<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8563197628057528846</id><updated>2024-08-29T01:02:59.729+07:00</updated><category term="illegal historian notes"/><category term="indonesian politics"/><category term="pix"/><category term="wonderland notes"/><category term="news"/><category term="flash news"/><category term="newswrap"/><category term="Indonesian internet players"/><category term="traditional media"/><category term="twitter"/><category term="media"/><category term="habitat setengah lingkaran"/><category term="MH370"/><category term="indonesian living"/><category term="ID"/><category term="banks"/><category term="id election"/><category term="2014"/><category term="econ"/><category term="indonesian business"/><category term="internet industry"/><category term="online content"/><category term="tv"/><category term="wrap"/><category term="internet"/><category term="Ukraine"/><category term="links"/><category term="market"/><category term="television"/><category term="browsers"/><category term="chrome"/><category term="interviews"/><category term="jakarta governor"/><category term="laws"/><category term="poster"/><category term="telco"/><category term="2010"/><category term="blogging"/><category term="cyprus"/><category term="quick note"/><category term="social network"/><category term="2013"/><category term="foggy bottom"/><category term="housekeeping notes"/><category term="online advertising"/><category term="quote"/><category term="tech use"/><category term="internet story"/><category term="marketing"/><category term="rambling"/><category term="startup"/><category term="2011"/><category term="down the rabbit hole"/><category term="kpk"/><category term="policy"/><category term="politics"/><category term="reads"/><category term="security"/><category term="video"/><category term="2012"/><category term="advertising"/><category term="bahasa"/><category term="censorship"/><category term="chart"/><category term="detik"/><category term="ec"/><category term="facebook"/><category term="fear and loathing"/><category term="geography"/><category term="jakarta"/><category term="manusia"/><category term="microblog"/><category term="mobile"/><category term="music"/><category term="musings"/><category term="nuclear"/><category term="online marketing"/><category term="online services"/><category term="online video"/><category term="players"/><category term="privacy"/><category term="tuhan"/><category term="vote"/><category term="youtube"/><category term="#3am"/><category term="3am"/><category term="apmf"/><category term="apple"/><category term="books"/><category term="boston bomb"/><category term="canine"/><category term="computing"/><category term="crazy thing that chrome does"/><category term="dilbert"/><category term="e-gov"/><category term="fluff"/><category term="freak weather"/><category term="gods and demons"/><category term="gombal"/><category term="google"/><category term="goss"/><category term="iPad"/><category term="jakarta post"/><category term="labels"/><category term="letter"/><category term="lines"/><category term="log"/><category term="loon"/><category term="machine"/><category term="mcluhan"/><category term="meh"/><category term="metrics"/><category term="microsoft"/><category term="model"/><category term="numbers"/><category term="outlook"/><category term="overview"/><category term="pets"/><category term="poople"/><category term="regional"/><category term="search"/><category term="snowden"/><category term="students"/><category term="summary"/><category term="us econ"/><category term="us election"/><category term="verbal education"/><category term="violence"/><category term="weapon of mass destruction"/><title type='text'>..</title><subtitle type='html'>One can only see what one observes. And one only observes only things which are already in mind - Alphonse Bertillon</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://treeatwork.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8563197628057528846/posts/default/-/manusia'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://treeatwork.blogspot.com/search/label/manusia'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13453903374418067594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8563197628057528846.post-5918997735388454573</id><published>2010-05-02T13:29:00.000+07:00</published><updated>2010-09-21T03:58:15.990+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bahasa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="habitat setengah lingkaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="internet"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="manusia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tuhan"/><title type='text'>Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna (part I)</title><content type='html'>Ada yang kirim tulisan. Agak lebih panjang dari tulisan biasanya di blog ini – tulisannya dipecah jadi dua supaya lebih mudah dibaca.(Part I dan &lt;a href=&quot;http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan.html&quot;&gt;Part II&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita membahas bahasa, lalu Tuhan sesudahnya. Dua topik tua yang tak pernah selesai diperdebatkan, bahkan dipertengkarkan. Oleh karena itu kita tidak akan memulainya dengan mengutip pendapat orang-orang yang mengaku atau dianggap ahli di bidang-bidang itu -- sebab setelah segala macam argumentasi dan teori diungkapkan, cara mereka toh tak menghasilkan apa-apa. Kita akan memulainya dengan cara yang lebih sederhana -- “lebih mudah” -- yaitu dengan mengutip seorang insinyur, Claude Shannon, yang semasa hidupnya “hanyalah” pegawai di di Bell Labs, Amerika. &lt;br /&gt;
