<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002</atom:id><lastBuildDate>Wed, 11 Sep 2024 03:38:03 +0000</lastBuildDate><category>o</category><category>Ramadhan</category><category>angga</category><category>arca</category><category>berkah</category><category>bulan</category><category>game</category><category>icu</category><category>komunikasi</category><category>logika</category><category>nisfu sya'ban</category><category>puisi</category><category>semangat</category><category>seru</category><category>tips</category><title>nAfida...</title><description>Catatan sederhana ibu rumah tangga di tanah rantau</description><link>http://nafida.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Na Indana)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-293265329564380639</guid><pubDate>Mon, 10 Sep 2018 21:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-09-11T04:44:20.652+07:00</atom:updated><title>Persiapan Kelahiran Baby M (Part-2)</title><description>Di part dua ini, saya akan membuat list Keperluan bayi merah aka newborn baby. Kenapa hal ini perlu, karena untuk beberapa saat mayoritas dari Ibu baru mempunyai antusiasme tinggi untuk menyiapkannya. Yang artinya dengan list ini kita akan lebih mudah memilih baby stuff dan menghindari tasrif maupun tabdzir akibat antusiasme yang sangat tinggi.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
1. Keperluan mandi bayi&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Di awal kelahiran hingga dua minggu setelah melahirkan adalah waktu pemulihan fisik ibu hingga kembali 'utuh' Pada waktu inilah sebaiknya para ibu lebih fokus untuk beraktivitas di rumah bersama buah hati.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Keperluan mandi bayi merah cukup sederhana : sabun 2 in 1 yang fungsinya sekaligus untuk sampo, minyak telon, handuk besar dan kecil, tisu kering, tisu basah non alkohol, dan bola kapas.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://nafida.blogspot.com/2018/09/persiapan-kelahiran-baby-m-part-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-373489425939428028</guid><pubDate>Sun, 13 May 2018 15:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-09-11T04:32:18.603+07:00</atom:updated><title>Persiapan Kelahiran Baby M (Part-1)</title><description>&lt;div dir="ltr"&gt;
Setiap calon ibu pasti sangat antusias menyambut kehadiran sang buah hati. Apalagi jika buah hatinya adalah anak pertama. Begitu juga saya, meskipun sebelumnya sudah diberikan kesempatan Allah untuk merasakan kehamilan hanya tiga bulan (baca: &lt;i&gt;abor&lt;/i&gt;&lt;i&gt;tus&lt;/i&gt;) kehamilan kedua ini terasa seperti baru pertama kali, karena ketika sudah lahir si janin akan lahir sebagai bayi pertama saya.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Hari ini adalah hari ke 57 baby M berada di dunia setelah 41 Minggu lebih 2 hari dia kerasan di rahim ibunya. Berdasarkan pengalaman pertama ini, ada beberapa hal penting yang perlu kita siapkan untuk menyambut kehadiran anak pertama. &lt;br /&gt;
1. Perlengkapan melahirkan &lt;br /&gt;
2. Kebutuhan sehari-hari bayi &lt;i&gt;newborn&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
3. Perlengkapan ibu&lt;br /&gt;
4. Berkas kependudukan anak&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Dari empat hal di atas, nomor satu hingga tiga bisa kita persiapkan sebelum kelahiran bayi. Khusus nomor empat, kita harus menunggu kelahiran sang buah hati. Namun, meski berada di urutan ke empat dan untuk memenuhinya harus menunggu kelahiran bayi, sebaiknya kita melakukan nya sesegera mungkin setelah kelahiran bayi. Karena jika melewati 60 hari setelah melahirkan, ceritanya akan jadi lebih panjang. Oke, mari kita rinci empat hal di atas.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
A. Perlengkapan melahirkan&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Apa saja yang perlu kita bawa ke rumah sakit atau bidan? Berikut ini adalah barang-barang yang perlu kita persiapkan untuk dibawa saat proses persalinan. Perlu sekali kita catat agar nantinya kita merasa ada yang kurang, tidak terpakai atau malah jumlahnya terlalu banyak.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
1. Kain jarik/sarung.&lt;br /&gt;
Kita memerlukan item ini lebih dari tiga, karena selain dipakai&amp;nbsp; untuk bawahan pengganti&amp;nbsp; rok, jarik juga diperlukan sebagai penutup saat proses persalinan. Namun jika kita memilih rumah sakit sebagai tempat persalinan kita, maka kita hanya memerlukan jarik untuk kita kenakan saja, karena rumah sakit dan beberapa rumah persalinan milik bidan&amp;nbsp; biasanya sudah lengkap dengan peralatan persalinan. Karena mungkin bidan senior (saya memilih bidan tempat ibu saya dulu), kain jarik masih dipakai untuk penutup saat persalinan.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
2. Gurita ibu&lt;br /&gt;
Sebenarnya ada banyak pilihan media yang berfungsi untuk melindungi bagian perut ibu setelah melahirkan. Mulai dari gurita, stagen, kendit, bengkung, korset hingga gurita instan yang sangat beragam bentuknya. Namun yang paling disarankan dan aman untuk kesehatan adalah gurita, yaitu dua lapis kain, yang bagian luar ujungnya terdapat banyak tali. Karena talinya yang banyak ini kemudian disebut dengan  gurita. Orang Jawa menyebutnya &lt;i&gt;gerito.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
3. Baju ibu&lt;br /&gt;
Sangat disarankan untuk mengenakan baju dengan bahan yang sangat nyaman dan yang bisa dibuka full bagian depannya. Karena ternyata melahirkan itu benar benar penuh perjuangan dan menguras banyak keringat. Juga agar memudahkan kita saat bayi diletakkan di atas dada ibu seketika setelah ia lahir. Jangan lupa untuk membawa lebih dari dua buah.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
4. Handuk ibu&lt;br /&gt;
Jika fisik ibu sudah pulih, segeralah mandi sebelum pulang dari tempat persalinan. Saat itulah handuk diperlukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
5. Kain bedong bayi&lt;br /&gt;
Kalau zaman ibu saya, bayi dibedong menggunakan kain jarik. Zaman &lt;i&gt;now&lt;/i&gt;, kain bedong sudah banyak pilihan. Mulai dari bahan, motif, warna, hingga harga. Kita bisa sesuaikan dengan selera dan kebutuhan kita. Kain bedong bayi sebaiknya disiapkan lebih dari satu buah. Karena ternyata umumnya bayi baru lahir, biasanya akan buang air sesaat setelah digantikan bajunya.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
6. Baju bayi&lt;br /&gt;
