<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:21:49 +0000</lastBuildDate><title>Dance</title><description>dance-indonesian dance and all of art's</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Pringgondhani Production)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-7382906478553062238</guid><pubDate>Wed, 23 Jan 2013 11:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-23T03:02:02.109-08:00</atom:updated><title>Teknik Tari Jawa gaya SURAKARTA (KONSEP HASTHA SAWANDA)</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;KONSEP TEKNIK TARI JAWA GAYA SURAKARTA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;KONSEP HASTHA SAWANDA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIYAL13uVjRe1zN57XUN1yhLJKNwrqLglkxXwY4-Oyas7KMUp8ewyAdJStDMNZ44e20EnniuRdVFMR4_mhVbl07bVetqhujLSo1pIvQxTuz8ELpGGtsphF8RG0n1YSbucGxFJ1ppyX-so/s1600/Cakil.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIYAL13uVjRe1zN57XUN1yhLJKNwrqLglkxXwY4-Oyas7KMUp8ewyAdJStDMNZ44e20EnniuRdVFMR4_mhVbl07bVetqhujLSo1pIvQxTuz8ELpGGtsphF8RG0n1YSbucGxFJ1ppyX-so/s1600/Cakil.jpg" height="320" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Pacak&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Pacak berarti solah tingkah kang dgawe becik,menganggo apik,artinya segala tingkah laku yang dibuat bagus,dan mengenakan sesuatu secara tepat. Pacak dalam hal ini berarti teknik karakter yang berujud fisik yang dikenakan pada penari untuk membawakan karakter tertentu. Dalam membawakan atau memerankan karakter tertentu tidak lapas dari interpretasi terhadap peran yang dibawakan. Oleh karena penari dalam ekspresinya melalui gerak maka interpretasi dari karakter itu diujudkan dalam pola/bentuk gerak tertentu serta kualitas gerak tertentu untuk mewujudkan karakter yang dibawakan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="2"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Pancat&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Dalam bahasa Indonesia diinjak,hal ini dapat dianalogkan dalam konsep tari Hastha Sawanda berarti yang tiap pijakan dalam tiap-tiap sekaran merupakan teknik hubungan seluruh medium gerak yang menjadi satu kesatuan utuh. Apabila dirinci tiap tarian terdiri dari beberapa sekaran yang merupakan satu kesatuan utuh untuk mengungkapkan suatu bentuk estetik kepada penikmat seni.antara sekaran yang satu dengan sekaran yang lain pada pemangku irama tertentu pelaksanaannya dibutuhkan suatu teknik penggabungan yang terampil sehingga tidak kelihatan adanya janggalan dalam melakukan gerak. Peralihan gerak oleh penari diperhitungkan dalam tempo dan pada irama tertentu sehingga terasa enak dilihat dan dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="3"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Lulut&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Kata lulut menurut Kamus Bausastra Jawa oleh S. Pawiroatmojo berarti laras atau selaras,bila ditarik benang merah dengan konsep tari Hastha Sawanda berarti teknik tubuh yang bergerak yang mewadahi,artinya gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh sebagai media untuk menyampaikan ide estetik yang ada pada satu bentuk ciptaan karya tari,yang sampai bukan teknik tubuh itu sendiri melainkan esensi tari yang sampai pada penikmat seni.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="4"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Luwes&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Luwes dalam bergerak artinya apapun yang dilakukan atau bentuk-bentuk gerak yang dilakukan menjadi baik dalam arti kualitas geraknya. Titik berat konsep luwes dalam Hastha Sawanda terletak pada kreativitas menemukan jati diri tiap-tiap orang secara khusus. Selain itu gerak yang dibawakan sesuai dengan karakter yang tertentu dengan menggunakan pola-pola gerak yang tidak terlihat janggal,enak dipandang.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Luwes dalam konsep Hastha Sawanda juga berarti kualitas gerak yang yang dihasilkan mampu mewadahi ide estetik dengan teknik gerak yang dipilih serta pelaksanaan gerak mengalir tanpa terbebani,gerak itu sudah menyatu dengan penarinyasehingga yang muncul bukan penari perorangan melainkan tari itu sendiri yang berkomunikasi dengan penikmat seni.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="5"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Ulat   &lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Ulat dalam konsep tari Hastha Sawanda berarti pandangan mata serta ekspresi  wajah yang mendukung pembawaan karakter. Konsep pandangan mata pada tari tradisi gaya surakarta merupakan indikasi karakter tertentu yang diikuti ekspresi wajah serta bentuk rias yang disaputkan pada wajah. Tebal dan tipisnya rias bias menentukan polatan atau pandangan mata. Pada tari tradisi gaya Surakarta bentuk polatan mata ada 2 yaitu  putri luluh dengan pandangan mata diagonal kebawah (karakter halus) dan putri lanyap dengan pandangan mata lurus kedepan (karakter agresif).  &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Pada tari putra gaya Surakarta juga ada 2 karakter putra lanyap dalam menentukan arah pandangan mata yaitu putra luruh dan putra lanyap atau longok.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="6"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Wiled&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Wiled merupakan teknik gerak kreatif dari seorang penari yang berujud variasi gerak sesuai dengan kamampuan penari,atau juga penari yang kreatif dalam menyajikan gerakan dengan teknik gerak khas pada diri penari itu sendiri. Wiled setiap penari akan mewujudkan rasa tersendiri maskipun sama motif gerak yang dilakukan oleh penari lain. Contoh sama- sama bentuk entragan tetapi akan lain rasanya jika dilakukan dengan wiled yang berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="7"&gt;
&lt;li&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm;"&gt;
Gendhing&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Gendhing dalam konsep tari Hastha Sawanda merupakan penguasaan iringan tari oleh setiap penari sehingga dapat dijadikan landasan untuk membangun interpretasi terhadap gerak maupun sebagai koridor teknik pelaksanaan gerak yang diharapkan dapat memenuhi salah satu unsur untuk mencapai teknik estetik. Seorang penari mampu menafsirkan “rasa” gendhing yang dipergunakan untuk mentransformsikan kedalam “ rasa gerak “ penari dengan menggunakan interpretasi serta ketrampilan yang dimilikl sehingga karya ciptaan menjadi utuh. Penari juga harus mampu menafsirkan jiwa gendhing yang mengiringinya,hal ini karena semangat atau jiwa yang hidup muncul dalam teknik yang disajikanoleh penari dengan segala kemampuandan ketrampilan terutama interpretasi untuk menciptakan bentuk dan pola gerak yang sesuai dengan jiwa gendhing. Konsep gendhing didalamnya juga tercakup lagu yang menunjukan pada pola tabuhan, irama, laya (tempo), rasa seleh,kalimat lagu dan juga penguasaan tembang maupun narasi yang digunakan. Seorang penari diusahakan mampu menggunakan lagu sebagai sarana untuk menciptakan penghematan gerak sehingga rasa gerakakan mudah diciptakannya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
8.  Irama&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-indent: 1.27cm;"&gt;
Irama dalam konsep Hastha Sawanda yaitu menggunakan gendhing sebagai medium untuk mewujudkan alur garap tari keseluruhan. Dalam menggunakan gendhing yang menunjuk hubungan gerak diperlukan teknik pelaksnaan seperti nudak,nujah,nggandhul,mungkus,kontras,sejajar,cepat,dan lain-lain. Teknik gerak ini penting dikuasai penari untuk mewujudkan bentukdinamik (estetik)secara keseluruhan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0.64cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2013/01/teknik-tari-jawa-gaya-surakarta-konsep.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIYAL13uVjRe1zN57XUN1yhLJKNwrqLglkxXwY4-Oyas7KMUp8ewyAdJStDMNZ44e20EnniuRdVFMR4_mhVbl07bVetqhujLSo1pIvQxTuz8ELpGGtsphF8RG0n1YSbucGxFJ1ppyX-so/s72-c/Cakil.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-3595491190933284669</guid><pubDate>Tue, 01 Jun 2010 16:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-01T09:15:45.395-07:00</atom:updated><title>Independent Expression</title><description>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="color: red; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Independent  Expression&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW832ySSgO6-DFuLepaxgAFYQhxBrpEQa7Cm9JpicCv43DrQ5cbf6CXaBibf50-7g8M04ffvpBSl0LpIr3ukyee7_BZkfHSfx5hZQOO23Z19_g4CUPkepR75lLpSr5r-B5YTXSul04-CA/s1600/11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW832ySSgO6-DFuLepaxgAFYQhxBrpEQa7Cm9JpicCv43DrQ5cbf6CXaBibf50-7g8M04ffvpBSl0LpIr3ukyee7_BZkfHSfx5hZQOO23Z19_g4CUPkepR75lLpSr5r-B5YTXSul04-CA/s320/11.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Independent Expression adalah sebuah kelompok anak muda kreatif yang terdiri dari beberapa penari dan pemusik. Berdiri pada bulan February tahun 2002 yang berdomisili di Solo. Independent Expression dimaksudkan sebagai wadah kreatif yang berangkat dari kebersamaan dan keinginan untuk belajar bersama. Menjadi ruang bebas pada fase perkembangan untuk pematangan diri menjadi seniman. Menampilkan karya-karya anggota secara bergantian yang didukung sepenuhnya oleh semua anggota Independent Expression bersama beberapa kawan yang menangani masalah artistik dan produksi. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibpcsTU3Hx29YVHnDNJ3dzK_JZ5XQyfGLE-3DnuShSOZfF_sM3Qsau3-lVHMX6A3vFmj-SvRNXOUP_YP8kOhuBs0tuLx8SXF5wUksQZYBUZPeY6IFY1MI_UvGzOJdiAmBAtkkxBRYRQpg/s1600/23042010373.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibpcsTU3Hx29YVHnDNJ3dzK_JZ5XQyfGLE-3DnuShSOZfF_sM3Qsau3-lVHMX6A3vFmj-SvRNXOUP_YP8kOhuBs0tuLx8SXF5wUksQZYBUZPeY6IFY1MI_UvGzOJdiAmBAtkkxBRYRQpg/s320/23042010373.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Adapun pertunjukan yang telah dipergelarkan kelompok Independent Expression antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Penata Tari Muda I tahun 2002 di Solo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya “Suara I Bumi”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Solo Dance Festival tahun 2004 di Solo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya “Evolution” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. All Etno 2004 di ISI Surakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya “Touch The Space” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Koreografer Boby Ari Setiawan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Voyage of Independent Expression 2005 di Solo, Medan, Padang Panjang, Jakarta judul karya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Suara I Bumi koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. “ . . &amp;amp; . . ” koreografer Agus Murgiyanto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. “Yuda” koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. IPAM di Bali tahun 2005 Voyage of Independent Expression I.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 6. Voyage of Independent Expression II di Teater Arena TBS tahun 2006.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya:&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. “Hari ke 50” koreografer Agus Margiyanto.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. “Evolution” koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. “Bercermin” koreografer Dedy Satya Amijaya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. “Cyclus so Close” koreografer Boby Ari Setiawan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. “Toink Paipz” konser musik oleh Galih NS.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 7. IPAM tahun 2007 di Solo&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya “Kubro Gaul” &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Koreografer Boby Ari Setiawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 8. Voyage of Independent Expression III di Teater Arena TBS tahun 2008&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Koreografer Dedy Satya Amijaya S.Sn&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya:&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1) “Garis Lurus”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2) “Bujang Ganong Gandrung”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3) “Bercermin”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9. Voyage of Independent Expression IV di Teater Arena TBS tahun 2009 Koreografer Agus Margiyanto&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Judul karya “Me-i”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; 10. Zebra Cross Koreografer Boby Ari Setiawan dalam rangka Hari hari Kecelakanaan Dunia bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Jakarta dan Dedy Luthan Dance Company tahun 2009&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; 11. Karya Tari Medley dalam rangka Tidak Sekedar Tari di Wisma Seni taman Budaya Surakarta April 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9TUe6YZwZYvH4fd6WzcRIWRxOvH5lzVpgjI8CN1420oiymob34wk2Cq-QKtanB0TkOOV1rFYqIQwTOV8jLtcusOrgATpXOegwWS3OFIhquFxLp0X2uYx2_a-XQiqkY-eqsKfg5LnMFh4/s1600/23042010369.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9TUe6YZwZYvH4fd6WzcRIWRxOvH5lzVpgjI8CN1420oiymob34wk2Cq-QKtanB0TkOOV1rFYqIQwTOV8jLtcusOrgATpXOegwWS3OFIhquFxLp0X2uYx2_a-XQiqkY-eqsKfg5LnMFh4/s200/23042010369.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXHeT75Nhg7_Wluzal5XBfyS9iRIRbwToxe4Gdh-Qi2hauZEWvzK-jiASf9F2c06LWbbwRlEIbIt9WAGSDo61qC0zBnJlibqUcoOJJle50HLvlxXwuezXDuSj8BD3WJFZ4CUMY4sfJHfA/s1600/23042010368.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXHeT75Nhg7_Wluzal5XBfyS9iRIRbwToxe4Gdh-Qi2hauZEWvzK-jiASf9F2c06LWbbwRlEIbIt9WAGSDo61qC0zBnJlibqUcoOJJle50HLvlxXwuezXDuSj8BD3WJFZ4CUMY4sfJHfA/s200/23042010368.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/06/independent-expression.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW832ySSgO6-DFuLepaxgAFYQhxBrpEQa7Cm9JpicCv43DrQ5cbf6CXaBibf50-7g8M04ffvpBSl0LpIr3ukyee7_BZkfHSfx5hZQOO23Z19_g4CUPkepR75lLpSr5r-B5YTXSul04-CA/s72-c/11.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-4745208736209194736</guid><pubDate>Thu, 20 May 2010 17:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T10:11:01.774-07:00</atom:updated><title>Karya Tari  "Ya Disini..."</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Karya Tari Ya Disini..."