<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Lajnah Bahtsul Masail MUDI MESRA</title><description>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</managingEditor><pubDate>Wed, 23 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1528</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">5</openSearch:itemsPerPage><link>https://lbm.mudimesra.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Rahasia Dibalik Shalat Jama'ah</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/rahasia-dibalik-shalat-jamaah.html</link><category>Hikmah</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Wed, 23 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-6800336694361864642</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKvNyh96eCNFGLcF_bVvfainJ_WtV5Ac24eNmg1VWGmB_y0toT6mqfI1oxpGcccekbayub5v1eEGQ27G_sO8t3MN9ggm_j6nwoAqYnf1ipSMuWRMq495PCAVwhcrZ3ciXFECVwyTQaQjXXfu2wQRHuH7weIj6oTeblFpvhKXVf6S9efzwLbgA7IUB8NKs0/s5775/1000157036.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="5775" data-original-width="3850" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKvNyh96eCNFGLcF_bVvfainJ_WtV5Ac24eNmg1VWGmB_y0toT6mqfI1oxpGcccekbayub5v1eEGQ27G_sO8t3MN9ggm_j6nwoAqYnf1ipSMuWRMq495PCAVwhcrZ3ciXFECVwyTQaQjXXfu2wQRHuH7weIj6oTeblFpvhKXVf6S9efzwLbgA7IUB8NKs0/w266-h400/1000157036.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salat berjamaah merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak hikmah dalam kehidupan seorang muslim. Salat yang dilakukan secara bersama-sama bukan hanya memberikan nilai ibadah, tetapi juga mengajarkan berbagai hal penting dalam kehidupan, seperti persatuan, kedisiplinan, persamaan, dan kepedulian terhadap sesama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu hikmah utama salat berjamaah adalah mempererat persaudaraan sesama muslim. Ketika umat Islam berkumpul di masjid dan berdiri dalam satu barisan, mereka memiliki kesempatan untuk saling bertemu dan mengenal. Hubungan yang awalnya mungkin hanya sebatas tetangga atau sesama warga dapat menjadi lebih dekat karena sering bertemu dalam kegiatan ibadah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salat berjamaah juga mengajarkan persatuan dan kebersamaan. Dalam satu barisan, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, pejabat dan masyarakat biasa, maupun orang yang memiliki kedudukan tinggi dan rendah. Semuanya berdiri menghadap kiblat yang sama dan mengikuti imam yang sama. Hal tersebut menggambarkan bahwa semua manusia adalah hamba Allah dan memiliki kedudukan yang sama di hadapan-Nya. Perbedaan seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain persatuan, salat berjamaah mengajarkan kedisiplinan. Jamaah harus memperhatikan waktu salat dan berusaha datang tepat waktu. Ketika imam mulai melakukan gerakan salat, makmum juga harus mengikutinya dengan tertib. Dari kebiasaan tersebut, seorang muslim dapat belajar untuk menghargai waktu, menaati aturan, dan tidak bertindak semaunya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hikmah lainnya adalah menumbuhkan kepedulian sosial. Dengan sering berkumpul di masjid, seseorang dapat mengetahui keadaan orang-orang di sekitarnya. Jika ada jamaah yang tidak hadir karena sakit atau sedang mengalami kesulitan, jamaah lainnya dapat mengetahuinya dan memberikan bantuan. Dengan demikian, salat berjamaah dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun masyarakat yang saling memperhatikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salat berjamaah juga melatih seseorang untuk menghilangkan sifat individualis. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering sibuk dengan pekerjaan dan kepentingannya masing-masing. Salat berjamaah mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada orang lain yang harus dihormati, diperhatikan, dan dibantu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, salat berjamaah dapat memberikan ketenangan dan suasana kebersamaan. Berkumpul bersama orang-orang yang sama-sama beribadah kepada Allah dapat memberikan dorongan untuk terus melakukan kebaikan. Lingkungan yang baik juga dapat membantu seseorang menjaga semangat dalam menjalankan ibadah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi, hikmah salat berjamaah tidak hanya berkaitan dengan pahala ibadah, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial. Salat berjamaah mengajarkan persaudaraan, persamaan, kedisiplinan, persatuan, dan kepedulian. Nilai-nilai tersebut hendaknya tidak hanya dirasakan ketika berada di masjid, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta masyarakat yang rukun, saling menghargai, dan saling membantu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;REF: Hikmah AT-Tasyri' 87-88&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKvNyh96eCNFGLcF_bVvfainJ_WtV5Ac24eNmg1VWGmB_y0toT6mqfI1oxpGcccekbayub5v1eEGQ27G_sO8t3MN9ggm_j6nwoAqYnf1ipSMuWRMq495PCAVwhcrZ3ciXFECVwyTQaQjXXfu2wQRHuH7weIj6oTeblFpvhKXVf6S9efzwLbgA7IUB8NKs0/s72-w266-h400-c/1000157036.