pedet yang terlalu muda.</li>
<li>Parasit Gastrointestinal, selain malnutrisi, di daerah tropik parasit internal cacing menyebabkan kematian pedet umur 2 bulan ke atas yang sangat tinggi. Parasit yang paling banyak ditemukan meliputi Neoascaris vitulorum, Trichostrongylus, Ostertagia, Nematodirus, bunostomum dan Haemonchus contortus.</li>
<li>Pneumonia verminosa, yang disebabkan oleh cacingDictyocaulus viviparus. Pedet yang terserang terbanyak berumur 4-5 bulan keatas.</li>
<li>Ektoparasit, yang mungkin berbentuk caplak, lalat, kutu dan tungau.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencegah penularan agen penyakit yang tersebut di atas, faktor lingkungan yang perlu dihindari meliputi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>overcrowding, pedet berbagai tingkat umur ditempatkan sekandang dan berdesakan,</li>
<li>Kelembaban dan suhu meningkat akibat overcrowding , hingga terbentuk timbunan mikroorganisme.</li>
<li>Ventilasi yang tidak lancar hingga menyebabkan gangguan respirasi</li>
<li>Penempatan kandang pedet terlalu dekat dengan sapi dewasa.</li>
</ol>
<p style="font-size:12pt;text-align:justify;" lang="IN">Agar kematian pedet tetap kecil perlu dilakukan pemantauan melalui recording yang meliputi ;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Jumlah pedet hidup dan tanggal lahir masing-masing hewan.</li>
<li>Jumlah pedet yang mati dan tanggal kematiannya.</li>
<li>Jumlah pedet sakit, diagnosis danterapinya. Jenis obat dan dosis perlu dicatat.</li>
<li>Jumlah pedet mati, dan diagnosis pasca mati.</li>
<li>Kecepatan pertumbuhan dan ukuran pedet</li>
<li>Efisiensi pakan, jumlah dan jenisnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENCERNAAN MAKANAN PEDET PASCA LAHIR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sampai berumur lebih kurang 3 minggu, pencernaan makanan pedet masih dalam fase pre-ruminal, yang berarti rumen belum berfungsi. Pada saat dilahirkan rumen, retikulum, dan omasum merupakan 30 % dari semua volume lambung muka dan lambung sejati. Lambung sejati abomasum menempati 70 % dari seluruh volume lambung. Pada umur 2 bulan, abomasum hanya 30 %, sedang 70% terdiri atas rumen, retikulum dan omasum. Pada sapi dewasa prosentase rumen , retikulum, omasum dan abomasum berturut-turut 80, 5, 8, dan 7%.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun rumen pedet baru berfungsi setelah umur 3 minggu, akan tetapi untuk benar-benar berfungsi baru tercapai setelah pedet berumur 8 minggu,saat pedet siap sapih. Untuk merangsang pertumbuhan rumen pedet sudah harus dikenalkandengan hijauan dan makanan penguat sejak berumur lebih kurang 1 minggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam waktu setengah jam sampai 1 jam setelah dilahirkan pedet harus memperoleh kolustrum dari induknya, atau dari induk lain bila induk mengalami gangguan sebanyak 5 % dari berat badannya. Bila pedet mengalami kesukaran menyusu pada induk, kolustrum diberikandengaan slang karet atau botol, setelah kolustrum diperah dari induk. Pemberian kolustrum kedua dilakukan 12 jam kemudian sebanyak 4-5 % dari berat badan. Dapat juga pemberian dalam 24 jam dilakukan 3 kali dengan jumlah 12-15 % dari berat pedet.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>GANGGUAN PENCERNAAN PEDET</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pedet yang baru saja dilahirkan harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar yang sangat berbeda dengan saat masih di kandungan induknya. Kehidupan in utero yang hangat, makanan yang  serba kecukupan, bebas hama(steril) dan tanpa perlu mengeluarkan tenaga harus berganti dengan kehidupan yang penuh tantangan. Tantangan hidup yang harus dihadapi pedet antara lain berupa pergantian cuaca, ketidaksterilan lingkungan, pakan yang kurang tercukupi dll. Pedet  yang   baru dilahirkan tidak dibekali oleh induknya zat kebal seperti pada hewan yang lain. Karena sifat alami induknya, pedet terlahir dalam keadaan defisiensi vitamin A. sapi betina Induk hanya  mampu melahirkan, mungkin membersihkan anaknya, serta memberikan kolustrum dan air susu. Cairan tubuh tersebut sangat  penting untuk jaminan kelangsungan hidup pedet. Kolustrum harus diterima oleh si pedet terutama pada 24 jam pertama setelah   kelahiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor pengelolaan  peternakan dan lingkungan yang sering berpengaruh atas pencernaan pedet meliputi sanitasi yg jelek, kandang becek, ventilasi udara yg kurang baik, dan keadaan kandang yang gelap. Penempatan pedet-pedet secara berdesakan, merupakan pengelolaan peternakan yang memacu gangguan pencernaan. Kurangnya penyediaan air bersih serta pemberian kolustrum maupun air susu juga memudahkan terjadinya ganguaan pencernaan pedet. Kekurangan kolustrum dan air susu mungkin disebabkan oleh kondisi induk yang jelek, baik itu karena terlalu muda dikawinkan, kedengki, atau karena adanya gangguan pada ambingnya. Air susu juga tidak akan cukup terbentuk bila sapi menderita cacingan dan malnutrisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan pencernaan pada pedet sampai umur 1 bulan yang sering terjadi adalah diare kemudian diikuti kelemahan umum karena kedinginan, kelaparan, infeksi pusar, inf eksi cacing dan penyakit defisiensi. Terjadinya penyakit infeksi oleh virus maupun kuman berkaitan erat dengan kekebalan pasif pedet yang diperoleh dari induknya, yang diberikan melalui kolustrum dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan pencernaan makanan pedet yang paling banyak ditemukan serta paling mendatangkan kerugian adalah penyakit infeksi yang disertai dengan gejala diare (calf scour). Agen-agen penyakit yang paling sering menyebabkan diare meliputi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kuman : E.coli, Salmonella sp, dan Clostridium perfringens tipe A, B, dan C.</li>
<li>Virus : Rota-virus, Corona-virus dan Bovine viral diarrhea.</li>
