<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Cak Slamet</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 8 Nov 2024 22:42:20 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://cakslamet.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Better Generation dan Makna Hijrah</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/03/better-generation-dan-makna-hijrah.html</link><category>Artikel</category><category>Coretanku</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 7 Mar 2012 15:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-4834938944885326421</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEil127TKLeHtrS2sCWypznp42B69vCezBVcn6lUMOie402_N7dLsTnjCudR2mvmvNJ5hFkKFTC2ae6WRcJP9qXrO1jJurNRVckfTjxh9L6d3Snxo7T4mWu-AtZnJ-wSaFD2e0smpgZH9Ac/s1600/hijrah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEil127TKLeHtrS2sCWypznp42B69vCezBVcn6lUMOie402_N7dLsTnjCudR2mvmvNJ5hFkKFTC2ae6WRcJP9qXrO1jJurNRVckfTjxh9L6d3Snxo7T4mWu-AtZnJ-wSaFD2e0smpgZH9Ac/s320/hijrah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia terus menerus terkoyak keterpurukan multidemensional. Trust (kepercayaan) publik  mulai luntur mendera anak negeri, yang terus menerus menyaksikan akrobatik penguasa negeri yang selalu bermanuver dan sama sekali tidak menunjukkan simpatisme masyarakat. Eskalasi politik terus menempati rating tertinggi menghiasai media masa maupun media elektronik, yang berarti bahwa pejabat publik terus menjadikan opini media masa sebagai sarana untuk menembak bidikan rivalnya untuk mencari simpatik dari publik. Padahal, esensi dari apa yang mereka lakukan publik sudah muak, bosan, dengan life servisnya ketika awal-awal mereka mengucapkan janji,  karena sesungguhnya masyarakat tidak butuh, masyarakat butuh kesejahteraan, perekonomian membaik, pendidikan bisa terjangkau oleh masayarakat miskin, pelayanan kesehatan murah dan mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita harus mengakui dan tidak memungkiri faktualisasi data, bahwa Indonesia merupakan negara yang masih tercatat sebagai negara terkorup di dunia. Penyelesaian kasus-kasus korupusi, kolusi dan nepotisme belum sesuai harapan rakyat. Pembentukan lembaga  anti korupsi seperti KPK, bukan semakin berkurang tapi sungguh mengerikan justru eskalasi korupsi makin merajalela mengoyak negeri ini. Di samping itu juga, KPK belum bisa menjawab keinginan dan harapan masyarakat Indonesia, sampai hari hingga memasuki jilid ke 3 kinerja KPK belum maksimal dan belum menunjukkan tajinya sebagai lembaga superbody. Pemberlakuan Otonomi Daerah sebagaimana diamanatkan dalam UU N0. 32 tahun 2004 juga belum berjalan sebagaimana yang diharapkan, bahkan tertatih-tatih. Bahkan Otonomi Daerah yang bisa menjawab persoalan-persoalan daerah, sekarang ini diasumsikan sebagai peluang emas untuk mengeruk kekayaan, artinya otonomi tidak ubahnya mengusung korupsi dari pusat ke daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keinginan publik tentang penegakan hukum tanpa tebang pilih menjadi tontonan dan ironis, padahal penegakan hukum di Indonesia sekarang merupakan conditio sine qua non (syarat wajib) yang harus dilakukan, menjadi barang langka. Tidak banyak pembuktian yang konkrit yang ditunjukkan dari kinerja pemerintah dalam menegakkan supremasi hukum, termasuk juga penuntasan masalah-masalah korupsi besar. Bahkan, justru publik digiring dalam ranah yang penuh kecurigaan, prasangka, dan fitnah. Sehingga, dalam setiap keputusan hukum pada akhirnya muncul dua pandangan dan asumsi jika hukum telah disubordinasi oleh kepentingan-kepentingan politik. Substansinya, publik mengharapkan hukuman yang setimpal kepada koruptor kakap. Ini memang yang menjadi konsekwensi logis, jika memang negeri ini ingin terbebas dari cengkeraman ketidakpastian, utamanya penegakan hukum, yang pada esensinya tidak tebang pilih dan berlaku untuk semua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua realitas itu menjadi sebuah pekerjaan yang sangat berat bagi semua komponen bangsa, utamanya generasi muda yang akan memegang tongkat estapat kepemimpinan di masa mendatang, harus menjadi pelopor perubahan dan tampil di garda terdepan untuk memperbaiki kondisi bangsa yang terpuruk ini. Dan momentum kedatangan tahun baru hijriah tahun 1433 H ini menjadi penting untuk melakukan instropeksi terhadap carut marutnya negeri yang kita cintai ini. Hijrah berarti keluar dan menguatkan hati, pikiran dan amal perbuatan dari segala permasalahan yang dihadapinya, dengan mendayagunakan segala potensi yang dimiliki. Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini, semestinya semua elemen bangsa menguatkan keyakinan akan sebuah perubahan. Karena perubahan merupakan  sebuah pilihan mutlak yang mesti  dilakukan, dan generasi muda harus menjadi pelopor pada barisan terdepan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan yang terjadi di negeri ini sejak belum merdeka sampai merdeka dipelopori oleh generasi muda. Kita juga tidak menafikan peralihan orde lama ke orde baru terus kemudian disusul ke orde reformasi merupakan sumbangsih pemikiran dari generasi muda untuk memperbaiki bangsa ini. Kita harus memberikan apresiasi terhadap gerakan anak-anak muda yang melakukan kreasi, inovasi, dan berusaha tidak menggantungkan hidup pada kekuasaan, mereka ini menjadi sebuah harapan lahirnya better generation, yang tidak ingin hidup dalam romantisme masa lalu yang perih dan mengenaskan, masa lalu yang diselimuti kabut tebal, yang pada akhirnya membayangi masa depan. Better generation, selalu mempertahankan jati dirinya dengan nilai-nilai kebenaran sebagai parameter perjuangannya, mereka juga berani melakukan tindakan yang tidak populis. Di saat banyak orang berlomba merebut kekuasaan, better generation berkompetisi membuka lapangan kerja baru, bergumul dengan gagasan besar, yang akhirnya melahirkan karya-karya fenomenal, membangun cakar bisnis, dan well informed terhadap denyut kemajuan zaman, demi sumbangsih terhadap bangsa dan negaranya.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEil127TKLeHtrS2sCWypznp42B69vCezBVcn6lUMOie402_N7dLsTnjCudR2mvmvNJ5hFkKFTC2ae6WRcJP9qXrO1jJurNRVckfTjxh9L6d3Snxo7T4mWu-AtZnJ-wSaFD2e0smpgZH9Ac/s72-c/hijrah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Nilai Kejujuran Dalam Pendidikan</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/03/nilai-kejujuran-dalam-pendidikan.html</link><category>Artikel</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 1 Mar 2012 18:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-7987879957744205135</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5g3bUu6Kl8nZBvUCzclqyhbSvRVRzKhNQ3pYYvsH7qwAT6SvpLjalZGeN3ybNeQ8YpMAT5VqtATUu1h4JahQdByI6fhyphenhyphenz-GRfMItrdgTF9q1uU0ibEC3tvJg1reNGCP6KIB508NE0XPg/s1600/2498034373_aa0d61b653_o.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5g3bUu6Kl8nZBvUCzclqyhbSvRVRzKhNQ3pYYvsH7qwAT6SvpLjalZGeN3ybNeQ8YpMAT5VqtATUu1h4JahQdByI6fhyphenhyphenz-GRfMItrdgTF9q1uU0ibEC3tvJg1reNGCP6KIB508NE0XPg/s320/2498034373_aa0d61b653_o.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi Kejujuran&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pakar pendidikan H.G. Wells, dalam bukunya &lt;i&gt;The Catastrope of Education, (&lt;/i&gt;2005). mengatakan "rusaknya moral dan tumpulnya&amp;nbsp; etika sosial masyarakat tidak dapat tidak karena semakin suburnya praktek anomali di sekolah, sebagai salah satu sebab kemungkinan".&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tesis&amp;nbsp; H.G. Wells didorong oleh makin pudarnya etika sosial di masyarakat, makin melembaganya praktek kekerasan dalam dunia pendidikan. H.G. Wells, menuduh sebagai biangkeroknya adalah lembaga pendidikan sekolah. Menurutnya lembaga pendidikan sekolah &amp;nbsp;tidak membawa manfaat terhadap perbaikan moral dan etika sosial siswa yang seharusnya&amp;nbsp; lembaga pendidikan sekolah sebagai lembaga persemaian nilai-nilai kebaikan dan menolak segala bentuk anomali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau saja tuduhan H.G. Wells itu benar, maka kita tidak perlu sakit hati atau mengatakan sia-sialah guru-guru kita mengajarkan anak-anak kita di sekolah, karena toh pada akhirnya pendidikan menghasilkan manusia bermentalitas tidak jujur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senada dengan Wells, &amp;nbsp;Prof. Kurt Singer, dalam Sindhunata (2001) membeberkan panjang lebar gejala anomali pada pendidikan kita. Menurut Singer sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Sistem pendidikan sekolah mau tak mau menjadikan guru&amp;nbsp; sebagai agen yang mengawasi, menindas dan merendahkan martabat para siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang mematikan bakat dan gairah anak untuk belajar. Pekerjaan dan kewajiban sekolah&amp;nbsp; menjadi diktator yang memusnahkan kemampuan anak untuk belajar menjadi dirinya. Sekolah/kampus bukan lagi tempat untuk belajar melainkan tempat untuk mengadili dan merasa diadili. Kurt Singer menyebut pendidikan sekolah kita yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan itu, sebagai&amp;nbsp; &lt;i&gt;Schwarzer Paedagogic (pedagogi hitam)&lt;/i&gt;,&amp;nbsp; (Sindhunata, 2001).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang semestinya sekolah adalah tempat dimana anak-anak menemukan kejujuran, kesederhanaan dan sikap egaliter. Di sana anak-anak belajar tentang kejujuran, belajar tentang etika dan moral, belajar menjadi dirinya, belajar saling mengasihi, belajar saling membagi. Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari penipuan, kebohongan, kedustaan, di sana mereka belajar tentang demokrasi, kejujuran, kebebasan berbependapat, cinta kasih. Pokoknya sekolah adalah tempat&amp;nbsp; memanusiakan manusia yang berkarakter mulia dan berbudi luhur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kritikan ini sebenaranya bukan hal baru. Para pengkritik pendidikan melihat proses pendidikan tidak ubahnya sebagai penjara sosial. Dimana proses yang terjadi di kelas adalah pemasungan kreativitas anak didik dan karenanya pendidikan tidak pernah melahirkan manusia yang kritis dan cerdas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang telah dikemukan di atas&amp;nbsp; sebenarnya sebagai dampak dari sistem dan model pendidikan&amp;nbsp; lebih bersifat kodian atau belum tuntas, artinya masih kurang memberi perhatian kepada pengembangan individualitas yang jujur dan kerja keras. Hampir seluruh kegiatan di sekolah belum banyak usaha nyata untuk menumbuhkan&amp;nbsp; minat siswa untuk cinta kepada kerja dan kerja keras, cinta kepada kejujuran, cinta kesederhanaan. Mentalitas jalan pintas menjadi sebuah pilihan, rupanya sejalan dengan budaya bangsa kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di kalangan siswa budaya ini cukup tumbuh subur, seperti budaya nyontek, budaya plagiat. Oleh karena itu sekolah &amp;nbsp;hendaknya melakukan reorientasi pendidikan menuju kepada pengembangan individualitas dan menempatkan niliai humanitas pada spektrum yang paling utama.&lt;/div&gt;&lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2. Peranan Pendidikan Dalam Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;Sebagian besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peranan kunci dalam mencapai tujuan sosial. Pemerintah bersama orang tua telah menyediakan anggaran pendidikan yang diperlukan secara besar-besaran untuk kemajuan sosial dan pembangunan bangsa, untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional yang berupa nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan seperti nilai kesederhanaan, kejujuran dan kewajiban untuk mematuhi norma-norma yang berlaku, jiwa semangat berkorban, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, rela berbagai dan sebagainya. Pendek kata pendidikan dapat diharapkan untuk mengembangkan wawasan anak terhadap nilai,&amp;nbsp; sosial dan budaya secara tepat dan benar, sehingga membawa kemajuan pada individu masyarakat dan negara untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara tentang fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat ada bermacam-macam pendapat, di bawah ini disajikan tiga pendapat tentang fungsi pendidikan dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wuradji (1988) menyatakan bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: (1) fungsi sosialisasi, (2) fungsi kontrol sosial, (3) fungsi pelestarian budaya Masyarakat, (4) fungsi latihan dan pengembangan tenaga kerja, (5) fungsi seleksi dan alokasi, (6) fungsi pendidikan dan perubahan sosial, (7)&amp;nbsp; fungsi reproduksi budaya, (8)&amp;nbsp; fungsi difusi kultural, (9) fungsi peningkatan sosial, dan (10) fungsi modifikasi sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jeane H. Ballantine (1983) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut: (1) fungsi sosialisasi, (2) fungsi seleksi, latihan dan alokasi, (3) fungsi inovasi dan perubahan sosial, (4) fungsi pengembangan pribadi dan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meta Spencer dan Aleks Inkeles (1982) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut: (1) memindahkan nilai-nilai budaya, (2) nilai-nilai pengajaran, (3) peningkatan mobilitas sosial, (4) fungsi stratifikasi, (5) latihan jabatan, (6) mengembangkan dan memantapkan hubungan hubungan sosial (7) membentuk semangat kebangsaan, (8) pengasuh bayi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari tiga pendapat tersebut di atas, tidak ada perbedaan tetapi saling melengkapi antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1) Fungsi Sosialisasi.&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam masyarakat pra industri, generasi baru belajar mengikuti pola perilaku generasi sebelumnya tidak melalui lembaga-lembaga sekolah seperti sekarang ini. Pada masyarakat pra industri tersebut anak belajar dengan jalan mengikuti atau melibatkan diri dalam aktivitas orang-orang yang telah lebih dewasa. Anak-anak mengamati apa yang mereka lakukan, kemudian menirunya dan anak-anak belajar dengan berbuat atau melakukan sesuatu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang telah dewasa. Untuk keperluan tersebut anak-anak belajar bahasa atau simbol-simbol yang berlaku pada generasi tua, menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang berlaku, mengikuti pandangannya dan memperoleh keterampilan-keterampilan tertentu yang semuanya diperoleh lewat budaya masyarakatnya. Di dalam situasi seperti itu semua orang dewasa adalah guru, tempat di mana anak-anak meniru, mengikuti dan berbuat seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih dewasa. Mulai dari permulaan, anak-anak telah dibiasakan berbuat sebagaimana dilakukan oleh generasi yang lebih tua. Hal itu merupakan bagian dari perjuangan hidupnya. Segala sesuatu yang dipelajari adalah berguna dan berefek langsung bagi kehidupannya sehari-hari. Hal ini semua bisa terjadi oleh karena budaya yang berlaku di dalam masyarakat, di mana anak menjadi anggotanya, adalah bersifat stabil, tidak berubah dan waktu ke waktu, dan statis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan semakin majunya masyarakat, pola budaya menjadi lebih kompleks dan memiliki diferensiasi antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain, antara yang dianut oleh individu yang satu dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain masyarakat tersebut telah mengalami perubahan-perubahan sosial. Ketentuan-ketentuan untuk berubah ini, mengakibatkan terjadinya setiap transmisi budaya dan satu generasi ke generasi berikutnya selalu menjumpai permasalahan-permasalahan. Di dalam suatu masyarakat sekolah telah melembaga demikian kuat, maka sekolah menjadi sangat diperlukan bagi upaya menciptakan/melahirkan nilai-nilai budaya baru &lt;i&gt;(cultural reproduction).