<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Adat Budaya Minangkabau</title>
	<atom:link href="https://palantaminang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://palantaminang.wordpress.com</link>
	<description>Ndak Lakang Dek Paneh, Ndak Lapuak dek Hujan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Oct 2013 13:35:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2698348</site><cloud domain="palantaminang.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://s0.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Adat Budaya Minangkabau</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://palantaminang.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="Adat Budaya Minangkabau" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://palantaminang.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Ndak Lakang Dek Paneh, Ndak Lapuak dek Hujan</itunes:subtitle><item>
		<title>Menggairahkan Kembali Kajian Minangkabau dan Peluang Fakultas Ilmu Budaya Unand</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2013/10/20/menggairahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2013/10/20/menggairahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2013 13:35:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=928</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Humas dan Protokol Unand Minangkabau adalah objek kajian dan perbincangan yang menarik. Bagaikan sebuah sumur yang senantiasa mengeluarkan air, kajian demi kajian dan perbincangan demi perbincangan mengenai Minangkabau tetap hadir sepanjang waktu. Walaupun demikian, kajian historiografis menunjukan, ada perubahan disamping ­keberlanjutan dalam kajian dan perbincangan tentang Minangkabau tersebut. Berikut ini adalah inti sari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#333333;font-size:13px;">Oleh : Humas dan Protokol Unand</span></h2>
<div>
<div><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg"><img data-attachment-id="929" data-permalink="https://palantaminang.wordpress.com/2013/10/20/menggairahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand/unduhan/" data-orig-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg" data-orig-size="206,245" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="unduhan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg?w=206" data-large-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg?w=206" class="alignleft size-full wp-image-929" alt="unduhan" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg?w=497"   srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg 206w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg?w=126&amp;h=150 126w" sizes="(max-width: 206px) 100vw, 206px" /></a></div>
<div>Minangkabau adalah objek kajian dan perbincangan yang menarik. Bagaikan sebuah sumur yang senantiasa mengeluarkan air, kajian demi kajian dan perbincangan demi perbincangan mengenai Minangkabau tetap hadir sepanjang waktu. Walaupun demikian, kajian historiografis menunjukan, ada perubahan disamping ­keberlanjutan dalam kajian dan perbincangan tentang Minangkabau tersebut. Berikut ini adalah inti sari pemikiran yang disampaikan oleh Prof Dr Gusti Asnan, calon Dekan Fak Ilmu Budaya yang akan dilantik tanggal 1 Agustus 2013 besok, kepada Tim Humas Unand beberapa hari yang lalu.</div>
</div>
<div>
<p>Kajian atau perbincangan mengenai Minangkabau mulai marak dilakukan sejak perempat kedua abad ke-19. Gairah meneliti dan memublikasikan hasil kajian mereka ini tetap menggebu hingga dekade kedua abad ke-20. Hasil penelitian mereka itu umumnya diterbitkan dalam bentuk artikel dan buku.&nbsp; Banyaknya karya tulis tersebut terlihat dalam berbagai buku bibliografi yang khusus dibuat mengenai Minangkabau, seperti M. Joustra,&nbsp;<em>Overzich der Literatuur Betreffende Miangkabau</em>&nbsp;(1924), Mochtar Naim,&nbsp;<em>Bibliografi Minangkabau</em>&nbsp;(1975), Rusli Amran,&nbsp;<em>Daftar Artikel dan Buku Mengenai Sumatera Tengah Hingga Awal Abad ke-20 di Perpusatakaan KITLV</em>&nbsp;(1982);&nbsp;<em>Daftar Artikel dan Buku Mengenai Minangkabau di Perpustakaan Nasional RI</em>&nbsp;(1987);&nbsp;<em>Daftar Tulisan Mengenai Minangkabau di KITLV, Pernas RI, Arnas RI</em>&nbsp;(nt), Anas Navis,&nbsp;<em>Bibliografi Minangkabau</em>&nbsp;(190).</p>
<p><span id="more-928"></span>Prof Dr Gusti Asnan menjelaskan bahwa sebagai cendekiawan yang meneliti dan memublikasikan karya-karya mereka mengenai Minangkabau saat itu adalah orang asing, dan sebagian lainnya adalah “urang awak”. Namun secara umum dapat dikatakan mereka adalah peneliti dan penulis “amatir”.</p>
<p>Ditambahkan lagi oleh Prof Dr Gusti Asnan, tema yang paling banyak mereka kemukakan adalah perubahan sosial yang terjadi di Minangkabau, terutama akibat konflik dan harmoni yang terjadi pada saat Gerakan/Perang&nbsp; Paderi pada awal abad ke-19 dan Gerakan Pembaharuan Islam pada awal abad ke-20. Di samping itu juga berbagai perubahan di tengah masyarakat sebagai akibat ekspansi politik, eksploitasi ekonomi, dan&nbsp; penetrasi budaya Belanda di negeri ini. Menurutnya, berbagai penelitian dan publikasi tersebut dilakukan karena minat pribadi masing-masng penulis. Walaupun demikian, ada juga “campur tangan pemerintah”, setidaknya hal ini terlihat dari didirikannya “Minangkabau Institut” tahun 1922 yang dipimpin oleh M. Joustra.</p>
<p>Prof Dr Gusti Asnan mengungkapkan lagi bahwa karena depresi ekonomi (zaman meleset) di awal tahun 1930-an, kemudian diiringi oleh ketidakstabilan politik dunia (perang Asia Timur Raya dan Perang Dunia II di tahun-tahun terakhir 1930-an-1945), periode revolusi (1945-1949), serta ketidakstabilan politik sepanjang tahun 1950-an dan awal 1960-an, kajian dan publikasi mengenai Minangkabau mengalami penurunan yang cukup drastis. Penurunan yang paling nampak terlihat dari keterlibatan peneliti/penulis asing. Namun, dari yang tidak banyak itu ada perubahan yang cukup menarik, Minangkabau mulai menjadi ladang kajian akademisi asing. Setidaknya ada dua disertasi yang menjadikan Minangkabau sebagai tema utamanya waktu itu, yakni karya H. Bouwman (1949), dan Josselin P.E. de Jong (1960).</p>
<p>Lebih lanjut dijelaskan bahwa setelah melalui era krisis, maka sejak akhir 1960-an umumnya, dan sejak awal 1970-an khususnya kajian mengenai Minangkabau marak kembali. Maraknya kajian ini terlihat dari semakin banyaknya ilmuwan/akademisi yang menjadikan Minangkabau sebagai objek kajian mereka. Kajian yang mereka lakukan umumnya untuk keperluan pembuatan disertasi di berbagai universitas terkemuka di dunia, baik di Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan sejumlah negara lainnya. Mereka umumnya orang asing, tetapi ada juga “urang awak”. Bahkan dapat dikatakan “urang awak” inilah&nbsp; sebagai inspirator kajian mengenai Minangkabau bagi kalangan akademisi ini. “Urang awak” yang dimaksud adalah Taufik Abdullah. Karya yang hampir selalu dirujuk oleh para peneliti Minangabau era itu adalah “<em>Modernzition</em>&nbsp;<em>in</em>&nbsp;<em>the</em>&nbsp;<em>Minangkabau</em>&nbsp;<em>World</em>” (1972).</p>
<p>Sejumlah akademisi yang meneliti dan mempublikasikan karya-karya mereka pada tahun 1970-an dan 1980-an (di samping Taufik Abdullah) adalah Elizabeth E. Graves, Christine Dobbin, Audrey Kahin, Tsuyoshi Kato, Werner Kraus, Akira Oki, Joel Kahn, Kenneth R. Young, Peggy R. Sanday, Mochtar Naim, Amri Marzali (untuk menyebut beberapa nama).</p>
<p>Penelitian dan publikasi kalangan akademisi ini tidak hanya terbatas dalam bentuk disertasi, tetapi juga buku yang secara khusus dibuat untuk keperluan masyarakat luas (dan berbahasa Indonesia). Hampir semua penulisnya “urang awak”, seperti M. D. Mansoer dkk, menerbitkan buku&nbsp;<em>Sedjarah Minangkabau</em>&nbsp;(1970), Fatimah Enar,&nbsp;<em>Sumatera Barat 1945-1949</em>&nbsp;(1978), Mardjani Martamin,&nbsp;<em>Sejarah daerah Sumatera Barat</em>&nbsp;(1978), Sidi Ibrahim Buchari,&nbsp;<em>Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional diMinangkabau</em>&nbsp;(1981), &nbsp;<em>Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat</em>&nbsp;(1981), dlsbnya.</p>
<p>Di samping itu, juga ada sejumlah peneliti dan penulis yang sering disebut sebagai peneliti/penulis amatir, seoperti Rusli Amran yang menulis&nbsp;<em>Sumatera Barat Plakat Panjang</em>&nbsp;(1981),&nbsp;<em>Sumatera Barat hingga Plakat Panjang</em>&nbsp;(1985),&nbsp;<em>Perang Kamang</em>&nbsp;(1986),&nbsp;<em>Padang Riwayatmu Dulu&nbsp;</em>(1987), A. Muluk Nasution, Pemberontakan&nbsp;<em>Syarikat Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926-1927</em>&nbsp;(19881), A.A. Navis,<em>Alam Terkembang Jadi Guru</em>&nbsp;(1984), dlsbnya.</p>
<p>Kemudian dijelaskan lagi oleh Prof Dr Gusti Asnan, minat terhadap Minangkabau juga diperlihatkan oleh berbagai lembaga pemberi dana (penelitian). Volkwagen Stiftung, Toyota Foundation, Toyota Foundation, Sumitomo Faoundation, dan Ford Foundation adalah sebagian lembaga pemberi dana (penelitian) asing yang aktif membantu kegiatan penelitian dan publkasi hasil penelitian tentang Minangkaau saat itu. Menurut Tsuyoshi Kato dan Henk-Schulte Nordholt, saat itu interes lembaga/negara pemberi dana bantuan penelitian sangat besar terhadap Indonesia (dan Asia Tenggara). Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya saat itu adalah kawasan yang menjadi fokus perhatian “dunia”. Di samping itu pemerintah RI, baik pusat maupun daerah juga ikut memberikan bantuan penelitian yang cukup besar. Ada cukup banyak dana yang dimiliki Indonesia saat itu, karena repubik ini mengalami&nbsp;<em>booming&nbsp;</em>berbagai komuditas ekspor (minyak, batubara, karet, dan hasil hutan).</p>
<p>Di tengah gairah meneliti berbagai aspek sosial, politik dan budaya serta maraknya penerbitan karya-karya mengenai Minangkabau itulah Fakultas Ilmu Budaya &#8211; FIB -(dahulunya bernama Fakuats Sastra) Universitas Andalas lahir. Berbagai catatan sejarah mengenai hari-hari pertama kelahiran fakultas ini memperlihatkan betapa ilmuwan/akademisi kelas dunia ikut-serta dan memperlihatkan dukungan mereka pada pendirian Fakultas Sastra Unand saat itu. Sampai beberapa setelah pendirian itu, pakar-pakar sosial-budaya kelas wahid tersebut tetap datang dan memberikan kuliah umum di Fakultas Sastra, atau melibatkan sejumlah dosen serta mahasiswa Fakultas Sastra dalam sejumlah penelitian mereka.</p>
<p>Namun, musim berganti, zaman berubah. Tidak lama setelah Fakultas Sastra berdiri, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam tatanan politik dunia. Asia Tenggara umumnya danIndonesia khususnya tidak lagi menjadi fokus perhatian dunia. Daerah Indo China mulai aman, rezim-rezim militer (diktator) di kawasan ini bertumbangan, dan pemerintahan demokratis mulai muncul.</p>
<p>Perubahan ini juga berimbas pada perhatian ilmuwan dunia pada Minangkabau, sejak tahun 1990-an tidak banyak lagi disertasi yang dihasilkan akademisi asing yang menjadikan Minangkabau sebagai objeknya. Kalaupun ada, jumlahnya tidak sebanyak tahun 1970-an dan 1980an. Namun, ada sebuah perkembangan yang menarik. Di tengah berkurangnya keterlibatan peneliti asing, muncul banyak disertasi, tesis (dan tentu saja skripsi) yang dibuat oleh ilmuwan/ akademisi “urang awak” mengenai Minangkabau. Bahkan bisa dikatakan, hingga saat kini, jumlahnya mungkin telah melampaui karya yang dihasilkan ilmuwan/akademisi asing. Sebagian disertasi tersebut adalah buah karya dosen FIB-Unand. Para peneliti dan penulisnya bukan saja dosen yang khusus bergelut dengan dunia “keminangkabauan”, tetapi juga dosen dari Jurusan Sastra Inggris misalnya.</p>
<p>Prof Dr Gusti Asnan menjelaskan bahwa perkembangan terakhir ini, pantas diapresiasi. Sebab di tengah “lesunya” gairah peneliti dan ilmuwan asing mengkaji Minangkabau, semangat kita mengkaji apa yang kita miliki tumbuh dengan pesat. Gejala ini perlu dipertahankan dan dikembangkan. FIB-Unand umumnya dan Jurusan Sastra Minangkabau khususnya bisa (dan harus) menjadi wadah pemicu gairah dosen dan para peneliti Minangkabau ini.</p>
<p>Prof Dr Gusti Asnan sangat optimis bahwa potensi kajian Minangkabau ke depan sesungguh sangat menjanjikan. Hal ini sangat terlihat dari munculnya kegairahan orang Minangkabau (baca Sumatera Barat) untuk menjadikan Minangkabau sebagai identitas mereka. Kenyataan ini tentu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan politik identitas yang marak terjadi di Indonesia akhir-aklhir ini. Pemerintahan Provinsi Sumatera umumnya serta pemerintahan kabupaten dan kota di provinsi ini seakan-akan berlomba mengaktualkan nilai-nilai keminangkabauan dalam kehidupan (warga) daerahnya. FIB umumnya dan Jurusan Sastra Daerah khususnya harus menangkap gairah ini, misalnya dengan menjalin kerjasama penelitian dan pengembangan potensi keminangkabauan yang ada di daerah-daerah tersebut.</p>
<p>Di samping itu menurut Prof Dr Gusti Asnan, FIB umumnya dan Sastra Minangkabau khususnya juga harus kreatif mengembangkan kajian keminangkabauan dengan melahirkan inovasi-inovasi baru, misalnya mengumpulkan sebanyak mungkin dan seteruskan digitalisasi koleksi artikel, buku, atau sumber-sumber mengenai sejarah, sastra, dan budaya Minangkabau (sehingga para peneliti bisa langsung mendapatkan sumber-sumber dan data-data yan dibutuhkan di FIB-Unand), atau visualisasi dan menghadirkan berbagai produk budaya Minangkabau dalam bentuk&nbsp;<em>public history</em>, menjalin atau meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak yang sebelumnya telah berkerjasama, baik secara formal dan tidak,&nbsp; dengan FIB umumnya dan Jurusan Sastra Minangkabau khususnya.</p>
<p>Prof Dr Gusti Asnan sangat optimis setelah melakukan diskusi sengan sejumlah dosen di FIB-Unand, alumni, pemerhati sosial, budaya, dan sejarah Minangkabau bahwa semua gagasan yang dilontarkan ini bisa terwujud. Banyak pihak, setidaknya di daerah ini, yang menginginkan kajian Minangkabau itu bergairah kembali, sebab masih dibutuhkan banyak informasi mengenai keminangkabauan. Karena itu menurut dosen dan peneliti semua bidang sejauh ini, “selayaknya FIB-Unand merespon keinginan banyak pihak ini dengan ikut-serta menggairahkan kembali kajian mengenai Minangkabau”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;Sumber :&nbsp;<a href="http://www.unand.ac.id/index.php/id/berita/universitas/2417-mengarahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand">http://www.unand.ac.id/index.php/id/berita/universitas/2417-mengarahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand</a></p>
