<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jamil Azzaini</title>
	<atom:link href="https://www.jamilazzaini.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.jamilazzaini.com</link>
	<description>Berkomitmen mewujudkan peradaban SuksesMulia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Jun 2024 04:56:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2018/01/favicon.png</url>
	<title>Jamil Azzaini</title>
	<link>https://www.jamilazzaini.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hidup itu Digerakkan Oleh Greatness</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/hidup-itu-digerakkan-oleh-greatness/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/hidup-itu-digerakkan-oleh-greatness/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 02:02:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<category><![CDATA[Spritual]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Impian Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Tahfidz]]></category>
		<category><![CDATA[tahfidz]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=20835</guid>

					<description><![CDATA[Tanpa disadari, Greatness, itu menggerakkan kita. Pagi ini, saya merenungi perjalanan hidup saya sejak awal tahun 2000, ternyata apa yang saya lakukan semua didorong oleh Greatness saya: Menginspirasi dan mengkader Leader, Trainer dan Entrepreneur yang berkarakter SuksesMulia dalam naungan Sang Maha Kekasih. Tahun 2003, bergabung dengan Kubik Leadership, berkomitmen untuk melahirkan para Leader di berbagai perusahaan. Alhamdulillah telah lahir banyak pemimpin hebat di berbagai BUMN maupun perusahaan swasta yang menjadi client kami. 10 tahun kemudian (2013) kami mengembangkan Tahfizh Leadership yang berkomitmen melahirkan Leader yang dijiwai Al-Quran. Alhamdulillah, sekarang sudah angkatan ke 11, sedang penerimaan santri, silakan bila ada yang mau daftar. Info ada di www.TahfizhLeadership. Tahun 2009, saya mendirikan Akademi Trainer untuk melahirkan para Trainer yang berkarakter SuksesMulia. Alhamdulillah, kini telah bermunculan Trainer-Trainer alumni AT yang mewarnai pengembangan SDM di Indonesia. Bukan hanya menjadi pembicara nasional, banyak juga yang sudah menginspirasi keliling dunia. Tahun 2023, saya mendirikan Akademi Entrepreneur, berkomitmen melahirkan para Miliarder yang juga berkarakter SuksesMulia. Alhamdulillah, meski belum satu tahun telah melahirkan 21 miliarder baru. Saya sangat yakin, atas izin Allah, segera lahir banyak miliarder baru yang mewarnai Indonesia. Bila ingin bergabung silakan kontak mas Naufal : 0857 72175078 Bukan hanya itu, saat kita beraktivitas bersama pihak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tanpa disadari, Greatness, itu menggerakkan kita. Pagi ini, saya merenungi perjalanan hidup saya sejak awal tahun 2000, ternyata apa yang saya lakukan semua didorong oleh Greatness saya: Menginspirasi dan mengkader Leader, Trainer dan Entrepreneur yang berkarakter SuksesMulia dalam naungan Sang Maha Kekasih.</p>



<p>Tahun 2003, bergabung dengan Kubik Leadership, berkomitmen untuk melahirkan para Leader di berbagai perusahaan. Alhamdulillah telah lahir banyak pemimpin hebat di berbagai BUMN maupun perusahaan swasta yang menjadi client kami.</p>



<p>10 tahun kemudian (2013) kami mengembangkan Tahfizh Leadership yang berkomitmen melahirkan Leader yang dijiwai Al-Quran. Alhamdulillah, sekarang sudah angkatan ke 11, sedang penerimaan santri, silakan bila ada yang mau daftar. Info ada di <a href="http://www.TahfizhLeadership.">www.TahfizhLeadership.</a></p>



<p>Tahun 2009, saya mendirikan Akademi Trainer untuk melahirkan para Trainer yang berkarakter SuksesMulia. Alhamdulillah, kini telah bermunculan Trainer-Trainer alumni AT yang mewarnai pengembangan SDM di Indonesia. Bukan hanya menjadi pembicara nasional, banyak juga yang sudah menginspirasi keliling dunia.</p>



<p>Tahun 2023, saya mendirikan Akademi Entrepreneur, berkomitmen melahirkan para Miliarder yang juga berkarakter SuksesMulia. Alhamdulillah, meski belum satu tahun telah melahirkan 21 miliarder baru. Saya sangat yakin, atas izin Allah, segera lahir banyak miliarder baru yang mewarnai Indonesia. Bila ingin bergabung silakan kontak mas Naufal : 0857 72175078</p>



<p>Bukan hanya itu, saat kita beraktivitas bersama pihak lain, kita pun digerakkan oleh Greatness kita. Bersama pensiunan PLN saya pernah mendirikan Pesantren Wirausaha dan juga pernah menjadi pembina di Komunitas Tangan Di Atas (komunitas pengusaha). Bersama Yatim Mandiri, saya pernah menginisiasi MEC : Mandiri Entrepreneur Center.</p>



<p>Begitu pun saat saya diminta membantu Himpunan Alumni IPB, (HA-IPB) saya meluncurkan program Mentoring Leader dan Juga Future Agile Leadership Program. Dan alhamdulillah dua program tersebut saat ini menjadi program unggulan di HA-IPB.</p>



<p>Ya, hidup kita digerakkan oleh Greatness kita, sangat rugi bila seseorang tidak punya Greatness. Untuk itu, Segera temukan Greatness Anda. Bolrh tahu apa Greatness Anda?</p>



<p>Salam SuksesMulia</p>



<p>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/hidup-itu-digerakkan-oleh-greatness/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pak Natsir Teman Raja Faisal</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/pak-natsir-teman-raja-faisal/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/pak-natsir-teman-raja-faisal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2024 07:40:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akademi Trainer - Pelatihan Public Speaking (0812 1331 710 )]]></category>
		<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<category><![CDATA[Spritual]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Pembaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=20134</guid>

					<description><![CDATA[(Kisah Pak Natsir yang tidak pernah diceritakan dalam sejarah) Pak Natsir begitu kita sering memanggil beliau, bukan Kyai Natsir atau Haji Natsir, sebuah nama panggilan yang biasa untuk siapa saja, panggilan sederhana yang menunjukkan kesederhanaan hidup beliau, saya mungkin termasuk generasi paling akhir dari Da&#8217;i Dewan Dakwah yang masih mendapatkan didikan langsung dari beliau walau tidak lama, sejak 1991, dan beliau meninggal Februari 1993. Saat mendengar Pak Natsir meninggal kesedihan mendalam bagi seluruh kader dan da&#8217;i dewan dakwah, saat itu sayapun langsung pergi ke kantor Dewan Dakwah Jawa Timur Jl Purwodadi dekat kuburan Mbah Ratu. Tempat di mana kader-kader dan calon Da&#8217;i Dewan Dakwah berkumpul. Sudah cukup banyak warga dewan dakwah berkumpul untuk mengkonfirmasi berita meninggalnya Pak Natsir, sayapun duduk di dekat telepon yang berfungsi sebagai faksimail, mode teknologi paling canggih pada waktu itu utk mengirim dokumen. Telepon berdering tak henti-henti menanyakan kabar meninggalnya Pak Natsir, tapi tiba-tiba telephon masuk berhenti karena ada faksimail masuk. Pelan-pelan terbaca bunyi faksimail, dari Perdana Mentri Jepang Keici Miyazawa, sayapun kaget. Wah! Perdana Mentri Jepang nampaknya telah mendengar juga berita meninggalnya Pak Natsir dan mengirimkan ucapan duka. Mulai terlihat bunyi ucapan duka dari Faksimail yang tercetak pelan tapi pasti, saya tidak sabar membaca ucapan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>(Kisah Pak Natsir yang tidak pernah diceritakan dalam sejarah)</p>



<p>Pak Natsir begitu kita sering memanggil beliau, bukan Kyai Natsir atau Haji Natsir, sebuah nama panggilan yang biasa untuk siapa saja, panggilan sederhana yang menunjukkan kesederhanaan hidup beliau, saya mungkin termasuk generasi paling akhir dari Da&#8217;i Dewan Dakwah yang masih mendapatkan didikan langsung dari beliau walau tidak lama, sejak 1991, dan beliau meninggal Februari 1993.</p>



<p>Saat mendengar Pak Natsir meninggal kesedihan mendalam bagi seluruh kader dan da&#8217;i dewan dakwah, saat itu sayapun langsung pergi ke kantor Dewan Dakwah Jawa Timur Jl Purwodadi dekat kuburan Mbah Ratu. Tempat di mana kader-kader dan calon Da&#8217;i Dewan Dakwah berkumpul.</p>



<p>Sudah cukup banyak warga dewan dakwah berkumpul untuk mengkonfirmasi berita meninggalnya Pak Natsir, sayapun duduk di dekat telepon yang berfungsi sebagai faksimail, mode teknologi paling canggih pada waktu itu utk mengirim dokumen.</p>



<p>Telepon berdering tak henti-henti menanyakan kabar meninggalnya Pak Natsir, tapi tiba-tiba telephon masuk berhenti karena ada faksimail masuk. Pelan-pelan terbaca bunyi faksimail, dari Perdana Mentri Jepang Keici Miyazawa, sayapun kaget. Wah! Perdana Mentri Jepang nampaknya telah mendengar juga berita meninggalnya Pak Natsir dan mengirimkan ucapan duka.</p>



<p>Mulai terlihat bunyi ucapan duka dari Faksimail yang tercetak pelan tapi pasti, saya tidak sabar membaca ucapan dukanya, Saya merasakan Dahsyat sekali bunyi ucapan Duka dari PM Miyazawa ini :</p>



<p><strong>Mendengar Muhammad Natsir meninggal, Serasa Jepang mendapatkan serangan Bom Atom ke 3 yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. Duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh bangsa Jepang</strong></p>



<p>Kaget sekali saya baca ucapan itu, Dahsyat sekali, cepat saya potong kertas faksimail yang lembek itu dan saya sampaikan pada ketua DDII Jatim H Tamat Anshori Ismail.</p>



<p>Pak Tamat ini ada ucapan duka cita dari PM Jepang bunyinya begini, Pak Tamat juga kaget, &#8220;Maksum kamu baca lagi,&#8221;<br>Sekali lagi saya baca dengan keras supaya semua yang berkumpul di situ mendengar.</p>



<p><strong>Mendengar Muhammad Natsir meninggal, Serasa Jepang mendapatkan serangan Bom Atom ke 3 yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh Bangsa Jepang</strong></p>



<p>Semua terdiam, saya tanya Pak Tamat, ada cerita apa, ada hubungan apa Pak Natsir dengan bangsa Jepang Pak, Pak Tamat menjawab datar, Pak Natsir kan Mantan Perdana Mentri jadi ya mungkin pernah ada hubungan diplomatik yang spesial denga Jepang, gitu saja jawab beliau tanpa tahu hubungan spesial apa yang dimaksud.</p>



<p>Saya tidak puas dengan jawaban Pak Tamat, saya tanya pada tokoh yang lebih senior dan lebih sepuh, beliau Ketua Dewan Syura Dewan Dakwah Jatim yang juga ketua MUI Jatim, beliau sebaya dan teman seperjuangan Pak Natsir, KH Misbach.</p>



<p>Kyai Misbach juga tidak bisa menjelaskan maksud di balik ucapan Dahsyat PM Miyazawa. Aneh ini dalam benak saya, ini ucapan duka yang luar biasa, dan tidak biasa, pasti ada kisah yang luar biasa.</p>



<p>Saya simpan pertanyaan itu lebih dari 10 tahun dan tidak ada satupun tokoh yang bisa menjelaskan makna ucapan itu. Sampai pada tahun 2003, saya berkenalan dengan Diplomat Jepang di Jakarta bernama Hamada San, saya sering Ngobrol dan Ngupi-ngupi bersama Hamada San, sampailah pada obrolan aktivitas saya dan lain lain.</p>



<p>Saya menceritakan bahwa saya aktif di Organisasi Dewan Dakwah yang didirikan Pak Natsir dan saya generasi terakhir kader dewan Dakwah yang pernah dididik langsung oleh Pak Natsir.</p>



