<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Triyani's Weblog</title>
	
	<link>http://triyani.wordpress.com</link>
	<description>Tax Blogging and Sharing</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 01:10:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain="triyani.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/12fdf0baf5d2e8ee1764d52fdedddc19?s=96&amp;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Triyani's Weblog</title>
		<link>http://triyani.wordpress.com</link>
	</image>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/wordpress/poAC" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Pencegahan Penyalahgunaan P3B</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/PejDFIwtdpQ/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/pencegahan-penyalahgunaan-p3b/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 00:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Badan]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final Ps 4 (2)]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 23/26]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Tax Treaty]]></category>
		<category><![CDATA[Condnuit]]></category>
		<category><![CDATA[Nominee]]></category>
		<category><![CDATA[Paper Box Company]]></category>
		<category><![CDATA[PER-62]]></category>
		<category><![CDATA[Treaty Shopping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=657</guid>
		<description><![CDATA[Pencegahan Penyalahgunaan P3B
Satu lagi peraturan Dirjen Pajak yang diterbitkan tanggal 5 November 2009 yang juga mengatur mengenai P3B, yaitu PER-62/PJ./2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan P3B. Seperti halnya PER-61 yang mengatur tentang Tata Cara Penerapan P3B, PER-62 ini juga mulai berlaku sejak 1 Januari 2010.
Dalam setiap Tax Treaty (P3B) Orang Pribadi atau badan yang dicakup dalam P3B [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=657&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pencegahan Penyalahgunaan P3B</strong></p>
<p>Satu lagi peraturan Dirjen Pajak yang diterbitkan tanggal 5 November 2009 yang juga mengatur mengenai P3B, <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/KEP-62-2009.pdf" target="_blank">yaitu PER-62/PJ./2009</a> tentang Pencegahan Penyalahgunaan P3B. Seperti halnya PER-61 yang mengatur tentang Tata Cara Penerapan P3B, PER-62 ini juga mulai berlaku sejak 1 Januari 2010.</p>
<p>Dalam setiap Tax Treaty (P3B) Orang Pribadi atau badan yang dicakup dalam P3B adalah orang Pribadi atau Badan yang merupakan Subyek Pajak Dalam Negeri dan/atau Subyek Pajak dalam negeri dari Negara mitra perjanjian. P3B tidak dapat diterapkan dalam hal terjadi penyalahgunaan P3B, meskipun penerima penghasilan telah sesuai dengan ketentuan mengenai SPDN.</p>
<p><strong>A. </strong><strong>Definisi Penyalahgunaan P3B</strong></p>
<p>Pengertian penyalahgunaan P3B yang dimaksud dalam PER-61, dapat terjadi apabila :</p>
<p>1)      Transaksi yang tidak mempunyai substansi ekonomi dilakukan dengan menggunakan struktur/skema sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B;</p>
<p>2)      Transaksi dengan struktur/skema yang format hukumnya (<em>legal form)</em> berbeda dengan substansi ekonomisnya <em>(Economic subsctance)</em> sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B; atau</p>
<p><em>3) </em>Penerima penghasilan bukan merupakan pemilik yang sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan <em>(beneficial owner).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Beneficial Owner</strong></p>
<p>Pengertian Pemilik yang sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan <em>(beneficial owner)</em> yang dimaksud dalam point A.3 tsb di atas adalah penerima penghasilan yang :</p>
<p>1)      Bertindak tidak sebagai Agen *);</p>
<p>2)      Bertindak tidak sebagai <em>Nominee</em> **); dan</p>
<p>3)      Bukan perusahaan <em>Conduit</em> ***).</p>
<p><em>*) Agen adalah orang pribadi atau badan yang bertindak sebagai perantara dan melakukan tindakan untuk dan atas nama pihak lain</em></p>
<p><em>**) </em>Nominee<em> adalah orang atau badan yang secara hokum memiliki (legal owner) suatu harta dan/atau penghasilan untuk kepentingan atau berdasarkan amanat pihak yang sebenarnya menjadi pemilik harta atau pihak yang sebenarnya menikmati manfaat atas penghasilan.</em></p>
<p><em>***) Perusahaan </em>Conduit <em>adalah suatu perusahaan yang memperoleh manfaat dari suatu P3B sehubungan dengan penghasilan yang timbul di Negara lain, sementara manfaat ekonomis dari penghasilan tersebut dimiliki oleh orang-orang di Negara lain yang tidak akan dapat memperoleh hak pemanfaatan P3B apabila penghasilan tersebut diterima langsung.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>C. </strong><strong>Pihak-pihak yang tidak dianggap melakukan penyalahgunaan P3B</strong></p>
<p>Orang Pribadi atau badan yang dicakup dalam P3B yang tidak dianggap melakukan penyalahgunaan P3B adalah sbb :</p>
<p>a. Individu yang bertindak tidak sebagai Agen atau <em>Nominee</em>;<br />
b. Lembaga yang namanya disebutkan secara tegas dalam P3B atau yang telah disepakati oleh pejabat yang berwenang di Indonesia dan di Negara Mitra P3B;<br />
c. WPLN yang menerima atau memperoleh penghasilan melalui Kustodian sehubungan dengan penghasilan dari transaksi pengalihan saham atau obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan di pasal modal di Indonesia, selain bunga dan dividen, dalam hal WPLN bertindak tidak sebagai Agen atau sebagai <em>Nominee</em>;<br />
d. Perusahaan yang sahamnya terdaftar di Pasar Modal dan diperdagangkan secara teratur;<br />
e. Bank; atau<br />
f. Perusahaan yang memenuhi persyaratan :</p>
<ul>
<li>1)      Pendirian perusahaan di Negara mitra P3B atau pengaturan struktur/skema transaksi tidak semata-mata ditujukan untuk pemanfaatan P3B; dan</li>
<li>2)      Kegiatan usaha dikelola oleh manajemen sendiri yang mempunyai kewenangan yang cukup untuk menjalankan transaksi; dan</li>
<li>3)      Perusahaan mempunyai pegawai; dan</li>
<li>4)      Penghasilan yang bersumber dari Indonesia terutang pajak di Negara penerimanya; dan</li>
<li>5)      Tidak menggunakan lebih dari 50% (lima puluh persen) dari total penghasilannya untuk memenuhi kewajiban kepada pihak lain dalam bentuk seperti: bunga, royalty, atau imbalan lainnya.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Konsekuensi Penyalahgunaan P3B</strong></p>
<p>Dalam hal terjadi penyalahgunaan P3B, maka :</p>
<ol>
<li>Pemotong/Pemungut Pajak tidak diperkenankan untuk menerapkan ketentuan yang diatur dalam P3B dan wajib memotong atau memungut pajak yang terutang sesuai dengan UU PPh;</li>
<li>WPLN yang melakukan penyalahgunaan P3B tidak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pajak yang seharusnya tidak terutang.</li>
</ol>
<p><strong>E. </strong><strong>Substance Over Form</strong></p>
<p>Dalam hal terdapat perbedaan antara format hukum (<em>legal form)</em> suatu struktur/skema dengan substansi ekonomisnyan (<em>economic substance</em>), maka perlakuan perpajakan diterapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku berdasarkan substansi ekonominya (<em>substance over form)</em></p>
<p><strong>F. </strong><strong>Mutual Agreement </strong></p>
<p>Dalam hal WPLN dikenakan pajak tidak berdasarkan P3B, WPLN tsb dapat meminta pejabat yang berwenang di negaranya untuk melakukan penyelesaian melalui prosedur persetujuan bersama <em>(mutual agreement procedure)</em> sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B</p>
<p><strong>G. </strong><strong>Lain-Lain</strong></p>
<p>Dengan berlakunya PER-62 maka peraturan di bawah ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.</p>
<ol>
<li><a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=7100&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=17&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=9849" target="_blank">SE-17/PJ./2005 </a>tanggal 1 Juni 2005 tentang Petunjuk Perlakuan PPh terhadap pasal 11 tentang Bunga Pada P3B Indonesia dengan Belanda;</li>
<li><a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=7100&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=03&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=13384" target="_blank">SE-03/PJ./03/2008</a> tanggal 22 Agustus 2008 tentang Penentuan Status <em>Beneficial Owner</em> sebagaimana dimaksud dalam P3B Indonesia dengan Negara Mitra</li>
</ol>
Posted in Pajak, PPh Badan, PPh Final Ps 4 (2), PPh Pasal 21/26, PPh Pasal 23/26, Tax Treaty Tagged: Condnuit, Nominee, Paper Box Company, PER-62, Treaty Shopping <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/657/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=657&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/pencegahan-penyalahgunaan-p3b/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/pencegahan-penyalahgunaan-p3b/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Tulis</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/iEV7LwEB4vI/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/salah-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 00:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[OOT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf, dalam posting sebelumnya terdapat kesalahan tulis dan salah link peraturan.
Seharusnya tertulis PER-61 juga link ke PER-61 di web DJP tetapi tertukar dengan PER-62.
Posting di bawah telah diperbaiki, tapi mungkin teman2 yang membaca (emang ada yg baca?   ) tulisan tsb dari FB,  LinkedIn, atau Feedblitz masih salah.
Mengenai PER-62 dibahas dalam posting selanjutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=655&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mohon maaf, dalam posting sebelumnya terdapat kesalahan tulis dan salah link peraturan.</p>
<p>Seharusnya tertulis PER-61 juga link ke PER-61 di web DJP tetapi tertukar dengan PER-62.</p>
<p>Posting di bawah telah diperbaiki, tapi mungkin teman2 yang membaca (<em>emang ada yg baca? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  </em>) tulisan tsb dari FB,  LinkedIn, atau Feedblitz masih salah.</p>
<p>Mengenai PER-62 dibahas dalam posting selanjutnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Iseng, OOT  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=655&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/salah-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/11/10/salah-tulis/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Penerapan P3B mulai 1 Jan 2010</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/8Xf2ZOE4f6E/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/11/09/penerapan-p3b-mulai-1-jan-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:03:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Final Ps 4 (2)]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 23/26]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Tax Treaty]]></category>
		<category><![CDATA[COD]]></category>
		<category><![CDATA[CRT]]></category>
		<category><![CDATA[P3B]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 26]]></category>
		<category><![CDATA[SKD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Penerapan P3B mulai 1 Januari 2010

Pada tanggal 5 November 2009 Dirjen Pajak telah menetapkan Peraturan No PER-61/PJ./2009 tentang Tata Cara Penerapan Penghindaran Pajak Berganda (P3B).  Peraturan tsb mulai berlaku terhitung sejak 1 Januari 2010 (Alhamdulillah tidak berlaku surut hehehehe).
