<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/rss2full.xsl" type="text/xsl" media="screen"?><?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css" type="text/css" media="screen"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" version="2.0">

<channel>
	<title>Kedai Puisi</title>
	
	<link>http://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	<description>Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi</description>
	<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 14:57:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/KedaiPuisi" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">1464390</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://www.feedburner.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Hegemoni Puisi Liris di Indonesia</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 09:40:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.
Sapardi Djoko Damono, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a name="DDE_LINK"></a>Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.<span id="more-22"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Sapardi Djoko Damono, yang dikenal sebagai penyair pengusung lirisisme mengakui bahwa puisi liris timbul sejalan dengan kuatnya tradisi lisan di tanah air. Ketika sedang berbicara soal puisi, sebenarnya tidak akan berpaling dari membicarakan persoalan bunyi, yakni rima, tata kata, dan irama. Rima yang terdapat dalam puisi liris, kata Sapardi, adalah langkah untuk memudahkan orang melakukan pemenggalan terhadap penulisan dan pembacaan.</p>
<p>Sapardi tergolong dalam kelompok pengusung tradisi puisi liris bersama sejumlah tokoh, seperti Abdullah Abdul Kadir Munsyi, Sanusi Pane, Goenawan Muhammad, Acep Zamzam Noer, Ramadhan K.H., dan Sitor Situmorang. Sementara itu, kelompok pencipta arus alternatif diisi oleh Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, hingga Afrizal Malna. Tapi lambat laun, kelompok terakhir ini juga kembali ke bentuk liris, seperti Chairil, Rendra, dan Remy Silado.</p>
<p>Dalam diskusi &#8220;Imperium Puisi Liris&#8221; di Bentara Budaya Jakarta, bulan Maret lalu, Afrizal Malna mengatakan lirisisme bukanlah hal mutlak dalam menciptakan karya puisi. Afrizal, yang terkenal dengan gaya sastra materialisnya, menilai puisi liris telah menjadi imperium dalam dunia kesusastraan Indonesia. &#8220;Seakan-akan penyair harus lewat lirisisme,&#8221; kata Afrizal.</p>
<p>Pendapat Afrizal ini bertolak dari pengamatannya terhadap perkembangan sejarah budaya masyarakat. Ia menuturkan, bahwa konteks perkembangan puisi liris dalam budaya lisan Indonesia bersumber dari hasil persentuhan dengan berbagai budaya luar lainnya. Persentuhan ini lambat laun membuat bahasa liris digunakan penguasa untuk menancapkan kukunya sebagai satu-satunya media yang memiliki nilai estetika. Ia menambahkan, ”Kekuasaan kolonial memakai lirisisme dengan mendirikan Balai Pustaka untuk melestarikannya.”</p>
<p>Bagi pengamat sastra, Kris Budiman, lirisisme merupakan sistem ideologi yang hegemonik dalam dunia sastra, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Dominasi puisi liris di Indonesia, kata dia, sudah bermula sejak Rustam Effendi dan Muhammad Yamin. &#8220;Warisan ideologi romantika pada puisi liris tidak hanya pada nyanyian, tapi juga pada proses produksi,&#8221; dia menambahkan.</p>
<p>Menurut Kris, diperlukan sebuah studi teks yang komprehensif mengenai kesusastraan Indonesia sejak zaman Majapahit. Perlawanan oleh kelompok alternatif, kata Kris, tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Pertentangan seperti itu, ujarnya, merupakan sesuatu yang kontinu atau memang selalu ada dan menghiasi dunia sastra. Hal ini merupakan kecenderungan penyair untuk tunduk pada konvensi puisi yang sudah diinternalkan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=22&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/roristory-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Suket: Pengalaman Bawah Slamet Gundono</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/02/wayang-suket-pengalaman-bawah-slamet-gundono/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/02/wayang-suket-pengalaman-bawah-slamet-gundono/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jawa]]></category>

		<category><![CDATA[profil]]></category>

		<category><![CDATA[slamet gundono]]></category>

		<category><![CDATA[suket]]></category>

		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/02/wayang-suket-pengalaman-bawah-slamet-gundono/</guid>