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan berdasarkan pada proses reproduksi budaya tersebut, upaya mendidik anak-anak untuk mencintai dan menghormati tatanan lembaga sosial dan tradisi yang sudah mapan adalah menjadi tugas dari sekolah. Termasuk di dalam lembaga-lembaga sosial tersebut diantaranya adalah keluarga, lembaga keagamaan, lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga ekonomi. Di dalam permulaan masa-masa pendidikannya, merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan dan pengembangan pengadopsian nilai-nilai ini. Masa-rnasa pembentukan dan pembangunan upaya pengadopsian ini dilakukan sebelum anak-anak mampu memiliki kemampuan kritik dan evaluasi secara rasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan dan mengembangkan tatanan-tatanan sosial serta kontrol sosial mempergunakan program-program asimilasi dan nilai-nilai subgrup beraneka ragam, ke dalam nilai-nilai yang dominan yang memiliki dan menjadi pola anutan bagi sebagiai masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2) Fungsi pelestarian budaya masyarakat.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah&amp;nbsp; juga harus melestanikan nilai-nilai budaya yang masih layak dipertahankan seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi sekolah berkaitan dengan konservasi nilai-nilai budaya daerah ini ada dua fungsi sekolah yaitu pertama sekolah digunakan sebagai salah satu lembaga masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional masyarakat dari suatu masyarakat pada suatu daerah tertentu, digunakan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan kedua sekolah mempunyai tugas untuk mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dengan mempersatukan nilai-nilai yang ada yang beragam demi kepentingan nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3) Fungsi pendidikan dan perubahan sosial.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial mempunyai fungsi (1) melakukan reproduksi budaya, (2) difusi budaya, (3) mengembangkan analisis kultural terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional, dan (5) melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa-masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru, seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, di mana nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga&amp;nbsp;&amp;nbsp; berfungsi sebagai difusi budaya &lt;i&gt;(cultural diffission)&lt;/i&gt;. Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut bukan hanya menyebarkan penemuan-penemuan dan informasi-informasi baru tetapi juga menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka meningkatkan kemampuan analisis kritis berperan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia. Pendidikan dalam era abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan. Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari ketergantungan dan kebiasaan berlindung pada orang lain, terutama pada mereka yang berkuasa. Pendidikan ini terutama diarahkan untuk memperoleh kemerdekaan politik, sosial dan ekonomi, seperti yang dianjurkan oleh Paulo Friere. Dalam banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju, pendidikan orang dewasa telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga masalah kemampuan kritis ini telah berlangsung dengan sangat intensif. Pendidikan semacam itu telah berhasil membuka mata masyarakat terutama di daerah pedesaan dalam penerapan teknologi maju dan penyebaran penemuan baru lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaruh dan upaya pengembangan berpikir kritis dapat memberikan modifikasi (perubahan) hierarki sosial ekonomi. Oleh karena itu pengembangan berpikir kritis bukan saja efektif dalam pengembangan pnibadi seperti sikap berpikir kritis, juga berpengaruh terhadap penghargaan masyarakat akan nilai-nilai manusiawi, perjuangan ke arah persamaan hak-hak baik politik, sosial maupun ekonomi. Bila dalam masyarakat tradisional lembaga-lembaga ekonomi dan sosial didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang berkuasa, maka dengan semakin pesatnya proses modernisasi tatanan-tatanan sosial ekonomi dan politik tersebut diatur dengan pertimbangan dan penalaran-penalaran yang rasional. Oleh karena itu timbullah lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik yang berasaskan keadilan, pemerataan dan persamaan. Adanya strata sosial dapat terjadi sepanjang diperoleh melalui cara-cara objektif dan keterbukaan, misalnya dalam bentuk mobilitas vertikal yang kompetitif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4) Fungsi Sekolah dalam Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tetapi masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan antara lain berfungsi sebagai partner masyarakat. Sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi oleh corak pengalaman seseorang di dalam lingkungan masyarakat. Pengalarnan pada berbagai kelompok masyarakat, jenis bacaan, tontonan serta aktivitas-aktivitas lainnya dalam masyarakat dapat mempengaruhi fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah. Sekolah juga berkepentingan terhadap perubahan lingkungan seseorang di dalam masyarakat. Perubahan lingkungan itu antara lain dapat dilakukan melalui fungsi layanan bimbingan, penyediaan forum komunikasi antara sekolah dengan lembaga sosial lain dalam masyarakat. Sebaliknya partisipasi sadar seseorang untuk selalu belajar dari lingkungan masyarakat, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh tugas-tugas belajar serta pengarahan belajar yang dilaksanakan di sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi pula oleh sedikit banyaknya serta fungsional tidaknya pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat. Kekayaan sumber belajar dalam masyarakat seperti adanya lembaga gereja, masjid, perpustakaan, museum, surat kabar, majalah dan sebagainya dapat digunakan oleh sekolah dalam menunaikan fungsi pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai produser kebutuhan pendidikan masyarakat sekolah dan masyarakat memiliki ikatan hubungan rasional di antara keduanya. Pertama, adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Kedua, ketepatan sasaran atau target pendidikan yang ditangani oleh lembaga persekolahan akan ditentukan pula o!eh kejelasan perumusan kontrak antara sekolah selaku pelayan dengan masyarakat selaku pemesan Ketiga, keberhasilan penunaian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat sebagian akan dipengaruhi oleh ikatan objektif di antara keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikatan objektif ini dapat berupa perhatian, penghargaan dan tunjangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan objektif lainnya yang memberikan makna penting eksistensi dan produk sekolahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. Disorientasi Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan kita telah lama mengalami disorientasi, dan lebih mengedepankan&amp;nbsp; pemenuhan keinginan politik ketimbang proses pencerdasan insan manusia. Aktivitas pendidikan hanya berkutat pada persoalan klasik yang memusatkan aspek rasional manusia. Transfer ilmu pengetahuan rasional ini begitu ditekankan dalam pendidikan sehingga dimensi lain pendidikan seperti aspek psikis, spiritual, aspek kejujuran, aspek kesederhanaan, aspek sosial dilupakan. Akibatnya pendidikan kita menjadi berat sebelah, yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia yang tinggi kadar intelektualnya namun tanpa emosi dan jiwa social yang haus akan nilai-nilai human. Itulah konsep pendidikan yang salah selama beberapa tahun kita alami, yang pada akhirnya&amp;nbsp; pendidikan itu&amp;nbsp; tidak akan bermanfaat, karena proses yang berjalan adalah pragmatisme nilai. Simpton pendidikan ini nampak pula dalam proses pendidikan yang secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan kita hanya mendidik manusia untuk "tahu banyak hal dan pandai mengetrapkan sejumlah keterampilan teknis" ( Henderyk Beribe, 1984).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ideologi pertumbuhan membuat manusia bukan lagi sebagai subyek human yang otonom melainkan budak yang tertindas karena keseimbangan psikologis tergoncang ketika norma-norma etos sosial,&amp;nbsp; keadilan sosial, kemanusiaan manusia, solidaritas sosial,&amp;nbsp; "dijungkirbalikan". Maka tidak&amp;nbsp; mengherankan kalau rasa keadilan sosial, solidaritas sosial pada anak didik kita&amp;nbsp; meluntur habis, karena etika sosial diganti dengan etika materialisme yang menjadi tolok ukur dari kriterium nilai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia tidak lagi menjadi makhluk sosial (societas dialogis) yang hidup bersama orang lain melainkan mahluk tunggal yang hidup sendiri dalam penjara-penjara kebudayaan yang diciptakannya sendiri, yang hanya bisa bertahan karena pupuk materialisme sebagai konsekwensi dari ideologi pertumbuhan tanpa batas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Materialisme lebih jauh memaksa manusia untuk memandang&amp;nbsp; dirinya sebagai "dewa dan Allah". Begitu sekularisme dan ateisme praktis muncul sebagai agama baru tanpa promulgasi resmi, (Hendryk Beribe, 1984). Materialisme semestinya dimengerti dalam konteks sosial budaya masyarakat yang berada pada tahap transisi, perubahan, perkembangan yang terus melaju untuk mendapatkan identitas sosial dan personalnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa saintisme, pendewasan teknologi sebagai nilai mutlak, materialisme merajalela, kemerosotan mental dan moral, ketidakadilan sosial yang meluas, kekerasan merajalela, yang sering terjadi di sekolah, menjadi pilihan dan merasuk serta membantin pada sebagian masyarakat sekolah, tidak dapat tidak karena proses pendidikan yang keliru sebagai salah satu sebab kemungkinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau demikian, sisi positifnya tetap ada, yakni lembaga pendidikan merupakan lembaga social yang paling arkais manakala masyarakat begitu dinamis dan rentan terhadap perubahan, fungsi pendidikan tetap sebagai &amp;nbsp;"watchdog" terhadap perubahan yang keliru. Sebab dengan memperoleh pendidikan yang secukupnya masyarakat kita akan tetap beradab dan menjadi merdeka pikiran dan batinnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut JB. Mangunwijaya (1992), lembaga pendidikan merupakan institusi sosial yang sangat menentukan kemajuan dan peradaban bangsa. Sulit dibayangkan, bangsa primitif, menjadi beradab dan bisa bersaing dengan bangsa lain jika tidak tanpa melalui pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu pengelolaan pendidikan ke depan adalah perlunya reorientasi pendidikan, yakni menempatkan peserta didik menjadi subyek dari agen perubahan untuk membebaskan dirinya dari isolasi peradaban dan intelektual. Jangkauan&amp;nbsp; jangka panjang yang kita harapkan adalah dari penyadaran menjadi pembebasan, dan dari pembebasan menuju humanisasi, baik personal maupun social., sehingga ia bisa melihat teman atau orang lain sebagai bagian dari ciptaan tuhan, bukan dianggap sebagai makhluk kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Dorothy Blaug (2002),&amp;nbsp; begitu banyak informasi akan menimbun manusia sehingga manusia harus dapat memilih dan memanfaatkan untuk pengembangan pribadinya. Untuk itu konsep pendidikan menurut Blaug adalah kemudahan untuk memperoleh informasi tentang hidup dan kehidupan. Kemajuan teknologi akan sangat membantu, meski kita tidak dapat mengatakan bahwa komputerisasi akan&amp;nbsp; memecahkan seluruh problem pendidikan. Belajar dengan bantuan komputer akan membuka horizon yang sangat luas bukan saja dalam proses belajar, juga tentang konsep sekolah. Sekolah&lt;b&gt; &lt;/b&gt;masa depan akan berubah sehingga akan lebih berupa " personalized learning center". Komputer akan banyak mengambil alih proses belajar hal-hal yang&lt;b&gt; &lt;/b&gt;wajib, tugas&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sekolah atau guru akan beralih kepada memperkenalkan dan membangkitkan persepsi mengenai nilai-nilai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4. Praktek pendidikan Kita saat ini&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangsa Indonesia telah mengalami berbagai bentuk praktek pendidikan: praktek pendidikan Hindu, pendidikan Budhis, pendidikan Islam, pendidikan zaman VOC, pendidikan kolonial Belanda, pendidikan zaman pendudukan Jepang, dan pendidikan zaman setelah kemerdekaan (Somarsono, 1985). Berbagai praktek pendidikan memiliki dasar filosofis dan tujuan yang berbeda-beda. Beberapa praktek pendidikan yang relevan dengan pembahasan ini adalah praktek-praktek pendidikan modern zaman kolonial Belanda, praktek pendidikan zaman kemerdekaan sampai pada tahun 1965, dan praktek pendidikan dalam masa pembangunan sampai sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Praktek pendidikan zaman kolonial Belanda ditujukan untuk mengembangkan kemampuan penduduk pribumi secepat-cepatnya melalui pendidikan Barat. Diharapkan praktek pendidikan Barat ini akan bisa mempersiapkan kaum pribumi menjadi kelas menengah baru yang mampu menjabat sebagai &lt;i&gt;"pangreh&lt;/i&gt; &lt;i&gt;praja".&lt;/i&gt; Praktek pendidikan kolonial ini tetap menunjukkan diskriminasi antara anak pejabat dan anak kebanyakan. Kesempatan luas tetap saja diperoleh anak-anak dari lapisan atas. Dengan demikian, sesungguhnya tujuan pendidikan adalah demi kepentingan penjajah untuk dapat melangsungkan penjajahannya. Yakni, menciptakan tenaga kerja yang bisa menjalankan tugas-tugas penjajah dalam mengeksploitasi sumber dan kekayaan alam Indonesia. Di samping itu, dengan pendidikan model Barat akan diharapkan muncul kaum bumi putera yang berbudaya barat, sehingga tersisih dari kehidupan masyarakat kebanyakan. Pendidikan zaman Belanda membedakan antara pendidikan untuk orang pribumi. Demikian pula bahasa yang digunakan berbeda. Namun perlu dicatat, betapapun juga pendidikan Barat (Belanda) memiliki peran yang penting dalam melahirkan pejuang-pejuang yang akhirnya berhasil melahirkan kemerdekaan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman Jepang meski hanya dalam tempo yang singkat, tetapi bagi dunia pendidikan Indonesia memiliki arti yang amat signifikan. Sebab, lewat pendidikan Jepang-lah sistem pendidikan disatukan. Tidak ada lagi pendidikan bagi orang asing degan pengantar bahasa Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu sistem pendidikan nasional tersebut diteruskan setelah bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Pemerintah Indonesia berupaya melaksanakan pendidikan nasional yang berlandaskan pada budaya bangsa sendiri. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk menciptakan warga negara yang sosial, demokratis, cakap dan bertanggung jawab dan siap sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara. Praktek pendidikan selepas penjajahan menekankan pengembangan jiwa patriotisme. Dari pendekatan &lt;i&gt;"Macrocosmics",&lt;/i&gt; bisa dianalisis bahwa praktek pendidikan tidak bisa dilepaskan dari lingkungan, baik lingkungan sosial, politik, ekonomi maupun lingkungan lainnya. Pada masa ini, lingkungan politik terasa mendominir praktek pendidikan. Upaya membangkitkan patriotisme dan nasionalisme terasa berlebihan, sehingga menurunkan kualitas pendidikan itu sendiri.&amp;nbsp; Hal ini sangat terasa terutama pada periode Orde Lama (tahun 1959-1965).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Praktek pendidikan zaman Indonesia merdeka sampai tahun 1965 bisa dikatakan banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan Belanda. Sebaliknya, pendidikan setelah tahun 1966 sampai saat ini&amp;nbsp; pengaruh sistem pendidikan Amerika semakin lama terasa semakin menonjol. Sistem pendidikan Amerika menekankan bahwa praktek pendidikan merupakan instrumen dalam proses pembangunan. Oleh karenanya, tidak rnengherankan kalau seiring dengan semangat dan pelaksanaan pembangunan yang dititik-beratkan pada pembangunan ekonomi, praktek pendidikan dijadikan alat&amp;nbsp; untuk dapat mendukung pembangunan ekonomi dengan mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan dalam pembangunan. Dengan kata lain praktek pendidikan yang bersumber pada kebijaksanaan pendidikan banyak ditentukan guna kepentingan pembangunan ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan pendidikan nasional yang berkiblat pada pendidikan Amerika berkembang pesat dan menunjukkan hasil yang luar biasa. Namun perlu dicatat bahwa kecepatan perkembangan pendidikan nasional ini cenderung mendorong pendidikan ke arah sistem pendidikan yang bersifat sentralistis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping mempertanyakan kualitas output pendidikan yang berkiblat ke Arnerika ini, mulai dirasakan bahwa praktek pendidikan cenderung mendorong munculnya generasi terdidik yang bersifat materialistik, individualistik dan konsumtif. Hal ini sesungguhnya merupakan konsekuensi logis dari pengetrapan praktek pendidikan Amerika. Apalagi, pusat-pusat pendidikan yang lain, misalnya media komunikasi massa mendukung proses "Amerikanisasi" ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapula satu bentuk produk proses pendidikan yang sesungguhnya menyimpang dari apa yang terjadi di Barat yakni munculnya mentalitas "jalan pintas", dengan semangat dan kemauan untuk bisa mendapatkan hasil secepat mungkin, baik di kalangan generasi muda maupun generasi tuanya. Mereka cenderung tidak menghiraukan bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang memerlukan waktu. Bahkan tidak jarang waktu yang diperlukan melewati rentang waktu kehidupannya, tetapi demi masa depan generasi yang akan datang generasi sekarang harus merelakannya. Sebagai contoh, di Barat tidak jarang pembuatan "minuman anggur", agar memiliki rasa luar biasa memerlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Tidak jarang pada label sebotol anggur dituliskan: "dibuka 100 atau 200 tahun lagi". Mentalitas "jalan pintas" merupakan hasil negatif dari penekanan yang berlebihan pendidikan sebagai instrumen pembangunan ekonomi. Aspek negatif lain yang erat kaitannya dengan mentalitas jalan pintas adalah dominannya nilai ekstrik &lt;i&gt;(Extrinsic&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Value)&lt;/i&gt; di kalangan masyarakat kita, khususnya generasi muda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tekanan kemiskinan menimbulkan obsesi bahwa kekayaan merupakan obat yang harus segera diperoleh dengan segala cara dan dengan biaya apapun juga. Oleh karena tujuan segala kegiatan adalah "kekayaan", dan yang lainnya merupakan instrumental variabel untuk mencapai kekayaan tersebut. Oleh karena itu pendidikan, politik bahkan agama dijadikan sarana dan alat untuk mendapatkan kekayaan. Pendidikan, secara khusus, akan diberlakukan sebagai lembaga yang mencetak "tenaga kerja", bukan lembaga yang menghasilkan "manusia yang utuh" &lt;i&gt;(the&lt;/i&gt; &lt;i&gt;whole&lt;/i&gt; &lt;i&gt;person).&lt;/i&gt; Konsep tersebut akan menimbulkan tekanan yang berlebihan pada hasil tanpa menikmati prosesnya. Sekolah dijalani oleh seseorang agar mendapatkan ijazah untuk bekerja. Proses sekolahnya sendiri tidak pernah dinikmati, karena tidak penting.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5. Nilai Kejujuran, komunikasi dan kesederhanaan&amp;nbsp;&lt;/b&gt;(&lt;i&gt;honesty, comunication, and simplicity&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca&amp;nbsp; model pendidikan karakter yang pernah dikembangkan di Kolese Gonzaga (1007-2008) dan baik untuk kita terapkan di sekolah yaitu Kejujuran, Komunikasi, dan Kesederhanaan. dan ijinkan saya untuk mengutipnya kembali pada bagian berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Kejujuran (&lt;i&gt;honesty&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Kejujuran merupakan kualitas manusiawi melalui mana manusia mengomunikasikan diri dan bertindak secara benar (&lt;i&gt;truthfully&lt;/i&gt;). Karena itu, kejujuran sesungguhnya berkaitan erat dengan nilai kebenaran, termasuk di dalamnya kemampuan mendengarkan, sebagaimana kemampuan berbicara, serta setiap perilaku yang bisa muncul dari tindakan manusia. Secara sederhana, kejujuran bisa diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk mengekpresikan fakta-fakta dan keyakinan pribadi sebaik mungkin sebagaimana adanya. Sikap ini terwujud dalam perilaku, baik jujur terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri (tidak menipu diri), serta sikap jujur terhadap motivasi pribadi maupun kenyataan batin dalam diri seorang individu.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Kualitas kejujuran seseorang meliputi seluruh perilakunya, yaitu, perilaku yang termanifestasi keluar, maupun sikap batin yang ada di dalam. Keaslian kepribadian seseorang bisa dilihat dari kualitas kejujurannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Konsep tentang kejujuran bisa membingungkan dan mudah dimanipulasi karena sifatnya yang lebih interior. Perilaku jujur mengukur kualitas moral seseorang di mana segala pola perilaku dan motivasi tergantung pada pengaturan diri (&lt;i&gt;self-regulation&lt;/i&gt;) seorang individu.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Meskipun tergantung pada proses penentuan diri, kita tidak bisa mengklaim bahwa pendapat diri kita sematalah yang benar. Seandainya toh kita telah meyakini bahwa pendapat kita merupakan pendapat yang menurut kita paling baik, perlulah tetap mendengarkan pendapat orang lain. Setiap keyakinan pribadi menyisakan bias subjektivitas yang bisa saja mengaburkan diri kita dalam memahami realitas sebagaimana adanya. Sikap jujur dengan demikian bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk senantiasa bersikap selaras dengan nilai-nilai kebenaran (&lt;i&gt;to be thrutful&lt;/i&gt;), sebuah usaha hidup secara bermoral dalam kebersamaan dengan orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kualitas keterbukaan kita terhadap yang lain akan menentukan kadar kejujuran atau ketidakjujuran kita. Namun seringkali keterbukaan ini tergantung pada pemahaman diri kita terhadap realitas, termasuk pemahaman nilai-nilai moral yang kita yakini. Keyakinan moral seseorang bisa saja keliru. Namun persepsi diri kita tentang nilai-nilai moral tidaklah statis. Ia dinamis seiring dengan banyaknya informasi dan pengetahuan yang kita terima. Ketika kita menolak menerima adanya perspektif atau sudut pandang lain yang berbeda dengan diri kita, biasanya ini merupakan pertanda bahwa kita kurang memiliki interest terhadap kebenaran. Sikap demikian ini bisa dikatakan sebagai sikap abai terhadap nilai kejujuran (&lt;i&gt;dishonest&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Mengupayakan nilai kejujuran tidak sama dengan memperjuangkan ideologi yang sifatnya lentur dan bisa berubah setiap saat. Inilah mengapa, meskipun kita tahu bahwa kejujuran itu sangat penting bagi kehidupan, nilai kejujuran sulit (untuk mengatakan tidak dapat) menjadi norma sebuah kultur masyarakat. Ideologi senantiasa mencari pendukung yang memperkuat gagasannya dan mendukung sudut pandangnya sendiri sementara menolak dan mengabaikan pandangan orang lain. Pendekatan ideologis menganggap bahwa cara-cara mereka merupakan satu-satunya cara yang benar. Pendekatan demikian mengikis praksis perilaku jujur dan meningkatkan konflik bagi setiap relasi antar manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Kejujuran memiliki kaitan yang erat dengan kebenaran dan moralitas. Bersikap jujur merupakan salah satu tanda kualitas moral seseorang. Dengan menjadi seorang pribadi yang berkualitas, kita mampu membangun sebuah masyarakat ideal yang lebih otentik dan khas manusiawi.Sokrates, misalnya, mengatakan, jika seseorang sungguh-sungguh mengerti bahwa perilaku mereka itu keliru, mereka tidak akan memilihnya. Seseorang itu akan semakin jauh dari kebenaran dan karena itu &lt;i&gt;dishonest&lt;/i&gt; jika ia tidak menyadari bahwa perilakunya itu sesungguhnya keliru. Kesadaran diri bahwa setiap manusia bisa salah dan mengakuinya merupakan langkah awal bertumbuhnya nilai kejujuran dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sudut pandang Kristiani, norma moral dasar yang bisa ditarik dari kutipan Injil adalah sabda Yesus sendiri, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39). Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa, 1) perilaku individu akan menentukan kualitas komunitas/masyarakat di mana ia hidup, 2) Individu tidak sekedar melakukan apa yang benar dan baik, melainkan perilaku benar dan baik ini bisa diuji secara timbal balik melalui keberadaan orang lain. Secara sederhana perilaku jujur merupakan sebuah tindakan untuk menghindari kebohongan, mencuri, dan menipu melalui cara apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kejujuran sejati, bukan sekedar kesediaan kita menerima diri dan orang lain sebagaimana adanya demi kelangsungan hidup bersama. Kejujuran sejati juga mengandaikan bahwa kita jujur tentang kemungkinan dan potensi yang kita miliki sebagai individu. Inilah dimensi kreatif dari makna kejujuran. Kita tidak sekedar menerima diri ktia apa adanya. Menerima diri apa adanya adala awal dari kejujuran. Namun ini belum cukup. Yang kita perlukan adalah pengembangan segala potensi dan kemungkinan yang kita miliki. Inilah yang senantiasa menjadi penjaga bagi kita dalam menghadapi setiap tantangan kedepan.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Untuk memahami lebih praktis perilaku kejujuran, seringkali akan lebih mudah bagi kita menunjukkan macam tindakan-tindakan ketidakjujuran dalam kerangka pendidikan. Perilaku tidak jujur dalam konteks pendidikan antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Plagiarisme&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;&lt;i&gt;plagiarism&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Sebuah tindakan mengadopsi atau mereproduksi ide, atau kata-kata, dan pernyataan orang lain tanpa menyebutkan nara sumbernya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Plagiarisme karya sendiri&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;&lt;i&gt;self plagiarism&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Menyerahkan/mengumpulkan tugas yang sama lebih dari satu kali untuk mata pelajaran yang berbeda tanpa ijin atau tanpa memberitahu guru yang bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manipulasi (&lt;i&gt;fabrication&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt; Pemalsuan data, informasi atau kutipan-kutipan dalam tugas-tugas akademis apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengelabuan (&lt;i&gt;deceiving&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt; Memberikan informasi yang keliru, menipu terhadap guru berkaitan dengan tugas-tugas akademis, misalnya, memberikan alasan palsu tentang mengapa ia tidak menyerahkan tugas tepat pada waktunya, atau mengaku telah menyerahkan tugas padahal sama sekali belum menyerahkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menyontek (&lt;i&gt;cheating&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt; Berbagai macam cara untuk memperoleh atau menerima bantuan dalam latihan akademis tanpa sepengetahuan guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sabotase (&lt;i&gt;sabotage&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt; Tindakan untuk mencegah dan menghalang-halangi orang lain sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugas akademis yang mesti mereka kerjakan. Tindakan ini termasuk di dalamnya, menyobek/menggunting lembaran halaman dalam buku-buku di perpustakaan, ensiklopedi,dll, atau secara sengaja merusak hasil karya orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Perilaku ketidakjujuran akademis ini telah banyak terjadi di dalam lingkup pendidikan, mulai dari lingkup sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dengan kadar pelanggaran yang berbeda. Pada masa kini, dalam lingkup akademik, perilaku ketidakjujuran akademis seperti ini dipandang sebagai perilaku negatif yang tidak terpuji. &amp;nbsp;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Honesty means there are no contradictions or discrepancies in thoughts, words, or actions. To be honest to ones real self and to the purpose of a task earns trust and inspires faith in others. Honesty is never to misuse that which is given in trust."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Setiap proses pendidikan tidak dapat menghindari diri dari kenyataan bahwa pendidikan tak lain adalah proses komunikasi. Tidak akan ada pendidikan tanpa komunikasi, sebab pendidikan merupakan intervensi sosial bagi pembentukan generasi muda agar mereka bertumbuh secara maksimal menjadi pribadi yang mandiri, dewasa dan bertanggungjawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Komunikasi senantiasa berkaitan dengan pembentukan komunitas, yaitu, sebuah keadaan hidup bersama yang saling membantu dan menumbuhkan setiap individu yang terlibat di dalamnya. Lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga formasi merupakan komunitas &lt;i&gt;par excellence&lt;/i&gt;. Karena itu, komunikasi menjadi cara bertindak paling dasariah bagi setiap insan yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tanpanya, lembaga pendidikan kehilangan alasan keberadaannya &lt;i&gt;(raison d etre).