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrS-pMFxaeUkuuRFVa9rhDQLkjnyv_pzJZTjSs6EYCbKh4IKBzSA4d2FdCr1MpQ0egIZC4LM4Rh176v5PmHwlDyshn3n_5AkFzniB6xsrmzpy1-eUVYQYlPW6UyhFV76E8QdXFsN2v0HE/s1600/Ya+Disini.....JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrS-pMFxaeUkuuRFVa9rhDQLkjnyv_pzJZTjSs6EYCbKh4IKBzSA4d2FdCr1MpQ0egIZC4LM4Rh176v5PmHwlDyshn3n_5AkFzniB6xsrmzpy1-eUVYQYlPW6UyhFV76E8QdXFsN2v0HE/s320/Ya+Disini.....JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ya Disini…”. Sebuah kegelisahan dalam mencari kebenaran melakukan penyembahan terhadap Tuhan dan konsep ketuhanan yang benar. Kegelisahan yang timbul dari banyaknya kajadian-kejadian yang muncul karena tindak kekerasan dan hal tersebut semuanya mengatas namakan agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtAWjTA-MoL3em1E-8Ug3ZFDFjfF3FklG9LJ807a0qBY9I77BKruU8hDSTxt11Bf3ep5jOMRekKpQsLdar7AVNr2T2ld1GojWbi6vrn0VFtoDXLPEcoC4qyXtJVrYS4SU3uDXZV0vpftg/s1600/1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtAWjTA-MoL3em1E-8Ug3ZFDFjfF3FklG9LJ807a0qBY9I77BKruU8hDSTxt11Bf3ep5jOMRekKpQsLdar7AVNr2T2ld1GojWbi6vrn0VFtoDXLPEcoC4qyXtJVrYS4SU3uDXZV0vpftg/s320/1.JPG" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Perenungan atas segala yang terjadi akhirnya memunculkan keyakinan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan tulus dan jujur sesuai dengan hati nurani seseorang adalah sebuah kebenaran yang harus diyakini, walaupun harus melewati segala rintangan dan cobaan yang menghalangi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbZyjkdUdQ0RoR1KMskA4xqd_o_AIKHhR7UETfc4Is3R3DhGjcpYys2ItbdEOGspySqTvyeHJCXP19Zhp6Czm_uLN7K2YDbbBYwn2F2sxHJXYppXXkyQyHDNtprE43wT0tUSKubC006hY/s1600/2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbZyjkdUdQ0RoR1KMskA4xqd_o_AIKHhR7UETfc4Is3R3DhGjcpYys2ItbdEOGspySqTvyeHJCXP19Zhp6Czm_uLN7K2YDbbBYwn2F2sxHJXYppXXkyQyHDNtprE43wT0tUSKubC006hY/s320/2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ya Disini…” adalah sebuah pernyataan tegas bahwa Tuhan itu ada dimanapun kita berada, dan dialah yang menciptakan alam raya yang menyimpan berbagai macam misteri. Selain itu juga bahwa konsep Tuhan dapat diyakini sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang perlu digaris bawahi, bahwa Tuhan itu kasih, Tuhan itu Kedamaian, Tuhan itu kemanusiaan, Tuhan itu persaudaraan dan yang terpenting adalah Tuhan itu adalah cahaya yang menjadi terang bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/05/karya-tari-ya-disini.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrS-pMFxaeUkuuRFVa9rhDQLkjnyv_pzJZTjSs6EYCbKh4IKBzSA4d2FdCr1MpQ0egIZC4LM4Rh176v5PmHwlDyshn3n_5AkFzniB6xsrmzpy1-eUVYQYlPW6UyhFV76E8QdXFsN2v0HE/s72-c/Ya+Disini.....JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-3484481172573228695</guid><pubDate>Wed, 19 May 2010 20:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T09:53:13.549-07:00</atom:updated><title>karya tari pergola</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEuUqdY_9vxdjtg0mQONV_TlTTbDyoR0CxPjVvqL1W_kQfDuMI50WupYqCWVbRL8emP-8cV3WFArUxXtFPzmI4t-hhSib9CivS51q3EhHA6-WlTD67WKe7tIzaa9UqP4jUpShbViyTSzs/s1600/a.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;"&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEuUqdY_9vxdjtg0mQONV_TlTTbDyoR0CxPjVvqL1W_kQfDuMI50WupYqCWVbRL8emP-8cV3WFArUxXtFPzmI4t-hhSib9CivS51q3EhHA6-WlTD67WKe7tIzaa9UqP4jUpShbViyTSzs/s320/a.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Sebuah kesendirian manusia dengan tubuh yang memiliki ruang sendiri dalam setiap geraknya, dalam waktu yang sudah ditentukan berada pada sebuah tempat yang juga memiliki ruang sendiri. Tempat tersebut adalah pergola, sebuah bangunan berstruktur yang terbentuk oleh titik-titik pertemuan garis yang saling jalin menjalin."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pergola adalah bangunan berstruktur yang biasanya terbuat dari kayu,besi, atau alumunium. Pergola merupakan sebuah bangunan fungsional, yaitu sebagai tempat bertumbuhnya tanaman merambat, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan rapi dan terlihat indah. Fungsi yang lain adalah sebagai pengisi lahan suatu taman yang tujuannya untuk memisahkan area patio dengan area taman yang lain, sehingga taman menjadi lebih teduh sekaligus mempercantik taman tersebut. Selain itu pergola juga bisa berfungsi sebagai peneduh area stepping stone sekaligus menjadi penunjuk arah jalan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs55INeAUpmXeT_8bpTaNtbwGPYNSRCgrYMgWXE5p7FBL-4TkmORq7Oacn9fYeXhEUfJqXrPU5dX-nCKeaMdc4cUrhQWiOgajH2LhLTAEzko55EfK1lemfB5A73Wrwe-slsCD7SslZrzM/s1600/1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs55INeAUpmXeT_8bpTaNtbwGPYNSRCgrYMgWXE5p7FBL-4TkmORq7Oacn9fYeXhEUfJqXrPU5dX-nCKeaMdc4cUrhQWiOgajH2LhLTAEzko55EfK1lemfB5A73Wrwe-slsCD7SslZrzM/s200/1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketertarikan Agus " Mbendhol" Margiyanto sebagai koreografer terletak pada struktur pergola yang berupa garis-garis dan saling menjalin serta ditopang oleh beberapa tiang. Hal tersebut telah memunculkan titik-titik pertemuan sehingga terciptalah sebuah bentuk yang memiliki ruang. Terbentuknya ruang tersebut menjadi sesuatu yang menarik bagi saya sebagai ruang eksplorasi tubuh penari kedalam sebuah bentuk koreografi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya ini adalah sebuah usaha bagaimana ruang yang dihadirkan oleh tubuh yang akhirnya tubuh memiliki ruang sendiri., ketika pada waktu tertentu berada dalam sebuah tempat yang juga memiliki ruang, mampu menghadirkan sebuah sinergi menjadi sebuah bentuk pertunjukan, dalam hal ini tari.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVxLdLyEyKPgyQ4NfWzD7186brNOMr1zesRim1HLsciJ6xa70RiTpZpG5IgZe_8qatvaWm_WaW0yKoTFo-qnn3ba21IT2x8i5pQbHhh46gJaLvaGRNTichvzNJgYTrtWWdBHqRy1rDF3w/s1600/b.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVxLdLyEyKPgyQ4NfWzD7186brNOMr1zesRim1HLsciJ6xa70RiTpZpG5IgZe_8qatvaWm_WaW0yKoTFo-qnn3ba21IT2x8i5pQbHhh46gJaLvaGRNTichvzNJgYTrtWWdBHqRy1rDF3w/s320/b.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Tubuh yang mampu menciptakan suatu gerakan atau bentuk telah menghadirkan ruang tersendiri. Tubuh yang hadir sebagai obyek berada pada sebuah bangunan konstruksi benda (pergola) yang berfungsi sebagai setting, menjadi sebuah kolaborasi yang mampu menciptakan ruang imajiner yang beragam. Munculnya ruang-ruang imajiner yang dihasilkan dari visual “perkawinan” antara struktur koreografi dengan struktur setting, menjadikan ruang-ruang tersebut memiliki bahasa atau pesan yang kaya makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Susunan koreografi yang ada dalam karya ini tidak terbingkai oleh sebuah tema cerita, akan tetapi alur pertunjukan menjadi prioritas yang tidak bis ditinggalkan. Dengan membebaskan tubuh untuk merespon ruang yang ada, diharap memunculkan berbagai macam interpretasi secara natural dan alamiah dari tubuh tersebut. Sehingga penonton juga memperoleh kebebasan untuk berimajinasi dari sajian yang dilihat dan dirasakan. Sekali lagi bahwa koreografi ini sengaja untuk tidak memberikan penceritaan tertentu. Karena beberapa pemaknaan yang muncul karena inderawi penonton akan menciptakan sebuah alur cerita sendiri. Akan tetapi saya berusaha memunculkan tema kesendirian. Tema tersebut merupakan hasil pengembangan dari imajinasi yang dihadirkan.&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/05/karya-tari-pergola.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEuUqdY_9vxdjtg0mQONV_TlTTbDyoR0CxPjVvqL1W_kQfDuMI50WupYqCWVbRL8emP-8cV3WFArUxXtFPzmI4t-hhSib9CivS51q3EhHA6-WlTD67WKe7tIzaa9UqP4jUpShbViyTSzs/s72-c/a.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-415611741967564761</guid><pubDate>Tue, 27 Apr 2010 10:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-27T03:21:45.897-07:00</atom:updated><title>karya tari  "...&amp;..."</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;"...&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;amp;&lt;/span&gt;..."&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7NZunaTTun5YR81WWs1KjWLNh1zDqV1MxrHchnRSqUhBr49oqbyJSjvf2HRdJdUvFjOyBSXMBxaftSI9GouuLNozJFVee_VibXd580oIHA6HeQ32-NFRXvdzifJiFhF111BVFzZ1HI_E/s1600/cv.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7NZunaTTun5YR81WWs1KjWLNh1zDqV1MxrHchnRSqUhBr49oqbyJSjvf2HRdJdUvFjOyBSXMBxaftSI9GouuLNozJFVee_VibXd580oIHA6HeQ32-NFRXvdzifJiFhF111BVFzZ1HI_E/s320/cv.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Karya ini dilatarbelakangi  dari usaha menggabungkan prinsip dasar tari dan prinsip dasar teater  ke dalam sebuah bentuk koreografi tunggal. Perbedaan konsep gerak dalam  tari yang lebih simbolik dan dalam teater yang lebih verbal, menjadi  sebuah pijakan awal untuk melangkah pada proses eksplorasi yang menyegarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Koreografer :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Agus Margiyanto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Penari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Agus Margiyanto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"...&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;amp;&lt;/span&gt;..."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;Aku ingin  bersuara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;Aku ingin  bercerita&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;Aku ingin  berkabar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;Aku ingin  bertutur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;Tetapi yang  bisa aku lakukan hanyalah “…&amp;amp;…”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLY4IDQFkA39cdwv4uH6ShWXxrliFpaOxbm8AOVQTNWJmxMybFzVY0YVurkdlxL9ORY1irGgwUk_LEgnbqBSXnPekoJid4GXhhqHCZZEA5VGfvC12tgZcBz58Os_QScBZj0mNiFfDQpSo/s1600/IMG_0833.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLY4IDQFkA39cdwv4uH6ShWXxrliFpaOxbm8AOVQTNWJmxMybFzVY0YVurkdlxL9ORY1irGgwUk_LEgnbqBSXnPekoJid4GXhhqHCZZEA5VGfvC12tgZcBz58Os_QScBZj0mNiFfDQpSo/s320/IMG_0833.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Proses penciptaan  karya ini lebih pada pencarian vokabuler gerak dan bentuk yang sederhana.  Ada tiga hal yang melandasi, yaitu batu, minimalis, dan tidak bercerita.  Batu, sesuatu yang keras dan sekaligus punya keindahan yang eksotis  dalam diamnya. Minimalis, karena berusaha memaksimalkan potensi tubuh  saja, tanpa bantuan kostum, rias wajah, property, musik yang berlebihan.  Tidak bercerita, karena harapan cerita akan muncul ketika susunan koreografinya  selesai, meskipun alur dramatikalnya tetap diperhatikan sehingga apa  yang ingin ditampilkan masih bisa terbaca.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/04/karya-tari.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7NZunaTTun5YR81WWs1KjWLNh1zDqV1MxrHchnRSqUhBr49oqbyJSjvf2HRdJdUvFjOyBSXMBxaftSI9GouuLNozJFVee_VibXd580oIHA6HeQ32-NFRXvdzifJiFhF111BVFzZ1HI_E/s72-c/cv.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-2334702581136278408</guid><pubDate>Mon, 26 Apr 2010 16:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-26T10:33:29.569-07:00</atom:updated><title>Contact Me</title><description>&lt;form accept-charset="UTF-8" action="http://www.emailmeform.com/fid.php?formid=680151" enctype="multipart/form-data" method="post"&gt;&lt;table bgcolor="#ffffff" border="0" cellpadding="2" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div id="mainmsg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table bgcolor="#2e2e2e" border="0" cellpadding="2" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Your Name &lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData0" size="30" type="text" /&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Your Email Address &lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData1" size="30" type="text" /&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Subject &lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData2" size="30" type="text" /&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Message &lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea cols="50" name="FieldData3" rows="10"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td colspan="2"&gt;&lt;table bgcolor="#2e2e2e" cellpadding="7" cellspacing="0" id="captcha_table"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr bgcolor="#2e2e2e" id="captcha_table_header_tr"&gt;&lt;td class="label" colspan="2" id="captcha_table_header_td"&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Image Verification&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="captcha" id="captcha_table_img_td" style="padding: 1px;" width="7"&gt;&lt;img alt="captcha" id="captcha" src="http://www.emailmeform.com/turing.php" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="field" valign="top"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;Please enter the text from the image&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;input maxlength="100" name="Turing" size="8" type="text" value="" /&gt; [ &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5547967485735764871&amp;amp;postID=2334702581136278408#" onclick=" document.getElementById('captcha').src = document.getElementById('captcha').src + '?' + (new Date()).getMilliseconds()"&gt;Refresh Image&lt;/a&gt; ] [ &lt;a href="http://www.emailmeform.com/?v=turing&amp;amp;pt=popup" onclick="window.open('http://www.emailmeform.com/?v=turing&amp;amp;pt=popup','_blank','width=670, height=500, center=' + (screen.width-450) + ', top=100');return false;"&gt;What's This?&lt;/a&gt; ]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="right"&gt;&lt;input maxlength="100" name="hida2" size="3" style="display: none;" type="text" value="" /&gt;&lt;input class="btn" name="Submit" type="submit" value="Send email" /&gt;    &lt;input class="btn" name="Clear" type="reset" value="  Clear  " /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td align="center" colspan="2"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/form&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: xx-small;"&gt;Powered by&lt;span style="bottom: -5px; padding-left: 5px; position: relative;"&gt;&lt;img src="http://www.emailmeform.com/images/footer-logo.png" /&gt;&lt;/span&gt;EMF &lt;a href="http://www.emailmeform.com/" style="text-decoration: none;"&gt;Web Forms&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/04/contact-me_26.html</link><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-7836090423754949012</guid><pubDate>Fri, 23 Apr 2010 21:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-23T14:33:18.047-07:00</atom:updated><title>karya tari zebra cross</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Kelompok tari Independent Expression yang di koreograferi oleh Boby  Ari Setiawan, S. Sn menggarap karya yang berhubungan dengan ruang publik.  Pertunjukan akan dilaksanakan di ruang publik, dimana tempat tersebut  merupakan tempat aktivitas masyarakat, bukan merupakan panggung pentas  yang disiapkan. Hal ini dimaksudkan agar lebih mengikiskan jarak antara  penyaji dan penikmat seni sehingga diharapkan tujuan apresiasi tari  ini akan lebih mengena dari pihak penyaji maupun masyarakat penikmat  seni. Melalui karya ini kelompok Independent Expression berharap dapat  memberikan impres pada audience tentang kesadaran akan kedisiplinan  kita sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg90OxD09I9s2xdXLmxFDUCZBTePz2zd_v2FtcEIsbkzn_0PY66P-1Bfgqn9ranrGGc-Mve_nphUOATHdlM2weZR4pgGXaXMp8u1txnmKbjtPP1HZGOuTHC5C2nGdZLPyXP20COeH8SnAs/s1600/5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg90OxD09I9s2xdXLmxFDUCZBTePz2zd_v2FtcEIsbkzn_0PY66P-1Bfgqn9ranrGGc-Mve_nphUOATHdlM2weZR4pgGXaXMp8u1txnmKbjtPP1HZGOuTHC5C2nGdZLPyXP20COeH8SnAs/s400/5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Kelompok  tari Independent Expression membawakan karya tari ZC (Zebra Cross).  