		<description><![CDATA[Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD. Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD. Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak kecil. Tapi  ia tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan saat itu yang dekat dengan minum dan main perempuan. Masuklah ia ke pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Tapi, justru di sekolah saat itu, di bawah kecintaannya terhadap wayang tidak pernah hilang, ia semakin rindu wayang.<span id="more-21"></span></p>
<p>Kini, Wayang Suket menjadi sebuah ikon bagi Slamet Gundono, alumni Jurusan Seni Pedalangan, Sekolah Tinggi Seni Indonesa (STSI) Surakarta tahun 1999. Slamet yang berpenampilan nyentrik dengan tubuh subur seberat 150 kg ini, semula dikenal sebagai dalang wayang kulit. Di saat mulai laku manggung pakeliran, ia malah membelok, menekuni seni wayang suket. Awalnya ia kerap menjadi bahan olok-olok dan mengundang pendapat miring dari kalangan seniman. Tahun demi tahun, pentas wayang suketnya ternyata banyak mengundang minat. Tak Cuma keliling berbagai kota, tapi juga <em>ditanggap</em> ke luar negeri. Ia pun menjadi sosok seniman fenomenal. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi sebuah media seni teater berbasis kesenian tradisional wayang.</p>
<p>Slamet Gundono yang lahir di Slawi, Tegal, pada 19 Juni 1966 ini sama sekali tidak berpikir bahwa suket akan menjadi tren wayang suket. Wayang suket adalah pengalaman bawah sadar masa kecilnya. Bukan kesengajaan yang dimunculkan dan dieksplorasi di dunia seni. Tiap hari di masa kecil ia ke sawah. Tiap hari ia melihat suket. Ketika petani lagi santai suket mereka menganyam bagian batang jenis rumput menyerupai model wayang untuk mengisi waktu.</p>
<p>Pertama kali wayang suket dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Tiba-tiba ia harus mementaskan wayang. Padahal, di sana tidak ada wayang kulit. Juga tak ada gamelan. Kebetulan kakak saya punya studio lukis yang terletak ditengah alang-alang sawah. Muncullah pengalaman masa kecil tentang suket. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai suket, ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk yang kemudian ia mainkan. Gamelannya pakai mulut, ala kadarnya dengan lakon “Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukkan wayang suket pertamanya.</p>
<p>Bekal pengalaman pertama dari Riau itu ia bawa pulang. Slamet Gundono mengumpulkan beberapa teman dan membentuk komunitas wayang suket yang kemudian ia pakai sebagai nama Padepokan Komunitas Wayang Suket, di Ngringo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah. “Kelingan Lamun Kelangan” adalah  lakon cerita tentang Banjaran Karno. Mulai dari lahir sampai mati. Lakon ini menggambarkan bahwa orang itu baru sadar setelah kehilangan. Ketika Dewi Kunthi memilih membuang anaknya, Karna, ke sungai ketimbang menanggung rasa malu sebagai perempuan yang dihamili. Ia baru merasa memiliki anaknya ketika anaknya sudah berubah menjadi seorang senopati.</p>
<p>Kelebihan wayang suket adalah ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Menafsir kembali siapa itu wayang-wayang sebagai bayangan hidup. Manusia terus tumbuh, tapi wayang kulit tidak. Werkudoro yang sedang sakit tetap membusung gagah, menangis pun tetap membusung gagah. Satu sisi ini menunjukkan wayang kulit sudah terlalu puncak, sudah selesa sebagai sebuah perjalanan estetika. Sudah stagnan untuk memberi ruang bebas. Sehingga akhirnya muncul eksperimen-eksperimen vulgar.</p>
<p>Slamet Gundono tidak ingin ikut arus tersebut, sehingga ia memutuskan memilih suket untuk memulainya. Setelah wayang suket pentas banyak yang berebutan wayang suket dan dibawa pulang untuk dipajang. Durasi pementasannya fleksibel, pernah hanya 15 menit, pernah satu jam, pernah juga tiga jam. Pernah pentas dengan tiga orang, pernah pula pentas dengan 30. Begitu juga dengan iringan musiknya, ia hanya membawa satu atau dua jenis perangkat gamelan, bambu, ditambah gitar kecil untuk berimprovisasi, bisa juga dengan <em>cangkem</em> (mulut).</p>
<p>Filosifi suket sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah spirit yang membuatnya bangga. Suket hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya merupakan simbol <em>grass root</em> yang mempertanyakan tentang diri, bukan memberontak atau merusak. Konsep pertunjukannya adalah pelataran seperti lagunya, <em>urip kuwi mung koyo bocah cilik dolanan nang pelataran</em>.</p>
<p>Slamet Gundono mengemas Wayang Suket secara apik dan unik sebagai kreasi baru dunia pewayangan. Cerita yang diangkatnya bukan sekedar cerita-cerita klasik yang bersumber dari kitab Mahabarata, Ramayana, kisah Panji, atau kisah Menak, tapi sudah berkolaborasi dengan sumber cerita keseharian yang lagi menjadi sorotan. <span style="color:#000000;">Gundono menyandingkan tokoh-tokoh wayang yang biasa dikenal dengan tokoh yang dicomot dari dunia keseharian sang dalang, semuanya b</span>erbalut kritik sampai joke-joke yang membuat penonton terpingkal-pingkal.</p>
