<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078</atom:id><lastBuildDate>Thu, 05 Sep 2024 00:43:38 +0000</lastBuildDate><title>nanang gps</title><description></description><link>https://nananggps.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (kitac)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-3362218795081643514</guid><pubDate>Fri, 04 Dec 2020 04:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:01:50.268-07:00</atom:updated><title> ASAL USUL DESA KEJIWAN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxGDMDdMbNOVNtzfhB-B1gTF_JWmBMVLq1efpUOWNfPuk4lkj2gqPfUC1kMUWG-LsT_orusCXk0oHSxyMbvTotlINjxtLj8VS9DrdmuSUccUIL4BG6BL9qgNjrosgAFeFMKH48v5MA5vU_/s2048/IMG20200418105636.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxGDMDdMbNOVNtzfhB-B1gTF_JWmBMVLq1efpUOWNfPuk4lkj2gqPfUC1kMUWG-LsT_orusCXk0oHSxyMbvTotlINjxtLj8VS9DrdmuSUccUIL4BG6BL9qgNjrosgAFeFMKH48v5MA5vU_/s320/IMG20200418105636.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span face=&quot;&amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;ASAL USUL DESA KEJIWAN&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Nama Desa Kejiwan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Pada zaman kerajaan, setelah berdirinya kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, dibawah pimpinan Sunan Gunungjati tepatnya pada tahun 1406 M, tersebutlah salah seorang murid dia bernama Taka Bin Takab yang di kenal dengan Ki Beyot meminta izin untuk membuka pedukuhan (Desa), yang berada di perbatasan Kerajaan Indramayu dengan Rajanya Prabu Indra Wijaya (Arya Wiralodra), yang pada tahun 1528 M kerajaan ini menggabungkan diri dengan Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Setelah memperoleh izin dari Sunan Gunungjati, maka Ki Beyot mulai membuka hutan (Babad Alas) bersama Nyi Gede Susukan yaitu Nyi Tosa. Ki Beyot membuka hutan dengan cangkul dan pedang, wilayah yang terdapat hasil cangkulan (tebalan) termasuk wilayah kekuasaan Ki Beyot, sedangkan karena Nyi Tosa seorang perempuan yang tidak bisa mencangkul, maka ia menandai daerahnya dengan membakar hutan dengan api, wilayah yang terdapat bekas bakaran (Obar-obaran) termasuk daerah kekuasaan Nyi Tosa.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Berhari-hari kegiatan membuka hutan itu dilakukan, sampailah Ki Beyot di daerah Bundermire. Setelah pembukaan hutan sampai didaerah tersebut, Ki Beyot menghentikan kegiatannya karena sempat tergoda dengan Nyi Tosa Yang berwajah Cantik, berbadan kuning dan suka nginang, sehingga disaat demikian, Nyi Tosa tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia memperluas wilayahnya hingga ke daerah Pucuk Sawit. Oleh karena itu wilayah Susukan lebih luas hingga mencapai daerah Pucuk Sawit, sedangkan Kejiwan hanya sampai daerah Bundermire.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Setelah selesai membuka hutan, Ki Beyot menamakannya desa Kejiwaan, yang berarti pembukaannya dengan jiwa (tenaga), selain itu karena sifat Ki Beyot sendiri yang mempunyai Kejiwaan yang kuat, walaupun dicaci, dihina dan diremehkan dia tidak membalasnya. Karena logat Orang Jawa yang cepat, kata Kejiwaan disebut menjadi KEJIWAN. Hingga sekarang desa kita ini disebut Kejiwan.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sedangkan wilayah Nyi Tosa dinamakan Yangtanjung (desanya berada di tengah sawah), kearah timur dari desa itu merupakan sebuah kebun yang subur, yang memiliki sebuah kalen (sungai kecil)yang selalu disusuk (dijeroi) agar airnya dapat mengalir dengan lancar, sehingga daerah tersebut disebut Susukan. Karena kesuburannya dan letaknya yang strategis, banyak penduduk desa Yangtanjung berpindah ke Susukan. Hingga sekarang Susukan menjadi desa yang besar, sedangkan Yangtanjung sudah di tinggalkan oleh penduduknya.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Beyot (Kejiwan Taka)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Di lain waktu, saat rombongan Keraton yang akan berdakwah dengan wayang Karya Sunan Kalijaga, glebeg (semacam kereta kuda yang besar) yang mengangkut alat-alat gamelan dan wayang kulit terperosok (kepater) di desa Leuweung Hapit (sekarang merupakan salah satu desa di Kecamatan Ligung Kab. Majalengka). Sunan Gunungjati mengadakan sayembara, barang siapa yang sanggup mengangkat glebeg itu dengan kerbau yang di milikinya, maka akan di berikan hadiah yang besar. Seluruh perwakilan dari tiap desa datang bersama kerbaunya, seperti Ki Jaka Tawan (Ki Gede Rawagatel), Ki Suropati (Ki gede Tegalgubug), Ki Pedes (Ki gede Bojongkulon) dan Kigede-Kigede lain sekitar Cirebon, tetapi dari sekian banyak perwakilan tidak ada yang sanggup mengangkat glebeg itu hingga waktu mulai malam. Dari sekian banyak peserta,kerbau Ki Beyot merupakan kerbau yang paling kurus, tanduknya tumpul, tubuhnya kecil, agak kemerahan dan matanya beleken (jauh di hati dekat di mata), sehingga di tertawakan oleh para peserta, tetapi dia tetap sabar dan tidak membalas ocehan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Setelah malam mulai larut ketika semua orang tertidur pulas, Ki Beyot secara diam-diam menarik glebeg itu dengan kerbaunya, Ki Beyot berdo’a kepada Allah agar kerbaunya di berikan kekuatan agar bisa menarik glebeg tersebut. Setelah berdo’a, dengan izin Allah SWT, glebeg itu terangkat dan dapat di tarik serta diletakkan di tanah yang rata, kemudian Ki Beyot mengembalikan keadaan kerbaunya seperti semula agar tidak diketahui orang bahwa kerbaunyalah yang dapat menarik glebeg itu. Tetapi di luar dugaan, salah seorang prajurit Keraton mengetahui hal ini, ia tandai kerbau Ki Beyot dengan mencoret muka kerbau itu dengan apu (semacam kapur).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Pada keesokan harinya, gegerlah para peserta, mereka heran siapa yang telah berhasil mengangkat glebeg itu. Semua peserta bingung dan bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah berhasil&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;mengangkat glebeg tersebut. Bahkan Ki Beyotpun diam saja seolah tidak mengetahui apa-apa, karena memang sifat dia sendiri yang pemalu, pendiam, rendah hati dan tidak suka pamer. Sampai akhirnya ada salah seorang prajurit yang mengetahui kejadian semalam, menceritakan dengan sebenarnya dan mengumumkan bahwa siapa yang kerbaunya terdapat coretan apu, itulah yang telah mengangkat glebeg. Setelah di ketahui bahwa kerbau Ki Beyotlah yang telah menarik glebeg, maka Ki Beyot di berikan hadiah dan dipersilahkan kerbaunya terus menarik hingga sampai di daerah Krangkeng Indramayu. Sampai sekarang, glebeg itu masih tersimpan di desa Krangkeng, konon hanya warga Kejiwan dan keturunannya saja yang dapat masuk dan melihat glebeg tersebut. Wallahu A’lam Bisshowab. (hanya Allah SWT yang maha mengetahui kejadian yang sebenarnya)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sumur Kejiwan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sumur Kejiwan adalah sumur yang memiliki keistimewaan dibandingkan dengan sumur-sumur lain. Unjungan Desa sering dipusatkan di lokasi ini. Sejarah Sumur Kejiwan adalah:&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ketika wilayah Cirebon kekeringan, saat itu di keraton Pakungwati Cirebon ada kegiatan tahunan Sunan Gunungjati mengundang Ki Gede Kejiwan ke Kraton sambil membawa air dari sumur Kejiwan. Ki Beyot mematuhi perintah guru dia Sunan Gunungjati, datang ke Cirebon dengan memikul air dari sumur Kejiwan, anehnya air itu dibawa dalam keranjang tetapi tidak bocor. Sesampainya di Cirebon Ki Beyot menumpahkan air dari keranjang itu ke paso-paso penduduk, anehnya lagi puluhan paso dapat terpenuhi hingga luber padahal air yang di bawa hanya dua keranjang. Oleh karena itu Ki Beyot di beri julukan Ki Luber.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Lamun (Ki Buyutan)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Lamun adalah salah satu Ki Gede Kejiwan, Ia memperistri putri dari Ki Gede Kedongdong sehingga desa Kejiwan dengan desa Kedongdong ada hubungan mertua. Ki Gede Ki Lamun mempunyai 25 anak keturunan yang semuanya menjadi Ki Gede yang tersebar ke berbagai daerah luar desa Kejiwan seperti ada yang berada di Sumber, Bongas, Ligung dan lain-lain. Sedangkan sebagian lagi berada di Kejiwan seperti Ki Gede Kirawuh, Ki Suwala, Ki Gede Sikepel dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Muaji&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Gede Ki Muaji merupakan santri dari Ki Gede Gagarsari, saat Ki Muaji bekerja di sawah (meluku) Weluku yang dia gunakan patah menjadi dua, Ki Muaji mencoba mengganti weluku itu dengan yang baru tetapi Gurunya (Ki Gede Gagarsari) menolak, ia ingin agar welukunya itu kembali seperti semula tidak diganti dengan uang atau dengan yang baru. Hal ini dimaksudkan menguji sejauh mana kemampuan muridnya itu untuk bertanggung jawab dan menunjukkan kemampuan (Kesaktian) kepada Gurunya.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ki Muaji terus berfikir bagaimana caranya agar weluku itu kembali seperti semula, akhirnya dia berpuasa dan menempelkan weluku yang patah itu dengan tanah liat dan mengelus-elusnya sehingga atas izin Allah SWT weluku yang patah itu kembali tersambung seperti semula, dan dari kemampuan inilah Ki Muaji dapat menyembuhkan penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/12/asal-usul-desa-kejiwan.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxGDMDdMbNOVNtzfhB-B1gTF_JWmBMVLq1efpUOWNfPuk4lkj2gqPfUC1kMUWG-LsT_orusCXk0oHSxyMbvTotlINjxtLj8VS9DrdmuSUccUIL4BG6BL9qgNjrosgAFeFMKH48v5MA5vU_/s72-c/IMG20200418105636.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-2048475792649623151</guid><pubDate>Thu, 03 Dec 2020 04:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:04:04.412-07:00</atom:updated><title>ASAL-USUL DESA BUDUR KEC. CIWARINGIN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEC5-QOgf5ohNgxAmrmknt8wq7VQfrswnWDcqLGNIrg_Ec2I3Fum86zieEe-rDfIWh6y8adRruY0t2CPBlGrLuwnoY_E19356wMpU7a_rQKJjWUjAm3tNtvctKo-8ck-ZFkgh-JZr4HLB3/s2048/IMG20200418105646.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEC5-QOgf5ohNgxAmrmknt8wq7VQfrswnWDcqLGNIrg_Ec2I3Fum86zieEe-rDfIWh6y8adRruY0t2CPBlGrLuwnoY_E19356wMpU7a_rQKJjWUjAm3tNtvctKo-8ck-ZFkgh-JZr4HLB3/s320/IMG20200418105646.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;ASAL-USUL DESA BUDUR KEC. CIWARINGIN&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;ecm0bbzt hv4rvrfc e5nlhep0 dati1w0a&quot; data-ad-comet-preview=&quot;message&quot; data-ad-preview=&quot;message&quot; id=&quot;jsc_c_pc&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; padding: 4px 16px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; flex-direction: column; font-family: inherit; margin-bottom: -5px; margin-top: -5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;qzhwtbm6 knvmm38d&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql rrkovp55 a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 d3f4x2em fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v knj5qynh oo9gr5id hzawbc8m&quot; color=&quot;var(--primary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Nama Budur tidak lepas dengan nama Ki Brajanata. Kenapa awalnya bisa begitu?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Brajanata hidupnya ada jaman Prabu Siliwangi, Ki Brajanata tidak pernah hidup menetap, Ki Brajanata senangnya hidup mengembara sesuka hati. Sebenarnya banyak kerajaan yang meminta Ki Brajanata untuk menetap di kerajaannya untuk mengajarkan ilmu kanuragan atau untuk menjadi penasehat Raja Sebab Ki Brajanata itu dikenal sakti mandraguna, badannya besar dan tinggi, kekar dan ganteng (rambutnya lurus hitam panjang, kulitnya sawo matang) dan juga sifatnya bijaksana di seluruh persoalan, dan senang guyon. Ki Brajanata ada yang menawarkan pangkat, jabatan dll cuma tersenyum…dan mengucap terima kasih lalu pergi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Brajanata setiap harinya mengembara mencari pengalaman dan pengetahuan sambil membantu kalau ada rakyat yang tertindas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sampai datang di masanya Syekh Syarif Hidayatullah yaitu cucunya Prabu Siliwangi. Ki Brajanata mulai menetap di salah satu hutan yang beliau sebut dengan nama SURA. sebab waktu pertama menetap di hutan tersebut ada di bulan satu (bulan satu jawa namanya Sura/bulan Islam islam As-Sura) makanya tempat tinggalnya disebut Sura. Ki Brajanata membuat gubug di tepi sumur yang ada kayu malangnya.. Sumur itu di jaman dahulu sebagai tempat mandi dan keperluannya para bidadari yang turun dari kahyangan..(cuma sekarang sumur itu disebut Sumur Kayu Walang).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Disalah satu hari.. Ki Brajanata bepergian.. Ki Brajanata datang di salah satu langgar (langgar / tajug / musholla. Tajug yaitu tempat yang kudu dijugjug. Musholla yaitu tempat sholat), cuma Ki Brajanata tidak mau masuk, inginnya hanya cari pengertian dari luar saja.. dari jauh Ki Brajanata mendengarkan Syekh Syarif Hidayatullah lagi memberikan ceramah/nasehat kepada rakyat Cirebon, membahas masalah syahadat dan sholawat..&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Di dalam langgar tiba-tiba Syekh Syarif Hidayatullah mengucap salam: ”Assalamu’alaikum…Ki..jangan ngaji kuping saja.. silahkan masuk..”&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Rakyat Cirebon yang berada didalam langgar sangat kaget dan heran tiba-tiba Syekh Syarif Hidayatullah mengucap salam dan bicara begitu untuk seseorang? mengucap salam dan bicara sama siapa pikir mereka?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Salah satu Rakyat Cirebon bertanya kepada Syekh Syarif Hidayatullah:”Kanjeng mengucap salam dan bicara dengan siapa? sedangkan yang ngaji sudah ada di dalam semua?”.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh syarif Hidayatullah menjawab:”diluar ada sema/tamu”&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh Syarif Hidayatullah memang insan yang “weruh ing sejeroe Winara”.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;ketika Syekh Syarif berdiri dan mendekati Ki Brajanata.,&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Brajanata tersenyum dan malah cepat cepat lari…&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih Sunan Gunung Djati ikut tersenyum melihat tingkah lakunya Ki Brajanata.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh Syarif Hidayatullah dengan Ki Brajanata sama-sama mengerti… jadi tidak sakit hati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Rakyat Cirebon bertanya kepada Syekh Syarif Hidayatullah:”Kanjeng siapa sejatinya aki-aki gagah mau?”&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh Syarif Hidayatullah menjawab:”Sejatinya aki-aki gagah itu insan BUDUR (artinya Lebih,Linuwih atau bahasa Arabnya Purnama yang menyinari).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mulai saat itu wong Cirebon kalau menyebut tempatnya Ki Brajanata dengan sebutan Budur.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jika anda mengetahui info lebih atau ada kesalahan penulis tentang ini silahkan komen.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;ucapan trimakasi kepada :&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sesepuh cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-warga cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-bpk kastamin blok/rancabolang bringin&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-ustadz juhari blok/tumaritis galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara yunus blok/nagrog galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara sukendar blok/dukumire galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-ustadz abdul rozak blok/dukumire galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara haryanto blok/rancabolang bringin&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara dedi boyeng blok/kebo geyongan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-gus angmung blok/bonde&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4 l82x9zwi uo3d90p7 h905i5nu monazrh9&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore-dynamic&quot; style=&quot;animation-name: none; border-radius: 0px 0px 8px 8px; font-family: inherit; overflow: hidden; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;a8nywdso e5nlhep0 rz4wbd8a ecm0bbzt dhix69tm oygrvhab wkznzc2l kvgmc6g5 k7cz35w2 jq4qci2q j83agx80 olo4ujb6 jmbispl3&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; height: 32px; margin: 0px 16px; padding: 4px 0px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Kirimkan ini kepada teman atau kirimkan di linimasa Anda.&quot; class=&quot;oajrlxb2 bp9cbjyn g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 j83agx80 rj1gh0hx btwxx1t3 pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb lzcic4wl abiwlrkh p8dawk7l buofh1pr k7cz35w2 taijpn5t ms05siws flx89l3n ogy3fsii&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: center; animation-name: none; background-color: white; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; color: #1c1e21; cursor: pointer; display: flex; flex-direction: row; flex: 1 0 0px; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; height: 32px; justify-content: center; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; touch-action: manipulation; transition-duration: var(--fds-fast); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-strong); user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;animation-name: none; border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/12/asal-usul-desa-budur-kec-ciwaringin.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEC5-QOgf5ohNgxAmrmknt8wq7VQfrswnWDcqLGNIrg_Ec2I3Fum86zieEe-rDfIWh6y8adRruY0t2CPBlGrLuwnoY_E19356wMpU7a_rQKJjWUjAm3tNtvctKo-8ck-ZFkgh-JZr4HLB3/s72-c/IMG20200418105646.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-4531076907860482070</guid><pubDate>Wed, 02 Dec 2020 09:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:10:55.591-07:00</atom:updated><title> LEGENDA  SAEDAH-SAENI DAN JEMBATAN KALI SEWO YANG PENUH AURA MISTERI</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw7LY1-bFSULckOo-wTVQRMk6h8SWoMVzSbhdLx-Oks2XoChQVSvONQZv78i5cSOyTgytyVYyh0ff9PpkgkDhDlgUEJwzjDy5g7YG624R0UeMxRgYBE1JYO-beTotXfsby2lYoBr13XmRI/s2048/IMG20191223130327.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw7LY1-bFSULckOo-wTVQRMk6h8SWoMVzSbhdLx-Oks2XoChQVSvONQZv78i5cSOyTgytyVYyh0ff9PpkgkDhDlgUEJwzjDy5g7YG624R0UeMxRgYBE1JYO-beTotXfsby2lYoBr13XmRI/s320/IMG20191223130327.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;LEGENDA  SAEDAH-SAENI DAN JEMBATAN KALI SEWO YANG PENUH AURA MISTERI&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Misteri saidah saeni jembatan sewo sukra indramayu subang &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jembatan Kali Sewo Subang-Indramayu yang angker dan misterius&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jika kita melintasi jalur pantai utara dari Jakarta menuju ke Cirebon, tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sebuah sungai yang tak terlalu besar namun cukup terkenal. Itulah jembatan sungai Sewo atau Kali Sewo, yang sangat legendaris dan begitu dikenal oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat di pesisir utara.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Saat melintas, tentunya kita juga sudah sangat mafhum dengan kehadiran warga yang duduk dan kadang berdiri berjejer disepanjang jalan di sekitar jembatan. Sambil membawa ranting kering, mereka berharap agar para pengendara yang melintasi jembatan ini melakukan ritual tabur uang koin yang kemudian mereka ambil dengan bantuan ranting kering yang sudah disiapkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Apa sebenarnya yang mereka lakukan, dan mengapa pula masih ada saja para pengendara yang melintas kemudian melakukan ritual tabur atau buang uang? Tentunya hal tersebut tak lepas dari keyakinan masyarakat dan sebagian para pengendara yang masih meyakini bahwa ritual tabur koin akan memberi keselamatan pada mereka.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ritual buang uang ini diyakini seiring adanya sebuah kisah tragis yang melatar belakangi keangkeran dan aura mistis yang menyelimuti jembatan tersebut. Dahulu kala di sebuah desa yang diyakini berada di Indramayu, hiduplah sebuah keluarga dari seorang pria bernama Sarkawi beserta istri dan kedua orang anak Saidah dan Saeni. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Suatu ketika, Sarkawi berniat pergi untuk menunaikan ibadah haji. Namun saat diperjalanan, Sarkawi malah tergoda oleh penari ronggeng yang bernama Maimunah. Sarkawi dan Maimunah akhirnya menikah.. Sejak pergi meninggalkan rumah, sudah tujuh bulan lamanya Sarkawi tidak pernah kembali hingga membuat istrinya sakit dan meninggal dunia. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selang beberapa hari sejak istri pertamanya meninggal, Sarkawi mendadak ingin pulang dengan membawa serta Maimunah, istri mudanya. Meski terkejut saat mengetahui istrinya meninggal, namun Sarkawi kemudian tetap memperkenalkan Maimunah istri mudanya pada kedua anaknya, Saidah dan Saeni. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Beberapa hari di rumah, Sarkawi pergi untuk mencari nafkah, sementara Maimunah juga pergi ke pasar. Sebelum pergi, Maimunah berpesan agar beras dan uang jangan dipakai. Namun karena Saeni lapar, akhirnya beras dimasak oleh Saidah kakaknya. Mendapati beras dan uang sudah tiada, sekembali dari pasar Maimunah pun gusar, Saidah dan Saeni kemudian dimarahi dengan kasar.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tak terima dimarahi Saidah dan Saeni memutuskan untuk pergi, namun Maimunah berpura-pura sadar dan meminta maaf pada Saedah dan Saeni. Bermaksud ingin membuang Saidah dan Saeni, Maimunah kemudian mengajak keduanya jalan-jalan ke kota. Saat malam tiba, Maimunah lalu meninggalkan Saidah dan Saeni di tengah hutan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Secara misterius, Saeni kemudian didatang seorang kakek yang memberinya petunjuk bahwa Saeni akan dijadikan penari ronggeng terkenal dan Saidah jadi tukang kendangnya. Namun sebelumnya, Saeni harus mengadakan ritual perjanjian buaya putih. Setelah Saeni menjadi penari ronggeng dan Saedah jadi tukang kendang, hidup mereka pun sangat berkecukupan sampai batas waktu yang ditentukan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Seiring berjalannya waktu, kakek misterius kemudian datang untuk menagih janji, Saeni lalu berubah menjadi buaya putih dan terjun ke kali Sewo. Melihat Saeni berubah wujud, Saidah lalu mengabari orang tuanya di rumah. Tanpa menunggu waktu, Sarkawi dan istrinyanya langsung menuju kali Sewo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sarkawi kemudian terjun ke sungai dan berubah wujud menjadi bale kambang atau balai (sejenis ranjang terbuat dari kayu) yang mengambang di kali Sewo. Maimunah yang juga ikut terjun lantas berubah menjadi pring ori (bambu). Tinggalah Saidah sendirian yang karena merasa lemas dan putus asa ini lantas tertidur dan berubah wujud menjadi bunga cempaka putih.