<p>Tanpa saya duga tanpa saya sangka Hamada San berdiri tegak di samping saya dan lalu membungkuk-bungkuk memberi hormat, sayapun berdiri kaget, ada apa Hamada San kok sampai begitu. Setelah itu beliau duduk dan lama terdiam, sambil matanya menerawang.</p>



<p>Beliau bertanya pada saya, apakah kamu tahu nama Laksamana Maeda, &#8220;ya saya tahu.&#8221;<br>&#8220;Apakah kamu tahu namanya Nakasima San?&#8221;<br>&#8220;Wah saya tidak tahu.&#8221;<br>&#8220;Apakah kamu tahu Raja Arab Saudi Raja Faisal?&#8221;<br>&#8220;Ya saya tahu.&#8221;<br>&#8220;Beliau orang yang punya hubungan spesial dengan Pak Natsir.&#8221;</p>



<p>Hamada San adalah Diplomat Senior Jepang yang sudah puluhan tahun bertugas di Indonesia, dia sangat mencintai Indonesia salah satunya adalah karena kisah yang akan dia ceritakan pada saya itu, itulah makanya dia tidak mau pindah-pindah tugas dan tetap berada di Indonesia hingga puluhan tahun.</p>



<p>Sebelum beliau bercerita dengan beberapa bekal nama Laksamana Maeda, Nakasima ( Nakajima San), Raja Faisal dan Muhammad Natsir saya teringat peristiwa 10 tahun lampau saat Pak Natsir meninggal itu, saya ingat faksimail PM Jepang Keici Miyazawa.</p>



<p>Sebentar Hamada San, sergah saya, pada waktu Pak Natsir meninggal, saya berada di Kantor Dewan Dakwah dan saya membaca ucapan duka cita PM Jepang Miyazawa yang bunyinya begini :</p>



<p><strong>Mendengar Muhammad Natsir meninggal, Serasa Jepang mendapatkan serangan Bom Atom ke 3 yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh Bangsa Jepang</strong></p>



<p>Ada cerita apa Hamada San, hingga PM Miyazawa sampai membuat ucapan duka sedemikan dramatis dan dahsyat.</p>



<p>Hamada San semakin tajam memandang saya, lalu (meninggikan suara), &#8220;kamu baca ucapan duka cita PM Miyazawa itu? &#8220;Ya Saya baca dan saya adalah orang yang pertama membaca dari mesin faksimail.&#8221;</p>



<p>Kamu benar-benar murid Pak Natsir kalau gitu, tidak salah dan kamu tidak bohong bahwa kamu adalah murid Pak Natsir, karena tidak banyak yang tahu hingga menyimpan memori salama itu hingga 10 tahun kamu masih ingat bunyi ucapan duka cita itu.</p>



<p>Ya jawab saya, karena ada sesuatu yang belum terjawab bagi saya, ada kisah apa di balik ucapan duka cita yang dramatis itu, saya bertanya-tanya pada banyak tokoh belum ada yang bisa menjelaskan, ada kisah apa sebenarnya.</p>



<p>Itulah cerita yang hendak saya ceritakan katanya.</p>



<p>Jepang pada waktu itu mengalami situasi sulit akibat embargo minyak bumi, Industri Jepan hampir kolaps, semua industri butuh bahan bakar dari minyak bumi, tapi Jepang diembargo oleh Amerika, berbagai upaya dilakukan pemerintah Jepang untuk mendapatkan pasokan minyak bumi, tapi embargo Amerika membuat semua negara tidak ada yang berani menjual minyak ke Jepang.</p>



<p>Berbagai cara dan upaya dilakukan pemerintah Jepang untuk mendapatkan pasokan minyak bumi salah satu di antaranya adalah lobby internasional, Salah satu lobby yang dilakukan adalah lobby atas saran Laksaman Maeda.</p>



<p>Laksamana Maeda bagi bangsa Jepang dianggap pengkhianat dan tidak menjalankan perintah Kaisar Jepang, dia memberikan ruang untuk Bung Karno membuat Teks Proklamasi juga menyerahkan senjata-senjata Nippon pada para pejuang kemerdekaan.</p>



<p>Kehidupan Laksmana Maeda setelah kembali ke Jepang sangat menyedihkan dia mendapat hukuman juga dicopot dari militer serta tidak mendapatkan pensiun, kata Hamada.</p>



<p>Namun melihat kondisi Industri Japan yang hampir kolaps Laksmana Maeda memberikan usul dan nasehat pada pemerintah Jepang, dia menyarankan untuk mengirim utusan ke Indonesia.</p>



<p>Laksamana Maeda mengusulkan agar pemerintah Dai Nippon mengirim utusan ke Indonesia menemui seseorang yang sedang di penjara, namanya Muhammad Natsir, sampaikan kesulitan Jepang dan minta agar Pak Natsir bersedia melobby Raja Arab Saudi yakni Raja Faisal untuk bersedia mengirim minyak ke Jepang.</p>



<p>Sebenarnya pemerintah Jepang tidak begitu percaya dengan usulan Maeda,namun karena berbagai cara telah ditempuh dan tidak mendapatkan hasil, apapun upaya lobby yang masih bisa dilakukan ya dicoba saja.</p>



<p>Pemerintah Japan menugaskan pada orang yang namanya Nakajima San untuk menyampaikan pesan PM Japan pada Pak Natsir.</p>



<p>Menurut Hamada San misi ini sebenarnya tidak terlalu diharapkan berhasil, seseorang yang ada di dalam penjara mana bisa berbuat sesuatu, kata Hamada San.</p>



<p>Nakajima pun terbang ke Indonesia dan atas bantuan banyak pihak akhirnya Nakajima San bisa bertemu Pak Natsir di penjara, Nakajima menyampaikan pesan Pemerintah Jepang agar Pak Natsir bisa membantu Jepang mendapatkan pasokan minyak, tanpa menanggapi dan tanpa berkata apa-apa terhadap permintaan pemerintah Japan itu itu, Pak Natsir katanya cuma bertanya apakah Nakajima San membawa kertas dan pulpen, ya kata Nakajima sambil menyerahkan selembar kertas dan pulpen.</p>



<p>Lalu Pak Natsir menulis dalam kertas itu huruf arab berbahasa arab tidak panjang kurang lebih hanya setengah halaman, lalu melipatnya dan Pak Natsir sampaikan pada Nakajima untuk membawa surat ini pada Raja Arab Saudi Raja Faisal.</p>



<p>Nakajima tidak tahu itu surat apa bunyinya apa isinya, juga cuma pendek dan berhuruf dan berbahasa arab.</p>



<p>Berbekal secarik kertas dari Pak Natsir PM Japan mengabarkan pada Diplomat Japan di Arab bahwa ada utusan Pak Natsir dari Indonesia yang akan menghadap Raja Faisal.</p>



<p>PM Arab Saudi sangat menghormati Pak Natsir dan menyambut baik serta menunggu kehadiran orang Japan yang membawa pesan Pak Natsir</p>



<p>Nakajima San sampai di Arab Saudi disambut baik bak tamu negara dan dengan mudah bisa bertemu Raja Faisal dan menyerahkan surat dari Pak Natsir. Raja Faisal membaca surat Pak Natsir langsung memenuhi permintaan Pak Natsir dalam surat itu, yakni mengirim minyak ke Jepang</p>



<p>Raja Faisal mengatakan pada Nakajima. Arab Saudi akan mengirimkan minyak ke Jepang melalui Indonesia, akan diatur minyak dikirim ke Indonesia dan Pertamina yang akan mengirimkan ke Jepang begitu skemanya.</p>



<p>Nakajima terperangah hanya sepucuk surat yang dia tidak tahu isinya dari seseorang yang mendekam di penjara, Jepang akan mendapatkan pasokan minyak dari Raja Minyak Dunia, yang artinya berapapun kebutuhan Industri Jepang akan dipenuhi oleh Arab Saudi.</p>



<p>Cerita berlanjut pada realisasi pengiriman minyak dari Arab Saudi melalui Pertamina, itulah sebabnya Pertamina menjadi perusahaan yang sangat besar di Jepang, pernah menjadi pembayar pajak terbesar di Jepang, karena Pertamina menjadi pensuplai minyak bagi Industri Jepang atas jasa Pak Natsir.</p>



<p>Selanjutnya Industri Jepang bangkit berbagai industri otomotif merajai pasar dunia sebut saja Honda, Toyota, Suzuki, Mitsubishi dan lain-lain.</p>



<p>Industri Jepang bangkit atas jasa baik Pak Natsir kata Hamada. Satu hal yang membuat bangsa Japan sangat hormat pada Pak Natsir adalah, tidak ada satupun hadiah dari pemerintah Japan yang diterima Pak Natsir semua hadiah dikembalikan bahkan Pemerintah Jepang kesulitan untuk bisa memberikan imbalan jasa pada Pak Natsir.<br>Karena Pak Natsir berpesan pada keluarga untuk tidak menerima apapun dari pemerintah Jepang, dan bahkan Pak Natsir tidak pernah bercerita tentang surat itu pada siapapun di Indonesia, itulah sebabnya tidak ada tokoh Indonesia atau tokoh Dewan Dakwah yang tahu tentang kisah itu.</p>



<p>Dan itulah makanya pemerintah Japan sangat berduka yang sangat dalam, bukan hanya pemerintah tapi bangsa Jepang merasa ada ledakan Bom atom ke 3 yang di jatuhkan tepat di kota Tokyo mendengar M Natsir meninggal.</p>



<p>Itu bukan ucapan dramatis seperti kamu bilang, itulah perasaan hati kami bangsa Japan atas meninggalnya Mohammad Natsir waktu itu, kata Hamada San mengakhiri cerita, sayapun mendengarkan kisah itu tanpa sedikitpun menyela, hanya diam terpaku, mendengarkan penjelasan yang tertunda 10 tahunan itu.</p>



<p><strong>Agus Maksum</strong><br>DDII Jatim</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/pak-natsir-teman-raja-faisal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>STOP! Berpura-pura Bahagia</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/stop-berpura-pura-bahagia/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/stop-berpura-pura-bahagia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2024 02:15:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19833</guid>

					<description><![CDATA[Saya sering bertemu dengan orang-orang yang merasa bahagia padahal hatinya menderita “Saya fine-fine saja koq, saya tidak ada masalah koq, hidup saya lurus-lurus saja koq, saya selalu happy setiap hari.” Tetapi setelah saya ajak ngobrol lebih dalam ternyata orang tersebut sedang mengalami masalah yang cukup serius. Banyak dari kita, dididik untuk selalu terlihat kuat, positif, dan happy. Terutama para bapak-bapak ni. Sebagai seorang laki-laki, dari kecil biasanya diajarkan untuk tidak boleh takut, tidak boleh nangis, harus kuat. Stigma ini, akhirnya terbawa sampai dewasa. Saat ada masalah, dia berusaha menyembunyikannya dan terlihat baik-baik aja. Tapi, justru karena ini, Anda jadi tidak peka terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar. Jadi jangan salahin istrinya ya kalau dibilang,”bapak ihh, kok ga peka.” Anda, tidak akan pernah bisa peka, kalau masih bohong sama diri sendiri. Loh kok bohong sama diri sendiri? Yuk kita bedah. Ketika kita terus-menerus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, kita tidak hanya menipu orang lain, tetapi juga diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa dengan menyembunyikan perasaan negatif, kita melindungi diri kita sendiri dari rasa sakit atau kelemahan. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah kita menumpuk emosi negatif di dalam diri kita. Semakin kita menekan dan menyembunyikan perasaan tersebut, semakin besar juga tekanan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saya sering bertemu dengan orang-orang yang merasa bahagia padahal hatinya menderita “Saya fine-fine saja koq, saya tidak ada masalah koq, hidup saya lurus-lurus saja koq, saya selalu happy setiap hari.” Tetapi setelah saya ajak ngobrol lebih dalam ternyata orang tersebut sedang mengalami masalah yang cukup serius.</p>



