<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bahasa Arab Online</title>
	<atom:link href="http://badaronline.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://badaronline.com</link>
	<description>Bahasa Arab Bekal Memahami Agama Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Sep 2017 14:02:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Kemudahan Senantiasa Membersamai Kesulitan</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/kemudahan-senantiasa-membersamai-kesulitan.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/kemudahan-senantiasa-membersamai-kesulitan.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badar Online]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2015 23:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Faidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1523</guid>

					<description><![CDATA[Banyak mereka-mereka yang mengeluh akan kesulitan yang senantiasa dihadapi. Bukannya bersabar, namun mereka justru menjadi putus asa dan hilang harapan. Dan sikap seperti ini merupakan kesalahan. Lantas bagaimana sikap kita? Perhatikan penggalan surat Al-Insyirah ayat 5-6 berikut: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6 Pada ayat ini, Allah mengulang kalimat yang sama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak mereka-mereka yang mengeluh akan kesulitan yang senantiasa dihadapi. Bukannya bersabar, namun mereka justru menjadi putus asa dan hilang harapan. Dan sikap seperti ini merupakan kesalahan.</p>
<p>Lantas bagaimana sikap kita?</p>
<p>Perhatikan penggalan surat Al-Insyirah ayat 5-6 berikut:</p>
<p>فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6</p>
<p>Pada ayat ini, Allah mengulang kalimat yang sama sebanyak dua kali. Apa maknanya?<span id="more-1523"></span></p>
<p>Jika anda pernah belajar bahasa arab, maka bisa diketahui kalau kalimat di atas mempunyai faidah yang sangat mendalam.</p>
<ol>
<li>Dalam bahasa arab, pengulangan kata menunjukkan “penekanan”. Dan huruf “إنّ” pun berfungsi untuk penekanan. Sehingga maknanya, apa yang ingin disampaikan adalah benar-benar suatu yang pasti, nyata adanya dan tidak ada keraguan di dalamnya.</li>
<li>Kata الْعُسْرِ (kesulitaan) pada kalimat di atas menggunakan isim ma’rifat (khusus), adapun يُسْرًا (kemudahan) menggunakan isim nakirah (umum). Dari hal ini dapat diketahui bahwa kata الْعُسْرِ (kesulitan) pada ayat ke 5 adalah الْعُسْرِ (kesulitan) sama dengan ayat yang ke 6. Adapun يُسْرًا (kemudahan) pada ayat ke 5, berbeda dengan يُسْرًا (kemudahan) pada ayat ke 6. Sehingga 1 kesulitan yang di alami manusia, maka ada 2 kemudahan di dalamnya.</li>
<li>Pada kalimat di atas, ternyata Allah menggunakan kata مَعَ (bersama) bukannya menggunakan kata بَعْدَ (setelah). Maknanya, 2 kemudahan itu tidaklah datang setelah adanya kesulitan, namun 2 kemudahan tersebut senantiasa membersamai 1 kesulitan tersebut.</li>
</ol>
<p>Dari hal ini, sungguh merugilah orang-orang yang senantiasa mengeluh dalam hidupnya atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Jika saja ia yakin akan ayat ini, sungguh ia akan mudah untuk bersabar dan akan segera hilanglah kesulitan tersebut darinya.</p>
<p>Karena kemudahan itu pasti ada di dalam kesulitan yang dialaminya. Tidak hanya 1 kemudahan, melainkan 2 kemudahan yang diberikan Allah padanya. Dan 2 kemudahan tidaklah datang setelah adanya kesulitan, namun 2 kemudahan itu sudah senantiasa ada membersamai kesulitan.</p>
<p>Jika kita termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan kitab-Nya, tentunya ayat ini adalah motivasi terbesar bagi kita untuk senantiasa bersabar dan yakin ketika mengalami kesulitan, serta senantiasa sabar berusaha untuk mencari kemudahan tersebut.</p>
<p>Jadi, orang yang merasa mengeluh sulit untuk belajar bahasa arab, merasa putus asa untuk bisa menguasai bahasa arab, adalah orang-orang yang kalah dan termasuk orang-orang yang tidak yakin akan firman Allah di atas.</p>
<p>Bersabarlah, teruslah berusaha, jangan mengeluh apalagi putus asa, karena KEMUDAHAN PASTI ADA DAN SENANTIASA MEMBERSAMAI KESULITAN KITA.</p>
<p>Semoga bermanfaat</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/kemudahan-senantiasa-membersamai-kesulitan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1523</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-Keunikan Bahasa Arab (8)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-8.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-8.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2015 09:16:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1400</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Mengandung informasi yang padat dan ringkas Hanya dengan beberapa huruf yang menyusun kata, Bahasa Arab bisa mengungkapkan banyak ungkapan. Kita ambil contoh kata [عين] “’ain” yang umumnya dikenal artinya: mata. Jika kita membuka kamus artinya sangat banyak yaitu: manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;&gt;Mengandung informasi yang padat dan ringkas</p>
<p>Hanya dengan beberapa huruf yang menyusun kata, Bahasa Arab bisa mengungkapkan banyak ungkapan. Kita ambil contoh kata [<a class="arab">عين</a>] “’ain” yang umumnya dikenal artinya: mata.</p>
<p>Jika kita membuka kamus artinya sangat banyak yaitu:</p>
<p><em>manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.</em></p>
<p>Kemudian dalam bahasa Arab juga dikenal istilah pembuangan kata atau kata yang disembunyikan yang dikenal dengan istilah “mahdzuf”.</p>
<p><span id="more-1400"></span></p>
<p>Contohnya,</p>
<p>Pada kalimat syahadat [<a class="arab">لا أله ألا الله</a>] maka bukan artinya,</p>
<p>-[<a class="arab">لا</a>] = tiada</p>
<p>-[<a class="arab">إله</a>] = tuhan</p>
<p>-[<a class="arab">إلا</a>] = selain</p>
<p>-[<a class="arab">الله</a>] = Allah</p>
<p>Karena arti ini salah besar, karena ada Ada khabar yang [<a class="arab">محذوف</a>] dibuang/tidak ditampakkan. Khabar yang dibuang tersebut adalah [<a class="arab">حق</a><a class="arab"> atau </a><a class="arab">بحق</a>] “haqqun” atau “bihaqqin”.</p>
<p>Maka makna syahadat yang benar adalah,</p>
<p><a class="arab">لا معبود حق إلا الله</a></p>
<p>“tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah”</p>
<p>Kata [<a class="arab">حق</a> atau <a class="arab">بحق</a>] “haqqun” atau “bihaqqin” berdalil dengan firman Allah Ta’ala,</p>
<p><a class="arab">ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ</a></p>
<p>“Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah (sesembahan) yang Haq (benar), adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya adalah (sesembahan) yang Bathil.” (QS. Luqman: 30)</p>
<p>Begitu juga tafsiran para ulama, sebagaimana Ibnu Katsir menafsirkan surat Al Qashash : 70, Ath Thabari menafsirkan surat Al An’am : 106, As Suyuti menafsirkan surat Al Baqarah : 255. Dan banyak ulama yang lainnya.</p>
<p>Contoh yang lain firman Allah dalam surat Yusuf Ayat 82,</p>
<p><a class="arab">وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا</a></p>
<p>Arti perkata adalah: “Tanyalah kepada kampung yang kami tinggal padanya”</p>
<p>Namun ada kata yang “mahzuf”/dibuang yaitu [<a class="arab">أهل</a>] “ahli” /penduduk yaitu “mudhaf” dari [<a class="arab">الْقَرْيَةَ</a>]</p>
<p>Abul Baqa’ Al ‘akbariy rahimahullah menjelaskan tentang ini,</p>
<p><a class="arab">قوله تعالى: (واسأل القرية) : أي أهل القرية ; وجاز حذف المضاف ; لأن المعنى لا يلتبس</a></p>
<p>“Firman Allah, “tanyalah kepada kampung” yaitu, penduduk kampung, boleh membuang [mahzuf] mudhaf, karena maknanya tidak menjadi rancu.” (At Tibyan fi I’rabil Qur’an 2/742, Asy Syamilah)</p>
<p>Jadi arti yang tepat adalah : ““Tanyalah kepada penduduk kampung yang kami tinggal padanya”</p>
<p>Oleh karena itu, belum pernah ada satupun terjemahan Al Qur’an yang lebih singkat dari bahasa arab aslinya.</p>
<p>&gt;&gt;Lebih mudah dihapalkan</p>
<p>Ini karena adanya “wazan” atau cetakan/pola kata yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Dengan adanya cetakan kata tersebut lidah dan lisan kita akan terbiasa mengucapkannya. Dan sesuatu yang sudah terbiasa kita ucapkan maka akan lebih mudah dihapalkan</p>
<p>Selain itu, bahasa Arab seakan-akan tiap kata bisa disambung bacaannya. Jadi seakan-akan beberapa kata tersebut kita sambung terus, sebagaimana kita membaca Al Qur’an. Ini karena struktur bahasa arab yang mendukung seperti adanya [ال] “alif lam”, dan ada kaidah penyambungan tiap kata.</p>
<p>Mungkin bisa kita buktikan, jika kita menghapal Al Qur’an tiap kata kita putus-putus cara bacaannya, maka kita agak kesusahan. Berbeda jika kita menyambung tiap kata maka akan memudahkan.</p>
<p>Contohnya basmalah,</p>
<p>Jika kita hapal [<a class="arab">ب – اسم – الله – الرحمان – الرحيم</a>] “bi – ismi – Allahi – Ar-Rahmani- Ar-Rahimi”</p>
<p>Maka kita akan agak kesusahan, tetapi jika kita sambung, maka akan memudahkan sebagaimana kita membaca basmalah.</p>
<p>Terbukti bahwa orang-orang Arab -sekalipun Arab badui [kampung]- hapalannya kuat dan mampu menghapal beribu-ribu bait syair. Mampu menceritakan banyak cerita sejarah hanya berdasarkan hapalan, sehingga dahulu tulis-menulis dikalangan mereka kurang berkembang, karena jika mudah dihapal maka tidak perlu ditulis. Ditambah lagi mereka dianugerahkan kekuatan hapalan.</p>
<p>Bukti lainnya, banyak orang yang tidak mengenal dasar bahasa Arab sekalipun tetapi mampu menghapal 30 juz Al Qur’an dengan hapalan yang kokoh dan tanpa cacat tiap kata bahkan huruf.</p>
<p>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-8.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>13</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1400</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penulisan Kalimat Insya Allah</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/penulisan-kalimat-insya-allah.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/penulisan-kalimat-insya-allah.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badar Online]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2015 03:18:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1405</guid>

					<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 70: قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ “Mereka (Bani Israil) berkata: &#8220;Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 70:</p>
<p><a class="arab">قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ</a></p>
<p><em>“Mereka (Bani Israil) berkata: &#8220;Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).&#8221;</em></p>