Sesuai dengan UU PPh, Pemotong/Pemungut Pajak *) wajib untuk memotong atau memungut pajak yang terutang atas penghasilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=645&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Penerapan P3B mulai 1 Januari 2010<br />
</strong></p>
<p>Pada tanggal 5 November 2009 Dirjen Pajak telah menetapkan Peraturan No <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/KEP-61-2009.pdf">PER-61/PJ./2009 </a>tentang Tata Cara Penerapan Penghindaran Pajak Berganda (P3B).  Peraturan tsb mulai berlaku terhitung sejak 1 Januari 2010 (Alhamdulillah tidak berlaku surut hehehehe).</p>
<p>Sesuai dengan UU PPh, Pemotong/Pemungut Pajak *) wajib untuk memotong atau memungut pajak yang terutang atas penghasilan yang diterima/ diperoleh oleh Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN). Namun demikian, dalam hal WPLN berasal dari Negara mitra P3B, pemotongan/pemungutan pajak juga akan mengikuti ketentuan yang diatur dalam P3B.</p>
<p>Pemotong/Pemungut pajak terdiri dari :</p>
<p>a)      Badan Pemerintah;</p>
<p>b)      Subyek Pajak dalam Negeri;</p>
<p>c)       Penyelenggara Kegiatan;</p>
<p>d)      Bentuk Usaha Tetap; atau</p>
<p>e)      Perwawilan perusahaan luar negeri lainnya;</p>
<p>yang diwajibkan melakukan pemotongan atau pemungutan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WPLN.</p>
<p><strong>Penerapan tariff sesuai P3B</strong></p>
<p>1. Pemotong/Pemungut Pajak harus melakukan pemotongan atau pemungutan pajak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B, apabila :</p>
<p>a)      Penerima Penghasilan bukan Subyek Pajak dalam negeri Indonesia</p>
<p>b)      Persyaratan Administratif untuk menerapkan ketentuan yang diatur dalam P3B telah dipenuhi</p>
<p>c)       Tidak terjadi penyalahgunaan P3B oleh WPLN sebagaimana telah diatur dalam <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/KEP-62-2009.pdf">PER-62/PJ./2009</a></p>
<p>2. Apabila syarat2 tersebut diatas (point 1a-1c) tidak terpenuhi maka pemotong/pemungut pajak wajib memotong/memungut pajak yang terutang sesuai dengan UU PPh.</p>
<p>3. Persyaratan Administratif yang harus dipenuhi (ref point 1b diatas) adalah sbb :</p>
<p>a)      Menggunakan formulir Surat Keterangan Domisili (SKD)yang telah ditetapkan Dirjen Pajak (Lampiran II PER 61 –[Form – DGT I] atau Lampiran III PER 61 [form – DGT II] )</p>
<p>b)      (Formulir tsb) telah diisi oleh WPLN dengan lengkap</p>
<p>c)       (Formulir tsb) telah ditandatangani oleh WPLN</p>
<p>d)      (formulir tsb) telah disahkan oleh pejabat pajak yang berwenang di Negara mitra P3B, dan</p>
<p>e)      Disampaikan sebelum berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Masa untuk masa pajak terutangnya pajak</p>
<p>4. SKD yang menggunakan [form DGT-1] yang disampaikan kepada pemotong /pemungut pajak setelah berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Masa untuk masa pajak terutangnya pajak, tidak dapat  dipertimbangkan sebagai dasar penerapan ketentuan yang diatur dalam P3B sejak tanggal SKD tersebut disahkan oleh pejabat yang berwenang dari Negara mitra perjanjian dan berlaku selama 12 (dua belas) bulan</p>
<p><strong>Restitusi</strong></p>
<p>5. WPLN dapat menyampaikan permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang tidak seharusnya terutang sesuai dengan ketentuan yang berlaku apabila manfaat P3B tidak diberikan akibat persyaratan administrative sebagaimana dimaksid pada point 3 tidak terpenuhi, tetapi WPLN menganggap pemotongan atau pemungutan pajak tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B.</p>
<p><strong>Bukti Potong</strong></p>
<p>6. Bukti pemotongan/pemungutan wajib dibuat oleh pemotong pajak/pemungut pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku</p>
<p>7. Apabila terdapat penghasilan yang diterima/diperoleh WPLN, tetapi tidak terdapat pajak yang dipotong/dipungut di Indonesia berdasarkan ketentuan yang diatur dalam P3B, Pemotong/Pemungut Pajak tetap diwajibkan untuk membuat bukti pemotongan/pemungutan Pajak.</p>
<p><strong>Lain-Lain</strong></p>
<p>8. Pemotong/Pemungut Pajak wajib menyampaikan fotocopi SKD yang diterima dari WPLN sebagai lampiran SPT Masa</p>
<p>9. Kepala KPP harus melakukan penelitian kebenaran pelaporan atas jumlah pajak yang dipotong dan melakukan perekaman SKD dan bukti pemotongan/pemungutan yang dilaporkan oleh pemotong/pemungut pajak</p>
<p>10. Kepala KPP harus melakukan penelitian mengenai ada atau tidaknya BUT dari WPLN yang berada di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B</p>
<p>11. Apabila terdapat indikasi bahwa WPLN menjalankan kegiatan atau usaha di Indonesia melalui suatu BUT dan belum terdaftar sebagai wajib pajak, KPP memberitahukan KPP tempat BUT seharusnya terdaftar untuk dikirimi Surat Himbauan sesuai dengan ketentuan yang berlaku</p>
<p>12. Dengan berlakunya PER-62 ini, maka SE-03/PJ.101/1996 dan SE-04/PJ.101/1996 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong></p>
<p>Untuk dapat menerapkan tariff pemotongan/pemungutan PPh sesuai dengan P3B, hal-hal yang harus dilakukan adalah sbb :</p>
<p>1)      Pada saat pengiriman document tagihan (Invoice) ke Indonesia, WPLN harus sudah menyertakan SKD [form DGT-1 /  form DGT-2]  yang diisi lengkap, ditandatangani dan telah disahkan oleh pejabat yang berwenang, atau</p>
<p>2)      Akan lebih baik jika Blanko form DGT-1 atau form DGT-2 diserahkan ke Lawan Transaksi (WPLN) bersamaan dengan penandatanganan Agremeent agar dapat diisi lengkap, ditandatangani dan dimintakan pengesahan kepada pihak yang berwenang) sehingga dapat dikirim bersamaan pada saat pengiriman Invoice</p>
<p>3)      Jika terdapat beberapa transaksi dalam satu tahun, SKD tersebut (sepertinya) harus diisi kembali setiap bulan (bener ga sih?), kecuali untuk WPLN Bank dan  WPLN yang menerima/memperoleh penghasilan melalui custodian sehubungan dengan transaksi pengalihan saham/obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan di pasar modal di Indonesia, selain bunga dan Dividen</p>
<p>4)      Photocopy SKD harus dilampirkan dalam SPT Masa yang dilaporkan ke KPP</p>
<p>5)      SKD Asli harus disimpan Pemotong/Pemungut Pajak selama 10 tahun</p>
<p>6)      Meskipun PPh yang terutang NIHIL atau tidak terdapat pemotongan/pemungutan pajak, apabila terdapat pembayaran penghasilan kepada WPLN, Pemotong/Pemungut Pajak WAJIB membuat  bukti Potong PPh 26 dengan mencantumkan besarnya penghasilan bruto.</p>
<p>7)      Dan lain lain (nanti ditambahin lagi kalau sempat)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya silahkan dipelajari <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/KEP-61-2009.pdf">PER-61 tersebut</a>, nanti kita diskusikan sama sama. Jika ada yang punya kesimpulan berbeda please share</p>
<p>Salam;</p>
<p>Triyani</p>
Posted in Pajak, Pajak lainnya, PPh Final Ps 4 (2), PPh Pasal 23/26, Tax Treaty Tagged: COD, CRT, P3B, PPh 26, SKD, Tax Treaty <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=645&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/11/09/penerapan-p3b-mulai-1-jan-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/11/09/penerapan-p3b-mulai-1-jan-2010/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Installer eSPT sesuai PER-53</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/2zu3b2h-0FY/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/11/02/installer-espt-sesuai-per-53/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 10:11:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final Ps 4 (2)]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 22]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 23/26]]></category>
		<category><![CDATA[eSPT]]></category>
		<category><![CDATA[installer eSPT masa baru]]></category>
		<category><![CDATA[PER-53]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang sudah kita ketahui, mulai 1 November 2009 berlaku PER-53/PJ./2009 yang mengatur mengenai bentuk SPT Masa dan bukti potong yang baru.