<li>Protozoa : Eimeria sp.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Diare pada pedet yang lebih tua umumnya banyak disebabkan oleh infeksi cacing. Di Indonesia hal tersebut terutama penting pada pedet-pedet yang berumur kurang dari  3 bulan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>VITAMINISASI DAN MINERALISASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Komponen dalam pakan pada umumnya terdiri atas ; air, hidrat arang, lemak, protein, vitamin dan mineral. Unsur yang harus tersedia cukup agar seekor hewan mampu memelihara fungsi faalinya adalah unsur air. Biasanya kekurangan unsur-unsur lainnyatidak akan menyebabkan kerugian yang segera teramati dan dirasakan. Semua hewan yang dipelihara harus mendapatkan air ad libitum . seekor sapi yang tidak berproduksi dan diberi pakan kering setiap hari memerlukan 45-55 liter. Kekurangan air sampai 10 % dari berat badan dapat mengancam kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hidrat arang dan lemak diperoleh dari hijauan dan konsentrat berfungsi untuk menjaga suhu tubuh, bahan bakar dalam proses kegiatan jaringan. Setelah kelahiran setiap hari diperlukan tambahan konsentrat 0,5 – 1 kg. Hal yang sangat perlu diperhatikan untuk tidak memberikan konsentrat berlebihan karena memyebabkan obesitas sehingga memudahkan gangguan metabolisme dan penyakit menular.</p>
<p style="text-align:justify;">Protein dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan maupun alat vital tubuh. Di dalam rumen protein dimanfaatkan oleh mikroflora untuk pertumbuhannya. Sapi sebesar 500 kg memerlukan 0,3 kg protein yang dapat dicerna. Jumlah protein di dalam ransum dapat memenuhi 135-145 % dari jumlah protein di dalam air susu. Defisiensi protein menyebabkan hewan mudah mengalami infeksi, pertumbuhan terganggu, dan jika pada induk yang bunting menyebabkan pedet yang dilahirkan kekurangan zat kebal dari kolustrum. Karena protein termasuk bahan pakan mahal maka dapat digantikan dengan pemberian urea, biuret dan senyawa amonium. Urea selain dapat berguna juga dapat menyebabkan keracunan, sehingga harus dicampur secara sempurna dan tidak diberikan melebihi 1% dari ransum total, atau 3 % dari konsentrat. Selain itu urea harus diberikansedikit demi sedikit dan tidak boleh diberikan pada sapi yang terlalu lapar. Urea sebanyak 1 kg memiliki nilai setara dengan 2,8 kg protein.</p>
<p style="text-align:justify;">Vitamin pada dasarnya dapat dibentuk di dalam rumen hewan memamah biak. Vitamin B kompleks  sepenuhnya dapat disintesis oleh mikroba di dalam rumen sehingga penambahan vitamin tersebut dari luar tidak diperlukan. Vitamin A dan karoten terdapat di dalam hijauan daun. Kegunaan vitamin A untuk pemeliharaan penglihatan, menjaga selaput lendir, perbaikan jaringan yang mengalami luka, peningkatan kemampuan reproduksi, serta menjaga integritas kelenjar. Defisiensi vitamin A menyebabkan rabun senja, pertumbuhan pedet terhambat, menyebabkan gangguan syaraf, diare, serta penurunan reproduksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Vitamin D diperlukan untuk pertumbuhan tulang, penyerapan calsium dari usus dan depositnya kedalam tulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Defisiensi vitamin D menyebabkan rachitis yang ditandai dengan bengkoknya kaki-kaki, persendian yang menonjol, dan kelemahan umum. Vitamin D terdapat dalam biji-bijian dan daun-daunan. Ergosterol dalam hijauan di dalamkulit akan diubah menjadi kalsiferol(vitamin D<sub>2</sub>) dengan bantuan sinar ultraviolet.</p>
<p style="text-align:justify;">Vitamin E dapat diperoleh dari biji-bijian maupun hijauan pakan ternak. Kekurangan unsur tersebut dapat memicu gejala penyakit white muscle disease (WMD), yang ditandai dengan kekakuan otot, kesulitan bernafas dan lumpuh pada anak sapi umur 3-7minggu. Pada sapi dewasa menyebabkan gangguan pada jantung sehingga memicu retensi plasenta.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur mineral yang dibutuhkan oleh sapi meliputi Ca, P, Mg, K, Na, Cl, S, I, Fe, Cu, Co, Mn, dan Se. Unsur-unsur tersebut dibutuhkan dalam pembentukan tulang, untuk menyusun protein dan lemak yang terdapat di dalam jaringan otot, alat-alat tubuh dan sel-sel darah serta dalam pembentukan sitem enjimatik. Mineral juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan asam-basa serta menjaga kemampuan kontraksi otot dan kepekaan syaraf.</p>
<p style="text-align:justify;">artikel tentang kesehatan ternak dapat dapat <span style="color:#0000ff;"><a href="http://infokesehatanternak.wordpress.com" target="_blank">klik disini</a></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;">ditulis oleh&#8230;drh. Endang sulastri</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/21/manajemen-kesehatan-pedet/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ransum Ternak Sapi Penggemukan</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/15/ransum-ternak-sapi/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/15/ransum-ternak-sapi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 14:29:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=215</guid>

					<description><![CDATA[Usaha penggemukan sapi potong lokal sebagian besar merupakan usaha peternakan rakyat dalam skala usaha pemilikan kecil; dan secara teknis belum berwawasan  agribisnis sehingga produktivitas dan pendapatan peternak relatif rendah. Tingkat Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) yang diperoleh sekitar 0,3 – 0,4 kg/ekor/hari dengan lama pemeliharaan &#62; 1 tahun. Beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Usaha penggemukan sapi potong lokal sebagian besar merupakan usaha peternakan rakyat dalam skala usaha pemilikan kecil; dan secara teknis belum berwawasan  agribisnis sehingga produktivitas dan pendapatan peternak relatif rendah. Tingkat Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) yang diperoleh sekitar 0,3 – 0,4 kg/ekor/hari dengan lama pemeliharaan &gt; 1 tahun. Beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas sapi penggemukan adalah sapi bakalan yang digunakan belum memenuhi standart bibit dan belum memanfaatkan sumberdaya pakan potensial seoptimal mungkin. Untuk memperoleh produktivitas yang optimal, maka perlu diperhatikan syarat bibit yang baik dan mempunyai skor kondisi tubuh sedang sampai dengan baik, serta dukungan pakan yang baik dan ekonomis. Dalam informasi terbatas ini disampaikan strategi penggemukan sapi potong yang layak sehingga  dapat dicapai PBBH dan keuntungan ekonomis yang optimal, a.l. meliputi pemilihan bakalan, (bangsa, sex, umur,  bobot badan dan  kondisi awal ternak), manajemen pakan. Berikut ini adalah contoh ransum anjuran <span id="more-215"></span>untuk usaha penggemukan sapi</p>