<h6>Humas dan Protokol Un</h6>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2013/10/20/menggairahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">928</post-id>	<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/10/unduhan.jpg">
			<media:title type="html">unduhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meluruskan Tafsir Nama-nama “Aneh”</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/16/meluruskan-tafsir-nama-nama-aneh-2/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/16/meluruskan-tafsir-nama-nama-aneh-2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 14:24:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[nama nama minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=920</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Andrinof A Chaniago ( http://padangekspres.co.id/?news=nberita&#38;id=3217 ) Akademisi dari Universitas Indonesia Untuk perkara menafsir nama-nama khas orang Minang saja, orang Minang ternyata bisa tersesat jauh. Seorang kawan di jaringan Facebook yang berasal dari Jawa menulis status begini, “Orang Padang setelah kekala­han Permesta tahun 1958 memang krisis identitas, jadi nama orang Minang aneh-aneh kedengarannya, macam Don Vitto, Geo­vanni, Muhammad Rika, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Andrinof A Chaniago ( <a href="http://padangekspres.co.id/?news=nberita&amp;id=3217">http://padangekspres.co.id/?news=nberita&amp;id=3217</a> )</p>
<p>Akademisi dari Universitas Indonesia</p>
<p><strong><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg"><img class=" wp-image alignleft" id="i-923" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg?w=232&#038;h=253" width="232" height="253" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg?w=232 232w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg?w=138 138w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg?w=275 275w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg 300w" sizes="(max-width: 232px) 100vw, 232px" /></a>Untuk </strong>perkara menafsir nama-nama khas orang Minang saja, orang Minang ternyata bisa tersesat jauh. Seorang kawan di jaringan<em> Facebook</em> yang berasal dari Jawa menulis status begini, “Orang Padang setelah kekala­han Permesta tahun 1958 memang krisis identitas, jadi nama orang Minang aneh-aneh kedengarannya, macam Don Vitto, Geo­vanni, Muhammad Rika, padahal nama umum orang Minang kan Sutan Azwar, Nazrul Asril, Amrullah Ka­rim atau Marah Rusli.”</p>
<p> </p>
<p>Saya tidak terlalu kaget dengan prasangka seperti itu, meski yang seperti ini selalu mengganjal hati saya. Tetapi, yang membuat saya kaget dan</p>
<p> </p>
<p>prihatin, status kawan <em>Face­booker</em> tadi diamini oleh seo­rang kolega dan senior asal Minang di bawah status yang ditulis oleh kolega yang berasal dari Jawa tadi. (Ini terjadi pada 19 April 2010)</p>
<p> </p>
<p>Di kesempatan yang lain, saya menemukan lagi pikiran yang “mengejutkan” dan mem­­buat saya makin prihatin dengan pengetahuan dan sikap sejum­lah orang Minang sendiri terha­dap nama-nama aneh orang-orang Minang. Sebuah tim yang ingin mengambil inisiatif menja­di perumus usulan syarat-syarat untuk menyebut seseorang. Sebagai orang Minang, tim itu mencantumkan rumusan usu­lan bahwa untuk disebut sebagai orang Minang, orang harus memiliki nama khas orang Mi­nang atau nama yang islami. Saya agak terperanjat sekaligus makin prihatin, membaca ide dan usulan kriteria tersebut.</p>
<p> <span id="more-920"></span></p>
<p>Orang yang paling sering melontarkan “tesis” bahwa na­ma-nama aneh orang Minang itu adalah dampak dari peristi­wa PRRI, adalah pengamat politik dan analis sejarah, yakni Fachry Ali. Fachry Ali yang secara priba­di dengan saya berada dalam jalinan hubungan sebagai senior dekat saya, sudah sering menda­pat bantahan dengan bukti empi­ris dari saya. Sebagai pe­nga­mat, ia memang sering ter­lalu mengandalkan metode in­terpretatif, walau dengan data yang terbatas.</p>
<p> </p>
<p>Belakangan, saya melihat Fachry Ali sudah tidak lagi menggunakannya. Tetapi, ce­la­­ka­nya, klaim bahwa nama-nama khas orang Minang ber­hu­­bu­ngan dengan peristiwa PRRI sudah telanjur diyakini sejumlah kalangan. Walaupun sebagian dari kita sudah per­nah juga mendengar versi lain tentang asal-usul nama “aneh” sebagian orang Minang terse­but, namun nyatanya klaim yang keliru itu tetap masih dipercaya oleh sebagian orang Minang.</p>
<p> </p>
<p>Saya ingin tunjukkan bebe­rapa nama “aneh” orang Mi­nang yang jelas lahir sebelum peristiwa PRRI, sehingga na­ma itu diberikan orangtua mereka tidak ada hubungan dengan peristiwa PRRI. Ada Masmi­mar Mangiang, seorang ahli bahasa media yang cukup dike­nal di kalangan aktivis dan war­ta­wan senior, termasuk sa­lah satu dari banyak orang yang memiliki nama yang ber­asal dari singkatan yang punya nilai “historis”. Nama Ma­ngiang di belakang namanya adalah na­ma orangtua laki-lakinya. Na­mun nama Mas­mimar itu ada­lah singkatan dari masa (sing­katannya dija­di­kan Mas) mem­pertahankan (m) Indonesia (i) mardeka (mar) yang diambil dari suasa­na dua sete­ngah bulan sebe­lum KMB.</p>
<p> </p>
<p>Berikutnya, ada nama Wis­ber Loeis, mantan diplomat terkemuka asal Minang, yang pernah menjadi Duta Besar RI di PBB. Saya sudah lama meya­kini namanya juga berasal dari singkatan tertentu. Keyakinan ini baru saja terbukti perte­ngahan Maret 2013 lalu ketika saya bertemu beliau di sebuah resepsi. Rupanya orangtua Pak Wisber Loeis ini selain selalu melekatkan nama Loeis pada nama belakang anak-anaknya, penggalan namanya dilekat­kan lagi pada nama depan Wisber Loeis. Pak Wisber Loeis menje­laskan bahwa na­ma Wisber itu singkat dari Luwis dan Okto­ber, yang me­ru­pakan bulan kelahiran Pak Wisber Loeis. </p>
<p> </p>
<p>Masih ada beberapa nama lain yang orangnya lahir sebe­lum peristiwa PRRI. Setahu saya, Sotion Arjanggi almar­hum, mantan Ketua Umum DPP Kadin di tahun 1980-an, namanya juga berasal dari singkatan. Saya belum dapat informasi untuk nama depan Sotion. Tetapi, Arjanggi ber­asal dari Aurtajungkang Bukit­ting­gi. Pemilik nama “aneh” lainnya adalah Revrisond Bas­wir yang untuk nama Revrisond itu berasal dari<em>revolusionary sound </em>(suara revolusioner).</p>
<p> </p>
<p>Beberapa contoh orang Mi­nang yang memakai nama “aneh” di atas, kiranya cukup untuk mementahkan tesis Fach­ry Ali yang mengatakan nama-nama aneh orang Mi­nang itu akibat peristiwa PRRI. Penje­lasan yang bisa diterima atas munculnya nama-nama “aneh” pada se­jumlah orang Minang adalah, kebiasaan sebagian keluarga membuat nama-nama yang ber­asal dari singkatan tertentu dan memiliki kaitan dengan peristiwa sejarah terten­tu. Hal ini, menurut hemat saya, berkaitan dengan ciri orang Minang yang selalu ber­upaya kreatif untuk meng­hasil­kan sesuatu yang khas di mata orang lain. Hal ini juga bisa dilihat dari sejarah jenis-jenis makanan dan minuman di Sumatera Barat sekarang.</p>
<p> </p>
<p>Secara personal, saya su­dah melakukan pelurusan tesis Fachry Ali tersebut kepada yang bersangkutan. Nama saya memang aneh dan berbau Barat. Tetapi, walaupun saya lahir setelah peristiwa PRRI, nama Andrinof itu tidak ada hubungannya dengan PRRI. Andrinof adalah ciri sebagian orangtua Minangkabau dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Andrinof diambil dari tiga suku kata: an (mungkin maksud orangtua saya untuk nama panggilan), dri yang berasal dari <em>drei</em> atau <em>dri</em> (dekat ke Bahasa Jerman atau Belanda) yang artinya tiga, dan nof yang berasal dari Nof(v)ember. Artinya, mama ini berasal dari tanggal dan bulan kelahiran saya, yakni 3 November.</p>
<p> </p>
<p>Kalau mau objektif mem­buat kategorisasi, nama-nama orang Minang berasal dari dua budaya besar, yakni Arab dan Barat. Kebetulan Arab itu diidentikkan dengan Islam, walau dalam kenyataannya, jumlah Arab Kristen juga signi­fikan di Mesir, Libanon dan Irak. Nama-nama berpen­garuh Arab sebetulnya lebih banyak melekat pada perem­puan Minang, seperti Siti Fati­mah, Kamila, Jamillah, Habi­bah, dan sebagai. Sementara nama-nama bernada Barat lebih banyak diberikan kepada laki-laki, seperti John, Edward, Don, Meizon, Wisber, dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>Di antara nama-nama yang bernada Barat itu bahkan ada yang sangat identik dengan nama laki-laki Kristen. Samuel Koto, mantan fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi fungsionaris Partai Hanura, jelas orang Minang. Begitu juga kawan saya Oktavianus Rizwa yang bermukim di Padang sebagai pengacara, pastilah orang Mi­nang. Tentu aneh sekali kalau saya dan orang-orang yang bernama Barat tadi mau dija­di­kan orang Minang kelas dua. Seberapa Islami kita, hanya Allah SWT yang tahu. Nama tidak akan menjamin seseo­rang pasti sangat Islami. <em>Toh</em>, beberapa nama politisi yang Islami dan berasal dari Partai Islam juga menjadi narapidana karena melakukan korupsi.</p>
<p> </p>
<p>Maka, mari kita luruskan saja cara berpikir kita dalam melihat sesuatu. Lihatlah se­sua­tu itu dengan jernih, obyek­tif dan dengan sedikit usaha untuk menyelidiki sebab-aki­bat­nya. Kalau tidak mau dan tidak bisa, janganlah latah lalu timbang setiap gagasan se­berapa besar manfaat dan kerugian yang akan timbul bila kita mengusulkan sesuatu dan mengamini pernyataan spe­kulatif orang lain. <strong>(*)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/16/meluruskan-tafsir-nama-nama-aneh-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">920</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/30032013124315andrinof-chaniago1.jpg?w=290">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pupuik Batang Padi, Instrumen Tiup Sederhana Pengiring Ritual</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/07/pupuik-batang-padi-instrumen-tiup-sederhana-pengiring-ritual/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/07/pupuik-batang-padi-instrumen-tiup-sederhana-pengiring-ritual/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 04:49:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=896</guid>

					<description><![CDATA[Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdapat instrumen musik yang unik bernama pupuik batang padi. Seperti namanya, alat musik tiup ini terbuat dari batang padi yang sudah tua dan berbuku. Meskipun hanya terbuat dari batang padi, alat ini menjadi bagian dari hiburan rakyat yang menyemarakkan kehidupan masyarakat Minangkabau. Proses pembuatan pupuik (puput) batang padi terhitung sederhana. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg"><img class="size-full wp-image alignleft" id="i-899" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg?w=190" width="190" height="285" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg?w=190 190w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg?w=100 100w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg 200w" sizes="(max-width: 190px) 100vw, 190px" /></a>Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdapat instrumen musik yang unik bernama pupuik batang padi. Seperti namanya, alat musik tiup ini terbuat dari batang padi yang sudah tua dan berbuku. Meskipun hanya terbuat dari batang padi, alat ini menjadi bagian dari hiburan rakyat yang menyemarakkan kehidupan masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Proses pembuatan pupuik (puput) batang padi terhitung sederhana. Batang padi yang sudah tua dipecah secara hati-hati di dekat pangkal bukunya. Pecahan batang itu akan membentuk semacam pita suara yang menjadi sumber bunyi. Jika ditiup, pita suara itu akan mengeluarkan bunyi yang melengking.</p>
<p>Untuk membuat suaranya semakin melengking, batang padi dapat disambung pada lintingan daun pandan atau kelapa yang membentuk corong seperti terompet. Batang padi yang sudah disambung dengan lintingan daun pandan disebut pupuik laole. Dengan tambahan corong daun pandan ini, lengkingan suara pupuik dapat terdengar hingga 2 kilometer.</p>
<p><span id="more-896"></span><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image alignright" id="i-902" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg?w=190" width="190" height="285" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg?w=190 190w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg?w=100 100w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg 200w" sizes="(max-width: 190px) 100vw, 190px" /></a>Pada dasarnya, pupuik batang padi merupakan instrumen bernada tunggal. Tetapi dengan beberapa modifikasi, instrumen ini dapat mengeluarkan alunan irama yang unik. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan melubangi batang padi di beberapa titik yang berfungsi layaknya lubang pada seruling. Permainan nada juga dapat dilakukan dengan mengatur posisi tangan menutupi ujung lubang corong daun pandan. Instrumen inipun membuat suasana perayaan panen raya menjadi semakin semarak dalam kegembiraan.<em><strong>[Ardee/IndonesiaKaya]</strong></em></p>
<p>Sumber : </p>
