<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 01:58:48 +0000</lastBuildDate><category>Sejarah</category><category>Pendidikan</category><category>Tokoh Islam</category><title>Pentingnya Pendidikan</title><description>dalam mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124.post-5053434871310361731</guid><pubDate>Thu, 14 Apr 2011 14:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-14T07:41:23.487-07:00</atom:updated><title>Peran Pendidikan Islam Menghadapi Era Globalisasi</title><description>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal abad ke-21 ditandai dengan berbagai perubahan mencengangkan. Kenyataan tersebut telah menghadapkan masalah agama kepada suatu kesadarn kolektif. Sebagai agen perubahan social pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan peranannya secara dinamis dan pro-aktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi baru yang berarti bagi perbaikan umat Islam, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Islam bukan sekedar proses penanaman nilai moral untuk membentengi diri dari akses negative globalisasi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam mampu berperan sebagai pembebas dari himpitan kebodohan dan keterbelakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi berpandangan bahwa dunia didominasi oleh perekonomian dan munculnya hegemoni pasar dunia kapitalis dan ideology neoliberal yang menopangnya. Untuk mengimbangi derasnya arus dan tantangan globalisasi, perlu dikembangkan dan ditanamkan karakteristik pendidikan Islam yang mampu berperan dan menjawab tantangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Pendidikan Islam dan Globalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Pendidikan Islam adalah suatu system kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri adalah terwujudnya menusia sempurna. Atau manusia bertaqwa kepada Allah SWT.(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengertian Globalisasi&lt;br /&gt;Menurut bahasa, global ialah seluruhnya, menyeluruh.(3) Sedangkan globalisasi ialah pengglobalan secara keseluruhan aspek kehidupan, perwujudan (peningkatan / perubahan) secara menyeluruh disegala aspek kehidupan. Kemudian membaca pengertian secara luas globalisasi adalah proses pertumbuhan begara-begara maju (Amerika, Eropa dan Jepang) melakukan ekspansi besar-besaran. Kemudian berusaha mendominasi dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dielajari lebih jauh, globalisasi membawa pengaruh terhadap Negara-negara berkembang yang baru terlepas dari belenggu penjajahan, baik positif maupun negative. Pengaruh positif dari globalisasi yaitu membantu / mendorong negara-negara baru berkembang untuk maju secara teknis,(4) serta menjadi lebih sejahtera secara material. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah munculnya teknokrasi dan tirani (5) yang sangat berkuasa, didukung oleh alat-alat teknik modern dan persenjataan yang canggih.(6) Mengapa alat-alat dan teknik yang modern serta persenjataan menjadi pengaruh negative ? Karena seringkali bagi Negara yang berkuasa, mereka menyalahgunakan teknologi tersebut, seperti halnya ilmu pengetahuan, mesin-mesin, pesawat hyper modern yang digunakan / dijadikan mekanisme operasionalistik yang menghancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dapat kami pahami bahwasanya maksud dari pendidikan Islam di era globalisasi ialah bagaimana pendidikan Islam itu mampu menghadapi perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan yang penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dengan pendidikan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tantangan Pendidikan Islam Di Era Globalisasi&lt;br /&gt;Sebagaimana fenomena yang kita saksikan dan kita rasakan saat sekarang ini, teknologi moren telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas Negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan dipedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit diperkotaan, melalui audio (radio) dan melalui visual (televise, internet dll). Fenomena modern yang terjadi diawal millennium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televise dapat dijadikan alat sangat ampuh ditangan sekelompok orang-orang atau golongan untuk menanamkan atau sebaliknya merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola piker seseorang oleh mereka yang mempnyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan yang sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut yang memiliki perbedaan perspektif yang kestrim dengan Islam dalam memberikan krteria nilai-nilai moral. Antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dengan yang artificial. Disisi lain, era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi. Dengan semangat yang tak pernah padam, para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada kesejahteraan umat manusia. Akan tetapi, sekali lagi dengan perbedaan perspektif terhadap nilai-nilai etika moralitas agama. Jargon saintis sebagai pencari kebenaran tampaknya perlu dipertanyakan, sebagaimana data berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ex : selama tahun 1950-an, 60-an, dan 70-an New York Times, wajib bagi seluruh mahasiswa baru, laki-laki dan perempuan di Harvard, Yale dan Univeritas Cut di Amerika, di foto telanjang untuk sebuah proyek besar yang didesain dalam rangka untuk menunjukkan bahwa “tubuh seseorang” yang diukur di analisa, dapat bercerita banyak tentang intelegensia, watak, nilai moral dan kemungkinan pencapaian di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita catat sejak munculnya televise dibarengi dengan timbulnya berpuluh-puluh channel dengan menawarkan beragam acara yang menarik, umat Islam hanya berperan sebagai konsumen. Orang Baratlah yang pada hakikatnya memegang kendali semua teknologi modern. Dari sini terdapat beberapa permasalahan yang harus dihadapi oleh pendidikan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian melihat dari fenomena yang terjadi di Era Globalisasi yang menimbulkan benyaknya permasalahan karena adanya perbedaan perspektif ekstrim dengan Islam dalam hal moral, maka dituntut bagaimana peranan pendidikan Islam untuk mengatasi gejala-gejala permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Peranan Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Era Globalisasi&lt;br /&gt;Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk manusia / pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusai baik yang berbentuk jasmani maupun rohani. Menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian pendidikan Islam itu berupaya mengembangkan individu sepenuhnya, Maka sudah sewajarnya untuk dapat memahami hakikat pendidikan islam itu bertolak dari pemahaman terhadap konsep manusia menurut Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dibumi &quot;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: &quot;Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.&quot; mereka berkata: &quot;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?&quot; Tuhan berfirman: &quot;Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam, dalam hal memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk terciptanya fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai. Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pada tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adlaah penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dengan kurikulum. Berpedoman pada lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka kurikulum pendidikan Islam itu harus berorientasi pada 1). Tercapainya tujuan hablum minallah, 2). Tercapainya tujuan hablum minannas, 3). Terciptanya tujuan hablum minal’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEndidikan Islam sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai moral dan ajaran keagamaan. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk pribadi muslim sepenuhnya, yang mengembangkan seluruh potensi manusia baik jasmaniah, rohaniah, dan menumbuhsuburkan hubungan setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam dengan acara mengembangkan aspek structural, cultural dan beruapya meningkatkan sumber daya manusia guna mencapai taraf hidup yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era globalisasi memunculkan era kompetisi yang berbicara keunggulan, hanya manusia unggul yang akan survive dalam kehidupan yang penuh persaingan. Karena itu salah satu persoalan yang muncul bagaimana upaya meningkatkan kualitas muslim melalui pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gambaran solusi pendidikan Islam mengahadapi tantangan globalisasi merupakan desain besar. Namun bukan berarti hanya romantisme, dan harus diwujudkan dalam rangka menciptakan manusia muslim yang mampu menjawab tantangan era globalisasi dengan berlandaskan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;FOOT NOTE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Prof. H. M. Arifin, MED. 1989. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung : Bumi Aksara. Hal 24.&lt;br /&gt;2. Dr. Ahmad Tafsir. 1994. Bandung : Remaja Rosda Karya. Hal 41.&lt;br /&gt;3. Farida Hamid. Kamus Ilmiah Populer Lengkap. Surabaya : Apollo. Hal. 175.&lt;br /&gt;4.  Maju secara teknis berarti dengan adanya globalisasi Negara-negara maju  diberi bantuan dalam pelaksanaan pembangunan agar lebih baik.&lt;br /&gt;5. Tirani berarti penguasa yang memerintah dengan zalim, kejam dan sewenang-wenang.&lt;br /&gt;6. http://www.geocities.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ahmad Tafsir. 1994. Bandung : Remaja Rosda Karya&lt;br /&gt;Farida Hamid. Kamus Ilmiah Populer Lengkap. Surabaya : Apollo&lt;br /&gt;http://www.geocities.com&lt;br /&gt;Prof. H. M. Arifin, MED. 1989. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung : Bumi Aksara&lt;/p&gt;</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/2011/04/peran-pendidikan-islam-menghadapi-era.html</link><author>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124.post-5196358450762566900</guid><pubDate>Tue, 15 Mar 2011 00:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-14T17:53:00.418-07:00</atom:updated><title>FITRAH MANUSIA DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN</title><description>&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(66, 66, 66); font-family: Arial,Tahoma,Helvetica,FreeSans,sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;A.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;PENGERTIAN FITRAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 17.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Fitrah berasal dari kata&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;fathara&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang sepadan dengan kata&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;khalaqa&lt;/i&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;dan&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;ansyaa&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang artinya mencipta. Biasanya kata&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;fathara, khalaqa&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;ansyaa&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengertian mencipta sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(blue print)&lt;/i&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;yang perlu penyempurnaan.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;B.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;FITRAH MANUSIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 17.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Konsep fitrah manusia yang mengandung pengertian pola dasar kejadian manusia dapat dijelaskan dengan meninjau: (1) Hakekat wujud manusia, (2) Tujuan penciptaannya, (3) Sumber Daya Insani (SDM), (4) Citra manusia dalam islam.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 17.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Dari hakekat wujudnya sebagai makhluk individu dan sosial dapat disimpulkan bahwa menurut pandangan islam keberadaan pribadi seseorang adalah:&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pribadi yang aktivistik karena tanpa aktivitas dalam masyarakat berarti adanya sama dengan tidak ada&lt;i&gt;(wujuduhu ka ‘adamihi)&lt;/i&gt;, artinya hanya dengan aktivitas, manusia baru diketahui bagaimana pribadinya.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pribadi yang bertanggung jawab secara luas, baik terhadap dirinya, terhadap lingkungannya, maupun terhadap tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dengan kesimpulan di atas mengeinplisitkan adanya pandangan rekonstruksionisme (rekonstruksi sosial) dalam pendidikan islam melalui individualisasi dan sosialisasi.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Tujuan Penciptaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tujuan utama penciptaan manusia ialah agar manusia beribadah kepada Allah. (Q.S. Az-Zahriyah: 56).&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Manusia dicipta untuk diperankan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. (Q.S. Al-Baqarah: 30, Yunus 14, Al-An’am: 165).&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Manusia dicipta untuk membentuk masyarakat manusia yang saling kenal-mengenal, hormat menghormati dan tolong-menolong antara satu dengan yang lain (Q.S. Al-Hujurat: 13), tujuan penciptaan yang ketiga ini menegaskan perlunya tanggung jawab bersama dalam menciptakan tatanan kehidupan dunia yang damai.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Sumber Daya Manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Esensi SDM yang membedakan dengan potensi-potensi yang diberikan kepada makhluk lainnya dan memang sangat tinggi nilainya ialah “kebebasan” dan “hidayah Allah”, yang sesungguhnya inheren dalam fitrah manusia.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Citra manusia dalam Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.85pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Berdasarkan uraian tentang fitrah manusia ditinjau dari hakekat wujudnya, tujuan penciptaannya dan sumber daya insaninya, tergambar secara jelas bagaimana citra manusia menurut pandangan islam:&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Islam berwawasan optimistik tentang manusia dan sama menolak sama sekali anggapan pesimistik dari sementara filosof eksistensialis yang menganggap manusia sebagai makhluk yang terdampar dan terlantar dalam hidup dan harus bertanggung jawab sendiri sepenuhnya atas eksistensinya.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perjuangan hidup manusia bukan sekedar&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;trial and error&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;belaka tetapi sudah mempunyai arah dan tujuan hidup yang jelas dan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana. Untuk mencapainya manuia telah diberi pedoman serta kemampuan, yakni akal dan agama.