<table width="481" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="3" width="49">
<p align="center"><strong>Ling. dada</strong></p>
<p align="center"><strong>(Cm)</strong></p>
</td>
<td rowspan="3" width="120">
<p align="center"><strong>Bahan Pakan</strong></p>
</td>
<td colspan="4" valign="top" width="312">
<p align="center"><strong>Jumlah pemberian per ekor per hari</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="312">
<p align="center"><strong><em>Pilihan ransum</em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>A</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>B</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>C</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>D</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8" width="49">
<p align="center"><strong>145 </strong></p>
<p align="center"><strong>sd </strong></p>
<p align="center"><strong>155</strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="120"><strong><em>Untuk komposisi hijauan dapat pilih</em></strong></td>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(1). Rumput : 13 kg  + Jerami padi : 0 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(2). Rumput : 9   kg  + Jerami padi : 2 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Dedak               (kg)</strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>6</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>5 ½</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>3</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>4 ½</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Konsentrat       (kg)            </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>3</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Urea               (Ons)        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Tetes              (liter)                      </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>½</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Kulit Kopi        (kg)                        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Ketela pohon    (kg)                   </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8" width="49">
<p align="center"><strong>156</strong></p>
<p align="center"><strong>Sd</strong></p>
<p align="center"><strong>164</strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="120"><strong><em>Untuk komposisi hijauan dapat pilih</em></strong></td>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(1). Rumput : 15 kg  + Jerami padi : 0 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(2). Rumput : 9   kg  + Jerami padi : 3 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Dedak               (kg)</strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>7 ½ </strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>6 ½ </strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>5</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>5 ½</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Konsentrat       (kg)            </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>3</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Urea               (Ons)        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Tetes              (liter)                      </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>½</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Kulit Kopi        (kg)                        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Ketela pohon    (kg)                   </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8" width="49">
<p align="center"><strong>165 </strong></p>
<p align="center"><strong>sd </strong></p>
<p align="center"><strong>172</strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="120"><strong><em>Untuk komposisi hijauan dapat pilih</em></strong></td>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(1). Rumput : 16 kg  + Jerami padi : 0 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(2). Rumput : 10 kg  + Jerami padi : 4 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Dedak               (kg)</strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>9</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>8</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>4</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>6 1/2</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Konsentrat       (kg)            </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>4</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Urea               (Ons)        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Tetes              (liter)                      </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>½</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Kulit Kopi        (kg)                        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Ketela pohon    (kg)                   </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8" width="49">
<p align="center"><strong>173</strong></p>
<p align="center"><strong> sd </strong></p>
<p align="center"><strong>179</strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="120"><strong><em>Untuk komposisi hijauan dapat pilih</em></strong></td>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(1). Rumput : 20 kg  + Jerami padi : 0 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="312"><strong>(2). Rumput : 10 kg  + Jerami padi : 5 kg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Dedak               (kg)</strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>10</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>8</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>3</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>8</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Konsentrat       (kg)            </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>5</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Urea               (Ons)        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1 <em>ons</em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Tetes              (liter)                      </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>1</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Kulit Kopi        (kg)                        </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>2</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="120"><strong>Ketela pohon    (kg)                   </strong></td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>3</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">catatan:</p>