<p>Banyak dari kita, dididik untuk selalu terlihat kuat, positif, dan happy. Terutama para bapak-bapak ni. Sebagai seorang laki-laki, dari kecil biasanya diajarkan untuk tidak boleh takut, tidak boleh nangis, harus kuat. Stigma ini, akhirnya terbawa sampai dewasa. Saat ada masalah, dia berusaha menyembunyikannya dan terlihat baik-baik aja. Tapi, justru karena ini, Anda jadi tidak peka terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar. Jadi jangan salahin istrinya ya kalau dibilang,”<em>bapak ihh, kok ga peka</em>.” Anda, tidak akan pernah bisa peka, kalau masih bohong sama diri sendiri. Loh kok bohong sama diri sendiri? Yuk kita bedah.</p>



<p>Ketika kita terus-menerus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, kita tidak hanya menipu orang lain, tetapi juga diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa dengan menyembunyikan perasaan negatif, kita melindungi diri kita sendiri dari rasa sakit atau kelemahan. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah kita menumpuk emosi negatif di dalam diri kita. Semakin kita menekan dan menyembunyikan perasaan tersebut, semakin besar juga tekanan yang kita hadapi secara mental dan emosional.</p>



<p>Jadi, tidak heran hasil penelitian <em>Lee &amp; Ashforth </em>membuktikan bagaimana semua tumpukan emosi negatif tadi, bisa mengakibatkan seseorang kecewa, marah, depresi, merasa hidupnya tidak bermakna, bahkan sulit untuk bahagia. Tidak mau dong pasti?</p>



<p>Walaupun terkadang, bohong ke diri sendiri seperti sedang memberikan sugesti yang positif ke diri kita. Tapi menurut saya, logika berpikir itu salah. Anda bukan sedang memberikan sugesti positif, melainkan menjerumuskan diri Anda sendiri.</p>



<p>Saat Anda mengatakan semua baik-baik aja, mungkin memang akan terlihat baik-baik aja. Tapi sebenarnya Anda sedang berjalan dengan beban-beban yang Anda sendiri tidak sadari. Menurut saya, logika berpikir yang lebih tepat, yaa Anda jujur dulu untuk mengakui hidup Anda sedang tidak baik-baik aja.</p>



<p>Contoh, Anda sudah kerja keras ni di tempat kerja, tapi entah kenapa perintah dari atasan Anda makin bertambah. Bahkan sebetulnya uda di luar <em>job desc.</em> Anda pasti merasa lelah dan stress dong. Tapi saat ditanya oleh teman atau keluarga, Anda dengan ceria mengatakan bahwa semuanya baik-baik aja. Karena Anda merasa kerja kan memang sudah seharusnya demikian.</p>



<p>Kalau Anda memilih untuk jujur dulu, Anda harus mengakuinya. &#8220;<em>Yaa sebenarnya, belakangan ini saya lagi agak tertekan di kerjaan. Tugas-tugasnya semakin banyak dan saya merasa sulit untuk pegang</em>,&#8221; ini bisa menjadi langkah awal dari proses menerima. Dengan mengakui perasaan tersebut, Anda memberi diri sendiri izin untuk merasa dan mencari solusi, mungkin dengan bicara ke atasan atau mencari bantuan.</p>



<p>Gini, kita sepakati dulu, jujur dengan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Dan jujur disini, bukan berarti Anda harus mengatakan setiap detil yang terjadi, melainkan Anda mau menampilkan apa yang sedang dirasa saat itu. Tapi jangan jujur yang kebablasan juga loh ya. Artinya, Anda perlu mengelolanya ketika ternyata kejujuran tersebut bisa menyakiti perasaan. Apalagi kalau sudah melibatkan orang lain. Entah itu pasangan, keluarga, rekan kerja atau atasan. Tapi, percayalah kalau Anda sudah bisa jujur ke diri Anda sendiri, hubungan Anda dengan orang sekitar pasti akan terasa lebih connected, deep, dan yang pasti terasa lebih tulus.</p>



<p>Dan ternyata studi <strong>Michael Parke</strong>, dari <em>London Business School</em>, menemukan ketika seorang karyawan merasa bisa mengekspresikan dirinya di tempat kerja, ia akan lebih produktif dan inovatif. Penasaran gimana caranya?</p>



<p>Saat Anda merasa apa yang diucapkan sepertinya membohongi diri sendiri, ingatlah untuk SADAR. Sadar disini meliputi <strong>S</strong>adari Emosi dan Pikiran, <strong>A</strong>kui Kebutuhan dan Keinginanmu, <strong>D</strong>engarkan Kata Hatimu, dan<strong> A</strong>nalisa <strong>R</strong>ealita dengan Objektif.</p>



<p><strong>Pertama huruf S yang berarti Sadari Emosi dan Pikiran</strong></p>



<p>Luangkan waktu untuk merefleksikan apa yang perasaan dan pikiran Anda katakan. Nah, disini Anda bisa membuat journaling setiap harinya. Agar Anda bisa memahami benang merah dari setiap kejadian dalam keseharian. Amati bagaimana Anda bereaksi terhadap situasi tertentu. Tanyakan pada diri sendiri: &#8220;Apa yang sebenarnya saya rasakan dan pikirkan yaa?&#8221;. Ketika Anda sadar akan emosi dan pikiran Anda, Anda dapat mulai memahami diri sendiri dengan lebih baik. Anda dapat mengetahui apa yang memicu perasaan dan pikiran tertentu, dan Anda dapat belajar bagaimana mengelolanya dengan lebih efektif.</p>



<p><strong>Kedua, A yang berarti Akui Kebutuhan dan Keinginanmu</strong></p>



<p>Terimalah bahwa Anda sebagai seorang manusia, memiliki kebutuhan dan keinginan. Dan ini sangat wajar adanya. Jadi, tidak ada salahnya mengungkapkan dengan jujur. Ketika Anda mampu mengakui kebutuhan dan keinginan Anda, Anda dapat mulai memperjuangkan apa yang terbaik untuk Anda. Anda dapat belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih efektif dan mendapatkan apa yang Anda butuhkan.</p>



<p><strong>Ketiga, D yang berarti Dengarkan Kata Hatimu</strong></p>



<p>Ketika Anda mendengarkan kata hati Anda, Anda dapat membuat keputusan yang lebih selaras dengan diri sendiri. Anda dapat mengikuti intuisi dan insting Anda, yang sering kali tahu apa yang terbaik untuk Anda.</p>



<p><strong>Keempat, AR yang berarti Analisa Realita dengan Objektif</strong></p>



<p>Ketika Anda sudah mampu mengenali apa yang Anda rasa dan pikirkan, kemudian tau apa yang menjadi kebutuhan dan kata hati. Artinya, Anda sudah bisa memahami kondisi dari diri Anda sendiri. Selanjutnya, waktunya Anda melihat realita di luar. Dengan menganalisa realita dengan objektif, Anda dapat melihat situasi dengan lebih jelas dan tanpa bias. Hal ini dapat membantu Anda untuk membuat keputusan yang lebih rasional dan tepat.</p>



<p>Ketika seseorang mau mulai jujur dengan dirinya sendiri, saya yakin ini akan terpancar di hubungan yang ia miliki baik itu dengan pasangan, rekan kerja, keluarga. Anda akan terlihat lebih otentik. Yaa bersikap apa adanya diri Anda aja. Ini akan melahirkan hubungan yang lebih <em>genuine</em>. Anda disukai, disayangi karena kepribadian yang Anda miliki. Bukan karena Anda terbiasa menyenangkan orang tersebut. Mungkin tidak mudah ya untuk memulainya. Pasti ada rasa takut, ragu, dan stigma sosial dapat menghalangi kita untuk jujur. Tapi, percayalah, setiap langkah kecil Anda, akan membawa perubahan positif. Yuk, bebaskan diri dari beban kepura-puraan dan temukan <em>the real happiness</em>.</p>



<p>Salam SuksesMulia</p>



<p>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/stop-berpura-pura-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paradox of Happiness (Semakin Dikejar, Semakin Depresi)</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/paradox-of-happiness-semakin-dikejar-semakin-depresi/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/paradox-of-happiness-semakin-dikejar-semakin-depresi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jan 2024 03:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akademi Trainer - Pelatihan Public Speaking (0812 1331 710 )]]></category>
		<category><![CDATA[anekdot]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19827</guid>

					<description><![CDATA[Tidak sedikit orang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidupnya. Kesuksesan dikejar demi&#160; mendapatkan kebahagiaan. Kerja keras, banting tulang, dapat gaji besar untuk apa? Demi bisa memiliki hal-hal yang dirasa, bisa membuat bahagia. Berlibur bahkan sampai ke negara seberang, untuk apa? Mencari pengalaman yang bisa meningkatkan kebahagiaan. Semua ditujukan untuk sebuah kondisi, bahagia.&#160; Emang ada yang salah dengan mengejar kebahagiaan? Percaya gak semakin dikejar, kebahagiaan itu justru akan semakin menjauh. Semakin Anda berfokus untuk bahagia, menjadikan bahagia sebagai goal utama. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Anda akan cenderung semakin sulit merasa bahagia. Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi Ini lah yang kondisi yang disebut dengan the Paradox of Happiness. Fenomena ini pertama kali dipelajari oleh Iris Mauss, seorang profesor dari University of California. Menurut studi dari Mauss, orang-orang yang menjadikan bahagia sebagai goal dalam hidupnya, akan sering mengecek kondisi emosionalnya. Liburan yang ditujukan untuk mendapat kebahagiaan semata, akan dipenuhi dengan ekspektasi dan rencana A, B, C. Mereka akan cenderung mengevaluasi setiap aktivitas yang berjalan dan mempertanyakan ke dirinya sendiri apa yang saat itu dirasakan. Nah, saat kenyataan tidak berjalan dengan apa yang telah diekspektasikan, akan lebih mudah bagi mereka merasa kecewa. Mereka yang terlalu berfokus pada kebahagiaan, akan cenderung membuat keputusan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tidak sedikit orang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidupnya. Kesuksesan dikejar demi&nbsp; mendapatkan kebahagiaan. Kerja keras, banting tulang, dapat gaji besar untuk apa? Demi bisa memiliki hal-hal yang dirasa, bisa membuat bahagia. Berlibur bahkan sampai ke negara seberang, untuk apa? Mencari pengalaman yang bisa meningkatkan kebahagiaan. Semua ditujukan untuk sebuah kondisi, bahagia.&nbsp;</p>



<p>Emang ada yang salah dengan mengejar kebahagiaan? Percaya gak semakin dikejar, kebahagiaan itu justru akan semakin menjauh. Semakin Anda berfokus untuk bahagia, menjadikan bahagia sebagai <em>goal </em>utama. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Anda akan cenderung semakin sulit merasa bahagia. Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi Ini lah yang kondisi yang disebut dengan <em>the Paradox of Happiness</em>.</p>



<p>Fenomena ini pertama kali dipelajari oleh Iris Mauss, seorang profesor dari <em>University of California</em>. Menurut studi dari Mauss, orang-orang yang menjadikan bahagia sebagai <em>goal </em>dalam hidupnya, akan sering mengecek kondisi emosionalnya. Liburan yang ditujukan untuk mendapat kebahagiaan semata, akan dipenuhi dengan ekspektasi dan rencana A, B, C. Mereka akan cenderung mengevaluasi setiap aktivitas yang berjalan dan mempertanyakan ke dirinya sendiri apa yang saat itu dirasakan. Nah, saat kenyataan tidak berjalan dengan apa yang telah diekspektasikan, akan lebih mudah bagi mereka merasa kecewa.</p>



<p>Mereka yang terlalu berfokus pada kebahagiaan, akan cenderung membuat keputusan yang memberikan kesenangan lebih banyak bagi dirinya. Mana yang lebih membuatnya merasa bahagia. Dan seringnya, ini berkorelasi positif dengan seberapa cepat kebahagiaan itu akan bisa didapatkannya. Maksudnya gini, orang yang fokus mengejar kebahagiaan, cenderung ingin mendapatkan kebahagiaan tersebut secepat mungkin atau bahkan bisa jadi secara instan. Seperti, saat kamu punya waktu luang. Kalau diminta pilih nonton Netflix atau membaca buku, mungkin pilihannya akan ke Netflix. Karena kebahagiaan memiliki waktu luangnya bisa langsung dirasakan.</p>