<p>Dalam ayat ini Allah mengisahkan tentang perbuatan Bani Israil yang “<em>ngeyel</em>” terhadap Nabi Musa dengan meminta perkara yang sebenarnya dimudahkan untuk mereka. Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah menceritakan bahwasanya Allah hanya memerintahkan kaum Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi, akan tetapi mereka terus bertanya sehingga Sapi yang awalnya mudah dicari menjadi sulit karena kriteria-kriteria yang mereka minta demikian detil. Akan tetapi karena mereka mengucapkan “Insya Allah” maka mereka akhirnya dapat menemukan sapi yang dicari.</p>
<p><span id="more-1405"></span></p>
<p>Insya Allah dalam bahasa Indonesia diartikan “Jika Allah menghendaki.”</p>
<p>Penulisan dalam bahasa arabnya adalah:</p>
<p><a class="arab">إِنْ شَاءَ اللهُ</a></p>
<p>Di eja per kata dengan “In Syaa-a Allaah” atau disambung menjadi “In syaa-allaah”</p>
<p>Kalimat ini terdiri dari beberapa susunan yaitu Huruf In, kemudian Fi’il Madhi Syaa-a dan Lafzhul Jalalah Allah. Artinya per Kata:</p>
<p>In = Jika<br />
Syaa-a = menghendaki</p>
<p>Penulisan dalam bentuk latin tentu menyesuaikan dengan transliterasi pada bahasa dan tempatnya masing-masing, untuk bahasa Indonesia sering di tulis dengan Tulisan “Insya Allah”, penulisan insyaallah juga bisa dikatakan benar, karena esensinya makna tulisan yang dimaksudkan adalah tulisan arab di atas.<br />
Penulisan Insya Allah dengan “A” besar pada lafzhul jalalah tidak mutlak benar karena sebenarnya “A” dalam bahasa arabnya itu adalah hamzah dari fi’il Sya-a yang masuk ke lafzhul jalalah Allah. Karena inilah kami katakan penulisan &#8220;insyaallah&#8221; juga tidak masalah asalkan yang dimaksudkan benar.</p>
<p>***</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Perlu diperhatikan kesalahan sebagian orang yang menuliskan kalimat Insya Allah dengan seperti ini:</p>
<p><a class="arab">إِنْشَاءَ اللهُ</a></p>
<p>Maka penulisan seperti ini adalah Batil, penulisan yang salah, karena maknanya berubah menjadi perkataan kekufuran, artinya: “Penciptaan Allah”. Maha suci Allah dari perkataan ini&#8230; Hal ini karena kata “Insya” dengan penyambungan huruf arabnya adalah kata sendiri yang bermakna “Mulai, Mengadakan, Menciptakan.” Kesalahan ini menjadi tampak ketika menulis dalam huruf arab, adapun dalam transliterasi maka dilihat bagaimana kaidah yang dipakai dalam penulisan dan bahasanya.<br />
Karena ini beredarnya peringatan pada jejaring sosial yang disandarkan kepada Syaikh Zakir Naik dimana beliau menyalahkan tulisan “Insha Allah”, seharusnya “In Sha Allah” maka perlu di tinjau ulang. Yang pertama, dalam bahasa Indonesia sudah sangat terkenal transliterasi syin dengan sy bukan sh sebagaimana dalam bahasa inggris, kemudian yang kedua, penulisan Insya Allah, sendiri sudah sangat dikenal maksudnya adalah:</p>
<p><a class="arab">إِنْ شَاءَ اللهُ</a></p>
<p>Bukan</p>
<p><a class="arab">إِنْشَاءَ اللهُ</a></p>
<p>Jadi pernyataan salah bagi yang menulis Insya Allah malah sebenarnya kurang tepat, justru penulisan inilah yang dijadikan standar di dalam bahasa kita bahasa Indonesia. Penulisan In Sya Allah bisa jadi merupakan penulisan yang lebih selamat dari perselisihan.</p>
<p>Semoga bermanfaat dan menambah semangat saudara sekalian untuk belajar bahasa arab.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/penulisan-kalimat-insya-allah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>11</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1405</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan bahasa Arab (7)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-7.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-7.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2014 03:43:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1398</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Ada pola dan cetakan kata [wazan] untuk mencetak kata Ini mempermudah kita agar mengetahui kata dan lebih mudah menghapalnya. Ini yang dikenal dengan istilah [وزن] “wazan” yang terangkum dalam ilmu shorof bahasa Arab. Kita tinggal menghapal pola dan cetakan “wazan” atau yang disebut “tahsrif”, maka kita bisa memproduksi atau melahirkan berbagai macam kata. &#160; “Wazan” [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">A</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">da pola dan cetakan kata [<i>wazan</i>] untuk mencetak kata</span></b></p></blockquote>
<p>Ini mempermudah kita agar mengetahui kata dan lebih mudah menghapalnya. Ini yang dikenal dengan istilah [وزن] “<i>wazan</i>” yang terangkum dalam ilmu shorof bahasa Arab. Kita tinggal menghapal pola dan cetakan “<i>wazan</i>” atau yang disebut “<i>tahsrif</i>”, maka kita bisa memproduksi atau melahirkan berbagai macam kata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<i>Wazan”</i> tersebut diwakili oleh kata [فعل] dengan huruf [ف] sebagai wakil huruf pertama dan [ع] wakil huruf kedua dan  [ل] wakil huruf ketiga huruf ketiga.</p>
<p><span id="more-1398"></span></p>
<p>Contoh sederhananya adalah,</p>
<p>Ada pola tashrif,</p>
<p>[فعل – فاعل – مقعول] “<i>fa’ala – faa’ilun – maf’ulun”</i>, penjelasannya,</p>
<p>-[ فعل] “<i>fa’ala”</i> = kata kerja</p>
<p>-[ فاعل] “<i>faa’ilun” </i>= cetakan kata yang berarti <b>pelaku atau yang melakukan pekerjaan/perbuatan</b></p>
<p>-[ مفعول] “<i>maf’uulun” </i>= cetakan kata yang berarti <b>objek atau yang dikenai pekerjaan/perbuatan</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka, dengan kita tahu ada kata kerja [خلق] “<i>khalaqa</i>”= menciptakan, maka kita tahu dengan <i>“Wazan”</i>/cetakan kata ,</p>
<p>-[ فاعل] &#8211; [خالق] <i>“khaaliqun”</i> = pelakunya, yaitu yang menciptakan, serapan bahasa Indonesia = “<i>khaliq</i>” yaitu Tuhan</p>
<p>-[ مفعول] &#8211; [مخلوق]<i> “makhluqun” </i>= objeknya, yaitu yang diciptakan, serapan bahasa Indonesia = “makhuk”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contoh lagi, kata kerja [علم] <i>“ ’alima” = </i>mengetahui, kita akan tahu</p>
<p>-[ فاعل] &#8211; [عالم] <i>“ ’Aalimun” =</i> pelakunya, yaitu yang mengetahui, serapan bahasa Indonesia = “alim” yaitu pintar, pintar agama</p>
<p>-[ مفعول] &#8211; [معلوم] <i>“ma’luumun” </i>= yang diketahui, serapan bahasa Indonesia = “maklum”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contoh lagi, kata kerja [كتب] <i>“kataba” </i>= menulis, kita akan tahu,</p>
<p>-[ فاعل] &#8211; [كاتب] <i>“kaatibun” </i>= pelakunya, yaitu yang menulis atau sekretaris</p>
<p>-[ مفعول] &#8211; [مكتوب] <i>“maktuubun” </i>= yang ditulis/tertulis, serapan bahasa Indonesia = “maktub” yaitu tertulis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana, mudah dan sederhana bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">M</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">empunyai kaidah struktur bahasa yang lebih sempurna</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa Arab mengenal istilah maskulin [<i>mu</i><i>d</i><i>zakkar</i>] dan feminin [<i>mu</i><i>&#8211;</i><i>annats</i>]. <b>Dan yang lebih membuatnya sempurna dalam bilangan dikenal juga penggunaan <i>double/</i></b><b>ganda</b><b> [<i>mutsanna</i>] yang sangat jarang ditemui dalam bahasa yang lain</b>. Sehingga dalam bilangan dikenal istilah tunggal [<i>mufrad</i>], ganda [<i>mutsanna</i>], dan jamak [<i>jam’</i><i>un</i>]. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut :<br />
التلميذ يذهب إلى المدرسة &#8211; Pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah<br />
التلميذة تذهب إلى المدرسةِ – Pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah<br />
التلميذان يذهبان إلى المدرسةِ – Dua orang pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah<br />
التلميذتان تذهبان إلى المدرسةِ – Dua orang pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah<br />
التلاميذ يذهبون إلى المدرسةِ – Pelajar-pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah<br />
التلميذات يذهبن إلى المدرسةِ – Pelajar-pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu juga dengan kata kerjanya, lebih lengkap. Kata kerja lampau [<i>madhi</i>], kata kerja sekarang dan akan datang [<i>mudhari’</i>], dan <b>yang membuatnya lebih lengkap ada kata kerja perintah</b> [‘<i>amr</i>]. Perhatikan contoh berikut,<br />
ذهب الولدُ إلى المدرسةِ – anak laki-laki itu (telah) pergi ke sekolah<br />
يذهب الولد إلى المدرسة &#8211; anak laki-laki (sedang) pergi ke sekolah<br />
اذهب إلى المدرسة &#8211; Pergilah [kamu anak laki-laki] ke sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-7.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>11</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1398</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan bahasa Arab (6)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-6.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-6.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2014 09:57:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1394</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Memiliki ungkapan yang teliti dan lengkap &#160; Contohnya dalam ungkapan waktu, &#8211;Dazur [درور] Waktu mula-mula timbul matahari di waktu pagi &#8211;Buzugh [بزوغ ] Waktu mula timbul matahari selepas waktu dazur &#8211;Dhuha[ضُحى ] Waktu mula terasa bahang panas matahari &#8211;Ghazalah [غزالة ] Waktu matahari mula naik selepas waktu dhuha &#8211;Hajirah [حاجرة ] Waktu tengah hari yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;Memiliki ungkapan yang teliti dan lengkap</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contohnya dalam ungkapan waktu,<br />
&#8211;<i>Dazur</i> [درور] Waktu mula-mula timbul matahari di waktu pagi<br />
&#8211;<i>Buzugh</i> [بزوغ ] Waktu mula timbul matahari selepas waktu dazur<br />
&#8211;<i>Dhuha</i>[ضُحى ] Waktu mula terasa bahang panas matahari<br />
&#8211;<i>Ghazalah</i> [غزالة ] Waktu matahari mula naik selepas waktu dhuha<br />
&#8211;<i>Hajirah</i> [حاجرة ] Waktu tengah hari yang mula terasa kepanasan<br />
&#8211;<i>Dzuhr</i> [ظهر ] Waktu tengah hari matahari mulai naik menegak<br />
&#8211;<i>Zawal</i> [زوال ] Waktu matahari berada tegak di atas kepala<br />
-‘<i>Ashr</i> [عصر ] Waktu siang mula berakhir matahari kemerah-merahan<br />
-‘<i>Ashil</i> [عصيل ] Waktu matahari mulai condong ke arah barat<br />
&#8211;<i>Shabub</i> [صبوب ] Waktu matahari semakin menghilang<br />
&#8211;<i>Ghurub</i> [غروب] Waktu matahari mula terbenam<br />
&#8211;<i>Khadur</i> [خدور ] Waktu matahari hilang dari pandangan atau gelap.<span id="more-1394"></span></p>
<p><b><span style="text-decoration: underline;"> </span></b></p>
<p>Begitu juga dengan ungkapan suara hewan, maka ada pengungkapannya satu-persatu dan hanya bahasa Arab yang paling lengkap,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8211;<i>Shahil</i> صهيل Suara kebiasaan kuda mendempik<br />
&#8211;<i>Hamhamah</i> حمحمة Suara kuda mendengus<br />
&#8211;<i>Syahij</i> شحيج Suara baghal<br />
