<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553</atom:id><lastBuildDate>Fri, 23 Jan 2026 04:37:00 +0000</lastBuildDate><category>Ceritaku</category><category>Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><category>Opini</category><category>Gangguan Dengar</category><category>ATR (Anak Tuna Rungu)</category><category>lainnya</category><category>Parent Support</category><category>#pb2010</category><category>#BerkatNgeblog</category><category>#bloggership</category><category>#xlcontest</category><title>Jadikan kekuranganmu untuk maju</title><description></description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>91</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="History"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-4986427764338182752</guid><pubDate>Mon, 14 Nov 2011 15:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T22:44:56.484+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gangguan Dengar</category><title>Memutuskan Mengenakan Hearing Aid itu Tidak Mudah</title><description>&lt;br /&gt;
Mungkin banyak yang mengira memutuskan mengenakan Alat Bantu Dengar semudah memutuskan untuk berkacamata ketika di vonis mengalami minus ataupun plus. Padahal tidak begitu bagi yang mengalaminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika seseorang divonis mengalami gangguan dengar, pasti ada rasa tak menerima. Rasa berat hati mengakui bahwa indera pendengarannya telah terganggu. Lalu ketika disarankan untuk mengenakan Alat Bantu Dengar, itu butuh keputusan dan pemikiran lamaa sekali bahkan bisa bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayapun baru menyadari hal ini ketika menerima pesan baik lewat email ataupun message di Facebook yang menyatakan tak mudah memutuskan mengenakan alat bantu dengar (hearing aid). Selain tentunya masih berharap pendengarannya bisa pulih kembali juga ada rasa malu saat mengenakan alat yang bentuknya tak biasa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tak bisa disalahkan hal itu, sebab belajar menerima kehilangan tak semudah berkata-kata. Apa yang dikatakan belum tentu sama dengan yang dirasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seseorang menuliskan email pada saya, berharap pendengarannya bisa pulih kembali.&amp;nbsp; Membuat saya teringat bagaimana saya dulu. Berikut kutipan emailnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Saya menggunakan alat bantu dengar sejak tahun 2000 ketika saya berumur 19 tahun,.. &lt;br /&gt;
dimana ya mbak saya bisa browsing dan menemukan artikel hal hal yang berhubungan dengan "ketulian" ini.. ?&lt;br /&gt;
karena saya agak minder juga sampai sekarang msh menggunakan alat bantu dengar, dan terus berharap agar pendengaran saya pulih kembali..&lt;br /&gt;
-NN-
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memahami setiap kalimat yang dia tuliskan, saya memahami harapan untuk bisa lepas dari ABD. Karena saya pernah mengharapkan hal tersebut. Tetapi kemudian setelah saya mendapatkan fakta-fakta yang ada, akhirnya tersadar bahwa itu harapan semu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu haruskah menyerah saat menerima kenyataan yang ada?&amp;nbsp; JANGAN. &lt;br /&gt;
Jangan pernah menyerah. Kuatkan hati, yakinkan diri. Terkena gangguan dengar bukan berarti tamat sudah kehidupan. Dan meyakinkan bahwa harapan yang lain masih mungkin untuk di kejar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun penting untuk menerima kenyataan itu. Sebab dengan menerima terlebih dahulu baru bisa ada semangat untuk menggapai hal lain.&lt;br /&gt;
Jadi kalau ada yang mengganggap memutuskan mengenakan ABD sama dengan memutuskan berkacamata, salah bangeet. Karena berkacamata masih bisa bergaya dengan berbagai frame modis. Mengenakan Alat Bantu Dengar butuh rasa percaya diri yang besar saat orang lain melihatnya berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/11/memutuskan-mengenakan-hearing-aid-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>53</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-8716962619645289663</guid><pubDate>Tue, 01 Nov 2011 16:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-03T00:41:19.592+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Tetap Berkomunikasi Secara Verbal</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.fablevision.com/education/clipart/iTalk.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://www.fablevision.com/education/clipart/iTalk.gif" width="185" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah hal yang umum tentang anggapan terhambatnya komunikasi secara verbal (berkata-kata) bagi orang yang mengalami gangguan dengar. Sebab banyak orang menganggap bila terkena gangguan dengar akan sulit berkomunikasi secara verbal (berkata-kata).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Okelah mungkin saja anggapan ini karena banyak tunarungu yang kesulitan dalam mengungkapkan kata-kata. Hal ini dimaklumi dengan keterbatasan kosa kata yang mereka ketahui. Akan tetapi bila mengalami gangguan dengar saja rasanya komunikasi masih bisa dilakukan secara verbal (berkata-kata).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadangkala bila saya berkenalan dengan orang baru, dan saya mengatakan kalau saya mengenakan Alat Bantu Dengar (hearing aid). Akan timbul pertanyaan pertama dari mereka seperti.&lt;br /&gt;
&lt;i style="color: #741b47;"&gt;&lt;b&gt;“Kamu tetap berbicara dengan normal kan?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya tentu saja apakah saya tetap berbicara dengan berkata-kata. Saya tahu pertanyaan ini mungkin untuk mengatisipasi agar mereka mungkin lebih menggunakan bahasa tulisan ketimbang berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Biasanya akan saya jawab. &lt;br /&gt;
&lt;i style="color: #274e13;"&gt;&lt;b&gt;“Saya tetap bisa berbicara, hanya saja mungkin dalam mendengar ada beberapa kata yang sulit saya tangkap. Jadi saya rasa tak masalah berbicara sebagaimana biasanya”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tak dipungkiri, hingga saat ini (terutama di Indonesia), orang beranggapan terkena gangguan dengar artinya komunikasi tak lagi sama seperti orang lain. Padahal tidak begitu, bilamana saat terkena gangguan dengar seseorang itu sudah terbiasa berkomunikasi secara verbal, maka ia akan terus berkomunikasi sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah menyenangkan bila berkenalan dengan orang baru. Mendapat kesempatan yang sama dengan orang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja anggapan bahwa tidak bisa berkomunikasi dua arah, seringkali membuat orang dengan gangguan dengar terhambat untuk memperoleh kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya hidup dan tinggal di Indonesia, dimana di negara ini mau tau mau, suka ataupun tidak sebagai minoritas harus menyesuaikan dengan keadaan dalam berkomunikasi. Artinya saya tetap berkomunikasi secara verbal. Ini akan lain ceritanya bila saya tinggal di Negara maju, yang memaklumi bahwa ada penggunaan bahasa lain (bahasa isyarat)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa berbicara dan mendengar setidaknya menjadi suatu keharusan untuk saya.&lt;br /&gt;
Karena kemana-mana saya sendiri, dan tentunya harus lebih berani untuk membuka komunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dituliskan sekedar share&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*sumber gambar&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.michellehenry.fr/say.htm"&gt;http://www.michellehenry.fr/say.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/11/tetap-berkomunikasi-secara-verbal.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>19</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-2739200881185726928</guid><pubDate>Thu, 27 Oct 2011 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-15T20:01:33.311+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">#BerkatNgeblog</category><title>Berkat Ngeblog, Berani Menebar Semangat</title><description>Mengalami gangguan dengar memang bukan sesuatu yang istimewa, bahkan bukan hal yang patut di banggakan. Apalah pentingnya membanggakan gangguan dengar yang ada ini. Saya tak pernah memungkiri di lubuk hati yang paling dalam sebetulnya tak ada keinginan memiliki gangguan dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi bila memang takdir berkata lain dan memang gangguan dengar ini harus bersama saya. Haruskan saya menolak apa yang sudah di gariskan. Maka tak ada cara selain menerima, berdamai dan mengerti bahwa mengalami gangguan dengar tak seburuk apa yang dipikirkan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dari rasa menerima itulah akhirnya muncul untuk untuk bisa berbagi dengan orang lain. Saya gunakan media blog dalam berbagi. Alasannya mudah saja, melalui media tulisan lebih mudah dipahami oleh yang membaca.&amp;nbsp; Untuk itulah saya ngeblog.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mudah memang menuliskan semua itu di blog untuk dibaca secara umum. Butuh keberanian besar untuk mengakui bahwa saya adalah seorang dengan gangguan dengar dan dalam keseharian mengenakan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui media blog saya mengenalkan apa itu gangguan dengar, bagaimana orang yang terkena gangguan dengar dan stigma-stigma buruk tentang gangguan dengar. Saya jelaskan dengan apa yang saya ketahui dan tentunya dengan bahasa yang sederhana. Agar orang lain tahu gangguan dengar tidaklah seburuk yang mereka kira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dulu orang berpikir tuli berarti bisu. Akan tetapi sekarang hal itu tak belaku lagi. Sebab dengan kemajuan teknologi yang ada seorang anak cukuplah menjadi tuli saja tetapi tak lagi menjadi bisu. Tuli apabila masih ada sisa suara masih bisa dibantu dengan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua tahun sudah saya ngeblog, apa yang saya dapat dari tulis menulis tersebut. &lt;br /&gt;
Bila di ukur dari segi materi memang tak banyak. Tetapi bila yang dapat dari non materi itu semua berlimpah yang sudah saya dapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa senangnya saya ketika menerima email dari orang lain yang ternyata memiliki gangguan dengar dan merasa yang saya tuliskan turut mewakili apa yang dirasakannya. Lalu betapa senangnya saya ketika melihat orang tergerak membantu kenalannya seorang anak yang mengalami gangguan dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tak saya lupakan terjadi tahun lalu di Pesta Blogger 2010. Dimana saya meraih juara 3 dalam writing contest. Saya bangga sebab yang tulisan yang saya sertakan dalam writing contest adalah tentang saya dan anak-anak yang terlahir mengalami gangguan dengar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya semakin bersemangat menyuarakan tentang gangguan dengar. Mengabarkan bahwa tidaklah buruk mengakui mengalami gangguan dengar. Karena saya masih bisa beraktifitas sama seperti yang lain, berkomunikasi secara verbal. Hanya saja yang membedakan saya memelukan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) untuk bisa berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Ngeblog saya berbagi semangat kepada dunia dan mengatakan&lt;br /&gt;
“Haiii duniaa.. mengalami gangguan dengar bukanlah hal yang buruk.. Tetap Semangaat”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: #783f04;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tak perlu menunggu kaya..&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #783f04;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tak perlu menjadi hebat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #783f04;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Untuk bisa sekedar berbagi..&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i style="color: #783f04;"&gt;Mari tebarkan semangat lewat ngeblog&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: magenta; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Selamat Hari Blogger Nasional&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: magenta; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Mari Tebarkan Semangat dan Kebaikan Melalui Blog..&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tulisan ini dikutkan dalam rangka memperingati hari Blogger Nasional di &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.onoffid.org/bahasa-indonesia-berkat-ngeblog-%E2%80%93-hari-blogger-nasional-2011/?lang=id"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/10/berkat-ngeblog-berani-menebar-semangat.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>20</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-1732450182920055525</guid><pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-09T23:17:22.615+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Hasil Cetak Ulang Earmold Kiri</title><description>&lt;br /&gt;