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Manusia makhluk yang paling mampu bertanggung jawab karena dikaruniai seperangkat alat untuk dapat bertanggung jawab yaitu kebebasan berpikir berkehendak, dan berbuat.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt;C.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Implikasi Fitrah Manusia Dalam Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pemberian stimulus dan pendidikan demokratis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Manusia ditinjau dari segi fisik-biologis mungkin boleh dikatakan sudah selesai, “&lt;i&gt;Physically and biologically is finished”,&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;tetapi dari segi rohani, spiritual dan moral memang belum selesai, “&lt;i&gt;morally is unfinished”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Manusia tidak dapat dipandang sebagai makhluk yang reaktif, melainkan responsif, sehingga ia menjadi makhluk yang&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;responsible&lt;/i&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;(bertanggung jawab). Oleh karena itu pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan stimulus dan dilaksanakan secara demokratis.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;Kebijakan pendidikan perlu pertimbangan empiris.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;Dengan bantuan kajian psikologik, implikasi fitrah manusia dalam pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat diharapkan sejauh menyangkut&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;development&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;becoming&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;sesuai dengan citra manusia menurut pandangan islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-indent: -18pt; line-height: 24px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Konsep fitrah dan aliran konvergensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Dari satu sisi, aliran konvergensi dekat dengan konsep fitrah walaupun tidak sama karena perbedaan paradigmanya. Adapun kedekatannya:&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Pertama: Islam menegaskan bahwa manusia mempunyai bakat-bakat bawaan atau keturunan, meskipun semua itu merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan,&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 24px;&quot;&gt;Kedua: Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum berarti bagi kehidupan manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan diaktualisasikan.&lt;/p&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: black;&quot;&gt;Namun demikian, dalam Islam, faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku sehingga tidak bisa dipengaruhi. Ia bahkan dapat dilenturkan dalam batas tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah lingkungan dengan segala anasirnya. Karenanya, lingkungan sekitar ialah aspek pendidikan yang penting. Ini berarti bahwa fitrah tidak berarti kosong atau bersih seperti teori tabula rasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi dengan berbagai sumber daya manusia yang potensial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/2011/03/fitrah-manusia-dan-implikasinya-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124.post-5701104438436363234</guid><pubDate>Thu, 10 Mar 2011 18:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-10T10:52:40.446-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh Islam</category><title>PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQkPwQXs1pN5Qr__33gx2gPoY2zaJRyVimnXeKWe5RdaI1WHND0kURSAM7E-llWE-MPR6rajjx9tgYUbl_FnbebU4MD9d-Ay_tY71zL2KhciEgix3m9FnZX_6XcZy1n2DZ91nNplqRDyim/s1600/al_ghazali%255B1%255D.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px; &quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQkPwQXs1pN5Qr__33gx2gPoY2zaJRyVimnXeKWe5RdaI1WHND0kURSAM7E-llWE-MPR6rajjx9tgYUbl_FnbebU4MD9d-Ay_tY71zL2KhciEgix3m9FnZX_6XcZy1n2DZ91nNplqRDyim/s320/al_ghazali%255B1%255D.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5582524684750282226&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; &quot;&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;AL-GHAZALI&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Ia berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Sifat Pribadi&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengembaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi beliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridho Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pendidikan Al-Ghazali&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;Karya-Karya Al-Ghazali&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Teologi :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Munqidh min adh-Dhalal&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Iqtishad fi al-I`tiqad&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Risalah al-Qudsiyyah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Kitab al-Arba’in fi Ushul ad-Din&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Mizan al-Amal&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tasawuf :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Filsafat :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Maqasid al-Falasifah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Tahafut al-Falasifah,buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Fiqih :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Wajiz&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Logika :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;BAB II&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;PEMBAHASAN&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;A. Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Sistem pendidikan al-ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf (Failasuf al-Mutasawwifin) Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam sistem pendidikannya. Ciri khas sistem pendidikannya al-Ghazali sebenarnya terletak pada pengajaran moral religious dengan tanpa mengabaikan urusan dunia&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1. Tujuan Pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekaykan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Al-Ghazali berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;“hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah keberasan, pengaruh penerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri”.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmi pengetahuan itu tidak akan diperoleh kecuali melalui pengajaran. Selanjutnya, dari kata-kata tersebut dapat difahami bahwa menuru al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi 2 yaitu tujuan jangka panjang dan pendek.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;a. Tujuan pendidikan jangka panjang&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Adalah mendekatkan diri kepada Allah, pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudia pendekatan diri kepada Allah. Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tentu saja untuk mewujudkan hal itu bukanlah sistem pendidikan yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius, tetapi sistem pendidikan yang memadukan keduanya secara integral. Sistem inilah yang mampu membentuk manusia yang mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan dan sistem pemdidikan al-Ghazali mengarah kesana.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;b. Tujuan pendidikan jangka pendek&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Adalah diraihnya profesi manusia sesui dengan bakat dan kemampuannya. Syarat untuk mencapai tujuan itu adalah, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang fardu ‘ain maupun fardu kifayah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Kesimpulan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1) Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan denfgan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2) Menggali dan mengambangkan potensi atau fitrah manusia&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3) Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;4) Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;5) Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manisiawi&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2. Kurikulum Pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pandangan al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai tentang ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-ghazali sesuai pandanganya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kkepada Allah yang merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-ghazali, ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama, pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci yang segala aspek yang terkait denganya. Kediua, pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahi. Semua manusia esensinya sama. Ia sudah kenal betul dengan pencipta sehingga selalu mendekat padanya dan itu tidak akan berubah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Al-ghazali mengklasifikasikan manusia adalah pribadi yang satu yang tidak dapat disamakan dengan pribadi yang lain. Tingkat pemahaman, daya tangkap, dan daya ingatnya terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan menjalankan tugas hidupnya berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu dalam kaitanya dengan kurikulum al-ghazali mendasarkan pemikiranya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Selanjutnya al-ghazali membagi ilmu pengetahuan dari beberapa sudut pandang, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;a. Berdasarkan pembidangan ilmu&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dibagi menjadi dua bidang, yaitu ilmu syari’ah sebagai ilmu terpuji terdiri atas ilmu ushul, ilmu furu’, ilmu pengantar, muqoddimah, dan ilmu pelengkap. Yang kedua yaitu ilmu yang bukan ilmu syari’ah, terdiri dari ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, pembangunan, tata pemerintahan, industri, kebudayaan, sastra, ilmu tenun dan pengolahyan pangan&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;b. Berdasarkan objek&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1) Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit ,maupun banya. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang ramalan nasib&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2) Ilmu pengetahuan yang terpuji. Seperti ilmu agama, dan ilmu tentang beribadat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3) Ilmu pengethuan yang dalam kadar tertentu terpuji tapi jika mendalmin ya tercela. Seperti dari filsafat naturalism. Menurut al-ghazali ilmu tersebut juka diperdalam akan menimbulkan kekacauan fikirann dan keraguan, sehingga mendorong manusia kepada kufur dan ingkar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;c. Berdasarkan status hukum mempelajarinya yang terkait dengan nilau guna.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1) fardu ain, yang wajib dipelajari setiap individu misalkan illmu agama dan cabang-cabangnya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2) fardu kifayah, yaitu ilmu yang tidak diwajibjklan pada setiap muslim tetapi harus ada diantra orang muslim yang mempelajarinya. Misalkan ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan pengobatan tradisional.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3. Pendidik&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dalam hal ini al-ghozali berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;“ makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar se;a;u menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada Allah”.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dia juga berkata ;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;“ seseorang yang berilmu dan kemuudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakn oranbg besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum,. “&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Menurut al-ghozali seorang pendidik atau guru harus memiliki beberapa sifat sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;a. Bertanggug jawab&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;b. Sabar&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;c. Duduk tenang penuh wibawa&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;d. Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali terhadap orang yang dzolim dengan tujuan untuk menghentikan kedzolimanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;e. Mengutamakn bersikap tawadhu’ di majlis-majlis pertemuan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;f. Tidak suka bergurau dan bercanda&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;g. Ramah terhadap para pelajar&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;h. Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;i. Setia membimbing anak yang bebal&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;j. Tidak gampang marah kepada anak yang bebal dan lambat pemikiranya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;k. Tidak malu untuk mengatakan akan ketidaktahuannya tentang persoalan yang belum ditekuninya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;l. Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;m. Manerima alasan yang diajukan kepadanya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;n. Tunduk kepada kebenaran&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;o. Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;p. Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;q. Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardu kifayah sebelum selesai dengan mempelajari ilmu fardu ‘ain&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;r. Memperbaiki ketaqwaaanya kepada Allah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;s. Mempraktekkan makna taqwa dalam kehidupan sehari-harinya ssebelum memerintahkan kepada murid agar murid mengikuti perbuatanya dan agar murid mengambil manfaat dari ucapan-ucapanya.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;4. Peserta didik&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Al-ghazali berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;“ Seorang pelajar hendaknya tidak menyobongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya sebagaimana seoorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.”