<p style="text-align:justify;">untuk mengganti rumput gajah/rumpu lapangan dengan tebon segar (batang jagung)</p>
<p style="text-align:justify;">patokannya : 1 kg rumput gajah = 0,75 tebon basah</p>
<p><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/15/ransum-ternak-sapi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">215</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Operasional BIOGAS</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/06/operasional-biogas/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/06/operasional-biogas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 May 2011 18:19:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=170</guid>

					<description><![CDATA[Potensi BIOGAS sangat strategis oleh sebab itu perlu didorong dan dikembangkan. Pemanfaatan limbah ternak pada gilirannya akan membantu pemerintah dalam mengurangi pemanasan global. Kesetaraan BIOGAS asal ternak dengan sumber energy lain adalah 1 meter kubik BIOGAS setara dengan : Elpiji …………………………………..    0,46 liter Minyak Tanah ……………………    0,62 liter Solar ………………………………….    0,52 liter Bensin ………………………………     [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Potensi BIOGAS sangat strategis oleh sebab itu perlu didorong dan dikembangkan. Pemanfaatan limbah ternak pada gilirannya akan membantu pemerintah dalam mengurangi pemanasan global. Kesetaraan BIOGAS asal ternak dengan sumber energy lain adalah <span id="more-170"></span> 1 meter kubik BIOGAS setara dengan :</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg"><img data-attachment-id="333" data-permalink="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/06/operasional-biogas/k/" data-orig-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg" data-orig-size="448,336" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;4.5&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;DSC-W220&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259831132&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;12.7&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.4&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="k" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=300" data-large-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=448" class="alignleft size-thumbnail wp-image-333" title="k" src="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" srcset="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=150 150w, https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Elpiji …………………………………..    0,46 liter</p>
<p style="text-align:justify;">Minyak Tanah ……………………    0,62 liter</p>
<p style="text-align:justify;">Solar ………………………………….    0,52 liter</p>
<p style="text-align:justify;">Bensin ………………………………     0,80 liter</p>
<p style="text-align:justify;">Kayu Bakar ………………………..    3,50 kg</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memanfaatakan memanfaatakn gas limbah peternakan dapat memperoleh manfaat</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Membantu menurunkan emisi rumah kaca dan memperlambat laju pemanasan global</li>
<li>Dapat menghemat pengeluaran, dengan memanfaatakan BIOGAS dapat  : a). mengurangi pengeluaran untuk pembelian bahan bakar; b). hasil buangan BIOGAS dapat dimanfaatakn sebagai pupuk untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia, sehingga dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.</li>
<li>Mewujudkan peternakan yang bersih dan mengurangi pencemaran lingkungan</li>
<li>Membuka lapangan kerja baru</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">CARA OPERASIONAL BIOGAS</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Siapkan kotoran ternak<a href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="336" data-permalink="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/06/operasional-biogas/e/" data-orig-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg" data-orig-size="200,150" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.5&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 80 IS&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1234452856&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;9.681&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;80&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.008&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="e" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg?w=200" data-large-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg?w=200" class="alignright size-thumbnail wp-image-336" title="e" src="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" srcset="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg?w=150 150w, https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg 200w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a></li>
<li style="text-align:justify;">Aduk dan campur dengan air, dengan perbandingan 1 : 2 (1 bagian kotoran : 2 bagian air), lalu alirkan kedalam reactor BIOGAS.</li>
<li style="text-align:justify;">Pengisian dilakukan melalui saluran pemasukan (inlet) secara terus menerus hingga reactor BIOGAS penuh (60% bagian biodigester), sehingga jika diisi terus akan mengalir kesaluran pembuangan (outlet).</li>
<li style="text-align:justify;">Setelah penuh didiamkan sekitar 2 minggu, dengan posisi kran tertutup</li>
<li style="text-align:justify;">Hasil dari fermentasi selama 2 minggu akan terlihat dan biasanya gas methan sudah terkumpul pada bagian atas reactor dan siap untuk digunakan</li>
<li style="text-align:justify;">Selama BIOGAS dipakai jumlah biogas akan berkurang, maka diperlukan pengisian agar jumlah produksi BIOGAS tetap stabil.</li>