Sebaiknya kita memilih baju tanpa lengan atau baju lengan pendek. Tujuannya supaya lebih aman untuk bayi saat baju dikenakan oleh bidan atau perawat. Bayi kita akan tetap hangat karena setelah itu bayi akan dilapisi lagi dengan kain bedong. Ohya, kita tidak memerlukan gurita bayi seperti masa ibu kita dulu. Karena menurut kesehatan, gurita bayi justru menghambat pernafasan bayi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
7. Popok kain &lt;br /&gt;
Popok kain yang saya siapkan untuk baby M dulu adalah yang bentuknya selembar kain panjang yang ada dua tali di dua sudutnya. Tapi sebelum dibawa pulang, bidan memakaikan popok sekali pakai dulu. Agar aman selama perjalanan pulang saat bayi kita buang air.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
8. Peralatan mandi ibu&lt;br /&gt;
Seperti mandi biasanya, sampo, sabun mandi, pasta dan sikat gigi.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
9. Peralatan mandi bayi&lt;br /&gt;
Pengalaman saya kemarin, peralatan mandi bayi yang saya bawa tidak digunakan oleh asisten bidannya saat memandikan baby M. Karena sudah disiapkan di sana. Saat itu menurut saya yang diperlukan hanya sampo dan sabun. Jadilah saya bawa sabun top to toe.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
10. Kain gendongan&lt;br /&gt;
Kain gendongan. Ya, kita hanya perlu gendong yang berbentuk kain untuk membawa bayi pulang. Kenapa tidak yang instan? Karena bayi kita masih rentan dan belum bisa digendong menggunakan gendongan instan. Kecuali yang berbentuk kapsul. Kita bisa meletakkannya di samping kita saat di dalam mobil.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
11. Pembalut&lt;br /&gt;
Kita memerlukan dua macam pembalut untuk dibawa ke rumah bersalin atau rumah sakit. Pembalut untuk kita pakai sendiri dan pembalut biasa (biasanya merk &lt;i&gt;hers &lt;/i&gt;yang dulu ada gambar wanita sama burung dara putih). Awalnya saya heran kenapa dalam list barang yang dari bidan tertulis 2 pack pembalut. Ternyata pembalut ini difungsikan untuk membersihkan darah saat proses persalinan normal berlangsung. Berbeda dengan zaman dulu, yang masih menggunakan kain yang berlapis. Sedangkan untuk pembalut yang kita pakai, bisa kita pilih merk yang sesuai atau seperti biasanya saat menstruasi. Karena sesampai di rumah dan untuk hari-hari selanjutnya, kita akan mengganti pembalut setiap tiga hingga empat jam sekali untuk menjaga kesehatan ibu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
12. Berkas kesehatan &lt;br /&gt;
Mulai dari KTP, buku pink yang dari bidan, hasil kontrol dokter, hasil laboratorium selama masa kehamilan, hasil USG, kartu asuransi kesehatan atau BPJS, akte kelahiran suami istri hingga pas foto. Khusus dua item terkahir ini diperlukan untuk proses pembuatan akte kelahiran bayi. Beberapa rumah bersalin menyediakan jasa pembuatan akte kelahiran.&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;
13. Kendil &lt;br /&gt;
Kendil yang terbuat dari tanah liat ini biasanya digunakan untuk menyimpan ari ari bayi. Tapi kebetulan di tempat saya bersalin kemarin, sudah menyediakan. Jadi saya tidak perlu repot. &lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Dua belas item di atas, masing-masing bisa disesuaikan jumlahnya dengan keperluan kita dan fasilitas rumah sakit atau rumah bersalin. Selamat menyambut kehadiran buah hati,^^&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Tabik,&lt;br /&gt;
Ibunya Maja.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://nafida.blogspot.com/2018/05/persiapan-kelahiran-baby-m-part-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2789829069834985477</guid><pubDate>Tue, 01 May 2018 21:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-02T04:00:03.568+07:00</atom:updated><title>Welcome baby!!</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Sembilan bulan adalah waktu yang sangat sebentar untuk menjalani masa kehamilan. Ya, hal itu benar jika kita sudah sampai di bulan ke sembilan. Lain hal jika kita masih berada di trimester pertama atau kedua. Kehamilan menjadi hal yang membuat si ibu hamil merasakan kecemasan, kekhawatiran dan banyak perasaan lain yang memaksa kita mengarang hipotesa. Hm..&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Namun, bulan ke sembilan dalam masa kehamilanku ternyata molor hingga beberapa hari. Aku yang sudah kedarung happy. Setiap hari mulai memasuki minggu ke 39, aku semakin rajin berbicara dengan baby-ku yang semakin aktif bergerak di dalam perut.&amp;nbsp; Wah sebentar lagi lahir ya kak. Wah, sebentar lagi kita bisa main bareng ya kak. Nanti kakak panggil ibu langsung ya. Kakak udah siap kan. Posisi udah enak kan buat keluar. Iya, aku semakin semangat mengelusi seluruh bagian perutku sambil terus menanyakan dan menyampaikan banyak hal pada baby-ku. Hingga tiba HPL (hari perkiraan lahir), aku masih belum merasai tanda-tanda si jabang bayi akan segera lahir. Berusaha positif thinking, mungkin nanti siang. Aku yang sedari Minggu ke tiga sembilan semangat sekali dengan proses persalinan menjadi cemas yang tidak bisa dikendalikan. Tiba siang hari dan masih belum ada tanda-tanda ia akan lahir. Mungkin nanti sore. Lagi, tiba sore: zonk. Masih saja aku tidak merasakan apa-apa. Semua aktivitas masih sama seperti sebelum hamil hingga masa hamil. Tidak ada yang terasa berat. Hingga malam akhirnya tiba, aku pun tidak merasakan perubahan apapun di seluruh tubuhku. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Pasrah. Tawakal. Hal ini wajib. Sama dengan ketika aku masih berada di trimester awal kehamilan. &lt;/p&gt;
</description><link>http://nafida.blogspot.com/2018/05/welcome-baby.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2858186483331173558</guid><pubDate>Mon, 04 Jul 2016 02:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-04T09:01:51.539+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">berkah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">game</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">logika</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ramadhan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">semangat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">seru</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tips</category><title>Tips Ramadhan Sukses dan Berkah</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Ramadhan adalah momen dimana kita mempunyai banyak peluang untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Sebagai seorang muslim yang taat tentunya kita menginginkan peningkatan tersebut berjalan signifikan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Caranya cukup mudah: lakukan seluruh ibadah mahdhoh tepat waktu dan di awal waktu serta konsistenlah. Atau kami kalangan muslim biasa menyebutnya dengan Istiqomah. Dan lengkapi pula dengan ibadah-ibadah Sunnah dan muamalah (sikap sosial) yang baik dan ramah. &lt;i&gt;Ga lucu&lt;/i&gt; kalau kita masih suka mengeluh padahal sholat udah lima waktu penuh. &lt;i&gt;Ga lucu &lt;/i&gt;kalau kita masih suka marah padahal sudah berkali-kali sholat sunnah. Jadi tetaplah dan sempurnakanlah segala ibadah mahdhoh kita dengan muamalah yang tidak sempurna. Apakah sulit?? Jelas! Tapi Allah tidak akan membiarkan hamba-nya terlalu lama dalam usaha-usahanya. Hasil yang sempurna insyaAllah segera diterima.