<p>Ketika tampil di panggung, Slamet Gundono tidak menggunakan baju beskap, blangkon, dan keris di pinggang sebagaimana kaidah-kaidah seni pedalangan tradisional. Ia biasa tampil dengan pakaian setengah telanjang atau seperti koboi. Media pementasannya pun tidak menggunakan wayang, kecuali untuk gunungan atau beberapa tokoh. Malah kadang ia menggunakan buah-buahan hasil kebun; seperti cabe, mentimun, tomat, bawang merah, dan lain-lain yang tertancap di batang pisang; jika di panggung.</p>
<p>Dari pengalaman beberapa tahun memopulerkan wayang suket, ia menandai orang-orang yang mengundang wayang suket tidak sekadar nanggap. Ia menangkap romantisme kuat pada mereka, yakni romantisme masyarakat agraris. Itu ada di ruang bawah sadar orang-orang kota.  Tak hanya orang-orang asal Jawa yang antusias. Penonton di Berlin, Jerman, pun memberikan antusiasme serupa. Begitu terkesannya pada pertunjukan Slamet Gundono, beberapa penonton mengundangnya makan malam seusai pentas.</p>
<p>Selain lakon masternya, “Kelingan Lamun Kelangan”, ada lakon-lakon lain yang digarap Slamet Gundono, antara lain; “Sukesi atau Rahwana Lahir”, “Limbuk Ingin Merdeka”, dan “Bibir Merah Banowati” tergantung segmen dan keinginan pasar. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi tontonan yang enak, segar, dan penuh tuntunan. Ia berpijak pada seni tradisi dalam mengupas persoalan pada masa kekinian.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=21&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/02/wayang-suket-pengalaman-bawah-slamet-gundono/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/roristory-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerikil Kecil Pena Kencana Award</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/03/18/kerikil-kecil-pena-kencana-award/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/03/18/kerikil-kecil-pena-kencana-award/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 08:53:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Saya mungkin tidak akan melirik sekedip pun Pena Kencana Award 2008 jika tak ada sebuah nama yang nangkring di atas daftar 100 puisi Indonesia terbaik, yaitu A. Muttaqin, seorang teman kuliah yang aktif di KRS (komunitas Rebo Sore). Jadilah saya ikut membaca keseluruhan ulasan-ulasan mengenai ajang satu ini. Ajang gres bagi karya-karya terbaik para penyair [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya mungkin tidak akan melirik sekedip pun Pena Kencana Award 2008 jika tak ada sebuah nama yang nangkring di atas daftar 100 puisi Indonesia terbaik, yaitu A. Muttaqin, seorang teman kuliah yang aktif di KRS (komunitas Rebo Sore). Jadilah saya ikut membaca keseluruhan ulasan-ulasan mengenai ajang satu ini. Ajang gres bagi karya-karya terbaik para penyair dan cerpenis yang dipungut dari 12 koran lokal dan  koran nasional di Indonesia sepanjang tahun 2006-2007. Ajang yang kemudian menelurkan dua buah buku, 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.<span id="more-20"></span><br />
Memang sebagian nama-nama para penyair dan cerpenis yang karyanya masuk ke dalam 100 puisi pilihan dan 20 cerpen pilihan se-Indonesia versi Pena Kencana Award 2008 ini masih dipenuhi penyair dan cerpenis lama. Dari karya-karya yang terpilih, masih bertengger deretan nama-nama besar seperti: Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo, dan Gus Tf. berbagi tempat dengan benih-benih baru penyair dan cerpenis yang menjanjikan.</p>
<p>Pena Kencana Award merupakan upaya meningkatkan motivasi para penulis untuk terus melahirkan karya, walaupun beberapa pihak mengkhawatirkan perlunya dibuat dan diketengahkan suatu sistem, standar, serta tolak ukur penilaian dan penjurian yang jelas untuk publik sastra secara luas. Harus ada mekanisme pertanggungjawaban dari dewan juri yang terpublikasikan secara luas.</p>
<p>Berbagai pertanyaan kritis akhirnya mencuat mengenai ukuran kompetensi karya-karya yang masuk. Apakah bisa dijamin tidak ada unsur keberpihakan subjektif di dalamnya? Apakah hanya berdasarkan asas kepercayaan saja dari pihak panitia kepada para juri untuk menilai dan menyeleksi? Atau hanya berdasarkan pertemanan antara panitia dan juri?</p>
<p>Kekhawatiran tersebut patut muncul karena jika dihitung secara matematis, dalam setahun ada 52 minggu, untuk cerpen berarti ada 52 cerpen dikali 12 media, atau sama dengan 624 cerpen. Puisi lebih banyak lagi, jika dalam satu pemuatan ada 5 puisi, maka 5 dikali 52 minggu dikali 12 media, atau sama dengan 3120 puisi. Bisa dibayangkan repotnya. Dan inilah sumber penyakitnya, baik pertanyaan: Apakah juri membaca dan memyeleksi keseluruhan karya tersebut? atau: Apakah juri menerima hasil seleksi tahap awal dari keseluruhan karya tersebut dari panitia?</p>