Zebra Cross yang notabennya adalah salah satu simbol yang dipakai dalam  aturan berlalu lintas di jalan raya. Melihat jalan raya menjadi sebuah  ruang yang menarik untuk menjadi bidikan koreografi. Jalan raya yang  selalu macet adalah ruang publik yang cukup menyita banyak waktu dalam  kesehariannya, sehingga cukup beralasan pula ketika kenapa tanda peringatan  yang dipakai dalam mengatur tata tertib berlalu lintas banyak dihadirkan  di jalan raya, termasuk Zebra Cross. Dengan mengusung karya tari ini  diharapkan dapat memberikan apresiasi kepada masyarakat serta makna  dari “Zebra Cross” , sehingga diharapkan melalui karya ini dapat  menjadi wacana baru bagi masyarakat akan arti pentingnya ketertiban  berlalu lintas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;PENDUKUNG&amp;nbsp;&amp;nbsp; KARYA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Koreografer&lt;/b&gt;  : Boby Ari Setiawan S.Sn; &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pimpro&lt;/b&gt; : Hapsari Kusumas P, S.Sn; &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Penari&lt;/b&gt; : Boby Ari Setiawan S.Sn; Agus Margianto, S.Sn; Widya Ayu  Kusumawardani, S.Sn; Erika DT; Safrina Purri; Ardhana Riswari; Gambuh  Widya Laras, S.Sn; Arista Iriyantini, S.Sn; Dedy Luthan Dance Company;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt; Artistik&amp;nbsp; &amp;amp; Stage manager&lt;/b&gt; : Joko Sriyono; &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Ass. Artistik&lt;/b&gt;  : Dedek&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Jalan-jalan  di kota Jakarta yang sering kali macet menjadikan ruang publik ini cukup  menyita banyak waktu serta menambah penat pikiran karena hiruk pikuk  orang-orang dengan berbagai kepentingan. Di dalam kesehariannya, melihat  situasi jalan raya Jakarta nampaknya menjadi sebuah ruang yang menarik  untuk menjadikan bidikan koreografi .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUJRaSW1rD2GqSQ4JDFKc4dZEbsJokHsuNgV9V3atzaDktxJCKgA-PAE7jFSO4CFID9wcAtjoz_aSp0y-yz5zSbOG38XgLcgY3B7Ngeu8zkdFl4duitYSBw9ARpSmPtqn8wOvrja74yf8/s1600/20772_264642426841_819451841_3291257_7652845_n%5B1%5D.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUJRaSW1rD2GqSQ4JDFKc4dZEbsJokHsuNgV9V3atzaDktxJCKgA-PAE7jFSO4CFID9wcAtjoz_aSp0y-yz5zSbOG38XgLcgY3B7Ngeu8zkdFl4duitYSBw9ARpSmPtqn8wOvrja74yf8/s400/20772_264642426841_819451841_3291257_7652845_n%5B1%5D.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Mengingat  cukup luasnya tema jalan raya kaitannya dengan koreografi kota, maka  dipilih Zebra Cross untuk mewakili ide garapnya. Zebra Cross adalah  sarana menyeberang bagi pejalan kaki, dimana menjadi ruang privasi yang  bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Lintasan dari pejalan  kaki yang saling berpapasan, sikap saling menghormati dan menghargai&amp;nbsp;  dapat jelas kita lihat ketika mobil dan motor itu berhenti.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Ide  Gerak berangkat dari situasi orang-orang yang sedang menyeberang di  Zebra Cross. Di Zebra Cross beragam variasi cara&amp;nbsp; berjalan bisa nampak  bila kita perhatikan, banyak orang yang menyeberang sehingga proses  saling berpapasan ini mengakibatkan gestur dari orang berjalan sangatlah  bervariasi, seperti misalnya ketika anak-anak menyeberang dengan tangan  mereka bergandengan, seseorang menggandeng orang buta, meyeberang atau  persimpangannya dengan orang-orang yang terburu-buru untuk berangkat/pulang  kerja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Dramaturgi  kali ini dihadirkan pada perhitungan waktu yang sangat ketat saat lampu  merah menyala dengan perhitungan durasi yang digunakan setiap sesi koreografi  yang ditampilkan. Waktu pertunjukan dipilih pada saat jam-jam sibuk  yang memang berada dalam kondisi lalulintas sangat p[adat. Pada saat  moment tertentu muncul juga kejutan-kejutan dari koreografi, serta kejutan  dari keterlibatan&amp;nbsp; penonton dalam ruang publik ini yang berubah  menjadi ruang pertunjukan.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT5u_tYNmgp7YBLJGShI7pc9rwh3Y2rH5Ncn0HJLgXBrXq_gudbNQ3xH0kxZDmn20EnqKZiq-iYd9c9dqfU3-x6G5_22vboTKklL2DL_yATc6wWlJWr8Z6xzoYAnfqSkuwP1kL6bW7AZ8/s1600/20772_264641701841_819451841_3291252_6827207_n%5B1%5D.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT5u_tYNmgp7YBLJGShI7pc9rwh3Y2rH5Ncn0HJLgXBrXq_gudbNQ3xH0kxZDmn20EnqKZiq-iYd9c9dqfU3-x6G5_22vboTKklL2DL_yATc6wWlJWr8Z6xzoYAnfqSkuwP1kL6bW7AZ8/s400/20772_264641701841_819451841_3291252_6827207_n%5B1%5D.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Sebagai  sinopsis dari karya ini diambil dari sebuah tembang dolanan Jawa yang  sering didendangkan semasa kecil. Kemudian ada bagian tertentu saya  ubah syairnya untuk menyelaraskan situasi kota Jakrta kini. Lagu ini  sangat simple namun cukup penting, karena sarat akan ajaran kemandirian  dan kedisiplinan di jalan raya.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;” Saiki aku  wis gede, kerjane mangkat dewe , ora usah dieterake, bareng-bareng numpak  Busway, yen mlaku turut  pinggiran, ora pareng gojegan, neng dalan akeh kendaraan, mengko mundhak  tabrakan”&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;(” Sekarang  aku sudah besar, kerjanya berangkat sendiri, tidak usah diantarkan&amp;nbsp;  bersama-sama naik Busway, berjalan dengan tertib di pinggir jalan tidak  boleh bercanda, karena di jalan banyak kendaraan, bisa-bisa terjadi  kecelakaan.")&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/04/karya-tari-zebra-cross.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg90OxD09I9s2xdXLmxFDUCZBTePz2zd_v2FtcEIsbkzn_0PY66P-1Bfgqn9ranrGGc-Mve_nphUOATHdlM2weZR4pgGXaXMp8u1txnmKbjtPP1HZGOuTHC5C2nGdZLPyXP20COeH8SnAs/s72-c/5.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-4654684027647225394</guid><pubDate>Wed, 31 Mar 2010 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-30T23:32:26.442-07:00</atom:updated><title>Karya Tari Pe-thoi</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpdaJRrQKkGxcCy4MmHnfEE3ygK19AO81ZGlWf02e9E27U1x8sUQMJs6Qw_i6NAz06eoUMQBosl4wya6lndwyaDW1smBT9pBjZAkZz9tr_RzkaANIT2T-rzGPKfBhZooh_6uq18hVVKP4/s1600/IMG_0978bb.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpdaJRrQKkGxcCy4MmHnfEE3ygK19AO81ZGlWf02e9E27U1x8sUQMJs6Qw_i6NAz06eoUMQBosl4wya6lndwyaDW1smBT9pBjZAkZz9tr_RzkaANIT2T-rzGPKfBhZooh_6uq18hVVKP4/s200/IMG_0978bb.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pe-thoi dalam bahasa daerah Kalimantan Timur berarti bungkus, dalam upacara ritual pe-thoi dipakai sebagai kostum tarian Kalimantan Timur yang bernama tari “Hudo”’, terbuat dari bahan dasar daun pisang yang membungkus tubuh penari. Berangkat dari keinginan penyusun untuk mengolah bentuk kostum tari “Hudo” dari Kalimantan Timur, kedalam sebuah eksperimentasi tubuh lewat eksplorasi gerak dengan mempertimbangkan kekuatan visual dari bentuk kostum secara artistik dan estetik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Melakukan eksplorasi gerak-gerak liukan tubuh dan melatih ketahanan fisik penari yang dilakukan didalam ruangan ataupun diluar ruangan. Adapun ide gerak yang dilakukan adalah seperti pohon yang besar dan kokoh yang kadang bergerak karena tiupan angin. Seperti halnya dalam&amp;nbsp; konsep tari jawa yaitu&amp;nbsp; ”Mucang Kanginan, yang terinspirasi dari pohon yang tertiup angin” menjadi salah satu pijakan eksplorasi gerak penari kelompok dalam karya ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoYUZqZeLbGVESQqYkSqOYUQueKxK9UUbOpa88aLPiX0b3XfvYPgli0YFyeEvgRb9Q_H6kEXJdGG3WU25b6vQcUKfZejCAc0SKM9LjEBJa0u6hY-GAie4eRHFQ2U4kFTSr9Qu1b1OMGIw/s1600/IMG_0856hh.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoYUZqZeLbGVESQqYkSqOYUQueKxK9UUbOpa88aLPiX0b3XfvYPgli0YFyeEvgRb9Q_H6kEXJdGG3WU25b6vQcUKfZejCAc0SKM9LjEBJa0u6hY-GAie4eRHFQ2U4kFTSr9Qu1b1OMGIw/s320/IMG_0856hh.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sosok penebang ditampilkan dengan eksplorasi gerak kaki oleh seorang penari yang memakai sepatu boot, memakai topeng berwarna putih dengan karakter topeng sinis, sombong dan misterius. Sedangkan suasana aktifitas penambangan batu bara di malam hari, dimana alat-alat berat bergerak mengeruk tanah, lampu-lampu sorot dari traktor menembus gelapnya malam sebagai sebuah ide yang diwakilkan dengan sosok penari memakai lampu-lampu kecil di titik-titik tertentu tubuhnya, dengan fiber warna biru sebagai properti, cermin-cermin yang menggantung di sampingnya sebagai setting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kostum tari ”Hudo” di gunakan sebagai penggambaran roh hutan. Bahan daun pinang dipilih sebagai bahan dasar kostum karena memiliki garis yang tegas. Pada bagian ini penari harus dapat menghidupkan kostum dengan eksplorasi gerak yang memperhitungkan garis-garis pada kostum yang memiliki efek yang bermacam-macam. Mengembangkan fokabuler gerak tari ”Hudo” sehingga rasa dari gerak tari ”hudo” yang muncul, bukan sekedar bentuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Layar hitam yang membentang di tengah panggung mempersempit ruang panggung yang memang sengaja dibuat, sehingga pola lantai koreografi memanfaatkan panggung yang lebih lebar meskipun kedalaman panggung tersebut menjadi berkurang. Visual bayangan penari lebih jelas dan focus terbentuk dilayar. Layar dapat digerakan keatas sehingga terjadi perubahan dimensi panggung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaSrrA_Wwm8qqvV2NYlvPY6HbGIyAH6bMTagOVV5DEMu6P5sbs5W3JYNvuq-DJTiidh2nKOJRS7AhML_7EDbjd5uf3tsuc7eQXXjo717_xpMwsa4aTOFoyTtHKOOdNRH0t9QlQ_i1wRHk/s1600/IMG_0888999.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaSrrA_Wwm8qqvV2NYlvPY6HbGIyAH6bMTagOVV5DEMu6P5sbs5W3JYNvuq-DJTiidh2nKOJRS7AhML_7EDbjd5uf3tsuc7eQXXjo717_xpMwsa4aTOFoyTtHKOOdNRH0t9QlQ_i1wRHk/s320/IMG_0888999.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penyusun sengaja berpijak dari plot-plot garap kostum dan panggung, dengan elemen-elemen yang memang dalam garapan ini tidak bermaksud bercerita, tetapi lebih kepada sebuah hasil eksperimentasi yang diharapkan dapat dikembangka&amp;nbsp; secara dinamis dengan teks atau isu-isu tentang masalah hutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENDUKUNG&amp;nbsp;&amp;nbsp; KARYA&amp;nbsp; :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Koreografer&lt;/b&gt; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Boby Ari Setiawan S.Sn&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Life Music Editting&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Agustinus Rudi Indra Gunawa&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penari&lt;/b&gt;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Boby Ari Setiawan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dedy Satya Amijaya S.Sn&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Agus Margiyanto&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ardhana Riswari&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Safrina Purri W&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gambuh Widya Laras&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Widya Ayu K&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penata Setting&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tutut Widianto&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jaduk Blantrang Jenar&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penata Kostum&lt;/b&gt;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hapsari&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tim Produksi&lt;/b&gt; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Arista&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Erika&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/03/tari-pe-thoi.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpdaJRrQKkGxcCy4MmHnfEE3ygK19AO81ZGlWf02e9E27U1x8sUQMJs6Qw_i6NAz06eoUMQBosl4wya6lndwyaDW1smBT9pBjZAkZz9tr_RzkaANIT2T-rzGPKfBhZooh_6uq18hVVKP4/s72-c/IMG_0978bb.JPG" width="72"/><thr:total>4</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-4866260763135050406</guid><pubDate>Wed, 03 Mar 2010 14:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-03T06:49:09.023-08:00</atom:updated><title>rohwong dance</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ROHWONG word derived from the word meaning Spirit Soul and Wong, which means a uwong (Spirit Soul) in java language .&amp;nbsp; This dance work coreographed by Otniel Tasman, who was born in Banyumas on January 25, 1988.&amp;nbsp; The Choreographers study in SMKI Banyumas and continued his studies at the ISI Surakarta.&amp;nbsp; Othniel was once attached to the culture of Banyumas where he was raised and educated in the arts SMKI Sendang Mas Banyumas.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMeAuqNAN9lSacSBv4OtHSmRBbysZorkthf_CzjuV3leW2jXFpUJvZ8RgPUg_SVwkThSXnEpMwgbUU3ajjpjzo4di9ttrTF1iGw35v5Zk3F7xMVLGdfWhxg6xTWRn9gnToRbaZA7TNyjk/s1600-h/2791_1~1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="258" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMeAuqNAN9lSacSBv4OtHSmRBbysZorkthf_CzjuV3leW2jXFpUJvZ8RgPUg_SVwkThSXnEpMwgbUU3ajjpjzo4di9ttrTF1iGw35v5Zk3F7xMVLGdfWhxg6xTWRn9gnToRbaZA7TNyjk/s400/2791_1~1.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dance Rohwong work began from the experience of seeing a show choreographed ritual summoning rain in the area of cowongan Banyumas,. Cowongan is one of the rituals performed by the first tempo Banyumas to ask for rain. Cowongan was a doll made of traditional water bucket made from coconut shell and handle are made of bamboo fabric dililiti. Motion on the work of this dance movement elements doll takes a hard cowongan seizures but as though dancing is driven by human beings because, apart from that the atmosphere of a community spirit of the ritual also cowongan insipirasi the idea of making this work Rohwong dance. Vokabuler motion used is the development of dance movement and there is an impression Banyumasan accent ballet or modern dance that dikombain with traditional instruments like drums, flutes, etc.. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifpP5QVCLbxWdqL7IeyZ7wW7QpGUqBaelqOU42Zh3HNfhqZ_jeH4JgARwOTlvthAjdvqG5DBvC8iWi84hSBs8Uzhq6MbT4l7UogSFlRsYjUBFtSLwDkyQGZevORy9IsiucROuqpbl9v6Y/s1600-h/11267_~2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifpP5QVCLbxWdqL7IeyZ7wW7QpGUqBaelqOU42Zh3HNfhqZ_jeH4JgARwOTlvthAjdvqG5DBvC8iWi84hSBs8Uzhq6MbT4l7UogSFlRsYjUBFtSLwDkyQGZevORy9IsiucROuqpbl9v6Y/s320/11267_~2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Early scenes of this dance work begins with descriptions quiet village atmosphere or ambiance wingit preparation of the ritual.&amp;nbsp; Then a voice vote rammpak drums and flutes to deliver the evening.&amp;nbsp; All five dancers come from 2 directions with a torch while containing nembang spells.&amp;nbsp; In the scene described the mid-point of the ritual of reading cowongan with spells and tembang-tembang.&amp;nbsp; As an ending to all the dancers move like that cowongan jumping up and down and explore facial expression, and the music starts to rise until the point of climax.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tembangan used as a depiction of a ritual among other cowongan :&lt;/div&gt;1.tuan rohman….tuan rohim…&lt;br /&gt;
tangise wong wedi mati…&lt;br /&gt;
mati…….nglayung gendung sempal lembeyane&lt;br /&gt;
si lengkung si raden nana 2x&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Solasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
solasi solanjana menyan putih nggon ngundang dewa.,&lt;br /&gt;
ana dewa saka surga …..surga kono surga kene….&lt;br /&gt;
Widodari temurunna&amp;nbsp;&amp;nbsp; tumuruna….&lt;br /&gt;
Jagad dewatasaji&amp;nbsp; dewatasa sing jagad raya…..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Dewatasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dewatasa jagad-jagad urip &lt;br /&gt;
roh menungsa lebur andaniro putri&lt;br /&gt;