Sabtu 8 Oktober 2011.&lt;br /&gt;
Ketika baru saja menerima hasil cetakan earmold dan menyambungkannya ke hearing aid. Saya kemudian menuliskan status ini di twitter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9mmpwSgkunVDz-2CpHj8hngVNpXXeIEsiZwI3pdYJ3NIWyYLx7VrrBx8w3nHGuUc-PI-gcRAgQ91IQKKUaZDvWIaGzSD3l16xgO4_VdFo1apjA-320oLfQWh2RoxwuKR3HOKf0JZm9zY/s1600/twet810.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9mmpwSgkunVDz-2CpHj8hngVNpXXeIEsiZwI3pdYJ3NIWyYLx7VrrBx8w3nHGuUc-PI-gcRAgQ91IQKKUaZDvWIaGzSD3l16xgO4_VdFo1apjA-320oLfQWh2RoxwuKR3HOKf0JZm9zY/s1600/twet810.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
tulisan status itu: &lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;b&gt;"tak ada yang sempurna. Bahkan hasil cetakan earmold sekalipun #hearingaid "

&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang saya tuliskan di status twitter saat melihat hasil cetakan earmold untuk telinga kiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Earmold itu berwarna putih, lain dengan permintaan saya yang untuk mencetak agak buram sedikit seperti earmold yang kanan. &lt;br /&gt;
Ketika diperhatikan dengan seksama, telihat jelas ada gelembung udara yang tak keluar. Bentuknya seperti balon kecil. Memang sih tak begitu kentara, hanya terlihat ketika earmold itu di lihat di tempat yang agak terang. Kesannya jadi tak rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti ini earmold untuk telinga kiri yang baru..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLYzEZyo5Yhh-2FkEDM7OZGBu-q2jBmDmCMuEeFtRLB2zWC0nqL8k2lV6m1skr734zPFDD0UxYZKUHg1kLIf-2ya5CaP9wTgmv0wTgrUIvsgBA6vAMmSXxHwnGS2mn6Gdo5GtK8Rhjr0g/s1600/IMG_0113.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="157" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLYzEZyo5Yhh-2FkEDM7OZGBu-q2jBmDmCMuEeFtRLB2zWC0nqL8k2lV6m1skr734zPFDD0UxYZKUHg1kLIf-2ya5CaP9wTgmv0wTgrUIvsgBA6vAMmSXxHwnGS2mn6Gdo5GtK8Rhjr0g/s200/IMG_0113.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;hasil cetakan earmold dan hearing aid kiri&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mencetak saya minta, agar tidak terlalu masuk ke sela telinga. Agar daun telinga saya tak terluka akibat gesekan dengan karet earmold. Sebab bila terluka rasanya jadi nyut-nyutan. Dan membuat saya malas mengenakan hearing aid yang kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal pendengaran telinga kiri saya masih lebih baik ketimbang yang kanan. Itulah mengapa telinga kiri harus mengenakan hearing aid dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah penampakan earmold yang kiri ketika saya kenakan. Sengaja potongan selangnya saya buat agak pajang sedikit dari yang sebelumnya. Ini untuk memberi rasa nyaman..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqWIn1UOVQnOiwTfMYoKnz-q54822QXGQzZTorF34qJy8LorfrJ2ZDKJBQhx3sUwaUF1sqzEdCRiR7cZoqC-8hJyClleg9fg6vDNB9oqZ4WUhq_U6Mu-Tw52xReskUqKZ2djGlukjQZDk/s1600/IMG_0182.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="158" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqWIn1UOVQnOiwTfMYoKnz-q54822QXGQzZTorF34qJy8LorfrJ2ZDKJBQhx3sUwaUF1sqzEdCRiR7cZoqC-8hJyClleg9fg6vDNB9oqZ4WUhq_U6Mu-Tw52xReskUqKZ2djGlukjQZDk/s200/IMG_0182.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;telinga kiri dan earmold yang baru&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Mudah-mudahan earmold untuk telinga kiri ini baik-baik saja dan bisa bertahan setahun untuk kemudian di cetak kembali. Sebab biaya mencetak lumayan juga yaitu sebesar RP.85.000,-&amp;nbsp; (Jakarta sekitarnya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/10/hasil-cetak-ulang-earmold-kiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9mmpwSgkunVDz-2CpHj8hngVNpXXeIEsiZwI3pdYJ3NIWyYLx7VrrBx8w3nHGuUc-PI-gcRAgQ91IQKKUaZDvWIaGzSD3l16xgO4_VdFo1apjA-320oLfQWh2RoxwuKR3HOKf0JZm9zY/s72-c/twet810.jpg" width="72"/><thr:total>16</thr:total><georss:featurename>Jalan Caraka Buana, Pondok Aren, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.250537 106.739224</georss:point><georss:box>-6.254483 106.73428849999999 -6.246591 106.7441595</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-6808557868000479931</guid><pubDate>Sun, 02 Oct 2011 17:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-03T00:50:55.543+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Cetak Ulang Earmold kiri</title><description>&lt;br /&gt;
Kenyamanan dalam mengenakan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) itu penting sekali. Itulah mengapa saya yang kalem, bisa begitu cerewet bila sudah menyangkut soal telinga dan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelajaran IPA Biologi tentunya pernah belajar mengenai struktur telinga. Dimana telinga itu memiliki 3 bagian yaitu Telinga Luar, Telinga Tengah dan Telinga Dalam. Tulisan ini bukan untuk membahsa mengenai struktur telinga, tetapi sekedar sharing apa yang&amp;nbsp; saya rasakan beberapa minggu ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah dua minggu ini daun telinga kiri saya sakit rasanya.&lt;br /&gt;
Bukan karena gangguan dengar. Tetapi karena earmold yang tak lagi nyaman dikenakan. Akibatnya saya jadi tak betah mengenakan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) yang kiri.&lt;br /&gt;
Seperti apa sih penampakan telinga saat mengenakan earmold tipe full.&lt;br /&gt;
Yuk saya perlihatkan gambarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_RoiPNUtnmQp5bQ__x1ezkwP1nfo4aNncADc-Gx7Y7D4OAGlcGBobX3u-C5jy2U-YZmb_Sa2OWOeNJSBDCi-Fxi0PkOiBMV5gBNBBxqk2uHut89Ii3cJdK28_Z60o3pOCxtBYxZGEiP4/s1600/abd_kanan.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="172" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_RoiPNUtnmQp5bQ__x1ezkwP1nfo4aNncADc-Gx7Y7D4OAGlcGBobX3u-C5jy2U-YZmb_Sa2OWOeNJSBDCi-Fxi0PkOiBMV5gBNBBxqk2uHut89Ii3cJdK28_Z60o3pOCxtBYxZGEiP4/s200/abd_kanan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Telingan Kanan dan earmodnya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Untuk telinga kanan, tak ada masalah dengan earmoldnya. Karena masih baru di cetak bulan agustus lalu, berbarengan dengan pergantian Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) yang kelima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8s5vjJhP6alhRNKHmYxZWDFs6RTNFuEiw2hShglHtmkzQtuBnf_LfjUAPlBTIjc73tQDreRqpzYjQx2N5QEnXzqqfrhozvLEmJXRtFY1q4ecZqQpdPLKlWbniFzbyGodZglJdUrwTo1Y/s1600/abd_kiri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="168" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8s5vjJhP6alhRNKHmYxZWDFs6RTNFuEiw2hShglHtmkzQtuBnf_LfjUAPlBTIjc73tQDreRqpzYjQx2N5QEnXzqqfrhozvLEmJXRtFY1q4ecZqQpdPLKlWbniFzbyGodZglJdUrwTo1Y/s200/abd_kiri.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Telinga Kiri dan earmoldnya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan earmold kiri, sudah agak lama juga saya gunakan. Memang belum sampai setahun. Karena earmold ini berbahan karet silicon, tentu saja karetnya tak lagi nyaman. &lt;br /&gt;
Memang bila dilihat dari luar, earmold ini masih bagus. Akan tetapi untuk saya yang mengenakannya ada rasa tak nyaman akibat bagian sela telinga saya rasanya seperti tergencet. Untuk lebih jelasnya lihat tanda panah merah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb8MGtghjuNqlwuW7SQ965MV72wEFU0dm_eb6t52OPXd1VPL7pheYFlTklJMF1V45k0x2qRAb-Na3M2P8bn1rIYnSFitBWbFowFxge2hcckzV90zDU2GVcRj_taIM2ldicXVbLjfP1J7w/s1600/earmold_bikin+sakit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb8MGtghjuNqlwuW7SQ965MV72wEFU0dm_eb6t52OPXd1VPL7pheYFlTklJMF1V45k0x2qRAb-Na3M2P8bn1rIYnSFitBWbFowFxge2hcckzV90zDU2GVcRj_taIM2ldicXVbLjfP1J7w/s200/earmold_bikin+sakit.jpg" width="193" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bagian itulah biasanya masalah yang terjadi pada saya ketika mengenakan earmold tipe full yang menutupi seluruh lubang telinga. Jadi tentu saja saya harus rajin menceknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahirnya hari Sabtu lalu, tanggal 1 Oktober 2011, saya melakukan cetak ulang earmold untuk telinga kiri. Dimana telinga kiri saya dibuatkan cetakannya. untuk kemudian di cetak earmold baru. Prosesnya memakan waktu seminggu. Mudah-mudahan minggu depan earmold kiri sudah jadi dan bisa saya pakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/10/cetak-ulang-earmold-kiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_RoiPNUtnmQp5bQ__x1ezkwP1nfo4aNncADc-Gx7Y7D4OAGlcGBobX3u-C5jy2U-YZmb_Sa2OWOeNJSBDCi-Fxi0PkOiBMV5gBNBBxqk2uHut89Ii3cJdK28_Z60o3pOCxtBYxZGEiP4/s72-c/abd_kanan.jpg" width="72"/><thr:total>6</thr:total><georss:featurename>Jalan Caraka Buana, Pondok Aren, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.250537 106.739224</georss:point><georss:box>-6.2525099999999991 106.7367565 -6.248564 106.74169149999999</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-4002321506076460628</guid><pubDate>Tue, 27 Sep 2011 16:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-27T23:41:49.735+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Tipe Earmold Yang Saya Pakai</title><description>Sebagai pemakai Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) setidaknya saya mengenal dua macam bahan earmold. Yaitu earmold berbahan keras dan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Earmold itu berupa cetakan lubang telinga, yang kemudian dihubungkan oleh sebuah selang kecil (tube) pada Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) yang pakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut jenis earmold yang pernah saya gunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Earmold Tipe Keras.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum Earmold ini terlihat mengkilap. Biasanya berawarna Coklat.&lt;br /&gt;
Cetakan telinganya lebih mungil dan agak masuk kedalam.&lt;br /&gt;
Earmold ini bisa dibilang cukup awet. Hanya saja karena berbahan keras tentunya agak tak nyaman bila dikenakan oleh anak-anak. Sebab akan merasakan telinga tersumbat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Selain itu karena anak-anak mengalami masa pertumbuhan maka earmold ini tentunya akan terasa longgar dan menimbulkan feedback, seiring makin besarnya anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk earmold tipe ini saat service cukup selang (tube)nya saja yang diganti. Earmold ini juga tidak akan terlihat kotor karena mudah bersihkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/8LinB2qEb1zu5rT7OYxrAw/photos/1M/300x300/1733/earmold-keras.jpg?et=i5deBylVFzWClyJ%2CTa70AA&amp;amp;nmid=0" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/8LinB2qEb1zu5rT7OYxrAw/photos/1M/300x300/1733/earmold-keras.jpg?et=i5deBylVFzWClyJ%2CTa70AA&amp;amp;nmid=0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Earmold Tipe Keras kanan dan kiri&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Earmold ini saya kenakan saat tahun 90an. Saat ini sudah jarang saya 
lihat earmold tipe seperti ini. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Earmold Tipe Lembut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Earmold ini secara umum berbahan karet silicon. Dicetak full menutupi telinga.&lt;br /&gt;
Sehingga pemakaiannya tak semudah earmold kecil, tetapi harus benar-benar pas saat dikaitkan. Agar tak timbul suara feedback.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Earmold ini memiliki variasi warna dalam cetakannya, artinya bisa dicetak sesuai warna yang dimaui. Biasanya ada bening, biru, pink, kuning. cocok untuk anak-anak yang menyukai warna ceria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja earmold tipe lembut ini, lama kelamaan akan terlihat kotor sebab berbahan karet silicon. Sehingga perlu dicetak ulang. Cetak ulang bisa setahun sekali. Untuk anak-anak rasanya tak masalah karena anak-anak mengalami pertumbuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/JzHtPuS04ib+2pCCVyjyLg/photos/1M/300x300/1734/earmold-karet.jpg?et=Q4VWEh%2CBXE8yuknPq1sAiQ&amp;amp;nmid=0" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/JzHtPuS04ib+2pCCVyjyLg/photos/1M/300x300/1734/earmold-karet.jpg?et=Q4VWEh%2CBXE8yuknPq1sAiQ&amp;amp;nmid=0" width="138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Earmold Tipe Lembut&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Earmold mana yang saya kenakan saat ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini saya mengenakan earmold berbahan lembut. Ini karena saya merasa lebih nyaman. Sebab dalam penggunaan Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) saya lebih mengutamakan rasa nyaman. Agar bisa bertahan lama mengenakan selama seharian penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/09/tipe-earmold-yang-saya-pakai.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>6</thr:total><georss:featurename>Pondok Aren, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.266507 106.719417</georss:point><georss:box>-6.2980745 106.679935 -6.2349394999999994 106.75889900000001</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-486798909101942440</guid><pubDate>Wed, 14 Sep 2011 14:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-18T20:09:22.105+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Kenalkan, Aku Bernafon Hearing Aid yang Kelima</title><description>Hai.. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenalkan namaku Bernafon. &lt;br /&gt;