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Yang terakhir dan terpenting adalah melakukan ibadah-ibadah tadi dengan konsisten/istiqomah. Ini yang paling sulit. Terkadang ada saja hal-hal yang membuat kita tidak Istiqomah, baik dari pribadi diri kita (internal) maupun dari kegiatan-kegiatan atau hal tak terduga di luar diri kita (eksternal). Mau tidak mau, kita harus menemukan solusi supaya target Istiqomah ini berhasil dijalani.Demi Ramadhan :)&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Berikut ini beberapa tips agar selalu istiqamah:&lt;br&gt;
1. Mengendalikan mood dengan melakukan ibadah ghoiru mahdhah yang merupakan hobi kita. &lt;br&gt;
Seperti : menulis ayat al Quran dengan kaligrafi, membaca beberapa ayat dengan metode qiraah, menjahit, mencoba beberapa resep kue, main game, dll.&lt;br&gt;
Eits, apakah itu semua ibadah?? Iya dong! Semua hal yang kita tautkan pada Allah adalah ibadah. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;2. Melakukan ibadah-ibadah mahdhoh kita di manapun dan kapanpun, meskipun dalam perjalanan dan kendaraan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;3. Jika berhubungan dengan kegiatan atau orang lain, kita harus melaksanakan ibadah-ibadah tadi sebelum/sesudahnya. Dengan catatan tanpa mengurangi porsinya sedikitpun.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Itu tadi beberapa tips dari apa yang pernah penulis rasakan dan jalankan. Siapapun boleh dan harus menemukan caranya masing-masing, supaya momen Ramadan kali ini berjalan sesuai harapan kita.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sukses Ramadhan!&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;--------&lt;br&gt;
Ini recommended game yang mungkin bisa mengembalikan mood kita.&lt;br&gt;
Infinity Loop: Blueprints game - dive into the world of immersive puzzles! http://bit.ly/INfinityLoop #infinityloop.mobi&lt;/p&gt;
</description><link>http://nafida.blogspot.com/2016/07/tips-ramadhan-sukses-dan-berkah.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2981565289087263159</guid><pubDate>Sun, 07 Jun 2015 01:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-06-07T08:32:33.793+07:00</atom:updated><title>PAUD dan TK ALWARDAH KAYANGAN JOMBANG</title><description>&lt;iframe width="459" height="344" src="https://www.youtube.com/embed/IqkoC-qm5l4" frameborder="0" allowFullScreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2015/06/paud-dan-tk-alwardah-kayangan-jombang.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://img.youtube.com/vi/IqkoC-qm5l4/default.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-460368723335917906</guid><pubDate>Thu, 07 Aug 2014 15:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-08-07T22:49:04.627+07:00</atom:updated><title>ta'aruf</title><description>Siapa yang tahu masa depan selain Allah, pencipta seluruh alam ini.&lt;br /&gt;
Hampir genap satu bulan, saya menjalani proses ta'aruf dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal. Banyak pihak menilai bahwa proses yang saya jalani kemarin sangat mudah. Dan memang, saya sendiri menyaksikan semua proses dari awal, sama sekali tidak ada hambatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dikenalkan sebuah nama oleh sanak saudara jauh saya, saya hanya diam. Saya hanya bisa merasai perih yang teramat ketika akhirnya saya menerima sms dari orang yang akan dikenalkan dengan saya itu. Banyak sekali tanya yang terlintas di fikiran saya kala itu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah saatnya kah saya menjalani proses ta'aruf ini?&lt;br /&gt;
Sudah baikkah diri saya untuk menjadi seorang istri?&lt;br /&gt;
Sudah layakkah saya menjadi makmum untuk seorang imam?&lt;br /&gt;
Sudahkah saya ikhlas terhadap segala rupa masa lalu saya?&lt;br /&gt;
Sudahkah saya siap menghadapi masa depan dengan judul baru di pundak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, semua tanya itu perlahan mengalah, ketika air mata saya bercerita kepada Umi. Umi hanya senyum dan berkata sabar,&lt;br /&gt;"Yang dibutuhkan sekarang hanya pasrah, nduk. Ikuti saja alurnya, jangan mengelak, jangan pula terlalu mengharap. Allah mempunyai banyak cara untuk mewujudkan kehendakNya, sesuai dengan apa yang telah ditetapkanNya dalam Lauh Mahfudh"&lt;br /&gt;
Tangis saya mulai menjadi. Namun, saya total berpasrah selanjutnya, saya benar-benar mengikuti alurnya, dan nyaris hanyut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah istikhoroh dilakukan berbagai pihak dan hasilnya berkesimpulan baik, saya mulai memberanikan untuk tersenyum setiap kali membacai sms darinya. Sms kami tidak pernah hanya untuk sekedar guyonan, semuanya disiapkan untuk menuju amanah besar Allah. Berkali-kali dia pun mengingatkan saya.&lt;br /&gt;
Dan karena di dalam keluarganya masih menggunakan adat Jawa, tanggal kelahiran kami pun harus lolos dari hitungan ini jika mengingikan untuk melanjutkan niat beribadah ini. Saya hanya mengiringi dengan bismillah ketika saya mengetikkan hari dan tanggal kepadanya melalui sms, kemudian menunggui beberapa saat, hingga kabar baik pun datang. Ya, hasil hitungan weton kami berdua baik. Tak ada masalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai di sini, seluruh pihak yang membimbing dan mengawal proses ta'aruf kami, menilai bahwa kami mungkin saja berjodoh. Dua proses besar telah terlewati dengan hasil yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hari ini saya tahu. Saya tahu bahwa sebenarnya saya tidak pernah mengetahui apa apa dalam kehidupan ini, apa apa yang sebenarnya masih tersembunyi di balik segala kebaikan yang terlihat. Setelah tiga hari saya merasai gejolak dalam hati saya, malam ini saya beranikan diri untuk menanyakan kepadanya. Lagi lagi hanya melalui sms; bagaimanakah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Maaf, mungkin kita belum berjodoh, karena saya belum mendapat restu dari ndalem'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, baginya adalah sebuah keharusan menuai restu dari pihak yang selama ini membimbing dan mengasuhnya. Ndalem adalah keluarga pak Yai yang selama ini ia mondok di pesantrennya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita ini sederhana. Tak ada yang rumit di antara kami. Kecuali satu hal;&lt;br /&gt;