hiwakabi…hiwakabirana 4x&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sung a 2x</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/03/rohwong-dance.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMeAuqNAN9lSacSBv4OtHSmRBbysZorkthf_CzjuV3leW2jXFpUJvZ8RgPUg_SVwkThSXnEpMwgbUU3ajjpjzo4di9ttrTF1iGw35v5Zk3F7xMVLGdfWhxg6xTWRn9gnToRbaZA7TNyjk/s72-c/2791_1~1.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-6723092106392997539</guid><pubDate>Thu, 25 Feb 2010 18:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-25T10:05:37.873-08:00</atom:updated><title>Present Lengger Banyumasan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZCIhhYi06ysh_xS6NWrlReJKZLio-jmPSO5819OhRH4POVMH7-2bPVS0GHXIESXZgtwetfyX8ts8xev9VrVSjG59nfENUd_m065c33qZzokVpZHEgdKGe0cv5xeg7_s2F-PCYTSxlCfU/s1600-h/lengger1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZCIhhYi06ysh_xS6NWrlReJKZLio-jmPSO5819OhRH4POVMH7-2bPVS0GHXIESXZgtwetfyX8ts8xev9VrVSjG59nfENUd_m065c33qZzokVpZHEgdKGe0cv5xeg7_s2F-PCYTSxlCfU/s320/lengger1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lengger is one type of People's Art in the form of serving the show with musical accompaniment Calung.&amp;nbsp; Calung is a set of musical instruments made of bamboo that lined and has its own sound tones in each lajurnya.&amp;nbsp; Consists of a set of Calung barung xylophone, xylophone successor, dhendhem, kenong and gongs are all made of bamboo wulung (black), while the drum or drum made of leather and wood are hollowed.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Art Lengger is one kind of folk art that is played by female dancers and a kind of dance-themed art for a significant association of fertility.&amp;nbsp; According to the history that the dancers are male Lengger first with the development as a player he turned into a woman dancer until now.&amp;nbsp; Lengger itself associated with fertility rites, in the ancient Banyumas Lengger Group will hold a gig in village after village farmers to harvest rice.&amp;nbsp; Usually Lengger dancers spontaneously spread the mat on the field and danced calung drummers and drum.&amp;nbsp; The show usually begins late afternoon and ended late at night.&amp;nbsp; In the start of the drummers drum as a sign of the coming harvest season and the players responded with calung to gather the villagers and then continued with the arrival of Lengger dancers.&amp;nbsp; Only show Lengger procession took place.&amp;nbsp; Amid the show is usually a member of the group circulated Lengger box to collect money from spectators who enjoyed the show that night.&amp;nbsp; At a certain point the dancers Lengger able to play their role as bearers of sacred duty to bring dance to honor their goddess of fertility.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSJFwdVZZXLkKgtPxy2GAUEcVA1_hiuZthY_k-Swhmbb85gGYYAyZtpd-zCwRme47SYe-jyZpvtV78DbodVtu68JoDKTJoHYT-f9deNg2SKgJl_-0cxp-vFmiIRTAUpy6WMDIPNWSC4uU/s1600-h/lengger2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSJFwdVZZXLkKgtPxy2GAUEcVA1_hiuZthY_k-Swhmbb85gGYYAyZtpd-zCwRme47SYe-jyZpvtV78DbodVtu68JoDKTJoHYT-f9deNg2SKgJl_-0cxp-vFmiIRTAUpy6WMDIPNWSC4uU/s320/lengger2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lengger a folk art movement characterized by erotic and sensual high.&amp;nbsp; Lengger serving on full display ancient sacred values Lengger dancers were even present motion and sounds erotic.&amp;nbsp; Lengger erotic movement, able to divert the attention of the entertainment-hungry society even though Banyumas community.&amp;nbsp; As the development period Lengger serving actual art form when the program began to shift.&amp;nbsp; The monotony of the motion becomes more diverse, sensual and aesthetic value as a dance performed for many groups. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;In the past 1965 years in the era of many who think that art can bring maksiyat Lengger and was started in 1970 began to appear again Lengger As with the search event in the campaign of political parties.&amp;nbsp; We have also had some notion that the arts are still an erotic Lengger.&amp;nbsp; Whereas when viewed from the side of the aesthetic that is Lengger art is folk art but has a unique value. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Customs dancers who requested Sawer Lengger currently almost no indigenous only invite people who watched the dance is still performed by some arts groups Lengger.&amp;nbsp; Servings in each performance is much more compressed first performed from the afternoon until late at night during the duration of the gig is only about 1-2 hours, but still there are some arts groups are still present this art with duration of more than 4 hours late into the night. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZGTGjKhzEGolP34aUb5o3RFEU2NAbdtgd93fou5jdgpL9hPtiuui1q8Rl7tXJtkPiKXAdsdHxU0GUNMzWqy66CVhBlCAoSNeUw6DYgy0cJtb2KTQHRtpSxCtJ3-Udqyss8fNYvbxaOm4/s1600-h/lengger3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZGTGjKhzEGolP34aUb5o3RFEU2NAbdtgd93fou5jdgpL9hPtiuui1q8Rl7tXJtkPiKXAdsdHxU0GUNMzWqy66CVhBlCAoSNeUw6DYgy0cJtb2KTQHRtpSxCtJ3-Udqyss8fNYvbxaOm4/s320/lengger3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;In this Lengger development of the arts serve only as a fertility rite now been developed as a function of entertainment for the community, as well as the spectacle that has aesthetic value.&amp;nbsp; This art began in 2000 period has been able to align themselves with other arts, many art festivals can be obtained by presenting arts champion Lengger.&amp;nbsp; There are some good artists and artists of original Banyumas Surakarta Lengger working with the dish and a different view as an example Serentet Pring Dance group based in Solo, this group could serve Lengger art with a different dish, the works that have been produced, among others Senggot and Sensuality Of Lengger even a choreographer from the surakartaa Danang Romadon try mengkombain Banyumasan music and movement with music and hip-hop movement, but this claim is still embryonic. Senggot dance in musical works inspired by the launch of special music senggot Brebes areas that mimicked the launch Banyumasan. The work of this dance describes the women, erotic and has a great spirit. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;In concept inspired from the local language which means Senggot Banyumasan Pots (where to get water).&amp;nbsp; To take water bailer bailer usually moves with the hand movements that make up the curve so it looks like swaying.&amp;nbsp; This bailer movement that inspired the dance with the dominant senggot hip motion and body sway. In His Sensuality of Lengger, Pring Dance Team try to express sensuality Serentet Lengger dancers.&amp;nbsp; Where dilatar Lengger which backs on art from the coast, with the hip movements that is erotic as one of the symbols of art that is often referred to as the art style pesisiran. In the work of Sensuality Dance Dance Team Pring Lengger Serentet trying to raise the back side of the sensuality of the dancers Lengger identical to shake your hips with the punch with kendhang Banyumasan.&amp;nbsp; Pring Serentet dance groups collaborate between modern dance with various dance styles Banyumasan.&amp;nbsp; Also in terms of working on his music, where musical instruments Calung collaborate with musical instruments like Flute, guitar, bass, violin and other diatonic instrument. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sensuality Of Lengger danced by 5 men and 1 woman dancer dancer dancer menyimbulkan Lengger the Lengger in Era in the 1980s.&amp;nbsp; Tembang who sung in this dance work illustrates a virgin who is having a high sensuality as well as having high attractiveness to the opposite sex also.&amp;nbsp; Gestures and looked dynamic characteristic of this dance work.&amp;nbsp; Spiritual dancers Lengger also presented through the motion of a dancer with the position of facing Lengger 4 mecca 5 pancer (saluting the 4-way).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The atmosphere is presented in this dance work is to present a glamorous atmosphere, but still represented the rural atmosphere that is present setting of bamboo trees presented in the stage.&amp;nbsp; Bamboo is a characteristic of the region Banyumas. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thus part of the picture Lengger Arts who has experienced the development of forms of presentation, the concept works, and openness to other cultural influences.&amp;nbsp; But in any development of this artistic values and characteristics of art Lengger which still held by the successor generation without abandoning the standards that have become a symbol and has become a rule that can not be infringed. This is a legacy from the ancestors Banyumas which must remain preserved. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2010/02/present-lengger-banyumasan.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZCIhhYi06ysh_xS6NWrlReJKZLio-jmPSO5819OhRH4POVMH7-2bPVS0GHXIESXZgtwetfyX8ts8xev9VrVSjG59nfENUd_m065c33qZzokVpZHEgdKGe0cv5xeg7_s2F-PCYTSxlCfU/s72-c/lengger1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-2752968988931747174</guid><pubDate>Tue, 22 Dec 2009 21:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:31:10.039-08:00</atom:updated><title>sensuality of lengger</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlxKtIum4pS40iNkGNmRLH4KWDh1UBvHEntsUGZYKIORTJX3Fgz9GuIkhDEwqkxayvjfB_hSfdqXo9ZrnE-O8JlDyFixfgX-96MrDMAWdTXiXUQJ1Su4RZWnirLc0_oeCK2kIqfbEYsoc/s1600-h/1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlxKtIum4pS40iNkGNmRLH4KWDh1UBvHEntsUGZYKIORTJX3Fgz9GuIkhDEwqkxayvjfB_hSfdqXo9ZrnE-O8JlDyFixfgX-96MrDMAWdTXiXUQJ1Su4RZWnirLc0_oeCK2kIqfbEYsoc/s320/1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lengger a folk art movement characterized by erotic and sensual high. Lengger serving on full display ancient sacred values Lengger dancers were even present motion and sounds erotic. Lengger erotic movement, able to divert the attention of the entertainment-hungry society even though Banyumas community. As growing a period progress, serving Lengger actual art form when the program began to shift. From a wider range of motion, sensual Lengger the first shift is even now threatened. In fact when ini9 Lengger dancers pursue a glamorous form of presentation and no value beyond the sanctity of this dish erotis.In motion choreographer tries to express the spiritual back into a dancer on the side Lengger sensuality.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thus presented a synopsis of the arable shown dance works at Arena Theater Central Java Cultural Park on 30 November 2009. Pring Serentet Dance groups entitled Sensuality of Lengger, this group trying to express sensuality Lengger dancers. Lengger, who background on the arts from the coast, with the hip movements that is erotic as one of the symbols of art that is often referred to as the art pesisiran style.&lt;br /&gt;
In the dance work of Lengger Sensuality as a choreographer who was born in Banyumas and contact with indigenous cultures Banyumas Cahwati trying to raise the back side of the sensuality of the dancers Lengger identical to shake your hips with the punch with kendhang Banyumasan. Cahwati and dance groups collaborate Serentet Pring between modern dance with various dance Banyumasan styles. Also in terms of working on his music, where musical instruments Calung collaborate with musical instruments like Flute, guitar, bass, violin and other diatonic instrument.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja8H2FK0_wBoi_MI9mmOb6uINyyPNYmwRRQdeMC7wQEk9ZoHkIjcJy4JTTd362-lA3HMo7gSM16IaD4lFeNXHDGEIYpPON_R7CDZJwbdVhcFJEqmLQFUwisxYn-b5R0kL2Vrfnu5keeWI/s1600-h/2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja8H2FK0_wBoi_MI9mmOb6uINyyPNYmwRRQdeMC7wQEk9ZoHkIjcJy4JTTd362-lA3HMo7gSM16IaD4lFeNXHDGEIYpPON_R7CDZJwbdVhcFJEqmLQFUwisxYn-b5R0kL2Vrfnu5keeWI/s200/2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Sensuality Of Lengger danced by 5 female dancer and 1 woman Lengger dancer represents the Lengger in Era 1980s. Singing who sung in this dance work illustrates a virgin who is having a high sensuality as well as having high attractiveness to the opposite sex also. Gestures and looked dynamic characteristic of this dance work. Spiritual dancers Lengger also presented through the motion of a dancer with the position of facing Lengger 4 mecca 5 pancer (saluting the 4-way). The atmosphere is presented in this dance work is to present a glamorous atmosphere, but still represented the rural atmosphere that is present setting of bamboo trees presented in the stage. Bamboo is a characteristic of the region Banyumas. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2009/12/sensuality-of-lengger.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlxKtIum4pS40iNkGNmRLH4KWDh1UBvHEntsUGZYKIORTJX3Fgz9GuIkhDEwqkxayvjfB_hSfdqXo9ZrnE-O8JlDyFixfgX-96MrDMAWdTXiXUQJ1Su4RZWnirLc0_oeCK2kIqfbEYsoc/s72-c/1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-7126781977226693642</guid><pubDate>Thu, 05 Nov 2009 19:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:39:17.524-08:00</atom:updated><title>kesenian dan batik khas banjarnegara</title><description>&lt;div style="color: #f4cccc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;KESENIAN DAN BATIK KHAS BANJARNEGARA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgL36QIipNm0upEEeAEyidXDurluLfSwFWcS-kv6QVHNvwKRh7drqX0VX4T7PWJY-8hbEzsWC63uTSv-Bvu42dKUiJcNoipQCHEnyANIX1QcpBtFsZ3hPap5AxFEDGHlauqgv3UZTcQac/s1600-h/4183_1045772075841_1571825772_30100005_2606058_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgL36QIipNm0upEEeAEyidXDurluLfSwFWcS-kv6QVHNvwKRh7drqX0VX4T7PWJY-8hbEzsWC63uTSv-Bvu42dKUiJcNoipQCHEnyANIX1QcpBtFsZ3hPap5AxFEDGHlauqgv3UZTcQac/s320/4183_1045772075841_1571825772_30100005_2606058_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Banjarnegara memiliki berbagai macam kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, antara lain; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Embeg &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lengger, Aplang, Kuntulan, Jepin, Enggrenag, Topeng Lengger&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seiring perkembangan jaman yang serba modern kesenian yang ada di Banjarnegara mulai surut. Hal ini disebabkan karena kurangnya pihak-pihak yang mampu mengemas kesenian yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Melihat fenomena tersebut sebagai putra daerah Karisedenan Banyumas terutama Kabupaten Banjarnegara berkeinginan untuk mengembangkan kesenian yang ada di Kabupaten Banjarnegara dan daerah Karisedenan Banyumas pada umumnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeIyVADAn8KGixtkgCKIDB8JxDyznyXHGLvc-kEdxWufnEEMcRbuyK8RCxkVT3EqoqliJHTdQeQ1XjGQBFXPJ618XjTjoDMUUbiqa8tcna6T-30O7WfGgIYWp8zysuWaa2I3-hAKmq6EY/s1600-h/lengger.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeIyVADAn8KGixtkgCKIDB8JxDyznyXHGLvc-kEdxWufnEEMcRbuyK8RCxkVT3EqoqliJHTdQeQ1XjGQBFXPJ618XjTjoDMUUbiqa8tcna6T-30O7WfGgIYWp8zysuWaa2I3-hAKmq6EY/s320/lengger.