<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:25:51 +0000</lastBuildDate><category>PUISI</category><category>gurat</category><category>Artikel</category><category>Cerpen</category><category>Teater</category><title>AMRIN</title><description>Aku ingin pergi seperti yang lain&#xa;Meskipun disebut maling&#xa;Sekalipun dicerca: &quot;Anjing!!!&quot;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (amrin)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-3745202754146427724</guid><pubDate>Sat, 21 Feb 2009 05:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-16T21:20:54.435+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut 3</title><description>&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumat, 20 Februari 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;caps&gt;S&lt;/caps&gt;ebelum membuka tas kecil, mengambil buku agenda dan pulpan, aku mengambil ponsel. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;No Service&lt;/span&gt;. Demikian tertera di layar ponsel. Angka-angka digital menunjukkan sekarang pukul 07.56 Wib. (Semoga guru-guru bahasa Indonesia-ku senang!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berempat sudah di kapal klotok. Hendak kembali ke Pontianak. Aku dan Hamdan di atap, Eman dan Jaka di bawah. Angin cukup kencang. Muka air beriak tenang. Meski matahari tertutup sesusun mega kelabu, cahayanya masih sanggup membuat bayangan sebotol air minuman mineral ukuran 1500ml tampak memanjang. Demikian pula bayangan Hamdan yang duduk di depanku. Juga penumpang-penumpang lain. Sekelompok pemuda merintangi waktu dengan &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;bermain gaplek. Ada beberapa penumpang yang duduk-duduk sendiri. Melamun menatap kejauhan. Barangkali menyusun rencana-rancana. Beberapa penumpang lain berdiri, berbincang, seraya saksama menatap arah utara.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Muara sungai Sepuk Laut sudah tak terlihat. Kiri-kanan sungai (atau selat?) hijau oleh barisan rapi gerumbul nipah. Sesekali terselip bakau. Angin dari haluan membuat kepalaku dingin. Aku menarik nafas seraya mengusap ubun-ubun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ubun-ubunmu masih lembut, Nak,” kalimat itu terngiang begitu saja dalam sukma. Aku bengong. Dari siapa aku pernah mendengarnya? Kapan? Bagaimana peristiwanya kalimat itu bisa terekam dan sekarang diputar ulang? Untukku-kah? Mmmhhh...aku menggeleng tak mengerti. Kualihkan pikiranku pada sosok khas yang baru datan. Eman meloncat dari haluan. Dengan sarung kamera di pinggang kanannya, ia tempak gagah (atau menggagah-gagahkan diri? Menggagahi diri sendiri?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi ngobrol di bawah, dengan Pak Sekdes,” ujar Eman. Aku manggut. Tadi kulihat Pak Sekdes memang naik ke klotok dan sempat aku memberi tabik hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku teringat tadi malam. Bakda Isya, kami bertiga, zonder Jaka, berangkat ke rumah Pak Ismail. Di antara bincang-bincang, rupanya Pak Ismail memiliki rumah di Pontianak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adek nie tinggal di mane di Pontianak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnye saye nie, kalau di Pontianak, nomaden Pak. Pindah-pindah. Tidok di rumah-rumah kawan. Tapi di Pontianak, secare resmi saye tinggal di tempat Abang saye.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di mane tu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jeruju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab nama gang tempat Abangku berdomisisili. Tiba-tiba raut wajah Pak Kades yang simpatik itu, sumringah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Abangmu yang pakai motor besak tu, ye?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? Aku terkaget-kaget. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kitak yang dari Sanggau tu, kan?” tanyanya lagi dengan nada yang tak memerlukan jawaban. Tiba-tiba Pak Kades memanggil istrinya. Istrinya keluar dari ruang dalam dengan membawa talam berisikan beberapa teh hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau kenal ndak ngan orang nie?” tanya Pak Kades pada istrinya seraya mengarahkan pandangannya padaku. Bu Kades mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat. Tapi tak menemukan sesuatu. Aku membantu dengan menyebut beberapa detail mengenai Abangku, kakak ipar dan si ponakan. Barulah Bu Kades mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami diarahkan Pak Kades ke rumah Sekdes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekitar satu kilo dari sini. Setelah pe-el-en,” ujar seorang pemuda di teras rumah Pak Kades. Kami pun kemudian bergerak ke hulu. Siang saja harus berhati-hati karena kami belum terbiasa dengan jalan gertak, apalagi malam? Jadi kami bergerak tak terlalu cepat. Sembari menyapa penduduk, mohon permisi lewat dan berbagai ungkapan ketimuran lainnya, kami selalu diarahkan ke hulu, pokoknye setelah pe-el-en.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai kami berpapasan dengan dua penduduk. Kami jelaskan sedang menuju rumah Pak Agus, Sekdes Sepuk Laut. Ternyata orang yang kami tanya justru Pak Agus yang kami cari. Sambil jalan ke rumahnya kusampaikan preview maksud kedatangan kami. Pembicaraan dilanjutkan dengan lebih hangat di rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Sekdes Sepuk Laut masih muda. Sama atau malah lebih muda dariku. Energik. Belum menikah. Namun yang pertama dan terutama sekali, Pak Sekdes antusias dengan maksud kedatangan kami. Setelah data-data umum diperoleh (karena kami pra survey), kami undur diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin masih bertiup kencang. Kabut tipis tampak di semua arah. Mungkin akan kemarau. Aku tersentak. Aku juga punya kemarau di hatiku. Aku hentikan menulis. Memikirkan dengan saksama kecamuk diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://draft.blogger.com/post-edit.g?blogID=8576790456713902109&amp;amp;postID=3745202754146427724#&quot; title=&quot;Back to top&quot;&gt;kembali ke atas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut-3.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-9189106264605451992</guid><pubDate>Sat, 21 Feb 2009 05:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-16T21:22:19.515+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut 2</title><description>Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“&lt;caps&gt;W&lt;/caps&gt;ah, maaf...jika kami mengganggu urusan negara,” ujarku saat di depan pintu rumah Pak Ismail. Seseorang dengan wajah yang menyiratkan kerasnya hati, tampak serius berbincang dengan Pak Kades. Di atas meja tampak beberapa berkas. Dari informasi warga, kami baru tahu ternyata Pak Kades sesungguhnya juga baru datang dari Pontianak, menumpang klotok yang sama dengan kami. Seingatku, orang berwajah keras itu pun teman seperjalanan. Aku mengingatnya, bukan cuma dikarenakan wajahnya yang keras tegas, tapi juga karena ia mengenakan jaket yang kurang lebih sama denganku. Juga sama mengenakan pin keemasan. Jika, aku memakai pin Burung Garuda Pancasila demi menghormati salah seorang Putra Terbaik Kalbar -- Sultan Hamid II yang merancang Lambang Negara, &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;namun kemudian terdepak oleh konstelasi politik pusat --maka aku tak dapat melihat dengan jelas pin yang ia kenakan. Entah kenapa, saat kami bertiga masuk, pin itu pun tampak seolah ditutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Setelah berbasa-basi, kami mengutarakan maksud kedatangan. Singkat cerita, orang nomor satu di Sepuk Laut menyambut baik kedatangan dan maksud kami. Mengingat target realistis yang hanya silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda isya malam nanti, maka kami pun segera mohon diri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tak lama, beberapa informasi penting kami dapatkan. Misalnya, sebuah PTS di Pontianak telah mengirim surat pada Camat dan memerlukan data penduduk dari setiap desa. Belum jelas apakah programnya akan sama dengan kami. Nanti kami akan gali informasi lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari rumah Pak Ismail, kami kembali ke arah Pospol/Kamla. Sebelum pasar, kami tercenung melihat sebuah poster caleg. Orang berwajah keras yang kami temui tadi, ternyata caleg dari sebuah partai baru. Partai yang lumayan banyak memasang umbul-umbul di sepanjan jalan. Sebelum sampai pasar (tempat kami singgah pertama kali), kami sempat ambil pict di plang nama kantor desa. Sampai tikungan gertak, di mana terdapat bangunan Pospol/Kamla dan bangunan Babinsa, kami bertemu sesorang yang saat di klotok tadi kami ketahui merupakan kawan lama Jaka. Akhirnya, dengan diantar orang itu, kami menuju rumah keluarga Jaka, yang kemudian kami ketahui dipanggil dengan nama Mak Long.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat suasana mulai gelap, aku mandi dengan meminjam kain basahan keluarga Jaka. Setelah aku, Jaka dan Eman mandi bareng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Man, tustel di mane kau taro’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam tas, Bang-e...” jawab Eman sambil mulai mengguyur badannya dengan air sungai. Byurrrr....Ya, sebelumnya pun aku juga mandi dengan menggunakan gayung. Ingin berenang, air sungai sedang cetek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh Abang ambil, ndak, Man?”&lt;br /&gt;
“Sile, Bang-e...”&lt;br /&gt;
Byurrrr....&lt;br /&gt;
“Ade ndak barang-barang haram di tas kau nie, Man?”&lt;br /&gt;
“Tadaklah, Bang-e’”&lt;br /&gt;
Byurrrr...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajak Jaka mengambil tustel Ben-Q, yang sesungguhnya merupakan pinjaman dari Pak Hendra, salah satu dosen di kampus. Meski keheranan, Jaka ikut juga dengan kerjaku. Setelah menekan tombol on pada tustel, belalai fokus tustel membuka diri. Kubisikkan sesuatu pada Jaka. Jaka mengangguk penuh semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cammane nyetel kalau nak ngambek gambar malam, Man?” tanyaku serius sambil mendekati tekape. Mereka berdua pun serius mandi. Belum mengendus rencana muliaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eman menjelaskan prosedur. &lt;br /&gt;
Byurrr....&lt;br /&gt;
Aku mendekat....&lt;br /&gt;
Byurrr...&lt;br /&gt;
Lebih dekat....&lt;br /&gt;
Byurrrrr....&lt;br /&gt;
dekat.....&lt;br /&gt;
Byurrrr....&lt;br /&gt;
dan....&lt;br /&gt;
Klik!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kilatan blitz bagai petir membungkam kesadaran mereka. Mereka gaduh. Minta pict dihapus. Tapi...setelah kuambil beberapa pict lagi, mereka mulai terbiasa. Lantas kujelaskan rencana muliaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beginek Man, juga’ kau Ndan. Abang punye niat mulie. Abang benar-benar mengharapkan kitek beduak maok memenohinye. Abang ndak banyak pintak dengan kitak kan selamak nie, kan? Jadi, semoge, hati kitak beduak tegerak memenohi niat mulie Abang. Cammane? Tulonglah....same siape lagik Abang mengharapkan bantuan. Ndak mungken same Pak Mude Obama. Sebab, Pak Mude tu sedang sibuk biken ladang di tanah Palestin,” ujarku dengan muka memelas, seolah orang yang telah tiga hari berturut tak makan di restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mengangguk. Lembut. Menenangakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makaseh yang sebesak-besaknye Abang sampaikan buwat kitak beduak yang telah tesentoh hatinye membela orang-orang yang memerlukan bantuan. Orang-orang semacam kitak nielah yang harosnye jadi pemimpin bangse Borneo. Bukan macam pemimpin-pemimpin yang ade selamak nie, yang mengidap saket parah, yakni suke lupa ingatan. Mereke-mereke tu baru ingat ngan rakyetnye setiap limak taon sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betol, Bang,” sambut Eman dengan memposisikan gagang gayung sebagai microphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan ketahuilah wahai anak-anak mude, calon penerus pemimpin bangse besar Borneo, adepun niat mulie Abang adalah.... nantik, kalau dah sampai di Pontianak, poto kitak beduak nie akan Abang cetak besak-besak. Kalau perlu sebesak baliho caleg kaye raye. Akan kite tarok di gedong UKM. Dengan tulesan besak di bawah gambar kitak: DUA PENGANTIN BARU SEDANG MANDI WAJIB...