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Sebagaimana nilai kejujuran, komunikasi mengandaikan adanya sikap terbuka terhadap yang lain (baik terhadap individu maupun lingkungan). Keterbukaan dalam komunikasi membuat setiap individu yang terlibat dalam pendidikan mengetahui visi dan misi bersama yang akan diraih oleh sebuah lembaga pendidikan. Dengan demikian mereka mampu mengarahkan diri, pemikiran, tenaga dan perilakunya pada visi dan misi yang menjadi panduan bertindak sebuah lembaga pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Komunikasi dalam pendidikan meliputi, komunikasi antar lembaga dengan individu (misalnya, antara yayasan dengan pihak pengurus sekolah), dan antar individu dalam sekolah (komunikasi antara guru-siswa, guru-guru, guru-karyawan, siswa-siswa, siswa-karyawan, karyawan-karyawan). Komunikasi dalam pendidikan juga termasuk di dalamnya komunikasi antara pihak sekolah dengan masyarakat sebagai pemangku kepentingan, dalam hal ini, mereka diwakili oleh orang tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Komunikasi dalam lingkup akademis secara khusus tampil dalam kesediaan dialog dalam kerangka pengembangan kemampuan akademis siswa, yaitu, dialog antar guru dan siswa, pendampingan wali kelas terhadap siswa di kelas perwaliannya, komunikasi walikelas dengan orang tua. Semua jenis komunikasi ini diarahkan demi membantu siswa mencapai pengembangan kemampuan akademis dan kepribadian yang dipersyaratkan sesuai oleh pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Ketiadaan komunikasi dapat dilihat dari gejala seperti ini, ketidakpuasan terhadap kebijakan sekolah, keluhan dari para siswa terhadap pendekatan pembelajaran tertentu yang dilakukan oleh guru, suasana tidak nyaman dalam bekerja karena masing-masing pihak mengutamakan ide dan gagasannnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Singkatnya, pengembangan kemampuan komunikasi dalam lingkup sekolah mengandaikan adanya keterbukaan, pemahaman bersama akan visi dan misi, kesediaan untuk berdialog dan mencari jalan pemecahan terbaik jika terjadi konflik. Dalam segala hal, pribadi tersebut akan&amp;nbsp; mengutamakan kepentingan umum mengatasi kepentingan pribadinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. Kesederhanaan (&lt;i&gt;simplicity&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;Menanamkan nilai-nilai kesederhanaan menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik di tengah arus masyarakat yang memuja penggelojohan nafsu membeli. Nilai kesederhanaan berkaitan dengan sikap ugahari, yaitu, sebuah perilaku untuk mempergunakan sesuatu apa adanya sesuai kebutuhan, tidak melebihi apa yang seharusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kerangka pendidikan, sikap sederhana ini bisa diwujudkan dalam penggunaan sarana dan prasarana secara maksimal demi pengembangan diri, semangat bekerja keras dalam belajar dan menempa diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sikap tidak sederhana biasanya tampil dalam, kegiatan yang sifatnya jor-joran, seperti, &lt;i&gt;prom nite&lt;/i&gt; di hotel-hotel, pesta-pesta yang tidak berkaitan dan tak ada maknanya bagi proses pendidikan, penggunaan mobil ke sekolah tanpa ijin, pamer barang mewah (mobil, hp,dll), konsumsi berlebihan, membuang-buang waktu demi kesenangan percuma dan sia-sia, dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Melalui tiga penekanan khas bagi pembentukan karakter, yaitu, kejujuran, komunikasi dan kesederhanaan, adalah sebagai wujud tanggungjawab seakolah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sebuah masyarakat yang lebih manusiawi, otentik, peka dan solider pada orang lain. Melaui tiga nilai ini, ingin merealisasikan hakekat pendidikan, yaitu menusia yang memiliki keunggulan, kompetensi, tanggungjawab, sikap terbuka, daya integratif dengan semangat pelayanan dan kepedulian."&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 30px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;6. Catatan Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Satmoko,dalam Agus Salim (2008) bangsa Indonesia belum pernah merumuskan filsafat pendidikannya sendiri, karena banyak distorsi. Begitu Indonesia merdeka dan bebas dalam berpikir, kita justru belum mampu memanfaatkan kebebasan itu. Kita terbentur pada kebhinekaan. Secara historis, sebelum Belanda datang, sebenarnya Indonesia sudah memiliki "system" pendidikan sendiri, yaitu pada zaman Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram yang bersifat feodalistis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Budaya feodal berwatak materialistis, hedonisme, hegemonisme sehingga menjadi panutan yang kuat. Para pemikir seperti Ronggowarsito yang futuristik sudah meramalkan bahwa zaman yang akan datang bakal terjadi pluralisme yang cenderung tidak beraturan. Nilai-nilai dasar budaya Indonesia yang plural belum sempat menjadi sistem yang dianut oleh semua pihak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai sekarang belum pernah ada suatu teori pendidikan yang didukung riset. Riset yang ada selalu mengacu Amerika. Di Indonesia, sifat pendidikan direduksi menjadi &lt;i&gt;schooling&lt;/i&gt; (sekolah formal) -kesimpulan yang dinilai terlalu tergesa-gesa. Harusnya, secara embrional, pendidikan itu harus dilihat dalam kekuatan keluarga. Bagaimana orang tua dan masyarakat mendidik anak-anaknya (filsafat &lt;i&gt;ing ngarsa asung tuladha&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru sekolah itu kedudukannya ada dalam proses persekolahan. Guru adalah fasilitator (&lt;i&gt;ing madya mangun karsa&lt;/i&gt;), yang aktif mendorong anak dalam arah yang benar. Tetapi guru yang berkualifikasi tidak sempat mengenal siswanya, karena tanggung jawabnya cukup besar sementara gajinya kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satmoko dalam Agus Salaim (2008) melihat kejadian sebagai akar fenomenologi yang berkembang di Indonesia. Embrio pemikiran tentang sistem pendidikan nasional berasal dari Ki Hajar Dewantara yang menanamkan nilai dasar budaya Indonesia. Taman Siswa bukan penonjolan budaya Jawa, tetapi perlawanan budaya lokal kepada pemerintah kolonialisme Belanda yang mendapat pembenaran dari berbagai suku lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya mendidik adalah tanggung jawab yang mesti ditangani orang tua dan&amp;nbsp; guru. Orang tua tak siap untuk mendidik, karena ia melahirkan anak tanpa ilmu pendidikan, tapi secara instinktif. Orientasi filosofi orang tua sederhana saja, yaitu berupaya menanamkan nilai-nilai kemandirian, kesederrhanaan, dan komunikasi, dan sekaligus memberi bekal untuk meneruskan hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian orang tua menyadari bahwa dalam hidup, manusia tidak hanya mengejar kejerahan materi, tapi hendaknya juga menyiapkan diri di masa akhir dunia. Dengan demikian, yang dibekalkan pada anak hanya dua hal yakni akar dan sayap menurut Christoper Gleenson (1997)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prof Satmoko dalam Agus Salim (2008) menilai pengaruh Amerika besar sekali terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Depdiknas hanya mengambil filsafat &lt;i&gt;tut wuri handayani&lt;/i&gt;. Para pendidik kita yang belajar di AS tidak mampu membendung masuknya liberalisasi dan individualisasi. Anak, dalam teori behavioralistik, diasumsikan merupakan potensi, naturalistik harus didukung dengan filsafat &lt;i&gt;tut wuri handayani&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal Ki Hajar Dewantara mengajarkan ketiga kesatuan (Tripusat) tak terpisahkan. Karena seorang anak juga butuh diberi contoh (&lt;i&gt;tuladha&lt;/i&gt;), sedangkan guru sebagai fasilitator harus mampu memberi arah pendidikan nilai yang jelas. Sehingga guru Indonesia menjadi korban. Di satu pihak belum memiliki filosofi Indonesia, tetapi di tataran praksis mengalirlah praktik pendidikan dengan program pengajaran yang sangat liberal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendekatan kompetensi diterapkan dalam pendidikan dan teknologi, serta disikapi sebagai panglima yang mengarahkan mutu pendidikan. Kita bisa menyaksikan ukuran-ukuran mutu hasil pendidikan yang dikaitkan dengan peningkatan &lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;. Ujian Negara (UN) menjadi patokan, padahal kita tidak menerima anak sebagai unsur teknologi, tetapi sebagai pribadi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia sebetulnya memiliki filsafat Pancasila sebagai landasan filosofi pendidikan. Pada masa lalu, Pancasila kehilangan spiritnya karena inkonsistensi sikap dari bangsa kita. Filsafat Pendidikan Pancasila mengajarkan banyak hal, mulai dari unsur religi, demokrasi, &lt;i&gt;human relation&lt;/i&gt;, sampai keadilan. Tetapi masuknya liberalisme dan kapitalisme membuat kita menjadi sangat behavioristik. Anak didik dipaksa untuk kreatif, inovasi dan bebas, tetapi guru tidak bertanggung jawab pada pembentukan nilai-nilai anak. Liberalisme dan kapitalisme hanya melahirkan kemampuan memilih peluang, tetapi tidak menghasilkan sikap dan moral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Satmoko, hidup merupakan patron. Guru hendaknya memberi &lt;i&gt;tuladha&lt;/i&gt; kepada anak didik untuk hidup sederhana dan mengembangkan nilai-nilai hidup normatif berdasarkan ajaran agama. Kondisi ini tidaklah mudah, apalagi pada masa Orde Baru di mana tuntutan kemajuan materi sangat tinggi. Mendidik anak dimulai dari keluarga (&lt;i&gt;millieu&lt;/i&gt;), lingkungan kerja. Dan dalam keseharian, guru selalu diupayakan memegang kaidah hidup &lt;i&gt;dadi guru, ora guroni ananging naberi&lt;/i&gt; (menjadi guru jangan sekali-kali merasa lebih pinter, tetapi memberi contoh).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem pendidikan harus dikembangkan dengan memberi kepercayaan kepada anak didik sepenuhnya. Untuk itu, guru harus memiliki idealisme dan panggilan hati (&lt;i&gt;beruf&lt;/i&gt;) untuk mencintai anak didiknya. Sikap ini tidak dapat diperoleh dari bangku sekolah, tetapi perlu dilatih dalam kehidupan keseharian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai penyimpangan yang ada dalam masyarakat, misalnya berkembangnya mentalitas jalan pintas, sikap materialistik dan individualistik, dominannya nilai-nilai ekstrinsik terutama di kalangan generasi muda, dari satu sisi bisa dikaitkan dengan kegagalan praktek pendidikan yang berkiblat ke Amerika. Dengan kata lain, praktek pendidikan yang kita laksanakan tidak atau kurang cocok dengan budaya Indonesia. Untuk itu, perlu dicari sosok bentuk praktek pendidikan yang berwajah Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan merupakan proses yang berlangsung dalam suatu budaya tertentu. Banyak nilai-nilai budaya dan orientasinya yang bisa menghambat dan bisa mendorong pendidikan. Bahkan banyak pula nilai-nilai budaya yang dapat dimanfaatkan secara sadar dalam proses pendidikan. Sebagai contoh di Jepang &lt;i&gt;"moral Ninomiya Kinjiro"&lt;/i&gt; merupakan nilai budaya yang dimanfaatkan praktek pendidikan untuk mengembangkan etos kerja, kejujuran, kesederhanaan. Kinjiro adalah anak desa yang miskin yang belajar dan bekerja keras sehingga bisa menjadi samurai, suatu jabatan yang sangat terhormat. Karena saking miskinnya (sederhananya), orang tuanya tidak mampu membeti alat penerangan. Oleh karena itu dalam belajar ia menggunakan penerangan dari kunang-kunang yang dimasukan dalam botol. Kerja keras diterima bukan sebagai beban, melainkan dinikmati sebagai pengabdian. Selain semangat kerja keras, budaya Jepang juga menekankan rasa keindahan yang tercerminkan pada ketekunan, hemat, jujur dan bersih sebagaimana semangat Kinjiro diwujudkan dalam patung anak yang sedang asyik membaca sambil berjalan dengan menggendong kayu bakar di bahunya. Patung tersebut didirikan di setiap sekolah di Jepang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan adakah nilai-nilai dan orientasi budaya kita yang bisa dimanfaatkan dalam praktek pendidikan? Manakah nilai dan orientasi budaya yang perlu dikembangkan dan manakah yang harus ditinggalkan? Itulah yang harus kita kerjakan sekarang ini. Semoga!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;" type="1"&gt;&lt;li&gt;Banks, J.A. 1985. Teaching strategies for the social      studies. New&lt;br /&gt;
York: Longman.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Elias, J. L. 1989. Moral education: secular and      religious. Florida:&lt;br /&gt;
Robert E. Krieger Publishing Co., Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an      analytic approach.&lt;br /&gt;
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Fraenkel, J.R. 1980. Helping students think and      value: strategies for&lt;br /&gt;
teaching the social studies. Second Edition. New Jersey:&lt;br /&gt;
Prentice-Hall, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hersh, R.H., Miller, J.P. &amp;amp; Fielding, G.D. 1980.      Model of moral&lt;br /&gt;
education: an appraisal. New York: Longman, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a      basis of moral&lt;br /&gt;
education. Dlm. Beck, C.M., Crittenden, B.S. &amp;amp; Sullivan, E.V.(pnyt.).&lt;br /&gt;
Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman&lt;br /&gt;
Press.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kohlberg, L. 1977. The cognitive-developmental      approach to moral&lt;br /&gt;
education. Dlm. Rogrs, D. Issues in adolescent psychology: 283-299.&lt;br /&gt;
New Jersey: Printice Hall, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lictona, T. 1987. Character development in the family.      Dlm. Ryan, K. &amp;amp;&lt;br /&gt;
McLean, G.F. Character development in schools and beyond: 253-273. New      York: Praeger.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Liebert, R.M. 1992. Apa yang berkembang dalam      perkembangan moral?.&lt;br /&gt;
Dlm. Kurtines, W.M. &amp;amp; Gerwitz, J.L. (pnyt.). Moralitas, perilaku&lt;br /&gt;
moral, dan perkembangan moral:287-313. Terj. Soelaeman, M.I. &amp;amp; Dahlan,      M.D. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Power, F.C. 1994. Moral development. Dlm.      Ramachandran, V.C. (pnyt.).&lt;br /&gt;
Encyclopedia of human behavior: 203-212. San Diego: Academic Press.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Prayitno. 1984. Budi pekerti dan pendidikan. Kertas      kerja seminar&lt;br /&gt;
pendidikan budi pekerti, anjuran Pusat Kurikulum dan Sarana&lt;br /&gt;
Pendidikan, Balitbang Dikbud, 2-3 Ogos 1994.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Raths, L.E., Harmin, M. &amp;amp; Simon, S.B. 1978.      Values and teaching:&lt;br /&gt;
working with values in the classroom. Second Edition. Columbus:&lt;br /&gt;
Charles E. Merrill Publishing Company.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rest, J.R. 1992 Komponen-komponen utama moralitas.      Dlm. Kurtines, W.M. &amp;amp; Gerwitz, J.L. (pnyt.). Moralitas, perilaku      moral, dan perkembangan&lt;br /&gt;
moral:37-60. Terj. Soelaeman, M.I. &amp;amp; Dahlan, M.D. Jakarta: Penerbit&lt;br /&gt;
Universitas Indonesia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Shaver, J.P. &amp;amp; Strong, W. 1982. Facing value      decisions:&lt;br /&gt;
rationale-building for teachers. Second Edition. New York: Teacher&lt;br /&gt;