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Memahami Tafwidh dan Ta'wil </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/memahami-tafwidh-dan-tawil.html</link><category>alquran</category><category>Ilmu Al-Quran</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Mon, 21 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-5093951162859519031</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0O3ZF8R-GeTxdPYF0-zS7xXJJ0xUb4SwF4WbLtMkWXNlbKC_B4y92UCNsh2h6qhyYi9cObS-K0U-c8Vq-60ZGIQmMZaczBZE6P2EBBkPAfs3HJOd5PaqQvrPqCfVmrm3c0kCH0ayv2QxQYcRZWCjj06azYxD7T3xx6lNSc_JoKwlknSin0_Rh2UcB0eJj/s6000/1000155422.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="6000" data-original-width="4000" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0O3ZF8R-GeTxdPYF0-zS7xXJJ0xUb4SwF4WbLtMkWXNlbKC_B4y92UCNsh2h6qhyYi9cObS-K0U-c8Vq-60ZGIQmMZaczBZE6P2EBBkPAfs3HJOd5PaqQvrPqCfVmrm3c0kCH0ayv2QxQYcRZWCjj06azYxD7T3xx6lNSc_JoKwlknSin0_Rh2UcB0eJj/w266-h400/1000155422.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah SWT menurunkan al Quran kepada hambanya melalui malaikat Jibril A.S. kemudian malaikat Jibril menyampaikannya kepada nabi Muhammad SAW dan nabi Muhammad SAW menyampaikan nya dengan penuh perjuangan dengan tujuan sebagai pedoman serta petuntuk bagi manusia. Di samping itu al Quran juga menerangkan etika-etika (adab-adab) untuk menggariskan makhluk nya dalam aqidah yang benar dan prinsip-prinsip yang lurus.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan dalam al Quran tersebut terdapat ayat yang tegas dan jelas serta mudah untuk di tafsirkan. Untuk ayat ini di namakan dengan AYAT MUHKAM dan ada juga yang menerangkan dengan mempergunakan lafazh yang bersifat universal (umum) dan samar-samar, di mana untuk memahami makna nya tidak begitu mudah untuk di tafsirkan terkecuali bagi mujtahid seperti hal nya imam kita, Imam Syafi’i, dan ada juga al Quran yang tidak di ketahui sama sekali tafsiran nya kecuali oleh sang khaliq yang maha mengetahui dan bijak sana.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;ٍهُوَ الذي اَنْزَلَ عَلَيْكَ الكِتَابُ مِنْهُ آيَاتُ مُحْكَمَاتُ هُنَّ اُمُّ الكِتَابُ وَاُخَرُ مُتَشَابِهَات&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;“Dialah yang menurunkan al kitab (al Quran) kepada mu di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Firman allah di atas jelas membagikan ayat kepada 2 macam yaitu muhkam dan mutasyabih, mengenai hal ini dalam kitab tafsir Ibnu Katsir begitu banyak berselisih pendapat di antara para-para Ulama dalam mendefinisikan nya. Di antara beragam pendapat tersebut ada yang mengartikan MUHKAM itu adalah ayat-ayat yang di mana seandai nya di pahami secara tekstual maka mudah di ketahui maksud nya ,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Seperti salah satu contoh ayat muhkam adalah:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;ُلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَمِيْعُ البَصِير&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;(Q.S. as-Syura : 11)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan sedangkan mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maksudnya hanya Allah SWT yang mengetahui nya, sedangkan manusia hanya beriman bahwa ayat itu datang nya dari sang khaliq (Allah SWT)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan ayat mutasyabihat ada di sebabkan oleh lafaz, seperti beberapa ayat yang tersusun dari beberapa huruf hijaiyah, yang biasa di temukan pada awal surat. seperti:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;الٓم ، حٓم ،يٓس ، طٓه&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;demikian tersebut hanya Allah lah yang mengetahui maksud dan makna nya&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan ada juga mutasyabih yang di sebabkan oleh makna yaitu lafaz-lafaz yang makna nya serupa dengan makna yang ada dalam nalar kita (pikiran kita), dan bila mana-mana itu di nisbahkan kepada Allah maka itu adalah hal yang mustahil.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;seperti:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dalam (Q.S al waqiah 56 : 85)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;ِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;َوَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُوْن&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu tetapi kamu tidak melihat nya”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan dalam (Q.S al an’am 6 : 18)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;ِوَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِه&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“dan dialah yang maha kuasa atas hambanya”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan dalam (Q.S thaha 20 : 5)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;الرَّحْمٰنُ عَلٰى العَرْشِ اِسْتَوَى&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“tuhan yang maha pemurah yang bersemayam di atas arasy”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan dalam (Q.S al fajr 89 : 22)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;وَجَآءَ رَبُّكَ وَالمَلَكُ صَفًّا صَفًّا&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“dan datanglah tuhan mu, sedangkan malaikat berbaris-baris”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dari beragam contoh ayat mutasyabihat  di atas, seperti lafaz فوق yang artinya di atas, danم lafaz استوى yg artinya bersemayam (duduk di atas arasy).