<p>Orang seringkali tidak mampu memprediksi apa yang benar-benar bisa membuatnya bahagia. Dan tidak jarang mengambil referensi kehidupan orang lain sebagai standarnya. Padahal, bisa jadi tidak sesuai dengan kemampuan/kondisi orang tersebut. Menurut Jurnal Psikologi Eksperimen, ketika seseorang cenderung berfokus untuk mengejar kebahagiaan, kemungkinan besar ia akan berfokus pada hal-hal yang belum ia miliki. Tentu, ini akan membawa orang tersebut merasa frustasi dan depresi. Terus mengejar hal-hal yang belum dimiliki tanpa tahu kapan harus berhenti. Terus berlari, tanpa tau alasan untuknya berlari.</p>



<p>Satu lagi, social media seringnya menampilkan highlight dari moment-moment membahagiakan kehidupan seseorang. Ingat, highlight. Artinya, tidak terjadi setiap hari. Karena pada kenyataannya, kehidupan tidak selamanya ada di atas. Hidup tidak selalu tentang merasa bahagia. Justru, kebahagiaan baru bisa dinikmati setelah kita merasakan pahitnya penderitaan.</p>



<p>Menurut studi Maya Tamir, PhD, seorang profesor psikologi di <em>The Hebrew University of Jerusalem.</em> orang-orang di berbagai belahan dunia cenderung merasa ingin terus-menerus merasa bahagia. Jadi tidak heran banyak yang mendasari setiap keputusannya untuk bisa terus merasa bahagia. Padahal, kenyataannya hidup ini penuh dengan lika-liku, kerikil, bahkan batu besar. Bahkan dalam satu hari, Anda mungkin bisa merasakan lebih dari sekali perasaan yang tidak menyenangkan. Dan menurut saya, disitu lah kenikmatannya. Karena bahagia sepanjang waktu itu mustahil terjadi.</p>



<p>Kenapa saya bilang nikmat? Gini deh, bayangkan Anda sedang pergi ke gurun pasir yang panas, tandus, dan membuat tenggorokan Anda kering. Setelah jauh melangkah, Anda melihat ada oasis di ujung jalan. Hijau pepohonan dan segarnya air, akan terasa lebih nikmat karena Anda baru saja merasa kepanasan dan dahaga. Pun dalam hidup yang kadang di atas, kadang di bawah. Kegiatan yang dijalani sehari-hari saja bisa terasa lebih membahagiakan setelah ujian yang membuat kita berhenti melakukannya.</p>



<p>Kebahagiaan, tidaklah selalu tentang <em>euphoria,</em> kesenangan, atau kepuasan. Bahkan, kita bisa tetap merasakan bahagia dalam sebuah penderitaan atau situasi yang tidak menyenangkan. Kalau Anda, berhasil mengambil pembelajaran dari sana dan berdamai dengan apa yang sedang terjadi pada diri Anda. Dengan demikian, Anda punya dorongan untuk mau bangkit keluar dari penderitaan.</p>



<p>Untuk merasa bahagia, tidak harus menunggu kondisi sampai sempurna sesuai dengan ekspektasi. Sebab kalau demikian, sampai mati pun kita tidak akan merasa bahagia. Kita mencintai pasangan, bukan berarti menyukai seluruh kebiasaan dan karakteristiknya. Kerjaan Anda saat ini mungkin menyenangkan, tapi rasa jenuh pasti akan hadir sesekali. Tidak ada kondisi yang benar-benar sempurna. Berdamailah dengan apa yang sedang terjadi saat ini di hidup Anda. boleh jadi sekarang Anda tidak suka, tapi nyatanya baik di masa depan.</p>



<p>Kebahagiaan sebetulnya tidak sulit dirasakan, tapi kadang pikiran kita sendiri lah yang menghalangi. Berhenti membuat ekspektasi terhadap apa yang sedang atau ingin dilakukan adalah salah satu cara menciptakan kebahagiaan. Dan sadarilah bahwa kebahagiaan Anda tidak akan sama persis dengan orang lain dan tidak perlu terus-terusan mencapai kesempurnaan atau kepuasan yang konstan. Naik turunnya mood itu wajar kok, nikmati saja semua hal kecil. Karena hal-hal kecil ini lah yang akan membawa kebahagiaan secara keseluruhan. Yuks, nikmati semua proses kehidupan, insha Allah bahagia akan menyertai kita semua.</p>



<p>Salam SuksesMulia</p>



<p>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/paradox-of-happiness-semakin-dikejar-semakin-depresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>The Royal Wedding</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/the-royal-wedding/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/the-royal-wedding/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2023 02:34:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19823</guid>

					<description><![CDATA[Pesta pernikahan crazy rich&#160;Surabaya&#160;Ryan Harris dan Gwen Ashley&#160;heboh belum lama ini. Pernikahan yang dijuluki &#8220;The Royal Wedding&#8221;&#160;itu digelar pada Sabtu, 18 November, 2023, di Grand Ballroom The Westin Hotel,&#160;Surabaya,&#160;konon menghabiskan 75 miliar rupiah. Bukan hanya karena biayanya yang fantastis, para undanganpun dimanjakan dengan souvenir&#160;seharga kurang lebih 2 juta per undangan. Pasangan yang selisih usianya ini kurang lebih 20 tahun juga tidak menerima bingkisan dari undangan yang hadir. Karena memang mempelai lelaki benar-benar crazy rich.&#160;Selain dirinya seorang pengusaha, ia juga dilahirkan dari keluarga yang kaya raya. Bagaimana dengan Anda? Berapa anggaran pesta pernikahan Anda? Setiap orang punya pilihan untuk melakukan sesuai dengan kemampuannya. Anak pertama saya meminta pesta pernikahnnya di alam terbuka di Sentul Bogor. Sementara anak kedua saya meminta di masjid Taman Mini Indonesia Indah. Sedangkan anak bungsu saya yang menikah mendahului dua kakaknya meminta menikah di Gedung pernikahan di Bogor. Menariknya, anak keempat saya, yang insha Allah menikah Januari 2024, meminta akad nikahnya di Masjidil Haram dan pesta pernikahnnya di Indonesia dilakukan sederhana saja. Anak saya berkata “Pak, berapa anggaran pesta pernikahan saya. Semuanya bapak kasih ke saya, pesta pernikahnnya saya mau sederhana saja dan kelebihan uang pemberian bapak akan saya jadikan modal kehidupan keluarga saya.”&#160;Mendengar usulan ini pun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pesta pernikahan <em>crazy rich</em>&nbsp;Surabaya&nbsp;Ryan Harris dan Gwen Ashley&nbsp;heboh belum lama ini. Pernikahan yang dijuluki <em>&#8220;The Royal Wedding&#8221;</em>&nbsp;itu digelar pada Sabtu, 18 November, 2023, di Grand Ballroom The Westin Hotel,&nbsp;Surabaya,&nbsp;konon menghabiskan 75 miliar rupiah. Bukan hanya karena biayanya yang fantastis, para undanganpun dimanjakan dengan <em>souvenir</em>&nbsp;seharga kurang lebih 2 juta per undangan. Pasangan yang selisih usianya ini kurang lebih 20 tahun juga tidak menerima bingkisan dari undangan yang hadir. Karena memang mempelai lelaki benar-benar <em>crazy rich.</em>&nbsp;Selain dirinya seorang pengusaha, ia juga dilahirkan dari keluarga yang kaya raya.</p>



<p>Bagaimana dengan Anda? Berapa anggaran pesta pernikahan Anda? Setiap orang punya pilihan untuk melakukan sesuai dengan kemampuannya. Anak pertama saya meminta pesta pernikahnnya di alam terbuka di Sentul Bogor. Sementara anak kedua saya meminta di masjid Taman Mini Indonesia Indah. Sedangkan anak bungsu saya yang menikah mendahului dua kakaknya meminta menikah di Gedung pernikahan di Bogor.</p>



<p>Menariknya, anak keempat saya, yang insha Allah menikah Januari 2024, meminta akad nikahnya di Masjidil Haram dan pesta pernikahnnya di Indonesia dilakukan sederhana saja. Anak saya berkata <em>“Pak, berapa anggaran pesta pernikahan saya. Semuanya bapak kasih ke saya, pesta pernikahnnya saya mau sederhana saja dan kelebihan uang pemberian bapak akan saya jadikan modal kehidupan keluarga saya.”</em>&nbsp;Mendengar usulan ini pun saya tertawa dan menyetujui usulan anak saya yang cerdas ini.</p>



<p>Sejatinya, pesta pernikahan itu hanya berlangsung beberapa jam. Yang perlu benar-benar disiapkan justeru kehidupan setelah pernikahan. Untuk hal ini, kita perlu merujuk kepada agama yang kita anut yang diperkuat dengan berbagai riset yang dilakukan oleh para ahli. Salah satu pakar yang sudah melakukan riset lebih dari 30 tahun adalah John M. Gottman , Ph.D.&nbsp;Ia pendiri dan direktur Seattle Marital and Family Institute dan profesor psikologi di University of Washington.</p>



<p>Gottman melakukan penelitiannya dilandasi karena sikap penasarannya tentang, bagaimana bisa ada keluarga yang dapat langgeng, dan ada pula yang tidak berhasil dalam menjalankan kehidupan berkeluarganya, atau terjadi perpisahan dalam pernikahan. Akhirnya Gottman dan timnya membuat sebuah tempat yang dinamakan “Lab Cinta” di mana mereka mempelajari pasangan (direkam, dipantau secara fisiologis, dipelajari mimik wajahnya, pilihan kata yang digunakan saat suami istri berbicara, bahasa tubuhnya dan lain sebagainya.</p>



<p>Seperti apa sich prinsip sebuah keluarga semakin Bahagia dan juga membuat anggota keluarganya bertumbuh menjadi lebih sukses? Beberapa prinsip ini mungkin bisa menjadi rujukan Anda.</p>



<p><strong><em><strong><em>Pertama, suami adalah pemimpin dalam keluarga</em></strong></em></strong>. Seseorang menjadi pemimpin karena ia memiliki banyak kelebihan. Di dalam kehidupan keluarga, suami setidaknya perlu memiliki tiga kelebihan dibandingkan istrinya. Kelebihan yang pertama berkaitan dengan nafkah atau penghasilan. Sang suami perlu mencari cara agar bisa menafkahi keluarganya dengan sempurna. Apabila mengizinkan istrinya berbisnis atau bekerja, maka sang suami juga perlu punya keyakinan disertai dengan usaha maximal agar penghasilan yang ia dapatkan melebihi penghasilan istri. Bahkan sang suami perlu berani mengatakan kepada istrinya “meski kamu punya penghasilan, seluruh biaya di keluarga ini adalah tanggungjawabku. Penghasilanmu adalah hakmu, silakan kau pergunakan untuk kebaikanmu dan membantu orang-orang yang perlu kamu bantu.”</p>



<p>Dua kelebihan suami lainnya adalah dalam urusan ilmu dan ibadah. Untuk itulah, sang suami wajib punya anggaran investasi leher ke atas agar semakin berilmu, semakin expert dan selalu <em>up to date</em>&nbsp;terhadap berbagai perkembangan yang terjadi. Dan jangan lupa, dalam urusan ibadah seyognyanya sang suami lebih taat dan lebih berlipat amal sholehnya. Insha Allah, apabila ketiga kelebihan ini ada pada diri suami maka sang suami menjadi suami yang dirindukan dan tidak tergantikan.</p>



<p><strong><em><strong><em>Kedua, memahami pasangan secara mendalam.</em></strong></em></strong>&nbsp;Masing-masing pasangan perlu berusaha memahami secara detil dan rinci siapa sejatinya pasangannya. Apa mesin kecerdasan pasangan hidup Anda. Apakah dia orang Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling atau Insting. Karena masing-masing kecerdasan itu berbeda cara pendekatannya, cara komunikasinya, cara membahagiakannya, cara memanjakannya termasuk cara menasehatinya. Masing-masing pun perlu memahami apa yang disukai, apa yang dibenci, apa yang membuat pasangan kita terkesan, apa yang membuat marah dan lain sebagainya.</p>