<p>Jika panitia menunjuk dan menyediakan seseorang juri/penyeleksi di masing-masing daerah untuk mengakomodasi karya-karya yang termuat di koran lokal, apakah orang yang ditunjuk menyeleksi itu bisa dipercaya kapasitas dan kualitas seleksiannya? Apakah tidak menutup kemungkinan keberpihakan subjektif terhadap beberapa nama tertentu dari penyeleksi di tingkat daerah?</p>
<p>Menurut Wayan Sunarta, hal ini mirip kasusnya dengan juri tahap satu KLA (Khatulistiwa Literary Award) dimana lolos atau tidaknya sebuah buku tergantung pada kekuatan, ketelitian dan ketidakberpihakan juri tahap satu dalam menilai buku. Kalau juri tahap satu tidak becus dan kerja asal-asalan, maka pupus sudah harapan menjaring karya berkualitas. Semua perlu dijelaskan secara gamblang mekanismenya karena jangan-jangan ada sejumlah karya yang sesungguhnya berkualitas namun luput dari penilaian.</p>
<p>Menurut situs Pena Kencana Award, ada 7 orang juri yang bertugas sejak Agustus 2007. Juri-juri tersebut memiliki latar belakang sastra yang sangat kompeten, tengoklah nama Budi Dharma, Ahmad Tohari, Apsanti Djokosujatno, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Sitok Srengenge. Mereka memilih 20 cerita pendek dan 100 puisi Indonesia terbaik dari ribuan karya yang dipublikasikan selama setahun penuh, antara 1 November 2006 sampai 31 Oktober 2007.</p>
<p>Nugroho Suksmanto, ketua panitia, secara tersirat melakukan pembelaan terhadap kontroversi ini, ia mengatakan bahwa yang paling berkompeten terhadap sastra adalah komunitas sastrawan. Yakni mereka yang mengklaim beralaskan hati dan pikiran yang jernih berkarya untuk Tuhan (baca; kesadaran dirinya) dan bagi kemaslahatan manusia. Mereka tentu berusaha terbebas dari pengaruh, apalagi tekanan, yang beorientasi komersial, sehingga setiap usaha ke arah itu pasti akan dicurigai sebagai upaya merusak kesucian karya dan akan menodai dunianya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa Pena Kencana telah menyadari setiap pilihan yang dilakukan pasti akan melahirkan kontroversi. Untuk itu panitia akan mengganti tiga dari tujuh juri agar komposisinya berubah setiap tahun. Namun tetap saja mengecewakan hati ketika mendapati masuknya juga beberapa karya anggota dewan juri dan panitia dalam Pena Kencana ini, seperti Joko Pinurbo, sapardi Djoko Damono, dan Sitok Srengenge. Suatu sinyal bahwa Pena Kencana belum mempunyai aturan yang jelas tentang kriteria penjurian. Rasanya akan lebih baik jika karya dewan juri otomatis tidak masuk dalam pemilihan, sebaik apapun karyanya, karena dalam kapasitasnya sebagai dewan juri masyarakat pastilah tahu kanapa karyanya tidak masuk dalam pemilihan.</p>
<p>Sangat disayangkan jika Pena Kencana award yang dimaksudkan untuk tujuan mulia ini dipakai ajang main-main dan iseng-iseng orang-orang tertentu. Orang-orang yang punya kepentingan subjektif yang nantinya melahirkan polemik diantara sastrawan yang merasa dikalahkan bukan oleh ukuran kualitas karya, melainkan oleh sistem yang tidak sehat. Saya setuju dengan ide Wayan Sunarta untuk lebih membuat suatu program beasiswa penulisan yang dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak luas.</p>
<p>Tapi semoga saja Pena Kencana ini sesuai harapan awal panitia, yaitu membuka pasar yang lebih luas dan lebih besar atas karya tulis, baik dalam bentuk buku-buku maupun media lain. Dari sana akan tumbuhlah prospek usaha penerbitan yang lebih cerah dan menjanjikan, yang kemudian hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat sastra, berupa imbalan berkarya yang pantas, sehingga akan memotivasi kemunculan sastrawan-sastrawan baru dengan karya-karya yang lebih bermutu.</p>
<p>Saya ucapkan selamat pada 100 Puisi Indonesia terbaik dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik Anugerah Pena Kencana Award 2008.</p>
<p><b>100 Puisi Indonesia Terbaik 2008</b></p>
<ol>
<li>A. Muttaqin, Munajat Apel Merah - Koran Tempo, 10 Juni 2007</li>
<li> Aan Mansyur, Kata Peramal - Koran Tempo, 7 Oktober 2007</li>
<li> Aan Mansyur, Tiga Catatan Terakhir - Kompas, 21 Oktober 2007</li>
<li> Acep Zamzam Noor, Lembah Anai - Koran Tempo, 25 Februari 2007</li>
<li> Acep Zamzam Noor, Rambut Ikal - Kompas, 27 Mei 2007</li>
<li> Acep Zamzam Noor, Sajak Nakal - Koran Tempo, 25 Februari 2007</li>
<li> Afrizal Malna, Bush dan Rambut yang Tak Bisa Disisir - Kompas, 26 November 2006</li>
<li> Afrizal Malna, Lemari Tahun 1957 - Kompas, 7 Oktober 2007</li>
<li> Afrizal Malna, Satu Meter Jalan ke Kiriâ€<font face="Lucida Sans Unicode">ﾝ </font>- Kompas, 	7 Oktober 2007</li>
<li> Ahda Imran, Di Delta Sungai - Kompas, 21 Januari 2007</li>
<li> Ahda Imran, Perempuan yang Menyulam di Tepi Sungai - Kompas, 21 Januari 2007</li>