<p><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg"><img loading="lazy" width="440" height="293" class="size-full wp-image" id="i-905" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg?w=440" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg?w=440 440w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg?w=150 150w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg?w=300 300w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg 450w" sizes="(max-width: 440px) 100vw, 440px" /><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg"><img loading="lazy" width="190" height="285" class="size-full wp-image" id="i-906" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg?w=190" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg?w=190 190w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg?w=100 100w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg 200w" sizes="(max-width: 190px) 100vw, 190px" /></a><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg"><img loading="lazy" width="440" height="293" class="size-full wp-image" id="i-907" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg?w=440" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg?w=440 440w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg?w=150 150w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg?w=300 300w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg 450w" sizes="(max-width: 440px) 100vw, 440px" /></a><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg"><img loading="lazy" width="190" height="285" class="size-full wp-image" id="i-908" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg?w=190" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg?w=190 190w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg?w=100 100w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg 200w" sizes="(max-width: 190px) 100vw, 190px" /></a></a></p>
<p><a href="http://www.indonesiakaya.com/see/read/2013/04/19/1300/20029/4/Pupuik-Batang-Padi-Instrumen-Tiup-Sederhana-Pengiring-Ritual">http://www.indonesiakaya.com/see/read/2013/04/19/1300/20029/4/Pupuik-Batang-Padi-Instrumen-Tiup-Sederhana-Pengiring-Ritual</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2013/05/07/pupuik-batang-padi-instrumen-tiup-sederhana-pengiring-ritual/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">896</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_yang_dimainkan_untuk_membuat_semarak_suasana_panen_raya_masyarakat_di_minangkabau1.jpg?w=190">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_lilitan_daun_pandan_berfungsi_meningkatkan_volume_suara_instrumen_ini1.jpg?w=190">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_peniup_pupuik_batang_padi_meniup_alat_musik_tradisional_ini_untuk_mengiringi_perayaan_panen_raya1.jpg?w=440">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_adalah_instrumen_musik_tiup_khas_dari_agam_sumatera_barat1.jpg?w=190">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_pupuik_batang_padi_menjadi_bagian_dari_hiburan_tradisional_bagi_masyarakat_minangkabau1.jpg?w=440">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/1300_sumber_bunyi_instrumen_ini_terbuat_dari_batang_padi_tua1.jpg?w=190">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Adat, Syarak dan Kitabullah</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2013/03/13/antara-adat-syarak-dan-kitabullah/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2013/03/13/antara-adat-syarak-dan-kitabullah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 01:49:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=879</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Buya Mas&#8217;oed (Harian Umum Haluan &#124; Jumat, 08 Maret 2013)   Allah telah mentak­dirkan kita sebagai satu kaum yang me­nempati dataran ting­gi dan rendah. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam &#8211; diam mengalir terus. Akhir­nya bermuara di pinggir laut di Batang Masang dan Katia­gan. Ditingkah gemercik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Buya Mas&#8217;oed (Harian Umum Haluan | <b>Jumat, 08 Maret 2013)</b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image alignleft" id="i-884" alt="Image" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg?w=170" width="170" height="209" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg?w=170 170w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg?w=122 122w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg 180w" sizes="(max-width: 170px) 100vw, 170px" /></a>Allah</b> telah mentak­dirkan kita sebagai satu kaum yang me­nempati dataran ting­gi dan rendah. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam &#8211; diam mengalir terus. Akhir­nya bermuara di pinggir laut di Batang Masang dan Katia­gan. Ditingkah gemercik air me­nimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyu­burkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal Singgalang dan Mera­pi.  <i>Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi.. Sung­­guh­­pun risau sering meng­ganggu, kampung hala­man selalu menanti.<b> </b></i>Indah sekali.</p>
<p> </p>
<p>Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan <i>“qith’ah minal jannah fid-dunya”</i>, sepotong sorga tercampak ke bumi. Mengundang orang yang da­tang berdecak kagum. Kein­dahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.</p>
<p> </p>
<p>Pendidikannya maju. De­ngan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.</p>
<p> </p>
<p>Di sini pula didapati satu-satunya Kwek School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Dari halaman negeri ini menjadi tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui. Dan ini adalah ba­hagian dari <i>kaba</i> itu.</p>
<p> </p>
<p>Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula. Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.</p>
<p><b> </b></p>
<p>Nilai-nilai Adat</p>
<p> </p>
<p>Sebagai masyarakat ber­adat dengan pegangan <i>adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah</i>, maka kaidah-kaidah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran ke dalam tatanan hidup masyarakatnya.</p>
<p> </p>
<p><span id="more-879"></span>Masyarakatnya rajin be­kerja, <i>Ka lauik riak maham­peh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak ma­ma­cah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.<b> </b></i>Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama se­kali bukanlah kemauan per­seorangan (orientasi personal) semata.</p>
<p> </p>
<p>Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masya­rakat di tempat mana pro­gram itu akan dilaksanakan seiring dengan pranata sosial budaya (<i>social and cultural institution</i>) yang menjadi batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kese­pakatan bersama dan menja­di kesadaran kolektif<b><i> </i></b>di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidu­pan bersama.</p>
<p> </p>
<p>Pranata sosial masya­rakat beragama di Sumatera Barat yang didiami masya­rakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (<i>ber­san­dikan</i>) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (<i>Al Quranul Karim</i>) dan Sun­nah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengama­lannya tampak atau direkam dalam praktek ibadah, pola pandang dan karakter masya­rakatnya, sikap umum dalam ragam hubungan sosial penga­nutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi ber­ba­gai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.</p>
<p> </p>
<p>Pembentukan karakter atau <i>watak</i> berawal dari penguatan unsur unsur pera­saan, hati (<i>qalbin Salim</i>) yang menghiasi nurani manusia dengan <i>nilai-nilai luhur</i> yang tumbuh mekar dengan  <i>kesa­daran kearifan</i> dalam kecer­dasan budaya serta memper­halus <i>kecerdasan emosional</i> serta dipertajam oleh kemam­puan <i>periksa</i> evaluasi positif dan negatif  atau <i>kecerdasan rasional intelektual </i>yang dilin­dungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (<i>kecer­dasan spiritual</i>) yakni <i>hidayah Islam</i>. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).</p>
<p> </p>
<p>Masyarakat  <i>Sumatera Barat </i>dengan Penduduk ter­besar memiliki ciri<i> khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK</i> adalah masyarakat beradat dan beradab<b>. </b>Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (<i>system</i>) pada berbagai tataran (<i>structural levels</i>)</p>
<p> </p>
<p>Yang paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang akan membentuk Pandangan  hidup dan panduan  dunia<b> </b>(<i>per­spektif</i>), yang akan (a).<i> </i>meme­ngaruhi seluruh aspek kehi­dupan masyarakat kota  dan kabupaten di Sumatera Barat, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara per­gaulan dari masyarakat itu. (b). menjadi landasan pemben­tukan pranata sosial keorga­nisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun infor­mal. (c). menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidu­pan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama. (d). membe­rikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi remaja di Sumatera Barat<b><i> </i></b>dalam meng­hasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekono­mi, serta karya-karya pemi­kiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.</p>
<p> </p>
<p>Sebagai contoh, Pemilihan Uni Uda sebagai Duta Wisata Sumatera Barat<b> </b>mestinya harus jelas kriteria yang akan menyandangnya. Uni Uda adalah generasi muda yang mengenal adat budayanya dan mentaati agamanya dengan sifat sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksa­nakan suruhan Allah, penda­mai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya.</p>
<p> </p>
<p>Generasi Muda di Minang­kabau memiliki sifat sebagai digambarkan dalam filosofi adatnya sebagai berikut; <i>“Adopun nan di sabuik rang mudo, tapakai taratik dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu di ereang jo gendeang. Mamakai raso jo pareso. Mana­ruah malu dengan sopan. Manjauhi sumbang jo salah. Muluik manih baso katuju. Kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang. Hormat kapado ibu bapo. Khidmat kapado urang tuo-tuo. Takuik kapado Allah, manuruik parentah Rasulullah. Tahu di korong dengan kam­puang, tahu di rumah dengan ranggo. Takuik di budi katajua. Malu di paham ka tagadai. Tahu di mungkin dengan patuik. Malatakkan sasuatu pado tampeknyo. Tahu di tinggi dengan randah, Bayang-bayang sapanjang badan. Bulieh ditiru dituladan. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang. Maleleh buliaeh dipalik, manitiak bulieh ditampuang. Satitiak bulieh dilauikkan, sakapa dapek digunuangkan. Capek kaki ringan tangan. Namuah di suruah di sarayo. Iyo dek urang di nagari.”. </i>Inilah<i>, </i>harkat generasi muda yang akan menyandang gelar uni dan uda di Ranah Bundo Sumbar.</p>
<p> </p>
<p>Kaidah dari nilai-nilai adat ini tiada lain adalah penera­pan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya. <i>Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh mangkonyo kameh, dek padi mangkonyo manjadi. </i>Arti yang lebih menukik ada­lah kooperatif. Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minang­kabau. Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.</p>
<p> </p>
<p>Pariwisata yang dikaitkan dengan ekonomi kreatif berarti ada upaya yang jelas dan terang mencapai tingkat ke­mak­muran masyarakat dise­kitar­nya. Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keama­nan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Da­lam pengembangan setiap usaha diperlukan pemerataan penghasilan. Karena itu perha­tian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting. <i>Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,    Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.</i></p>
<p> </p>
<p>Teranglah sudah &#8230;., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan mene­mui disini satu iklim kejiwaan (<i>mental climate</i><b>)</b> yang subur<i>.</i> Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak na­gari dan kampung halaman. Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap pera­daban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno di za­man modernisasi ini berarti satu kerugian. Sebab berarti menga­baikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Nilai Agama</b></p>
<p> </p>
<p>Masyarakat Minang khu­susnya di Sumatera Barat umatnya seratus prosen Is­lam. Sungguhpun kita me­nyak­sikan satu kondisi terja­dinya pergeseran pandangan masyarakat dewasa ini. Na­mun, perpaduan budaya di Sumatera Barat dengan upaya melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan maka peradaban akan kembali gemerlapan. Berpaling dari sumber ke­kuatan murni<b> </b>dengan menang­galkan prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam dan penduduk Sumatera Barat.</p>
<p> </p>
<p>Nilai nilai luhur adat budaya menjadi sempurna dengan bimbingan nilai Aga­ma Islam. Kembali kepada watak Islam  tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. Sebagaimana Firman Allah menyebutkan ;</p>
<p><i> </i></p>
<p><i>“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperha­tikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan mem­bawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.</i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan keja­hatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” </i>(QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).</p>
<p> </p>
<p>Tuntutan kedepan agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamad­dun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Tidak me­metik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian adanya <i>husnu-dzan</i> (sangka baik) sesama umat. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menje­jak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.<b>***</b></p>
<p> </p>
<p><a href="http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=21752:antara-adat-syarak-dan-kitabullah&amp;catid=11:opini&amp;Itemid=187" target="_blank">http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=21752:antara-adat-syarak-dan-kitabullah&amp;catid=11:opini&amp;Itemid=187</a></p>
<div> </div>
<p>&#8212;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2013/03/13/antara-adat-syarak-dan-kitabullah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">879</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/03/buya-hma.jpg?w=170">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Minangkabau Merasa Terhina</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2013/01/21/ketika-minangkabau-merasa-terhina/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2013/01/21/ketika-minangkabau-merasa-terhina/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2013 10:19:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=870</guid>