&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Sedangkan menurut al-ghozali, peserta didik haruslah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;a. Hendaknya memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;b. Tidak banyak bicara di hadapanya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;c. Tidak berbicara selagi tidak ditanya gurunya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;d. Tidak bertanya sebelum memintya izin terlebih dahulu&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;e. Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;f. Tidak menampakkan peetentangannya terhadap pendapat gurunya, apalagi menganggap diriya lebih pandai dari gurunya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;g. Tidak boleh berisik kepada teman yang duduk di sebelahnya ketika guru sedang berada dalam majlis itu&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;h. Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di hadapan gurunya, tetapi harus menundukkan kepala dan tengang seperti dia sedang melakukan shalat&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;i. Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika kondisi guru dalam keadaan letih&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;j. Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara denganya ketika dia sudah beranjak dari tempat duduknya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;k. Tidak mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalananya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;l. Tidak berprasangka buruk pada guru ketika ia melakukan perbuatan yang dhohirnya munkar, sebab dia lebih mengetrahui rahasia (perbuatanya)&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;5. Media dan Metode&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Metode dan media yang dipergunakan menurut Al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka keberhasilan proses pembelajaran. Metode pengajaran tidak boleh monoton, demikian pula media atau alat pengejaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pandapat Al-Ghazali tentang metode dan metode pengajaran. Untuk metode, misalnya menggunakan bmetode mujahadah dan riyadhlah, pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil nagli dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan media / alat digunakan dalam pengajaran. Beliau menyetujui adanya pujian dan hukuman, di samping keharusan menciptakan kondisi yang mendukungterwujudnya akhlak yang mulia.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;6. Proses Pembelajaran&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Al-Ghazali mengajukan konsep pengintegrasian antara materi, metode dan media atau alat pengajarannya. Seluruh komponen tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin, sehinggga dapt menumbuh kembangkan segala potensi fitrah anak, baik dalam hal usia, intelegensi, maupun minat dan bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi materi pengajaran yang justru merusak akidah dan akhlaknya. Anak yang dalam kondisi taraf akalnya belum matang, hendaknya diberi materi pengajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak yang mulia. Adapun ilmu yang paling baik diberikan pada tahap pertama ialah ilmu agama dan syariat, terutama al-Qur’an.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;B. Relevensi Pandangan Al-Ghazali Bagi Kebutuhan Pengembangan Pendidikan Islam Dewasa Ini&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Patut dibenarkan apa yang dikatakan ismail razi al-Faruqi bahwa inti masalah yang dihadapai umat Islam dewasa ini adalah masalah pendidikan dan tugas terberatnya adalah memecahkan masalah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Keberhasilan dan kegagalan suatu proses pendidikan secara umum dapat dilihat dari outputnya, yakni orang-orang yang menjadi produk pendidikan. Apabila sebuah proses pendidikan menghasilkan orang-orang yang bertanggungjawab atas tugas-tugas kemanusiaan dan tugasnya kepada Tuhan, bertindak lebih bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, pendidikan tersebut dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila outputnya adalah orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut dianggap gagal.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Ciri-ciri utama dari kegagalan proses pendidikan ialah manusi-manusia produk-produk pendidikan itu lebih cenderung mencari kerja dari pada menciptakan la[pangan kerja sendiri. Kondisi demikian terlihat dewasa ini, sehingga lahir berbagai budaya yang tidak sehat bagi masyarakat luas. Diberbagai media masa telah banyak diungkapkan mengenai rendahnya mutu pendidikan nasional kita. Keadaan ini mengundang para cendekiawan mengadakan penelitian yang berkaitan dengan mutu pendidikan. Berbicara mengenai mutu pendidikan masalahnya menjadi sangat komplek. Oleh karena itu dapat disadari bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat lepas dari proses perubahan siswa didalam dirinya. Perubahan yang dimaksud mencakup dalam pengetahuan, sikap, dan psikomotor&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Berangkat dari kondisi pendidikan kita, seperti telah dikemukakan di atas, tampak pemikiran al-Ghazali sangat relevan untuk dicoba diterapkan di Indonesia, yang secara gamblang menawarkan pendidikan akhlak yang paling diutamakan . untuk lebih jelasnya, sumbangan pemikiran al-Ghazali bagi pengembangan dunia pendidika Islam khususnya, dan pendidikan pada umumnya. Dapat dikemukakan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1. Tujuan pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dari hasil studi terhadap pemikiran al-Ghazali, diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;a. Tercapainya kesempurnaan insane yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;b. Kesempurnaan insane yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pendapat al-Ghazali tersebut disamping bercorak religius yang merupakan cirri spesifik pendidikan Islam, cenderung untuk membangun aspek sufistik. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Dengan demikian, modal kebahagiaan dunia dan akhirat itu tidak lain adalah ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Secara implisit, al-Ghazali menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk insan yang paripurna, yakni insan yang tau kewajibannya, baik sebagai hamba Allah, maupun sebagai sesama manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dalam sudut pandang ilmu pendidikan Islam, aspek pendidikan akal ini harus mendapat perhatian serius. Hal ini dimaksudkan untuk melatih dan pendidikan akal manusia agar berfikir dengan baik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosul-Nya. Adapun mengenai pendidiakn hati seperti dikemukakan Al-Ghazali merupakan suatu keharusan hagi setiap insan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dengan demikian, keberadaan pendidikan bagi manusia yang meliputi berbagai aspeknya mutlak diperlukan bagi kesempurnaan hidup manusia adalam upaya membentuk mausia paripurna, berbahagia didunia dan akhirat kelak. Hal imni berarti bahwa tujuan yang telah ditetapkan oleh imam al-Ghazali memiliki koherensi yang dominan denga upaya pendiidkan yang melibatkan pembentuka seluruh aspek pribadi manusia secara utuh.