College, Columbia University.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories      and values&lt;br /&gt;
education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of&lt;br /&gt;
California, Berkeley.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Superka, D.P., Ahrens, C., Hedstrom, J.E., Ford,      L.J. &amp;amp; Johnson, P.L.&lt;br /&gt;
1976. Values education sourcebook. Colorado: Social Science Education&lt;br /&gt;
Consortium, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Windmiller, M. 1976. Moral development. Dlm. Adams.      J.F. (pnyt.).&lt;br /&gt;
Understanding adolescence: current developments in adolescent&lt;br /&gt;
psychology: 176-198. Boston: Allyn and Bacon, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Agustian,      G. A. (2001). &lt;i&gt;Emotional Spiritual Quotient. &lt;/i&gt;Jakarta: Penerbit ARGA. Bertens. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;K. (1993). &lt;i&gt;E t i k a. &lt;/i&gt;Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cummings, W. K, Gopinathan, S, and Tomoda, Y.      (1988). &lt;i&gt;The Revival of Values Education in Asia and the West. &lt;/i&gt;Oxford:      Pergamon Press.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Goleman,      D. (1997). &lt;i&gt;Emotional Intelligence. &lt;/i&gt;Terjemahan. Jakarta: Penerbit PT Grarnedia Pustaka Utama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kneller, George F. (1972). &lt;i&gt;Introduction to the Philosophy of Education. &lt;/i&gt;New York: John Wiley and Sons, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Metcalf, L. E. (editor) (1971).&amp;nbsp; &lt;i&gt;Values      Education: Rationale, Strategies and &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Procedures. &lt;/i&gt;Washington D.C.: National Council for Social      Studies.&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Simon, S. B. and Howe, Leland, W., and Kirscenbaum,      H. (1972). &lt;i&gt;Values&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Clarification. &lt;/i&gt;New York: Hart Publishing Company, Inc.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sudjana, D. (2000). &lt;i&gt;Nisbah Ilmu Pendidikan Terhadap Kerangka Ilmu      Pengetahuan. &lt;/i&gt;Bandung:      FJP-UPI.&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Zohar, D. and Marshall, I. (2000). &lt;i&gt;Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(SO). &lt;/i&gt;London:      Bloomsbury Publishing Plc.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.pendidikan-diy.go.id/?view=v_artikel&amp;amp;id=7" target="_blank"&gt;http://www.pendidikan-diy.go.id/?view=v_artikel&amp;amp;id=7&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5g3bUu6Kl8nZBvUCzclqyhbSvRVRzKhNQ3pYYvsH7qwAT6SvpLjalZGeN3ybNeQ8YpMAT5VqtATUu1h4JahQdByI6fhyphenhyphenz-GRfMItrdgTF9q1uU0ibEC3tvJg1reNGCP6KIB508NE0XPg/s72-c/2498034373_aa0d61b653_o.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Muhammadiyah Era Neokolonialisme</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/muhammadiyah-era-neokolonialisme.html</link><category>Artikel</category><category>Beritaku</category><category>Muhammdiyah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 29 Feb 2012 14:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-6009943951680523008</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHThrpWqxzkup05uAywQBogFBK1MCzv5HXflHvFcpkHnS8zyOzcHO3JCGvfTztG7ssJP6Qg6zUB3-iFzijGc5ADbMN1rOks_wDJNPwtmpdZxi-d6XwAZ98FpTEvy5FAY8hqK1HNx7rB8M/s200/Muhammadiyah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak tahun 1945 lalu, Indonesia tealh berhasil melepaskan diri dari penjajahan fisik yang dilakukan oleh kolonial. Namun, sejatinya penjajahan itu tidak pernah berakhir karena meraka mengubah “wajahnya” dengan model yang lebih sistematis, halus, dan seolah-olah humanis. Penjajahan yang dilakukan dengan dominasi dan hegomoni lewat teori dan ideologi developmentalisme, yang pada kemudian hari dikembangkan menjadi mekanisme globalisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada era inilah muncul model penjajahan baru yang seakan menolong, tetapi sesungguhnya menjerumuskan. Hal ini dapat dilihat dari sepak terjang lembaga finansial global yang diperkuat dengan ideologi pasar bebas, seperti International Monetory Fund (IMF), Word Bank, Asian Development Bank (ADB), World Trade Organization (WTO), perusahaan transnasional, dan lain-lain. Atas petunjuk dan bantuan berbagai lembaga itulah, Indonesia kontemporer secara politik-ekonomi belum merdeka secara hakiki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku Era Baru Gerakan Muhammadiyah adalah sebuah karya yang berusaha mencari relevansi antara sistem tauhid dengan konsepsi keadilan pada era global ini. Buku bunga rampai karya 16 penulis ini terbagi atas 3 bagian, dengan pokok bahasan cukup lantang menyerukan perlawanan ketidakadilan. Mereka mngusung semangat dan perspektif baru untuk menandingi laju hegomoni kapitalisme untuk meretas keadilan universal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian pertama berbicara tentang reintelektualissasi Muhammadiyah, dengan harapan agar organisasi ini menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas amal usahanya. Sayang, upaya itu menimbulkan gesekan di internal Muhammadiyah, lebih-lebih ketika pihak ketiga ikut memprovokasi. Kelahiran Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) misalnya, telah menimbulkan dikotomi dua kutub yang saling bermusuhan (h 48).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks inilah buku Era Baru Gerakan Muhammadiyah menjadi tabayyun, atau mungkin ta’aruf bagi JIMM kepada semua pihak. Apalagi pemahaman terhadap JIMM selama ini seringkali dilakukan tanpa melewati mekanisme yang dialogis dan produktif, bahkan menafikan keberadaan orang-orang yang terlibat didalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian kedua berbicara tentang eksplorasi dan reformulasi teologi al-Ma’un sebagai basis pemihakan terhadap New-Mustadlafien, dengan menelususuri pembacaan KH. Ahmad Dahlan terhadap surat al-Ma’un. Dari surat legenda di Muhammadiyah ini, menyatakan bahwa pendusta agama juga bisa datang dari orang yang rajin shalat, tetapi riya’ (ayat 4). Dalam 2 ayat sebelumnay ditegaskan bahwa orang yang riya’ adalah mereka yang antisosial, yang tidak mempedulikan anak yatim dan orang miskin (h 101).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bab ini, para penulis berusah melihat dan menawarkan solusi kemiskinan dan ketidakadilan dan perspektif religiusitas. Keimanan terhadap Allah Swt harus berimplikasi kepada praktek yang membebaskan orang-orang yang tidak dihargai kemanusiannya. Peran ini semakin penting, karena banyak kalangan marginal yang tidak menyadari kondisinya sebagai “korban”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan pada bagian ketiga, buku ini mengulas bagaimana globalisasi dan kapitalisme menggerogoti sendi-sendi kamanusiaan. Proses ini secara faktual melahirkan new-mustadlafien yang berupa anak yatim secara sosial, ekonomi, maupun politik. Untuk itulah bagian ketiga ini juga menawarkan berbagai strategi perlawanan terhadap hegomoni dab dominasi kapitalisme, baik lewat counter movement, counter hegemony, maupun infrapolitics (h 161).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca buku Era Baru Gerakan Muhammadiyah ini akan terasa menimbulkan simpati dan empati terhadap mereka yang kurang beruntung. Buku ini layak dijadikan bacaan bagi siapa saja yang intes pada persoalan kecongkakan terhdap kapitalisme global, sekaligus sebagai acuan untuk mencari jawabannya. Selamat Membaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Resensi buku Era Baru Gerakan Muhammadiyah pernah di muat Majalah Matan Edisi 22, 2008.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku  : &lt;b&gt;Era Baru Gerakan Muhammadiyah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Editor   : &lt;i&gt;Pradana Boy&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerbit  : &lt;i&gt;UMM Press Malang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cetakan  : &lt;i&gt;Pertama 2008&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tebal   : &lt;i&gt;xxiv – 223 halaman&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peresensi  : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Slamet, S.Ag&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHThrpWqxzkup05uAywQBogFBK1MCzv5HXflHvFcpkHnS8zyOzcHO3JCGvfTztG7ssJP6Qg6zUB3-iFzijGc5ADbMN1rOks_wDJNPwtmpdZxi-d6XwAZ98FpTEvy5FAY8hqK1HNx7rB8M/s72-c/Muhammadiyah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Persiapan Sekolah Dalam Manghadapi UNAS</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/persiapan-sekolah-dalam-manghadapi-unas.html</link><category>Artikel</category><category>Coretanku</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 29 Feb 2012 14:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-993239542365976021</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLJCnhXnmNO29oc2W18GBEIsQ4f41XX0ddXdilyRoEJ1V79XqZSRXjU-ddidtwAZ_GZ_kNhrl3fpZyOR4JmAlFdJrT1triStAFcr9m3vCrI-lkQ06j_6D88tSABpf2q_No1AG_0a7jr8E/s1600/UNAS.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="auto" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLJCnhXnmNO29oc2W18GBEIsQ4f41XX0ddXdilyRoEJ1V79XqZSRXjU-ddidtwAZ_GZ_kNhrl3fpZyOR4JmAlFdJrT1triStAFcr9m3vCrI-lkQ06j_6D88tSABpf2q_No1AG_0a7jr8E/s320/UNAS.jpg" width="640px" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Detik-detik Ujian Akhair Akhir Nasional (UNAS) hitungannya tinggal beberapa minggu, karena UNAS akan digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 16 sampai dengan 20 April untuk SMA, SMK dan MA, kemudian pada tanggal 23 sampai dengan 26 untuk tingakat SMP dan MTs. Bagi sekolah sudah barang tentu sejak sekarang sudah mempersiapkan segala sesuatunya demi sukses mengantarkan anak didiknya, seperti penambahan jam pelajaran bagi mata pelajaran yang di UAN kan diselenggrakannyaa try out untuk mengukur kemampuan siswa-siswanya memahami materi yang sudah di ajarakan. Tetapi sesungguhnya kalau dilihat dari aspek program dan kegiatan, Ujian Akhir Nasional merupakan agenda rutin yang setiap tahun diselenggarakan, sehingga kemudian karena UNAS menjadi agenda rutin, maka bagi sekolah/madrasah tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan dengan melakukan berbagai cara seperti pembentukan taem sukses dan segala macamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suksesnya Ujian Akhir Nasional, merupakan bagian dari sebuah keberhasilan sekolah mengantarkan anak didiknya yang selama tiga tahun digembleng. Ini kalau dilihat dari sisi penyelenggaraan UNAS ditingkat sekolah, jika diselenggarakan dengan cara yang jujur, manusiawi dan bermartabat, artinya sekolah dan civitas akademik tidak banyak ikut campur terhadap proses pelaksanaan seperti mengkondisikan siswanya agar siswa yang pandai/pintar membantu teman-temannya, atau guru membantu dengan cara memberikan kunci jawaban, seperti yang terjadi Sekolah Dasar di Surabaya pada tahun 2011 yang populer dengan nyontek massal. Kalau tahun ini tetap terjadi, maka sesungguhnya tidak ada sebuah keberhasilan dari Ujian Nasional dari tahun ke tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persoalannya yang kerap muncul dari sekolah/madrasah utamanya Kepala Sekolah adalah adanya kekhawatiran yang sangat berlebihan terhadap anak didiknya yang mengikuti ujian tidak lulus seperti yang dicanangkan pada awal mereka di angkat menjadi kepala sekolah. Di samping itu presure (tekanan) dari dinas pendidikan juga sering menjadi beban mental bagi kepala sekolah, karena sudah menjadi rahasia umum jika suatu sekolah/madrasah anak didiknya yang mengikuti ujian nasional tidak lulus seratus persen, maka juga mempunyai dampak terhadap bantuan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana sekolah. Inilah persoalan-persoalan klasik yang sering muncul dari penyelenggaraan Ujian Nasional. Substansi dari ujian nasional adalah sarana untuk mengukur keberhasilan sekolah dalam proses pembelajaran, jika kemudian dalam pelaksanaan ujian anak didiknya tidak lulus seratus persen, bararti ada proses yang salah dan itu kedepan harus diperbaiki dan kepala sekolah secara kelembagaan mempunyai tanggungjawab untuk memperbaiki sistem pembelajaran di sekolahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya permalahan-permasalahan yang sering terjadi dari tahun ke tahun dapat dilokalisir sedemikian rupa, tinggal bagaiamana kemampuan sekolah mendesain program-program pengajaran yang dituangkan dalam proses pembelajaran di kelasnya. Salah satu yang bisa dilakukan oleh sekolah adalah, dengan cara melakukan pemetaan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada setiap mata pelajaran yang di UAN kan. Pemetaan SKL ini menjadi penting, karena kemampuan anak didik tidak sama. Langkah berikutnya Kepala sekolah sebagai inisiator melakukan bedah SKL yang melibatkan guru-guru dan merumuskan hasilnya sebagai acuan  dasar menghadapi ujian nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan melakukan bedah SKL, kepala sekolah dan guru secara filosofis sudah memahami apa yang harus dilakukan kepada anak didiknya, kemudian bisa memprediksi soal-soal ujian yang akan keluar seperti apa?. Tetapi yang lebih penting, guru juga harus mampu menganalisis SKL secara kontinyu, dengan terus melakukan analisa-analisa secara komprehensif terhadap soal-soal ujian tahun sebelumnya. Saya meyakini kalau langkah-langkah ini dilakukan oleh setiap sekolah, maka tidak ada ketakutan-ketakutan rutin menjelang ujian nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsipnya persiapan ujian nasioal harus dilakukan secara matang sejak awal tahun, dan tidak kalah pentingnya adalah kesiapan mental anak didiknya, guru tidak perlu mempunyai rasa khawatir yang berlebihan, percayakan sepenuhnya kepada siswanya dan yakinlah kalau anak didiknya mampu mengerjakan soal-soal ujian. Kalau mentalitas sudah dibangun dengan baik, mengapa kita tidak harus takut dengan ujian nasional. Akhirnya saya ucapkan &lt;b&gt;“SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL, PRESTASI YES, JUJUR YES, NYONTEK NO”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLJCnhXnmNO29oc2W18GBEIsQ4f41XX0ddXdilyRoEJ1V79XqZSRXjU-ddidtwAZ_GZ_kNhrl3fpZyOR4JmAlFdJrT1triStAFcr9m3vCrI-lkQ06j_6D88tSABpf2q_No1AG_0a7jr8E/s72-c/UNAS.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bedah Kompetensi Guru</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/bedah-kompetensi-guru.html</link><category>Beritaku</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 23 Feb 2012 02:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-2420956105628053665</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOSyVTbWJlDxSglYae-XEBycL0X8b6lOihFYXe7_RAZw3YOqyC38MqZEZPmWvLjiE5E7HLULXd_rLynExFiNgWUCuAytu9-LZIMmZPkRkqVm6duyhmOyRi-4eMo448zqz6thE_ApHIsrw/s1600/guru21.