Kadang manusia merasa telah berpasrah kepada Sang Esa, tapi sesungguhnya mereka hanya sedang berprasangka luar biasa baik kepadaNya, hingga terkadang mereka justeru tidak siap dengan hal yang terjadi setelahnya yang mungkin tidak sama dengan prasangka itu.</description><link>http://nafida.blogspot.com/2014/08/taaruf.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-8101621399516074889</guid><pubDate>Wed, 06 Aug 2014 12:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-08-06T19:06:17.667+07:00</atom:updated><title>Bunga #2</title><description>Bunga..&lt;br /&gt;
mekarmu tentu bukan sembilu&lt;br /&gt;
sendiri bermekar&lt;br /&gt;
sudah kuat tangkai dan daun mengakar&lt;br /&gt;
menawar seluruh hama sekitar&lt;br /&gt;
indah tak ternilai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunga..&lt;br /&gt;
cukup pahami rerumputan&lt;br /&gt;
kau akan hidup&lt;br /&gt;
meski rerumputan itu mengering&lt;br /&gt;
cukup tunggu&lt;br /&gt;
ia akan kembali menghijau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunga..&lt;br /&gt;
jangan menguning..</description><link>http://nafida.blogspot.com/2014/08/bunga-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-6832143358210259200</guid><pubDate>Sat, 26 Jul 2014 16:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-07-26T23:45:43.403+07:00</atom:updated><title>Bunga</title><description>Bunga..&lt;br /&gt;
kau bukan fatamorgana&lt;br /&gt;
kau meliuk lebih dalam&lt;br /&gt;
kala ini&lt;br /&gt;
dan mengingatkanku&lt;br /&gt;
tentang diriku dan dirinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunga..&lt;br /&gt;
benarkah dirimu&lt;br /&gt;
ku harap kau lah kebenaran itu&lt;br /&gt;
kini&lt;br /&gt;
meski malu untuk nyata ku akui&lt;br /&gt;
dia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunga..&lt;br /&gt;
sejatikah nantinya&lt;br /&gt;
ku harap tak ada lain&lt;br /&gt;
hingga nanti&lt;br /&gt;
meski rapat sekali ku dekap&lt;br /&gt;
kedua telapak tanganku&lt;br /&gt;
dulu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunga..&lt;br /&gt;
tiba-tiba aku ingin sekali memetikmu..</description><link>http://nafida.blogspot.com/2014/07/bunga.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-6814923707960249916</guid><pubDate>Sat, 23 Nov 2013 23:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-24T06:21:36.584+07:00</atom:updated><title/><description></description><link>http://nafida.blogspot.com/2013/11/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-3285640621093379606</guid><pubDate>Tue, 13 Aug 2013 16:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-08-13T23:34:52.287+07:00</atom:updated><title>Tirai</title><description>Hm, bangun tidur langsung buka tirai jendela. Bukanlah hal yang biasa saya lakukan. Kalau biasanya saya lebih memilih untuk merapikan dulu seluruh sudut rumah. Baru setelah merasa yakin atas hasil 'jerih payah', saya membuka jendela rumah. Empat di bagian barat, empat bagian utara.</description><link>http://nafida.blogspot.com/2013/08/hm-bangun-tidur-langsung-buka-tirai.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2134256141803641303</guid><pubDate>Fri, 14 Dec 2012 13:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-12-14T20:41:19.822+07:00</atom:updated><title>A LA NADA</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kawanku ini bukan lagi sosok
pendengar yang baik di setiap celoteh yang mengalir di antara kami. Dia, kini
lebih dari itu, selalu ada penutup bijak di akhir celoteh kami yang datang
darinya. Adalah sosok teladan bagi kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
"Nad, ba'da maghrib ada
acara?"&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Dia hanya menjawab
pertanyaanku dengan senyum. Aku tak perlu lagi meminta keterangan senyumnya itu
seperti tiga bulan lalu. Nada cukup mempertegas senyumnya di tiap waktu
privasinya. Kehidupan pesantren telah mengajarkan kami toleransi tingkat tinggi.
Dan aku telah mengenal Nada apa adanya termasuk saat-saatnya untuk lebih
memilih sendiri daripada bersamaku, teman terdekatnya saat ini. Setelah senyum
itu akhirnya aku memutuskan untuk mengubah jadwalku sore ini, dari berdiskusi
bersama cangkir-cangkir kopi menjadi berkutat dengan sejumlah tugas tulis
menulis yang akhir akhir ini membanjiri hari hariku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Malam ini, aku bermalam&amp;nbsp; di bawah tenda tenda yang didirikan
teman-teman organisasi. Serangkaian acara tadi siang membuat kami kelelahan secara
fisik. Di desa terpencil ini, aku bersama teman kampus mengadakan bakti sosial.
Dengan bantuan berupa tujuh truk tangki air dan rupa-rupa kebutuhan sembako,
aku berharap kekeringan yang ada di desa sedikit terbantu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Ide bakti sosial ini tentu
saja datang dari Nada, temanku yang tadi sudah ku kenalkan pada kalian. Tapi
kali ini ia tak bisa ikut terjun berbakti seperti di kali-kali sebelumnya. Nada
selalu saja begitu. Baginya sumbangan ide cukup mewakili keterlibatannya dalam
berbagai kegiatan organisasi dan ia lebih memilih melanjutkan aktifitas
keilmuannya. Setiap kali ku tanya mengapa, jawabannya selalu dibuat-buat alim.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i&gt;Kewajibanku
masih sebagai pelajar, hal-hal tersebut tidak bisa menyempurnakan kewajibanku&lt;/i&gt;.
Dasar Nada! Entah, setelah itu mungkin ia berkutat dengan konsep-konsep di
dalam perpustakaan hingga menjelang sore. Atau ia mengirimkan ide-idenya ke
berbagai media massa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Namun sejatinya aku tak lebih
mengenalnya selain pribadi pendengar dan pemberi solusi yang baik. Dan malam
itu, setelah bersiap untuk tidur malam ku sempatkan sejenak untuk &amp;nbsp;menjelmakan sosok Nada dalam goresan bolpoin
dan selembar kertas untuk kegiatan hasil idenya sehari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Pesantren kami tergolong
salaf, maka termasuk perizinan keluar bukan hal yang mudah dan bukan hanya sekedar
membayar surat izin. Selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan
bagian keamanan kepada santri yang hendak keluar dari kawasan pesantren.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Semua itu adalah hal-hal yang
biasa saja bagi seorang santri yang nyantri di pondok pesantren. Apalagi aku
telah lama nyantri di pesantren ini. Namun, yang membuatku kaget adalah Nada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"Hei, &lt;i&gt;ndi&lt;/i&gt;
oleh-oleh e, &lt;i&gt;rek&lt;/i&gt;" sapa Nada saat aku baru sampai kamar dan duduk di
depan almariku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"Hehe, &lt;i&gt;jeh kesel rek.