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://draft.blogger.com/post-edit.g?blogID=8576790456713902109&amp;amp;postID=9189106264605451992#&quot; title=&quot;Back to top&quot;&gt;kembali ke atas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut-2.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-7986151039520575662</guid><pubDate>Fri, 20 Feb 2009 13:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-16T22:09:05.498+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kamis, 19.02.09&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Steigher Sungai Kakap. Aku, Eman, Hamdan dan Jaka sudah berada di dalam kapal klotok. Beberapa penumpang, termasuk Jaka, tampak lelap.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jam tiga kurang dua puluh menit,” jawab Eman, saat kutanyakan waktu. Eman tersenyum, membanggakan jam tangannya, sekaligus memamerkan senyumnya yang menawan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hamdan langsung menanggapi. Dulu, &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;ketika masih SMA, ia dan kawan-kawan sekelasnya menjawab: “jam sepuluh kurang delapan menit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; “Berarti min dua!” kata guru bahasa Indonesia mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Semilir angin menerobos lewat pintu dan jendela kapal klotok dengan leluasa. Menyegarkan. Soalnya, matahari awal kemarau, di luar sana, sedang melotot tajam. Setelah memperhatikan penumpang yang berjumlah sekitar duapuluhan, kuarahkan pandangan ke luar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Sebuah kapal klotok, berukuran sedikit lebih kecil, dengan kap bercat hijau daun, yang berada di samping klotok ini, bergoyang pelan. Air sungai kecoklatan, yang membawa lumpur dan jasad renik, berombak kecil. Beberapa klotok lain, bersandar di steigher seberang. Rumah-rumah, beratap daun, seng, terdiam seperti menunggu nasib. Pohon-pohon pisang, kelapa, menari-nari…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Grmhhhh…!!!.. Grmhhhh…!!!.. Grmhhhhhhhh…!!!..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Aku dan Hamdan terperanjat. Kami yang sedang ngobrol tentang kemungkinan Latihan Alam KSJL dan Diksar KSR, terpaksa memutus pembicaraan. Kemudian mengurut dada. Menoleh ke sekeliling. Kemudian saling pandang. Lantas sama-sama tersenyum. Soalnya, dari semua penumpang kapal, hanya kami berdua yang terkaget-kaget saat engine klotok dihidupkan secara otomat oleh driver di balik kemudi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Saat kapal hendak bertolak, kami mencari-cari sosok Eman. Tadi ia kami sarankan mengambil pict dari arah steigher. Dengan pict-pict tersebut, kami berharap akan memudahkan pelaporan tentang perjalanan survey pada Panitia Bina Desa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Hamdan menduga Eman berada di atas atap klotok. Aku menduga lain, jangan-jangan Eman telah menjadi bahan bakar engine. Kami bergerak ke atas atap klotok. Benar dugaan Hamdan. Bak fotografer National Geographic, Eman membidikkan kamera digital Ben-Q kemana-mana. Terbersit dalam benakku, jangan-jangan bukan mengambil pict untuk laporan tapi justru mengambil pict gadis-gadis yang banyak berdiri di steigher. Kita buktikan nanti!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Setelah sempat merunduk tatkala klotok melewati jembatan Kakap, sesi foto-foto dilanjutkan. Sekali ini, kami yang memang tidak berbakat jadi foto model berusaha tampil dengan eksyen terbaik. Tentu dengan style berbeda. Tentu dengan tujuan berbeda. Jika Hamdan terus terang mengatakan foto-foto ini nantinya akan ia masukkan ke FS-nya, maka aku berencana untuk Blog-ku. Eman? Entahlah. Mungkin untuk dibawanya ke dukun supaya mendapatkan ajian pengasihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Klotok yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Sungai Kakap. Membelah muara. Melewati beberapa Ambai dan Rompong yang sunyi, melukiskan perjuangan manusia mengatasi hidup. Pada awak kapal yang masih belia, Husin, kutanyakan tentang cara kerja masing-masing alat penangkap ikan tersebut. Saat menjelaskan Ambai, yang terbayang olehku saat jaring diangkat, bukanlah udang-udang segar, melainkan Eman yang sedang mengenakan celana boxer bajakan. Juga saat menjelaskan Rompong, bukan udang atau ikan yang berenang diarahkan susunan pagar, lagi-lagi Eman yang tergambar dalam benakku sedang berenang memakai google, memamerkan senyum khasnya yang menawan seraya melambaikan tangan, mengisyaratkan tanda minta di foto. (Duh, maafkan aku, Eman, atas bayangan-bayangan “indah” ini…)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Masih di Kamis, 19.02.09.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Aku, Eman dan Hamdan sedang duduk di ruang tamu rumah Mak Long-nya Jaka. Jaka, dalam perjalan ini menjadi guide bagi kami. Sekarang ia sedang temu kangen dengan sanak keluarganya di rumah-rumah sekitar sini. Ada empat gelas kopi. Ada rokok mild BI. Ada perasaan masih berada di kapal klotok. Terasa masih ada angin kencang menampar-nampar muka. Deru mesin masih terngiang di membran telinga. Demikian pula dengan getaran mesin dan ayunan badan klotok serasa masih membuntuti indera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Sampai juga ke Sepuk Laut, pikirku. Beberapa pekan lalu, saat berbincang dengan Bang Harizan di kantin Wapres Taman Budaya, kami sempat membicarakan perkara asal-usul nama sebuah daerah. Termasuk membicarakan nama Sepuk Laut. Dari dulu aku sudah mendengar nama ini. Kuat sangkaanku, kata “Sepok” identik dengan pemahaman tentang fenomena manusia yang baru tahu tentang sesuatu. Saat berbincang dengan Bang Harizan, baru aku tahu, aku salah. Kata “Sepok” merujuk pada pengertian kondisi tanah yang khas pada daerah pesisir. Aku juga baru tahu, saat tadi melewati kantor desa, penulisan nama desa bukan menggunakan huruf “O”, tetapi “U”, sehingga yang benar adalah “Sepuk Laut”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Sambil membicarakan tentang kesan-kesan pertama saat tiba di sini, aku teruskan menulis. (Tapi, aouw…! Kopi dalam gelasku sudah habis!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Tadi, kapal klotok memasuki muara Sungai Sepok Laut, ketika formasi jarum di jam tangan Eman menunjuk angka pukul lima kurang belasan menit. (Duh, maafkan aku guru-guru bahasa Indonesia-ku…). Hal pertama yang menarik minatku adalah kesan muaranya yang seolah menyembunyikan sesuatu energi besar. Malamnya aku baru tahu, menurut penuturan Pak Agustiansyah, Sekdes, Desa Sepok Laut memang pernah di teliti oleh sebuah perguruan tinggi dari Jawa (sana) untuk mengetahui kandungan gas bumi. Sepok Laut, diam-diam menyimpan potensi gas metana yang luar biasa. Hal kedua adalah bangunan Pekong yang tepat terletak di muara. Seolah menjadi benteng sekaligus bangunan yang simpatik mengucapkan kalimat “Selamat Datang”.  Berarti di sini banyak orang Tionghoa, pikirku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dugaanku tak terlalu salah. Setelah melewati bangunan Kamla, klotok merapat pada sebuah bangunan yang kuduga merupakan tempat bongkar muat kapal-kapal nelayan. Jaka, mengisyaratkan untuk naik. Eman sibuk foto-foto.  Kalau tak diingatkan, mungkin ia akan terus saja jepret sana jepret sini. Kami, bersama beberapa penumpang lain, melompat dari atap klotok ke atap kapal nelayan. Setelah melewati tiga kapal nelayan, kami bak pemanjat dinding profesional, naik menuju bagian panggung tempat bongkar muat ikan. Maklum, memang tidak ada tangga. Apalagi kondisi sungai sedang pasang surut. Dengan nafas yang lumayan terengah (maklum jarang olah raga) kami beradaptasi dengan daratan. Eman sesekali tampak oleng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kapal klotok, yang didalamnya masih banyak penumpang, meneruskan perjalanan ke bagian hulu sungai. Kami bergerak menuju bangunan Pospol dan Kamla. Melapor diri dan maksud kedatangan. Kemudian, sementara Jaka menuju rumah keluarganya, kami mencari warkop untuk sekadar re-charge. Eman dan Hamdan yang memang bukan “kaki” warkop minum haus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; “Dari kelas tige esde, warkop memang dah jadi kantor Abang,” jelasku pada Hamdan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; “Kalau Abang kite nie, Ndan, kopi pancong pon bise tahan duak tige jam,” imbuh Eman bak para pakar yang sering berdebat di televisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Mengingat waktu, kami bertiga memutuskan pergi ke rumah Kades. Maksudnya hanya melapor diri, silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda Isya malam nanti. Rumah Pak Kades mudah di temukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; “Setelah jembatan, ada toko bangunan. Nah, setelah itulah rumah Pak Ismail,” terang seorang bapak-bapak. “Ingat, ya, rumah Pak Ismail sebalah kanan,” lanjut bapak-bapak itu lagi. Entah kenapa bapak-bapak itu harus memberikan tambahan penjelasan. Padahal telah di ulangnya berkali-kali. Mungkin niat baiknya agar kami tidak lupa. Tapi aku curiga, beliau terpaksa menjelaskan ulang lantaran melihat Eman yang masih kebingungan mana timur mana barat, mana utara mana selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Jalan di Sepok Laut rupanya rupanya didominasi gertak (jembatan kayu). Kami bertiga berjalan dengan hati-hati. Pada banyak bagian kondisi gertak memang bagus. Bahkan bisa digunakan sebagai panggung dangdutan Kak Oma. Tapi banyak juga bagian gertak yang memperihatinkan. Harus dilewati dengan hati-hati jika tidak ingin tercebur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Aku sependapat dengan ungkapan Pak Sekdes, Agustiansyah, saat kami bertamu malam harinya: “Sepok Laut selama ini di anak tirikan.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-6400399669646193017</guid><pubDate>Tue, 17 Feb 2009 13:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-16T22:11:10.566+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>SETELAH  LDKK</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Harusnya aku sudah pulang ke rumah Aba. Apalagi acara penutupan Latihan Dasar Kepemimpinan dan Keteateran (LDKK)Komunitas Seni Jalan Lain (KSJL)STKIP-PGRI Pontianak, telah berlangsung pukul sepuluh tadi pagi. Namun rasanya, saat ini, LDKK masih berlangsung. Sehingga tadi, beberapa menit lalu, aku kaget sendiri saat melihat angka digital pada kiri bawah monitor Samsung tertera 8:30 PM, aku terbayang kawan-kawan sudah mulai dengan materi baru.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Materi apa sekarang?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Siapa pematerinya?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Sudah dikonfirmasi belum, ya?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Apakah ada yang sakit?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku hendak &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;bangkit dari kursi warnet BNP ini. Bersiap ke kampus. Mudah-mudahan ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantu kawan-kawan. Tapi...dalam sekian detik aku tersadar. LDKK sudah usai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Banyak hal yang ingin kutulis berkenaan dengan pelaksanaan LDKK KSJL kali ini. Namun, benakku bagai &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;hall&lt;/span&gt; sebuah lantai diskotik yang penuh cahaya. Aku tak tahu harus menceritakan warna apa yang paling menarik. Semuanya menakjubkan. Person yang semula dikira akan takluk di medan Pelurusan Motivasi, justru tegar. Person yang sepertinya tangguh, ternyata sedemikian ringkih sehingga tetap memerlukan pendampingan. Ada yang takjub tak percaya bisa menuntaskan semua agenda LDKK. Ada yang tertunduk lesu. Ada yang tegar menerima kenyataan dan bertekad mengulang di LDKK selanjutnya. Dlsb...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Ketika menyaksikan semua momen itu, aku teringat dengan pembicaraan sederhana di kantin lama kampus (sekarang telah menjadi gedung megah) bersama beberapa kawan. Ada Eko Amriyono, yang sekarang menekuni bisnis rental, warnet dan PS. Ada Asep, anak breakdance, yang sekarang &quot;maen gila&quot; dengan kameranya sambil menunggu SK penempatan sebagai PNS di KKR. Ada &quot;Si Emak&quot;, Yeye Prihatini, yang sekarang mengajar di kampung halamannya di Mempawah sana. Ada Topik &quot;Bubuk&quot;, aktivitis tulen yang kerap kami sebut sebagai Presiden Siantan. Juga ada Edi Setiawan, si &quot;Multi Aktivis&quot;, yang selalu meng-upgrade diri setiap penerimaan mahasiswa baru. Dari semua nama-nama itu, yang hadir saat LDKK, hanya aku, Eko dan Asep.