<li style="text-align:justify;">Hindari adanya pemasukan deterjen atau kaporit yang berlebihan kedalam reactor</li>
<li style="text-align:justify;">Usahan dilakukan pengontrolan pada kran stabiliser, yang berguna untuk pembuangan air jika kandungan air sudah berlebihan</li>
</ol>
<div style="text-align:justify;"><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/06/operasional-biogas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">170</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/k.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">k</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/e.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">e</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAY (Rumput Kering)</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/hay-rumput-kering/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/hay-rumput-kering/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 07:07:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=164</guid>

					<description><![CDATA[Upaya pengawetan hijauan makanan ternak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dalam bentuk silase dan HAY. Pengawetan makanan dengan cara dikeringkan atau biasa disebut dengan HAY. HAY adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipototng potong dan dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau dengan panas buatan hingga kadar airnya berkisar antara 10 -15%. Pada tulisan kali ini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="341" data-permalink="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/hay-rumput-kering/dsc00817/" data-orig-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg" data-orig-size="400,300" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;DSC-W220&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1264335110&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;21.4&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.000625&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="DSC00817" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=300" data-large-file="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=400" class="alignleft size-thumbnail wp-image-341" title="DSC00817" src="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" srcset="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=150 150w, https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Upaya pengawetan hijauan makanan ternak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dalam bentuk silase dan HAY. Pengawetan makanan dengan cara dikeringkan atau biasa disebut dengan HAY. HAY adalah hijauan makanan ternak yang sengaja <span id="more-164"></span>dipototng potong dan dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau dengan panas buatan hingga kadar airnya berkisar antara 10 -15%. Pada tulisan kali ini pembuatan HAY dilakukan dengan bantuan sinar matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">BAHAN DAN PERALATAN</p>
<p style="text-align:justify;">Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan HAY ini adalah rumput yang berbatang kecil tujuannya adalah agar mudah dikeringkan. Rumput tersebut misalnya Brachiaria decumbens (BD), setaria, star grass dan lain lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Peralatan yang digunakan adalah alat pemotong rumput, penjemuran bias berupa halaman yang luas atau tempat yang sengaja dibuat khusus, garpu untuk pembalikan saat dijemur, alat pengepakan dan tempat penyimpanan HAY.</p>
<p style="text-align:justify;">CARA PEMBUATAN</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Sebaiknya pembuatan HAY dilakukan diakhir musim hujan, dengan harapan pada saat itu cuaca cukup tinggi dan masih terdapat hujan sehingga rumput setelah dipotong masih memungkinkan tumbuh dengan baik karena masih tersedia cukup air. Rumput yang baik adalah rumput yang menjelang masa berbunga.</li>
<li style="text-align:justify;">Rumput yang telah dipotong kemudian dijemur dengan ketebalan yang cukup. Pada saat dijemur rumput sebaiknya dibolak balik dengan menggunakan garpu. Pembalikan tersebut dimaksudkan agar rumput dapat kering secara merata. Semakin sering dilakukan pembalikan maka hasil pengeringan semakin baik.</li>
<li style="text-align:justify;">Pada sore hari atau menjelang turun hujan, rumput dikumpulkan dan ditumpuk kemudian ditutupi terpal atau bahan yang tidak tembus air hujan. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi rumput dari embun yang turun pada malam hari atau air hujan. Pada hari berikutnya dilakukan penjemuran lagi dan tetap dilakukan pembalikan.</li>
<li style="text-align:justify;">Pejemuran dilakukan sampai kadar air mencapaai 10 – 15%. Biasanya untuk mencapai kadar air tersebut bisanya dilakukan penjemuran selama 3 – 5 hari  atau saat dilakukan penimbangan tidak terjadi lagi penurunan berat. Setelah itu dilakukan pengepakan atau dapat juga dilakukan dengan mesin pengepakan yaitu Hay Baller Machine, lalu disimpan pada tempat penyimpanan.</li>
<li style="text-align:justify;">Tempat penyimpanan HAY diusahakan tidak terkena air hujan dan memiliki ventilasi yang cukup baik. Selain itu sebaiknya HAY disusun secara rapi dengan memberikan jarak antara tumpukan yang satu dengan tumpukan yang lain. Hal ini dilakukan untuk memperlacar aliran udara dalam tempat penyimpanan serta memudahkan pengontrolan terhadap hama lain seperti tikus dan memudahkan dalam pengambilan saat pemberian kepada ternak.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">CIRI CIRI HAY YANG BAIK</p>