<li> Alois A. Nugroho, Pedati Kayu dan 	Hutan Jati - Kompas, 22 April 2007</li>
<li> Alois A. Nugroho, Perahu dan Pagi - Kompas, 22 April 2007</li>
<li> Ari Pahala Hutabarat, Kado Ulang Tahun - Lampung Post, 14 Januari 2007</li>
<li> Arif B. Prasetyo, Gunung Sanbang - Kompas, 3 Desember 2006</li>
<li> Arif B. Prasetyo, Madiun -Kompas, 3 Desember 2006</li>
<li> Dahta Gautama, Khimaci di Showa Kinen - Lampung Post, 29 Juli 2007</li>
<li> Dina Oktaviani, Hantu Tanjung Karang - Kompas, 17 Juni 2007</li>
<li> Dina Oktaviani, Lanskap Dalam - Media Indonesia, 25 Maret 2007</li>
<li> Eka Pranita Dewi, Kakek Tak Jadi Datang - Lampung Post, 11 Maret 2007</li>
<li> Eka Pranita Dewi, Malam di Kartika Plaza - Bali Post, 17 Juni 1007</li>
<li> Eka Pranita Dewi, Perempuan Pembuat Gerabah - Bali Post, 28 Januari 2007</li>
<li> Faisal Kamandobat, Aku Mencintai Kalian - Media Indonesia, 11 Maret 2007</li>
<li> Fina Sato, Kabarkan Padaku tentang Laut - Pikiran Rakyat, 5 Mei 2007</li>
<li> Frans Najira, Surat yang Tersesat 	- Koran Tempo, 7 Januari 2007</li>
<li> Goenawan Mohamad, Ia Menangis - Kompas, 23 September 2007</li>
<li> Goenawan Mohamad, Rozinante - Kompas, 23 September 2007</li>
<li> Goenawan Mohamad, Tiga Puluh Menit Sebelum Syaid Hamid- Kompas, 23 September 2007</li>
<li> Gunawan Maryanto, Jineman Uler Kambang - Koran Tempo, 5 November 2006</li>
<li> Gunawan Maryanto, 	Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya - Kompas, 3 Juni 2007</li>
<li> Gunawan Maryanto, Sebuah Pertunjukan Tentang Hujan - Suara Merdeka, 15 April 2007</li>
<li> Gus Tf., Akar Berpilin 1 - Kompas, 4 Maret 2007</li>
<li> Gus Tf., Akar Berpilin 5 - Kompas, 4 Maret 2007</li>
<li> Hasan Aspahani, Di Antara Sampiran dan Isi Pantun Tua - Kompas, 16 september 2007</li>
<li> Hasan Aspahani,Orgasmaya - Kompas, 8 April 2007</li>
<li> Heru Mugiarso, Sola Dei - Suara Merdeka, 19 Agustus 2007</li>
<li> Inggit Putria Marga, Bulu Ayam - Lampung Post, 11 Februari 2007</li>
<li> Inggit Putria Marga, Di Pintu Gerbang - Republika, 11 Maret 2007</li>
<li> Inggit Putria Marga, Suara Usai Isya - Koran Tempo, 24 Juni 2007</li>
<li> Ira Puspitaningsih, NKM, Dalam Dongeng Tidurmu - Bali Post, 22 April 2007</li>
<li> Ira Puspitaningsih, NKM, Di Hilir, Doaku Menjelma Gadis Mimpi - Bali Post, 22 April 2007</li>
<li> Ira Puspitaningsih, NKM, Sari Daging, Yajna Sepasang Nelayan - Bali Post, 22 April 2007</li>
<li> Iswadi Pratama, Fragmen Pertempuran Menjelang Berangkat - Kompas, 18 Maret 2007</li>
<li> Iswadi Pratama, Pertempuran - Kompas, 18 Maret 2007</li>
<li> Iyut Fitra, Surat Untuk Amelia - Lampung Post, 25 Maret 2007</li>
<li> Jimmy Maruli Alfian, Kidung Pohon - Lampung Post, 28 Januari 2007</li>
<li> Jimmy Maruli Alfian, Membuat Panekuk - Koran Tempo, 4 Februari 2007</li>
<li> Joko Pinurbo, Pemulung Kecil - Kompas, 17 Desember 2007</li>
<li> Joko Pinurbo, Sehabis Sakit - Kompas, 17 Desember 2007</li>
<li> Joko Pinurbo, Terompet Tahun Baru 	- Suara Merdeka, 7 Januari 2007</li>
<li> Kurnia Effendi,Tentang Dirimu - Media Indonesia, 3 Juni 2007</li>
<li> Laela Awali, Cerita tentang Nenek 	dan Bocah Kecil</li>
<li> Leo Kleden, Bunga Kecil dari Genewa - Kompas, 12 Agustus 2007</li>
<li> Leo Kleden, Musim Gugur - Kompas, 	12 Agustus 2007</li>
<li> Lupita Lukman, Bunga Padi dan Alang-Alang - Media Indonesia, 9 September 2007</li>
<li> Lupita Lukman, Gubuk-Gubuk Gipsi - Media Indonesia, 15 April 2007</li>
<li> Lupita Lukman, Tangga Menuju Langit - Kompas, 29 Juli 2007</li>
<li> M. Fadjroel Rachman, Di Pulau Laut, Bulan Menari - Media Indonesia, 28 Januari 2007</li>
<li> Made Adnyana Ole, Seorang Penyair di Desa Tembok - Bali Post, 18 Februari 2007</li>
<li> Mardi Luhung, Hantu Paus - Koran Tempo, 8 April 2007</li>
<li> Mardi Luhung, Hujan - Kompas, 28 Januari 2007</li>
<li> Marhalim Zaini, Jangan Sebat Kami dengan Rotanmu, Jangan Kutuk Kami Jadi Melayu - Kompas, 24 Juni 2007</li>
<li> Mashuri, Tukang Cukur - Kompas, 25 Februari 2007</li>
<li> Mashuri, Wajah - Media Indonesia, 29 April 2007</li>
<li> Merisa Martiningsih, NMI, Dua Tukang Pos - Bali Post, 5 Agustus 2007</li>
<li> Micky Hidayat, Telah Kuhapus Kata-Kata - Republika, 10 Juni 2007</li>
<li> Mochtar Pabottinggi, Konsierto di 	Kyoto - Kompas, 28 Oktober 2007</li>
<li> Mochtar Pabottinggi, Kuil Ise, Prosesi - Kompas, 28 Oktober 2007</li>
<li> Muhammad Subarkah, Ain Helwa - Republika, 19 Agustus 2007</li>
<li> Muhammad Subarkah, Lhok Nga, Ketika Luka Lupa Menutup Mulutnya - Republika, 19 Agustus 2007</li>
<li> Muhammad Subarkah, Nyanyian Kekasih - Republika, 19 Agustus 2007</li>
<li> Ni Luh Putu Mahaputri, Menyunting Bulan Sabit - Bali Post, 30 September 2007</li>
<li> Nirwan Dewanto, Apel - Kompas, 5 Agustus 2007</li>