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Secara umum, riwayat Saidah dan Saeni versi tersebut adalah yang paling dikenal oleh masyarakat di pesisir utara Jawa Barat dari Cirebon hingga sebagian wilayah Karawang. Karena kisah inilah kemudian ada ritual &#39;buang uang&#39; atau disebut juga tambangan dalam istilah setempat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Meski demikian, ada juga yang menyebut bahwa ritual tebar koin atau buang ini adalah untuk memberi saweran pada Saidah dan Saeni. Dimasa lalu, diyakini Saidah dan Saeni ini selalu mementaskan seni Ronggeng dengan Saidah sebagai penabuh kendang. Mereka selalu menampilkan kesenian tradisional ini di pinggir jalan di sekitar jembatan kali Sewo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ritual buang koin ini juga makin diyakini oleh masyarakat sekitar saat ada sebuah bus mengalami kecelakaan di jembatan kali Sewo. Bus yang membawa rombongan transmigrasi pertama asal Boyolali, Jawa Tengah ini kemudian terbakar dan menewaskan 67 orang penumpangnya pada 11 Maret 1974. Hanya tiga yang selamat dan kesemuanya adalah anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selain siluman buaya putih atau kisah Saidah dan Saeni, ritual buang uang juga dikait-kaitkan dengan sosok Kuntilanak yang menunggui jembatan ini. Konon, semua mahluk halus yang ada tidak akan mengganggu jika para pelintas melempar uang. Masyarakat juga sangat meyakini bahwa yang meminta atau menyapu uang di sekitar jembatan ini salah satunya adalah jelmaan mahluk halus penghuni kali Sewo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tidak jelas kapan ritual buang ini mulai berlangsung namun sebagian besar warga meyakini buang uang sudah ada sejak jaman Belanda. Cukup banyak warga yang berusia 70 tahun lebih namun mengaku sering melihat kakeknya membuang uang saat melintasi jembatan Sewo. Saat ia bertanya, kakeknya juga menjawab bahwa hal itu sudah ada sejak lama. &quot;Buang uang di Sewo sudah ada sejak kakek saya masih anak-anak,&quot; ujar Rusta, seorang warga Sewo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kisah mistis di jembatan Sewo juga makin mengental saat kesenian tradisional Tarling sering mementaskan kisah ini di awal tahun 1980-an. Terlebih, suasana saat itu masih terbilang sepi dan tak seramai seperti sekarang yang tentunya membuat cerita mistis di jembatan Sewo terdengar cukup menakutkan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kiser Saidah dan Saeni, adalah salah satu kisah yang begitu populer dan melatar belakangi cerita misteri di kali Sewo ini. Hal itulah yang membuat ritual buang uang tetap diyakini dan malah makin banyak warga yang kini ikut &#39;menunggui&#39; jembatan untuk mengais rezeki. Meski demikian, makin banyaknya warga yang mengais rezeki di jembatan ini sangat mungkin adalah karena faktor ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jika melintas di jembatan ini, sebaiknya anda tetap berhati-hati karena menurut legenda salah satu dari mereka bukanlah manusia. Salah satu dari mereka bisa saja berasal dari golongan Jin dan Syaitan yang dalam kitab suci disebutkan bahwa Jin dan Syaitan memang bisa menyerupai manusia. Salah satu dari mereka bisa saja mengganggu atau bahkan mengikuti &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/12/legenda-saedah-saeni-dan-jembatan-kali.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw7LY1-bFSULckOo-wTVQRMk6h8SWoMVzSbhdLx-Oks2XoChQVSvONQZv78i5cSOyTgytyVYyh0ff9PpkgkDhDlgUEJwzjDy5g7YG624R0UeMxRgYBE1JYO-beTotXfsby2lYoBr13XmRI/s72-c/IMG20191223130327.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-2426787483297879189</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:15:50.176-07:00</atom:updated><title>ASAL-USUL DESA TANGKIL / nambo CIREBON</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAYaBnEVNznS9iYbcRRpFPVyM9d-I2qKU27706eFzEwB3LNgblw832cWuuxzvyvFd8kUsfpmHy-tE4OIJzAVtyxJel8mvxeXTGbqudt2yoUp1HdcE4eaRg9c6GhCpBdMbiufSvafyDpLlK/s2048/IMG20191223125240.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAYaBnEVNznS9iYbcRRpFPVyM9d-I2qKU27706eFzEwB3LNgblw832cWuuxzvyvFd8kUsfpmHy-tE4OIJzAVtyxJel8mvxeXTGbqudt2yoUp1HdcE4eaRg9c6GhCpBdMbiufSvafyDpLlK/s320/IMG20191223125240.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;ASAL-USUL DESA TANGKIL / nambo CIREBON&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Tangkil  adalah salah satu desa dikecamatan Susukan Kabupaten Cirebon yang letaknya paling barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka, Desa Tangkil meliputi blok-blok (Cantilan) antara Nambowetan dan Pucukmendil, pada jaman dahulu Desa Tangkil lebih dikenal Desa Nambo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sekitar awal abad XVI, waktu Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati dan para wali Songo membangun Masjid Agung Shang Cipta Rasa di Kraton Cirebon, kala itu kekurangan kayu jati sebagai bahan atap (jawa = sirap) dan tihang (Jawa = Soko). Kanjeng Sinihun Sunan Gunung Jati menugaskan beberapa santri, pinangeran dan gegeden untuk mencari pohon jati, tak lama kemudian rombongan itu berangkat kearah barat, dalam rombongan tersebut ada seorang yang sakti berilmu tinggi berasal dari lereng gunung Ciremai bernama Ki Ageng Mangun Arsa, sesampainya di perbatasan wilayah kerajan Galuh, rombongan tersebut berhenti terkesima melihat pohon jati yang menjulang tinggi mencakar langit (jawa = sundul langit).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah istirahat sejenak, mereka menebang pohon jati yang tumbuh sendirian (jawa = Jati nunggal) dengan parang, kapak (jawa = wadung) dan alat tebang lainnya, anehnya pohon tersebul tidak bisa ditebang begitu saja, saking besarnya pohon jati, ketika para santri, Kiageng dan para wali menebaskan parang atau kepaknya kepohon jati tersebut ternyata rapat seperti semula bagaikan air yang dibelah, akhirnya karena merasa kelelahan dan kewalahan tidak ada hasil, mereka beristirahat untuk menginang (meracik sirih dan gambir) sebagai pengganti rokok dengan cara di tumbuk diatas batu besar, saking seringnya istirahat untuk menumbuk sirih dan gambir, batu besar tersebut menjadi berlubang, sampai sekarang tempat itu dinamakan Watulumpang (Batu Berlubang) sampai sekarang masih di lestarikan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;*asal usul nambo&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam situasi kebingungan mereka melihat Ki Ageng Mangun Arsa yang menyendiri lalu mereka meminta agar Ki Ageng Mangun Arsa berbuat sesuatu karena ia diduga yang dapat mengatasi masalah tersebut, mereka rame-rame bicara “jangan pura-pura diam dan tidak mengerti, andakan orang sakti, orang pintar, pura-pura bodo (jawa = nambong)” mereka saling bicara “hoyo jangan nambong” sejak itu Ki Ageng Mangun Arsa di beri nama Ki Nambong/Ki Nambo, karena merasa kasihan Ki Nambo mencoba membantu orang (jawa = bela uwong ) untuk menebang pohon jati nunggal tersebut, beliau segera bersemedi sejenak sambil membaca mantra sambil sila (jawa = sinuku tunggal) kapat kalima pancer dan indra ke emamnya mencoba mengguak dan menerobos ke alam gaib ternyata pohon jati nunggal itu dihuni oleh ratusan bangsa gendoruwo dan siluman, Ki Nambo berusaha menemui juragannya dan memohon agar semuanya pergi dari pohon itu namun juragan siluman itu menolaknya sehingga menjadi perang mengadu kesaktian di alam gaib, tubuh Kinambo bergetar hebat sambil bibirnya berkomat kamit membaca do’a dan mantra, karena sama saktinya mereka lalu berunding, siluman penghuni jati nunggal tadi mau meninggalkan pohon jati nunggal itu dengan syarat minta korban atau tumbal seorang manusia (jawa = bela uwong), tumbalnya seorang perempuan yang hamil muda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo menolak permintaan siluman itu, Ki Nambo hanya bersedia memenuhi persyaratan asal jangan mengorbankan manusia, juragan gondorwo minta persyaratan lain, minta di kasih sesajian nasi beras merah, lauknya bodo, ikan petek, tempat makannya dari tempurung kelapa, minumnya dugan kelapa hijo dan minta dihibur dengan penari ronggeng berikut gamelannya.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo menyanggupi persyaratan itu lalu segera menyiapkan sesajian apa yang diminta oleh para dedemit dan siluman tersebut, kebetulan tidak jauh dari tempat itu ada ronggeng ketuk tilu dari daerah Tuban yang sedang melakukan pementasan (jawa = tejalaku) bebarang/ngamen, dengan penarinya seorang wanita cantik yang sakti dengan memakai busana selendang lokcan, beliau bernama Nyi Lamsi dengn juru gendangnya bernama Ki Arya Sadiyang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;*asal usul blok balong dan blawong&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Upacara ritual sergera di laksanakan dengan kepulan asap dupa sambil membakar kemenyan dan sesajian serta di barengi dengan gamelan dan tarian ronggeng ketuk tilu, dengan kibasan selendang lokcannya Nyi Lamsi, para siluman satu–persatu meninggalkan pohon jati nunggal tersebut, dengan kepulan asap yang begitu hebatnya lalu munculah seorang wanita cantik yang sedang hamil muda yang tidak tahu asal-usulnya melintas dibawah pohon jati nunggal tersebut, pohon jati tumbang seketika menghantam tanah sangat keras sampai berlubang menjadi kubangan air (jawa = balong) dan tempat itu dinamakan blok balong, dahan rantingnya berantakan kemana-mana, sejak kejadian itu setiap nama desa yang terdapat kata jati berarti petilasan dari Desa Tangkil/Nambo seperti, Desa Jatitujuh,Desa Jatianom,Desa Jatipura dan jati nunggal yang meminta tumbal/bela uwong tempat itu diberi nama blok blawong.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah tumbangnya jati yang berada diblok blawong itu diangkatlah oleh beberapa kiageng dan pinangeran dengan ilmu kesaktiannya bagaikan terbang, dibawah ke Kraton Cirebon, sedangkan Ki Nambo memilih menetap di tempat itu bertekat untuk membabat dan membakar hutan yang akan dijadikan pedukuhan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;*asal usul nama blok di tangkil&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo permulaan/babak sengka/babak kiasa membabat dan membakar hutan di awali dari bekas jati blawong atau blok blawong terus ke lokasi di temukannya batu berlubang atau blok watulumpang, terus ke blok kayu lawe (lokasi yang tumbu rerumputan menjalar bagaikan  benang kusut) di hutan itu ada pematang tinggi (jawa = galeng duwur) dibatasi kedua sisi empang (jawa = gombang) tempat itu di beri nama blok galeng duwur dan blok gombang baris(selokan berjajar dua) sampai kearah barat dinamakan blok kesur.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Keesokan harinya Ki Nambo membabat ke arah timur melewati huan melinjo (Sunda = Tangkil), waktu membabat semak blukar Ki Nambo kakinya terperosok (jawa = keblosok) kelubang kecil berair (jawa = bilik) tempat itu di sebut blok sumur kasok, akibat terperosok kaki Ki Nambo terkilir (jawa = kesleo) jalannya terseak-seok bagaikan orang lumpuh (jawa = Gepor), tempat itu di beri nama blok Sigepor, Kemudian melangkah kearah timur bekas tempat berganti busana ronggeng Nyi Lamsi di sebut blok lamsi yang sebelah timurnya di aliri air sungai kecil (jawa = wangan) dan tempat itu namakan blok wangan gede/solokan besar, kearah timur lagi banyak pepohonan kemiri dinamakan blok kemiri, saat membabat hutan kemiri tesebut Kinambo dikejutkan oleh suara burung hantu (burung kokok beluk) dan tempat itu dinamakan blok kokok beluk, terus kearah utara blok sayar, disana banyak tumbuh kamijara/sereh dinamakan blok sere, disana semak belukar tumbuh subur (jawa = mregu) dinamakan blok megu, Ki Nambo terus melangkah sambil membakar dan membabad pepohonan ketemu dengan anak sungai, diatasnya ada sisa dahan jati dinamakan blok wangan jati, terus sambil menyusuri anak sungai tersebut bertemu dengan muara sungai disitu ada kubangan air yang paling dalam (jawa = kedung) karena merasa panas Ki Nambo bermaksud akan mandi tapi tiba-tiba turun hujan disertai suara petir (jawa = kilap) olehnya tempat itu di beri nama kedung sigelap.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo sudah dua minggu membabat hutan, butuh tempat tinggal (Parsinggahan) sebagai tempat istirahat diwaktu malam hari, dipilihnya lokasi dekat blok Karangnyongat, beliau membuat pesanggrahan dan tempat itu sampai sekarang dinamakan blok pesanggraha.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Keesokan harinya setelah mandi di kedung si gelap Ki Nambo menotor/membabad pohon singkil = blok singkil, di tempat lain banyak pohon ke dingding dinamakan blok kedingding, terus kebarat blok tingkem, terus kearah selatan Ki Nambo merasa lapar memakan buah jamblang (jawa = duwet) di tempat itu di berinama blok Siduwet, terus ke blok boni, terus ke blok wesel tak jauh dari situ tanahnya sangat liat (jawa = lempung) blok Silempung, terus kearah utaranya ada kubangan air yang banyak ikannya di sebut blok Dukuhlele.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Hari berikutnya Kinambo membabat hutan  kearah barat laut atau sebelah barat tempat pohon jati semula berdiri dinamakan blok Kamulyan sebagai tempat kesaktian kala itu, disana ada hutan kecil (jawa = alas cilik) dinamakan blok alas cilik yang dipenuhi pohon cengkudu/pace tempat itu dinamakan blok Pecealas, terus ke utara ada tanah tegalan penuh ditumbuhi pohon pacing, tempat itu di beri nama tegal pacing, kearah utara menebang pohan plasa dinamakan blok plasa, karena sangat lelah Ki Nambo tertidur pulas, begitu bangun sudah malam, Ki Nambo membuat perapian dari pohon dan daun bambu (jawa = blukbukan) untuk mengusir hawa dingin dan binatang buas tempat itu di beri nama blok Blukbuk, pada pagi harinya Ki Nambo pergi kearah barat ada pohon aren dan diambil daunnya untuk merokok = blok Cikawung, terus kearah selatan dekat parit tanahnya kuning ke merah merahan cocok buat membuat ampo = blok Pengampon, di tempat itu bagaikan tempat kosong (jawa = karang suwung ) dinamakan blok karang suwung dan sersebelahan dengan tanah bercadas bagaikan baja disebut blok maja, terus kearah barat daya cuma ada pohon jati saja blok itu danamakan jati mentil, Ki Nambo menemukan tanah legalan di penuhi pohon serut = blok Serut, blok Sara, blok pendoga, blok buyut, blok timbangan, dan lain lain,&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada suatu hari Ki Nambo memasuki hutan yang tanahnya datar dan subur yang sangat cocok di jadikan pedesaan, di tempat itu banyak pohon melinjo (sunda = tangkil) tempat itu di beri nama blok Tangkil.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Hari-hari berikutmya Ki Nambo mengelilingi hutan yang pernah Ki Nambo babat kearah barat beliau bertemu dengan seorang gadis cantik bertubuh montok bernama Nyi Laradenok dari pendukuhan Cidenok, beliau berkenalan dengan gadis dari pedukuhan Cidenok, setelah lama ngobrol  Nyi Laradenok berpamitan pulang ke Cidenok.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo terbayang-bayang wajah gadis cantik Laradenok namun dia sadar dirinya sudah beristeri yang telah lama ditinggalkan dan bertekad tidak akan menghianati cintanya, maka beliau menjemput isterinya di lereng gunung Ciremai dan dibawa di pesanggerahan diblok Nambowetan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Nambo dan Nyi Nambo hidup rukun mulai bercocok tanam padi gaga dan palawija, untuk memenuhi kehidupan sehari hari memerlukan air, Ki Nambo mencari mata air kesana kemari sampe lelah belum menemukan, lalu istirahat di bawa pohon eloh, tiba-tiba di samping ada sumur kecil (jawa = blik) sumurnya sangat deras dan airnya sangat jernih di beri nama sumur eloh, kejadian itu di sampekan pada isterinya, pada saat Ki Nambo membabat hutan hawanya sangat panas, melihat di bawa pohon lamaran ada kubangan air, Ki Nambo mandi, sumur itu di beri nama sumur lamaran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah Nambowetan menjadi pedukuhan banyak orang-orang yang ikut magersari menjadi warganya Ki Nambo dan Ki Nambo sebagai sesepuh pedukuhan, para pendatang itu diantaranya:&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;– Nyi Ronggeng Lamsi dan nayaganya Ki Arya Sadiyang dari wilayah Tuban&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;– Ki Mastiyem dan Nyi Ketong isterinya dari Tarikolot&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;– Nyi Rangda Druis dari wilayah Budur&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;– Ki Singanala bekas abdi dalem Kerajaan Pajajaran dan isterinya Nyi Kedong&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;*asal usul blok pucumendil / pucuk pendil&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebagai sesepuh pedukuhan Ki Nambo ingin menguji ke setiaan, ilmu pengetahuan dan ilmu kedikjayaan yang di miliki oleh pendatang dan pengikutnya khususnya Ki Singanala, Ki Nambo meminta Ki Singanala meneruskan membabat hutan di sebelah barat untuk di jadikan lahan pertanian, karena letaknya jauh dari pedukuhan, di beri bekal beras, lauk pauk dan pendil atau alat nanak nasi dari tanah. Ki Singanala dan Nyi Kedong isterinya segera berangkat, sesampainya di tempat tujuan Ki Singanala segera membabat hutan, Nyi Kedong yang menanak nasi di Pendil (jawa kuno = mendil), sedangkan untuk sayurannya mencari uceng (pucuk daun melinjo/tangkil), tempat memasak sayur pucuk daun melinjo dan menanak nasi di pendil di beri nama blok Pucumendil (pecantilan desa Tangkil).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;*blok sukaloro&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah selesai pulang ke pedukuhan Ki Nambo, Ki Singanala di minta untuk menumbuk padi gaga, Ki Singanala berangkat, ditengah perjalanan bertemu Nyi Ronggeng Lamsi setelah berkenalan terus melanjutkan perjalanan ketempat padi gaga sambil terdayang-bayang wajah Nyi Lamsi, Ki Singanala jatuh cinta pada Nyi Lamsi. Setelah sampe di tempat padi gaga Ki Singanala membuat gubug ranggon dengan bertihang dua dari kayu jati, tempat itu dinamakan blok Sakaloro untuk menyadarkan tubuh Ki Singanala sambil membayangkan wajah Nyi Lamsi, sejak itu Ki Singanala malas bekerja. Setiap berangkat ke sawah selalu memanggul cangkul di bahunya tetapi tidak perna di cangkulkan sampe cangkulnya nambah kecil (jawa = gerang) sendiri di panggul-panggul saja, ketika Ki Singanala yang malas bekerja oleh Ki Nambo di beri Nama Ki Gerang Sinanggul.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Gerang Sinanggul dipanggil Ki Nambo diajak bicara sambil mencoba ilmunya, Ki Nambo berkata “Biasanya kalau ada air pasti ada ikan, benar tidak menurutmu”  Ki Singanala atau Ki Gerang Sinanggul menjawab “benar” Ki Nambo berkata lagi “kalau begitu ambilkan buah kelapa dari pohonnya, dan pecahkan ikannya ada tidak?”, Mendengar perkataan Ki Nambo, Ki Singanala sadar bahwa dirinya sedang diuji kesaktiannya, lalu beliau mengibaskan tangannya, buah kelapa itu jatuh dan dipecah dihadapan Ki Nambo, dan didalam buah kelapa itu ada ikannya dan ikan tersebut masih hidup, lalu Ki Nambo meminta agar Ki Singanala segera mengisi, paso/wajan besar yang terbuat dari tanah (Jawa = goseng) oleh Ki Singanala segera diisinya, namun keruh airnya banyak lumpurnya (Jawa = endut) Ki Nambo bicara “biasanya kalau ada endut pasti ada belut” Ki Singanala segera menepuk-nepuk gosang tersebut, seketika itu juga gosang tersebut penuh dengan belut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebagai sesepuh yang mengatur pedukuhan Ki Nambo meminta agar Ki Singanala atau Ki Gerang Sinanggul mengolah sawah diblok gombang baris, untuk segera ditanami karena musim penghujan, Ki Singanala menerimanya sebagai kawula atau bawahan tapi Ki Singanala memohon agar Ki Nambo menyiapkan nasi dan lauk pauk untuk makanan seribu orang pekerja, Ki Nambo terkejut mendengar ucapan Ki Singanala yang akan mempekerjakan seribu orang, “dari mana”, Gumam dalam hati Ki Nambo, karena penasaran permohonan Ki singanala disetujui.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Nyi Nambo dibantu Nyi Ketong dan Nyi Druis memasak nasi untuk seribu orang, sekitar lima dacin atau tiga kwintal beras, setelah memasak nasi, sayur dan lauknya dibawah ke sawah sampai beberapa pikul. Sesampainya disawah tidak ada pekerja seorangpun, disitu Cuma ada Ki Singanala yang sedang duduk-duduk melamun, hal ini membuat Nyi Nambo dan para pembantunya marah, Nyi Nambo menanyakan kepada Ki Singanala “mana para pekerjanya dan untuk makannya siapa, nasi segitu banyaknya” dijawab Ki Singanala “Pokoknya Nyai besok siapkan orang untuk nanam padi pasti semuanya akan beres”, Kejadian ini disampaikan pada Ki Nambo, beliau dan istrinya berangkat ke sawah, di sana tidak ada orang bekerja dan belum ada yang dikerjakan oleh Ki Singanala, Ki Nambo kecewa sekali melihat Ki Singanala, Cuma duduk melamun, dengan hati yang marah Ki Nambo menancapkan dua batang pohon jarak gundul, sambil membaca mantra lalu Ki Nambo dan Nyi Nambo menghilang dari hadapan Ki Singanala kembali ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Melihat sesepuh panutannya kecewa dan kelihatan marah, Ki Singanala segera bangkit, membaca mantra mengundang para jin, setan dan siluman taklukkannya disuruh memakan semua nasi, sayur dan lauk-pauknya sampai habis, malam harinya Ki Singanala dengan bantuan para jin, setan dan para siluman taklukkannya meyangkul sawah blok Gombang Baris dan saluas 116 bau atau kurang lebih 81 Ha, dengan waktu semalam selesai di cangkul dan besok siap untuk ditanami, Kemudian pagi harinya Ki Singanala melapor kepada Ki Nambo dan Nyi Nambo, bahwa sawahnya selesai di cangkul siap untuk ditanami.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Karena penasaran Ki Nambo dan Nyi Nambo pergi ke sawah, melihat laporan Ki Singanala, Sesampainya di sawah ternyata benar sudah siap ditanami, tapi beliau mencari Ki Singanala kesana- kemari tidak ada, dibawah beliau hanya ada tiga ekor keyong, karena tidak ada orang yang diajak bicara, maka Ki Nambo berbicara dengan ketiga keyong tersebut dan berpesan supaya menjaga tanaman padinya jangan sampai kena gangguan hama atau panyakit, seperti halnya kamu menjaga rumahmu yang selalu kau bawa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ketiga keyong tadi sebenarnya penyamaran dari Ki Singanala, Nyi Kedong dan Nyi Lamsi, yang di ciptakan berubah wujud oleh Ki Singanala yang ingin tahu bagai mana reaksi Ki Nambo dan Nyi Nambo.