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lengger merupakan tari di daerah Banyumas yang menjadi ciri khas Karisedenan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Banyumas. Lengger Banyumasan berkembang di seluruh daerah di Karisedenan Banyumas tidak terkecuali di Kabupaten Banjarnegara. Namun kelompok-kelompok kesenian yang ada di daerah-daerah belum mampu untuk memunculkan karya inovasi mereka sehingga sumber daya yang ada dalam masyarakat belum dapat digali sepenuhnya,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; khususnya dalam bidang kesenian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selain dalam bidang kesenian Kabupaten Banjarnegara juga memiliki industri kerajinan yaitu batik khas Gumelem Kabupaten Banjarnegara, dimana batik tersebut mempunyai karakteristik tersendiri pada corak batik dan warna. Namun pada perkembangan mode Batik masa kini, Batik Gumelem masih belum dapat dikenal secara luas bahkan dapat dikatakan mengalami penurunan minat akan penggunaanya, sehingga dalam pemasarannya Batik Gumelem masih kalah jika dibandingkan dengan Batik Surakarta pada umumnya. Para pengrajin batik Gumelem sebagian besar hanya memasarkan batiknya melalui tengkulak yang pemasarannya masih terbatas di sekitar wilayah Banjarnegara dan Karisidenan Banyumas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pendistribusian Batik Gumelem belum mampu menembus pasar dalam maupun luar negeri. Para pengrajin kurang memiliki pengalaman dalam memasarkan dan mengemas hasil karya mereka agar dapat mempunyai nilai jual yang tinggi di industri pasar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUoe93Fm-7xA-8x1iOMtfxxWiCCeSO3aaU7rGfg3B_e30e8FQIUGSPIRuC4iB3PnaB6G7UXc6lYCY4xGDTwR72dVLxGjDGl560XfOrJydqmDM3iEyYVX93GkUnMkx5dEWvmKBhy4ym_E8/s1600-h/Slide22.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUoe93Fm-7xA-8x1iOMtfxxWiCCeSO3aaU7rGfg3B_e30e8FQIUGSPIRuC4iB3PnaB6G7UXc6lYCY4xGDTwR72dVLxGjDGl560XfOrJydqmDM3iEyYVX93GkUnMkx5dEWvmKBhy4ym_E8/s200/Slide22.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGsw1CyTkDjKxNy0GfPH21bjhvkpXr4lr_pO4QhraO0afYiCEhHpuzvUOvL9w5BOvZiMmjeCE7u8i9qcHSbMJ09fXJ7TNHET3wznpicw1jluCTeMH7rDov6jEsSmWCnQ6oaJkZakkW2HM/s1600-h/Slide12.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGsw1CyTkDjKxNy0GfPH21bjhvkpXr4lr_pO4QhraO0afYiCEhHpuzvUOvL9w5BOvZiMmjeCE7u8i9qcHSbMJ09fXJ7TNHET3wznpicw1jluCTeMH7rDov6jEsSmWCnQ6oaJkZakkW2HM/s200/Slide12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimgnjJlsCaRLdheIDwOWImr0WzBDb3V3vIZ2IXoitxQWYnS789hOVITcCOJQCM5PggpU902Z_fDbYUOhVxmpki069BoDorasX6InNXpSS3vlW0rR0c1y0ly4xYiMMjxI7N12GOPkY7kGM/s1600-h/legger3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimgnjJlsCaRLdheIDwOWImr0WzBDb3V3vIZ2IXoitxQWYnS789hOVITcCOJQCM5PggpU902Z_fDbYUOhVxmpki069BoDorasX6InNXpSS3vlW0rR0c1y0ly4xYiMMjxI7N12GOPkY7kGM/s320/legger3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari kedua fenomena di atas muncul keinginan untuk mengkolaborasikan antara kesenian Lengger dan Batik menjadi suatu kemasan pertunjukan sebagai ajang pengenalan pada pihak luar sekaligus pelestarian akan kekayaan Nusantara sehingga dapat memberikan dampak yang positif terhadap keberlanjutannya kesenian Lengger di Kabupaten Banjarnegara dan Kerajinan Bati Gumelem. Melihat pesatnya perkembangan batik di &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; saat ini, kami melihat terdapat potensi yang besar pada Batik Gumelem jika dikemas dengan model pertunjukan yang digarap dan dengan desain yang menarik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak menutup kemungkinan dengan adanya kemasan tersebut akan meningkatkan minat daya beli masyarakat terhadap batik serta menjaga kelestarian kesenian rakyat khas Banyumas yaitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; ”Kesenian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lengger”. Harapan kami melalui program ini akan membantu kami dalam menggali potensi industri Batik Gumelem dan melestarikan kesenian rakyat Banyumasan yaitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Lengger dengan kemasan baru dengan bentuk pertunjukan tari Lengger degan kostum Batik Gumele&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Palatino Linotype';"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; yang didesain khusus, musik Calung (Gamelan Bambu), fashion show serta workshop pembuatan corak batik khas Gumelem dari perwakilan masyarakat Desa Gumelem. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2009/11/kesenian-dan-batik-khas-banjarnegara.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgL36QIipNm0upEEeAEyidXDurluLfSwFWcS-kv6QVHNvwKRh7drqX0VX4T7PWJY-8hbEzsWC63uTSv-Bvu42dKUiJcNoipQCHEnyANIX1QcpBtFsZ3hPap5AxFEDGHlauqgv3UZTcQac/s72-c/4183_1045772075841_1571825772_30100005_2606058_n.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-4567476424850640644</guid><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 20:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-01T12:37:03.597-08:00</atom:updated><title/><description>&lt;div style="color: white; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span style="color: #f4cccc; font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;Profil Pring Serentet&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif; font-size: small;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;CAHWATI&lt;/span&gt; :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLDBUkhiRnWVxHB0UqFVLueYrvKXxboKL4WtSBUnbWHcnfWSfLjgEmqUr-YMIHLZfD5Snux_uXfETI1P2MWN37yuhQso2hakjQ-wjRX7Tnmq9WIunwO4qimYURbk0hf7Ha7VOSjhE-8z0/s1600-h/cahwati.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLDBUkhiRnWVxHB0UqFVLueYrvKXxboKL4WtSBUnbWHcnfWSfLjgEmqUr-YMIHLZfD5Snux_uXfETI1P2MWN37yuhQso2hakjQ-wjRX7Tnmq9WIunwO4qimYURbk0hf7Ha7VOSjhE-8z0/s640/cahwati.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ahir di Banyumas pada 24 Agustus 1982.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Belajar menari secara formal di SMKI Banyumas dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; dilanjutkan di STSI Surakarta ( sekarang ISI Surakarta ) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;lulus tahun 2005. Lahir dan besar di Banyumas membuat Cawati sangat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;akrab dengan budaya tradisi Banyumasan seperti Lengger dan Sintren.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Meskipun begitu dia juga mempelajari berbagai tarian, tenik vocal dan gending Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sebagai vokalis, dia terlibat dalam karya Slamet Gundono, Yayat Suheryatna, Max Baihaqi, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;dll. Sebagai penari pernah terlibat pada karya Dedy Luthan ( 2005 ),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Eko Supriyanto ( “Opera Ronggeng” 2004 sebagai asisten koreografer), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rini Endah ( pentas keliling “Membuka Batas”&amp;nbsp; 2005 ), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sen Hea Ha ( “Infinita”, “Bebrayan”, “Wahyu” 2005-2007 ). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai koreografer, karya tarinya antara lain : “Nak”&amp;nbsp; ( 2005 ), “ Rodeo” ( 2003 ),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “You and Me” ( 2004 ), “Sang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nak” ( 2005 ), Banjaran Ronggeng Dukuh Paruk ( 2007 ), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;dan Lengger Dukuh Paruk dalam pertemuan Taman Budaya se-Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; di Bandung (2008). Mengikuti pentas keliling Singapura, Paris, Belanda,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bersama TBS Dance dan Sen Hea Ha (2008), Keroncong Festival (2008).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mulai tahun 2000 mendirikan Kelompok Pring Serentet yang berdomisili &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;di Solo dan sekitarnya dengan kopetensi kesenian khas Banyumasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;WIDYA AYU KUSUMAWARDANI :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5Lc_FqBH1sIFkXaZc93B1P33fPSr6unP7zujxWxJiVmuu2DFGq2fzPV1OVaQ9YDlf3-GVWBjUy9NCArDasIv4c_dJbE13c-MV8EdH6wQ-zIW9nfFF_AvZfQd5EMu93fdepfwIv3iLjeo/s1600-h/ayu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5Lc_FqBH1sIFkXaZc93B1P33fPSr6unP7zujxWxJiVmuu2DFGq2fzPV1OVaQ9YDlf3-GVWBjUy9NCArDasIv4c_dJbE13c-MV8EdH6wQ-zIW9nfFF_AvZfQd5EMu93fdepfwIv3iLjeo/s320/ayu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lahir di Purbalingga, 29 Desember 1987. Belajar menari secara formal di ISI Surakarta. Tahun 2003 masuk dalam kelompok Lengger Wisanggeni Purbalingga. Ayu pernah menjuarai beberapa lomba antara lain Menjadi Juara 2 lomba Tari Gambyong Pareanom tingkat SMA se-Kabupaten Purbalingga, Juara 2 Lomba Primadona Model Indonesia se Jawa Tengah di&amp;nbsp; Banjarnegara, Juara 1 lomba Tari Rakyat se-Jawa Tengah di RRi Semarang Jateng. Selain itu Ayu mengikuti beberapa pentas baik tari tradisi maupun kontemporer antara &lt;br /&gt;
lain 2006 Penari dalam karya Desain koreografer Woro Utami ,2006 Penari dalam Karya Tari Sampur Suwir Dalam rangka Festival Kesenian Se-Jawa Timur, Mengikuti Pentas dalam rangka Pekan Kesenian Bali,  2007 Pentas Kolaborasi dengan Jepang di Banyumas, 2007 Sebagai penari dalam karya koreografi Boby Ari Setyawan (2005 karya tari Cyclus so close, 2006 karya tari Musro, 2007 Barongsay in the Club, 2008&amp;nbsp; karya tari Pethoi), 2008 Karya Tari Tugas Akhir Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul MANCALA penyaji Yudi dan Lini, 2008 Pentas dalam rangka Festival Taman Budaya se Indonesia koreografer Cahwati di Bandung, 2008 Tari Lengger Banyumasan Bersama kelompok Kesenian Banyumasan Pring Sedapur dalam event WHC (World Heritage Cities), Hari Tari Dunia dan pernah terlibat dalam event Ultah Ponorogo, &lt;br /&gt;
Seribu Bunga 2008, International Performing Art 2008. Penari gelar Koreografi kota 2009&amp;nbsp; Dewan Kesenian Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;GAMBUH WIDYA LARAS &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQxtKYBszdFTk7WC5ZPwGTkscZDwPKFAoCX-DHVfOPnx3hXSrhJdXVneGn7uhWpcmJjFYE1cI4fjGAd7ekTl0Fiuqlu5NyZtGNjhsgvn4ccJ4HbevPEFovMKN0RVRmjCxJDEg3ucEc7Ts/s1600-h/laras.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQxtKYBszdFTk7WC5ZPwGTkscZDwPKFAoCX-DHVfOPnx3hXSrhJdXVneGn7uhWpcmJjFYE1cI4fjGAd7ekTl0Fiuqlu5NyZtGNjhsgvn4ccJ4HbevPEFovMKN0RVRmjCxJDEg3ucEc7Ts/s320/laras.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang,바탕,serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai penari dalam karya koreografi &amp;nbsp;&amp;nbsp; Lahir di : Banjarnegara, 15 Februari 1987 Belajar menari secara formal di ISI Surakarta. Sejak Kecil telah mengikuti Sanggar&amp;nbsp; Tari di Kabupaten Banjarnegara, Gambuh lahir dan besar di lingkungan seni ibu seorang guru tari, nenek seorang simden dan kakek buyut seorang dalang yang terkenal di daerah Banyumas.Gambuh pernah menjuarai beberapa lomba tari pada saat dia masih sekolah baik di tingkat SD sampai SMA. Perlombaan yang telah diraih antara lain Menjadi Juara 2 lomba Tari Merak tingkat SD se-Kabupaten Banjarnegara, Juara 1 Lomba Tari Retno Tinanding Tingkat SMP se-Kabupaten Banjarnegara., Juara 2 Lomba Tari Gambyong Tingkat SMA se-Kabupaten Banjarnegara. Selain itu gambuh mengikuti beberapa pentas baik tari tradisi maupun kontemporer antra lain 2006 Penari dalam karya Desain koreografer Woro Utami , 2006 Penari dalam Karya Tari Sampur Suwir Dalam rangka Festival Kesenian Se-Jawa Timur, 2007 Pentas Kolaborasi dengan Jepang di Banyumas, 2007 Mengikuti Pentas dalam rangka Pekan Kesenian Bali, Boby Ari Setyawan (2005 karya tari Cyclus so close, 2006&amp;nbsp; karya tari Musro, 2007 Barongsay in the Club, 2008&amp;nbsp; karya tari Pethoi), 2008 Karya Tari Tugas Akhir Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul MANCALA penyaji Yudi dan Lini, 2008. Pentas dalam rangka &lt;br /&gt;
Festival Taman Budaya se Indonesia koreografer Cahwati, 2008 Tari Lengger Banyumasan Bersama kelompok Kesenian Banyumasan Pring Sedapur dalam event WHC (World Heritage Cities).&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2009/11/profil-pring-serentet-cahwati-l-ahir-di.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLDBUkhiRnWVxHB0UqFVLueYrvKXxboKL4WtSBUnbWHcnfWSfLjgEmqUr-YMIHLZfD5Snux_uXfETI1P2MWN37yuhQso2hakjQ-wjRX7Tnmq9WIunwO4qimYURbk0hf7Ha7VOSjhE-8z0/s72-c/cahwati.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-6391872555466907403</guid><pubDate>Fri, 30 Oct 2009 22:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:44:50.986-08:00</atom:updated><title>Pring Serentet  Group Seni Tari Solo</title><description>&lt;div style="color: #ead1dc; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;PRING SERENTET&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pring Serentet merupakan sebuah komunitas tari yang mempunyai basic tari sunda Banyumasan yang berdominasi di Surakarta dan sekitarnya. Pring Serentet didirikan pada tanggal 2 April 2000 oleh mahasiswa-mahasiswa STSI Surakarta ( sekarang ISI Surakarta ). Pada tahun-tahun awal berdiri, Pring Serentet aktif melakukan proses dan pementasan. Tetapi pada perkembangan selanjutnya kelompok ini sempat vacum, dan pada awal tahun 2009 ini Cahwati, sebagai pendiri sekaligus anggota teropsesi untuk menghidupkan kembali Pring Serentet dengan cara mengumpulkan anggota lama dan mengajak beberapa anggota baru untuk terlibat dalam komunitas Pring Serentet dengan warna baru, dengan perkembangan kemasan tari kolaborasi dari vokabuler Banyumas dan Sunda . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Anggota Pring Serentet saat ini :&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Cahwati. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Gambuh Widya Laras.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Widya Ayu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Widianti.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Susunan Anggota Pring Serentet&amp;nbsp; :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penasehat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Muriah Budiarti.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Yayat Suheryatna.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Koreografer&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cahwati.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Cahwati&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Widya Ayu K&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Gambuh Widya L.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Pentas :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt;Pentas Di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam pentas Sketsa Tari Bulan Ganjil 2007.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pentas dalam rangka Solo Adi Luhung City Work 2008 .&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pentas dalam rangka Hari Keperkasaan Wanita 2009 di ISI Surakarta.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinUtbaUWRqMse__R8msLItM7_3hkfQDZI9VpnoazXeZjHDRQ3LwgCjz7Yf_igrD4WxTViz5_ELQPWfQLDaj0kQmwa2R31ttjHSRePuQ9r0dBKx2ybhIPHGxcHQlbufFkId816ShDZ7RVU/s1600-h/Pring+Sarentet.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinUtbaUWRqMse__R8msLItM7_3hkfQDZI9VpnoazXeZjHDRQ3LwgCjz7Yf_igrD4WxTViz5_ELQPWfQLDaj0kQmwa2R31ttjHSRePuQ9r0dBKx2ybhIPHGxcHQlbufFkId816ShDZ7RVU/s640/Pring+Sarentet.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tari Gaya Banyumasan adalah salah satu gaya tari di Jawa Tengah yang masih tetap berkembang hingga saat ini. Tari gaya Banyumasan telah memiliki tempat di kalangan seniman dan para penikmat seni di wilayah Surakarta terutama di lingkungan ISI Surakarta. Tari Banyumasan sendiri sampai saat ini belum dikemas menjadi suatu paket tari yang dapat diajarkan kepada masyarakat luas baik seniman maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari tari gaya Banyumasan Agar masyarakat dapat mempelajari tari gaya Banyumasan dengan mudah dan masyarakat luas dapat mempelajari ragam tari&amp;nbsp; banyumasan sehingga garapan tari paket ini dibuat dengan kemasan yang baru dan dengan perkembangan vokabuler gerak tari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;tanpa meninggalkan identitas gerak banyumasan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span lang="ES" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa tarian yang telah ditarikan oleh kelompok tari Pring Serentet antara lain :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