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;kesemua contoh itu jika seandainya kita pahami secara tekstual maka Allah SWT akan serupa dengan makhluk, karna semua itu merupakan sifat makhluk. Serupa Allah dengan makhluk merupakan hal yang mustahil, dan juga akan bertentangan dengan ayat muhkam yang menyatakan Allah SWT itu tidak serupa dengan sesuatu apapun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka timbullah dua pertanyaan dari hal tersebut:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;yang pertama: Bagaimanakah cara kita mencari jalan keluar (solusi) bilamana ayat muhkam dan ayat mutasyabihat bertentangan ?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;كيف نجمع بين طرق في الأدلة&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jawabannya adalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;kita memandang kedua dalil  itu yang mana yg lebih kuat di antara kedua nya&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;pastilah yang kuat adalah ayat muhkam, karna sesuai dengan definisinya, yaitu “لا يقبل النسخ” (tidak menerima nasakh) berita saja, seandai nya di nasakh maka akan menimbulkan kedustaan, apalagi firman Allah SWT tidak menerima nasakh otomatis zohirnya kuat dan benar nya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan yang menjadi pertanyaan ke dua adalah:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanakah metode kita selaku ahli sunnah waljamaah memahami / menyikapi terhadap ayat (nas) yang mutasyabih ?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jawab:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut kaca mata ahlusunnah Waljamaah seandainya al-Qur’an ataupun hadis yang memberi prasangka adanya keserupaan pada hak Allah SWT maka terdapat dua cara (metode) untuk memahami nya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. طريقة التأويل :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;حمل النص على خلاف ظاهره مع بيان المعنى المراد&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;yang pertama merupakan tariqatu’tawil yaitu membawa pengertian al Qur’an kepada mana selain zahir nya, di sertai dengan penjelasan mana yang di kehendaki al Qur’an sendiri, maka yang di maksud ta’wil di sini adalah Ta’wil tafsili&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;karna di sebalik memalingkan mana zohir, ia menjelaskan terhadap mana yang di kehendaki ataupun mana yang di maksud.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Cara ini merupakan cara yang di tempuh oleh mazhab/ulama khalaf&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Siapa mereka ulama khalaf …? Mereka adalah orang-orang yang hidup sesudah tahun 500 H, dan ada juga yang mengatakan sesudah abad ke 3 (yani tahun 300 H).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.طريق التفويض :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;صرف اللفظ عن ظاهره ففوض المراد اليه تعالى&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan yang ke dua merupakan tariqutafwid yaitu melakukan tawil ijmaly atau memalingkan lafaz dari zahir nya dan menyerahkan makna yang di kehendaki (makna yang sebenarnya ) kepada Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Cara ini merupakan cara yang di tempuh mazhab/ulama salaf yaitu mereka hidup sebelum tahun 500 H, ada yang mengatakan mereka hidup di bawah abad ke 3 yaitu mereka hidup di era para sahabat dan tabi’in.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian nampaklah adanya kesepakatan antara ulama salaf dan ulama khalaf dalam hal sama-sama memalingkan nash/ayat al Quran yang memberi prasangka adanya keserupaan dari mana zohir yg mustahil terhadap Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Walau cara mereka berbeda dalam hal menta’wil, tapi tujuan mereka adalah sama yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;t a n z e h&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (mensucikan Allah dari keserupaan).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tariqutta’wil itu lebih di kenal (di juluki) dengan أتقن (kokoh) kenapa…?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;karna ulama khalaf lebih memberi pengetahuan dan lebih memastikan karna di dalam nya terdapat tambahan penjelasan dan penolakan terhadap orang-orang yang membantah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan cara tarwid itu lebih di kenal (di juluki) dengan أسلم (lebih selamat)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;karna terdapat keselamatan dari penentuan makna yg terkadang bukan itu yang di maksud oleh Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sesuai dengan apa yang telah di katakan oleh Syekh Ibrahim allaqani dalam kitabnya Jauharah Tauhid&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;وكل نص أوهم التشبيها&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;أوله أو فوض ورم تنزيها&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Setiap nash yang menimbulkan prasangka adanya keserupaan maka ta’wilkan ia atau serahkan kepada Allah SWT dan bermaksudlah untuk mensucikan.