<p>John Gottman menyebutnya peta cinta. Semakin saling menguasai peta cinta pasangannya maka semakin mesra dan bahagia keluarga tersebut. Tentu tidak hanya sekedar tahu peta cinta Anda tetapi Anda memperlakukan pasangan Anda sesuai dengan peta cintanya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah benar-benar mengenal pasangan Anda secara mendalam? Maukah Anda menyediakan waktu untuk mengenal pasangan hidup Anda?</p>



<p><strong><em><strong><em>Ketiga, memupuk rasa suka dan kekaguman.</em></strong></em></strong>&nbsp;Kebiasaan memupuk rasa suka dan kagum itu menjadi penawar konflik. Berbagai ujicoba terhadap pasangan yang sudah mengajukan gugatan bercerai membuktikan hal tersebut. Mereka yang sudah mengajukan gugatan cerai diminta untuk mengingat hal-hal positif yang pernah dialami berdua. Mereka juga diminta untuk mengingat alasan mengapa ia suka dengan pasangannya? Apa yang membuat ia terkagum-kagum dengan pasangan hidupnya? Semua diingat dan ditulis. Dan ternyata, setelah aktivitas ini dilakukan lebih dari 90 persen pasangan tidak jadi bercerai alias rujuk kembali.</p>



<p>Maka, apabila rumah tangga ingin semakin awet, saya sangat menyarankan agar Anda menciptakan banyak moment indah dengan pasangan hidup Anda. Dimulai dari hal-hal yang tampak kecil dan sederhana. Menyuapi makan, mijitin, mandi bersama, saling menggoda dan bercanda, main tebak-tebakan dan lain sebagianya. Dan tentu, rasa suka dan kagum akan semakin kuat saat Anda menghadapi masalah bersama serta mencari solusi bersama sehingga masalahnya terpecahkan. Percayalah, kemesraan Anda akan membuncah setelah masalah terpecahkan.</p>



<p>Bagi Anda yang punya dana cukup, Anda perlu pergi ke tanah suci berdua, memberi hadiah kejutan yang bernilai besar dan juga membantu saudara-saudara dari pasangan hidup Anda. Dan tentu masih banyak hal positif yang bisa dilakukan yang membuat pasangan hidup Anda terkagum-kagum dengan Anda. Hanya saja saya mengingatkan “focus Anda memupuk rasa suka dan kagum Anda kepada pasangan Anda disertai menciptakan moment yang berkesan bagi pasangan Anda. Tanpa Anda berharap dikagumi atau dielu-elukan oleh pasangan hidup Anda.”</p>



<p>Jadi, berapapun biaya pesta pernikahan Anda. Bahkan tanpa pesta pernikahan sekalipun apabila Anda melakukan tiga hal tersebut di kehidupan rumah tangga Anda, atas izin Allah insha Allah semakin bahagia. Karena sejatinya, itulah <em>The Royal Wedding</em>&nbsp;yang sesungguhnya. Cobalah.</p>



<p>Salam SuksesMulia</p>



<p>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/the-royal-wedding/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pintar Merasa, Bukan Merasa Pintar</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/pintar-merasa-bukan-merasa-pintar/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/pintar-merasa-bukan-merasa-pintar/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2023 09:24:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19815</guid>

					<description><![CDATA[Saya dan tim saya berkesempatan menyeleksi alumni-alumni terbaik dari perguruan tinggi terbaik baik dari dalam maupun luar negeri untuk diterima sebagai karyawan di perusahaan ternama. Mereka sangat cerdas. Saat bekerja individu mereka jempolan dengan hasil yang jauh melebihi harapan. Namun saat bekerja bersama orang lain mereka kedodoran. Mereka sangat egois, bahkan menimbulkan konflik yang sangat besar. Apa penyebabnya? Ternyata, ini proses kehidupan yang panjang, secara umum, ini adalah hasil pendidikan dari rumahnya atau orang tuanya. Para orang tua seringkali berlomba-lomba untuk menjadikan anaknya sebagai seorang anak yang pintar. Mendapatkan peringkat teratas di kelas, mendapatkan sekolah unggulan, menguasai keterampilan a, b, c sampai z. Orang tua percaya, keberhasilan akademik, berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang saat sudah dewasa. Setelah itu berkuliah di kampus impian. Lalu keterima di kantor bergengsi. Nah, saat itulah orang tua merasa, sukses sudah tugasnya selama puluhan tahun. Mempersiapkan anaknya menjadi orang dewasa yang sukses. Katanya, sukses anak adalah kesuksesan orang tuanya juga. Namun, siapa sangka, saat sudah dewasa ternyata anaknya merasa kesulitan berhubungan dengan orang lain, tidak “peka” terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan lebih enjoy tinggal sendiri dibanding dengan orang tuanya. Di tempat kerja, boro-boro berkolaborasi. Hidup sudah seperti di pacuan kuda, pilihannya menang atau kalah. Terus berkompetisi. Karena, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saya dan tim saya berkesempatan menyeleksi alumni-alumni terbaik dari perguruan tinggi terbaik baik dari dalam maupun luar negeri untuk diterima sebagai karyawan di perusahaan ternama. Mereka sangat cerdas. Saat bekerja individu mereka jempolan dengan hasil yang jauh melebihi harapan. Namun saat bekerja bersama orang lain mereka kedodoran. Mereka sangat egois, bahkan menimbulkan konflik yang sangat besar. Apa penyebabnya?</p>



<p>Ternyata, ini proses kehidupan yang panjang, secara umum, ini adalah hasil pendidikan dari rumahnya atau orang tuanya. Para orang tua seringkali berlomba-lomba untuk menjadikan anaknya sebagai seorang anak yang pintar. Mendapatkan peringkat teratas di kelas, mendapatkan sekolah unggulan, menguasai keterampilan a, b, c sampai z. Orang tua percaya, keberhasilan akademik, berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang saat sudah dewasa. Setelah itu berkuliah di kampus impian. Lalu keterima di kantor bergengsi. Nah, saat itulah orang tua merasa, sukses sudah tugasnya selama puluhan tahun. Mempersiapkan anaknya menjadi orang dewasa yang sukses. Katanya, sukses anak adalah kesuksesan orang tuanya juga.</p>



<p>Namun, siapa sangka, saat sudah dewasa ternyata anaknya merasa kesulitan berhubungan dengan orang lain, tidak “peka” terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan lebih <em>enjoy</em> tinggal sendiri dibanding dengan orang tuanya. Di tempat kerja, boro-boro berkolaborasi. Hidup sudah seperti di pacuan kuda, pilihannya menang atau kalah. Terus berkompetisi. Karena, dengan semua stimulasi sejak kecil, obsesi orang tuanya supaya ia bisa selalu terdepan. Ia justru tumbuh menjadi pribadi yang merasa lebih pintar dari temannya. Ia bahkan tidak segan kalau harus menikam dari belakang, demi naik ke posisi lebih tinggi.</p>



<p>Ini yang terjadi, orang tua lupa atau kurang mengajarkan anaknya untuk mau “merasa”. Mungkin kelak dia akan menjadi seseorang yang sukses karirnya. Tapi hatinya tumpul untuk merasakan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Sudah banyak contohnya, sebut saja Elon Musk yang dengan kepintaran dan kerja kerasnya, ia mampu sesukses sekarang. Orang paling inovatif abad ini di dunia katanya.</p>



<p>Tapi, tentu Anda pernah mendengar atau membaca, kebijakan-kebijakan yang ia buat seringkali dinilai tidak memikirkan perasaan orang lain. Bahkan di kehidupan personal, Elon mengakui sulit sekali untuk berhubungan dengan orang lain. Dia tidak punya banyak teman dekat. Dia sudah 3 kali menikah dan beberapa diantaranya retak. Dan salah satu anaknya, saat ini ingin memutus hubungan keluarga secara legal dengannya.</p>



<p>Ada lagi Albert Einstein. Siapa yang tidak kenal? Kepintarannya tentu tidak diragukan lagi. Ia dikenal sebagai seorang fisikawan dan penemu banyak teori-teori bagaimana alam ini bekerja. Tapi yang mungkin orang belum tahu, sama seperti Elon, Einstein sering digambarkan sebagai seseorang yang dingin, arogan, dan suka meremehkan ide orang lain. Ini membuat kehidupan personalnya tidak sesukses karirnya. Ia juga dinilai tidak sensitif, contohnya saat Mileva yang saat itu masih jadi pacar diketahui hamil. Ia tidak ragu, untuk menyarankan Mileva segera menggugurkan kandungannya. Tentu, akhirnya ditolak oleh Mileva.</p>



<p>Nah, menariknya di sisi lain saya ingin mengajak Anda berkenalan dengan seseorang yang “keistimewaannya”, mampu menggerakkan banyak orang, untuk mau berkontribusi melawan perubahan lingkungan. Kalau Anda pernah dengar, ia adalah Greta Thunberg gadis belia yang saat ini berusia 20an tahun asal Swedia. Sejak usia 12 tahun, Greta di diagnosa memiliki Asperger Syndrome dan Autistic Spectrum Disorder.</p>



<p>Kelainan bawaan ini membuat Greta tidak sensitif, kurang mampu berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Dan juga ada kecenderungan ia senang berbicara tentang dirinya sendiri. Namun, Greta justru melihat perbedaan ini sebagai sesuatu yang special, istimewa. Berkat kedua diagnosa tersebut, ia justru bisa punya fokus yang tinggi dan berpikir <em>out of the box</em>. Nah, kedua modal ini lah yang Greta jadikan sebagai senjata untuk mengikuti ketertarikannya, yakni perubahan iklim.</p>



<p>Saat usianya yang ke-15, Greta berani maju berbicara di depan Parlemen Swedia. Ia menyuarakan aksi protes, terhadap isu perubahan iklim. Nah aksi protes-nya ini ternyata menarik perhatian dunia. Bagaimana menurut Anda? Dengan diagnosa yang terberi, dia katanya kurang mampu berkomunikasi. Tapi nyatanya, dia justru terkenal dengan kata-kata yang mampu menggerakkan. Ia kerap diundang dalam forum-forum internasional, seperti pada forum PBB. Greta pun berulang kali dinominasikan untuk mendapat Piagam Kedamaian atau Noble Awards.</p>



<p>Seseorang yang Asperger, memiliki kecenderungan apatis terhadap apa yang terjadi di luar dirinya. Nyatanya, Greta justru mau maju menjadi seorang aktivis lingkungan. Melalui kata-katanya yang powerful, ia menyuarakan kegelisahannya tentang perubahan lingkungan dan dampaknya. Melalui aksinya, ia mampu mengajak orang untuk melek, bahwa perubahan iklim ini sudah terjadi. Melalui kepeduliannya, ia mampu menggerakkan orang untuk mau mengambil langkah kecil. Setidaknya, ada kontribusi yang dilakukan untuk mau memperbaiki lingkungan demi generasi masa depan.</p>



<p>Greta Thunberg, ialah cerminan bahwa kita masih tetap bisa pintar merasa, dengan bagaimanapun kondisi kita. Pintar merasa artinya kita mampu sensitif dengan apa yang sedang terjadi di lingkungan. Terhadap orang tua, pasangan, rekan kerja, bahkan alam. Dan bukan hanya sampai disana. Tapi ada aksi konkret yang dilakukan. Secara spiritual pun kita sangat dianjurkan untuk peduli, care dengan orang-orang di sekitar kita. Bahkan dijanjikan dengan pahala berlipat saat kita peduli dengan sesama.</p>



<p>Kalau selama ini Anda masih berpikir kesuksesan di sekolah akan menentukan karir kedepannya. Anda tidak sepenuhnya tepat. Karena, riset terbaru dalam <em>The Journal of Personality and Social Psychology</em> justru menyebutkan, orang yang saat dewasa memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, cenderung lebih sukses di segala bidang dibandingan dengan mereka yang nilai sekolahnya lebih tinggi. Suksesnya bukan hanya di karir, tapi juga dalam keluarga dan lingkungan sosial. Ia akan cenderung lebih bahagia dan memiliki hubungan yang memuaskan. </p>