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah pedukuhan Nambowetan banyak penduduknya, mereka membuat masjid dan bedug yang terbuat dari pohon sidaguri, setiap waktu dluhur bedug itu dibunyikan (ditabuh=Jawa), suara budug tersebut terdengar sampe keraton Cirebon, “Konon katanya kulit yang dibikin buat bedug berasal dari kulit Manusia” akhirnya pihak keraton mangutus penangeran dan para santrinya untuk mengambil bedug sidaguri di Desa Nambowetan untuk dibawa ke Keraton Cirebon dan sebagai penggantinya bedug dari Keraton Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Masjid Tangkil mulai di perbesar juragan Mail dan Lebe Usman&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sampe wafatnya, Ki Mangun Arsa/Ki Nambo, Nyi Nambo, Ki Sanganala/Ki Gerang Sinanggul, Nyi Kedong, Ki Mastiyem, dan Nyi Ketong di makamkan di kramat buyut Nambo, pecantilan Nambowetan, sedangkan Nyi Druis dan Nyi Lamsi di makamkan di tempat sendiri masih di wilayah Desa Tangkil Kecamatan Susukan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;PERPINDAHNYA PUSAT SEMERINTAHAN&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;DARI NAMBOWETAN KE BLOK TANGKIL&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada jaman dahulu pusat pendudukan/pedasaan di Nambowetan, setela jaman penjajah Belanda, sekitar tahun 1770, di sekitar Nambowetan oleh pemerintah  penjajah belanda di tanami tebu dan di pasang rel kereta (Gotrok Setum) untuk pulang pergi gotrok mengangkut tebu sehingga desa itu terkesan sepi dan terganggu gotrok pengangkut tebu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada abad itu juga pemerintahan penjajah Belanda, sebelum perang kedongdong membuat jalan tembusan dari prapatan majalengka melewati blok Tangkil sampe ke Jatibarang Indramayu, dengan adanya jalan besar maka blok Tangkil menjadi rame, sejak itu pemerintahan pusat dari Desa Nambo di pindah ke Blok Tangkil berganti nama Desa Tangkil yaitu pada jaman sebelum Lurah/Kuwu Ki Ganisem yang meliputi pecantilan blok Nambowetan dan Pucukmendil, Kantor Pemerintahan Desa Tangkil dibangun sekitar tahun 1921.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Adat Desa Tangkil yang  masi berlaku : Unjungan, Mapag Sri, Sedeka Bumi, Muludan, bubur sura, maleman, safaran, Nglangkahi dan pegat jantung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Benda cagar budaya: Lesung si blawong, Watu lumpang, Sakaloro dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Nama-nama Lurah/Kuwu/Kepala Desa Tangkil yang diketahui :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;a)      Ki Nambo/ Ki Mangun Arsa               : Th.1550 ……………………..&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;b)      Kuwu Ganisem                                   : Th 1808 – (Jaman Perang Kedongdong)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;c)      Kuwu Belong                                      : Th. 1886 – 1906&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;d)     Kuwu Sarwangi                                  : Th. 1906 – 1921&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;e)      Kuwu Kawan / Kuwu Blenduk          : Th. 1921 – 1934 (Penemu Lesung Siblawong)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;f)       Kuwu Suminta                                    : Th. 1934 – 1937&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;g)      Kuwu Ratijah B. Jarmina                    : Th. 1937 – 1964&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;h)      Kuwu H. Moh. Toyib Ratiya              : Th. 1964 – 1979&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;i)        Kepala Desa Mukid Priyadi                : Th. 1979 – 1989&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;j)        Pjs. Kepala Desa Nasika                     : Th. 1989 – 1990&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;k)      Kepala Desa H. Asmu’i Aminudin     : Th. 1990 – 1999&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;l)        Pjs. Kades Ajat Munajat                     : Th. 1999 – 2000&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;m)    Pjs. Kades Edi Warsiyadi MS.           : Th. 2000 – 2001&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;n)      Pjs. Kades Taukhid                             : Th. 2001 – 3 bulan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;o)      Kuwu Furqon                                      : Th. 2001 – 2011&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;p)      Pj. Kuwu Taukhid                               : Th. 2011 – 2012&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;q)      Kuwu Sanija                                       : Th. 2012 – 5 Januari 2013&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;r)       Pj. Kasmi (Istri Kuwu Sanija)             : Th. 2013 – s/d sekarang&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jika anda mengetahui info lebih atau ada kesalahan penulis tentang ini silahkan komen.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;ucapan trimakasi kepada :&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sesepuh cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-warga cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-bpk kastamin blok/rancabolang bringin&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-ustadz juhari blok/tumaritis galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara yunus blok/nagrog galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara sukendar blok/dukumire galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-ustadz abdul rozak blok/dukumire galagamba&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara khidir blok/karanganyar penguragan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara dedi boyeng blok/kebo geyongan&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara gus angmung blok/bondet&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-sodara haryanto blok/rancabolang bringin&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/asal-usul-desa-tangkil-nambo-cirebon.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAYaBnEVNznS9iYbcRRpFPVyM9d-I2qKU27706eFzEwB3LNgblw832cWuuxzvyvFd8kUsfpmHy-tE4OIJzAVtyxJel8mvxeXTGbqudt2yoUp1HdcE4eaRg9c6GhCpBdMbiufSvafyDpLlK/s72-c/IMG20191223125240.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-2783143656450248042</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:16:58.038-07:00</atom:updated><title>Asal Usul Desa Kedawung</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOkZYG1Ik9Wew7OXOe4FxdosrCEbJxQ4STIUPM_ozvpFKtS_AE9OY7GC7-rLJ_JtOWt6YeQLm4TdFs6gJ6fseLi0Jc5gtjTPzmoNaOh_GgLb4zCVVhOPRiF_hxnGBxDqTehtYUtIN-5VZI/s2048/IMG20191223133732.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOkZYG1Ik9Wew7OXOe4FxdosrCEbJxQ4STIUPM_ozvpFKtS_AE9OY7GC7-rLJ_JtOWt6YeQLm4TdFs6gJ6fseLi0Jc5gtjTPzmoNaOh_GgLb4zCVVhOPRiF_hxnGBxDqTehtYUtIN-5VZI/s320/IMG20191223133732.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Asal Usul Desa Kedawung&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Diperkirakan pada abad ke-XV berdirinya Kerajaan Cirebon, perkembangan Agama Islam yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati begitu berat sehingga tidak heran apabila dari berbagai penjuru berdatangan ingin berguru belajar Agama Islam pada Sunan Gunung Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Disitu para santri di didik menimba ilmu, baik lahir maupun batin. Dan setelah dianggap cukup menguasai ilmunya, maka para santri diberi beban dan tanggung jawabnya untuk menjadi seorang guru di daerah atau padukuhannya masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada sebuah padukuhan yang dipimpin oleh Ki Demang Martapura dan Ki Demang Rengas Papak masyarakatnya subur makmur. Karena dirinya merasa berjasa maka timbullah hati yang busuk, dan dalam mengemban tugas, ia mengatur dengan seenaknya tanpa memperhatikan kepentingan umum dan perasaan orang banyak.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada suatu saat, Ki Demang Martapura dan Ki Demang Rengas Papak menghadap kepada Sunan Gunung Jati, maksud dan tujuannya agar mereka diberi suatu jabatan yang lebih tinggi dalam pemerintahan. Tapi sayang, harapan tersebut kandas, karena Sunan Gunung Jati memberikan jabatan hanya untuk mengurus kuda. Keduanya dengan sangat terpaksakarena tugas tersebut sangat bertolak belakang dengan keinginannya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sesungguhnya Sunan Gunung Jati mengujinya, sampai dimana kejujuran dan tanggung jawab tersebut. dalam hati kecil Ki Demang Rengas Papak sangat menyesal (keduhung) kalau begini maka tak usah meminta jabatan yang lebih tinggi lagi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;” Hai,, Ki Demang Martapura, awak ira aja grubug jare manira sanggup nglakoni apa kang den parentah. Wak ingsun angaweruhi ta sira minangka pingpinan pedukuhan. Ingsun ugah weru yen ta sira iku sing babad alas. Ananing kanggo dadi pingpinan, ora cukup tudang tuding kewala, tangga tonggo, yen mengkonon cara nira jadi pemingpin, sira tan bakal tinemu derajat kang genja, during ngrasakan wis ilang sarie lan sira mengko keduhung ning buri manira kinon angurus jaran, kang den pamrih sira bias rumasakaken jembangane ati wong cilik, wis saiki aja keduhung ” ujare Sunan Gunung Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Terjemahannya :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;” Hai,, Ki Demang Martapura, engkau jangan berdusta. Katanya kau sanggup melaksanakan apa yang pernah ku perintahkan. Aku mengetahui, kamulah pemimpin pedukuhan, dan aku pun tau jika engkaulah yang membuka hutan ini. Akan tetapi untuk menjadi pemimpin, tidak cukup tuding-tuding saja, menunggu-nunggu. Andaikan caramu memimpin demikian, mustahil engkau akan berhasil, tidak akan merasakan hasilnya, dan juga akan menyesal dikemudian hari, oleh sebab itu aku beri tugas memelihara kuda, agar kamu merasakan bagaimana hati sanubari orang kecil, rakyat kebanyakan. Nah sekarang kamu tidak usah menyesal, ” ucap Sunan Gunung Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pesan ini sangat berbekas dihati Ki Demang Martapura dan Ki Demang Rengas Papak. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti waktu lalu, maka Kanjeng Sunan Gunung Jati memerintahkan mereka untuk kembali ke pedakuhannya. Dan keduanya kembali menata pedukuhannya dengan baik sesuai pesan yang dituturkan Sunan Gunung Jati. Setibanya di pedukuhan, mereka memberi nama pedukuhannya Kedawung, dari kata keduhung (menyesal).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ada juga nama Pilangsari (hilang sarinya) , blok yang ia beri nama si grubug, dari kata grubug (bohong), tonggoh dari kata tangga-tonggo, genja (keberhasilan), paltuding dari kata tudang-tuding (main tunjuk), jimbangan dari kata jembangan ati (hati sanubari), cara yang arif untuk mengingat pesan yang dapat merubah kelakuan yang buruk. Pesan inipun kiranya ingin selalu beliau wariskan kepada generasi ke generasi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Demang Rengas Papak atau Ki Gede Kedawung meninggal di Jungjang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Kedawung secara admistrative dibagi menjadi dua desa yaitu Kedawung dan Pilangsari, pada tahun 1984. Desa Kedawung memiliki jumlah penduduk 5.253 Jiwa dengan Luas wilayah 46.965 Ha.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jika anda mengetahui info lebih atau ada kesalahan penulis tentang ini silahkan komen.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/asal-usul-desa-kedawung.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOkZYG1Ik9Wew7OXOe4FxdosrCEbJxQ4STIUPM_ozvpFKtS_AE9OY7GC7-rLJ_JtOWt6YeQLm4TdFs6gJ6fseLi0Jc5gtjTPzmoNaOh_GgLb4zCVVhOPRiF_hxnGBxDqTehtYUtIN-5VZI/s72-c/IMG20191223133732.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-6510271011002547668</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:17:56.752-07:00</atom:updated><title>SEJARAH ASAL USUL NASI JAMBLANG</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAG5fueHNh8CG34TVzGVcuCyGn5Mh7jAZ1_G_VkPn7ql2d-ohzV9BFw8jLtsCiJdi2eTA5f0hPYVilCpd58woTr65S0PIa6WO9yb0Fbb5Cze36DtGq8ldzUMOamOoiww7YWQU08BZDJQOX/s2048/IMG20191223133747.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAG5fueHNh8CG34TVzGVcuCyGn5Mh7jAZ1_G_VkPn7ql2d-ohzV9BFw8jLtsCiJdi2eTA5f0hPYVilCpd58woTr65S0PIa6WO9yb0Fbb5Cze36DtGq8ldzUMOamOoiww7YWQU08BZDJQOX/s320/IMG20191223133747.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;SEJARAH ASAL USUL NASI JAMBLANG&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam bahasa Cirebon Nasi disebut Sega. Percis dan hampir sama dengan bahasa Jawa &quot;Sego&quot;. Sega Jambalang merupakan satu dari sekian makanan khas orang Jamblang. Dan karena Jamblang ini salah satu desa yang terletak di Cirebon, maka untuk kemudian Sega Jamblang dimasukan dalam kekayaan kuliner Cirebon, maka tak heran jika Sega Jamblang sekarang dijadikan sebagai salah satu makanan Khas Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Berdasarkan penjelasan di atas kemudian dapat dipahami bahwa pada dasarnya Sega Jamblang merupakan suatu jenis masakan dalam bentuk nasi yang berasal dari desa Jamblang. Menurut sumber oral yang didapat dari para sepuh desa Jambalang. Pada mulanya Sega Jamblang muncul bersamaan dengan kejadian kerja paksa pembuatan jalan raya Trans Jawa pada masa penjajah Belanda (Belanda Yang dimaksudkan Adalah Belanda di Bawah Jajahan Perancis).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam sejarah, disebutkan pembangunan jalan raya sepanjang 1000 Km lebih itu Dirancang dan digulirkan oleh Gubernur Hindia Belanda ke 36 yang bernama Deandles, pembuatanya dilakukan dari tahun 1808-1811 Masehi, yang mana tujuan utamanya untuk mempercepat arus perjalanan antar Kota dalam pulau Jawa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jalan Raya Trans Jawa yang dibangun Deandles melewati Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Oleh sebab itulah pada masa pembangunan jalan Trans Jawa (Anyer-Panarukan) tersebut melibatkan ribuan rakyat Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Demi mencapai cita-citanya dalam pembangunan jalan tersebut Deandles mempergunakan segala cara dari yang semula para pekerja diupah dengan ala kadarnya kemudian diterapkan kerja paksa ketika anggaran telah habis.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dicirebon sendiri, akibat kerja paksa tersebut mengakibatkan banyak para pekerja yang tewas, salah satu sebabnya adalah akibat kelaparan, karena meskipun para pekerja ini membawa bekal dari rumah berupa nasi akan tetapi sebagaimana lazimnya nasi akan basi setelah lebih dari 10 jam didiamkan dan tidak dimakan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Melihat keadaan seperti itu tampilah orang Jamblang dengan gaya berbeda, mereka menemukan cara agar nasi yang mereka masak tidak cepat basi, caranya dengan membungkus nasi tersebut dengan godong (daun) Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Begitulah daun jati, dapat memperlama kebasian nasi, sebab mempunyai pori-pori atau serat yang terkandung dalam daunnya. Setelah peristiwa tersebut untuk selanjutnya orang-orang Jamblang selalu menggunakan daun pohon Jati untuk membungkus nasi, karena memang terbukti keampuhanya dalam memperlama basinya nasi. Pada era selanjutnya, Sega Jamblang kemudian diperkenalkan oleh orang-orang Jamblang melalui kegiatan penjualan dipasar-pasar, dalam tahap ini,  Sega Jambang dijual bersama lauk-pauknya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Hingga saat ini, Sega Jamblang dapat mudah di temui dalam sudut-sudut Kota Cirebon, diluar Kota, atau bahkan di luar negara.Penyajian makanan ini dilakunan dengan model prasmanan, yaitu model penyajian makanan dengan cara meletakan makanan pada meja panjang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-asal-usul-nasi-jamblang.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAG5fueHNh8CG34TVzGVcuCyGn5Mh7jAZ1_G_VkPn7ql2d-ohzV9BFw8jLtsCiJdi2eTA5f0hPYVilCpd58woTr65S0PIa6WO9yb0Fbb5Cze36DtGq8ldzUMOamOoiww7YWQU08BZDJQOX/s72-c/IMG20191223133747.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-772622938735235572</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:19:10.053-07:00</atom:updated><title>PARA TOKOH AWAL PENYEBAR ISLAM DI JAWABARAT</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIqAplCruij_wNVGRqYBWCOx15_ogMtuBc4ls02T1KBzhQ0yCnT35WiU6-uFoPL77bZuCNyU4KkS4NZ5wgQlzw8WgjuY2I9mln-qAVkT3u-U3ygS1KadXjxvezQ8JCIbq_uKmnG1jplLR/s1275/IMG_20190506_110345.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1220&quot; data-original-width=&quot;1275&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIqAplCruij_wNVGRqYBWCOx15_ogMtuBc4ls02T1KBzhQ0yCnT35WiU6-uFoPL77bZuCNyU4KkS4NZ5wgQlzw8WgjuY2I9mln-qAVkT3u-U3ygS1KadXjxvezQ8JCIbq_uKmnG1jplLR/s320/IMG_20190506_110345.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;PARA TOKOH AWAL PENYEBAR ISLAM DI JAWABARAT&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Untuk mengetahui siapa tokoh awal penyebar Islam di Jawa Barat atau di tatar Sunda tentu sulit, sebab tidak semua penyebar agama Islam tercatat dalam catatan sejarah, oleh karena itu dalam artikel ini akan disuguhkan tokoh-tokoh yang di identifikasi sebagai tokoh yang mula-mula menyebarkan Islam di Jawa Barat berdasarkan catatan sejarah yang ada. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Angka tahun paling tua yang menunjukkan sudah ada orang Islam masuk dan tinggal di wilayah Jawa Barat adalah pada paruh pertama abad ke-14. Sumber sejarah lokal yang dicatat oleh Hageman (1866) menyebutkan bahwa penganut Islam yang pertama datang ke Jawa Barat adalah Haji Purwa pada tahun 1250 Jawa atau 1337 Masehi. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Haji Purwa adalah putera Kuda Lalean. Haji Purwa masuk Islam ketika ia sedang dalam perjalanan niaga ke India. Ia diislamkan oleh saudagar Arab yang kebetulan bertemu di India. Haji Purwa berupaya untuk mengislamkan adiknya yang sedang berkuasa di kerajaan pedalaman di Tatar Sunda. Akan tetapi upayanya itu gagal. Akhirnya Haji Purwa meninggalkan Galuh menuju dan kemudian menetap di Cirebon Girang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut  Ekajati (1975: 87-88), Haji Purwa itu identik dengan Syekh Maulana Saifuddin, orang Islam pertama yang menetap di Cirebon. Di tempat itu ia berupaya menyebarkan agama Islam. Ketika Haji Purwa atau Syekh Maulana Saifuddin tinggal di Cirebon Girang, daerah ini dikepalai oleh Ki Gedeng Kasmaya. Ia masih bersaudara dengan penguasa di Galuh. Pada waktu itu Cirebon Girang merupakan daerah Mandala.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selain Haji Purwa, tokoh muslim yang tinggal di Tatar Sunda pada masamasa awal adalah Syekh Quro. Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari disebutkan bahwa Dukuh Pasambangan didatangi guru-guru agama Islam antara lain dari Campa, bernama Syekh Hasanuddin putera Syekh Yusuf Sidik. Ia seorang ulama terkenal di Campa. Syekh Hasanuddin mendirikan pondok di Quro, Karawang. Karena itulah Syekh Hasanuddin kemudian terkenal dengan nama Syekh Quro.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Juru Labuan, Ki Gedeng Tapa, menyuruh puterinya yang bernama Nyai Subang Larang untuk berguru agama Islam di Pondok Quro itu. Dalam perkembangan selanjutnya, Nyai Subang Larang dinikahi oleh Prabu Siliwangi. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tokoh selanjutnya, seorang muslim yang tinggal di Tatar Sunda pada periode-periode awal adalah Syekh Datuk Kahfi yang dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurjati. Ia adalah seorang yang berasal dari tanah Arab. Syekh Datuk Kahfi datang ke Pasambangan sebagai utusan Raja Parsi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kedatangan Syekh Datuk Kahfi ini disertai oleh dua puluh orang pria dan dua orang wanita. Kedatangan mereka diterima dengan baik, diberi tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajan Jati. Walangsungsang (Cakrabuana) bersama istrinya yang bernama Endang Ayu, dan adiknya yang bernama Nyai Lara Santang disuruh oleh Ki Gedeng Jumajan Jati untuk berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi yang mendirikan pondok di Bukit Amparan Jati (Gunung Sembung Cirebon) (Tjandarasasmita, 2009: 160).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, Walangsungsang mendapat julukan Samdullah atau Cakrabumi. Atas petunjuk gurunya, Walangsungsang mendirikan pondok dan tajug di Dukuh Kebon Pasisir. Tempat ini yang semula merupakan tegal alang-alang kemudian menjadi desa yang dikepalai seorang kuwu. Tempat ini kemudian dinamakan Caruban atau Caruban Larang. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, para pedagang yang semula mengunjungi pelabuhan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan kemudian pindah ke Pelabuhan Caruban sehingga desa itu kemudian tumbuh menjadi perkotaan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dengan demikian, pada paruh pertama abad ke-14 di Tatar Sunda sudah ada pemukiman orang Islam, terutama di Cirebon. Pada tahun 1513, sebagaimana ditututrkan oleh Tome Pires, sebagian masyarakat Jawa Barat, yaitu penduduk pelabuhan Cimanuk (Indramayu) sudah beragama Islam. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tome Pires tidak menyebutkan bahwa di kota-kota pelabuhan lainnya di Tatar Sunda (Banten, Pontang, Cikande, Tangerang, dan Kalapa sudah ada yang memeluk Islam. Namun demikian, patut diduga bahwa pada periode sebelum itu pun selain di kedua kota pelabuhan itu sudah ada orang Islam dari daerah lain, khususnya para pedagang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Hal tersebut didasarkan pada adanya perintah dari raja Kerajaan Sunda agar dilakukan pembatasan terhadap jumlah saudagar-saudagar muslim yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan itu. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Para pedagang muslim yang sudah biasa mendatangi kota-kota pelabuhan itu adalah berasal dari Malaka, Palembang, Fansur (Barus Hilir), Tanjungpura, Lawe, Jawa. Larangan itu kemungkinan terjadi atas permintaan Portugis yang sudah menduduki Malaka pada tahun 1511 dan bermaksud menjalin kerja sama dengan Kerajaan Sunda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebelum memasuki abad ke-16, atau bahkan pada awal abad ke-15, orang-orang Islam sudah masuk ke wilayah Sunda, tepatnya ke Cirebon pada tahun 1415 Masehi (Ekadjati, 1975: 87). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Carita Purwaka Caruban Nagari (dalam Tjandrasasmita, 2009: 92) mencatat kedatangan orang Tionghoa ke Cirebon berkait dengan ekspedisi Cheng Ho. Diceritakan bahwa pelabuhan awal Dukuh Pasambangan yang terletak di kaki Bukit Sembung dan Amparan Jati telah ramai disinggahi kapal-kapal para pedagang asing seperti Tionghoa, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik, Paseh, Jawa Timur, Madura, dan Palembang. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada waktu itu penguasa atau juru labuhannya adalah Ki Gedeng Jumajan Jati. Selain itu, diceritakan pula bahwa Pelabuhan Pasambangan tersebut disinggahi Panglima Tionghoa, yaitu Wai Ping dan Te Ho dengan banyak pengiring selama tujuh hari.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mereka sebenarnya dalam perjalanan menuju Majapahit. Mereka membuat mercusuar di pelabuhan itu dan oleh Ki Gedeng Jumajan Jati mereka diberi imbalan perbekalan berupa garam, terasi, beras tumbuk, rempah-rempah, dan kayu jati. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Atja (1972: 3) memperkirakan bahwa yang disebut dengan nama Te Ho ialah Laskamana Cheng Ho yang disertai Ma Huan dan Feh Tsin. Orang-orang Tionghoa yang datang pada abad ke-15/16 Masehi banyak yang sudah memeluk Agama Islam.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Agama Islam yang masuk ke wilayah Jawa Barat dibawa oleh Haji Purwa, orang Galuh yang diislamkan di Gujarat oleh saudagar berkebangsaan Arab kemudian Syekh Quro, seorang muslim yang datang dari Campa dan Syekh Datuk Kahfi, seorang muslim berkebangsaan Arab yang datang ke Tatar Sunda sebagai utusan raja Parsi. Tempat yang pertama kali dijadikan pemukiman orang Islam adalah Cirebon. Dari tempat inilah agama Islam kemudian menyebar kedaerah-daerah lain di Jawa Barat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Akan tetapi, keberadaan ketiga tokoh tersebut tidak menjadi pelaku langsung tersebarnya agama Islam ke seluruh wilayah di Jawa Barat. Ketiga tokoh di atas lebih berperan sebagai peletak dasar agama Islam di Cirebon. Adapun tersebarnya agama Islam ke seluruh daerah di Tatar Sunda lebih berkait dengan munculnya dua tokoh yaitu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Fatahillah (Menantu Sunan gunung Jati/Penakluk Sunda Kelapa).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sumber: Disadur dari Makalah Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor 2010 Karya. Mumuh Muhsin Z&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/para-tokoh-awal-penyebar-islam-di.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIqAplCruij_wNVGRqYBWCOx15_ogMtuBc4ls02T1KBzhQ0yCnT35WiU6-uFoPL77bZuCNyU4KkS4NZ5wgQlzw8WgjuY2I9mln-qAVkT3u-U3ygS1KadXjxvezQ8JCIbq_uKmnG1jplLR/s72-c/IMG_20190506_110345.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-9020418082937756999</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:20:05.801-07:00</atom:updated><title>PERANG KUNINGAN VS SUMEDANG DALAM CATATAN BABAD DERMAYU</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSURhyUhkT5iBXgJVHfUMKayhdt4qX8fj92fhkdg1DZtVD0dcvSp5nvHEZ-aeGTS2B0Hg-1E1iPmfRvA_CEYPPB69wzqxC60CALpINsA4IbXRy34ykuruRltb_o64p4G9xxW1mvY4B_mn3/s952/IMG_20190506_110326.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;775&quot; data-original-width=&quot;952&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSURhyUhkT5iBXgJVHfUMKayhdt4qX8fj92fhkdg1DZtVD0dcvSp5nvHEZ-aeGTS2B0Hg-1E1iPmfRvA_CEYPPB69wzqxC60CALpINsA4IbXRy34ykuruRltb_o64p4G9xxW1mvY4B_mn3/s320/IMG_20190506_110326.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;PERANG KUNINGAN VS SUMEDANG DALAM CATATAN BABAD DERMAYU&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kisah mengenai Peperangan antara Kuningan Vs Sumedang tercatat dalam naskah Dermayu, dalam naskah ini dikisahkan mengenai keterlibatan Dermayu (Indramayu) dalam medan pertempuran, Sumedang bersektu dengan Indramayu, sementara Kuningan bersekutu dengan Ciamis (Galuh). &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Riwayat mengenai kisah peperangan ini ditutup dengan kisah perkawinan antara puteri Raja Sumedang Larang Dengan Wiralodra, selain menikahkan putrinya dengan Adipati Indramayu, Raja Sumedang juga meyerahkan seluruh daerah kekuasaanya di pesisir utara pulau jawa, termasuk didalamnya wilayah Kandanghaur kepada menantunya Wiralodra.  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kisah peperangan tersebut terjadi ketika Indramayu dikepalai oleh Raden Wirapati yang bergelar Wiralodra II. Keterlibatan Indramayu dalam peperangan yang menggemparkan itu dimulai dari terdesaknya Sumedang ketika mendapatkan gempuran dari Kuningan yang bersekutu dengan Galuh. &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam Babad Dermayu juga disebutkan bahwa, dalam rangka melakukan serangan ke Kerajaan Sumedang Larang, Kuningan bersama Galuh menggunakan tentara dedemit yang tak kasat mata, sehingga pada akhirnya tentara Sumedang dalam pertempuran demi pertempuran melawan Kuningan pada mulanya mengalami kekalahan. Oleh sebab itu Raja Sumedang meminta bantuan ke Indramayu. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Wiralodra dikisahkan kemudian bersedia membantu Raja Sumedang, ia membawa serta keponakannya yang bernama Raden Waringin Anom untuk membantu Sumedang. Raden Waringin Anom dikisahkan merupakan anak dari Nyi Ayu Inten, adik Wiralodra II, sementara suaminya adalah Raden Werdinata, sejenis dedemit yang menguasi Kerajaan Jin Pulomas&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Berkat jasa Raden Waringin Anom inilah, pasukan dedemit yang dikirmkan Kuningan untuk mengacaukan Sumedang ditumpas olehnya, barulah setelah pasukan tak kasat mata dari pihak Kuningan dan Galuh telah ditaklukan, peperangan kemudian menjadi seimbang, bahkan Sumedang kemudian berhasil mengusir tentara Kuningan dan Galuh yang sebelumnya telah masuk dalam wilayah Sumedang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Perang pun kemudian dikisahkan berakhir. Setelah itu, atas wujud terimakasih Raja Sumedang terhadap Indramayu, iya kemudian menikahkan anaknya dengan Wiralodra, serta memberikan hadiah padanya berupa wilayah pesisir Pantai Sumedang Larang kedalam wilayah kekuasaan Indramayu. Maka semenjak itu wilayah Pesisir pantai Sumedang, yang kini dikenali dengan nama Lelea, Kandanghaur dan sekitarnya masuk dalam kekuasaan Indramayu. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Daftar Bacaan.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;[1] Perpustakaan Nasional RI. 2011. Babad Dermayu. Jakarta:Perpusnas &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;[2] Tarmadi, Didi. 2011. Sejarah Indramayu.Bandung: Richard Hanafi Pustaka. Hlm 43-52&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/perang-kuningan-vs-sumedang-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSURhyUhkT5iBXgJVHfUMKayhdt4qX8fj92fhkdg1DZtVD0dcvSp5nvHEZ-aeGTS2B0Hg-1E1iPmfRvA_CEYPPB69wzqxC60CALpINsA4IbXRy34ykuruRltb_o64p4G9xxW1mvY4B_mn3/s72-c/IMG_20190506_110326.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-8833331019793486074</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:21:27.860-07:00</atom:updated><title> SEJARAH DESA CIGARUKGAK CIAWI GEBANG KUNINGAN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpGPogyZM529ENXA0Sy9qg4z2t2rU724E8Mr_m-0B6CkCjnZUp6e19F9Jh1F3NH-f12FNQpFE2we_Xa9ggZHoW4ORl0E-7XyOHQBtSGnuKVXNndi3fPTZ_8aB-JQf460aMxq3xF2Uryemy/s1567/LRM_EXPORT_3144610899320_20190708_150117536.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1567&quot; data-original-width=&quot;1104&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpGPogyZM529ENXA0Sy9qg4z2t2rU724E8Mr_m-0B6CkCjnZUp6e19F9Jh1F3NH-f12FNQpFE2we_Xa9ggZHoW4ORl0E-7XyOHQBtSGnuKVXNndi3fPTZ_8aB-JQf460aMxq3xF2Uryemy/s320/LRM_EXPORT_3144610899320_20190708_150117536.jpeg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;SEJARAH DESA CIGARUKGAK CIAWI GEBANG KUNINGAN&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Cigarukgak merupakan salah satu Desa yang terletak dibawah Kecamatan Ciawigebang Kab Kuningan Jawa Barat. Ditinjau dari kemunculan nama desanya, rupanya penamaan Cigarukbak ini dilandasai oleh faktor kenestapaan. Menurut sumber-sumber obrolan orang tua di Desa ini, dahulu dalam era penjajahan Belanda kawasan yang kini dikenal dengan nama Desa Cigarukgak ini salah satu kawasan subur, air melimpah, baik dari sumber-sumber mata air yang terdapat di desa ini, maupun dari sumur-sumur yang dibuat penduduk. Kala itu Cigarukgak belum berpenduduk. Meskipun demikian Cigarukgak ini dahulunya jalan penghubung desa-desa sekitar yang sudah mempunyai penduduk dan pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kala itu, jalan penghubung dikawasan Cigarukgak masih berupa tanah liat, ketika musim penghujan kandungan air yang melimpah ini  sampai menggenangi jalan, sehingga kondisi jalan waktu itu sangat becek, rusak, dan sulit untuk dilalui. Orang-orang yang biasa melawati jalan ini, kemudian menamai kawasan ini dengan sebutan Cigarukgak, yang berarti jalan yang rusak parah akibat air. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kata Ci sendiri dalam Bahasa Sunda bermaksud air, sementara Garukgak dalam bahasa Sunda bermaksud Rusak Parah, Becek, Tak enak untuk dilewati. Julukan garukgak pada kawasan ini pada nantinya ketika kawasan ini berpenghuni, diambil sebagai nama Desa, sehingga kemudian nama Cigarukgak abadi hingga kini. demikianlah asal mula kenapa desa ini dinamakan Cigarukgak.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-cigarukgak-ciawi-gebang.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpGPogyZM529ENXA0Sy9qg4z2t2rU724E8Mr_m-0B6CkCjnZUp6e19F9Jh1F3NH-f12FNQpFE2we_Xa9ggZHoW4ORl0E-7XyOHQBtSGnuKVXNndi3fPTZ_8aB-JQf460aMxq3xF2Uryemy/s72-c/LRM_EXPORT_3144610899320_20190708_150117536.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-4996955041641029472</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:22:26.495-07:00</atom:updated><title>MAKAM VAN BECK</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8-a03x39abmvco0q96pKrqimQh3W5ubQdQdWCuYA34BRvYOtF77R4TJPEreUV4Jv7tJTzB8aiVI83stiXHfSHhRBEduXq8rGywfBT6u-rzbcdM8RRmJpvo-5q2bVpOJPjGGu4Yi1rWGzV/s1040/IMG-20200306-WA0023.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;780&quot; data-original-width=&quot;1040&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8-a03x39abmvco0q96pKrqimQh3W5ubQdQdWCuYA34BRvYOtF77R4TJPEreUV4Jv7tJTzB8aiVI83stiXHfSHhRBEduXq8rGywfBT6u-rzbcdM8RRmJpvo-5q2bVpOJPjGGu4Yi1rWGzV/s320/IMG-20200306-WA0023.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;MAKAM VAN BECK&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam Van Beck terletak di sisi selatan jalan Cigugur ke Palutungan. Secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Cigugur. Di sebelah timur terdapat Markas Koramil Cigugur dan di seberang jalan terdapat gereja. Lokasi ini relatif mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º56’58” LS dan 108º26’ BT &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam Van Beck dibangun pada tahun 1912. Secara keseluruhan bangunan berdenah lingkaran yang membujur utara selatan dengan pintu berada di sisi utara. Bangunan bergaya Eropa ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertamaberupa kaki terbuat dari batu dan bata dengan spesi semen setinggi sekitar 70 cm. Bagian tubuh merupakan ruang bagi makam. Bangunan mengunakan bahan bata dengan spesi semen. Pada bagian ini terdapat hiasan berbentuk prisma terpancung. Di dalam ruangan ini terdapat makam dengan penanda berupa gundukan semen. Pada dinding ruang ini terdapat hiasan-hiasan tiang semu yang menempel di dinding. Bagian atap bangunan berupa kubah danpada bagian atasnya terdapat enam jendela kecil. Pada bagian puncak terdapat hiasan salib.  Di sekitar makam van Beck terdapat beberapa makam orang Eropa.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam ini cukup penting untuk data sejarah arsitektur maupun sejarah secara umum  masa lampau. Sekarang kondisi makam relatif masih utuh. Akan tetapi, melihat lokasinya yang tepat di pinggir jalan raya dikhawatirkan untuk ke depan objek ini akan terkena dampak perkembangan zaman. &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Lokasi:  Jalan Cigugur, Kecamatan Cigugur&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Koordinat : 6º56’58” S,  108º26’ &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;INFO : DISPARBUD JABAR&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/makam-van-beck.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8-a03x39abmvco0q96pKrqimQh3W5ubQdQdWCuYA34BRvYOtF77R4TJPEreUV4Jv7tJTzB8aiVI83stiXHfSHhRBEduXq8rGywfBT6u-rzbcdM8RRmJpvo-5q2bVpOJPjGGu4Yi1rWGzV/s72-c/IMG-20200306-WA0023.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-2574141709268596368</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:23:12.636-07:00</atom:updated><title>Sejarah Desa Ciperna, Kec Talun Kab Cirebon</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG5rjYmilMHD9lG2pBIVNJG5frARA2xXX5Jf_m9AsQNkDwcM1RtdiF9NmA93z7T0UZMkhKA0Thl6l4cHkwWwMlIpWiVw0LiNkilI7yNDrY_bp1pPdctIkeLyiOxqDn8euRdTa7spQ_wkQo/s1040/IMG-20200306-WA0011.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;780&quot; data-original-width=&quot;1040&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG5rjYmilMHD9lG2pBIVNJG5frARA2xXX5Jf_m9AsQNkDwcM1RtdiF9NmA93z7T0UZMkhKA0Thl6l4cHkwWwMlIpWiVw0LiNkilI7yNDrY_bp1pPdctIkeLyiOxqDn8euRdTa7spQ_wkQo/s320/IMG-20200306-WA0011.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sejarah Desa Ciperna, Kec Talun Kab Cirebon&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Ciperna adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon, Ciperna sendiri secara bahasa berasal dari dua kata yaitu  Ci dan Merna, sebagaimana diketahui bahwa kata ci merupakan ciri khas dari bahsa sunda yang biasanya digunakan untuk menyertai nama dari sesuatu, semisal Cimanuk, Cirebon dan lain sebagainya, secara umum Ci ini dianggap sebagai singkatan dari kata Cai (air), meskipun kadang juga kata Ci ini dalam suatu kasus tidak mempunyai makna, semacam kata Ci dalam nama Ciperna. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Air (cai) dalam masyarakat Sunda memang sangat dibanggakan sekali, meningat pada umumnya masyarakat Sunda hidup dari pertanian, sehingga Air (Cai) ini memberikan kenangan filosofis tersendiri pada masayarakat Suda, sebab itulah masyarakat Sunda dari dahulu kala senang menggunakan kata Ci sebagai awalan untuk menamai suatu daerah tertentu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selanjutnya kata Merna sendiri secara bahasa bermakna “Berkembang” dengan demikian maka secara bahasa Ciperna bermaksud Berkembang dalam kata lain kata Ci pada nama Ciperna tidak mempunyai arti.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Penamaan Ciperna untuk menandai suatu tempat ang kini dikenal dengan Desa Ciperna dimulai sejak lama, yaitu pada sekitar abad ke 15, hal tersebut sesuai dengan apa  yang tertulis dalam profil resmi desa Ciperna yang menyatakan bahwa nama Ciperna timbul berkenaan dengan suatu runtutan peristiwa yang panjang adapun kisahnya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Desa Ciperna pada awalnya merupakan tanah kosong sunyi sepi tak berpenghuni. Menerut cerita para sesepuh bahwa pada jaman penyebaran ajaran agama islam oleh para Wali   di tanah Jawa, waktu itu di Cirebon dipimpin oleh sesepuh pendiri Cirebon yaitu Embah Kuwu Cirebon atau yang dikenal dengan nama Pangeran Cakra Buana putera dari Prabu Siliwangi dan Nyimas Subang Larang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Beliau menempatkan salah satu pengikutnya yang berasal dari daerah Cikijing yaitu Ki Ageng Tutugan yang nama aslinya Ki Sakala yang kemudian tempat tersebut menjadi nama sebuah blok di daerah Desa Ciperna yaitu blok Tutugan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Ki Ageng Tutugan / Ki Sakala sebelum meninggalkan daerah Tutugan untuk pindah ke daerah Ciwaringin, beliau menyampaikan amanat kepada anak cucunya bahwa daerah ini kalau ingin ramai dan merna. Maka kita agar mengajak orang/masyarakat dari daerah lain untuk mengisi kekosongan di daerah Tutugan ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Selang beberapa waktu kemudian datanglah masyarakat dari Wilayah Barat yaitu pengikut dari Ki Ageng Karang Pengganten (Daerah tersebut sekarang adalah Desa Sampiran dan Desa Cirebon Girang Kecamatan Cirebon Selatan).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Kemudian dari Wilayah Selatan atau yaitu pengikut Ki Ageng Sela (Daerah tersebut sekarang adalah Desa Kondang Sari Kecamatan Beber) dan di daerah tersebut sekarang menjadi nama salah satu blok di Desa Ciperna yaitu blok Warung Duet yang bahasa sehari-harinya yaitu Jawa - Sunda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Selanjutnya dari daerah Wilayah Timur datanglah masyarakat dari daerah Gemulung dan sekitarnya sekarang termasuk Kecamatan Astana Japura, yang kemudian menjadi nama salah satu blok pula di Desa Ciperna yaitu Blok Gemulung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Dari Wilayah Utara pengikut Pangeran Geseng yang dikenal sekarang dengan wilayah Penggung dan mereka tinggal di blok Cangkring dan blok Wareng yang merupakan salah satu nam blok di Desa Ciperna.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;-Singkat cerita setelah blok Tutugan dan sekitarnya sepeninggal Ki Ageng Tutugan /         Ki Ageng Sakala menjadi RAME dan MERNA banyak di huni oleh orang dari berbagi wilayah, maka masyarakat beserta sesepuh pada waktu itu memberi nama CIPERNA yang berasal dari kata MERNA yang berarti Berkembang.  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Meskipun nama sudah ada pada abad ke 15, akan tetapi Ciperna menjadi sebuah desa dan mempunyai struktur pemerintahannya sendiri dimulai pada tahun 1921, adapun Kuwu atau kepala desa pertamanya adalah Kuwu Sapda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-ciperna-kec-talun-kab.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG5rjYmilMHD9lG2pBIVNJG5frARA2xXX5Jf_m9AsQNkDwcM1RtdiF9NmA93z7T0UZMkhKA0Thl6l4cHkwWwMlIpWiVw0LiNkilI7yNDrY_bp1pPdctIkeLyiOxqDn8euRdTa7spQ_wkQo/s72-c/IMG-20200306-WA0011.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-6723763023284566315</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:24:12.520-07:00</atom:updated><title>Sejarah Desa Watu Belah Cirebon</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVmb7qj0KlzuEy9xcHq-RZwb2qxhJK1wPXIlcK5dCMjzVCCWh8H4g0RIgcT8k05URHOUocanfyFozLxT2DiIryxiWEG-yr6pCP7wGU3noMoL4VPwgfRbnMR3JD37pQuEzYvrL_Xj35dQzp/s1040/IMG-20200306-WA0023.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;780&quot; data-original-width=&quot;1040&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVmb7qj0KlzuEy9xcHq-RZwb2qxhJK1wPXIlcK5dCMjzVCCWh8H4g0RIgcT8k05URHOUocanfyFozLxT2DiIryxiWEG-yr6pCP7wGU3noMoL4VPwgfRbnMR3JD37pQuEzYvrL_Xj35dQzp/s320/IMG-20200306-WA0023.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sejarah Desa Watu Belah Cirebon&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Konon ketika ke Gendeng Alang - alang dari galuh ke Cirebon karena dipanggil Prabu Siliwangi untuk mendapat titah mengepalai wilayah Cirebon, mau buka perdukuhan di Lemah Wungkuk, istirahat di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Namun tercengang dengan keadaan wilayah yang banyak batu - batuan besar.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Wilayah tersebut sangatlah beda dengan wilayah yang ditemuinya, karena banyak alang - alang, hutan jati dan pesawahan. Namun wilayah ini lain, banyak batu - batuan besar. Belum lagi keheranan hilang nambah heran lagi terdengar suara tangis bayi, di dalam batuan besar tersebut. Ketika itu juga di belah lah batuan tersebut hingga terpecah dua, sama bentuk, maka bayi tersebut di asuh dan di ajarkan keilmuan olehnya, dan dalam mimpinya bayi tersebut adalah anak dari bidadari atau sebangsa peri. Maka di namakanlah Selapada, karena dari batu yang dipecah terbelah dua sama besar.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dan dibuka suatu pemukiman penduduk oleh Ki Gendeng Alang - Alang di wilayah tersebut. Dalam proses pembukaan lahan pemukiman batu - batuan besar tersebut dipecahkan menjadi kerikil - kerikil dan pasir. Penduduk yang dibawa oleh Ki Gendeng Alang - Alang dari wilayah sekitarnya, dan ketika dalam proses pembukaan lahan pemukiman dengan memecahkan batu - batuan hingga kecil, masing - masing penduduk ada yang tulus melaksanakannya dan ada juga sebagian yang ingin mendapatkan imbalan (kalau sekarang imbalan jasa harta atau jasa jabatan di karesidenan).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Maka terjadilah peristiwa dalam masing - masing penduduk, bagi yang tulus jalannya memecahkan batu tidak ada hambatan dan kesulitan, sebaliknya bagi yang mengharapkan imbalan mengalami kesulitan dan saling pecah atau tidak kompak (tidak gotong royong). Ketika membuka lahan pemukiman hampir selesai di bawah batu - batuan yang dipecah ada lapisan tanah pesawahan dan perkebunan dengan tanah yang subur.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Singkat cerita Selapada waktu dewasa di buatlah suatu pendopo untuk Sela untuk mengajarkan ilmu ke setiap masyarakat, dan nama pemukiman tersebut WATU BELAH. Ketika Ki Gendeng Alang - Alang mau mangkat di perintahkan Sela untuk membuka pemukiman di wilayah Indramayu Bunder karena kondisinya sama seperti wilayah sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam perjalanan pertama dan kedua lancar membawa penduduk ke wilayah tersebut dengan pesannya selalu dalam ke gotong royongan dan ketulusan, bila tidak tulus BONGGAN MENGKO PANJENENGAN BERTIKAI KARO BATUR LAN SEDULUR. Dalam perjalanan ke tiga bertemu dengan rombongan Syekh Syarif Hidayatullah, karena di tanya tidak menjawab maka berkelahilah Sela dengan rombongan Syekh Syarif Hidayatullah, karena tidak sebanding maka lari ke dalam batu, di pecah batu itu menjadi dua, dan masuk lagi ke batu yang lainnya, di wilayah Indramayu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Singkat cerita lolos lah Sela namun mendapat hukuman oleh Ki Gendeng Alang - Alang, karena yang mengejarnya itu adalah seorang Sunan yang besar dan seorang pemangku tahta di Cirebon, sedangkan Sela hanya sebatas rakyat jelata yang hanya di asuh dan di asingkan ke wilayah sebrang. Maka setelah itu wilayah Watu Belah dan Bunder Indramayu masyarakatnya di pimpin oleh Pangeran Cakrabuana yang merupakan Mbah Kuwu Cirebon II setelah Ki Gendeng Alang - Alang (mbah Kuwu Cirebon I). Dan berjalan terus menerus sebagai rakyat pemecah batu dan rakyat petani serta perkebunan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Adapun warisan dari Ki Gede Selapada sebuah kotak peti ukuran kecil di teruskan oleh Pangeran Cakrabuana yang diberikan oleh Ki Gendeng Alang - Alang. Kotak peti tersebut suatu gambaran wilayah desa Watu Belah dan sekitarnya dimana tiap tahunnya berubah - ubah isinya, dan setiap bulan Muludan dibuka dilihat wujudnya. Tiap tahun upacara buka Jimat telah menjadi kebudayaan setempat, Jimat peti cilik dibuka di dalamnya selalu berubah wujud sesuai dengan musim yang ada di desa tersebut, hingga sampai tahun 1988 upacara buka Jimat pada saat Muludan tersebut masih berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Singkat cerita, setelah berlangsung beberapa keturunan berganti maka ada keturunan yang lainnya memperistrikan seorang bidadari juga. Dengan tunggangannya kuda sembrani dan setelah mangkat di kubur di wilayah tersebut sehingga, kuburan tersebut menjadi makam keramat buyut Sawen dan kuburan kuda nya di kubur di pesalakan makam Simadu, sampai sekarang kuburannya masih ada.