&#8211;<i>Rugha’</i> رغاء Suara kebiasaan unta<br />
&#8211;<i>Hanin</i> حنين Suara unta memanggil anaknya<br />
&#8211;<i>Anin</i> أنين Suara unta menahan bebanan yang dibawa<br />
&#8211;<i>Hadir</i> هدير Suara unta bernafas (bunyi nafas keluar masuk)<br />
&#8211;<i>Shorif</i> صريف Suara geseran gigi unta<br />
&#8211;<i>Huar</i> حوار Suara lembu<br />
&#8211;<i>Ma’ma’ah</i> مأمأة Suara kambing mengembek<br />
&#8211;<i>Yu’ar</i> يعار Suara kibas mengembek<br />
&#8211;<i>Tugha’</i> ثغاء Suara biri-biri mengembek<br />
&#8211;<i>Za’ir</i> زئير Suara singa mengaum<br />
&#8211;<i>Zamjarah</i> زمجرة Suara singa mendengus secara berulang-ulang kali<br />
&#8211;<i>Tazamjar</i> تزمجر Suara harimau mengaum<br />
&#8211;<i>Kharkhawah</i> خرخوة Suara harimau mendengkur ketika tidur<br />
-‘<i>Uwa’</i> عواء Suara serigala menyalak memanjang<br />
&#8211;<i>Nahim</i> نحيم Suara harimau kumbang<br />
&#8211;<i>Quba’</i> قباء Suara khinzir (babi)<br />
&#8211;<i>Nubah</i> نباح Suara anjing menyalak<br />
&#8211;<i>Muwa’</i> مواء Suara kucing mengiau<br />
&#8211;<i>Kharkharah</i> خرخرة Suara kucing mendengkur ketika tidur<br />
&#8211;<i>Ghas</i> غسٌ Suara kucing mengerang karena sakit<br />
&#8211;<i>Nahiq</i> نهيق Suara keldai<br />
&#8211;<i>Bu’am</i> بعام Suara kijang<br />
&#8211;<i>Nazab</i> نزاب Suara khusus bagi kijang jantan sahaja<br />
-‘<i>Irar</i> عرار Suara burung unta jantan<br />
&#8211;<i>Zimar</i> زمار Suara burung unta betina<br />
&#8211;<i>Fahir</i> فحير Suara dhab sahaja<br />
&#8211;<i>Kasyisy</i> كشيش Suara biawak<br />
&#8211;<i>Karkarah</i> كركرة Suara ayam (jantan atau betina)<br />
&#8211;<i>Shada</i> صدى Suara burung hantu<br />
&#8211;<i>Dandanah</i> دندنة Suara lebah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu lengkap dan telitinya, sehingga dalam merinci atau menjelaskan sesuatu bahasa Arab bisa menjelaskanya serinci-rincinya. Contohnya tingkatan cinta yang sangat rinci oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah <i>rahimahullah</i> dalam kitab <i>Madarijus Salikin,</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 dir="RTL">[فصل في مراتب المحبة]</h4>
<h4 dir="RTL">أولها: العلاقة، وسميت علاقة لتعلق القلب بالمحبوب</h4>
<h4 dir="RTL">الثانية: الإرادة، وهي ميل القلب إلى محبوبه وطلبه له.</h4>
<h4 dir="RTL">الثالثة: الصبابة، وهي انصباب القلب إليه. بحيث لا يملكه صاحبه. كانصباب الماء في الحدور.</h4>
<h4 dir="RTL">الرابعة: الغرام وهو الحب اللازم للقلب، الذي لا يفارقه. بل يلازمه كملازمة الغريم لغريمه. ومنه سمي عذاب النار غراما للزومه لأهله. وعدم مفارقته لهم</h4>
<h4 dir="RTL">الخامسة: الوداد وهو صفو المحبة، مراتبها عشرة وخالصها ولبها، والودود من أسماء الرب تعالى.</h4>
<h4 dir="RTL">السادسة: الشغف يقال: شغف بكذا. فهو مشغوف به. وقد شغفه المحبوب. أي وصل حبه إلى شغاف قلبه</h4>
<h4 dir="RTL">السابعة: العشق وهو الحب المفرط الذي يخاف على صاحبه منه</h4>
<h4 dir="RTL">الثامنة: التتيم وهو التعبد، والتذلل. يقال: تيمه الحب أي ذلله وعبده. وتيم الله: عبد الله. وبينه وبين اليتم</h4>
<h4 dir="RTL">التاسعة: التعبد وهو فوق التتيم. فإن العبد هو الذي قد ملك المحبوب رقه فلم يبق له شيء من نفسه ألبتة. بل كله عبد لمحبوبه ظاهرا وباطنا. وهذا هو حقيقة العبودية. ومن كمل ذلك فقد كمل مرتبتها.</h4>
<h4 dir="RTL">العاشرة: مرتبة الخلة التي انفرد بها الخليلان &#8211; إبراهيم ومحمد صلى الله عليهما وسلم</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tingkatan cinta:</span></p>
<ol>
<li><b><i>Al ‘alaqah</i></b> (hubungan/ikatan). Dinamakan hubungan/ikatan karena keterikatan hati kepada yang dicinta.</li>
<li><b><i>Al iradah</i></b> (kehendak/keinginan). Ini adalah kecondongan hati kepada yang di cinta dan berusaha untuk mencari/menjumpai yang dicinta.</li>
<li><b><i>Ash-shobabah</i></b> (kerinduan). Adalah kerinduan hati kepada yang dicinta, dimana kerinduan ini timbul secara alami &amp; diri tidak dapat mengaturnya, sebagaimana tetesan air di tempat yang melandai.</li>
<li><b><i>Al gharaam</i></b> (kerinduan yang menyala-nyala). Adalah cinta yang selalu ada didalam hati, tidak pernah keluar dari dalamnya, &amp; selalu menyertai hati. Maka abzab neraka dikatakan <i>gharaaman<a title="" href="#_ftn1"><b>[1]</b></a></i> karena senantiasa setia dengan penghuninya, tidak pernah melepasnya.</li>
<li><b><i>Al wadaad</i></b> (kasih sayang). Adalah kelembutan cinta, inti cinta dan kemurniaanya, dan <i>Al waduud</i> termasuk dari nama-nama Allah yang maha tinggi.</li>
<li><b><i>As</i></b><b><i>y </i></b><b><i>syaghof</i></b> (cinta yang meluap-luap). Yaitu sangat mencintainya dan dibuat sangat senang [bercampur penderitaan]. Sangat mencintai yang di cinta (yaitu cintanya telah masuk ke dalam relung hati &amp; sanubari)</li>
<li><b><i>Al ‘isyq</i></b> (cinta yang sangat). Adalah cinta yang yang teramat sangat/ terlalu berlebihan, dikhawatirkan [terjadi sesuatu yang kurang baik] terhadap pelakunya.</li>
<li> <b><i>At tatayyum</i></b> (penghambaan) yaitu merendahkan diri. Dikatakan cinta telah menghambakannya, dan <i>taimullah</i> berarti juga ‘abdullah (hamba Allah).</li>
<li><b><i>At ta’abbud</i></b> (peribadahan). Tingkat ini di atas <i>at tatayyum</i>/penghambaan. Karena sesungguhnya diri hamba adalah totalitas milik sang kekasih (Rabb), tak tersisa sedikitpun dari dirinya, baik lahir maupun batin, semua milik sang kekasih. Dan ini adalah hakikat peribadahan, barang siapa telah menyempurnakan sifat ini, maka telah sempurna cintanya</li>
<li><em></em><b><i>Al Khullah</i></b> (Kekasih). Cinta ini hanya dimiliki oleh dua khalil (kekasih), yaitu Ibrahim <i>‘alaihis salam</i> dan Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em></em></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>[lihat lengkapnya di <i>Madarijus Saalikiin baina manaazili iyyaka na’budu wa iyya kanasta’in</i> 3/29-32, , Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut, cet. Ke-3, 1416 H, Asy Syamilah]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Al Furqaan : 65</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-6.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1394</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan bahasa Arab (5)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-5.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-5.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2014 09:53:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1392</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Bisa selamat dan tidak salah membaca harokat gundul bahasa Arab &#160; Mungkin ada yang bertanya : “Berarti agak susah juga kalau berbicara dalam bahasa Arab jika harus dipikirkan dulu I’rab/kedudukan tiap kata. Bagaimana juga orang-orang arab badui dan Para TKI/TKW bisa berbicara bahasa Arab?” &#160; Maka jawabannya adalah mereka menggunakan bahasa Arab ‘Ammiyah (atau bahasa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">Bisa selamat dan tidak salah membaca harokat gundul bahasa Arab</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin ada yang bertanya : “Berarti agak susah juga kalau berbicara dalam bahasa Arab jika harus dipikirkan dulu <i>I’rab</i>/kedudukan tiap kata. Bagaimana juga orang-orang arab badui dan Para TKI/TKW bisa berbicara bahasa Arab?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka jawabannya adalah mereka menggunakan bahasa Arab ‘<i>Ammiyah </i>(atau bahasa Gaul menurut bahasa kita) dan kurang memperhatikan kaidah. Dan ini yang lebih penting, supaya bisa selamat dan tidak salah membaca digunakan prinsip,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[تجزم تسلم] <i>“Tajzim taslam” </i>artinya: “engkau <i>jazm</i>-kan  maka engkau selamat”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maksud men-<i>jazm</i>-kan adalah mensukunkan semua huruf akhirnya pada tiap kata, contohnya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[أحمد هو غائب لا يحضر في الفصل]  <i>“Ahmadu huwa ghaaibun laa yahduru fil fashli”</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artinya: Ahmad tidak hadir, tidak ada dikelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka boleh saja kita baca sukun semua tiap kata seperti “<i>Ahma<b>D</b> Hu<b>wa</b> Ghaai<b>B</b> laa yahdhu<b>R</b> fil fa<b>SHL</b></i>”<span id="more-1392"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu lagi yang menjadi isyarat yang cukup penting, <b>bahwa dalam bahasa Arab kita bisa mengetahui kefasihan seseorang dalam berbahasa dan kemampuannya yang sebenar-benarnya dengan melihat kemampuannya meng-<i>i’rab</i></b>. Kebanyakan orator dan tokoh penting mempunyai kemampuan dalam hal ini sehingga terkadang kata-katanya bisa seperti menyihir dan terdengar sangat indah bagi yang bisa memahami keindahannya [baca : tahu kaidah-kaidah bahasa Arab]. Dan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> adalah orang yang fasih bahasa Arabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;Bahasa tertua yang tetap eksis dan tidak berubah</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbeda dengan bahasa yang lain yang sudah punah atau hampir punah, sebagaimana bahasa Ibrani yaitu bahasa Taurat dan Injil, bahasa sansekerta, dan berbagai bahasa lokal dan daerah di dunia. Inilah faktanya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>“<strong>Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Kebudayaan (UNESCO) menyatakan setiap satu bahasa punah setiap minggu. Pada akhir abad ini, diperkirakan dunia akan kehilangan separuh dari 6,700. Salah satu bangsa yang akan mengalamai hal itu adalah Kamboja. Di sana 19 bahasa lokalnya telah dinyatakan hampir punah, dan kemungkinan besar banyak di antaranya yang tidak akan bertahan dalam 90 tahun mendatang.”</strong></i></p>