					<description><![CDATA[Sumber : http://www.lenteratimur.com Oleh : Arif Budiman “Buk…”“Ya, Pak.”“Kok aku kepikiran karo putrinya Mas Tris.”“Nje… nje… neng Sleman, trus nendhi?”“Kalo dijodoh ke karo Cahyo gimana?”“Kemaren Titian itu bilang sama ibu, rupanya Cahyo baru dekat dengan orang Padang. Penarinya Titian.”“Gadis Minang? Hebat itu ibadah e.”“Insya Allah. Amin Pak. Nje.” Terjemahan:“Bu…”“Ya, Pak.”“Aku terpikir putrinya Pak Tris.”“Ya… ya… yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : <a href="http://www.lenteratimur.com" rel="nofollow">http://www.lenteratimur.com</a></p>
<p>Oleh : Arif Budiman</p>
<p><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg"><img loading="lazy" class=" wp-image alignright" id="i-872" alt="Surau bergonjong dan rangkiang dan poster film “Cinta Tapi Beda”. Gambar: diolah oleh LenteraTimur.com/Arif Budiman." src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=426&#038;h=307" width="426" height="307" srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=426 426w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=852 852w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=150 150w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=300 300w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=768 768w" sizes="(max-width: 426px) 100vw, 426px" /></a>“<em>Buk…”</em><br /><em>“Ya, Pak.”</em><br /><em>“Kok aku kepikiran karo putrinya Mas Tris.”</em><br /><em>“Nje… nje… neng Sleman, trus nendhi?”</em><br /><em>“Kalo dijodoh ke karo Cahyo gimana?”</em><br /><em>“Kemaren Titian itu bilang sama ibu, rupanya Cahyo baru dekat dengan orang Padang. Penarinya Titian.”</em><br /><em>“Gadis Minang? Hebat itu ibadah e.”</em><br /><em>“Insya Allah. Amin Pak. Nje.”</em></p>
<p>Terjemahan:<br />“Bu…”<br />“Ya, Pak.”<br />“Aku terpikir putrinya Pak Tris.”<br />“Ya… ya… yang di Sleman, terus bagaimana?”<br />“Kalau dijodohkan dengan Cahyo bagaimana?”<br />“Kemarin Titian bilang sama Ibu, rupanya Cahyo baru dekat dengan orang Padang. Penarinya Titian.”<br />“Gadis Minang? Hebat itu ibadahnya.”<br />“Insya Allah. Amin Pak. Ya.”</p>
<p>Dialog di atas adalah petikan dialog berbahasa Jawa antara Fadholi dan Munawaroh, orangtua Cahyo, dalam film <em>Cinta Tapi Beda</em> (2012). Film dari Jakarta yang disutradarakan oleh Hanung Bramantyo asal Yogyakarta ini mengisahkan rencana perjodohan Cahyo dengan salah seorang kerabatnya di Sleman, Yogyakarta. Namun, kabar kedekatan Cahyo dengan gadis lain juga berhembus. Tak menolak, orangtua Cahyo justru menyambut baik kabar tersebut. Apalagi, gadis itu adalah seorang Minang yang taat ibadahnya.</p>
<p>Tapi, harapan berbeda dengan kenyataan. Calon menantu gadis Minang, yang dibayangkan hebat ibadahnya itu, ternyata bertolak belakang dengan keyakinan akidahnya. Di sini, petaka pun lahir. Film karya Bramantyo ini menuai kontrovesi dari Minangkabau. Dia dianggap memelintir negeri yang menetapkan Al-Quran sebagai landasan adatnya.</p>
<p><strong>Beda Keyakinan</strong><br />Diana (diperankan Agni Pratistha), gadis Minang yang menjadi tokoh utama dalam film ini, adalah seorang Kristiani yang taat. Orangtuanya (Jajang C Noor) tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat. Untuk melanjutkan studi tugas akhirnya di bidang seni tari, dia menetap di rumah pamannya di Jakarta. Dalam perjalanan terkait tugas akhir tersebut, dia berjumpa dengan Cahyo (Reza Nangin), pemuda Yogyakarta yang disosokkan sebagai muslim yang taat.</p>
<p><span id="more-870"></span>Perjumpaan itu lama-lama menuai cinta di kedua orang tersebut. Hari demi hari mereka berinteraksi dengan penuh kasih sayang dan saling menghormati perbedaan keyakinan yang ada. Dengan tekad bulat, Cahyo kemudian membawa Diana ke rumah orangtuanya. Dan di sana, Diana yang Kristen itu ditolak. Hal serupa juga dilakukan ibu Diana yang tak mengharapkan putri bungsunya jatuh pada lelaki yang tak seakidah. Ibunya malah memperkenalkan Diana dengan Dokter Oka (Choki Sitohang), Kristiani yang taat. Tapi, Diana menolak.</p>
<p>Tak pelak konflik keluarga membayangi sepasang anak muda ini. Niat kuat lalu membuat Diana dan Cahyo mencoba menikah secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja, usahanya itu terbentur di Kantor Urusan Agama (KUA) yang juga tak membolehkan menikah beda agama.</p>
<p><strong>Simbol-Simbol Minangkabau</strong><br />Usai ujian tugas akhir, Diana langsung dibawa orangtuanya ke Sumatera Barat. Dengan pesawat terbang, mereka mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman. Pemandangan<em> </em>ranah Minang yang terkenal dengan gonjong atap rumah gadangnya tervisualkan menyambut kedatangan para tamu. Diana dan orangtuanya langsung ke Bukittinggi, tempat tinggal mereka. Kembali gonjong atap rumah gadang dan Jam Gadang yang menjadi <em>landmark </em>kota Bukittinggi ditampilkan dalam visual gambar nan elok.</p>
<p>Selama berada di wilayah Luhak Agam (Bukitinggi masuk dalam wilayah inti Minangkabau, kota ini berada di luhak Agam) itu, Diana kabur dari rumah untuk menemui Cahyo di Jakarta. Tapi malang, ibunya yang mengetahui pelariannya itu jatuh sakit dan sampai harus dirawat di rumah sakit Achmad Mochtar di Bukittinggi.</p>
<p>Saat cerita ini berlangsung, lagi-lagi ditampilkan identitas Minangkabau berupa gonjong atap rumah Gadang yang menjadi atap rumah sakit ini.</p>
<p>Diana yang sudah di Jakarta untuk melepas kerinduannya dengan Cahyo akhirnya balik ke Bukittinggi. Di saat itulah dokter Oka mencoba meyakinkan hati Diana. Dua anak muda yang seagama ini saling bercerita akan perasaan-perasaan mereka. Dialog-dialog mereka ini terjadi di <em>Pasa Ateh</em> (Pasar Atas) Bukittinggi dan berlanjut ke <em>Janjang Saribu (</em>Tangga Seribu).</p>
<p>Di <em>Janjang Saribu</em> ini ‘roh’ Minangkabau betul-betul menampakkan diri. Percakapan-percakapan dua insan yang seagama ini diiringi musik tradisional Minang, Saluang. Saluang itu ditiup oleh seorang <em>gaek</em>(datuak/datok/atok/kakek) dengan kopiah hitam dengan posisi <em>Duduak Baruak </em>(Duduk Monyet) pas di tepi tangga. Pemandangan gonjong-gonjong atap rumah gadang dengan latarbelakang pegunungan yang eksotik pun ditampilkan mengiringi bunyi Saluang.</p>
<p>Percakapan mereka pun berlanjut ke atas <em>Jumbatan Limpapeh</em> (Jembatan Limpapeh), masih di Bukittinggi. Di sini, pemandangan kembali diarahkan pada gonjong atap rumah gadang yang dipasak di tiang-tiang jembatan.</p>
<p>Saat itu, dokter Oka berhasil meyakinkan Diana. Dan resepsi pernikahan pun digelar. Saat diana sedang dirias, nampak <em>tabia</em> di dinding-dinding ruangan tempat dia didandani. Tabia adalah kain dengan ukuran besar berwarna merah (salah satunya) dan dihiasi motif-motif Minangkabau dengan sulaman benang emas. Tabia ini hanya digunakan untuk acara-acara sakral di Minangkabau, dan paling sering digunakan ketika <em>Baralek</em>(pernikahan) adat Minang. Tabia biasanya seperangkat dengan <em>Palaminan</em> atau singgasana <em>Anak Daro</em> dan<em>Marapulai</em> atau pengantin wanita dan pria di Minangkabau.</p>
<p>Pengucapan janji pernikahan lantas dilangsungkan di Gereja. Hanya saja, Diana dilanda kebimbangan. Dan akhirnya dia tak menjawab janji pernikahan itu. Dokter Oka pun memutuskan untuk tak menikahi Diana. Sementara ibu Diana kemudian memberikan restu pada Diana untuk menemui lelaki idamannya yang bekerja sebagai pemasak itu.</p>
<p><strong>Menuai Kemarahan</strong><br />Film yang diproduserkan oleh Raam Punjabi ini menuai kontroversi selepas dirilis pada akhir Desember 2012. Masyarakat Minangkabau bereaksi dengan menganggap film ini telah menghina identitasnya. Minang yang memiliki kesenyawaan dengan Islam diposisikan sebagai Kristen dengan segala atributnya.</p>
<p>Meskipun dikatakan bahwa Diana itu merujuk pada Padang, bukan Minangkabau, namun simbol-simbol yang ditampilkan adalah simbol-simbol Minangkabau. Hal yang juga mengherankan adalah ketika ketika keluarga Diana dikatakan beragama Kristen dan berasal dari Padang. Sebab, hampir seluruh lokasi film yang dimainkan di Sumatera Barat bertempat di Bukittinggi.</p>
<p>Pakar semiotika dari Institut Teknologi Bandung, Yasraf Amir Piliang, melihat bahwa film Bramantyo ini sedang melakukan dekonstruksi. Maksudnya, dia membongkar tanda-tanda keminangan yang sebetulnya sudah menjadi stereotip dari tanda-tanda yang diterima umum.</p>
<p>“Falsafah orang Minang itukan <em>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</em> (adat berpedoman pada agama, agama berpedoman pada kitab Allah – Al Qur’an). Bukan <em>Syarak Basandi</em> <em>Injil </em>kan? Nah, kalau keluar dari situ (Kitabullah) berartikan kehilangan identitas keminangan,” ungkap Yasraf kepada LenteraTimur.com.</p>
<p>Menurut Yasraf, Minangkabau memiliki ciri tersendiri yang menempel dengan Islam. Ciri tersebut adalah kesalehan. Artinya, ketika orang bicara tentang Minang, maka tanda-tanda itu adalah Islam.</p>
<p>“Karena bagi kita (orang Minang), agama (Islam) sudah menjadi satu dengan adat,” jelas Yasraf.</p>
<p>Tanda-tanda atau simbol-simbol atau identitas keminangan yang muncul di film itu memang terlihat jelas. Sebut saja gonjong pada atap Rumah Gadang, Jam Gadang (juga bergonjong), Jembatan Limpapeh, musik Saluang, pun Jenjang Seribu. Itu semua adalah identitas yang dimiliki oleh Bukittinggi, bukan Padang. Dan itu menyimbolkan Minangkabau.</p>
<p>“Ketika tanda-tanda itu dimasukkan Kristen, kan sama saja mendekonstruksi atau merombak Minang itu sendiri. Artinya mencoba mengacaukan pun merubah stereotip tadi,” terang Yasraf.</p>
<p>Yasraf menduga film ini hendak kreatif dengan membongkar stereotip Minangkabau. Hanya saja, ia berlaga dengan Minangkabau yang memiliki falsafah adat yang berkiblat pada Kitabullah (Al-Quran).</p>
<p>Betapapun film <em>Cinta Tapi Beda</em> disebutkan berangkat dari kisah nyata, Yasraf menganggap itu dapat membuat simbol-simbol terkait Minangkabau berubah. Film ini memang disebutkan berasal dari kisah nyata yang ditulis dalam suatu blog milik Dwitasari. Cerita itu disebutkan benar-benar terjadi.</p>
<p>“Itu boleh-boleh saja dan menjadi haknya sutradara mengisahkan kisah nyata itu. Orang tidak bisa menggugatnya, ini dari sisi film. Tapi ketika kisah nyata itu diangkat menjadi film, Diana yang non-muslim sebagai tokoh utama, menjadi stereotip sendiri. Maksudnya mewakili gadis Minang. Menjadi pandangan umum. Ooo…<em> </em>ternyata gadis Minang itu Kristen. Stereotip tadi bekerja,” kata Yasraf yang juga penulis <em>Semiotika dan Hipersemiotika</em> ini.</p>
<p>Ini menjadi resiko dalam film, iklan, dan media yang lain. Penonton mendapatkan stereotip atas suatu identitas melalui simbol-simbolnya. Artinya, kata Yasraf, ketika film ini ditonton terus-menerus, lambat laun akan memunculkan padangan umum yang baru. Orang berpandangan Minang itu Kristen.</p>
<p>“Artinya kalau kebohongan ditayangkan terus menerus, lama-lama ia menjadi kebenaran. Kalau gadis Minang ditampilkan (sebagai) Kristen, lama-lama orang akan percaya gadis Minang itu Kristen”, tegas Yasraf mengingatkan.</p>
<p>Senada dengan Yasraf, antropolog Universitas Andalas, Padang, Erwin, juga mengatakan stereotip yang sama ihwal Minangkabau. Orang Minangkabau cenderung dilihat sebagai puak atau entitas yang kuat keislamannya. Jika dalam suatu salat berjamaah diketahui ada orang Minang, kata Erwin, maka orang tersebutlah yang biasanya maju ke depan untuk menjadi imam. Dari perspektif kultural, Minangkabau memang identik dengan Islam.</p>
<p>Mengenai adanya orang Minang yang beragama bukan Islam, Erwin menyanggahnya. Menurutnya, semua orang Minang yang tinggal di Sumatera Barat ini seluruhnya Islam. Namun, hal tersebut dapat dikecualikan ketika ada orang Minang yang merantau di luar wilayah kebudayaan Minangkabau, seperti Eropa atau Asia.</p>
<p>“Itu pun dipengaruhi oleh faktor pernikahan. Kalau laki-lakinya non-muslim dan perempuannya Minang, bisa terjadinya pindah agama. Tapi sepanjang saya ke daerah-daerah di Sumatera Barat, tidak ada orang Minang Kristen yang saya temui,” ungkap Erwin kepada LenteraTimur.com.</p>
<p>Terkait film <em>Cinta Tapi Beda</em> karya Hanung Bramantyo itu, Erwin mengatakan bahwa itu film yang bermasalah dan tak berwawasan. Ketika menyebutkan ‘Minangkabau’, maka semua yang memiliki identitas itu akan terkena.</p>
<p>“Contoh saja Minangkabau itu lebih luas dari Sumatera Barat yang ada hari ini. Bahkan sampai ke Negeri Sembilan (Malaysia-red),” pungkas Erwin.</p>
<p>Perhatian Erwin juga mengarah pada sosok perempuan, ibu, yang diperankan dalam film tersebut.</p>
<p>“Posisi perempuan Minang itu betul-betul di tempat pada posisi yang tinggi. Sumber inspirasi dari kehidupan masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Karena secara kultural perempuan punya posisi yang penting dan startegis, maka film <em>Cinta Tapi Beda</em> yang juga memposisikan perempuan sebagai tokoh sentral dan beragama Kristen dan tinggal di Minang pula, ini yang menjadi persoalan … dilihat dari perpektif orang Minang sebagai pendukung kebudayaan minangkabau itu sendiri,” kata Erwin.</p>
<p>Selain itu, Erwin juga menyayangkan tentang film tersebut yang tidak ditayangkan atau tidak beredar di Sumatera Barat.</p>
<p>“Terasa dipukul dari belakang kita. Dan sangat tidak etis!” ungkap Erwin dengan nada meninggi.</p>
<p><strong>Pengadilan Adat Minangkabau</strong><br />Reaksi keras terhadap film ini juga disampaikan oleh organisasi masyarakat Paga Nagari, Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) dan tokoh perantau Minangkabau. Mereka meminta Hanung Bramantyo selaku supervisi dalam film ini agar datang ke Minangkabau dalam kurun waktu 5 x 24 jam.</p>
<p>Ketua Paga Nagari Ibnu Aqil D. Ghani, dalam jumpa persnya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Barat, Kamis (10/1), mengatakan meminta pertanggungjawaban Hanung yang dianggap melecehkan masyarakat Minangkabau di depan tokoh adat Minang. Dan kedatangan Hanung ke Minangkabau akan dijamin keamanannya, sebagaimana dilaporkan oleh <em>HarianHaluan.com</em>.</p>