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2. Materi pendidikan Islam&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Imam ai-Ghazali telah mengklasifikasikan meteri (ilmu)dan menyusunnya sesuai dengan dengan kebutuhan anak didikjuga sesuai dengan nilai yang diberikan kepadanya. Dengan mempelajari kurikulum tersebut, jelaslah bahwa ini merupakan kurikulum atau materi yang bersifat universal, yang dapat dipergunakan untuk segala jenjang pendidikan. Hanya saja al-Ghazali tidak merincinya sesuai dengan jenjang dan tingkatan anak didik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Yang menarik adalah hingga hari ini pendidikan Islam dinegara kita masih jauh terbelakang, dalam arti bahwa pendiidkan Islam hari ini masih membedakan antara ilmu agama (Islam) dan ilmu umum. Corak pembidangan ilmu itu ternyata berimbas pada orientasi pendirian lembaga pendidikan Islam. Misalnya setingkat IAIN saja, tercermin bahwa ilmu yang dipelajari ternyata hanya terbatas di seputas ilmu agama Islam saja dalam arti sesempit-sempitnya. Sementara pandangan al-Ghazali pada lebih dari seribu tahun yang lalu tidak membedakan pembidangan ilmu semacam ini di Indonesia pada khususnya dan didunia Islam pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Untuk menghilangkan kesan dikotomi ilmu, dewasa ini lembaga pendiidkan tinggi Islam milik pemerintah seperti IAIN meningkatkan lembaganya ketingkat lebih tinggi yakni ketimhkat universitas seperti munculnya UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung dsb.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Jadi relevansi pandangan al-Ghazali dengan kebutuhan pengembangan dunia pendidikan Islam dewasa ini sangan bertautan dengan tuntutan saat ini, baik dalam pengertian spesifik maupun secara umum. Secara spesifik misalnya pengembangan studi akhlak tampak diperlukan dewasa ini. Sangat disanyangkan, materi ini telah hilang dilembaga-lembaga pendiidkan. Jangankan disekolah yang berlabel umum, disekolah yang berlambang Islam saja bidang studi yang satu ini sudah tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dengan demikian pula secara umum, pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam tampak perlu dicermati. Keutuhan pandangan Al-Ghazali tentang Islam misalnya tampak tidak dikotomi seperti sekarang ini, ada ilmu agama dan ilmu umum, sehingga dari segi kualitas intelektual secara umum umat Islam jauh tertinggal dari umat yang lain. Hal ini barang kali merupakan salah satu akibat sempitnya pandangan umat terhadap ilmu pengetahuan yang dikotomi seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3. Metode pendidikan Islam&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pandangan Al-Ghazali secara spesifik berbicara tentang metode barang kali tidak ditemukan namun secara umum ditemukan dalam karya-karyanya. Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran setelah itu penegakkan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pendidikan agama kenyataanya lebih sulit dibandingkan dengan pendidikan lainnya karena, pendidikan agama menyangkut masalah perasaan dan menitik beratkan pada pembentukan kepribadian murid. Oleh karena itu usaha Al-Ghazali untuk menerapkan konsep pendidikannya dalam bidang agama dengan menanamkan akidah sedini mungkin dinilai tepat. Menurut Al-Ghazali bahwa kebenaran akal atau rasio bersufat sempurna maka agama, bagi murid dijadikan pembimbing akal.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dari uraian singkat diatas dapat dipahami bahwa makna sebenarnya dari metode pendidikan lebih luas daripada apa yang telah dikemukakan diatas. Aplikasi metode pendidikan secara tepat guna tidak hanya dilakukan pada saat berlangsungnya proses pendidikan saja, melainkan lebih dari itu, membina dan melatih fisik dan psikis guru itu sendiri sebagai pelaksana dari penggunaan metode pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Nana Sudjana dan Daeng Arifin mengemukakan bahwa proses kependidikan akan terjalin dengan baik manakala antara pendidik dan anak didik terjalin interaksi yang komunikatif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dengan demikian prinsip-prinsip penggunaan yang tepat sebagaimana diungkapkan oleh imam Al-Ghazali memiliki relevansi dan koherensi dengan pemikiran nilai-nilai pendidikan kontemporer pada masa kini. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai kependidikan yang digunakan oleh imam Al-Ghazali dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dalam dunia global.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;BAB III&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;PENUTUP&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Kesimpulan:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Berdasarkan uraian diatas berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1. Keutuhan pribadi Al-Ghazali dapat diketahui dengan memahami hasil karyanya disemua bidang dan disiplin ilmu yang telah diselaminya dan bukan pada satu segi saja misalnya segi tasawuf, dengan deniukian kesan Al-Ghazali hanya sebagai sufi yang skeptis, hanya bergerak dibidang ruhani dan perasaan jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2. Pendidikan Islam menurut imam Al-Ghazali adalah sarana perekayasaan social bagi umat Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menuju kesempurnaan hidup manusia hingga mencapai insane kamil yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia yang bertujuan meraih kebahagiaan didunia dan diakhirat kelak. Pencapaian lesempurnaan hidup melalui proses pendidikan juga merupakan tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3. Materi pendidikan isalam menurut al-Ghazali yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah ialah berisiskan berbagai ilmu pengetahuan sebagai sarana yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya, sehingga ia mendekatkan diri secara kualitatif kepada-Nya. Dan dengan begitu sipenuntut ilmu dapat mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat kelak&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Rekomendasi:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1. Pendidikan agama Islam sebagai suatu sistem hendaklah diinterpretasikan sebagai satu kesatuan yang utuh dan bulat terdiri atas berbagai komponen yang saling menunjang, tidak dipisah-pisahkan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2. Untuk memahami sistem pendidikan agama Islam yang baik dan benar hendaknya merujuk pada acuan nilai yang mendasarinya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah supaya terhindar dari kekeliruan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;3. Disamping penelaahan terhadap nilai acuan tersebut, diperlukan acuan lainnya seperti para pemikir pendidikan muslim. Oleh karena itu, pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai pendidikan Islam hendaknya dapat dijadikan sandaran bagi pengembangan pendidikan baik pendiidkan yang bersendikan agama maupun non agama. Bahkan al-Ghazali tidak membedakan sama sekali ilmu-ilmu itu, karena baginya ilmu adalah alat untuk mencapai keridloan Allah&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;4. Upaya untuk mengaktualisasikan pemikiran imam Al-Ghazali mengenai pendidikan hendaknya diambil dari rujukannya yang asli untuk menjaga orisinalitas pemikiran tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;5. Dengan demikian pemikiran imam al-Ghazali ini hendaknya dijadikan rujukan bagi pengembangan ilmu pendidikan dimasa sekarang dan yang akan datang, terutama pengembangan pendidikan bagi masyarakat Islam yang berkualitas tidak pernah dapat mencapai ukuran berhasil.