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Situs budaya di Desa Ki Gede Selapada :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bangunan keramat buyut kembar&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam keramat buyut Sawen&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam Dawa Kembar&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam Gaman&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam Ki Kerta Menggala&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Undukan batu berbentuk  gapura&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mata pencaharian masyarakatnya : &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pemecah batu, penggali pasir, bertani dan berkebun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Semboyan hidup warisan Ki Gede Selapada :&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bonggan Sira Baka Silo Karo Dunya (harta dan jabatan), Mengkone pada pecah karo sedulur lan batur, sipate milik sedulur ojo direbut, melas karo anak putu. Dadi manungso kudu mangane sing gusti pangeran kang sipate kemulyaan, baka dudu manungso mangane sing parkayangan kang sipate angkoro murko. Urip kudu tulus, ojo serakah, sedulur kasusahan kudu di tolong / dibantu, wong tua kudu di hormati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Siro weru karo gusti pangeran lan ilmune dunyo asale sing wong tua. Hati - hati / awas jangan silau dengan duniawi (harta dan tahta), nanti pecah belah sama saudara dan teman, rezeki haknya saudara jangan direbut, nanti kena balasannya kasihan anak cucu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebagai seorang manusia mencari rezeki dari Allah yang sifatnya kemulyaan, kalau bukan manusia mencari rezekinya dari parkayangan yang sifatnya angkara murka (kecurangan, tipu muslihat dan melukai orang). Hidup mesti yang tulus jangan serakah, saudara kesusahan di tolong dengan semampunya, orang tua mesti dihormati karena kita mengenal Allah karena orang tua.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-watu-belah-cirebon.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVmb7qj0KlzuEy9xcHq-RZwb2qxhJK1wPXIlcK5dCMjzVCCWh8H4g0RIgcT8k05URHOUocanfyFozLxT2DiIryxiWEG-yr6pCP7wGU3noMoL4VPwgfRbnMR3JD37pQuEzYvrL_Xj35dQzp/s72-c/IMG-20200306-WA0023.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-4073105811119428180</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:25:17.498-07:00</atom:updated><title>MASJID KERAMAT Ki BUYUT KEBAGUSAN PANGERAN PANJUNAN (SYEKH ABDURAHMAN).</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuDDMJOXl2ROAhzOldlD5JAMMRbX2KNIMlthQcIgbZiQ-NcaWKgzU1ZPGA5e2VW98QipGSEQUX-4UpAgL3V_C3lljwE6YgIae6QIpjT_RjvT889VY8VZZpvLIP2mcLSvZXXQe2kuZsBdV/s2048/LRM_EXPORT_11212996667700_20190311_170604773.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuDDMJOXl2ROAhzOldlD5JAMMRbX2KNIMlthQcIgbZiQ-NcaWKgzU1ZPGA5e2VW98QipGSEQUX-4UpAgL3V_C3lljwE6YgIae6QIpjT_RjvT889VY8VZZpvLIP2mcLSvZXXQe2kuZsBdV/s320/LRM_EXPORT_11212996667700_20190311_170604773.jpeg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;MASJID KERAMAT Ki BUYUT KEBAGUSAN PANGERAN PANJUNAN (SYEKH ABDURAHMAN).&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam sejarah Cirebon disebutkan bahwa Pangeran Panjunan merupakan orang yang mula-mula mendirikan Masjid Panjunan, Masjid tua yang didirikan lebih dahulu ketimbang Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pendiri desa Sitiwinangun sendiri adalah Syekh Dinurja yang sejatinya adalah murid dari Syekh Abdurahman atau Pangeran Panjunan yang menyebarkan agama islam di Sitiwinangun pada masa itu sekitar abad 15 dan beliau setelah berhaji mendapatkan gelar Ki Mas Ratna Gumilang kemudian beliau mendirikan masjid keramat Kebagusan yang sekarang atas perintah dan restu dari Syekh Abdurahman dan beliau Syekh Dinurja mendapat titipan sebuah Musab Al Quran yang di tulis melalui tulisan tangan dari gurunya sendiri untuk dirawat dan menyebarkan agama islam di tanah Sitiwinangun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran Panjunan nama aslinya Pangeran (Syekh Abdurahman), merupakan Pangeran dari Bagdad yang terusir dari Negerinya.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syekh Abduraham adalah putra Syekh Nurjati atau Syekh Datuk Kahfi yang menikah dengan Syarifah Halimah,&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran Panjunan mempunyai anak selain Pangeran Pamelekaran yang berputra Pangeran Santri juga dari istri lainnya berputra Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke bergelar Pangeran Jayakarta II yang menikah dengan Ratu Ayu Pembayun Fatimah putra Fatahillah bergelar Pangeran Jayakarta.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;SEJARAH DESA SITIWINANGUN&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Sitiwinangun mempunyai sejarah peninggalan Islam, tepatnya di Blok Kebagusan. Disini terdapat petilasan Pangeran Kebagusan atau Pangeran Panjunan/Syekh Abdurahman, dan Situs Masjid Kramat Ki Buyut Kebagusan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut warga, petilasan tersebut sudah ada sejak tahun 1222 masehi, dan setelah itu dibangun masjid di samping petilasan tersebut. Jika dilihat dari tahun sejarahnnya. Petilasan itu sudah ada sebelum adanya penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah ini menarik untuk di ulas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;MASJID KERAMAT KEBAGUSAN.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selain usia Masjid yang sangat tua, tentu Masjid ini mempunyai khas tersendiri, dari segi bangunan, tinggi temboknya tidak terlalu tinggi, sehingga atap ruang utama masjid ini tidak ada atap langit-langit atau eternitnya, jadi atapnya langsung genteng.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selain itu, kayu-kayu penyangga bangunan ini sebagian besar masih asli yang sudah berumur ratusan tahun, meski beberapa kali mengalami renovasi, tapi konstruksi atau bentuk masih sesuai dengan awalnya, sehingga masih terasa sangat kental suasana sejarahnya.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada masa itu, ada tujuh masjid yang dibangun dalam waktu hampir bersamaan, termasuk Masjid Buyut Kebaguasan ini.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mimbar masjid atau tempat khatib masih terbuat dari kayu jati dan belum pernah diganti. Pada waktu tertentu, tepatnya pada awal dan akhir bulan ramadhan, menurut warga,&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejak berdirinya, hingga saat ini, masih banyak peninggalan asli yang berada dimasjid ini, seperti pedusan (sebutan tempat penyimpanan air), memolo atau kubah masjid, dan bentuk bangunan utama masjid tersebut pun masih asli, hanya ada perluasan bangunan saja yang bertujuan agar mampu menampung jemaah lebih banyak. Peninggalan-peninggalan Buyut Kebagusan masih terjaga keasliannya seperti kegiatan ekonomi yakni gerabah, masih juga tersimpan rapi peninggalan berupa Kitab Suci Alquran dengan tulisan tangan Buyut Kebagusan dan tentunya bangunan masjid ini beserta beberapa tata cara ibadahnya seperti tahlilan dengan nada yang khas.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Di masjid ini masih ada tradisi adzan papat atau adzan empat, yaitu adzan yang dilakukan oleh empat orang sekaligus khusus pada saat Adzan Sholat Jum&#39;at.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mbah buyut dijuluki Buyut Kebagusan karena tulisan Al-Qur&#39;an nya bagus, akhlaknya bagus, dan karakternya sangat baik,”&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Wallahu&#39;aklambishowab..&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/masjid-keramat-ki-buyut-kebagusan.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuDDMJOXl2ROAhzOldlD5JAMMRbX2KNIMlthQcIgbZiQ-NcaWKgzU1ZPGA5e2VW98QipGSEQUX-4UpAgL3V_C3lljwE6YgIae6QIpjT_RjvT889VY8VZZpvLIP2mcLSvZXXQe2kuZsBdV/s72-c/LRM_EXPORT_11212996667700_20190311_170604773.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-6141827829559393801</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:26:08.568-07:00</atom:updated><title>SEJARAH DESA SUMBERJAYA KEC.CIWARU KUNINGAN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMd4dsXyHLEGsXTvtWc5fMo7iYtBjrYw6B8ryCUAxS-ib_5pxNqgC4tfgmhzDVTHYvIiedI_ZjdCXxDt04S5H7543-kTBVlwQ3NEpvfSIFErmHiMV4dRMuS-PxocHQXRlXoAMQEyPbB_Ql/s1040/IMG-20200306-WA0017.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;780&quot; data-original-width=&quot;1040&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMd4dsXyHLEGsXTvtWc5fMo7iYtBjrYw6B8ryCUAxS-ib_5pxNqgC4tfgmhzDVTHYvIiedI_ZjdCXxDt04S5H7543-kTBVlwQ3NEpvfSIFErmHiMV4dRMuS-PxocHQXRlXoAMQEyPbB_Ql/s320/IMG-20200306-WA0017.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;SEJARAH DESA SUMBERJAYA&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sumberjaya adalah nama sebuah desa yang ada di Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan. Kata Sumberjaya secara bahasa berasal dari kata “Sumber” dan “Jaya”. Sumber berarti asal, sedangkan jaya artinya adalah hebat atau berhasil. Dengan kata lain, kata sumberjaya secara tidak langsung merupakan kata yang menunjukkan bahwa tempat ini adalah tempat yang dapat menghasilkan kehebatan, kebesaran, dan kesuksesan. Terdapat ungkapan dalam bahasa Sunda bahwa Sumberjaya adalah “sumber kajayaan dangiangna jayadiningrat simbolna gajah gumuling anu kasebat jalma jaya di jaya nyaeta hiji kakuatan  anu disebut lahir batin”. Meskipun demikian, tidak diketahui secara pasti sejak kapan nama Sumberjaya digunakan untuk menyebut daerah yang berlokasi di wilayah Kecamatan Ciwaru ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Konon, menurut cerita sejumlah orang, desa ini telah dikenal sejak zaman Prabu Siliwangi. Bahkan orang-orang tersebut berkeras bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam Legenda Lutung Kasarung terdapat di Sumberjaya dan desa-desa di sekitarnya. Keterangan ini perlu didalami karena simpulan para peneliti naskah kuno yang membincang Lutung Kasarung menyatakan bahwa Lutung Kasarung adalah sebuah legenda masyarakat dan bukan sejarah, sebagaimana diungkapkan oleh Eringa (1949) dan Sunarti (1992).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ihwal kehidupan masyarakat di Sumberjaya, bisa dianalisa dari data penduduk dan desa yang telah ada pada tahun 1686. Ternyata, dalam keterangan arsip yang berangka tahun 1686 itu nama Sumberjaya belum disebutkan. Malah yang tercatat adalah tetangga desanya, yaitu Desa Patala. Penghuni desa ini, menurut catatan itu, hanya berjumlah sekitar 11 kepala keluarga (yang dulu disebut cacah) dengan mata pencaharian sebagai petani gaga/ladang. Sebagai petani gaga, kehidupan masyarakat saat itu masih nomaden sehingga bisa saja orang-orang di Patala ini adalah orang Sumberjaya, dan desa-desa di sekitarnya juga.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Titik terang mengenai Desa Sumberjaya baru terdapat secara jelas dalam catatan sensus yang dibuat di zaman Raffles pada sekitar tahun 1811-1812. Saat itu, Sumberjaya sudah tercatat sebagai desa yang termasuk ke dalam wilayah Distrik Luragung. Saat itu, penduduk sudah cukup banyak dengan profesi terbesarnya adalah petani. dalam kurun waktu tertentu, masyarakat petani ini memiliki kewajiban untuk setor pajak kepada penguasa. Biasanya pajak disetor ke distrik, yang kemudian dilanjutkan ke tingkat kabupaten dan karesidenan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah Sumberjaya kembali menjadi perhatian pada saat revolusi kemerdekaan berlangsung, karena pada saat itu wilayah Ciwaru menjadi basis kekuatan dan pusat pemerintahan Karesidenan Cirebon. Di desa ini, hilir mudik para tentara dan pejuang yang beraktivitas untuk melakukan perang gerilya guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rakusnya para tentara Sekutu dan NICA yang menginginkan Indonesia jatuh kembali ke pangkuan penjajahan kolonial.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah kondisi Indonesia kembali normal, dan orang-orang Belanda pun pergi ke negerinya, Indonesia terus dilanda konflik dalam negeri. Salah satunya adalah pemberontakan DI TII yang ternyata banyak melakukan aktivitas di wilayah pegunungan dan perbukitan seperti halnya di Sumberjaya ini. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena setelah adanya operasi pagar betis, semua aspek keamanan dan pertahanan bisa di bawah kendali kembali.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejak saat itu, Sumberjaya terus berkembang dan hinggi kini telah bermetamorfosa sebagai desa yang terdiri dari 4 Dusun dengan 19 RT yang tersebar di sejumlah sudut wilayah desa. Meskipun wilayahnya berjauhan atau “paanggang” namun tali silaturahmi yang ada di desa ini tetap terjalin dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Wallahu’alam bishowab..&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;* Tulisan diolah dari berbagai sumber dan foto sebatas ilustrasi yang berasal dari internet.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-sumberjaya-kecciwaru.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMd4dsXyHLEGsXTvtWc5fMo7iYtBjrYw6B8ryCUAxS-ib_5pxNqgC4tfgmhzDVTHYvIiedI_ZjdCXxDt04S5H7543-kTBVlwQ3NEpvfSIFErmHiMV4dRMuS-PxocHQXRlXoAMQEyPbB_Ql/s72-c/IMG-20200306-WA0017.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-8040807600684149805</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:27:12.601-07:00</atom:updated><title>Sejarah Desa Garajati</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvq1N3ov9lqf2-zXTmBgkWOnAs8MpNOFsx91TfXqQe1o9U2Sh4409zS20-i330klcn7OwNRAbNbuofv-l3FFYteITE7u4zgk5hrVw2cMue6OZuf1gWBAPCcI9cWbUweRq0bZl9pUX9htV8/s1280/LRM_EXPORT_9206504997893_20190418_175338490.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;960&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvq1N3ov9lqf2-zXTmBgkWOnAs8MpNOFsx91TfXqQe1o9U2Sh4409zS20-i330klcn7OwNRAbNbuofv-l3FFYteITE7u4zgk5hrVw2cMue6OZuf1gWBAPCcI9cWbUweRq0bZl9pUX9htV8/s320/LRM_EXPORT_9206504997893_20190418_175338490.jpeg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sejarah Desa Garajati&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut catatan sejarah yang ada di desa, asal muasal Garajati berasal dari peristiwa berubahnya sebuah tongkat yang menjadi pohon jati. Tidak jelas kapan terjadinya peristiwa ini, catatan itu hanya menyebut bahwa kejadiannya sudah ada sebelum tahun 1915 M. Tongkat yang dimaksud itu adalah tongkat yang konon merupakan pasak bagi perlindungan masyarakat dari anasir-anasir negatif yang kapan saja bisa datang dan melanda desa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam lanjutan catatan itu dituliskan bahwa tongkat yang dianggap sebagai pelindung desa tadi berkaitan dengan Buyut Muhamad Toha, sosok yang dianggap masyarakat setempat sebagai seorang wali penyebar agama Islam. Pada awal kedatangannya ke daerah yang kelak bernama Garajati itu, Muhamad Toha muda berselisih dengan pemuda lain karena memperebutkan hati gadis jelita setempat yang bernama Dewi Ayu Sekar Sejagat. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Singkat kata, pemuda lain yang namanya tidak dikenal tersebut kalah dan terlempar dalam sebuah duel sehingga mengakibatkan sebuah batu terpecah. Batu tersebut kini dikenal sebagai “Mungkal Beulah” yang menjadi batas desa dengan dua desa lainnya. Khawatir akan diserang secara mistis, desa itu kemudian dilindungi Muhamad Toha dengan tongkat jati yang ditancapkannya. Dari peristiwa itu lah nama Garajati muncul, yaitu terlindung “Gara-Gara Jati”. Meskipun cerita itu belum ditelisik secara ilmiah, namun sebagian masyarakat mempercayai peristiwa itu sebagai asal muasal desa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dalam sumber-sumber sejarah, nama Garajati mulai terlihat dalam catatan yang ada pada tahun 1800an. Koran-koran Belanda pada kurun waktu itu menceritakan sejumlah hal, antara lain yang berbicara tentang Dusun Cimuncang (yang pada perkembangan selanjutnya bertransformasi menjadi Desa Karangbaru) dan persawahan yang mendapat perhatian dari pemerintahan kolonial.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada zaman revolusi kemerdekaan, Garajati menjadi tapal batas kuasa para pejuang Indonesia yang saat itu banyak bersembunyi di wilayah Ciwaru. Para tentara KNIL Belanda berpikir ulang untuk melewati Sungai Cisanggarung saat mengejar orang-orang republik, oleh karena itu mereka lebih memilih untuk melancarkan tembakan-tembakan meriam (yang disebut warga sebagai kanon) ketimbang menyeberangi sungai.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-garajati.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvq1N3ov9lqf2-zXTmBgkWOnAs8MpNOFsx91TfXqQe1o9U2Sh4409zS20-i330klcn7OwNRAbNbuofv-l3FFYteITE7u4zgk5hrVw2cMue6OZuf1gWBAPCcI9cWbUweRq0bZl9pUX9htV8/s72-c/LRM_EXPORT_9206504997893_20190418_175338490.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-3088867410849497707</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 18:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:28:21.764-07:00</atom:updated><title>Sejarah Desa Cilimus Kuningan </title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilfVF6EZaXjuVv75ItkxkUQJtt3DF8GHpGK1Y6AzJW5ta_ezOHk0B7JQ2YPmpEKtmmqFQFrpud2TQ5nFXAuN4gfg6D03oty9TJiuh7-6k79fk7M3uMGmPhacRnIL8rxN_odVWplO5PgqWx/s2048/IMG20191223133751.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilfVF6EZaXjuVv75ItkxkUQJtt3DF8GHpGK1Y6AzJW5ta_ezOHk0B7JQ2YPmpEKtmmqFQFrpud2TQ5nFXAuN4gfg6D03oty9TJiuh7-6k79fk7M3uMGmPhacRnIL8rxN_odVWplO5PgqWx/s320/IMG20191223133751.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: inherit; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sejarah Desa Cilimus Kuningan &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Secara etimologi Cilimus berasal dari kata “cai” dan “limus” atau “cailimus” disingkat “Cilimus”. Secara terminologi, Cilimus sebagaimana umumnya nama suatu tempat di tatar sunda selalu di awali dengan kata “Ci” atau “Cai” (air) yakni suatu Padukuhan atau tempat berdiamnya suatu komunitas masyarakat di tatar Sunda yang ditempat tersebut banyak terdapat pohon Mangga Limus disepanjang sungai Cibacang. Cibacang sendiri berasal dari kata “cai” dan “embacang” atau nama lain dari mangga limus juga. Sungai tersebut mengalir dari lereng gunung Ciremai terus membujur ke arah timur hingga memasuki dan melewati suatu kampung yang bernama Tarikolot, suatu kampung (umbul, menurut istilah setempat) sebagai pusat pemerintahan Pakuwon (Pakuwuan) Cilimus sebagai cikal bakal nama Desa Cilimus dimasa kini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Nama Pakuwon Cilimus mulai dipakai saat pemukiman ini mulai dipimpin oleh tokoh yang bernama Ki Buyut Sacawana yang saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan yang memiliki 80 pakuwon dan beberapa kabupatian. Sehingga yang menjadi pokok penelusuran sejarah Cilimus dimulai dari tokoh Ki Buyut Sacawana ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Cilimus sebagai Ibu Kota Kecamatan Cilimus serta eks Kawedanan Cilimus, secara geografis terletak diantara wilayah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Batas wilayah Kecamatan Cilimus, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Ciremai, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan dan sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;ASAL USUL NAMA TEMPAT DAN TOKOH PENDIRI CILIMUS&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah Cilimus terungkap kembali saat Nusantara dalam cengkraman penjajahan Belanda, tepatnya saat Belanda kembali menjajah menggantikan Inggris yang hengkang dari bumi pertiwi pada tahun 1817 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun pada masa penjajahan Belanda ini, wilayah Pakuwon Cilimus masuk dalam wilayah Kabupatian Linggajati yang berdampingan dengan Kabupatian Kuningan yang sama-sama masuk dalam wilayah kedaulatan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Hal ini didapat pada laporan Residen Cirebon yang bernama P.H. Van Der Kemp yang tertuang pada Beslit No. 13 tanggal 30 Januari 1818 yang melaporkan bahwa, telah memerintahkan Bupati Linggajati untuk membantu Opsiner Kehutanan Banyaran yang bernama Prudants dan Bupati Bengawan Wetan yakni Raden Adipati Nitidiningrat yang kewalahan dalam melawan para pemberontak yang tengah mundur ke Palimanan. (P.H. Van Der Kemp. 1979: 16).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Situasi saat itu memang tengah gencar-gencarnya pemberontakan yang terkenal dengan istilah Perang Kedondong di antero wilayah Cirebon, Karawang, Majalengka hingga Kabupatian Talaga yang dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit atau pada masa Sultan Sepuh VIII yakni Sultan Raja Udaka (1815-1845) sebagai kelanjutan dari Pemberontakan Pangeran Suryanegara tahun 1753-1773 (Iswara. 2009: 28).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. RATU NGADEG PIAMBEK&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syahdan, dalam situasi yang masih belum pulih akibat peristiwa pemberontakan oleh PANGERAN SURYANEGARA II alias Pangeran Arya Panengah Abukayat Suryakusuma, beliau adalah anak ke-2 dari Sultan Sepuh IV Raja Amir Sena Mohammad Jaenudin dan juga adik Sultan Sepuh V Sultan Matangaji. Makam Pangeran Suryanegara II berada di Komplek Pemakaman Gunung Sembung Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah keluar dari Keraton Kasepuhan karena ketidaksesuaian faham dengan Sultan Sepuh pengganti kakaknya. Selanjutnya beliau berkedudukan di Mertasinga yang dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Singapura sebelum era Kesultanan Cirebon berdiri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada masa itu, telah lahir seorang putra dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari &amp;amp; ayah bernama Pangeran Lubang Suryakusuma (anak dari Pangeran Suryanegara II dari istri Ratu Pinangsih Sitoresmi/ Siti Khadijah binti Ki Kriyan).