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOSyVTbWJlDxSglYae-XEBycL0X8b6lOihFYXe7_RAZw3YOqyC38MqZEZPmWvLjiE5E7HLULXd_rLynExFiNgWUCuAytu9-LZIMmZPkRkqVm6duyhmOyRi-4eMo448zqz6thE_ApHIsrw/s320/guru21.jpg" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi Guru&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila anda telah masuk dalam Update Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2012, maka anda harus mempersiapakan diri untuk mengikuti tes seleksi dengan mengerjakan Soal Ujian Online Seleksi Peserta Serifikasi Guru 2012. Dari hasil seleksi tersebut akan ditentukan apakah anda layak untuk mengikuti Sertifikasi Guru apa tidak. Khabarnya juga menggunakan ujan online yang akan di laksanakan pada bulan Januari 2012. Sudah siapkah anda??? Terus Materi apa yang akan di ujikan?? Menurut kabar dan diskusi praktisi Pendidikan, Kompetensi Guru yang akan diujikan. Lalu apa saja Kompetensi Guru itu ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetensi Guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetensi Guru tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A. Kompetensi Paedagogik.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetensi pedagogik yang dimaksud dalam tulisan ini yakni antara lain kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Pemahaman tentang peserta didik meliputi pemahaman tentang psikologi perkembangan anak. Sedangkan Pembelajaran yang mendidik meliputi kemampuan merancang pembelajaran, mengimplementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogic Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Pemahaman terhadap peserta didik.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. pengembangan kurikulum/silabus.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lingkungan sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4. Perancangan pembelajaran.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memamfaatkan sumber daya yang ada. Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari skenario yang direncanakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media. Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;7. Evaluasi hasil belajar.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan dan solusi secara akurat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini adalah dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas, berbasis pada perencanaan dan solusi atas masalah yang dihadapi anak dalam belajar. Sehingga hasil belajar anak dapat meningkat dan target perencanaan guru dapat tercapai. Pada prinsipnya, Kesemua aspek kompetensi paedagogik di atas senantiasa dapat ditingkatkan melalui pengembangan kajian masalah dan alternatife solusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;B. Kompetensi Kepribadian. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan tugas sebagai guru harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan tugas yang dipercayakan kepadanya untuk mempersiapkan generasi kualitas masa depan bangsa. Walaupun berat tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugasnya harus tetap tegar dalam melaksakan tugas sebagai seorang guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan adalah proses yang direncanakan agar semua berkembang melalui proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik harus dapat mempengaruhi ke arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Tata nilai termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan, mempengaruhi perilaku etik siswa sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Penerapan disiplin yang baik dalam proses pendidikan akan menghasilkan sikap mental, watak dan kepribadian siswa yang kuat. Guru dituntut harus mampu membelajarkan siswanya tentang disiplin diri, belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, belajar bagaimana cara belajar, mematuhi aturan/tata tertib, dan belajar bagaimana harus berbuat. Semuanya itu akan berhasil apabila guru juga disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aspek-aspek yang diamati adalah:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;C. Kompetensi Sosial.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru di mata masyarakat dan siswa merupakan panutan yang perlu dicontoh dan merupkan suritauladan dalam kehidupanya sehari-hari. Guru perlu memiliki kemampuan sosial dengan masyakat, dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dengan dimilikinnya kemampuan tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar, sehingga jika ada keperluan dengan orang tua siswa, para guru tidak akan mendapat kesulitan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kriteria kinerja guru yang harus dilakukan adalah:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;D. Kompetensi Profesional.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kompetensi Profesional Guru&lt;/i&gt; yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Guru harus selalu meng-update, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;menguasai materi pelajaran yang disajikan&lt;/i&gt;. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetensi atau kemampuan kepribadian yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran. Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam melaksakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain,br sesuai kontek materinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip didaktik metodik sebagai ilmu keguruan. Misalnya bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, korelasi dan prinsip-prinsip lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun butir secara benar, agar tes yang digunakan dapat memotivasi siswa belajar.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari aspek-aspek:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/ bidang pengembangan yang diampu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*** Bekal Untuk Uji Kompetensi Awal Sertifikasi 2012 ***&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;sumber : &lt;a href="http://karak-situbondo.blogspot.com/2012/01/bedah-kompetensi-guru.html" target="_blank"&gt;Komunitas Situbondo (KARak'S) &lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOSyVTbWJlDxSglYae-XEBycL0X8b6lOihFYXe7_RAZw3YOqyC38MqZEZPmWvLjiE5E7HLULXd_rLynExFiNgWUCuAytu9-LZIMmZPkRkqVm6duyhmOyRi-4eMo448zqz6thE_ApHIsrw/s72-c/guru21.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Peran Guru Dalam Membangun Tradisi Kejujuran Akademik</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/peran-guru-dalam-membangun-tradisi.html</link><category>Artikel</category><category>Headline</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 11:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-6710858977872888322</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Peran Guru Dalam Membangun Tradisi Kejujuran Akademik" border="0" height="159" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtPHtdeeBFJ7WaIRpwxpsxrwywNFyZkHkrlpG-Ls5aneRNDLo3aSoFp0wTpPj0NJ5yZ34jNWD2o2TOPVYJ2muKW4FM9YT_rm3DMG0prrshU51IAgj2P4DRKhj0wIAjmd9i6ll8zNmlmVo/s1600/education.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Peran Guru Dalam Membangun Tradisi Kejujuran Akademik" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi perserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar, menengah, termasuk pendidikan anak usia dini. Dalam konteks yang lebih luas keberadaan guru dalam proses mengajar menjadi sesuatu yang vital, jika kemudian di maknai secara integral oleh para guru. Sebab salah satu  kunci dari keberhasilan dalam proses pembelajaran bukan hanya dilihat dari aspek keberhasilan seorang siswa (murid) mendapatkan nilai yang bagus, tetapi yang lebih penting adalah sejauh mana seorang guru membangun dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga kemudian diharapkan anak-anak didiknya menjadi anak yang mempunyai karakter, disiplin, mandiri, jujur dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat diskripsi di atas, maka kemudian muncullah sebuah pertanyaan, sejauh mana Peran Guru Dalam Membangun Tradisi Kejujuran Akademik. Pertanyaan itu memang sederhana tapi cukup menggelitik utamanya bagi guru-guru yang selama ini belum berperan secara signifikan membangun budaya (tradisi) kejujuran di sekolahnya (lembaga) di mana ia bekerja sebagai seorang pendidik (guru), baik dalam konteks membangun kejujuran untuk dirinya sendiri maupun perannya dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak didiknya dan juga teman-teman sesama profesi. Ini menjadi sangat urgens ketika seorang guru  belum mampu menunjukkan pribadi yang jujur dalam kesehariannya, maka akan sulit bagi guru nenanamkan nilai-nilai kejujuran pada peserta didiknya. Karena segala aktifitas yang dilakukan guru terutama di sekolah, akan menjadi cerminan (contoh) bagi muridnya, jika kemudian guru tidak jujur baik ucapan maunpun tindakannya, maka jangan harap anak didiknya mempunyai sifat-sifat kejujuran utamanya dalam proses belajar mengajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya peran guru dalam membangun tradisi (budaya) kejujuran dilingkungan akademiknya sangat penting dan luas. Di anggap sangat penting karena guru sering bersentuhan langsung dengan anak-anak didiknya dalam proses pembelajaran, saat proses itulah peran-peran guru menanamkan tradisi kejujuran kepada siswa-siswinya. Contoh sederhana peran guru dalam membangun tradisi kejujuran kepada murid-muridnya, ketika ulangan, seorang guru harus menyampaikan secara jujur agar  tidak menyontek, baik kepada temannya maupun pada buku catatan, pesan itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana yang bisa ditangkap anak didiknya dan itu harus dilakukan secara istiqomah dan tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan moral. Sehingga pada akhirnya terwujudlah rumusan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara  yang demokratis serta bertanggungjawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian keluasan guru dalam membangun budaya (tradisi) kejujuran dilingkungan akademiknya, bisa dilihat dengan tugas utama seorang guru yaitu; 1)mendidik, dalam persfektif ini pentingnya guru mengembangkan keterpaduan kualitas manusia (anak didiknya) pada semua dimensinya yang merupakan manifestasi dari  iman, ilmu,  dan amal; 2)mengajar, dimaknai sebagai  suatu proses yang dilakukan guru dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Posisi ini sangat memungkinkan bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti dengan terus melakukan pembinaan tingkah laku (behavior) dan akhlak mulia sebagaimana penjabaran dari sifat shidiq (jujur), pembinaan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai perwujudan dari sifat fathonah (kecerdasan), pembinaan sikap mental (mental attitude) yang mantap dan matang sebagai penjabaran dari sifat amanah (kredible), dan kemudian pembinaan keterampilan kepemimpinan (leadershif skill) yang visioner dan bijaksana sebagai bentuk penjabaran dari tabligh. 3)melatih, dalam konteks ini seorang guru  mempunyai tanggungjawab yang luas melatih ketrampilan dan kecakapan kepada peserta didiknya, yang diwujudkan dengan bentuk  konkrit dalam proses kehidupan sehari-hari, misalnya melatih kedisiplinan, kejujuran, baik perkataan maupun perbuatan (tindakan) kepada peserta didiknya, dan tentunya adalah keteladanan (contoh) yang ditunjukkan oleh sikap disiplin dan kejujuran, artinya sikap dari dirinya sendiri (guru), utamanya disiplin dalam mengajar, kejujuran dalam perkataan, perbuatan dan tindakan. 4)menilai dan mengevaluasi, proses ini sangat penting karena menyangkut kepribadian anak didik, sebab di khawatirkan jika penilaian dan pengevaluasian di latarbelakangi suka tidak dan tidak suka, maka penilaian serta evalausi sudah tidak obyektif dan tentu yang dirugikan adalah peserta didiknya. Sehingga kemudian seorang guru memastikan dalam proses penilaian harus mengedepankan nilai obyektifitas dan kejujuran, karena ini menyangkut masa depan anak didiknya. Jika guru sudah tidak obyektif dan jujur dalam penilaian dan pengevaluasiaan, maka sesungguhnya guru sudah membunuh karakter anak bangsa dan merusak tatanan pendidikan baik langsung maupun tidak langsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian keluasan berikutnya adalah peran guru dalam membangun tradisi kejujuran dengan teman seprofesi (teman sejawat), harus di akui secara jujur tidak semua guru peduli terhadap nilai-nilai kejujuran, sehingga sangat penting memberikan wawasan akan pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari, baik jujur dalam perkataan, perbuatan maupun tindakan (aksi). Sungguh sangat ironis jika anak didiknya diajarkan kejujuran, sementara gurunya sendiri tidak memberikan teladan yang baik, bahkan merusak tradisi (budaya) yang sudah mengakar kepada peserta didikanya demi kepentingan pribadi, kepala sekolah yang kemudian anak didik dan lembaganya dikorbankan. Anak didik akan semakin baik, cerdas, berkarakter,  guru semakin termotivasi untuk mengajar dengan disiplin, lembaga akan terhormat dan bermartabat secara akademik di akui eksistensinya, kalau dalam lembaga tersebut secara inhern menanamkan budaya (tradisi) kejujuran dalam semua aspek, jadi tidak perlu ada kekhawatiran anak didik pada endingnya tidak berhasil dalam menempuh ujian akhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari diskripsi yang sederhana di atas, maka sesungguhnya peran guru dalam membangun tradisi kejujuran akademik ada tiga aspek,  pertama; membangun kejujuran harus dimulai dari dirinya sendiri sebagai seorang guru, yakni antara perkataan, perbuatan dan tindakan harus sesuai dengan norma-norama yang berlaku. Kedua; sebagai seorang guru, yang tugas utamanya adalah mendidik, melatih, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi kepada peserta didiknya, maka guru mempunyai kewajiban untuk membentuk karakter anak didiknya memiliki sikap disiplin, jujur, mandiri, demokratis dan bertangungjawab. Ketiga; guru secara akademik juga mempunyai tanggunjawab untuk membesarkan lembaga (sekolah), maka dalam konteks ini guru harus mampu membangun dan memberi keteladan kepada teman seprofesinya untuk terus menerus menanamkan nilai-nilai kejujuran baik untuk dirinya (teman seprofesi), maupun peserta didiknya melalui mata pelajaran yang di ampu. Dengan demikian bangunan akademik yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, peserta didik bangga kepada lembaga (sekolah) dan tenaga pendidiknya, guru bangga kepada peserta didik dan lembaganya, kepala sekolah bangga dengan anak didik, guru (pendidik), lembaga (sekolah) yang di nakodainya dan semua bangga dengan satu motto &lt;b&gt;“KEJUJURAN”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtPHtdeeBFJ7WaIRpwxpsxrwywNFyZkHkrlpG-Ls5aneRNDLo3aSoFp0wTpPj0NJ5yZ34jNWD2o2TOPVYJ2muKW4FM9YT_rm3DMG0prrshU51IAgj2P4DRKhj0wIAjmd9i6ll8zNmlmVo/s72-c/education.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">32</thr:total></item><item><title>Urgensi Sholat</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/urgensi-sholat.html</link><category>Artikel</category><category>Pendidikan</category><category>Religi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 11:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-6194176711374271651</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Urgensi Sholat" border="0" height="143" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyqygP6cgTXASDw7REt5Ez4cViwKmy6qwSTLk-iXL62yV9biR8cYP9dDSROXTMKhFbo47-5jvFQFLZj0NrZGjo8ouyj-nqo63Fj6g74GkSIEp9XMxeayO16db7QAuh-tYktNR7eMogUbnF/s200/30-Terapi+Bekam.