Pada 1948 Shannon membuat sebuah telaah tentang komunikasi. Tujuan dia murni praktikal: bagaimana memaksimalkan transmisi data melalui kanal yang banyak gangguan (noisy, bising). Menurut Shannon, transmisi data melalui kanal yang “bising” secara utuh – artinya tidak ada kesalahan – bisa dilakukan dengan catatan kecepatan transmisinya tak bisa melebihi kapasitas transmisi maksimal yang dimungkinkan kanal. Teori Shannon inilah yang mendasari pengembangan pelbagai macam peranti, terutama telekomunikasi dan penyimpanan (data storage). Jadi, kalau sekarang kita bisa asyik mengunduh video-video Youtube atau ceplas-celos di Twitter melalui layanan internet pita lebar (broadband), dengan gambar dan tulisan yang utuh (sama dengan yang dikirim, tanpa ada distorsi ) itu antara lain berkat jasa dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita membahas Shannon karena transmisi data sebenarnya juga adalah soal “bahasa”: yaitu kode-kode yang musti diciptakan agar mesin bisa “bercakap-cakap” -- mengirimkan dan menerima data -- dengan mesin-mesin lain serta dengan alat input-output-nya (alat penyimpan, layar, dan sebagainya). Dalam sebuah transmisi (atau komunikasi) data ada data yang hendak ditransmisikan, ada pihak yang mengirimkan data (transmitter), ada  kanal yang dilalui  dan ada pihak yang menerima (reciever). Data tersimpan dalam sinyal-sinyal. Untuk bisa mendapatkan data-data yang terkandung di dalam sinyal tersebut, penerima harus bisa menangkap sinyal dengan baik, mengekstraksi (decode) data yang terkandung (coded) di dalamnya, dan mengoreksi kesalahan data yang mungkin muncul karena gangguan kanal. Kode-kode transmisi yang baik adalah yang bisa menyimpan data secara efisien ke dalam sinyal serta memungkinkan penerima untuk mengecek dan mengoreksi jika terjadi kesalahan akibat gangguan kanal. Dengan demikian kecepatan pengiriman data tergantung pada tingkat kebisingan kanal serta kode-kode penyimpanan serta ekstraksi data di dalam sinyal serta kode-kode pengirimannya. Komputer misalnya bisa saling berkomunikasi lewat internet karena menggunakan serangkain kode yang “dimengerti” antar mereka. Web Browser bisa membaca data yang dikirim Web Server karena dia tahu kode-kode yang dipakai Web Server (tagging HTML untuk tampilan dan HTTP untuk pengiriman), komputer Anda bisa menerima data yang dikirim melewati jaringan internet karena menggunakan kode-kode yang sama (TCP/IP) dan piranti jaringannya (ethernet card) memiliki kode-kode pula untuk mengekstrak sinyal yang dikirim lewat media pengiriman, baik berkabel maupun nirkabel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecepatan transmisi juga tergantung pada “pengetahuan” si penerima akan data yang dikirim. Karena itu Shannon kemudian memembuat sebuah definisi atas sebuah kata yang banyak dipakai: informasi. Informasi, kata dia, adalah data yang belum diketahui oleh penerima. Contohnya, kalau Anda (transmitter) mengatakan pada saya (receiver) bahwa besok pagi sekitar jam 6 pagi kalau tidak mendung di timur akan muncul benda bulat yang memancarkan cahaya saya tak akan menganggap perkataan Anda informasi. Tapi kalau Anda bilang besok pagi jam 6 akan ada gempa bumi saya akan menganggapnya sebagai informasi penting. Mengapa? Karena matahari setiap pagi selalu muncul dan saya bisa berharap besok akan muncul juga (probabilitas kemunculan matahari mendekati 1 atau 100%) sementara gempa bumi tak terjadi setiap pagi (probabilitas mendekati nol). Dengan kata lain, semakin tinggi probabilitas kemunculan data semakin rendah kandungan informasinya. Sebaliknya, semakin rendah probabilitas kemunculan data semakin tinggi kandungan informasinya. Kalau data sudah diketahui si penerima bakal muncul (probabilitas 1), itu bukan informasi lagi tapi sampah, dan bisa tak usah dikirimkan sehingga kecepatan transmisi meningkat (informasi yang dikirimkan per satuan waktunya meningkat). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja semakin banyak tahu si penerima – semakin banyak data tersimpan di memorinya serta semakin pintar si penerima menebak kemunculan data -- semakin banyak informasi yang bisa dikirim karena hanya data-data yang belum diketahui saja yang perlu ditransmisikan. Bandwidth atau kecepatan transmisi dengan demikian jadi kian tinggi jika si penerima kian “cerdas” (punya memori besar serta pintar mengolah data – menebak data yang bakal muncul berdasarkan data-data yang sudah dimilikinya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bisa menyimpan informasi si penerima juga perlu berkomunikasi dengan memorinya dan untuk itu ia juga perlu kode-kode penyimpanan. Kode-kode penyimpanan ini menentukan kecepatan ekstraksi informasi dari sinyal serta jumlah data yang bisa disimpan. Semakin bagus kode-kode penyimpanannya semakin besar jumlah data yang bisa disimpan dalam ruang penyimpanan yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa mengatakan bahwa kode-kode penyimpanan dan transmisi data antar mesin ini adalah “bahasa” antar mesin agar mereka bisa saling berbicara. Demikian juga kemampuan mengolah data – menebak data yang akan muncul – karena pada dasarnya kemampuan ini adalah sekumpulan logika yang tentu saja adalah juga bagian dari bahasa. “Bahasa” antar mesin ini sudah berkembang begitu pesatnya saat ini sehingga bandwidth  yang bisa kita nikmati sudah mencapai jutaan bit (satuan data) per detik. Dengan bandwidth yang semakin lebar, informasi yang bisa ditransmisikan pun semakin beragam. Kalau di awalnya orang hanya bisa saling kirim teks ASCII yang cuma 8 bit per karakternya sekarang real time video bisa dikirim dengan kecepatan dalam satuan megabit per detik (Mbps). Harap dimengerti, hampir seluruh perkembangan ini dicapai dari perbaikan “bahasa”, bukan kanalnya. Kanal yang dipakai tetap itu-itu juga – kabel tembaga, kabel serat optik, gelombang radio. Begitu juga dengan memori: kita kini bisa menyimpan informasi sangat banyak dengan menggunakan ruang penyimpanan yang sama. Kemampuan mesinnya – bahasa yang dikuasi mesinnya – yang terus meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita (manusia) adalah juga receiver: sinyal-sinyal dalam segala bentuknya bertebaran di alam raya, sebagian bisa tertangkap oleh “antene-antene” (indra) kita sebagian (besar) lainnya tidak. Dari sinyal yang tertangkap kita mengekstrak informasi dan  menyimpannya di otak dengan memberi kode-kode penyimpanan tertentu. Kode-kode sebagai representasi informasi ini bisa ditransmisikan, entah kepada bagian lain di dalam otak seperti bagian-bagian yang mengontrol anggota-anggota tubuh dan bagian kognitif yaitu bagian yang memproses data maupun ke luar seperti ke manusia lain menggunakan kode-kode lain termasuk kata-kata dan isyarat-isyarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin mengusulkan bahwa, seperti pada mesin, seluruh kode-kode yang dipakai untuk menyimpan, mengolah dan mentransmisikan data oleh manusia itulah bahasa manusia. Jadi “bahasa” yang dimaksud di sini bukan sekedar bahasa yang dipakai manusia berkomunikasi – berbicara dan menulis, mendengar dan membaca – tetapi juga kode-kode yang dipakai untuk merepresentasikan informasi yang terkandung dalam segala macam sinyal yang terdapat di alam raya, kode-kode yang dipakai untuk menyimpan informasi tersebut ke dalam memori (atau format-format penyimpanan data serta metode aksesnya), serta kode-kode untuk mentransmisikan informasi ke penerima lain, entah itu yang ada di luar (manusia lain, atau mesin), bagian otak yang memiliki fungsi lain, maupun bagian badan yang lain (tangan, mulut, jantung, dan sebagainya). Bahasa komunikasi antar manusia melalui suara hanyalah subset (bagian) dari keseluruhan bahasa (kode-kode) yang dipakai otak. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa pengertian bahasa yang lebih lengkap adalah: seluruh kegiatan pengkodean (coding) informasi agar bisa disimpan, diolah dan ditransmisikan. Hanya sebagian dari bahasa (kode-kode) untuk menyimpan informasi ini  yang memiliki kode-kode untuk komunikasi ke luar – kata-kata dalam bahasa yang kita pakai sehari-hari (bahasa natural). Kata-kata hanyalah representasi sebagian dari kode-kode yang dibuat otak karena kita butuh untuk mengkomunikasikannya ke luar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak sekali informasi yang ditangkap otak – artinya otak punya bahasa untuk menyimpannya  – tetapi tidak ditransmisikan kepada orang lain. Bahkan banyak informasi yang ditangkap manusia tetapi di luar sepengetahuan “pemiliknya” karena otak melakukannya di luar pengetahuan – atau tidak dilaporkan kepada – kita kalau yang kita maksud dengan kita adalah bagian kognisi di otak yang mewakili kesadaran diri (self awareness). Misalnya, sewaktu kita tidur Hippocampus sibuk memutar kembali “rekaman-rekaman” kita agar bisa disimpan secara lebih permanen. Semua itu terjadi karena Hippocampus bisa berbicara dengan bagian-bagian lain otak kita untuk memainkan dan menyimpan memori, dan semua itu terjadi di luar tahu kita. Bahasa penyimpanan ini dan banyak bahasa yang lain yang dipakai otak untuk berhubungan dengan pelbagai organ tubuh kita sebagian besar kita tidak tahu. Apa yang kita kenal sebagai diri kita, self awareness kita, hanyalah bagian dari keseluruhan “mesin penerima” bernama manusia. Manusia menerima input dari bagian yang lain, mengolahnya, menyimpannya ke bagian otak yang lain. Tidak seluruh bagian mesin penerima manusia “lapor” -- atau berbicara – kepada kita. Banyak sekali informasi