Tubuhku mungil, kecil dan berwarna coklat. Nomor seriku Win 112 dan aku hidup dengan menggunakan baterai pipih nomor 13.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku adalah Alat Bantu Dengar (hearing aid) Nita yang kelima. Sudah sebulan lebih aku bersamanya. Aku berada di telinga kanan Nita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum bertemu denganku, Nita hanya mengenakan satu Alat Bantu Dengar (hearing aid) yaitu Astral yang ada di telinga kirinya. Sebetulnya Nita harus mengenakan dua Alat Bantu Dengar (hearing aid), agar pendengarannya seimbang. Tetapi apa mau dikata Dana II yang menemaninya selama 9 tahun akhirnya tak kuat lagi. Tentunya ketika kehilangan Dana II, sedih sekali karena artinya suara yang di dengar berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi syukurlah di bulan Agustus 2011 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan&amp;nbsp; 1432 H, akhirnya Nita bisa kembali menyeimbangkan suara yang di dengarnya. Di bulan penuh berkah itu, Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga untuk membeli Alat Bantu Dengar (hearing aid). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbeda dengan Alat Bantu Dengar (hearing aid) yang sebelumnya. Karena aku adalah Digital. Dimana aku begitu personal untuk pemakainya. Sebab ketika pertama kali dinyalakan aku diprogram dengan komputer. Aku di setting dulu sesuai dengan grafik gangguan dengar untuk telinga kanan. Jadi suara-suara yang masuk sudah disesuaikan dengan keadaan telinga kanan Nita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa aku hanya cocok untuk telinga kanannya. Dan bila orang lain mencoba diriku, tentu saja tak akan cocok suara yang di dengar. Ibaratnya aku memang disetting khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh iya, jangan melihat tubuhku yang mungil. Tapi lihatlah kegunaan dan kekuatanku. Dengan tubuh mungilku, aku membantu Nita mendengar lebih baik. Karena aku tipe digital, maka aku punya peredam suara looh.&lt;br /&gt;
Jadi kini ketika berada di jalan raya yang penuh hinggar bingar, maka otomatis diriku menyesuaikan dengan suara sekitar. Dengan begitu Nita tak lagi merasa terlalu besar suara yang di dengar kala di jalan raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu berapa harga yang harus Nita tebus untuk mendapatkan diriku?&lt;br /&gt;
Alhamdulillah.. dengan gangguan dengar yang berkisar 93db, aku cukup ditebus dengan harga sekitar 4 juta rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga saja aku bisa bertahan lama menemani Nita dalam mendengar, seperti halnya Dana II dan Alat Bantu Dengar (hearing aid) sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berna&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZgo8xDTF8iwjWrS-Y54eT1hwZj2hhg_09ykPOVfwfF7d0ZBHqpxFgCp1MgH9HAz79tmZ1z3LRR3-pSy0kxuKQ4S381ghGSKikge7C4zf4cnjZoKkiskEUZqHKV0IATimmAGcl8G1DkeE/s1600/abdberna.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="219" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZgo8xDTF8iwjWrS-Y54eT1hwZj2hhg_09ykPOVfwfF7d0ZBHqpxFgCp1MgH9HAz79tmZ1z3LRR3-pSy0kxuKQ4S381ghGSKikge7C4zf4cnjZoKkiskEUZqHKV0IATimmAGcl8G1DkeE/s320/abdberna.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bernaforn Win112&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*gambar dok pribadi&lt;br /&gt;
**ket:&lt;br /&gt;
Dana II = Danavox (nama hearing aid) &lt;br /&gt;
Astral = Audio service Astral (nama hearing aid) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/09/kenalkan-aku-bernaforn-hearing-aid-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZgo8xDTF8iwjWrS-Y54eT1hwZj2hhg_09ykPOVfwfF7d0ZBHqpxFgCp1MgH9HAz79tmZ1z3LRR3-pSy0kxuKQ4S381ghGSKikge7C4zf4cnjZoKkiskEUZqHKV0IATimmAGcl8G1DkeE/s72-c/abdberna.jpg" width="72"/><thr:total>17</thr:total><georss:featurename>Jakarta Capital Region, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.211544 106.845172</georss:point><georss:box>-6.3378274999999995 106.68724350000001 -6.0852605 107.0031005</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-7346629359606898545</guid><pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-05T21:08:10.732+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lainnya</category><title>Selamat Idul Fitri 1432 H</title><description>Sebagai manusia memang tak ada yang luput dari kesalahan. Tak pandang siapapun manusia itu. Entah apakah manusia itu sempurna secara fisik ataupun tidak. Semua sama..&lt;br /&gt;
Sama-sama Memiliki kesalah, khilaf yang mungkin tak disadarinya.&lt;br /&gt;
Sayapun begitu, walaupun secara fisik pendengaran ini terganggu, tentunya banyak memiliki kesalahan baik yang sengaja ataupun tidak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ngeblog kentara sekali kalau saya masih kurang dalam blogwalking apalagi meninggalkan jejak. Seringkali begitu klik postingan orang lain, membacanya kemudian lupa meninggalkan jejak berupa komentar. Padahal dengan komentar maka orang tahu bahwa saya telah membaca tulisannya. Yaa mungkin memang harus lebih rajin menyapa lewat kolom komentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Berhubung masih suasana Idul Fitri. Perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, Mohon&amp;nbsp; Maaf lahir dan Batin. Semoga saya makin rajin dalam ngeblog.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_SWxWyKxikLI3W5N4e6XVqvwOxaSagIn6ZYbqSNv-hcp5Y-D92gePV7xUlqqXw5n-pnmtPJ-yK_Fb2gRLzDTZ_XG4M_9CNF0D1qHYVTKJb1-Z8ITQZFQjwZZXW6JDnVjNNEHwbdAunU8/s1600/greting_card_eid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_SWxWyKxikLI3W5N4e6XVqvwOxaSagIn6ZYbqSNv-hcp5Y-D92gePV7xUlqqXw5n-pnmtPJ-yK_Fb2gRLzDTZ_XG4M_9CNF0D1qHYVTKJb1-Z8ITQZFQjwZZXW6JDnVjNNEHwbdAunU8/s400/greting_card_eid.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
salam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/09/selamat-idul-fitri-1432-h.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_SWxWyKxikLI3W5N4e6XVqvwOxaSagIn6ZYbqSNv-hcp5Y-D92gePV7xUlqqXw5n-pnmtPJ-yK_Fb2gRLzDTZ_XG4M_9CNF0D1qHYVTKJb1-Z8ITQZFQjwZZXW6JDnVjNNEHwbdAunU8/s72-c/greting_card_eid.jpg" width="72"/><thr:total>4</thr:total><georss:featurename>Jalan Caraka Buana, Pondok Aren, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.250537 106.739224</georss:point><georss:box>-6.254483 106.73428849999999 -6.246591 106.7441595</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-8738260406535232232</guid><pubDate>Fri, 19 Aug 2011 02:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-20T00:35:56.583+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Berapa Harga Medengar?</title><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZOUa8ONHodxEN3RLrLcm-YuGGSY55w2xiVqBvLwnkAF45LENj6X5UUCoIvIUrSTSZHDiMXiNsOIRFFrl_vVuUi91oX8RHC-5GsPoAbYdF1gLEDjbsppaZeoY_n-6ofApfbzmIDXRZHzQ/s1600/listen.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="175" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZOUa8ONHodxEN3RLrLcm-YuGGSY55w2xiVqBvLwnkAF45LENj6X5UUCoIvIUrSTSZHDiMXiNsOIRFFrl_vVuUi91oX8RHC-5GsPoAbYdF1gLEDjbsppaZeoY_n-6ofApfbzmIDXRZHzQ/s200/listen.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apabila yang didapatkan secara gratis itu harus dibayar, mau kau kau membayarnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya yakin banyak yang akan menjawab "TIDAK". &lt;br /&gt;
Sayapun akan menjawab begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apa mau dikata, ternyata untuk beberapa orang, yang gratis itu hanya bisa didapatkan dengan sejumlah uang. Itulah yang terjadi pada saya, orang yang mengalami keterbatasan dalam mendengar. Dimana harus mengenakan Alat Bantu Dengar(Hearing Aid) agar dapat mendengar suara dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, bila membicarakan Alat Bantu Dengar(Hearing Aid). Tentunya akan berbicara tentang harga. Sebab dengan mengetahui berapa harga Alat Bantu Dengar(Hearing Aid), akan mendapat perkiraan berapa uang yang harus disediakan untuk menebus alat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harga medengar itu bervariasi pada setiap individu. Ini disebabkan karena setiap individu itu unik. Jadi walaupun sama-sama mengalami gangguan dengar, akan tetapi untuk Alat Bantu Dengar(Hearing Aid) yang dikenakan bisa jadi berbeda. Baik spesifikasi maupun harganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harga mendengar yang harus dibayar oleh seseorang ditentukan pada berapa besar frekwensi gangguan dengarnya. &lt;br /&gt;
&lt;blockquote style="color: #274e13;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;"Semakin besar gangguan dengarnya semakin mahal harga yang harus dibayar."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum range harga mendengar yang saya ketahui untuk saat ini adalah sekitar 1,6 juta rupiah hingga 30 juta rupiah. Harga ini tergantung pada naik turunnya kurs Dollar AS. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Range harga tersebut hanya untuk satu unit Alat Bantu Dengar(Hearing Aid). Maka bila dikalikan dua sesuai telinga yang ada. Tentunya akan didapat harga yang fantastis. Harga yang membuat banyak orang terbelalak tak menyangka harga mendengar itu sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lalu berapa harga mendengar untuk saya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Untuk saya yang memiliki gangguan dengar sekitar 91-93 decibel. Harga satu unit Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) yang harus ditebus sekitar 4 juta rupiah - 7 juta rupiah. Akan tetapi menjadi lebih mahal lagi apabila frekwensi gangguan dengannya bertambah. &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*semoga saja tidak*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harga yang harus saya tebus untuk mendengar, mungkin biasa saja untuk yang terbiasa berganti gadget. Akan tetapi cukup berat bagi saya. Mengingat alat ini memliki rentang usia, tentunya harus di ganti kelak 4-6 tahun kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada baiknya memang mengetahui berapa harga mendengar. Sebab dengan begitu, maka seseorang yang mengalami gangguan dengar akan belajar bagaimana melakukan penghematan, perencanaan juga teliti dalam setiap pengeluarannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejatinya tak ada satupun alat yang bisa menyamai apa yang sudah dianugerahkan pada tubuh manusia. Secanggih apapun alat itu, tentu ada kekurangannya. Sebab bagaimanapun itu hanyalah sebuah alat ciptaan manusia yang juga banyak memiliki ketidaksempurnaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bilamana kau tahu berapa harga yang harus dibayar untuk mendengar. &lt;br /&gt;
Maka masihkah tidak bersyukur dengan suara yang sudah di dapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: #783f04;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*sumber gambar : &lt;a href="http://www.englishexercises.org/makeagame/viewgame.asp?id=2925"&gt;http://www.englishexercises.org&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/08/berapa-harga-medengar.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZOUa8ONHodxEN3RLrLcm-YuGGSY55w2xiVqBvLwnkAF45LENj6X5UUCoIvIUrSTSZHDiMXiNsOIRFFrl_vVuUi91oX8RHC-5GsPoAbYdF1gLEDjbsppaZeoY_n-6ofApfbzmIDXRZHzQ/s72-c/listen.jpg" width="72"/><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-6999618800118318026</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 16:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-11T23:35:31.150+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Suara Azan terdengar Syahdu Ketika merasa kehilangan...</title><description>Pernahkah kau menyadari kawan, betapa syahdu sekali suara azan itu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5V-QraX3oYzM5xrPKfBV96CJJ3wTiyb3cFMp3K8wWKGNGQ548Oh6eRK8R07BWaEvNIHgVeO9ciBy2bcF_g8pQ_BfNu59j1PtwYF2Xqg7OBzAa4pGv9jmu82gMok6D0B5DEdFDGaDRzQk/s1600/Azan-pic.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5V-QraX3oYzM5xrPKfBV96CJJ3wTiyb3cFMp3K8wWKGNGQ548Oh6eRK8R07BWaEvNIHgVeO9ciBy2bcF_g8pQ_BfNu59j1PtwYF2Xqg7OBzAa4pGv9jmu82gMok6D0B5DEdFDGaDRzQk/s200/Azan-pic.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dulu ketika telinga ini masih baik-baik saja, di usia anak-anak menganggap suara azan sebagai rutinitas saja. Artinya menaganggap azan yang didengar dari pengeras suara di mesjid biasa saja. Oh iya jarak mesjid di komplek rumah saya kurang lebih 200 meter. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi semua berubah.&lt;br /&gt;
