<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027</id><updated>2026-08-04T21:37:15.986+07:00</updated><category term="EDUKASI"/><category term="Berita"/><category term="Parenting"/><category term="Inspirasi"/><category term="SASTRA"/><category term="SOSIAL"/><category term="Ekonomi"/><category term="Cerpen"/><category term="Puisi"/><category term="Politik"/><category term="Opini"/><category term="KESEHATAN"/><category term="Vidio"/><category term="Cerita Gambar"/><category term="Wisata"/><category term="uripkuiurup"/><category term="urip kui urup"/><category term="Agama"/><category term="PKH"/><category term="PMII"/><category term="uripkuiurup.com"/><category term="Kemensos"/><category term="Mindset Wirausaha"/><category term="Pilkada"/><category term="Sound Horeg"/><category term="art"/><title type="text">URIPKUIURUP.COM</title><subtitle type="html">Edukatif, Mencerahkan</subtitle><link href="https://www.uripkuiurup.com/feeds/posts/default" rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/" rel="alternate" type="text/html"/><link href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" rel="hub"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25" rel="next" type="application/atom+xml"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><generator uri="http://www.blogger.com" version="7.00">Blogger</generator><openSearch:totalResults>267</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-5151434471308225741</id><published>2026-08-04T21:37:15.986+07:00</published><updated>2026-08-04T21:37:15.986+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIAL"/><title type="text">Catatan Pendamping Sosial #1: Abdi Masyarakat</title><content type="html">&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh9G2ynQY-zW9HaJARBWXf2OCz4xzCbshfaGIskdpXVKVAq5iWFEBDypqIFRBv9QYzU_YVECO5-qKCOfUhEl2qKQX__1xsEUqtpIYZV_IgVPDdPcRpqhZNIIOaMzl4ItljtIz39P1hnXG0Vi7DDjSGuf_PCs-RdmTPnzHHzZ4SvV3T_i5yidqfTj9LjVzE" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="329" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh9G2ynQY-zW9HaJARBWXf2OCz4xzCbshfaGIskdpXVKVAq5iWFEBDypqIFRBv9QYzU_YVECO5-qKCOfUhEl2qKQX__1xsEUqtpIYZV_IgVPDdPcRpqhZNIIOaMzl4ItljtIz39P1hnXG0Vi7DDjSGuf_PCs-RdmTPnzHHzZ4SvV3T_i5yidqfTj9LjVzE=w583-h329" width="583" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;30 Juli 2026&lt;/b&gt; - Hari ini saya menghadiri sebuah undangan yang sederhana, tetapi menyisakan renungan yang cukup dalam. Saya hadir dalam acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan perangkat Desa Jeblog, Kecamatan Talun.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bertempat di gedung pertemuan desa, suasana terasa khidmat. Mas Hendri dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Desa Jeblog oleh Kepala Desa Jeblog.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadir dalam kesempatan itu jajaran Muspika Kecamatan Talun, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat Desa Jeblog.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya, pelantikan perangkat desa bukan sekadar pergantian atau pengisian sebuah jabatan. Di balik prosesi pengambilan sumpah, ada sebuah tanggung jawab besar yang sedang dimulai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada sumpah yang diucapkan. Ada jabatan yang disandang. Dan ada masyarakat yang kelak akan merasakan bagaimana sumpah dan jabatan itu dijalankan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sambutannya, Camat Talun, Deni Candra Himawan, menyampaikan pesan yang menurut saya sederhana, tetapi sangat dalam. Ia mengingatkan bahwa sumpah jabatan bukan hanya disaksikan oleh manusia yang hadir di ruangan itu. Sumpah jabatan juga akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat itu membuat saya berpikir. Sering kali kita melihat jabatan hanya dari sisi duniawi. Ada posisi, ada kewenangan, ada seragam, ada fasilitas, dan tentu ada penghasilan. Tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya: untuk apa sebenarnya jabatan itu diberikan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jabatan sesungguhnya bukan sekadar tentang siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah. Jabatan adalah tentang amanah. Semakin tinggi tanggung jawab yang diberikan, semakin besar pula pertanggungjawabannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Camat Talun juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan profesionalitas dalam bekerja. Ada satu kalimat yang terasa begitu membumi. "Ingat, kita mendapat gaji karena kita bekerja."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat yang pendek. Tidak rumit. Tetapi sebenarnya mengandung pesan yang besar. Gaji bukan sekadar hak yang diterima setiap bulan. Di baliknya ada kewajiban untuk memberikan pelayanan terbaik. Ada masyarakat yang berharap mendapatkan pelayanan dengan cepat, mudah, ramah, dan adil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masyarakat tidak membutuhkan pegawai yang hanya hadir secara fisik. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang benar-benar hadir dengan hati. Dari acara itu, saya kembali diingatkan pada dua istilah yang sering kita dengar: pamong dan abdi masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua istilah yang seharusnya menjadi identitas bagi siapa saja yang bekerja untuk masyarakat. Menjadi pamong berarti siap mengayomi. Siap menjadi tempat masyarakat bertanya ketika mereka kebingungan. Siap hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Bahkan, dalam banyak keadaan, seorang pamong dituntut untuk siap melayani kapan pun dibutuhkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara menjadi abdi masyarakat berarti menyadari bahwa yang dilayani adalah masyarakat. Masyarakatlah yang menjadi "juragan".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit jenaka. Tetapi jika direnungkan, maknanya sangat serius. Sebab, dari masyarakatlah mandat pelayanan itu berasal.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari masyarakat pula penghasilan para pelayan publik dibayarkan. Maka sudah semestinya masyarakat ditempatkan sebagai pihak yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan dilayani karena takut. Bukan pula karena ingin mendapatkan pujian. Tetapi karena memang itulah tugasnya. Saya kemudian teringat pada pekerjaan saya sendiri sebagai pendamping sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap hari, saya bertemu dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ada orang tua yang berharap anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Ada keluarga yang sedang berusaha bangkit dari keterbatasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah mereka, saya belajar bahwa menjadi pelayan masyarakat bukan pekerjaan yang selalu mudah. Kadang kita datang membawa solusi. Kadang kita hanya mampu membawa penjelasan. Bahkan tidak jarang, kita hanya bisa mendengarkan keluh kesah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi dari sana saya belajar satu hal: masyarakat ingin didengar dan dihargai. Mungkin tidak semua persoalan bisa kita selesaikan hari itu. Mungkin tidak semua harapan bisa kita wujudkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi setidaknya, ketika kita hadir dengan ketulusan, masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendirian. Di situlah saya merasa bahwa pekerjaan sebagai pendamping sosial memiliki persinggungan yang kuat dengan makna menjadi abdi masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita bukan sekadar bekerja dengan data, formulir, laporan, atau aplikasi. Di balik setiap data, ada manusia. Di balik setiap nama, ada keluarga. Dan di balik setiap keluarga, ada cerita kehidupan yang tidak selalu kita ketahui. Karena itu, bekerja untuk masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar profesionalitas. Dibutuhkan juga empati.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini, ketika Mas Hendri mengucapkan sumpah jabatannya sebagai Kasi Kesejahteraan Sosial Desa Jeblog, saya berharap sumpah itu tidak berhenti sebagai rangkaian kata yang terucap dalam sebuah prosesi pelantikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga sumpah itu menjadi kompas dalam menjalankan tugas. Menjadi pengingat ketika menghadapi persoalan. Menjadi pegangan ketika godaan datang. Dan menjadi cahaya ketika jalan pengabdian terasa berat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab pada akhirnya, jabatan akan ada waktunya berakhir. Seragam akan dilepas. Ruang kerja akan ditinggalkan. Nama kita mungkin perlahan dilupakan. Tetapi kebaikan yang pernah kita berikan kepada masyarakat, mudah-mudahan akan tetap hidup dalam ingatan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin inilah makna sederhana dari menjadi abdi masyarakat. Bekerja bukan karena ingin dilayani. Tetapi karena kita memilih untuk melayani. Bukan karena masyarakat berada di bawah kita. Tetapi karena kita berdiri bersama mereka. Dan bukan karena jabatan membuat kita lebih tinggi. Justru jabatan seharusnya membuat kita semakin rendah hati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena pada akhirnya, kita semua hanya sedang menjalankan amanah. Dan setiap amanah, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena memiliki jabatan. Sebab semakin besar jabatan yang kita sandang, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk hadir dan bermanfaat bagi masyarakat. (*)&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5151434471308225741" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5151434471308225741" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2026/08/catatan-pendamping-sosial-1-abdi.html" rel="alternate" title="Catatan Pendamping Sosial #1: Abdi Masyarakat" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh9G2ynQY-zW9HaJARBWXf2OCz4xzCbshfaGIskdpXVKVAq5iWFEBDypqIFRBv9QYzU_YVECO5-qKCOfUhEl2qKQX__1xsEUqtpIYZV_IgVPDdPcRpqhZNIIOaMzl4ItljtIz39P1hnXG0Vi7DDjSGuf_PCs-RdmTPnzHHzZ4SvV3T_i5yidqfTj9LjVzE=s72-w583-h329-c" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-3007031742655574614</id><published>2026-08-02T09:46:24.447+07:00</published><updated>2026-08-02T09:46:24.447+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Koperasi Desa Merah Putih: Dari Desa, Oleh Desa, dan untuk Kesejahteraan Warga</title><content type="html">&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhv6KxetjWswaRldZKGm8ZItnnP5lB1hORzFAyrVZqYetXLZPTJWRWfiw9eA97-MMAbVanEPwj3dBPe6nO8cYvzWeRSR59jL2ljoHtGCzuRw-mz3BzFkpCP_ZXrzMuUxXM2n2dK9jnBe9vKV6e8p7mOtFc1AMViet9LsRnsTRoKLNfKtNgMopD5ZwMWioM" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" data-original-height="929" data-original-width="1693" height="294" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhv6KxetjWswaRldZKGm8ZItnnP5lB1hORzFAyrVZqYetXLZPTJWRWfiw9eA97-MMAbVanEPwj3dBPe6nO8cYvzWeRSR59jL2ljoHtGCzuRw-mz3BzFkpCP_ZXrzMuUxXM2n2dK9jnBe9vKV6e8p7mOtFc1AMViet9LsRnsTRoKLNfKtNgMopD5ZwMWioM=w535-h294" width="535" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt; - Pernahkah kita membayangkan sebuah desa yang mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan warganya sendiri? Petani memperoleh pupuk dengan harga terjangkau, hasil panen dibeli dengan harga yang layak, pelaku UMKM mendapat akses permodalan, dan keuntungan dari berbagai usaha kembali dinikmati oleh masyarakat desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Impian itu bukan sesuatu yang mustahil. Salah satu jalannya adalah melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Koperasi Desa Merah Putih hadir sebagai gerakan ekonomi berbasis gotong royong. Tujuannya bukan sekadar mendirikan sebuah koperasi, tetapi membangun kemandirian ekonomi masyarakat dengan menjadikan warga sebagai pelaku utama pembangunan desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa Koperasi Desa Merah Putih Dibentuk?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama ini, banyak potensi desa yang belum memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Hasil pertanian dijual melalui rantai distribusi yang panjang. Pelaku usaha kecil kesulitan memperoleh modal. Produk-produk lokal sering kalah bersaing karena pemasaran yang terbatas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui KDMP, seluruh potensi tersebut dihimpun dalam satu wadah sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Koperasi dapat mengembangkan berbagai unit usaha sesuai kebutuhan desa, seperti penyediaan sembako, pupuk dan sarana pertanian, pemasaran hasil panen, pengembangan UMKM, jasa logistik, hingga layanan simpan pinjam yang dikelola secara profesional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua usaha itu dijalankan dengan satu tujuan, yaitu meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi Anggota Berarti Menjadi Pemilik&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah perbedaan koperasi dengan badan usaha lainnya. Jika berbelanja di perusahaan swasta, keuntungan menjadi milik pemilik perusahaan. Namun ketika menjadi anggota koperasi, setiap warga bukan hanya pengguna layanan, melainkan juga pemilik koperasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artinya, anggota memiliki hak untuk memberikan pendapat, memilih pengurus, mengawasi jalannya koperasi, dan memperoleh bagian dari Sisa Hasil Usaha (SHU) sesuai ketentuan yang berlaku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semakin berkembang usaha koperasi, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh anggotanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa Manfaat Menjadi Anggota KDMP?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi anggota Koperasi Desa Merah Putih memberikan banyak manfaat, di antaranya Memiliki akses terhadap berbagai layanan usaha koperasi. Mendapat kesempatan memperoleh manfaat ekonomi dari usaha yang dijalankan koperasi Berhak mengikuti Rapat Anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Ikut menentukan arah dan kebijakan koperasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berpeluang memperoleh SHU sesuai partisipasi dalam kegiatan koperasi. Menjadi bagian dari gerakan membangun ekonomi desa secara mandiri. Yang terpenting, anggota tidak hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri, tetapi juga ikut membangun kesejahteraan bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Koperasi Akan Besar Jika Warganya Bersatu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak ada koperasi yang maju tanpa dukungan anggotanya. Semakin banyak warga bergabung, semakin kuat modal yang dimiliki. Semakin banyak anggota yang aktif bertransaksi, semakin besar peluang koperasi mengembangkan berbagai usaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kekuatan koperasi bukan hanya terletak pada jumlah uang yang dimiliki, tetapi pada rasa percaya, kebersamaan, dan semangat gotong royong seluruh anggotanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, keberhasilan KDMP bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saatnya Menjadi Bagian dari Perubahan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membangun desa yang maju tidak cukup hanya mengandalkan bantuan dari luar. Desa harus memiliki kekuatan ekonomi yang berasal dari masyarakatnya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Semakin banyak warga yang bergabung, semakin besar peluang desa tumbuh menjadi desa yang mandiri, produktif, dan sejahtera.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari gerakan ekonomi yang dibangun bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari bergabung menjadi anggota Koperasi Desa Merah Putih. Karena setiap simpanan yang Anda tanamkan bukan sekadar menjadi modal usaha, tetapi juga menjadi investasi untuk masa depan desa, keluarga, dan generasi yang akan datang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Koperasi yang kuat lahir dari anggota yang aktif. Desa yang maju lahir dari masyarakat yang mau bersatu. Dan Koperasi Desa Merah Putih adalah rumah besar bagi semangat gotong royong menuju Indonesia yang lebih sejahtera. (Red)&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3007031742655574614" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3007031742655574614" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2026/08/koperasi-desa-merah-putih-dari-desa.html" rel="alternate" title="Koperasi Desa Merah Putih: Dari Desa, Oleh Desa, dan untuk Kesejahteraan Warga" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhv6KxetjWswaRldZKGm8ZItnnP5lB1hORzFAyrVZqYetXLZPTJWRWfiw9eA97-MMAbVanEPwj3dBPe6nO8cYvzWeRSR59jL2ljoHtGCzuRw-mz3BzFkpCP_ZXrzMuUxXM2n2dK9jnBe9vKV6e8p7mOtFc1AMViet9LsRnsTRoKLNfKtNgMopD5ZwMWioM=s72-w535-h294-c" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-4760750591998314306</id><published>2026-07-29T20:17:45.484+07:00</published><updated>2026-07-29T20:20:57.813+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PMII"/><title type="text">Kisah di Balik Nama “Bongkar”, Sebuah Identitas Komisariat PMII di Kampus STIT Al Muslihuun</title><content type="html">&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjUs1R53lY3WYVoGUOZLfGn8YrfvLPJ0jpet_tDPp_1eiPJGkZfkN4FXPCpVA0RoKd6l_OGpQGyvQiHHCnT01WOv_aQI1GPFvFmQcX20muNAiuEZ4PT4m6RYnj6V5SQe-sz4yECGyNJPBlZ64_S_84JD-MRtUDSHpRl-ohIqnT9g3PvES11oaWGECewGoY" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="342" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjUs1R53lY3WYVoGUOZLfGn8YrfvLPJ0jpet_tDPp_1eiPJGkZfkN4FXPCpVA0RoKd6l_OGpQGyvQiHHCnT01WOv_aQI1GPFvFmQcX20muNAiuEZ4PT4m6RYnj6V5SQe-sz4yECGyNJPBlZ64_S_84JD-MRtUDSHpRl-ohIqnT9g3PvES11oaWGECewGoY=w608-h342" width="608" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;Ada nama yang lahir dari sebuah keputusan. Ada pula nama yang lahir dari sebuah perjalanan panjang, dari percakapan yang tidak selesai dalam satu malam, dari perdebatan yang melelahkan, dari gelak tawa yang menyelingi keseriusan, dan dari kegelisahan anak-anak muda yang sedang mencari identitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya, nama “Bongkar” adalah nama yang kedua. Ia bukan sekedar nama. Ia lahir dari sebuah proses. Dari kegelisahan. Dari mimpi. Dan, yang paling penting, dari semangat para kader muda PMII yang pada saat itu ingin memiliki sebuah identitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, lebih dari dua puluh tahun telah berlalu. Banyak hal telah berubah. Wajah-wajah kader yang dahulu duduk bersama dalam forum-forum diskusi mungkin telah berganti. Sebagian telah melanjutkan perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang menjadi guru, aktivis, pengusaha, birokrat, politisi, pekerja sosial, dan menekuni berbagai profesi lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ada satu hal yang masih tinggal. Sebuah nama: "Bongkar". Nama yang dahulu lahir dari percakapan panjang di sebuah rumah tua sederhana, kini telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kaderisasi PMII di kampus STIT Al Muslihuun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, tepatnya ketika saya mendapat amanah sebagai Ketua Komisariat PMII STIT Al Muslihuun periode 2005–2006, tumbuh sebuah kegelisahan sederhana di antara para kader dan anggota. Kami ingin komisariat kami memiliki nama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keinginan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi kami saat itu, sebuah nama bukan sekedar sebutan. Nama adalah identitas. Nama adalah penanda. Nama adalah cara sebuah komunitas memperkenalkan dirinya kepada dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika berinteraksi dengan sahabat-sahabat PMII dari berbagai kampus dan daerah, kami menemukan banyak rayon dan komisariat yang telah memiliki nama khas. Nama-nama tersebut bukan hanya menjadi identitas organisasi, tetapi juga menjadi simbol karakter, semangat, dan cita-cita kader yang ada di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan: Mengapa Komisariat PMII STIT Al Muslihuun tidak memiliki nama sendiri?. Pertanyaan sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan. Kami ingin memiliki nama yang bukan hanya mudah diingat, tetapi juga memiliki makna. Nama yang bisa menjadi identitas. Nama yang bisa diwariskan. Nama yang setiap kali disebut, mampu mengingatkan kader pada semangat dan nilai-nilai yang pernah diperjuangkan oleh para pendahulunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya mungkin sudah lupa hari dan tanggal tepatnya. Ingatan manusia memang tidak selalu mampu menyimpan seluruh detail waktu. Tetapi ada peristiwa tertentu yang begitu membekas, sehingga suasananya tetap terasa bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya masih ingat betul malam itu. Saya bersama Sahabat Susanto dan Sahabat Syamsul Ma'arif, menjadi bagian dari tim yang merumuskan nama Komisariat PMII STIT Al Muslihuun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami berkumpul di rumah nenek Sahabat Susanto, di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan. Kami duduk di kursi sedan anyaman rotan, berhadap-hadapan mengelilingi sebuah meja bundar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu malam begitu terang, sehabis Isya, diskusi dimulai. Tidak terasa waktu bergerak begitu cepat. Dari satu gagasan ke gagasan lain, dari satu nama ke nama berikutnya. Setiap nama tidak serta-merta kami terima. Kami perdebatkan, kami pertanyakan, kami timbang maknanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami tidak sedang sekedar mencari sebuah kata. Kami sedang mencari sebuah identitas. Entah berapa gelas kopi yang kami habiskan malam itu. Kopi menjadi teman setia dalam percakapan panjang yang seolah tidak mengenal waktu. Ketika malam semakin larut dan sebagian orang mungkin sudah terlelap, kami justru masih sibuk memikirkan satu hal yang bagi orang lain mungkin tampak sederhana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa opsi nama muncul. Satu demi satu dibicarakan. Ada nama yang terdengar gagah, tetapi kurang memiliki kedalaman makna. Ada yang memiliki makna filosofis, tetapi terasa kurang mencerminkan karakter gerakan. Ada pula nama yang terdengar menarik, tetapi setelah diperdebatkan lebih jauh akhirnya kami sepakati untuk dieliminasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu nama yang sempat menguat adalah “Bung Karno”. Nama itu memiliki daya tarik tersendiri. Ia mengingatkan kami pada sosok proklamator, pemikir, sekaligus tokoh besar dalam sejarah bangsa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, nama itu akhirnya tidak dipilih. Sampai kemudian, di tengah diskusi panjang yang entah sudah berapa kali berputar, muncullah satu nama yang terdengar sederhana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama itu adakah "Bongkar". Sederhana. Lugas. Bahkan mungkin terdengar agak “nakal”. Tetapi justru di situlah daya tariknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami mulai melihat bahwa kata Bongkar memiliki ruang tafsir yang luas. Ia bukan sekedar kata kerja. Ia bisa menjadi sikap. Ia bisa menjadi semangat. Ia bisa menjadi cara pandang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, sebuah nama yang lahir dari diskusi belum menjadi identitas organisasi sebelum mendapatkan legitimasi bersama. Karena itu, nama tersebut kemudian dibawa ke forum resmi organisasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya masih mengingat suasananya. Nama “Bongkar” kemudian secara resmi disahkan menjadi nama Komisariat PMII STIT Al Muslihuun dalam Pleno Raker Komisariat STIT Al Muslihuun yang digelar pada bulan Ramadan, tahun 2006, setelah shalat Tarawih. Tempatnya di rumah Sahabati Lutfi, Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak saat itu, nama "Bongkar" telah resmi menjadi identitas komisariat PMII STIT AL Muslihuun. Menjadi bagian dari perjalanan kaderisasi. Dan lebih dari dua puluh tahun kemudian, nama itu masih hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari satu angkatan kader ke angkatan berikutnya. Dari satu masa ke masa yang lain. Barangkali, itulah salah satu keajaiban sebuah nama. Ketika ia lahir dari niat baik dan perjuangan bersama, ia bisa hidup jauh lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali mengucapkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin ada kader PMII STIT Al Muslihuun hari ini yang bertanya: Mengapa dulu nama “Bongkar” yang dipilih?. Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan satu kalimat. Sebab, nama Bongkar memiliki banyak lapisan makna. Ia memiliki makna dari sisi kata, makna secara filosofis, sekaligus makna sebagai sebuah harapan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara sederhana, bongkar berarti membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup, mengurai sesuatu yang tersusun, atau memisahkan bagian-bagian untuk melihat apa yang ada di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam konteks gerakan mahasiswa, makna itu menjadi sangat menarik. Sebab, seorang kader PMII tidak seharusnya menerima realitas begitu saja. Kader harus bertanya. Mengapa?.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika melihat kemiskinan, ia tidak cukup hanya merasa kasihan. Ia harus berani membongkar akar persoalannya. Ketika melihat ketidakadilan, ia tidak cukup hanya mengeluh. Ia harus berani membongkar siapa yang dirugikan dan mengapa ketidakadilan itu terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika melihat kebodohan, ia tidak cukup hanya mengkritik. Ia harus membongkar akar persoalannya dan menghadirkan pendidikan. Ketika melihat kemapanan yang tidak lagi relevan, ia harus berani membongkarnya untuk menemukan kemungkinan baru. Karena itu, Bongkar bukan berarti merusak. Bongkar adalah upaya untuk membuka, mengurai, memahami, dan memperbaiki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah rumah yang dibongkar belum tentu hendak dihancurkan. Bisa jadi ia sedang direnovasi agar menjadi lebih kuat. Sebuah mesin yang dibongkar belum tentu hendak dibuang. Bisa jadi ia sedang diperiksa agar kembali berfungsi dengan lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu pula dengan kehidupan sosial. Kadang-kadang kita perlu membongkar sesuatu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya. Setelah itu, kita memiliki pilihan: memperbaiki, membangun kembali, atau menciptakan sesuatu yang lebih baik. Di situlah saya menemukan makna terdalam dari nama Bongkar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam tradisi PMII, keberanian tidak boleh berdiri sendiri. Keberanian harus ditemani pengetahuan. Sebab, keberanian tanpa ilmu bisa berubah menjadi kecerobohan. Kritik tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi kegaduhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, kader PMII Bongkar idealnya adalah kader yang berani bertanya sekaligus mau belajar. Ia membongkar kebodohan dengan ilmu pengetahuan. Ia membongkar ketidakadilan dengan keberanian. Ia membongkar kebuntuan dengan gagasan. Ia membongkar masalah dengan analisis. Dan ia membongkar keterbelakangan dengan gerakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian, Bongkar adalah semangat intelektual. Ia mengajak kader untuk tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menolak. Setiap persoalan harus dibaca. Setiap informasi harus dikaji. Setiap realitas harus dianalisis. Setiap kritik harus diikuti dengan solusi. Sebab, tujuan akhir dari membongkar bukanlah sekedar menemukan kesalahan. Tujuan akhirnya adalah perubahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membongkar realitas dan membangun perubahan. Inilah tantangan bagi generasi hari ini. Zaman terus berubah. Persoalan masyarakat semakin kompleks. Teknologi berkembang begitu cepat. Informasi datang tanpa batas. Perubahan sosial berlangsung hampir setiap hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam situasi seperti itu, kader PMII tidak cukup hanya menjadi penonton. Kader harus memiliki kemampuan untuk membaca zaman. Bukan hanya bertanya: “Apa yang sedang terjadi?”. Tetapi juga: “Mengapa ini terjadi?” Dan lebih jauh lagi: “Apa yang harus kita lakukan?”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi ruh dari nama "Bongkar". Membongkar realitas bukan untuk mencaci keadaan. Membongkar bukan untuk mencari siapa yang salah. Membongkar bukan pula untuk sekedar menunjukkan bahwa kita lebih tahu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membongkar adalah proses untuk memahami. Memahami untuk memperbaiki. Memperbaiki untuk mengabdi. Dan mengabdi untuk kemaslahatan umat dan bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, setelah lebih dari dua puluh tahun nama itu lahir, saya sering membayangkan perjalanan para kader PMII yang pernah tumbuh bersama nama Bongkar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin ada yang masih aktif di dunia pergerakan. Mungkin ada yang telah menjadi guru dan mendidik anak-anak bangsa. Mungkin ada yang menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan. Mungkin ada yang bekerja di pemerintahan. Mungkin ada yang menjadi aktivis sosial. Mungkin pula ada yang menjalani kehidupan sederhana di tengah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa pun jalan yang mereka pilih, saya berharap satu hal: Semoga mereka tetap membawa semangat "Bongkar". Semangat untuk terus belajar. Semangat untuk berani bertanya. Semangat untuk berpikir kritis. Semangat untuk membela mereka yang lemah. Semangat untuk mengabdi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab, kaderisasi sejatinya bukan hanya tentang melahirkan aktivis untuk sebuah organisasi. Kaderisasi adalah tentang melahirkan manusia yang berguna bagi kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka, nama "Bongkar" pada akhirnya adalah sebuah doa. Doa agar dari komisariat PMII ini lahir kader-kader yang mampu membongkar kebodohan dengan ilmu, membongkar ketidakadilan dengan keberanian, membongkar kebuntuan dengan gagasan, dan membongkar keterbelakangan dengan kerja nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepada kader-kader yang hari ini masih mengenakan identitas Bongkar, mungkin ada satu pesan yang ingin saya titipkan. Jangan jadikan nama "Bongkar" sekedar label organisasi. Jadikan ia sebagai karakter. Jadikan ia sebagai cara berpikir. Jadikan ia sebagai keberanian untuk terus mencari kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama Bongkar harus hidup dalam tradisi diskusi. Hidup dalam budaya membaca. Hidup dalam keberanian menulis. Hidup dalam kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Hidup dalam keberanian bersuara ketika melihat ketidakadilan. Dan, yang paling penting, hidup dalam kerja-kerja nyata untuk kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, tugas generasi hari ini bukan hanya menjaga nama itu tetap hidup. Tugas yang lebih penting adalah menjaga ruh yang ada di baliknya. Ruh untuk terus bertanya. Ruh untuk terus belajar. Ruh untuk terus berpikir. Ruh untuk terus bergerak. Ruh untuk terus mengabdi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena pada akhirnya, Bongkar bukan sekedar nama sebuah komisariat PMII. Ia adalah sebuah pesan lintas generasi: bahwa setiap zaman memiliki persoalannya sendiri, dan setiap generasi memiliki tugas untuk membacanya, membongkarnya, lalu membangun perubahan. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Blitar, 29 Juli 2026&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*Penulis : Putut Daerobi, Ketua Komisariat PMII Bongkar Masa Bakti 2005/2006&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4760750591998314306" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4760750591998314306" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2026/07/kisah-di-balik-nama-bongkar-sebuah.html" rel="alternate" title="Kisah di Balik Nama “Bongkar”, Sebuah Identitas Komisariat PMII di Kampus STIT Al Muslihuun" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjUs1R53lY3WYVoGUOZLfGn8YrfvLPJ0jpet_tDPp_1eiPJGkZfkN4FXPCpVA0RoKd6l_OGpQGyvQiHHCnT01WOv_aQI1GPFvFmQcX20muNAiuEZ4PT4m6RYnj6V5SQe-sz4yECGyNJPBlZ64_S_84JD-MRtUDSHpRl-ohIqnT9g3PvES11oaWGECewGoY=s72-w608-h342-c" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-3648984091738545291</id><published>2026-07-02T08:36:42.499+07:00</published><updated>2026-07-02T08:36:42.499+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SASTRA"/><title type="text">Inisiator Handal Itu Bernama Kang Aziz</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0panZhuvDG4-bUZHR1Y3Xv_X-DnC0tO3oBo0Qa8jlTtX1MDHessRV8ono23kVYW7Guj7EEmKUBU2HiIhtfAjmS_z0_7wzN_qdQb8hmsl5QJnftvcqu8cJrZ3bUdOrFfo_qpQqBLG-1BpHCxViDnOz-jMggkRG9qZfDm-LERe5VQV6AeHVHEWVJkQlWOE/s1280/1001555231.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0panZhuvDG4-bUZHR1Y3Xv_X-DnC0tO3oBo0Qa8jlTtX1MDHessRV8ono23kVYW7Guj7EEmKUBU2HiIhtfAjmS_z0_7wzN_qdQb8hmsl5QJnftvcqu8cJrZ3bUdOrFfo_qpQqBLG-1BpHCxViDnOz-jMggkRG9qZfDm-LERe5VQV6AeHVHEWVJkQlWOE/s320/1001555231.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Abdul Aziz&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penulis : Putut Daerobi*&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Aziz. Begitulah saya dan banyak sahabat menyapanya. Nama lengkapnya Abdul Aziz, sosok yang bagi saya adalah gudang ide yang seolah tak pernah kehabisan gagasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kabar kepergiannya pada 24 September 2023 karena serangan stroke mendadak meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya, menyebut Kang Aziz hanya sebagai seorang inisiator rasanya belum cukup. Ia adalah sosok multitalenta: organisator, pengkader, penggerak, negosiator, inovator, motivator, mentor, bahkan provokator - tentu saja dalam arti yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya mulai mengenal Kang Aziz lebih dekat sekitar tahun 2014. Meski sebelumnya kami sudah saling tahu, kedekatan itu terjalin ketika kami sama-sama aktif dalam komunitas Warga Tani Aswaja (Watana). Kesan pertama saya tentang dirinya begitu kuat: penuh semangat, mudah bergaul, murah senyum, dan selalu membawa gagasan baru dalam setiap pertemuan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hubungan kami semakin intens ketika Kang Aziz dipercaya memimpin Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Blitar Raya periode 2017–2022. Saat itu, saya juga terlibat sebagai salah satu wakil ketua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sana, saya semakin memahami satu hal: Kang Aziz adalah orang yang tidak hanya pandai melahirkan ide, tetapi juga mampu mewujudkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberadaan Pendopo Islam Nusantara (PINus), Graha Pemuda, dan Asrama Pergerakan di Sekardangan, Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi bukti nyata bagaimana ia bekerja. Ia merancang gagasan, menggalang dukungan, mengawal proses, hingga memastikan ide itu benar-benar terwujud.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sepanjang yang saya ketahui, di mana pun Kang Aziz berkiprah, baik di organisasi maupun komunitas, ia selalu hadir dengan kontribusi besar, terutama dalam bentuk inisiatif untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat memimpin Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Blitar, misalnya, ia menggagas Program Konsultasi Bisnis NU (Konbisnu) dan mengorganisasi para pelaku usaha Nahdliyin melalui program Wirausaha Nahdlatul Ulama (Wiranu).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak berhenti di situ, Kang Aziz juga berhasil membuka akses pasar internasional bagi produk-produk Wiranu. Ikhtiar tersebut mengantarkan LPNU Kabupaten Blitar meraih penghargaan NU Award dari PWNU Jawa Timur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam beberapa kesempatan, Kang Aziz yang juga menjabat sebagai Ketua Ranting NU Bendosewu, Talun, sering bercerita kepada saya tentang cita-citanya mewujudkan "ranting idaman". Baginya, ranting NU bukan sekedar struktur organisasi, tetapi pusat pemberdayaan umat yang hidup, mandiri, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dunia seni dan budaya, ia turut menggagas berdirinya Rumah Blitar Kreatif (RBK) di Kawedanan Wlingi sebagai ruang tumbuh bagi para pelaku seni dan budaya di Kabupaten Blitar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara di sektor UMKM, kiprahnya begitu terasa. Saya masih ingat bagaimana ia beberapa kali menginisiasi panggung UMKM untuk mempromosikan produk-produk lokal. Baginya, pelaku usaha kecil tidak cukup hanya dibekali semangat, tetapi juga harus mendapatkan akses yang lebih luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, ia aktif membangun jejaring dengan berbagai pihak, mulai dari Bank Indonesia, pemerintah daerah, Dinas Koperasi, hingga Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Melalui kolaborasi tersebut, pelaku UMKM mendapatkan akses pembiayaan, pelatihan, dan peluang pasar yang lebih besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Aziz juga kerap menjadi pembicara dalam seminar dan pelatihan kewirausahaan. Bahkan, beberapa kali ia berbagi pengalaman dan motivasi kepada komunitas Buruh Migran Indonesia di luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pernah mewawancarainya dalam podcast perdana kanal YouTube Mata Blitar saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika banyak pelaku UMKM mengeluhkan usahanya yang terpuruk, ia justru menyampaikan pesan sederhana yang hingga kini masih saya ingat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jadi UMKM itu jangan lebay. Bangkit dan terus lakukan inovasi."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi begitulah Kang Aziz: lugas, optimistis, dan selalu mendorong orang lain untuk bangkit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu hal yang paling saya kagumi darinya adalah kemampuannya membangun jejaring dan kolaborasi. Ia memahami bahwa perubahan besar tidak mungkin dikerjakan sendirian. Karena itu, ia rajin menghubungkan berbagai pihak, mempertemukan orang-orang dengan visi yang sama, dan menciptakan ruang kerja bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ditambah lagi, ia memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Kang Aziz mampu menyampaikan gagasannya dengan jelas dan meyakinkan. Tidak heran jika banyak orang akhirnya ikut terlibat dalam setiap inisiatif yang ia bangun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sering bercanda, "Ngrungokne Kang Aziz ngomong ki rosone koyo kesirep". Ada daya tarik yang membuat orang ingin mendengarkan dan mengikuti alur pikirnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, satu hal yang hingga kini masih membuat saya takjub adalah kemampuannya memproduksi ide-ide segar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia seolah memiliki cara pandang yang berbeda. Kang Aziz tidak terikat pada pola pikir lama. Ia selalu mencari pendekatan baru untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi yang lebih efektif. Kemampuan berpikir kreatif inilah yang menjadi fondasi dari setiap inisiatifnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu ketika, saya berkunjung ke kantor Hokindo di Desa Jeblog, tempat ia mengembangkan usaha pemasaran mesin-mesin produksi untuk UMKM.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sana, ia memperlihatkan berbagai mesin tepat guna yang dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. Saya menyadari bahwa di balik gagasan-gagasannya, ada kebiasaan yang jarang diketahui banyak orang: ia rajin belajar, mencari referensi, dan terus berburu inovasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di bagian dalam kantor, saya melihat berbagai produk UMKM tersusun rapi. Ada keripik pisang, sale, koyah, opak gambir, matari, dan beragam produk lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Itu baru sebagian sampel untuk penjajakan pasar luar daerah," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu, saya juga sempat berkonsultasi mengenai produk Toya, sebuah produk komunitas Kalifa berbasis mikroorganisme lokal untuk jamu ternak. Kang Aziz memberikan banyak masukan, mulai dari perbaikan kemasan, penentuan ceruk pasar, hingga strategi pemasaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Percakapan singkat itu membuat saya semakin yakin bahwa Kang Aziz bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga memahami persoalan secara detail dan praktis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, Kang Aziz memang telah tiada. Namun, jejak gagasan, semangat, dan inisiatifnya masih terus hidup di tengah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengajarkan kepada kita bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir berbeda dan mengambil langkah pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kita membutuhkan lebih banyak sosok seperti Kang Aziz: orang-orang yang tidak hanya mampu melihat masalah, tetapi juga menghadirkan solusi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga kita semua mampu meneladani semangatnya untuk terus berpikir kreatif, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga engkau damai di Sisi-Nya, Kang Aziz. Gagasanmu akan terus hidup dalam ingatan kami.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3648984091738545291" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3648984091738545291" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2026/07/inisiator-handal-itu-bernama-kang-aziz.html" rel="alternate" title="Inisiator Handal Itu Bernama Kang Aziz" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0panZhuvDG4-bUZHR1Y3Xv_X-DnC0tO3oBo0Qa8jlTtX1MDHessRV8ono23kVYW7Guj7EEmKUBU2HiIhtfAjmS_z0_7wzN_qdQb8hmsl5QJnftvcqu8cJrZ3bUdOrFfo_qpQqBLG-1BpHCxViDnOz-jMggkRG9qZfDm-LERe5VQV6AeHVHEWVJkQlWOE/s72-c/1001555231.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-5995970056668978552</id><published>2025-12-06T12:42:00.005+07:00</published><updated>2025-12-06T22:31:00.431+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SASTRA"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIAL"/><title type="text">Pertarungan yang Tak Pernah Usai</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWAs5jbQPYHNNpk0_j2CTMPXevpPPrX05W-JxTGSNlyvCjcP49UCz8l4hVtjE4gaLFmm043nbvXShdwd5Y-yVLB5XEzVE4BTstC0KMt4ORbDxXgRXBdvEovQHKNrxkc-xuV7dQvE7Oj_GJyIck_LM3us8OktJGnC19hSvF2xT9Nu-a4bar2EUtiXxaklI/s1280/IMG_20251206_105456.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="335" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWAs5jbQPYHNNpk0_j2CTMPXevpPPrX05W-JxTGSNlyvCjcP49UCz8l4hVtjE4gaLFmm043nbvXShdwd5Y-yVLB5XEzVE4BTstC0KMt4ORbDxXgRXBdvEovQHKNrxkc-xuV7dQvE7Oj_GJyIck_LM3us8OktJGnC19hSvF2xT9Nu-a4bar2EUtiXxaklI/w595-h335/IMG_20251206_105456.jpg" width="595" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam diri kita, ada sebuah gelanggang sunyi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tempat dua suara bertarung tanpa tepuk tangan,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tanpa sorak kemenangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang satu membawa lentera—&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kerap redup, tapi tetap bertahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang satu lagi menyelinap pelan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;seperti bayang-bayang yang menunggu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ketika langkah kita sedang goyah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hidup, rupanya, bukan sekadar perjalanan ke luar,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;melainkan perjalanan masuk ke lorong batin,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tempat segala bisik dan gelora tersimpan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sana kita selalu bernegosiasi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan rasa cemas, dengan ambisi,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan dendam yang kadang ingin tumbuh,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan kelelahan yang suka berkhianat&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kepada niat baik yang kita rawat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada saat-saat ketika gelap terasa lebih mudah dipilih:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;lebih cepat, lebih praktis,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kadang bahkan terlihat lebih adil—&lt;/p&gt;&lt;p&gt;padahal sebenarnya hanya meminjam amarah kita&lt;/p&gt;&lt;p&gt;untuk membangun kehancurannya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah hidup sering memancing kita,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;untuk menukar nurani dengan m pintas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun setiap manusia membawa bara kecil:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sebuah kesadaran yang tak mau padam,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bahwa kita tidak diciptakan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;untuk menanam kejahatan dalam tanah hati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berbisik perlahan,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;mengingatkan bahwa kekuatan terbesar manusia&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bukan pada otot, bukan pada suara keras,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;melainkan pada kemampuanmm&lt;/p&gt;&lt;p&gt;melawan dirinya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka di tengah pertarungan batin—&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di sela ragu dan harapan yang berkejaran—&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kita belajar menegakkan keberanian&lt;/p&gt;&lt;p&gt;yang paling sunyi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;keberanian untuk berkata tidak&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kepada bisikan yang ingin mencelakakan,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;keberanian untuk membela yang benar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;meski hati sendiri belum sepenuhnya tegar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab kejahatan, sesederhana apa pun bentuknya,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;selalu dimulai dari fikiran&lt;/p&gt;&lt;p&gt;yang dibiarkan tumbuh tanpa penjagaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan kebaikan, betapapun rapuhnya,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;akan selalu menjadi cahaya pertama&lt;/p&gt;&lt;p&gt;yang menolak tunduk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di akhir perjalanan ini,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kita akhirnya mengerti:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pertarungan paling berat&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bukan melawan dunia,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tetapi melawan diri sendiri—&lt;/p&gt;&lt;p&gt;menolak kejahatan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sebelum sempat mendapat tempat,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;melawannya sejak masih berupa ide,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sejak masih berupa bisik paling kecil&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di ruang paling dalam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di hati kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab hanya dengan begitu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kita benar-benar hidup&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sebagai manusia.