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &quot;Dari sebanyak-banyak ini mahasiswa kita, kenapa tidak ada sanggar seni?&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &quot;Tidak ada yang memulainya&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &quot;Sudah pernah, tapi kemudian dimatikan&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kami pun kemudian mulai menyusun langkah-langkah prosedural. Tanya sana-sini. Bikin Naskah Usulan Kegiatan. Bikin proposal pembentukan. Kemudian menunggu proses. Menunggu proses. Terus menunggu proses. Tapi...semua itikad itu di-&quot;peti-es&quot;-kan. Akhirnya semua bersepakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/setelah-ldkk.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-4882583599291612721</guid><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 19:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:34:22.537+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>DICARI: NEGARA DAN PEMERINTAH</title><description>Oleh: Amrin Zuraidi Rawnsyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Para Pendiri Bangsa (Founding Fathers)  yang  visioner telah mengamanatkan bahwa salah satu tujuan  berdirinya republik ini adalah &quot;memajukan kesejahteraan umum&quot; bagi seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. Hal ini sejalan dengan pandangan banyak Teori Negara bahwasanya kesejahteraan bagi rakyat merupakan prioritas utama adanya suatu negara.&lt;br /&gt;      Namun dalam konteks kekinian dan ke-Indonesia-an, tanpa perlu menjulurkan kepala tinggi-tinggi untuk melihat tempat yang jauh-jauh (jika dikaitkan dengan Evolusi-nya Darwin, bisa-bisa akan jadi jerapah(?)), cukup dengan melihat sekeliling, kita akan mengetahui betapa cita-cita mulia Indonesia ber-negara menjadi semacam &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;utopia belaka. Lihat saja fasilitas publik, jalan misalnya, banyak lubang yang jika diperbaiki pun polanya tambal sulam. Seorang rekan penulis yang merupakan penulis di negeri jiran pernah dengan nada membanyol memberikan komentar. Katanya, ia bisa membedakan apakah masih berada di negaranya ataukah sudah masuk wilayah Indon saat berada di dalam bus. Jika saya tertidur, katanya, ia masih di negaranya. Namun ia segera tahu bahwa dirinya sudah masuk negara yang konon gemah ripah loh jinawi ini jika dirinya terbangun oleh ban bus yang terantuk lobang. Duh, betapa marwah sebagai anak bangsa tersayat oleh joke yang sungguh-sungguh nyata itu. Dengan senyum yang tak sempurna, penulis tinggal berkomentar: &quot;Rights or Wrongs, it is My Country!&quot;      Untunglah (untung terus!) si sahabat dari jiran itu belum mengunjungi wilayah lain di propinsi yang pernah mengenyam status Daerah Istimewa ini, yang akses jalannya jauh lebih &quot;indah&quot;. Misalnya di perhuluan Kapuas ataupun perhuluan Ketapang. Penulis yang dalam beberapa tahun terakhir, untuk urusan keluarga, sering berkunjung ke wilayah perhuluan Ketapang, merasakan betapa &quot;dahsyatnya&quot; layanan republik ini kepada warga negaranya dalam aspek infrastruktur jalan. Terutama ruas Siduk-Sungai Kelik yang notabene merupakan jalan propinsi. Medannya, barangkali, sangat dicintai para off roader sejati. Aspal yang terkelupas, berbatu, tanah liat, berlubang dan sebagainya.&lt;br /&gt;      Musim kemarau, laju kendara mengakibatkan jalanan berdebu. Daun-daun pohon yang pada beberapa bagian masih menjulang, berubah menjadi daun-daun tambaga. Sedangkan dimusim penghujan, lubang-lubang jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang siap &quot;menelan&quot; pengendara yang tak mahir dan kurang awas. Kondisi ini bagi sebagian masyarakat merupakan ladang rezeki. Misalnya jasa pencucian motor dan mobil yang tumbuh bagai jamur dimusim penghujan di daerah Siduk dan sekitarnya. Bagi sebagian masyarakat yang lain, memperbaiki jalan yang hancur berantakan dapat dijdikan lahan bisnis. Caranya, masyarakat bergotong royong membuat jembatan atau membuatkan jalan alternatif, lantas bagi pengendara akan dikenakan tarif tertentu jika ingin lewat. Hal ini lazim disebut meting atau meteng. Sepeda motor yang melewati meting  dikenakan tarif seribu rupiah. Mobil biasanya lima atau sepuluh ribu rupiah. Sedangkan truk bermuatan dikenakan tarif yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;      Bagi sebagian pengguna jalan, hal ini dianggap lumrah. Karena perbaikan jalan membutuhkan modal tenaga, waktu dan biaya, jadi wajar jika orang-orang yang memperbaiki jalan memungut bayaran. Namun, bagi sebagian yang lain, kondisi ini adalah &quot;hil yang mustahal&quot; terjadi di sebuah negara yang konon berdasarkan Pancasila dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan di dalamnya. Sebagian pengguna jalan yang lain mencoba arif. Wajar tidaknya suatu meting bersifat kasuistik. Jika kondisi jalan benar-benar hancur berantakan dan dibuatkan jalan alternatif, maka wajar para pembuatnya mendapat reward. &quot;Anggap saja jalan tol,&quot; ujar seorang kawan. Ketika disusul dengan pertanyaan tentang perizinan dan transparansi pungutan, kawan tersebut berkomentar: &quot;Di negara yang serba maklum ini, ya, maklum-maklum sajalah.&quot;&lt;br /&gt;      Namun kasusnya berbeda jika perbaikan itu dilakukan pada badan jalan yang sudah dibangun pemerintah. Logikanya, kerusakan jalan tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini propinsi dan pusat. Jika pun ada perbaikan oleh masyarakat, maka dalam perspektif nilai-nilai ketimuran, agama dan PPKn yang diajarkan di sekolah-sekolah, maka perbaikan itu merupakan kegiatan gotong royong demi kepentingan bersama. Jika sudah begini keadaanya, dalam hati kita akan bertanya: Di mana nilai-nilai ketimuran yang diagung-agungkan itu? Di mana nilai-nilai agama yang disemai para pemuka agama? Di mana nilai-nilai PPKn yang konon merupakan mata pelajaran wajib  di setiap jalur, jenjang dan tingkat pendidikan di tanah air kita?&lt;br /&gt;      Penulis sepakat bahwa persoalan infrastruktur jalan dan mental meting merupakan sesuatu yang bersifat kompleks. Mulai dari sistem kenegaraan dan pemerintahan, supermasi hukum, otonomi daerah yang setengah hati, tatanan masyarakat yang berubah seiring gerak dinamis peradaban mundial, sampai pada persoalan teknis lapangan misalnya dugaan korupsi setiap pengerjan proyek dan over dosis-nya muatan kendaraan.&lt;br /&gt;      Hanya saja, sebagai warga sah dari sebuah negara bernama Indonesia, yang menurut sejarawan Muhammad Yamin, merupakan proyek besar Nusantara III (setelah Sriwijaya dan Majapahit), kita akan mengajukan banyak pertanyaan: &quot;Di mana sih sesuatu bernama negara dan pemerintah itu ketika warganya terjebak kubangan lumpur?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siduk-Sandai, Medio Desember 2007&lt;br /&gt;Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/dicari-negara-dan-pemerintah.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-5161029978883798827</guid><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 19:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:27:13.864+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>Resensi Novel &quot;Gak Tau Neeh...!&quot;, Karya Isma Resti Pratiwi</title><description>Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia perbukuan di Kalbar, khususnya Pontianak semakin marak. Kemunculan buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit independen dalam beberapa tahun terakhir, layak untuk diapresiasi. Demikian pula denganconten -nya (rata-rata karya sastra), serta penulis-penulisnya yang jelas-jelas made in West Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja harapan kita semua bahwa perkembangan positif ini tidak menjadi fenomena sesaat belaka. Karena sebagaimana dibuktikan oleh sejarah, masyarakat yang maju adalah &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;masyarakat yang menghargai seni budaya, baik karya maupun pelakunya. Dengan demikian, bila kita menginginkan terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang maju, hendaknya kita mulai belajar merawat dan mengembangkan &quot;pertanda-pertanda&quot; kemajuan yang telah ada, termasuk perkembangan dunia buku di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua buku yang diterbitkan penerbit-penerbit independen memiliki kekuatan khas. Salah satunya adalah buku &quot;Ga&#39; Tau Neeh...!!!&quot; (GTN). Novel setebal 190 halaman (9x18cm) ini diterbitkan Kitara Creativision yang bermarkas di Jl. Tabrani Ahmad, Gg. Setara 1, Pontianak. Catatan istimewa pertama adalah bahwa penulis GTN ini masih duduk di kelas VIII, Madrasah Tsanawiyah 1 Pontianak. Ketika larut pada lembar-lembar pertama, yang mengisahkan &quot;kerja bakti&quot; pada suatu pagi di sebuah kelas, kita akan terperanjat. Bukan pada istilah kerja bakti itu sendiri yang berarti nyontek bareng, melainkan karena kelas yang dideskripsikan dengan &quot;sedemikian cantik&quot; adalah sebuah kelas XII sekolah menengah atas. Sampai di sini saja kita sudah acungkan dua jempol. Jempol pertama untuk kemampuan deskripsi yang &quot;cantik&quot;. Sedangkan jempol kedua untuk kemampuan observasi &quot;fisik-batiniah&quot; penulis. Maksudnya, penulis mampu menangkap dan menerjemahkan situasi SMA, sedangkan si penulisnya itu sendiri masih SMP. Kemampuan ini jelas merupakan aset berharga Isma selaku penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, perwatakan tokoh-tokohnya sangat hidup. Avel yang menjadi tokoh utama, bener-bener ngegemesin. Cakep, cuek, rada ceriwis dan sukses ditampilkan sebagai Ratu Kelas. Para &quot;figuran&quot; pun tampil dengan keunikan masing-masing. Ada Abe yang baik hati, ada Nicko yang playboy, ada Ndut yang suka makan, ada yang bolot, yang suka ngegosip, ada yang sok seleb, dan lain-lain. Mereka-mereka ini kawan sekolahnya Avel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan para guru dilukiskan dengan &quot;kacamata&quot; yang pure sudut pandang siswa. Ini menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Gelar-gelar khusus kepada guru-guru tertentu yang diberikan siswa, seperti dalam novel GTN, hendaknya dilihat dengan frame tepat. Ini bukan hanya terjadi dalam cerita fiksi, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Gelar-gelar itu bukan bermaksud menghina atau merendahkan martabat pribadi dan profesionalisme sang guru, melainkan suatu bentuk komunikasi sosial komunal antar siswa. Komunikasi komunal ini tidak hanya terbatas dipahami sebagai &quot;saluran&quot; uneg-uneg belaka, tetapi juga mengindiksikan terdapatnya barrier atau penghalang antara siswa dan guru. Artinya, siswa sebagai pebelajar (meskipun kurikulum katanya berganti!) tetap diposisikan sebagai objek belaka. Feedback dari si pebelajar semata berupa nilai-nilai kuantitatif hasil pe-er, ulangan, ujian dlsb. Pebelajar tidak mendapat hak belajar sesuai keinginan dan porsi intelektualismenya. Hal ini disebabkan sistem pendidikan dirancang dan dilaksanakan dengan keyakinan bahwa hal yang sedemikian itulah yang &quot;baik dan benar&quot; untuk siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang tersebut analog dengan istilah &quot;Mata Elang&quot;-nya Muhammad Yunus, peraih nobel dari Bangladesh, dalam melukiskan cara kerja ekonom dunia tentang program terbaik bagaimana mengatasi kemiskinan di negara-negara dunia ketiga. Para ekonom dunia ini, menurut M. Yunus, ibarat elang yang berputar-putar di angkasa mencermati hamparan kemiskinan. Lantas, setelah mengamati dari angkasa, ekonom-ekonom ber-&quot;mata elang&quot; ini kemudian menyusun serangkaian program pengentasan kemiskinan. Selanjutnya, bagai peri turun dari kayangan, ekonom-ekonom itu memercikkan program-programnya di wilayah kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja hidup ini semudah sulap yang ditawarkan &quot;peri-peri ekonom ber-mata elang&quot;, tentu kantong-kantong kemiskinan di seluruh penjuru bumi gampang dientaskan. Ternyata, program-program dari &quot;angkasa&quot; itu tak mampu mengatasi masalah. M. Yunus kemudian merombak cara pandangnya dengan pendekatan &quot;mata cacing&quot;. Artinya, sebagai ekonom yang belajar di pusat-pusat peradaban dunia, ia harus mencampakkan &quot;mata elangnya&quot; dengan terjun langsung di kantong-kantong kemiskinan. Program-programnya menjadi nyata karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, penceritaan Isma dalam GTN dengan berani mengabarkan pada dunia tentang kesombongan orang-orang yang menyebut diri sebagai pakar pendidikan. Ternyata postulat-postulat paedagogik-nya tak ubahnya &quot;mata elang&quot;. Mudah-mudahan, para pakar pendidikan yang sedang mengangkasa itu, mau menyempatkan diri singgah di sebatang pohon dan membaca GTN. (Yuk, doa bareng-bareng...!