Ketika suara azan hanya terdengar samar, tak lagi sekeras dulu yang biasa kudengar.&lt;br /&gt;
Akupun merasa kehilangan..&lt;br /&gt;
Kehilangan suara yang biasa rutin kudengar di jam-jam tertentu.&lt;br /&gt;
Terutama kala magrib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini suara azan hanya bisa terdengar jelas dari jauh apabila saya mengenakan hearing aid.&lt;br /&gt;
Suara Azan itu menjadi begitu bermakna ketika merasa kehilangan...&lt;br /&gt;
Suara Azan terdengar begitu syahdu di telinga ini.&lt;br /&gt;
Telinga yang kini di tempeli alat bantu dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yaa.. apapun suara itu.&lt;br /&gt;
Yang dulu dianggap biasa.&lt;br /&gt;
Tetapi ketika kehilangan suara yang biasa terdengar rutin, akan menjadi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Ramadhan dimana aktifitas mesjid begitu terasa, menjadi lain lagi. Rasanya tak ingin melepas hearing aid ini dari telinga. Walau saya tahu bahwa mengenakan hearing aid perlu jeda. Agar daun telingan bisa beristirahat dari gencatan earmold. Namun terasa sayang sekali melewatkan suara-suara yang terdengar dari mesjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aah ternyata saya memang masih tergantung dengan suara.&lt;br /&gt;
Saya memang belum rela berpisah dengannya..&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saya masih membutuhkan hearing aid. &lt;br /&gt;
----------------------------------------------&lt;br /&gt;
Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*sekedar share&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber gambar &lt;a href="http://mosquepraiseallah.com/"&gt;mosquepraiseallah.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/08/suara-azan-terdengar-syahdu-ketika.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5V-QraX3oYzM5xrPKfBV96CJJ3wTiyb3cFMp3K8wWKGNGQ548Oh6eRK8R07BWaEvNIHgVeO9ciBy2bcF_g8pQ_BfNu59j1PtwYF2Xqg7OBzAa4pGv9jmu82gMok6D0B5DEdFDGaDRzQk/s72-c/Azan-pic.jpg" width="72"/><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-6785811998528701622</guid><pubDate>Wed, 20 Jul 2011 01:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-25T23:45:55.891+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ATR (Anak Tuna Rungu)</category><title>Tahun Ajaran Baru bagi Orangtua Anak Gangguan Dengar</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXB84mRYEKKFHfVRa8gTSJ0FapbOBrzNcjdBKDqh59zafmnPcU3UPH085E29eb76n4afWwGtBrI0WZGf-jkzU2shCGavEG2ei7JTlOEocSuzqaUZBdvlRC7P8k6CDflwhA1lHE7a9Y7L8/s1600/k3166616.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="170" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXB84mRYEKKFHfVRa8gTSJ0FapbOBrzNcjdBKDqh59zafmnPcU3UPH085E29eb76n4afWwGtBrI0WZGf-jkzU2shCGavEG2ei7JTlOEocSuzqaUZBdvlRC7P8k6CDflwhA1lHE7a9Y7L8/s200/k3166616.jpg" width="167" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tahun Ajaran Baru, merupakan saat merepotkan bagi banyak orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Sebab di Tahun Ajaran Baru, orangtua biasanya sibuk mencari sekolah mana yang kiranya cocok untuk anaknya. Selain itu tentu saja soal biaya sekolah, dimana kiranya dapat terjangkau. Hal ini tentu saja menguras waktu, tenaga dan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama seperti halnya orangtua lainnya. Orangtua anak gangguan dengar yang sudah masuk usia sekolah juga direpotkan hal serupa pada Tahun Ajaran Baru. Hanya saja kerepotan ini lebih menguras emosi dan membutuhkan kesabaran yang super ekstra dalam mencari sekolah bagi anaknya yang mengalami gangguan dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kesulitan menyekolahkan anak yang mengalami gangguan dengar umumnya terjadi pada penolakan sekolah terhadap anak tersebut. Tak jarang beragam alasan dari pihak sekolah menjadikan anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam mendengar harus bersekolah lebih jauh jaraknya dari tempat tinggal (rumahnya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebetulnya penolakan ini sudah dimulai ketika anak tersebut bersekolah pada jenjang Kelompok Belajar ataupun di Taman Kanak-Kanak. Dan penolakan ini makin menjadi-jadi ketika anak dengan gangguan dengar memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keenganan pihak sekolah menerima murid yang "istimewa" dengan alasan tidak tersedianya guru untuk anak tersebut. Kemudian ketidaktahuan sekolah bahwa anak yang meiliki gangguan dengar bisa bersekolah di sekolah umum. Menjadikan kesulitan tersendiri bagi anak gangguan dengar mendapatkan pendidikan di sekolah umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang anak-anak yang mengalami gangguan dengar umumnya memiliki keterbatasan dalam pemahaman kosa kata. Namun bukan berarti anak-anak ini tak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sebab orangtua anak-anak yang memiliki gangguan dengar, umumnya sudah melakukan berbagai persiapan sebelum memutuskan menyekolahkan anaknya ke sekolah umum. Seperti melakukan terapi wicara, terapi belajar mendengar sehingga alat bantu dengar (hearing aid) yang digunakan anaknya bisa berfungsi dengan semestinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bilamana pada Tahun Ajaran Baru itu seorang anak gangguan dengar akhirnya dapat diterima sebagai murid di suatu sekolah umum. Ini tak lebih karena adanya kompensasi dari pihak sekolah atas "keistimewaaan" anak tersebut. Tentunya juga karena usaha orangtua dalam melakukan pendekatan pada pihak sekolah bahawa anaknya memang layak untuk diberi kesempatan bersekolah di sekolah umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa... bagaimanapun anak-anak yang memiliki "keisitimewaan" tentunya berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak lainnya. Mereka pun berhak untuk bisa bersosialisasi sama normalnya dengan anak-anak lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga di masa mendatang makin banyak sekolah umum mau membuka diri terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan. Sebab anak-anak ini tentunya sudah memulai berbagai tahap persiapan sebelum akhirnya orangtuanya memutuskan menyekolahkan mereka di sekolah umum.</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/07/tahun-ajaran-baru-bagi-orangtua-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXB84mRYEKKFHfVRa8gTSJ0FapbOBrzNcjdBKDqh59zafmnPcU3UPH085E29eb76n4afWwGtBrI0WZGf-jkzU2shCGavEG2ei7JTlOEocSuzqaUZBdvlRC7P8k6CDflwhA1lHE7a9Y7L8/s72-c/k3166616.jpg" width="72"/><thr:total>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-6658046165095461848</guid><pubDate>Thu, 14 Jul 2011 16:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-03T01:30:08.832+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lainnya</category><title>Pia hadiah dari Blogger Return Contest</title><description>Alhamdulillah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena saya jadi salah satu pemenang di lomba &lt;b&gt;&lt;a href="http://anazkia.blogspot.com/2011/04/blogger-return-kontes.html"&gt;"Blogger Return Contest"&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; yang diadakan oleh &lt;b&gt;&lt;a href="http://anazkia.blogspot.com/"&gt;Anazkia&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
Keikut sertaan saya memang tak lebih untuk memeriahkan sekaligus mengupdate tulisan di blogspot. Yaa.. saya akui, kendala utama update di blogspot adalah terbenturnya pada fokus tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seminggu yang lalu saya menerima sekotak Pia-pia Rasa Keju. Ini sesuai dengan apa yang tertera di blog anazkia bahwa saya mendapatkan sekotak Pia-pia sebagai hadiah.Inilah penampakan pia-pia tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRykQjYhj4eS4zEpMBtW9ns5a0gbZYzCzDEcaNo-QlYNQcqfNgAjTa-2dYniS60-x0y8yuD4wLZMBC7rffQEgx_iW_3RUh81gTnuwLLJYlOgGMGqKRl5rXwwM1FmVHS0eo9IMuDFlO50A/s1600/IMG_4513.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRykQjYhj4eS4zEpMBtW9ns5a0gbZYzCzDEcaNo-QlYNQcqfNgAjTa-2dYniS60-x0y8yuD4wLZMBC7rffQEgx_iW_3RUh81gTnuwLLJYlOgGMGqKRl5rXwwM1FmVHS0eo9IMuDFlO50A/s200/IMG_4513.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Terimakasih yaa Anaz dan juga mba Amel sebagai sponsor Lomba. Pianya sudah sampai di tangan saya. Dan tentu saja pianya langsung di ludes..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm.. Semoga saya bisa lebih teratur lagi update blog.</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/07/pia-hadiah-dari-blogger-return-contest.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRykQjYhj4eS4zEpMBtW9ns5a0gbZYzCzDEcaNo-QlYNQcqfNgAjTa-2dYniS60-x0y8yuD4wLZMBC7rffQEgx_iW_3RUh81gTnuwLLJYlOgGMGqKRl5rXwwM1FmVHS0eo9IMuDFlO50A/s72-c/IMG_4513.jpg" width="72"/><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-2505946088617517204</guid><pubDate>Mon, 04 Jul 2011 16:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-04T23:29:19.016+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Suara Yang ku dengar, Ketika berada di keramaian</title><description>Kala berada di keramaian, kadang kala orang tua dari anak yang memiliki gangguan dengar bertanya-tanya. Seperti apa suara yang di dengar anaknya melalui &lt;b&gt;Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)&lt;/b&gt; ?&lt;br /&gt;
Apakah suara yang di dengar sama dengan mereka yang berpendengaran normal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja tak mudah untuk mengetahuinya. Hanya orang yang mengenakan &lt;b&gt;Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)&lt;/b&gt; dan pernah mendengar seperti apa suara itu bisa mendeskripsikan seperti apa suara yang di dengar dalam keramaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Menurut saya, suara yang di dengar melalui &lt;b&gt;Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)&lt;/b&gt; itu tergantung pada alatnya. Sebab kecanggihan alat selain mempengaruhi harga jual, juga mempengaruhi kualitas suara yang diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alat pendengar saya memang standar, satu analog dan satu lagi semi digital. Karena bukan digital maka tak memiliki peredam suara bising.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka suara yang terdengar di kala keramaian menjadi begitu bising. Seakan semua suara itu berebut untuk bisa masuk ke dalam &lt;b&gt;Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)&lt;/b&gt;. Apalagi bila sedang di jalan dan berada di kendaraan umum macem metromini yang bising suaranya. Saya kesulitan untuk menangkap obrolan. Sebab suara itu seakan bersahut-sahutan tiada henti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saya lebih mengandalkan mata untuk lipsreading kala mengobrol ditengah keramaian. Bila hanya satu orang saja yang mengajak berbicara masih bisa paham. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi bila sudah beberapa orang mengobrol dan berbicara saling bersahutan. Sudah pasti saya akan bingung. Bila sudah begini maka lebih mengandalkan lipsreading.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa.. itulah pengalaman saya dan apayang saya rasakan kala ditengah keramaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi secanggih apapun &lt;b&gt;Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)&lt;/b&gt; yang dikenakan takkan pernah bisa menyamai dengan suara dari telinga asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis sekedar share&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/07/suara-yang-ku-dengar-ketika-berada-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-3369571849055025030</guid><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 08:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-24T15:34:53.410+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Sedikit  Tentang Saya</title><description>Selama ini saya akui, saya tak begitu gamblang menuliskan siapa saya di blog ini. Hal ini lebih dikarenakan sayakonsisten dengan apa yang menjadi fokus dari blog ini. Namun tak ada salahnya menuliskan apa yang&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;a href="http://barbiedini.blogspot.com/"&gt;ibu Dini&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; tag. Karena masih dalam lingkup yang bisa diceritakan tentang diri saya. Juga rasanya masih nyangkut dengan fokus blog.