Saat ini, installer eSPT Masa sesuai PER-53 sudah dapat didownload di web pajak.go.id
http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_content&#38;view=article&#38;id=73&#38;Itemid=107
Hmmm.. saya sendiri baru download saja belum install, apalagi mencoba aplikasi tsb, jadi belum tahu bentuknya seperti apa, apakah masih ada bug [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=641&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seperti yang sudah kita ketahui, mulai 1 November 2009 berlaku PER-53/PJ./2009 yang mengatur mengenai bentuk SPT Masa dan bukti potong yang baru.</p>
<p>Saat ini, installer eSPT Masa sesuai PER-53 sudah dapat didownload di web pajak.go.id</p>
<p><a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=73&amp;Itemid=107">http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=73&amp;Itemid=107</a></p>
<p>Hmmm.. saya sendiri baru download saja belum install, apalagi mencoba aplikasi tsb, jadi belum tahu bentuknya seperti apa, apakah masih ada bug sana-sini atau tidak <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>WARNING : file2 installer eSPT tsb masing-masing lebih dari 20MB. Jadi, pilih waktu yang tepat untuk mendownload dan gunakan koneksi yang baik <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Iseng, PPh Final Ps 4 (2), PPh Pasal 22, PPh Pasal 23/26 Tagged: eSPT, installer eSPT masa baru, PER-53 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/641/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=641&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/11/02/installer-espt-sesuai-per-53/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/11/02/installer-espt-sesuai-per-53/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>UU No 42 tahun 2009</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/hsijTIFCTZE/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/10/28/uu-no-42-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 11:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[OOT]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[UU No 42 tahun 2009]]></category>
		<category><![CDATA[UU PPN 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[Setelah disahkan DPR bulan September lalu, akhirnya UU PPN yang baru direlease juga. UU No 42 tahun 2009 tentang &#8220;Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah&#8221;
File &#8216;UU PPN 2009&#8242; tersebut sudah bisa didownload  di sini (only 257 KB)  atau di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=632&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setelah disahkan DPR bulan September lalu, akhirnya UU PPN yang baru direlease juga. UU No 42 tahun 2009 tentang <strong>&#8220;Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah&#8221;</strong></p>
<p>File &#8216;UU PPN 2009&#8242; tersebut sudah bisa didownload  <a href="http://triyani.files.wordpress.com/2009/10/uu-42-20091.pdf">di sini (only 257 KB) </a> atau di <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/UU-42-2009.pdf" target="_blank">http://www.pajak.go.id/dmdocuments/UU-42-2009.pdf </a></p>
<p>Kalau susah download di web pajak.go.id, bisa juga <a href="http://triyani.files.wordpress.com/2009/10/uu-42-th-2009-tentang-ppn.pdf">download di sini (UU 42 Th.2009 Tentang PPN</a>) , filenya sudah dikecilkan menjadi 5MB dari semula 20 MB.</p>
<p><em>Note : Thanks to mas Wisnu at KBR yang sudah kirim file dengan ukuran yang lebih menjaga hati <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
Posted in OOT, Pajak Tagged: UU No 42 tahun 2009, UU PPN 2009 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/632/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=632&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/10/28/uu-no-42-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/10/28/uu-no-42-tahun-2009/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Penghapusan Piutang menurut Pajak</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/kEwX-SRIeko/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/29/penghapusan-piutang-menurut-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 15:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Badan]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Orang Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[bad debt expenses]]></category>
		<category><![CDATA[Deductable Expenses]]></category>
		<category><![CDATA[penghapusan piutang]]></category>
		<category><![CDATA[piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih]]></category>
		<category><![CDATA[PMK-105/PMK.03/2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Biaya Kerugian Penghapusan Piutang menurut pajak 
Pasal 6 ayat 1 huruf h Undang-undang PPh mengatur bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih (dan memenuhi syarat tertentu) dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak (sebagai deductable expenses).  Syarat-syarat yang ditetapkan agar biaya kerugian penghapusan piutang tersebut dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=614&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Biaya Kerugian Penghapusan Piutang menurut pajak </strong></p>
<p>Pasal 6 ayat 1 huruf h Undang-undang PPh mengatur bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih (dan memenuhi syarat tertentu) dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak (sebagai deductable expenses).  Syarat-syarat yang ditetapkan agar biaya kerugian penghapusan piutang tersebut dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto adalah sbb :</p>
<ol>
<li>telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;</li>
<li>Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan</li>
<li>telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;</li>
<li>syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k UU PPh;</li>
</ol>
<p>Dalam penjelasan pasal 6 ayat 1 huruf h UU PPh dijelaskan bahwa : “Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba-rugi komersial dan telah melakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir.</p>
<p>Yang dimaksud dengan penerbitan tidak hanya berarti penerbitan berskala nasional, melainkan juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya”.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan pasal 6 ayat 1 tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat yang ditetapkan agar piutang yang nyata-nyata tidak dapat dihapus dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto adalah untuk membuktikan bahwa wajib pajak (kreditur) telah melakukan upaya yang maksimal atau terakhir dalam melakukan penagihan piutangnya.</p>
<p>Sebagai petunjuk pelaksanaan dari pasal 6 ayat 1 huruf h UU PPh, pada tanggal 10 Juni 2009 Menteri Keuangan telah menetapkan<span id="more-614"></span> <a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2009/105~PMK.03~2009Per.HTM">PMK-105/PMK.03/2009 (“PMK-105”) tentang “Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto” yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2009.</a></p>
<p>Berikut ini hal-hal yang diatur dalam PMK-105 tersebut :<br />
1) Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.</p>
<p>2) Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir oleh Wajib Pajak.<br />
3) Penerbitan umum atau khusus adalah penerbitan yang meliputi :</p>
<ul>
<li> a.	Penerbitan umum adalah pemuatan pengumuman pada penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yang lazim lainnya Yang berskala nasional; atau</li>
<li> b.	Penerbitan khusus adalah pemuatan pengumuman pada penerbitan Himpunan Bank-Bnak Milik Negara (HIMBARA)/Persatuan Bank-Bank Swasta Nasional (PERBANAS) dan/atau penerbitan/pengumuman khusus Bank Indonesia.</li>
</ul>
<p>4)	piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang timbul dibidang usaha bank, lembaga pembiayaan, industri, dagang dan jasa lainnya dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak.</p>
<p>5)	Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut tidak termasuk piutang yang berasal dari transaksi bisnis dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan Wajib Pajak.<br />
6) Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto, sepanjang memenuhi persyaratan :</p>
<ul>
<li> a.	Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah dibukukan sebagai penghasilan oleh debitur yang bersangkutan pada tahun yang bersangkutan;</li>
<li> b.	Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan</li>
<li> c.	Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah diserahkan perkara perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara, atau terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut, atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus, atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.</li>
</ul>
<p>7) Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang diserahkan kepada Direktorat Jenderal Pajak harus mencantumkan identitas debitur berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.</p>
<p>8 )	Pemenuhan ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (1) huruf c PMK-105 (Point 5 huruf c diatas) dilakukan dengan cara melampirkan :</p>
<ul>
<li> a.	fotokopi bukti penyerahan perkara penagihannya ke Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau</li>
<li> b.	fotokopi perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang usaha yang telah dilegalisir oleh notaris;atau</li>
<li> c.	fotokopi bukti publikasi dalam penerbitan umum atau penerbitan khusus; atau</li>
<li> d.	surat yang berisi pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapukan yang disetujui oleh kreditur tentang penghapusan piutang untuk jumlah utang tertentu, yang disetujui oleh kreditur.</li>
</ul>
<p>9)	Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan bukti/dokumen tersebut harus disampaikan bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.</p>
<p><strong>Penghapusan Piutang Debitur Kecil</strong></p>
<p>1) Untuk dapat membebankan biaya kerugian piutang (Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih) atas debitur kecil dan debitur kecil lainnya tidak diperlukan syarat-syarat seperti tersebut pada point 5 diatas.<br />
2)	Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil adalah piutang debitur kecil yang jumlahnya tidak melebihi Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah), yang merupakan gunggungan jumlah piutang dari beberapa kredit yang diberikan oleh suatu institusi bank/lembaga pembiayaan dalam negeri sebagai akibat adanya pemberian:</p>
<ul>
<li> a.	Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), yaitu kredit lunak untuk usaha ekonomi produktif yang diberikan kepada Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I yang telah menjadi peserta Takesra dan tergabung dalam kegiatan kelompok Prokesra-OPPKS;</li>
<li> b.	Kredit Usaha Tanu (KUT), yaitu kredit modal kerja yang diberikan oleh bank kepada koperasi primer baik sebagai pelaksana (executing) maupun penyalur (channeling) atau kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai pelaksana pemberian kredit, untuk keperluan petani yang tergabung dalam kelompok tani guna membiaya usaha taninya dalam rangka intensifikasi padi, palawija dan hortikultura;</li>
<li> c.	Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS), yaitu kredit yang diberikan oleh bank kepada masyarakat untuk pemilihan rumah sangat sederhana (RSS);</li>
<li> d.	Kredit Usaha Kecil (KUK), yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah usaha kecil;</li>
<li> e.	Kredit Usaha Rakyat (KUR), yaitu kredit yang diberikan untuk keperluan modal usaha kecil lainnya selain KUK; dan/atau</li>
<li> f.	Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam mengembangkan usaha kecil dan koperasi.</li>
</ul>
<p>3)	Piutang yang nyata-nyata tidak ditagih kepada debitur kecil lainnya adalah piutang debitur kecil lainnya yang jumlahnya tidak melebihi Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).<br />
4)	Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 harus dilampiri daftar nominatif yang berisi identitas debitur berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.</p>
<p><em>Catatan :</em></p>
<p><em>Entah kenapa syarat yang menurut pasal 6 ayat 1 huruf h UU PPh tertulis <strong>“telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba-rugi komersial” </strong>dalam PMK-105 berubah menjadi<strong> “telah dibukukan sebagai penghasilan oleh debitur yang bersangkutan pada tahun yang bersangkutan”</strong></em></p>
<p><em>Bagi kreditur, untuk membuktikan bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba-rugi komersial salah satunya dapat dilakukan dengan menunjukkan laporan laba-rugi komersial. Hal ini tentu relative lebih mudah dibandingkan dengan membuktikan bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah dibukukan sebagai penghasilan oleh debitur yang bersangkutan. </em></p>
<p><em> Dalam PMK-105 juga tidak disebutkan bagaimana caranya kreditur membuktikan bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah dibukukan sebagai penghasilan oleh debitur. Apakah kreditur wajib meminta laporan keuangan debitur?  Atau dengan cara lain? Bagaimana jika debitur adalah WP orang pribadi yang tidak melakukan pembukuan? </em></p>
Posted in Pajak, PPh Badan, PPh Orang Pribadi Tagged: bad debt expenses, Deductable Expenses, penghapusan piutang, piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, PMK-105/PMK.03/2009 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/614/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=614&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/29/penghapusan-piutang-menurut-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/29/penghapusan-piutang-menurut-pajak/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Biaya Promosi dan Penjualan menurut Pajak</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/-m5quXkthqk/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/26/biaya-promosi-dan-penjualan-menurut-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 16:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Badan]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Biaya Penjualan]]></category>
		<category><![CDATA[Biaya Promosi]]></category>
		<category><![CDATA[Deductable Expenses]]></category>
		<category><![CDATA[promosi industri farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Promosi Industri rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Biaya Promosi dan Penjualan menurut Pajak
Sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat (1) huruf a angka 7 Undang-undang PPh, Biaya promosi dan penjualan (yang diatur dengan peraturan menteri keuangan) merupakan salah satu unsur pengurang penghasilan bruto dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak ( merupakan deductable expense). 