<p>Karena sejatinya, mendidik bukan hanya berfokus pada angka semata, tetapi justru pada pembentukan karakter dan moral yang kokoh. Seorang anak yang diajarkan untuk pintar merasa, kelak akan tumbuh lebih tanggap dan mampu memberikan respon terbaiknya. Ingat ya, kita perlu mengajarkan generasi muda dengan Pintar merasa, bukan merasa pintar. Karena pintar merasa inilah yang justeru mengantarkannya kepada kesuksesan dan kebahagiaan yang seimbang. Sekali lagi ingat, pintar merasa, bukan meras pintar.</p>



<p><strong>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/pintar-merasa-bukan-merasa-pintar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menang Dalam Kompetisi Menuju Indonesia Emas</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/menang-dalam-kompetisi-menuju-indonesia-emas/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/menang-dalam-kompetisi-menuju-indonesia-emas/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2023 11:49:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19803</guid>

					<description><![CDATA[Dunia berubah begitu cepat, ternyata kita sudah 78 tahun merdeka. Tahun 2045, 22 tahun dari sekarang kita sudah merdeka 100 tahun (Indonesia Emas). Berdasarkan prediksi Goldman Sachs, setelah tahun emas, Indonesia akan menjadi 4 negara terbesar dunia bersama Tiongkok, Amerika Serikat, India dan Indonesia. Berkaitan dengan perubahan, Rupert Murdock mengingatkan &#8220;Saat ini, bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat.&#8221;&#160;Dizaman dahulu orang meyakini bahwa perubahan terjadi setiap milenium (1000) tahun. Setelah revolusi industri perubahan menjadi setiap abad (100 tahun). Dan kini, setelah revolusi teknologi 4.0 perubahan bisa kurang dari satu dekade (10 tahun). Perubahan tidak bisa diperlambat, kita lah yang perlu mempercepat perubahan diri. Bagaimana caranya? Sebagian besar dari kita tentu tahu bahwa yang mendasari perilaku kita adalah mindset (pola pikir). Untuk itu, menghadapi perubahan yang begitu cepat dan menyambut Indonesia Emas, mindset kita pun perlu ikut bertumbuh, Carol Dweck (Standford University, 2017) menyebutnya Growth Mindset. Ia membedakan ada dua mindset yaitu Growth Mindset&#160;(GM) dan Fix Mindset&#160;(FM). Orang yang FM cenderung pesimis, merasa tidak bisa berubah dan merasa kalah sebelum bertanding. Mereka yang FM dipastikan kalah dalam kompetisi kehidupan dan tidak siap menyukseskan Indonesia Emas. Sebaliknya, GM adalah orang-orang yang optimis, memiliki visi jangka panjang dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dunia berubah begitu cepat, ternyata kita sudah 78 tahun merdeka. Tahun 2045, 22 tahun dari sekarang kita sudah merdeka 100 tahun (Indonesia Emas). Berdasarkan prediksi Goldman Sachs, setelah tahun emas, Indonesia akan menjadi 4 negara terbesar dunia bersama Tiongkok, Amerika Serikat, India dan Indonesia.</p>



<p>Berkaitan dengan perubahan, Rupert Murdock mengingatkan <em>&#8220;Saat ini, bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat.&#8221;</em>&nbsp;Dizaman dahulu orang meyakini bahwa perubahan terjadi setiap milenium (1000) tahun. Setelah revolusi industri perubahan menjadi setiap abad (100 tahun). Dan kini, setelah revolusi teknologi 4.0 perubahan bisa kurang dari satu dekade (10 tahun). Perubahan tidak bisa diperlambat, kita lah yang perlu mempercepat perubahan diri. Bagaimana caranya?</p>



<p>Sebagian besar dari kita tentu tahu bahwa yang mendasari perilaku kita adalah mindset (pola pikir). Untuk itu, menghadapi perubahan yang begitu cepat dan menyambut Indonesia Emas, mindset kita pun perlu ikut bertumbuh, Carol Dweck (Standford University, 2017) menyebutnya <strong><em><strong><em>Growth Mindset</em></strong></em></strong>. Ia membedakan ada dua mindset yaitu <strong><em><strong><em>Growth Mindset</em></strong></em></strong>&nbsp;(GM) dan <em>Fix Mindset</em>&nbsp;(FM).</p>



<p>Orang yang FM cenderung pesimis, merasa tidak bisa berubah dan merasa kalah sebelum bertanding. Mereka yang FM dipastikan kalah dalam kompetisi kehidupan dan tidak siap menyukseskan Indonesia Emas.</p>



<p>Sebaliknya, GM adalah orang-orang yang optimis, memiliki visi jangka panjang dan yakin bisa mewujudkannya, senang dengan berbagai tantangan dan menjadi pembelajar yang dinamis. Untuk itulah, kunci pertama menghadapi perubahan sekaligus menyongsong Indonesia Emas menurut saya adalah <strong><em><strong><em>GROWTH MINDSET</em></strong></em></strong>. Apakah cukup? Jawabnya belum.</p>



<p>Kunci kedua adalah <strong><em><strong><em>GRIT</em></strong></em></strong>&nbsp;(Durkworth, 2016) daya tahan atau resiliensi yang teruji. Mereka yang mudah baper dan mudah menyerah akan kalah dan jatuh ke jurang ketertinggalan.</p>



<p>Untuk memenangkan persaingan diperlukan orang yang bermental baja. Saat ada kegagalan, ia menganggap itu bukan kegagalan tetapi pembelajaran. Merekapun tidak menganggap biaya yang dihabiskan sebagai stupid cost tetapi learning cost. Grit yang kuat dibuktikan dengan terus melangkah dan selalu memperbaiki diri di langkah-langkah berikutnya. Orang-orang yang spiritualis berkata, <em>&#8220;lelahku tidak sia-sia karena berubah menjadi lillah.&#8221;</em><em></em></p>



<p>Benarkah <strong><em><strong><em>Growth Mindset</em></strong></em></strong>&nbsp;dan <strong><em><strong><em>Grit</em></strong></em></strong>&nbsp;menjadikan seseorang lebih sukses dibandingkan yang lain? Faktanya, mengapa banyak orang growth mindset-nya meredup dan grit-nya akhirnya luntur? Karena ternyata keduanya tidak berpijak pada genetik (aslinya) orang tersebut.</p>



<p>Kita tentu ingat rumus Fenotip = Genetik + Lingkungan. Tafsir sederhananya, kita saat ini (fenotip) adalah perpaduan antara aslinya kita (genetik) plus tempaan, pengalaman, pendidikan (lingkungan). Menyiapkan seseorang untuk memiliki GM dan Grit namun mengabaikan genetik-nya bisa membuat orang tersebut hidup bukan pada &#8220;karpet merahnya&#8221; dan bisa membuat orang tersebut salah arah.</p>



<p>Maka kunci ketiga menurut saya adalah pendidikan dan penggemblengan berbasis GENETIK seseorang. Salah satu yang bisa digunakan adalah Konsep STIFIn yang ditemukan oleh orang Indonesia asli, Farid Poniman.</p>



<p>Secara umum konsep STIFIn menjelaskan bahwa dari milyaran penduduk bumi secara umum bisa dikelompokkan menjadi 5 Mesin Kecerdasan: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting (STIFIn). Mungkin ada yang bertanya &#8220;apakah ini tidak mengkotak-kotakkan manusia? Jawaban sederhananya &#8220;bukankah selama ini kita juga sudah dikelompokkan dengan golongan darah manusia, Ada AB, A, B dan O. Bukankah ini juga salah satu pengelompokkan berbasis genetik?</p>



<p>Dengan mengetahui mesin kecerdasan seseorang melalui tes STIFIn maka kita bisa membantu orang tersebut untuk memiliki GM dan mengasah Grit dengan tepat sehingga bisa tumbuh melesat melebihi perubahan yang terjadi. Merekalah yang siap menyukseskan Indonesia Emas dan menaklukkan perubahan.</p>



<p>Ingin menang dalam kompetisi menuju Indonesia emas? Ingat 3G: <em>Growth Mindset, Grit</em>&nbsp;dan <em>Genetic</em>.</p>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari ide dan gagasan Rektor IPB University, Bapak Arief Satria.</p>



<p>17 Agustus 2023</p>



<p><strong>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/menang-dalam-kompetisi-menuju-indonesia-emas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Konsisten Dengan Noble Purpose: Melahirkan Miliarder</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/konsisten-dengan-noble-purpose-melahirkan-miliarder/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/konsisten-dengan-noble-purpose-melahirkan-miliarder/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Aug 2023 09:20:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19794</guid>

					<description><![CDATA[Bulan ini, usia saya genap 55 tahun. Alhamdulillah saya masih konsisten dengan Noble Purpose saya, bahwa saya terlahir ke dunia untuk menginspirasi dan mengkader leader, trainer dan entrepreneur. Sebagai inspirator, selain menginspirasi, selama ini saya fokus mengkader leader dan trainer. Alhamdulillah sudah ribuan leader dan trainer menjadi Best of The Best di bidang masing-masing. Mereka tersebar di berbagai BUMN, perusahaan swasta, perguruan tinggi maupun sebagai self employee Kini, disisa usia saya, energi dan perhatian akan lebih saya prioritaskan untuk MENGKADER ENTREPRENEUR melalui perusahaan baru saya PT STIFIn Genetika Indonesia (SGI). STIFIn adalah konsep pengembangan berbasis genetik seseorang. Selama ini, untuk membuka Cabang STIFIn, harus investasi Rp 600 juta. Dan alhamdulillah, sekarang tidak perlu membayar sebesar itu. Karena ada investor yang siap menggelontorkan dananya untuk 100 cabang (Cabang konsorsium) Saya diamanahi untuk mengelolanya. Untuk itu, saya mencari Kepala Cabang yang siap saya mentoring secara intensif hingga menjadi MILYARDER. Kapasitas utama yang akan diasah adalah entrepreneur dan leadership. Bagaimana prosesnya? Pertama, ikut kelas online Workshop STIFIn Level &#8211; 1 secara online pada tanggal 02 &#8211; 03 September 2023 Kedua, Ikut kelas Akademi Entrepreneur secara offline (tatap muka) pada 11 &#8211; 17 September 2023 di Kampoonh Hening Cidahu. Info lengkap di www.AkademiEntrepreneur.com Ketiga, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://www.jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2023/08/jamilazzaini_357239709_222645480680379_5607420497134624740_n.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="720" height="606" src="https://www.jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2023/08/jamilazzaini_357239709_222645480680379_5607420497134624740_n.jpg" alt="" class="wp-image-19801" srcset="https://www.jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2023/08/jamilazzaini_357239709_222645480680379_5607420497134624740_n.jpg 720w, https://www.jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2023/08/jamilazzaini_357239709_222645480680379_5607420497134624740_n-300x253.jpg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></a></figure>



<p>Bulan ini, usia saya genap 55 tahun.<em> Alhamdulillah</em> saya masih konsisten dengan <em>Noble Purpose</em> saya, bahwa saya terlahir ke dunia untuk <strong>menginspirasi dan mengkader <em>leader</em>, <em>trainer</em> dan <em>entrepreneur</em>.</strong></p>



<p>Sebagai inspirator, selain menginspirasi, selama ini saya fokus mengkader leader dan trainer. <em>Alhamdulillah</em> sudah ribuan leader dan trainer menjadi <em>Best of The Best</em> di bidang masing-masing. Mereka tersebar di berbagai BUMN, perusahaan swasta, perguruan tinggi maupun sebagai <em>self employee</em></p>



<p>Kini, disisa usia saya, energi dan perhatian akan lebih saya prioritaskan untuk <strong>MENGKADER ENTREPRENEUR</strong> melalui perusahaan baru saya PT STIFIn Genetika Indonesia (SGI).</p>



<p>STIFIn adalah konsep pengembangan berbasis genetik seseorang. Selama ini, untuk membuka Cabang STIFIn, harus investasi Rp 600 juta. Dan alhamdulillah, sekarang tidak perlu membayar sebesar itu. Karena ada investor yang siap menggelontorkan dananya untuk 100 cabang (Cabang konsorsium) Saya diamanahi untuk mengelolanya.</p>



<p>Untuk itu, saya mencari Kepala Cabang yang siap saya mentoring secara intensif hingga menjadi MILYARDER. Kapasitas utama yang akan diasah adalah entrepreneur dan leadership.</p>