ditangkap, disimpan dan diolah tanpa sepengetahuan kita dan itu terjadi karena kita tak memiliki bahasa untuk menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika manusia memandang, mendengar, merasakan dengan lidah, mencium dengan hidung, merasakan tekstur dan suhu dengan kulit, semua itu adalah kegiatan menangkap sinyal berupa sinar, gelombang, partikel-partikel, dan masa. Dari sinyal-sinyal itu didapat informasi yang kemudian disimpan dalam bentuk serangkaian representasi informasi (kode-kode). Bentuk-bentuk (pohon, bunga, langit, batu, telor, kera), rasa (manis, pahit, asin, dan sebagainya), serta aroma  adalah informasi yang dibaca otak dari sinyal yang ditangkapnya. Kalau kita memiliki kemampuan untuk menggali informasi lebih dalam dari sinyal yang ditangkap melalui mata, kita akan melihat juga mungkin molekul-molekul, bahkan atom-atom. Hal-hal yang disebut emergent behavior – kerasnya batu, cairnya minyak, panasnya air – adalah informasi yang tertangkap oleh otak karena otak tak mampu melihat atau meraba lebih “dalam”, tidak bisa menyerap informasi lebih banyak, tidak memiliki bahasa (kode-kode) untuk merekam informasi lebih dalam. Bentuk-bentuk yang disebut gestalt sementara itu adalah bentuk-bentuk (informasi) lebih luar yang bisa ditangkap (diberi kode penyimpanan) otak dari bentuk-bentuk lain yang ditangkapnya, yang menyusun bentuk-bentuk gestalt  tadi. Sedangkan ketika kini kita berbicara tentang molekul kita sebenarnya hanya membayangkannya, membuat analogi dengan hal-hal yang kita kenal, yang otak kita punya bahasa penyimpanannya. Otak kita sendiri tidak mengenal, tidak memiliki kode penyimpanan (bahasa) untuk molekul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia mulai menangkap sinyal-sinyal sejak masih embryo, sejak mulai memiliki sel-sel saraf yang bisa dipergunakan untuk menangkap, mengolah dan menyimpan informasi. Awalnya sedikit karena bahasa penyimpanan masih terbatas. Pelan-pelan semakin besar informasi yang ditangkap karena otak semakin berkembang dan bahasa yang bisa kita pakai untuk mengekstrak informasi dari sinyal bertambah. Kita kemudian bisa  “melihat” sinar, mendengar suara, dan sebagainya. Menangkap bentuk dan menyimpannya dalam otak. Mendengar orang memberinya nama dan ikut memberi bentuk tersebut nama yang sama. “Bahasa” yang kita kuasai semakin bertambah. Semakin banyak data yang kita simpan (kita tahu), semakin banyak informasi yang bisa kita tangkap dan kita simpan sebagai data-data baru, dan semakin banyak pula data yang bisa dikomunikasikan ke manusia lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapasitas penyimpanan kita, dan karena itu pengetahuan (knowledge)– yaitu jumlah informasi yang tersimpan di dalam memori – serta bahasa juga dibatasi oleh jumlah sel-sel otak kita. Meskipun dibandingkan semua mesin kapasitas penyimpanan otak manusia jauh lebih besar, dibandingkan dengan kemungkinan jumlah informasi yang bisa ditangkap tetap saja tidak memadai. Mau tak mau: karena untuk menyimpan informasi diperlukan tempat (jaringan sel-sel otak/neuron) sementara jumlah sel otak terbatas. Lagi pula, karena manusia adalah mahluk biologis, manusia cuma bisa mengandalkan jaringan biologis berbasis karbon sebagai indra padahal jaringan semacam ini cuma bisa menangkap rentang sinyal yang terbatas. Hanya frekuensi 400 sampai 790 terahertz gelombang elektromagnet yang bisa ditangkap mata. Sementara itu, hanya senyawa kimia tertentu tertentu yang bisa kita deteksi lewat lidah dan hidung, itu pun kita hanya mengenal ciri-cirinya (rasa dan aroma). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, terbatas di sini dalam konteks besarnya data yang harus diproses dan disimpan. Alam semesta luas sekali. Data yang terkandung di dalamnya sangat besar. Tentu saja tak semuanya bisa disimpan, kapasitas memori manusia tak akan cukup untuk melakukannya. Hanya sebagian sangat kecil saja yang disimpan. Caranya, manusia pada umumnya menyimpan data tidak secara persis (eksak). Hanya kira-kira saja. Contohnya, kita tahu berat ringan, tapi tidak berapa kilogram apalagi gram berat sebuah benda. Kita bisa merasakan panas, tapi tak bisa mengatakan berapa derajat tepatnya suhu barang yang kita sentuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, bahasa penyimpanan data pada manusia bersifat “longgar”, tidak seperti bahasa yang dipakai mesin sekarang yang hampir selalu menyimpan data secara persis. Pada sebagian besar mesin, setiap “kata” adalah jelas maknanya, tidak ada ambiguitas. Bahasa otak berbeda. Data tidak disimpan secara persis. Otak kita bisa membedakan tinggi dan rendah tapi karena mata kita sulit untuk membedakan perbedaan yang sedikit kita tak menyimpan informasi sepersis katakanlah, 170 cm atau 169 cm. Pada mesin kita bisa memberi definisi sampai ukuran nanometer kalau perlu. Begitu besarnya informasi yang harus diserap serta terbatasnya kapasitas membuat otak terpaksa menggunakan logika tak pasti seperti itu. Yang dipentingkan disini adalah pengertian (understanding) dan kecepatan memproses (manusia harus mengambil