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah ini lah tentang diri saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Yusnita Febri.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Itu nama yang saya gunakan di dunia Internet. Maklum tak kreatif memberi nama. Jadi saya memakai nama asli. selain itu dengan pertimbangan karena blog ini di buat untuk share sudah tentu saya harus menyebutkan siapa diri saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya tanpa Hearing Aid, seperti ada yang kurang. Kerena memang sudah biasa dengan keberadaannya. Sudah dua kali saya dibuat nangis karena ditinggal Hearing Aid yang tewas. Dan mungkin saya akan dibuat menangis lagi, saat hearing aid berikutnya sudah tak kuat menemani saya dalam mendengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Bercanda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mungkin di Blog, tulisan saya serius. Tapi sebenarnya saya ini senang bercanda. Walau dengan keterbatasan yang ada, bukan berarti saya tak bisa di ajak bercanda. Jadi jangan anggap saya ini mellow terus ya. Sebab bagaimanapun juga saya sama seperti yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Postur kecil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya anak tengah dari 3 bersaudara. Anak perempuan satu-satunya. Dan postur saya juga paling kecil. Tinggi saya sekitar 152cm-153cm, berbeda jauh dengan adik dan kakak saya yang tinggi menjulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Irit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya orangnya irit dan hemat dalam setiap pengeluaran. Ini tak lebih karena saya memiliki beban untuk mengganti ABD secara periode.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6.Suka Anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya suka menyapa anak-anak. Mengobrol dan becanda dengan mereka. Itulah juga mengapa dalam blog ini saya sering menceritakan pengalaman masa anak-anak. Selain untuk berbagi juga agar orang tua tahu anak-anak yang memiliki gangguan dnegar itu akan menghadapai seperti apa di masa kanak-kanaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7.Permen Yupi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Karena tak suka permen yang manis, saya memilih permen jelly. Permen ini asem manis, enak buat di kunyah-kunyah. Bila bertemu anak-anak rasanya klop karena sama-sama suka permen Yupi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8.Pede Naik Turun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tak dipungkiri kadang saya merasa sangat Percaya diri, namun di lain hari saya merasa ngedrop sekali. Ini tak lebih ketika saya merasa tak nyaman dengan sekitar. Dimana biasanya sedang di hadang oleh kesulitan yang membuat saya akhirnya jadi tak PeDe&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;9.Senang bertemu orang baru, kopdar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaa saya senang bertemu orang baru, selain untuk membiasakan ini telinga menangkap suara bermacam-macam orang juga lebih banyak mengenal orang lain. Saya juga senang kopdar dengan teman yang di kenal di dunia maya. Selama ini lebih banyak Kopdarnya dengan yang saya kenal di multiply.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwvrUBPwag7DkUI5lx2cDyhjvUqdmVTs61Q3x-Hp4_I1gmlCROuO9BxSPYBx5wLy7ii4t0jYskGGm65eGGdYQqaYQF1NoTSg0KQ7P6Zm2WuLw9bzcQxMXb7YzpMNukLkNJ1tabF6RIg3E/s1600/nita.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwvrUBPwag7DkUI5lx2cDyhjvUqdmVTs61Q3x-Hp4_I1gmlCROuO9BxSPYBx5wLy7ii4t0jYskGGm65eGGdYQqaYQF1NoTSg0KQ7P6Zm2WuLw9bzcQxMXb7YzpMNukLkNJ1tabF6RIg3E/s400/nita.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;kolase foto kopdar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10. Membuat buku memoar.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Rencana ini sebenarnya sudah lama dan masih belum juga terealisasi. Semua berawal dari saran teman-teman di Multiply yang melihat alangkah baiknya kalau tulisan itu di dokumentasikan dalam bentuk buku. Agar bisa lebih menyebar apa yang saya sharing. Yaa.. mudah-mudahan bisa terealisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sedikit tentang saya. Pada dasarnya saya ini orangnya memang ramah dan kebiasaan saya ketika bertemu orang baru itu memperhatikan gerak bibirnya. Entahlah ini sepertinya refleks ketika berkenalan dan berbicara dengan orang baru dan saya akan mengingat terus seperti apa orang tersebut berbicara, Apakah artikulasinya jelas atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa.. itulah sedikit tentang saya, dan tentunya masih banyak lagi pengalaman yang akan saya share di blog ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe frameborder="0" height="70px" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=3704&amp;amp;sz=468x60" width="478px"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/06/sedikit-tentang-saya.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwvrUBPwag7DkUI5lx2cDyhjvUqdmVTs61Q3x-Hp4_I1gmlCROuO9BxSPYBx5wLy7ii4t0jYskGGm65eGGdYQqaYQF1NoTSg0KQ7P6Zm2WuLw9bzcQxMXb7YzpMNukLkNJ1tabF6RIg3E/s72-c/nita.jpg" width="72"/><thr:total>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-7499388174043880701</guid><pubDate>Thu, 16 Jun 2011 18:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-17T01:32:27.225+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gangguan Dengar</category><title>Ketika Mengingkari Kenyataan</title><description>&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Ketika kenyataan itu terhampar di depan mata...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Ada rasa penolakan dalam diri...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Ada rasa tak percaya, rasa mengelak untuk mengakui semua itu...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Mengelak dengan mengatakan "baik-baik saja"...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Padahal dalam kenyataannya adalah sebaliknya...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Menerima kenyataan tidaklah semudah mengucapkannya. Tidak semudah pula dengan membalikan telapak tangan. Sebab dalam menerima kenyataan butuh proses. &lt;br /&gt;
Tak dipungkiri dalam proses penerimaan itu akan ada rasa untuk mengingkari. Kadang rasa untuk mengingkari itu teramat besar, karena kenyataan yang ada seringkali memang menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dulu ketika mulai menyadari bahwa Alat Bantu Dengar &lt;i&gt;(Hearing Aid)&lt;/i&gt; yang saya pakai membuat diri terlihat berbeda. Saat itulah mulai terjadi pengingkaran pada diri ini. Saya mengingkari kenyataan bahwa tak mungkin bisa mendengar dengan baik tanpa Alat Bantu Dengar &lt;i&gt;(Hearing Aid)&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hal pengingkaran yang saya lakukan saat itu:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kadang tidak mengenakan Bantu Dengar &lt;i&gt;(Hearing Aid)&lt;/i&gt; saat sekolah. Walau saya tahu suara yang didengar kecil, tapi saya bersikeras bahwa diri ini baik-baik saja. Ini terjadi selama dalam rentang 1-2 tahun pengenaan Alat Bantu Dengar&lt;i&gt; (Hearing Aid)&lt;/i&gt;. Saya sebut ini masa adaptasi yang penuh mengingkaran.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Ketika menonton berita ataupun sinetron, saya merasa bisa mendengar saat dialog yang diucapkan walaupun tak mengenakan Alat Bantu Dengar &lt;i&gt;(Hearing Aid)&lt;/i&gt;. Tetapi ternyata saat menonton film yang di dubbing, saya sama sekali tak bisa menangkapnya. Berarti saya mengingkari bisa mendengar suara TV dengan baik. Yang saya lakukan selama itu adalah membaca gerak bibir &lt;i&gt;(lips reading)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
Ketika saya besar, akhirnya saya menyadari apa yang saya lakukan ketika itu adalah bentuk pengingkaran akan keadaan diri. Saya anggap masa pengingkaran itu adalah sebuah proses belajar. Dimana saya belajar bahwa tidak mudah begitu saja menerima kenyataan. Lalu kini, saat melihat orang lain dengan segala kekurangannya seakan saya berkaca pada diri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak dengan gangguan dengar dan kebutuhan khusus lainnya,&amp;nbsp; serta orang-orang yang mengalami berbagai hal kelainan pasti suatu saat akan sadar ketika mereka tahu ada yang lain antara dirinya dengan orang-orang disekitarnya.&amp;nbsp; Dan tak bisa memaksakan untuk langsung menerimanya, karena memang butuh proses dan pengertian. Semoga dalam proses penerimaan itu tidak berkecil hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis dari pengalaman pribadi, sekedar share&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe frameborder="0" height="70px" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=3704&amp;amp;sz=468x60" width="478px"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/06/ketika-mengingkari-kenyataan.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-8976490622360601235</guid><pubDate>Tue, 14 Jun 2011 18:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-17T01:29:43.888+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Untuk diriku di masa lalu</title><description>Masa depan, siapa yang bisa menduga masa depan akan bagaimana. Akan bagaimana keadaan diri kelak...&lt;br /&gt;
Andaikan bisa, aku ingin mengirimkan surat kepada diriku 20 tahun yang lalu, dimana saat itu sudah mengerti akan hidup.  Inilah Suratku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;Teruntuk diriku, &lt;br /&gt;
20 tahun yang lalu&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLM4pdoIRS9IsaNW4hzI5DdSKbOyBNhnMbCCXw_JQW7Bgzmb7hc8g1lrSSWQaWgahkDjJXmRTPlqrAbyG_IzTfkNuXoTnsXcmkhaq4uc_l1Y7pKwIU3qRTX4iRAgMLhyB0NN82UpGpJJ0/s1600/write.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLM4pdoIRS9IsaNW4hzI5DdSKbOyBNhnMbCCXw_JQW7Bgzmb7hc8g1lrSSWQaWgahkDjJXmRTPlqrAbyG_IzTfkNuXoTnsXcmkhaq4uc_l1Y7pKwIU3qRTX4iRAgMLhyB0NN82UpGpJJ0/s200/write.gif" width="186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dear Nita,&lt;br /&gt;
Di bulan Juni ini dimana matahari mulai bersinar dengan teriknya. Kau begitu riang gembira menyambut datangnya musim panas. Yaa.. kau begitu menyukai musim panas, dimana kau terbebas dari tiupan angin musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di musim panas kali ini adalah musim panas terakhirmu berada di Roma. Sebab ketika mulai memasuki musim gugur akan segera datang episode-episode hidup yang begitu kelam pada dirimu. Sekelam musim dingin yang beku dan kelabu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Semua dimulai dari kebiasaanmu Nit, yang malas makan, belum lagi udara di Roma tak bersahabat dengan tubuhmu. Saat usia mu menginjak 10 tahun, kau akan terbaring cukup lama di Rumahsakit karena paru-parumu basah, harus bolak balik masuk ruang operasi, akan membuat banyak orang bersedih. Saat itu Nita harus sabar yaa… tetaplah pancarkan semangat hidup. Karena itulah yang membuatmu saat itu bisa bertahan melewati semua itu. Jangan khawatir, walaupun harus lama berada di Rumahsakit kau pun akan sembuh. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Sebuah kejadian pasti akan membawa dampak pada keadaan diri. Begitu yang terjadi pada dirimu. Kelak kau akan berbeda dengan anak lain. Kau tak lagi sama dengan teman-teman sebayamu. Sebab suara yang biasa bersamamu ternyata dia pergi bersama angin musim dingin. Entah bagaimana aku mengatakannya. Bahwa suara itu telah terenggut darimu. Suara yang biasa kau dengar menjadi terasa samar sekali. Ini baru kau rasakan ketika kau kembali ke Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nit, ketika kamu kelak kembali bersekolah dan tak ada bapak-ibu disampingmu karena mereka masih di Roma. Kau jangan pernah malu kalau menjadi anak yang berbeda mengenakan Alat Bantu Dengar. Memang mengenakan Alat Bantu Dengar itu tidak enak. Tetapi bila kau tak mengenakannya, maka tidak bisa mendengar dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenakan alat bantu dengar memang membuat dirimu terlihat berbeda bahkan terlihat aneh di mata orang lain. Tak jarang pula kau akan mengalami perang mental, emosimu diuji. Sebab tak dipungkiri alat itulah yang sering kali membuatmu di ejek. Jangan berkecil hati nit, kau tetap sama seperti anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kau bertanya bagaimana dengan sekolahmu?&lt;br /&gt;
Tak ada yang perlu di takutkan, kau masih bersekolah seperti biasa. Bahkan dengan alat pendengar yang ada di telingamu, kau tak kalah dengan murid-murid yang lain.&lt;br /&gt;