<p>Menurut tetua adat Azwir Datuak Rajo Malano, perbuatan Hanung sudah tergolong kesalahan berat. Hukuman yang pantas adalah minimal menjalani pengabdian di Minangkabau selama 20 tahun. Hukum adat yang akan dijalani itu disebut <em>tuok</em> <em>palang</em>, yang berarti hukum yang berlaku bagi anak di luar Minangkabau.</p>
<p>“Pengabdian yang dimaksudkan dalam hukum ini melakukan kegiatan kerja bakti. Dulu namanya, kerja paksa,” ujar Azwir.</p>
<p>Hal serupa juga dilakukan oleh Wali Kota Payokumbuah Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku. Dia terang-terangan melayangkan keberatan seraya melarang film <em>Cinta Tapi Beda</em> diputar atau beredar di kotanya. Sebab, ia meyakini hal tersebut dapat menimbulkan kemarahan masyarakat.</p>
<p>”Ada satu hal yang sangat tidak masuk akal. Sutradara atau penulis ske­nario mengisahkan Diana, ga­­­dis Padang, beragama Ka­tolik. Manalah ada orang Mi­nang yang tidak beragama Islam. Kita sungguh pingin tahu, dari mana sutradara film men­d­apatkan ide cerita seperti itu,” papar Riza sebagaimana dirilis oleh<em>PadangEkspres.co.id</em>.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Balai Kajian Konsultasi dan Pemberdayaan Nagari Adat di Payokumbuah, Yulfian Azrial, juga menyesalkan isi film tersebut. Kepada LenteraTimur.com, dia mengatakan bahwa penciptaan karya seni haruslah didahului dengan kajian sosio-antropologis yang dalam oleh pelaku film itu sendiri.</p>
<p>“Terbukti banyak simbol-simbol Minang yang diungkap, tapi tak selaras dengan cerita di film. Akibatnya menghina Minang itu sendiri!”</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2013/01/21/ketika-minangkabau-merasa-terhina/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">870</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/01/fp-ctb-11.jpg?w=710">
			<media:title type="html">Surau bergonjong dan rangkiang dan poster film “Cinta Tapi Beda”. Gambar: diolah oleh LenteraTimur.com/Arif Budiman.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PASAN MAMAK VI</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2012/05/14/pasan-mamak-vi-4/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2012/05/14/pasan-mamak-vi-4/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 02:57:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gurindam]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=850</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Yanto Jambak (Gurindam Pusako) Kamanakan juo kato mamakAlun pueh mamak batutuaSabuah lai cubolah simakKaganti pamenan tidua Banyak istilah kito di minangManggambarkan kaum rang padusiJikok disibak tarang tarangSarek makna jo arati Dalam surek nan ka anamkoKa mamak cubo manjalehkanKa buah tutua dek urang tuoGurindam adat mangatokan Tigo macamnyo parampuanNan jadi pameo dalam kampuangJikok di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Yanto Jambak (Gurindam Pusako)</p>
<p>Kamanakan juo kato mamak<br />Alun pueh mamak batutua<br />Sabuah lai cubolah simak<br />Kaganti pamenan tidua</p>
<p>Banyak istilah kito di minang<br />Manggambarkan kaum rang padusi<br />Jikok disibak tarang tarang<br />Sarek makna jo arati</p>
<p>Dalam surek nan ka anamko<br />Ka mamak cubo manjalehkan<br />Ka buah tutua dek urang tuo<br />Gurindam adat mangatokan</p>
<p>Tigo macamnyo parampuan<br />Nan jadi pameo dalam kampuang<br />Jikok di inok dipikiakan<br />Indak sadonyo nan bundo kanduang</p>
<p>Nan partamo parampuan simarewan<br />Kaduo mambang tali awan<br />Katigo baru parampuan<br />Danga di kamanakan mamak uraikan</p>
<p>Nan disabuik simarewan<br />Kurang adat kurang taratik<br />Jarang baso jauah sopan<br />Hiduik sarupo mambalakang ka langik</p>
<p>Bakoroang kampuang indak jaleh<br />Jo tetangga indak paduli<br />Tukang asuang silangkaneh<br />Pambuek cabuah dalam nagari</p>
<p>Adat indak nyo isi<br />Limbago indaknyo tuang<br />Bak cando hiduik indak kamati<br />Dunia bak katonyo surang</p>
<p><span id="more-850"></span>Basutan dimato barajo dihati<br />Durako kapado ibu jo bapak<br />Himbau nan indak nyo sahuti<br />Sakali suruah saribu anggak</p>
<p>Dek ranggaek indak ta tagah<br />Dek laki indak ta ambekan<br />Acok dilua pado dirumah<br />Rumah tangga nyo abaikan</p>
<p>Lupo diri lupo jo malu<br />Awak lah ibu rumah tanggo<br />Kadang laki basangko babu<br />Awak bak cando juragannyo</p>
<p>Indak mamikie hiduik susah<br />Taunyo ado jo cukuik<br />Usah disabuik badan salah<br />Amuah baparang adu muluik</p>
<p>Usah ditiru nan bak kian<br />Dunia akhirat kamakan cilako<br />Ba pandai dalam pargaulan<br />Pandai manjago rumah tanggo</p>
<p>Nan ka duo kok dibaco<br />Banamo mambang tali awan<br />Saroman balain rupo<br />Sairiang batuka jalan</p>
<p>Kok mangecek pantang kalah<br />Bak cando awak nan paliang santiang<br />Tinggi hati somboang jo pongah<br />Pantang bana ka tagandiang</p>
<p>Bunyi tutua marandang kacang<br />Indak manaruah paruik lipek<br />Indak ma agak jo manenggang<br />Urang mandanga ka ma upek</p>
<p>Kok ma ota barami rami<br />Mancaritokan laki surang<br />Nan sayangnyo allahurabbi<br />Sagalonyo labieh dari urang</p>
<p>Indak bacacek saketek juo<br />Indak samo jo laki urang<br />Lah tingga tulang jo kulik sajo<br />Bakatokan juo paliang sanang</p>
<p>Kahilie mudiak maajan tuah<br />Mamanggakkan apo nan punyo<br />Laki lah cando sapi parah<br />Awak mabuak manyasok juo.</p>
<p>Nan katigo di sabuik parampuan<br />Iko lah istri nan saleha<br />Tau di malu dengan sopan<br />Mamakaikan adat jo budaya</p>
<p>Lamah lambuik kok batutua<br />Budi elok laku katuju<br />Rahasio dapua sumua jo kasua<br />Urang lain ndak paralu tau</p>
<p>Nan tuo bamuliakan<br />Nan ketek dikasihi<br />Pandai bagarah bakucindan<br />Taat ibadat jo mangaji</p>
<p>Bijaksana kato rang kini<br />Pandai malenggang dinan sampik<br />Tau manjago hati laki<br />Paham bana hiduik nan sulik</p>
<p>Balayie biduak silenggang<br />Karucuik jo saliguri<br />Dinan rumik pandai batenggang<br />Tando bamain aka jo budi</p>
<p>Limpapeh rumah nan gadang<br />Sumarak anjuang paranginan<br />Samo maraso sakik jo sanang<br />Ka jadi suri jo tauladan</p>
<p>Malabihi ma ancak ancak<br />Mangurangi sio sio<br />Tau di bateh jo agak<br />Tandonyo paham jo kiro kiro</p>
<p>Ikolah sipat nan ka ditiru<br />Nak salamat dinie akhirat<br />Tapaliharo tingkah jo laku<br />Tandonyo padusi ba martabat</p>
<p>Urang bijak mangatokan<br />Harato jo kakayaan<br />Hanyo mampu ma sejahterakan<br />Tapi bukan mam bahagikan</p>
<p>Nan kayo sasungguahnyo<br />Urang nan pandai mansyukuri<br />Bijak menikmati hasie usaho<br />Disinan bahagia nan hakiki</p>
<p>Mudah mudahan nan mamak sampaikan<br />Isuak untuang gadang gunonyo<br />Insyaallah kamanakan rasokan<br />Buah tutua mamak nangko.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2012/05/14/pasan-mamak-vi-4/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">850</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perspektif Social Engineering Dalam Hukum Adat (Minangkabau)</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/27/perspektif-social-engineering-dalam-hukum-adat-minangkabau/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/27/perspektif-social-engineering-dalam-hukum-adat-minangkabau/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 04:20:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=831</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Boy Yendra Tamin Dt. Suri Dirajo, SH. MH Dalam banyak karangan bisa ditemukan pandangan yang melihat adanya dikotomi antara fungsi hukum sebagai social engineering dengan hukum adat. Dikotomi itu bertolak dari pandangan hukum tradisional yang beranggapan bahwa kebiasaan yang membentuk hukum. Sementara dalam pemikiran hukum sebagai social engineeringjusteru hukumlah yang membentuk kebiasaan dalam masyarakat. Oleh karena itu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>Oleh Boy Yendra Tamin Dt. Suri Dirajo, SH. MH</strong></div>
</div>
<div><a href="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/boy-yendra-tamin-dt-suri-dirajo2.jpg"><img class="size-full wp-image alignleft" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/boy-yendra-tamin-dt-suri-dirajo2.jpg?w=230" alt="Image" width="230" height="153" /></a>Dalam banyak karangan bisa ditemukan pandangan yang melihat adanya dikotomi antara <a href="http://boyyendratamin.blogspot.com/2012/04/fungsi-hukum-sebagai-social-engineering.html" target="_blank">fungsi hukum sebagai social engineering</a> dengan hukum adat. Dikotomi itu bertolak dari pandangan hukum tradisional yang beranggapan bahwa kebiasaan yang membentuk hukum. Sementara dalam pemikiran hukum sebagai <em>social engineering</em>justeru hukumlah yang membentuk kebiasaan dalam masyarakat. Oleh karena itu bagi penganut  paham hukum tradisional  adalah tidak mungkin diwujudkan konsepsi hukum sebagai social engineering. Sikap yang sama, barangkali juga terlihat pada  penganut aliran “legisme” yang menyamakan hukum dengan undang-undang dan menyangka, bahwa segala pembuatan hukum (termasuk pembaharuannya) dapat dilakukan begitu saja dengan undang-undang. Sebaliknya pihak mazhab sejarah menentang perundang-undangan  (legislation) sebagai suatu cara untuk membuat (dan memperbaharui ) hukum karena hukum itu tidak mungkin dibuat melainkan (harus) tumbuh dari sendiri dari kesadaran hukum masyarakat.</div>
<div> </div>
<div>Sebagai akibat dari ajaran hukum yang demikian, di dalam masyarakat Indonesia dirasakan sekarang, betapa tertingalnya pembangunan hukum dari bidang lainnya. Bahkan aliran maszhab sejarah telah mengantarkan hukum adat sebagai pencerminan dari nilai-nilai kebudayaan (asli) penduduk pribumi dan mencegah terjadinya  “pembaharuan” yang terlalu cepat, kalau tidak hendak  dikatakan berhasil mencegah sama sama sekali kecuali sebagian kecil dari golongan pribumi. Dalam lain kata, aliran ini seolah-olah tidak melihat realitas sosial dengan apa yang dinamakan <a href="http://boyyendratamin.blogspot.com/2012/04/peranan-hukum-dan-perubahan-sosial.html" target="_blank">perubahan sosial</a>  dan dengan segala kebutuhan yang dimunculkan.</div>
<div> </div>
<div><span id="more-831"></span>Akan tetapi bila diteliti betul, sesungguhnya  hukum adat sendiri tidak menutup diri bagi pemikiran ke depan, bahkan susungguhnya hukum adat sebenarnya melihat prediksi kemasa depan. Sebagai contoh bisa dilihat di dalam falsafah adat Minangkabau;</div>
<div><em>Adat nan babuhua sintak, indak babuhua mati</em>.</div>
<div>Pepatah adat ini mengisyarakatkan, bahwa adat itu bersifat luwes dan terbuka terhadap perubahan.</div>
<div> </div>
<div>Gambaran yang kurang tepat tentang hukum adat dimasa lalu mungkin dikarenakan tidak (kurang) ditampilkannya segi dinamis dalam hukum adat itu. Yang ditonjolkan justeru sebaliknya melalui pepatah;</div>
<div><em>Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh</em></div>
<div>(Tidak lapuk karena hujan, tidak lekang karena panas)</div>
<div> </div>
<div>Sunaryati Hartono lebih jauh mengemukakan; politik hukum yang bermaksud melindungi golongan pribumi telah secara efektif mengisolasi “golongan primbumi”  ini dari hubungan dan perkembangan hukum masa kini, sehingga mengakibatkan keterbelakangan dari golongan ini dalam situasi dimana golongan yang berbeda itu harus saling bersaing misalnya dalam perdagangan.</div>
<div> </div>
<div>Pandangan yang lebih ekstrim dan tajam, Paul Radin mengemukakan;</div>
<div>Adat istiadat sama sekali tidak diartikan sebagai bagian dari kebudayaan yang tengah berlansung, akan tetapi adat istiadat pasti tergolong pada masa lalu yang sedang sekarat. Dan adat istiadat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang-orang primitive. Pada mereka itu terdapat kepatuhan yang dipaksakan. Adat istiadat kepatuhan tidak mereka ikuti apabila bobot tradisi tersebut mengurung dirinya….Adat istiadat dipatuhi karena ia terjalin akrab dengan jaringan hubungan timbal balik kehidupan yang luas, diatur dengan cara seksama  dan tertip. Mereka diikar erat oleh segala macam.</div>
<div> </div>
<div>Setidaknya dengan beberapa pandangan terhadap hukum adat di atas akan memperkaya wawasan kita terhadap hukum adat dan fenomenanya menghadapi zaman dan mayarakat yang berubah ini.</div>
<div> </div>
<div>Kembali kemasalah adanya anggapan yang menyangsikan dan mergukan konsepsi hukum sebagai social engineering  yang dikaitkan dengan keberadaan hukum adat, terlebih-lebih dalam masyarakat bangsa yang pruralistik. Bila dicermati, mengapa muncul keraguan itu, ia sebenarnya dikarenakan tidak jelasnya batas antara hukum adat dan adat istiadat di dalam pikiran banyak orang. Hukum adat seringkali di-identikan dengan adat istiadat.</div>
<div> </div>
<div>Sengketa mengenai apakah masyarakat-masyarakat primitif mempunyai hukum atau adat istiadat bukanlah sekedar “sengketa” kata-kata. Kekacauan hanya dapat terjadi ketika kita menanggapi sebagai gejala yang saling dipertukarkan. Jika adat istiadat adalah spontan dan otomatik, maka hukum merupakan hasil kekuatan yang terorganisasi. Asas resiprositas berlaku juga dalam masyarakat beradap, namun demikian sekurang-kurangnya tiada seorang pun yang mengacaukan  hubungan-hubungan sosial dengan hukum formal.</div>
<div> </div>
<div>Dari hal di atas, maka bagi kita yang terpenting untuk kepentingan tulisan ini adalah bagaimana esksistensi hukum adat bukanlah suatu hambatan bagi pengembangan konsepsi hukum sebagai social engineering  (terutama dengan ide dasarnya). Karena ternyata hukum adat itu sendiri memiliki orientasi ke masa datang bila dicermati secara sungguh-sungguh dan mendalam.</div>
<div> </div>