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5995970056668978552" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5995970056668978552" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/12/pertarungan-yang-tak-pernah-usai.html" rel="alternate" title="Pertarungan yang Tak Pernah Usai" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWAs5jbQPYHNNpk0_j2CTMPXevpPPrX05W-JxTGSNlyvCjcP49UCz8l4hVtjE4gaLFmm043nbvXShdwd5Y-yVLB5XEzVE4BTstC0KMt4ORbDxXgRXBdvEovQHKNrxkc-xuV7dQvE7Oj_GJyIck_LM3us8OktJGnC19hSvF2xT9Nu-a4bar2EUtiXxaklI/s72-w595-h335-c/IMG_20251206_105456.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-3770854994973296561</id><published>2025-08-12T07:41:00.001+07:00</published><updated>2025-08-12T07:44:29.256+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Warung Berkah Pinus: Makan Tiga Ribu, Kenyangnya Seharian, Pahala Selamanya</title><content type="html">&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YadvAVFxfMCZO506zDf7AOkaf5RbpWWuu404yZnzysPOGEGejIUgLfQG-3EjbUM_57__o8oDGSf6CuZPlZ7hJc9ixbnfh80Br_WPYPYvxk-S3v7EJbzRHxtLMzi6r_1ZBVz0VwfKpz5lE8ZOytT_DW3u_OVAtGstB0vWg2ni1VxB57UOBeWAN1dnL8c/s1280/Warung%20Berkah%20Pinus.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="318" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YadvAVFxfMCZO506zDf7AOkaf5RbpWWuu404yZnzysPOGEGejIUgLfQG-3EjbUM_57__o8oDGSf6CuZPlZ7hJc9ixbnfh80Br_WPYPYvxk-S3v7EJbzRHxtLMzi6r_1ZBVz0VwfKpz5lE8ZOytT_DW3u_OVAtGstB0vWg2ni1VxB57UOBeWAN1dnL8c/w565-h318/Warung%20Berkah%20Pinus.jpg" width="565" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Warung Berkah Pinus Berlokasi di Bandung Tlogo Kanigoro Blitar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Di tengah zaman serba mahal seperti sekarang, ada satu tempat di Blitar yang bisa bikin perut kenyang, hati tenang, dan dompet tetap aman. Namanya Warung Shodaqoh Berkah Pinus, atau akrab dipanggil Warso.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya, warung ini berdiri di Jalan Raya Jajar, Kanigoro, setahunan yang lalu. Tapi kini, Warso pindah ke tempat yang lebih luas, yakni di Bandung, Tlogo Kanigoro. Pindah lokasi, iya. Naik kelas, juga iya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang bikin banyak orang heran, meski tempatnya lebih besar dan pengunjungnya makin ramai, harga yang ditawarkan tetap sama. Bayangkan, makan prasmanan cukup Rp3.000 saja. Tidak ada tipu-tipu, tidak ada syarat ribet, cuma satu pesan untuk semua pengunjung "Ambil secukupnya, jangan ada sisa".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Warung ini bukan warung biasa. Ia lahir dari gagasan PC IKA PMII Blitar Raya, sebuah wadah alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang ingin menghadirkan keberkahan lewat pangan murah dan semangat berbagi. Jadi, orientasinya bukan sekadar cuan, melainkan ladang shodaqoh yang pintunya terbuka lebar untuk siapa saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan menariknya, pengunjung tidak hanya bisa makan murah, tapi juga bisa ikut bershodaqoh dalam berbagai bentuk. Ada yang menyumbang uang, ada yang membawa beras atau sayur-mayur, bahkan ada yang menyumbang tenaga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sendiri beberapa waktu kemarin, mengajukan diri untuk bersedah berupa tenaga, dan ahirnya oleh pengelola diberi jadwal pada kemarin Selasa 5 agustus 2025, saya dan beberapa sahabat “dinas” di sana mulai pukul 07.30 hingga 15.00 WiB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tugasnya macam-macam, mulai dari menata parkir, membersihkan area warung, mencuci gelas - piring, sampai ikut masak di dapur. Rasanya seperti ikut kerja bakti, tapi atmosfernya penuh semangat dan tawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari itu pengunjung membludak, 469 orang tercatat makan di Warso. Dan ternyata menurut pengelola, itu angka yang “biasa-biasa saja”. Rata-rata, setiap hari ada sekitar 500 orang yang datang, bahkan di momen tertentu pernah tembus 600 lebih. Bayangkan, satu warung bisa memberi makan ratusan orang setiap hari, tanpa membebani kantong mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi itu sambil menunggu warung buka jam 8, para pengunjung sudah banyak yang mengantri, saya sempat duduk sebentar di salah satu bangku kayu sambil berbincang dengan seorang bapak paruh baya. Saya lupa tidak menanyakan namanya, tetapi beliau bilang adalah warga Karangsono yang hampir setiap hari mampir ke Warso.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kalau makan di sini, rasanya seperti makan di rumah sendiri. Murah, enak, dan nggak pernah malu-malu mau nambah. Semua orang dilayani sama baiknya,” ujarnya sambil tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beliau bercerita, ia kadang datang bersama temannya yang sama sama buruh tani. Dengan uang Rp15.000, mereka berdua bisa makan kenyang dan masih ada sisa untuk beli es teh maupun es jeruk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya senang sekali, soalnya nggak cuma makan murah, tapi rasanya juga bersyukur banget. Kalau rezeki lagi ada, saya juga ikut taruh uang di kotak shodaqoh,” tambahnya pelan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah seperti ini bukan satu-dua kali terdengar di Warso. Setiap pengunjung membawa cerita masing-masing, ada yang datang karena penasaran, ada yang singgah karena perjalanan jauh, dan ada pula yang menjadikan Warso tempat langganan karena merasa nyaman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di lokasi yang baru ini, suasana Warso tampak makin meriah, mungkin karena keberadaan usaha-usaha lain di sekitarnya. Tepat di sebelah utara, ada Cafe Cetho yang menawarkan aneka jenis kopi berkualitas plus fasilitas karaoke, dikelola oleh PAC IKA PMII Kanigoro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan di sebelah timur, PAC IKA PMII Sutojayan berjualan aneka jus buah segar. Bersebelahan lagi, ada gerobak pentol dan cilok dari PAC IKA PMII Kesamben, lalu jajanan tradisional dari PAC IKA PMII Garum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bedanya, kalau Warso berjalan dengan misi sosial, usaha-usaha lain di sekitarnya memang profit oriented. Tapi semuanya tetap dalam semangat kebersamaan ala keluarga besar IKA PMII. Inilah yang membuat kawasan Warso Berkah Pinus bukan sekadar tempat makan, tapi juga pusat interaksi sosial, ekonomi, dan gotong-royong.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Warung Berkah Pinus bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga menumbuhkan rasa kemanusiaan. Ia adalah bukti bahwa visi sosial bisa berjalan beriringan dengan semangat kebersamaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan melalui Warso, PC IKA PMII Blitar Raya berhasil menghadirkan pesan sederhana namun mendalam; berkah itu lahir dari berbagi, dan berbagi itu selalu menumbuhkan berkah.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3770854994973296561" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3770854994973296561" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/08/warung-berkah-pinus-makan-tiga-ribu.html" rel="alternate" title="Warung Berkah Pinus: Makan Tiga Ribu, Kenyangnya Seharian, Pahala Selamanya" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YadvAVFxfMCZO506zDf7AOkaf5RbpWWuu404yZnzysPOGEGejIUgLfQG-3EjbUM_57__o8oDGSf6CuZPlZ7hJc9ixbnfh80Br_WPYPYvxk-S3v7EJbzRHxtLMzi6r_1ZBVz0VwfKpz5lE8ZOytT_DW3u_OVAtGstB0vWg2ni1VxB57UOBeWAN1dnL8c/s72-w565-h318-c/Warung%20Berkah%20Pinus.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-7620922444532531230</id><published>2025-05-29T12:19:00.011+07:00</published><updated>2025-06-09T10:42:33.316+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><title type="text">Baksos Bedah Kamar Lansia di HALUN 2025, Sebuah Catatan</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE0n7IGlEdyutI_coMczgpum0H8bIKcmnYsEMpWxvO4qBN4bxsyV3hrrUguv9Bi1GEq2Rk8pTIzuUfhfIA6ICiGPxEi5RiSbg_cvbjoFXFtD-T532WIztZfK9CyYSZ1drTlejUXQtsoMSVgFSu9wMkuWtmhXqFMqR2rQNaSPSU0zAoxuzf1t8hBJvCDs4/s1280/IMG_20250529_121013.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE0n7IGlEdyutI_coMczgpum0H8bIKcmnYsEMpWxvO4qBN4bxsyV3hrrUguv9Bi1GEq2Rk8pTIzuUfhfIA6ICiGPxEi5RiSbg_cvbjoFXFtD-T532WIztZfK9CyYSZ1drTlejUXQtsoMSVgFSu9wMkuWtmhXqFMqR2rQNaSPSU0zAoxuzf1t8hBJvCDs4/s320/IMG_20250529_121013.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Baksos Bedah Kamar Lansia di HALUN 2025&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Google Sans&amp;quot;; font-variant-alternates: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-emoji: normal; font-variant-numeric: normal; font-variant-position: normal; vertical-align: baseline; white-space-collapse: preserve;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; - &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Google Sans; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="white-space-collapse: preserve;"&gt;Hari Selasa dan Rabu, 27–28 Mei 2025, menjadi dua hari yang sangat berkesan bagi saya sebagai pendamping sosial PKH. Bersama rekan-rekan dari UPT PSTW Wlingi dan para pilar sosial lainnya; Tagana, TKSK, Jatim Social Care (JSC), serta warga sekitar, kami turun langsung ke dua titik di Kabupaten Blitar dalam rangka program bedah kamar dalam rangka peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) 2025 Dinsos Prov. Jawa Timur.
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Google Sans; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="white-space-collapse: preserve;"&gt;Saya turut mendampingi langsung proses di rumah Bapak Pamuji, warga Dusun Pantimulyo, Desa Kendalrejo. Beliau adalah salah satu peserta PKH Plus diwilayah kecamatan Talun. Usianya sudah lebih dari 70 tahun, tinggal bersama istri yang juga telah renta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: Google Sans; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="white-space-collapse: preserve;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: Google Sans; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="white-space-collapse: preserve;"&gt;Begitu masuk ke kamar tidurnya, hati saya langsung terenyuh. Genteng banyak yang bocor, dinding kamar kusam, dan mereka tidur hanya beralaskan lincak bambu.

Kami semua, tanpa membedakan latar belakang, langsung bergotong royong. Ada yang memperbaiki atap, merabat lantai, membenahi ventilasi, hingga memperbaiki dinding. Kamar itu kami sulap menjadi ruang yang lebih layak dan nyaman untuk beristirahat.

Bahkan, akhirnya tim UPT PSTW Wlingi memutuskan untuk memperluas cakupan renovasi, tak hanya kamar, tetapi juga bagian rumah lainnya yang rusak.

Di hari berikutnya, kami menuju rumah Mbah Giyem di Dusun Sumberasri, Desa Jeblog. Lansia tangguh ini juga peserta PKH Plus. Ia tinggal bersama satu anaknya yang gangguan mental.

Kondisi tempat tinggalnya pun tak kalah memprihatinkan. Dinding belakang rumah masih dari anyaman bambu yang sudah lapuk. Kasurnya tipis, hampir tak layak disebut tempat tidur.

Ketika tim datang membawa bahan bangunan, kasur baru, dan gotong royong memperbaiki rumahnya, Mbah Giyem hanya bisa terdiam sambil memegangi dadanya. Ketika semua selesai, ia menjabat tangan saya sambil berucap, “Matur nuwun mas, Gusti Allah engkang mbales.” Matanya berkaca-kaca. Dan saat itu, saya pun tak kuasa menahan haru.

Sebagai pendamping sosial, saya sudah banyak mendampingi warga miskin dalam berbagai kondisi. Tapi program bedah kamar lansia ini memiliki sisi lain yang sangat berbeda. Ia bukan hanya soal perbaikan fisik, tapi juga membangun kembali rasa hormat, kepedulian, dan cinta kepada orang tua kita.

Kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian peringatan HALUN 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Total ada 18 titik di seluruh provinsi, dan kami di Blitar mendapat kehormatan melaksanakan di dua lokasi. Saya bersyukur bisa ikut langsung di lapangan, menyaksikan dan menjadi bagian dari kerja-kerja kemanusiaan ini.

Saya percaya, momentum ini bukan hanya memperbaiki rumah, tapi juga memberi semangat hidup baru bagi para lansia yang selama ini tinggal dalam keterbatasan. Dan bagi kami para pendamping sosial, ini menjadi pengingat betapa pentingnya merawat nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap kerja kecil kita di tengah masyarakat.

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Terutama warga sekitar yang turut bergotong royong. Semoga kebaikan ini menjadi bekal keberkahan bersama, dan semakin banyak lansia yang bisa merasakan kasih sayang dan perhatian di hari tuanya.

&lt;b&gt;Selamat HALUN 2025, Lansia Bahagia Indonesia Sejahtera&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7620922444532531230" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7620922444532531230" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/05/baksos-bedah-kamar-lansia-di-halun-2025.html" rel="alternate" title="Baksos Bedah Kamar Lansia di HALUN 2025, Sebuah Catatan" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE0n7IGlEdyutI_coMczgpum0H8bIKcmnYsEMpWxvO4qBN4bxsyV3hrrUguv9Bi1GEq2Rk8pTIzuUfhfIA6ICiGPxEi5RiSbg_cvbjoFXFtD-T532WIztZfK9CyYSZ1drTlejUXQtsoMSVgFSu9wMkuWtmhXqFMqR2rQNaSPSU0zAoxuzf1t8hBJvCDs4/s72-c/IMG_20250529_121013.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-3230150954431869078</id><published>2025-03-29T12:02:00.005+07:00</published><updated>2025-03-29T12:11:03.338+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Outlook Indonesia di Masa Depan, Kajian Ramadhan yang Penuh Makna</title><content type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebu4ld_a4GR6C28hrA4Zgf9fcs_62je2Ev4_QzEz8-PToxNhqSji5STp7PjT6gnuBXR7YxwpkG8d9kcqz3fcFtnTLyQBcPuhUFHXaTLPMYk8XsJUEML6L3pzihqjoPmte3mXa4DjL0300f3-cdQXwiwvdC-qLObIq6Ya-gBLyGtiPm6S9-3-97Egp7yA/s1280/IMG_20250329_115735.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="285" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebu4ld_a4GR6C28hrA4Zgf9fcs_62je2Ev4_QzEz8-PToxNhqSji5STp7PjT6gnuBXR7YxwpkG8d9kcqz3fcFtnTLyQBcPuhUFHXaTLPMYk8XsJUEML6L3pzihqjoPmte3mXa4DjL0300f3-cdQXwiwvdC-qLObIq6Ya-gBLyGtiPm6S9-3-97Egp7yA/w507-h285/IMG_20250329_115735.jpg" width="507" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Outlook Indonesia di Masa Depan, Kajian Ramadhan yang Penuh Makna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Rintik hujan yang turun sejak sore tak menyurutkan semangat ratusan Nahdliyin yang datang dari berbagai komunitas ke Pondok Pesantren Maftahul Ulum Jatinom, Kanigoro.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti Kajian Ramadan dan Liwetan Sahur Bersama, sebuah acara yang tak hanya menghangatkan jiwa di bulan suci, tetapi juga memperkokoh nilai kebangsaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Acara ini digagas oleh berbagai elemen organisasi, di antaranya PC IKA-PMII Blitar Raya, PP Maftahul Ulum Jatinom, PC ISNU Kabupaten dan Kota Blitar, PC GP Ansor Kabupaten dan Kota Blitar, PC PMII Blitar Raya, Lakpesdam NU Kabupaten Blitar, serta Mata Blitar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan mengusung tema “Menjaga Pancasila: Outlook Indonesia di Masa Depan”, acara ini menghadirkan dua tokoh nasional sebagai narasumber, yaitu DR (HC) H. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga RI periode 2014-2019, serta DR H. Ibrahim Kholilul R., akademisi Universitas Indonesia dan pengurus Badan Inovasi Strategis PBNU.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejak petang, halaman pondok mulai dipadati peserta. Mereka datang dengan antusias, meski cuaca tak bersahabat. Sebelum memasuki sesi utama, acara diawali dengan pembacaan Surat Yasin, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk, disusul tahlil bersama. Lantunan doa menambah suasana syahdu, seolah menyatu dengan rinai hujan yang turun perlahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menjelang tengah malam, rombongan Imam Nahrawi tiba di gerbang pondok. Kehadiran mantan Menpora itu langsung disambut hangat oleh para peserta yang berdiri memberikan penghormatan. Tak berselang lama, acara pun dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathan, yang menggema di seluruh area pondok pesantren.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagai tuan rumah, Gus Ahmad Khubby Ali, Pengasuh Ponpes Maftahul Ulum, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul, sahur bersama, sekaligus mengisi malam dengan ilmu dan doa. Semoga membawa berkah bagi kita semua,” ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketua PC IKA-PMII Blitar Raya, Heri Setiyono, turut memberikan sambutan mewakili panitia penyelenggara. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Semoga silaturahmi kita terus terjaga dan membawa keberkahan. Kebersamaan seperti inilah yang akan memperkuat kita dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan,” kata Hesty.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah rangkaian pembukaan, para peserta disuguhkan dengan tarian sufi dari santri dan santriwati Ponpes Maftahul Ulum. Gerakan yang penuh makna itu membawa ketenangan di tengah malam yang semakin larut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diskusi dimulai tepat pukul 00.30 WIB, dipandu oleh Sahabati Erlin. Imam Nahrawi, atau yang akrab disapa Mas Imam, membuka sesi dengan berbagi pengalaman dan inspirasi hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya datang ke sini bukan hanya untuk berdiskusi, tetapi juga untuk bersilaturahmi, berbagi semangat, dan menguatkan kebersamaan kita,” ujarnya penuh antusias.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam menghadapi tantangan zaman. “Indonesia membutuhkan generasi yang tangguh, yang memahami sejarahnya, dan tetap setia pada nilai-nilai Pancasila,” tambahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesi semakin menarik ketika pembicara kedua, Ibrahim Kholilul R., atau yang biasa disapa Gus Ibra, mulai memaparkan materi tentang Outlook Indonesia di Masa Depan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagai seorang ahli ekonomi, ia mengulas berbagai dinamika ekonomi global dan dampaknya terhadap Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kita perlu memahami bagaimana ekonomi dunia bergerak, agar kita bisa mengambil langkah yang tepat untuk memajukan bangsa,” jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa peserta tampak menyimak dengan serius, meski sesekali terlihat wajah-wajah yang sedikit bingung karena pembahasan ekonomi global yang cukup kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, suasana kembali hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Para peserta dengan antusias mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan kedua narasumber.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menjelang pukul 02.54 WIB, diskusi ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Ahmad Mudhofi, Pengasuh Ponpes Roudlotul Hanan Sawentar. Usai berdoa, seluruh peserta bersiap untuk melaksanakan sahur bersama dengan tradisi kenduren khas pesantren. Nasi dan lauk-pauk disajikan secara berjejer di atas daun pisang, menciptakan suasana akrab di antara semua yang hadir.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat sahur berlangsung, suasana semakin hangat dengan hadirnya Syauqul Muhibbin, Wali Kota Blitar. Ia turut berbaur dengan para peserta, mempererat kebersamaan dalam kebiasaan sederhana namun sarat makna ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika adzan Subuh berkumandang, peserta bergegas menunaikan salat berjamaah, menutup rangkaian acara yang berlangsung penuh hikmah. Perjalanan panjang malam itu tak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan kebersamaan di antara para peserta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan wajah yang masih dipenuhi semangat, satu per satu peserta meninggalkan lokasi. Meski malam telah berganti pagi, semangat yang mereka bawa dari acara ini akan tetap menyala di hati mereka.