Tentu kau bisa berlega hati membaca ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nit, rupanya mungkin memang hidup kita ditakdirkan untuk kembali terulang kejadian musim dingin. Saat usiamu menginjak 20 tahun kelak, kejadian 10 tahun yang lalu terulang lagi Nit. Kali ini ketika di Helsinki, ternyata tubuhmu memang&amp;nbsp; lemah. Paru-parumu sudah tak baik lagi tak tahan udara dingin sejak kejadian pertama dulu di Roma. syukurnya&amp;nbsp; kamu lekas tanggap sehinga tak separah yang kejadian yang pertama. Kau kembali lagi terbaring di Rumahsakit, namun syukurlah hanya sebentar saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nit, gara-gara sakit kembali pendengaranmu tambah parah saja. Akhirnya telinga kirimu juga memakai ABD. Namun saat itu kamu tak mempermasalahkan lagi kalau ada orang yang mencelamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmmm...mungkin sudah garis tangan, bahwa kesulitan hidup senantiasa berteman denganmu. Masa kanak-kanak dan remaja telah kau lewati dengan baik. Ketika menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Itu adalah hal terberat dalam hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab dengan memilih menjadi dewasa, maka masalah yang menderamu menjadi semakin kompleks. Penolakan yang akan sering terjadi akan keadaan dirimu setidaknya membuat mentalmu diuji. Kau harus siapkan lebih banyak semangat dalam mengadapi hari-harimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakalanya kau akan merasa lelah dengan deraan yang sering menerpa. Bila sudah begitu menangislah, tetapi jangan lupa semangat itu harus tetap ada. Sebab selama kau masih diberi hidup, peranmu di dunia belum selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibalik semua yang mendera, jangan lupa selalu bersyukur karena kau juga telah diberi banyak nikmat. Kutuliskan ini untumu, untuk mengingatkan. Bahwa inilah hidup penuh gelombang. Dan tetap semangat menghadapinya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Sayang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yusnita&lt;br /&gt;
(2011)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*gambar dari google dengan sumber tidak diketahui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe frameborder="0" height="70px" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=3704&amp;amp;sz=468x60" width="478px"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/06/untuk-diriku-di-masa-lalu.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLM4pdoIRS9IsaNW4hzI5DdSKbOyBNhnMbCCXw_JQW7Bgzmb7hc8g1lrSSWQaWgahkDjJXmRTPlqrAbyG_IzTfkNuXoTnsXcmkhaq4uc_l1Y7pKwIU3qRTX4iRAgMLhyB0NN82UpGpJJ0/s72-c/write.gif" width="72"/><thr:total>6</thr:total><georss:featurename>Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.211544 106.84517200000005</georss:point><georss:box>-14.874194 83.691472000000047 2.4511059999999993 129.99887200000006</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-8708292429451817123</guid><pubDate>Sat, 11 Jun 2011 14:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-16T12:18:18.153+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Kerancuan Tata Bahasa Pada Tunarungu</title><description>Ada hal yang begitu khas, biasa terjadi pada tunarungu. Yaitu keterbatasan penggunaan kosa kata dalam bahasa verbal. Sehingga seringkali menyebabkan apa yang ingin disampaikan oleh seorang tunarungu, menjadi tidak tertangkap maksudnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
contoh tulisan pada tunarunggu seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;aku adalah seorang anak tuna rungu yg masih kehidupan tanpa manusianya..&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
mungkin maksudnya begini&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: #990000;"&gt;Aku adalah seorang anak tunarungu yang kehidupannya sama dengan manusia lain&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kerancuan tata bahasa ini, apabila tidak di perbaiki dapat menyebabkan salah paham dalam berkomunikasi. Sehingga apa yang ingin disampaikan tidak tertangkap oleh orang yang membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Umumnya memang kerancuan ini terjadi kala tunarungu menulis. Bisa disebabkan karena minimnya penguasaan kosa kata pada mereka. Lalu terbatasnya kosa kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Kemudian susahnya menemukan kamus bergambar di search engine juga menjadikan bahasa isyarat yang ada di Indonesia tidak populer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan ASL (America Sign Language) dimana memang sudah berkembang pesat dimana ada kelas tersendiri khusus mempelajari Sign Language. Sedangkan di Indonesia jelas belum mendukung hal ini ada di program universitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus bagaimana agar kosa kata tunarungu bisa sebaik orang lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila memang seorang tunarungu itu bisa membaca, alangkah baiknya lebih sering membaca baik itu buku, koran, majalah. Dengan membaca diharapkan seorang tunarunggu mengerti bagaimana kata-kata itu tersusun mejadi sebuah kalimat yang dapat dimengerti oleh orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saya bisa mengerti mengapa para orangtua anak gangguan dengar lebih mengajarkan pada bahasa verbal. Sebab dengan menguasai bahasa verbal terlebih dahulu, bila kelak anak akan mempelajari bahasa isyarat bisa lebih membandingkan. Sehingga anaknya kelak tetap bisa berbahasa tanpa mengalami kerancuan dalam kosa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis sekedar opini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe frameborder="0" height="70px" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=3704&amp;amp;sz=468x60" width="478px"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/06/kerancuan-tata-bahasa-pada-tunarungu.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>8</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-2552150355810248373</guid><pubDate>Wed, 25 May 2011 09:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-19T23:51:51.053+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lainnya</category><title>Berbagi Rasa Dengan Untaian Kata Melalui Blog</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig1ktC4MwG3gcwTRXXpPscbKyZ6Djvu3f0bC9YdtBWvAf_-ZFSleuPQZmGhLEH1oE_bvyLMV5WnBeDbJauuON7Qq_XKxIvgQhehtxdx_uHCuosnbJsoHxSntGci3cBNk7OJjvhQ9TV5zI/s1600/helping-hand.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig1ktC4MwG3gcwTRXXpPscbKyZ6Djvu3f0bC9YdtBWvAf_-ZFSleuPQZmGhLEH1oE_bvyLMV5WnBeDbJauuON7Qq_XKxIvgQhehtxdx_uHCuosnbJsoHxSntGci3cBNk7OJjvhQ9TV5zI/s200/helping-hand.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #783f04;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Betapa begitu berarti..&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #783f04;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketika melalui kata-kata, ungkapan dan sharing..&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #783f04;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bisa membuat orang untuk kembali OPTIMIS.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kamis, 5 Mei 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi itu awan kelabu menghiasi langit Jakarta. Begitupun dengan suasana hati ini. Mendung dan murung sama seperti cuaca saat itu. Tetapi rupanya mendung yang melingkupi diri ini tak berlangsung lama. Sebuah email singkat masuk ke mail box membuat diriku tersenyum. Sebaris kalimat pembuka dalam email itu, menjadikan diri kembali cerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa.. walaupun langit akhirnya mencurahkan hujannya. Tetapi diri ini sudah kembali cerah. Berikut petikan email singkat tersebut&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mbak Nita yang baik,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;terima kasih masukannya yang membuat saya dan isteri kembali optimis.&lt;br /&gt;
keluarga tinggal di bandrek, garut, dan dalam waktu dekat akan masuk lagi ke RSHS bagian THT dan setelahnya akan segera mengontak ibu Khori.&lt;br /&gt;
mudah-mudahan ada kabar baik setelah melakukan itu semua.&lt;/span&gt; "&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Sebaris kalimat pembuka yang mungkin terasa biasa untuk yang membacanya, namun begitu berarti untuk saya. Kalimat itulah yang membuat saya tersenyum mengucap syukur karena lewat kata-kata, lewat tulisan akhirnya bisa membuat orang lain untuk kembali &lt;b&gt;optimis&lt;/b&gt;. Dan saya yang membaca menjadi berkaca agar kembali optimis menghadapi hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Itulah salah satu pengalaman yang saya dapatkan blog. Diantara banyanya pengalaman yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Seringkali orang memaknai berbagi itu menyangkut berbagi dengan harta. Tak dapat dipungkiri bila memiliki harta yang berlebih, bisa lebih banyak berbagi. Bisa jadi pula karena dunia dan lingkungan mengajarkan pola matrealisme, akhirnya standar ukuran sering dinilai dari materi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketika harta tak ada, lalu bagaimana bisa berbagi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menulislah melalui media blog. Yaa.. nge-blog-lah. Gunakan segala kemampuan merangkai kata, hingga menghasilkan tulisan untuk bisa dibagi. Sebab itulah cara berbagi yang paling mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blog bukanlah hal yang asing untuk saya, sebab sudah lama pula mengenal apa itu blog. Namun baru dua tahun lalu akhirnya tergerak membuat blog yang khusus menuliskan apa yang  saya rasakan sebagai orang yang terkena gangguan dengar. Karena saya merasa masih banyak orang tak tahu apa itu gangguan dengar dan mengapa bisa terjadi. Lalu mengenai banyak stigma yang salah mengenai gangguan dengar. Itulah yang membuat saya tergerak menuliskan apa adanya tentang diri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menulis tentu tidak bisa sembarangan menulis begitu saja. Blog yang ditulis dengan hati bukan hasil copas, akan lebih memiliki rasa pada setiap kata yang diuntai. Itulah mengapa banyak blog yang sederhana begitu mengena ketika di baca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Maka merupakan kepuasan yang tak ternilai harganya ketika lewat untaian kata menjadi berarti bagi orang lain. Terutama para orangtua anak gangguan dengar yang tak sengaja menemukan blog saya. Untuk kembali bersemangat dan menyalakan lagi harapan untuk buah hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu lewat untaian kata pula, saya bisa melepas sedikit beban dan segala rasa ketika gelombang kehidupan menghantam. Sebab dengan begitu menjadi refleksi bagi diri ini untuk tetap terus berusaha dengan segala keterbatasan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan merupakan sebuah bonus, ketika pada akhirnya saya mendapatkan kabar menggembirakan. Kabar mengenai perkembangan anak gangguan dengar dari para orangtuanya yang telah menjalin kontak. Sekecil apapun kabar itu, namun bagi saya adalah hal yang menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngeblog bagi saya bukan lagi sekedar tulis menulis tanpa arti. Tetapi lebih dari itu, ada rasa tercurahkan pada setiap kata yang diuntai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nge-blog-lah dan sampaikan apa yang kau rasa dalam untaian kata..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
Disertakan untuk memeriahkan dalam Blogger Return Contest diadakan oleh &lt;a href="http://anazkia.blogspot.com/"&gt;Anazkia&lt;/a&gt; dan disponsori oleh &lt;a href="http://denaihati.com/"&gt;denaihati&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*sumber gambar google, dengan sumber awal tak diketahui&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/05/berbagi-rasa-dengan-untaian-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig1ktC4MwG3gcwTRXXpPscbKyZ6Djvu3f0bC9YdtBWvAf_-ZFSleuPQZmGhLEH1oE_bvyLMV5WnBeDbJauuON7Qq_XKxIvgQhehtxdx_uHCuosnbJsoHxSntGci3cBNk7OJjvhQ9TV5zI/s72-c/helping-hand.jpg" width="72"/><thr:total>16</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-1755285980288469562</guid><pubDate>Sat, 14 May 2011 07:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-17T00:20:46.743+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gangguan Dengar</category><title>Mengenal Audiogram</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiexwpWfDrHD0xeyLxSqdST1UQOcPnpo99aE7ZRCo4pfnhfsAo7cLAhz8CfJg8p7RD5GUplJGYQ4SfOGTTXSH-bkW0c_R-MorVLJNPxx0GXq9yk6B65yVLm8lJJJzIjrK5cH3nFZROq79M/s1600/audiogram_hearing.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiexwpWfDrHD0xeyLxSqdST1UQOcPnpo99aE7ZRCo4pfnhfsAo7cLAhz8CfJg8p7RD5GUplJGYQ4SfOGTTXSH-bkW0c_R-MorVLJNPxx0GXq9yk6B65yVLm8lJJJzIjrK5cH3nFZROq79M/s320/audiogram_hearing.jpg" width="292" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apakah Audiogram?&lt;br /&gt;