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bayi tersebut bernama Pangeran Adiredja Martakusumah yang lahir pada hari Jum’at Legi tanggal 8 November 1811 di Mertasinga (5 km utara kompleks Pemakaman Gunung Sembung).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut pitutur para sepuh, sejak usia remaja Pangeran Adiredja Martakusumah senang menuntut ilmu, utamanya ilmu kedigjayaan sehingga bisa menguasai ilmu kesaktian yang pada masa itu dianggap sangat tinggi yakni ilmu Rawe Rontek.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun sejak kecil Pangeran Adiredja Martakusumah pun sudah mendapat gemblengan ilmu lahir dan ilmu batin dari ayahnya. Disamping belajar ilmu agama dan darigama, ia digembleng fisiknya dengan ilmu silat oleh ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menjelang masa remaja, pangeran muda tersebut berguru pada seorang mantan pendekar sakti yang mengasingkan diri dipinggiran kota raja (mungkin disekitaran Kota Sumber sekarang).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran muda tersebut akhirnya bisa mengabdi di Keraton Kasepuhan atas jasa seorang Pengageng Keraton Kasepuhan yang disegani raja yang saat itu dijabat oleh Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman. Jadi meskipun beliau putra dan cucu seorang pemberontak, disamping jasa sang pengageng tadi, toh beliau juga masih kerabat dekat keraton.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dikisahkan, pada usia 36 tahun atau tepatnya tahun 1847 Pangeran Adiredja Martakusumah mendapat tugas dari Keraton Kasepuhan atas usul dan dukungan Pengageng Keraton yang disegani tadi untuk mengelola pemukiman di suatu padukuhan diwilayah kidul yang mulai berkembang yang terdapat banyak pohon mangga limus disekitarnya yang pada akhirnya bernama Pakuwon Cilimus, yang dikemudian hari berubah lagi menjadi Desa Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebenarnya, secara politis, maksud Pengageng Keraton Kasepuhan tersebut mengutus keturunan Sultan Sepuh IV tadi adalah untuk mengantisipasi bila ancaman Belanda benar-benar dilaksanakan, yakni akan mengebom keraton sebagaimana nasib keraton Banten yang dibumi hanguskan oleh Belanda akibat pemberontakan Sultan Banten kepada penjajah Belanda. Ancaman tersebut disampaikan Belanda sewaktu meminta Pangeran Suryanegara II menghentikan pemberontakan. Jadi antisipasi tersebut yakni dengan mempersiapkan pusat pemerintahan darurat diwilayah kidul dengan mengutus seorang yang memiliki trah dari Sunan Gunung Jati sebagai penerus Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Tapi untunglah ancaman Belanda tersebut tidak pernah dilaksanakan karena Sultan Sepuh saat itu pernah menyurati Pangeran Suryanegara II memohon untuk menghentikan perlawanan kepada Belanda demi keutuhan keraton warisan yang sama-sama mereka hormati Sinuwun Sunan Gunung Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kembali pada kisah perjalanan Pangeran Adiredja Martakusumah yang meninggalkan Cirebon disertai 2 (dua) orang Istrinya serta 5 (lima) orang anaknya beserta beberapa orang pengikutnya diantaranya bernama Raden Langlangbuwana, Raden Singadiperana dan Raden Gunawicara, mereka adalah menak keturunan Dalem Darim dari keturunan Sunan Gunung Agung atau Buyut Pakidulan (Garut) . (Nama-nama tadi pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Langlang Buwana di umbul Kalungluwuk yang sekarang bernama SDN V Cilimus dan nama SDN Gunawicara didekat Desa Indapatra).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dengan menanggalkan pakaian pinangerannya serta menyembunyikan gelar pangerannya, Pangeran Adiredja Martakusumah menyamarkan diri dengan berpakaian yang umumnya dipakai orang-orang sunda dulu yaitu pangsi hitam-hitam dan ikat kepala balangbang semplak, berangkatlah rombongan itu menuju kearah selatan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mereka berkuda dan tiba disatu kampung bernama Wanacala dimana sang Orang Kepercayaan Sang Kakek (Tubagus Suryajayanegara) dikebumikan. Rombongan berhenti sejenak untuk berziarah terlebih dahulu di makam tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah usai berziarah, rombongan melanjutkan perjalanannya kembali menuju selatan. Selama dalam perjalanan, Pangeran Adiredja Martakusumah berfikir-fikir tentang nama yang cocok sebagai pengganti nama aslinya bila dirinya telah tiba ditujuan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Terinspirasikan nama kampung Wanacala tersebut, beliau mengutak-atik nama kampung tersebut, wana-cala, dibalik cala-wana. Akhirnya didapat nama yang cocok yakni “SACAWANA” (gabungan dari “Saca” dan “Wana”). Saat itu nama “saca” banyak dipakai para menak sunda seperti sacanata, sacadilaga, saca mangunhardja dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Akhirnya Pangeran Adiredja Martakusumah memerintahkan kepada para keluarga serta pengikutnya untuk memanggil dirinya dengan nama baru yakni Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setibanya disuatu tempat yang banyak terdapat pohon mangga limus yang buahnya sangat harum dan khas aromanya utamanya banyak terdapat di sepanjang sungai ditempat itu, sehingga pakuwon itu ia beri nama CILIMUS dari kata “air buah limus”.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebelum sampai ditepi sungai dimaksud tadi, Ki Sacawana dan rombongan sejenak berhenti dibawah pohon Beringin Karet yang sangat besar (sekarang berada di alun-alun Cilimus/ terminal mobil Cilimus). Sejenak beliau berkontemplasi dengan mengerahkan segenap daya cipta rasa mata batin untuk menembus kegaiban ditempat itu karena getaran yang kuat sudah dirasa sejak melihat pohon beringin karet tersebut dari jauh.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dari hasil kontemplasi Ki Sacawana, rupanya mahluk ghaib (danyang atau dahiang) yang bernama Nyai Andayasari sejenis jin muslim yang “ngageugeuh” (mengayomi) di padukuhan itu telah menyambut kedatangan Ki Sacawana beserta rombongan. (Nama Andayasari pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Inpres Andayasari di Jalan Pasawahan sekarang).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah tiba ditepi sungai yang banyak pohon mangga limusnya tadi, sekarang bernama “goang” (sungai) Cibacang, rombongan tersebut sejenak beristirahat untuk melepaskan lelah. Setelah merasa cukup beristirahat rombongan tidak terus berjalan ke arah selatan melainkan berjalan ke arah timur menyusuri sungai Cibacang tadi. Akhirnya tiba disatu tempat yang dirasa tepat untuk mendirikan tempat tinggal dan pusat pemerintahan yang bernama Tarikolot.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setibanya di padukuhan Tarikolot, Ki Sacawana mulai membangun pemukiman dan juga balai pusat pemerintahan (istilah sekarang bernama Balai Desa). Dengan dibantu oleh beberapa orang tokoh selain yang ikut dalam rombongan tadi yaitu Ki Jaliman dan beberapa orang lainnya yang kesemuanya adalah pengikut setia Ki Sacawana hingga akhir hayatnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Begitu besar wibawa sang pangeran yang telah berganti nama menjadi Ki Sacawana dihadapan rakyat Cilimus dan sekitarnya sehingga beliau mendapat julukan RATU NGADEG PIAMBEK, dari bahasa sunda buhun yang artinya raja yang berdiri sendiri atau raja yang tidak dipilih rakyat tapi jadi dengan sendirinya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Buyut Sacawana atau Ratu Ngadeg Piambek memiliki profil yang menarik. Beliau berperawakan sedang dan berotot, agak tinggi badannya, rambutnya panjang tebal dan agak ikal, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata tajam namun teduh, bicaranya bisa tegas bisa lembut tergantung kondisi namun lemah lembut pada rakyatnya, kesukaannya berpakaian seperti kebanyakan masyarakat sunda pada masa itu yaitu baju pangsi hitam serta ikat kepala batik. Memang suatu gambaran profil yang pantas bila beliau digelari Ratu Ngadeg Piambek karena perbawa wibawa yang dimilikinya, padahal masyarakat Cilimus kebanyakan tidak mengetahui bila beliau adalah seorang keturunan raja yang disegani di Cirebon juga keturunan seorang Awliya yang menjadi panutan masyarakat tatar pasundan pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pembangkangan Ki Buyut Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sesungguhnya, dihati Pangeran Adiredja Martakusumah (Ki Sacawana) masih memendam ketidakpuasan akan nasib ayahnya juga kakeknya. Kakeknya meninggalkan Keraton Kasepuhan beserta 3 (tiga) orang adiknya yakni Pangeran Jayawikarta, Pangeran Arya Kidul dan Pengeran Arya Kulon karena alasan tertentu. Oleh karenanya P. Suryanegara II berencana membangun keraton di bekas Keraton Mertasinga (eks Kerajaan Singapura). Tapi karena Sultan Kanoman melarang untuk meneruskan pembangunan keraton dimaksud, akhirnya ditempat tersebut hanya dijadikan basis perlawanan kepada Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ayahnya Pangeran Adiredja Martakusumah yakni P. Lubang Suryakusuma juga meninggal secara menyedihkan dengan tubuh berlubang-lubang, sehingga dikenal dengan sebutan Pangeran Lubang, namun ayahnya tersebut gugur sebagai syuhada kusuma bangsa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jadi kepergianya ke Cilimus adalah dengan membawa kepedihan hati dan rasa kecewa yang terpendam dihati Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana, sehingga beberapa waktu kemudian beliau mulai melakukan pembangkangan terhadap pihak kerajaan Cirebon yang pada saat itu cenderung memihak kepada Belanda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dengan cara rahasia, mulailah beliau melakukan pembangkangan atau pemberontakan dengan rapinya. Pembangkangan kepada Kesultanan Kasepuhan pada hakekatnya adalah pemberontakan kepada penjajah Belanda dengan cara gerilya. Diceritakan bahwa, banyak anak buahnya yang menyamar jadi pedagang bila bertemu dengan Serdadu Belanda yang sedang lengah, mereka membunuh serdadu itu hanya dengan alat sederhana semisal ditusuk dengan garpu makan dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Sacawana seorang ”jadug” yang sakti mandraguna, tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah kendati tubuhnya itu sudah terpotong-potong. Itulah yang dikenal dengan Ajian Rawe Rontek, ilmu andalah Ki Buyut Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dikisahkan, dalam melaksanakan aksinya Ki Sacawana suka menghentikan dan menyamun para utusan penguasa dari wilayah kidul yang saat itu masih mengakui kedaulatan Cirebon seperti dari Ciamis, Tasikmalaya dan lain-lainnya. Ki Sacawana dan para pengikutnya bertindak ala Robinhood dalam cerita kepahlawanan Inggris, karena hasil rampasannya tersebut selanjutnya dibagi-bagikan kepada rakyat, utamanya kepada rakyat yang miskin. Meskipun mereka menyamun, tapi Ki Sacawana dan pengikutnya bukanlah perampok sungguh-sungguh karena mereka tidak pernah menyamun para pedagang atau saudagar yang lewat diwilayah operasi mereka. Jadi yang dirampok hanyalah barang-barang upeti untuk raja Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tempat dimana biasanya Ki Sacawana beserta pengikutnya menyamun barang-barang upeti tersebut, hingga kini tempat itu di kenal dengan nama Ciloklok, yang maksudnya “ditelan bulat-bulat”.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada akhirnya perbuatan dan sepak terjang beliau lambat laun diketahui oleh pihak Keraton Kasepuhan, untuk selanjutnya diberikan peringatan untuk menghentikan aksinya tersebut, namun tidak digubris. Karena aksi pembangkangan Ki Sacawana tersebut sebenarnya bukan hanya karena menghendaki barang rampasannya semata, namun sekaligus sebagai upayanya untuk melemahkan Kesultanan Cirebon dan Belanda dengan memutuskan mata rantai dari wilayah kidul, minimal sebagai sikap balas dendam atas nasib kedua leluhurnya sebagaimana telah dipaparkan di atas tadi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada akhirnya, pihak keraton di Cirebon memutuskan untuk membunuh Ki Sacawana dengan mengirimkan ponggawa keraton beserta pendekar-pendekar untuk menangkap dan membunuh Ki Sacawana. Tetapi tindakan itu selalu mengalami kegagalan dikarenakan kesaktian yang dimiliki Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun selanjutnya ada juga penghianat bangsa yang mau memberitahukan kelemahan beliau, bahwa Ki Sacawana hanya dapat dibunuh dengan cara bagian tubuhnya dipisah-pisahkan (mutilasi) dan dikuburkan pun secara terpisah-pisah pula.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Meninggalnya Ki Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada suatu ketika, datanglah di Linggajati seorang yang berpakaian kyai yang akan menjajal kesaktian Ki Buyut Sacawana yang sudah terkenal dimana-mana. Syahdan, Kyai tersebut sudah mengetahui weton kelahirannya Ki Sacawana sehingga bisa mengetahui hari naas Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selanjutnya, dihari yang sudah diketahui sebagai hari naas Ki Sacawana, diundanglah oleh Kyai tadi untuk mengajak perang tanding kepada Ki Buyut Sacawana. Cadu mundur sanyari bumi, begitu istilahnya, Ki Sacawana menerima tantangan itu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bertempat di sebuah lapangan yang dikelilingi banyak pohon pinus dilereng Gunung Ciremai (mungkin diwilayah Gunung Deukeut/ Desa Setianegara sekarang), perang tanding pun mulai dilaksanakan dari pagi hingga sore hari tanpa campur tangan siapapun. Ki Sacawana bersenjatakan pusaka semacam golok panjang/ pedang dan si Kyai bersenjatakan keris berwarna putih luk-8 serta bisa memancarkan sinar putih keperakkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Diceritakan, adu kanuragan dengan mengeluarkan jurus-jurus silat yang pada masa itu banyak meniru gerakan-gerakan hewan berlangsung seru, serta adu kesaktian yang mendebarkan. Kesaktian mereka sebenarnya berimbang, tapi karena saat itu menurut perhitungan si kyai adalah hari naas Ki Sacawana, maka benarlah yang terjadi. Ki Sacawana akhirnya dapat ditusuk dengan keris besi putih oleh si Kyai tersebut tepat diulu hati Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mungkin sudah suratan takdirnya, bahwa ajal sesepuh Cilimus ini harus tewas dalam adu kesaktian dan bisa dibunuh pada tahun 1880, pada saat itu usia Ki Sacawana atau Ratu Ngadek Piambek atau Pangeran Adiredja Martakusumah adalah 69 tahun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selanjutnya jenazah Ki Sacawana dimutilasi di atas ”anjang-anjang” tanaman labu siam untuk menghindari jasad pemilik Ajian Rawe Rontek itu menyentuh tanah dengan menggunakan keris putih luk-8 tadi. Selanjutnya jasad Ki Sacawana yang sudah terpotong menjadi 3 (tiga) bagian itu dikuburkan ditempat yang terpisah jauh yakni:&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian kepala dikuburkan di Desa Panawuan disatu perbukitan (pasir, istilah Sunda).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian dada dan perut dikuburkan di Desa Cilimus, tepatnya di Dusun Kalungluwuk.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian kaki dikuburkan di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon (belum diketahui tepatnya).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Anak dan Keturunan Ki Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Sacawana wafat pada tahun 1880 masehi (tidak diketahui hari dan tanggalnya). Beliau meninggalkan 2 (dua) orang istri dan 5 (lima) orang anak. Dua orang anak dari istri pertama dan 3 (tiga) orang anak dari istri kedua yang bernama Nyi Mas Sri Murti Wulandari (putri dari keturunan Keraton Kasepuhan). Ki Sacawana yang pada saat itu bernama Pangeran Adiredja Martakusumah menikahi Nyi Mas Murti Wulandari pada usia 20 tahun tepatnya pada tahun 1831 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Belum diketahui semua anaknya tadi, cuma satu anak yang diketahui bernama Pangeran Rahmat Agung Martakusumah anak kedua dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari (istri ke-2) yang lahir pada hari Sabtu Wage, 6 Oktober 1832 di Keraton Kasepuhan. Adiknya menyusul lahir pada tahun 1834 dan si bungsu lahir tahun 1837 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran Rahmat Agung Martakusumah beserta keempat saudaranya lahir di Cirebon, sewaktu mereka masih kecil-kecil dan tinggal di keraton terpaksa harus hijrah mengikuti ayahnya ke Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah kejadian pembunuhan atas ayahnya yaitu Ki Sacawana, Pangeran Rahmat Agung yang pada saat itu berumur 46 tahun meninggalkan Cilimus untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, yakni berhijrah ke kampung yang bernama Lingga di wilayah Kabupaten Majalengka (belum diketahui letak kampung tersebut, karena mungkin sekarang sudah berganti nama).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Saat meninggalkan Cilimus, P. Rahmat Agung Martakusumah meninggalkan seorang istri yang bernama Nyai Siti Maemunah (Putri ke-5 dari 11 orang bersaudara Ki Buyut Marmagati/ tokoh yang akan diceritakan nanti) di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;P. Rahmat Agung mempunyai seorang istri dan 8 (delapan) orang anak: 1. (laki-laki) 2. (perempuan) 3. (laki-laki) 4. Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah 5. (perempuan) 6. (perempuan) 7. (laki-laki) dan 8. (perempuan).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jadi cuma satu anaknya yang diketahui namanya, yakni anak ke-4 yang bernama Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah (para keturunannya biasa menyebut nama pendeknya saja yakni Buyut Tawidjar).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah keadaan dirasa sudah aman, P. Rahmat Agung pulang kembali Cilimus. Pada usia 70 tahun tepatnya pada tahun 1904 pangeran yang bersifat sabar, tawakal serta hidup sederhana dan juga tidak mau menjadi Kuwu Cilimus, meninggalkan dunia yang fana ini menyusul ramanya yang telah gugur sebagai kesumah dengan cara yang menyedihkan. Pada Saat itu Desa Cilimus dipimpin oleh Kuwu II yang bernama Kuwu Rumsewi (1880 s/d 1887).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. TUBAGUS MARMAGATI&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada era yang sama saat kedatangan Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana di Pakuwon Cilimus, kedatangan seorang tokoh ulama yang bergelar Tubagus dari Kesultanan Banten yang mengganti nama dengan panggilan Ki Marmagati. Ki Marmagati meninggalkan Banten setelah Kesultanan Banten berakhir, yakni setelah meninggalnya Sultan Banten pamungkas yakni Sultan Banten XXI Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Karena di wilayah Banten terus dilanda kemelut, sang Tubagus meninggalkan kampung halamannya berhijrah kewilayah timur yang pada akhirnya tiba di Pakuwon Cilimus tepatnya di umbul Kukulu untuk menjalani hidup baru sembari berdakwah dan mengajarkan ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebagaimana halnya dengan Ki Sacawana, sang Tubagus itu pun menyembunyikan gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama menjadi MARMAGATI, seorang ulama yang luhur budinya serta kaya ilmunya. Beliau berbadan tinggi besar, gagah, berkumis dan berjenggot lebat serta brewokan dan suka berpakaian putih-putih laiknya pakaian para ulama pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Marmagati dan Ki Sacawana yang sama-sama keturunan dari Sunan Gunung Jati bersama-sama membesarkan Desa Cilimus pada bidang tugasnya masing-masing, akhirnya berbesanan dengan menikahkan puteri ke-5 nya yang bernama Nyai Siti Maemunah dengan putera Ki Sacawana yang bernama Rahmat (Pangeran Rahmat Agung Martakusumah).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah beberapa waktu lamanya beliau mengajarkan ilmu agama Islam serta berdakwah pada masyarakat Desa Cilimus, akhirnya Ki Buyut Marmagati hijrah ke Gunung Sirah di salah satu desa di Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. Selanjutnya beliau menetap dan berdakwah disana hingga wafatnya dan dikebumikan di Puncak Bukit Oncangan Desa Gunung Sirah (sampai sekarang makam beliau masih terawat rapi berdampingan dengan istri dan murid-muridnya).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Saat hijrahnya ke Gunung Sirah tidak diketahui kapan waktunya, namun diduga waktunya adalah pasca gugurnya Ki Buyut Sacawana. Atau kemungkinan saat menantunya hijrah ke wilayah Majalengka, beliau pun hijrah ke wilayah Darma di Kabupaten Kuningan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. TUBAGUS HADJI ABDUL GHAFAR (KUWU KE-III DESA CILIMUS)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada saat Ki Buyut Sacawana memerintah sebagai Kuwu Cilimus yang pertama, di Cilimus ada juga seorang keturunan Sunan Gunung Jati dari jalur Kesultanan Banten yang bernama Tubagus Hadji Abdul Ghafar yang lahir pada tahun 1816 di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tb. H. Abdul Ghafar menjadi Kuwu Cilimus yang ke-3 menggantikan Kuwu Rumsewi pada tahun 1887 sampai tahun 1922 masehi. Bapak Tb. H. Abd. Ghafar meninggal dalam usia sangat tua yakni 106 tahun tepatnya pada tahun 1922 masehi, dimakamkan di Pemakaman Pasir Jati diposisi paling atas (bukit kecil) dekat pohon beringin.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam beliau berada ditengah-tengah 3 (tiga) makam yang berdampingan. Sebelah barat adalah makam putranya yang pertama yang dari istri pertamanya (Ibu Hj. Fatmah) dan yang sebelah timur adalah makam istrinya pertama tadi. Kalau makam istri ke-2 nya berada di Pemakaman Ciloklok Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sewaktu memerintah, Tubagus H. Abdul Ghafar (disalah satu silsilah keluarga, ditulis Abdul Gappar) dibantu oleh Juru Tulis (Sekretaris Desa) yang bernama Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan Tawidjar Martakausumah) putra ke-2 dari 6 (enam) bersaudara Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah. Berarti Bapak Hadji Hasan adalah cucu dari Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sementara, Bapak Tb. H. Abdul Ghafar memiliki 2 (dua) orang istri. Istri yang pertama bernama Ibu Hadjah Fatmah, memiliki 3 (tiga) orang anak, anak pertama laki-laki meninggal dunia sewaktu kecil dan 2 orang putri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Karena anak laki-lakinya meninggal dunia, beliau meminta izin kepada istrinya untuk menikah lagi. Ibu Hj. Fatmah ikhlas dimadu sehingga Bapak Tb. Hj. Abdul Ghafar menikah kembali dengan Ibu Salmah dan dikarunia 6 (enam) orang anak yaitu 5 (lima) orang putera dan 1 (satu) orang puteri.