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3230150954431869078" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/3230150954431869078" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/03/outlook-indonesia-di-masa-depan-kajian.html" rel="alternate" title="Outlook Indonesia di Masa Depan, Kajian Ramadhan yang Penuh Makna" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebu4ld_a4GR6C28hrA4Zgf9fcs_62je2Ev4_QzEz8-PToxNhqSji5STp7PjT6gnuBXR7YxwpkG8d9kcqz3fcFtnTLyQBcPuhUFHXaTLPMYk8XsJUEML6L3pzihqjoPmte3mXa4DjL0300f3-cdQXwiwvdC-qLObIq6Ya-gBLyGtiPm6S9-3-97Egp7yA/s72-w507-h285-c/IMG_20250329_115735.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-4861128601521643888</id><published>2025-03-20T23:53:00.003+07:00</published><updated>2025-03-21T00:03:02.704+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><title type="text">Senator dan Komisi A DPRD Jatim Apresiasi Kinerja Keterbukaan Informasi di Halte Ramadan</title><content type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFZrZHvL5LG_z_83qDMEIqanx0gmmkLqCJJLXnSq1mcQjcxvNsEA-1VWk0_zD-GX9n8F8MkXutpijQaW6qfoXr9CB3Lh6cUSm_zvSf8OuAERCyFnOTONXZ_RguJ_tryHKhUjksLm_oz5Yisg9QCs5CrwLOUtfqrzkeeIOQQKx4RB_APEIPKkEtMkrX5lg/s1280/Komisi%20Informasi.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="327" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFZrZHvL5LG_z_83qDMEIqanx0gmmkLqCJJLXnSq1mcQjcxvNsEA-1VWk0_zD-GX9n8F8MkXutpijQaW6qfoXr9CB3Lh6cUSm_zvSf8OuAERCyFnOTONXZ_RguJ_tryHKhUjksLm_oz5Yisg9QCs5CrwLOUtfqrzkeeIOQQKx4RB_APEIPKkEtMkrX5lg/w582-h327/Komisi%20Informasi.jpg" width="582" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Senator dan Komisi A DPRD Jatim Apresiasi Kinerja Keterbukaan Informasi di Halte Ramadan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Forum mingguan Harmonisasi Literasi (Halte) Ramadan yang digelar di kantor Komisi Informasi (KI) Jawa Timur, Kamis (20/3), berlangsung penuh keakraban.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Acara yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan 1446 H itu dihadiri Ketua Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Ahmad Nawardi dan anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Sumardi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak hanya membahas isu keterbukaan informasi di Jawa Timur, suasana Halte Ramadan kali ini semakin hangat dengan adanya nonton bareng (nobar) pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia antara timnas Indonesia dan Australia, yang dilanjutkan dengan buka bersama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketua KI Jatim, Edi Purwanto, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para legislator tersebut. Di tengah padatnya jadwal, mereka masih menyempatkan diri hadir untuk berdiskusi dan mendukung kampanye keterbukaan informasi publik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut Edi, kegiatan seperti Halte Ramadan ini menjadi ruang kolaborasi yang penting dalam memperkuat literasi keterbukaan informasi di Jawa Timur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"KI Jatim tentunya butuh dukungan, sinergi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama Komisi A DPRD Jatim dan lembaga-lembaga mitra lainnya. Kita perlu terus mengedukasi masyarakat dan badan publik agar semakin memahami pentingnya keterbukaan informasi," ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sumardi, anggota Komisi A DPRD Jatim yang akrab disapa Cak Mardi, memberikan apresiasi terhadap upaya KI Jatim dalam mensosialisasikan literasi keterbukaan informasi publik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia menegaskan bahwa keberadaan Komisi Informasi beserta tugas pokok dan fungsinya sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 harus lebih dikenal masyarakat luas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Dengan tangan terbuka, saya siap mendampingi KI Jatim turun ke lapangan, tidak hanya di tingkat kabupaten/kota tetapi hingga ke desa-desa. Kita ingin masyarakat Jatim melek informasi, terutama di era digitalisasi seperti sekarang," kata Cak Mardi, legislator asal Golkar dari daerah pemilihan Jombang dan Mojokerto.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senada dengan itu, Ketua Komite IV DPD RI Ahmad Nawardi juga mengapresiasi capaian positif KI Jatim. Menurutnya, kinerja KI Jatim dalam setahun terakhir telah berhasil meningkatkan Indeks Keterbukaan Informasi Publik hingga berada di peringkat kedua nasional.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu, banyak badan publik di Jawa Timur yang kini berstatus informatif dan penyelesaian sengketa informasi pun meningkat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Kami sudah mendapat informasi dari berbagai media mengenai capaian tersebut. Ini membanggakan dan perlu dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Namun, tentu saja, dukungan dari pemerintah daerah tetap diperlukan, terutama dalam hal anggaran dan sarana-prasarana," kata Nawardi, mantan anggota DPRD Jatim dari PKB itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lebih lanjut, Nawardi menekankan bahwa dengan jumlah desa mencapai sekitar 8.000 di Jawa Timur, yang tertinggi di Indonesia, KI Jatim memerlukan dukungan yang sepadan. Ia berencana menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Saya meyakini, untuk menjadikan Jatim semakin maju dan berprestasi, Bu Gubernur dan Pak Wakil Gubernur akan memberikan dukungan yang maksimal," pungkasnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melalui Halte Ramadan, KI Jatim menunjukkan komitmennya dalam mengampanyekan keterbukaan informasi secara kolaboratif dan berkelanjutan. (red)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4861128601521643888" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4861128601521643888" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/03/senator-dan-komisi-dprd-jatim-apresiasi.html" rel="alternate" title="Senator dan Komisi A DPRD Jatim Apresiasi Kinerja Keterbukaan Informasi di Halte Ramadan" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFZrZHvL5LG_z_83qDMEIqanx0gmmkLqCJJLXnSq1mcQjcxvNsEA-1VWk0_zD-GX9n8F8MkXutpijQaW6qfoXr9CB3Lh6cUSm_zvSf8OuAERCyFnOTONXZ_RguJ_tryHKhUjksLm_oz5Yisg9QCs5CrwLOUtfqrzkeeIOQQKx4RB_APEIPKkEtMkrX5lg/s72-w582-h327-c/Komisi%20Informasi.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-7476645103520524763</id><published>2025-03-17T19:53:00.002+07:00</published><updated>2025-03-17T19:53:27.223+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIAL"/><title type="text">PKH Plus: Jaring Pengaman untuk Lansia Pra Sejahtera di Jawa Timur</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4POMj0HwCv8MqG28qQO0a9OppI7F1YkzU8-IgODhHaUgPDlaVRgZkrQUrPCgbCxJJlCJMMFKQ1iz_9Q_P66pXRJmkl2g-O1cLaqA_hLu6CZITewXje6B17je5ZKXURfrLjk9VbRp9RT9uOFX9D9qaDldz4sw5Q1veK0eHatu62t4UN8ZNIlRxs9Po2W8/s1280/Pencairan%20PKH%20Plus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="333" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4POMj0HwCv8MqG28qQO0a9OppI7F1YkzU8-IgODhHaUgPDlaVRgZkrQUrPCgbCxJJlCJMMFKQ1iz_9Q_P66pXRJmkl2g-O1cLaqA_hLu6CZITewXje6B17je5ZKXURfrLjk9VbRp9RT9uOFX9D9qaDldz4sw5Q1veK0eHatu62t4UN8ZNIlRxs9Po2W8/w594-h333/Pencairan%20PKH%20Plus.jpg" width="594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Petugas Bank Jatim dan Pendamping Sosial PKH Mendampingi Proses Pembukaan Rekening Bantuan PKH Plus Kepada Salah Satu Lansia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Setiap orang akan menua, dan seiring waktu, daya untuk bekerja dan mencari nafkah pun berkurang. Namun, bagi sebagian orang, masa tua justru menjadi ujian berat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak semua lansia memiliki jaminan keuangan, keluarga yang mendukung, atau akses terhadap layanan sosial yang memadai. Di sinilah peran negara menjadi krusial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah Provinsi Jawa Timur memahami tantangan ini dan menghadirkan Program Keluarga Harapan (PKH) Plus, sebuah program bantuan sosial bersyarat yang menyasar lansia miskin berusia 70 tahun ke atas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Progam tersebut bagian dari dukungan progam PKH Kemensos RI, karena sasaran penerimanya adalah peserta PKH yang memiliki komponen lansia usia 70 tahun keatas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini semacam sinergi progam dengan memberi bantuan tambahan kepada KPM PKH yang memiliki kerentanan lebih, progam ini juga bisa menjadi jaring pengaman bagi mereka yang berada di ujung kehidupan namun masih bergelut dengan keterbatasan ekonomi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PKH Plus memberikan bantuan sebesar Rp2 juta per tahun yang dicairkan dalam empat tahap. Uang ini memang tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, tetapi bisa menjadi penopang penting untuk keperluan dasar seperti makanan, obat-obatan, atau sekadar membantu membayar tagihan listrik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu nilai penting dari progam ini adalah pendampingan sosial melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang dilakukan oleh pendamping Sosial PKH.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lansia yang menerima bantuan mendapatkan edukasi tentang kesehatan, keuangan, hingga keterampilan sederhana yang bisa membantu mereka bertahan di tengah kesulitan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, PKH Plus juga menjadi bukti bahwa negara hadir di tengah rakyatnya. Pemerintah tidak hanya sekadar mendata kemiskinan, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk menguranginya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu dampak besar dari PKH Plus adalah berkurangnya kesenjangan sosial. Di banyak desa dan kota di Jawa Timur, kita masih menemukan lansia yang hidup sendiri tanpa dukungan keluarga, mengandalkan belas kasihan tetangga, atau bahkan terpaksa bekerja di usia senja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bantuan ini, meskipun sederhana, memberikan mereka sedikit rasa aman dan pengakuan bahwa mereka masih menjadi bagian dari masyarakat yang peduli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih jauh, PKH Plus juga mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya peran sosial dalam menjaga kesejahteraan lansia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masyarakat yang melihat adanya bantuan ini akan lebih terbuka untuk ikut peduli terhadap lansia di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini adalah upaya yang tidak hanya berorientasi pada angka statistik kemiskinan, tetapi juga membangun rasa kemanusiaan yang lebih luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu saja, tidak ada program yang sempurna. Masih ada tantangan dalam pelaksanaannya, mulai dari validasi data penerima manfaat hingga distribusi bantuan yang tepat waktu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di beberapa daerah, masih ada lansia yang memenuhi kriteria tetapi belum terjangkau oleh program ini. Inilah yang perlu menjadi perhatian ke depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, langkah yang telah diambil oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur patut diapresiasi. PKH Plus bukan hanya sekadar kebijakan sosial, tetapi juga refleksi dari komitmen untuk membangun keadilan bagi kelompok yang paling rentan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ke depan, harapannya program ini bisa terus diperluas, tidak hanya dalam jumlah penerima, tetapi juga dalam bentuk dukungan lain seperti layanan kesehatan yang lebih baik atau akses terhadap fasilitas sosial yang lebih memadai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab, kesejahteraan lansia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa yang beradab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena bagaimana kita memperlakukan orang tua di sekitar kita, mencerminkan bagaimana kita ingin diperlakukan saat kita sendiri memasuki usia senja.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7476645103520524763" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7476645103520524763" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/03/pkh-plus-jaring-pengaman-untuk-lansia.html" rel="alternate" title="PKH Plus: Jaring Pengaman untuk Lansia Pra Sejahtera di Jawa Timur" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4POMj0HwCv8MqG28qQO0a9OppI7F1YkzU8-IgODhHaUgPDlaVRgZkrQUrPCgbCxJJlCJMMFKQ1iz_9Q_P66pXRJmkl2g-O1cLaqA_hLu6CZITewXje6B17je5ZKXURfrLjk9VbRp9RT9uOFX9D9qaDldz4sw5Q1veK0eHatu62t4UN8ZNIlRxs9Po2W8/s72-w594-h333-c/Pencairan%20PKH%20Plus.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-5785328977407301326</id><published>2025-02-10T19:04:00.004+07:00</published><updated>2025-02-10T19:06:35.654+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type="text">Ingin Memulai Usaha?! Mulailah dari Apa yang Kita Punya dan Apa yang Kita Bisa</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtWq9fNe1OX8g0h22ncXiXT09u8S5SzN4v4rCxS6PRmSjOaGpX9RL3X4EmqK9O86VX5i2Xz4kFgQEnlX91DqKmwxHwR3iHf9tBqV6p3igXBIxYZWvBnfjddnwC3TCjmJmanlxzP_Hoi1isZPiGKPcRQoQISWUhh8fMaCjtw7vQTo4mJAYpSL3zEwHHJ1g/s1280/Pena.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="317" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtWq9fNe1OX8g0h22ncXiXT09u8S5SzN4v4rCxS6PRmSjOaGpX9RL3X4EmqK9O86VX5i2Xz4kFgQEnlX91DqKmwxHwR3iHf9tBqV6p3igXBIxYZWvBnfjddnwC3TCjmJmanlxzP_Hoi1isZPiGKPcRQoQISWUhh8fMaCjtw7vQTo4mJAYpSL3zEwHHJ1g/w566-h317/Pena.jpg" width="566" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ingin Memulai Usaha?! Mulailah dari Apa yang Kita Punya dan Apa yang Kita Bisa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Banyak orang ingin memulai usaha, tetapi sering kali terjebak dalam cara pandang yang sempit dan keliru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka melihat bisnis orang lain yang sudah sukses sebagai standar, lalu merasa minder karena merasa tidak memiliki keterampilan atau modal yang cukup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akibatnya, niat untuk berwirausaha pun surut sebelum benar-benar dimulai. Mereka hanya akan dihantui ketakutan, coro jowone "wedi karo ayang-ayang".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, menjadi pengusaha tidak harus dimulai dengan modal besar atau keahlian yang sempurna. Kunci utama dalam memulai usaha adalah memanfaatkan apa yang kita punya dan apa yang kita bisa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika terus berpikir bahwa modal besar adalah satu-satunya jalan, maka kita akan selalu terhalang oleh keterbatasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Mulai dari Apa yang Kita Punya&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebanyakan orang berpikir bahwa modal besar adalah syarat utama untuk sukses berbisnis. Padahal, banyak pengusaha besar yang memulai dari modal kecil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita hanya memiliki Rp50 ribu, maka mulailah dari situ. Jangan menunggu sampai memiliki jutaan rupiah untuk memulai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengusaha sejati adalah seseorang yang menggunakan tenaga dan pikirannya untuk menghasilkan uang. Jadi, tantang diri sendiri: Bagaimana caranya agar uang Rp50 ribu ini bisa berkembang menjadi Rp60 ribu, Rp70 ribu, dan seterusnya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan pola pikir seperti ini, kita akan terdorong untuk berpikir kreatif dan mencari peluang yang memungkinkan berapapun modal yang di punya agar berkembang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sini, langkah berikutnya adalah melakukan asesmen ide usaha. Modal kecil bukan berarti terbatas dalam pilihan bisnis. Justru, ini menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan dalam membaca peluang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah ada barang yang bisa dijual kembali? Bisakah uang tersebut digunakan untuk memulai usaha jasa? Ataukah bisa dijadikan modal untuk membuat sesuatu yang bernilai jual?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Mulai dari Apa yang Kita Bisa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain modal, keterampilan juga sering dijadikan alasan untuk menunda memulai usaha. Banyak yang berpikir bahwa tanpa keterampilan khusus, mereka tidak bisa bersaing. Padahal, setiap orang pasti memiliki sesuatu yang bisa dikembangkan menjadi usaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alih-alih meniru bisnis orang lain, cobalah melakukan asesmen terhadap diri sendiri. Apa yang bisa kita lakukan dengan baik? Apa hobi atau keterampilan yang kita miliki? Bisakah itu dikolaborasikan dengan modal yang ada?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, jika seseorang pandai memasak tetapi hanya memiliki modal kecil, ia bisa memulai usaha makanan dalam skala kecil, seperti berjualan camilan atau katering rumahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika seseorang memiliki keterampilan desain grafis, ia bisa menawarkan jasa desain secara online tanpa perlu modal besar. Intinya, jangan terpaku pada usaha orang lain, mulailah dari potensi diri sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memulai usaha tidak harus rumit. Jangan terjebak dalam pemikiran bahwa modal besar dan keterampilan luar biasa adalah syarat mutlak untuk sukses.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulailah dari apa yang kita punya dan apa yang kita bisa. Dengan modal kecil sekalipun, selama ada kreativitas dan kerja keras, usaha bisa berkembang secara bertahap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, daripada menunggu kondisi ideal yang mungkin tidak pernah datang, lebih baik segera mengambil langkah pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena kunci utama dalam berbisnis bukanlah seberapa besar modalnya, melainkan seberapa besar keberanian untuk memulai dan kegigihan untuk terus berusaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Langkah-Langkah Praktis Memulai Usaha dari Nol&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah memahami prinsip mulai dari apa yang kita punya dan apa yang kita bisa, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam tindakan nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diambil untuk memulai usaha tanpa harus menunggu modal besar atau keterampilan tingkat tinggi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Tentukan Ide Usaha yang Sesuai&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulailah dengan membuat daftar hal-hal yang kita miliki dan keterampilan yang kita kuasai. Apakah kita memiliki keahlian memasak, budidaya, mendesain, atau mungkin kemampuan berjualan? Apakah kita punya barang yang bisa dijual atau relasi yang bisa membantu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika masih bingung, coba perhatikan lingkungan sekitar. Apakah ada kebutuhan yang belum terpenuhi? Misalnya, jika di sekitar tempat tinggal banyak orang sibuk yang kesulitan menyiapkan makanan, maka usaha katering kecil-kecilan bisa menjadi peluang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Lakukan Riset Pasar Sederhana&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak orang berpikir bahwa riset pasar hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar dengan anggaran besar. Padahal, riset pasar sederhana bisa dilakukan dengan cara yang mudah, seperti:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengamati usaha serupa dan melihat bagaimana mereka menjalankan bisnisnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bertanya langsung kepada calon pelanggan tentang kebutuhan dan preferensi mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mencoba menjual produk dalam jumlah kecil untuk melihat apakah ada minat dari pasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Manfaatkan Sumber Daya yang Ada&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak perlu langsung menyewa tempat usaha atau membeli peralatan mahal. Gunakan apa yang ada terlebih dahulu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ingin berjualan makanan, bisa dimulai dari dapur rumah sendiri. Jika ingin membuka jasa desain, cukup gunakan laptop yang sudah dimiliki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, manfaatkan media sosial sebagai sarana promosi gratis. Instagram, Facebook, WhatsApp, dan TikTok bisa menjadi alat pemasaran yang sangat efektif untuk menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Mulai Kecil, Kembangkan Secara Bertahap&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak usaha besar yang awalnya dimulai dari sesuatu yang kecil. Sebagai contoh:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usaha kuliner bisa dimulai dari menerima pesanan kecil-kecilan sebelum akhirnya membuka warung makan sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jasa desain grafis bisa dimulai dengan menawarkan layanan gratis atau diskon untuk menarik pelanggan pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Produk handmade bisa dijual melalui media sosial sebelum akhirnya berkembang ke marketplace atau toko fisik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan terburu-buru ingin besar dalam waktu singkat. Fokuslah pada konsistensi, pelayanan yang baik, dan kualitas produk atau jasa. Dengan begitu, usaha akan berkembang secara alami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;5. Jangan Takut Gagal, Terus Belajar dan Beradaptasi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam perjalanan usaha, pasti ada tantangan dan kesulitan. Namun, jangan biarkan kegagalan kecil menghentikan langkah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gunakan setiap hambatan sebagai pembelajaran. Jika satu strategi tidak berhasil, cari cara lain. Jika satu produk kurang laku, coba lakukan inovasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak pengusaha sukses yang pernah mengalami kegagalan sebelum akhirnya menemukan jalan yang tepat. Kuncinya adalah pantang menyerah, terus belajar, dan selalu beradaptasi dengan situasi pasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memulai usaha bukan tentang seberapa besar modal yang dimiliki, tetapi tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan prinsip mulai dari apa yang kita punya dan apa yang kita bisa, setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pengusaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, daripada terus menunda dengan alasan modal kurang atau keterampilan belum cukup, lebih baik segera bertindak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulailah dari yang kecil, jalani dengan konsisten, dan terus kembangkan. Karena kesuksesan tidak datang dalam semalam, tetapi dari langkah-langkah kecil yang terus dilakukan dengan penuh semangat dan ketekunan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;10 Pebruari 2025&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Putut D&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5785328977407301326" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5785328977407301326" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/02/ingin-memulai-usaha-mulailah-dari-apa.html" rel="alternate" title="Ingin Memulai Usaha?! Mulailah dari Apa yang Kita Punya dan Apa yang Kita Bisa" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtWq9fNe1OX8g0h22ncXiXT09u8S5SzN4v4rCxS6PRmSjOaGpX9RL3X4EmqK9O86VX5i2Xz4kFgQEnlX91DqKmwxHwR3iHf9tBqV6p3igXBIxYZWvBnfjddnwC3TCjmJmanlxzP_Hoi1isZPiGKPcRQoQISWUhh8fMaCjtw7vQTo4mJAYpSL3zEwHHJ1g/s72-w566-h317-c/Pena.