Pada tanggal 10 Juni 2009, Menteri Keuangan telah menerbitkan PMK-104/PMK.03/2009 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=609&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Biaya Promosi dan Penjualan menurut Pajak</p>
<p>Sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat (1) huruf a angka 7 Undang-undang PPh, Biaya promosi dan penjualan (yang diatur dengan peraturan menteri keuangan) merupakan salah satu unsur pengurang penghasilan bruto dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak <em>( </em>merupakan<em> deductable expense). </em></p>
<p>Pada tanggal 10 Juni 2009, Menteri Keuangan telah menerbitkan <a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=104&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=13833">PMK-104/PMK.03/2009 (“PMK-104”) tentang biaya promosi dan penjualan </a>yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Meski pun PMK ini baru diterbitkan pada tanggal 10 Juni 2009 dan baru dipublikasikan menjelang akhir Juni 2009 (<em>baca : saya baru tahu hari ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  )</em> namun PMK-104 ini mulai berlaku terhitung sejak 1 Januari 2009.</p>
<p>Secara specific PMK-104 ini mengatur mengenai biaya promosi dan atau biaya penjualan bagi industry rokok dan industry farmasi. Mengingat saat ini tahun 2009 sudah berjalan selama 6 bulan, tentu adanya peraturan baru ini akan memberikan dampak yang cukup besar bagi industry terkait. Mungkin selama 6 bulan ke depan merubah strategi penjualannya, menghitung-hitung jumlah biaya promosi dan penjualan yang telah direalisasikan sampai dengan bulan Juni dan menghitung sisa budget biaya promosi berapa banyak yang akan diperhitungkan sebagai <em>deductable expense.</em></p>
<p>Biaya Promosi yang dimaksud dalam PMK-104<span id="more-609"></span> ini adalah : <em>“biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka memperkenalkan, mempromosikan, dan/atau menganjurkan pemakaian suatu produk baik langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan penjualan”</em>.</p>
<p>Sedangkan Biaya Penjualan adalah : <em>“biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak untuk menyalurkan barang dan/atau jasa sampai kepada pembeli dan/atau pelanggan (customer) baik langsung maupun tidak langsung, termasuk biaya pengepakan, biaya pergudangan, biaya pengamanan, dan biaya asuransi, dan biaya lainnya yang diperlukan sampai barang diterima oleh pembeli dan/atau pelanggan (customer)”.</em></p>
<p>Biaya Promosi dan/atau Biaya Penjualan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto harus memenuhi kriteria berikut :</p>
<ol>
<li>untuk      mempertahankan dan atau meningkatkan penjualan;</li>
<li>dikeluarkan      secara wajar;</li>
<li>menurut adat      kebiasaan pedagang yang baik;</li>
<li>dapat berupa      barang, uang, jasa, dan fasilitas; dan</li>
<li>diterima oleh      pihak lain.</li>
</ol>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Biaya promosi bagi Industry Rokok.</span></strong></p>
<p>a)      Untuk industri rokok, Biaya Promosi hanya dapat dibiayakan oleh :</p>
<ol>
<li>produsen;</li>
<li>Distributor      Utama; atau</li>
<li>importir      tunggal.</li>
</ol>
<p>b)      Besarnya Biaya Promosi sebagaimana dimaksud pada point a) adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>untuk industri rokok yang mempunyai peredaran usaha sampai dengan Rp 500.000.000.000,00 (lima ratus miliar rupiah), besarnya Biaya Promosi tidak melebihi 3% (tiga persen) dari peredaran usaha dan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);</li>
<li>untuk industri rokok yang mempunyai peredaran usaha di atas Rp 500.000.000.000,00 (lima ratus miliar rupiah) sampai dengan Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah), besarnya Biaya Promosi tidak melebihi 2% (dua persen) dari peredaran usaha dan paling banyak Rp 30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah);</li>
<li>untuk industri rokok yang mempunyai peredaran usaha di atas Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah), besarnya Biaya Promosi tidak melebihi 1% (satu persen) dari peredaran usaha dan paling banyak Rp 100.000.0000.000,00 (seratus miliar rupiah).</li>
</ol>
<p>c)      Biaya Promosi tersebut hanya dapat dibiayakan sebanyak 1 (satu) kali oleh :</p>
<ol>
<li>produsen;</li>
<li>Distributor Utama; atau</li>
<li>importir tunggal.</li>
</ol>
<p>d)      Dalam hal Biaya Promosi tersebut telah dikeluarkan baik oleh produsen maupun Distributor Utama, pihak yang berhak untuk membebankan Biaya Promosi adalah produsen.</p>
<p>e)      Dalam hal rokok tidak diproduksi di Indonesia, pihak yang berhak untuk membebankan Biaya Promosi tersebut adalah importir tunggal.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Biaya promosi bagi Industry Farmasi</span></strong></p>
<p>a)      Untuk industri farmasi, Biaya Promosi hanya dapat dibiayakan oleh :</p>
<ol>
<li>produsen;</li>
<li>Distributor Utama; atau</li>
<li>importir tunggal.</li>
</ol>
<p>b)      Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah tidak melebihi 2% (dua persen) dari peredaran usaha dan paling banyak Rp 25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah).</p>
<p>c)      Biaya Promosi tersebut hanya dapat dibiayakan sebanyak 1 (satu) kali oleh :</p>
<ol>
<li>produsen;</li>
<li>Distributor Utama; atau</li>
<li>importir tunggal.</li>
</ol>
<p>d)      Dalam hal Biaya Promosi tersebut telah dikeluarkan baik oleh produsen maupun Distributor Utama, pihak yang berhak untuk membebankan Biaya Promosi adalah produsen.</p>
<p>e)      Dalam hal produk farmasi tidak diproduksi di Indonesia, pihak yang berhak untuk membebankan Biaya Promosi adalah importir tunggal.</p>
<p><strong>Sample Produk dan daftar nominative</strong></p>
<ol>
<li>Dalam hal promosi diberikan dalam bentuk sample produk, besarnya biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar harga pokok.</li>
<li>Industri rokok dan industri farmasi wajib membuat daftar nominatif atas pengeluaran Biaya Promosi dan/atau Biaya Penjualan yang dikeluarkan kepada pihak lain.</li>
<li>Daftar nominatif tersebut paling sedikit harus memuat data penerima<strong> berupa nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak, dan besarnya biaya yang dikeluarkan.</strong></li>
<li>Apabila daftar nominatif tidak dipenuhi maka Biaya Promosi dan/atau Biaya Penjualan tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.</li>
</ol>
<p>Meskipun sedikit terlambat, dengan telah diterbitkannya PMK ini, wajib pajak yang bergerak di bidang industry rokok dan industry farmasi sudah bisa memperkirakan apakah biaya promosi yang telah dan akan dikeluarkan selama tahun 2009 ini seluruhnya akan menjadi deductable expenses atau hanya sebagian saja.</p>
<p>Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembebanan dan pelaporan biaya promosi dan/atau penjualan akan diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak. Semoga PER-DJP dimaksud segera terbit dan dapat lebih menjelaskan hal-hal yang masih menjadi pertanyaan bagi Wajib Pajak. Semoga.</p>
Posted in Artikel Pajak, Pajak, PPh Badan Tagged: Biaya Penjualan, Biaya Promosi, Deductable Expenses, promosi industri farmasi, Promosi Industri rokok <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/609/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=609&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/26/biaya-promosi-dan-penjualan-menurut-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/26/biaya-promosi-dan-penjualan-menurut-pajak/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Anti Virus yg bagus?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/wul8rFi4ZEE/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/11/anti-virus-yg-bagus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 03:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[OOT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[Lagi2 komputer saya diserang virus beberapa data tidak bisa dibuka.
Anti Virus apa sih yang bagus? Sejak ganti komputer saya pakai Kapersky, tapi mungkin karena kadang saya lupa mengaktifkan Antivirus tsb, sehingga komputer saya terserang virus lagi&#8230;  
Posted in Iseng, OOT       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=607&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lagi2 komputer saya diserang virus beberapa data tidak bisa dibuka.</p>
<p>Anti Virus apa sih yang bagus? Sejak ganti komputer saya pakai Kapersky, tapi mungkin karena kadang saya lupa mengaktifkan Antivirus tsb, sehingga komputer saya terserang virus lagi&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Iseng, OOT  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/607/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=607&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/11/anti-virus-yg-bagus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/11/anti-virus-yg-bagus/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>PPh Jasa Konstruksi dirubah lagi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/AjXvnYXtyQk/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/10/pph-jasa-konstruksi-dirubah-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 10:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Final Ps 4 (2)]]></category>
		<category><![CDATA[PP 40 tahun 2009]]></category>
		<category><![CDATA[PP 51 tahun 2009]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Jasa Konstruksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Telah terbit PP40 tahun 2009 tanggal 4 Juni 2009 tentang Perubahan PP 51 tahun 2008 tentang Pajak  atas Penghasilan dari Usaha Jasa Kontruksi.  PP tersebut berlaku sejak 1 Agustus 2008.
Gimana nasib PPh yang dulu sudah di pindahbukukan ya.. hmm..