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dituturkan, bahwa profil Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan) yang mewarisi profil ayahnya yang lemah lembut, pekerja keras serta agamis juga tampan, menarik hati Pak Kuwu untuk menjodohkan dengan puterinya yang bernama Ratu Hadjah Djaonah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebenarnya, kawin-mawin, silang-menyilang memang sudah menjadi tradisi di tatar Cilimus dan sekitarnya, sehingga pada umumnya, warga asli Desa Cilimus bersumber pada 3 (tiga) orang tokoh yang telah diuraikan di atas tadi yakni:&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. Ki Sacawana (Pangeran Adiredja Martakusumah) asal Cirebon;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. Ki Marmagati (Tubagus Marmagati) asal Banten;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Bapak H. Abdul Ghafar (Tubagus Hadji Abdul Ghafar) keturunan Banten dan Cirebon yang lahir di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sehingga para Kuwu di Desa Cilimus, bisa dikatakan umunya dari keturunan/ ada ikatan dengan ke-3 tokoh di atas tadi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;4. KUWU-KUWU YANG PERNAH MEMERINTAH DESA CILIMUS&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah Cilimus lebih merunut pada para tokoh pemerintahannya yakni para kuwu yang pernah memerintah Pakuwon/ Desa Cilimus. Jadi urutan kuwu dari pra-Indonesia merdeka, pasca-Indonesia Merdeka, masa Orde lama, masa Orde Baru hingga saat sekarang ini (Orde Reformasi) bisa dirunut beserta masa jabatannya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. P. Adiredja Martakusumah/Ki Sacawana (1847 s/d 1880)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. Ki Rumsewi (1880 s/d 1887)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Tubagus Hadji Abdul Gappar (1887 s/d 1922)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Rd. Ranadisastra (Pejabat Kuwu)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;4. Rd. Karnadisastra (1922 s/d 1928)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;5. Rd. Wangsaatmaja (1928 s/d 1947)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;6. E. Suarja (1947 s/d 1950)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;7. Rd. Jaya Sentana (1950 s/d 1956)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;8. Bapak Muhammad Hasyim (1956 s/d 1969)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;9. Bapak A. Pathoni Saleh (1969 s/d 1979)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;10. Bapak E. Rosyidin (1980 s/d 1988)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;11. Bapak Toto (Pejabat Kuwu)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;12. Bapak Masuri (1990 s/d 1998)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;13. Bapak Masuri 2 (1999 s/d 2001)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;14. Bapak Apip (2002 s/d 2006)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;15. Bapak Nasihin Arjadisastra (2007 s/d 2013)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;16. Bapak Otong Mulyadin (2013 s/d …..)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-cilimus-kuningan.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilfVF6EZaXjuVv75ItkxkUQJtt3DF8GHpGK1Y6AzJW5ta_ezOHk0B7JQ2YPmpEKtmmqFQFrpud2TQ5nFXAuN4gfg6D03oty9TJiuh7-6k79fk7M3uMGmPhacRnIL8rxN_odVWplO5PgqWx/s72-c/IMG20191223133751.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-7661114452296119720</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 17:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:29:08.304-07:00</atom:updated><title>BABAD DESA KALIAREN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCVykukeC_DkNEI2sSKvWJ9HQP5iN9SRJUUNb_g5MfIL8Y3HxnZBJmkE-AZkl4bF9IS2mhRGOQZpvLcWlx9xz2yIWZSgLg1NYqWS_VcM2zckvEDbsc66RBY-GQ3ZJ8xbpKhw-LgO4taUxf/s2048/IMG20191223134456.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCVykukeC_DkNEI2sSKvWJ9HQP5iN9SRJUUNb_g5MfIL8Y3HxnZBJmkE-AZkl4bF9IS2mhRGOQZpvLcWlx9xz2yIWZSgLg1NYqWS_VcM2zckvEDbsc66RBY-GQ3ZJ8xbpKhw-LgO4taUxf/s320/IMG20191223134456.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;BABAD DESA KALIAREN&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;ecm0bbzt hv4rvrfc e5nlhep0 dati1w0a&quot; data-ad-comet-preview=&quot;message&quot; data-ad-preview=&quot;message&quot; id=&quot;jsc_c_fs&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; padding: 4px 16px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; flex-direction: column; font-family: inherit; margin-bottom: -5px; margin-top: -5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;qzhwtbm6 knvmm38d&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql rrkovp55 a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 d3f4x2em fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v knj5qynh oo9gr5id hzawbc8m&quot; color=&quot;var(--primary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kaliaren adalah salah satu desa di utara Kuningan yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cilimus. Mayoritas penduduk desa ini adalah perantau yang melanglangbuana ke pelbagai macam kota besar di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ihwal sejarah desa ini, bisa disusuri melalui toponimi desa yang mana kata “Kaliaren” tersebut berasal dari kata “Kali” dan “Aren.” Kali karena di desa itu terdapat sungai yang mengalir hingga melewati beberapa desa lainnya, dan aren karena dulu di tempat itu banyak sekali pohon yang disadap sehingga menghasilkan gula aren.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Babad Cirebon mengonfirmasi mengenai kehadiran para petani aren di bawah kaki Gunung Ciremai tersebut, dan hal itu menjadi bukti yang tidak bisa dibantah mengenai eksistensi suatu daerah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut cerita yang dicatat desa, Kaliaren adalah tempat beristirahatnya Sunan Gunung Jati bersama rombongan ketika akan melakukan perjalanan ke Gunung Ciremai. Meski demikian, folklor ini mesti diteliti kembali keabsahannya berdasarkan sumber-sumber yang otoritatif.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada zaman Belanda, Kaliaren telah berkembang sebagai sebuah desa yang memiliki peranan sebagai penopang kehidupan masyarakat Cirebon. Hasil alam yang berasal dari desa ini biasanya dikirim untuk diperjualbelikan disana.
  Sekian mudah mudahan bermanfaat&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4 l82x9zwi uo3d90p7 h905i5nu monazrh9&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore-dynamic&quot; style=&quot;animation-name: none; border-radius: 0px 0px 8px 8px; font-family: inherit; overflow: hidden; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;a8nywdso e5nlhep0 rz4wbd8a ecm0bbzt dhix69tm oygrvhab wkznzc2l kvgmc6g5 k7cz35w2 jq4qci2q j83agx80 olo4ujb6 jmbispl3&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; height: 32px; margin: 0px 16px; padding: 4px 0px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Kirimkan ini kepada teman atau kirimkan di linimasa Anda.&quot; class=&quot;oajrlxb2 bp9cbjyn g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 j83agx80 rj1gh0hx btwxx1t3 pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb lzcic4wl abiwlrkh p8dawk7l buofh1pr k7cz35w2 taijpn5t ms05siws flx89l3n ogy3fsii&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: center; animation-name: none; background-color: white; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; color: #1c1e21; cursor: pointer; display: flex; flex-direction: row; flex: 1 0 0px; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; height: 32px; justify-content: center; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; touch-action: manipulation; transition-duration: var(--fds-fast); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-strong); user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;animation-name: none; border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/babad-desa-kaliaren.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCVykukeC_DkNEI2sSKvWJ9HQP5iN9SRJUUNb_g5MfIL8Y3HxnZBJmkE-AZkl4bF9IS2mhRGOQZpvLcWlx9xz2yIWZSgLg1NYqWS_VcM2zckvEDbsc66RBY-GQ3ZJ8xbpKhw-LgO4taUxf/s72-c/IMG20191223134456.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1523406391161310078.post-9036566178330276490</guid><pubDate>Thu, 26 Nov 2020 17:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-25T18:30:09.572-07:00</atom:updated><title>SEJARAH DESA CILIMUS KUNINGAN</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5DtY2u74oO6Hrvn8kLAmn61yU-kmfUoWjBzuDWmLdfhSlmdF_xm3Te9dE4m-y5oSRt7Sd8tCm5h8W5A0UpOFr5dUhd4dqlCvZHWR-q7nhjEOF1N-tQNwNsHJKQGOJTvDRqeDnzh-X6vx/s2048/IMG20200323101113.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;2048&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5DtY2u74oO6Hrvn8kLAmn61yU-kmfUoWjBzuDWmLdfhSlmdF_xm3Te9dE4m-y5oSRt7Sd8tCm5h8W5A0UpOFr5dUhd4dqlCvZHWR-q7nhjEOF1N-tQNwNsHJKQGOJTvDRqeDnzh-X6vx/s320/IMG20200323101113.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Sejarah Desa Cilimus Kuningan &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;ecm0bbzt hv4rvrfc e5nlhep0 dati1w0a&quot; data-ad-comet-preview=&quot;message&quot; data-ad-preview=&quot;message&quot; id=&quot;jsc_c_gv&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; padding: 4px 16px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; flex-direction: column; font-family: inherit; margin-bottom: -5px; margin-top: -5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;qzhwtbm6 knvmm38d&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql rrkovp55 a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 d3f4x2em fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v knj5qynh oo9gr5id hzawbc8m&quot; color=&quot;var(--primary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Secara etimologi Cilimus berasal dari kata “cai” dan “limus” atau “cailimus” disingkat “Cilimus”. Secara terminologi, Cilimus sebagaimana umumnya nama suatu tempat di tatar sunda selalu di awali dengan kata “Ci” atau “Cai” (air) yakni suatu Padukuhan atau tempat berdiamnya suatu komunitas masyarakat di tatar Sunda yang ditempat tersebut banyak terdapat pohon Mangga Limus disepanjang sungai Cibacang. Cibacang sendiri berasal dari kata “cai” dan “embacang” atau nama lain dari mangga limus juga. Sungai tersebut mengalir dari lereng gunung Ciremai terus membujur ke arah timur hingga memasuki dan melewati suatu kampung yang bernama Tarikolot, suatu kampung (umbul, menurut istilah setempat) sebagai pusat pemerintahan Pakuwon (Pakuwuan) Cilimus sebagai cikal bakal nama Desa Cilimus dimasa kini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Nama Pakuwon Cilimus mulai dipakai saat pemukiman ini mulai dipimpin oleh tokoh yang bernama Ki Buyut Sacawana yang saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan yang memiliki 80 pakuwon dan beberapa kabupatian. Sehingga yang menjadi pokok penelusuran sejarah Cilimus dimulai dari tokoh Ki Buyut Sacawana ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Desa Cilimus sebagai Ibu Kota Kecamatan Cilimus serta eks Kawedanan Cilimus, secara geografis terletak diantara wilayah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Batas wilayah Kecamatan Cilimus, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Ciremai, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan dan sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;ASAL USUL NAMA TEMPAT DAN TOKOH PENDIRI CILIMUS&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah Cilimus terungkap kembali saat Nusantara dalam cengkraman penjajahan Belanda, tepatnya saat Belanda kembali menjajah menggantikan Inggris yang hengkang dari bumi pertiwi pada tahun 1817 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun pada masa penjajahan Belanda ini, wilayah Pakuwon Cilimus masuk dalam wilayah Kabupatian Linggajati yang berdampingan dengan Kabupatian Kuningan yang sama-sama masuk dalam wilayah kedaulatan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Hal ini didapat pada laporan Residen Cirebon yang bernama P.H. Van Der Kemp yang tertuang pada Beslit No. 13 tanggal 30 Januari 1818 yang melaporkan bahwa, telah memerintahkan Bupati Linggajati untuk membantu Opsiner Kehutanan Banyaran yang bernama Prudants dan Bupati Bengawan Wetan yakni Raden Adipati Nitidiningrat yang kewalahan dalam melawan para pemberontak yang tengah mundur ke Palimanan. (P.H. Van Der Kemp. 1979: 16).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Situasi saat itu memang tengah gencar-gencarnya pemberontakan yang terkenal dengan istilah Perang Kedondong di antero wilayah Cirebon, Karawang, Majalengka hingga Kabupatian Talaga yang dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit atau pada masa Sultan Sepuh VIII yakni Sultan Raja Udaka (1815-1845) sebagai kelanjutan dari Pemberontakan Pangeran Suryanegara tahun 1753-1773 (Iswara. 2009: 28).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. RATU NGADEG PIAMBEK&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Syahdan, dalam situasi yang masih belum pulih akibat peristiwa pemberontakan oleh PANGERAN SURYANEGARA II alias Pangeran Arya Panengah Abukayat Suryakusuma, beliau adalah anak ke-2 dari Sultan Sepuh IV Raja Amir Sena Mohammad Jaenudin dan juga adik Sultan Sepuh V Sultan Matangaji. Makam Pangeran Suryanegara II berada di Komplek Pemakaman Gunung Sembung Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah keluar dari Keraton Kasepuhan karena ketidaksesuaian faham dengan Sultan Sepuh pengganti kakaknya. Selanjutnya beliau berkedudukan di Mertasinga yang dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Singapura sebelum era Kesultanan Cirebon berdiri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada masa itu, telah lahir seorang putra dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari &amp;amp; ayah bernama Pangeran Lubang Suryakusuma (anak dari Pangeran Suryanegara II dari istri Ratu Pinangsih Sitoresmi/ Siti Khadijah binti Ki Kriyan).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bayi tersebut bernama Pangeran Adiredja Martakusumah yang lahir pada hari Jum’at Legi tanggal 8 November 1811 di Mertasinga (5 km utara kompleks Pemakaman Gunung Sembung).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menurut pitutur para sepuh, sejak usia remaja Pangeran Adiredja Martakusumah senang menuntut ilmu, utamanya ilmu kedigjayaan sehingga bisa menguasai ilmu kesaktian yang pada masa itu dianggap sangat tinggi yakni ilmu Rawe Rontek.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun sejak kecil Pangeran Adiredja Martakusumah pun sudah mendapat gemblengan ilmu lahir dan ilmu batin dari ayahnya. Disamping belajar ilmu agama dan darigama, ia digembleng fisiknya dengan ilmu silat oleh ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Menjelang masa remaja, pangeran muda tersebut berguru pada seorang mantan pendekar sakti yang mengasingkan diri dipinggiran kota raja (mungkin disekitaran Kota Sumber sekarang).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran muda tersebut akhirnya bisa mengabdi di Keraton Kasepuhan atas jasa seorang Pengageng Keraton Kasepuhan yang disegani raja yang saat itu dijabat oleh Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman. Jadi meskipun beliau putra dan cucu seorang pemberontak, disamping jasa sang pengageng tadi, toh beliau juga masih kerabat dekat keraton.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dikisahkan, pada usia 36 tahun atau tepatnya tahun 1847 Pangeran Adiredja Martakusumah mendapat tugas dari Keraton Kasepuhan atas usul dan dukungan Pengageng Keraton yang disegani tadi untuk mengelola pemukiman di suatu padukuhan diwilayah kidul yang mulai berkembang yang terdapat banyak pohon mangga limus disekitarnya yang pada akhirnya bernama Pakuwon Cilimus, yang dikemudian hari berubah lagi menjadi Desa Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebenarnya, secara politis, maksud Pengageng Keraton Kasepuhan tersebut mengutus keturunan Sultan Sepuh IV tadi adalah untuk mengantisipasi bila ancaman Belanda benar-benar dilaksanakan, yakni akan mengebom keraton sebagaimana nasib keraton Banten yang dibumi hanguskan oleh Belanda akibat pemberontakan Sultan Banten kepada penjajah Belanda. Ancaman tersebut disampaikan Belanda sewaktu meminta Pangeran Suryanegara II menghentikan pemberontakan. Jadi antisipasi tersebut yakni dengan mempersiapkan pusat pemerintahan darurat diwilayah kidul dengan mengutus seorang yang memiliki trah dari Sunan Gunung Jati sebagai penerus Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Tapi untunglah ancaman Belanda tersebut tidak pernah dilaksanakan karena Sultan Sepuh saat itu pernah menyurati Pangeran Suryanegara II memohon untuk menghentikan perlawanan kepada Belanda demi keutuhan keraton warisan yang sama-sama mereka hormati Sinuwun Sunan Gunung Jati.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Kembali pada kisah perjalanan Pangeran Adiredja Martakusumah yang meninggalkan Cirebon disertai 2 (dua) orang Istrinya serta 5 (lima) orang anaknya beserta beberapa orang pengikutnya diantaranya bernama Raden Langlangbuwana, Raden Singadiperana dan Raden Gunawicara, mereka adalah menak keturunan Dalem Darim dari keturunan Sunan Gunung Agung atau Buyut Pakidulan (Garut) . (Nama-nama tadi pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Langlang Buwana di umbul Kalungluwuk yang sekarang bernama SDN V Cilimus dan nama SDN Gunawicara didekat Desa Indapatra).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dengan menanggalkan pakaian pinangerannya serta menyembunyikan gelar pangerannya, Pangeran Adiredja Martakusumah menyamarkan diri dengan berpakaian yang umumnya dipakai orang-orang sunda dulu yaitu pangsi hitam-hitam dan ikat kepala balangbang semplak, berangkatlah rombongan itu menuju kearah selatan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mereka berkuda dan tiba disatu kampung bernama Wanacala dimana sang Orang Kepercayaan Sang Kakek (Tubagus Suryajayanegara) dikebumikan. Rombongan berhenti sejenak untuk berziarah terlebih dahulu di makam tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah usai berziarah, rombongan melanjutkan perjalanannya kembali menuju selatan. Selama dalam perjalanan, Pangeran Adiredja Martakusumah berfikir-fikir tentang nama yang cocok sebagai pengganti nama aslinya bila dirinya telah tiba ditujuan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Terinspirasikan nama kampung Wanacala tersebut, beliau mengutak-atik nama kampung tersebut, wana-cala, dibalik cala-wana. Akhirnya didapat nama yang cocok yakni “SACAWANA” (gabungan dari “Saca” dan “Wana”). Saat itu nama “saca” banyak dipakai para menak sunda seperti sacanata, sacadilaga, saca mangunhardja dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Akhirnya Pangeran Adiredja Martakusumah memerintahkan kepada para keluarga serta pengikutnya untuk memanggil dirinya dengan nama baru yakni Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setibanya disuatu tempat yang banyak terdapat pohon mangga limus yang buahnya sangat harum dan khas aromanya utamanya banyak terdapat di sepanjang sungai ditempat itu, sehingga pakuwon itu ia beri nama CILIMUS dari kata “air buah limus”.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebelum sampai ditepi sungai dimaksud tadi, Ki Sacawana dan rombongan sejenak berhenti dibawah pohon Beringin Karet yang sangat besar (sekarang berada di alun-alun Cilimus/ terminal mobil Cilimus). Sejenak beliau berkontemplasi dengan mengerahkan segenap daya cipta rasa mata batin untuk menembus kegaiban ditempat itu karena getaran yang kuat sudah dirasa sejak melihat pohon beringin karet tersebut dari jauh.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dari hasil kontemplasi Ki Sacawana, rupanya mahluk ghaib (danyang atau dahiang) yang bernama Nyai Andayasari sejenis jin muslim yang “ngageugeuh” (mengayomi) di padukuhan itu telah menyambut kedatangan Ki Sacawana beserta rombongan. (Nama Andayasari pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Inpres Andayasari di Jalan Pasawahan sekarang).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah tiba ditepi sungai yang banyak pohon mangga limusnya tadi, sekarang bernama “goang” (sungai) Cibacang, rombongan tersebut sejenak beristirahat untuk melepaskan lelah. Setelah merasa cukup beristirahat rombongan tidak terus berjalan ke arah selatan melainkan berjalan ke arah timur menyusuri sungai Cibacang tadi. Akhirnya tiba disatu tempat yang dirasa tepat untuk mendirikan tempat tinggal dan pusat pemerintahan yang bernama Tarikolot.