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Urgensi Sholat" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam  persfektif Islam, shalat menempati urutan yang kedua dalam rukun Islam setelah syahadat. Tetapi bukan berarti sholat dalam proses proses pelaksanaannya dinomorduakan. Sesungguhnya fondasi rukun Islam yang lima itu merupakan sebuah organ yang tidak bisa dipisahkan. Namun demikian elemen yang sangat penting yang bisa memberikan sebuah spirit dan motivasi keberagamaan adalah shalat. Ini bisa dipahami bahwa dari lima fondasi rukun Islam, hanya perintah shalat yang tidak bisa ditinggalkan dalam aktualisasi dirinya terhadap Tuhan-Nya bagi seorang Muslim. Artinya dalam kondisi apapun shalat tidak bisa ditinggalkan, seperti rukun Islam lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zakat merupakan kewajiban umat Islam, tetapi sesungguhnya perintah itu ditujukan kepada orang yang mampu, artinya mampu secara ekonomi dan tentunya sudah memenuhi ketentuan syara’. Demikian juga haji walau dalam prinsipnya itu merupakan perintah agama, tetapi perintah itu lebih bersifat individu, yakni individu seorang Muslim yang mempunyai kemampuan ekonomi maupun kemampuan melakukan perjalanan menuju ke Baitullah sebagaimana yang ditentukan syariat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu pentingnya shalat bagi kehidupan manusia, sampai Nabi Muhammad Saw, mendiskripsikan dalam sebuah haditsnya, bahwa; ibadah atau amalan seseorang yang akan dihitung pertama kali di hari kiamat adalah shalat. Dan shalatlah yang menjadi penentu apakah ibadah-ibadah lain menjadi baik atau tidak, seperti zakat, puasa, haji.. Dengan demikian jika seseorang shalatnya baik, maka seluruh amalan ibadahnya akan menjadi baik, begitu sebaliknya jika sesorang shalatnya jelek, maka keseluruhan amalnya menjadi tidak baik. Dalam konteks kehidupan seorang Muslim, apakah orang  Islam itu taat atau tidak, maka bisa dinilai ketaatan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah shalat, baik dalam keadaan bahagia mauapun susah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agama Islam merupakan serangkaian pedoman hidup umat Islam, tetapi pedoman itu bisa pudar dan luluh lantah bagaikan kristal yang bertebaran dimana-mana, manakala seorang Islam tidak memegang teguh dan melaksanakan ajarannya dengan baik dan konsekwen. Dalam konteks ummat Islam, Agama Islam merupakan seperangkat pedoman yang harus terealisasi dalam kehidupan sehari-hari. Aspek penting  dari perangkat ajaran Islam adalah perintah melaksanakan Shalat bagi orang Islam yang sudah memenuhi ketentuan-ketentuan syara’, artinya orang Islam sudah dewasa, maka kewajiban shalat sudah pasti melekat pada dirinya dan berakibat dosa jika kemudian meninggalkan atau melalaikannya, dan inilah sesungguhnya esensi dari shalat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam berbagai ayat-ayat al-qur’an yang mengatur perintah shalat, bahwa shalat mempunyai dua dimensi, yakni dimensi vertikal yang berarti bahwa shalat merupakan aktualisasi dirinya dalam melakukan pendekatan dengan Tuhannya. Dimensi kedua, bahwa shalat merupakan salah ibadah yang mampu merekatkan tali silaturrahmi dalam kehidupan sosial. Sehinnga pentingnya shalat bagi kehidupan manusia terutama umat Islam tergantung pada pemahaman agamanya seperti apa?. Kalau kita memaknai agama itu penting, maka melaksanakan shalat menajadi penting, tetapi kemudian apabila memaknai agama itu dianggap tidak penting, maka shalat menjadi tidak penting bahkan meninggalkan shalat  tidak menjadi persoalan. Inilah sesuungguhnya kelompok-kelompok yang merusak tatanan agama atau yang lebih ekstrem adalah kelompok perusak agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agama itu akan menjadi kokoh dan kuat, manakala penganut agama itu mampu memperkuat ideologi dan akidahnya dalam kehidupan sehari-hari, dalam bahasa lain Islam akan menjadi kuat sebagai sebuah agama, manakala umat Islam meronstruksi dalam segala bentuk ornamen ajarannya dan perintahnya. Dan salah satu ornamen dalam ajaran Islam adalah perintah shalat. Ini bisa dilihat diskripsi hadits &lt;i&gt;“Shalat adalah pondasi agama, barangsiapa mendirikan shalat, maka sesungguhnya mereka memperkuat pondasi agama, barangsiapa meninggalkan atau melalaikan shalat, maka sesungguhnya mereka telah menghancurkan agama”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits diatas mendiskripsikan bagaimana orang Islam yang dalam melaksanakan shalat mendapat apresiasi sebagai penopang dan penjaga dari kokohnya agama (Islam). Tetapi sebaliknya orang  gampang dan mudah meninggalkan shalat dinilai sebagai penghncur agama. Ada dua pilihan bagi kita sebagai orang yang mengenal Islam, apakah kita akan memposisikan sebagai penjaga dan penguat agama atau sebagai virus yang merusak eksistensi agama. Jika pilihan kita jelas pada yang pertama, maka mulai hari ini deklarasikan diri kita bahwa shalat merupakan elemen penting bagi kehidupan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini pernah dimuat majalah Mars SMKN 1 Panji Edisi 8 tahun 2010&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyqygP6cgTXASDw7REt5Ez4cViwKmy6qwSTLk-iXL62yV9biR8cYP9dDSROXTMKhFbo47-5jvFQFLZj0NrZGjo8ouyj-nqo63Fj6g74GkSIEp9XMxeayO16db7QAuh-tYktNR7eMogUbnF/s72-c/30-Terapi+Bekam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menakar Kompetensi Guru Muhammadiyah</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/menakar-kompetensi-guru-muhammadiyah.html</link><category>Artikel</category><category>Headline</category><category>Muhammdiyah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 11:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-8296999908298961186</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHThrpWqxzkup05uAywQBogFBK1MCzv5HXflHvFcpkHnS8zyOzcHO3JCGvfTztG7ssJP6Qg6zUB3-iFzijGc5ADbMN1rOks_wDJNPwtmpdZxi-d6XwAZ98FpTEvy5FAY8hqK1HNx7rB8M/s200/Muhammadiyah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru adalah elemen penting dalam pembelajaran di kelas maupun diluar kelas. Selain karena mempunyainkesempatan berinteraksi secara langsung dengan siswa, guru juga harus mempunyai kemampuan yang komprehensif dalam membangun karakter anak didiknya. Tidak heran jika seorang guru secara normatif harus memiliki empat kompetensi dasar; pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Empat kompetensi itu akan menunjang seorang guru mampu berinteraksi baik dengan peserta didiknya. Zakiyah Drajat (1982) menegasakan, kepribadian guru adalah penentu apakah dia menjadi pendidik atau pembina yang baik bagi masa depan anak didiknya atau sebaliknya. Hampir semua pakar (ahli)  pendidikan menempatkan posisi guru sebagai instrumen terpenting dalam  keberhasilan proses pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Undang-Undan Nomor 14 tahun 2005 tentang  Guru dan Dosen, seorang guru diharuskan mempunyai empat kompetensi; pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional. Dalam konteks guru Muhammadiyah empat syarat kompetensi barangkali bisa dimiliki oleh sebagian besar guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi yang paling sulit adalah kemampuan penerapan kompetensi tersebut yang diimbangi dengan nilai-nilai dan prinsip Muhammadiyah yang memiliki ciri khast tersendiri dalam menerapkan kurikulum, artinya di Lembaga pendidikan Muhammadiyah memadukan kurikulum Pendidikan Nasional,  Departemen Agama, dan Kurikulum Mejelis Pendidikan dasar dan Menengah yang lebih populer dikenal istilah Ke-Islamanan, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab&lt;i&gt;&lt;b&gt; (ISMUBA).&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi guru Muhammadiyah, empat kompetensi itu bisa bisa diterjemahkan dengan nilai-nilai ideologis dan kepribadian Muhammadiyah secara inheren.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertama -&lt;/b&gt; Kompetensi pedagogis bisa diartikan seorang  guru Muhammadiyah harus mempunyai kemampuan dalam menguasai materi pembelajaran dengan tetap memperhatikan tingkat perkembangan psikologis anak didik. Kompetensi ini akan mempermudah guru mengarahkan pengembangan kognitif anak didik sesuai dengan mata pelajaran yang di ampu, serta kemampuan kognitiif tentang nilai, prinsip, dan prinsip Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kedua -&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Kompetensi kepribadian bagi guru Muhammadiyah bisa diterjemahkan seorang guru harus mempunyai moral dan akhlaq yang mulia dalam kehidupan sehari. Selain itu, harus menjadi teladan di lingkungan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan masyarakat sekitarnya. Kompetensi ini juga harus diimbangi dengan prinsip-prinsip hidup Islam yang menjadi tuntutan warga persyarikatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya, jangan ada seorang  guru Muhammadiyah dalam melaksanakan perintah agama menyimpang dari prinsip-prinsip yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab seorang pendidik tidak hanya membangun kepribadian secara individual, tetapi juga berkawajiban membentuk karakter anak didiknya. Bagaimana mungkin seorang guru Muhammadiyah bisa menanamkan nilai-nilai kepribadian Muhammadiyah jika dirinya sendiri tidak mempunyai kepribadian Muhammadiyah?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ketiga -&lt;/b&gt; Kompetensi sosial guru Muhammadiyah bisa ditafsirkan seorang guru adalah bagian yang tidak terpisahakan dengan warga masyarakat. Maka, seyogyanya guru Muhammadiyah itu mampu bersosialisasi dan berinteraksi dalam kehidupan masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah Guru Muhammadiyah harus selalu aktif dan motor penggerak dalam berbagai aktifitas Muhammadiyah  sebagai implementasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Keempat -&lt;/b&gt; Kompetensi profesional bagi guru Muhammadiyah berarti bahwa guru harus menguasai bidang studi yang di ampunya, menguasai kurikulum Ismuba, memahami menejemen berbasis sekolah (MBS), serta dasar pemahaman keilmuan lain terkait dengan kompetensi profesionalnya. Jika guru tidak mempunyai kemampuan pemahaman kurikulum secara integral, maka akan menjadi bias dan tidak bermakna dalam proses pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat kompetensi dasar guru Muhammadiyah itu mutlak harus dimiliki, yang kemudian dikembangkan dengan nilai Ke-Muhammadiyah-an yang tercermin dalm kehidupan sehari-hari. Baik dalam kapasitasnya sebagai guru maupun bagian dari wrga masyarakat. Inilah yang menurut penulis, menjadi pembeda utama antara guru Muhammadiyah dengan guru  diluar Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetensi dasar guru Muhammadiyah itu tampakknya harus segera disosialisakan kepada semua guru di berbagai tingkatan. Sebab, sekarang mulai banyak Pimpinan Persyarikatan maupun warga Muhammadiyah yang ‘mempertanyakan’ loyalitas daan pengabdian guru-guru Muhammadiyah. Pertanyaan ini muncul karena ada asumsi sebagian masyarakat yang menyatakan banyak orang mencari nafkah di Muhammadiyah, tetapi tidak berjuang untuk Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya adalah, apakah kita termasuk guru yang tidak bermanfaat untuk Muhammadiyah? Atau sebaliknya, Muhammadiyah justru bermanfaat bagi kita tanpa ada timbal balik?  Wallahu a’lam bi al-Shawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini pernah di muat majalah &lt;b&gt;MATAN &lt;/b&gt;edisi 39 bulan Oktober 2009&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHThrpWqxzkup05uAywQBogFBK1MCzv5HXflHvFcpkHnS8zyOzcHO3JCGvfTztG7ssJP6Qg6zUB3-iFzijGc5ADbMN1rOks_wDJNPwtmpdZxi-d6XwAZ98FpTEvy5FAY8hqK1HNx7rB8M/s72-c/Muhammadiyah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bisakah UNAS 2012 Berlangsung dengan Jujur?</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/bisakah-unas-2012-berlangsung-dengan.html</link><category>Artikel</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 20 Feb 2012 20:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-7816427331898928250</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Bisakah UNAS 2012 Berlangsung dengan Jujur?" border="0" height="150" src="http://soal-unas.com/unas2012.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bisakah UNAS 2012 Berlangsung dengan Jujur?" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ujian Nasional (Unas) merupakan agenda rutin yang setiap tahun digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Untuk tahun 2012 sistem penilaianya hampir sama dengan pelaksanaan Unas tahun 2011, yaitu memadukan nilai Raport dari semester 1 sampai 6 serta UAS (Ujian Akhir Sekolah) yang komposisinya nilai raport, dan UAS 40% dan UAN 60%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persolannya akan muncul ketika kemudian ada kekhawatiran dari kepala sekolah yang muridnya mempunyai nilai diawah rata-rata. Sehingga ada keinginan merubah semua nilai raport dari semester 1 hingga semester 6 supaya memenuhi standar kelulusan. Dengan sistem seperti ini, sesungguhnya memberi peluang kepada lembaga-lembaga pendidikan untuk tidak jujur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat kondisi semacam ini, keinginan dari elemen masyarakat agar UAN berjalan dengan jujur sulit diwujudkan dengan baik, karena bagaimanapun kepala sekolah tidak ingin siswa-siswinya tidak lulus. Yang pada akhirnya menurunkan eksistensi sekolah dari pandangan masyarakat secara umum, dan pada khususnya adalah wali murid.