Tapi kae ono nang tas kanggo awakmu&lt;/i&gt;" kataku sambil memberi isyarat
kepada Nada untuk segera membongkar isi tasku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"&lt;i&gt;Priye &lt;/i&gt;bakti
sosialnya. Sukses &lt;i&gt;ra?&lt;/i&gt;" aksen Jawa Tengahnya masih melekat meski
sudah bertahun-tahun tinggal di pesantren ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian mengalirlah celoteh
kami berdua. Terkadang diselingi oleh gelak tawa dan mimik serius yang
dibuat-buat. Tidak bertemu dengan Nada beberapa hari ternyata membuat semangat
berceritaku lebih tinggi. Sambil berharap cemas apalagi yang akan dia pesankan
padaku di setiap akhir cerita kami. Sore itu benar-benar&amp;nbsp; melenyapkan rasa lelahku setelah beberapa
hari kemarin terlibat dalam kegiatan bakti sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Namun, belum rampung cerita
kami sore itu. Suara panggilan dari kantor keamanan yang tersebar lewat TOA di
seluruh penjuru pondok membuatku terhenyak. Seketika aku terdiam, begitupun
Nada yang namanya disebut dalam panggilan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Sekali lagi aku simak
panggilan yang menggema di setiap sudut pondok. Benarkah ia menyebut nama
kawanku ini? Bertahun-tahun aku tinggal di pesantren ini, aku mengenal Nada
adalah santri yang tak pernah tersentuh oleh pihak keamanan. Sudah lima kali
pergantian pengurus sejak aku pertama kali terdaftar sebagai santri pondok
pesantren ini, dan aku tak pernah menemukan Nada salah memakai kaus kaki ketika
ia berangkat sekolah apalagi sampai dihukum di tengah lapangan karena telat
berangkat sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Setelah terdiam beberapa
saat, aku membuyarkan ketegangan ini dengan melontarkan sebuah tanya kepada
Nada yang sedang duduk di hadapanku saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"Nad, &lt;i&gt;jenengmu &lt;/i&gt;itu
tadi ya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Namun aku lebih heran lagi
ketika wajah Nada justru sama sekali tidak menyimpan ketegangan akibat
panggilan itu. Aku tak mungkin salah dengar tadi, lalu kenapa Nada justru
santai begini. Bagiku, panggilan seperti ini benar-benar menegangkan. Karena
hanya pelanggaran-pelanggaran yang tergolong berat yang akan diurus langsung
oleh keamanan pusat. Selama ini, bahkan nama Nada tak pernah mampir di bagian
keamanan kompleks. Berbeda denganku yang pernah beberapa dipanggil oleh ustadz
Jamal, ketua keamanan kompleks ini. Panggilan keamanan pusat ini berhasil
membuat hatiku bertanya-tanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"&lt;i&gt;Biasa ae&lt;/i&gt;,"
jawabnya sambil menepuk pundakku dan membuat segaris senyum. Mungkin ia
menangkap keteganganku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Jawaban itu justru melahirkan
banyak sekali pertanyaan di pikiranku. Ia beranjak menuju sumber suara yang
telah memanggil namanya. Sore itu, untuk pertama kalinya celoteh kami berakhir
dengan ketegangan di fikiranku, tapi sepertinya tidak bagi Nada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kegiatan bandongan dengan
pengasuh usai jamaah tadi masih belum bisa menghapus keteganganku tentang kasus
Nada. Entah apa penyebabnya, kekhawatiran ataukah keingintahuan. Aku pun tak
ingin membuatnya jengah dengan pertanyaan yang ku lontarkan setelah ia kembali
ke kamar sesaat sebelum adzan maghrib tadi. Jawaban yang ku dapat hanya seulas
senyum dan tambahan tepukan tangannya di pundak kiriku. Aku hanya menggelengkan
kepala melihat sikapnya tersebut dan bergegas berangkat ke aula untuk sholat
berjamaah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Malam ini, ku putuskan untuk
meminta izin ke bagian keamanan, ku buat-buat alasan supaya aku dibolehkan
keluar sebentar saja. Keteganganku ini sungguh di luar kendaliku, setidaknya
melihat keadaan bising jalan raya di luar sana bisa membantuku untuk sejenak
tidak mengabaikan ketegangan ini. Setelah surat izin ada di genggaman, aku
bergegas keluar pondok. Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai di jalan
raya dengan langkah lebar-lebar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Setelah merasa puas dengan
duduk-duduk di halte depan gang masuk ke arah pondok, ku putuskan untuk
jalan-jalan menyusuri keramaian jalan raya. Batas izinku masih ada satu jam
lagi. Sambil mengedarkan pandangan sekenanya aku berjalan selangkah selangkah.
Ku selipkan kedua tangan ke dalam saku jaket lebih erat, berusaha mengusir
dingin malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Ternyata ada juga keceriaan di tengah malam
dingin seperti ini. Segera ku hampiri gerombolan pemuda dan anak-anak jalanan
yang sedang menyanyi dan bercanda bersama. Tapi belum terlalu dekat posisiku
dengan keceriaan itu, aku terpaku pada satu orang di antara mereka. Aku segera
bersandar di dinding terdekat, menyembunyikan diri demi meyakinkan atas apa yang
baru saja ku lihat. Benarkah pemuda itu Nada? Kawanku di pesantren. Ku
perhatikan lamat-lamat setiap gerak tubuhnya dan wajah yang nyaris tak ada yang
tak mirip dengan Nada kawanku di pesantren. Hanya saja pemuda itu tidak sedang
memakai sarung seperti kebiasaan Nada di pesantren.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Ku tunggui saja keramaian itu
sampai mulai berkurang satu-satu di antara mereka, meninggalkan keceriaan yang
masih sama sejak tadi. Batas izin keluarku bukan lagi hal yang terpenting saat
ini. Kalau memang pemuda itu adalah Nada, untuk apa dia di sana? Dan bukankah
harusnya malam ini ia ada di kantor keamanan pusat, menindaklanjuti
panggilannya tadi sore? Aku harus memastikan pertanyaan hatiku ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Setelah pemuda mirip Nada
tadi beranjak pergi, aku beranikan untuk menghampiri beberapa pemuda yang masih
ada di sana. Beruntung tempat persembunyianku tadi bukan tempat lalu lalang
orang-orang. Maka dengan sukses persembunyianku benar-benar tidak tertangkap
oleh siapapun, termasuk oleh pemuda-pemuda ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Setelah merasa menyatu dengan
obrolan ngalor-ngidul dengan pemuda-pemuda ini, aku mulai bertanya perihal
pemuda yang sangat mirip dengan kawanku, Nada. Awalnya mereka saling pandang,
seolah mencari kesepakatan. Tapi, alhamdulillah akhirnya meluncurlah cerita
panjang tentang Bang Nad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"Bang Nad. Kami terbiasa
dengan panggilan itu pada Bang Nad. Dia sering datang kemari, paling jarang
seminggu dua kali. Kadang malam kadang juga pagi. Tapi kami paling rame ketika
ia datang malam-malam seperti ini. Bang Nad selalu bawa camilan kalau malam
hari, jadi ajakan-ajakannya menjadi lebih ringan sambil &lt;i&gt;guyonan&lt;/i&gt;. Dulu,
kehidupan kami ga selurus ini. Lambat laun, kalu dirasa-rasakan ternyata lebih
damai begini. Ga judi lagi, ga miras lagi, apalagi nyimeng. Banyak hal yang
berubah, bro."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;"Saya juga gitu, Bang.