<li> Nirwan Dewanto, Pengantin Remaja - Kompas, 5 Agustus 2007</li>
<li> Nirwan Dewanto, Tiga Biola Juan Gris - Kompas, 5 Agustus 2007</li>
<li> Ook Nugroho, Ode Bagi Pisang - Koran Tempo, 18 Maret 2007</li>
<li> Ook Nugroho, Pasar Kembang - Kompas, 17 Juni 2007</li>
<li> Oyos Suroso, Dapur Ibu - Media Indonesia, 19 November 2006</li>
<li> Reina Cailisia, Sanur - Bali Post, 21 Januari 2007</li>
<li> Es. Wibowo, Suluk Borobudur - Suara Merdeka, 28 April 2007</li>
<li> Sapardi Djoko Damono, Kolam Pekarangan - Kompas, 10 Juni 2007</li>
<li> Sapardi Djoko Damono, Sonet 1 - Kompas, 10 Juni 2007</li>
<li> Sapardi Djoko Damono, Sonet 4  - Kompas, 10 Juni 2007</li>
<li> Saras Dewi, Mahkota Duri - Media Indonesia, 27 Mei 2007</li>
<li> Saraswati Laksmi, NKM, Tiga Tangkai Bunga - Bali Post, 29 Juli 2007</li>
<li> Sindu Putra, Nyoman, Seekor Burung Terbakar Dalam Lukisanmu - Bali Post, 21 Januari 2007</li>
<li> Sindu Putra, Pasar Pagi Denpasar - Bali Post, 25 Februari 2007</li>
<li> Sitok Srengenge, Lembah Lantana - Kompas, 26 Agustus 2007</li>
<li> Sitok Srengenge, Lukisan Perempuan - Kompas, 26 Agustus 2007</li>
<li> Sitok Srengenge, Ruang Singgah - Kompas, 26 Agustus 2007</li>
<li> Sunlie Thomas Alexander, Laskap 	Laki-Laki - Koran Tempo, 28 Januari 2007</li>
<li> Sunlie Thomas Alexander, Nightmare - Koran Tempo, 28 Januari 2007</li>
<li> Sunlie Thomas Alexander, Potret Tua - Koran Tempo, 28 Januari 2007</li>
<li> Triyanto Triwikromo, Kota Senja - Kompas, 22 April</li>
<li> Triyanto Triwikromo, Obituari Syeh Siti - Kompas, 22 April</li>
<li> Wendoko, Empat Sajak Untuk KH - Kompas, 20 Mei 2007</li>
<li> Wendoko, Les Miston - Media Indonesia, 24 Juni 2007</li>
<li> Wendoko, Life Lines - Kompas, 20 Mei 2007</li>
<li> Zaim Rofiqi, Ibu - Media Indonesia, 15 Juli 2007</li>
<li> Zen Hae, Seseorang akan Memanggilmu dari Kobaran Api - Kompas, 14 Januari 2007</li>
</ol>
<p><b>20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008</b></p>
<ol>
<li> Tentang seorang Perempuan yang Mati Tadi Pagi, karya Agus Noor, Koran Tempo, 8 April 2007</li>
<li> Paragraf Terakhir, karya Antoni, Suara Merdeka, 26 November 2006</li>
<li> Sumur Keseribu Tiga, karya AS Laksana, Koran Tempo, 6 Mei 2007</li>
<li> Hikayat Kura-Kura Berejanggut, karya Azhari, Koran Tempo, 4 Maret 2007</li>
<li> Sinai, karya Dewi Ria Utari, Kompas, 17 Juni 2007</li>
<li> La Cage Aux Folles, karya Eka Kurniawan, Koran Tempo, 15 Juli 2007</li>
<li> Bukan Yem, karya Etik Juwita, Jawa Pos, 10 Juni 2007</li>
<li> Betaljemur, karya Gunawan Maryanto, Suara Merdeka, 26 Agustus 2007</li>
<li> Kami Lepas Anak Kami, karya Gus tf Sakai, Suara Merdeka, 29 Januari 2007</li>
<li> Tiurmaida, karya Hasan Al Banna, Kompas, 3 Juni 2007</li>
<li> Saleha di Tengah Badai Salju, karya Ida Ahdiah, Suara Mereka, 20 Agustus 2007</li>
<li> Kupu-Kupu Ibu, karya Ira Komang, Media Indonesia, 26 November 2006</li>
<li> Dua Perempuan, karya Lan Fang, Suara Merdeka, 12 November 2006</li>
<li> Mawar di Kanal Macan, karya M Iksaka Banu, Koran Tempo, 12 Agustus 2007</li>
<li> Sebelum ke Takao, karya Naomi Srikandi, Suara Merdeka, 6 Mei 2007</li>
<li> Seri Perjalanan, karya Nukila Amal, Koran Tempo, 24 Juni 2007</li>
<li> Di Sini Dingin Sekali, karya Puthut EA, Kompas, 26 November 2006</li>
<li> Sepotong Tangan, karya Ratih Kumala, Republika, 5 Agustus 2007</li>
<li> Cinta di Atas Perahu Cadik, karya Seno Gumira Ajidarma, Kompas, 10 Juni 2007</li>
<li> Cahaya Sunyi Ibu, karya Triyanto Triwikromo, Jawa Pos, 21 Oktober 2007.</li>
</ol>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=20&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/03/18/kerikil-kecil-pena-kencana-award/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/roristory-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merefleksi Tubuh dan Aksesoris Joko Pinurbo</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/27/merefleksi-tubuh-dan-aksesoris-joko-pinurbo/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/27/merefleksi-tubuh-dan-aksesoris-joko-pinurbo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 05:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[profil]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Namanya sederhana, Joko, lahir di Sukabumi tahun 1962. Nama yang juga dipakai jutaan anak laki-laki lain di Jawa. Tapi rasanya tidak ada laki-laki lain bernama Joko yang serupa Joko Pinurbo. Di masa kecil ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi karam di perjalanan. Lalu ia mulai menemukan dorongan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Namanya sederhana, Joko, lahir di Sukabumi tahun 1962. Nama yang juga dipakai jutaan anak laki-laki lain di Jawa. Tapi rasanya tidak ada laki-laki lain bernama Joko yang serupa Joko Pinurbo. Di masa kecil ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi karam di perjalanan. Lalu ia mulai menemukan dorongan sastra memukau lewat puisi yang tersempil di antara buku-buku perpustakaan. Hingga muncullah ia dalam rumusan sastra Angkatan 2000, di mana Korrie Layun Rampan menilai puisi Joko memperlihatkan penemuan estetika dari perkembangan aku lirik ke pengucapan epik, dengan penguatan arus kisah dari sifat lirik murni.