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-7388327215163210401</id><published>2025-01-26T01:15:00.000+07:00</published><updated>2025-01-26T01:15:05.596+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type="text">'Terpental' Kharisma Gus Dur</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbFoVNZh55jKtEKrCYQV82uWRV6_W69qsUoGcEBByqcn22hijmMy8LxFe4VX1ZF5m42hzCP6G9K0K-QbyAj7V7UEOnLJtLVSmMdRCAb4uc2qNDYE-dvwgDoYuCXCwwiQDw6e0zGQGy1m6A859ruQtH9BiA6Sh7_nqKHz1zgMEvpm_eUMGCgsv3sYq_MCw/s1280/IMG_20250126_010904.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="334" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbFoVNZh55jKtEKrCYQV82uWRV6_W69qsUoGcEBByqcn22hijmMy8LxFe4VX1ZF5m42hzCP6G9K0K-QbyAj7V7UEOnLJtLVSmMdRCAb4uc2qNDYE-dvwgDoYuCXCwwiQDw6e0zGQGy1m6A859ruQtH9BiA6Sh7_nqKHz1zgMEvpm_eUMGCgsv3sYq_MCw/w594-h334/IMG_20250126_010904.jpg" width="594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Haul Gus Dur Ke-15 di Pendopo Islam Nusantara&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Malam ini, saya menghadiri Haul Gus Dur ke-15 yang digelar di Pendopo Islam Nusantara (Pinus) Sekardangan. Acara ini diinisiasi oleh GusDurian Blitar bersama LakpesdamNU Kabupaten Blitar dan PC IKA PMII Blitar Raya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tema yang diangkat sangat menggugah: “Menajamkan Nurani Membela yang Lemah”. Tema ini seolah menghidupkan kembali semangat Gus Dur, seorang pemimpin besar yang selalu membela kaum yang terpinggirkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai seseorang yang tumbuh di tengah masyarakat Nahdliyin, Gus Dur adalah nama yang tidak pernah asing bagi saya. Sejak kecil, cerita-cerita tentang beliau, seorang kiai kharismatik yang sederhana, cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama sering mengisi obrolan keluarga dan masyarakat sekitar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika menjadi mahasiswa, nama Gus Dur menjadi semakin dekat. Pemikirannya tentang demokrasi, Islam moderat, dan pluralisme kerap menjadi bahan diskusi di organisasi mahasiswa. Tidak berlebihan jika Gus Dur dijuluki Guru Bangsa, sosok yang mengajarkan keberagaman dengan hati dan tindakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, momen paling berkesan dalam hidup saya terjadi pada tahun 2009 nan. Saat itu, saya bersama Mas Hadi mewakili LakpesdamNU Kabupaten Blitar mengikuti sebuah simposium di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara itu diselenggarakan oleh Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) Indonesia, yang digagas oleh Mas Imam Aziz. Salah satu program mereka adalah rekonsiliasi akar rumput di Blitar, di mana Lakpesdam menjadi mitra utamanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari itu, Gus Dur menjadi salah satu narasumber. Duduk di kursi rodanya, beliau menyampaikan materi dengan gaya khas: santai namun penuh makna. Semua peserta terpukau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami larut dalam setiap kata-kata beliau yang tajam, namun mengalir ringan, membahas tentang keadilan, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan nilai-nilai yang membentuk dasar kemanusiaan. Rasanya, berada satu forum dengan Gus Dur adalah anugerah luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesi itu berakhir, dan Gus Dur perlahan meninggalkan ruangan. Di atas kursi rodanya, beliau melintasi kerumunan peserta yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju pintu keluar. Saya pun berdiri di sana, mengantri, menanti giliran untuk bersalaman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam hati, saya tak henti-hentinya bersyukur. “Sebentar lagi, aku bisa sungkem langsung kepada Gus Dur,” pikir saya dengan hati berdebar - debar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, saat momen itu tiba, tubuh saya justru terasa beku. Ketika Gus Dur hanya berjarak setengah meter, kharisma beliau seperti menyihir saya. Tubuh saya kaku, bibir saya terkunci, dan saya hanya mampu mematung memandangi beliau yang berlalu di depan mata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat akhirnya tersadar, Gus Dur sudah jauh di ujung pintu keluar. Perasaan menyesal langsung menyeruak. “Kenapa aku diam saja tadi? Kenapa aku tidak bergerak?” Kesempatan langka untuk sungkem dengan beliau telah hilang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam itu, saya termenung. Meski tidak sempat berjabat tangan, perasaan saya berkata bahwa di alam bawah sadar, kami telah bertemu. Kharisma Gus Dur telah menghampiri saya dengan cara yang tidak biasa, membuat saya terpental diam mematung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, setiap mengingat kejadian itu, saya hanya bisa tersenyum, meski dengan sedikit getir. Gus Dur, sosok yang tidak hanya besar karena pikirannya, tetapi juga karena kehadirannya yang penuh kharisma.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7388327215163210401" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7388327215163210401" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/01/terpental-kharisma-gus-dur.html" rel="alternate" title="'Terpental' Kharisma Gus Dur" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbFoVNZh55jKtEKrCYQV82uWRV6_W69qsUoGcEBByqcn22hijmMy8LxFe4VX1ZF5m42hzCP6G9K0K-QbyAj7V7UEOnLJtLVSmMdRCAb4uc2qNDYE-dvwgDoYuCXCwwiQDw6e0zGQGy1m6A859ruQtH9BiA6Sh7_nqKHz1zgMEvpm_eUMGCgsv3sYq_MCw/s72-w594-h334-c/IMG_20250126_010904.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-4468000925918502967</id><published>2025-01-17T17:43:00.006+07:00</published><updated>2025-01-17T17:45:02.830+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Menjadi Manusia: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 10</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL75YT4UVL6T2w9tNHndVLgrDxHKLWNUIx6IaJrQ9yF8uChyphenhyphenp-b6Ek7wi6M4PpBGU2JUV60yjUt1pxitQSI9wDn3xI2Su-Hjf9XFq9xuN4F3vbvUwLPLZ47Tt2dVbRJIlrNvew2NSfv5b30eqwHBbamX6-SMPYpufWmzIAQ7QeX_EI9CQAS9YNqDGehOI/s1280/Menjadi%20Manusia.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="348" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL75YT4UVL6T2w9tNHndVLgrDxHKLWNUIx6IaJrQ9yF8uChyphenhyphenp-b6Ek7wi6M4PpBGU2JUV60yjUt1pxitQSI9wDn3xI2Su-Hjf9XFq9xuN4F3vbvUwLPLZ47Tt2dVbRJIlrNvew2NSfv5b30eqwHBbamX6-SMPYpufWmzIAQ7QeX_EI9CQAS9YNqDGehOI/w619-h348/Menjadi%20Manusia.jpg" width="619" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Sore itu, langit bergelayut kelabu di atas Pendopo Islam Nusantara. Di bawah naungan atap joglo, para santri kalong duduk bersila dengan khusyuk, menyimak petuah Ki Jambon dalam obrolan santai yang disebutnya ngaji urip.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menyelinap di antara mereka, ikut menyerap wejangan dari lelaki paruh baya dengan rambut mulai memutih itu, yang terlihat lebih seperti seorang petani sederhana daripada Kiai terpandang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jika kehidupan ini adalah sebuah pentas," ujar Ki Jambon sambil mengepulkan asap rokok kreteknya, "maka kita semua memiliki peran menjadi manusia."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat itu meluncur tenang, tetapi memiliki daya pukau yang membuat kami semua terdiam. Asap rokoknya membentuk lingkaran-lingkaran kecil, seolah mempertegas misteri di balik ucapannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Peran manusia seperti apa, itu pilihan masing-masing," lanjutnya, kali ini dengan tekanan suara yang dalam, seolah menegaskan bahwa setiap kata yang terucap bukan sekadar hiasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku termenung. Ada sesuatu yang berat di balik kalimat itu. Sebuah tanggung jawab besar yang selama ini mungkin tak kusadari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak tahan dengan keheningan yang menggantung, aku spontan menyela, "Bukankah dalam pentas, pemeran tak bisa lepas dari naskah sutradara, Ki?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ki Jambon tersenyum tipis, matanya menyipit seperti sedang menakar ketidaktahuanku. "Tak semuanya begitu, Mas. Peran menjadi manusia itu unik. Kita diberi akal untuk memilih. Sutradara boleh menulis naskah, tapi kita yang menentukan apakah akan memerankan tokoh dengan benar atau sekadar menjadi figuran."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jawabannya membuat pikiranku semakin berkecamuk. Aku ingin menyela lagi, tetapi suara Darto, santri yang duduk di sebelahku, mendahului.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Aku kok bingung, Ki. Pripun maksudé?" tanyanya dengan nada lugu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ki Jambon menatap Darto lama, lalu tersenyum penuh kebapakan. "Begini, Le. Hidup itu soal memilih. Kau bisa memilih menjadi manusia yang baik, manusia yang jahat, atau bahkan manusia yang hanya diam tanpa makna. Semua tergantung pada hatimu."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hujan rintik mulai turun, membasahi halaman pendopo yang ditata paving dengan rapi. Aroma tanah yang khas bercampur dengan bau rokok kretek Ki Jambon, menciptakan suasana yang syahdu. Kopi hitam dan beberapa jenis gorengan di depan kami menjadi saksi bisu obrolan sore itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jadi, Ki," aku mencoba mengerti, "apakah memilih itu mudah?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ki Jambon tertawa kecil, seperti mendengar pertanyaan dari anak kecil yang baru belajar bicara. "Tidak, Mas. Memilih itu berat. Karena setiap pilihan punya konsekuensi. Tapi justru di sanalah letak seni menjadi manusia. Kita harus berani memilih meskipun hasilnya tak selalu sesuai harapan."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak terasa langit di Pendopo sudah berubah Malam, tapi obrolan sahut menyahut masih begitu hangat, kulirik pisang goreng kesukaanku sudah habis tak tersisa, tinggal kuaci, tahu brontak, dan tempe genjos. Ki Jambon Juga berpamitan karena sudah di telfon anak perempuannya, yang menunggu dongeng pengantar tidur darinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami juga memutuskan membuyarkan diri, pulang dengan pikiran yang penuh. Pesan Ki Jambon terus terngiang di kepalaku: &lt;b&gt;hidup adalah panggung, dan menjadi manusia adalah peran utama yang harus kita jalani dengan akal dan hati.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari demi hari, aku mulai memahami apa yang dimaksud Ki Jambon. Bahwa hidup bukan sekadar tentang menjalani apa yang sudah ditentukan, tetapi juga tentang bagaimana kita menulis ulang naskah yang diberikan Tuhan dengan keberanian, kebijaksanaan, dan cinta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi manusia adalah tugas yang paling mulia sekaligus paling sulit. Tetapi selama kita terus belajar dan berusaha memilih yang terbaik, kita telah memainkan peran kita dengan sebaik-baiknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka, apa yang lebih penting dari itu?&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4468000925918502967" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4468000925918502967" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/01/menjadi-manusia-kopi-hitam-obrolan.html" rel="alternate" title="Menjadi Manusia: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 10" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL75YT4UVL6T2w9tNHndVLgrDxHKLWNUIx6IaJrQ9yF8uChyphenhyphenp-b6Ek7wi6M4PpBGU2JUV60yjUt1pxitQSI9wDn3xI2Su-Hjf9XFq9xuN4F3vbvUwLPLZ47Tt2dVbRJIlrNvew2NSfv5b30eqwHBbamX6-SMPYpufWmzIAQ7QeX_EI9CQAS9YNqDGehOI/s72-w619-h348-c/Menjadi%20Manusia.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-7259276815268936429</id><published>2025-01-14T11:11:00.000+07:00</published><updated>2025-01-14T11:11:07.497+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kemensos"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIAL"/><title type="text">Kemensos dan Kementerian PPPA Bersinergi Lindungi Perempuan dan Anak</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCPPV32BLdzBSl87HKQkKxDqJIZJg57q3h1QNlo1maXBB-V6L-jZbAlVFJHWkVTwUXougmUC0skvQN7iQzUpuoJaVMydlHhC4FMSd6_vSp15KK04SHALn3crd1IQbFb0PE-o4PxDUV59ML80KlW9JFGs-i7hJ5_muZP86yEivINV9qSzf9tc0AzgaZc4o/s1280/IMG_20250114_105507.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="291" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCPPV32BLdzBSl87HKQkKxDqJIZJg57q3h1QNlo1maXBB-V6L-jZbAlVFJHWkVTwUXougmUC0skvQN7iQzUpuoJaVMydlHhC4FMSd6_vSp15KK04SHALn3crd1IQbFb0PE-o4PxDUV59ML80KlW9JFGs-i7hJ5_muZP86yEivINV9qSzf9tc0AzgaZc4o/w518-h291/IMG_20250114_105507.jpg" width="518" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kemensos dan Kementerian PPPA Bersinergi Lindungi Perempuan dan Anak&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) resmi membentuk tim kolaboratif untuk melindungi perempuan dan anak. Upaya ini bertujuan merumuskan kebijakan bersama yang akan dituangkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami berdua telah membentuk tim yang bekerja kurang lebih satu bulan, setelah itu kami tuangkan dalam bentuk MoU," ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, dalam keterangan tertulisnya pada Senin (13/1/2025). Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat bersama Menteri PPPA di kantor Kemensos, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gus Ipul mengungkapkan bahwa kerja sama ini akan menjadi panduan di tingkat lapangan, dengan fokus utama pada pencegahan dan respons terhadap kasus kekerasan. Salah satu langkah yang diusulkan adalah memasukkan edukasi pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual ke dalam Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kemensos.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Fokus kita ada dua. Satu, pencegahan, terutama di tingkat keluarga. Kedua, merespons kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak secara cepat dan tepat," jelasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mekanisme kerja sama yang dirumuskan oleh tim ini bertujuan memperkuat sinergi yang selama ini sudah berjalan. Dengan demikian, kedua kementerian dapat berbagi tugas secara efektif ketika menangani persoalan di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Presiden Prabowo Subianto turut mendorong semua kementerian untuk meningkatkan kolaborasi dan integrasi program agar lebih efektif dalam melayani masyarakat. Gus Ipul menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak akan menjadi bagian integral dari program Kemensos ke depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami ingin memastikan respons terhadap kasus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja Kemensos serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak," tambahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri PPPA Arifah Fauzi juga menyampaikan pentingnya kerja sama antar kementerian dalam membangun sinergi dan memetakan persoalan di lapangan. Salah satu program prioritas Kementerian PPPA adalah Ruang Bersama Indonesia, yang difokuskan pada penguatan keluarga dan desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ruang Bersama Indonesia lebih kepada fungsinya untuk menyelesaikan persoalan di tingkat keluarga dan desa," ujar Arifah. Selain itu, Kementerian PPPA juga akan memperluas fungsi Call Center Sapa 129 serta mengembangkan program satu data perempuan dan anak berbasis desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan kolaborasi ini, kedua kementerian berharap dapat memperkuat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, terutama mengingat bahwa perempuan masih menjadi kelompok dengan tingkat kemiskinan tertinggi berdasarkan survei.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami berharap kolaborasi ini bisa menyelesaikan persoalan lebih cepat dan memberikan perlindungan yang lebih utuh bagi perempuan dan anak di Indonesia," pungkas Arifah. (red)&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7259276815268936429" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7259276815268936429" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/01/kemensos-dan-kementerian-pppa.html" rel="alternate" title="Kemensos dan Kementerian PPPA Bersinergi Lindungi Perempuan dan Anak" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCPPV32BLdzBSl87HKQkKxDqJIZJg57q3h1QNlo1maXBB-V6L-jZbAlVFJHWkVTwUXougmUC0skvQN7iQzUpuoJaVMydlHhC4FMSd6_vSp15KK04SHALn3crd1IQbFb0PE-o4PxDUV59ML80KlW9JFGs-i7hJ5_muZP86yEivINV9qSzf9tc0AzgaZc4o/s72-w518-h291-c/IMG_20250114_105507.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-4836120121238389774</id><published>2025-01-12T10:29:00.002+07:00</published><updated>2025-01-12T10:31:18.897+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="art"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Mengatasi Malas dengan Teknik Kaizen</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgk_wAa0jkvT89M79UKMZ_jF-8dA_JUq8Ms7jgtGMZUYU-pn0C17UKzrlG7ElacVEru7KMAwSSvhjHUKIUZgUS9i6OBOCQH41lmW6vQJUBqr13CNY2wW8SY52oQ29x93J2Ai-8ZExfc0VEUGLQNqyo4tr8Z0FUJxjrQyK9rtMlfEaKcZLv0mHoZhIqU7c/s1280/Tehnik%20Kaizen.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="356" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgk_wAa0jkvT89M79UKMZ_jF-8dA_JUq8Ms7jgtGMZUYU-pn0C17UKzrlG7ElacVEru7KMAwSSvhjHUKIUZgUS9i6OBOCQH41lmW6vQJUBqr13CNY2wW8SY52oQ29x93J2Ai-8ZExfc0VEUGLQNqyo4tr8Z0FUJxjrQyK9rtMlfEaKcZLv0mHoZhIqU7c/w632-h356/Tehnik%20Kaizen.jpg" width="632" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mengatasi Malas dengan Teknik Kaizen&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Malas adalah musuh terbesar bagi produktivitas. Ketika rasa malas menguasai, impian besar yang direncanakan seringkali hanya tinggal angan-angan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ada cara efektif yang bisa membantu kita melawan kemalasan dan mulai bergerak menuju tujuan, yaitu dengan menerapkan teknik Kaizen. Teknik ini berasal dari Jepang, yang berarti perbaikan kecil dan berkelanjutan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Filosofi ini tidak hanya diterapkan di dunia industri tetapi juga sangat relevan dalam kehidupan pribadi, termasuk mengatasi rasa malas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kaizen adalah pendekatan bertahap yang fokus pada perubahan kecil namun konsisten. Inti dari teknik ini adalah melakukan sesuatu secara perlahan, namun pasti, sehingga terasa ringan dan tidak membebani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dibandingkan memaksakan perubahan besar dalam waktu singkat, Kaizen mengajarkan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil yang mudah dicapai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika menghadapi rasa malas, seringkali masalahnya terletak pada besarnya tugas yang harus diselesaikan. Pikiran kita sudah lelah sebelum mulai, karena merasa tugas tersebut terlalu sulit atau memakan waktu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teknik Kaizen menyarankan untuk memecah tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian kecil yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Langkah-Langkah Menggunakan Teknik Kaizen untuk Mengatasi Malas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Mulai dengan Satu Menit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda merasa malas untuk melakukan sesuatu, coba mulai dengan melakukannya selama satu menit saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, jika Anda ingin berolahraga, lakukan peregangan ringan selama satu menit. Satu menit terasa singkat dan tidak mengintimidasi, tetapi dapat menjadi awal yang baik untuk membangun kebiasaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Tentukan Langkah Kecil yang Realistis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Daripada memaksakan diri untuk menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus, fokuslah pada satu langkah kecil yang mudah dilakukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, jika Anda ingin membereskan kamar, mulailah dengan hanya merapikan meja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Konsistensi Lebih Penting daripada Kuantitas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunci dari Kaizen adalah melakukannya secara konsisten. Lebih baik melakukan sedikit setiap hari daripada memaksakan banyak sekaligus namun tidak berlanjut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsistensi akan membangun momentum, yang akhirnya mengurangi rasa malas secara bertahap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Rayakan Kemajuan Kecil&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memberikan penghargaan pada diri sendiri setelah menyelesaikan langkah kecil akan membantu membangun motivasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, setelah menyelesaikan satu tugas kecil, Anda bisa beristirahat sejenak atau menikmati camilan favorit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Manfaat Mengatasi Malas dengan Teknik Kaizen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan menggunakan teknik Kaizen, Anda akan merasa lebih mudah untuk memulai sesuatu tanpa terbebani. Kemalasan sering kali muncul karena kita merasa tugas terlalu besar atau sulit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi Kaizen, mengubah tugas tersebut menjadi hal yang lebih sederhana. Selain itu, teknik ini juga membantu membangun kebiasaan produktif dalam jangka panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kaizen mengajarkan kita bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam semalam. Dengan menghargai proses kecil dan berkelanjutan, kita dapat melatih diri untuk menjadi lebih disiplin, konsisten, dan produktif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhirnya, keberhasilan besar bukanlah hasil dari langkah besar, melainkan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang diambil dengan penuh kesadaran.