Setiap kali saya mau ke sini, sekarang selalu saya sempatkan pamit dulu sama
ibu di rumah. Ibu juga udah tahu Bang Nad yang mana, kadang juga kita ngumpul
di rumah saya. Ibu udah percaya sama Bang Nad," sambung bocah berpostur
tubuh usia SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Penjelasan-penjelasan ini
berkecamuk memenuhi otakku disusul oleh cerita tentag Bang Nad yang lain,
seketika membuat sesak dadaku. Inikah jawaban senyum-senyum itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;(nD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/12/a-la-nada.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-7649797134283190014</guid><pubDate>Tue, 21 Aug 2012 14:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-21T21:25:44.372+07:00</atom:updated><title>bersamanya</title><description>Kau tak akan pernah menemukan apa yang selalu kau bahas dalam surat-surat pendekmu. Tak akan pernah pula menemukan ujung di tiap bacaan-bacaan itu usai. Tak akan pernah melihatnya cair seiring air yang lahir dari gumpalan es. Karena kau tak pernah memikirkan itu, kau hanya ingat satu hal. Kau hanya ingat satu sosok dimana pun dan dalam surat apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak pernah berharap bacaan itu berakhir meski dalam not-not yang sangat sengau, bahkan kucing gendut yang selalu bersamamu segera beringsut menjauh darimu. Kau hanya mengingatnya selalu setiap kau pelan-pelan mengeja huruf demi huruf lembaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bahkan tak pernah tahu apa yang kau inginkan dalam surat-surat pendek itu. Padahal di sana, di tulisan yang telah lengkap itu, terhampar begitu banyak makna yang kau butuhkan dalam setiap langkahmu. Surat-surat pendek itu, bagimu hanya mampu memberi warna yang tak butuh kata untuk menjelaskan pesonaya, ia hanya tulisan-tulisan yang selalu membuat hatimu riang selalu. Tapi kau tak pernah tahu ada semua itu disana. Dan dia bukan seperti kau, dia hanya menerjemahkan ketenangannya yang tiba-tiba harus terusik oleh surat-surat itu, sedang kau ada di sana, di surat-surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi cair, saat bekunya pun kau nyaris tak pernah menyadari. Satu dua waktu, kau berhasil menangkapnya. Itu pun karena ada dia di sana, dengan pelan membacakannyya untukmu. Kau terkadang terlalu ke-aku-an, hingga dia bagimu tak perlu ada spasi jika bersamamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kau hanya ingin bersamanya, dalam keadaan bagaimanapun. Meski menurut orang lain, hal ini bukan lagi masalah logis. Dan kau tak bisa dipaksa realistis atau kau masih tak mau membiarkan dirimu melepaskan jiwamu yang setahun terakhir tak lagi seperti dulu. Kau hanya ingin mebaca surat bersamanya, meski perih atau sedih. Tak peduli sedu sedan, tak perlu riang tawa. Bagimu mengenang kebersamaan dengannya mampu menyisihkan apapun hal di luar kebersamaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi lagi dan berkali kali,&lt;br /&gt;ia perlahan menjauh, menerjemahkanmu bagai boncel yang ada di ukiran patung yang siap dipasang di dinding candi. Ia perlahan beringsut melepasmu, namun kau masih saja belum menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena kau hanya ingin bersamanya, meski dalam hal yang sangat dibencinya.</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/08/bersamanya.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-1818290158898439136</guid><pubDate>Mon, 20 Aug 2012 11:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-20T18:49:42.667+07:00</atom:updated><title>kelabu</title><description>masih jelas&lt;br /&gt;
bak membuka album hitam putih&lt;br /&gt;
namun yang ku temu&lt;br /&gt;
hanya kelabu,&lt;br /&gt;
yang mempertanyakan ketegaran sang kalbu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku hanya biisu&lt;br /&gt;
menyesali dalam ragu</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/08/kelabu.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-1409442566295642896</guid><pubDate>Sun, 18 Mar 2012 16:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-18T23:19:27.835+07:00</atom:updated><title>Menunggu .. ep. 2</title><description>Umi berapa tahun nanti di sana?&lt;br /&gt;ku ulang lagi tanyaku, Umi hanya tersenyum sangat sendu padaku. Ia tak menjawabnya dengan kata. Yang ku tahu hanya aku akan berangkat sekolah tanpa berteriak-teriak lagi setelah hari ini. Tanpa mengucap salam sembari mengawali kayuh sepeda mini ku mengukir jalanan menuju sekolahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah memikirkan tentang pertanyaan ini jauh sebelum hari ini mengukir kisahnya. Sejak Umi mengawali langkahnya untuk hari ini, beberapa bulan lalu. Membicarakannya dengan bapak yang hanya memenuhi seperempat kebutuhan kami setiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, di ruang sholat keluarga kami. Umi yang masih dalam balutan mukenanya, menghadap takdhim ke arah bapak. Aku menjumpainya sejenak setelah aku turun dari ruangan itu. Dan entah, aku benar benar ingin menyimak percakapan yang belum saja dimulai itu. Aku bergegas keluar rumah, mencari posisi paling dekat dengan kamar Umi dan bapakku, yang setiap jam jam tertentu lima kali dalam sehari selalu menjadi tempat paling damai bagiku. Berjamaah bersama dan bapak akan melanjutkan menyimak bacaan mengajiku. Mengatur langkah agar langkah kakiku tak mengusik ketenangan daun daun kering yang berserakan di samping rumahku. Menyenderkan tubuhku perlahan pada dinding kayu rumah warisan nenekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menyimaknya, ya aku menyimak seluruh pebincangan Umi dan bapakku malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang sendu sesendu senyum Umi padaku</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/03/menunggu-ep-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-5046886358839544979</guid><pubDate>Sun, 19 Feb 2012 15:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-19T22:35:56.670+07:00</atom:updated><title>Menunggu ..</title><description>Kau tahu kawan, tak ada kegiatan yang lebih membosankan dan menyebalkan selain menunggu. Di sana aku harus beradu dengan sekeping receh kemungkinan. Ya atau tidak terjadi sama sekali. Ibarat koin receh, dua sisinya begitu mengguncang batin dan jiwa siapa saja ketika seayun saja sebuah tangan melemparkannya membuat jejak tegak yang kasat mata. Dan ketika terjatuh kembali ke tanah dalam daya tarik gravitasinya, di sanalah semua penantian kita berakhir, meski terkadang sebuah impian harus dipaksa lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tak ada masalah dalam kegiatan yang telah biasa ku jalani beberapa bulan ini sebenarnya. Tak ada jadwal yang berubah dari biasanya. Pagi dengan rutinitasku di kampus dan beberapa bangku sekolah, siang dengan waktu waktu lengang yang nyaris tak pernah terasa senggang, sore dengan kebersamaan berbagi cerita dan pengalaman, dan malam hilang dalam pejam yang padam. Hanya saja sejak saat itu, saat ibu mulai melepaskan salam takdhim telapak tanganku satu tahun lalu. Aku mulai dipaksa perlahan bagaimana mempermainkan sebuah rasa. Memainkan hati sendiri, merasakan pedihnya dan menikmati sukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umi berapa tahun nanti di sana?</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/02/menunggu.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-744480328422228762</guid><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 02:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-20T10:21:24.961+07:00</atom:updated><title>Ustadz</title><description>Serumah dengan seorang ustadz ternyata mulai membawa perubahan dalam hidupku. Sama denganku, ia juga selalu mempunyai waktu kosong di tiap pagi, setelah sedikit aktivitas-aktivitas aneh untuk mengawali pagi. Kami hidup di kamar masing-masing dalam rumah berisi lima kamar ini. Jadilah aktivitas pagi kecil kami adalah membersihkan seluruh sudut rumah besar ini. Ustadz itu juga yang mempelopori kegiatan aneh ini. Patut ku sematkan perisai di songkok hitamnya yang bersahaja itu, karena telah berhasil membangunkan aku dan tiga temanku &amp;nbsp;yang lain dengan aktivitas aneh aneh ini. Selalu tertawa yang spontan merespon putaran memori lalu yang terkadang tiba tiba datang di sela lamunanku. Bagaimana tidak? Hidupku hanya seperti ini, kawan. tak lebih dari transaksi udara dengan siapapun dan apapun di sekitarku sebagai nasabahnya. Melewati waktu kosong, mengisinya, dan menemukan waktu kosong kembali. Lagi lagi hanya kosong yang bisa ku jamah dan yang bisa ku temukan. Dan yang lebih membuatku kosong adalah ketika aku mengisi kekosongan kekosongan itu dan aku masih saja merasa kosong.&lt;br /&gt;