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; font-size: 12px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; &quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Ghazali, Bidayatul hidayah, penerjemah HM. Fadil Saad. Al-Hidayah: Surabaya. TT&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 1 Masyhadul Husaini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1988.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Hasan, Fathiah, Sistem Pendidikan versi al-Ghazali, Bandung: PT al-Ma’arif, 1986.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Jaluddin dan usman said, Filsafat pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 1994&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;• Syaifuddin. Percikan Pemikiran Imam Al-Ghazali. Bandung: CV Pustaka Setia. 2005.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/2011/03/pemikiran-al-ghazali-tentang-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQkPwQXs1pN5Qr__33gx2gPoY2zaJRyVimnXeKWe5RdaI1WHND0kURSAM7E-llWE-MPR6rajjx9tgYUbl_FnbebU4MD9d-Ay_tY71zL2KhciEgix3m9FnZX_6XcZy1n2DZ91nNplqRDyim/s72-c/al_ghazali%255B1%255D.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124.post-4508078265765780183</guid><pubDate>Thu, 10 Mar 2011 04:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-09T20:46:08.543-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>MELACAK AKAR PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM : SEBUAH PENGANTAR</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;line-height: 24px; &quot;&gt;A.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;Dasar Pemikiran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;line-height: 24px;&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;Manusia merupakan makhluk allah swt. yang sempurna sesuai dengan tugas fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah filard dan terbaik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. kelebihan manusia bukan hanya sekedar berbeda susunan fisik, tapi juga lebih jauh adalah kelebihan aspek psikisnya dengan totalitas potensinya masing-masing yang sangat mendukung bagi proses aktualitas diri pada posisinya sebagai makhluk mulia. integritas kedua unsur tersebut abersifat aktif dan dinamis sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman di mana manusia berada. dengan potensinya material dan spiritual tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan allah swt. yang terbaik.secara sistematis pada proposisinya penge tahuan yang mencerminkan pengembangan totalitas kepribadian manusia secara utuh. untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik maka, pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik pada pengembangan diri secara totalitas. islam dengan ajaran yang universal tidak menghendaki adanya sistem pendidikan yang dikotomik parsial dalam menempatklan peserta didik baik teoritis maupun praktis peserta didik manawarkan sistem pensisikan yang integral dan mengempatkan sesuai dengan tuntutan yang digariskan oleh Allah SWT.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;B.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;     &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;PENGERTIAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;Secara etimologi pemikiran berasal dari kata dasar pikir, berarti proses, cara atau perbuatan memikir yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks ini pemikiran dapat diartikan sebagai upaya cerdas (ijtihady) dari proses kerja akal dan kalbu untukmelihat fenomena dan berusaha mencari penyelesaiannya secara bijaksana sedangkan pendidikan, secara umum berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam usaha mendewasakan manusia (peserta didik),melalui upaya pengajaran dan latihan. &lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Serta proses perbuatan dan cara-cara mendidik. Dengan berpijak pada definisi diatas. maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan islam adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan islam dan berupaya untuk membangun sebuah peradaban pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;C.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;TUJUAN DAN KEGUNAAN MEMPELAJARI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Secara khusus pemikiran pendidikan islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan islam yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;4.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;D.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;    &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;SEKILAS SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. keduanya tak dapat sipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan untuk itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar bagi meneruskan dan mengekalkan kebidayaan manusia. Disini, fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan islam masa nabi sudah tentu tidak sesistematis dan secanggih yang ada sekarang ini. Meskipun demikian perhatian umat terhadap ilmu pengetahuan jelas sangat tinggi dan hal ini terwujud sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di makkah, proses pendidikan islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah. setidaknya ada empat alasan pentingnya pelacakan pendidikan dan sesudahnya, yaitu : pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda.bahkan pendidikan seringkali dijadikan tolak ukur layak atau tidaknya manusia menduduki dan melaksanakan amanat Allah sebagai khalifah fi al-ardh. sebagaimana firman Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa deraja”t. (Q.S. 28 : 11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Munculnya dinamika penbaruan pemikiran pendidikan yang dilakukan sejumlah intelektual muslim dari masa ke masa, tidak terlepas dari kondisi objektif sosial-budaya dan sosial keagamaan umat islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim, sejak masa awal sampai pada era posmodernisme telah berupaya  merekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan islam yang ideal. kelompok intelektual muslim tersebut antara lain adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Ibnu Maskawih (Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawih), lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib. Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina) lahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Falsafah wujud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Falsafah Faidh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Falsafah Jiwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Ismail raji al faruqi, lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Menurut analisis al-faruq umat islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; &quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-variant: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; &quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir=&quot;ltr&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;ES-AR&quot;&gt;Syed Muhammad Waquib al-attas dilahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/2011/03/melacak-akar-pemikiran-pendidikan-islam_09.html</link><author>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8383783406509339124.post-7928636948752622386</guid><pubDate>Mon, 07 Mar 2011 18:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-09T20:50:20.273-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Sistem Pendidikan Islam</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz_3eWGrgakaHezlOkiUwrKvygkoV3dZSdJ7qlvBmSBX13wAZVdUgwDZt9qCiAgxMkjZNwkFtcPY-XIsjPw9-6vYGlve1srG6GbQd0SOWyOwdODxt6sP8qRUosYk_gmRfB19fU6P8V4-Ba/s1600/images.