Audiogram itu grafik yang menggambarkan tentang kemampuan pendengaran seseorang dan berapa besarnya gangguan pendengaran yang dialami untuk masing-masing telinga. Antara telinga kanan dan telinga kiri sudah tentu memiliki gambaran grafik yang berbeda. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam Audiogram, frekuensi dinyatakan dalam siklus per detik, atau Hertz. Semakin tinggi frekuensi, maka semakin tinggi pula tingkat nada bunyi. Misalnya, 250 Hertz (Hz) itu seperti bunyi tetesan air dari keran, sedangkan dering telepon bernada tinggi berkisar 2000 Hz - 8000 Hz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan kenyaringan diukur dalam satuan yang disebut desibel. Desibel nol (0 dB) bukan berarti tak ada bunyi. Namun, bunyi itu sangat lemah.Tingkat suara orang yang bercakap-cakap ada di kisaran 30 db - 65 db.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Adapun kenyaringan suara 120 dB sampai lebih, berarti sangat dan sangat nyaring. Hampir sama nyaringnya dengan pesawat jet yang lepas landas dan anda berdiri sekitar 25 meter dari pesawat tersebut. Angka-angka yang ada di sisi grafik tersebut menunjukkan tingkat pendengaran dalam desibel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis gangguan dengar berdasarkan Audiogram bisa di&amp;nbsp; klasifikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Kategori ringan = intensitas 26-40 dB&lt;br /&gt;
2. Kategori sedang = intensitas 41-55 dB&lt;br /&gt;
3. Kategori sedang-berat = intensitas 56-70 dB&lt;br /&gt;
4. Kategori berat = intensitas 71-90 dB&lt;br /&gt;
5. Kategori sangat berat = intensitas lebih dari 90 dB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Mengapa saya bilang masih mendengar suara?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebab gangguan dengar saya ada di kisaran 90db. Dimana artinya suara yang bisa saya dengar TANPA menggunakan alat adalah suara kendaraan bermotor dan banyak lagi suara yang memiliki frekuensi dan kenyaringan bunyi yang tinggi. (lihat gambar audiogram)&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saya memerlukan alat bantu dengar, lebih dikarenakan untuk membantu berkomunikasi dalam keseharian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengetahui&amp;nbsp; berapa besar gangguan dengar memang diperlukan pengujian dengan seksama. Untuk yang sudah bisa berkomunikasi dua arah maka cukup dilakukan Audiometri. Sedangkan pada anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dilakukan tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry).&lt;br /&gt;
Hasil tes tersebut berupa grafik audiogram yang menunjukan posisi dimana suara itu mulai terdengar.&lt;br /&gt;
Berikut gambar hasil audiometri saya bulan Juni 2010. Untuk melihat lebih jelas, silakan di klik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/Tqx1y2AEKufXB0vul5IT-g/photos/1M/1200x1200/290/hear-rpt.jpg?et=SFNrztSNRuVJ8LrSk15aqQ&amp;amp;nmid=0" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="305" src="http://multiply.com/mu/nitafebri/image/Tqx1y2AEKufXB0vul5IT-g/photos/1M/1200x1200/290/hear-rpt.jpg?et=SFNrztSNRuVJ8LrSk15aqQ&amp;amp;nmid=0" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil tes menunjukan gangguan dengar ada diantara diantara 93db.Masuk kategori berat. Namun masih bisa tercatat. Perlu diketahui gangguan dengar tak tercatat itu apabila gangguannya melebihi 120db.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tes audiometri, dites juga mendengar dari belakang telinga. Dimana earphone ditempelkan tepat pada tulang belakang telinga. Akan tetapi telinga saya hanya merespon suara yang besar. Selebihnya hanya merasakan ada getaran. Rasanya seperti digigit semut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan dari tes tersebut alat bantu dengar (hearing aid) yang saya gunakan, lebih untuk membantu dalam berkomunikasi. Sebab suara percakapan yang berkisar antara 30db-60db kurang memadai untuk ditangkap oleh telinga saya. Sedangkan suara yang memiliki frekuensi dan kenyaringan yang tinggi masih bsia di dengar dengan baik oleh saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Audiogram penting sekali untuk mengetahui berapa besar gangguan dengar pada seseorang. Sebab dengan begitu maka penanganan gangguan dengar bisa lebih baik lagi tidak sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis dari&amp;nbsp; pengalaman pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*sumber audiogram &lt;a href="http://www.medel.com/"&gt;http://www.medel.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;**keterangan gambar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; audiogram : &lt;a href="http://www.echohearingcenter.com/audiogram/"&gt;http://www.echohearingcenter.com/audiogram/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; grafik tes audiometri : dokumen pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe frameborder="0" height="70px" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppc_flash.php?b=3704&amp;amp;sz=468x60" width="478px"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/05/mengenal-audiogram.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiexwpWfDrHD0xeyLxSqdST1UQOcPnpo99aE7ZRCo4pfnhfsAo7cLAhz8CfJg8p7RD5GUplJGYQ4SfOGTTXSH-bkW0c_R-MorVLJNPxx0GXq9yk6B65yVLm8lJJJzIjrK5cH3nFZROq79M/s72-c/audiogram_hearing.jpg" width="72"/><thr:total>63</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-1844935627634509423</guid><pubDate>Thu, 12 May 2011 03:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-14T03:27:12.323+07:00</atom:updated><title>Tragedi 12 Mei, 13 Tahun Yang Lalu Dalam Ingatan</title><description>12 mei 1998, Jakarta begolak. Jakarta begitu mencekam. &lt;br /&gt;
Kerusuhan terjadi di seantreo Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingat saat itu saya masih berseragam putih biru. Bingung ada apa gerangan yang terjadi pada hari itu. Sebab sekolah dibubarkan, murid-murid diminta segera pulang. Dan kegiatan belajar mengajar diliburkan beberapa hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat berita di televisi, membaca berita di koran akhirnya saya tahu. Telah terjadi tragedi Trisakti yang mana menewaskan empat orang mahasiswa. Yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, leher, dan dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dalam tragedi itu saya dan keluarga aman dan jauh dari wilayah kerusuhan. Namun setidaknya kerusuhan itu juga membawa dampak lain pada diri saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dampak itu terjadi pada alat bantu dengar yang saya gunakan. Seperti yang di ketahui alat bantu dengar memang merupakan alat elektronik, sudah tentu diperlukan perawatan (service) secara berkala. Lalu maslaah baterai yang sudah tentu juga harus dibeli secara teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerusuhan itu setidaknya membuat kegiatan ekonomi di Jakarta luluh lantak. Toko-toko, pusat perbelanjaan banyak dibakar dan dijarah massa. Berpergian menjadi tak aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah menyebabkan saya akhirnya cukup lama tidak melakukan service alat bantu dengar. Sekedar info, tempat dimana saya biasa melakukan service ada di dekat stasiun sudirman Jakarta (sekarang sudah pindah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa dampaknya? &lt;br /&gt;
Sudah tentu alat bantu dengar yang saya gunakan menjadi tak begitu nyaman.&lt;br /&gt;
Persediaan baterai menipis. Resah rasanya mendengar jadi tak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerusuhan, bagaimanapun tentunya tak dinginkan. Sebab selain membawa dampak sosial ekonomi, sudah tentu banyak menyusahkan orang.&lt;br /&gt;
Termasuk untuk diri saya yang tergantung pada sebuah alat.&lt;br /&gt;
Jangan lagi ada tragedi lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis mengenang 12 Mei 1998&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/05/tragedi-12-mei-13-tahun-yang-lalu-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-2725558288993573008</guid><pubDate>Wed, 27 Apr 2011 15:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-11T14:04:54.516+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)</category><title>Jangan Sembarangan Membeli Hearing Aid</title><description>Secara tak sengaja saya menemukan sebuah blog yang menjual hearing aid dengan harga sangat murah. Blognya ada di link &lt;a href="http://www.alatmendengar.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;ini&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Bahkan lebih murah dari hearing aid pertama saya yang di beli tahun 1993 seharga Rp.500.000 dengan kurs USD$ saat itu sekitar Rp.2000-Rp.4000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spesifikasi alatnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiqWia_j-UFLteDlnzyoOyy4mcms4ex9XDdSq6eibEwhqGGa7U3nx5b6IIoY9gg3jyf000oMQUq2sBDRYHlgIubONAKwwl7vSJ7s_3u2CrL7VOlxY3W_m15lD4I3UA6PVtEGB_XqavbB4/s320/isi.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiqWia_j-UFLteDlnzyoOyy4mcms4ex9XDdSq6eibEwhqGGa7U3nx5b6IIoY9gg3jyf000oMQUq2sBDRYHlgIubONAKwwl7vSJ7s_3u2CrL7VOlxY3W_m15lD4I3UA6PVtEGB_XqavbB4/s200/isi.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: purple;"&gt;Alat bantu dengar merk “HARMED” buatan Jerman ini kami tawarkan dengan harga Rp.240.000/pcs.*&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Specification :&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Max Out 125±5dB,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Max Gaim 55±5,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Total Harmonic Dist ≤6% (AT 1000 Hz),&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Equiv Input Noise ≤28dB,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Frequency Range 300Hz-4000Hz,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Voltage 1.5V / 1.3V,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Current ≤3.1 mA/2.2mA,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Zinc Battery (3 buah, 1 untuk dipakai dan 2 buah untuk cadangan),&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Earmold (3 buah, ukuran kecil, sedang dan besar),&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Sikat pembersih (1 buah).&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Harga diatas adalah harga mulai Agustus 2009 dan dapat berubah sewaktu-waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Harga diatas belum termasuk ongkos kirim.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;Untuk pembelian harap konfirmasi lebih dulu mengenai harga dan ongkos kirim&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berdiskusi dengan teman blog yang kebetulan ada di Jerman. Ternyata merk tersebut MERAGUKAN. Sebab bilamana alat tersebut barang impor, tak mungkin di jual dengan harga ratusan ribu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hearing aid, bukanlah alat yang bisa dijual secara sembarang&lt;/b&gt;. Dimana dalam pembeliannya harus melalui tahapan pemeriksaan. Tahapan itu terdiri dari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tes suara, pengetesan suara bisa berupa Audiometri untuk yang di tes sudah bisa berkomunikasi sederhana. Sedangkan tes BERA (Brain Evoked Response Audiometry) biasanya digunakan untuk bayi dan balita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dihitung grafik suara yang masih bisa di respon. Dalam hal ini grafik suara yg bisa di respon adalah dalam frekwensi 120db. Lebih dari itu bisa dibilang gangguan dengarnya Profound hearing loss.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Fitting alat. Fitting alat bantu dengar didasarkan pada hasil pemeriksaan. Dari sini akan diketahui hearing aid apa yang harus di gunakan untuk gangguan dengar yang sudah diketahui. Makin besar gangguan dengarnya, makin diperlukan pula hearing aid yang powernya lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cetak earmold. Ini adalah tahapan akhir, dimana bila alat sudah ditemukan yang pas, maka dilakukan cetak earmold. Biasanya perlu waktu paling lama 5 hari. Tergantung bahan earmold.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setting alat. Setelah earmold jadi. biasanya alat akan disetting terutama untuk hearing aid digital. Ini untuk memaksimalkan cara kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Jadi dalam pembelian hearing aid, tidak bisa begitu saja saat dibeli langsung bawa pulang. &lt;br /&gt;