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;• Materi kaderisasi aswaja&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bersama : Tgk H. Muhammad Iqbal Jamil&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0O3ZF8R-GeTxdPYF0-zS7xXJJ0xUb4SwF4WbLtMkWXNlbKC_B4y92UCNsh2h6qhyYi9cObS-K0U-c8Vq-60ZGIQmMZaczBZE6P2EBBkPAfs3HJOd5PaqQvrPqCfVmrm3c0kCH0ayv2QxQYcRZWCjj06azYxD7T3xx6lNSc_JoKwlknSin0_Rh2UcB0eJj/s72-w266-h400-c/1000155422.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hikmah dan Fungsi Diutusnya Para Rasul </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/hikmah-dan-fungsi-diutusnya-para-rasul.html</link><category>Hikmah</category><category>kisah nabi</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sun, 20 Sep 2026 13:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-5902374187907437580</guid><description>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8TwUdvfTIgelLUpUo-pBh5furyNyU2GEgMcFgscgKVBZYyz6kNqQXC1fM8k1tQ-xo6skRy1JU3JKJ1tj-mRbGRnsPfBz_xj3PHkH07pvQwVQx6pSPC3CRhs7InyQsJqb44ifE3qJ15P7GL-TU8-6w26DR7jjr55rKLeCgbqwUZSvRbXQp0DHc80M7C4g8/s5362/1000156097.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3575" data-original-width="5362" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8TwUdvfTIgelLUpUo-pBh5furyNyU2GEgMcFgscgKVBZYyz6kNqQXC1fM8k1tQ-xo6skRy1JU3JKJ1tj-mRbGRnsPfBz_xj3PHkH07pvQwVQx6pSPC3CRhs7InyQsJqb44ifE3qJ15P7GL-TU8-6w26DR7jjr55rKLeCgbqwUZSvRbXQp0DHc80M7C4g8/w400-h266/1000156097.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa manusia membutuhkan para rasul? Bukankah Allah telah memberikan akal kepada manusia untuk membedakan yang baik dan buruk?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akal menjadi salah satu nikmat yang sangat besar. Dengannya, manusia dapat berpikir, memahami berbagai hal, dan mengambil keputusan dalam kehidupan. Namun, akal manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua perkara dapat diketahui hanya dengan mengandalkan kemampuan berpikir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk dari Allah melalui para Rasul. Mereka membawa petunjuk tentang perkara-perkara yang tidak mampu dijangkau oleh akal, terutama dalam mengenal Allah, memahami ajaran tauhid, dan mengetahui jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keterbatasan Akal Manusia&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika manusia memiliki kemampuan yang sempurna untuk mengetahui seluruh hakikat kehidupan dan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan baginya, tentu ia tidak membutuhkan petunjuk dari luar dirinya. Namun, kenyataannya manusia tidak demikian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia memiliki keterbatasan dalam memahami dirinya sendiri, alam di sekitarnya, dan perkara-perkara yang berada di luar jangkauan indra dan pikirannya. Karena itu, akal membutuhkan bimbingan agar tidak salah arah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu hal yang dapat dipahami manusia melalui akalnya adalah alam semesta ini memiliki Pencipta. Alam yang kita saksikan terdiri atas berbagai makhluk seperti benda-benda langit yang bergerak pada jalurnya, manusia dan hewan yang memiliki kehidupan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, serta berbagai benda lainnya. Ini menjadi tanda bahwa adanya Zat yang menciptakan dan mengaturnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia juga dapat memahami bahwa  dirinya tidak mungkin menciptakan diri sendiri. Keberadaannya menunjukkan bahwa ada Zat yang menciptakan dan mewujudkannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, sampai di sini muncul persoalan lain: apakah akal manusia mampu mengetahui Allah dengan sempurna dan menentukan sendiri bagaimana seharusnya manusia beribadah kepada-Nya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sinilah keterbatasan akal menjadi jelas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika Manusia Mencari Tuhan dengan Caranya Sendiri&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di saat manusia tidak mendapatkan petunjuk yang benar, sering kali solusi yang timbul adalah sebagian dari mereka berusaha mencari sendiri jalan untuk mengenal Tuhan. Akibatnya, muncul berbagai keyakinan dan cara pandang tentang Tuhan dan sesembahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Misalnya, Sebagian kaum Majusi yang  menganggap api sebagai objek yang harus disembah. Begitu pula pada sebagian penyembah berhala yang menjadikan patung-patung sebagai objek ibadah. Ada pula kelompok yang mengagungkan benda-benda langit, seperti matahari, hingga menjadikannya sebagai objek penyembahan. Padahal api, patung dan matahari merupakan objek yang tidak layak dikatakan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berbagai keyakinan tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hanya mengandalkan akalnya untuk mengenal Allah dan menentukan tata cara penghambaan kepada-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akal memang memiliki peran yang sangat penting. Namun, akal membutuhkan petunjuk dari wahyu agar dapat mengetahui perkara-perkara yang berada di luar jangkauannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasul Sebagai Pembawa Petunjuk dari Allah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para rasul diutus oleh Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia tentang Tuhan mereka. Mereka menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah, mengajarkan tauhid, serta menunjukkan jalan yang benar dalam beribadah dan menjalani kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, manusia tidak dibiarkan secara naluri akalnya  mencari jalan sendiri terhadap perkara-perkara yang tidak mampu dijangkau oleh akalnya. Allah memberikan petunjuk melalui para rasul agar manusia dapat mengenal-Nya dengan benar dan mengetahui tujuan hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Diutusnya para rasul merupakan bagian dari rahmat dan hikmah Allah kepada manusia. Akal adalah nikmat yang sangat penting, tetapi kemampuan akal memiliki batas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk Allah yang dibawa oleh para rasul. Mereka menjelaskan tentang Sang Pencipta, mengajarkan tauhid, serta membimbing manusia menuju jalan yang benar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengikuti petunjuk yang dibawa para rasul, manusia dapat mengenal Allah dengan benar dan menjalani kehidupan sesuai dengan tujuan penciptaannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Referensi :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;HIKMATUSY TASYRI' WAL FILSAFAT KARANGAN SYEKH ALI AHMAD AL-JARJAWI , HAL 9, CET, DKI.&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8TwUdvfTIgelLUpUo-pBh5furyNyU2GEgMcFgscgKVBZYyz6kNqQXC1fM8k1tQ-xo6skRy1JU3JKJ1tj-mRbGRnsPfBz_xj3PHkH07pvQwVQx6pSPC3CRhs7InyQsJqb44ifE3qJ15P7GL-TU8-6w26DR7jjr55rKLeCgbqwUZSvRbXQp0DHc80M7C4g8/s72-w400-h266-c/1000156097.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hikmah dan Rahasia Mendalam dibalik Anjuran Ta'ziah </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/hikmah-dan-rahasia-mendalam-dibalik.html</link><category>Hikmah</category><category>tasawuf</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sat, 19 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-8831641580280710774</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaMSjgx0ft7s0BQyefhvmDYSaufK0mfFzwtDCyJZrzovqaEHT3-zYhK_CwpWqZ5K6oWGQjXLDSKEgNG4fahqVfz1ZQeX18EemAAU_zR4_zyc5FvpxLpVG9DFJJWtkZQ4yS52ywAVcGDFWc8JFsGLUIU0jriayAe8Tpzn4n9JbxFH8682TOFcrqR7mJIm7V/s5760/1000155401.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3840" data-original-width="5760" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaMSjgx0ft7s0BQyefhvmDYSaufK0mfFzwtDCyJZrzovqaEHT3-zYhK_CwpWqZ5K6oWGQjXLDSKEgNG4fahqVfz1ZQeX18EemAAU_zR4_zyc5FvpxLpVG9DFJJWtkZQ4yS52ywAVcGDFWc8JFsGLUIU0jriayAe8Tpzn4n9JbxFH8682TOFcrqR7mJIm7V/w400-h266/1000155401.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Kematian adalah peristiwa paling menghentakkan dalam kehidupan manusia. Ia datang tanpa kompromi, merenggut sosok terkasih, dan menyisakan duka yang begitu mendalam. Di saat fondasi emosional seseorang terguncang hebat, Islam hadir membawa penawar berupa anjuran ta’ziyah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari sekadar tradisi melayat, ta’ziyah menyimpan rahasia psikologis, sosial, dan spiritual yang luar biasa bagi kehidupan manusia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;Penawar Jiwa dan Benteng Ketabahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat musibah melanda, kesedihan yang ekstrem berpotensi melumpuhkan akal dan merusak fisik seseorang. Namun, Allah Sang Maha Pengasih telah menciptakan benih-benih kesabaran di dalam jiwa manusia bahkan sebelum ujian itu tiba. Ta’ziyah berperan sebagai pemantik agar kesabaran tersebut menyala. Kehadiran para perta’ziyah menghadirkan rasa hangat dan menguatkan mental keluarga yang ditinggalkan, menjaga agar jiwa mereka tetap teguh dan akal mereka tidak runtuh oleh rasa kehilangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Wujud Nyata Empati dan Solidaritas Sosial&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ta’ziyah adalah simbol tertinggi dari kepedulian antarsesama. Umat Islam diajarkan untuk tidak membiarkan saudaranya berjuang sendirian di masa-masa tergelap. Melalui ta’ziyah, beban berat yang menghimpit dada keluarga mayit terbagi. Doa yang mengalir—“Semoga Allah membesarkan pahalamu, membaguskan ta'ziyahmu, dan mengampuni mayitmu”—menjadi jembatan emosional yang menyatukan hati dalam bingkai kasih sayang dan persaudaraan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. Keberkahan Melimpah Bagi yang Bertindak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Islam memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi siapa saja yang merawat hati saudaranya yang sedang berduka. Sebuah riwayat menegaskan bahwa orang yang berta’ziyah dengan ikhlas akan dianugerahi pahala yang setara dengan pahala orang yang tertimpa musibah tersebut. Ini adalah rahasia kebaikan yang berlipat ganda: di balik senyum penguatan dan jabat tangan yang hangat, ada limpahan rahmat Allah yang menanti sang perta’ziyah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4. Meringankan Beban Melalui Aksi Nyata&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bentuk kepedulian tertinggi tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika kesedihan membuat keluarga yang berduka lupa atau tak sempat mengurus kebutuhan dasar mereka, Sunnah Rasulullah ﷺ hadir memberi petunjuk yang indah. Beliau bersabda saat musibah menimpa keluarga Ja'far:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Buatlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena mereka sedang menghadapi musibah yang membuat mereka repot."