<p>[Sumber: <a href="http://www.asiacalling.kbr68h.com/in/berita/cambodia/1076-a-5000-year-old-language-in-cambodia-on-extinction-list">http://www.asiacalling.kbr68h.com/in/berita/cambodia/1076-a-5000-year-old-language-in-cambodia-on-extinction-list</a>]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita bisa melihat bukti bagaimana bahasa kromo Inggil/ bahasa jawa halus sudah sangat jarang kita temui pemakaiannya. Begitu juga bahasa halus Sasak Lombok. Sehingga jika seorang kakek buyut yang masih hidup berbicara dengan bahasa halus kepada cucunya, mungkin cucunya agak sedikit tidak paham. Begitu juga bukti bahwa terkadang satu bahasa sekedar berbeda dialek saja sudah agak kurang “<i>nyambung</i>” jika berbicara satu-sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita ambil juga contoh bahasa Inggris, dia sempat mengalami kesenjangan sejarah yaitu mengalami perubahan yang cukup jauh dalam setiap beberapa ratus tahun. Maka bahasa Inggris sekarang, di zaman ratu Elisabeth II jika dibandingkan dengan bahasa Inggris di zaman kakek-buyutnya, di zaman pertengahan yaitu King Arthur, sangat jauh berbeda. Jika mereka bertemu dan berbicara maka akan susah “<i>nyambung”</i>. Jangankan yang beratus-ratus tahun, bahasa kita yaitu bahasa Indonesia belum lagi 100 tahun sejak kemerdekaan tahun 1945 sudah banyak berubah dan belum lagi muncul bahasa gaul zaman sekarang seperti  “nongkrong”, “juragan”, “sundul”, “nyokap”, “bokek” dan lain-lain. Belum lagi penyimpangan makna misalnya “cabut” bermakna “ayo pergi” dan lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Maka belum ada bahasa yang seperti bahasa Arab, dimana dia termasuk salah satu bahasa tertua dan tidak berubah, masih asli sejak zaman dulu</b> dan masih sama gaya bahasa, dialek utama, dan pengungkapannya. Walaupun ada bermacam-macam dialek, tetapi dialek asli -yaitu apa yang dibilang sekarang dialek Arab klasik- tetap ada dan tidak berubah sampai saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap Al Qur’an yaitu dengan manjaga bahasanya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="center">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><i>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz Dzikra [Al Qur’an] dan kamilah yang akan menjaganya”. </i>(QS Al Hijir : 9)</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;Kaya perbendaharaan kosa-katanya</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contohnya untuk kosa-kata “kuda” maka dalam bahasa Arab seperti berikut:<br />
-Khail (خيل) sekumpulan kuda<br />
-Faras (فرس) seekor kuda (jantan atau betina)<br />
-Hison (حصان) kuda jantan<br />
-Hajr (حجر) kuda betina<br />
-Mahr (مهر) anak kuda jantan<br />
-Mahrah (مهرة) anak kuda betina<br />
-Filw (فلو) anak kuda jantan yang baru lepas daripada menyusu ibu<br />
-Haikal (هيكل) kuda yang besar dan bertubuh tegap<br />
-Mathham (مطهم) kuda yang sempurna dan baik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penerapannya bisa kita lihat dalam Al Qur’an yaitu tentang istilah untuk hewan unta yaitu:</p>
<p>-al Ibilu [الإبل] lihat surat <i>Al Ghasiyah</i></p>
<p>-an-Naaqah [الناقة] lihat surat <i>Asy Syams</i></p>
<p>-al Budnu  [البدن] lihat surat <i>Al Hajj</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan istilah untuk unta juga banyak seperi istilah untuk kuda, bisa kita lihat dalam kitab-kitab ulama khsusunya kitab zakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-5.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1392</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan bahasa Arab (4)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-4.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-4.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2014 09:46:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1390</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Beda bacaan tetapi artinya sama saja (satu kata bisa I’rab-nya berbeda-beda) &#160; Contohnya pada kalimat, &#160; [أحب الفاكهة و لا سيما برتقال]  “Aku menyukai buah-buahan, apalagi buah jeruk” &#160; Maka kata [برتقال] “burtuqool” bisa dibaca dengan keseluruhan empat macam bacaan pada akhirnya karena berbeda I’rab-nya bisa dibaca “burtuqoolUN” atau “burtuqoolAN” atau “burtuqooliN” atau “burtuqool” Berikut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">B</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">eda bacaan tetapi artinya sama saja</span></b><b><span style="text-decoration: underline;"> (satu kata bisa I’rab-nya berbeda-beda)</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contohnya pada kalimat,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[أحب الفاكهة و لا سيما برتقال]  “<i>Aku menyukai buah-buahan, apalagi buah jeruk</i>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka kata [برتقال] “<i>burtuqool</i>” bisa dibaca dengan keseluruhan empat macam bacaan pada akhirnya karena berbeda <i>I’rab</i>-nya bisa dibaca “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">U</span></b></i><b><i><span style="text-decoration: underline;">N</span></i></b>” atau “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">A</span></b></i><b><i><span style="text-decoration: underline;">N</span></i></b>” atau “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">i</span></b></i><b><i><span style="text-decoration: underline;">N</span></i></b>” atau “<i>burtuqoo<b><span style="text-decoration: underline;">l</span></b></i>”</p>
<p><span id="more-1390"></span></p>
<p>Berikut pembahasan <i>I’rab</i>-nya, <b>sekali lagi [maaf]</b> bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati (<b>baca</b><b> </b><b>: harus semangat belajar bahasa Arab</b><b>)</b>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>dibaca “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">i</span></b></i><b><i><span style="text-decoration: underline;">N</span></i></b><b><i>” </i></b><b>[</b><i>majrur</i>] jika huruf “<i>maa</i>” pada “<i>siyyam</i><i>a</i><i>a</i>” dianggap sebagai huruf “<i>zaa</i><i>&#8211;</i><i>idah</i>” sehinga <i>isim</i> setelahnya [<i>burtuqool</i>] berkedudukan sebagai <i>mudhof ilaih</i>.</li>
<li>dibaca “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">UN</span>” </b></i>[marfu’] jika huruf “<i>maa</i>” pada “<i>siyyamaa</i>” dianggap sebagai <i>isim maushul mudhof ilaih</i> dari “<i>siyya</i>” sehinga isim setelahnya [<i>burtuqool</i>] berkedudukan sebagai <i>khobar</i> dengan <i>mubtada’</i> yang <i>mahdzuf</i> <i>taqdir</i>-nya <i>huwa</i></li>
<li>dibaca “<i>burtuqool<b><span style="text-decoration: underline;">AN</span>” </b></i>[<i>manshub</i>] jika huruf “<i>maa</i>” pada “<i>siyyamaa</i>” dianggap sebagai sebuah <i>isim mudhof ilaih</i> dari “<i>siyya</i>” sehinga isim setelahnya [<i>burtuqool</i>] berkedudukan sebagai <i>tamyiz manshub</i></li>
<li>dibaca “<i>burtuqoo<b><span style="text-decoration: underline;">l</span></b></i>” karena diwaqafkan ketika akhir kata.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>(lihat <i>Mulakhkhas Qowa’idul Lughoh Al Arabiyah </i>hal. 65, Daruts Tsaqafah Al Islamiyah, Beirut)</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">S</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">atu kalimat bisa dibaca berbeda-beda dan artinya juga berbeda-beda</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Misalnya,</p>
<h4>لا تأكل السمك و تشرب اللبن</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka kata [تشرب] bisa dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">B</span></b></i>” atau “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BA</span></b></i>” atau “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BU</span></b></i>” atau <i>Tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BI</span></b></i>”</p>
<ul>
<li>jika dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">B</span></b></i>” artinya: “jangan engkau makan ikan <b>dan jangan</b> engkau minum susu”</li>
<li>jika dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BA</span></b></i>” artinya: “jangan engkau makan ikan <b>ketika engkau sedang</b> minum susu”</li>
<li>jika dibaca “tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BU</span></b>” artinya: ““jangan engkau makan ikan <b>dan engkau boleh</b> minum susu”</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>bisa dibaca Tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BI</span></b>” jika bacanya disambung ketika membaca “tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">B</span></b>” karena bertemu dua huruf sukun yaitu huruf “ba” dan “alif lam” pada “al laban.</li>
</ul>
<p><b><span style="text-decoration: underline;"> </span></b></p>
<p>Berikut pembahasan <i>I’rab</i>-nya, <b>sekali lagi [maaf]</b> bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati [<b>baca : harus semangat belajar bahasa Arab</b>].</p>
<p><b><span style="text-decoration: underline;"> </span></b></p>
<ul>
<li>Dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">B</span></b></i>” [<i>majzum</i>] karena huruf “<i>wawu</i>” sebagai huruf ‘<i>athof</i>, <i>fi’ilnya athof</i> dengan “<i>ta’kul</i>” karena Huruf “<i>laa Naahiyah</i>” men-<i>jazm</i>-kannya</li>
<li>dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BA</span></b></i>” [<i>manshub</i>] karena huruf “<i>wawu</i>” sebagai “<i>Wawu haal</i>” dengan “<i>adawatun naasibah</i>”, sedangkan huruf “<i>an</i>” wajib disembunyikan</li>
<li>jika dibaca “<i>tasyro<b><span style="text-decoration: underline;">BU</span></b></i>” [marfu’] karena huruf “<i>wawu</i>” sebagai “<i>Wawu isti’naf</i>” yaitu “<i>wawu</i>” untuk menunjukkan awal kalimat dan tidak berhubungan dengan kalimat sebelumnya. Sehingga <i>fi’il</i>-nya hukum asalnya <i>marfu’</i> jika tidak ada ‘<i>amil</i>.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>(lihat <i>Qowaa</i><i>’</i><i>idul ‘Asasiyah Lillughotil </i><i>‘</i><i>Arabiyah</i> hal 34, As Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut, cet.ke-3,1427 H)</p>
<p><b><span style="text-decoration: underline;"> </span></b></p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;Terkadang harus paham dulu baru bisa dibaca lafadznya</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini salah satu yang paling unik menurut kami. Karena umumnya bahasa yang lain dibaca/dilafadzkan dulu baru bisa dipahami. Lebih-lebih ia juga harus paham i’rabnya. Sudah kita ketahui bahwa bahasa Arab  aslinya adalah “gundul” dan tidak ada harokatnya, karena harokat memang sejarahnya dibuat bagi orang non-Arab. Tanpa bantuan harokat mereka yang belum mengetahui dasar-dasar bahasa Arab tidak bisa membacanya atau melafadzkannya. Contohnya pada Al Qur’an surat An-Nisa ayat 164,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="center">و كلم الله موسى تكليما</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bacaan yang benar: <i>“Wa kallamall</i><i>a</i><i>a<b><span style="text-decoration: underline;">HU</span></b> Muusaa takli</i><i>i</i><i>ma”</i> [Allah benar-benar mengajak bicara Musa]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka jika pembaca tidak paham maksudnya, maka dia tidak tahu cara membacanya. Apakah lafadz <i>Jalalah</i>  Allah dibaca, “<i>Allahu</i>” atau “<i>Allaha</i>” atau “<i>Allahi</i>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Lho</i> dari mana dia tahu maksudnya, padahal belum dibaca, padahal juga yang dibaca adalah sumber ilmunya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabannya : umumnya dari <i>i’rab</i>, konteks kalimat atau maksud kalimat sebelumnya. Pada kasus ini, kalimat bisa dipahami dengan bekal aqidah yang benar, yaitu Allah mempunyai sifat berbicara dan memang Allah yang mengajak Musa berbicara.</p>