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setibanya di padukuhan Tarikolot, Ki Sacawana mulai membangun pemukiman dan juga balai pusat pemerintahan (istilah sekarang bernama Balai Desa). Dengan dibantu oleh beberapa orang tokoh selain yang ikut dalam rombongan tadi yaitu Ki Jaliman dan beberapa orang lainnya yang kesemuanya adalah pengikut setia Ki Sacawana hingga akhir hayatnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Begitu besar wibawa sang pangeran yang telah berganti nama menjadi Ki Sacawana dihadapan rakyat Cilimus dan sekitarnya sehingga beliau mendapat julukan RATU NGADEG PIAMBEK, dari bahasa sunda buhun yang artinya raja yang berdiri sendiri atau raja yang tidak dipilih rakyat tapi jadi dengan sendirinya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Buyut Sacawana atau Ratu Ngadeg Piambek memiliki profil yang menarik. Beliau berperawakan sedang dan berotot, agak tinggi badannya, rambutnya panjang tebal dan agak ikal, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata tajam namun teduh, bicaranya bisa tegas bisa lembut tergantung kondisi namun lemah lembut pada rakyatnya, kesukaannya berpakaian seperti kebanyakan masyarakat sunda pada masa itu yaitu baju pangsi hitam serta ikat kepala batik. Memang suatu gambaran profil yang pantas bila beliau digelari Ratu Ngadeg Piambek karena perbawa wibawa yang dimilikinya, padahal masyarakat Cilimus kebanyakan tidak mengetahui bila beliau adalah seorang keturunan raja yang disegani di Cirebon juga keturunan seorang Awliya yang menjadi panutan masyarakat tatar pasundan pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pembangkangan Ki Buyut Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sesungguhnya, dihati Pangeran Adiredja Martakusumah (Ki Sacawana) masih memendam ketidakpuasan akan nasib ayahnya juga kakeknya. Kakeknya meninggalkan Keraton Kasepuhan beserta 3 (tiga) orang adiknya yakni Pangeran Jayawikarta, Pangeran Arya Kidul dan Pengeran Arya Kulon karena alasan tertentu. Oleh karenanya P. Suryanegara II berencana membangun keraton di bekas Keraton Mertasinga (eks Kerajaan Singapura). Tapi karena Sultan Kanoman melarang untuk meneruskan pembangunan keraton dimaksud, akhirnya ditempat tersebut hanya dijadikan basis perlawanan kepada Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ayahnya Pangeran Adiredja Martakusumah yakni P. Lubang Suryakusuma juga meninggal secara menyedihkan dengan tubuh berlubang-lubang, sehingga dikenal dengan sebutan Pangeran Lubang, namun ayahnya tersebut gugur sebagai syuhada kusuma bangsa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jadi kepergianya ke Cilimus adalah dengan membawa kepedihan hati dan rasa kecewa yang terpendam dihati Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana, sehingga beberapa waktu kemudian beliau mulai melakukan pembangkangan terhadap pihak kerajaan Cirebon yang pada saat itu cenderung memihak kepada Belanda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dengan cara rahasia, mulailah beliau melakukan pembangkangan atau pemberontakan dengan rapinya. Pembangkangan kepada Kesultanan Kasepuhan pada hakekatnya adalah pemberontakan kepada penjajah Belanda dengan cara gerilya. Diceritakan bahwa, banyak anak buahnya yang menyamar jadi pedagang bila bertemu dengan Serdadu Belanda yang sedang lengah, mereka membunuh serdadu itu hanya dengan alat sederhana semisal ditusuk dengan garpu makan dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Sacawana seorang ”jadug” yang sakti mandraguna, tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah kendati tubuhnya itu sudah terpotong-potong. Itulah yang dikenal dengan Ajian Rawe Rontek, ilmu andalah Ki Buyut Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dikisahkan, dalam melaksanakan aksinya Ki Sacawana suka menghentikan dan menyamun para utusan penguasa dari wilayah kidul yang saat itu masih mengakui kedaulatan Cirebon seperti dari Ciamis, Tasikmalaya dan lain-lainnya. Ki Sacawana dan para pengikutnya bertindak ala Robinhood dalam cerita kepahlawanan Inggris, karena hasil rampasannya tersebut selanjutnya dibagi-bagikan kepada rakyat, utamanya kepada rakyat yang miskin. Meskipun mereka menyamun, tapi Ki Sacawana dan pengikutnya bukanlah perampok sungguh-sungguh karena mereka tidak pernah menyamun para pedagang atau saudagar yang lewat diwilayah operasi mereka. Jadi yang dirampok hanyalah barang-barang upeti untuk raja Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tempat dimana biasanya Ki Sacawana beserta pengikutnya menyamun barang-barang upeti tersebut, hingga kini tempat itu di kenal dengan nama Ciloklok, yang maksudnya “ditelan bulat-bulat”.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada akhirnya perbuatan dan sepak terjang beliau lambat laun diketahui oleh pihak Keraton Kasepuhan, untuk selanjutnya diberikan peringatan untuk menghentikan aksinya tersebut, namun tidak digubris. Karena aksi pembangkangan Ki Sacawana tersebut sebenarnya bukan hanya karena menghendaki barang rampasannya semata, namun sekaligus sebagai upayanya untuk melemahkan Kesultanan Cirebon dan Belanda dengan memutuskan mata rantai dari wilayah kidul, minimal sebagai sikap balas dendam atas nasib kedua leluhurnya sebagaimana telah dipaparkan di atas tadi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada akhirnya, pihak keraton di Cirebon memutuskan untuk membunuh Ki Sacawana dengan mengirimkan ponggawa keraton beserta pendekar-pendekar untuk menangkap dan membunuh Ki Sacawana. Tetapi tindakan itu selalu mengalami kegagalan dikarenakan kesaktian yang dimiliki Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Namun selanjutnya ada juga penghianat bangsa yang mau memberitahukan kelemahan beliau, bahwa Ki Sacawana hanya dapat dibunuh dengan cara bagian tubuhnya dipisah-pisahkan (mutilasi) dan dikuburkan pun secara terpisah-pisah pula.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Meninggalnya Ki Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada suatu ketika, datanglah di Linggajati seorang yang berpakaian kyai yang akan menjajal kesaktian Ki Buyut Sacawana yang sudah terkenal dimana-mana. Syahdan, Kyai tersebut sudah mengetahui weton kelahirannya Ki Sacawana sehingga bisa mengetahui hari naas Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selanjutnya, dihari yang sudah diketahui sebagai hari naas Ki Sacawana, diundanglah oleh Kyai tadi untuk mengajak perang tanding kepada Ki Buyut Sacawana. Cadu mundur sanyari bumi, begitu istilahnya, Ki Sacawana menerima tantangan itu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Bertempat di sebuah lapangan yang dikelilingi banyak pohon pinus dilereng Gunung Ciremai (mungkin diwilayah Gunung Deukeut/ Desa Setianegara sekarang), perang tanding pun mulai dilaksanakan dari pagi hingga sore hari tanpa campur tangan siapapun. Ki Sacawana bersenjatakan pusaka semacam golok panjang/ pedang dan si Kyai bersenjatakan keris berwarna putih luk-8 serta bisa memancarkan sinar putih keperakkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Diceritakan, adu kanuragan dengan mengeluarkan jurus-jurus silat yang pada masa itu banyak meniru gerakan-gerakan hewan berlangsung seru, serta adu kesaktian yang mendebarkan. Kesaktian mereka sebenarnya berimbang, tapi karena saat itu menurut perhitungan si kyai adalah hari naas Ki Sacawana, maka benarlah yang terjadi. Ki Sacawana akhirnya dapat ditusuk dengan keris besi putih oleh si Kyai tersebut tepat diulu hati Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Mungkin sudah suratan takdirnya, bahwa ajal sesepuh Cilimus ini harus tewas dalam adu kesaktian dan bisa dibunuh pada tahun 1880, pada saat itu usia Ki Sacawana atau Ratu Ngadek Piambek atau Pangeran Adiredja Martakusumah adalah 69 tahun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Selanjutnya jenazah Ki Sacawana dimutilasi di atas ”anjang-anjang” tanaman labu siam untuk menghindari jasad pemilik Ajian Rawe Rontek itu menyentuh tanah dengan menggunakan keris putih luk-8 tadi. Selanjutnya jasad Ki Sacawana yang sudah terpotong menjadi 3 (tiga) bagian itu dikuburkan ditempat yang terpisah jauh yakni:&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian kepala dikuburkan di Desa Panawuan disatu perbukitan (pasir, istilah Sunda).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian dada dan perut dikuburkan di Desa Cilimus, tepatnya di Dusun Kalungluwuk.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;• Bagian kaki dikuburkan di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon (belum diketahui tepatnya).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Anak dan Keturunan Ki Sacawana&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Sacawana wafat pada tahun 1880 masehi (tidak diketahui hari dan tanggalnya). Beliau meninggalkan 2 (dua) orang istri dan 5 (lima) orang anak. Dua orang anak dari istri pertama dan 3 (tiga) orang anak dari istri kedua yang bernama Nyi Mas Sri Murti Wulandari (putri dari keturunan Keraton Kasepuhan). Ki Sacawana yang pada saat itu bernama Pangeran Adiredja Martakusumah menikahi Nyi Mas Murti Wulandari pada usia 20 tahun tepatnya pada tahun 1831 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Belum diketahui semua anaknya tadi, cuma satu anak yang diketahui bernama Pangeran Rahmat Agung Martakusumah anak kedua dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari (istri ke-2) yang lahir pada hari Sabtu Wage, 6 Oktober 1832 di Keraton Kasepuhan. Adiknya menyusul lahir pada tahun 1834 dan si bungsu lahir tahun 1837 masehi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pangeran Rahmat Agung Martakusumah beserta keempat saudaranya lahir di Cirebon, sewaktu mereka masih kecil-kecil dan tinggal di keraton terpaksa harus hijrah mengikuti ayahnya ke Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah kejadian pembunuhan atas ayahnya yaitu Ki Sacawana, Pangeran Rahmat Agung yang pada saat itu berumur 46 tahun meninggalkan Cilimus untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, yakni berhijrah ke kampung yang bernama Lingga di wilayah Kabupaten Majalengka (belum diketahui letak kampung tersebut, karena mungkin sekarang sudah berganti nama).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Saat meninggalkan Cilimus, P. Rahmat Agung Martakusumah meninggalkan seorang istri yang bernama Nyai Siti Maemunah (Putri ke-5 dari 11 orang bersaudara Ki Buyut Marmagati/ tokoh yang akan diceritakan nanti) di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;P. Rahmat Agung mempunyai seorang istri dan 8 (delapan) orang anak: 1. (laki-laki) 2. (perempuan) 3. (laki-laki) 4. Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah 5. (perempuan) 6. (perempuan) 7. (laki-laki) dan 8. (perempuan).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Jadi cuma satu anaknya yang diketahui namanya, yakni anak ke-4 yang bernama Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah (para keturunannya biasa menyebut nama pendeknya saja yakni Buyut Tawidjar).&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah keadaan dirasa sudah aman, P. Rahmat Agung pulang kembali Cilimus. Pada usia 70 tahun tepatnya pada tahun 1904 pangeran yang bersifat sabar, tawakal serta hidup sederhana dan juga tidak mau menjadi Kuwu Cilimus, meninggalkan dunia yang fana ini menyusul ramanya yang telah gugur sebagai kesumah dengan cara yang menyedihkan. Pada Saat itu Desa Cilimus dipimpin oleh Kuwu II yang bernama Kuwu Rumsewi (1880 s/d 1887).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. TUBAGUS MARMAGATI&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada era yang sama saat kedatangan Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana di Pakuwon Cilimus, kedatangan seorang tokoh ulama yang bergelar Tubagus dari Kesultanan Banten yang mengganti nama dengan panggilan Ki Marmagati. Ki Marmagati meninggalkan Banten setelah Kesultanan Banten berakhir, yakni setelah meninggalnya Sultan Banten pamungkas yakni Sultan Banten XXI Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Karena di wilayah Banten terus dilanda kemelut, sang Tubagus meninggalkan kampung halamannya berhijrah kewilayah timur yang pada akhirnya tiba di Pakuwon Cilimus tepatnya di umbul Kukulu untuk menjalani hidup baru sembari berdakwah dan mengajarkan ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebagaimana halnya dengan Ki Sacawana, sang Tubagus itu pun menyembunyikan gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama menjadi MARMAGATI, seorang ulama yang luhur budinya serta kaya ilmunya. Beliau berbadan tinggi besar, gagah, berkumis dan berjenggot lebat serta brewokan dan suka berpakaian putih-putih laiknya pakaian para ulama pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Ki Marmagati dan Ki Sacawana yang sama-sama keturunan dari Sunan Gunung Jati bersama-sama membesarkan Desa Cilimus pada bidang tugasnya masing-masing, akhirnya berbesanan dengan menikahkan puteri ke-5 nya yang bernama Nyai Siti Maemunah dengan putera Ki Sacawana yang bernama Rahmat (Pangeran Rahmat Agung Martakusumah).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Setelah beberapa waktu lamanya beliau mengajarkan ilmu agama Islam serta berdakwah pada masyarakat Desa Cilimus, akhirnya Ki Buyut Marmagati hijrah ke Gunung Sirah di salah satu desa di Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. Selanjutnya beliau menetap dan berdakwah disana hingga wafatnya dan dikebumikan di Puncak Bukit Oncangan Desa Gunung Sirah (sampai sekarang makam beliau masih terawat rapi berdampingan dengan istri dan murid-muridnya).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Saat hijrahnya ke Gunung Sirah tidak diketahui kapan waktunya, namun diduga waktunya adalah pasca gugurnya Ki Buyut Sacawana. Atau kemungkinan saat menantunya hijrah ke wilayah Majalengka, beliau pun hijrah ke wilayah Darma di Kabupaten Kuningan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. TUBAGUS HADJI ABDUL GHAFAR (KUWU KE-III DESA CILIMUS)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Pada saat Ki Buyut Sacawana memerintah sebagai Kuwu Cilimus yang pertama, di Cilimus ada juga seorang keturunan Sunan Gunung Jati dari jalur Kesultanan Banten yang bernama Tubagus Hadji Abdul Ghafar yang lahir pada tahun 1816 di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Tb. H. Abdul Ghafar menjadi Kuwu Cilimus yang ke-3 menggantikan Kuwu Rumsewi pada tahun 1887 sampai tahun 1922 masehi. Bapak Tb. H. Abd. Ghafar meninggal dalam usia sangat tua yakni 106 tahun tepatnya pada tahun 1922 masehi, dimakamkan di Pemakaman Pasir Jati diposisi paling atas (bukit kecil) dekat pohon beringin.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Makam beliau berada ditengah-tengah 3 (tiga) makam yang berdampingan. Sebelah barat adalah makam putranya yang pertama yang dari istri pertamanya (Ibu Hj. Fatmah) dan yang sebelah timur adalah makam istrinya pertama tadi. Kalau makam istri ke-2 nya berada di Pemakaman Ciloklok Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sewaktu memerintah, Tubagus H. Abdul Ghafar (disalah satu silsilah keluarga, ditulis Abdul Gappar) dibantu oleh Juru Tulis (Sekretaris Desa) yang bernama Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan Tawidjar Martakausumah) putra ke-2 dari 6 (enam) bersaudara Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah. Berarti Bapak Hadji Hasan adalah cucu dari Ki Sacawana.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sementara, Bapak Tb. H. Abdul Ghafar memiliki 2 (dua) orang istri. Istri yang pertama bernama Ibu Hadjah Fatmah, memiliki 3 (tiga) orang anak, anak pertama laki-laki meninggal dunia sewaktu kecil dan 2 orang putri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Karena anak laki-lakinya meninggal dunia, beliau meminta izin kepada istrinya untuk menikah lagi. Ibu Hj. Fatmah ikhlas dimadu sehingga Bapak Tb. Hj. Abdul Ghafar menikah kembali dengan Ibu Salmah dan dikarunia 6 (enam) orang anak yaitu 5 (lima) orang putera dan 1 (satu) orang puteri.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Dituturkan, bahwa profil Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan) yang mewarisi profil ayahnya yang lemah lembut, pekerja keras serta agamis juga tampan, menarik hati Pak Kuwu untuk menjodohkan dengan puterinya yang bernama Ratu Hadjah Djaonah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sebenarnya, kawin-mawin, silang-menyilang memang sudah menjadi tradisi di tatar Cilimus dan sekitarnya, sehingga pada umumnya, warga asli Desa Cilimus bersumber pada 3 (tiga) orang tokoh yang telah diuraikan di atas tadi yakni:&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. Ki Sacawana (Pangeran Adiredja Martakusumah) asal Cirebon;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. Ki Marmagati (Tubagus Marmagati) asal Banten;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Bapak H. Abdul Ghafar (Tubagus Hadji Abdul Ghafar) keturunan Banten dan Cirebon yang lahir di Cilimus.&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sehingga para Kuwu di Desa Cilimus, bisa dikatakan umunya dari keturunan/ ada ikatan dengan ke-3 tokoh di atas tadi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; transition-property: none; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;4. KUWU-KUWU YANG PERNAH MEMERINTAH DESA CILIMUS&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;Sejarah Cilimus lebih merunut pada para tokoh pemerintahannya yakni para kuwu yang pernah memerintah Pakuwon/ Desa Cilimus. Jadi urutan kuwu dari pra-Indonesia merdeka, pasca-Indonesia Merdeka, masa Orde lama, masa Orde Baru hingga saat sekarang ini (Orde Reformasi) bisa dirunut beserta masa jabatannya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;1. P. Adiredja Martakusumah/Ki Sacawana (1847 s/d 1880)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;2. Ki Rumsewi (1880 s/d 1887)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Tubagus Hadji Abdul Gappar (1887 s/d 1922)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;3. Rd. Ranadisastra (Pejabat Kuwu)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;4. Rd. Karnadisastra (1922 s/d 1928)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;5. Rd. Wangsaatmaja (1928 s/d 1947)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;6. E. Suarja (1947 s/d 1950)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;7. Rd. Jaya Sentana (1950 s/d 1956)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;8. Bapak Muhammad Hasyim (1956 s/d 1969)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;9. Bapak A. Pathoni Saleh (1969 s/d 1979)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;10. Bapak E. Rosyidin (1980 s/d 1988)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;11. Bapak Toto (Pejabat Kuwu)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;12. Bapak Masuri (1990 s/d 1998)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;13. Bapak Masuri 2 (1999 s/d 2001)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;14. Bapak Apip (2002 s/d 2006)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;15. Bapak Nasihin Arjadisastra (2007 s/d 2013)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;16. Bapak Otong Mulyadin (2013 s/d …..) terimakasih mudah mdahan bermanfaat&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4 l82x9zwi uo3d90p7 h905i5nu monazrh9&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore-dynamic&quot; style=&quot;animation-name: none; border-radius: 0px 0px 8px 8px; font-family: inherit; overflow: hidden; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;l9j0dhe7&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; position: relative; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;bp9cbjyn m9osqain j83agx80 jq4qci2q bkfpd7mw a3bd9o3v kvgmc6g5 wkznzc2l oygrvhab dhix69tm jktsbyx5 rz4wbd8a osnr6wyh a8nywdso s1tcr66n&quot; style=&quot;align-items: center; animation-name: none; border-bottom: 1px solid var(--divider); color: var(--secondary-text); display: flex; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; justify-content: flex-end; line-height: 1.3333; margin: 0px 16px; padding: 10px 0px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;bp9cbjyn j83agx80 buofh1pr ni8dbmo4 stjgntxs&quot; style=&quot;align-items: center; animation-name: none; display: flex; flex-grow: 1; font-family: inherit; overflow: hidden; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span aria-label=&quot;Lihat siapa yang menanggapi ini&quot; role=&quot;toolbar&quot; style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;bp9cbjyn j83agx80 b3onmgus&quot; id=&quot;jsc_c_gy&quot; style=&quot;align-items: center; animation-name: none; display: flex; font-family: inherit; padding-left: 4px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;np69z8it et4y5ytx j7g94pet b74d5cxt qw6c0r16 kb8x4rkr ed597pkb omcyoz59 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 qxh1up0x qtyiw8t4 tpcyxxvw k0bpgpbk hm271qws rl04r1d5 l9j0dhe7 ov9facns kavbgo14&quot; style=&quot;animation-name: none; border-bottom-color: var(--card-background); border-left-color: var(--card-background); border-radius: 11px; border-right-color: var(--card-background); border-style: solid; border-top-color: var(--card-background); border-width: 2px; font-family: inherit; height: 18px; margin-left: -4px; position: relative; transition-property: none; width: 18px; z-index: 2;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; font-family: inherit; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;tojvnm2t a6sixzi8 abs2jz4q a8s20v7p t1p8iaqh k5wvi7nf q3lfd5jv pk4s997a bipmatt0 cebpdrjk qowsmv63 owwhemhu dp1hu0rb dhp61c6y iyyx5f41&quot; style=&quot;align-items: inherit; align-self: inherit; animation-name: none; display: inherit; flex-direction: inherit; flex: inherit; font-family: inherit; height: inherit; max-height: inherit; max-width: inherit; min-height: inherit; min-width: inherit; place-content: inherit; transition-property: none; width: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;oajrlxb2 g5ia77u1 qu0x051f esr5mh6w e9989ue4 r7d6kgcz rq0escxv nhd2j8a9 a8c37x1j p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of lzcic4wl l9j0dhe7 abiwlrkh p8dawk7l gmql0nx0 ce9h75a5 ni8dbmo4 stjgntxs&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; animation-name: none; border-color: initial; border-style: initial; border-width: 0px; box-sizing: border-box; color: inherit; cursor: pointer; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; max-height: 1.3333em; outline: none; overflow: hidden; padding: 0px; position: relative; text-align: inherit; touch-action: manipulation; transition-property: none; user-select: none;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;span class=&quot;gpro0wi8 cwj9ozl2 bzsjyuwj ja2t1vim&quot; style=&quot;animation-name: none; float: left; font-family: inherit; margin-left: -100px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;a8nywdso e5nlhep0 rz4wbd8a ecm0bbzt dhix69tm oygrvhab wkznzc2l kvgmc6g5 k7cz35w2 jq4qci2q j83agx80 olo4ujb6 jmbispl3&quot; style=&quot;animation-name: none; display: flex; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; height: 32px; margin: 0px 16px; padding: 4px 0px; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Kirimkan ini kepada teman atau kirimkan di linimasa Anda.&quot; class=&quot;oajrlxb2 bp9cbjyn g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 j83agx80 rj1gh0hx btwxx1t3 pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb lzcic4wl abiwlrkh p8dawk7l buofh1pr k7cz35w2 taijpn5t ms05siws flx89l3n ogy3fsii&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: center; animation-name: none; background-color: white; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; color: #1c1e21; cursor: pointer; display: flex; flex-direction: row; flex: 1 0 0px; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; height: 32px; justify-content: center; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; touch-action: manipulation; transition-duration: var(--fds-fast); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-strong); user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s rnr61an3&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;animation-name: none; background-color: var(--hover-overlay); border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: none; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;animation-name: none; background-color: white; color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; transition-property: none;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;http://feeds.feedburner.com/ NanangGps&lt;/div&gt;</description><link>https://nananggps.blogspot.com/2020/11/sejarah-desa-cilimus-kuningan_26.html</link><author>noreply@blogger.com (kitac)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5DtY2u74oO6Hrvn8kLAmn61yU-kmfUoWjBzuDWmLdfhSlmdF_xm3Te9dE4m-y5oSRt7Sd8tCm5h8W5A0UpOFr5dUhd4dqlCvZHWR-q7nhjEOF1N-tQNwNsHJKQGOJTvDRqeDnzh-X6vx/s72-c/IMG20200323101113.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>