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memberikan hidangan kepada keluarga mayit adalah aksi empati yang sangat menyentuh. Langkah sederhana ini melonggarkan kerepotan mereka sekaligus menegaskan bahwa mereka dikelilingi oleh orang-orang yang peduli.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melalui ta'ziyah, Islam mengajarkan kita untuk merayakan kemanusiaan: merangkul yang berduka, menguatkan yang lemah, dan menyebarkan kasih sayang di tengah ujian terberat kehidupan.&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaMSjgx0ft7s0BQyefhvmDYSaufK0mfFzwtDCyJZrzovqaEHT3-zYhK_CwpWqZ5K6oWGQjXLDSKEgNG4fahqVfz1ZQeX18EemAAU_zR4_zyc5FvpxLpVG9DFJJWtkZQ4yS52ywAVcGDFWc8JFsGLUIU0jriayAe8Tpzn4n9JbxFH8682TOFcrqR7mJIm7V/s72-w400-h266-c/1000155401.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>HUKUM PRAKTIK IBU PENGGANTI (SURROGATE MOTHER - GESTATIONAL SURROGATE) DENGAN SPERMA DAN OVUM PASANGAN SUAMI ISTRI DALAM PERSPEKTIF FIKIH SYAFI‘IYYAH</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/hukum-praktik-ibu-pengganti-surrogate.html</link><category>Fiqh</category><category>hukum</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Tue, 15 Sep 2026 11:11:20 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-5663993967437685588</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuyi7UwNbtJaek0Q4AgUpOrF7nDVwHyv6Ocbh5LE7GVukqTUyIVgN7sEYADIfIA5QdPYai2gAN7M06It0E7mP5jx43a_0b-zvnQ3y5T1-_XG95ceu9mmeqHlav6WADWiF_2BhBMqf_aiF7BQF3nvLmEso0levfAMZx-6dHOrQ8ITGZ_3Z0MTaGZLBpYCw4/s3686/393024.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3686" data-original-width="3686" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuyi7UwNbtJaek0Q4AgUpOrF7nDVwHyv6Ocbh5LE7GVukqTUyIVgN7sEYADIfIA5QdPYai2gAN7M06It0E7mP5jx43a_0b-zvnQ3y5T1-_XG95ceu9mmeqHlav6WADWiF_2BhBMqf_aiF7BQF3nvLmEso0levfAMZx-6dHOrQ8ITGZ_3Z0MTaGZLBpYCw4/w400-h400/393024.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;A.	 Deskripsi Masalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan teknologi reproduksi berbantu memungkinkan pasangan suami istri yang mengalami kendala dalam kehamilan untuk memperoleh keturunan melalui praktik ibu pengganti (surrogate mother-gestational surrogate) atau lebih dikenal dengan sewa Rahim. Dalam praktik ini, sperma suami dan ovum istri dapat dipertemukan melalui proses pembuahan di luar rahim, kemudian embrio yang berasal dari keduanya ditanamkan ke dalam rahim perempuan lain hingga terjadi kehamilan dan persalinan. Dengan demikian, perempuan yang mengandung dan melahirkan anak tersebut bukanlah istri pemilik sperma dan ovum .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Praktik ini menimbulkan persoalan fikih, khususnya berkaitan dengan kehormatan rahim, nasab, kehamilan, status perempuan yang mengandung, serta hubungan hukum antara anak dan para pihak yang terlibat. Dalam perspektif fikih Syafi‘iyyah, perlu dikaji apakah penggunaan rahim perempuan lain untuk mengandung embrio yang berasal dari pasangan suami istri dapat dibenarkan secara syariat, meskipun sperma dan ovumnya berasal dari pasangan yang sah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;B.	Rumusan Masalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.	Bagaimana hukum sewa rahim dalam praktek surrogate mother(gestational surrogate) menurut perspektif Fiqh syafii’yah?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.	Bagaimana status nasab dari praktek surrogate mother(gestational surrogate) menurut perspektif Fiqh syafii’yah?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;C.	Jawaban Sementara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.	Hukum sewa menyewa Rahim tidak sah secara perspektif mazhab syafi’i, karena tidak mencukupi syarat ijarah, yaitu manfaatnya tidak mubah dan diharamkan memasukkan mani kedalam Rahim perempuan selain istrinya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.	Status nasab si anak dihubungkan kepada pemilik ovum dan sperma menurut imam ramli dan tidak dihubungkan kepada pemilik ovum dan sperma menurut imam ibnu hajar .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;D.	Nash Terkait.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.	Surah an-nur ayat 30:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artinya: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.	Hadis dari Ibnu Abbas:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِيْ رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3.	Zakariyya al-Anshari, Tuhfah al-Thullab, Jld. 3, Hal. 182.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;هي لغة : اسم للأجرة، وشرعًا عقد على منفعة مقصودة معلومة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم، وقد أوضحته مع بيان ما فيه في شرح الأصل.