<p style="text-align:justify;">Ciri cirri HAY yang baik adalah berwarna hijau,kering tetapi tidak mudah patah, berbau harum agak manis dan wangi rumput, tidak berjamur serta tidak bercampur dengan bahan lain misalnya ranting kayu, gulma dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">CARA PEMBERIAN HAY</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberian HAY untuk ternak sapi dapat dilakukan secara langsung tanpa pemberian apa apa. Pemberiannya dapat dilakukan sepanjang hari. Perbandingan antara HAY dan rumput segar adalah 1 : 7 artinya 1 kg HAY setara dengan 7 kg rumput segar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/hay-rumput-kering/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">164</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/dsc00817.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00817</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peningkatan SDM</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/peningkatan-sdm/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/peningkatan-sdm/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 05:40:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Layanan Jasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=158</guid>

					<description><![CDATA[Pelaksanaan otonomi daerah dapat menimbulkan dampak positif atau negatif terhadap peluang ekonomi/pembangunan. Peluang ekonomi yang timbul karena otonomi daerah hanya akan efektif dimanfaatkan jika demokratisasi daerah berjalan paralel dengan otonomisasi, dan perekonomian rakyat diberdayakan untuk menjadi tulang punggungperekonomian daerah. Di bidang pertanian (termasuk peternakan) pemberdayaan dilakukan dengan merestrukturisasi sistem industri pertanian menjadi sistem agribisnis agar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan otonomi daerah dapat menimbulkan dampak positif atau negatif terhadap peluang ekonomi/pembangunan. Peluang ekonomi yang timbul karena otonomi daerah hanya akan efektif dimanfaatkan jika demokratisasi daerah berjalan paralel dengan otonomisasi, dan perekonomian rakyat diberdayakan untuk menjadi tulang punggungperekonomian daerah. Di bidang pertanian (termasuk peternakan) pemberdayaan dilakukan dengan merestrukturisasi <span id="more-158"></span> sistem industri pertanian menjadi sistem agribisnis agar proses agroindustrialisasi dengan ”value added” yang tinggi dapat menjadi kenyataan. Format penyelenggaraan peternakan yang optimal dalam era otonomi daerah adalah format yang berbasis pada ”kemandirian lokal” yang mengakui dan memahami sepenuhnya kemajemukan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, termasuk masyarakat petani dan usahataninya. Untuk merealisasikanhal tersebut maka perlu dipersiapkan dan dilaksanakan antara lain, (1) pengebalian kepercayaan masyarakat terhadap niat baik dan kemampuan pemerintah, yang harus tampil sebagai prime mover dalam merancang, merumuskan berbagai kebijakan yang memihak kepada petani, (2) menyiapkan pengembangan SDM pertanian (termasuk peternakan-red) yang sesuai dengan fungsi yang akan diperankan, (3) reformulasi berbagai perangkat kelembagaan yang sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat yang sangat majemuk, sehingga semua unsur terjamin hak-hak dan kompetensinya untuk berperan secara fungsional tanpa kehilangan identitas masing-masing, (4) menyiapkan kelembagaan dialog pada berbagai tingkat tatanan, sebagai media penyaluran aspirasi dan media untuk menciptakan konfigurasi pembangunan pertanian yang sinergis.</p>
<p style="text-align:justify;">Disini dapat disimpulkan bahwa aktor utama dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah SDM. SDM yang berkualitas baik – dalam arti daya pikir, keahlian, wawasan, keterampilan dan bermodal tinggi – akan mampu mengaktualisasikan otonomi daerah ke arah pembangunan daerah seperti yang diharapkan. Pemda perlu mengoptimalkan SDM yang ada di daerahnya termasuk SDM yang ada di bergelut dibidang peternakan.</p>
<p style="text-align:justify;">TUJUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Menciptakan sumberdaya manusia peternak yang memiliki keterampilan yang cukup, mandiri dan mampu memainkan perannya</p>
<p style="text-align:justify;">SASARAN</p>
<p style="text-align:justify;">Tercapainya program pemerintah dibidang peternakan, yaitu pembangunan peternakan yang tangguh, mandiri.</p>
<p style="text-align:justify;">JENIS PELATIHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Jenis pelatihan yang dilaksanakan pada UPTD Perbibitan Ternak Unggul Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng adalah Magang dan Pelatihan.</p>
<ul>
<li>Penanganan Ternak Sapi</li>
<li>Penanganan Ternak Ayam</li>
<li>Pembutan Kompos</li>
<li>Penangan Penyakit Ternak</li>
<li>Pembuatan dan Pengoperasian BIOGAS</li>
<li>Pembuatan Pakan Ternak</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">FASILITAS</p>
<p style="text-align:justify;">Penginapan, Makan dan Minum, Tempat Praktek, Makalah, Alat Peraga, ruang belajar dan Prasarana dan sarana Praktek.</p>
<p style="text-align:justify;">PERSYARATAN PESERTA</p>
<ul>
<li>Umur 18 – 30 tahun</li>
<li>Berbadan sehat</li>
<li>Membayar biaya pelatihan</li>
<li>Membuat surat permohonan</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">LAMA PELATIHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Disesuaikan dengan program yang dipilih</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/05/peningkatan-sdm/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">158</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Kulit Kakao Sebagai Pakan Ternak</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/01/pemanfaatan-kulit-kakao-sebagai-pakan-ternak/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/01/pemanfaatan-kulit-kakao-sebagai-pakan-ternak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 13:46:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=151</guid>

					<description><![CDATA[Kulit kakao dikumpulkan pada suatu tempat. Setelah  terkumpul kulit kakao tersebut sebaiknya dicacah agar volumenya menjadi kecil, sebab dapat mempengaruhi kecepatan fermentasi bahan. Proses pencacahan dapat dilakukan secara manual dan mekanik. Secara manual dengan menggunakan pisau atau parang namun akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah proses penangananyan akan lebih cepat. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kulit kakao dikumpulkan pada suatu tempat. Setelah  terkumpul kulit kakao tersebut sebaiknya dicacah agar volumenya menjadi kecil, sebab dapat mempengaruhi<span id="more-151"></span> kecepatan fermentasi bahan. Proses pencacahan dapat dilakukan secara manual dan mekanik. Secara manual dengan menggunakan pisau atau parang namun akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah proses penangananyan akan lebih cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">PERMENTASI</p>