<div>Stanley Diamond mengungkapkan; hukum merupakan gejala yang sejalan dengan kemunculan negara; sanksi hukum bukanlah sekedar senjata apuh bagi pranata-pranata  yang berlaku sepanjang waktu dan tempat. Apa yang dikatakan Bohannan dengan “pelembagaan ganda”  perlu didefenisikan kembali. “Pelembagaan ganda” terjadi akibat suatu proses historis yang rumit luar biasa dan tidak dapat dianggap sekedar peristiwa diterimanya adat istiadat sebagai hukum. Dan terjadinya juga dalam berbagai cara. Adat istiadat – yang memiliki karakter spontan, tradisional, pribadi, dikenal luas, melembaga, relatif tidak berubah – merupakan modalitas/inti rasa masyarakat primitif; hukum merupakan alat yang dipakai oleh peradapan dan masyarakat politik (yang memaksakan hukum dengan kekuatan yang terorganisir) karena dianggap berkuasa atas masyarakat serta merupakan penopang bagi seperangkat kepentingan sosial  yang baru. Hukum dan adat isitiadat memuat peraturan  tindak-tanduk, namun karakternya sama sekali berbeda; tidak ada keseimbangan evolusioner antara perkembangan yang dicapai hukum dan yang dicapai adat istiadat, apakah tradisonal atau pun sedang tumbuh.</div>
<div> </div>
<div>Batas antara hukum adat dengan adat istiadat yang dikemukakan Ter Haar, belumlah lengkap. Haar hanya member cirri otoritas bagi keduanya seperti dikemukakan Ter Haar dalam teori pengambilan keputusannya.</div>
<div> </div>
<div>Pandangan yang lebih luas adalah dari L Pospisil yang dikemukakannya setelah melakukan studi komparatif terhadap kasus-kasus hukum yang serupa daam 32 kebudayaan lain dari berbagai daerah yang tersebar luas dimuka bumi. Satu dari hasil analisa yang dikemukakan Pospisil adalah apa yang disebutnya dengan <em>attribute of intention of universal application</em>. Artribut ini menentukan bahwa keputusan-keputusan dari pihak yang berkuasa itu harus dimaksudkan sebagai keputusan-keputusan yang mempunyai jangka waktu panjang dn harus dianggap berlaku juga terhadap  peristiwa-peristiwa serupa dimasa akan datang.</div>
<div> </div>
<div>Kesimpulan Pospisil itu jelas, menunjukan adanya di dalam hukum adat suatu keputusan yang diproyeksikan kemasa datang. Sekalipun keputusan itu bertolak dari peristiwa saat itu. Tetapi setidaknya  secara konsepsi di dalam hukum adat sebenarnya melakukan prediksi juga ke masa datang. Walaupun tidak kongkrit benar, sebagaimana adanya pandangan itu dalam falsafah adat Minangkabau seperti yang kita kemukakan sebelumnya.</div>
<div> </div>
<div>Jadi jelas, bahwa sesungguhnya antara pandangan hukum tradisional dan padangan hukum modern, sebenarnya tidak terdapat dikotomi dan menjadi suatu dilemma bagi konsepsi hukum sebagai social engineering sebagaimana disangkakan para penganut hukum ortodok selama ini.</div>
<div> </div>
<div>Dan benarlah Muchtar Kusumaatmadja, pikiran  bahwa hukum itu harus peka terhadap perkembangan masyarakat dan bahwa hukum itu harus disesuaikan  atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah berubah sesungguhnya prinsipnya dimiliki pula dalam alam pikiran bangsa Indonesia. Ini memang tidak bisa dipungkuri bila kita cermati apa yang dikatakan pepatah adat Minangkabau;</div>
<div><em>Sakali aia gadang</em></div>
<div><em>Sakali tapian berubah</em></div>
<div>(Sekali air besar, sekali tepian berubah)</div>
<div>Artinya adalah, bahwa adat itu berubah mengikuti keadaan masyarakat, namun perubahan itu bukan sembarang perubahan melainkan (harus) tetap ada hubunganya dengan (keadaan) yang lama. Hal ini digambarkan demikian;</div>
<div><em>Walaupun baranjak</em></div>
<div><em>Dilapiak nan sahalai juo</em></div>
<div>(walaupun bergeser tapi masih ditikar yang sama)</div>
<div>Agar adat itu tetap muda, maka ia harus disesuaikan atau  menyesuaikan diri dengan keadaan . Seperti kata pepatah Minangkabau;</div>
<div><em>“usang-usang dipabaharui, lapuak-lapuak dikajangi”</em></div>
<div><em>“nan elok dipakai, nan buruak dibuang”</em></div>
<div><em>“nan singkek mintak diuleh, panjang minta dikarek’</em></div>
<div><em>“nan rumpang minta disisik”</em></div>
<div>Pepatah-pepatah adat Minangkabau yang dikutipkan di atas menggambarkan, bahwa menurut alam pikiran hukum adat itu sendiri, hukum itu tidak menolak pembaharuan, bahkan sebaliknya. Seperti dilukiskan  pula dalam pepatah lainnya yang mengatakan ”<em>adat dipakai baru, kain dipakai using”</em>, demikian Muchtar Kusumaatmadja dalam “Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional”  Bina Cipta Bandung ; 1976.</div>
<div> </div>
<div>Dengan melihat isi dan makna pepatah adat Minangkabau di atas, maka dengan sendirinya sekaligus merupakan perontokan terhadap pandangan ahli hukum yang berpaham ortodok yang bersikukuh dengan sikap penolakan terhadap hukum Barat dan menempatkan hukum utama atas dasar preseden dan suatu kompedium statute yang bersifat statis. Dengan ini pula kita melihat ide dasar konsepsi hukum sebagai social engineering bukanlah selalu dikaitkan dengan “pembaratan”, karena  ternyata prinsip-prinsipnya itu dijumpai pula dalam pepatah adat yang tradisional. Ini terlebih-lebih dengan pemikiran hukum sebagai social engineering tersebut berkembang sebagaimana berkembangnya kemajuan masyarakat bangsa di zamannya. Perkembangan kemudian terlebih lagi dengan era<a href="http://boyyendratamin.blogspot.com/2011/08/globalisasi-hukum.html" target="_blank"> globalisasi hukum</a> dewasa ini, sebagaimana juga halnya dengan di Indonesia.*</div>
<p>Sumber : <a href="http://boyyendratamin.blogspot.com/2012/04/perspektif-social-engineering-dalam.html#ixzz1tD6lbLrn">http://boyyendratamin.blogspot.com/2012/04/perspektif-social-engineering-dalam.html#ixzz1tD6lbLrn</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/27/perspektif-social-engineering-dalam-hukum-adat-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">831</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/boy-yendra-tamin-dt-suri-dirajo2.jpg?w=230">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kearifan Minangkabau Makin Terkikis</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/25/kearifan-minangkabau-makin-terkikis/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/25/kearifan-minangkabau-makin-terkikis/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 03:14:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[minang]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[    ilustrasi KEARIFAN lokal Minangkabau saat ini banyak yang tergerus zaman, tak terkecuali upaya penanggulangan bencana. Karenanya ragam kearifan lokal itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda dan penerus bangsa. &#8220;Saat ini kita bisa melihat banyaknya kearifan lokal yang telah tergerus oleh zaman yang seharusnya dapat dijadikan bahan pelajaran bagi generasi sekarang, seperti terkait antisipasi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2> </h2>
<p> </p>
<div><img class="alignleft" style="border-style:initial;border-color:initial;border-image:initial;border-width:0;margin:0;" src="http://www.metrotvnews.com/image.php?image=bank_images/actual/88765.jpg" alt="" width="350" height="213" border="0" hspace="0" vspace="0" />ilustrasi</div>
<div>
<p><strong>KEARIFAN</strong> lokal Minangkabau saat ini banyak yang tergerus zaman, tak terkecuali upaya penanggulangan bencana. Karenanya ragam kearifan lokal itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda dan penerus bangsa.</p>
<p>&#8220;Saat ini kita bisa melihat banyaknya kearifan lokal yang telah tergerus oleh zaman yang seharusnya dapat dijadikan bahan pelajaran bagi generasi sekarang, seperti terkait antisipasi dan penanggulangan kebencanaan,&#8221; kata Sosiolog dari Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Profesor Damsar, Sabtu (21/4).</p>
<p>Dia menambahkan, dalam upaya penanggulangan bencana, sebenarnya tidak boleh hanya sebatas masalah infrastruktur saja. Namun juga harus memberdayakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.</p>
<p>Damsir mencontohkan, Rumah Gadang yang dibangun nenek moyang Minangkabau tetap dapat berdiri kokoh meski terjadi gempa. Selain itu, lumbung tempat menyimpan padi dan petuah <em>&#8216;kalau takuik dilamun galombang jan barumah di tapi pantai&#8217;</em> (kalau takut digulung ombak jangan mendirikan rumah di tepi pantai) merupakan kearifan lokal yang mampu membuat orang-orang zaman dulu bisa bertahan dalam kondisi bencana.</p>
<p>Kearifan lokal semacam itu, menurut Damsir, sudah banyak tidak lagi dipahami generasi sekarang, sehingga perlu diingatkan kembali pada masyarakat. Sebab banyak nilai-nilai yang terkandung dalam nasihat maupun bentuk pembangunan rumah yang telah dititipkan generasi sebelumnya untuk generasi saat ini dan generasi mendatang.</p>
<p><span id="more-818"></span>Pada Rumah Gadang, kita bisa melihat kearifan lokal nenek moyang tidak hanya dari nilai adat dan budayanya, namun juga dari konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa.</p>
<p>Petuah di atas juga jika dianalisa lebih lanjut memiliki pesan bagi masyarakat, agar dapat waspada di manapun mereka tinggal. Selain itu, masyarakat harus bersahabat dengan alam dan mengenali bahaya apa yang mengancam mereka di lingkungan tempat tinggalnya.</p>
<p>&#8220;Banyak memang kearifan lokal yang dimiliki, namun terkadang kita lupa akan hal itu, dan baru menyadari apa yang ditinggalkan nenek moyang tersebut adalah agar kita belajar pada alam, untuk itu kesadaran masyarakat adat akan hal ini harus kembali ditingkatkan, termasuk juga pemerintah daerah,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Damsar menambahkan, masyarakat adat harus kembali belajar pada alam dan melihat kearifan lokal yang ada. Jangan hanya terpaku dengan kemajuan zaman dan melupakan apa yang telah ditinggalkan nenek moyang yang sejatinya lebih bernilai.</p>
<p>&#8220;Terhadap pemegang kebijakan pemerintah, perlu juga mengambil kebijakan, untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, dengan berbagai cara. Agar generasi mendatang juga dapat mengambil nilai-nilai yang telah sejak lama ditipkan untuk dipahami dan dipelajari itu,&#8221; tegasnya. (Ant/Wrt3)</p>
<p> </p>
<p>Sumber : <a href="http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/04/22/88765/Kearifan-Minangkabau-Makin-Terkikis/3">http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/04/22/88765/Kearifan-Minangkabau-Makin-Terkikis/3</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/25/kearifan-minangkabau-makin-terkikis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">818</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="http://www.metrotvnews.com/image.php?image=bank_images/actual/88765.jpg"/>
	</item>
		<item>
		<title>Urgensi Ajaran Islam dlm Pelestarian dan Pengembangan Nilai-Nilai Adat dan Budaya bagi Generasi Muda</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/23/urgensi-ajaran-islam-dlm-pelestarian-dan-pengembangan-nilai-nilai-adat-dan-budaya-bagi-generasi-muda/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/23/urgensi-ajaran-islam-dlm-pelestarian-dan-pengembangan-nilai-nilai-adat-dan-budaya-bagi-generasi-muda/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 09:06:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ABS - SBK]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[adat minang]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ciloteh minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Kato Pusako]]></category>
		<category><![CDATA[mas'oed abidin]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[Tambo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=813</guid>

					<description><![CDATA[Oleh ; Buya Masoed Abidin Gambaran budaya Minangkabau berdasarkan ABSSBK  menetapkan  “nan Bana, Nan Badiri sandiri nya” atau “Al Haq” itu hanyalah ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Yang Maha Khaliq,yang telah menciptakan Alam Semesta dan Memberikan Petunjuk/Pedoman Hidup Manusia di tengah peta alam semesta iini. Pengamalan syari’at agama (Islam) dengan keimanan (tauhid) yang benar akan mendorong setiap muslim [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<h2>Oleh ; <a href="http://www.facebook.com/pages/Buya-Masoed-Abidin/318018344887048">Buya Masoed Abidin</a></h2>
</div>
<div>
<div></div>
</div>
</div>
<div>
<p><a href="https://palantaminang.wordpress.com/2008/04/22/sinergisitas-syara-dan-adat-dalam-praktek-muamalah-di-minangkabau/hmasoed-96/" rel="attachment wp-att-109"><img loading="lazy" data-attachment-id="109" data-permalink="https://palantaminang.wordpress.com/2008/04/22/sinergisitas-syara-dan-adat-dalam-praktek-muamalah-di-minangkabau/hmasoed-96/" data-orig-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2008/04/hmasoed-96.jpg" data-orig-size="96,96" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="hmasoed-96" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2008/04/hmasoed-96.jpg?w=96" data-large-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2008/04/hmasoed-96.jpg?w=96" class="alignleft size-full wp-image-109" title="hmasoed-96" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2008/04/hmasoed-96.jpg?w=497" alt=""   /></a>Gambaran budaya Minangkabau berdasarkan ABSSBK  menetapkan  <strong><em>“nan Bana, Nan Badiri sandiri nya”</em> atau “Al Haq” itu hanyalah ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Yang Maha Khaliq,</strong>yang telah menciptakan Alam Semesta dan Memberikan Petunjuk/Pedoman Hidup Manusia di tengah peta alam semesta iini. Pengamalan syari’at agama (Islam) dengan keimanan (<strong><em>tauhid</em></strong>) yang benar akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ</p>