<span id="more-19"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Proses kreatif dan pencapaian estetika Joko Pinurbo layak dibicarakan sebagai penyair penting yang mungkin bisa diletakkan dalam wacana pasca-Afrizal Malna. Pergeseran dan penemuan estetika oleh Joko Pinurbo bahkan cenderung menjadi suatu ikhtiar untuk keluar dari tradisi puisi lirik dengan menggunakan anasir naratif untuk menyampaikan penghayatan hidup tanpa kehilangan pesonanya sebagai dunia rekaan yang prismatis.  Seperti terhampar pada antologi sajak-sajaknya: <i>Celana</i> (1999), <i>Di Bawah Kibaran Sarung</i> (2001), <i>Pacarkecilku</i> (2002), <i>Telepon Genggam</i> (2003), <i>Kekasihku</i> (2004), <i>Pacar Senja</i> (2005), dan yang terbaru <i>Kepada Cium</i> (2007).</p>
<p>Puisi Joko Pinurbo awalnya pasti menggelitik kita melalui nada humor pada beberapa puisi. Tidak terbayangkan oleh kita sebuah “celana”, “sarung”, dan “tubuh” mampu menelurkan kisah-kisah eksotik dalam bingkai puisi.  Tapi di tengah senyum itu, lebih jauh puisi-puisi Joko Pinurbo memiliki kekuatan pikat pada pembaca untuk mencerna lebih lanjut. Khumor yang tragis dengan intensitas dan konsistensi yang kuat untuk memberi pengaruh besar dalam perpuisian Indonesia.</p>
<p>Ignas Kleden merespon puisi Joko Pinurbo merefleksi tubuh sebagai seismograf kebudayaan, ia merepresentasikan kebudayaan. Joko Pinurbo memang memilih wilayah-wilayah pribadi yang identik dengan aktivitas tubuh seperti mandi, bercukur, becermin, dan mengganti pakaian.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kegiatan-kegiatan sepele laki-laki yang dekat dengan tubuhnya, dan mengeksplorasi kekayaan itu sendiri tanpa perlu repot-repot meluaskannya. Tubuh laki-laki sebagai proyeksi menangkap dunia, menangkap kegenitan masyarakat. Joko Pinurbo memancarkan tubuhnya dengan kengerian, keengganan, penyesalan, sekaligus penghormatan atas dunia yang ia hadapi.</p>
<p>Bisa jadi pula inilah khasanah aforisma spiritual Jawa “Urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir. Temokno Gusti ing tek kliwer lan ing obah mosike uripmu”. Bahwa hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya. Tuhan bisa ditemukan dalam segala hal. Temukanlah Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan.</p>
<p>Legitimasi terhadap Joko Pinurbo menunjukkan bahwa ada pembaharuan dalam tradisi besar puisi lirik dan keinginan untuk menempuh jalan lain yang berbeda dengan yang sudah ditempuh olehSutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna. Ikhtiar untuk menjauh dari lirik dan membangun identitas kepenyairannya.</p>
<p>Menulis adalah memilih. Lihatlah bagaimana Joko Pinurbo memilih celana kecil bersahaja. Bahasanya tanpa pretensi dan tidak banyak bermain pada metafor-metafor ganjil. Kesederhanaan menggarap ulang sebuah kisah yang diketahui semua anak dengan memberi keharuan baru. Hal tersebut ditempuhnya dengan pilihan-pilihan dan keputusan dalam kegelisahan. Kegelisahan itu kemungkinan terkait dengan teknik dan gaya penulisan. Simaklah sebuah puisi <i>Baju Bulan</i></p>
<blockquote><p> Baju Bulan</p>
<p>Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin<br />
baju baru,<br />
tapi tak punya uang. Ibuku entah<br />
di mana sekarang,<br />
sedangkan ayahku hanya bisa<br />
kubayangkan.<br />
bolehkah, bulan, kupinjam bajumu<br />
barang semalam?<br />
Bulan terharu: kok masih ada yang<br />
membutuhkan<br />
bajunya yang kuno di antara<br />
begitu banyak warna-warni<br />
baju buatan.<br />
Bulan mencopot bajunya yang<br />
keperakan,<br />
mengenakannya pada gadis kecil<br />
yang sering ia<br />
lihat menangis di persimpangan jalan.<br />
Bulan sendiri rela telanjang di langit,<br />
atap paling rindang<br />
bagi yang tak berumah dan tak<br />
bisa pulang.</p>
<p>(2003)</p></blockquote>
<p>Joko Pinurbo mengaku (belajar) menyair sudah 20 tahun. Rentang waktu yang panjang dibandingkan karyanya yang tidak terlalu membludak. Dalam tiap kumpulan puisinya, ia hanya memuat tak lebih dari 50 puisi. Bisa menjadi indikasi seleksinya yang ketat terhadap puisi-puisinya yang dari awal telah menjadikan seorang Joko Pinurbo memiliki identitas berbeda dengan penyair lain dalam keunikan dan kekuatan yang mengagumkan.</p>