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;---------------&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;قوله: (عقد على منفعة إلخ) ذكر سبعة قيود خرج بقوله: على منفعة العقد على العين كالبيع، وبمقصودة التافهة كالشم لنحو تفاحة كأترجة، فلا يصح استئجار ذلك، وبمعلومة المنفعة في القراض والجعالة، فإن رد العبد والربح غير معلومين، وإن كانا مقصودين، وبقابلة للبذل أى الإعطاء للغير منفعة نحو الكلب، ويقابله للإباحة منفعة البضع، فلا يصح إجارة الإماء للوطء، وبعوض العقد على منفعة مقصودة معلومة بلا عوض كهبة المنافع والوصية بها وإعادتها، وهو متعلق بعقد، أي عقد كائن بعوض، وبمعلوم العوض المجهول كما في المساقاة والجعالة على عمل معين بعوض مجهول كالحج بالرزق، ويؤخذ من التعريف الأركان الأربعة؛ إذ العقد إشارة إلى الصيغة، وهو يستلزم العاقد وهما ركنان والمنفعة والعوض الركنان الآخران.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4.	Zakariyyya al-anshari, Fath al-Wahab bi syarh manhaj al-Thullab, Jld. 1, Hal. 292.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;كتاب الإجارة. أركانها صيغة وأجرة ومنفعه وعاقد وشرط فيه ما في البيع وفي الصيغة ما فيه غير عدم التأقيت كأجرتك هذا أو منافعه أو ملكتكها سنة بكذا لا بعتكها وترد على عين كإجارة معين كاكتريتك لكذا وعلى ذمة كإجارة موصوف وإلزام ذمته عملا وفي الأجرة ما في الثمن فلا تصح بعمارة وعلف ولا لسلخ بجلد وطحن ببعض دقيق وتصح.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;--------&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;و»شرط «في الأجرة ما» مر «في الثمن» فيشترط كونها معلومة جنسا وقدرا وصفة إلا أن تكون معينة فتكفي رؤيتها «فلا تصح» إجارة دار أو دابة «بعمارة وعلف» بسكون اللام وفتحها وهو بالفتح ما يعلف به للجهل في ذلك فإن ذكر معلوما وأذن له خارج العقد في صرفه في العمارة أو العلف صحت.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5.	Jalal al-Din al-Mahalli, Syarh al-Mahalli, Jld. 3, Hal. 68, Cet.Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;(وهي) أي الإجارة ، (قسمان واردة على عين كإجارة العقار ودابة أو شخص معينين) والتثنية بعد العطف أو، كما في قوله تعالى ﴿إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما﴾ [النساء: ١٣٥] (و) واردة (على الذم ة كاستئجار دابة موصوفة، وبأن يلزم ذمته خياطة أو بناء). واقتصر في العقار على إجارة العين؛ لأنه لا يثبت في الذمة. (ولو قال استأجرتك لتعمل كذا فإجارة عين) للإضافة إلى المخاطب. (وقيل) إجارة (ذمة)؛ لأن المقصود حصول العمل من جهة، المخاطب فله تحصيله بغيره. (ويشترط في إجارة الذمة تسليم الأجرة في المجلس) كرأس مال السلم؛ لأنها سلم في المنافع، ولا يجوز فيها تأجيل الأجرة. (وإجارة العين لا يشترط ذلك فيها) كالثمن في البيع (ويجوز) في الأجرة. (فيها التعجيل والتأجيل إن كانت في الذمة) بخلاف المعينة فإنها ما تؤجل (وإذا أطلقت تعجلت وإن كانت معينة ملكت في الحال) أي بنفس العقد وفي الروضة وأصلها أن المطلقة تملك بنفس العقد أيضا، وفي التتمة تملك الأجرة بنفس العقد، سواء كانت في الذمة أو عين مال، وهو أعم مما قبله.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6.	Jalal al-Din al-Mahalli, Syarh al-Mahalli, Jld. 3, Hal. 70, Cet.Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;(وكون المنفعة متقومة) أي لهما قيمة. (فلا يصح استئجار بياع على كلمة لا تتعب وإن روجت السلعة) إذ لا قيمة لها. (وكذا دراهم ودنانير للتزين وكلب لصيد) أو حراسة لا يصح استئجارها لما ذكر. (في الأصح)؛ لأن التزين بالنقد لا يقصد إلا نادرا، والنادر كالمعدوم فلا قيمة له، والكلب لا قيمة لعينه فكذا المنفعة والثاني ينازع في ذلك،  وكون المؤجر قادرا على تسليمها) أي المنفعة حسا أو شرعا. (فلا يصح استئجار آبق ومغصوب وأعمى للحفظ)أي حفظ المتاع.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;--------&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;قوله: ( فلا يصح استئجار بياع على كلمة لا تتعب ) أي: بخلاف استئجار مسك والرياحين للشم وكثير التفاح له، واستئجار الشجرة لظلها او لربط بها، والطير لأنس بصوته، كالعندليب، أو لونه؛ كالطاووس،  فيصح في ذلك، لأن المنافع في ذلك متقدمة، لكونها مقصودة، وكون المقصود من التفاح الأكل دون الرئحة لا يقدح في ذلك، ولو استأجره على كلمة لا تتعب فتعب فيها بكلام أو تردد... فله حينئذ أجرة مثل. ( حاشية البكري ٥/١٥٠ )&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7.	Abu Ishaq al-Syairazi, al-Tanbih Fi al-AFiqh al-Syafiie, Hal. 122, Cet. Bairut.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;لإجارة بيع تصح ممن يصح منه البيع، وتصح بلفظ الإجارة والبيع، وتصح على كل منفعة مباحة.وفي استئجار الكلب للصيد، والفحل للضراب، والدراهم والدنانير؛ وجهان: أظهرهما: أنه لا يجوز في جميع ذلك.ولا يصح على منفعة محرمة؛ كالغناء، والزمر، وحمل الخمر.وتصح الإجارة على منفعة عين معينة؛ كاستئجار الدار للسكنى، والمرأة للرضاع، والرجل للحج والبيع والشراء، والدابة للركوب.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8.	Imam al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ala’ Tuhfah al-Muhtaj, Jld. 6, Hal. 137, Cet. Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;ولا يصح الاستئجار لتعليم التوراة والإنجيل والسحر والفحش والنجوم والرمل ولا لختان صغير لا يحتمل ولا لختان كبير في شدة برد وحر ولا لزمر ونياحة وحمل مسكر غیر محترم إلا للإراقة ولا لتصوير حيوان وسائر المحرمات ولا يحل أخذ عوض على شيء من ذلك كبيع الميتة وكما يحرم أخذ عوض على ذلك يحرم إعطاؤه إلا لضرورة كفك أسير وإعطاء شاعر دفعا لهجوه وظالم دفعا لظلمه&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;9.	Jalal al-Mahalli, Syarh al-Waraqat, Hal. 122, Cet. Dar al- kutub al- Ilmiyyah&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;ويدل النهي) المطلق شرعًا (على فساد المنهي عنه) في العبادات سواء أنهى عنها لعينها كصلاة الحائض وصومها، أو لأمر لزم لها عصوم يوم النحر والصلاة في الأوقات المكروهة وفي المعاملات إن رجع إلى نفس العقد كما في بيع الحصاة أو لأمر داخل فيها كما في بيع الملاقيح أو لأمر خارج عنه لازم له كما في بيع درهم بدرهمين فإن كان غير لازم له كالوضوء بالماء المغصوب مثلا وكالبيع وقت الجمعة لم يدل على الفساد خلافًا لما يفهم من كلام المصنف&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;10.	