<p><b>S</b><b>ekali lagi [maaf]</b> bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati <b>[baca: harus semangat belajar bahasa Arab]</b>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Tidak mungkin lafadz J<i>alalah</i>  dibaca “Alla<b>HA”</b></li>
</ul>
<p><b> </b>Karena artinya nanti “Musa mengajak bicara Allah”, karena ada kemungkinan nanti menafikan sifat  Allah (yakni : berbicara) dan ini bentuk <i>tahrif</i>/menyelewengkan sifat Allah.</p>
<ul>
<li>tidak mungkin lafadz J<i>alalah</i>  dibaca “Alla<b>Hi”</b></li>
</ul>
<p><b> </b>Karena tidak ada penyebab majrurnya yaitu huruf jar atau mudhaf ilaih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam bahasa Arab, <i>i&#8217;rab</i> terkadang membantu menyempurnakan [menangkap] makna dan terkadang maknanya bisa menyempurnakan <i>i&#8217;rab</i>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu lagi yang menjadi isyarat yang cukup penting, <b>bahwa orang yang ingin berbahasa arab dengan benar dan fasih, dilatih agar berpikir dahulu baru berbicara</b>. Tidak sembarangan berbicara karena minimal ia memikirkan <i>i’rab</i>/kedudukan kata dalam kalimat. Jelas ini tidak kita dapatkan dalam kebanyakan bahasa karena bahasa Arab itu unik. Dan sesuatu dibilang unik jika jarang sekali dijumpai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-4.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1390</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan bahasa Arab (3)</title>
		<link>http://badaronline.com/uncategorized/keunikan-keunikan-bahasa-arab-3.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/uncategorized/keunikan-keunikan-bahasa-arab-3.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2014 09:41:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1386</guid>

					<description><![CDATA[&#62;&#62;Satu kata bermakna ganda dan maknanya berkebalikan sekaligus &#160; Ada beberapa kata bisa bermakna ganda dan uniknya maknanya bisa berkebalikan. Maknanya bisa dibedakan dengan melihat konteks kalimat. Misalnya, &#160; Kata [زوج] “zaujun” arti aslinya adalah suami dan uniknya dia juga berarti pasangan,sehingga bisa kita artikan istri. &#160; Kita lebih mengenal bahwa bahasa arab istri adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">S</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">atu kata bermakna ganda dan </span></b><b><span style="text-decoration: underline;">maknanya </span></b><b><span style="text-decoration: underline;">berkebalikan sekaligus</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada beberapa kata bisa bermakna ganda dan uniknya maknanya bisa berkebalikan. Maknanya bisa dibedakan dengan melihat konteks kalimat.</p>
<p>Misalnya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Kata [زوج] “<i>zaujun</i>” arti aslinya adalah suami dan uniknya dia juga berarti pasangan,sehingga bisa kita artikan istri.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita lebih mengenal bahwa bahasa arab istri adalah [زوجة] “<i>zaujatun</i>”. contoh yang valid dalam Al Qur’an:</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="center">وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَ<b><span style="text-decoration: underline;">زَوْجُكَ</span></b> الْجَنَّةَ</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><i>“Dan Kami berfirman</i><i> </i><i>: &#8220;Hai Adam, </i><i>tinggallah </i><i>kamu dan <b><span style="text-decoration: underline;">isterimu </span></b></i><b><i><span style="text-decoration: underline;">di </span></i></b><i>surga ini”</i> (QS. Al Baqarah : 35)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam ayat digunakan  [زَوْجُكَ] “<i>zaujuka</i>” <b><span style="text-decoration: underline;">bukan</span></b> [زوجتك] “<i>zaujatuka</i>”<span id="more-1386"></span></p>
<p>Dan [زوج]  “<i>zaujun</i>” bentuk jamaknya [أزواج] “<i>Azwaajun</i>”, dan sekali lagi contohnya dalam Al Qur’an yaitu doa yang sering kita baca,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="center">رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ <b><span style="text-decoration: underline;">أَزْوَاجِنَا</span></b> وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><i>“&#8221;Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami <b><span style="text-decoration: underline;">isteri-isteri</span></b> kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” </i>(QS. Al Furqon : 74)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam ayat digunakan [أزواج]”<i>azwaaj</i>” <b><span style="text-decoration: underline;">bukan</span></b> [زوجات] “<i>zaujaat</i>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>kata [بيع] “<i>bai’un” </i>artinya penjualan, dia juga bisa berarti kebalikannya yaitu: pembelian. Dalam bahasa Arab pembelian lebih dikenal dengan [شراء] “<i>syira’</i>”.</li>
</ul>
<p>Penerapannya dalam hadist,</p>
<h4 align="center">
إِذَا اخْتَلَفَ <b><span style="text-decoration: underline;">الْبَيِّعَانِ</span></b> فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْبَائِعِ وَالْمُبْتَاعُ بِالْخِيَارِ</h4>
<p align="center"><i>“Apabila <b><span style="text-decoration: underline;">penjual dan pembeli</span></b> berselisih maka perkataan yang diterima adalah perkataan penjual, sedangkan pembeli memiliki hak pilih “.</i> (HR. At Tirmidzi III/570 no.1270, dan Ahmad I/466 no.4447. dinilai <i>shahih</i> oleh Syaikh Al Albani dalam <i>Irwa’ Al Ghalil</i> no: 1322)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu juga dalam ayat Al Qur’an</p>
<h4 align="center">وَأَحَلَّ اللَّهُ <b><span style="text-decoration: underline;">الْبَيْعَ</span></b> وَحَرَّمَ الرِّبَا</h4>
<p align="center"><em>“… padahal Allah telah menghalalkan <b><span style="text-decoration: underline;">jual beli</span></b> dan mengharamkan riba…” </em>(QS. Al Baqarah : 275)</p>
<ul>
<li>begitu juga dengan kata [قمر] “<i>qomar</i>” yang artinya bulan, bisa berarti matahari juga. Dan masih ada contoh yang lainnya.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">S</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">alah baca sedikit artinya sangat jauh berbeda bahkan bisa bertentangan</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Misalnya,</p>
<ul>
<li>kalimat [الله أكبر] “<i>Allahu akbar</i>” artinya : Allah Maha Besar</li>
</ul>
<p>Jika dibaca [آلله أكبر] “<b><i><span style="text-decoration: underline;">A</span></i></b><b><i><span style="text-decoration: underline;">a</span></i></b><i>llahu akbar”</i>  dengan huruf alif dibaca panjang, artinya: apakah Allah Maha Besar?</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>surat Al Fatihah ayat ke-5, [إياك نعبد وإياك نستعين]</li>
</ul>
<p>Jika dibaca <i>“I<b><span style="text-decoration: underline;">YY</span></b>aaka na’buduu</i>” dengan <i>tasydid</i> huruf “<i>ya</i>” artinya: “Hanya kepada-Mu Kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.</p>
<p>Jika dibaca <b><i>“iYaaka na’budau”</i> tanpa tasydid huruf “ya”</b> maka artinya: ““kepada <b>cahaya <strong>matahari</strong></b>  kami menyembah dan kepada <b>cahaya</b> <strong>matahari</strong> kami meminta pertolongan”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibnu Katsir <i>rahimahullah</i> menjelaskan hal ini dalam tafsirnya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 style="text-align: right;" align="center">وقرأ عمرو بن فايد بتخفيفها مع الكسر وهي قراءة شاذة مردودة؛ لأن &#8220;إيا&#8221; ضوء الشمس</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>“’Amr bin Faayid membacanya dengan tidak mentasydid [huruf ya’] dan mengkasrah [huruf alif]. Ini adalah bacaan yang aneh dan tertolak. <b>Karena makna “iya” adalah cahaya matahari.”</b> </i>(<i>Tafsir Al Qur’an</i> <i>Al ‘Azhim</i> 1/134, Asy Syamilah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masih ada contoh yang lain misalnya “Jam<b><span style="text-decoration: underline;">AA</span></b>l” artinya keindahan sedangkan “jam<b><span style="text-decoration: underline;">A</span></b>l” artinya unta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/uncategorized/keunikan-keunikan-bahasa-arab-3.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1386</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-keunikan Bahasa Arab (2)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-2.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-2.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2014 13:32:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1322</guid>

					<description><![CDATA[Keunikan-keunikan bahasa Arab Berikut beberapa yang kami kumpulkan di antaranya: &#160; &#62;&#62;Dua kata yang berbeda satu huruf saja artinya bisa berkebalikan &#160; Misalnya, -[نعمة] dan [نقمة] “ni’mah” dan “niqmah” artinya : nikmat dan sengsara -[عاجلة] dan [آجلة] “’aajilah” dan “aajilah” artinya : yang segera dan yang diakhirkan/tertunda -[قادم] dan [قديم] “Qoodim” dan “Qodiim” artinya : yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><span style="text-decoration: underline;">Keunikan-keunikan bahasa Arab</span></b><b></b></p>
<p>Berikut beberapa yang kami kumpulkan di antaranya:</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">&gt;&gt;Dua kata yang </span></b><b><span style="text-decoration: underline;">berbeda satu </span></b><b><span style="text-decoration: underline;">huruf saja</span></b><b></b><b><span style="text-decoration: underline;"> artinya bisa berkebalikan</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Misalnya,</p>
<p>-[نعمة] dan [نقمة] “<i>ni’mah</i>” dan “<i>niqmah</i>” artinya : <b>nikmat</b> dan <b>sengsara</b></p>
<p>-[عاجلة] dan [آجلة] “<i>’aajilah</i>” dan “<i>aajilah</i>” artinya : <b>yang segera</b> dan <b>yang diakhirkan/tertunda</b></p>
<p>-[قادم] dan [قديم] “<i>Qoodim</i>” dan “<i>Qodiim</i>” artinya : <b>yang akan datang</b> dan <b>yang lampau</b></p>
<p>-[مختلف] dan [مؤتلف] “<i>mukhtalifun</i>” dan “<i>mu’talifun</i>” artinya : <b>berbeda</b> dan <b>bersatu</b></p>
<p>Dan masih banyak contoh yang lain.<span id="more-1322"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><b><span style="text-decoration: underline;">Dua kata yang jika terpisah artinya bersatu/sama</span></b><b><span style="text-decoration: underline;"> dan Jika bersatu artinya berbeda/terpisa</span></b><b><span style="text-decoration: underline;">h</span></b></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini yang dikenal dengan ungkapan,</p>
<h4 align="center"> إذا افترقا احتمعا و اذا احتمعا افترقا</h4>
<p align="center"> <i>“Jika terpisah artinya bersatu/sama</i><i> dan Jika bersatu artinya berbeda/terpisa</i><i>h”</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maksudnya jika dua kata tersebut terpisah atau tidak berada dalam satu kalimat maka artinya sama. Dan jika bersatu yaitu dua kata tersebut berada dalam satu kalimat maka artinya berbeda.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>[فقير] dan [مسكين] “<i>faqiir</i>” dan “<i>miskiin</i>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika kita membuat kalimat yang dua kata ini ada/bersatu, misalnya: <i>“Kita harus berbuat baik terhadap orang faqir dan miskin”</i></p>