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4836120121238389774" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4836120121238389774" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2025/01/mengatasi-malas-dengan-teknik-kaizen.html" rel="alternate" title="Mengatasi Malas dengan Teknik Kaizen" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgk_wAa0jkvT89M79UKMZ_jF-8dA_JUq8Ms7jgtGMZUYU-pn0C17UKzrlG7ElacVEru7KMAwSSvhjHUKIUZgUS9i6OBOCQH41lmW6vQJUBqr13CNY2wW8SY52oQ29x93J2Ai-8ZExfc0VEUGLQNqyo4tr8Z0FUJxjrQyK9rtMlfEaKcZLv0mHoZhIqU7c/s72-w632-h356-c/Tehnik%20Kaizen.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-5242614107953230658</id><published>2024-12-09T06:36:00.001+07:00</published><updated>2024-12-09T06:41:20.948+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PKH"/><title type="text">Terima Bantuan PENA Berdikari, 7 KPM PKH di Kabupaten Blitar Siap Graduasi</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixMtZ7uYh1gZ8LZq1qq5WXBl4h_N4WzI7B2xT4Xkv8PMl3oM07MfzN5B33ANFNktfEr5f0fkpYtjG4wA-HVOC9iyetntyQ3cdCN69Wmbu_KeFSvQROy0C6mUHGS1mZbSAymUT_dCMWwAA2i-fFpqOQGMb1-lXRFQOdFHN63AZm3cFVPB4RPZ5Uak9tSc4/s1280/Pena%20Berdikari.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="374" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixMtZ7uYh1gZ8LZq1qq5WXBl4h_N4WzI7B2xT4Xkv8PMl3oM07MfzN5B33ANFNktfEr5f0fkpYtjG4wA-HVOC9iyetntyQ3cdCN69Wmbu_KeFSvQROy0C6mUHGS1mZbSAymUT_dCMWwAA2i-fFpqOQGMb1-lXRFQOdFHN63AZm3cFVPB4RPZ5Uak9tSc4/w665-h374/Pena%20Berdikari.jpg" width="665" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pendamping Sosial PKH Kab. Blitar Bersama 7 PM Pena Berdikari Usai Pencairan Bantuan di Kantor POS&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Meninggalkan zona nyaman tak pernah mudah, apalagi bagi mereka yang telah lama mengandalkan bantuan sosial. Namun, tujuh perempuan tangguh di Kabupaten Blitar membuktikan bahwa semangat mandiri bisa mengalahkan ketergantungan.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Melalui Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA) Berdikari yang diprakarsai Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), mereka siap melangkah keluar dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) menuju kemandirian ekonomi.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Program PENA Berdikari dirancang sebagai upaya menekan angka kemiskinan ekstrem. Fokusnya adalah membantu KPM PKH yang memiliki tekad untuk berhenti dari program bantuan sosial dengan memulai atau mengembangkan usaha mandiri.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Tak hanya memberikan bantuan dana, program ini juga menyertakan pelatihan dan pendampingan agar penerima manfaat lebih percaya diri dalam menjalankan usaha.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Setiap penerima PENA mendapatkan bantuan modal pengembangan usaha sebesar Rp&lt;a href="tel:2400000"&gt;2.400.000&lt;/a&gt;, yang disalurkan melalui PT Pos Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Pada akhir November 2024, tujuh KPM PKH di Kabupaten Blitar menerima pencairan dana PENA Berdikari di Kantor Pos. Mereka adalah Ibu Zuli, Ibu Nanik, Ibu Dahria, Ibu Santi, Ibu Umi, Ibu Ani, dan Ibu Lilik.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Dana tersebut langsung dibelanjakan sarana penguatan usaha, sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang disusun oleh penerima manfaat bersama pendamping sosial PKH, dan telah di setujui oleh Kementrian Sosial.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Usaha yang mereka jalankan cukup beragam, mencerminkan semangat untuk mandiri di berbagai bidang. Ada yang membuka warung kelontong, kerajinan menjahit, peternakan, hingga jasa laundry.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Namun, perjalanan mereka tidak dimulai begitu saja. Sebelum menerima bantuan, para penerima manfaat telah mengikuti pelatihan intensif melalui zoom, yang difasilitasi Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, mitra Kemensos dalam pelaksanaan program ini.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Kesuksesan program ini tentunya tak lepas dari peran para pendamping sosial PKH yang selalu berada di sisi penerima manfaat. Mereka merasa bangga melihat tujuh KPM ini memiliki keberanian untuk memulai atau mengembangkan usaha mandiri.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, Semangat mereka untuk tidak lagi bergantung pada bantuan sosial merupakan kesadaran positif yang layak diacungi jempol,” ujar Suciati pendamping sosial PKH Kecamatan Talun yang juga mendampingi penerima progam Pena. Minggu (8/12).&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Disisi yang lain, kata Suci, ini merupakan tantangan bagi pendamping sosial, karena perlu memastikan bahwa usaha yang digeluti KPM dapat berkembang dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan keluarganya.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;"Pendampingan intensif tetap perlu dilakukan untuk membantu mereka menghadapi kendala yang mungkin muncul di tengah perjalanan," tandasnya.&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Kisah tujuh perempuan peserta PKH di Kabupaten Blitar ini adalah awal dari perjuangan besar. Program PENA Berdikari menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, KPM PKH bisa melangkah keluar dari ketergantungan dan menjadi pahlawan bagi ekonomi keluarga mereka sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;













&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Semoga keberanian dan kesadaran mereka menginspirasi KPM PKH lainnya untuk berani bermimpi dan berusaha. Karena di balik setiap tantangan, selalu ada peluang untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5242614107953230658" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5242614107953230658" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/12/terima-bantuan-pena-berdikari-7-kpm-pkh.html" rel="alternate" title="Terima Bantuan PENA Berdikari, 7 KPM PKH di Kabupaten Blitar Siap Graduasi" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixMtZ7uYh1gZ8LZq1qq5WXBl4h_N4WzI7B2xT4Xkv8PMl3oM07MfzN5B33ANFNktfEr5f0fkpYtjG4wA-HVOC9iyetntyQ3cdCN69Wmbu_KeFSvQROy0C6mUHGS1mZbSAymUT_dCMWwAA2i-fFpqOQGMb1-lXRFQOdFHN63AZm3cFVPB4RPZ5Uak9tSc4/s72-w665-h374-c/Pena%20Berdikari.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-6490645145848813260</id><published>2024-12-03T22:02:00.002+07:00</published><updated>2024-12-03T22:02:52.386+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Nilai Sebuah Kebersamaan: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 9</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM07fo8nA9zjz8gJgvQekHy_4BDq4WG18MtjOPhxIS2LT3RDpIYk2djSFLfecGt2Tg5tdxAG_DJ4ZWwIRMLC24yQvzxsCdI2heKxyMvj-jNHzNUNEAxesyWco6cfEZqp8uBA7yleCtTwaT9BTz-RhALtY-9z1McT4XBgsTW6jD9FRKGsFfeeVDHVwf-lM/s1280/IMG_20241203_214421.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="318" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM07fo8nA9zjz8gJgvQekHy_4BDq4WG18MtjOPhxIS2LT3RDpIYk2djSFLfecGt2Tg5tdxAG_DJ4ZWwIRMLC24yQvzxsCdI2heKxyMvj-jNHzNUNEAxesyWco6cfEZqp8uBA7yleCtTwaT9BTz-RhALtY-9z1McT4XBgsTW6jD9FRKGsFfeeVDHVwf-lM/w565-h318/IMG_20241203_214421.jpg" width="565" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;uripkuiurup.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; - Hujan sore ini mengguyur dengan deras, mengirim aroma khas tanah basah yang bercampur wangi tembakau Ampek Arum yang disulut Ki Jambon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku duduk bersamanya di teras rumahnya yang sederhana, menyesap kopi hitam pekat yang hangat di tanganku. Suara rintik hujan menjadi latar belakang percakapan kami, seperti alunan musik alami yang syahdu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bagaimana kabar komunitasmu, Mas?” tanya Ki Jambon sambil mengembuskan asap tipis dari lintingannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menarik napas dalam, merasa perlu berbagi kegelisahanku. “Komunitas kami sebenarnya baik-baik saja, Ki. Tapi, belakangan ini ada sedikit kerikil dalam perjalanan. Gaplek, salah satu anggota komunitas, melanggar kesepakatan. Ia lebih memilih memikirkan untung ruginya sendiri daripada nilai kebersamaan yang sudah kita bangun.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ki Jambon diam sejenak, menatap jauh ke rintik hujan yang semakin lebat. “Gaplek itu anak muda yang pintar, kan? &lt;b&gt;Tapi pintar saja tidak cukup, Mas.&lt;/b&gt; Kadang, pintar justru membuat seseorang lupa pada hal yang lebih mendasar.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku mengangguk pelan, menanti kebijaksanaan yang akan keluar dari bibir Ki Jambon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kebersamaan itu, Mas, seperti kopi ini,” katanya sambil mengangkat cangkir kopinya. “Rasanya nikmat kalau dibuat dengan takaran yang pas, dicampur dan diaduk bersama. Kalau masing-masing biji kopi hanya ingin terlihat unggul sendiri, apa yang terjadi?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rasanya tak akan jadi kopi, Ki,” jawabku sambil tersenyum kecil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Benar,” Ki Jambon meneguk kopinya, lalu melanjutkan, “Kebersamaan dalam komunitas itu jauh lebih berharga dari hitungan materi. Sebab, dalam kebersamaan, &lt;b&gt;kita menemukan makna yang tidak bisa dibeli dengan uang:&lt;/b&gt; persaudaraan, saling mendukung, dan rasa memiliki. Kalau setiap anggota hanya memikirkan untungnya sendiri, komunitas itu akan pecah, seperti kopi yang pahit karena terlalu banyak biji gosong.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku terdiam. Kata-kata Ki Jambon seperti menembus benakku. Ia menyalakan kembali lintingannya, lalu berkata lagi, “Mas, hidup ini bukan soal siapa yang mendapat lebih banyak. Tapi siapa yang mampu berbagi dan memperkuat yang lain. Kalau kamu ingin komunitasmu tetap utuh, ingatkan Gaplek, bahwa &lt;b&gt;kita ini hidup dalam lingkaran yang saling terhubun&lt;/b&gt;g.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hujan semakin deras. Kopi hitamku telah tandas, tapi percakapan kami terasa semakin mendalam. Seolah memahami kebutuhanku, Ki Jambon bangkit dan menuju ke belakang. Ia kembali dengan secangkir kopi panas di tangannya, lalu menyerahkannya padaku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Terima kasih, Ki,” kataku, merasa terharu dengan perhatiannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Begitu juga kebersamaan, Mas. Kalau ada yang kekurangan, bantu. Kalau ada yang lupa, ingatkan. Kebersamaan butuh pengorbanan ego, tapi percayalah, hasilnya akan jauh lebih manis daripada kemenangan pribadi.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku memandangi cangkir kopi hitam yang kini mengepul di tanganku. Dari Ki Jambon, aku belajar banyak hal: &lt;b&gt;menurunkan ego&lt;/b&gt;, menghormati perbedaan, dan menjaga kebersamaan yang menjadi fondasi dari setiap komunitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika hujan akhirnya mulai reda, aku merasa sudah lebih siap untuk kembali. Bukan hanya ke komunitasku, tapi juga ke peranku sebagai bagian dari kebersamaan itu. “Ki, terima kasih atas semua pelajarannya. Saya tak akan melupakan sore ini.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ki Jambon hanya tersenyum. “Ingat, Mas, &lt;b&gt;kebersamaan itu bukan soal seberapa banyak kita dapat, tapi seberapa besar kita saling menguatkan.”&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Bersambung...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/6490645145848813260" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/6490645145848813260" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/12/nilai-sebuah-kebersamaan-kopi-hitam.html" rel="alternate" title="Nilai Sebuah Kebersamaan: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 9" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM07fo8nA9zjz8gJgvQekHy_4BDq4WG18MtjOPhxIS2LT3RDpIYk2djSFLfecGt2Tg5tdxAG_DJ4ZWwIRMLC24yQvzxsCdI2heKxyMvj-jNHzNUNEAxesyWco6cfEZqp8uBA7yleCtTwaT9BTz-RhALtY-9z1McT4XBgsTW6jD9FRKGsFfeeVDHVwf-lM/s72-w565-h318-c/IMG_20241203_214421.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-4226728462507722100</id><published>2024-11-20T05:06:00.001+07:00</published><updated>2024-11-20T05:06:45.541+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SASTRA"/><title type="text">Carok Ketapang Laok, Sebuah Refleksi</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcMu6MN4gtajqH0dNeXokBLS71yP1YsYEcCDOX_a_C9FtopkBmcw3RQB7MbUSD-Y1Cc9dlzN2rxWbIzPDt6LUXmX4t88p-kMD0goEG67BSxjc3BxUB6C57iyNHf4ux0p46gDY9xWtU1VuxgINwatjdGHJTBoBzD05bGWe39cOatLXygr-5jYy0hcr__aM/s1280/IMG_20241119_223234.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="326" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcMu6MN4gtajqH0dNeXokBLS71yP1YsYEcCDOX_a_C9FtopkBmcw3RQB7MbUSD-Y1Cc9dlzN2rxWbIzPDt6LUXmX4t88p-kMD0goEG67BSxjc3BxUB6C57iyNHf4ux0p46gDY9xWtU1VuxgINwatjdGHJTBoBzD05bGWe39cOatLXygr-5jYy0hcr__aM/w580-h326/IMG_20241119_223234.jpg" width="580" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menyaksikan video pendek itu dengan hati yang gelisah. Detik-detik sebelum sebuah nyawa melayang. Video itu viral di beberapa platfom media sosial, dan aku seperti terlempar ke dalam tragedi carok berdarah itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peristiwa terjadi di Desa Ketapang Laok, Sampang. Seorang warga, yang disebut-sebut berinisial J, tewas setelah dikeroyok sekelompok orang bersenjata celurit. Kejadiannya berlangsung tak lama setelah calon bupati Slamet Junaidi berkunjung ke seorang tokoh agama setempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada kabar bahwa massa bersenjata menghadang perjalanan Junaidi, meski akhirnya ia berhasil menghindar lewat jalan lain. Tragisnya, korban J yang menjadi saksi pasangan calon bupati Jimat Sakteh justru tak luput dari insiden itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menghela napas panjang. Bagaimana bisa sebuah perbedaan pilihan politik membawa seseorang kehilangan nyawa?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketapang Laok kini menjadi panggung yang memperlihatkan betapa tajamnya polarisasi di tengah masyarakat. Aku mencoba memahami, namun sulit diterima nalar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa konflik politik, yang seharusnya menjadi arena gagasan dan kompetisi sehat, berujung pada pembantaian? Apakah ini cermin dari kegagalan kita menjaga nilai-nilai demokrasi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Desa Ketapang Laok bukan sekadar latar, tetapi mikro-kosmos dari realitas sosial kita yang penuh bara. Rasa fanatisme berlebihan, sempitnya wawasan, dan lemahnya kemampuan mengelola perbedaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku teringat berita lain, serupa namun tak sama. Di berbagai daerah, konflik menjelang pemilu selalu menyisakan cerita pilu. Bukan hanya soal nyawa yang hilang, tetapi luka sosial yang terus menganga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di media, semua ini dilaporkan sebagai "kasus politik", namun aku percaya ada yang lebih dalam. Mungkin ini tentang identitas, ketidakadilan, atau rasa frustasi yang terpendam lama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu aku bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang kita cari dalam demokrasi? Apakah kekuasaan begitu memabukkan hingga nyawa manusia menjadi tak berharga?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Carok di Ketapang Laok adalah alarm keras bagi kita semua. Ia bukan sekadar tragedi lokal, tetapi simbol dari persoalan nasional. Kita belum selesai dengan pendidikan politik. Kita masih mudah terprovokasi, menjadi alat dalam permainan kuasa tanpa sadar sedang merusak diri sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku membayangkan keluarga J yang kehilangan orang tercinta. Tak ada yang bisa mengembalikan nyawa yang telah melayang. Namun, tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk refleksi mendalam. Apakah kita ingin terus hidup dalam lingkaran kekerasan? Ataukah sudah waktunya kita memutus rantai ini dan mulai membangun masyarakat yang lebih dewasa secara politik?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketapang Laok akan selalu dikenang, bukan karena luka berdarah yang ia tinggalkan, tetapi sebagai pengingat bahwa perubahan sejati membutuhkan keberanian. Keberanian untuk melepaskan dendam, melawan fanatisme, dan menjadikan politik sebagai alat mempersatukan, bukan memecah belah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Refleksi ini membawaku pada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana carok yang dulu hanya menjadi simbol duel pribadi, kini berubah menjadi senjata politik? Tradisi, jika disalahgunakan, dapat kehilangan makna aslinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Carok di Madura seharusnya menjadi bagian dari narasi masa lalu yang dapat dikenang sebagai sebuah kebijaksanaan budaya, bukan berlanjut sebagai sarana membenarkan kekerasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, di tengah kegelapan tragedi ini, aku tetap ingin mencari secercah harapan. Mungkin, insiden di Ketapang Laok dapat menjadi pemicu untuk kita semua mengupayakan perubahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendidikan politik menjadi lebih penting dari sebelumnya, terutama di daerah yang sering kali menjadi korban eksploitasi politik praktis. Masyarakat perlu diberdayakan untuk memahami bahwa pilihan politik bukanlah medan perang, melainkan ruang diskusi untuk mencari yang terbaik bagi masa depan bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para pemimpin dan tokoh masyarakat pun harus lebih bertanggung jawab. Ketika retorika politik menjadi terlalu provokatif, dampaknya bisa tak terkendali. Fanatisme yang dibakar dengan sengaja akan melahirkan tragedi seperti di Ketapang Laok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para elite harus mulai melihat bahwa suara rakyat bukan sekadar angka untuk meraih kekuasaan, tetapi nyawa dan kehidupan nyata yang harus dilindungi dan dihormati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku ingin berbicara kepada generasi muda, jangan biarkan politik lama yang penuh intrik dan kekerasan menjadi warisan yang terus bertahan. Suarakan keadilan, pilihlah dengan hati nurani, dan jadilah agen perubahan yang membawa kesejukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketapang Laok mengajarkan kita bahwa demokrasi tanpa kedewasaan politik akan terus melahirkan luka. Kita perlu menjadikan tragedi ini sebagai pelajaran pahit yang tak ingin diulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah saatnya kita mengakhiri siklus kekerasan ini dan melangkah menuju era di mana perbedaan bukanlah alasan untuk saling menyakiti, tetapi jembatan untuk saling memahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku berharap, suatu hari nanti, nama Ketapang Laok tak lagi diingat sebagai tempat berlumuran darah, tetapi sebagai titik awal sebuah perjalanan panjang menuju masyarakat yang lebih damai, dewasa, dan bijaksana. Sebuah masyarakat yang tak lagi membiarkan politik mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Rabu, 20/11/2024&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4226728462507722100" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/4226728462507722100" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/11/carok-ketapang-laok-sebuah-refleksi.html" rel="alternate" title="Carok Ketapang Laok, Sebuah Refleksi" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcMu6MN4gtajqH0dNeXokBLS71yP1YsYEcCDOX_a_C9FtopkBmcw3RQB7MbUSD-Y1Cc9dlzN2rxWbIzPDt6LUXmX4t88p-kMD0goEG67BSxjc3BxUB6C57iyNHf4ux0p46gDY9xWtU1VuxgINwatjdGHJTBoBzD05bGWe39cOatLXygr-5jYy0hcr__aM/s72-w580-h326-c/IMG_20241119_223234.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-8266437918041640855</id><published>2024-11-18T16:55:00.001+07:00</published><updated>2024-11-18T16:55:16.892+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><title type="text">Pelatihan, Hujan, dan Cerita di Antara Desa</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGtxgY9xiCCDpn1fSiySK8QArS4-pM6AWw65Pi8BYFd3Wmx37tL-VvjUg6EvGKat81_Yb5BXiPBt6KJJoQb7Wou-JRXhS4yOmSG3m4tH-DYvicjGFFr5LRubL7exWbbSUQHWpnpmvr_Kmb8iNx0uBF7nhBkoSyE8srfc7nGormz1bez6wzMmWrlL-WtKk/s1280/IMG_20241118_164843.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGtxgY9xiCCDpn1fSiySK8QArS4-pM6AWw65Pi8BYFd3Wmx37tL-VvjUg6EvGKat81_Yb5BXiPBt6KJJoQb7Wou-JRXhS4yOmSG3m4tH-DYvicjGFFr5LRubL7exWbbSUQHWpnpmvr_Kmb8iNx0uBF7nhBkoSyE8srfc7nGormz1bez6wzMmWrlL-WtKk/s320/IMG_20241118_164843.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pelatihan, Hujan, dan Cerita di Antara Desa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi itu, motor tuaku menderu, membelah jalanan berliku Blitar. aku dan Bahrul Ulum, sahabat sekaligus pengelola media MataBlitar.com mengawali perjalanan kami menuju Desa Kemloko, Nglegok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Udara masih dingin, sisa embun menempel di dedaunan. Langit yang kelabu memberi tanda, hujan akan setia menemani kami hari ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ini bukan cuma perjalanan,” kata Ulum sambil memutar gas motor. “Kita sekalian touring, refreshing di tengah hiruk-pikuk waktu.” Aku tertawa kecil, menikmati semangatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari itu adalah Sabtu, 16 November 2024, awal dari agenda dua hari penuh pelatihan jurnalistik warga desa dan akuntabilitas sosial yang digelar oleh Lakpesdam NU Kabupaten Blitar melalui Program P3PD, dan telah menjadwalkan kami menjadi narasumber di empat desa berbeda: Desa Kemloko Nglegok, Kebonagung Wonodadi, Tuliskriyo Sanankulon, dan Balerejo Wlingi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jarak antar-desa tidak main-main. Dengan kondisi jalanan desa yang kadang licin dan berlubang, perjalanan ini bisa lebih mirip petualangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benar saja, saat hampir sampai kantor desa kemloko, perjalanan kami terhenti, karena ada jembatan yang sedang diperbaiki, sehingga jalan ditutup total.