<p><strong><em>Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan</em></strong><strong><em> …</em></strong><strong><em>.</em></strong> (Al-Baqarah, 257).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maknanya ada bimbingan TAUHID dalam kehidupan dan menjadi kekuatan  merakit masa depan – di dunia dan akhirat &#8212; sejak masa kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memerankan nilai-nilai tamaddun  Syariat Islam di dalam adat budaya ABSSBK di Minangkabau (Sumatera Barat) </strong>dikuatkan oleh Masyarakatnya terbanyak beragama Islam. Mereka paham agamanya. Mereka selalu pelihara prinsip hidup berakidah dan istiqamah. Ada identitas<em>Minangkabau</em> menjadi  <em>izzah</em> &#8212; martabat diri – pada  <em>sikap mujahadah</em> (kesungguhan) dengan <em>sahsiah</em>(personality) yang disebutkan  dalam <em>kato pusako</em> (<em>adat</em> budaya yang sudah diakui sejak lama) dan <em>ba</em><em>kato nan bana </em>(kkebenaran) melalui prinsip musyawarah dengan sikap  saling menghargai dan teguh berdiri sebagai pembela yang benar. <em>Terbujur lalu terbelintang patah. Esa hilang dua terbilang</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><strong><span id="more-813"></span>MASYARAKAT  DI SUMATERA BARAT<em> </em>memiliki <em>ciri khas adat</em> ABSSBK adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. </strong>Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan <strong>tatanan</strong> (<em>”system”</em>) pada berbagai <strong>tataran</strong>(”<em>structural levels</em>”). Yang paling mendasar <strong>tatanan nilai</strong> dan <strong>norma dasar sosial budaya</strong>yang akan membentuk <strong>Pandangan  Hidup dan Panduan  Dunia </strong>(<em>perspektif</em>) masyarakatnya yang akan <strong>(a)<em>. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota  dan kabupaten di Sumatera Barat, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu. </em>(b).<em> menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal. </em>(c).<em> akan menjadi </em></strong><strong><em>pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>di dalam kehidupan sendiri-sendiri</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>maupun bersama-sama.</em></strong><strong></strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan hidup rohani dan jasmani.<strong> </strong> <strong><em>&#8220;Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup  selama-lamanya&#8221; </em> (Hadist). Budaya </strong>Minangkabau wujud dalam <em>cita-cita kemakmuran ranah</em> seperti diungkapkan “<strong><em>Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau,  Panenggang anak dagang lalu,  Sabuah si Tinjau lauik,  Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.</em></strong><em> <strong> Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang&#8221;.</strong></em><strong><em> </em></strong>Artinya, perhatian terhadap kemakmuran sangat tinggi. Ada ide bahwa kepentingan bersama berada pada tingkat paling utama. Dapat di maknai bahwa individualistic tidak diminati dalam tatanan masyarakat ABSSBK. Inilah sesungguhnya  gambaran masyarakat Madani yang bertauhid.</p>
<p><strong> </strong><em> </em></p>
<p>PDPH juga <em>m</em><em>emberikan <strong>ruang</strong> </em><em>dan </em><strong><em>batasan-batasan</em></strong><em> bagi <strong>pengembangan kreatif potensi</strong></em><strong><em>pelajar (remaja) di Sumatera Barat  </em></strong>dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.</p>
<p>Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah. Menghargai nikmat-Nya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian. Nilai nilai itu membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya kemajuan. Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan. Memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas. Keyakinan bahwa semua tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah dan Rasul serta semua orang beriman.  Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu <strong><em>kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan</em></strong>.  Mengembalikan <em>Minangkabau</em> keakar <em>Islam</em> tidak boleh dibiar terlalai agar tidak lahir bencana.</p>
<p><strong><em>Idealnya “Syara’ mangato, Adaik Mamakaikan”. </em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Agama Islam yang dianut masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat diyakini dapat menjadi penggerak pembangunan. Hal itu telah terbukti dalam sejarah yang panjang menjadi kekuatan mendinamisir masyarakat adat Minangkabau menampilkan jati diri adat mereka.<em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Namun Realitasnya kini tengah terjadi perbahan <strong><em>“adaik indak dipacik arek, agamo indak dipagang taguah”.</em></strong><em>  </em><strong>Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka meningkatnya kemiskinan </strong>karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, hilangnya kebiasaan  <strong><em>manaruko</em></strong> dan lemahnya minat  <strong><em>marantau</em></strong> sehingga musibah sosial berupa kemelaratan dan kebodohan  mulai mengancam<em>.<strong></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari perubahan itu tampil <strong>fenomena kehidupan dan perilaku yang menyedihkan.</strong><em><strong>Minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah. Daya tarik dakwah agama mulai kurang. Banyak bangunan agama yang kurang terawat. Alim ulama suluah bendang mulai tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi)  oleh masyarakat lingkungan.</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Tantangan masa kini  </em>antara lain <em>infiltrasi </em>dan <em>penetrasi budaya sekular </em>yang menjajah mentalitas manusia <em> </em>serta suburnya <em>budaya lucah</em> yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap <em>hedonis</em>, kadang-kadang ganas (<em>anarkis</em>), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”<em>kesadaran kolektif</em>” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.</p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p><strong><em>Pergeseran budaya </em></strong><strong><em>terjadi ketika p</em></strong><strong><em>engabaian nilai-nilai agama</em></strong><strong><em>. </em></strong><strong>Pranata sosial budaya</strong>(”<em>social and cultural institution</em>”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi <strong><em>”kesadaran kolektif” </em></strong>di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. <strong><em> Pengabaian nilai-nilai itu menumbuhkan penyakit social yang kronis. Menjauh dari</em></strong><em> <strong>a</strong></em><strong><em>qidah tauhid</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>menjadikan perilaku </em></strong><strong><em>tidak</em></strong><strong><em>ber</em></strong><strong><em>akhlak Islami</em></strong><strong><em> serta suka m</em></strong><strong><em>elalaikan ibadah. </em></strong><strong>Sulusinya mengupayakan Pendidikan dengan pengenalan  Iman dan Akhlaq Qurani .</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kecanggihan pendidikan Budaya Minang diawali sejak Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) di rumah tangga melalui metode  <strong><em>j u j a i</em></strong>  dan peran pembinaan dari rumah tangga dalam perkerabatan Minangkabau tampak jelas. Generasi Minangkabau selalu tumbuh dengan Iman yang kokoh. Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju. Namun <em>tatanan nilai yang baik</em> itu dapat berubah karena longgar menjaga tatanan adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak generasi  akan merusak bangunan  kehidupan. Budaya Minangkabau membentuk generasi berakhlak <em>nan kuriek kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. </em>Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasul Allâh SAW yang mengingatkan bahwa<strong>, <em>&#8220;Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri </em>(‘ujub)<em>.&#8221; </em>(HR. al-Tirmidziy). </strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tantangan Pendidikan di kota dan kabupaten di Sumatera Barat ke depan sangat berat. Hubungan kekerabatan  yang<strong> <em>h</em></strong><strong><em>armonis</em></strong><strong><em>  </em></strong>amat diperlukan<strong>, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat dijadikan  modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat. </strong>Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan komunitasnya dengan terjaganya kaidah, <strong>” <em>nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang ..”</em> </strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat ABSSBK dengan mempertahankan pembelajaran budi akhlak. Disini pentingnya pengenalan terhadap syari’at agama (Islam) menjadi salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan dengan melaksanakan<em>pendidikan aqidah</em> pada anak-anak sejak usia dini (PAUD) dari rumah tangga dalam satu manajemen suku yang jelas menanamkan akhlak dengan menjaga ibadah dan pembentukan karakter umat dengan berpedoman wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><strong>N</strong><strong>ilai-nilai ideal kehidupan </strong><strong>masyarakat ABSSBK itu terlihat pada, (1). adanya </strong><strong><em>rasa memiliki bersama</em></strong><strong>, </strong><strong>(2). </strong><strong><em>kesadaran terhadap hak milik</em></strong><strong>, </strong><strong>(3). </strong><strong><em>kesadaran terhadap suatu ikatan</em></strong><strong><em> kaum dan suku</em></strong><strong>,<em> </em></strong><strong>(4). </strong><strong><em>kesediaan untuk pengabdian, </em></strong><strong>(5).<em> terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  </em>hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan.</strong><strong> Kelima nilai ideal itu akan menjadi </strong>kiat untuk meraih keberhasilan.  <strong><em>Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju.  </em></strong><strong>Artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,<em>  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”</em>. .. Konsep hidup ini diterapkan di dalam warisan adaik salingka nagari.</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemantapan tamaddun agama (Syariat Islam) dan adat budaya menjadi landasan dasar </strong>pengkaderan di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban,</p>
<p><strong>a).</strong><em> </em><strong>Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna, <em>kaluak paku kacang balimbiang, sayak timpuruang lengang-lenggangkan, anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan,</em></strong><em></em></p>
<p><em> </em><strong>b).</strong><em> </em><strong>Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan</strong> dalam kaum dan nagari secara alamiah, <strong><em>Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, Agak-agak nan ka pai, ingrk-ingek nan ka tingga, Patah tumbuah hilang ba ganti.</em></strong><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>c).</strong><em> </em><strong>Teguh setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat</strong> kepada  anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik. <strong><em> “ Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji, Handak tuah ba tabue urai, Handak  namo tinggakan jaso, Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja, Handak bulieh kuek mancari, Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakubur</em></strong><strong><em>an, Nan rawang  ranangan</em></strong><strong><em>  itiek, Nan padang kubangan kabau, Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan.. </em></strong><strong><em>”.  </em></strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalan ABSSBK  terekam dalam <strong>Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial</strong> masyarakatnya serta tutur kata yang baik. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah SAW menegaskan  ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ<strong>  </strong><strong>.. </strong><strong><em>“Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. </em></strong>(H.R. Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah  kekerabatan bertetangga ini  di Minangkabau direalisir melalui  <strong>manajemen suku</strong>  dengan membangun komunitas masyarakat yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian perinsip <strong><em>amar ma’ruf dan nahi munkar</em>  </strong>mulai dapat diwujudkan. Sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa  dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini melahirkan tindakan terpuji dan menumbuhkan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Rasulullah SAW bersabda.<strong></strong></p>
<p>صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ</p>
<p><strong><em>“Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia”. </em></strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya  menjadi <strong>Generasi Unggul</strong><em>(khaira Ummah)</em> yang akan memikul amanah pelopor perubahan (agent of changes) berbekal  <strong>keyakinan</strong> dan <strong>keimanan</strong> kepada Allah SWT. Melaksanakan misi <em>amar makruf nahyun anil munkar</em>.  Firman Allah menyebutkan<strong>,</strong><strong> </strong><strong>“<em>kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” </em>(QS.Ali Imran : 110)</strong><strong>.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Generasi Unggul  </strong>wajib lahir dengan budaya luhur (<em>tamaddun</em>) yang berasaskan  <em>tauhidik</em>. Memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi ditupang oleh tamaddun yang luhur . Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan. Berpadu pengetahuan dengan hidayah. Maka  rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Generasi Unggul adalah generasi <em>dinamik</em> yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. <strong>“<em>Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”</em> </strong> Dinamika kehidupan dapat dibangun dengan budi akal yang jernih dsn pekerti luhur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Generasi Unggul itu sanggup bersanding dan bertanding di tengah perubahan, karena memiliki sikap mandiri yang madani dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Apabila generasi kini dibiarkan terlena  dan lupa membenah diri dengan  kekuatan <em>ijtima’i </em>(kebersamaan), tentulah generasi  itu akan dijadikan <em>jarum kelindan</em>  di dalam satu pertarungan <em>gazwul fikri</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Membangun Generasi Unggul dengan iman yang kokoh.  إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى  <strong><em>Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah</em></strong><strong>. (QS.al Kahfi</strong>) . Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih. Mampu menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  <em>jati diri</em> sesuai fitrah anugerah Allah. Memiliki imah yang kuat dan selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Generasi Unggul adalah ilmuan muda, cendikiawan yang perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran <em>tanzim</em> Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mampu menilai teknologi informasi. Mahir bergaul dan berkomunikasi. Cakap menyelesai konflik. Mampu menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik. Menguasai bahasa, falsafah dan sejarah. Mahir merancang dan mengurus. Mampu melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran generasi terdidik dengan paksi Islam. Mesti diawasi, <strong> bahwa perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah dan berkembangnya perbuatan maksiat.  </strong>Dengan ilmu yang berteraskan iman, para aktivis Generasi Unggul (<em>khaira ummah</em>) akan dapat merumus <em>fikrah harakiah</em>untuk merancang gerak sesuai visi dan misi di dalam membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.</p>