&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Gelar Dialog Refleksi Musrenbang, Dihujani Pertanyaan</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/gelar-dialog-refleksi-musrenbang.html</link><category>Beritaku</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 20 Feb 2012 10:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-3663287114875655558</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Populer Posts Default Blogger" border="0" height="118" src="http://rumah-satu.com/images/stories/forum%20warga%20mandiri.jpg" title="Modifikasi Populer Posts Default Blogger" width="200" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Situbondo, R1&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; - Untuk membuktikan dan mengetahui sejauh mana perannya dalam masyarakat serta  keterlibatan dalam perencaan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Kelompok Kerja (Pokja) Ruang Belajar Masyarakat (RBM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) Kabupaten Situbondo menggelar forum warga mandiri untuk kali pertamanya, Sabtu (14/01/2012) kemarin. Acara forum diskusi untuk masyarakat ini digelar di Aula Wisma Rengganis di Jalan WR Supratman Situbondo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh menarik dalam acara diskusi kali ini, karena hampir semua elemen masyarakat hadir dan peduli akan adanya Program PNPM-MP yang dilaksanakan di Kota Santri ini. Bahkan sejumlah pihak memberikan dukungan, karena program ini merupakan satu-satunya program yang pedulu dan berpihak kepada masyarakat. Karena setiap tahapan mulai perencaanaan hingga pelaksanaan dalam program ini, tersistematis dan transparan. Bahkan harus melibatkan masyarakat secara langsung (partisipatif), sehingga “Dari… Oleh dan Untuk Rakyat…” sangat wajar menjadi landasan bagi program pemerintah lahir dari pusat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam forum warga mandiri ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Situbondo, Rahmad SH MHum sebagai narasumber bersama Susmanta, dari Bagian Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Sedangkan sebagai narasumber pembanding adalah Hadi Priyanto SPd, Wakil Ketua DPRD dan Umami, Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa Dan Perangkat (Fokap) Situbondo. Sedangkan Mashudi, selaku pelaksanan kegiatan dari unsur Tim Pelatihan Masyarakat (TPM) yang juga bertindak selaku moderator dalam acara tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Forum warga mandiri yang digelar RBM PNPM-MP kali ini bertemakan “Refleksi Musrenbang vs Percepatan Pembanguan Perdesaan” dengan tujuan peran aktif semua stekholder di setiap lembaga maupun orgsnisasi yang ada di perdesaan. “Selain itu forum ini bertujuan bagaimana menyatukan persepsi perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa hingga Kabupetan dalam musrenbang. Serta adanya keinginan dibuatnya RPJMDes yang dibuat pelaku PNPM memiliki payung hukum yang kuat,” kata Drs Eko Dermawan selaku Fasilitator Kabupaten (Faskab) PNPM-MP Kabupaten Situbondo, dalam sambutannya kemarin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wakil Bupati Rahmad SH Mhum, yang juga membuka acara tersebut mengemukakan bahwa hasil Musrembang desa hingga kecamatan, idealnya bisa dipotret oleh semua stekholder di kabupaten. Namun kelemahannya, selama ini posisi tawar masyarakat lebih rendah dari daripada dari hasil musrenbang, sehingga mengkibatkan masyarakat apriori terhadap hasil musrenbang. Diharapkan, percepatan pembangunan harus partisipatif dan berklanjutan. “Forum musrenbang pada tahun ini masuk tupoksi Bappeda, RPJMDes harus sudah mengcover semua persoalan, sedangkan qouta Kecamatan 20% dari total pembangunan untuk dibagi ke desa,” tambah Susmanta, tim musrenbang dari Bappeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu Hadi Priyanto mengatakan, proses pembangunan membutuhksn peran serta masyarakat. Dibutuhkan intrgiritas hasil proses musrenbangdes, intregritas visi misi Bupati, integritas presiden terkait masalah anggaran. Sehingga tercipta kesinambungan dan proses yang seimbang. “Artinya, jika pembangunan sudah tidak mampu di cover PNPM maupun ADD. Maka usulan tersebut harus di cover daerah, dari dana APBD. Karena itulah proses perencaana harus  menentukan skala prioritas yang ada,” jelanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peserta forum yang diundang dari berbagai kalangan terlihat antusias dan menyerang dengan berbagai pertanyaan. Karena selama ini, hasil musrenbang dinilai hanya sebagai formalitas saja sehingga hasilnya menjadi mubazir. “Serta kurangnya keterlibatan perempuan dalam musrenbang desa. Sedangkan PNPM-MP selama ini hanya fisik, diharapkan kedepan lebih memikirkan program bidang Pendidikan dan Kesehatan,” ujar Ummi Salamah, dari unsur PC Muslimat Situbondo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menanggapi hal itu, Umami selaku Ketua Fokab Situbondo berharap Proses tahapan perencanaan harus sinergis dengan tujuan yang sama. Sedangkan kaum perempuan harus lebih aktif untuk mngusulkan keterwakilannya di forum musrenbang. “Jika terjadi sinergi semua pihak, pasti pembangunan terarah. Dana 10% dari APBN kedepan, desa mendapatkan alokasi sekitar 1,3 Milyar perdesa seluruh Indonesia,” jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mashudi, selaku pelaksana kegiatan yang sekaligus sebagai moderator forum, berjanji akan terus mengagendakan forum warga mandiri ini ke tingkat bawah. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, terutama warga miskin di perdesaan. Agar sararan dan tujuan dari program PNPM-MP di Kabupaten Situbondo ini tepat sasaran dan benar-benar mengedepankan kepentingan rakyat.***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;source :&lt;a href="http://rumah-satu.com/potensi-daerah/1-pnpm-mp-situbondo-gelar-forum-warga-mandiri.html" target="_blank"&gt; &lt;i&gt;rumah-satu.com&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sekelumit Tentang Cak Slamet</title><link>http://cakslamet.blogspot.com/2012/02/sekelumit-cak-slamet.html</link><category>Coretanku</category><category>Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 19 Feb 2012 11:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2976817436309936591.post-5400676050099311422</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cak Slamet - Catatan Seorang Guru Muhammadiyah" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9vXiILac1ROMLwWxLTAmYS_AT5YoxdW1VZc3k0zQ_Q0noflp5ZU9234qfoDSsFgTRogYye1Xb_Fe9Mg4FBTna8-yFLP4XK-imn7GffFO63qTLwOQYIKgwz17bKfZFwwxga5uc34IBLefJ/s200/SLAMET.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Cak Slamet - Catatan Seorang Guru Muhammadiyah" width="158" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cak Slamet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://cakslamet.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Cak Slamet&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;, begitu biasa dipanggil dalam kesehariannya, dilingkungan sekolah, teman-teman aktifis LSM atau dilingkungan masyarakat. Lahir di Kota Tegal 39 tahun yang lalu tepatnya tanggal 9 Juni 1972. Pendidikan Dasar sampai Menengah di selesaikan di kota kelahirannya. Kemudian pada tahun 1991 melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Fakultas Ushuluddin Kediri dan lulus tahun 1996, selain pendidikan formal juga mengenyam pendidikan non formal seperti Madrash Diniyah selama 6 tahun, Pondok Pesantren Ma’haduttholabah tahun 1997/1990, kemudian Pondok Pesantren al Ishlah Bandar Kidul Kediri 1991/1993. Semasa masih jadi Mahasiswa aktif di organisasi kemahasiswaan tepatnya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari tingkat Komisariat sampai Pengurus Cabang, dan jabatan terakhir adalah Sekretaris Umum HMI Cabang Kediri periode 1995/1996. Kemudian tahun 1997/1999 masuk di kepengurusan Badan Koordinasi HMI Jawa Timur (Badko) tetapi tidak aktif karena pada waktu bersamaan diberi kepercayaan untuk menjadi wakil ketua DPD KNPI Kota Kediri tahun 1998/2001. Untuk mengasah dan mempertajam wawasan intelektualnya pada masa aktif di HMI banyak melakukan diskusi-diskusi dengan tokoh NGO, kelompok Cipayung dan tokoh-tokoh birokrasi, dan salah satu kelompok diskusi yang sampai sekarang masih eksis adalah Kelompok diskusi paramadina. Pada tahun 1998 melalui diskusi panjang dengan kawan-kawan senat  mahasiswa kediri, mempelopori lahirnya Kelompok Mahasiswa Kediri (Pokjam) sesungguhnya lahirnya Pokjam bersifat Politis karena dilatarbelakangi dengan pemilihan Wali Kota Kediri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyaknya aktifitas di berbagai organisasi, sampai lupa memikirkan pendamping hidup, hingga akhirnya tepatnya pada tanggal 17 Mei 2000, mengakhiri lajangnya dengan mempersunting gadis cantik bernama Hindun Faridah asal Paciran Lamongan, yang kebetulan juga sesama aktifis HMI. Dan sekarang sudah dikaruniai 2 anak semuanya laki-laki. Anak yang pertama bernama Hildan Maulana Akbar, HS. Sekarang umur 11 tahun duduk di kelas V SD, anak kedua diberi nama Haikal Mumtazul Izaz, HS. Umur 10 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan hidupnya sesungguhnya tidak secemerlang  teman-teman segenerasinya, banyak terjal, rintangan, dan tantangan yang  dihadapinya, sehinngga di masa awal pernikahannya masih belum menentukan pilihan profesi (pekerjaan). Pada akhirnya karena kehidupan terus berjalan dan pilihan hidup dan pekerjaan harus secepatnya ditentukan, maka pada tahun 2003 hijrah ke Situbondo dan mulai tahun itu juga diterima bekerja di SMP Muhammadiyah 1 Panji sampai sekarang masih menjadi guru tidak tetap (GTT) dan mengajar bidang Studi Al Islam (PAI). Di awal pekerjaan yang baru banyak kendala karena latarbelakang akademisnya bukan dari guru, hingga harus menyesuaikan diri dan banyak belajar terhadap guru-guru senior di SMP Muhammadiyah 1 Panji dan untuk mempertajam penguasaan materi pembelajaran maka pada tahun 2007 mengambil program akta IV di IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun tugas utamanya sebagai guru, jiwa aktifisnya tidak lentur sedikitpun, sehingga tawaran aktif masuk organisasi kemasyarakatan diterima dengan ikhlas, terutama di Muhammadiyah dan Ortomnnya. Pada tahun 2006 Masuk anggota Majelis Tarjeh PDM Situbondo periode 2006/2010, Kemudian dalam waktu bersamaan di percaya menjadi Wakil Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Situbondo sampai sekarang dan menjadi sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mimbaan 2 mulai 2006 sampai sekarang. Kemudian pada tahun 2007 melalui Pimpinan Daerah Muhammadiyah Situbondo dan PCM Panji mendirikan Panti Asuhan Yatim “TUNAS MELATI” di Pokaan Kapongan Situbondo dan di kepengurusan menjadi Wakil Sekretaris. Dan sesuai hasil Musyawarah Daerah Muhammadiyah Situbondo ke 8 tahun 2011 mendapatkan amanah sebagai Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Situbondo periode 2010/2015.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di luar Muhammadiyah juga banyak terlibat dengan teman NGO dan sering melakukan diskusi-diskusi intensif terutama dalam bidang advokasi anggaran pro poor, akhirnya pada tahun 2009 bersama teman-teman NGO bersepakat mendirikan sebuah lembaga yang mengawal proses-proses perencanaan anggaran, maka lahirlah sebuah forum yang di beri nama Forum Situbondo Transparansi Anggaran (FOSTRA) yang digawangi oleh Nyai Juwairiyah Fawaid, M.Pd.I. Istri Pengasuh Pondok Pesantren yang cukup populer di Situbondo. Tidak cukup dengan  satu lembaga, maka melalui diskusi panjang dengan berbagai kelompok, seperti kelompok tani, pedagang kaki lima, nelayan, lsm, lawyer, maka bersepakat mendirikan perkumpulan yang menjadi satu pergumulan dan perjuangan kedaulatan rakyat untuk mendapatkan hak-haknya, maka lahir perkumpulan yang diberi nama &lt;a href="http://karak-situbondo.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Komunitas Aspirasi Rakyat Situbondo (KARak’S)&lt;/a&gt; pada awal tahun 2010. Dalam waktu bersamaan mewakili Muhammadiyah Situbondo masuk forum bentukan pemerintah daerah Kabupaten Situbondo menjadi pengurus Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM). Di awal tahun 2011 lagi-lagi mendapat tawaran masuk lembaga yang bergerak dalam bidang pengembangan kawasan dan Riset daerah,  setelah berpikir panjang maka tawaran itu diterima dengan keseriusan dan keikhlasan, masuklah di Institut for Regional Development and Studies (IRDeS). Kemudian dengan teman-teman alumni HMI menggagas agar Korps Alumni HMI (KAHMI) di situbondo berdiri dengan terus melakukan pendekatan-pendekatan sesama alumni yang lebih senior, sampai hari ini proses itu tetap berjalan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang di samping tetap mengajar guru SMP Muhammadiyah 1 Situbondo, mulai tahun 2010 melakukan monitoring dan pendampingan proses perencanaan pembangunan daerah dari musrenbangdes, musrenbangcam, forum SKPD serta Musrenbang Kabupaten hingga kemudian dipercaya menjadi Fasilitator Kecamatan untuk Perencanaan pembangunan di Kecamatan Situbondo. Di samping perkerjaan itu, waktunya  juga diluangkan untuk kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti pengobatan gratis untuk orang miskin bersama KAR@k’S, Indosat, dan PKPU Jakarta, kerjasama dengan Unit Transfusi Darah Situbondo untuk melakukan donor darah setiap tiga bulan sekali dengan masyarakat. Kemudian banyak juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya temporal dalam bidang penelitian pendidikan dan kesehatan. Dan yang sampai sekarang menjadi impian adalah mendirikan  Rumah Singgah untuk menampung anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua kegiatan sosial yang dilakukan, merupakan embrio dari kepeduliannya terhadap kaum dhu’afa, tanpa pernah memikirkan materi dan keuntungan yang didapatkan, sehingga ketika aksinya bermanfaat untuk orang lain, maka itu menjadi kebanggaan tersendiri, bahwa apa yang dilakukan bisa bermanfaat dan itu tidak lepas dari pesan Nabi kepada ummatnya. Prinsipnya “Selama Masyarakat Masih Miskin, maka Tidak Kata Berhenti Untuk Bekerja”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah sekelumit sejarah perjalanan hidup saya, yang mudah-mudah bisa dijadikan spirit buat  teman-teman seperjuangan dalam menghadapi arena kehidupan ini. Dan saya sungguh beruntung  banyak teman dan kawan yang mempunyai visi dan misi sama. Maka saya ucapkan banyak terima kasih kepada saudara &lt;a href="http://www.facebook.com/yhudi" target="_blank"&gt;Mashudi, S.TP.&lt;/a&gt; (Ketua Dewan Riset Daerah) Kabupaten Situbondo, Suadara &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000595405531" target="_blank"&gt;Andre Setiawan&lt;/a&gt; (Dinkop dan UKM) sekaligus Sekjen Perkumpulan &lt;a href="http://karak-situbondo.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Komunitas Aspirasi Rakyat Situbondo (KARak’S)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1704401497" target="_blank"&gt;Endro Subagio, SE. &lt;/a&gt;(Even Organizer) KARak’S, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000849456917" target="_blank"&gt;Drs. Edy Sutrisno&lt;/a&gt;, MM, (Ketua STIKES Singaraja) Bali, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000110388549" target="_blank"&gt;Nur Hadi, SH. &lt;/a&gt;(Advokat) Situbondo, &lt;a href="http://kang-fathur.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Fathur Rahman&lt;/a&gt; (Derektur LKM) KARak’S, dan juga teman-teman seperti &lt;a href="http://www.facebook.com/agus.sopyan2" target="_blank"&gt;Agus Sofyan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/satria.on" target="_blank"&gt;Suryadi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1488233095" target="_blank"&gt;Badrus Saleh,&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1004114260" target="_blank"&gt;Maeni Hariyanto&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000854139260" target="_blank"&gt;Ke Lora,&lt;/a&gt; Khairul Anwar, teman-teman Forum LSM, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100002353193575" target="_blank"&gt;Amir Mustofa&lt;/a&gt;, Zainal Arif, Ismail, Hadi Prayitno dan  juga Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Situbondo, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Situbondo, dan teman seprofesi guru-guru SMP Muhammadiyah 1 Panji Situbondo dan masih banyak lagi yang belum disebutkan satu persatu.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9vXiILac1ROMLwWxLTAmYS_AT5YoxdW1VZc3k0zQ_Q0noflp5ZU9234qfoDSsFgTRogYye1Xb_Fe9Mg4FBTna8-yFLP4XK-imn7GffFO63qTLwOQYIKgwz17bKfZFwwxga5uc34IBLefJ/s72-c/SLAMET.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item></channel></rss>