Wahbah al-Zuhayli, Fiqh al-Islami wa adillatuh, Jld.4, Hal. 198.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;التلقيح الصناعي: هو استدخال المني لرحم المرأة بدون جماع. فإن كان بماء الرجل لزوجته، جاز شرعاً، إذ لا محذور فيه، بل قد يندب إذا كان هناك مانع شرعي من الاتصال الجنسي. وأما إن كان بماء رجل أجنبي عن المرأة، لا زواج بينهما، فهو حرام؛ لأنه بمعنى الزنا الذي هو إلقاء ماء رجل في رحم امرأة، ليس بينهما زوجية. ويعد هذا العمل أيضا منافياً للمستوى الإنساني، ومضارعاً للتلقيح في دائرة النبات والحيوان&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;11.	Prof Dr. ‘Ali Jumah Muhammad, No fatwa. 722, Tanggal fatwa. 11 Agustus 2009.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;السؤال:&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;ما الرأي الشرعي في تأجير رحم امرأة ليكون بديلًا عن رحم زوجتي التي لا يمكنها الحمل مستقبلًا؟ على أن يوضع في هذا الرحم البديل الحيوانات المنوية الخاصة بي والبويضات الخاصة بزوجتي لا الخاصة بصاحبة الرحم البديل، وذلك تحت الضوابط الطبية ذات الشأن.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;الجواب:&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;لا يجوز شرعًا أن تستنبت المرأة في رحمها بويضةً من امرأةٍ أخرى مخصبة؛ سواء كانت مخصبةً من زوجها أو من غيره، وسواء كانت صاحبة البويضة امرأة أجنبية أو قريبة أو ضرة تشترك معها في الزوج نفسه، وقد أجمع الفقهاء المعاصرون أثناء بحث هذه المسألة على حرمتها؛ لأن هناك طرفًا ثالثًا غير الزوج صاحب النطفة والزوجة صاحبة البويضة، ولا يمكن الجزم مع وجود الطرف الثالث بتحديد الأم الحقيقية لهذا الطفل: فهل الأحق به صاحبة البويضة التي تخلق منها الطفل وحمل كل خصائصها الوراثية؟ أو الأحق به الأم الحاضنة صاحبة الرحم الذي تم فيه نموه وتطوره وتبدله حتى صار جنينًا متكاملًا؟ فكان هذا الفعل حرامًا، والقول بالتحريم هو ما عليه قرار مجمع البحوث الإسلامية بمصر وقرار مجلس المجمع الفقهي الإسلامي بمكة المكرمة.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hasyiah al bujairumi. Juz 4. hal 45. Cet Dar Al fikr,&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;وقَوْلُهُ: فِيما تَقَدَّمَ كالوَطْءِ اسْتِدْخالُ المَنِيِّ المُحْتَرَمِ. الحاصِلُ أنَّ المُرادَ بِالمَنِيِّ المحْتَرَمِ حالَ خُرُوجِهِ فَقَطْ عَلى ما اعْتَمَدَهُ مَرَّ وإنْ كانَ غَيْرَ مُحْتَرَمٍ حالَ الدُّخُولِ، كَما إذا احْتَلَمَ الزَّوْجُ وأخَذَتْ الزَّوْجَةُ مَنِيَّهُ فِي فَرْجِها ظانَّةً أنَّهُ مَنِيُّ أجْنَبِيٍّ فَإنَّ هَذا مُحْتَرَمٌ حالَ الخُرُوجِ، وغَيْرُ مُحْتَرَمٍ حالَ الدُّخُولِ، وتَجِبُ العِدَّةُ بِهِ إذا طَلُقَتْ الزَّوْجَةُ قَبْلَ الوَطْءِ عَلى المُعْتَمَدِ خِلافًا لِابْنِ حَجَرٍ لِأنَّهُ يُعْتَبَرُ أنْ يَكُونَ مُحْتَرَمًا فِي الحالَيْنِ كَما قَرَّرَهُ شَيْخُنا&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tuhfah al-muhtaj fi syarhi al-minhaj juz III hal 409&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;(وإنَّما تَجِبُ) أيْ عِدَّةُ النِّكاحِ المَذْكُورِ فالحَصْرُ صَحِيحٌ خِلافًا لِمَن وهِمَ فِيهِ فَقالَ قَضِيَّتُهُ حَصْرُ الوَطْءِ فِيما ذُكِرَ قَبْلَهُ مِن فُرْقَةِ الزَّوْجِ ولا يَنْحَصِرُ فَإنَّ الوَطْءَ فِي النِّكاحِ الفاسِدِ ووَطْءُ الشُّبْهَةِ مُوجِبٌ لَها اهـ ووَجْهُ الوَهْمِ أنَّ الحَصْرَ إنّما هُوَ لِوُجُوبِها بِنَحْوِ الوَطْءِ بِالنِّسْبَةِ لِلنِّكاحِ الصَّحِيحِ وهَذا لا يَرِدُ عَلَيْهِ شَيْءٌ عَلى أنَّ تَعْبِيرَهُ بِحَصْرِ الوَطْءِ إلى آخِرِهِ لا يُناسِبُ الِاصْطِلاحَ وهُوَ أنَّ المَحْصُورَ هُوَ الأوَّلُ والمَحْصُورَ فِيهِ هُوَ الأخِيرُ (بَعْدَ وطْءٍ)......(أوْ) بَعْدَ (اسْتِدْخالِ مَنِيِّهِ) أيْ الزَّوْجِ المُحْتَرَمِ وقْتَ إنْزالِهِ واسْتِدْخالِهِ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;12.	Sulaiman bin Umar, Hasyiyah al-Bujairimi, Jld. 4, Hal. 469, Cet. Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;ولو خرج من رجل مني محترم مرة ومني غير محترم مرة أخرى ومزجهما حتى صارا شيئا واحدا واستدخلته أمته أو زوجته وحبلت وأتت بولد، فإنه ينسب له تغليبا للمحترم. كما قاله الطبلاوي وسم. لا يقال: اجتمع مقتض ومانع فيغلب المانع. لأنا نقول هو غير مقتض لا مانع وانظر لو كان ذلك من رجلين واستدخلته أمة أحدهما، وأتت بولد هل ينسب لصاحب المحترم تغليبا له والظاهر الأول كما يؤخذ من كلام الطبلاوي وسم.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;13.	Hasyiyah syabra malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Jld. 8, Hal. 431, Cet. Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;)قوله وكذا لو مسح ذكره) أفهم أنه لو ألقت امرأة مضغة أو علقة فاستدخلتها امرأة أخرى حرة أو أمة فحلتها الحياة واستمرت حتى وضعتها المرأة ولدا لا يكون ابنا للثانية، ولا تصير مستولدة للواطئ لو كانت أمة لأن الولد لم ينعقد من مني الواطئ ومنيها بل من مني الواطئ والموطوءة فهو ولد لهما.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;14.	Sulaiman bin umar, Hasyiyah al-Bujairimi, Jld.4, Hal. 54, Cet. Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;والمراد المني المحترم بأن يكون حال خروجه محترما لذاته في ظنه أو في الواقع فشمل الخارج بوطء زوجته في الحيض مثلا وباستمنائه بيدها أو بوطء أجنبية يظنها حليلته أو عكسه أو بوطء شبهة كنكاح فاسد.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuyi7UwNbtJaek0Q4AgUpOrF7nDVwHyv6Ocbh5LE7GVukqTUyIVgN7sEYADIfIA5QdPYai2gAN7M06It0E7mP5jx43a_0b-zvnQ3y5T1-_XG95ceu9mmeqHlav6WADWiF_2BhBMqf_aiF7BQF3nvLmEso0levfAMZx-6dHOrQ8ITGZ_3Z0MTaGZLBpYCw4/s72-w400-h400-c/393024.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>