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beruntung kami bertemu khotib, yang merupakan carek desa setempat. Kontan ia mengajak kami menuju lokasi melalui jalan alternatif jalur terdekat katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya dan ulum pun mengikutinya. Tapi kami tak pernah membayangkan jalan alternatif yang dimaksut carek khotib begitu syahdu, saya dan ulum membuntuti khotib masuk gang sempit, lalu masuk jalan setapak tengah pekarangan orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu kami terus mengikuti khotib menyusuri jalan menurun masuk sungai, lalu naik tajam dengan jalan yang becek antara lumpor dan letong jadi satu karena tanjakan tersebut berada tepat di samping bawah kandang sapi milik warga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Roda motor ku berputar putar selep, bunyi mesinnya juga ngos ngosan, beruntung saya tidak jatuh tergelincir. Menyusul dibelakangku ulum dengan motor touringnya, dan sama motornya juga ngos ngosan menaiki tanjakan yang licin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan spontan ulum berteriak, "jamput, carek gemblong" sambil tertawa campur marah, khotip pun menimpali "La jare njaluk dalan pintas sing cedek?" Tawa kami bertiga pun pecah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesampainya di Desa Kemloko, kami melihat peserta mulai berdatangan, dan tidak lama kemudian kursi peserta telah penuh, ada sekitar 50 warga, yang sebagian besar adalah pengurus Sekolah Lapang Desa, telah berkumpul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Materi pertama tentang dasar-dasar jurnalistik mengalir lancar. Di sana, kami tidak hanya berbagi ilmu, tapi juga belajar dari mereka. Diskusi hangat tentang bagaimana dokumentasi kegiatan desa dapat memperkuat transparansi pembangunan menjadi topik yang menarik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pak, gimana caranya membedakan berita yang benar dan hoaks?” tanya seorang peserta dengan mata penuh rasa ingin tahu. Ulum menjawab panjang lebar, memberi contoh-contoh praktis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itulah aku menyadari, bahwa &lt;b&gt;jurnalistik bukan lagi soal menulis untuk media besar&lt;/b&gt;, melainkan keterampilan yang bisa memperkuat masyarakat di tingkat lokal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari pertama diakhiri di Desa Kebonagung. Sore itu, setelah sesi selesai, kami duduk bersama panitia di ruang kepala desa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kopi hitam panas menghangatkan tubuh kami. “Besok masih ada dua desa lagi lur, jarak antar desanya juga lumayan,” kata ulum setengah berbisik dan tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami Pulang dari Kebonagung waktu sudah mulai petang, dan hujan masih belum juga reda, meski tidak lebat tapi cukup menggangu pandangan mata kami saat berkendara.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keesokan harinya, perjalanan berlanjut ke Desa Tuliskriyo dan Balerejo. Kali ini, hujan tidak hanya menjadi tantangan, tapi juga pengiring harmoni, utama saat menuju Balerejo, sebuah desa diwilayah wlingi paling utara, sudah berbatasan dengan lereng gunung kawi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guyuran air yang menyelimuti jalanan desa membawa suasana syahdu. Dalam perjalanan itu, aku dan Ulum berbagi cerita tentang mimpi besar kami, &lt;b&gt;membangun budaya jurnalistik di desa-desa Blitar.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di setiap desa, kami bertemu dengan wajah-wajah penuh semangat. Peserta pelatihan aktif bertanya, mencoba memahami bagaimana cara mengelola media sosial yang bijak atau menulis laporan kegiatan desa yang menarik. Bahkan beberapa di antaranya langsung mempraktikkan cara mengambil foto yang baik untuk dokumentasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kalau ini terus dikembangkan, desa-desa di Blitar bisa jadi contoh transparansi pembangunan,” gumam Ulum saat kami berjalan meninggalkan lokasi terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu. Tapi juga ruang untuk belajar bersama. Kami, sebagai narasumber, tidak hanya mengajarkan jurnalistik. Kami juga menerima energi dan inspirasi dari para peserta, dari cerita mereka tentang bagaimana desa mereka perlahan berubah, &lt;b&gt;dari mimpi kecil yang tumbuh menjadi visi besar&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat perjalanan pulang, hujan kembali turun. Tapi kali ini, kami tidak terburu-buru mencari tempat berteduh, maupun memakai jas hujan. Kami justru melaju pelan, menikmati setiap tetes air yang membasahi wajah kami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam hati, aku bersyukur atas perjalanan ini. Dua hari penuh cerita, hujan, dan pelajaran berharga telah memberikan makna baru pada apa itu “jurnalistik warga.”&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8266437918041640855" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8266437918041640855" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/11/pelatihan-hujan-dan-cerita-di-antara.html" rel="alternate" title="Pelatihan, Hujan, dan Cerita di Antara Desa" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGtxgY9xiCCDpn1fSiySK8QArS4-pM6AWw65Pi8BYFd3Wmx37tL-VvjUg6EvGKat81_Yb5BXiPBt6KJJoQb7Wou-JRXhS4yOmSG3m4tH-DYvicjGFFr5LRubL7exWbbSUQHWpnpmvr_Kmb8iNx0uBF7nhBkoSyE8srfc7nGormz1bez6wzMmWrlL-WtKk/s72-c/IMG_20241118_164843.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-7336002993971480650</id><published>2024-10-27T09:21:00.000+07:00</published><updated>2024-10-27T09:21:00.249+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SASTRA"/><title type="text">Memaknai Kehidupan: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Usai</title><content type="html">&lt;p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9GPGhUg4wy5J5YRvaCcwZO-d5NPl_qFHmKmq4ytvk0qcjLVzplDHt4sFUYOiKjYkE5043pvhmdtgqMcsSUFtyUMvQGN6ryyh3sBEIvQmY8okc8Sj2z_7nRPG49ysXF4oMcHsrVC-k1iFFfMDkpXQaOgivUSnfYaeHz6swNzi2T6kYVNBIknfQYBrllE/s1280/Memaknai%20Hidup.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9GPGhUg4wy5J5YRvaCcwZO-d5NPl_qFHmKmq4ytvk0qcjLVzplDHt4sFUYOiKjYkE5043pvhmdtgqMcsSUFtyUMvQGN6ryyh3sBEIvQmY8okc8Sj2z_7nRPG49ysXF4oMcHsrVC-k1iFFfMDkpXQaOgivUSnfYaeHz6swNzi2T6kYVNBIknfQYBrllE/s320/Memaknai%20Hidup.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Memaknai Kehidupan: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Usai&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt; - Hari ini, saya sedang melihat beranda Facebook ketika sebuah kenangan lama tiba-tiba menyapa. Foto yang diunggah sebelas tahun lalu muncul kembali, dibagikan ulang oleh seorang sahabat lama, Mas Kholis namanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di foto itu, terlihat kami sedang beristighotsah di sebuah rumah sederhana yang saya kontrak bersama istri, yang mana saya dan istri waktu itu masih dalam hitungan bulan sebagai pasangan suami-istri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Caption foto itu tertulis: "Dari titik ini kami akan belajar memaknai kehidupan." Sederhana, namun mengandung banyak harapan dan impian yang saat itu masih begitu murni dan menggebu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya teringat momen tersebut: hari pertama kami menempati rumah kontrakan itu, sebuah langkah yang diambil setelah banyak pertimbangan. Sebagai pasangan baru, kami tahu akan banyak tantangan yang harus dihadapi, namun tekad untuk hidup mandiri dan membangun keluarga kecil yang kami impikan membuat segala keraguan terasa ringan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami mengundang teman-teman dari Kalifa Community untuk datang, duduk bersama, berdoa, dan melakukan tirakatan, atau melek’an, sebuah tradisi yang melekat pada kultur Jawa, di mana kita memaknai momen awal dengan harapan dan doa agar perjalanan baru ini diliputi berkah dan kekuatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasa rindu pada teman-teman Kalifa Community pun menyeruak. Kalifa bukan sekadar komunitas bagi kami; di dalamnya terkandung semangat kolektif untuk membangun paradigma kritis yang bertujuan mewujudkan masyarakat mandiri dan berdaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami adalah sekumpulan aktivis pergerakan yang waktu itu bercita-cita tinggi, melihat masyarakat bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek yang memiliki kekuatan dan potensi untuk membangun dirinya sendiri. Di komunitas itu, kami saling menguatkan dalam perjalanan masing-masing, saling berbagi pengalaman, ide, dan energi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak terasa, sebelas tahun telah berlalu. Rumah kontrakan itu kini menjadi kenangan, sekarang sudah ada rumah sendiri yang kami tempati, meski sederhana dan bisa dikatakan masih setengah jadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari pasangan dua orang, kini keluarga kami bertambah menjadi lima dengan kehadiran tiga anak. Namun, melihat kembali foto itu, saya tersadar bahwa perjalanan untuk memaknai kehidupan ternyata jauh lebih panjang dan berliku dari yang dulu saya bayangkan. Kehidupan tidak sesederhana romantisme dalam foto atau angan-angan ideal di masa muda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memaknai kehidupan ternyata bukan sesuatu yang bisa dipelajari sekali lalu selesai. Hidup mengajarkan banyak hal dalam wujud yang tak selalu mudah dipahami, kadang datang melalui momen-momen sulit, keputusan berat, dan bahkan kegagalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada saatnya kita merasa sudah memahami suatu pelajaran, namun hidup datang dengan ujian baru yang menggugurkan pemahaman lama dan menantang kita untuk belajar ulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menyadari bahwa memaknai kehidupan adalah proses yang berulang, suatu siklus belajar yang tiada henti. Di satu titik kita merasa paham, namun di titik berikutnya kita harus siap meruntuhkan pemahaman lama dan menerima hal-hal baru yang datang tanpa permisi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu pelajaran yang terus melekat di hati adalah bahwa hidup tidak pernah berhenti mengajarkan kita. Dari tugas sebagai pasangan, menjadi orang tua, hingga kembali menguatkan tekad dalam pekerjaan atau panggilan hidup, setiap fase selalu memunculkan tantangan baru yang mendorong kita untuk terus bertumbuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah perjalanan itu, kita mungkin merasa lelah, bertanya-tanya kapan akan tiba saat di mana kita sepenuhnya memahami apa yang kita cari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, justru dalam keletihan itu terkandung makna terdalam, bahwa hidup adalah tentang bergerak, terus menerus berusaha untuk memahami, meski jawaban akhir mungkin tidak pernah kita temukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belajar memaknai kehidupan adalah proses yang harus diterima dengan rendah hati. Kita tidak selalu tahu atau mengerti, dan terkadang hanya bisa mencoba menjalani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesadaran ini mengajarkan saya bahwa ada hal-hal yang harus diterima meski belum sepenuhnya kita pahami, dan ada momen di mana kita hanya bisa berserah tanpa kehilangan semangat untuk berjuang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, dalam perjalanan hidup ini, saya belajar untuk menerima ketidaksempurnaan dan mengubahnya menjadi motivasi untuk terus maju.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelas tahun lalu, di depan rumah kontrakan itu, saya berpikir bahwa saya mengerti apa yang sedang saya jalani. Kini, saya sadar bahwa belajar hidup adalah panggilan yang tidak pernah selesai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah menjalani setiap hari dengan kesadaran penuh, membuka hati untuk belajar dari setiap momen, dan menyadari bahwa setiap detik yang kita jalani adalah kesempatan untuk lebih mendalam memaknai kehidupan yang fana ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Minggu, 28 Oktober 2024&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7336002993971480650" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/7336002993971480650" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/10/memaknai-kehidupan-sebuah-perjalanan.html" rel="alternate" title="Memaknai Kehidupan: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Usai" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9GPGhUg4wy5J5YRvaCcwZO-d5NPl_qFHmKmq4ytvk0qcjLVzplDHt4sFUYOiKjYkE5043pvhmdtgqMcsSUFtyUMvQGN6ryyh3sBEIvQmY8okc8Sj2z_7nRPG49ysXF4oMcHsrVC-k1iFFfMDkpXQaOgivUSnfYaeHz6swNzi2T6kYVNBIknfQYBrllE/s72-c/Memaknai%20Hidup.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-5828556623749860084</id><published>2024-09-01T10:00:00.003+07:00</published><updated>2024-09-01T10:04:34.138+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><title type="text">Harapan Besar Mulai Tumbuh, Ketika Santri Nabawi Tuliskriyo Ditantang Menembus Dunia</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGD8AvEf-Xj_n1J-PwN5aF4EOes4F00kv8dcA3ulqjyGZpQILh-x8RA0TTS0iSc6BUBJfx5Rt_okn6gFyHmq1IiJopcKWGAzlJHRtO9Pv_FmsW-YIk6GVkw9itNqbL-4F2ncqVPuWIgqWDZ5f4uQ3tEqNDodwhRUKB0KrhL6jYj12fHE2T_rWgS_ugWd4/s1280/Santri%20Nabawi.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="313" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGD8AvEf-Xj_n1J-PwN5aF4EOes4F00kv8dcA3ulqjyGZpQILh-x8RA0TTS0iSc6BUBJfx5Rt_okn6gFyHmq1IiJopcKWGAzlJHRtO9Pv_FmsW-YIk6GVkw9itNqbL-4F2ncqVPuWIgqWDZ5f4uQ3tEqNDodwhRUKB0KrhL6jYj12fHE2T_rWgS_ugWd4/w557-h313/Santri%20Nabawi.jpg" width="557" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://news.google.com/read/CBMigwFBVV95cUxPZ2NyVzhkOElHMHJWdzE2U2c0bG11SUd4c2NTSUtfaXpydEFXYlowdS1WaTlsaXp4T2dHcnNDSThvNDQ1VnV6eGEwR1FrVllnNFFGQndzdE94emRlVkk2YmVSQTFLUDR0U1kyX0dBNEtFVkxuY1ZHVngzcnlEQWRyUkJWbw?hl=id&amp;amp;gl=ID&amp;amp;ceid=ID%3Aid" target="_blank"&gt;Harapan Besar Mulai Tumbuh, Ketika Santri Nabawi Tuliskriyo Ditantang Menembus Dunia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Sanankulon, melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM), telah menyalakan obor semangat baru bagi para santri dengan mengadakan kegiatan bertajuk &lt;b&gt;"Motivasi Santri Go Internasional."&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Acara ini menjadi sebuah momentum yang menggugah mimpi-mimpi besar para santri santriwati di Pondok Pesantren Nabawi Tuliskriyo Sanankulon Blitar.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Pada Sabtu, 31 Agustus 2024, langit cerah Sanankulon menyaksikan langkah awal sebuah gerakan inspiratif. Dengan dihadiri oleh Associate Prof. Dr. Eng. Haris Puspito Buwono, S.T., M.T., seorang akademisi terkemuka yang mengawali perjalanan intelektualnya dari pesantren, para santri mendapatkan suntikan motivasi untuk melangkah lebih jauh, bahkan hingga ke panggung internasional.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dr. Haris bukanlah sosok asing bagi dunia pendidikan tinggi. Sebagai dosen Teknik Kimia di Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) dan alumnus program doktoral di Kumamoto University, Jepang, ia membuktikan bahwa latar belakang sebagai santri bukanlah penghalang untuk meraih prestasi di dunia sains dan teknologi. Sebaliknya, ia justru menjadi bukti hidup bahwa pesantren adalah fondasi kuat yang mampu melahirkan generasi unggul dan kompetitif di kancah global.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kisah Haris berawal dari pengalaman sederhana sebagai santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. "Seperti adik-adik di sini, saya juga pernah antri makan, mandi, dan belajar dengan segala keterbatasan," ujar Haris mengenang masa-masa sulitnya. "Namun, pengalaman itu justru membentuk karakter kuat yang menjadi modal utama saya dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri."&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dengan penuh semangat, Haris memaparkan betapa pentingnya membangun kepercayaan diri sejak dini. Ia menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional, asalkan mereka berani bermimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Bekal karakter dari pesantren itulah yang membuat saya tahan banting dan mampu mengatur waktu dengan baik. Dulu, meskipun aktif di organisasi mahasiswa, seperti PMII, saya bisa lulus tepat waktu dan melanjutkan studi ke ITB Bandung," jelasnya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dalam acara yang berlangsung penuh antusias ini, para santri tidak hanya duduk manis mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari bagaimana mendapatkan beasiswa, mengatasi kemalasan, hingga pengalaman hidup di negara dengan mayoritas non-muslim, semuanya menjadi bahan diskusi yang memperkaya wawasan mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi awal dari terbukanya cakrawala baru bagi para santri," ungkap Wildy Sulton, Ketua LAKPESDAM MWC NU Sanankulon.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini, khususnya kepada Pengasuh Pondok Pesantren Nabawi dan Kepala SMA Nabawi.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bagi para santri, kegiatan ini bukan hanya tentang mendengarkan kisah sukses, melainkan tentang menyadari bahwa mereka pun memiliki peluang yang sama. Seperti halnya Haris yang dulu hanyalah santri sederhana, mereka pun bisa menorehkan jejak prestasi di berbagai penjuru dunia.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kegiatan "Motivasi Santri Go Internasional" ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan dan pengembangan karakter tidak mengenal batas ruang dan waktu. Di Pesantren Nabawi, mimpi-mimpi besar santri mulai dirajut, dan siapa tahu, dari sinilah lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu membawa perubahan, tidak hanya di tanah air, tetapi juga di panggung dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5828556623749860084" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/5828556623749860084" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/09/harapan-besar-mulai-tumbuh-ketika.html" rel="alternate" title="Harapan Besar Mulai Tumbuh, Ketika Santri Nabawi Tuliskriyo Ditantang Menembus Dunia" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGD8AvEf-Xj_n1J-PwN5aF4EOes4F00kv8dcA3ulqjyGZpQILh-x8RA0TTS0iSc6BUBJfx5Rt_okn6gFyHmq1IiJopcKWGAzlJHRtO9Pv_FmsW-YIk6GVkw9itNqbL-4F2ncqVPuWIgqWDZ5f4uQ3tEqNDodwhRUKB0KrhL6jYj12fHE2T_rWgS_ugWd4/s72-w557-h313-c/Santri%20Nabawi.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-36221282362968792</id><published>2024-08-30T14:04:00.000+07:00</published><updated>2024-08-30T14:04:25.804+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pilkada"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><title type="text">Komisi Informasi Jatim Tegaskan Pentingnya Keterbukaan dalam Pilkada Serentak 2024</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ51gkkgelFDEo_zwRz-nMcLtSyGB1t7faiVHasWj79dhJt5DlpM-GObfEpLoxQFQtNjQNBTC3xETcGXLPg6SFjSfWnPfjk4ZE9D_V-aG_w-MOQ4GqIjz_gbydKXVM5fEYU5CulAx0XzcGYmWoltOzCAx31a32aDVQ_U0nshw9_DsSoJRp0UTRhqKF3Bs/s1080/Ketua%20KI%20Jatim.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1066" data-original-width="1080" height="518" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ51gkkgelFDEo_zwRz-nMcLtSyGB1t7faiVHasWj79dhJt5DlpM-GObfEpLoxQFQtNjQNBTC3xETcGXLPg6SFjSfWnPfjk4ZE9D_V-aG_w-MOQ4GqIjz_gbydKXVM5fEYU5CulAx0XzcGYmWoltOzCAx31a32aDVQ_U0nshw9_DsSoJRp0UTRhqKF3Bs/w524-h518/Ketua%20KI%20Jatim.jpg" width="524" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/karnaval-sound-horeg-hiburan-atau.html" target="_blank"&gt;Edi Purwanto Ketua Komisi Informasi Jawa Timur&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Dalam menyongsong Pemilihan Kepala Daerah (&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/karnaval-sound-horeg-hiburan-atau.html" target="_blank"&gt;Pilkada&lt;/a&gt;) serentak 2024, yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur menyerukan pentingnya keterbukaan dan transparansi dalam seluruh proses pelaksanaan Pilkada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi Informasi Jawa Timur, Edi Purwanto, melalui siaran persnya hari ini. Jum'at, (30/08/2024).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Edi Purwanto, Pilkada serentak kali ini memiliki potensi kerawanan yang lebih tinggi dibandingkan pemilihan lainnya, seperti Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya potensi konflik adalah kedekatan emosional antara calon kepala daerah dengan masyarakat setempat, yang dapat memicu ketegangan dan konflik horizontal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komisi Informasi Jawa Timur melihat transparansi sebagai kunci utama untuk mencegah potensi kerusuhan dan memastikan bahwa &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/karnaval-sound-horeg-hiburan-atau.html" target="_blank"&gt;Pilkada&lt;/a&gt; 2024 berlangsung dengan jujur dan adil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, Edi Purwanto mengimbau penyelenggara Pemilu di Jawa Timur, serta badan publik terkait, untuk menjaga keterbukaan informasi dalam setiap tahapan Pilkada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Masyarakat harus dapat mengakses informasi dengan mudah, cepat, dan murah, sehingga mereka bisa terlibat aktif dalam proses demokrasi ini," jelasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, Komisi Informasi juga menekankan pentingnya penyediaan daftar informasi publik terkait Pilkada oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Informasi tersebut harus mencakup segala hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, mulai dari informasi berkala hingga informasi yang dikecualikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai bagian dari upaya meningkatkan keterbukaan, Komisi Informasi Jatim juga mengusulkan pembentukan desk Pilkada di tingkat provinsi serta kabupaten/kota, yang melibatkan pentahelix, yakni pemerintah, media, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masyarakat yang menemui kendala dalam mengakses informasi terkait Pilkada juga diingatkan untuk memanfaatkan mekanisme penyelesaian sengketa informasi yang telah disediakan, sesuai dengan Peraturan Komisi Informasi (PerKI) Nomor 1 Tahun 2019. Edi Purwanto berharap, dengan adanya mekanisme ini, hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dapat tetap terjaga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih jauh, Komisi Informasi Jatim mengajak semua pihak yang terlibat dalam Pilkada, termasuk para calon dan partai politik, untuk berkomitmen menjaga suasana yang damai dan harmonis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi jalannya Pilkada juga sangat penting, agar proses ini dapat berjalan dengan baik tanpa ada kecurangan yang dapat memicu konflik," tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui seruan ini, Komisi Informasi Jawa Timur berharap Pilkada serentak 2024 dapat terlaksana dengan transparan, adil, dan damai, demi terciptanya lingkungan politik yang sehat di Jawa Timur.