<p>Maka maknanya <span style="text-decoration: underline;">berbeda</span>, Yaitu:</p>
<p><strong><i>Faqir</i>&gt;</strong> orang yang tidak punya harta untuk mencukupi kehidupannya.</p>
<p><strong><i>Miskin</i>&gt;</strong> orang yang punya harta tetapi tidak cukup untuk kehidupannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika kita buat kalimat dimana dua kata ini terpisah, misalnya : <i>“kita harus berbuat baik terhadap orang faqir”</i></p>
<p>Maka makna <i>faqir</i> dalam kalimat ini mencakup kedua maknanya (mencakup makna miskin juga –ed) yaitu orang yang tidak punya harta untuk mencukupi kehidupannya dan orang yang punya harta tetapi tidak cukup untuk kehidupannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu juga jika kita berkata: <i>“kita harus berbuat baik terhadap orang miskin”</i></p>
<p>Maka makna miskin dalam kalimat ini juga mencakup kedua maknanya tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contoh lain adalah [إيمان] dan [إسلام] “<i>Iman</i>” dan “<i>Islam</i>”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika bersatu makanya berbeda,</p>
<p><strong><i>Iman</i>:</strong> amalan yang berkaitan dengan hati/ amalan batin</p>
<p><strong><i>Islam</i>:</strong> amalan yang berkaitan dengan anggota badan/amalan lahir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika terpisah, maknanya mencakup satu sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penyusun :</p>
<p>Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma&#8217;had Al &#8216;Ilmi Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1322</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keunikan-Keunikan Bahasa Arab (1)</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-1.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-1.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[jati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 May 2014 15:40:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1210</guid>

					<description><![CDATA[Pengantar Bahasa Al Qur&#8217;an ini memiliki beberapa keunikan yang bisa kita dapatkan ketika mempelajarinya. Kami mengumpulkannya agar kaum muslimin bisa tertarik mempelajari bahasa Agama mereka. Karena bahasa Arab sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Akan tetapi Bahasa Arab di zaman ini sangat jauh dari kaum muslimin khususnya di Indonesia. Cukup dengan mengerti dasar-dasar bahasa Arab, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Pengantar</b></p>
<p>Bahasa Al Qur&#8217;an ini memiliki beberapa keunikan yang bisa kita dapatkan ketika mempelajarinya. Kami mengumpulkannya agar kaum muslimin bisa tertarik mempelajari bahasa Agama mereka. Karena bahasa Arab sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Akan tetapi Bahasa Arab di zaman ini sangat jauh dari kaum muslimin khususnya di Indonesia.</p>
<p>Cukup dengan mengerti dasar-dasar bahasa Arab, kaum muslimin bisa mengerti lebih dalam petunjuk hidup mereka dan tidak perlu bergantung dengan terjemahan. Dan terjemahan tidak bisa menggantikan makna keseluruhan Al-Quran, oleh karena itu dalam mushaf Indonesia ditulis “terjemah maknawi Al-Quran”. Agak menyusahkan juga jika ada pentunjuk jalan semisal peta, tetapi orang yang hendak ke tujuan masih belum menguasi benar petunjuk tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh terjemah makna yang kami maksud kurang mengena tersebut,<span id="more-1210"></span></p>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman pada surat Yusuf ayat 2,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 style="text-align: center;"> إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</h4>
<p style="text-align: left;" align="center">
<p style="text-align: left;" align="center">Terjemah maknawi dalam Mushaf Indonesia oleh Yayasan Penyelenggara penterjemaah/Pentafsir  Al Quran yang ditunjuk oleh Menteri Agama dengan ketua Prof.R.H.A Soenarjo S.H, sebagai berikut :</p>
<p align="center">“<i>Sesungguhnya Kami <b>menurunkannya berupa Al Qur&#8217;an </b>dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”</i> (QS. Yusuf : 2)</p>
<p>Maka makna ini kurang mengena, karena kita lihat dari <i>i’rab</i>-nya (pembahasan kedudukan kata dalam bahasa Arab). Berikut pembahasan sedikit mengenai <i>i’rab-</i>nya, bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati (baca: harus semangat belajar bahasa Arab),</p>
<p>Imam Al Qurthubi <i>rahimahullah</i> menjelaskan <i>i’rab</i> kata [قُرْآناً] dalam tafsirnya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="right"> يجوز أن يكون المعنى: إنا أنزلنا القرآن عربيا، نصب&#8221; قرآنا&#8221; على الحال، أي مجموعا. و&#8221; عربيا&#8221; نعت لقوله&#8221; قرآنا&#8221;. ويجوز أن يكون توطئة للحال، كما تقول: مررت بزيد رجلا صالحا، و&#8221; عربيا&#8221; على الحال أي يقرأ بلغتكم يا معشر العرب</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><i>“Bisa bermakna : ”<b>[pertama] </b>Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an yang berbahasa Arab”, kata “Qur’aanan” dinashob dengan kedudukan sebagai “haal” yaitu bermaka terkumpul. Dan kata “’arobiyyan” berkedudukan sebagai “na’at” dari kata “qur’aanan”. <b>[kedua]</b> sebagai “tauthi’ah”/pengantar bagi “haal” sebagai mana kita katakan: “saya melewati Zaid, seorang laki-laki yang shalih”. Dan kata “’arabiyyan” berkedudukan sebagai “haal” sehingga makna kalimat yaitu: dibaca dengan bahasa kalian wahai masyarakat Arab.”</i> [<i>Al Jami’ Liahkamil Qur’an</i> 9/199, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, cet.ke-2, 1384 H, Asy Syamilah]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi makna yang agak mendekati &#8211;<i>wallahu a’lam-</i> adalah,</p>
<p align="center"> “<i>Sesungguhnya <b>Kami menurunkan Al Qur’an</b>yang  berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.”</i> (QS. Yusuf : 2)</p>
<p> Atau</p>
<p align="center"> “<i>Sesungguhnya Kami <b>menurunkannya [Al Qur&#8217;an] sebagai bacaan </b>yang berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.”</i> (QS. Yusuf : 2)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukan berarti Prof.R.H.A Soenarjo S.H, dan timnya tidak mampu menterjemahkan dengan baik, akan tetapi memang agak sulit menterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dimana bahasa Indonesia jika dibandingkan bahasa Arab, maka bahasa Indonesia kurang <i>usluub</i>/gaya dan kurang ungkapan bahasanya. Kita juga patut berterima kasih sebesar-besarnya kepada Prof.R.H.A Soenarjo S.H. dan timnya dalam upayanya menterjemahkan Al-Quran sehingga bermanfaat bagi kaum muslimin di Indonesia. <i>Jazahumullahu khairaa</i>.</p>
<p>Supaya lebih bersemangat lagi, mari kita lihat tafsir Ibnu Katsir<i> rahimahullah </i>mengenai ayat diatas. Beliau berkata,</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4 align="right"> وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزل أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة (8) أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرفشهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه</h4>
<p align="center"> <i>&#8220;Yang demikian itu (bahwa Al Qur’an</i><i> </i><i>diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. <b>Oleh karena itu kitab yang paling mulia diturunkan (Al Qur’an) kepada rasul yang paling mulia (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dengan bahasa yang termulia (bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (Jibril), ditambah diturunkan pada dataran yang paling muia diatas muka bumi (tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (Ramadhan), sehingga Al Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi</b>.&#8221;</i> (<i>Tafsirul Qur’an Al ‘Azhim</i> 4/366, Darul Thayyibah, cet.ke-2, 1420 H, Asy Syamilah)</p>
<p style="text-align: left;" align="center">
<p style="text-align: left;" align="center">Bersambung, <em>insya Allah&#8230;</em></p>
<p style="text-align: left;" align="center">
<p style="text-align: left;" align="center">Penyusun :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">Ust. dr. Raehanul Bahraen</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/keunikan-keunikan-bahasa-arab-1.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1210</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Huruf Hamzah (Bagian I)</title>
		<link>http://badaronline.com/nahwu/huruf-hamzah-bagian-i.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/nahwu/huruf-hamzah-bagian-i.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badar Online]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2012 02:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Hamzah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1125</guid>

					<description><![CDATA[Macam-macam Fungsi Hamzah Didalam Bahasa ‘Arab (Bagian Pertama) Hamzah [ ء ] merupakan huruf  pertama dalam pengucapan abjadiyah ‘arab, yang memiliki beberapa fungsi dalam bahasa ‘Arab, diantaranya : هَمْزَةُ التَّسْوِيَةِ Hamzah Taswiyah هَمْزَةُ التَّسْوِيَةِ Hamzah Taswiyah : Hamzah yang terletak setelah kata سََوَاءٌ (yang artinya : “sama saja”, yaitu : dalam rangka menyamakan dua hal), [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Macam-macam Fungsi Hamzah Didalam Bahasa ‘Arab</span></strong></p>
<p><strong>(Bagian Pertama)</strong></p>
<p><strong><em>Hamzah</em></strong> [ ء ] merupakan huruf  pertama dalam pengucapan abjadiyah ‘arab, yang memiliki beberapa fungsi dalam bahasa ‘Arab, diantaranya :</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">هَمْزَةُ التَّسْوِيَةِ</a> <strong><em>Hamzah Taswiyah</em></strong></p>
<ul>
<li><a class="arab">هَمْزَةُ التَّسْوِيَةِ</a> <strong><em>Hamzah Taswiyah</em></strong><em> : Hamzah yang terletak setelah kata </em><em><a class="arab">سََوَاءٌ</a></em><em> (yang artinya : “sama saja”</em>, yaitu : dalam rangka menyamakan dua hal), dan dalam susunan seperti ini Hamzah tersebut harus disertai sebuat kata yang dinamai : <a class="arab"> أَمْ الْمُعَادَلَةِ </a><strong>(<em>Am Mu’adalah</em></strong>, yang diartikan : <em>“ataupun”</em>), contohnya dalam Firman Allah –ta’ala- ketika Allah menceritakan tentang mustakbirin (orang-orang sombong) dimana pada hari kiamat kelak  mereka akan berkata :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong><a class="arab">سَوَاءٌ</a></strong><a class="arab"> عَلَيْنَا </a><strong><a class="arab"><em>أَ</em> </a></strong><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">جَزِعْنَا</a></span> <strong><a class="arab">أَمْ</a></strong> <span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">صَبَرْنَا</a></span><a class="arab"> مَا لَنَا مِنْ مَحِيْصٍ</a></p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong><em> : </em>“<strong>sama saja</strong> bagi kita  <em><strong>apakah</strong> </em><span style="text-decoration: underline;">kita mengeluh </span> <strong>ataupun</strong> <span style="text-decoration: underline;">kita bersabar</span> maka tidaklah ada untuk kita tempat melarikan diri” QS.Ibrahim:21.<span id="more-1125"></span></p>