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun GTN sebagai sebuah cerita, terdapat di dalamnya sejumlah perkara kecil yang menurut hemat saya, patut disayangkan. Misalnya pada teknik solusi dan resolusi yang pada beberapa bagian melemahkan bangunan cerita yang sebelumnya sudah disusun kuat. Misalnya pada bagian Pak Beo yang akan memberikan hukuman pada hari Jumat. Motif tiap pelaku logis. Deskripsi sangat apik membangun konflik. Suspens-nya keren. Sayangnya, ketika sampai di titik menentukan, Pak Beo-nya tiba-tiba saja membatalkan hukumannya dengan alasan moodnya lagi hepi. Tanpa maksud men-justifikasi, penyelesaian seperti ini terkesan terlalu digampang-gampangkan. Sayang sekali, bukan? Padahal dengan nafas batin dan nafas imajinya, seandainya Isma mau meluangkan sedikit waktu untuk menangani perkara remeh ini, kita percaya bahwa GTN akan semakin &quot;berwibawa&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, GTN tetap menggigit dengan plot &quot;besar&quot;-nya yang memelihara keingintahuan pembaca untuk terus melahap baris demi baris, alinea demi alinea, bab demi bab sampai selesai. Untuk pelajar, GTN jelas gue banget!. Untuk ortu, guru (plus calon guru), GTN sangat informatif sebagai sarana membaca ulang hubungan mileau pendidikan. Untuk pakar pendidikan: &quot;Sudikah sekiranya Paduka berhenti sejanak mengangkasa?&quot;. Untuk masyarakat umum, Pontianak dan Kalbar, GTN dan penulisnya jelas merupakan aset dalam menyongsong Generasi Emas Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kepada mereka-mereka yang sudah memiliki dan membaca GTN, mudah-mudahan ada pihak yang mau mengadakan bedah buku. Sehingga kita bisa saling tukar pikiran. Sedangkan kepada yang belum memiliki dan membaca Ga&#39; Tau Neeh...!, apakah ga&#39; nyesel neeh...?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Perubahan Menuju Kebaikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2009/02/resensi-novel-gak-tau-neeh-karya-isma.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-4556208984755347910</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-07T13:05:13.387+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>PILKADA DAN KEBENARAN YANG GAMANG</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr55V1bm7WqyQs89yP0OO3tfdnEA0NqDSpwg7tF3vyw8_DC1Xw-2fIZHs1nw5PU_Etd5VBMDzSK9K7R-qT1IQH3gEpUkOa0Hs7CHmMfLxvbfbSMAG14jL6VMUCZoq-IBquLac6oVGDYUA/s1600-h/pilkada1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr55V1bm7WqyQs89yP0OO3tfdnEA0NqDSpwg7tF3vyw8_DC1Xw-2fIZHs1nw5PU_Etd5VBMDzSK9K7R-qT1IQH3gEpUkOa0Hs7CHmMfLxvbfbSMAG14jL6VMUCZoq-IBquLac6oVGDYUA/s200/pilkada1.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5288374002321634962&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amrin ZR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.animated-gifs.eu&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.animated-gifs.eu/alphabet-pj-pills/0004.gif&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;alam upaya mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat, pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Demikian pula halnya dengan masyarakat Kalimantan Barat, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung dalam tahun 2007 ini, merupakan peristiwa bersejarah untuk menentukan siapakah sesungguhnya pemimpin yang akan membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang detik-detik yang sangat menentukan tersebut, konstelasi politik mulai menghangat. Isu-isu politik secara perlahan mengisi ranah komunikasi lisan. Mulai dari pembicaraan bisik-bisik kamar tidur, obrolan hangat ruang tamu, teras, warung kopi, demonstrasi dan lain-lain, sampai pada debat argumen canggih dalam ruang-ruang seminar. Dalam ranah komunikasi tulisan, pesan-pesan politik secara terselubung maupun blak-blakan ditanam, mulai dari SMS, kartu nama, kalender, pojok koran, spanduk dan lain-lain sampai pada baliho-baliho di pingir-pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama pendidikan politik, gambaran di atas dapat disebut sebagai upaya sang tokoh yang didampingi sekelompok think tank untuk merebut hati para konstituen. Terkadang, isu yang dipakai bersifat tunggal, yaitu semata puja-puji terhadap kehebatan sang tokoh atau sebaliknya hanya menyerang tokoh-tokoh kompetitor yang lain. Di kadang yang lain, isu yang digunakan adalah racikan yang menggabungkan antara unsur puja-puji yang tak peduli dianggap narsis dan sekaligus serangan terhadap kompetitor. Aspek lainnya adalah subyek, suatu ketika sang tokoh itu sendiri yang menjadi pelaku, di ketika yang lain sang tokoh “meminjam” mulut orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa waktu terakhir, isu yang berkembang adalah dugaan korupsi yang disematkan pada tokoh-tokoh kontestan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Pemuda dan mahasiswa bersikap, mulai dari gerakan soft yang hanya menuntut para aparatur hukum untuk tidak impoten dalam mengusut kasus dugaan korupsi “orang-orang kuat” tersebut, sampai pada gerakan hard yang dengan lantang berteriak agar Pilkada ditunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para praktisi dan akademisi pun angkat bicara. Kata mereka, para kontestan tetap memiliki hak untuk melaju dalam bursa pemilihan kepala daerah, karena isu korupsi tersebut masih dugaan, belum terbukti di pengadilan dan belum memiliki kekuatan hukum yang bersifat mengikat. Kata mereka pula, Pilkada tak mungkin ditunda. Sebab sesuai undang-undang yang berlaku di republik yang konon bercita-cita menuju suatu “masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera” ini, Pilkada baru dapat ditunda jika terjadi bencana alam dan kerusuhan. Bahkan antitesis yang paling sangar adalah tanggapan, sebagaimana dilansir di beberapa media lokal, yang mengatakan bahwa belum ada sejarah pilkada ditunda hanya karena tuntutan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran kontradiksi antara harapan (das sein) tentang sosok pemimpin yang mampu membawa masyarakatnya menuju cita-cita bersama dan kenyataan (das sollen) tentang isu korupsi para kandidat cagub, melahirkan banyak pertanyaan. Tanpa mengabaikan kata-kata tanya yang lain yang kerap digunakan kaum asketis (apa, siapa, kenapa, bagaimana, di mana dan kapan), cukup dengan kata tanya “apa” dan “kenapa”, kita sudah menemukan lumayan banyak varian pertanyaan terhadap kontradiksi di atas. Dua di antaranya adalah: pertama, apakah para kandidat cagub Kalbar benar-benar korupsi?; dan kedua, kenapa isu korupsi menerpa para kandidat cagub Kalbar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertanyaan pertama, yang paling berhak menjawabnya adalah aparat penegak hukum dan para kandidat itu sendiri. Dalam masa pasca reformasi yang salah satu konsekuensinya adalah melemahnya kepercayaan terhadap fungsi dan proses penegakan hukum di tanah air, peran lembaga-lembaga yang berkompeten (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) benar-benar diuji. Sejauh mana ketangguhan masing-masing lembaga menyikapi masalah sesuai status dan fungsinya. Dalam hal ini, pengerahan dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dimiliki setiap lembaga harus didukung itikad manusia-manusia yang ada di dalamnya. Jika tidak, harapan perbaikan arah perjalanan kebangsaan dan kenegaraan bertitel Indonesia , hanya akan menjadi impian kosong semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pertanyaan kedua, banyak kemungkinan jawaban yang tersedia. Bisa obyektif, bisa subyektif. Misalnya, beliau-beliau itu memang benar-benar bersalah. Lantas, ketika orang-orang yang tahu kebenaran dan duduk perkaranya mencoba mengungkapkan, ternyata terkendala masalah kapasitas sekaligus power yang dimiliki beliau-beliau tersebut. Akhirnya, mereka hanya bisa bisik-bisik dari satu telinga ke telinga yang lain. Misalnya pula, isu tersebut dilontarkan ke khalayak oleh para kompetitor. Misal yang lain, pelakunya adalah barisan orang-orang sakit hati, orang iseng atau barangkali oleh orang gila. Misal yang lainnya lagi, hal tersebut adalah jangan-jangan justru merupakan rekayasa yang bersangkutan. Motifnya bisa jadi adalah upaya untuk mempertahankan popularitas. Tokh, jika ada pihak-pihak yang coba mengusik, jawabannya gampang: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi pula, yang bersangkutan menganut prinsip jagoan yang selalu kalah di adegan-adegan awal. Menjelang akhir cerita, sang jagoan mengeluarkan jurus-jurus pamungkas untuk mengalahkan lawan-lawannya. Maksudnya, pencitraan sebagai subjek penderita memang disengaja untuk menarik simpati sekaligus memperlama efek “dikenal” dalam benak orang banyak. Sehingga, memperbesar kemungkinan dipilih jika waktunya tiba. Persoalan pembuktian diri tidak bersalah, demi lebih menarik simpati, bisa dilakukan all out menjelang detik-detik terakhir pertarungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan-dugaan, mulai dari yang masuk akal sampai pada yang suuzan sebagaimana yang penulis ungkapkan di atas, bukan mustahil akan semakin parah dan berpeluang menjadi picu kekisruhan di Bumi Khatulistiwa yang kita cintai ini. Sinyal warning-nya sudah tampak. Akademisi-akademisi sudah memperingatkan agar penanganan masalah kasus dugaan korupsi yang melibatkan para cagub, harus ditangani secara bijak. Misalnya hipotesis tentang akan bereaksinya massa basis masing-masing cagub, jika cagub jagoan mereka mulai diutak-atik oleh pasal-pasal hukum positif. Akademisi-akademisi pun mengingatkan tentang kesejarahan dan peluang konflik yang disebabkan oleh aspek multikultural yang ada di provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, jika kondisi di atas dibiarkan berlarut-larut, maka orientasi proses pendidikan politik yang berusaha mencerdaskan masyarakat berubah haluan menjadi upaya pembodohan. Betapa tidak, masyarkat disuguhi kegamangan kebenaran. Akibatnya, masyarakat menjadi rabun, penuh prasangka atau justru masa bodoh saat menentukan pilihan tentang siapa figur pemimpin di antara mereka yang paling layak. Dengan tipikal masyarakat pemilih seperti ini, kita patut mempertanyakan kualitas output Pilkada yang bukan hanya perkara “siapa” yang akan menjadi pemenang pemilihan, tetapi juga kemenangan bersama yang ditandai peningkatan kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak-hak politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari seluruh teori kepemimpinan dan manajemen, mulai dari era baheula sampai era kesejagatan, dari pendekatan klasik tradisional sampai pada pendekatan dan trik-trik yang diajarkan para motivator kelas dunia dewasa ini, dari organisasi-organisasi yang memang bertujuan membentuk karakter (character buildings) sampai pada pribadi-pribadi sukses yang berangkat secara otodidak, pemahaman mendasar mengenai kepemimpinan sekurang-kurangnya memuat dua hal, yaitu keteladanan dan keunggulan. Lantas, dengan kegamangan kebenaran tentang isu korupsi, bagaimanakah sesungguhya keteladanan dan keunggulan pemimpin-pemimpin yang akan bertarung dalam pilkada nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, penulis meyakini asas praduga tak bersalah serta menghormati Hak Asasi Manusia, termasuk kemerdekaan para kandidat Cagub memilih sikap saat dirinya diterpa isu korupsi. Akan tetapi, ketika pemilihan sikap itu berdampak luas dan mempengaruhi arah perjalanan tatanan sosial suatu masyarakat, kenapa pemimpin-peminpin yang sangat kita hormati tersebut tidak memperlihatkan itikad dan dan sikap elegan untuk menunjukan kebenaran tentang dugaan korupsi yang menerpa dirinya? Artinya,jika memang tidak bersalah, kenapa tidak melakukan pembuktian terbalik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya penulis adalah satu orang dari kaum yang gencar menuduh semata, maka penulis layak mendapat kata-kata: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.” Tapi, jika penulis adalah bagian dari khalayak yang merasa gamang dengan kondisi yang ada, dengan itikad untuk belajar untuk lebih melek politik, ditambah mulai berkecambahnya kesadaran bahwa satu suara dalam pemilihan tak sekadar angka statistik belaka, ketika bertanya tantang dugaan korupsi tersebut, apakah juga akan mendapat ucapan yang sama? Semoga saja jawabannya tidak. Karena jika jawabannya iya, jelas akan sangat mengecewkan. Sebab, secara tersirat ada kemungkinan jawaban itu dapat ditafsirkan sebagai pembenaran isu korupsi. Bisa pula ditafsirkan sebagai sikap memberikan kesempatan untuk difitnah. Memberikan kesempatan untuk difitnah sama artinya memberikan kesempatan untuk dianiaya. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari pemimpin yang tak berdaya melawan aniaya atas dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tak terlambat bagi kita untuk mengucapkan: “ Wahai para kandidat Cagub Kalbar, jika ada di antara saudara yang dituduh korupsi, jika saudara benar-benar tidak bersalah, buktikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 25 Pebruari 2007&lt;br /&gt;   &lt;!-- start of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;br /&gt;var ig_type = 1;&lt;br /&gt;var ig_url = &#39;http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/pilkada-dan-kebenaran-yang-gamang.html&#39;;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot; src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/widget_contribution.js&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;noscript&gt;&lt;a href=&quot;http://www.infogue.com/&quot; style=&quot;border: 0&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/images/thumbs/kirim.gif&quot; alt=&quot;submit to infogue&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- end of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/pilkada-dan-kebenaran-yang-gamang.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjr55V1bm7WqyQs89yP0OO3tfdnEA0NqDSpwg7tF3vyw8_DC1Xw-2fIZHs1nw5PU_Etd5VBMDzSK9K7R-qT1IQH3gEpUkOa0Hs7CHmMfLxvbfbSMAG14jL6VMUCZoq-IBquLac6oVGDYUA/s72-c/pilkada1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-7327700428822468385</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-07T13:09:20.597+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>KUDA NIL DI SUNGAI KAPUAS</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://www.tolweb.org/tree/ToLimages/01035hippo.300a.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 249px; height: 181px;&quot; src=&quot;http://www.tolweb.org/tree/ToLimages/01035hippo.300a.jpg&quot; alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Menyambut seminar pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amrin, Spd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.animated-gifs.eu&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.animated-gifs.eu/alphabet-water-2/0019.gif&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;ungguh menyentuh dialog antara Fachri dan Maria tentang jodoh, dalam Ayat-Ayat Cinta, baik versi novel maupun filmnya. Mereka membandingkan jodoh antara pasangan umat manusia dengan jodoh antara kejayaan peradaban Mesir dan Sungai Nil. Namun tulisan ini tidak membahas aspek sastra maupun filmis, pun bukan pada masalah jodoh cinta manusia, melainkan terinspirasi oleh perkara &quot;jodoh&quot; Mesir dan Sungai Nil. Perkara ini membawa pemikiran penulis pada perbandingan yang lebih membumi, apakah Kalimantan Barat umumnya dan Pontianak khususnya &quot;berjodoh&quot; dengan sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita dapat membuat kesepakatan awal bahwa antara Mesir-Sungai Nil dan Kalbar, Pontianak-Sungai Kapuas tidak dapat diperbandingkan begitu saja. Sebab dari segi kesejarahan saja, menganga jurang perbedaan. Mesir telah dimulai jauh sebelum noktah nol Masehi dibuat orang-orang Romawi. Orang-orang kuat Mesir pada jaman dahulu kala, telah berjuang mempersatukan anak-anak bangsanya yang terserak untuk kemudian menjadikannya sebagai imperium besar, yang pernah menjadi pusat dominasi kebudayaan pada masanya. Pada saat bersamaan, maksudnya dalam skala waktu geologi yang sama, apa yang terjadi di tanah kita ini? Ketika orang-orang di sana sudah merampungkan banyak piramida dan melebarkan sayap kekuasaan, apa yang dilakukan oleh datuk nenek moyang kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis kita tidak punya banyak literatur untuk mengungkap kejatidirian asal muasal. Paling-paling kita punya tinjauan antropologi umum yang salah satunya menyatakan bahwa nenek moyang kita berasal dari sekitar selatan benua Asia. Kedatangan ini terjadi dalam dua periode. Orang-orang yang datang pada periode pertama, mendiami pesisir. Ketika orang-orang pada periode kedua datang, orang-orang periode pertama menyingkir ke pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi empiris, kita pun tidak memiliki banyak jejak-jejak sejarah. Maaf, penulis perbaiki kalimatnya: kita hanya memiliki sedikit jejak-jejak sejarah yang disebabkan sedikitnya upaya untuk menggalinya. Apakah ini disebabkan minimnya apresiasi masyarakat kita terhadap sejarah sendiri? Jika iya, kenapa sedemikian kontradiktif dengan kenyataan primordial dalam masyarakat kita? Misalnya pencantuman nama yang menisbatkan pada orang atau keluarga tertentu yang memiliki pengaruh kuat di masa lalu. Demikian pula dengan eklusivitas etnik yang kerap dijadikan komoditas politikus picik, serta masih banyak contoh lain termasuk penegasan terhadap hak-hak ulayat yang ber-efek pada kengerian investor menanamkan sahamnya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal berbekal adagium terkenal dalam dunia arkeologi, antropologi, sejarah dan cabang-cabang keilmuan humaniora lainnya, yaitu: &quot;Apa yang tidak kita ketahui, bukan berarti tidak ada&quot;, kita akan memiliki spirit dan perspektif yang progresif, yaitu tidak hanya berpangku tangan melihat fenomena yang ada, melainkan berjuang untuk menyikapinya. Dengan fenomena yang ada kita dapat melihat berbagai elemen telah bergerak. Misalnya dibukanya progam studi sejarah di STKIP PGRI Pontianak. Harapan kita, semoga saja alumni-alumninya nanti tidak semata bertugas selaku pendidik dan pengajar yang menanamkan kesadaran terhadap sejarah, melainkan terlibat aktif dalam proses kesejarahan. Demikian pula penyikapan yang dilakukan oleh dua orang luar biasa berikut ini, yaitu Syafaruddin Usman dan Turiman. Jika Syafaruddin Usman terus bergerak meneliti dan membuat buku-buku bertemakan sejarah, maka Turiman telah sedemikian gigih berjuang menyingkap kebenaran sejarah tentang peran salah seorang putra terbaik Kalbar, Sultan Hamid II, yang merancang lambang NKRI.Bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk tipe penonton fenomena dan korban sejarah, ataukah tergolong orang-orang yang bergerak berjuang menyikapi dan berani aktif dalam sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada fenomena lain dalam masyarakat kita yang perlu penyikapan tegas. Fenomena ini berkait erat, bahkan lengket dengan sejarah. Seperti yang kita ketahui bersama, garis halus pembatas sejarah dan prasejarah adalah pencapaian tertinggi umat manusia, yaitu tulisan. Baiklah lagi, karena untuk sementara kita bersepakat lagi: dalam kenyataannya, kita adalah masyarakat yang tidak memiliki aksara sendiri. Dikatakan sementara karena tokh belum ada penelitian ilmiah mengenai hal ini. Semoga saja anak-anak cerdas kita nanti &quot;terangsang&quot; untuk menelitinya. Jika terbukti ada, kita patut bersyukur. Jika pun tidak, tetap patut disyukuri, karena mereka jauh lebih baik dari kita sebab mau berjuang menyingkap kebenaran. Siapa tahu, setelah provinsi ini kehilangan generasi emasnya dalam peristiwa Mandor, suatu hari kelak, akan muncul generasi-generasi emas yang di antara pencapaian terbaiknya mampu menyusun aksara baru, serta sistem kebahasaan yang baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari harapan-harapan tersebut di atas, kenyataan bahwa kita tidak diwariskan sistem aksara sendiri, bukan merupakan sebab mendasar bahwa kita tidak bisa mengembangkan kemampuan dasar manusia untuk maju, yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Tiga serangkai inilah senjata utama menelaah dan menyikapi keadaan. Kita layak bersyukur, dalam beberapa dekade terakhir tersirat kegelisahan atas minimnya minat baca tulis yang mewabah ke segenap sendi masyarakat. Masalahnya, kegelisahan ini hanya menjadi topik pembicaraan perintang hari. Siapa yang berani tampil ke depan menyikapi kegelisahan ini dengan tindakan nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena lainnya adalah kegalauan atas pergaulan remaja kita. Konon ini pengaruh globalisasi yang mencerabut generasi muda dari akar budaya sendiri. Konon ini akibat multikrisis yang melanda negeri, terutama krisis pendidikan. Krisis pendidikan, karena para pendidik terpaksa meringkuk dalam pasungan kurikulum nasional. Akibatnya peserta didik terabaikan dalam pembinaan moral dan kepribadian. Sedangkan di sisi lain, peserta didik dituntut mampu berprestasi, dibebankan bermacam tugas yang entah berguna atau tidak dalam kehidupan sehari-hari maupun masa depannya, serta wajib &quot;menjadi orang&quot; setelah selesai studi, misalnya harus meraih cita-cita tertinggi pribumi, yaitu menjadi pegawai negeri. Idem dito dengan fenomena baca, tulis dan diskusi, fenomena pergaulan bebas remaja hanya sekadar &quot;bisik-bisik tetangga&quot; tanpa ada penyikapan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kenyataan yang sedemikian memiriskan hati, muncul banyak harapan. Terutama harapan-harapan baik yang merupakan akibat sepak terjang kaum muda kita yang tak mau berdiam diri. Berkenaan dengan sejarah dalam kaitannya dengan penyikapan terhadap fenomena menumbuhkan minat baca, tulis dan diskusi, serta fenomena pergaulan bebas remaja, maka penulis angkat topi terhadap terbitnya buku Pontianak ‘teenager’ Under Cover, karya penulis muda Kalimantan Barat, Pay Jarot Sujarwo. Angkat topi pula atas kerjasama BEM STAIN Pontianak, Pijar Publishing dan Kitara Creativision yang akan menggelar Seminar Pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja, yang akan digelar di Aula STAIN Pontianak, pada hari Rabu (12 Maret 2008) pukul 13.30 s/d 15.30 WIB. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari panitia, narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Bumbunan Sitorus (Motivator, Dokter RSJ Kalbar), Pay Jarot Sujarwo (Penulis buku Pontianak Teenager Undercover) dan Yuni Djuachiriaty, S. Psi, M, Si (Psikolog).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mencoba menduga, apakah kegiatan seminar ini akan menarik perhatian guru-guru, terutama guru-guru di kota Pontianak dan sekitarnya? Pertama, jika iya, apa sajakah hasil seminar itu selain pesertanya memperoleh serifikat? Apakah ada yang berubah dengan pola interaksi guru-siswa-keluarga-masyarakat dan pemerintah? Apakah akan ada yang berubah dengan pergaulan remaja Pontianak? Apakah juga akan muncul hujanan tulisan dari kaum guru di media massa Kalimantan Barat? Apakah peserta didik akan termotivasi untuk memaksimalkan upaya pengembangan diri? Apakah dari sekian banyak siswa akan muncul sejarawan tingkat dunia? Apakah, apakah dan masih banyak apakah lainnya lagi. Namun yang jelas, harapan-harapan baik layak muncul dari sebuah kegiatan bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jika ternyata kegiatan ini kurang menarik minat kaum guru, maka bisa jadi Sungai Kapuas dengan Kalimantan umumnya dan kota Pontianak khususnya, memang tidak &quot;berjodoh&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya memang kemungkinan kedua yang terjadi, serta jika tanpa sungai Nil tidak akan ada Mesir yang berperadaban tinggi, maka sepertinya ada saran menarik agar masyarakat, provinsi dan negeri ini bisa maju dengan cara mudah. Caranya, kita mengupayakan impor kuda nil untuk dipelihara atau dibiarkan hidup bebas di sungai Kapuas. Apakah ada yang setuju? Jika ada yang setuju, pasti kuda nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 09 Maret 2008&lt;br /&gt;Penulis adalah alumni STKIP-PGRI Pontianak.