<p>Bagaimana prosesnya?</p>



<p>Pertama, ikut kelas online Workshop STIFIn Level &#8211; 1 secara online pada tanggal 02 &#8211; 03 September 2023</p>



<p>Kedua, Ikut kelas Akademi Entrepreneur secara offline (tatap muka) pada 11 &#8211; 17 September 2023 di Kampoonh Hening Cidahu. Info lengkap di <a href="http://www.AkademiEntrepreneur.com" data-type="link" data-id="www.AkademiEntrepreneur.com"><strong>www.AkademiEntrepreneur.com</strong></a></p>



<p>Ketiga, bersedia menjadi kepala cabang STIFIn di salah satu kabupaten atau kotamadya yang ada di Indonesia. Dengan tugas utama merekrut dan mengkader para promotor (orang yang menawarkan tes STIFIn).</p>



<p>Keempat, ikut mentoring online setiap pekan dari Tim Management STIFIn Genetic (Jamil Azzaini, Atok R Aryanto &#8211; CEO Kubik Leadership, Burhan Solihin &#8211; Mantan Direktur Tempo) dan para <em>Solver</em> atau <em>Expert</em> yang kami pilih sesuai kebutuhan.</p>



<p>Melalui proses ini, <em>insha Allah</em> muncul banyak MILYARDER baru sekaligus generasi yang memiliki kapasitas leadership dan entrepreneurship yang mumpuni. Sudah terbukti di angkatan sebelumnya. Bahkan di bulan pertama ada yang sudah mempetoleh keuntungan bersih 12x dibandingkan investasi yang harus dikeluarkan (ikut kelas Akademi Entrepreneur) sebagai prasyarat menjadi kepala Cabang</p>



<p>Anda tertarik? Atau Anda mau merekomendasikan orang yang punya kapasitas untuk bisa tumbuh bersama kami. Segera hubungi mas Naufal di 085772175078.</p>



<p>Terima kasih, sungguh saya sangat senang jika orang-orang yang memiliki talenta dan kepedulian seperti Anda bergabung dengan kami di STIFIn Genetic.</p>



<p><strong>Yuk gabung bersama kami dengan daftar segera sebelum kehabisan kuota</strong></p>



<p><strong>Jamil Azzaini<br>Founder SGI</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/konsisten-dengan-noble-purpose-melahirkan-miliarder/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keystone Habit : Kebiasaan Yang Memicu Produktivitas</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/keystone-habit-kebiasaan-yang-memicu-produktivitas/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/keystone-habit-kebiasaan-yang-memicu-produktivitas/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 May 2023 06:19:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19771</guid>

					<description><![CDATA[Apakah Anda pernah mendengar istilah keystone habit? Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Duhigg dalam bukunya yang berjudul &#8220;The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business&#8221;&#160;yang diterbitkan pada tahun 2012. Dalam bukunya, Duhigg menjelaskan bahwa keystone habit&#160;dapat memicu perubahan positif dalam hidup seseorang, baik itu dalam kehidupan pribadi maupun bisnis. Kehidupan orang tersebut menjadi lebih produktif. Keystone habit&#160;adalah kebiasaan yang memiliki dampak signifikan pada banyak area kehidupan seseorang. Kebiasaan ini dapat memicu efek domino yang positif, sehingga membuat seseorang lebih produktif dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka. Keystone habit&#160;biasanya berbeda untuk setiap orang, tergantung pada tujuan dan nilai-nilai hidup seseorang. Contohnya, berolahraga secara teratur dapat menjadi keystone habit&#160;bagi seseorang yang ingin meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka. Dari satu kebiasaan olah raga akhirnya memengaruhi kebiasaan yang lain, misalnya: pola makannya menjadi sehat dan teratur, tidurnya menjadi lebih berkualitas. Akhirnya lebih bugar, lebih produktif, lebih positif dalam menjalani kehidupan. Dari satu kebiasaan baik melahirkan banyak kebaikan lainnya. Asyik khan? Itulah efek dari keystone habit. Menurut saya, apapun profesi kita, untuk menjadi kelompok terbaik kita wajib membiasakan diri untuk memiliki keystone habit. Dan hal itu, saya juga jalani saat saya menekuni apapun. Pada awal karir [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Apakah Anda pernah mendengar istilah <em>keystone habit</em>? Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Duhigg dalam bukunya yang berjudul <em>&#8220;The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business&#8221;</em>&nbsp;yang diterbitkan pada tahun 2012. Dalam bukunya, Duhigg menjelaskan bahwa <em>keystone habit</em>&nbsp;dapat memicu perubahan positif dalam hidup seseorang, baik itu dalam kehidupan pribadi maupun bisnis. Kehidupan orang tersebut menjadi lebih produktif.</p>



<p><em>Keystone habit</em>&nbsp;adalah kebiasaan yang memiliki dampak signifikan pada banyak area kehidupan seseorang. Kebiasaan ini dapat memicu efek domino yang positif, sehingga membuat seseorang lebih produktif dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka. <em>Keystone habit</em>&nbsp;biasanya berbeda untuk setiap orang, tergantung pada tujuan dan nilai-nilai hidup seseorang.</p>



<p>Contohnya, berolahraga secara teratur dapat menjadi <em>keystone habit</em>&nbsp;bagi seseorang yang ingin meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka. Dari satu kebiasaan olah raga akhirnya memengaruhi kebiasaan yang lain, misalnya: pola makannya menjadi sehat dan teratur, tidurnya menjadi lebih berkualitas. Akhirnya lebih bugar, lebih produktif, lebih positif dalam menjalani kehidupan. Dari satu kebiasaan baik melahirkan banyak kebaikan lainnya. Asyik khan? Itulah efek dari <em>keystone habit</em>.</p>



<p>Menurut saya, apapun profesi kita, untuk menjadi kelompok terbaik kita wajib membiasakan diri untuk memiliki <em>keystone habit</em>. Dan hal itu, saya juga jalani saat saya menekuni apapun. Pada awal karir saya menjadi Inspirator, saya bertanya kepada para ahli <em>“apa key success factor atau kunci keberhasilan seorang inspirator?</em>&nbsp;Ketika itu saya menggunakan istilah <em>key success factor</em>&nbsp;karena belum mengenal istilah <em>keystone habit</em>. Sejatinya, <em>key success factor</em>&nbsp;dan <em>keystone habit</em>&nbsp;adalah hal yang serupa. &nbsp;</p>



<p>Kembali, ke pertanyaan saya diawal karir saya sebagai seorang trainer tadi <em>“Apa key success factor menjadi seorang inspirator? </em>Ternyata ketika itu jawabannya adalah “menulis.” &nbsp;Ya, menulis adalah <em>keystone habit</em>&nbsp;seorang Inspirator di awal tahun 2000an. Meskipun saya pernah divonis tidak punya bakat menulis oleh guru saya dengan ucapan <em>“Jamil, kamu gak punya bakat menulis, sebab menulis apa saja depannya pasti pada suatu hari.”</em>&nbsp;Namun karena ini adalah kunci sukses sebagai seorang Inspirator, saya pun berkomitmen untuk melatih kemampuan menulis saya.</p>



<p>Maka kemudian saya biasakan menulis di website, menulis di media cetak dan pada puncaknya adalah menulis buku. Dimulai tahun 2005 hingga hari ini saya sudah menulis 12 buah buku yang diterbitkan oleh Gramedia dan Mizan. Dan ternyata memang benar, melalui buku-buku yang saya tulis ini, Allah swt mengizinkan saya untuk diundang ke berbagai perusahaan dan berbagai event. Perusahaan training saya pun menjadi <em>Top Of Mind </em>untuk keahlian Leadership. Bahkan, enam tahun kemudian, nama saya sudah tercatat sebagai salah satu trainer dari tiga trainer terbaik di Indonesia, ketika itu.</p>



<p>Dari <em>keystone habit</em>&nbsp;saya menulis buku ini, maka bermunculanlah kebiasaan baru saya, membaca, menonton video pengembangan diri, berkeliling Indonesia untuk bedah buku, merenung, mengamati dan berdiskusi sebagai bahan memperkaya bahan tulisan saya. Menulis akhirnya menjadi hobi saya yang melahirkan banyak kebiasaan baik lainnya. &nbsp;Itulah pentingnya <em>keystone habit</em>.</p>



<p>Namun, kembali lagi saya tegaskan bahwa <em>keystone habit</em>&nbsp;setiap orang berbeda. Apa yang terjadi pada saya, belum tentu itu terjadi pada diri Anda. Biasakan untuk ATM (amati – tiru – modifikasi) bukan ATP (amati – tiru – persis atau plek) untuk menemukan <em>keystone habit</em>&nbsp;Anda. Selain itu, waktu atau <em>moment</em>&nbsp;juga berpengaruh. Di awal tahun 2000an, menulis buku memang menjadi <em>keystone habit </em>seorang inspirator atau trainer. Namun di era sekarang, rasanya <em>keystone habit</em>&nbsp;untuk menjadi inspirtor atau trainer bukan lagi buku. Boleh jadi content di Youtune, Tiktok, Intagram, Snack atau yang lainnya. Silakan Anda cari sendiri.</p>



<p>Apapun profesi Anda, segera temukan apa <em>keystone habit</em>&nbsp;Anda agar berbagai kebiasaan baik akan menghampiri Anda. Nah, untuk mempermudah Anda menemukan <em>keystone habit</em>&nbsp;maka Anda perlu memperhatikan hal-hal berikut.</p>



<p><strong><em>Pertama, tentukan dulu apa visi hidup Anda</em></strong>. Tanyakan kepada diri Anda, saya terlahir ke dunia ini untuk apa sich? Apa kehidupan terbaik yang saya perjuangkan dan komitmen saya wujudkan? Apa prestasi terbaik yang ingin saya tinggalkan dimuka bumi? Apa <em>legacy</em>&nbsp;di bumi yang manfaatnya dirasakan banyak orang? Jawablah pertanyaan-pertanyaan tadi, karena dengan jawaban itu akan mempermudah Anda menemukan visi hidup Anda.</p>



<p>Apabila Anda belum menetapkan visi hidup, maka Anda akan mengalami kesulitan menentukan <em>keystone habit</em>. Jangankan menentukan <em>keystone habit</em>, Anda juga mengalami kesulitan menetapkan prioritas aktivitas. Bahkan Anda sulit menolak ajakan teman Anda. Jadi salah satu indikator visi hidup Anda belum mantap atau belum jelas adalah saat Anda sulit berkata tidak atas ajakan orang-orang di sekitar Anda. Hidup Anda “membebek” atau ikut dengan permainan orang lain.</p>



<p>Untuk urusan Visi hidup ini, saya agak “cerewet” karena saya menyakini konsep <em>The Law Of Projection</em>. Di dalam buku dan berbagai training, pesan ini sering saya ulang, karena memang hal ini sangat penting. <em>Tha Law Of Projection</em>&nbsp;menyatakan “apa yang terjadi di layar presentasi akibat sinar dari proyektor adalah berasal dari laptop. Layar adalah kehidupan nyata dan laptop adalah pikiran kita.” Hal ini juga sejalan dengan pesan dari Nabi <em>“Allah atau Tuhan itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya”</em>. Nah salah satu pikiran penting atau prasangka yang seyognyanya selalu ada dalam diri kita adalah visi hidup kita, karena visi hidup kita inilah atas izin Tuhan yang Maha Kuasa yang akan membentuk masa depan kita. Masa depan Anda, tergantung apa yang Anda pikirkan atau prasangkakan hari ini. So, apa visi hidup Anda?</p>



<p>Dari visi hidup ini, akhirnya Anda terbiasa menetapkan tujuan-tujuan jangka menengah dan jangkan pendek. Tujuan ini dapat berkaitan dengan kesehatan, finansial, pekerjaan, keahliaan, hubungan, atau aspek kehidupan lainnya yang ingin Anda tingkatkan. Boleh saya tahu, apa tujuan utama Anda di tahun ini?</p>