keputusan secara kilat). Banyak hal tidak bisa didefinisikan secara persis tetapi kita mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, pada manusia data juga tak disimpan selamanya. Data suatu ketika bisa hilang – dilupakan – atau sudah tak terekam secara utuh lagi (ada informasi-informasi yang hilang). Sebagai akibatnya, manusia sering tak bisa mereproduksi informasi secara persis. Kita bisa mengingat rasa suatu makanan tetapi tidak merekam rasa tersebut secara detail. Ketika kita ingin mendapatkan rasa yang sama kita perlu memakan makanan tersebut kembali, tidak bisa hanya dengan mengingatnya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, muncul seni. Seni apa pun bentuknya adalah bahasa – alat untuk mengkomunikasikan informasi. Ketika Picasso, van Gogh atau (favorit saya) Matisse menggambar mereka mencoba menterjemahkan apa yang disimpan (dimengerti) otak mereka dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. Ada yang bisa menangkap dan lalu kagum terhadap informasi yang ada dalam lukisan mereka, tetapi ada pula yang tidak paham dan mengacuhkannya, menganggap lukisan mereka tak ada harganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sama bisa dikatakan untuk perasaan, katakanlah, spiritual yang katanya bisa dimiliki orang-orang tertentu. Ketika Karena Armstrong menjelaskan soal ekstatis, ia menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki bahasa yang bisa menangkap informasi tentang perasaan seperti itu, tetapi ia tak memiliki bahasa untuk menyimpannya secara permanen mengkomunikasikan perasaannya kepada orang lain. Karena itu, untuk mendapatkan rasa ekstasis yang sama orang tersebut harus mengulangi “laku” yang dibutuhkan untuk mendapatkannya. Demikian pula orang lain untuk mendapatkan rasa tersebut dia perlu melakukan “laku” yang sama, tak cukup mendengarkan deskripsi yang dibuat orang yang sudah mengalaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bahasa manusia – baik yang kita pakai untuk berkomunikasi maupun yang dipakai oleh otak kita untuk merekam dan memproses informasi – tidak pernah persis. Otak membuat pendekatan-pendekatan, membuat abstraksi-abstraksi. Walaupun bahasa manusia semakin kompleks dan semakin mampu mendiskripsikan dan mengkomunikasikan banyak informasi, kemampuannya tetap terbatas. Toh dengan segala keterbatasannya, kita bisa terus memundurkan batas-batas tersebut sehingga wilayah yang bisa dijangkau bahasa manusia semakin lama semakin luas. Nenek moyang kita dulu hanya bisa berbicara tentang hal-hal yang bisa ditangkap mata. Sekarang kita – paling tidak sebagian dari kita – bisa berbicara tentang yang paling kecil sampai galaxy yang jauh-jauh walaupun kita tidak bisa melihat atom dan cuma bisa menyaksikan kelap-kelip bintang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kalau ada yang mengatakan kemampuan kita dibatasi oleh bahasa memang benar. Tetapi tidak sepenuhnya. Sebab, bahasa terus berkembang. Ketika kita masih berupa bakteri sangat sedikit yang kita tangkap. Kini sangat banyak walaupun karena memori yang terbatas, kita tak pernah bisa menangkap sepenuhnya walaupun pengetahuan – bahasa komunikasi – kita terus meningkat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sejarah alam raya belum berakhir. Mungkin masih akan berlangsung milyaran tahun lagi, kalau tidak tanpa akhir. Sampai saat ini perkembangan sebagian besar berlangsung di luar otak yang diwariskan alam. Otak berkembang, tetapi dalam 10,000 tahun terkahir lebih banyak komunikasi antar manusia – bahasa komunikasi – yang berkembang. Kita membuat alat-alat untuk memperluas pengetahuan – bahasa. Kita membuat alat-alat untuk “meraba” yang tak bisa diraba indra kita. Dan alat peraba yang kita ciptakan bisa meraba sampai ke level yang sangat kecil – misalnya menangkap partikel-partikel elementer yang cuma hidup sesaat melalui peralatan akselerator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun semua alat peraba itu menjadi kurang berguna karena kita tak memiliki bahasa yang mampu menangkap informasi yang dihasilkannya secara cepat dan merekamnya. Alat peraba itu tak tersambungkan dengan manusia sebagai penerima dengan bahasa dan memori yang sesuai. Akibatnya komunikasi menjadi tak lancar dan informasi tak bisa dipertukarkan dengan mudah. Selama kondisinya seperti itu perkembangan bahasa – dan pengetahuan kita – memang terbatas. Untuk menyimpan informasi-informasi baru tersebut, otak terpaksa menciptakan analogi-analogi. Pengetahuan – bahasa – memang tetap menjadi kaya, tetapi hanya sebatas pada bahasa komunikasi. Kemampuan otak untuk menangkap dan menyimpan informasi – bahasa penyimpanan – tak bertambah banyak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan.html&quot;&gt;&lt;b&gt;Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna (part II)&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://treeatwork.blogspot.com/feeds/5918997735388454573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan_02.