&lt;br /&gt;Telah dipublikasikan di Borneo Tribune, 11 Maret 2008&lt;br /&gt;   &lt;!-- start of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;br /&gt;var ig_type = 1;&lt;br /&gt;var ig_url = &#39;http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/kuda-nil-di-sungai-kapuas.html&#39;;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot; src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/widget_contribution.js&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;noscript&gt;&lt;a href=&quot;http://www.infogue.com/&quot; style=&quot;border: 0&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/images/thumbs/kirim.gif&quot; alt=&quot;submit to infogue&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- end of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/kuda-nil-di-sungai-kapuas.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-8350783794882008938</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-13T12:17:42.169+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>TANDA</title><description>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bo menahan napas. Perlahan tangannya menjangkau rok Un. Sedikit gemetar. Meski demikian, ia mencoba tersenyum. Kemudian dengan saksama menatap mata Un, seolah algojo yang sedang menantikan sang terpidana mati telah menunaikan permintaan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau justru dirinyalah yang sekarang pesakitan? Entahlah. Namun, sepasang mata indah yang balas menatapnya mengerdip yakin. Baiklah, Bo membatin. Aku harus melakukannya. Akan. Harus.Ya, harus. Aku harus melakukannya. Bo terpejam sesaat.Mengatur napas.Lalu,tangannya mulai bergerak menyingkap rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berdasarkan terawangan Datuk Kelabu,”kata Pak Uteh sambil mengisap kreteknya dalam-dalam, ”Orang yang tepat untuk membuang tanda itu adalah engkau, Nak Bo.” Untung gelas kopi Bo baru menyentuh ujung bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian detik saja terlambat, bukan mustahil, ucapan Pak Uteh itu dapat membuatnya tersedak. Membayangkan hal tersebut, ia menelan ludah.Sekian jenak berikutnya,barulah ia menyeruput kopinya pelan-pelan.&lt;br /&gt;”Harus saya, Pak Uteh? Kenapa?” tanya Bo hati-hati, sembari meletakkan gelas kopinya ke meja. Diam-diam ia mencermati ekspresi Pak Uteh. Lelaki tua itu,yang sudah dianggapnya sebagai orangtua sendiri semenjak ayahnya meninggal ketika masih SD, tampak menarik napas seraya mengatupkan rahang kuat-kuat. Keriput di wajahnya menjelas. Bergetar-getar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menyipit. Seakan punggungnya menanggung gunung-gunung. Tiba-tiba Bo merasa tidak enak dengan pertanyaan barusan. Beberapa menit yang lalu, setelah bermain catur, mereka masih berbincang lepas. Tentang kondisi terkini ibu kota kabupaten mereka, yang terletak di perhuluan sungai Kapuas dan sekarang dijamuri pembangunan ruko-ruko dan swalayan baru.Tentang kepulangannya kemarin, di mana ia sempat membawa kardus orang sampai ke rumah. Juga tentang rencana wisudanya bulan depan. Sekaligus juga membicarakan dengan penuh semangat tawaran Pak Mukti, agar ia nanti bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMA swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, topik pembicaraan berubah, semenjak Bo bertanya tentang kakek tua yang siang tadi dilihatnya berjalan bersama Pak Uteh. Datuk Kelabu, demikian nama kakek itu, sengaja Pak Uteh undang untuk melihat kondisi dan mengobati Un. Awalnya Pak Uteh agak berat menjawab ketika ia bertanya tentang sakit apa yang sedang Un derita. Karena di matanya,Un sehat-sehat saja.Bukankah kemarin Un menyambutnya di muara gang dengan histeris? Bahkan mengambil paksa kardus yang sedang dijinjingnya, yang kemudian diketahui ternyata milik orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya penyakit Un yang ia ketahui adalah sering mencubitinya tanpa alasan.Tapi,sekalipun cubitan-cubitan itu berbisa, sungguh, ia tak ingin ”penyakit” itu disembuhkan. Mungkin karena samasama anak tunggal, selalu bersama sejak kecil, sehingga cubitan-cubitan itu telah menjadi semacam lambang persaudaraan antara mereka berdua. Lalu, Pak Uteh bercerita mengenai kunjungan Pak Usman seminggu yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Uteh meyakini, maksud kedatangan calon besannya itu tak lain tak bukan adalah untuk membicarakan lebih lanjut perihal pertunangan anak mereka. Pak Uteh sendiri sudah menyiapkan beberapa pilihan ”hari baik bulan baik” berdasarkan perhitungannya bersama orang-orang tua di kampung. Tak dinyana, Pak Usman justru datang membicarakan baik-baik mengenai pembatalan pertunangan! Menurut Pak Usman, hal demikianlah yang terbaik untuk masa depan masing-masing anak mereka. Bukan lantaran karena ketidakcocokan karakter antara Un dan Febrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bukan disebabkan latar belakang ekonomi keluarga. Namun, karena Un memiliki sebuah tanda di tubuhnya. Tanda itu berupa tahi lalat sebesar ibu jari, terletak pada bagian tertentu di tubuh Un, menurut keyakinan keluarga Pak Usman dapat membawa sial bagi masa depan Febrian.&lt;br /&gt;”Apa Nak Bo keberatan?” tanya Pak Uteh tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bo.&lt;br /&gt;”Bu….Bukan, Pak Uteh. Bukan begitu. Saya hanya ingin tahu.Kenapa Datuk Kelabu memilih saya?”&lt;br /&gt;”Tidak sembarang orang dapat membuang tanda itu, Nak Bo,” kata Pak Uteh seraya mengambil sebatang kretek lagi dan menyulutnya.”Bahkan,orang pintar sekelas Datuk Kelabu pun tidak. Beliau hanya bisa melihat siapa orang yang berjodoh dengan jarum emasnya, alat khusus pembuang tanda celaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi siang,”lanjut Pak Uteh,”Setelah melihatmu, Datuk Kelabu mengatakan pada Bapak bahwa Nak Bo berjodoh dengan jarum emasnya.Untuk memastikan, Datuk Kelabu mengajak Bapak mengunjungi kuburan leluhurnya di luar kota. Padahal tujuan kami semula, Nak Bo, adalah menjemput cucunya yang menurut Datuk Kelabu pun berjodoh dengan jarum emas miliknya. Namun setelah mendapat petunjuk saat bersemedi di kuburan, Datuk Kelabu menegaskan bahwa untuk kasus Un, Nak Bo jauh lebih tepat dibanding cucunya.”&lt;br /&gt;Bo melongo.&lt;br /&gt;”Bapak mengerti,”kata Pak Uteh lagi, ”hal seperti ini bukan perkara yang bisa diterima begitu saja dengan nalar.Apalagi bagi Nak Bo yang anak kuliahan.”&lt;br /&gt;”Jadi?”tanya Nak Bo sekenanya.&lt;br /&gt;”Terserah pada Nak Bo. Bapak tidak memaksa. Kalaupun Nak Bo tidak bersedia, tidak apa-apa,” ujar Pak Uteh menyandarkan punggungnya dan menerawang pada langit-langit ruang tamu, ”mungkin memang demikian garis Un, adikmu itu.”&lt;br /&gt;”Lalu ... cucu Datuk Kelabu?”&lt;br /&gt;”Kata Datuk Kelabu, cucu perempuannya baru berjodoh dengan jarum emas itu jika tanda sial itu ada di tubuh laki-laki.” Bo tercenung. Teringat akan segala kebaikan Pak Uteh sekeluarga selama ini....&lt;br /&gt;”Saya bersedia,Pak Uteh.”&lt;br /&gt;”Engkau yakin, Nak Bo”&lt;br /&gt;”Yakin,Pak Uteh.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bo terpejam sesaat. Mengatur napas. Lalu, tangannya mulai bergerak menyingkap ujung rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit pula matanya terbuka, yang kemudian terpacak pada panorama yang terhampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungnya berdegup kencang. Jakunnya naik-turun. Berkali-kali ia menelan ludah. Sebuah peta putih dengan jalurjalur hijau urat darah yang menuntunnya ke sebuah masa, lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika itu, untuk pertama kalinya, mereka saling belajar tentang apa perbedaan laki-laki dan perempuan. Aroma setanggi memenuhi ruang. Peluh mulai lahir dari pori-pori kulit Bo. Sementara itu,Pak Uteh,Mak Uteh,dan Emak Bo yang duduk di salah satu sudut ruang tampak gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tadi sesekali mereka saling pandang.Kadang melihat Un dan Bo di dipan,kadang pula melihat Datuk Kelabu yang takzim bersimpuh di depan sebuah kotak kecil merah berisi jarum emas. Datuk Kelabu bangkit tiba-tiba,kemudian duduk di belakang Bo.Sambil komat-kamit, dua telapak tangannya menempel pada punggung Bo. Setelah sesaat berlaku demikian, Datuk Kelabu menarik tangannya. Kemudian, membisikkan sesuatu di telinga Bo. Bo mengangguk-angguk. Setelah meletakkan kotak jarum emas di samping Bo, Datuk Kelabu mendekati Pak Uteh, Mak Uteh,dan Emak Bo. Pada ketiga orangtua itu, Datuk Kelabu menjelaskan bahwa Bo bertarung akan kekuatan tanda sial di tubuh Un. Agar tidak mengganggu Bo, Datuk Kelabu mengajak mereka meninggalkan kamar.&lt;br /&gt;”Kenapa, Bang? Kok, ragu-ragu? ” tanya Un setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat.&lt;br /&gt;”Kok seperti dulu, ya? Dan, di kamar ini lagi,” ujar Bo dengan tatapan mengitari ruang.&lt;br /&gt;Ketika Bo hendak mengembalikan ujung rok ke tempat semula,Un malah mencegah.&lt;br /&gt;”Buanglah tanda ini, Bang,” kata Un seraya membimbing tangan Bo menyingkap roknya, sampai kurang lebih sejengkal dari pangkal paha.Jidat Bo bekernyit saat melihat sebuah tahi lalat yang ternyata tidak sebesar jempol jari, tapi cuma seukuran dua kepala korek api. Un mengambil jarum emas dan menyerahkan pada Bo. Bo menyambut ragu.&lt;br /&gt;”Un,Abang akan menusuk tahi lalatmu tiga kali, sesuai pesan Datuk, tapi Abang penasaran Un. Seingat Abang, dulu, tahi lalat ini tidak ada,kan?”&lt;br /&gt;”Sebenarnya ada, Bang. Cuma kecil. Sejak kapannya,Un tidak tahu,tahi lalat ini mulai membesar sampai seukuran sekarang.Yang Un tahu, kira-kira sejak tiga tahun lalu, ukurannya tidak berubah lagi.”&lt;br /&gt;”Katanya seukuran ini?”tanya Bo mengacungkan jempol kirinya. Tapi Un menjawab dengan senyum asing. Bo menyipitkan mata.Tajam menatap mata Un.&lt;br /&gt;”Mereka lelaki pengecut,” kata Un sembari menghindari tatapan Bo.&lt;br /&gt;”Hanya karena Un ceritakan tanda ini, mereka kabur.” Dengan ibu jari kanan, Un mengelus tahi lalat di pahanya.Kemudian,bercerita tentang beberapa pria yang pernah dekat dengannya, termasuk si mantan tunangan. Mereka semua munafik, keluh Un. Mula-mula mereka bilang mau menerima Un apa adanya. Mereka juga dengan gagah mengatakan bahwa keperawanan bukanlah syarat utama dalam membina rumah tangga. Tapi sekian waktu, ketika Un mengatakan bahwa mungkin saja dirinya sudah tidak perawan, pelan-pelan mereka mundur. Lalu, persoalan tahi lalat pun dibesar-besarkan.&lt;br /&gt;”Abang belum mengerti,” potong Bo, ”Apa Un memang sudah tidak...”&lt;br /&gt;Un menggeleng dan tersenyum, ”Un hanya menguji mereka.Ternyata cinta mereka cuma seperti itu.”&lt;br /&gt;”Nekat!” kata Bo tanpa sadar, “Bagaimana jika mereka menyebarkannya pada orang lain? Abang benar-benar tak habis pikir...”&lt;br /&gt;”Iya sih.Terus terang Un sedikit menyesal, karena hal ini menyangkut citra Un. Tapi Un lebih bersyukur karena bisa jauh dari laki-laki picik seperti mereka. Selain itu,Un melakukannya karena Un sebenarnya sangat mencintai seseorang...”&lt;br /&gt;”Siapa, Un? Boleh Abang tahu?”&lt;br /&gt;”Orangnya baik dan sangat menyayangi Un?”&lt;br /&gt;”Siapa sih, Un? Cerita, dong...”&lt;br /&gt;”Malu,ahhh...”&lt;br /&gt;”Cerita dong, Un. Dengan Abang sendiri kok malu ?”&lt;br /&gt;”Itulah masalahnya,” desah Un, ”Orang itu hanya menganggap Un sebagai adik,” sambung Un tertunduk.&lt;br /&gt;Hening sejenak.Bo merasa ada debar lain di dadanya. Debar yang selama ini mati-matian ia tahan, yang rapi ia sembunyikan ke dalam sebuah peti kedap suara jauh di relung hatinya. Sekarang, tutup peti itu telah terbuka.&lt;br /&gt;”Un...” kata Bo bergetar.&lt;br /&gt;Un mengangkat wajah.Mereka bertatapan.Tanpa berkata- kata,sekarang mereka saling tahu isi hati masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan aneh yang mendorong wajah mereka saling mendekat.Mendekat.Mendekat dan... ”Aouww…..!” Un menjerit, tapi cepat-cepat menutup mulutnya.Wajah Bo tersurut beberapa jengkal. Ternyata, jarum emas yang entah sejak kapan terlepas dari tangan Bo telah mengenai kaki Un.