Sangat berbahaya membeli hearing aid yang dijual secara bebas tanpa mengetahui berapa besar gangguan dengarnya. Sebab bisa berpotensi merusak sisa pendengaran yang ada. Untuk itulah penting sekali untuk bertanya atau konsultasi dulu kepada orang yang tahu benar tentang hearing aid. Semoga bisa lebih waspada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*ditulis sekdar info, agar hat-hati.&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/04/jangan-sembarangan-membeli-hearing-aid.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiqWia_j-UFLteDlnzyoOyy4mcms4ex9XDdSq6eibEwhqGGa7U3nx5b6IIoY9gg3jyf000oMQUq2sBDRYHlgIubONAKwwl7vSJ7s_3u2CrL7VOlxY3W_m15lD4I3UA6PVtEGB_XqavbB4/s72-c/isi.JPG" width="72"/><thr:total>24</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-157126544921769865</guid><pubDate>Mon, 18 Apr 2011 14:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-14T14:37:21.768+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Ketika Marah Dengan Keadaan Diri</title><description>Ada sebuah komentar pada postingan saya yang berjudul&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/03/aku-masih-mendengar-kok.html"&gt;&lt;b&gt;Aku Masih Mendengar kok&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
Komentar yang entah dari siapa, tidak saya ketahui. Berikut kutipan komentarnya&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;div class="quotea" style="font-weight: bold;"&gt;Anonim mengatakan... &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: #993300; font-style: italic;"&gt;"Dapat  hearing aid baru? Apa bisa secepat itu? Kudengar biayanya sampai  25  juta. Ah, masa sih orang yang nggak bisa mendengar gak sunyi? Banyak   orang yang enggan bicara denganku karena aku tak bisa mendenga juga,   menganggapku merepotkan, cuma gara2 ga bisa dengar. Ibuku aja sampe   teriak teriak marah gara2 musti ngulang 2 kali. Huh, bilang aja kalau   dia gak pengen punya anak cacat! "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #993300; font-family: lucida sans unicode,lucida; font-size: small; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31/03/11 17:22&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang apa yang dikatakan mengenai hearing aid itu benar. Untuk sepasang hearing aid super power diperlukan setidaknya 20 juta. Tetapi perlu di ketahui juga. Bahwa mahal tidaknya hearing itu lebih dipengaruhi pada besarnya gangguan dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila masih bisa mendengar suara menggelegar seperti pada gangguan dengar saya. Rasanya cukup mengenakan hearing aid seharga 4-7 juta. Memang tak sejernih pendengaran normal. Setidaknya cukup untuk bisa berkomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dari nada tulisan komentar tersebut, saya menangkap ada rasa kecewa, marah dan sedih akan kondisi diri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memahami kondisi tersebut, sebab saya pun pernah merasakan demikian. Ketika menyadari bahwa suara yang hilang itu takkan pernah kembali. Saya marah pada diri ini, karena pendengaranku terenggut akibat antibiotik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi bila mengingat saat itu penggunaan antibiotik lebih dikarenakan agar saya bertahan hidup, melawan segala bakteri yang menyerang. Dan berbagai keputusan agar saya bisa bertahan hidup. Maka saya belajar menerima kehilangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimanapun dalam berkomunikasi saya masih menggunakan bahasa verbal. Saya akui, sulit sekali setelah tahu ada yang berbeda pada diri ini. Menerima perlakukan buruk dari orang lain, sampai ejekan kata-kata yang tak mengenakan untuk didengar melalui hearing aid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu saat usia Sekolah Dasar, bila ada yang mengejek tak jarang saya balik memarahi kembali anak tersebut.Tetapi seiring berjalannya waktu, seiring dengan makin berdamainya pada diri sendiri. Emosi itu bisa saya kendalikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya teringat dulu sewaktu kecil ketika saya menemui seorang anak perempuan di dekat rumah bu Lik, dimana bibirnya tak sempurna, miring kekanan seperti orang stroke. Ibu saya bilang begini &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;"anak itu bila bisa memilih, tentu tak mau bernasib begitu"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa.. sama seperti saya, bila boleh saya memilih tentunya akan memilih seperti orang pada umumnya. Sebab semakin dewasa ternyata makin berat hambatan itu dan makin kompleks pula.&lt;br /&gt;
Apalagi ketika terjun di masyarakat. Tak jarang berbagai penolakan sering saya terima. Syukurlah saya masih memiliki keluarga yang selalu membesarkan dan menguatkan diri agar sabar..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*dituliskan sekedar sharing..&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/04/ketika-marah-dengan-keadaan-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>11</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-8727878023284941699</guid><pubDate>Mon, 11 Apr 2011 13:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-11T14:05:28.465+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ceritaku</category><title>Saat Merasa Lelah</title><description>Sebagai orang yang mengalami gangguan dengar, berat sekali hidup yang harus dilewati. Kadang lelah rasanya menghadapi segala hambatan yang tiada berkesudahan. Datang silih berganti seakan tiada jeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia yang kudengar melalui hearing aid bising sekali. Tiada henti suara itu sahut menyahut. Tak kupungkiri seringkali membuat sakit kepala karena bising.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila sudah begitu..&lt;br /&gt;
Saya memilih berdiam diri dalam suara yang samar-samar. Dimana bisa menghela napas sejenak, menenangkan diri dari segala himpitan yang ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaa.. Inilah hidup saya, hidup yang harus tergantung dengan sebuah alat.&lt;br /&gt;
Dimana saya harus bisa menerima keadaan ini..&lt;br /&gt;
Walau berat dan lelah sering menyergap..&lt;br /&gt;
Tetapi selama nafas ini berhebus..&lt;br /&gt;
Hidup harus terus dijalani..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*sekedar tulisan saat lelah&lt;/span&gt;</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/04/saat-merasa-lelah.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>9</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-7015386411234209667</guid><pubDate>Fri, 25 Mar 2011 09:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-14T14:43:13.428+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gangguan Dengar</category><title>Aku Masih Mendengar kok</title><description>Sering kali orang bertanya, &lt;b&gt;apakah saya masih bisa mendengar suara?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Ada anggapan, bila terkena gangguan dengar bisa diartikan tidak lagi bisa mendengar suara. Dunianya hening, sepi tanpa suara dan berbagai bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal tidak seperti itu. Mengalami gangguan dengar bukan berarti tak lagi mendengar suara. Masih bisa mendengar hanya saja butuh frekwensi lebih besar dari orang yang berpendengaran normal. Untuk itulah digunakan hearing aid (alat bantu dengar). Dengan alat tersebut orang yang terkena gangguan dengar bisa mendengar suara dengan frekwensi yang sama dengan orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa tak perlu belebihan kala berbicara dengan orang yang mengalami gangguan dengar. Tak perlu berteriak pada mereka. Sebab adanya hearing aid (alat bantu dengar), sudah membantu orang yang mengalami gangguan pendengaran untuk mendengar suara lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu...&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa yang kurasakan kala alat tersebut di lepas?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Adakah suara yang didengar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tentu suara itu masih ada dan masih bisa kudengar.&lt;br /&gt;
Suara kendaraan umum seperti bus kota masih bisa kudengar, suara petasan yang meledak, suara balon meletus masih bisa kudengar.dan banyak suara lainnya yang berfrekwensi besar.&lt;br /&gt;
Hanya saja saya akui bila tak mengenakan alat, agak kesulitan dalam berkomunikasi. Sebab tidak semua orang memiliki artikulasi, gerak mulut dan gaya berbicara yang baik. Maka untuk itulah saya butuh hearing aid untuk bisa berkomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi mengalami gangguan dengar, bukan berarti dunianya sunyi tanpa suara.&lt;br /&gt;
Aku masih mendengar kok..</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/03/aku-masih-mendengar-kok.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><thr:total>14</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9022679293118774553.post-1279815274162612596</guid><pubDate>Fri, 04 Mar 2011 14:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-11T14:06:22.480+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gangguan Dengar</category><title>Sayangi Telinga dan Pendengaran anda</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzzZWVOk3Zb_DD1WBijUJWqDTrUUUgw2mukQUdWu-L7mSLhbfkQs6S44DDUmJrjyH0Jt-fZWfw2IbFkA5-SgNGB9K737pPGt0hck4YOSmV-31g51UCiEmH-iCSfMxxyJz4BkgyTEd9MHVo/s1600/whispering.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzzZWVOk3Zb_DD1WBijUJWqDTrUUUgw2mukQUdWu-L7mSLhbfkQs6S44DDUmJrjyH0Jt-fZWfw2IbFkA5-SgNGB9K737pPGt0hck4YOSmV-31g51UCiEmH-iCSfMxxyJz4BkgyTEd9MHVo/s200/whispering.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seringkali orang melupakan bagaimana rasanya mendengar. Kadangkala juga banyak yang lupa bagaimana menggunakan telinga itu. Karena acapkali telinga tidak digunakan dengan semestinya. &lt;br /&gt;
Begitupun masalah kebersihannya. Seringkali banyak orang mengabaikan kesehatan telinga. Mengorek Telinga dengan sembarang alat yang bisa melukai telinga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan sampai anda menyadari betapa berharganya mendengar, kala suara yang didengar pergi menjauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanggal 3 Maret merupakan peringan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional yang dicanangkan oleh Kementrian kesehatan pada tanggal 3 Maret 2009. Berikut kutipan beritanya..&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="quotet"&gt;&lt;i&gt;JAKARTA - &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencanangkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP)&lt;/span&gt;.  Dengan pencanangan itu. diharapkan pemerintah dapat meningkatkan  kesadaran masyarakat, terutama kesehatan indera pendengaran.Tahun 2010  merupakan tahun pertama dalam peringatan HKTP. Dengan tema Telinga Sehat  Pendengaran Baik, pemerintah berharap peringatan HKTP dapat  dilaksanakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf Ahli Menkes Bidang Peningkatan  Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. Krishnajaya, mengatakan, saat  ini gangguan pendengaran banyak terjadi di Indonesia.Dia mengungkapkan,  berdasarkan survei nasional kesehatan pada 1993-1996, prevalensi  ketulian mencapai 0,4 persen. Selain itu, terdapat 16,8 persen  masyarakat dari tujuh provinsi yang mengalami gangguan  pendengaran.Selain itu. menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO),  pada 2005 terdapat 278 juta penderita gangguan pendengaran. Kurang lebih  75 juta hingga 140 juta penderita itu bermukim di wilayah Asia  Tenggara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-republika-[ &lt;b style="color: red;"&gt;&lt;a href="http://bataviase.co.id/node/117006"&gt;http://bataviase.co.id/node/117006&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; ] &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang gaung peringat Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional (HKTP) kurang menggema. Mungkin karena masih dalam tahap sosialisasi. Tetapi tidak ada salahnya saya menulis untuk mengingatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menyadari bahwa mendengar itu mahal harganya..&lt;br /&gt;
Menyadari tak ada satupun alat yang bisa sesempurna suara yang kau dengar dimana merupakan karunia Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sayangilah telingamu, gunakan dengan semestinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- gambar dari google</description><link>http://yusnitafebri.blogspot.com/2011/03/sayangi-telinga-dan-pedengaranmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Yusnita Febri)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzzZWVOk3Zb_DD1WBijUJWqDTrUUUgw2mukQUdWu-L7mSLhbfkQs6S44DDUmJrjyH0Jt-fZWfw2IbFkA5-SgNGB9K737pPGt0hck4YOSmV-31g51UCiEmH-iCSfMxxyJz4BkgyTEd9MHVo/s72-c/whispering.jpg" width="72"/><thr:total>8</thr:total></item></channel></rss>