Posted in PPh Final Ps 4 (2) Tagged: PP 40 tahun 2009, PP 51 tahun 2009, PPh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=604&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Telah terbit <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PP-40-2009.pdf">PP40 tahun 2009 tanggal 4 Juni 2009 </a>tentang Perubahan PP 51 tahun 2008 tentang Pajak  atas Penghasilan dari Usaha Jasa Kontruksi.  PP tersebut berlaku sejak 1 Agustus 2008.</p>
<p>Gimana nasib PPh yang dulu sudah di pindahbukukan ya.. hmm..</p>
Posted in PPh Final Ps 4 (2) Tagged: PP 40 tahun 2009, PP 51 tahun 2009, PPh Jasa Konstruksi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=604&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/10/pph-jasa-konstruksi-dirubah-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/10/pph-jasa-konstruksi-dirubah-lagi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Lokakarya PPh 21/26, Bidakara 25/6/2009</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/r5Qu0R-vgEA/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/09/lokakarya-pph-2126-bidakara-2562009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 23:35:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[OOT]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[1721]]></category>
		<category><![CDATA[PER-31/PJ./2009]]></category>
		<category><![CDATA[PER-32/PJ./2009]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[prianto]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar PPh 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[SPT Masa PPh 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[tax-ina]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop PPh 21/26]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;UNDANGAN LOKAKARYA PERPAJAKAN&#8221;  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis perpajakan sesuai dengan perkembangan terkini dan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap peningkatan kesadaran pajak di kalangan masyarakat, komunitas tax-ina (mailing list tax professional) bekerja sama dengan PT Partner Utama Konsultan (PARTAMA Consultant) mengundang Anda untuk mengikuti Lokakarya Perpajakan dengan topik yang sangat menarik dengan biaya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=597&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;UNDANGAN LOKAKARYA PERPAJAKAN&#8221;  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>Dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis perpajakan sesuai dengan perkembangan terkini dan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap peningkatan kesadaran pajak di kalangan masyarakat, komunitas tax-ina <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/tax-ina">(mailing list tax professional</a>) bekerja sama dengan PT Partner Utama Konsultan (<a href="http://www.partama.com">PARTAMA Consultant)</a> mengundang Anda untuk mengikuti Lokakarya Perpajakan dengan topik yang sangat menarik dengan biaya yang terjangkau berikut ini:</p>
<p>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>&#8220;MENCERMATI PETUNJUK TEKNIS PPh PASAL 21 TAHUN 2009 SESUAI PER-31/PJ/2009 dan PER-32/PJ./2009 DALAM RANGKA MENINGKATKAN TAX SAVING PERUSAHAAN&#8221;</p>
<p>Pukul 09.00 s.d 16.30 WIB | Kamis, 25 Juni 2009 | Ruang Baladewa 1 Pusdiklat Binakarna Hotel Bumikarsa Komplek Bidakara &#8211; Jakarta  <span id="more-597"></span>============================================================================</p>
<p>DESKRIPSI:</p>
<p>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Pedoman Teknis Tata Cara tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi sebagaimana diatur dalam PER-31/PJ./2009. Selain itu, dengan diterbitkannya PER-32/PJ./2009 telah diatur mengenai Bentuk Formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan Bukti Potong PPh 21/26 yang berlaku mulai bulan Juli 2009.   Untuk dapat memahami secara lebih detail perhitungan PPh Pasal 21/26 serta mempelajari bagaimana tehnik-tehnik pengisian SPT Masa PPh 21/26 sesuai dengan ketentuan terbaru, Pastikan Anda bergabung dalam lokakarya yang akan membahas beberapa sub topik menarik dan penting berikut ini :</p>
<p>Lokakarya ini akan mengupas sub topik sbb.:</p>
<p>SUB TOPIK BAHASAN: ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>1). Objek dan non objek pemotongan PPh Pasal 21.</p>
<p>2). Kewajiban pemotong pajak.</p>
<p>3). Teknik penghitungan PPh Pasal 21 bulanan di tahun 2009 dengan bantuan MS Excel untuk</p>
<p>:      &#8211; Penghasilan bulanan/tahunan (metode gross-up, PPh ditanggung pemberi kerja, dan PPh ditanggung pegawai).</p>
<p>- Penghasilan teratur dan tidak teratur (metode gross-up, PPh ditanggung pemberi kerja, dan PPh ditanggun          pegawai).</p>
<p>- Penyetahunan penghasilan untuk pegawai yang pindah tugas, pegawai ekspatriat, pegawai meninggal dunia.</p>
<p>- Penghasilan pegawai yng mulai bekerja atau berhenti bekerja pada tahun berjalan tanpa metode penyetahunan        penghasilan.</p>
<p>- Penghasilan bukan pegawai tetap seperti honor tenaga ahli dan upah satuan/borongan/harian.</p>
<p>- PPh ditanggung pemerintah.</p>
<p>4). Pengisian SPT Masa PPh pasal 21/26 sesuai dengan PER-32/PJ./2009 untuk pertama kalinya.</p>
<p>5). Pengisian SPT Masa PPh pasal 21/26 sesuai dengan PER-32/PJ./2009 untuk bulan terakhir.</p>
<p>6). Metode pemeriksaan pajak untuk PPh Pasal 21.</p>
<p>7). Perbandingan perbedaan tarif PPh Pasal 21.</p>
<p>- Untuk pegawai yang ber-NPWP.</p>
<p>- Untuk pegawai yang tidak ber-NPWP.</p>
<p>8). Tax planning PPh Pasal 21/26 sesuai UU PPh 2008 &amp; peraturan pelaksanaan yang terbit di 2009</p>
<p>PERHATIAN:</p>
<p>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>Setiap peserta SANGAT DIHARAPKAN membawa laptop sendiri-sendiri karena kami akan membagikan softcopy perhitungan PPh Pasal 21 dalam format MS Excel.   Jangan lewatkan kesempatan emas ini.</p>
<p>INSTRUKTUR:</p>
<p>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>Prianto Budi Saptono, Ak., BKP</p>
<p>Konsultan pajak pemegang sertifikat Brevet C ini merupakan mahasiswa program MM UGM dan akuntan lulusan STAN Jakarta yang memiliki pemahaman sangat baik terhadap ketentuan perpajakan yang berlaku sehingga sering mendapat julukan &#8220;peraturan berjalan&#8221;. Penguasaan perpajakan yang dimilki membuatnya mampu menangani klien-klien dengan permasalahan bervariasi, baik perusahaan nasional maupun multinasional.  Posisinya sebagai praktisi konsultan dan akuntan yang mampu menggabungkan pengetahuan teoritis dengan pengalaman empiris sering menjadikannya sebagai pembicara aktif di berbagai seminar, lokakarya dan pelatihan perpajakan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Bahkan hampir setiap minggunya, pembicara yang suka berhumor dalam penyampainnya ini sering berbagi ilmu dari satu hotel ke hotel lainnya sebagai nara sumber.   Pengalaman terkait lainnya adalah sebagai pengajar tetap di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan pengajar perpajakan di lembaga-lembaga kursus di Jakarta, Baik Brevet A, Brevet B maupun Brevet C dengan materi seluruh jenis perpajakan, maupun Training for Trainer di beberapa kota besar di Indonesia.  Sebelum mendirikan PT Partner Utama Konsultan dengan jabatan sebagai direktur, pengalaman pajaknya dimulai saat menjadi pemeriksa pajak di Ditjen Pajak dan auditor di kantor akuntan publik,</p>
<p>BIAYA INVESTASI: Rp 500.000  (Lima ratus ribu rupiah) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>1.	Biaya investasi tersebut berlaku untuk 1 peserta sudah termasuk 2x coffe break, 1x lunch, makalah, serta     sertifikat.</p>
<p>2. Transfer biaya investasi Anda ke Rek. 765-0234566 BCA Griya Depok Asri a.n. PT Partner Utama Konsultan      paling lambat 2 hari sebelum pelaksanaan lokakarya.</p>
<p>INFORMASI &amp; REGISTRASI:</p>
<p>Sdr. Nanang Hp. 0813 8140.5512; Telp. (021) 769.6972; Fax. (021) 769.6948 e-mail: info@partama.com ; nanang@partama.com</p>
<p>Moderator tax-ina : tax-ina-owner@yahoogroups.com   ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p>
<p>Formulir Pendaftaran</p>
<p>Nama                          :…………………………………………………………..</p>
<p>Nama Instansi/Perusahaan      :…………………………………………………………..</p>
<p>Alamat                        :…………………………………………………………..</p>
<p>No Telepon                    :..……………………………………………………….</p>
<p>No Fax                        :……………………………………………………………</p>
<p>No HP                         :………………………………………………………..</p>
<p>No Bukti Pembayaran           :………………………………………………………..</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
Posted in OOT, Pajak Tagged: 1721, PER-31/PJ./2009, PER-32/PJ./2009, PPh 21/26, prianto, Seminar PPh 21/26, SPT Masa PPh 21/26, tax-ina, Workshop PPh 21/26 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=597&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/09/lokakarya-pph-2126-bidakara-2562009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/09/lokakarya-pph-2126-bidakara-2562009/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Form SPT Masa PPh 21 Baru</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/d5lYimCA0qk/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/06/05/form-spt-masa-pph-21-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 02:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Pasal 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Bukti Potong PPh 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[SPT Masa PPh 21/26]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Peraturan baru tentang Bentuk Formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan Bentuk Bukti  Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 21/26
Filenya bisa didownload dari web DJP
Comment ga penting : bentar lagi pasti keluar ralat PER-32 karena pasal 4 tertulis 2x heheheh
Posted in Pajak, PPh Pasal 21/26 Tagged: Bukti Potong PPh 21/26, SPT Masa PPh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=595&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Peraturan baru tentang Bentuk Formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan Bentuk Bukti  Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 21/26</p>
<p>Filenya bisa didownload dari <a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&amp;task=doc_download&amp;gid=683&amp;Itemid=156">web DJP</a></p>
<p>Comment ga penting : bentar lagi pasti keluar ralat PER-32 karena pasal 4 tertulis 2x heheheh</p>
Posted in Pajak, PPh Pasal 21/26 Tagged: Bukti Potong PPh 21/26, SPT Masa PPh 21/26 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/595/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=595&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/06/05/form-spt-masa-pph-21-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/06/05/form-spt-masa-pph-21-baru/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tenaga Ahli</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/DgRu4-kS7fA/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/05/28/pph-pasal-21-atas-penghasilan-tenaga-ahli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 12:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Orang Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[PER-31/PJ./2009]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 21 Dokter]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 21 Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 21 Notaris]]></category>
		<category><![CDATA[PPh 21 Tenaga Ahli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/2009/05/28/pph-pasal-21-atas-penghasilan-yang-diterima-tenaga-ahli/</guid>
		<description><![CDATA[PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang diterima  Tenaga Ahli
Dengan diterbitkannya PER-31/PJ./2009 tanggal 25 Mei 2009 besarnya PPh pasal 21 yang terutang atas penghasilan yang dibayarkan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi (“WPOP”), selaku tenaga Ahli yang melakukan pekerjaan bebas (“Tenaga Ahli”) dirubah. Besarnya tariff PPh pasal 21 atas imbalan yang dibayarkan kepada tenaga ahli yang berlaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=587&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang diterima  Tenaga Ahli</strong></p>