&lt;br /&gt;Orang-orangtua, yang resah menunggu di ruang depan, ketika mendengar jeritan Un, bergegas masuk. Mereka merubung Bo dan Un. Meski sebelumnya, tidak satu pun dari keempat orang tua itu yang pernah melihat tanda sial Un, yang katanya sebesar jempol jari, yang jelas sekarang mereka telah melihat ukurannya hanya sebesar dua kepala korek api. Karena itu, mereka kemudian saling pandang dan tersenyum puas.&lt;br /&gt;Mereka luput mengamati, sepasang tangan yang saling genggam.Erat.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Seputar Indonesia 09/02/2007&lt;br /&gt;(http://www.sriti.com/story_view.php?key=2533)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/tanda.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-67349618180537730</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-13T12:13:48.494+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>Iona, Kyra, Leyna, Toska</title><description>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iona, Kyra, Leyna, Toska...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar kehilanganmu, pertama kali kudengar dari syair jangkrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mengeja rapal daun rontal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kaki dingin... dan batuk kecil yang seketika lenyap dalam gelas. Ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menncicit di luar. Lotengku penuh tanda tanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iona, Kyra, Leyna, Toska...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, karena pernah, masih dan akan terus memperkosamu dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sesungguhnya sebab, kenapa harus kutolak tidur yang singkat di meja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perundingan. Aku malas berdamai dengan ketidakbeningan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalahkan naluriku yang latah menuding, pada rekahan asing di dinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tebing, menjorok hening di pojok tanjung genting...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hei...!!! Kau di dalam sana, kan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak Post, Minggu, 2 Oktober 2005&lt;br /&gt;(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&amp;id=100034)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/iona-kyra-leyna-toska.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-3664205082885230350</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-13T12:11:32.824+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>KASIH</title><description>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, 1997-2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih yang bagaimana yang kau damba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihku teramat sederhana untuk kau tafsirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa sekecil atom, bisa melebihi semesta &lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Atau terlalu rumit?-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelasnya kasihku bukanlah seonggok plastik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang kebetulan diolah jadi bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Seperti bunga di meja belajarmu-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak Post, Minggu, 25 September 2005&lt;br /&gt;(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&amp;id=99436)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/kasih.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-89933541511137206</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-13T12:09:23.210+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>SAJAK LELATU</title><description>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;untuk Fimay&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rinduku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanyalah sehimpun lelatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang gemar bepergian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke cakrawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak Post, Minggu, 25 September 2005 http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&amp;id=99438&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/sajak-lelatu.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-1969597851592417060</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-13T12:03:51.533+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>GERIMIS PATAH DINGIN</title><description>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, 2000-2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah-sudah, malam ini tetap sama: gerimis patah-patah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepertinya... inipun akan jadi malam serupa kesekian dalam hitungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sia-sia: hampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, melenyap kemana cercah gelagat rahasia yang menerbit diri dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tafakur suntuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia menghangat datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Kan datang lagikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukisarkan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan coba patahkan dingin dengan segelas arak tua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelam mengitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuh rendah menghajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&amp;id=99439)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/10/gerimis-patah-dingin.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-5816328437874099427</guid><pubDate>Mon, 29 Sep 2008 03:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-29T10:39:56.517+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>PERJAMUAN 3</title><description>Demi sejumput mimpi yang telah kita selipkan di sela rambut, juga sejumput rambut yang telah kita kemas di bawah lipatan baju, aku ingin mengajakkmu berburu, kata-kata berkutu,&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt; pada setiap halaman koran, pada setiap lembar buku, pada setiap helai spanduk, pendek kata pada setiap-setiap tempat, di mana kekata menjelama sebagai api unggun kanak-kanak kepanduan di depan gua purba, atau seperti tombak yang terlukis di dindingnya, moyang yang tenggelam dalam peristiwa perburuan rusa bertanduk ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi secuil kabut yang kita sajikan pada tetamu, demi seonggok gerimis yang kita kirimkan pada karib, juga demi setumpuk tangis yang kita paketkan pada kerabat, mari kita bersulang atas nama rumus-rumus fisika petang ini, di beranda depan, di atas keranda demokrasi yang di depannya ada tanduk rusa berjumlah ganjil. Kemudian kita nyalakan api unggun di liang telinga, tanpa lupa mengundang kanak-kanak kepanduan yang menyanyikan Sorak-sorak Bergembira, serta lagu Kutu-kutu yang Lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kita bersulang, merapal tabel susunan kimia dan membai&#39;at kutu-kutu lucu yang bergembira karena telah memberhalakan cinta. Mari. Marilah kemari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/09/perjamuan-3.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-413603721648231019</guid><pubDate>Mon, 29 Sep 2008 02:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-29T09:39:51.355+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>KEBANYAKAN</title><description>&quot;Info baru: orang narsis dapat jatah masuk surga.&quot;&lt;br /&gt;Demikian promosi PJS (Pay Jarot Sujarwo) dalam pesan singkatnya kemarin. Aku tercenung. Bukan lantaran kalimatnya yang agak &quot;serong&quot; mengingat ia adalah mantan aktivis remaja masjid, namun lebih dikarenakan iri. PJS dan kekasih bulenya sedang berada di pulau dewata, menapaki boulevard posmo. Ia bercerita, kondisi yang ia alami sekarang adalah karena dulu berani mengatakan &quot;TIDAK!!!&quot; saat diharuskan ortunya untuk menyelesaikan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup. Aku iri setengah mati. Sebab, pesan singkatnya itu, yang kuterima saat berada dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, punya aroma lain. Semacam sindiran. sindiran khas ala PJS, yang jika di-dekode-kan kira-kira berbunyi: &quot;Ah, dasar orang kebanyakan.&quot;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/09/kebanyakan.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-2924025517822046281</guid><pubDate>Wed, 24 Sep 2008 10:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-24T18:02:57.141+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>TURNING POINT</title><description>Adalah ia yang berbisik pada suatu subuh: &quot;Makanya, jangan dengar omongan orang mati. Dengarlah omongan orang hidup. Orang mati, pikirannya mati&quot;.&lt;br /&gt;Padahal, maaf kalau aku harus mengulang, ia berbisik. Tapi kalimat-kalimatnya menghunjam, merobek-robek gendang telingaku. Padahal, antara aku dan mereka --ia bersama rekannya, bermuka tirus -- terdapat beberapa meja kosong. Namun, kalimatnya bak proyektil mutakhir, memburu tepat pada setiap buhul serabut otakku. Padahal di meja terluar, lima pria awak kapal klotok sedang berdebat seru, namun hanya kalimatnya yang membekas di layar kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ia yang tiba-tiba menatap jam dinding dengan wajah cemas. Kecemasan yang membujuk kesadaranku untuk mengikuti arah tatapannya. Tiga belas! Tiga Belas! Aku tergeragap. Lagi-lagi ia berbisik dengan intonasi yang tak sanggup kudeskripsikan: &quot;Waktu kita hampir habis! Berkemaslah. Sebelum para lanun sampai di muara.&quot;&lt;br /&gt;Kutatap bundar jam dinding dengan perasaan ngilu. Tiga belas angka pada setiap noktah besar yang mengelilingi bundaran jam, seakan mantera yang mematri tiap persendian. Aku tak sanggup bergerak. Bisikannya tentang waktu yang hampir habis, seakan serbuk kristal yang ditebar ke udara. Udara seketika beku. Aku beku. Bagai pelanggar kempunan yang diserapah menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah rekannya, yang berwajah tirus itu, dengan sikap tubuh dan mimik bagai pesakitan menuju tiang gantung, berjalan menuju etalase. Mengambil sebotol minuman mineral. Menggenggam khidmat. Berkomat kamit. Kemudian kembali ke tempat semula. Setelah duduknya sempurna, ia menaruh botol minuman yang masih tersegel rapi ke atas meja. &quot;Tenang saudaraku, dalam botol ini, waktu telah membeku.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aku yang kemudian dirajam kebingungan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/09/turning-point.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-1144861925880950934</guid><pubDate>Fri, 11 Jul 2008 07:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-22T10:38:47.842+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>PEMAMPIR</title><description>&lt;span class=&quot;”fullpost”&quot;&gt;keluarga, aku berangkat dari Nanga Tayap, Ketapang menuju Sanggau. Pulang pergi, mampir di Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/07/pemampir.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-8305750457036662694</guid><pubDate>Tue, 11 Mar 2008 15:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:03:18.596+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>BERANGKAT</title><description>Ali 13 (salah seorang punggawa Komsan STAIN) dan Hatta BK (filmaker,etc), sibuk berbincang tentang rencana-rencana masa depan. termasuk masa depan. Ali 13 menatap kesombonganku menunjukkkan kemampuanku mengetik blind system.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;(&quot;Pas pada kata &#39;kesombongan&#39; tadi salah ketik!&quot; ujar Hatta). &lt;br /&gt;Mereka merubah topik pembicaraan. &quot;Kejam...&quot; kata Ali 13 penuh perasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ni masih anget-angetnye...&quot; kataku menjawab pertanyaanku tentang cincin di jemari manisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok aku berangkat. Tapi uang belum di tangan. Sementara aku dibebani berbagai kewajiban. Duhhhh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/03/berangkat.