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8563197628057528846/posts/default/5918997735388454573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8563197628057528846/posts/default/5918997735388454573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan_02.html' title='Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna (part I)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13453903374418067594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8563197628057528846.post-1321003837598558028</id><published>2010-05-02T13:05:00.001+07:00</published><updated>2010-09-21T03:58:15.992+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bahasa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="habitat setengah lingkaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="internet"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="manusia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tuhan"/><title type='text'>Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna, (Pt. II)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bagian Pertama tulisan ini:&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;a href=&quot;http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan_02.html&quot;&gt;&lt;b&gt;Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna - Part I&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita sekarang berandai-andai. Kita bayangkan kita bisa mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang disebutkan di atas. Misalnya, kita bisa terus menerus memperbaiki bahasa mesin yang kita ciptakan sehingga mampu menangkap, menyimpan dan mengolah informasi semakin besar. Atau, kita bisa meningkatkan kemampuan otak dan indra sehingga otak mampu menangkap, menyimpan dan mengkomunikasikan informasi jauh lebih banyak. Tak penting benar mana yang terjadi, yang penting adalah tercipta sebuah entitas yang mampu menangkap spektrum frekuensi lebih lebar (tak cuma visible light) dan menyimpannya dengan lebih detail (gradasi yang lebih detail dari sekedar merah hijau biru nila dan ungu); menangkap gelombang “suara” juga lebih lebar dan detail; bisa membedakan zat tak cuma dari rasa dan aroma tapi sampai tahu molekul-molekul yang menyusunnya; menangkap spektrum perasaan jauh lebih detail dari yang kita kenal sekarang; dan seterusnya-seterusnya. Memori entitas tersebut bisa mengimbangi indranya: bisa menyimpan seluruh detail informasi yang terkumpul tanpa pernah menghilangkannya (“lupa”) seperti memori manusia sehingga bisa mereproduksi informasi secara  utuh (misalnya, entitas tersebut tak hanya bisa ingat pernah punya perasaan tertentu tetapi bisa mereproduksi kembali secara tepat perasaan-perasaan tersebut setiap waktu secara tepat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja bahasa komunikasi entitas tersebut berkembang sesuai dengan bahasa penyimpanannya. Entitas tersebut bisa mendiskripsikan seluruh informasi yang dimilikinya secara persis kepada entitas sejenis lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa membayangkan entitas semacam itu akan bisa bertukar infromasi secara cepat karena bandwidth bahasa komunikasi mereka sangat besar sehingga pengetahuan mereka berkembang luar biasa cepat pula. Semakin lama mereka bertukar informasi, semakin cepat pertukaran informasinya karena bandwidth  terus membesar bersama membesarnya pengetahuan yang dimiliki. Jika diandaikan kapasitas peyimpanannya bisa dikembangkan tak terbatas, kita bisa membayangkan bahwa akhirnya entitas semacam ini akhirnya bisa menangkap dan menyimpan informasi apa pun yang mungkin ada dan mungkin disimpan. Entitas tersebut dengan kata lain kemudian memiliki pengetahuan yang sempurna. Tidak ada lagi hal yang tak bisa ditangkap dan komunikasikan. Semuanya dia sudah tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa menyebut entitas seperti itu entitas dengan Pengetahuan yang Sempurna. Sebuah entitas dengan Pengetahuan yang Sempurna, sebuah entitas Maha Tahu artinya juga entitas yang tak membutuhkan apa-apa lagi. Tak perlu lagi ada informasi yang perlu ditangkap karena semuanya sudah tersimpan di dalam memorinya, termasuk informasi tentang dirinya sendiri. Tak ada hal yang dia tak bisa lakukan dan rasakan. Pada satu sisi bandwidthnya tak terbatas, tapi pada sisi lain tak ada lagi yang perlu diserap atau ditransmisikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang entitas dengan Pengetahuan yang Sempurna dengan kata lain, menjangkau semuanya. Alam semesta adalah dia dan dia adalah alam semesta. Terjadi singularitas. Satu adalah semua. Semua adalah satu, yaitu sang entitas tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak tahu  apakah entitas semacam itu bisa tercipta. Informasi yang kita kuasai saat ini mengatakan ada batas-batas yang tak bisa ditembus oleh sebuah receiver informasi. Salah satunya, alam semesta mungkin terbatas – jumlah materi di alam raya, walaupun besar, bukanlah tanpa hingga. Dengan sendirinya sebuah entitas yang dibuat menggunakan zat penyusun alam semesta kemampuannya berhingga pula. Lalu, ada masalah ketidakpastian ketika materi diukur seperti dikemukakan pertama kali oleh Werner