<p>Dengan diterbitkannya PER-31/PJ./2009 tanggal 25 Mei 2009 besarnya PPh pasal 21 yang terutang atas penghasilan yang dibayarkan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi (“WPOP”), selaku tenaga Ahli yang melakukan pekerjaan bebas (“Tenaga Ahli”) dirubah. Besarnya tariff PPh pasal 21 atas imbalan yang dibayarkan kepada tenaga ahli yang berlaku sebelum tahun 2009, sebagaimana diatur dalam KEP-545/PJ./2000 Jo PER-15/PJ./2006 adalah sebesar 15% x Perkiraan Penghasilan Neto (50%) x Jumlah Imbalan Bruto , atau tarif efektif sebesar 7,5% x Jumlah Imbalan Bruto.</p>
<p>Sejak berlakunya Undang-undang No 36 tahun 2008 tentang Perubahan UU PPh terhitung mulai 1 Januari 2009 tariff PPh Orang Pribadi yang berlaku adalah sebagai berikut :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="319" valign="top">
<p align="center">Lapisan Penghasilan kena Pajak (Rp)</p>
</td>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">Tarif</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Rp 0 s/d   50 Juta</td>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">5%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">&gt;Rp 50   Juta s/d Rp 250 Juta</td>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">15%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">&gt;Rp 250   Juta s/d Rp 500 Juta</td>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">25%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">&gt;500   Juta</td>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">30%</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>(Tarif tersebut diatas diatur dalam Pasal 17 UU PPh, sehingga lebih dikenal dengan istilah “tariff pasal 17” atau “tarif progresif” karena sifatnya yang pregresif )</p>
<p>Dengan perubahan tariff PPh Orang Pribadi tersebut, tentu juga diikuti dengan perubahan tariff pemotongan Pajak atas penghasilan yang dibayarkan kepada WP Orang Pribadi, sebagaimana diatur dalam pasal 21 UU PPh.  Petunjuk pelaksanaan tentang Pemotongan PPh Pasal 21,khususnya yang terkait dengan imbalan yang dibayarkan kepada Tenaga Ahli diatur dalam PMK-252/PMK.03/2008 Jo PER-31/PJ./2009.</p>
<p><strong>Definisi Tenaga Ahli<br />
</strong></p>
<p>Dalam PPh Pasal 21, yang dimaksud dengan tenaga ahli adalah  <span id="more-587"></span>tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari  :  1) pengacara, 2) akuntan,  3) arsitek, 4) dokter, 5) konsultan, 6) notaris,  7) penilai, dan 8.) aktuaris.<br />
Disini, kata kuncinya adalah ‘melakukan pekerjaan bebas’. Dalam hal tenaga ahli tersebut tidak melakukan pekerjaan bebas, misalnya bekerja sebagai pegawai di institusi/ perusahaan tertentu, meskipun profesinya sebagai tenaga ahli, namun dalam menghitung PPh pasal 21 yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaannya mengikuti ketentuan PPh Pasal 21 untuk pegawai.</p>
<p><strong>Tarif yang berlaku<br />
</strong></p>
<p>Besarnya PPh Pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dihitung dengan cara menerapkan tarif Pasal 17 atas jumlah kumulatif jumlah kumulatif 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto yang dibayarkan atau terutang dalam 1 (satu) tahun kalender.</p>
<p>Jika kita bandingkan dengan ketentuan sebelum tahun 2009, dimana besarnya tariff efektif PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli adalah sebesar 7,5% dari Penghasilan Bruto, terlihat bahwa perhitungan PPh pasal 21 atas imbalan tenaga ahli sebelum tahun 2009 jauh lebih sederhana dibandingkan dengan yang saat ini berlaku. Dalam menghitung besarnya PPh21 yang terutang dan harus dipotong, Pihak Pemberi Penghasilan selaku pemotong pajak tidak perlu menghitung berapa jumlah kumulatif penghasilan yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli yang bersangkutan dalam satu tahun kalender.</p>
<p>Perhitungan kumulatif hanya diperlukan pada saat  pemotong pajak melaporkan SPT Tahunan PPh pasal 21. Dalam pengisian SPT 1721, jumlah kumulatif penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli dalam satu tahun kalender dilaporkan (diinformasikan kembali) dalam formulir 1721-B dan juga dirinci untuk masing-masing tenaga ahli penerima penghasilan dalam formulir 1721-C</p>
<p>Untuk tahun 2009, Pada saat menghitung PPh 21 yang terutang, untuk dapat menerapkan tariff yang benar, pemotong pajak harus mengetahui jumlah kumulatif penghasilan yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli tersebut sampai dengan saat pemotongan. Dalam lapisan tariff terendah telah digunakan penuh, maka pemotongan akan menggunakan lapisan tariff berikutnya seperti contoh sebagaimana tertera dalam lampiran PER-31 berikut ini :</p>
<p>Ir. Garda Suganda, adalah seorang arsitek, pada bulan Maret 2009 menerima fee sebesar Rp 100.000.000,00 dari PT Selaras Propertindo sebagai imbalan pemberian jasa yang dilakukannya. Pada bulan Juli 2009 menrima pelunasan sisa fee sebesar Rp 50.000.000.</p>
<p>Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong atas penghasilan Ir Garda Suganda adalah sbb :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="80%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">Bulan</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Penghasilan</p>
<p align="center">Bruto<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dasar<br />
Pemotongan<br />
PPh Pasal 21<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dasar<br />
Pemotongan<br />
PPh Pasal 21<br />
Kumulatif<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Tarif<br />
Pasal 17<br />
ayat (1)<br />
huruf a<br />
UU PPh</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">PPh<br />
Pasal 21<br />
terutang</p>
<p>(Rupiah)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">(1)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(2)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(3)= 50% x (2)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(4)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(5)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(6) = (3) x (5)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Maret</td>
<td valign="top">
<p align="right">100.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">5%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">2.500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Juli</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">25.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">75.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">15%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">3.750.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Jumlah</td>
<td valign="top">
<p align="right">150.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">75.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">
</td>
<td valign="top">
<p align="right">
</td>
<td valign="top">
<p align="right">6.250.000,00</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Penjelasan Perhitungan :<br />
</strong>Pada bulan Maret 2009, jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda sebesar Rp 50.000.000 (belum lebih dari 50juta),sehingga atas penghasilan yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda harus dipotong PPh pasal 21 sebesar 5% dari 50% Jumlah penghasilan bruto yang diterima. Sementara itu, Pada bulan Juli 2009, jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto yang dibayarkan kepadan Ir Garda Suganda telah melebihi Rp 50.000.000, sehingga tariff yang berlaku adalah 15% dari 50% Jumlah penghasilan bruto.</p>
<p>Apabila pada bulan-bulan berikutnya PT Selaras Propertindo membayar imbalan Jasa Arsitek kepada Ir Garda Suganda, besarnya tariff PPh 21 yang akan dikenakan mengikuti besarnya jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto. Misalnya :</p>
<p>Bulan Agustus Imbalan yang dibayarkan sebesar Rp 200 Juta dan bulan September sebesar Rp 200 Juta, maka besarnya PPh 21 yang harus dipotong atas imbalan yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda pada bulan Agustus dan September adalah sbb :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="80%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">Bulan</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Penghasilan</p>
<p align="center">Bruto<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dasar<br />
Pemotongan<br />
PPh Pasal 21<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dasar<br />
Pemotongan<br />
PPh Pasal 21<br />
Kumulatif<br />
(Rupiah)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Tarif<br />
Pasal 17<br />
ayat (1)<br />
huruf a<br />
UU PPh</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">PPh<br />
Pasal 21<br />
terutang</p>
<p>(Rupiah)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">(1)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(2)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(3)= 50% x (2)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(4)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(5)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(6) = (3) x (5)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Maret</td>
<td valign="top">
<p align="right">100.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">5%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">2.500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Juli</td>
<td valign="top">
<p align="right">50.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">25.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">75.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">15%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">3.750.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Agustus</td>
<td valign="top">
<p align="right">200.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">100.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">175.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">15%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">15.000.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">September</td>
<td valign="top">
<p align="right">200.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">100.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">275.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">15% &amp; 25%</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">17.500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Jumlah</td>
<td valign="top">
<p align="right">550.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">275.000.000,00</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="right">
</td>
<td valign="top">
<p align="right">
</td>
<td valign="top">
<p align="right">28.750.000,00</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jumlah kumulatif 50% Penghasilan Bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda pada bulan Agustus adalah sebesar Rp 175Juta (belum lebih dari Rp 250Juta), sehingga atas penghasilan yang dibayarkan kepada Ir Suganda tersebut terutang PPh pasal 21 dengan tariff 15% dari 50% x Jumlah imbalan bruto yang diterima. Pada bulan September 2009, jumlah kumulatif penghasilan bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda sebesar Rp 275 Juta (telah melebihi Rp 250Juta), oleh karena itu atas jumlah kumulatif 50% penghasilan bruto diatas 250juta akan dikenakan tariff 25%.</p>
<p>Dengan perubahan ketentuan ini, Wajib Pajak selaku Pemotong pajak, harus lebih rapi mengadministrasikan data-data pembayaran kepada tenaga ahli. Sebelum pembayaran dilakukan, pemberi penghasilan harus terlebih dahulu mengetahui berapa jumlah kumulatif 50% penghasilan bruto yang dibayarkan kepada tenaga ahli tertentu, agar dapat menerapkan tariff yang tepat dan terhindar dari sanksi karena kurang memotong PPh pasal 21.</p>
<p><strong>PPh pasal 21 khusus untuk Dokter<br />
</strong></p>