	{mso-list-id:1086074426;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:-390556052 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l0:level1
	{mso-level-tab-stop:.25in;
	mso-level-number-position:left;
	margin-left:.25in;
	text-indent:-.25in;}
ol
	{margin-bottom:0in;}
ul
	{margin-bottom:0in;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;i&gt;Lenggeran Gunung Sari&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="talk" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Gunung sari adalah nama tempat, dimana penari lengger yang terkenal pada jaman itu, lahir dan dimakamkan. Tepatnya di wilayah kecamatan Wangon, di kelurahan Bantar, kabupaten Banyumas. Penari itu meninggal di daerah sokaraja, karena terbawa arus kali. Sampai di desa Kebagoran. Meninggalnya penari itu membuat tokoh lengger dari pesawahan (Rawalo), merasa kehilangan lalu untuk mengenangnya, dijadikanya geguritan gunungsari, dinamai Kalibagoran. Nama yang disesuai dengan meninggalnya penari lengger waktu itu di kali di desa Kebagoran. Sedangkan makamnya di desa bantar, disalah satu bukit. Bukit itu dinamai Gunungsari. Dengan meninggalnya penari itu ada salah satu kerabatnya yang bernama pak Samin hendak meneruskan. Dia lahir di desa Bantar, dia mengikuti jejak saudaranya sebagai penari lengger. Walaupun dia seorang pria tetapi setelah dia sudah berganti busana lengger tidak ada yang tau kalau dia adalah seorang pria. Karena bentuk tubuh, suara dan wajah sudah berganti seperti wanita, pak Saminpun laris manggung bahkan terkenal sampai di kabupaten Banjar, Kebumen, Purbalingga, Cilacap dan Brebes. Pak Samin adalah penari pria pertama yang memerankan diri menjadi lengger. Dia meninggal di desa Bonjok. Oleh karena itu di desa Bonjok sampai sekarang tidak diperbolehkan ada penari lengger wanita manggung disitu, kecuali lengger lanang/banci. Seiring berkembangnya jaman nama pak Samin penari lengger lanangpun hilang begitu aja, akan tetapi Mbah Tamiarji adalah salah satu tokoh/sesepuh lengger di desa Pemancangan, mengembangkan dan meneruskan jejak pak min dan saudaranya itu, dia merasa hal itu adalah hal yang sakral, maka pada setiap satu tahun sekali diadakan pementasan lengger lanang, untuk acara selamatan tanam padi. dengan iringan ketawang puspowarno minggah lancaran gunung sari diteruskan gunungsari geguritan atau yang dikenal sekarang gunung sari kali bagoran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;***Catatan :&amp;nbsp; Jamanpun terus berganti, waktu juga berjalan, akhirnya disekitar tahun 1990 salah satu guru SMKI banyumas membuat tarian yang dinamai tari gambyong banyumasan (Lenggeran) dengan iringan lanc. Ricik – ricik dawah gunungsari. Akan tetapi pelurusan sisilah lengger gunungsari dan Lengger Dukuh Paruk memiliki perbedaan histori, maka dengan adanya pelurusan ini bisa dimengerti. Asal muasalnya. Kontrofersi tentang adanya lengger gunung sari, tidak banyak yang tahu, karena selama ini yang terungkap hanya sebatas silsilah lengger (tokohnya) padahal dari tokoh lengger itu selain Srinthil dukuh paruk ada juga yang lain. Seperti mbok Jintreng, Mbah samin dan Mbok waginah. Itu adalah bagian dari Histori lengger. Yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan atau dilupakan begitu saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;i&gt;2.Baladewan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Baladewan diambil dari salah satu babak tari Tari dari daerah Banyumas yang menceritakan tentang semangat prajurit yang gagah, berani maju dalam medan perang. Tari ini dapat ditarikan baik oleh Perempuan maupun Laki-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Senggot.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Senggot merupakan sebuah lancaran dari Brebes yang ditirukan dalam lancaran Banyumasan dengan media alat musik bambu ( Calung ). Kata Senggot juga terdapat&amp;nbsp; pada bahasa lokal Banyumas yang berarti gayung / siwur yang terbuat dari bathok (tempurung) kelapa yang berpangkal panjang, Kata ini terdapat dalam parikan Bahasa Banyumas yang berarti senggot, atau ngegot (sebuah gerak pinggul). Tari secara visualisasi menggambarkan para waniya yang lincah dan perkasa, vokabuler gerak merupakan pengembangan dari vokabuler gerak tradisi Banyumasan dan Pasundan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
	{mso-list-id:1086074426;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:-390556052 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l0:level1
	{mso-level-tab-stop:.25in;
	mso-level-number-position:left;
	margin-left:.25in;
	text-indent:-.25in;}
ol
	{margin-bottom:0in;}
ul
	{margin-bottom:0in;}
--&gt;
&lt;/style&gt;4.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kembang Lengger&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebuah tarian yang diilhami dari sebuah Novel karya Ahmad Tohari yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Tari ini menggambarkan penari lengger yang menjadi primadona desa yang banyak digandrungi laki-laki. Tari ini didominasi dengan gerak yang “Erotis”.&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: left; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: left; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: left; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Batang;
	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;
	mso-font-alt:바탕;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
@font-face
	{font-family:"\@Batang";
	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:129;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:fixed;
	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="ES" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2009/10/pring-serentet-group-seni-tari-solo.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinUtbaUWRqMse__R8msLItM7_3hkfQDZI9VpnoazXeZjHDRQ3LwgCjz7Yf_igrD4WxTViz5_ELQPWfQLDaj0kQmwa2R31ttjHSRePuQ9r0dBKx2ybhIPHGxcHQlbufFkId816ShDZ7RVU/s72-c/Pring+Sarentet.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-3167040277019210297</guid><pubDate>Mon, 19 Oct 2009 17:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-19T10:39:34.209-07:00</atom:updated><title>Indonesian Dance, and  Type</title><description>Indonesian Dance so many variety. Why Indonesia has many kinds of dances? you yourselves know, Indonesia is an archipelagic nation of many islands in it, from Sabang to Merauke, which of course has a different culture, can be seen from the various types of dance there.&lt;br /&gt;  As an introduction, Traditional Dance is one of the nation's culture that it will be good for when the traditional dance to Keep the preserve until whenever.&lt;br /&gt;  The following is the name of the dance and dance-dance which originated:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Seudati, Tari Saman Meuseukat&lt;br /&gt;2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Serampang Dua Belas, Tari Tor-tor&lt;br /&gt;3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Piring, Tari payung&lt;br /&gt;4. Provinsi Riau&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Tanduk, Tari Joged Lambak&lt;br /&gt;5. Provinsi Jambi&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Sekapur Sirih, Tari Selampit Delapan&lt;br /&gt;6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Tanggai, Tari Putri Bekhusek&lt;br /&gt;7. Provinsi Lampung&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Jangget, Tari Melinting&lt;br /&gt;8. Provinsi Bengkulu&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Andun, Tari Bidadei Teminang&lt;br /&gt;9. Provinsi DKI Jakarta&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Topeng, Tari Yapong&lt;br /&gt;10. Provinsi Jawa Barat / Jabar&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Topeng Kuncaran, Tari Merak&lt;br /&gt;11. Provinsi Jawa Tengah / Jateng&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Serimpi, Tari bambangan Cakil&lt;br /&gt;12. Provinsi DI Yogyakarta / Jogja / Jogjakarta&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Serimpi Sangupati, Tari Bedaya&lt;br /&gt;13. Provinsi Jawa Timur / Jatim&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Remong, Tari Reog Ponorogo&lt;br /&gt;14. Provinsi Bali&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Legong, Tari Kecak&lt;br /&gt;15. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Mpaa Lenggo, Tari Batunganga&lt;br /&gt;16. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Perang, Tari Gareng Lameng&lt;br /&gt;17. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Monong, Tari Zapin Tembung&lt;br /&gt;18. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Balean Dadas, Tari Tambun &amp;amp; Bungai&lt;br /&gt;19. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Baksa Kembang, Tari Radap Rahayu&lt;br /&gt;20. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Perang, Tari Gong&lt;br /&gt;21. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Maengkat, Tari Polo-palo&lt;br /&gt;22. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Lumense, Tari Pule Cinde&lt;br /&gt;23. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Dinggu, Tari Balumpa&lt;br /&gt;24. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Bosara, Tari Kipas&lt;br /&gt;25. Provinsi Maluku&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Lenso, Tari Cakalele&lt;br /&gt;26. Provinsi Irian Jaya / Papua&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Musyoh, Tari Selamat datang&lt;br /&gt;27. Provinsi Timor-Timur / Timtim&lt;br /&gt;    Tari Tradisional : Tari Wira, Tari Suru Boek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   This data is based on the time of Indonesia's 27 provinces with the last province still timor east. East Timor has now been separated from the new Republic of Indonesia became a sovereign state with the name of East Timor.</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2009/10/indonesian-dance-and-type.html</link><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-1458988898749167175</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 15:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:46:06.576-08:00</atom:updated><title>tari srikandi cakil</title><description>&lt;div style="font-family: georgia; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;TARI SRIKANDHI CAKIL&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tari Srikandhi Cakil merupakan pethilan dari cerita mahabarata. Dimana menceritakan Cakil yang diutus oleh Prabu Jungkungmardeya dari Palanggubarja untuk memboyong Dewi Wara Srikandhi yang akan dijadikan istri Prabu Jungkungmardeya. Di tengah perjalanan Cakil bertemu dengan Srikandhi tetapi Cakil belum tau kalau sebenarnya wanita yang ditemuinya itu adalah Dewi Wara Srikandhi. Setelah terjadi dialog antara keduanya Cakil terkejut karena ternyata wanita yang ada di hadapannya adalah Dewi Wara Srikandhi yang dicarinya. Dalam dialog itu Cakil menyampaikan pesan dari prabunya untuk memboyong Dewi Wara Srikandhi, karena Srikandhi menolak maka Cakil berusaha memboyong Srikandhi secara paksa sehingga terjadi peperangan antara keduanya dan akhirnya Cakil kalah oleh pana Srikandi.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DESKRIPSI GERAK TARI SRIKANDHI CAKIL&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NO    GENDHING    SRIKANDI    CAKIL      &lt;br /&gt;
1    Ada-ada srambahan pathet sanga&lt;br /&gt;
Jengkeng&lt;br /&gt;
Jengkeng      &lt;br /&gt;
2    Srepeg pelog pathet nem&lt;br /&gt;
Sembahan, gedheg&lt;br /&gt;
Berdiri sabetan, lumaksana 3x, ombak banyu, srisig, endho 2x, seblak 2x, puter, ditmpani cakil, seblak endho, mundur 3 langkah, endho, jeblos, mundur, menthang, tawing kiri kanan, menthang, ngayang, sindet kanan,&lt;br /&gt;
Gedheg, semabahan, gedheg&lt;br /&gt;
Sabetan lumaksana bapang jeglong 3x, ombak banyu, ngacap, ngelit, nyerang 2x, muter, ngglebak, ngancap 2x, tanjak, ngelit2x, nyerang3x, lumaksana nggoyak, ngancap, ulap-ulap tajnak kiri, ulap-ulap, sabetan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3    Tlepeg Ketawang Laras Pelog Pathet Nem&lt;br /&gt;
Laras kiri, leyek kanan, lembehan separo, enjer kanan, ngithing, mundur seblak, mundur menthang, sindet kiri, muter, kenser, maju ngancap, srisig, endho, erek-erekan seblak, mundur, sindet, hoyog, ogek lambung, seblak, menhang ukel karno, tanjak gendewa, kenser, indraya muter, lumaksana naraga, ngancap, ngglebak kebyok, hoyog kiri, mundur kaget, mundur seblak kanan, muter, kebyak, seblak, hoyog kanan, kebyok kanan, kenser, endho,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tranjalan kanan kiri, njujut, sabetan, ngancap, ngelit, ngglebak, tanjak, ceklekan 3x, ngglebag, njujut, ogek 2x, nacah, onclang ngglebag, tanjak srisig, ngancap 3x, puter,tanjak ngancap ngece 4x, onclang, ngancap, nyerang, ngece 2x, muter hoogkan, muter, ceklekan maju, ngglebag tanjak bapang gedeg 2x, njujut 2x, tranjalan kanan kiri, puter, ngelit, jengkeng atas, berdiri tanjak kiri, ceklekan 3x, ngancap, kelit puter, (mumet), deklekan tranjalan 3x, ngglebag ulap-ulap, ngece 3x, puter, ngancap, jengkeng, berdiri, ngelit, oncalang nyegat, berdiri ngece, tanjak usap brengos, tranjalan 3x, lumaksana ogek, ngelit,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4    Srepeg laras pelog pathet Nem&lt;br /&gt;
puter, jengkeng, seblak mbalang gendewa, muter srisig maju,&lt;br /&gt;
nyerang 3x, ngglebag&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5    Pathetan sanga jugag laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
sindhet, tawing kanan, tawing gendewa,&lt;br /&gt;
hadap depan tanjak&lt;br /&gt;
tanjak, muter,&lt;br /&gt;
tanjak, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6    Ontowecana    Tobat-tobat buta leletheking jagad, reregeting bumi, tandhangmu kasar, tangan srawean, Takon nggetak-nggetak kaya bangsane sato, yen tambuh marang aku, ngakuo disik sapa praceka lan ngendi dangkamu buta?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aba- abamu buta, wus jamak lumrahe wong takon ing dedalan ganti tinakon?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yen tambuh marang aku putra nata ing Pancalaradya, dewi Wara Srikandi kang dadi sesilihku buta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We…lha, dasar buta ora tata, bareng nyumurupi yen sejatine aku wara Srikandi, kowe kok banjur ndeprok ana pangarepanku, ana apa….ana apa….?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We…ladalah, teka-teka kok arep mboyong Wara Srikandi, rumangsamu apa ta aku iki,? Heh….Buta! Aku ora sudi dipundhut garwa ratu gustimu!    Ait… lha dalah, hanyah...hanyah…hanyah… sugih kendel bandha wani, ana wanodya ijen tanpa rowang manjing jroning wana wasa, keparat… tandangmu cukat trengginas trampil. Yooooh… aja mati tanpa aran, ngendi omahmu? Ngakua…Ngakua..ya, nduk…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ait…Babo-babo keparat, ditakoni during semaur malah nyandhak dangka lan praceka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ait…Ladalah, lumuh kasor basamu, yoooh…., yen tambuh marang aku, saka Paranggubarja, abdine Prabu Jungkungmardeya, Dityakalasuksara aku, balik kowe sapa hey….nduk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waduh…waduh…mugi tinebihna saking siku denda mboten kanyana-kanyana kula saget pinangge kaliyan paduka gusti kula Wara Srikandi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mugi andadosaken ing kawuningan gusti, tebih saking Paranggubarja, kula kautus ngupadi lan mboyong paduka, minangka dados garwa prameswari gusti kula prabu Jungkungmardeya, kula nok nok non….      &lt;br /&gt;