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-2249447089198938106</guid><pubDate>Wed, 05 Mar 2008 17:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T01:44:13.808+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>MATAHARI KHATULISTIWA</title><description>&quot;Aku cuma ingin menunjukkan padamu, sesuatu yang bernama fokus dan sungguh-sungguh,&quot; katanya via telepon ketika aku masih berada di Tanah Jauh. Untuk kesekian kalinya aku tersengat. Entah kenapa, setiap kali berkomunikasi dengannya aku seperti terkana radiasi panas. Pantas saja kawan-kawan menjulukinya Matahari Khatulistiwa.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku melihat api yang tak pernah padam di matanya. Dalam lelah sekalipun. Busyet. Bagiku ia tetap ORANG GILA. Orang gila yang anti NATO, No Action talks Only. Aku jadi teringat pertemuan-pertemuan awal kami. Di antaranya adalah pengalaman membuat sejarah bersama Kak Yophie Tiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, kami bertiga berbincang tentang fenomena rendahnya minat baca tulis di Provinsi yang telah kehilangan generasi emasnya dalam Peristiwa Mandor ini. Tiba-tiba ia seperti kesurupan: &quot;Ahaaa...! Kita terbitkan buku!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak aku dan Kak Jo, sapaan akrab Kak Yophie Tiara, terdiam. Warung kopi tempat kami berbincang seakan disaput atmosfir aneh. Aku dan Kak Jo saling pandang. Kemudian sama-sama tersenyum. Kak Jo menyambut positif. Karena menerbitkan buku adalah salah satu obsesinya. Namun aku, dalam pembicaraan selanjutnya, paling sengit mendebat mereka. Maaf jika ada yang tersinggung, aku idem dito dengan sebagian orang yang mengaku penulis di Provinsi ini, yang begitu fasih mengeluarkan argumen tentang kenapa tidak bisa berbuat (menulis, menerbitkan buku, dlsb) ketimbang berikhtiar untuk mengatasi kejumudan yang ada. (Dalam hal ini, yang tersinggung pasti yang belum berbuat apa-apa. Yang tidak tersinggung, mana karyanya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami kemudian menerbitkan buku secara indipenden. Buku bersejarah itu berjudul Nol Derajat (1995). Berisi kumpulan cerpen kami bertiga. Dalam prosesnya, terus terang aku adalah elemen yang nilai kontribusinya paling sedikit.  Setelah Launching di Taman Budaya, kami melanjutkan program kunjungan sastra ke sekolah-sekolah. Sambutannya luar biasa. Hanya dalam tiga bulan, seribu eksemplar buku Nol Derajat ludes di dua kota, Pontianak dan Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, gerak kami untuk sementara hanya sampai di situ. Persoalannya klasik, yaitu perkara manajemen yang belum profesional. Aku sendiri harus menunaikan kewajiban menyelesaikan kuliah. Kak Jo, sekarang kudengar aktif di bidang PAUD. Hanya lelaki muda berbadan ceking itu yang tetap komit dan konsisten dalam bidang kepenulisan. Ia mendirikan Pijar Publishing. Telah menerbitkan banyak buku. Terakhir adalah buku yang membuat &#39;demam&#39; warga Pontianak, khususnya anak-anak muda, yaitu Pontianak teenager Under Cover. Buku yang mengangkat tema pergaulan bebas di Kota Dua Muara ini, mengundang pro kontra masyarakat. Tentang buku inilah ia menelponku untuk &#39;melihat&#39; apa yang dimaksudnya dengan fokus dan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku hadir lima belas hari di sini, aku tetap melihatnya sebagai MATAHARI.&lt;br /&gt;   &lt;!-- start of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;br /&gt;var ig_type = 1;&lt;br /&gt;var ig_url = &#39;http://amrin-zr.blogspot.com/2008/03/matahari-khatulistiwa.html&#39;;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot; src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/widget_contribution.js&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;noscript&gt;&lt;a href=&quot;http://www.infogue.com/&quot; style=&quot;border: 0&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.infogue.com/widgets/images/thumbs/kirim.gif&quot; alt=&quot;submit to infogue&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- end of infogue&#39;s code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/03/matahari-khatulistiwa.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-830279920176275704</guid><pubDate>Wed, 05 Mar 2008 13:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:04:54.681+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>CHOOF...</title><description>&quot;Mereka adalah tiga pria dewasa yang terdampar di sebuah pulau. Hari-hari yang mereka lewati begitu &#39;indah&#39;. Beragam tingkah, membuat tontonan ini menyenangkan. Sebagai orang yang pernah &#39;bersentuhan&#39; dengan teater, aku menikmati kemampuan dan totalitas akting mereka. Sebagai orang yang &#39;tenggelam&#39; kepenulisan, aku mengagumi kekayaan imajinasi mereka. Namun sebagai seorang pribadi yang telah lama jauh dari puting ibu, aku adalah aktor dalam tontonan Choof. Bedanya, aku sendirian. Bedanya, aku berada dalam kenyataan. Bedanya, aku terkalahkan...&quot;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku terdampar di pelosok. Seorang sahabat, seorang Abang, bahkan seorang yang kuanggap salah satu guruku, yaitu Bang Wisnu Pamungkas, pernah berseloroh ketika kami bertemu di sebuah warung kopi di jalan Gajah Mada Pontianak. Katanya: &quot;Rien, seseorang yang masuk dalam kehidupan perkawinan adalah orang naif...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget. Soalnya ia membicarakan dengan ekspresi misterius, di depanku dan kawan-kawan KSJL, sementara kutahu bahwa ianya sudah menikah. Lantas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, Ucup, panggilan akrab Supriadi, salah seorang penulis muda potensial Kalbar, dalam bincang-bincang sebelum tidur, bertanya tentang pendapatku tentang perempuan. Aku tiba-tiba teringat kata-kata yang pernah kutulis dalam buku pelajaran, saat pelajaran yang dibawakan sang guru sangat membosankan. Aku menulis: &quot;Perempuan adalah pertanyaan. Dan istri adalah misteri.&quot; Ya, aku ingat, itu kutulis saat kelas dua esempe. Bahkan aku masih ingat gurunya, serta apa yang melatarbelakangi kata-kata itu terlintas dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Aku tidak menyesali keputusanku menikah. Kalaupun ada penyesalan, maka hanya ada dua penyesalan. Pertama, kenapa aku baru menikah sekarang? Kedua, karena aku belum bisa membahagiakan bidadari yang kupilih sebagai pendamping hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga kata orang bijak: &quot;HIDUP ADALAH BAHASA ASING, YANG SETIAP LIDAH KELIRU MENGUCAPKANNYA.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah Choof...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2008/03/choof.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-1084398117633603666</guid><pubDate>Sun, 02 Dec 2007 08:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:14:54.226+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>TENGGELAM</title><description>&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sebaiknya kau tinggal di Pontianak saja,&quot; saran para paman.&lt;br /&gt;&quot;Balik ke kampung. Bangun kampungmu.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ke tempat sayang jaklah, ye. Kalau tadak, dak jadi nikah.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Bagaimana dengan kawan-kawan?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mudahnya mengucapkan: &quot;Hidup adalah pilihan.&quot; Pun mudah untuk mengutip jargon salah satu produk rokok:&quot;Tua adalah pasti. Dewasa adalah pilihan.&quot;&lt;br /&gt;Mudah.&lt;br /&gt;Mudah.&lt;br /&gt;Sebagaimana mudahnya menyusun mimpi-mimpi. Bahkan dalam perjalanan ke warnet ini, tadi, diperjalanan aku melihat tulisan pada belakang baju seorang pengendara sepeda motor: &quot;IDREAMIT.TOBEIT.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Banyak yang bisa kita buat kalau kau pulang kampung,&quot; kata Afuk kemarin lewat telepon.&lt;br /&gt;&quot;Dulu Abang melarang Ardi cepat pulkam. Siapkan diri terlebih dahulu di sini. Sekarang, justru Abang yang harus tenggelam di pelosok,&quot; kata Fitalis Mawardi. B. ketika kami ngobrol di warkop djogja, bundaran Kobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Kutunda posting ini. Kawan-kawan KSJL menyusul. Entah apa lagi kali ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2007/12/tenggelam.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-7374718745347632947</guid><pubDate>Fri, 09 Nov 2007 04:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T02:15:19.353+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>SIDANG</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHU3Tm4FihIHLScpLrWMEEWtui-_ND_c-CdUKUlh5X3_y1LkspTuYzWyogKBfK3lLiZByA5JWxjH5c0ysMHrCJPalJ7mocoBoCMHkyF-4Cku8W6Epoj2rOt6L85m4BcA5HnErlhmooNCA/s1600-h/Amrin+Zuraidi+Rawansyah.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHU3Tm4FihIHLScpLrWMEEWtui-_ND_c-CdUKUlh5X3_y1LkspTuYzWyogKBfK3lLiZByA5JWxjH5c0ysMHrCJPalJ7mocoBoCMHkyF-4Cku8W6Epoj2rOt6L85m4BcA5HnErlhmooNCA/s320/Amrin+Zuraidi+Rawansyah.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5130699620054809394&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku baru bisa sedikit bernafas lega, soalnya desain skripsiku sudah di acc dan sudah pula masuk ke bagian jurusan.&lt;br /&gt;&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, masih ada yang mengganjal. Karena harus menjadi sutradara monolog Kak Yophie Tiara yang akan menyajikan Prita Istri Kita, besok malam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2007/11/sidang.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHU3Tm4FihIHLScpLrWMEEWtui-_ND_c-CdUKUlh5X3_y1LkspTuYzWyogKBfK3lLiZByA5JWxjH5c0ysMHrCJPalJ7mocoBoCMHkyF-4Cku8W6Epoj2rOt6L85m4BcA5HnErlhmooNCA/s72-c/Amrin+Zuraidi+Rawansyah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-826573603012635947</guid><pubDate>Mon, 22 Oct 2007 14:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T15:13:11.634+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gurat</category><title>Filosofi China</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBTIwtVCfTEpPvZlfwN9HpZ3QDSVdzArj9WaBs8r4_cGX6q16wwQKZ9VsBSRYK-vQfTf2s2qOwpgvm5qftKhLAGT9Xz3BhSBKcWdbd6hthQKleoLM16A_vNRqsEh3zOpYllV9ZihWJE2Y/s1600-h/Amrin+terluka1.jpg&quot;&gt;&lt;img id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5124173516312809618&quot; style=&quot;FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBTIwtVCfTEpPvZlfwN9HpZ3QDSVdzArj9WaBs8r4_cGX6q16wwQKZ9VsBSRYK-vQfTf2s2qOwpgvm5qftKhLAGT9Xz3BhSBKcWdbd6hthQKleoLM16A_vNRqsEh3zOpYllV9ZihWJE2Y/s320/Amrin+terluka1.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Aku sering &quot;terjatuh&quot; bukan karena perkara-perkara besar, justru oleh perkara remeh temeh. Benar juga filosofo China, bukan gunung yang menjerembabkan, justru kerikil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2007/10/filosofi-china.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBTIwtVCfTEpPvZlfwN9HpZ3QDSVdzArj9WaBs8r4_cGX6q16wwQKZ9VsBSRYK-vQfTf2s2qOwpgvm5qftKhLAGT9Xz3BhSBKcWdbd6hthQKleoLM16A_vNRqsEh3zOpYllV9ZihWJE2Y/s72-c/Amrin+terluka1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-3578388130515704247</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2007 18:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-10-09T01:54:26.133+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>PERTANDA 1</title><description>Kemarin malam&lt;br /&gt;kupahat sunyi digendang telingamu: tanda-tanda&lt;br /&gt;yang menggetarkan jelusi&lt;br /&gt;sawang, juga&lt;br /&gt;sayap rama-rama&lt;br /&gt;(On Pontianak Post, 16April 2006)</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2007/10/pertanda-1.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8576790456713902109.post-8629574356839402128</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2007 18:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-14T01:33:30.414+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>SAAT JATUH</title><description>&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pada siapa duka ini kuceritakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;pada sahabat, kekasih, kerabat, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;diary atau pada malam?... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;sedang pada diriku sendiri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;tak sanggup kuceritakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;(on Pontianak Post, 06 Agustus 2006)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amrin-zr.blogspot.com/2007/10/saat-jatuh.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>