<ol>
<li>Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah suatu sikap yang munafik dan <em>musyrik</em>.</li>
<li>Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain (<em>Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5</em>).</li>
<li>Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid tersebut. Allah adalah <strong><em>al Ma’bud</em></strong><em>  </em>artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah <strong><em>pengabdian hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  </em>(lihat QS.1:5)<em>.</em></strong> Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan <em>adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah</em>.</li>
<li>Konsepsi Tauhid Uluhiyah harus <em>istiqamah</em>  terhadap hukum wahyu dalam gagasan keyakinan dan gerak pelaksanaan. Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  <strong>musyrik</strong> (<em>Lihat QS.6:106, 41:6,7</em>).</li>
<li>Realisasi tauhid uluhiyah adalah pengabdian (ibadah) hanya kepada Allah, semata-mata dapat terwujud kepada di akuinya lembaga kedaulatan Allah di bumi (<em>Lihat QS.4:64, 4:80, 9:71, 120, 47:2,19, 47:33  </em>yang menerangkan adanya kekuasaan atau Mulkiyah Allah).</li>
</ol>
<p>Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Maka<strong>, “paradigma tauhid” – <em>Laa ilaaha illa Allah</em> – sebagai satu misi risalah (<em>Lihat QS.7:59, 7:72, 16:36</em>).</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Konsepsi Tauhid adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.  Karenanya apabila syarak telah mengata, maka adat mesti memakai. Disini terlihat peranan Akhlaqul Karimah.  “<strong><em>Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban</em>.”</strong><strong></strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perpaduan Adat dan <em>Syarak</em> di <em>Minangkabau</em> sejak masa dulu  telah menjadi undang-undang di nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan <em>syarak</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Strategi Pemahaman pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. <strong>Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya  diperhalus. Daya kemauannya dibangkitkan  dengan mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.</strong>Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu tanpa mengharapkan balas jasa. Pranata sosial budaya  adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Optimisme banagari  mesti selalu dipelihara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Peran <em>amar ma’ruf nahi munkar </em>mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu. G<em>erakan da’wah  akhlaqul Karimah  </em>untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.   Ajakan dakwah Islamiyah berupa <em>gerakan da’wah  akhlaqul Karimah </em>dengan pengamalan syari’at (<strong><em>syara’ mangato adaik mamakai</em></strong>) tujuannya adalah untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. <strong>Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan  Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan. Akibatnya masyarakat hancur.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah semoga kita dapat melestarikan dan menghidupkan tatanan masyarakat beradat dan beradab dikalangan generasi muda Sumatera Barat dalam pranata social masyarakat hokum adat yang memiliki filosofi ABSSBK sebagai bagian dari memelihara puncak puncak budaya Nasional Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Padang,  April 2012</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/23/urgensi-ajaran-islam-dlm-pelestarian-dan-pengembangan-nilai-nilai-adat-dan-budaya-bagi-generasi-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">813</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2008/04/hmasoed-96.jpg">
			<media:title type="html">hmasoed-96</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kato Pusako : A K A (AKAL)</title>
		<link>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/21/kato-pusako-a-k-a-akal/</link>
					<comments>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/21/kato-pusako-a-k-a-akal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Is Sikumbang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 17:23:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adat Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Kato Pusako]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[adat minang]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[bundokanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Ciloteh Minang]]></category>
		<category><![CDATA[MAJO INDO]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Tambo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://palantaminang.wordpress.com/?p=809</guid>

					<description><![CDATA[Disadur dari buku KATO PUSAKO karya AB. Dt. Majo Indo Aka ado ampek bagian Partamo syariaik namonyo Kaduo tarikaik namonyo Katigo hakikaik namonyo Ka ampek makripaik namonyo Timbuenyo dari ampek macam Partamo datang dari pikiran sandiri Kaduo datang dari urang lain Katigo datang dari ilham Kaampek dari usaho, karano dipelajari Katantuan aka ado tigo bagian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://palantaminang.wordpress.com/2011/04/14/ciri-dan-adat-minangkabau/gadang-jpg/" rel="attachment wp-att-611"><img loading="lazy" data-attachment-id="611" data-permalink="https://palantaminang.wordpress.com/2011/04/14/ciri-dan-adat-minangkabau/gadang-jpg/" data-orig-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg" data-orig-size="248,201" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="gadang.jpg" data-image-description="&lt;p&gt;https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg?w=248" data-large-file="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg?w=248" class="size-full wp-image-611 alignright" title="gadang.jpg" src="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg?w=497" alt=""   srcset="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg 248w, https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg?w=150&amp;h=122 150w" sizes="(max-width: 248px) 100vw, 248px" /></a>Disadur dari buku KATO PUSAKO karya AB. Dt. Majo Indo</p>
<p>Aka ado ampek bagian</p>
<p>Partamo syariaik namonyo</p>
<p>Kaduo tarikaik namonyo</p>
<p>Katigo hakikaik namonyo</p>
<p>Ka ampek makripaik namonyo</p>
<p>Timbuenyo dari ampek macam</p>
<p>Partamo datang dari pikiran sandiri</p>
<p>Kaduo datang dari urang lain</p>
<p>Katigo datang dari ilham</p>
<p>Kaampek dari usaho, karano dipelajari</p>
<p>Katantuan aka ado tigo bagian</p>
<p>Partamo nan wajib</p>
<p>Kaduo nan jais buliah diyakini, atau indak diyakini</p>
<p>Katigo mustahil atau mungkin jadi</p>
<p>Caro manantukannyo ado ampek caronyo</p>
<p>Partamo karano diliek jo mato</p>
<p>Kaduo karano didanga jo talingo</p>
<p>Katigo karano dicium jo hiduang</p>
<p>Kaampek karano dirasokan jo lidah atau dirasokan dek badan</p>
<p>Ma uji aka ado tigo caronyo</p>
<p>Partamo jo dalie nan datang dari Tuhan</p>
<p>Kaduo jo hadih nabi atau rasul</p>
<p>Katigo mambadiang jo laku alam</p>
<p>Badirinyo aka ado limo ujiannyo</p>
<p>Partamo awa lawannyo akie</p>
<p>Kaduo lahie lawannyo batin</p>
<p>Katigo baiak lawannyo jahek</p>
<p>Kaampek ado lawannyo indak ado</p>
<p>Kalimo iyo lawannyo indak</p>
<p>Nan maha kuaso manjadikan sagalo duo</p>
<p>Partamo ateh bawah</p>
<p>Kaduo langik jo bumi</p>
<p>Katigo bulan jo matahari</p>
<p>Ka ampek lautan jo daratan</p>
<p>Kalimo siang jo malam</p>
<p>Kaanam laki laki jo padusi</p>
<p>Katujuah tinggi jo randah</p>
<p>Kasalapan hino jo mulie</p>
<p>Kasambilan kayo jo bangsaik</p>
<p>Kasapuluah sarugo jo narako</p>
<p><span id="more-809"></span></p>
<p>Tando urang baraka ado sapuluah macamnyo</p>
<p>Partamo tiok babicaro janiah mukonyo</p>
<p>Kaduo basipaik pangasiah bagi sagalo makhluk</p>
<p>Katigo basipaik pamurah, suko baragiah</p>
<p>Kaampek tiok babicaro salalu manggana bana</p>
<p>Kalimo tiok babicaro dipikiakan baiak buruaknyo</p>
<p>Kaanam indak suko manfitnah jo ma agiah malu kaurang lain</p>
<p>Katujuah basirandah hati taradok sagalo urang</p>
<p>Kasalapan bicaro jo muluik manih</p>
<p>Kasambilan garak garik bicaro mayakinkan</p>
<p>Kasapuluah bapandai pandai mambaokan diri</p>
<p>Martabaik aka ado tigo macamnyo</p>
<p>Partamo sajangka akanyo</p>
<p>Kaduo duo jangka akanyo</p>
<p>Katigo tigo jangka akanyo</p>
<p>Manusia nan sajangka akanyo</p>
<p>Mamandang dirinyo labiah dari urang lain</p>
<p>Itulah urang nan dikatokan takabue</p>
<p>Manusia nan duo jangka akanyo</p>
<p>Urang nan mamandang dirinyo samo rato</p>
<p>Dikatokan urang nan baraka</p>
<p>Manusia nan tigo jangka akanyo</p>
<p>Urang nan mamandang dirinyo abdi Tuhan</p>
<p>Adolah urang nan samparono akanyo</p>
<p>Patuik manjadi contoh tuladan kahidupan</p>
<p>Aturan aka ado tigo macamnyo</p>
<p>Partamo mamaliharo nyawo sampai hiduik indak sampai taniayo</p>
<p>Kaduo mamaliharo tubuah manjago minum makan</p>
<p>Katigo pandai mamaliharo harato bando untuak keselamatan hiduik bakeluarga</p>
<p>Timbangan aka anam macamnyo</p>
<p>Partamo pandai mangati antaro barek jo ringan</p>
<p>Kaduo pandai mangati antaro tinggi jo randah</p>
<p>Katigo pandai mangati antaro rugi jo labo</p>
<p>Kaampek pandai manapekkan antaro hino jo mulie</p>
<p>Kalimo pandai mamakai pakaian nan patuik</p>
<p>Kaanam pandai manjalankan usaho nan mandatangkan faedah jo nan indak bafaedah</p>
<p>Tando urang baraka dibagi duo</p>
<p>Partamo limo macam bantuak lahiriah</p>
<p>Kaduo limo macam bantuak batiniah</p>
<p>Limo macam bantuak lahiriah</p>
<p>Partamo indak banyak bicaro</p>
<p>Kaduo hiduik jo panuah kasabaran</p>
<p>Katigo sipaik nan randah hati</p>
<p>Kaampek bagaue ramah tamah</p>
<p>Kalimo suko pado perbuatan amal soleh</p>
<p>Limo macam bantuak batiniah</p>
<p>Partamo bicaro salalu nan baiak baiak</p>
<p>Kaduo kuiak baibadaik lagi pamurah</p>
<p>Katigo tawaka pado nan maha kuaso</p>
<p>Kaampek manghindari diri dari karajo nan mandatangkan doso</p>
<p>Kalimo manjauahkan diri dari perbuatan jahek</p>
<p>Kapalo aka tigo macamnyo</p>
<p>Partamo mamaafkan sagalo kasalahan manusia</p>
<p>Kaduo barandah hati dalam pergaulan</p>
<p>Katigo babicaro mambaokan taratik jo sopan</p>
<p>Nan mahilangkan aka tigo macamnyo</p>
<p>Partamo karano takuik</p>
<p>Kaduo karano bodoh</p>
<p>Katigo karano malu</p>
<p>Aka pendek manyasekkan</p>
<p>Aka panjang manyampaikan</p>
<p>Lubuak aka tapian budi</p>
<p>Hiduik baraka mati bariman</p>
<p>Sumbayang mancari aka</p>
<p>Rukuak mancari kiro kiro</p>
<p>Hiduik baraka mati bakiro</p>
<p>Abih aka baru tawaka</p>
<p>Kok pandai main aka</p>
<p>Rahasio langik tabaco juo</p>
<p>Kok pandai main aka</p>
<p>Nan takulipik basuo juo</p>
<p>Panjang aka nak malilik</p>
<p>Panjang kecek nak mangabek</p>
<p>Aka dirimbo malilik</p>
<p>Aka manusia mambalik</p>
<p>Dipatah patah bilah mati</p>
<p>Digatie gatie salaronyo</p>
<p>Dipinang pinang lah mati</p>
<p>Dipanciang panciang aka budinyo</p>
<p>Jalin manjalin kain sulam</p>
<p>Sirah hijau bacampue putiah</p>
<p>Makin dikaji makin dalam</p>
<p>Tambah dikacau samakin janiah</p>
<p>Ado limo macam aka</p>
<p>Partamo aka sumbarang aka</p>
<p>Kaduo aka manjala</p>
<p>Katigo aka takumpa</p>
<p>Ka ampek aka tawaka</p>
<p>Kalimo aka sabana aka</p>
<p>Nan dikatokan aka sumbarang aka</p>
<p>Pio kiri pio kanan</p>
<p>Manjala hilie mudiak</p>
<p>Baiak jauah atau dakek</p>
<p>Ba’a kamandapek sajo</p>
<p>Nan dikatokan aka manjala</p>
<p>Manjala hilie mudiak, kiri kanan</p>
<p>Sasiuik namuah ka api</p>
<p>Salewai namuah ka aie</p>
<p>Barang tagendeang namuah maambiak</p>
<p>Nan sajombo nak manuai</p>
<p>Pilin jariang nan barisi</p>
<p>Pilin kacang nak mamanjek</p>
<p>Aka ndak mandapek sajo</p>
<p>Indak dapek kapai kapulang disinggahi juo</p>
<p>Nan dikatokan aka takumpua</p>
<p>Takalok talalu mati</p>
<p>Manyuruak talampaui hilang</p>
<p>Angan lapeh paham tatumbuak</p>
<p>Awak sanang sangketo tibo</p>
<p>Aka ado usaho hilang</p>
<p>Manaruah sagan jo ragu</p>
<p>Nan dikatokan aka tawaka</p>
<p>Apo nan datang dinanti sajo</p>
<p>Basarah diri ka nan maha kuaso</p>
<p>Apo nan tibo ditarimo sajo manyarah kapado nasib</p>
<p>Nan dikatokan aka sabana aka</p>
<p>Sagalo sasuatu diusahokan sampai dapek</p>
<p>Kalau lah diusahokan indak bahasia</p>
<p>Barulah basarah diri pado nan maha kuaso</p>
<p>Indak manarimo takadie sajo</p>
<p>Tapiu bausaho sadapek mungkin</p>
<p>Manyadari juo usaho jo kakuatan nan ado didalam diri</p>
<p>Adopun aka indak sakali tibo</p>
<p>Bicaro indak sakali dapek</p>
<p>Kaputusan indak sakali jadi</p>
<p>Pandapek indak sakali abih</p>
<p>Simpai indak sakali arek</p>
<p>Ujan indak sakali turun</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://palantaminang.wordpress.com/2012/04/21/kato-pusako-a-k-a-akal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">809</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/b4de459ba5d1ac8da2aa0ab307a40988ccd507f459b806f53221c5e80a20bde3?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">is sikumbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://palantaminang.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/gadang.jpg">
			<media:title type="html">gadang.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>