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 119px; height: 135px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz_3eWGrgakaHezlOkiUwrKvygkoV3dZSdJ7qlvBmSBX13wAZVdUgwDZt9qCiAgxMkjZNwkFtcPY-XIsjPw9-6vYGlve1srG6GbQd0SOWyOwdODxt6sP8qRUosYk_gmRfB19fU6P8V4-Ba/s320/images.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5582266341581913890&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoonloGLvQUl04Q_8DYkOlUARpazJ1wbd52ChAgnsEqoVVpba7QzdPkHtb5eIVj_rPTsbj0Os-2GgAUnaasB1cUvo4DAWMC0AWFyqbRTxPwyqZD4OrIj_-P8FhyTIYnpbIN17mIF2ipnIc/s1600/38581_1279402199809_1672655360_537132_6560306_n.jpg&quot;&gt;&lt;/a&gt;Pendidikan memainkan peran sentral dalam Islam.  Ilmu menjadi tulang  punggung (backbone) ajaran Islam. Lebih dari 800 ayat Al Quran menyebut,  menyinggung atau membahas tentang pentingnya keilmuan. Sekedar  perbandingan, hanya 90 ayat Al Quran yang membahas tentang fiqh atau  ilmu hukum Islam.  Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan pendidikan  dalam Islam (QS Al Mujadalah 58:11).&lt;br /&gt;&lt;a name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya dengan ilmu, dua tujuan pokok agama dapat tercapai. Dua  tujuan utama itu adalah pertama, tauhid. Yakni, mengesakan atau  men-satu-kan  Allah. Yang konsekuensinya adalah  keinginan inheren untuk  menyembahNya (QS Al A’raf 7:172)dan kepatuhan mutlak pada syariah-Nya  (QS An Nisa’ 4:59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, akhlakul karimah. Ilmu apapun yang dipelajari—ilmu agama atau  umum, bertujuan untuk meningkatkan  akhlak seorang muslim pada level   akhlak Rasulullah (QS Al Qalam 68:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan karakter manusia yang dinamis and inovatif, proses  transmisi keilmuan mengalami dinamikanya sendiri dari zaman ke zaman.  Begitu juga sistem pendidikan Islam mengalami perubahan dan pembaruan  dari masa ke masa. Berikut tulisan singkat tentang sistem dan institusi  pendidikan Islam sejak masa Rasulullah sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masjid. Di samping untuk beribadah, masjid juga menjadi salah  satu tempat untuk transmisi keilmuan.  Masjid menjadi institusi  pendidikan pertama dan tertua dalam Islam. Rasulullah menggunakan masjid  Nabawi di Madinah sebagai tempat untuk kegiatan pendidikan dan  pengajaran kepada para Sahabat Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Nabi, para ulama dan ahli Hadits dulunya biasa mengadakan  pengajian di masjid jami’, di mana mereka duduk melingkar, mengaji,  mengajar dan mendiskusikan berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, tafsir,  hadits, grammatika bahasa Arab (nahwu shorof), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Al Katatib (bentuk jamak dari al kuttab) adalah sekolah Al Qur’an  . Di sini dipelajari cara membaca, menulis dan menghafal Al Qur’an.  Al  Katatib terdapat di sejumlah negara Islam di Timur Tengah. Sampai saat  ini, Al Katatib masih eksis di sejumlah negara  Arab seperti Kuwait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Darul Quran atau Pusat Kajian Al Qur’an. Insitutsi ini adalah  institusi pendidikan Islam pertama yang didirikan khusus untuk  mempelajari Al Quran. Pelopor utamanya adalah Rasha ibnu Nathif al  Dimashqi. Didirikan di Damaskusi, Suriah pada tahun 400 hijriah / 1009  masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Darul Hadith atau Pusat Kajian Hadits adalah institusi  pendidikan Islam pertama yang mengambil spesialisasi Hadits dan  ilmu-ilmu yang terkait. Didirikan oleh Al Malik al Adil Nuruddin Mahmud  al Zanki, di Damaskus, Suriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Al Madaris (jamak dari madrasah) secara literal bermakna  sekolah.  Yang dimaksud adalah sekolah tinggi atau kolese (college).  Didirikan pertama kali pada abad kelima Hijriah atau abad ke-12 masehi.  di Damaskus, Suriah.  Dalam Al Madaris terdapat satu madrasah untuk  setiap jurusan. Seperti madrasah teknik, madrasah kedokteran, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Al  Jami’at atau universitas.  Pada tahun 859 masehi Fatimah al  Fihri mendirikan Jami’ah al-Qarawiyyin atau Universitas Qarawiyyin di  kota Fas, Maroko. Universitas ini merupakan universitas pertama dan  tertua di dunia.[1] Di susul kemudian oleh Universitas Al Azhar di  Kairo, Mesir yang didirikan pada tahun 959 masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamiah Al-Nizamiyya atau Universitas Nizamiyyah Baghdad, Irak didirikan  pada 1091 M, yang merupakan universitas terbesar dunia pada abad  pertengahan.  Disusul kemudian oleh Universitas Mustansiriya yang  didirikan oleh khalifah Abbasiyah Al Mustansir pada 1233 M.  Universitas-universitas ini selain mengajarkan bidang-bidang agama, juga  menyediakan bidang studi filsafat, matematika dan ilmu sains. Al Hakam  ibnu Abdul Rahman mendirikan universitas Kordoba di Spanyol yang  kemudian menjadi salah satu universitas internasional terkemuka pada  zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak intelektual muslim berpengaruh adalah hasil didikan dari  universitas-universitas ini. Seperti Al Khawarizmi (780-846 M) pakar  matematika, Ibnu al Haytham (965-1040 M ahli astronomi dan matematika,  Ibnu Sina (980-1037) filsuf, Jabir ibnu Hayyan (721M – 815 M) peletak  dasar ilmu kimia modern,  Al Razi (865-925 M) ahli pengobatan dan  lainnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Pondok Pesantren, madrasah . Sistem pendidikan pesantren adalah  sistem pendidikan Islam yang khas Indonesia,[2] walaupun banyak juga  dijumpai di negeri lain. Di Malaysia dan Thailand selatan disebut dengan  pondok sementara di India, Pakistan, Bangladesh dan negara-negara  Arab  disebut dengan madrasah. [3] Awalnya, pesantren bertujuan utama untuk  memperdalam ilmu agama seperti Al Quran, Tafsir, Hadits, Fiqh dan tata  bahasa Arab (Nahwu Sharaf). Pada perkembangannya saat ini, pesantren  tidak hanya  mengkaji ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu umum dan  sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.The Guinness Book of Records, 1998, p. 242.&lt;br /&gt;2. Adrian Vickers, A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press, 2005. hlm. 55&lt;br /&gt;3. Istilah madrasah di India, Pakistan, Bangladesh merujuk pada pondok  pesantren. Sementara di Indonesia, pondok pesantren dan madrasah adalah  dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;4. Florian Pohl, Islamic Education and the Public Sphere: Today’s Pesantren in Indonesia, 2009, Waxmann Verlag GmbH, Germany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.cantiknya-ilmu.co.cc/2010/12/sejarah-sistem-pendidikan-islam.html</description><link>http://fahmiahmad-inginsuksez.blogspot.com/2011/03/sejarah-sistem-pendidikan-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (Fahmi Ahmad Lestusen S.PdI)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz_3eWGrgakaHezlOkiUwrKvygkoV3dZSdJ7qlvBmSBX13wAZVdUgwDZt9qCiAgxMkjZNwkFtcPY-XIsjPw9-6vYGlve1srG6GbQd0SOWyOwdODxt6sP8qRUosYk_gmRfB19fU6P8V4-Ba/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>