<p>Dalam PER-31, terdapat penegasan khusus atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh dokter yang melakukan praktek di rumah sakit / Klinik. Besarnya penghasilan bruto yang menjadi dasar perhitungan adalah sebesar jasa dokter yang dibayarkan pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik.  Dengan demikian, penghasilan yang menjadi dasar perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh dokter bukan berdasarkan penghasilan yang riil diterima oleh dokter.</p>
<p><strong>Kelebihan Pemotongan dan Penyetoran PPh selama periode Januari s/d April 2009.<br />
</strong></p>
<p>Dalam PMK-252 yang digunakan sebagai acuan wajib pajak dalam melakukan pemotongan PPh pasal 21 atas imbalan yang dibayarkan kepada tenaga ahli sejak Masa Januari s/d April 2009 , tidak terdapat ketentuan mengenai 50% dari jumlah kumulatif imbalan bruto sebagai dasar pengenaan pajak.  Pasal 15 ayat (1) PMK-252, antara lain mengatur bahwa :<br />
<em>“Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan atas::<br />
a.	jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran yang didasarkan pada penyelesaian suatu pekerjaan atau jasa yang menurut maksudnya tidak bersifat berkesinambungan, yang diterima oleh bukan pegawai;<br />
b.	jumlah bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan; atau<br />
c.	jumlah kumulatif penghasilan bruto sebagai imbalan atas pekerjaan atau jasa yang menurut maksudnya bersifat berkesinambungan, baik berdasarkan kontrak atau perjanjian tertulis atau berdasarkan keadaan yang sebenarnya, yang diterima oleh bukan pegawai”.<br />
</em></p>
<p>Penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas termasuk dalam kelompok penghasilan yang diterima oleh bukan pegawai. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan pasal 15 ayat 1 PMK-252, PPh pasal 21 yang terutang dan telah dipotong oleh pemberi penghasilan adalah sesuai tarif pasal 17 dari jumlah kumulatif penghasilan bruto yang dibayarkan. Namun demikian, dalam Per-31 yang diterbitkan tanggal 25 Mei 2009 dan berlaku surut sejak 1 Januari 2009, terdapat ‘ketentuan baru’ yang mengatur bahwa besarnya PPh 21 yang terutang atas penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli adalah tarif pasal 17 atas jumlah kumulatif 50% dari jumlah penghasilan bruto. Dengan adanya “penurunan tariff” tersebut maka akan terdapat kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli.</p>
<p><strong>Pindahbuku atau kompensasi<br />
</strong></p>
<p>Dengan adanya ‘ketentuan baru’ yang mengakibatkan terjadinya kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 sejak Jan 2009, tentu menimbulkan banyak pertanyaan bagi wajib pajak,  seperti :<br />
-	Apakah bukti potong yang telah diterbitkan harus direvisi dan dilakukan pembetulan SPT Masa?<br />
-	Apakah kelebihan pemotongan tersebut harus dikembalikan ke tenaga ahli yang bersangkutan?<br />
-	Apakah kelebihan penyetoran tersebut harus diajukan pemindahbukuan atau dikompensasikan secara otomatis? Bagaimana mekanismenya?<br />
-	Dll..</p>
<p>Sayangnya, dalam PER-31 belum terdapat klausul yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.<br />
Pasal 22 ayat 7 PER-31 mengatur bahwa <em>“Dalam hal dalam suatu bulan terjadi kelebihan penyetoran pajak atas PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang, oleh Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26, kelebihan penyetoran tersebut dapat diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang pada bulan berikutnya melalui Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26”</em></p>
<p>Merujuk pada pasal 22 tersebut, maka atas kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli periode Jan – April 2009 dapat dikompensasikan (diperhitungkan dengan pembayaran bulan selanjutnya).</p>
<p><strong>Tips &amp; Trick</strong><br />
Seperti telah diuraikan di atas, perhitungan PPh 21 atas penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli dihitung berdasarkan tariff pasal 17 atas jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto. Oleh karena itu, pada saat melakukan pembayaran professional fee kepada tenaga ahli, pemotong pajak harus sudah mengetahui jumlah kumulatif penghasilan bruto yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli yang bersangkutan agar dapat menghitung PPh 21 yang terutang dan harus dipotong dengan tepat.</p>
<p>Berikut ini ilustrasi table yang bisa membantu untuk memonitor perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli sesuai contoh data PT Selaras Propertindo bulan Agustus 2009 :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="29" valign="top">
<p align="center">No</p>
</td>
<td width="91" valign="top">
<p align="center">Identitas   WP (Nama,NPWP, Alamat dan Jenis Keahlian</p>
</td>
<td width="107" valign="top">
<p align="center">Jumlah   kumulatif penghasilan bruto s/d bulan sebelumnya (Rp)</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">Penghasilan   Bruto bulan ini</p>
</td>
<td width="96" valign="top">
<p align="center">Jumlah   kumulatif penghasilan bruto s/d bulan ini</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">Dasar   pengenaan pajak (50% jumlah kumulatif imbalan bruto)</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center">PPh   21 terutang sampai dengan bulan ini</p>
</td>
<td width="84" valign="top">
<p align="center">PPh   21 terutang dan telah dipotong s/d bulan sebelumnya</p>
</td>
<td width="96" valign="top">
<p align="center">PPh   21 yang terutang dan harus dipotong bulan ini</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" valign="top">1</td>
<td width="91" valign="top">Ir. Garda Suganda</td>
<td width="107" valign="top">
<p align="right">150.000.000</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="right">200.000.000</p>
</td>
<td width="96" valign="top">
<p align="right">350.000.000</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="right">175.000.000</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="right">21.250.000</p>
</td>
<td width="84" valign="top">
<p align="right">6.250.000</p>
</td>
<td width="96" valign="top">
<p align="right">15.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" valign="top"></td>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="107" valign="top"></td>
<td width="102" valign="top"></td>
<td width="96" valign="top"></td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="78" valign="top"></td>
<td width="84" valign="top"></td>
<td width="96" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun penafsiran akan dikoreksi kemudian <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Insya Allah akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang PPh 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada bukan pegawai selain tenaga ahli dan PPh 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada pegawai.</p>
Posted in Pajak, PPh Orang Pribadi, PPh Pasal 21/26 Tagged: PER-31/PJ./2009, PPh 21 Dokter, PPh 21 Konsultan, PPh 21 Notaris, PPh 21 Tenaga Ahli <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=587&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/05/28/pph-pasal-21-atas-penghasilan-tenaga-ahli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/05/28/pph-pasal-21-atas-penghasilan-tenaga-ahli/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Juklak PPh 21 PER-31/PJ./2009</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/pmLJCIYu67U/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/05/27/juklak-pph-21-per-31pj-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 18:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aturan Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[Juklak PPh 21]]></category>
		<category><![CDATA[PER-31]]></category>
		<category><![CDATA[PER-31/PJ./2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Telah terbit PER-31/PJ./2009 tgl 25 Mei 2009 tentang entang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan atau Pajak Penghasilan Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi
File bisa didownload dari siniatau langsung dari web pajak.go.id 
Telat posting .. itupun belum sempet buat resume.. baru sempet komen2 di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=584&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Telah terbit <a href="http://triyani.files.wordpress.com/2009/05/per-31-2009-ok-reduce.pdf">PER-31/PJ./2009</a> tgl 25 Mei 2009 tentang entang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan atau Pajak Penghasilan Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi</p>
<p>File bisa didownload dari<a href="../files/2009/05/per-31-2009-ok-reduce.pdf"> sini</a>atau langsung dari <a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER%2031-2009.PDF" target="_blank">web pajak.go.id </a></p>
<p>Telat posting .. itupun belum sempet buat resume.. baru sempet komen2 di FB <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Aturan Lainnya, PPh Pasal 21/26 Tagged: Juklak PPh 21, PER-31, PER-31/PJ./2009 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=584&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/05/27/juklak-pph-21-per-31pj-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/05/27/juklak-pph-21-per-31pj-2009/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>PPh pasal 26 atas Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/fGsm4053fms/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/05/02/pph-pasal-26-atas-penghasilan-dari-penjualan-harta-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 02:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Pasal 21/26]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Pasal 23/26]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Tax Treaty]]></category>
		<category><![CDATA[Laba Bersih BUT]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan harta di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Saham di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PPh pasal 26]]></category>
		<category><![CDATA[premi asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[premi reasuransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[PPh pasal 26 atas Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia
Pasal 26 ayat (2) undang-undang PPh mengatur bahwa  atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh, yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang dibayarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=566&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>PPh pasal 26 atas Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia</strong></p>
<p>Pasal 26 ayat (2) undang-undang PPh mengatur bahwa  atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh, yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri dipotong pajak 20% (dua puluh persen) dari  perkiraan penghasilan neto.</p>
<p>Sebagai petunjuk pelaksanaan ketentuan pasal 26 ayat (2) tersebut, pada tanggal 22 April 2009 Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan menteri Keuangan nomor  <a href="http://triyani.files.wordpress.com/2009/05/pmk-82-2009.pdf">PMK-82/PMK.03/2009</a> yang mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan</p>
<p><strong>Tarif PPh pasal 26 ayat (2) *</strong></p>
<p>Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang telah diatur dalam pasal 4 (2) UU PPh, yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN) selain Bentuk Usaha tetap (BUT), dipotong PPh pasal 26 sebesar 20% dari perkiraan penghasilan neto dan bersifat final</p>
<p>Bagi WPLN yang berkedudukan di negara treaty partner Indonesia,  pemotongan PPh hanya dilakukan apabila hak pemajakannya ada pada pihak Indonesia</p>
<p>Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah 25% dari harga jual, sehingga tariff efektif PPh 26 adalah 5% dari harga jual.</p>
<p><strong>Penjualan harta yang merupakan obyek PPh pasal 26 ayat (2)</strong></p>
<p>Penjualan atau pengalihan harta yang dimaksud dalam PMK ini adalah penjualan atau pengalihan harta berupa :</p>
<ul>
<li>Perhiasan mewah;</li>
<li>Berlian;</li>
<li>Emas;</li>
<li>Intan;</li>
<li>Jam tangan mewah;</li>
<li>Barang antik;</li>
<li>Lukisan;</li>
<li>Mobil;</li>
<li>Kapal pesiar; dan/atau</li>
<li>Pesawat terbang ringan</li>
</ul>
<p><strong><span id="more-566"></span>Pemotong PPh pasal 26 ayat (2)</strong></p>