<p style="text-align:justify;">Mikroba yang digunakan adalah mikroba dari jenis aspergillus dan dapat juga menggunakan mikroba yang banyak beredar dipasaran dengan merek starbio, EM4 dan tricoderma dan lain sebainya. Namun sebainya menggunakan aspergillus karena dari beberapa pengujian aspergillus menunjukan hasil yang bagus.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Sebelum fermentasi dilakukan, sebaiknya starter yang digunakan diaktifkan terlebih dahulu sekaligus dilakukan pembiakan. Berikut adalah tahapan aktifasi :</li>
<li>Sediakan air dingin yang bebas dari kaporit sebaiknya digunakan air sumur dalam wadah.</li>
<li>Larutkan gula pasir sebanyak 1%, urea 0,5% dan NPK 0,5% kedalam air. Misalnya air yang disediakan  jumlahnya 10 kg maka kebutuhan gula 50 gram, Urea 50 gram dan NPK 50 gram</li>
<li>Masukkan bibit starter kedalam larutan air, gula, urea dan NPK sebanyak 5 gram/10 Kg air. Jika menggunakan starter cair maka volume starter adalah 5 ml/10 liter air</li>
<li>Lakukan aerasi dengan menggunakan aerator selama 36 jam.</li>
<li>Kulit kakao yang sudah dicacah ditempatkan pada ruangan yang tidak  terkena air hujan dan panas matahari langsung dan beralaskan bambu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban</li>
<li>Lakukan penyiraman diatas tumpukan bahan secara merata. Tebal tumbukan sebainya 10 cm, jika masih ada bahan maka buat tumpukan lag diatas tumpukan yang pertama dengan ketebalan yang sama, setelah itu lakukan penyiraman dengan menggunakan biakan starter. Begitu seteruanya sampai bahan telah habis.</li>
<li>Tutup tumpukan dengan menggunakan terpal untuk mengurangi masuknya mikroba pengganngu/pencemar dari udara.</li>
<li>Fermentasi dilakukan selama 6 hari.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">PENGERINGAN DAN PENGGILINGAN</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil fermentasi kulit kakao dapat diberikan langsung kepada ternak setelah fermentasi. Namun jika akan dilakukan penyimpanan sebainya hasil fermentasi dilakukan pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari langsung dapat dilakukan selama 2 – 3 hari. Setelah pengeringan dilakukan penggilingan dengan menggunakan mesin penepung atau dismill.</p>
<p style="text-align:justify;">Limbah perkebunan yang lain seperti jambu mete, kulit kopi juga dapat dijadikan pakan ternak. Prosesnya sama dengan pengolahan kulit kakao. Proses fermentasi dari limbah perkebunan tersebut juga dapat dilakukan secara bersamaan. Pada dasarnya limbah perkebunan tersebut dapat langsung diberikan kepada ternak namun dari beberapa pengujian kadar nutrisi bahan meningkat secara nyata setelah difermentasi (guntoro, et.al.(2004)</p>
<table width="435" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="151">
<p style="text-align:justify;" align="center">LIMBAH</p>
</td>
<td colspan="6" width="283">
<p align="center">KANDUNGAN NUTRISI (%)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="48">CP</td>
<td valign="top" width="48">CF</td>
<td valign="top" width="46">L</td>
<td valign="top" width="47">Ca</td>
<td valign="top" width="40">P</td>
<td valign="top" width="54">BETN</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">KULIT BUAH KOPI</td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="46"></td>
<td valign="top" width="47"></td>
<td valign="top" width="40"></td>
<td valign="top" width="54"></td>
</tr>
<tr>
<td width="151">Non Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">5,81</td>
<td valign="top" width="48">24,2</td>
<td valign="top" width="46">1,07</td>
<td valign="top" width="47">0,23</td>
<td valign="top" width="40">0,02</td>
<td valign="top" width="54">33,4</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">12,4</td>
<td valign="top" width="48">17,45</td>
<td valign="top" width="46">1,05</td>
<td valign="top" width="47">0,34</td>
<td valign="top" width="40">0,07</td>
<td valign="top" width="54">35,6</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">KAKAO</td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="46"></td>
<td valign="top" width="47"></td>
<td valign="top" width="40"></td>
<td valign="top" width="54"></td>
</tr>
<tr>
<td width="151">Non Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">7,17</td>
<td valign="top" width="48">22,42</td>
<td valign="top" width="46">2,02</td>
<td valign="top" width="47">0,12</td>
<td valign="top" width="40">0,05</td>
<td valign="top" width="54">32,1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">16,48</td>
<td valign="top" width="48">14,15</td>
<td valign="top" width="46">2,08</td>
<td valign="top" width="47">0,11</td>
<td valign="top" width="40">0,08</td>
<td valign="top" width="54">36,7</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">METE</td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="46"></td>
<td valign="top" width="47"></td>
<td valign="top" width="40"></td>
<td valign="top" width="54"></td>
</tr>
<tr>
<td width="151">Non Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">6,71</td>
<td valign="top" width="48">14,48</td>
<td valign="top" width="46">0,9</td>
<td valign="top" width="47">0,02</td>
<td valign="top" width="40">0,14</td>
<td valign="top" width="54">&#8211;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="151">Fermentasi</td>
<td valign="top" width="48">21,29</td>
<td valign="top" width="48">8,56</td>
<td valign="top" width="46">1,21</td>
<td valign="top" width="47">0,03</td>
<td valign="top" width="40">0,24</td>
<td valign="top" width="54">&#8211;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Baca Juga :<br />
[archives]</strong><!--more--></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/05/01/pemanfaatan-kulit-kakao-sebagai-pakan-ternak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">151</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Statistik 2011</title>
		<link>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/04/30/statistik-2011-3/</link>