Tapi tidak, sejak kedatangan ustadz muda itu di tengah kami.&lt;br /&gt;
------&lt;br /&gt;
"Lang, musholla umum di sini paling deket sebelah mana?"&lt;br /&gt;
Aku yang sedang serius dengan kesibukanku dalam sebuah kekosongan sedikit tersentak dengan pertanyaan orang baru ini. Terpaksa harus ku hentikan sejenak tanganku dari rangkaian maket bangunan rancanganku untuk menyambut pertanyaannya. Sungguh, dalam hati, aku pun tak tahu harus menjawab bagaimana. Bukan karena aku tak tahu dimana letak bangunan yang biasa disebut musholla yang ada di komplek sini, tapi mendengar kata umum, benar benar membuatku kesulitan menjawabnya.</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/02/serumah-dengan-seorang-ustadz-ternyata.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-4209768116636249187</guid><pubDate>Fri, 06 Jan 2012 02:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-01T07:52:25.321+07:00</atom:updated><title>Mesin Jahit</title><description>Sudah lebih dari jumlah umurku sekarang, mesin jahit tua itu menemani ibuku. Menemani hari hari ibu yang tak pernah sepi oleh nada yang tercipta dari sentuhan telapak kakinya. Suaranya seringkali membuat tidur malamku dalam marah tertahan. Bukan ibu, hanya sampai kapan aku hanya bisa seperti ini. Hanya mewarnai malamku dengan marah yang terungkap lewat dengkur yang dibuat buat agar ibuku segera mengakhiri harinya, dan sejenak membiarkan mesin jahit itu merindu telapak kakinya. Dan kembali menyentuhku, memeluk malamku yang&amp;nbsp; telah seharian menahan cemburu pada lempeng penjejak mesin jahit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada siapapun di rumah ini selain mesin jahit tua itu, ibuku, dan aku sendiri dengan segala keterbatasanku. Seringkali ingin ku bakar mesin jahit butut legam itu, bahkan warnanya tak bisa ku jelaskan lagi selain dingin yang sangat setiap aku menyentuh salah satu empat kakinya. Tapi tanpanya aku tak kan bisa bertahan merasakan kehidupan meski hanya dalam sekotak kamar yang selalu ku tempati setiap waktu, setiap detik dalam nafasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak seperti teman temanku, bekejar-kejaran bermain bersama, meloncat girang sambil lancar melafalkan nada-nada lagu, teman-temanku yang hanya bisa ku kenal dari kejauhan lewat jendela kamarku yang bisa ku buka tutup sesuka hati. Aku tak peduli dengan ejekan teman temanku yang terkadang membuatku meneteskan beberapa bulir dari mataku yang tak bening ini.&lt;br /&gt;
Kamu cantik, begitu kata ibu padaku setiap kali menimangku sebelum membawaku menemaninya mengantarkan pesanan jahitan. Mungkin milik ibu ibu yang kadang menemani ibuku bercengkerama hingga ibuku menyerahkan selembar kertas kecil yang bertuliskan angka angka, dan saat itu selalu ku lihat ibuku mengakhiri percakapannya dengan anggukan takdhim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya bisa tersenyum di balik bibir sumbingku yang selamanya akan sumbing seperti ini, melihat mesin jahit kesayangan ibu. Dia tak pernah mengeluh sampai membuat ibuku akan kesulitan menserviskannya ke tukang mesin. Ingin ku gantikan ibuku menggerakkan lempeng hitam mesin jahit itu. &lt;br /&gt;
Pernah sekali aku melakukannya, ku seret paksa tubuhku yang tak lengkap ini. Sungguh tampak sangat ganjil Kawan, dengan tubuh yang tak lebih besar dari guling besar milik ibu dan sepasang kaki dengan ukuran ranting pohon beringin tengah balai desa kami, ku seret pelan bertopang pada tanganku yang tak bisa lurus. Sungguh sangat senang diriku saat akhirnya aku bisa menyentuh lempeng hitam itu, bagian paling vital mesin jahit pahlawan ibuku. Ku gerakkan pelan, sangat pelan sambil ku rasakan dinginnya lewat telapak tanganku yang selama ini hanya mengenal kehangatan ibu. Meski tubuhku mulai bergetar karena merasa kedinginan, tapi tak pernah ku lunturkan semangatku untuk agar malam itu aku bisa menggantikan sepasang kaki ibu.&lt;br /&gt;
Ku beranikan menekannya lebih kencang hingga menimbulkan suaranya yang biasa ku dengar setiap malam. &lt;br /&gt;juk ujuk ujuk ujuk,&lt;br /&gt;Aku tertawa riang mendengarnya, sungguh berbeda rasanya ketika aku hanya mendengarnya tanpa menyentuhnya seperti ini. Dan semakin semangat mengerakkanya lebih cepat dan lebih cepat. &lt;br /&gt;Namun, mesin itu tiba tiba berhenti, tak bisa ku gerakkan lagi di saat aku berada di puncak semangatku. Ku tekan paksa dan terus ku paksa, tapi tetap tak bisa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2012/01/mesin-jahit.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-6622371570993326028</guid><pubDate>Sun, 04 Dec 2011 22:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-05T06:41:46.104+07:00</atom:updated><title>Takut,</title><description>Tak pernah sekalipun, takut itu diajarkan pada kami. Dan untuk pertama kali Laysa berkali meleleh dalam parau harapan. Ia tak merangkainya sendiri, tapi sepenuhnya ialah sendiri. Untuk pertama kalinya ia meleleh terlalu dan teramat takut paraunya hancur menjadi bisu yang serak. Ia sepenuhnya sendiri, &lt;br /&gt;ada dan tiadaku bukanlah apa&lt;br /&gt;namun tanpa adaMu&lt;br /&gt;apalah aku&lt;br /&gt;hanya tak ada&lt;br /&gt;Nyaris usai, fajar bergemuruh pelan. Dalam harap Laysa tak akan ada usai.&lt;br /&gt;Mengalir meninggalkan jejak lembab berharap tak mengering. Meski hanya di hati yang tak bisa dimengerti.</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/12/takut.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2020493734788684596</guid><pubDate>Sun, 13 Nov 2011 06:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-13T13:48:07.639+07:00</atom:updated><title>Sebelas November Duaribusebelas</title><description>11-11-11&lt;br /&gt;
November 11, 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terang, tapi tidak untuk satu teman Laysa yang sekarang lebih memilih untuk diam. Sama sekali diam setelah ia dengan ceria mengabarkan 'terang' ini. Ia ada di hadapan Laysa sekarang, tapi betapapun tak akan bisa ia memeluknya dan sampai kapanpun. Ia dihadapannya dan tak akan bisa menyentuhnya. Tapi setidaknya, ia masih bisa puas memandangnya, bercerita tentang harinya yang tak begitu sempurna, bercengkerama panjang meski hanya dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai 1 tahun 1 bulan 1 hari Laysa hidup di gubuk megah ini. Hanya ada kebersamaan di dalamnya, yang Laysa tak bisa lancar mengejanya dalam kata untuk keindahan itu. Terang itu di hadapannya, tapi tidak untuk satu teman Laysa. Ia masih saja diam. Mungkin, batin Laysa, ia juga sedang memandangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada rintik malam ini. Merelakan sejenak untuk 'terang' yang menguasai langit malam ini. Jelas menyatu dan terurai pada siapa saja yang memandangnya. Menanti usai yang tak segera memulai, apakah akan terus seperti ini kami berurai dalam rinai-rinai yang Laysa sendiri tak temukan. Hapus, jika bagi kami terang ini lebih indah. Atau menunggu sependar kilat kuat kembali bersanding. Laysa masih tetap ada di hadapannya. Menanti usai yang tak kunjung memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, nyawanya sudah 1 tahun 1 bulan 1 hari bersama kawanan jiwa sepertinya, para pencari dan pemimpi. Namun, satu temannya mungkin sedang menari dengan ranahnya sendiri, yang Laysa hanya bisa merasakannya tanpa harus mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terang,&lt;br /&gt;