<p><strong><em>Kedua, Identifikasi kebiasaan yang berhubungan dengan tujuan:</em></strong>&nbsp;Setelah menentukan tujuan, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi kebiasaan yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Tulis berbagai alternatif kebiasaan yang bisa Anda lakukan untuk mencapai tujuan Anda yang dalam jangka panjang membantu tercapainya visi hidup Anda. Setelah Anda punya berbagai alternatif kebiasaan pilih satu sampai paling banyak tiga yang paling mudah tetapi dampaknya paling besar. Ingat, jangan lebih dari tiga. &nbsp;Ingat juga, pilih yang paling mudah dan bisa Anda lakukan.</p>



<p>Koq pilih yang paling mudah? Ya, ini adalah saran dari James Clear penulis buku <em>Atomic Habit</em>. Pesan beliau kurang lebih demikian <em>“Agar sesuatu menjadi habit atau kebiasaan, mulailah dengan yang paling mudah Anda lakukan namun memiliki dampak yang besar.</em>” &nbsp;Mengapa juga koq maksimal hanya tiga, jawabnya sederhana <em>“semakin banyak yang Anda inginkan maka semakin sedikit yang akan Anda dapatkan.”</em>&nbsp;Dalam versi yang lain, sesuatu yang fokus hasilnya jauh lebih besar dan lebih kuat.</p>



<p><strong><em>Ketiga, miliki komitmen lebih baik 1% setiap hari.</em></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;Setelah Anda memiliki satu hingga tiga kebiasaan yang mudah namun berdampak besar, berkomitmenlah terhadap diri Anda untuk terus melakukannya dan konsisten melakukan pengulangan setiap hari disertai komitmen 1% lebih baik setiap harinya. Apabila Anda konsiten setiap hari melakukan perbaikan 1%, maka dalam waktu satu tahun Anda akan tumbuh 37x lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya. Demikianlah hasil riset yang dilakukan oleh James Clear.</p>



<p>Pertumbuhan kecil namun konsisten jauh lebih baik dibandingkan melakukan pertumbuhan besar namun setelah itu berhenti. Mengapa lebih baik? Karena melakukan hal yang mudah namun berdampak besar itu akan meningkatkan <em>winning effect</em>&nbsp;dalam hidup Anda. Dorongan untuk semakin menang dan sukses akan semakin menguat karena kemenangan-kemenangan kecil yang bisa Anda wujudkan. Virus Covid-19 itu kecil namun bisa mengubah tatanan dunia, mengubah kebiasaan bekerja, mengubah banyak hal. Jangan sepelekan yang kecil, jangan sepelekan pertumbuhan 1% setiap hari.</p>



<p>Saat Anda sudah memiliki ketiga hal tersebut di atas maka akan memudahkan Anda menemukan <em>keystone habit</em>. Sebaliknya, apabila Anda belum memiliki ketiga hal tersebut di atas, Anda sulit menemukan <em>keystone habit</em>&nbsp;Anda, atau apabila Anda sudah menemukan boleh jadi dampaknya tidak terlalu signifikan bagi pertumbuhan diri Anda.</p>



<p>Salam SuksesMulia</p>



<p>Jamil Azzaini<br>Inspirator SuksesMulia</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/keystone-habit-kebiasaan-yang-memicu-produktivitas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kun Rabaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan</title>
		<link>https://www.jamilazzaini.com/kun-rabaniyyan-walaa-takun-ramadhaniyyan/</link>
					<comments>https://www.jamilazzaini.com/kun-rabaniyyan-walaa-takun-ramadhaniyyan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jamil Azzaini]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Apr 2023 03:35:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Speak To Change]]></category>
		<category><![CDATA[Spritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jamilazzaini.com/?p=19759</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Budi Handrianto Siapa saja yang pernah belajar ilmu manajemen atau pernah bekerja di perusahaan yang well-managed, niscaya paham istilah POAC (Planning, Organizing, actuiting, Controlling). Di perusahaan lebih dikenal singkatan PDCA (Plan, Do, Check, Action) atau Siklus PDCA. Mengapa disebut siklus? Karena ia berputar. Dimulai dari awal tahun kita melakukan perencanaan (plan) lalu kita kerjakan rencana kita (Do), kemudian ada mekanisme review untuk melakukan check and recheck terhadap pekerjaan kita dan hasil evakuasi tadi menjadi perbaikan bagi pekerjaan berikutnya (Action). Lalu tahun berikutnya kembali merencanaan, tentu dengan target yang lebih tinggi. Perputaran roda P-D-C-A tidak berputar menggelinding atau mendatar, tapi naik ke atas. Kami sering membuat ilustrasi roda PDCA naik anak tangga satu tingkat demi satu tingkat. Ketika kita sudah meningkatkan kualitas pekerjaan, roda tersebit naik ke anak tangga berikutnya dan kita &#8220;ganjal&#8221; agar tidak jatuh atau menggelinding ke belakang. Pada prakteknnya, pekerjaan mengganjal itu adalah membuat standar pekerjaan yang biasanya dituangkan dalam SOP. Tahun depannya kita naikkan lagi kualitasnya ke anak tangga berikutnya dan kita ganjal lagi dengan SOP dan seterusnya. Bulan Ramadhan ini adalah momen untuk kita menetapkan standar yang tinggi bagi kualitas hidup kita terutama aspek ibadah. Di bulan Ramadhan setiap hari kita puasa, shalat malam, tilawah quran, sedekah, umrah dan sebagainya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Budi Handrianto</p>



<p>Siapa saja yang pernah belajar ilmu manajemen atau pernah bekerja di perusahaan yang <em>well-managed,</em> niscaya paham istilah POAC (<em>Planning, Organizing, actuiting, Controlling</em>). Di perusahaan lebih dikenal singkatan PDCA (<em>Plan, Do, Check, Action</em>) atau Siklus PDCA. Mengapa disebut siklus? Karena ia berputar. Dimulai dari awal tahun kita melakukan perencanaan <em>(plan)</em> lalu kita kerjakan rencana kita <em>(Do)</em>, kemudian ada mekanisme <em>review</em> untuk melakukan <em>check</em> and <em>recheck</em> terhadap pekerjaan kita dan hasil evakuasi tadi menjadi perbaikan bagi pekerjaan berikutnya <em>(Action)</em>. Lalu tahun berikutnya kembali merencanaan, tentu dengan target yang lebih tinggi.</p>



<p>Perputaran roda P-D-C-A tidak berputar menggelinding atau mendatar, tapi naik ke atas. Kami sering membuat ilustrasi roda PDCA naik anak tangga satu tingkat demi satu tingkat. Ketika kita sudah meningkatkan kualitas pekerjaan, roda tersebit naik ke anak tangga berikutnya dan kita &#8220;ganjal&#8221; agar tidak jatuh atau menggelinding ke belakang. Pada prakteknnya, pekerjaan mengganjal itu adalah membuat standar pekerjaan yang biasanya dituangkan dalam SOP. Tahun depannya kita naikkan lagi kualitasnya ke anak tangga berikutnya dan kita ganjal lagi dengan SOP dan seterusnya.</p>



<p>Bulan Ramadhan ini adalah momen untuk kita menetapkan standar yang tinggi bagi kualitas hidup kita terutama aspek ibadah. Di bulan Ramadhan setiap hari kita puasa, shalat malam, tilawah quran, sedekah, umrah dan sebagainya, semua itu adalah standar ibadah untuk setahun ke depan. Artinya, setelah Ramadhan berakhir bukan balik lagi ke kondisi sebelum Ramadhan, tapi minimal sama atau kalapun turun tidak banyak. Berarti ibadah-ibadah di bulan Ramadhan itu harus diteruskan, bukan hanya di bulan Ramadhan saja.</p>



<p>Maka, para ulama mengatakan <em>&#8220;Kun rabbaniyan, walaa takun ramadhaniyyan</em>. Jadilah engkau hamba Allah, bukan hamba Ramadhan.&#8221; Hamba Allah beribadah konsisten sepanjang tahun, hamba Ramadhan hanya beribadah ketika bulan Ramadhan saja.</p>



<p>Jika SOP mengganjang kebiasaan baik di perusahaan agar tidak balik lagi ke kebiasaan lama yang kurang baik, maka pembiasaan kita dalam beribadah setelah Ramadhan merupakan &#8220;ganjal&#8221; agar kita tetap menjadi hamba Allah, bukan hamba Ramadhan.</p>



<p>Apalagi, <em>effort </em>kita di bulan Ramadhan ini tidak ringan. Kita capek-capek berpuasa menahan lapar dan hawa nafsu, shalat malam meskipun badan sudah lelah seharian berpuasa dan kerja di kantor, mata yang sudah mengantuk tetap kita paksakan baca quran demi meraih kemuliaan, uang yang kita kumpulkan setahun kita ikhlaskan untuk bersedekah dsb. Masak perjuangan seberat itu dibiarkan luntur lagi?</p>



<p>Firman Allah dalam al-Quran. <em>&#8220;Walaa takunuu kallati naqadhat ghazlaha min ba&#8217;di quwwatin ankatsa.</em>&nbsp;Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.&#8221; (QS an-Nahl: 92) Kita sudah membangun ketaatan kepada Allah, membangun kemampuan mengendalikan diri (al-imsak), pandai mengatur waktu, merasakan kebersamaan dalam kelaparan dan kebahagiaan, produktif dalam ibadan dan sebagainya, sayang kalau kemudian kita tinggalkan setelah bulan Ramadhan, seperti perempuan yang sudah memintal benang lalu diurai lagi. Ramadhan tahun depan memintal, lalu diurai lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada progress, tidak ada <em>improvement,</em>&nbsp;tidak ada <em>kaizen</em>. <em>Naudzu billah min dzalik.</em></p>



<p>Padahal Ramadhan sering disebut sebagai kawah candradimuka tempat menggembleng kaum muslimin menjadi &#8220;sakti&#8221;. Bagi yang suka cerita wayang pasti paham dengan kawah candradimuka. Ini adalah satu kawah gunung di kahyangan tempat tinggal para dewa. Ketika bayi Gatotkaca (putra Werkudara/Bima dengan Dewi Arimbi) lahir (nama sebelum menjadi Gatotkaca adalah Tetuko, dulu pesawat terbang produksi IPTN pertama dinamai Tetuko) dimasukkan ke dalam kawah candradimuka yang panas membara, ia mengalami proses pendewaasaan dan bertambahnya kekuatan. Akhirnya keluarlah ia dari kawah tsb sebagai seorang pria gagah perkasa dan sakti mandraguna. Dialah sang Gatotkaca yang terkenal kesaktiannya.</p>



<p>Tentu Gatotkaca setelah itu menjadi sakti seterus. Bukan setelah keluar dari kawah balik lagi menjadi bayi yang lemah. Bahkan dia makin sakti sampai akhirnya terbunuh dalam membela kebenaran. Demikian pula, orang Islam yang puasa, tentu setelah melewati bulan Ramadhan tambah shalih, rajin dan giat beribadah serta tidak kembali ke kondisi semula, apalagi lebih buruk dari sebelum Ramadhan</p>



<p>Kalau kita sudah bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan lalu ada karyawan junior yang baru gabung bertanya tentang sejarah kondisi awal perusahaan kira-kira 10-20 tahun lalu, kita akan menjawab bahwa dulu perusaahaan ini kacau. Nggak ada standar kerja, nggak ada SOP dan orang kerja serampangan nggak ada target. Sekarang perusahaan kita sudah jauh lebih baik dan tertata rapi. Dulu sering merugi dan sekarang alhamdulillah sudah untung <em>(profit)</em>&nbsp;dan berkembang <em>(grow</em><em>t</em><em>h)</em>.</p>



<p>Mestinya kita pun demikian. Menengok diri kita ke belakang 10-20 thn lalu, seharusnya sekarang jauh lebih baik secara spiritual.</p>



<p>Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri di akhir-akhir Ramadhan. Kadang saya tidak seperti yang digambarkan tulisan di atas. Tapi saya sungguh sangat ingin memperbaiki diri sehingga dengan ditulis saya akan memaksa diri sendiri dan merasa punya beban moral apabila tidak melakukannya. Dan ingat firman Allah, <em>&#8220;Kabura maqtan indallahi an taquluu maalaa taf&#8217;alun.</em>&nbsp;Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.&#8221; <strong>(QS As-Shaff:3)</strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.jamilazzaini.com/kun-rabaniyyan-walaa-takun-ramadhaniyyan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