<p>&#8211;         Hamzah Taswiyah pada ayat diatas jika dirangkai bersama dengan fi’il yang terletak setelahnya yaitu :<a class="arab"> جَزِعْنَا </a>(menjadi :<a class="arab"> أَ جَزِعْنَا </a>) maka dapat di<strong><em>ta`wil</em></strong>kan kedalam bentuk mashdar yang berfungsi menggantikan posisi fi’il<a class="arab"> جَزِعْنَا </a>tersebut, sehingga menjadi :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">سَوَاءٌ</a></span><a class="arab"> عَلَيْنَا </a><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">جَزَعُنَا</a></span> <strong><a class="arab">أَمْ</a></strong> <span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">صَبْرُنَا</a></span></p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong><em> “<strong>sama saja</strong> bagi kita <span style="text-decoration: underline;">keluhan kita</span> <strong>atau</strong> <span style="text-decoration: underline;">kesabaran kita</span>”.</em></p>
<p>&#8211;         <strong>Adapun cara mengi’rabnya </strong>adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong><a class="arab">سَوَاءٌ</a></strong><strong> : khabar muqaddam</strong> / marfu’ / bidh dhammah.<br />
<a class="arab">عَلَيْ </a>: harfu jarr / mabniy / ‘alas sukun.<br />
<a class="arab">نَا </a>: dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (ism majrur).</p>
<p><strong><a class="arab">جَزَعُ</a></strong><strong> : mubtada` mu`akhkhar</strong> / marfu’ / bidhdhammah (wa huwa mudhaf).<br />
<a class="arab">نَا </a>: dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (mudhaf ilaih).<br />
<a class="arab">أَمْ </a>: harfu ‘athf / mabniy / ‘alas sukun.<br />
<a class="arab">صَبرُ </a> : ma’thuf ‘ala<a class="arab"> جَزَعُ </a>/ marfu’ / bidh dhammah (wa huwa mudhaf).<br />
<a class="arab">نَا </a>: dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (mudhaf ilaih).</p>
<p>&#8211;         Dan jika kita mengembalikan posisi mubtada` menjadi diawal jumlah (posisi ashlinya), maka jumlah tersebut akan menjadi :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">جَزَعُنَا</a></span> <strong><a class="arab">أَمْ</a></strong> <span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">صَبْرُنَا</a></span><a class="arab"> سَوَاءٌ عَلَيْنَا </a></p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong><em> “<span style="text-decoration: underline;">keluhan kita</span> <strong>atau</strong> <span style="text-decoration: underline;">kesabaran kita</span><strong> sama saja</strong> bagi kita”.</em></p>
<p>&#8211;         <strong>Adapun cara mengi’rabnya </strong>adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong><a class="arab">جَزَعُ</a></strong><strong> : mubtada`</strong> / marfu’ / bidhdhammah (wa huwa mudhaf).<br />
<a class="arab">نَا </a>: dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (mudhaf ilaih).<br />
<a class="arab">أَمْ </a>: harfu ‘athf / mabniy / ‘alas sukun.<br />
<a class="arab">صَبرُ </a>: ma’thuf ‘ala<a class="arab"> جَزَعُ </a>/ marfu’ / bidh dhammah (wa huwa mudhaf).<br />
<a class="arab">نَا </a> : dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (mudhaf ilaih).<br />
<a class="arab"><br />
<strong>سَوَاءٌ</strong></a><strong> : khabar </strong> / marfu’ / bidh dhammah.<br />
<a class="arab">عَلَيْ </a>: harfu jarr / mabniy / ‘alas sukun.<br />
<a class="arab">نَا </a> : dhamir / mabniy / ‘alas sukun / fi mahalli jarr (ism majrur).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><strong><a class="arab">هَمْزَةُ الْاِسْتِفْهَامِ</a></strong> <strong><em>Hamzah Istifham</em></strong></p>
<ul>
<li><strong><a class="arab">هَمْزَةُ الْاِسْتِفْهَامِ</a></strong> <strong><em>Hamzah Istifham</em></strong> : <em>Hamzah yang dipakai untuk :</em></li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><em>a. </em><em>Menanyakan tentang salah satu dari dua hal atau lebih dalam rangka <strong>ta’yin</strong> (menentukan atau memilih jawaban)</em>, contohnya :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>أ</strong><strong>َ </strong><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">زَيْدٌ</a></span><a class="arab"> مُسَافِرٌ أَمْ </a><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">حَامِدٌ</a></span>؟</p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong> : <em>“apakah <span style="text-decoration: underline;">Zaid</span> yang bersafar ataukah <span style="text-decoration: underline;">Hamid</span>?”.</em></p>
<p>Pertanyaan diatas dijawab dengan cara menentukan atau memilih antara :  <span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">زَيْدٌ</a></span> atau <span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">حَامِدٌ</a></span> .</p>
<p>&#8211;         Adapun cara mengi’rabnya adalah sebagai berikut :<br />
<a class="arab"><br />
أَ </a>: harfu istifham / mabniy / ‘alal fath.<br />
<a class="arab"><strong>زَيْدٌ </strong></a><strong> : mubtada`</strong> / marfu’ / bidh dhammah.<br />
<a class="arab"><strong>مُسَافِرٌ</strong></a><strong> : khabar</strong> / marfu’ / bidh dhammah.<br />
<a class="arab">أَمْ </a>: harfu ‘athf / mabniy / ‘alas sukun.<br />
<a class="arab">حَامِدٌ </a>: ma’thuf ‘ala<a class="arab"> زَيْدٌ </a>/ marfu’ / bidh dhammah.</p>
<p><em>b. </em><em>Menanyakan tentang <strong>isnad</strong> (rangkaian jumlah mufidah), </em>misalnya  kita ingin menanyakan tentang  jumlah jumlah mufidah berikut ini :</p>
<p style="text-align: center;"><strong><a class="arab">سَافَرَ زَيْدٌ</a></strong></p>
<p><strong>Artinya</strong> : “<em>Zaid telah bersafar</em>”.</p>
<p>Maka untuk menanyakan tentang hal itu dengan menggunakan : <strong><a class="arab">أ</a></strong> (<em>apakah</em>) ada dua bentuk, yaitu :</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">*bentuk ke-1 (Hamzah tanpa diiringi harfu nafi) , </span></em></strong><span style="text-decoration: underline;">contoh :</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>أ</strong><strong>َ </strong><a class="arab">سَافَرَ </a><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">زَيْدٌ</a></span>؟</p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong> : <em>“apakah <span style="text-decoration: underline;">Zaid</span> telah bersafar?”.</em></p>
<p>Pertanyaan diatas dijawab dengan salah satu dari dua jawaban berikut :</p>
<ol>
<li><a class="arab"><strong>نَعَمْ</strong> ، سَافَرَ <span style="text-decoration: underline;">زَيْدٌ</span></a> : <strong>ya</strong> , Zaid telah bersafar, atau disingkat dengan : <strong><a class="arab">نَعَمْ</a></strong> saja.</li>
<li><a class="arab"><strong>لاَ</strong> ، لَمْ يُسَافِرْ <span style="text-decoration: underline;">زَيْدٌ</span></a> : <strong>tidak</strong>, Zaid tidak bersafar, atau disingkat dengan : <strong><a class="arab">لاَ</a></strong> saja.</li>
</ol>
<p>&#8211;         Adapun cara mengi’rabnya adalah sebagai berikut :<br />
<a class="arab"><br />
أَ </a>: harfu istifham / mabniy / ‘alal fath.<br />
<a class="arab"><strong>سَافَرَ</strong></a><strong> : fi’il </strong>madhi / mabniy / ‘alal fath.<br />
<a class="arab"><strong>زَيْدٌ </strong></a><strong> : fa’il</strong> / marfu’ / bidh dhammah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">*bentuk ke-2 (Hamzah + huruf nafi), </span></em></strong><span style="text-decoration: underline;">contoh : </span></p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab"><strong>أ</strong><strong>َ </strong>لَمْ يُسَافِرْ <span style="text-decoration: underline;">زَيْدٌ</span></a>؟</p>
<p>&#8211;         <strong>Artinya</strong> : <em>“tidakkah <span style="text-decoration: underline;">Zaid</span> bersafar?”.</em></p>
<p>Pertanyaan diatas dijawab dengan salah satu dari dua jawaban berikut :</p>
<ol>
<li><a class="arab"><strong>نَعَمْ</strong> ، لَمْ يُسَافِرْ <span style="text-decoration: underline;">زَيْدٌ</span></a> : <strong><em>ya</em></strong><em> , Zaid (memang) tidak bersafar</em>, atau disingkat dengan : <strong><a class="arab">نَعَمْ</a></strong> saja.</li>
<li><a class="arab"><strong>بَلَى</strong> ، سَافَرَ <span style="text-decoration: underline;">زَيْدٌ</span></a> : <strong><em>tidak begitu</em></strong><em>, (bahkan) Zaid bersafar</em>, atau disingkat dengan : <strong>&gt;<a class="arab">بَلَى</a></strong> saja.</li>
</ol>
<p>&#8211;         Adapun cara mengi’rabnya adalah sebagai berikut :<br />
<a class="arab"><br />
أَ </a>: harfu istifham / mabniy / ‘alal fath.<br />
<a class="arab">لَمْ </a>: harfu nafi wa jazm / mabniy / ‘alas sukun.</p>
<p><strong><a class="arab">يُسَافِرْ</a></strong><strong> : fi’il </strong>mudhari’ / majzum / bis sukun.</p>
<p><strong><a class="Arab">زَيْدٌ </a></strong><strong> : fa’il</strong> / marfu’ / bidh dhammah.</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab"><strong>هَمْزَةُ النِّدَاءِ لِلْقَرِيْبِ</strong></a><strong> Hamzah Nida` Lil Qarib</strong></p>
<ul>
<li><strong><a class="arab">هَمْزَةُ النِّدَاءِ لِلْقَرِيْبِ</a></strong><strong> Hamzah Nida` Lil Qarib</strong> : <em>Hamzah yang digunakan untuk memanggil seseorang yang berada dekat dengan sipemanggil</em>, contohnya :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong><a class="arab">أ</a></strong><strong>َ </strong><a class="arab">زَيْدُ<br />
</a><br />
&#8211;         <strong>Artinya</strong> : <em>“wahai zaid”.</em></p>
<p>&#8211;         Adapun cara mengi’rabnya adalah sebagai berikut :<br />
<a class="arab"><br />
أَ </a>: harfu nida` lil qarib / mabni / ‘alal fath.<br />
<a class="arab">زَيْدُ </a> : munada  / mabniy  / ‘aladh dhamm / fi mahalli nashb (maf’ul bihi).</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan : </span></em></strong></p>
<p>Perlu diketahui bahwa <strong><em>Jumlah Mufidah</em></strong> itu ada dua macam :</p>
<ol>
<li><strong><em>Jumlah Ismiyyah</em></strong>, adalah : <em>jumlah yang diawali dengan isim</em>, contoh :<a class="arab"> الْوَلَدُ جَالِسٌ</a>dan jumlah ini memiliki dua rukun (<em>kata yang harus ada sebagai syarat sempurnanya jumlah tersebut</em>), yaitu :
<ol>
<li>Mubtada`</li>
<li>Khabar</li>
<li><strong><em>Jumlah Fi’iliyyah</em></strong>, adalah : <em>jumlah yang diawali dengan fi’il</em>, contoh :<a class="arab"> جَلَسَ الْوَلَدُ</a>dan jumlah ini memiliki dua rukun (<em>kata yang harus ada sebagai syarat sempurnanya jumlah tersebut</em>), yaitu :