7    Ada-ada jugag laras pelog pathet nem    Weladalah, during ngerti kridane Wara Srikandi ya? Ora minggat ! Ketiban astaku sumyur kwandamu kelakon kowe buta!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ait Ladalah iblis laknat pada jeg- jegan, mangertiya yen aku kaparingan purba lan wasesa ora gelem dak boyong sarana aris bakal dak rudha paripeksa kowe nduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wait…kelakon dak rangket dadi bandan kowe nduuuuk…..      &lt;br /&gt;
8    Kumuda laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
Tawing kanan kiri, tanjak menthang, endo kanan kiri, tangkis, napuk, jengkeng, nangkis, kebyok kanan, berdiri lumaksana 3x, ngglebag hoyog endo kanan kiri, muter endo, endo, tangkis, mbondho, menthang kengser, endo jengkeng pukul, muter menthang sampur kanan, seblak, srisig mojok depan kanan, lumaksana 3 kali, endo 2 kali, puter seblak, hoyog-hoyogan, tangkis pukul diputar, lenggut,mundur, srisig ngoyak, ngglebag, srisig pojok depan, jengkeng tawing kanan kiri, ambil sampur kebyok kebyak berdiri, mundur, menthang kanan, endo srisig maju, puter menthang kanan, ngayang tampar 3 kali, jengkeng, pukul gendewa ngglebag, kebyok sampur kenser, kebyak puter.    Nyerang 3 kali, puter ngancap,ambruk,jengkeng, capengan, berdiri tanjak kiri, capengan, puter jengkeng, berdiri ngelit, ngancap 3 kali ngoyak, nyerang, ngancap 2 kali, mundur, puter ngancap, nyerang 3 kali pukul tangkis, mbanda tangan ngancap, ngelit, ngancap, lumaksana tranjal jengkeng berdiri tanjak usap brengos 2 kali, nyerang 2 kali, endo 2 kali, nyerang 2 kali, tangkis puter, jengkeng, serang bawah ngelit, ceklekan, puter nyerang ditampar 3 kali, ambruk, berdiri puter ambruk, putar jengkeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9    Sampak laras pelog  pathet nem.    Jalan ke depan, ngglebag, menthang, kanan kenser endo kanan kiri tangkis diputar, menthang erek-erekan endo puter, ngancap 2 kali, tangkis, pukul,endo jengkeng, tangkis, ngancap, endo jengkeng, srisig, seblak, endo, puter jengkeng seblak, tangkis, plintir,srisig, endo, srisig, kaget, endo 3 kali, tangkis putar, tangkis 3 kali, ngglebak ambil nyenyep, endo, srisig, menthang gendewa, endo 2 kali, endo ngglebak, kengser, jengkeng manah, tawing, srisig keluar.&lt;br /&gt;
Ambil keris, tanjak, ceklekan putar, jengkeng, ngelit nyerang 3 kali putar, hoyog, onclang tusuk satu kali, erek-erekan, putar tusuk, tangkis tusuk, tebas atas, tusuk atas, tanjak sawego, lumaksana satu kali, tusuk bawah, tanjak, kelit, tusuk lempeng, tebas, diseblak, putar, tusuk atas, tangkis onclang, nyegat, tanjak sawego, tusuk bawah 2 kali, tusuk atas, tangkis puter, tusuk atas, tangkis putar, jengkeng tusuk, berdiri putar, tanjak, ngancap, tanjak, ngece, tusuk bawah, tanjak,  onclang, tanjak sawego putar tusuk 2 kali, putar, dipanah srisig keluar.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IRINGAN TARI SRIKANDHI CAKIL&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Ada-adaSrambahan, laras slendro pathet Sanga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2    2    2    2    2    2    21    12&lt;br /&gt;
Dha    sar    wa    no    dya    tam    ta    ma&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1    1    1    1    1    165    5    2&lt;br /&gt;
De-    wi    Wa-    ra    Sri-    kan-    dhi,    O..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1    1    1    1    1    165    5&lt;br /&gt;
Sa-    yek-    ti    trah    pra-    ju-    rit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1    1    1    1    1    1    1    61&lt;br /&gt;
Kro-    dha-    nya    hang-    ge-    gi-    ris-    i&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2    2    2    2    2    2    16    6,    1&lt;br /&gt;
Lim-    pat    o-    lah-    ing    san-    ja-    ta    O..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Srepeg Laras Pelog Pathet Nem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BK:                        5&lt;br /&gt;
[:    6  5  6  5    2  3  2  1&lt;br /&gt;
2  1  2  1    3  2  3  2    5  6  5  6&lt;br /&gt;
5  6  5  6    2  1  2  1    3  5  6  5&lt;br /&gt;
6  5  6  5    3  2  1  2&lt;br /&gt;
3  2  3  2    3  5  6  5    :]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Tepleg, Ketawang Laras Pelog Pathtet Nem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BK:                    .   .   .   5&lt;br /&gt;
2  1  2  .    2  1  6  5    2  6  2  1    6  5  3  5&lt;br /&gt;
Lik    2  1  2  .    2  1  6  5    2  6  2  1    6  5  3  5&lt;br /&gt;
.   .   i   .    2  6  1  2    .   2  1  6    2  1  6  5&lt;br /&gt;
.   .   5  6    1  6  5  2    3  5  3  2    1  6  3  5&lt;br /&gt;
2  2   .   .    2  2  3  5    2  6  2  1    6  5  3  5&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~  Srepeg, laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
~ Pathetan sanga jugag laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
~ Ada-ada jugag, laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
~ Kumuda, laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
BK:                                                                                      6&lt;br /&gt;
[:         2  6  2  6           2  6  2  6         3  3  2  3       2  1  2  1       6  5  4  5&lt;br /&gt;
4  2   4  5           4  2  4  5        3  2  1  2       3  2  1  6  :]&lt;br /&gt;
~ Sampak, laras pelog pathet nem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BK:                5&lt;br /&gt;
[:    5  5  5  5    1  1  1  1&lt;br /&gt;
1  1  1  1    2  2  2  2    6  6  6  6&lt;br /&gt;
6  6  6  6    1  1  1  1    5  5  5  5&lt;br /&gt;
5  5  5  5    2  2  2  2&lt;br /&gt;
2  2  2  2    5  5  5  5    :]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2008/11/tari-srikandhi-cakil-tari-srikandhi.html</link><thr:total>1</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-4127527803431089815</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 15:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:46:50.302-08:00</atom:updated><title>kesenian rakyat gatholoco</title><description>&lt;div style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;Kesenian Gatholoco di Ds. Ngantunan, Desa Sonorejo,&lt;br /&gt;
Kecamatan Candimulya Kabupaten Magelang&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ASAL KATA GATHALOCO&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•    Gatholoco     =         Gathuk dan Lucu&lt;br /&gt;
•    Gathuk berarti kata-kata yang digathukkan atau disambung.&lt;br /&gt;
•    Lucu mengandung makna bahwa padanan kata yang disambung tersebut memiliki makna atau dapat disebut pitutur/nasehat.&lt;br /&gt;
•   &lt;br /&gt;
SEJARAH KESENIAN GATHALOCO&lt;br /&gt;
Sudah berlangsung selama 3 generasi.Dimulai sekitar tahun 1970, 1980-1990, hidup kembali pada tahun 2006.&lt;br /&gt;
Pertama kali diciptakan oleh Mbah Sidiq seorang tokoh masyarakat dan tokoh agam yang cukup disegani. Pada tahun 2006 dihidupkan kembali oleh Bapak Midin sebagai generasi yang ketiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu Gathaloco ?&lt;br /&gt;
Iringan yang digunakan berupa rebana 3 buah, 1 bedug, dan 1 trunthung (bedug kecil)&lt;br /&gt;
Vocal sangat mendominasi syairnya berupa nasehat-nasehat berbahasa jawa.&lt;br /&gt;
Gathaloco dimainkan oleh minimal 20 penari laki-laki. Jumlah penari harus kelipatan 4 karena berpasang-pasangan.&lt;br /&gt;
Penyanyi bertindak sebagai guru dan penari bertindak sebagai murid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum dan properti penari&lt;br /&gt;
Lancur ayam (Cunduk berbulu ayam)&lt;br /&gt;
Kalung kembang&lt;br /&gt;
Kacamata&lt;br /&gt;
Rompi merah dan Baju putih&lt;br /&gt;
Sarung tangan&lt;br /&gt;
Kipas&lt;br /&gt;
Kaos kaki warna merah&lt;br /&gt;
Rias wajah menggunakan rias wajah seorang prajurit / laki-laki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nilai yang terkandung dalam kesenian Gathaloco&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nilai Religius&lt;br /&gt;
Kesenian Gathaloco bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar diberi keselamatan dalam melaksanakan hajatan.&lt;br /&gt;
Nilai Moral&lt;br /&gt;
Kesenian Gathaloco ini mengandung nasehat serta petuah bagi pemainnya maupun penonton. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan Kesenian Gathaloco&lt;br /&gt;
Dahulu setiap akan pementasan menggunakan sesaji, sekarang tidak menggunakan sesaji dan hanya untuk hiburan saja&lt;br /&gt;
Peminat kesenian gathaloco sekarang semakin berkurang dikarenakan masyarakat lebih menyukai kesenian yang terkesan ramai dan meriah.</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2008/11/kesenian-rakyat-gatholoco.html</link><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-3893295209748986687</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 14:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-20T07:00:45.775-08:00</atom:updated><title>Kesenian Rakyat</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;KIRAB BUDAYA DAN PENTAS SENI TRADISIONAL DESA LENCOH KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional warga desa Lencoh mengadakan acara dengan mengusung tema Kirab Budaya dan Pentas Seni Tradisional. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2008 dimulai mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB. Jalannya acara dimulai dengan Prosesi Kirab budaya sejauh kurang lebih 1 km dari pusat kota Selo menuju Joglo Mandala dengan membawa sesaji berupa Gunungan sega golong dan Rasulan adat Lencoh yang diikuti oleh seluruh peserta. Setelah upacara sesajen, tampil kurang lebih sepuluh ragam kesenian rakyat yang berada di desa Lencoh diantaranya adalah kesenian Kuda Lumping, Soreng, Kudo Suro Dilogo, Kuda Wiyono Handayani, Buto Birowo, Topeng Ireng, Reog Campur Bawur dan Kesenian Tanen yang menjadi ciri khas daerah Lencoh sebagai wilayah agraris. Dalam acara ini menghadirkan  Muspida, jajaran instansi terkait seperti Disparbud Kabupaten Boyolali, para pejabat sipil lingkungan setempat dan partisipasi dari ISI Surakarta.&lt;br /&gt;Kirab budaya dan Pentas Seni Tradisional Desa Lencoh Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali ini nantinya direncanakan akan menjadi agenda tahunan desa Lencoh demi menghidupkan kegiatan pariwisata daerah Lencoh, tidak hanya wisata alam akan tetapi juga wisata budaya. Selain itu juga menjadi wadah untuk membangkitkan semangat yang telah dicetuskan oleh BUDI UTOMO yaitu dengan semangat Kebangkitan Nasional . Dengan semangat Kebangkitan Nasional maka pemerintah Desa Lencoh dan Paguyuban budaya Setyo Budaya mengajak untuk menanamkan semangat kebangsaan tersebut lewat budaya untuk mendukung sektor pariwisata yang selama ini baru mulai tertata. Desa Lencoh merupakan tempat pencanangan Desa Eko Wisata oleh Presiden Megawati Sukarnoputri dan juga Selo merupakan jalur yang menghubungkan dengan Borobodur. Desa Lencoh yang mana belum mengalami kemajuan, untuk itu mohon kiranya pemerintah Kabupaten Boyolali dan para pihak untuk mewujudkan harapan Selo menjadi andalan pariwisata di Kabupaten Boyolali serta mampu melestarikan seni rakyat serta nilai-nilai budaya. Mohon doa restu Desa Lencoh dan Paguyuban Setyo Budaya agar dapat berkembang dengan baik. Demikian pidato yang disampaikan oleh kepala desa Lencoh dalam pidato pembukaan. &lt;br /&gt;Sementara itu menurut pidato yang disampaikan oleh Camat Selo mengatakan dalam kirab budaya tersebut diharapkan Selo menjadi sebagian dari wilayah kabupaten Boyolali yang mewakili dalam hal wisata budayanya. Di lain pihak dalam sambutan Bupati Boyolali yang diwaliki oleh kepala dinas Pariwisata Mangharapkan dengan diadakannya acara ini dapat dijadikan langkah awal yang baik untuk melestarikan kesenian rakyat sekaligus sebagai sarana komunikasi seni untuk lebih dapat berkreasi. Dengan demikian acara ini menjadi kontribusi yang berguna untuk dijadikan sebagai keputusan dan kebijakan pemerintah daerah dalam rangka pengembangan kesenian di Kabupaten Boyolali.&lt;br /&gt;Menurut keterangan dari Bagyo Hari Utama selaku sekretaris dari acara Kirab Budaya ini mengatakan bahwa  Acara ini baru terselenggara pertama kali tujuan dari acara ini sendiri anatara lain untuk mempererat hubungan antar kelompok kesenian di Desa Lencoh yang satu dengan yang lainnya, untuk kemajuan Desa Lencoh sendiri dalam hal wisata Budaya serta mengantisipasi kesenian lain yang masuk ke desa Lencoh.  Terselenggaranya acara ini karena adanya dana swadaya dari masyarakat setempat yang diperoleh dari iuran para kepala keluaraga di Desa Lencoh serta iuran dari masing-masing kelompok kesenian.  Dana untuk pelaksanaan acara ini juga diperoleh dari pihak Sponsor yaitu Dealer sepeda Motor Timbul Jaya dan Indosat. Timbal balik yang diberikan untuk Sponsor yaitu sponsor menjual produk-produknya di sekitar tempat dimana acara kirab budaya dan pentas seni tradisional ini berlangsung.&lt;br /&gt;.    Dari keterangan yang diperoleh bahwa Pemerintah Daerah tidak memberikan bantuan dana dalam acara ini dengan alasan karena anggaran dana hanya dikeluarkan untuk acara lingkup Kabupaten saja karena acara ini diselenggarakan  dalam lingkup desa maka tidak adanya anggaran dana dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan acara ini. Pemerintah Daerah setempat hanya memberikan uang pembinaan yang diserahkan pada saat acara ini berlangsung dan disaksikan oleh semua yang hadir. Selain uang pembinaan semua kelompok kesenian yang mengisi acara ini mendapatkan piagam pengesahan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali yang menyebutkan bahwa kesenian tersebut telah diakui oleh Dinas Pariwisata.Kabupaten Boyolali.&lt;br /&gt;Peran  ISI Surakarta adalah sebagai pendamping dimana dari pihak ISI dalam setiap minggunya mengadakan peninjauan,  pembenahan dan masukan-masukan pada tiap-tiap kelompok kesenian yang ada di desa Lencoh.&lt;br /&gt;Wawancara kepada ketua salah satu kelompok kesenian yaitu bapak Siswoyo selaku ketua kesenian  Kudo Suro Dilogo mengatakan bahwa Beliau dengan keseniannya mengikuti acara ini tanpa adanya undangan dengan alasan karena adanya kesadara sendiri mereka ingin keseniannya terkenal. Pakaian yang mereka kenakan mereka beli dari luar daerah  atas dana swadaya dari iuran kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Acara kirab budaya dan pentas kesenian di desa Lencoh memiliki tujuan antara lain&lt;br /&gt;Untuk mempererat hubungan antar kelompok kesenian di Desa Lencoh yang satu dengan yang lainnya,&lt;br /&gt;Untuk kemajuan Desa Lencoh sendiri dalam hal wisata Budaya Mengantisipasi kesenian lain yang masuk ke desa Lencoh. &lt;br /&gt;Kirab budaya dan Pentas Seni Tradisional Desa Lencoh Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali ini nantinya direncanakan akan menjadi agenda tahunan desa Lencoh demi menghidupkan kegiatan pariwisata daerah Lencoh, tidak hanya wisata alam akan tetapi juga wisata budaya.&lt;br /&gt;Terselenggaranya acara ini karena adanya dana swadaya dari masyarakat setempat yang diperoleh dari iuran para kepala keluaraga di Desa Lencoh serta iuran dari masing-masing kelompok kesenian dan dari pihak sponsor. Kesadaran tiap-tiap kelompok kesenian dikarenakan mereka ingin keseniannya dikenal dan diakui oleh pemerintah Daerah yaitu dengan diberikannya piagam penghargaan.. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2008/11/kesenian-rakyat.html</link><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-7422264432826179301</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 14:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:47:29.264-08:00</atom:updated><title>kesenian rakyat kabupaten banjarnegara</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;KESENIAN JEPIN Di DESA KARANGTENGAH KECAMATAN BATUR KABUPATEN BANJARNEGARA&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Sebuah Kajian Sosial dan Budaya)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;
Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa tengah yang memiliki berbagai macam kesenian tradisional. Di Kabupaten Banjarnegara tumbuh dan berkembang kesenian rakyat yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya antara lain, Ebeg, Lengger, Aplang, Kuntulan, Jepin, Topeng lengger dan kesenian lainnya yang belum dikenal oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;
Kesenian Jepin sendiri merupakan salah satu kesenian yang mempunyai makna tersendiri bagi warga Kabupaten Banjarnegara pada umumnya serta masyarakat di Kecamatan Batur pada khususnya. Hal ini dikarenakan Kesenian Jepin adalah kesenian yang hanya ada dan hanya berkembang di Kecamatan Batur sementara kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Banjarnegara tidak berkembang kesenian Jepin tersebut. Masyarakat setempat sampai saat ini masih melestarikan kesenian Jepin ini. Hal ini terlihat dari banyaknya generasi muda di Desa Karangtengah yang masih mau mempelajari kesenian Jepin.&lt;br /&gt;
Menurut sejarahnya kesenian Jepin yang bernafaskan Islam ini telah muncul sejak adanya penjajahan Jepang yang menjajah di Banjarnegara. Kesenian ini awalnya diberi nama Rodad dan Cimoi, karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin. Dalam bukunya Clifford Geertz menyatakan  bahwa:&lt;br /&gt;
Pemerintah Jepang memberi baju seragam khusus, pada umumnya Jepang memang mengangkat kalangan santri di atas penduduk lainnya dan lebih menyukai mereka ini. Para santri dipanggil ke Jakarta untuk dilatih atau dikirim ke Bragang (sebagai sukarelawan) untuk menjadi Kamikaze dimana mereka belajar “berani mati”. Jaman Jepang adalah jaman yang paling sulit rakyat makan daun-daunan dan hampir- hampir tidak bias berpakaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesenian Jepin dan Zapin memiliki kesamaan antara lain dalam hal unsur-unsur gerak dari kesenian Jepin dan Zapin yang keduanya sama-sama menggunakan langkah kaki serta busana yang dikenakan hampir sama. Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam  barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.&lt;br /&gt;
Jepin berasal dari kata Je dan Pin yang dapat diartikan Je berarti Jaman  Pin berarti pindahan, Je berarti jaman Pin  penjajahan, dan  Je berarti jaman-&lt;br /&gt;
Pin berarti dijajah Jepang.&lt;br /&gt;
Dilihat dari sajian kesenian Jepin menggambarkan olah kanuragan Beladiri pada waktu jaman serdadu Jepang. Gerakan-gerakan yang digunakan adalah gerakan dasar pencak silat pada jaman dulu, serta dari pola lantainya menampakkan pejuang yang sedang baris- berbaris. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Mujirno bahwa kesenian Jepin gerakannya adalah gerak dasar pencak silat yang terdiri dari 20 jurus. Dalam penelitian Bapak Tubagus Mulyadi menyebutkan bahwa&lt;br /&gt;
Peranan pencak silat unsur seni hampir semua ragamnya kebanyakan berbentuk tari (Ibing pencak) yang sama sekali tidak mirip sebagai Pencak silat olahraga maupun pencak silat beladiri. Akan tetapi para penari pencak tersebut dapat pula melakukan gerak beladiri secara cepat, disamping itu gerakan-gerakan yang ada pada tari pencak akan terlihat pula bentuk-bentuk serangan, tangkisan maupun hindaran yang terjalin sedemikian rupa sambil mengikuti irama (musik) pengiringnya. Irama pengiring gerak dalam Pencak silat ini biasanya lagu-lagu daerah atau lagu-lagu gambus yang bersifat keagamaan, iramanya ada yang cepat dan ada yang lambat disesuaikan dengan gerak, langkah dari tari pencak silat yang dipertunjukkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesenian Jepin ini diiringi Terbang dan Bedug hal ini memungkinkan adanya pengaruh Islam yang ada di masyarakat Batur. Karena Kesenian Jepin ini diberi nama Rodad sehingga alat musik yang digunakan pada kesenian Jepin ini sama seperti alat musik yang digunakan pada kesenian Rodad saat ini. Rodad adalah sejenis tarian yang mempergunakan instumen yang lazim bagi kesenian&lt;br /&gt;
Islam yaitu Jedhor dan Terbang&lt;br /&gt;
Selain itu mantra-mantra yang menyebabkan pemain mengalami keserupan mengisyaratkan bahwa masyarakat Batur masih mempercayai adanya kepercayaan Animisme disamping mereka menganut agama Islam. Kesenian Jepin ini menyerupai kesenian Debus di Jawa barat menurut sejarah menceritakan bahwa&lt;br /&gt;
Dalam karya Dr. Hidding tentang agama di kalangan orang Sunda terdapat uraian tentang pertunjukkan “Debus” sebagai berikut :&lt;br /&gt;
“ Debus yang dulu banyak dipertunjukkan di pesantren berasal dari agama Islam. Disini didemonstrasikan bagaimana orang dalam keadaan khusuk dapat menjadi kebal. Keadaan khusuk itu timbul, karena pemimpinnya yaitu dalang yang bersembunyi di belakang tirai memanggil arwah Seh Abdul Kadir Jilani dengan melakukan konsentrasi. Para murid dalang dapat saling melukai, maupun dirinya sendiri, bahkan kadang-kadang penontonnya juga, tetapi mereka dapat segera sembuh. Sementara para pengikut duduk mengelilingi dalang dan dibakarnya kemenyan, dalang terus menerus melakukan dzikir sampai ia berseru: Hadir, Hadir! Dan memberi tanda bahwa roh yang dipanggil telah datang, sehingga pertunjukkan dapat dimulai dengan iringan musik “Terbang”. Para murid yang telah mempersiapkan diri dengan melakukan konsentrasi dan beserta dalang sudah menyucikan diri membuat beberapa langkah sampai menjadi pertunjukkan tarian yang sebenarnya hingga dalng memberi tanda bahwa arwah Abdul Kadir telah pergi.&lt;br /&gt;
Uraian ini menunjukkan bahwa datangnya Arwah Seh Abdul Kadir menyebabkan berhasilnya pertunjukkan. Mantra-mantra di atas hampir menyerupai mantra-mantra yang diucapkan dukun ketika akan menghadirkan&lt;br /&gt;
arwah agar pemain Jepin mengalami kesurupan.&lt;br /&gt;
Fungsi kesenian Jepin ini dalam masyarakat adalah sebagai hiburan. Kesenian ini biasanya dipentaskan pada HUT RI hal ini dikarenakan makna dalam kesenian ini adalah menunjukkan perjuangan rakyat Indonesia dengan sekuat tenaga untuk berjuang melawan penjajahan Jepang yang telah merampas baju kesenian sebelum kesenian Jepin muncul serta keinginan rakyat Indonesia untuk terbebas dari penjajahan Jepang sehingga mereka belajar beladiri agar dapat melawan Jepang.  Setelah penjajah Jepang meninggalkan Indonesia maka kesenian Jepin tersebut menjadi hiburan bagi masyarakat daerah Desa Karangtengah  karena kemenangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Jepang.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2008/11/kesenian-rakyat-kabupaten-banjarnegara.html</link><thr:total>0</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5547967485735764871.post-7988753280780176194</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 14:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-22T13:48:35.549-08:00</atom:updated><title>tari retno pamudya</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;TARI RETNO PAMUDYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber cerita Tari Retno Pamudya adalah menceritakan kepahlawanan Srikandi dalam menghadapi Bisma. Dalam ciptaan tari Retno Pamudya ini. R.T Koesumokesowo menampilkan sosok seorang putri yang terampil memainkan senjata berupa cundrik dan panah dengan lincah, cukat dan trengginas. Namun tidak lepas dari kodratnya sebagai wanita yang masih memperlihatkan kelembutan, kehalusan, dan kesabaran. Tari Retno Pamudya dibagi menjadi 4 bagian yaitu Maju Beksan, Beksan dan Mundur Beksan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada bagian Maju Beksan menggambarkan bentuk semedi agar dalam menjalankan tugas berperang melawan Bisma mendapatkan suatu kemenangan serta keteguhan hati sosok Srikandi dalam berperang melawan pamannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian Beksan Tari Retno Pamudya menggambarkan tokoh Srikandi sebagai tokoh wanita yang masih mempunyai kelembutan, kehalusan, serta kesabaran sebagai kodratnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian perangan menampilkan gerak-gerak lincah, cukat trengginas serta ketrampilan dalam memainkan senjata yang berupa panah dan cundrik. Dalam beksan perangan ini tokoh Bisma tidak ditampilkan. Besar kemungkinan karena R.T. Koesumokesowo tidak sedang menggarap tari silang jenis antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian akhir Tari Retno Pamudya berupa mundur Beksan yang berisi sekaran-sekaran srisikan yang dilanjutkan Jengkeng Sembahan. Pada Bagian mundur beksan ini mengandung maksud bahwa setelah mengakhiri sebuah pekerjaan tidaklah luput dari doa yang dipanjatkan    &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IRINGAN GERAK TARI RETNO PAMUDYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gendhing  Kandha Manyura, Ldr, Sl, Myr&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1     . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngelik   . 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DESKRIPSI GERAK&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maju beksan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1     . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Srisig 1 putaran, gejug kiri, seblak sampur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 6        . 5 . 3       . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
lumaksono 7×&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Debeg gejug kiri, kipat srisig pojok kiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1       . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
srisig pojok kiri, gejug kanan tawing gendewo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1       . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ogek lambung 2×  tawing gendewa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpindahan laya menjadi lambat (sirep)&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 6        . 5 . 3       . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
Enjer mundur 7x&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1       . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
kipat srisig pojok kanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Srisig, gejug kanan tawing gendewo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ogek lambung 2× Ngglebag kiri tawing kanan&lt;br /&gt;
Perpindahan laya (sirep)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
enjer mundur 7x&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
kipat srisig putar kanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Srisig, kipat srisig&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
buang sampur Sindhet,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
ambil sampur debeg gejug kiri maju,&lt;br /&gt;
2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
debeg gejug kanan, jengkeng&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
perpindahan laya&lt;br /&gt;
5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1          . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
cul ( lepas) sampur gedheg,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irama dadi&lt;br /&gt;
Ngelik   . 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
seleh gendewo, ngampyuk, ngembat 2×, ngampyuk seblak kayang gedheg ukel kembar lenggut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beksan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ambil gendewo Berdiri sindhet,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
lembeyan separo&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
engkyek 3x,&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
golek iwak 2x,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Ngembat kipat srisig&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
maju mancat kiri tawing gendewo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ogek lambung 3x,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ngglebag kiri tawing kanan ogek lambung 2x, ngembat kanan kengsermundar putar kiri sindhet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpindahan Irama seseg&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Kengseran kanan kiri 3x, buang sampur sindhet,&lt;br /&gt;
Perpindahan laya (sirep)&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
lembeyan wutuh,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ngembat sampur kipat srisig mojok kanan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
kipat srisig ngglebag kiri mojok kiri, kipat srisig ngglebag kanan hadap depan cul ( lepas) sampur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpindahan Irama Seseg&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Sindhet ukel karno ambil nyenyep, gejug kanan tawing gendewo gedheg, debeg gejug kanan ngglebag kanan ngembat tangan kanan, maju kiri menthang gendewo,&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
gedheg, kengser kanan, jengkeng manah,&lt;br /&gt;
Perpindahan laya (sirep)&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
tawing gendewo, berdiri hadap depan mangklung, maju kanan gejug kiri songgo nompo, gedheg ngglebag kiri, ngembat kiri kengser kayang ngglebag hadap depan seblak,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6      . 5 . 6      . 2 . 1     . 6 . 5&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 2 . 1      . 2 .6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
. 5 . 3      . 5 . 6      . 5 . 3      . 5 . 6&lt;br /&gt;
. 3 . 2      . 5 . 3      . 1 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
engkyek 3 1/2 x, ogek lambung, debeg gejug kanan, sindhet&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mundur Beksan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpindahan laya seseg&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3    . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1     . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
Ambil sampur maju kiri jengkeng, cul sampur, seleh gendewo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3    . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1     . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
ngampyuk seblak kayang, cul sampur, sembahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. 5 . 6    . 5 . 3     . 5 . 3      . 2 . 1&lt;br /&gt;
. 2 . 3    . 2 . 1     . 2 . 6      . 5 . 3&lt;br /&gt;
gedheg , ambil gendewo, kipat srisig keluar.</description><link>http://dance-indonesiandance.blogspot.com/2008/11/tari-retno-pamudya.html</link><thr:total>5</thr:total><author>noreply@blogger.com (welcome)</author></item></channel></rss>