&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/36221282362968792" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/36221282362968792" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/komisi-informasi-jatim-tegaskan.html" rel="alternate" title="Komisi Informasi Jatim Tegaskan Pentingnya Keterbukaan dalam Pilkada Serentak 2024" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ51gkkgelFDEo_zwRz-nMcLtSyGB1t7faiVHasWj79dhJt5DlpM-GObfEpLoxQFQtNjQNBTC3xETcGXLPg6SFjSfWnPfjk4ZE9D_V-aG_w-MOQ4GqIjz_gbydKXVM5fEYU5CulAx0XzcGYmWoltOzCAx31a32aDVQ_U0nshw9_DsSoJRp0UTRhqKF3Bs/s72-w524-h518-c/Ketua%20KI%20Jatim.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-8453709552809806506</id><published>2024-08-22T19:51:00.003+07:00</published><updated>2024-10-10T09:14:00.893+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SASTRA"/><title type="text">Andai Waktu Bisa Diulang: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 8</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjK7HCR2Hjr1ccc9Y95Gb1GI0IZNAWbvYm49lfM0BEHBlzVcOdyv-YNN4jns33y8YkdEfgHY6PNTKLnrvwyn4MeidOoQQnTDHbLrVxAb_QepYgrdoDr0rwPB3n642pipsd4yUjEw1R8aYd5w4JuQrFCRUJ5KdoAulFK_qJ1odGQARlWk98org-v3rDgXI/s2610/Kopi%20Hitam%208.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2159" data-original-width="2610" height="493" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjK7HCR2Hjr1ccc9Y95Gb1GI0IZNAWbvYm49lfM0BEHBlzVcOdyv-YNN4jns33y8YkdEfgHY6PNTKLnrvwyn4MeidOoQQnTDHbLrVxAb_QepYgrdoDr0rwPB3n642pipsd4yUjEw1R8aYd5w4JuQrFCRUJ5KdoAulFK_qJ1odGQARlWk98org-v3rDgXI/w595-h493/Kopi%20Hitam%208.jpg" width="595" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/07/kopi-hitam-obrolan-kehidupan-dan.html" target="_blank"&gt;Andai Waktu Bisa Diulang: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 8&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Malam itu, angin berhembus pelan menyisir pepohonan di halaman rumah &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/07/kopi-hitam-obrolan-kehidupan-dan.html" target="_blank"&gt;Ki Jambon&lt;/a&gt;. Sinar bulan mengintip malu-malu dari balik awan, seakan tak ingin mengganggu percakapan kami. Aku duduk di beranda rumahnya, ditemani secangkir teh hangat yang baru saja diseduh oleh istrinya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/07/kopi-hitam-obrolan-kehidupan-dan.html" target="_blank"&gt;Ki Jambon&lt;/a&gt;, pria pria paruh baya, duduk di sebelahku. Wajahnya tampak tenang, penuh kedamaian, seolah tidak ada satu pun penyesalan yang menghantui pikirannya. Namun, malam itu, aku datang dengan satu pertanyaan yang telah lama terpendam dalam benakku.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Ki," kataku membuka percakapan. &lt;b&gt;"Andai waktu bisa diulang, apa yang akan Ki Jambon lakukan?"&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/07/kopi-hitam-obrolan-kehidupan-dan.html" target="_blank"&gt;Ki Jambon&lt;/a&gt; menatapku dalam-dalam. Ia tersenyum, namun sorot matanya menyiratkan pemikiran yang dalam. Sejenak ia terdiam, seolah menimbang kata-kata yang tepat sebelum menjawab pertanyaanku.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Aku telah menjalani hidup ini dengan banyak pilihan," katanya pelan. "Sebagian baik, sebagian buruk. Namun, jika waktu bisa diulang, ada satu hal yang mungkin akan kulakukan dengan berbeda."&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku mendekat, penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh pria bijak ini. "Apa itu, Ki?"&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ki Jambon menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku akan lebih banyak mendengarkan."&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Mendengarkan?" tanyaku bingung. "Apa maksud nya Ki?"&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, menunjukkan giginya yang sudah tak lengkap. "Banyak di antara kita yang terlalu sibuk berbicara, memikirkan apa yang harus kita katakan selanjutnya. Kita lupa bahwa di dunia ini, banyak pelajaran bisa didapat hanya dengan mendengarkan. Mendengarkan alam, mendengarkan orang lain, dan yang terpenting, mendengarkan hati nurani kita sendiri."&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku terdiam, mencerna kata-kata Ki Jambon. Ada kebenaran dalam ucapannya yang sederhana itu. Dalam hidup yang penuh dengan kesibukan dan kebisingan, sering kali kita lupa untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;"Ki," kataku lagi setelah beberapa saat. "Apakah itu artinya Ki menyesal tidak mendengarkan?"&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ki Jambon menggeleng pelan. "Bukan penyesalan, mas. Aku hanya berpikir, mungkin jika aku lebih banyak mendengarkan, aku akan lebih memahami kehidupan ini. Akan lebih banyak kesempatan yang mungkin aku lewatkan karena terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tapi pada akhirnya, setiap keputusan membawa pelajaran tersendiri, dan itulah yang membuat hidup ini begitu berharga."&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Malam semakin larut, namun percakapan kami terus berlanjut. Ki Jambon berbicara tentang masa lalunya, tentang kebijaksanaan yang ia dapatkan dari mendengarkan orang-orang di sekitarnya, dan bagaimana ia akhirnya belajar untuk mendengarkan dirinya sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Di perjalanan pulang, di bawah sinar bulan yang semakin terang, aku merasa tenang. Percakapan dengan Ki Jambon malam itu mengajarkanku satu hal: &lt;b&gt;hidup ini tidak sempurna, dan kita mungkin tidak akan pernah bisa mengulang waktu. Namun, setiap momen yang kita jalani adalah kesempatan untuk belajar, dan itulah yang membuat hidup ini layak dijalani.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8453709552809806506" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8453709552809806506" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/andai-waktu-bisa-diulang-kopi-hitam.html" rel="alternate" title="Andai Waktu Bisa Diulang: Kopi Hitam, Obrolan Kehidupan dan Pencerahan 8" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjK7HCR2Hjr1ccc9Y95Gb1GI0IZNAWbvYm49lfM0BEHBlzVcOdyv-YNN4jns33y8YkdEfgHY6PNTKLnrvwyn4MeidOoQQnTDHbLrVxAb_QepYgrdoDr0rwPB3n642pipsd4yUjEw1R8aYd5w4JuQrFCRUJ5KdoAulFK_qJ1odGQARlWk98org-v3rDgXI/s72-w595-h493-c/Kopi%20Hitam%208.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-6247054267473510168</id><published>2024-08-12T20:06:00.000+07:00</published><updated>2024-08-12T20:06:13.572+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sound Horeg"/><title type="text">Karnaval Sound Horeg: Hiburan atau Gangguan?</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0i-3hj5pwcS9qpXvc4OK3xpaRMJif5HfloD5vdwXFIGkeLH7hZgDDmyu2vpYVSAoCj235FFoy8zbFun1GBt9jT-8t2ARZkuM2gAUZhfzMk4YsRJDLzsx9HnQy-VLXApS0xXjb6eyxXVh0TCFTE50cdyKN79JmRUdbrqS93CMR1AwgBKWQR1nnbqCQOvo/s931/Karnaval%20Sound%20Horeg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="691" data-original-width="931" height="469" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0i-3hj5pwcS9qpXvc4OK3xpaRMJif5HfloD5vdwXFIGkeLH7hZgDDmyu2vpYVSAoCj235FFoy8zbFun1GBt9jT-8t2ARZkuM2gAUZhfzMk4YsRJDLzsx9HnQy-VLXApS0xXjb6eyxXVh0TCFTE50cdyKN79JmRUdbrqS93CMR1AwgBKWQR1nnbqCQOvo/w631-h469/Karnaval%20Sound%20Horeg.jpg" width="631" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/mindset-wirausaha-jalan-menuju-ekonomi.html" target="_blank"&gt;Ilustrasi: Karnaval Sound Horeg, Hiburan atau Gangguan?&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Karnaval &lt;a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;rct=j&amp;amp;opi=89978449&amp;amp;url=https://www.detik.com/jateng/berita/d-7485611/heboh-emak-emak-nyaris-dikeroyok-gegara-siram-karnaval-sound-horeg-di-pati&amp;amp;ved=2ahUKEwjpu-3Kwe-HAxXSTWwGHetHINsQFnoECD0QAQ&amp;amp;sqi=2&amp;amp;usg=AOvVaw1FBBwARiT1zd4u3tSbpmat" target="_blank"&gt;sound horeg&lt;/a&gt; telah menjadi fenomena budaya yang memecah pendapat di tengah-tengah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di satu sisi, ini dipandang sebagai bentuk &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/mindset-wirausaha-jalan-menuju-ekonomi.html" target="_blank"&gt;hiburan&lt;/a&gt; yang menggetarkan, tetapi di sisi lain, suara menggelegar yang dihasilkan sering kali menjadi &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/mindset-wirausaha-jalan-menuju-ekonomi.html" target="_blank"&gt;momok&lt;/a&gt; yang merusak ketenangan warga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi sebagian orang, karnaval &lt;a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;rct=j&amp;amp;opi=89978449&amp;amp;url=https://www.detik.com/jateng/berita/d-7485611/heboh-emak-emak-nyaris-dikeroyok-gegara-siram-karnaval-sound-horeg-di-pati&amp;amp;ved=2ahUKEwjpu-3Kwe-HAxXSTWwGHetHINsQFnoECD0QAQ&amp;amp;sqi=2&amp;amp;usg=AOvVaw1FBBwARiT1zd4u3tSbpmat" target="_blank"&gt;sound horeg&lt;/a&gt; adalah momen yang ditunggu-tunggu. Dentuman musik yang menggema dan semaraknya suasana menciptakan sensasi tersendiri, terutama bagi mereka yang menyukai musik dengan volume tinggi dan terlibat dalam komunitas sound system.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karnaval ini juga menjadi ajang unjuk gigi bagi pemilik &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/mindset-wirausaha-jalan-menuju-ekonomi.html" target="_blank"&gt;sound system&lt;/a&gt;, yang dengan bangga memamerkan kecanggihan peralatan mereka, sebuah daya tarik yang tak bisa dipandang sebelah mata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, apa yang menjadi hiburan bagi sebagian orang, ternyata adalah gangguan bagi yang lain. Banyak warga yang merasa terganggu dengan polusi suara yang dihasilkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suara yang memekakkan telinga bisa mengacaukan kedamaian, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar lokasi karnaval.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini bukan hanya soal preferensi musik; bagi mereka yang terkena dampak, suara bising ini adalah ancaman nyata bagi kenyamanan sehari-hari, apalagi untuk keluarga yang memiliki anak Balita atau lansia sakit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kekhawatiran lain yang tak kalah penting adalah dampak negatif terhadap norma dan budaya setempat. Ada yang khawatir bahwa karnaval ini, dengan suasananya yang serupa dengan diskotik terbuka, tidak sesuai dengan nilai-nilai komunitas lokal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Polusi suara yang ditimbulkan pun tidak hanya mengganggu secara sosial, tetapi juga membawa risiko kesehatan yang serius. Gangguan tidur, stres, hingga potensi kerusakan pendengaran adalah beberapa contoh dampak buruk yang bisa timbul akibat paparan suara yang berlebihan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, di tengah kontroversi ini, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Karnaval sound horeg tak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga kadang dimanfaatkan sebagai wadah penggalangan dana untuk kegiatan sosial, seperti membantu anak-anak yatim, pembangunan tempat ibadah dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini menunjukkan bahwa karnaval ini bukan semata soal kesenangan, tetapi juga bisa memiliki nilai sosial yang positif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menanggapi pro dan kontra ini, perlu ada langkah konkret dari penyelenggara karnaval dan pemerintah setempat. Mencari titik tengah yang bisa mengakomodasi kepentingan semua pihak adalah kuncinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah pengaturan volume suara yang tidak mengganggu warga sekitar, serta pemilihan lokasi yang strategis dan jauh dari pemukiman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan pendekatan yang bijak, karnaval sound horeg bisa tetap menjadi ajang hiburan yang dinikmati, tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan masyarakat. (red)&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/6247054267473510168" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/6247054267473510168" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/karnaval-sound-horeg-hiburan-atau.html" rel="alternate" title="Karnaval Sound Horeg: Hiburan atau Gangguan?" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0i-3hj5pwcS9qpXvc4OK3xpaRMJif5HfloD5vdwXFIGkeLH7hZgDDmyu2vpYVSAoCj235FFoy8zbFun1GBt9jT-8t2ARZkuM2gAUZhfzMk4YsRJDLzsx9HnQy-VLXApS0xXjb6eyxXVh0TCFTE50cdyKN79JmRUdbrqS93CMR1AwgBKWQR1nnbqCQOvo/s72-w631-h469-c/Karnaval%20Sound%20Horeg.jpg" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2899204622623950027.post-8056021113689706564</id><published>2024-08-10T15:34:00.003+07:00</published><updated>2024-08-10T15:40:03.883+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="EDUKASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mindset Wirausaha"/><title type="text">Mindset Wirausaha: Jalan Menuju Ekonomi Keluarga yang Lebih Baik</title><content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMp-Cl0S0590qatSHRzfgXOwZZyHNeTTy9X1eq3Y5HU3SZAIvt4v4YfPds1meeTNFYJJnSMWx87786iLGI5O7-NtrfgeCl07DFG3ppM1yPnA63FwsOkiu1eMGBWitmubIb_-vQL-8A4Dyt73JFVuRwvSMKJfEDzG8qf1Nu20gqelegQhOwqcSevSK7BFE/s1280/Mindset%20Wirausaha.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="731" data-original-width="1280" height="340" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMp-Cl0S0590qatSHRzfgXOwZZyHNeTTy9X1eq3Y5HU3SZAIvt4v4YfPds1meeTNFYJJnSMWx87786iLGI5O7-NtrfgeCl07DFG3ppM1yPnA63FwsOkiu1eMGBWitmubIb_-vQL-8A4Dyt73JFVuRwvSMKJfEDzG8qf1Nu20gqelegQhOwqcSevSK7BFE/w594-h340/Mindset%20Wirausaha.jpg" width="594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/menggalakkan-kembali-gerakan-ketahanan.html" target="_blank"&gt;Mindset Wirausaha: Jalan Menuju Ekonomi Keluarga yang Lebih Baik (Foto Pixabay)&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a href="http://uripkuiurup.com" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;uripkuiurup.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; - Mengapa hidup kita tetap saja begini-begini?. Mengapa kita selalu merasa kekurangan, sementara orang lain bisa hidup lebih baik?. Apakah kita kurang bekerja keras?. Ataukah kita hanya kurang beruntung?.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya seringkali menghantui kita, terutama mereka yang setiap harinya berjuang dan bekerja hanya untuk bisa makan dan menyekolahkan anak-anak.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Namun, mari kita renungkan sejenak. Apakah benar kita sudah mencoba segalanya?. Atau mungkin, ada sesuatu yang belum kita sadari?. Sesuatu yang selama ini kita abaikan karena merasa tak mungkin mengubah nasib. Sesuatu itu adalah &lt;a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;rct=j&amp;amp;opi=89978449&amp;amp;url=https://news.nusamandiri.ac.id/2024/01/29/jadi-wirausaha-sejak-mahasiswa-ini-5-mindset-yang-harus-dimiliki/&amp;amp;ved=2ahUKEwiLg8nDgeqHAxUEV2wGHSTBIscQFnoECDYQAQ&amp;amp;sqi=2&amp;amp;usg=AOvVaw1xnSc5ntbhhkZW2sAowtVe" target="_blank"&gt;mindset wirausaha.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Apa itu mindset wirausaha?. Sederhananya, ini adalah &lt;a href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/menggalakkan-kembali-gerakan-ketahanan.html" target="_blank"&gt;cara berpikir&lt;/a&gt; yang &lt;b&gt;melihat setiap kesulitan sebagai peluang&lt;/b&gt;. Bukan cuma peluang untuk bertahan hidup, tapi juga peluang untuk mengubah hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mereka yang punya &lt;a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;rct=j&amp;amp;opi=89978449&amp;amp;url=https://news.nusamandiri.ac.id/2024/01/29/jadi-wirausaha-sejak-mahasiswa-ini-5-mindset-yang-harus-dimiliki/&amp;amp;ved=2ahUKEwiLg8nDgeqHAxUEV2wGHSTBIscQFnoECDYQAQ&amp;amp;sqi=2&amp;amp;usg=AOvVaw1xnSc5ntbhhkZW2sAowtVe" target="_blank"&gt;mindset wirausaha&lt;/a&gt; &lt;b&gt;tidak hanya bekerja keras, tetapi mereka bekerja cerdas&lt;/b&gt;. Mereka tidak hanya menunggu kesempatan datang, tapi menciptakan kesempatan itu sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Coba kita lihat di sekitar. Lihat tetangga yang menjual gorengan di pinggir jalan, atau yang membuka warung kecil di depan rumah. Mereka bukan orang kaya. Mereka tidak punya modal besar. Tapi mereka punya keberanian, mereka punya tekad, dan mereka punya mindset wirausaha.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hasilnya? Meski penghasilan mereka mungkin tidak langsung besar, tetapi mereka sudah memulai sesuatu. Mereka tidak hanya diam dan mengeluh, tetapi berbuat sesuatu untuk memperbaiki nasib.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Lalu, mengapa kita tidak bisa seperti mereka?. Apa yang menghalangi kita?. Apakah kita takut gagal?. Takut tidak laku?. Takut dicemooh orang lain?.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ketakutan inilah yang sebenarnya menjadi penghalang terbesar kita. Bukan kemiskinan, bukan kurangnya modal, tetapi ketakutan untuk memulai dan mencoba hal baru.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mindset wirausaha mengajarkan kita untuk tidak takut gagal, karena dari kegagalan itu kita bisa belajar. Mengajarkan kita untuk terus mencari peluang, meski itu terlihat kecil dan sederhana.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bahkan, kita bisa memulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita. Lihat potensi yang ada di desa kita, misalnya hasil kebun, keterampilan tangan, makanan tradisional, peternakan, semua itu bisa menjadi sumber penghasilan kalau kita mau mengolahnya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mindset wirausaha bukan hanya milik orang kaya atau orang berpendidikan tinggi. &lt;b&gt;Mindset wirausaha adalah milik mereka yang berani bermimpi dan mau berusaha. &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jadi, mari berhenti mencari-cari alasan. Jadikan mindset wirausaha sebagai bagian dari diri kita. Dengan begitu, bukan hanya kita yang berubah, tetapi juga masa depan keluarga kita.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ingatlah, &lt;b&gt;tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan.&lt;/b&gt; Orang-orang yang kini hidupnya lebih baik dari kita, mereka juga pernah berada di titik terendah. Namun, yang membedakan mereka adalah keberanian untuk mengambil langkah pertama.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mereka tidak menunggu nasib baik menghampiri, mereka mengejar dan menciptakan nasib baik itu sendiri. Mereka memiliki mindset wirausaha yang mendorong mereka untuk &lt;b&gt;terus bergerak, terus berinovasi, dan terus belajar.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Lihatlah contoh-contoh nyata di sekitar kita. Banyak ibu rumah tangga yang awalnya hanya sekadar mencoba-coba membuat makanan kecil atau kerajinan tangan, kini berhasil membantu perekonomian keluarganya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mereka tidak menunggu modal besar, mereka mulai dengan apa yang mereka punya. Mereka memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang ada di rumah, mereka bekerja di sela-sela kesibukan mengurus keluarga. Dan yang terpenting, mereka &lt;b&gt;memiliki keberanian untuk mencoba&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kesuksesan tidak selalu datang dalam bentuk uang yang berlimpah. Kesuksesan adalah ketika kita mampu memperbaiki kehidupan kita sedikit demi sedikit, dan ketika kita tidak lagi merasa takut menghadapi hari esok.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Semua itu dimulai dari &lt;b&gt;perubahan cara berpikir&lt;/b&gt;, dari mindset wirausaha, yang berani melihat peluang di tengah keterbatasan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mari kita mulai berpikir seperti seorang wirausaha. Mulai dari yang kecil, dari yang sederhana, tapi dengan tekad yang besar. Karena dengan mindset wirausaha, tidak ada yang tidak mungkin.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ingat, masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Dan masa depan yang lebih baik bisa dimulai hari ini, dari cara berpikir yang berbeda. Dari mindset wirausaha yang berani menghadapi tantangan dan meraih peluang. (red)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8056021113689706564" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.blogger.com/feeds/2899204622623950027/posts/default/8056021113689706564" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="https://www.uripkuiurup.com/2024/08/mindset-wirausaha-jalan-menuju-ekonomi.html" rel="alternate" title="Mindset Wirausaha: Jalan Menuju Ekonomi Keluarga yang Lebih Baik" type="text/html"/><author><name>Social Worker</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11368440508922703997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="32" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStM18YO4pgOt_gfFujUAOQnDEQXpWRTXwBuytZQjjcz34SjvCkxQWi1zlC2PVrxpifpoQzk_LJKXU6REtfv8SZHHwjZ1rYTK7hCJI74oUxqEajYiOyIPODkQ_WZgAtKDMCqhRqogJonJq-vVjIa4ZeAafdhoXZ5CZaDVE6VhWTMPdQVg/s220/logo%20urip.jpg" width="32"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMp-Cl0S0590qatSHRzfgXOwZZyHNeTTy9X1eq3Y5HU3SZAIvt4v4YfPds1meeTNFYJJnSMWx87786iLGI5O7-NtrfgeCl07DFG3ppM1yPnA63FwsOkiu1eMGBWitmubIb_-vQL-8A4Dyt73JFVuRwvSMKJfEDzG8qf1Nu20gqelegQhOwqcSevSK7BFE/s72-w594-h340-c/Mindset%20Wirausaha.jpg" width="72"/></entry></feed>