<ol>
<li>Fi’il</li>
<li>Faa’il</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu ketika memaparkan cara meng-I’rab jumlah-jumlah diatas penulis meletakkan <strong>arsir</strong> sebagai tanda bahwa kata-kata yang diarsir adalah rukun dari masing-masing jumlah.<br />
<a class="arab"><br />
<strong>و الله أعلم و عليه التكلان</strong> </a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="arab"><strong><em><span style="text-decoration: underline;">المراجع : </span></em></strong></a></p>
<p><a class="arab"><em>&#8211; </em><em>القرآن الكريم (بقراءة حفص عن عاصم – رحمهما الله).</em> </a></p>
<p><a class="arab"><em>&#8211; </em><em>المعجم المفصل في الإعراب (الأستاذ طاهر يوسف الخطيب)</em> </a></p>
<p><a class="arab"><em>&#8211; </em><em>المعجم الوسيط (لجنة المعجم من للغويين)</em> </a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Penulis: Kamal  Abu Muhammad Al Medany</span></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/nahwu/huruf-hamzah-bagian-i.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>25</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1125</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab, Jalan Mencari Ilmu Syar&#8217;i Yang Haq</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/bahasa-arab-jalan-mencari-ilmu-syari-yang-haq.html</link>
					<comments>http://badaronline.com/artikel/bahasa-arab-jalan-mencari-ilmu-syari-yang-haq.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badar Online]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2012 02:00:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=1116</guid>

					<description><![CDATA[اللّغة العربيّة سبيلُ العلْمِ الحقّ Bahasa ‘Arab : Jalan Mendapatkan ‘Ilmu yang Benar ‘Ilmu syar’i yang benar adalah sarana seorang hamba untuk  ber’ibadah kepada Allah –ta’ala- dengan benar pula, sedangkan ‘ibadah adalah tujuan utama diciptakannya para jinn dan manusia, Allah –ta’ala berfirman- : ((و ما خلقتُ الجنَّ و الإنسَ إلاّ لِيعبدون)) “Tidaklah Aku (Allah) menciptakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><a class="arab">اللّغة العربيّة سبيلُ العلْمِ الحقّ</a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bahasa ‘Arab :</strong></p>
<p><strong><em>Jalan Mendapatkan ‘Ilmu yang Benar</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">‘Ilmu syar’i yang benar adalah sarana seorang hamba untuk  ber’ibadah kepada Allah –ta’ala- dengan benar pula, sedangkan ‘ibadah adalah tujuan utama diciptakannya para jinn dan manusia, Allah –ta’ala berfirman- :</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">((و ما خلقتُ الجنَّ و الإنسَ إلاّ لِيعبدون))</a><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“Tidaklah Aku (Allah) menciptakan para jinn dan manusia melainkan agar mereka ber’ibadah kepada-Ku)) </em>QS. AdDzariyat:56.<span id="more-1116"></span></p>
<p>‘Ilmu syar’i termasuk <em>qurbah</em> (pendekatan diri) yang paling tinggi kepada Allah –ta’ala-, bahkan  para ‘Ulama berkata bahwa sesungguhnya ‘lmu (syar’i) merupakan agama,<em> </em>oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita memperhatikan dengan baik dari siapa kita mengambil agama kita ini? Dari sumber yang bagaimana kita ambil agama kita ini?</p>
<p>Jika tidak demikian maka dikhawatirkan perihal kita bagaikan <a class="arab">حاطِبُ اللَّيْلِ</a><em>“pencari kayu bakar dimalam hari”, </em>yang mana bisa jadi diantara kayu bakar yang ia kumpulkan terselip pula ular berbisa yang akan mematuk dan membunuhnya.</p>
<p>Al Imam Muslim –rahimahullah- mengeluarkan sebuah hadits dalam muqaddimah shahihnya, dari Muhammad Bin Sirin –rahimahullah-, beliau (Muhammad Bin Sirin) berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">إنَّ هَذا الْعِلْمَ مِنَ الدِّيْنِ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ</a><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya ‘ilmu (syar’i) ini adalah bagian dari agama, oleh karena itu perhatikanlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?”.</em></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan tentang bagaimanakah cara mendapatkan ‘ilmu yang benar, dimana beliau berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">الْعِلْمُ يَحْتاجُ إلى نَقْلٍ مُصَدَّقٍ وَ نَظَرٍ مُحَقَّقٍ</a><em> </em></p>
<p><em>“’Ilmu itu membutuhkan penukilan yang terpercaya dan pengkajian yang teruji”.</em></p>
<p>Jadi, kita dituntut untuk mengerti ma’na yang dikandung oleh nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dimana keduanya  tertulis dan sampai kepada kita dalam bahasa ‘Arab, dan memang itulah cara untuk menghasilkan ‘ilmu yang haqq, tanpa pengetahuan akan hal itu maka kita tidak dapat memetik manfa’at dari kandungan nash-nash tersebut, atau kita akan salah memahami maksudnya sehingga salah pula pengamalannya, jika salah pengamalan maka tersesatlah kita dari jalan yang benar –na’udzu billah tsumma na’udzu billah min dzalik-, oleh karena itu kita harus memahami ma’na kandungan nash-nash syar’i tersebut dengan benar, sedangkan hal itu tidak dapat terlaksana tidak kecuali jika kita mengetahui ‘ilmu bahasa ‘Arab ini.</p>
<p>Perkataan seseorang  tentang Al Qur`an ataupun As Sunnah tanpa dasar ‘ilmu adalalah suatu tindakan tercela dan <em>takalluf </em>(membebani diri) dan hal itu sangat terlarang didalam islam, ‘Umar Bin Al Khaththab –radhiyallahu ‘anhu- berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">نُهِيْنَا عَن التكلّف</a><em> </em></p>
<p><em>“Kami (para shahabat) dilarang untuk takalluf ( perbuatan membebani  diri)”. </em>HR. AlBukhary (no.6863).</p>
<p>Hadits ini hukumnya marfu’, maksudnya :  larangan ini sebenarnya bersumber dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, karena siapa lagi yang melarang ‘Umar dan para shahabat lainnya –radhiyallahu ‘anhum- kalau bukan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasalllam-?</p>
<p>Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">حتى إذا لم يُبْقِ عالمًا اتخذ الناسُ رءوسًا جهالًا، فسألوا فأفتوا بغير علم، فضلّوا و أضلّوا</a><em> </em></p>
<p><em>“Sehingga jika tidak tersisa lagi seorangpun ahli ‘ilmu maka para manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, lalu para pemimpin itu akan ditanya, lalu merekapun berfatwa tanpa dasar ‘ilmu, maka akhirnya mereka sesat dan menyesatkan”. </em>HR. AlBukhary (no. 100), dan Muslim (no. 2673).</p>
<p>Al Imam Asy Syathibi berkata : (<em>yang demikan itu terjadi) karena mereka (para pemimpin yang bodoh) jika tidak mengerti bahasa ‘Arab, maka merekapun akan menjadikan bahasa ‘Ajam (non ‘Arab) sebagai alat untuk memahami Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.</em></p>
<p>Allah -ta’ala- Menurunkan Al Qur`an dengan bahasa ‘Arab dan tidak dengan bahasa selainnya, Allah –ta’ala- berfirman :</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">((إنا جعلناه قرآنا عربيّا لعلّكم تعقلون</a>))<em> </em><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami turunkan al Qur`an dalam bahasa ‘Arab agar kalian memahaminya” QS.AzZukhruf:3.</em></p>
<p>Begitu pula Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai orang yang menerima wahyu Al Qur`an adalah seorang ‘Arab tulen, juga para manusia yang menyaksikan masa-masa turunnya wahyu adalah orang-orang ‘Arab, maka Al Qur`an pun ditujukan kepada mereka dengan gaya bahasa mereka dan tidak sedikitpun terdapat lafazh ‘ajam (lafazh selain ‘Arab).</p>
<p>Bahasa ‘Arab adalah salah satu penolong terbesar bagi kita untuk memahami maksud Allah dan Rasul-Nya yang tertuang didalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan ketahuilah bahwa pada ‘umumnya kesesatan ahli bid’ah adalah disebabkan ketidakfahaman mereka akan bahasa ‘Arab. Merekapun menafsirkan Al Qur`an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman yang mereka klaim adalah benar, padahal tidak demikian adanya.</p>
<p>Mengerti bahasa ‘Arab dengan baik dapat menjaga kita agar tidak terjerumus kedalam perkara-perkara yang syubhat (samar / tidak jelas) dan perbuatan mengada-ngada dalam beragama, sebagaimana yang banyak terjadi pada individu atau kelompok yang menisbatkan diri mereka kepada Islam.</p>
<p>Al Imam Muhammad Bin Idris Asy Syafi’i –rahimahullah- berkata :</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">ما جهِل الناسُ، و لا اختلفوْا إلا لتركهم لسانَ العرب و ميلهم إلى لسانِ أرسططاليس</a><em> </em></p>
<p><em>“Tidaklah terjadi kebodohan dan perpecahan ummat manusia kecuali karena mereka meninggalkan bahasa ‘Arab dan lebih menyenangi bahasanya Aristoteles”. </em></p>
<p>Beliau (Al Imam Asy Syafi’i) –rahimahullah- juga berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">لا يعلمُ مِنْ إيضاحِ جمل علْمِ الكتابِ أحدٌ جهلَ سعة لسانِ العرب</a><em> </em></p>
<p><em>“Seseorang tidak akan mengetahui penjelasan susunan kata yang dikandung ‘ilmu Al Qur`an jika ia tidak mengerti akan luasnya bahasa ‘Arab”. </em></p>
<p>Al hasil, Mengetahui bahasa ‘Arab adalah sebab kemudahan untuk kita dalam menjalankan pengabdian kita kepada ‘Allah –ta’ala-, sebagaiman yang difirmankan Allah –ta’ala- :</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab">((فإنما يسّرناه بلسناك لعلّهم يتذكرون))</a> <em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur`an itu melalui bahasamu (wahai Muhammad) agar mereka mendapat pelajaran” </em>AdDukhan:58.</p>
<p>Bahasa ‘Arab –sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, karena bahasa adalah simbol masing-masing ummat dan cirri khas mereka, jadi sebagai kaum muslimin marilah kita menjadikan syi’ar / symbol dan cirri khas kita adalah bahasa Al Qur’an dan As Sunnah, bahasa Islam dan kaum Muslimin, yaitu bahsa ‘Arab.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><a class="arab">و الله أعلم و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين</a></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"><a class="arab">بعض المراجع</a> :</span></em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>&#8211; </em></strong><strong><em><a class="arab">القرآن الكريم</a></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>&#8211; </em></strong><strong><em><a class="arab">فضل العربية و وجوب تعلّمها على المسلمين (أبو عبد الله محمد بن سعيد رسلان)</a></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>&#8211; </em></strong><strong><em><a class="arab">مقدمة &#8221; العربية بين يديك &#8221; (مشروع العربية للجميع)</a></em></strong></p>
<p>Penulis: Kamal Abu Muhammad Al Medany</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/bahasa-arab-jalan-mencari-ilmu-syari-yang-haq.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>13</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1116</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