Heisenberg. Alat pengukur yang kita pakai, sesedikit apa pun energi yang dipakainya untuk meraba/mengukur akan mempengaruhi benda yang diraba/diukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling penting, ada Hukum Kedua Termodinamika yang mengatakan bahwa entropy alam semesta selalu naik. Bahwa jagad raya bergerak searah ke arah ketidakteraturan. Entitas serba tahu di atas tentu saja entitas yang sangat teratur – dengan kata lain memiliki entropy rendah. Entitas semacam itu tidak mungkin tercipta tanpa menyebabkan kenaikan entropy di keseluruhan sistem. Seperti sistem pendingin udara (AC) yang mendinginkan (menyedot panas) sebuah ruangan (entropy menjadi lebih rendah) tetapi membuang panas yang lebih besar ke luar ruangan (menaikkan entropy di luar) lebih tinggi lagi sehingga total entropy tetap naik. Seperti bumi yang menerima energi entropy rendah dari matahari, membuat keteraturan (entropy rendah) berupa aneka senyawa kimia, mahluk hidup dan kecerdasan tetapi membuang banyak energi entropy tinggi ke luar planet sehingga total entropy tetap naik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entitas serba tahu di atas membutuhkan energi. Dia kemudian membuang lebih banyak energi. Memanfaatkan energi entropy rendah, membuang energi entropy tinggi. Jadi akan selalu ada di luarnya yang dia tidak tahu, yang dia tidak bisa tangkap informasinya (semua yang berentropy tinggi). Dengan demikian Pengetahuan yang Sempurna berdasarkan pemahaman kita saat ini adalah sesuatu yang tak mungkin tercapai. Atau kita juga bisa mengatakan bahwa bahasa tak akan bisa dikembangkan sampai ke tingkat yang memungkinkan bandwidth tidak terbatas. Kita tidak akan bisa memiliki bahasa yang mampu menjelaskan semuanya, yang mampu menyimpan semuanya. Informasi yang kita punyai akan selalu terbatas. Akan selalu ada informasi di luar sana yang tak bisa dijangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi toh kita mungkin memang tak membutuhkan kemampuan bahasa untuk mengetahui semuanya seperti itu. Sebab, bahkan dalam batas-batas di atas pun kita tetap bisa mengembangkan bahasa sampai ke tingkat yang jauh lebih lengkap dari yang kita punya saat ini. Artinya, kita bisa menciptakan entitas yang jauh lebih hebat dari diri manusia, dari kita,  saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu yang ada (exist) berarti bisa dibuat, atau lebih tepatnya ada bahasa yang mampu menangkap informasi tentang pembuatannya dan mengkomunikasikannya. Kalau tidak sesuatu tersebut tak mungkin ada. Manusia ada, dengan demikian sudah pasti ada bahasa yang bisa menangkap informasi “pembuatan” manusia – yaitu bahasa biologis, kode-kode genetika yang tersimpan dalam DNA. Karena ada bahasanya, kita bisa mempelajari dan mengembangkannya. Atau dengan kata lain, mungkin saja manusia menguasai bahasa biologis pembuatan manusia, untuk kemudian meningkatkannya sehingga bisa mendiskripsikan manusia dengan tambahan-tambahan kemampuan, dan menciptakan manusia yang sama sekali baru, yang kemampuan menangkap informasinya lebih baik. Kita bisa memperhalus indra kita sampai mampu menangkap sinyal jauh lebih lebar dan lebih detail dari saat ini. Tentu saja itu juga berarti kita bisa meningkatkan kapasitas memori dan pemrosesan kita sehingga mampu mengolah dan menyimpan data yang jauh lebih besar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akan menjadi entitas di level yang jauh lebih di atas dari diri kita saat ini. Kita bisa memiliki perasaan baru yang sekarang kita tidak punya serta lebih halus dari saat ini. Kalau kita melukis, kita bisa membuat warna-warna yang jauh lebih beragam dari saat ini, bisa mengkomunikasikan rasa lebih luar biasa dari lukisan para maestro saat ini. Dengan aman kita juga bisa mengatakan bahwa pengalaman ekstasis yang konon diperoleh orang-orang yang kuat laku spiritualnya – kalau memang ekstasis itu ada – menjadi mudah didapatkan oleh siapa saja, dan karena itu lebih mudah pula dikomunikasikan (kita akan memiliki bahasa untuk mengkomunikasikannya). Dengan kata lain, semua pengalaman yang kita miliki saat ini – apa pun – pada dasarnya adalah informasi yang suatu saat mungkin akan kita kuasai, atau tepatnya dikuasi entitas penerima cerdas yang mengganti kita, apa pun bentuknya. Bukan misteri, dan tidak membutuhkan teori-teori tentang Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasa kita sudah akan berkembang sampai kita bisa merekam dan menjelaskan semuanya di level fisika klasik, level dimana alat peraba (indra) belum akan mengganggu obyeknya. Bahasa komunikasi di level lebih dalam (quantum) pasti juga akan lebih berkembang dari saat ini walaupun otak belum tentu mampu merekamnya. Dengan semua kemampuan itu manusia bakal mampu melihat lebih dalam dan lebih jauh ke alam raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita bayangkan jutaan, bahkan miliaran, manusia dengan kemampuan itu. Apa yang bisa mereka lakukan? Sekarang ini kita dengan segala keterbatasan yang ada mampu memahami cukup banyak hal yang tak tertangkap secara langsung oleh indra kita dan