<p>Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indoneisa yang diterima atau diperoleh WP LN <strong>dipotong PPh pasal 26 oleh pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong pajak </strong>dan kepada WPLN selaku penjual diberikan bukti pemotongan PPh pasal 26.</p>
<p><strong>Dikecualikan dari obyek PPh pasal 26 ayat (2)</strong></p>
<p>WP Orang Pribadi LN yang menerima atau memperoleh penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta yang besarnya tidak melebihi Rp 10.000.000 (Sepuluh juta rupiah) untuk setiap jenis  transaksi, dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 26 ayat (2).</p>
<p><strong>Kewajiban pemotong PPh pasal 26 ayat (2)</strong></p>
<ol>
<li>Kewajiban memotong dan menyetor PPh</li>
</ol>
<p>Pemotong PPh pasal 26 ayat 2 (yg telah ditungjuk sebagai pemotong) wajib memotong dan menyetorkan PPh pasal 26 yang terutang dengan menggunakan nama WPLN yang menjual atau mengalihkan harta , palinglama tanggal 10 bulan berikutnya setelah terjadinya transaksi</p>
<ol>
<li>Kewajiban lapor.</li>
</ol>
<p>Pemotong PPh pasal 26 ayat (2) wajib melaporkan PPh pasal 26(2) yang dipotong kepada Direktur Jenderal pajak paling lama tanggal 20 bulan berikutnya</p>
<ol>
<li>Sanksi</li>
</ol>
<p>Pemotong PPh pasal 26 (2) yang tidak memenuhi ketentuan yang diatiur dalam PMK-82 akan dikenai sanksi sesuai peraturan perpajakan.</p>
<p><strong>PPh pasal 26 yang berlaku sejak 22 April 2009</strong></p>
<p>Dengan berlakunya PMK-82 tersebut, maka terhitung sejak tgl 22 April 2009, penghasilan yang merupakan obyek PPh pasal 26 dan besarnya tariff PPh pasal 26 adalah sbb :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<thead>
<tr>
<td width="118" valign="top">
<p align="center">Dasar hukum</p>
</td>
<td width="330" valign="top">
<p align="center">Jenis Penghasilan</p>
</td>
<td width="156" valign="top">
<p align="center">Tarif dan dasar pengenaan PPh</p>
</td>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td width="118" valign="top">Pasal  26 ayat (1) UU PPh</p>
<p>Tax Treaty  masing-masing negara</td>
<td width="330" valign="top">a.    dividen;</p>
<p>b.    bunga   termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan   pengembalian utang;</p>
<p>c.    royalti,   sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;</p>
<p>d.    imbalan   sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;</p>
<p>e.    hadiah dan   penghargaan;</p>
<p>f.   pensiun dan   pembayaran berkala lainnya;</p>
<p>g.    premi swap   dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau</p>
<p>h.    keuntungan   karena pembebasan utang.</td>
<td width="156" valign="top">Tarif   : 20% atau sesuai tax treaty *</p>
<p>DPP =   Jumlah Bruto</p>
<p>Tarif   Efektif = 20% x Jumlah Bruto</td>
</tr>
<tr>
<td width="118" valign="top">Pasal 26 ayat (2)   UU PPh</p>
<p>PMK-82 /PMK.03/ 2009</p>
<p>Tax Treaty   masing-masing negara</p>
<p>-KMK-434/KMK.04/ 1999</td>
<td width="330" valign="top">Penghasilan   dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam   Pasal 4 ayat (2) UU PPh, yg terdiri dari :</p>
<ul>
<li>Perhiasan mewah;</li>
<li>Berlian;</li>
<li>Emas;</li>
<li>Intan;</li>
<li>Jam tangan mewah;</li>
<li>Barang antik;</li>
<li>Lukisan;</li>
<li>Mobil;</li>
<li>Kapal pesiar; dan/atau</li>
<li>Pesawat terbang ringan</li>
</ul>
<p>Kecuali    yang diterima/diperoleh oleh WPOP Luar   Negeri yang nilainya tidak melebihi  Rp   10.000.000 (Sepuluh  juta rupiah) untuk   setiap transaksi</p>
<p>Penghasilan dari <span style="background-color:#0c8629;color:#f1f1f1;">penjualan saham</span> di dalam negeri yang diperoleh atau diterima WPLN</td>
<td width="156" valign="top">Tarif   = 20% dari perkiraan penghasilan neto</p>
<p>Perkiraan   penghasilan neto = 25% x harga jual</p>
<p>Tarif   efektif = 5% x harga jual</p>
<p><em>tax treaty applied *)</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="118" valign="top">Pasal 26 ayat (2)   UU PPh</p>
<p>KMK -624/ KMK.04/1994</p>
<p>TaxTreaty   masing-masing negara</td>
<td width="330" valign="top">Premi   asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar negeri  :</p>
<ol>
<li>atas premi   dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara   langsung maupun melalui pialang, sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah   premi yang dibayar;</li>
<li>atas premi   yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada   perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui   pialang, sebesar 10% (sepuluh persen) dari jumlah premi yang dibayar;</li>
<li>atas premi   yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada   perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui   pialang, sebesar 5% (lima persen) dari jumlah premi yang dibayar.</li>
</ol>
</td>
<td width="156" valign="top">Tarif   = 20% dari perkiraan penghasilan neto</p>
<p>Perkiraan   penghasilan neto :</p>
<ol>
<li>50%  dari jumlah premi yang dibayar;</li>
</ol>
<p>b.    10% dari   jumlah premi yang dibayar;</p>
<ol>
<li>5% dari   jumlah premi yang dibayar.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tarif efektif :</span></p>
<p>- 10% dari Premi   dibayar oleh tertanggung</p>
<p>-  2% dari premi yang dibayar oleh perusahaan   asuransi</p>
<p>-  1% dari pemi yang   dibayar oleh perusahaan re-asuransi</p>
<p><em><br />
</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="118" valign="top">Pasal 26 ayat (2a)</p>
<p>PMK-258/ PMK.03/2008</p>
<p>Tax Treaty masing-masing   negara</td>
<td width="330" valign="top">Penghasilan   dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat   (3c) UU PPh</td>
<td width="156" valign="top">Tarif   = 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto</p>
<p>Perkiraan   penghasilan neto = 25% x harga jual</p>
<p>Tarif   efektif = 5% dari harga jual</p>
<p><em>tax treaty applied *)</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="118" valign="top">Pasal 26 ayat (4)</p>
<p>PMK-257/ PMK.03/2008</p>
<p>Tax Treaty masing-masing   negara</td>
<td width="330" valign="top">Penghasilan   Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia</p>
<p><em> </em></td>
<td width="156" valign="top">Tarif    : 20% (dua puluh persen) dari Penghasilan   kena pajak sesudah dikurangi Pajak</p>
<p>Atau sesuai   tax treaty</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>*) <em>tax treaty applied, </em> Bagi  WPLN yang berasal dari Negara treaty partner,hanya akan dikenakan PPh 26 jika hak pemajakan atas penghasilan dari penjualan harta ada pada pihak Indonesia</p>
Posted in Pajak, PPh Pasal 21/26, PPh Pasal 23/26, Tax Treaty Tagged: Laba Bersih BUT, Penjualan harta di Indonesia, Penjualan Saham di Indonesia, PPh pasal 26, premi asuransi, premi reasuransi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/566/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=566&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/05/02/pph-pasal-26-atas-penghasilan-dari-penjualan-harta-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/05/02/pph-pasal-26-atas-penghasilan-dari-penjualan-harta-di-indonesia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Surplus Institusi pendidikan yang dikecualikan dari obyek PPh</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/wordpress/poAC/~3/2iWln63mjUM/</link>
		<comments>http://triyani.wordpress.com/2009/05/01/surplus-institusi-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-pengenaan-pph/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 15:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh Badan]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[bukan obyek PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PMK-80/PMK.03/2009]]></category>
		<category><![CDATA[surplus lembaga pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[yayasan pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triyani.wordpress.com/2009/05/01/surplus-institusi-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-pengenaan-pph/</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan ketentuan pasal 4 ayat (3) huruf  m Undang-undang PPh, sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=561&subd=triyani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sesuai dengan ketentuan pasal 4 ayat (3) huruf  m Undang-undang PPh, sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut Bukan merupakan obyek PPh</p>
<p>Sebagai ketentuan pelaksanaan atas amanat pasal 4 (3) huruf m tersebut, Menteri  Keuangan telah menerbitkan PMK Nomor  <a href="http://triyani.files.wordpress.com/2009/05/pmk-80-2009.pdf">80/PMK.03/2009</a> tanggal 22 April 2009 yang berlaku surut sejak  1 Januari 2009.</p>
<p>Berikut ini rangkumannya :</p>
<p>1. Sisa lebih yang diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang  ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan yang bersifat terbukakepada pihak manapun, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut dikecualikan sebagai Obyek Pajak Penghasilan<span id="more-561"></span><br />
2. Sisa lebih yang dimaksud adalah selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan obyek PPh, selain penghasilan yang dikenakan PPh tersendiri, dikurangi dengan pengeluaran unguk biaya operasional sehari-hari dari badan atau lembaga nirlaba.<br />
3. Badan atau lembaga nirlaba dimaksud adalah badan/lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya.</p>
<p>4. Sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan tersebut meliputi :<br />
a)      Pembelian atau pembangunan gedung dan prasarana pendidikan, penelitian dan pengembangan termasuk pembelian tanah sebagai lokasi pembangunan gedung dan prasarana tersebut;<br />
b)       Pengadaan sarana dan prasarana kantor,laboratorium dan perpustakaan<br />
c)       Pembelian/pembangunan asrama mahasiswa, rumah dinas guru, dosen atau karyawan, dan sarana prasarana olahraga, sepanjang berada di lingkungan/lokasi lembaga pendidikan formal</p>
<p>5. Apabila dalam jangka waktu 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut terdapat sisa lebih yang tidak digunakan untuk pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau pengembangan, maka sisa lebih tersebut diakui sebagai penghasilan dan dikenai Pajak penghasilan pada tahun pajak berikutnya, setelah jangka waktu 4 (empat)tahun tersebut ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.<br />
6. Apabila dalam jangka waktu 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut terdapat sisa lebih yang digunakan selain untuk pengadaan sarana dan prasarana, sisa lebih tersebut diakui sebagai penghasilan dan dikenai pajak penghasilan ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.</p>
Posted in Pajak, PPh Badan Tagged: bukan obyek PPh, PMK-80/PMK.03/2009, surplus lembaga pendidikan, yayasan pendidikan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triyani.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triyani.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triyani.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triyani.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triyani.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triyani.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triyani.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triyani.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triyani.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triyani.wordpress.com/561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triyani.wordpress.com&blog=1570048&post=561&subd=triyani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triyani.wordpress.com/2009/05/01/surplus-institusi-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-pengenaan-pph/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1012b85cffc78181f37896d7eb9d306?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triyani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://triyani.wordpress.com/2009/05/01/surplus-institusi-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-pengenaan-pph/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