<p>Potret kepenyairan Joko Pinurbo dapat dibidik dari kumpulan puisi <i>Pacar Senja</i> (2005) terbitan Grasindo. Grasindo telah dikenal dengan pembukuan periode lengkap kepenyairan sastrawan Indonesia yang telah mencapai daya ucapnya, mulai dari karya-karya awal karir kepenyairan hingga karya-karya terbaru, seperti: <i>Asmaradana</i> Gunawan Mohamad, <i>Hujan Bulan Juni</i> Sapardi Djoko Damono, <i>Kalung dari Teman</i> Afrizal Malna, dan penyair-penyair lain.</p>
<p>Nirwan Dewanto, yang saat ini dipercaya bertindak sebagai juru penentu perkembangan sastra Indonesia mutakhir, mengakui tertarik pada puisinyanya yang sederhana, gemar memancing kata, dan akrab dalam realita kesehariaan.</p>
<p>Buku kumpulan pusi terbarunya, <i>Kepada Cium</i> (2007) berisi 33 yang ditulisnya sepanjang tahun 2005-2006, puisi-puisi di dalamnya kembali mengulik peristiwa-peristiwa yang tampak kecil dan sederhana, imajinasinya yang liar dan lembut mengajak kita mengembara, menyelami relung-relung sunyi dalam hubungan manusia dengan dunia di dalam dirinya. Cara berpuisinya yang unik sering membawa kita ke batas yang kabur antara yang getir dan yang jenaka.</p>
<blockquote><p> Kepada Cium</p>
<p>Seperti anak rusa menemukan sarang air<br />
di celah batu karang tersembunyi,<br />
seperti gelandangan kecil menenggak<br />
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,<br />
malam ini aku mau minum di bibirmu.<br />
Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi<br />
yang masih hangat dan murni,<br />
seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri<br />
pada luka lambung yang tak terobati.</p>
<p>(2006)</p></blockquote>
<p>Penampakan realitas yang dibalut dinding keceriaan, dicampur dengan alur sedih-yang tetap kautulis dengan rasa bahagia “berbunyi” dalam puisi-puisinya. Kepolosan dalam menampakkan carut-marut hidup menciptakan sebuah bingkai yang kokoh. Kerinduan seseorang terhadap keluarga, efek masa kecil yang terus terkenang, atau perjuangan kemanusiaan terekam diberbagai kondisi mutakhir.</p>
<blockquote><p>Penyair kecil itu sangat sibuk<br />
merangkai kata<br />
dan dengan berbagai cara menyusunnya<br />
menjadi<br />
sebuah rumah yang akan<br />
dipersembahkan kepada ibunya<br />
“Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah,<br />
Ibu tidur<br />
saja di dalam rumah buatanku.<br />
Aku akan berjaga di teras<br />
semalaman dan semuanya akan<br />
aman-aman saja.</p></blockquote>
<p>Joko Pinurbo menjadi penyair Indonesia kontemporer terkemuka. Penerima anugerah <i>Sih Award</i> 2001 dan pemenang <i>Khatulistiwa Literary Award</i> 2004. Kumpulan sajak Joko Pinurbo telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=19&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/27/merefleksi-tubuh-dan-aksesoris-joko-pinurbo/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/roristory-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Woro-woro: “Jukstapuisi Cinta” Kumpulan Puisi Ihsan Maulana Terbit Gratis</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/18/woro-woro-jukstapuisi-cinta-kumpulan-puisi-ihsan-maulana-terbit-gratis/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/18/woro-woro-jukstapuisi-cinta-kumpulan-puisi-ihsan-maulana-terbit-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 10:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[woro-woro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/18/woro-woro-jukstapuisi-cinta-kumpulan-puisi-ihsan-maulana-terbit-gratis/</guid>
		<description><![CDATA[Memang  bukan seorang penyair yang benar-benar penyair, bukan pula pesohor yang benar-benar tersohor dan tiba-tiba banting setir menulis puisi. Ihsan Maulana adalah jurnalis sekaligus rekan sekantor saya yang cukup berani bahkan enjoy menikmati dirinya diekspos dalam media apapun. Jadilah dia menawarkan  beberapa puisinya yang ditulis semasa ia di bangku kuliah untuk tampil dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Memang  bukan seorang penyair yang benar-benar penyair, bukan pula pesohor yang benar-benar tersohor dan tiba-tiba banting setir menulis puisi. Ihsan Maulana adalah jurnalis sekaligus rekan sekantor saya yang cukup berani bahkan <i>enjoy</i> menikmati dirinya diekspos dalam media apapun. Jadilah dia menawarkan  beberapa puisinya yang ditulis semasa ia di bangku kuliah untuk tampil dalam <a href="http://kedaipuisi.wordpress.com/unduh-gratis">Unduh Gratis</a> di Kedai Puisi ini. Yah, kenapa tidak? Saya menerimanya dengan senang. Saya harap demikian juga pembaca yang nantinya mengunduh kumpulan puisi ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=17&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/02/18/woro-woro-jukstapuisi-cinta-kumpulan-puisi-ihsan-maulana-terbit-gratis/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/roristory-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