					<comments>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/04/30/statistik-2011-3/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[uptdperbibitanternakbantaeng]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 16:33:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Statistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/?p=137</guid>

					<description><![CDATA[Populasi Ternak URAIAN P. AWAL (Ekor) POPULASI AKHIR (Kwarta/Ekor) I II III SAPI BALI 24 24 BRAHMAN CROSS 10 24 RAS PETELUR 2.000 2.000 2.000 Produksi BIOGAS BULAN PRODUKSI (Unit ) Januari 2 Pebruari 5 Maret 3 April 4 Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember TOTAL PROD. 14 Produksi Kompos Padat BULAN PRODUKSI [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Populasi Ternak <span id="more-137"></span></p>
<table width="378" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="128">
<p align="center">URAIAN</p>
</td>
<td rowspan="2" width="80">
<p align="center">P. AWAL (Ekor)</p>
</td>
<td colspan="3" width="170">
<p align="center">POPULASI AKHIR (Kwarta/Ekor)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="57">
<p align="center">I</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">II</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">III</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128">SAPI BALI</td>
<td valign="top" width="80">24</td>
<td valign="top" width="57">24</td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128">BRAHMAN CROSS</td>
<td valign="top" width="80">10</td>
<td valign="top" width="57">24</td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128">RAS PETELUR</td>
<td valign="top" width="80"></td>
<td valign="top" width="57">2.000</td>
<td valign="top" width="57">2.000</td>
<td valign="top" width="57">2.000</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128"></td>
<td valign="top" width="80"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128"></td>
<td valign="top" width="80"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="128"></td>
<td valign="top" width="80"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="57"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Produksi BIOGAS</p>
<table width="213" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">BULAN</p>
</td>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">PRODUKSI (Unit )</p>
</td>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Januari</td>
<td width="106">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Pebruari</td>
<td width="106">
<p align="center">5</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Maret</td>
<td width="106">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">April</td>
<td width="106">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Mei</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juni</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juli</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Agustus</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">September</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Oktober</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Nopember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Desember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td width="106">
<p align="center">TOTAL PROD.</p>
</td>
<td width="106">
<p align="center">14</p>
</td>
<td width="0" height="36"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Produksi Kompos Padat</p>
<table width="213" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">BULAN</p>
</td>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">PRODUKSI (Kg )</p>
</td>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Januari</td>
<td width="106">
<p align="right">40.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Pebruari</td>
<td width="106">
<p align="right">40.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Maret</td>
<td width="106">
<p align="right">20.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">April</td>
<td width="106">
<p align="right">5.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Mei</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juni</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juli</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Agustus</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">September</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Oktober</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Nopember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Desember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td width="106">
<p align="center">TOTAL PROD.</p>
</td>
<td width="106">
<p align="right">14</p>
</td>
<td width="0" height="36"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Produksi Kompos Cair</p>
<table width="213" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">BULAN</p>
</td>
<td rowspan="2" width="106">
<p align="center">PROD.  (Ltr )</p>
</td>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Januari</td>
<td width="106">
<p align="right">50</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Pebruari</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Maret</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">April</td>
<td width="106">
<p align="right">120</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Mei</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juni</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Juli</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Agustus</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">September</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Oktober</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Nopember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="106">Desember</td>
<td width="106"></td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td width="106">
<p align="center">TOTAL PROD.</p>
</td>
<td width="106">
<p align="right">170</p>
</td>
<td width="0" height="36"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://uptdperbibitanternakbantaeng.wordpress.com/2011/04/30/statistik-2011-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/2d291c3d2166638516153c9a1335946e24916163dc6468a2fcb495580444b80d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uptdperbibitanternakbantaeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