tapi tidak untuk satu teman Laysa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/11/sebelas-november-duaribusebelas.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-8618055432181740534</guid><pubDate>Thu, 03 Nov 2011 09:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-20T07:47:04.583+07:00</atom:updated><title>Riak..</title><description>Ia mainkan saja kedua kakinya, meski dangkal Laysa tahu kakinya kini mampu membedakan dingin dan sejuk setelah sekian lama ia menari bersama langkah langkahnya yang cepat dan lebar.&lt;br /&gt;
Riaknya semakin berirama ketika tiga pasang kaki menyetujui salam Laysa.&lt;br /&gt;
Laysa hanya tersenyum, senang dan bahagia ketiga temannya kini sedang bersamanya. Ia tak peduli apakah mereka seirama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah rindang hutan belantara yang sama sekali tak rapi ini, Laysa menemukan setitik kesejukan yang terurai jelas dalam aliran air yang sedang bermain dengannya sekarang. Hanya sampai batas mata kaki, tapi setidaknya menikmati semata kaki kesejukan tersebut bersama tiga sahabat terbaiknya selama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia pejamkan mata, menyimpan beningnya aliran air ini disana, menyimpannya tanpa ikat yang membebat. Menyimpannya perlahan seiring pelannya riak itu menyapa belantara luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan di oagi yang masih redup ini, Laysa menyusuri hutan, merasakan aliran riak air di kakinya, mendengarkannya bersama sahabat sahabatnya.. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/11/riak.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-8441683298487289853</guid><pubDate>Sun, 23 Oct 2011 08:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-23T15:29:10.583+07:00</atom:updated><title>duadua oktober ..</title><description>Di atas selembar kertas&lt;br /&gt;
yang tergelar rapi di atas ubin&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
kami menari hanya dengan jari jari&lt;br /&gt;
memahami rasa&lt;br /&gt;
dalam indahnya hangat dan dingin&lt;br /&gt;
pedas&lt;br /&gt;
manis&lt;br /&gt;
asin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berakhir dengan dingin&lt;br /&gt;
yang membeku dalam aliran air&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kami masih menari&lt;br /&gt;
dalam irama tanpa notasi&lt;br /&gt;
hanya dengan jari jari..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/10/duadua-oktober.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-8335715112130710317</guid><pubDate>Thu, 20 Oct 2011 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-21T04:48:51.582+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">o</category><title>Rintik</title><description>Jatuh pertama,&lt;br /&gt;
tak mengena. tapi aku basah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam KalamMu yang&lt;br /&gt;
aku masih buta atasnya&lt;br /&gt;
aku basah&lt;br /&gt;
tak tahu kapan mengering&lt;br /&gt;
dan ku harap pun tak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang aku paham&lt;br /&gt;
hitamku melebihi ramai jatuh ini&lt;br /&gt;
semakin basah&lt;br /&gt;
dan semakin aku buta atas&lt;br /&gt;
fatamorgana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ya, fatamorgana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hm, biar&lt;br /&gt;
ia menemui keberakhiran dalam&lt;br /&gt;
tenang pusara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rintik..&lt;br /&gt;
ia tak mengena. tapi aku basah&lt;br /&gt;
tak peduli ia seperti apa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku masih buta&lt;br /&gt;
dan aku lebih suka menghitung&lt;br /&gt;
hitam&lt;br /&gt;
yang mampu kalahkan pasukan rintik sore ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/10/rintik.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-8173443178196255276</guid><pubDate>Thu, 20 Oct 2011 02:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-21T04:48:51.576+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">o</category><title>Jelas</title><description>tak ada sibak gurun lagi&lt;br /&gt;
karena adanya&lt;br /&gt;
sejauh ujung pandangan&lt;br /&gt;
hanya tarian pasir kuning yang polos&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jelas adanya,&lt;br /&gt;
tak peduli untuk apa&lt;br /&gt;
tapi mengapa selalu bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hm,&lt;br /&gt;
tapi biarlah adanya&lt;br /&gt;
meski tanpa apa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lengang dalam tarian pasir&lt;br /&gt;
dan menari dalam irama gurun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/10/jelas.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-32959488495817259</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 05:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-21T04:48:51.513+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">o</category><title>pertarungan tiup dan sepasang tangan kecil</title><description>Ia tiup mudah saja gubuk reyot rakitan sepasang tangan kecil&lt;br /&gt;miring miring kesana kemari...&lt;br /&gt;ambruk pun tak&lt;br /&gt;tegak tak layak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi,&lt;br /&gt;ini latihan bagi tangan kecil untuk &lt;br /&gt;menyulam kembali helai helai irisan bambu abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang tak baik &lt;br /&gt;antara tiup dan sepasang tangan&lt;br /&gt;sepertinya ia hanya sedang bermain main,&lt;br /&gt;dan sepasang tangan&lt;br /&gt;
hanya ingin kembali memeluk gubuknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nyaris roboh,&lt;br /&gt;biar tangan Besar yang patahkan tiup itu&lt;br /&gt;
jika ia berani main tipu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepasang tangan tak henti memilin&lt;br /&gt;guratan bambu..</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/10/pertarungan-tiup-dan-sepasang-tangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1614781642238291002.post-2215963564830804122</guid><pubDate>Thu, 29 Sep 2011 08:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-29T15:35:56.958+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">arca</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">o</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Arca</title><description>Singkat, cepat&lt;br /&gt;
namun seiring rasa, telah jauh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;bayangan alang alang tinggi itu&lt;br /&gt;
tersibak seketika&lt;br /&gt;
belum utuh memang, tapi ku&lt;br /&gt;
telah menangkap siluet arca dingin itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tak seperti batu yang lain&lt;br /&gt;
ia punya sisi merah muda di beberapa rongganya,&lt;br /&gt;
hm,&lt;br /&gt;
indah,&lt;br /&gt;
namun langkah ini masih berharap kelanjutan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hingga arca itu utuh di mataku..&lt;br /&gt;
jiwaku..</description><link>http://nafida.blogspot.com/2011/09/arca.html</link><author>noreply@blogger.com (Na Indana)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>