tahu lebih banyak dari yang bisa terekam langsung oleh otak kita, meski harus dengan membayangkannya lewat analogi-analogi. Sangat mudah untuk membayangkan bahwa manusia-manusia super yang dideskripsikan di atas bekerja bersama-sama akan mampu meningkatkan bahasa komunikasi ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari sekarang. Mempelajari dunia di level yang lebih dasar dari yang kita kenal saat ini. Dan bekerja sama di sini bukan seperti kita saat ini bekerja sama. Karena bahasa komunikasinya sudah jauh lebih lengkap, karena memori sudah jauh lebih besar, bandwidth komunikasi antar orang juga jauh lebih besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak tertutup kemungkinan bahasa komunikasi bakal berubah, bukan lagi kata-kata seperti yang kita kenal sekarang tetapi koneksi lebih “langsung” antar otak manusia. Seperti Internet nirkabel, mungkin saja muncul jaringan manusia nirkabel, komunikasi langsung otak ke otak, langsung mempertukarkan kode-kode memori tanpa perlu penterjemahan bolak-balik ke bahasa komunikasi kecepatan (bandwidth) rendah (kata-kata).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tingkat itu sudah  dicapai, bisa dibayangkan kemungkinan munculnya entitas baru yang juga self aware yang muncul dari jaringan manusia tadi. Katakanlah self aware humannet yang merupakan bagian tetapi terpisah dari entitas self aware manusia. (Kenyataannya, kita juga tidak tahu apakah otak manusia hanya punya satu kesadaran, yaitu kita. Jangan-jangan ada entitas self aware lain di dalam otak yang mengerjakan hal-hal lain yang kita tak bisa rasakan tetapi kita nikmati hasilnya, seperti kalkulasi-kalkulasi bawah sadar, pengontrolan anggota tubuh, dan sebagainya. Kita tidak tahu mereka self aware atau tidak karena kita tidak bisa berkomunikasi dengan mereka).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu manusia sudah berada di tingkat seperti disebut di atas, tentu saja dia akan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru, dan dengan itu terus menerus melakukan perbaikan diri, menambah kemampuan bahasa, memperbesar bandwidth. Perbaikan diri terus menerus ini akan membawa manusia semakin dekat ke arah entitas berpengatahuan sempurna. Seberapa dekat? Kita tidak tahu dan belum ada cara untuk mengetahuinya saat ini. Bahasa kita sekarang masih jauh dari kemungkinan untuk dipakai membuat prediksi sampai ke situ. Bahasa yang kita kuasai sekarang belum bisa digunakan untuk mengumpulkan informasi yang memungkinkan kita mengetahui batas-batas yang bisa dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang kita tahu bahwa pada akhirnya perkembangan kecerdasan hanyalah pengumpulan informasi terus menerus, hanyalah “perjuangan” tiada habis untuk memperluas cakupan bahasa, meningkatkan bandwidth, sehingga semakin banyak informasi bisa diserap dan dikomunikasikan. Karena seperti dikatakan Shannon pada dasarnya informasi adalah probabilitas – semakin kecil probabilitas semakin besar kandungan informasi – kita juga bisa mengatakan bahwa perjuangan peningkatan bahasa adalah perjuangan menaklukan probabilitas, perjuangan menundukkan yang tak tertebak, perjuangan membuat yang tak terduga menjadi terkuasai oleh logika (bahasa).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin pada akhirnya kita tak akan bisa menangkap seluruh informasi – mendapatkan pengetahuan yang sempurna – karena ternyata memang ada probabilitas yang benar-benar acak (random), yang tak bisa dibahasakan, seperti diisyaratkan oleh hukum kedua thermodinamika. Toh itu tak apa karena sepanjang jalan menuju ke situ kita akan menemukan banyak hal yang sekarang terasa seperti misteri karena kita belum bisa “membahasakan”-nya. Saya yakin di antara hal-hal yang bakal menjadi lebih jelas di sepanjang jalan perbaikan bahasa itu adalah hal-hal yang sekarang menimbulkan pertikaian tak henti-henti seperti “makna hidup “ (meaning), realitas, spiritualitas, dan mungkin juga Tuhan. Segala macam perdebatan filsafat yang berkaitan dengan hal-hal di atas pada akhirnya akan berhenti karena bahasa kita sudah semakin mampu memahaminya walaupun mungkin belum sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bagian Pertama tulisan ini:&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;a href=&quot;http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan_02.html&quot;&gt;&lt;b&gt;Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna - Part I&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://treeatwork.blogspot.com/feeds/1321003837598558028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8563197628057528846/posts/default/1321003837598558028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8563197628057528846/posts/default/1321003837598558028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://treeatwork.blogspot.com/2010/05/tentang-bahasa-tuhan-dan-pengetahuan.html' title='Tentang Bahasa, Tuhan dan Pengetahuan yang Sempurna, (Pt. II)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13453903374418067594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>